.
.
.
Precious
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
5 Years Later (5 tahun kemudian)
Seoul City
'Jungkook ah, kau dimana?'
"Jimin hyung, maafkan aku, aku terjebak macet"
'Aishh ini acara penting kau malah tak mempersiapkan diri'
"Maaf hyung, tadi aku harus hadir di meeting alumni universitas kita untuk acara amal dan itu mendadak sekali"
'Aku tak akan memulai acaraku sampai kau tepat berada dihadapanku'
"Tenang hyung ,kemungkinan 30 menit lagi"
'Baiklah, berhati hatilah di jalan'
"Ne hyung"
'I love you'
"Love you too hyung"
Jungkook memutus sambungan teleponnya setelah suara Jimin tak terdengar lagi di seberang sana. Layar ponselnya kembali ke tampilan awal dan ia menatapnya cukup lama. Ia tersenyum ringan ketika layar ponselnya menampilkan foto dirinya tengah memeluk namja manis yang tersenyum lebar. God, dia sangat menyukai senyuman itu.
"Tae hyung, maaf hari ini aku datang ke acara sepenting ini tidak tepat waktu" Jungkook bermonolog
"Kau pasti akan berbicara panjang lebar jika kau masih disini. Kau pasti akan menunjukkan wajah sebalmu karena aku datang tidak tepat waktu, hyung aku benar benar merindukanmu"
.
.
.
Jungkook mencoba merapikan setelan kemeja bewarna biru dengan bawahan celana berwarna arang serta sepatu pantofel yang di semir hingga mengkilap. Ia memasuki restoran yang tampak berkelas tersebut, salah seorang pelayan menghampirinya dan Jungkook berkata bahwa ia sudah di tunggu , sang pelayan segera mengantar Jungkook menuju sebuah tempat. Pelayan tersebut membuka pintu sebuah ruangan dan mempersilahkan Jungkook masuk.
Jungkook berjalan melewati beberapa lelaki berumur 40an yang tampak sedang asik berbincang, serta para wanita setengah baya yang tengah bergosip sambil memegangi gelas wine mereka. Manik mata Jungkook mengitari seluruh sudut ruangan yang dipenuhi manusia berotak bisnis ataupun pemilik perusahaan terkenal di Korea.
"Jungkook ah"
"Hyung" Jungkook segera berjalan menuju salah satu meja yang terletak di tengah ruangan itu
"Mian hyung kau harus menunggu lama"
"Sudahlah tidak masalah, duduklah disana, mereka menunggumu" Jimin menunjuk salah satu meja dimana Namjoon dan Seokjin tengah asik menikmati makanan kecil di meja di hadapannya. Sedangkan Hoseok asik mengobrol dengan Yoongi. Jungkook berjalan ke arah meja tersebut dan Hoseok tersenyum padanya.
"Ya! Bocah kau lama sekali, aku sudah lapar" ucap Hoseok ketika Jungkook baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi
"Ne, aku tidak bisa sabar mencoba hidangan disini" timpal Seokjin
"Hey tenanglah, Jimin sedang berbicara disana" ucap Namjoon
Mereka semua mengalihkan pandangannya pada Jimin yang sedang terlihat memberikan pidato.
