Embusan angin itu berhasil menerpa permukaan wajah cantik Luhan. Gadis itu kini sedang duduk-duduk di bawah pohon rindang. Sepertinya tempat tersebut akan menjadi lokasi kedua favoritnya, setelah rooftop.

Tak ada pengganggu. Dan, Luhan sangat menyukai situasi seperti ini. Gadis itu mulai menutup kedua matanya.

"Hai, Luhan-ssi."

Namun, harapannya untuk merasakan ketenangan pun harus pupus saat ada seorang pemuda dengan tidak berperasaannya datang menghampiri.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya pemuda itu, lalu ikut duduk di sebelah Luhan.

"Tanpa kujawab pun, kupikir kau sudah tahu apa yang sedang kulakukan," jawab Luhan datar.

"Hehehe," pemuda itu nyengir lebar. Merasa basa-basinya tadi gagal total. "Ng ... ngomong-ngomong, nanti malam kau sibuk tidak?" tanyanya.

"Entahlah. Memangnya kenapa?" jawab Luhan.

"Ayo kita pergi jalan-jalan," ajak pemuda itu.

Luhan mengernyit. Pergi jalan-jalan bukanlah hal yang asing baginya. Namun, pergi jalan-jalan dengan pemuda asing yang belum lama dilihat dan dikenalnya tentu saja akan menjadi pengalaman baru baginya. "Baiklah." Tak ada salahnya bagi Luhan untuk tidak menolak tawaran dari pemuda tersebut.

"Kau serius?" tanya pemuda itu tak percaya.

"Aku adalah orang yang selalu serius. Apa kau meragukan ucapanku?"

"Ng ... tentu saja tidak." Pemuda itu lalu bangkit dari duduknya. "Kalau begitu, aku akan menjemputmu sepulang dari sekolah nanti di rumahmu. Bagaimana?"

"Oke. Tidak masalah."

"Yes. Kalau begitu, aku mau ke kelas dulu. Annyeong, Luhanie!" serunya sembari berlari pergi. Tak lupa pula menyeringai, sebab rencananya sepertinya akan berjalan lancar.

"Memangnya dia tahu alamat rumahku?" tanya Luhan dengan kening berkerut. "Ah, terserah."

Tak jauh dari tempat Luhan berada, ada Sehun yang sengaja mendengar obrolan Luhan dengan pemuda tadi. "Aku tidak akan membiarkan Luhan pergi dengan pria seperti Kim Seok Jin itu," gumamnya, lalu melangkah menghampiri Luhan. "Luhan-ssi!" panggilnya begitu tiba di hadapan Luhan. Dia lalu mendudukkan diri di sebelah gadis itu.

"Wae?" sahut Luhan malas.

"Apa kau nanti malam ada waktu?" tanya Sehun.

"Mianhae. Aku sudah ada janji dengan seseorang," jawab Luhan.

"Tidak! Aku tidak rela jika kau pergi dengan pria seperti Kim Seok Jin itu."

Luhan langsung menatap Sehun dengan kening yang berkerut. "Dari mana kau tahu itu? Apa kau tadi menguping pembicaraanku dengannya?" selidiknya curiga.

"Iya. Aku memang menguping pembicaraanmu dengannya. Dan, aku sangat tidak rela jika kau pergi dengan pria itu, Luhan-ah ... kau jangan pergi, ya? Aku mohon ..."

"Kau tak punya hak untuk melarangku."

Sehun mendesah. Ya, Luhan benar. Dia memang tidak memiliki hak untuk mengatur hidup Luhan. Dia bukan siapa-siapanya Luhan. Dia hanyalah seorang pemuda yang berharap dirinya ada di hati Luhan. "Ya, kau benar. Aku tidak mempunyai hak untuk itu." Sehun menghela napas. "Tapi, tak seharusnya kau menerima ajakan dari seseorang yang baru saja kau kenal, Luhan-ssi."