"Aku sadar aku bukanlah seorang anak yang baik, begitupun hyung ku" Jimin sedikit terkekeh dan memandang Namjoon yang tengah menatap tak suka "beberapa tahun lalu aku kabur dari rumah, aku tak yakin bisa hidup tanpa campur tangan dari appa, tapi ketika aku bertemu lagi dengan hyung ku setelah sekitar 3 tahun meninggalkan rumah. . .saat itu aku merasa dia bisa membantuku, setelah beberapa hari berlalu rasanya tak semudah yang aku bayangkan ketika aku harus mencoba hidup sederhana mungkin, melakukan semuanya sendirian dan dengan tanganku sendiri, tapi ada seseorang yang membuatku berpikir 'kau tak perlu risihkan tentang uang, jika kau bekerja keras kau akan dapatkan berapa yang kau mau, dan hidup itu bukan tentang uang ataupun benda benda bermerk tapi tentang hatimu, bagaimana hatimu menjalani hidup, jika kau menjalani dengan senang hati semuanya terasa mudah, kau hanya perlu berpikir optimis' terima kasih Yoongi hyung untuk mengajarkan hal tersebut" Jimin menatap Yoongi yang tengah tersenyum bangga padanya
"Aku cukup tau appa ku, orang yang cukup keras hingga pendapatnya ataupun apa yang ia inginkan tak ada yang bisa membantah dan oleh karena itu pula aku meninggalkan rumah, tapi ada satu hal yang baru aku sadari . . . semua yang ia lakukan karena appa menyayangi kami, hingga suatu hari ketika mendapat kabar dari manajer Lee bahwa orang tua kami berada di rumah sakit dalam keadaan sekarat saat itu aku menyadari aku benar benar buruk dan lebih buruk lagi ketika mereka beristirahat untuk selamanya" Jimin menahan air matanya, ia diam sejenak ketika suaranya mulai bergetar "jika mereka masih hidup aku benar benar minta maaf dan mengulang semua dari awal aku ingin menjadi seseorang yang lebih baik" Jimin tersenyum sambil menatap Yoongi "aku akan mengenalkan orang yang aku suka pada mereka walaupun appa akan menentang, aku tak akan menyerah"
"Maafkan aku harus menceritakan kisah menyedihkan ini" Jimin tampak sekilas menghapus air matanya "baiklah mungkin sekarang waktunya memperkenalkan direktur Park company yang baru, menggantikan appa tentunya setelah beberapa bulan jabatan ini kosong, berkat usaha keras manajer Lee dan juga aku, akhirnya orang ini bersedia menggantikan appa kami, Park Namjoon"
Semua orang bertepuk tangan ketika Namjoon berdiri dan melangkah mendekat ke arah Jimin untuk memberikan pidatonya.
.
.
Jungkook berjalan menyusuri kota Seoul menuju apartemennya. Langkah gontainya membuat orang di sekitarnya menjauh. Setelah acara Jimin selesai, ia segera melarikan dirinya menuju club malam langganannya sejak tahun lalu. Jungkook bohong bahwa ia akan kembali ke apartemennya setelah acara Jimin.
"Tae hyung, ini hari anniversary kita yang ke 6, aku lagi lagi merayakannya sendiri, aku ingin sekali ke El Olive tempat yang kau sukai itu,tapi . . ."
Jungkook tersenyum dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku benar benar merindukanmu hyung" gumam Jungkook
Jungkook terus berjalan dan merebahkan tubuhnya di jalanan. Menatap langit lalu seketika itu juga pikirannya kembali melayang ke masa dimana Taehyung selalu disisinya. Jungkook tersenyum ketika mengingat Taehyung yang selalu dengan seenaknya memeluk tangannya atau tubuhnya ketika tidur, dan Jungkook selalu menyukai kelakuan Taehyung tersebut.
"Hyung kau tau setiap hari aku tersenyum dan menjalani hariku dengan perasaan bahagia"
"Karena kau ingin aku seperti itu, dan aku benar benar melakukannya"
"Aku sudah berusaha, tapi aku lelah, setiap malam dadaku sesak, kau selalu datang ke mimpiku"
"Hyung aku benar benar lelah" Jungkook terisak
"Sangat lelah, hingga rasanya aku ingin mati saja"
"Hyung, maafkan aku, maafkan aku tak menjagamu waktu itu"
"Maafkan aku, aku mohon . . . maafkan aku, aku mengaku salah, aku mohon kembali"
"Hyung . . ."
"Kembali padaku"
Tiiitttttt
Silau lampu mobil dan suara klakson yang memekakkan telinga membuat Jungkook menegakkan tubuhnya dengan susah payah dan berdiri di hadapan mobil tersebut sambil menyeringai.