"Aku tidak peduli. Oh, ya, awas saja kalau kau sampai mengawasiku nanti malam. Aku akan sangat membencimu kalau kau sampai melakukan itu," ancam Luhan.

Sehun mengangguk, walaupun di dalam hatinya masih sangat tidak ikhlas.

oOo

Luhan menatap pantulan dirinya di cermin. Dress berwarna maroon dengan panjang selutut tampak melekat dengan indah di tubuhnya yang ramping. Gadis itu tersenyum lebar sembari memutar tubuhnya.

Detik selanjutnya, Luhan terdiam. Lalu, dia mendesah. "Kenapa aku memakai dress ini?" ucapnya. Dia lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak, aku tidak bisa mengenakan dress ini," ucapnya. Gadis itu kemudian berganti pakaian. Celana jins panjang, kaos lengan pendek dan sweater berwarna biru pun menjadi pilihannya. Dia hanya pergi jalan-jalan saja, bukan ingin pergi berkencan dengan seorang kekasih. Jadi, tak perlu berdandan yang cantik.

Setelah siap dengan semuanya, Luhan pun melangkah keluar dari kamarnya.

"Kau mau ke mana, Luhan-ah?" Namun, baru sampai di ruang tamu, ada Shin Young yang menegurnya.

"Ah, aku mau keluar, Eomma. Jalan-jalan," sahut Luhan. "Tidak apa-apa, kan, Eomma?"

Shin Young tersenyum, lalu berkata, "Iya, tidak apa-apa. Tapi, jangan pulang terlalu malam, ne. Besok kau harus sekolah."

"Ne, Eomma." Luhan lalu melanjutkan langkahnya. Dan, tepat pada saat dia keluar dari rumah, ada Kim Seok Jin yang baru saja tiba. Jadi, dia tidak perlu menunggu pemuda itu.

"Sudah siap?" tanya Jin dari jendela mobil yang terbuka.

"Ya," sahut Luhan. Dia lalu masuk ke dalam mobil, tanpa dibukakan oleh Jin.

Tak jauh dari sana, ada seorang gadis yang tengah mengamati keduanya dari balik kaca jendela di lantai dua. Itu Baekhyun, menatap kepergian Luhan dan Jin sembari menyeringai puas.

oOo

Sehun sedari tadi hanya mondar-mandir tak jelas di hadapan Kai. Raut wajahnya tampak cemas. Dan, itu membuat Kai yang melihatnya pun mendengus kesal.

"Kau tak perlu mencemaskannya sampai seperti itu," tegur Kai.

"Kai-ssi!"

"Hyung. Panggil aku Hyung."

"Ne, Kai Hyung. Hyung tahu, Kim Seok Jin itu orang yang baru dikenal Luhan. Aku takut kalau terjadi apa-apa dengannya."

"Kau tak boleh berbicara seperti itu. Berdoa sajalah agar Luhan baik-baik saja."

"T-tapi, Hao Wang Ajeossi menyuruhku untuk menjaganya. Aku tidak bisa tinggal diam."

"Mwo? J-jadi, kau orang yang disuruh Hao Wang Ajeossi untuk mengawasi Luhan?"

"A-ah, itu ... ya."

Kai mendesah. Bagaimana bisa ayahnya Luhan menyuruh lelaki seperti Sehun ini untuk mengawasi anaknya? Kai merasa bahwa dirinya jauh lebih baik dalam hal mengawasi Luhan daripada Sehun. Tapi, mungkin saja Tuan Xi menyuruh Sehun, sebab pemuda itu berada di sekolah dan kelas yang sama dengan Luhan.

"Wae?" tanya Sehun begitu melihat ekspresi wajah Kai yang seperti meremehkan kemampuannya.

"Aku tak yakin," jawab Kai.

"Apa?! Yak, Kai-ssi!"

"Panggil aku Hyung. Sudah berapa kali aku peringatkan padamu, hah, agar memanggilku Hyung?"

"Iya, iya. Kai Hyung." Sehun berdecih. Ada perasaan tidak ikhlas saat dia harus memanggil Kai dengan embel-embel Hyung di belakang namanya.

"Bagus."

"Kalau begitu, sekarang Hyung harus ikut aku."

"Ke mana?"

Sehun mendesah. Selain banyak maunya, Kai ternyata lambat loading juga. "Ke rumah Luhan. Aku benar-benar tidak rela jika dia pergi dengan pria yang bernama Kim Seok Jin itu."

"Bukankah kau tadi bilang kalau Luhan melarangmu untuk mengikutinya?"

"Ya, dia memang melarangku mengikutinya, tapi dia tidak melarangku datang ke rumahnya."

"Tidak bisakah kau ke sana sendirian? Aku ingin menemui Kyungsoo."

"Tidak! Aku tidak mau sendirian ke sana. Perasaanku tidak enak. Ah, cepatlah." Sehun pun menarik paksa tangan Kai. Pemuda berkulit tan itu harus ikut dengannya. Entah kenapa, perasaannya tidak enak. Feeling-nya mengatakan bahwa akan terjadi hal buruk pada Luhan.

oOo

"Ajeomma, apa ... Luhan ada di rumah?" tanya Sehun begitu tiba di rumah keluarga Xi.

"Luhan? Ah, dia baru saja pergi. Katanya, sih, ingin jalan-jalan," jawab Shin Young.

"Benarkah?" Sehun lalu mengacak rambutnya frustrasi. "Aish ... kenapa Ajeomma membiarkannya pergi dengan pria itu?"

Shin Young mengernyit. "Pria itu? Maksudmu?" tanyanya tak paham.

"Kim Seok Jin. Dia bukan pria yang baik, Ajeomma ..."

"Dari mana kau tahu kalau dia bukan pria yang baik?" sela Kai.

"Kau tak perlu tahu dari mana aku bisa tahu. Yang penting sekarang kita harus menyusul Luhan," jawab Sehun.

"Kau serius?" Shin Young tampak khawatir.

"Aku serius, Ajeomma. Kalau begitu, kami permisi dulu. Kami harus secepatnya menyusul Luhan. Ayo, Kai." Sehun menarik tangan Kai untuk pergi dari sana secepatnya, sebelum Luhan semakin menjauh.

"I-iya. Kalian, hati-hati di jalan." Shin Young lalu masuk ke dalam rumah dengan perasaan tak tenang. Ia percaya terhadap apa yang dikatakan oleh Sehun tadi. Dan, ia mencemaskan Luhan sekarang. Semoga saja putri tirinya itu baik-baik saja.

oOo

"Kenapa kau tidak menghubungi Luhan saja dan tanya dia ada di mana sekarang?"

"Yak, Kai-ssi. Kau tahu, Luhan bisa saja berkata bohong."

Kai mendesah. Ucapan Sehun itu bisa jadi benar adanya. "Kenapa, sih, kau sangat mencemaskan Luhan? Bukankah dia sudah besar? Dia berhak berkencan dengan siapa pun."

"Tidak!" elak Sehun. "Kau tahu, mereka tidak sedang berkencan."

"Terus, apa yang kau cemaskan?"

"Ada satu hal yang belum bisa aku katakan padamu. Aku hanya ingin dia tidak kenapa-kenapa malam ini."

Aku harap, yang kudengar kemarin itu tidaklah benar ...

oOo

"Kita mau ke mana?" tanya Luhan kepada Jin yang duduk di sebelahnya.

"Ke suatu tempat."

Luhan mendengus. "Ya, aku tahu kalau kita akan ke suatu tempat. Tapi, di mana tempat itu berada lebih tepatnya."

Jin tampak menyeringai. "Surprise. Percaya saja padaku, kau pasti akan menyukainya."

Luhan mengernyit. Entah mengapa dia jadi merasa tak yakin dengan pemuda di sebelahnya itu. Tak yakin bahwa Kim Seok Jin adalah pemuda yang baik. Gadis itu kemudian menatap Jin penuh selidik. Banyak asumsi yang muncul di kepalanya.