"Kau gila, mau mati eoh? minggir bodoh" teriak sang pengemudi
"Ahjussi" Jungkook terus tertawa di sela ucapannya "neeee" Jungkook memukul mukul dadanya " aku ingin mati"
" minggir brengsek! !"
Jungkook berjalan mendekat dan merebahkan tubuhnya di atas mobil yang ada dihadapannya, sang pengemudi tampak kesal, ia keluar dari mobil dan menarik Jungkook hingga terjatuh di jalanan dan Jungkook hanya tertawa. Mobil tersebut segera menghindar dan bergerak menjauh.
Jungkook kembali berdiri dan ia menghalangi cahaya yang begitu menyilakan dihadapannya dengan telapak tangannya, sebuah mobil nampak bergerak tak tentu arah, dan seorang yang sedang mengendarai sepedanya segera menghambur dan berlari menyeberangi jalan menarik Jungkook ke tepi hingga suara dentuman keras terdengar dari mobil tersebut.
Jungkook membuka matanya, perlahan ia mulai tersenyum ketika manik matanya melihat seseorang dihadapannya.
"Hyung"
.
.
.
Jungkook membuka matanya ketika cahaya matahari masuk ke dalam ruangan yang tak terlalu luas itu. Ia bangkit dan duduk di atas ranjang kecil itu sambil mengerang merasakan pusing di kepalanya akibat meneguk alkohol yang tak ia ketahui berapa gelas ia habiskan semalam. Ia menatap setiap sudut ruangan yang begitu asing baginya itu. Ia melihat sebuah nampan terletak di atas sebuah meja kecil di samping ranjang tersebut. Ia membaca sticky note yang tertempel di gelas berisi air putih dan semangkuk sup terletak disampingnya 'sup ini bisa redakan hangovermu, makan segera jika kau sudah bangun'.
Jungkook membuka tutup mangkok tersebut dan mencium aroma yang membuatnya ingin mencicipi makanan tersebut. Ia membawa mangkuk tersebut ke atas kasur dan mulai mencicipinya. Satu sendok pertama ia mencoba menerka nerka , siapa pembuat makanan tersebut. Tapi ia rasa ia ini bukanlah masakan Jin hyung ataupun Jimin. Ia kembali melanjutkan suapan kedua hingga tak memikirkan lagi siapa chef yang telah dengan senang hati memberinya makanan.
Setelah menghabiskan sup tersebut, Jungkook berdiri dari panjangnya dan berjalan menuju ruangan lain. Tapi sebelum melewati pintu keluar ia kembali lagi ke kamar ketika sekilas melihat penampilannya. Ia bercermin dan seketika matanya melebar. T shirt putih dan celana training panjang, ia yakin barang tersebut bukan miliknya.
'Siapa yang berani mengganti bajuku" geram Jungkook
Ia segera berjalan keluar kamar untuk menemui sang pemilik rumah yang ia juga curigai telah berani mengganti bajunya, lebih tepatnya menyentuhnya. Kamar itu langsung berhadapan dengan ruang tengah , dan Jungkook dapat lihat seorang pria tua tengah sibuk menonton acara tv.
"Kau sudah bangun ternyata"
Pria itu melirik Jungkook sekilas
"Apa kepalamu masih pusing?"
" kepalaku sudah tidak pusing, terimakasih telah membantuku ketika sedang mabuk " setidaknya Jungkook masih ingat ia lagi lagi membiarkan dirinya mabuk
"Tidak masalah, oh iya kemaren cucuku sudah mencuci pakaimu yang terkena muntahan, dia berpesan padaku kau bisa pulang dengan bajunya yang sedang kau pakai dan ia tak masalah jika kau tak mengembalikannya, dan jangan lupa membawa bajumu juga"
Jungkook melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi "Harabeoji, terima kasih sekali lagi. . .cucu anda dimana, aku ingin berterima kasih padanya"
"Dia berbelanja bahan makanan" ucap pria tua itu "Kau akan pulang sekarang ?"