"Kenapa, hah? Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Luhan langsung tertegun. "A-ah, tidak kenapa-kenapa," ucapnya, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya.

"Apa kau khawatir kalau aku akan berbuat macam-macam padamu?"

"Tidak."

"Baguslah kalau begitu."

Dalam hati, Luhan mengatakan 'iya'. Perasaan was-was kini berhasil menyelimuti dirinya. Namun, dia tetap mencoba tenang. Dan, tidak lupa berdoa agar dirinya baik-baik saja.

oOo

"Bisakah aku saja yang menyetir? Kau terlalu lambat," ujar Sehun begitu melihat Kai yang tidak melajutan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.

"Tsk, kau tahu, ini bahkan sudah di atas rata-rata," sahut Kai.

"Iya, tapi ini kurang cepat!"

"Yak, Oh Sehun! Kita bahkan tidak tahu di mana Luhan berada sekarang." Kai hanya menuruti perkataan pemuda di sebelahnya itu yang katanya terus-terus saja. Tanpa mencari tahu di mana Luhan berada sekarang.

"Tidak bisakah kau meneleponnya?" suruh Sehun.

"Kenapa bukan kau sendiri saja yang menelepon?"

"Kau tahu, Luhan pasti tidak akan mengangkatnya kalau aku yang menelepon."

Kai menghela napas. Dengan malas, pemuda berkulit tan itu kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Lalu, dia menghubungi Luhan. Tidak lupa untuk me-loudspeaker-nya, agar Sehun mendengar.

Tut ...

"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk."

Namun, di-reject. Itu tandanya, Luhan memang benar-benar tidak ingin diganggu.

"Kau dengar sendiri, kan," ujar Kai. "Kau tak seharusnya seperti ini."

"Kai-ssi! Kau tahu, Luhan dalam bahaya."

Kai tersentak. "Mwo? Apa maksudmu?"

"Aku akan menceritakannya nanti setelah kita menemukan Luhan."

Kai pun langsung menepikan mobilnya. Dia kemudian tampak menggeser-geser layar ponselnya.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa malah berhenti di sini?" tanya Sehun.

"Diamlah! Kau tahu, kali ini aku percaya padamu. Maka dari itu, aku akan berusaha untuk menemukan keberadaan Luhan."

"Kau tahu caranya?"

"GPS."

"Mwo?"

"Luhan selalu mengaktifkan GPS di ponselnya."

"Dari mana kau tahu itu?"

Kai berdecak lidah. "Aku tidak mengenal Luhan dalam satu atau dua hari saja, tapi bertahun-tahun. Justru, aku sendiri yang menyalakan GPS di ponselnya itu."

"Baguslah kalau begitu."

Dan, Kai langsung melebarkan matanya saat dia sudah berhasil menemukan keberadaan Luhan. Buru-buru pemuda itu langsung melajukan mobilnya membelah jalanan kota Seoul. Tentunya dengan kecepatan yang diharapkan oleh Sehun tadi.

"Bagaimana? Apa kau tahu lokasi Luhan berada saat ini?" tanya Sehun.

"Ya. Dan kau, diamlah. Tidak usah banyak bicara."

Sehun pun menurut. Pemuda itu langsung membungkam mulutnya rapat-rapat. Jika sudah seperti ini, itu berarti dia percaya bahwa Kai benar-benar bisa menemukan keberadaan Luhan.

oOo

Luhan menatap jalanan di depan sana dalam diam. Dua puluh menit telah berlalu, namun mobil yang dinaikinya belum sampai ke tempat tujuan juga. Ah, dia bahkan tidak tahu ke mana Jin akan membawanya pergi.

Drrrttt ... drrrttt ...

Ponsel Luhan yang sedari tadi dipegangnya bergetar. Ada panggilan yang masuk. Itu dari Kai. Tsk, kenapa dia meneleponku? Pasti dia sedang bersama Sehun sekarang. Aku yakin itu, batin Luhan. Gadis itu pun kemudian me-reject panggilan dari Kai tersebut.