"Ne harabeoji, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, tapi aku akan menunggu cucu anda setelah itu aku akan kembali"
"Tidak usah, dia itu kalau berbelanja sangat lama"
""Tidak masalah, aku masih bisa menunggu"
"Bukankah kau ada pekerjaan juga"
"Aku bisa kerjakan nanti"
"Anak muda tidak baik menunda pekerjaan"
Jungkook merasa dari kata kata lelaki tua di hadapannya ini ia sedang diusir dengan cara halus "ah baiklah, aku akan pulang ke rumah sekarang"
"Berhati hatilah, dan kurangi mengonsumsi alkohol"
"Iya akan aku lakukan, Tolong sampaikan pada cucu anda rasa terima kasih saya"
Pria tua itu mengambil paper bag berisi pakaian Jungkook yang telah dilipat dengan rapi dan menyerahkannya pada Jungkook.
"Lain kali aku akan mampir untuk mengunjungi anda"
"Hah. . Ne?" Pria tua itu tampak sedikit terkejut
"Apa ada masalah?"
"Ah tidak, datanglah ketika kau tidak sibuk"
Jungkook dan pria tua itu berjalan menuju pintu keluar. Setelah mengantar Jungkook hingga pintu, pria tua itu bernafas lega.
"Sampai kapan kau bersembunyi?, keluarlah sekarang"
.
.
Namja mungil itu tak berhenti tersenyum dihadapan pria tua yang sudah ia anggap sebagai harabeojinya sendiri. Sedangkan yang dipandang sibuk menonton acara televisi nya.
"Jadi dia Jungkook yang pernah kau ceritakan itu?"
Namja itu mengangguk "terima kasih haraboji, karena tidak membiarkan dia berlama lama disini"
"Aku melakukannya karena kau minta"
Namja mungil itu kembali tersenyum tanpa menimpali perkataan pria tua itu
"Kenapa menghindarinya" mata lelaki itu beralih pada namja mungil di hadapannya.
"Aku tidak menghindar, hanya saja lebih baik tidak bertemu dengannya"
"Kau kira apa yang kau lakukan itu hebat"
Namja itu terdiam, lalu berdiri "aku harus membeli persediaan bahan makanan, jadi aku keluar dulu"
Pria tua itu hanya kembali beralih memandang televisi sambil sedikit mendengus dan membiarkan namja mungil itu pergi dihadapan tanpa menjawab pertanyaan yang ia ajukan.
"Pikirkan lagi kata kataku, ini bukan tentang hal hebat atau tidak, bukan tentang benar atau tidak dan bukan tentang untuk kebaikan seseorang atau tidak, tapi tentang keinginanmu, jangan bohong pada dirimu, lakukan apa yang kau mau , raih apa yang kau ingin, bukankah kita harus membuat hidup itu sederhana"
"Ini memang bukan tentang hal yang kau katakan tadi harabeoji, tapi harabeoji tau. . . aku hanya seperti sampah di tengah kerumunan orang walaupun tak semua orang mengetahuinya sebenarnya aku ini siapa, dan kalau pun mereka tau siapa aku sebenernya mereka pasti akan benar benar membuangku"
.
.
.
.
.
.
.
Sudah 2 jam Jungkook menikmati pemandangan lalu lalang warga Seoul dari dalam cafe Whalien 52. Seoul?. . . Tentu saja, sejak Namjoon mengelola perusahaan keluarganya, mau tidak mau Jin harus ikut ke Seoul, dan menetap disana. Walaupun awalnya Namjoon memintanya berhenti mengelola cafe, tapi kecintaannya pada Whalien 52 tak bisa di hapus begitu saja, cafe itu adalah impiannya dari dulu. Akhirnya Namjoon membuka cafe Whalien 52 di Seoul tak jauh dari Park company. Cafe di Busan terpaksa di tutup karena tak ada yang mengurusinya.
Seokjin berjalan menuju meja dimana Jungkook tengah asik dengan dunianya sendiri.
"Apa Namjoon memberimu pekerjaan berat di kantor?"
Jungkook tersenyum "tidak hyung"
"Apa Jimin minta tolong padamu mengerjakan tugas kantornya dan dia asik pacaran dengan Yoongi"
Jungkook kembali tersenyum "tidak hyung, Jimin hyung bukan orang seperti itu"
"Lalu, apa yang kau pikirkan? Aku lihat hampir seminggu setelah jam kerja berakhir kau mampir ke sini"
"Memangnya tidak boleh hyung?"
Jin meniup poninya kesal "kita ini sudah seperti. . .bukan. . .kita ini adalah keluarga . . .jika ada masalah kau tinggal menceritakan padaku atau Namjoon, Yoongi, Jimin dan Hoseok"
Jungkook menatap Seokjin "terima kasih hyung" . . ."hyung. . ." Ucapan Jungkook terpotong ketika suara Jimin memenuhi ruangan cafe
"Jin hyungggggg" Jimin berlari dan matanya mencari sosok Jin, ketika sosok itu menatapnya aneh Jimin langsung mendekat dan memeluknya erat
"Chagiya berhati hatilah jika ingin memeluk Jin hyung" ucap Yoongi yang baru saja memasuki cafe dan ekspresinya tampak sedikit khawatir ketika kekasihnya itu memeluk Jin
"Aishh, Yoongi hyung kau berbicara seolah olah seperti suaminya Jin hyung"
"Bukan begitu" ucap Yoongi
Yoongi dan Namjoon berjalan mendekat ke arah mereka. Sedangkan Jungkook tampak bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Jin hyunggggggg" kali ini suara Hoseok memenuhi ruangan cafe
Tak butuh waktu lama , Hoseok dapat menangkap sekumpulan orang yang berstatus sebagai sahabatnya itu. Ia segera mendekat dengan berkantong makanan ditangannya.
"Aku membelikan pizza di tempat biasa, makanlah kau pasti sedang menginginkannya"
"Aku suaminya, kenapa kau seenaknya membelikannya" ucap Namjoon
"Memang ada aturan kalau sahabatnya tak boleh membelikannya makanan"
Perdebatan kecil ini membuat mereka yang menonton hanya menggeleng gelengkan kepala.
"Kau sedang sakit hyung?" tanya Jungkook yang melihat orang orang memberikan perhatian yang sedikit berlebih daripada biasanya pada Jin
Jin tersenyum dan mengelus perutnya "tidak"
Apa yang dilakukan Jin membuat Jungkook tersadar "kau hamil hyung?" tanya Jungkook dengan nada terkejutnya
Jin mengangguk dan seluas senyuman lembut terukir dibibirnya.
"Hyung selamat, semoga kandunganmu kuat hingga 9 bulan kedepan"
"Terimakasih Jungkook ah"
"Ya! Kau curang, harusnya aku duluan memberi selamat"
Yoongi terkekeh melihat tingkah kekanakan Jimin yang tak pernah hilang.
"Sudah, lebih baik kita menikmati pizza yang dibawa Hoseok"
Yoongi dan Jimin segera mengambil tempat di dekat Jungkook, Namjoon dan Hoseok membuka box pizza yang menguarkan aroma yang menggiurkan.
"Kalian kapan akan menikah?" tanya Hoseok tiba tiba sambil mengambil potongan pizza dari box tersebut
Jimin memandang Yoongi
"Nanti, aku menikahinya di waktu yang tepat" Yoongi tersenyum pada Jimin
"Dan kau hyung kau kapan akan berpacaran lagi, sebegitu traumanyakah kau hingga betah sendiri selama bertahun tahun" ledek Jimin
"Traumaku sudah hilang hanya belum menemukan yang aku suka"
"Hoseok ah lebih baik mencari pasangan hidup di usiamu ini bukan pacar" Namjoon ikut menimpali
"Ne, kau harus segera menikah agar ada yang mengurusimu" lanjut Yoongi
"Aku akan menikah setelah Jungkook menemukan seseorang yang ia suka" Hoseok sedikit jengah dengan topik pembicaraan mereka kali ini
Semua memandang ke arah Jungkook yang tengah menikmati potongan pizza nya.