"Telepon dari siapa, Luhan-ssi? Kenapa tidak diangkat?" tanya Jin ingin tahu.

"Ng ... bukan telepon, kok, tapi SMS. Biasa, dari operator," alibi Luhan, dan diangguki oleh Jin. Luhan lalu mengernyit bingung saat jalanan yang dilaluinya begitu sunyi ... dan gelap. "Seok Jin-ssi, kita ... sebenarnya mau ke mana?" tanyanya.

"Ke suatu tempat. Aku yakin, kau pasti suka," jawab Jin.

"Tapi ... kenapa jalanan ini begitu sepi?"

"Ah, aku sengaja lewat jalan pintas. Kau pasti tidak pernah melewati jalan ini, ya?"

Luhan mengangguk mengiyakan. Tapi, meskipun alasan Jin begitu logis, tetap saja dia ragu.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan. Yaitu, sebuah vila. Yang jauh dari pusat keramaian. Bahkan, cenderung sepi. Tidak ada rumah di sekitarnya, yang ada hanyalah pepohonan saja. Di halaman vila tersebut ada beberapa mobil yang terparkir. Itu menandakan bahwa ada orang di dalam vila tersebut.

"Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Luhan sembari memandangi tampak depan vila tersebut.

Jin tersenyum. "Bukankah kau menyukai tempat yang sunyi? Kalau iya, maka ini adalah tempat yang cocok untukmu," jawabnya, lalu menarik tangan Luhan dan mengajaknya untuk masuk ke dalam vila itu.

Luhan sama sekali tak menolak saat Jin menarik tangannya. Gadis itu menurut saja.

Begitu masuk ke dalam, hal pertama yang dilihat oleh Luhan adalah sekumpulan anak muda yang sedang duduk melingkar sambil menikmati bir. Dia lalu beralih ke arah Jin yang berdiri di sampingnya. "Apa ... ini bar?" tanyanya.

"Bisa dibilang begitu. Tapi ... ini adalah vila," jawab Jin.

Luhan mengernyit bingung. Tidak begitu paham dengan maksud perkataan Jin tersebut. "Jadi ... kau mengajakku kemari hanya untuk minum-minum?" tebaknya.

"Tidak. Jika hanya untuk minum-minum, kenapa juga kita harus sampai datang kemari, sementara di keramaian saja banyak bar yang bisa kita kunjungi?" Jin lalu menarik tangan Luhan. "Ayo!" ajaknya.

"Ke mana?" tanya Luhan.

Jin tak menjawabnya. Pemuda itu mengajak Luhan ke belakang, tepatnya di sebuah kamar. Pemuda itu menuntun Luhan agar masuk, dan dia mengikut di belakangnya.

"Ng ... apa yang kita akan lakukan di sini?" tanya Luhan bingung.

Jin tak langsung menjawab. Pemuda itu malah menutup pintu, lalu menguncinya rapat-rapat. Seakan-akan tak ada seorang pun yang boleh masuk dan mengganggu acaranya bersama Luhan.

"Seok Jin-ssi," panggil Luhan. "Kenapa ... kau mengunci pintunya?"

Jin menyeringai. Dia lalu melangkah mendekati Luhan.

"Seok Jin-ssi!" Luhan perlahan mundur ke belakang saat pemuda di depannya itu semakin melangkah mendekatinya. Perasaan takut kini mulai menyelimuti dirinya. Takut, kalau pemuda itu berbuat macam-macam padanya. "A-apa yang akan kau lakukan?"

"Tidak usah takut, Luhan-ssi. Aku tahu, kalau kau bukanlah gadis baik-baik. Kau gadis yang nakal, Luhan-ssi. Maka dari itu, aku akan membuatmu menjadi semakin nakal lagi."

"Ya?"

.

.

.

Tbc ...