"Jungkook ah, kau mau aku kenalkan pada beberapa temanku, mungkin saja ada yang menarik perhatianmu" ucap Namjoon
Jin mencubit paha Namjoon, Jin cukup tau bahwa Jungkook masih belum bisa melupakan Taehyung.
"Wae Seokjin ah?" Namjoon meninggikan suaranya
" tahan emosimu" ucap Hoseok gugup
"Kenapa tak ada yang mau membahas ini, kalian takut melukai Jungkook, ohhh. . . ayolah, kalian akan membiarkannya sendirian sampai mati dan hidup dengan bayang bayang Taehyung" Namjoon sedikit meledak kali ini
"Hyung" kali ini Jimin mengeluarkan suaranya dengan nada memohon
"Aku menyayangi Jungkook, dan aku tak akan membiarkanya begitu saja"
Namjoon beranjak dari kursinya dan meninggalkan mereka semua . Hoseok tampak merutuki dirinya yang telah mengeluarkan kalimat yang membuat suasana sedikit tegang.
"Sepertinya aku harus kembali ke apartemen. . . katakan pada Namjoon hyung terima kasih telah sangat memperhatikanku dan aku akan menerima tawarannya untuk berkenalan dengan teman temannya" Jungkook memaksakan sebuah senyuman di wajahnya
.
.
.
Tbc
Annyeong Yeorebun :D
Huaaaaa happy banget bts menang di mama 2016 buat kategory THE BEST DANCE PERFORMANCE MALE GROUP dan ARTIST OF THE YEAR , Chukahae oppaaaaaaaaa. buat Bang PD nim congrats atas awardnya BEST EXECUTIVE PRODUCER OF THE YEAR. HUaaaaa siapa yg live streaming MAMA 2016 tadi malem ? ? ? . Taeeeeeeeeee. . . kenapa dia sexyyyyyy banget pas perform. . . kenapa bajunya gk di buka semua aja, topless aja, pengen robekin bajunya hahahhaha huaaaa pengen peluk Tae. . .HE'S REALYYY HOTTTTT ! ! ! Aku juga pengen nangis pas mereka menangin award. . . liat Jungkook yg nangis kaya anak kecil, trus Jin oppa nangis juga tapi kenapa masih tetep cantik ya (?), dan Yoongi oppa nangis ampe sesegukan, huaaaaaa .
Chukahae lah buat uri Bangtan , jangan lupa tetep support atau vote mereka di ajang musik lainnya , Thanks :D
oh iya sorry aku nya lama banget update, lagi ada projek soalnya, sekali lagi minta maaf juga atas kekecewaan readers buat chapter kemaren TT
Haiiiiiiiiiiii RonaTan , huaaaaaa emang aku bikin taetae mati kenapa nyuruh hidupin tae lagi? . . . Aku juga gak mau ceritanya kaya begitu, jadi tunggu next chapter aja ya, Thanksssss :D
Hellooooooo Park RinHyun-Uchiha jangan nangis, di balik semua penderitaan pasti ada . . . ada. . . ada apa ya ? Hahhahah . Kontrak tae emang udah abis gegara aku gk mampu bayar tae yg sekarang udah dikontrak buat maen hwarang wkwkkwk. Thanksss :D
Annyeonggg Hastin99 , emang tae mati? Yakin? Baca lagi deh chapter sebelumnya hahhaha. Kamu salah mengartikan cerita sebelumnya, maybe hohoho. Huaaaaaa thankss cerita aku dibilang kerennn, Thanksss so muchh :D
Annyeonggggggg gahee28 hmmm antara mati dan di penjara ya? . . . tunggu next chapter aja ya hahhaha. Thanksss :D
Kamu yakin vayasyun ? Klo tae mati? . . .huaaaaa plisss jangan benci sama aku TT, klo benci biasanya tanda cinta banget (?) hahhaha. Kamu gk lebay kok, aku bisa ngerti klo ada charac yg death emang bikin nyesek, miannn udah bikin kecewa TT , huaaaaaaaa . Plisss baca next chapter ya Thankssssss ;D
Halooooooo TaeKai sabar sabar, baca lagi chapter sebelumnya mana tau ada clue clue klo sebenernya ceritanya gk bikin nyesek, Thanksss :D
Haiiii jeontaehyung7 lap ingusnya pake tisu ya jangan lupa hahhaha. Apaaaaa? Tae mati? Yakinnn ? Nc nya belum ya, bukannya aku hampir bikin tae nc sama Seung Ho, masihhh kurang apa? ? , oke lahhhh . . . Next chapter kasih nc deh tapi Jungkook sama siapa ya nc nyaa ? hahhahahah #evilsmile . Thanksssss :D
Haaaaaaa yoongiena ? Wae? Tae matiiiiii? Tapi Aku malah betanya tanya kenapa dengan kalian? , tunggu next chapter ya. Thankssss :D
Haiii Kimmytae , tae kenapa? Huaaaaa jangan bilang aku jahat dong, tar kamu nyesel (?) #haaaaa ? . Thanksss hahaha :D jangan lupa next chapter dan thanks atas semangatnya, kamu hiatus? Kenapa? Gegara aku? Huaaaaaa
Ceritanya gpapa gantung kharisma shima , asal hubungan aku dan tae gk gantung (?) , next chapter? Of course . . . Hahahaha, thanksssss :D
Ini belum berakhir YuRhachan , aku kan bikin tbc, pasti gk di scroll ampe bawahh hufttt. Tar aku bakal bikin epilog. And yappp Jungkook cuma nurutin permintaan tae jadi dianya harus tabah. Thankss ;D
Huaaaaa putputtaetae gapapa kamu baru review di chapter kemaren, yang penting masih ada yg baca ini ff , yg penting kamu terhibur. Tae mati? Hmmmmmm dan kookie mungkin bakal nurutin permintaan tae . Tunggu next chapter ya. Thanksss :D
Apaaaaa Guest077 ? Iya kookie kasiann, disini sebenernya kookie ditinggalin atau tae emang meninggal, no one knows . Pliss jangan shock, aku juga shock pada ngomen tae meninggal huaaa di chapter sebelumnya. Thankssss :D
Halooooooo Guest , kamu kenyang baca 2 chap, aku kenyang di hujat readers yg gk terima dengan chap sebelumnya, tae matii ? Kenapa mikir begitu? Kenapa ?
Aku juga harap gitu sih, tae kasih kejutan. Hahahhah, kejahatan udah keungkap tandanya bentar lg end. Ff ini emang harus di ending biar gk bosen dan aku bakal bikin cerita baru. Hahahaha. Miannn aku gk bisa perpanjangin lagi soalnya konflik2 udah mulai berakhir dan udah saatnya end, really sorry. Tapi makasih banget atas apresiasi kamu sama ff ini dan selalu nunggu , aku terharu TT huaaaaa. Jungkook gk sendiri ada para hyung yg menemani hihihi. Miann aku tega bikin cerita begitu, jungkook pacaran ama aku aja hahahah. Thankssss :D
Belum taennie , ini belum kelar ceritanya. Aku bakal bikin ending dulu. Huaaaa mian, kenapa pada bilang aku tega huaaa. Thanksss :D
Klo hati guest berantakan, tenang ada aku yang bakal bikin utuh lagi, I promise you. Huaaaaa kenapa pada bikin komen tae mati, huaaaaa. Thanksss :D
Gomawo :D
