.

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Gender : Romance, Humor, Friendship

Rate : T

Pair : Sasuke, Sakura

Accidentally in Love

Part 21

'Sugar'

Enjoy.


Konoha di musim dingin. Semalam salju turun cukup lebat dan pagi ini nuansa kota menjadi serba putih. Sasuke sedang mengancingkan lengan kemeja sambil berdiri di depan pintu kaca kamarnya yang besar itu. Bagaimana? apa kalian sudah mencoba mengintip Sasuke dari sana? tidak tertembak senapan burung kan?

Sasuke memandang hamparan salju pekarangan rumahnya cukup lama, pria itu hanyut memikirkan sesuatu. Sasuke lalu berseringai tipis, ia berajak memasang dasi lalu mengenakan jaket kulit hitam. Penampilan Sasuke hari ini seperti ditective muda keren.

"Selamat pagi Sasuke-san..." Sapa Mukade saat Sasuke menuju ruang makan.

"Aa, pagi." Sasuke hanya mengambil satu buah tomat lalu beranjak pergi.

"Tidak sarapan dulu?" Tanya Mukade, pria itu yang selalu menemani Sasuke sarapan pagi.

"Ada yang harus kusiapkan sebelum rapat pagi ini." Sasuke berlalu pergi.

Mobil Sasuke keluar dari halaman kediaman Uchiha. Kita selalu melihat sisi Sasuke yang tenang dan tertib, tapi pagi ini, Sasuke terlihat sedikit berbeda saat pria itu melahap tomat sambil mengendarai mobil.

I'm hurting baby, I'm broken down...

I need your loving, loving, I need it now...

When I'm without you...

I'm something weak...

You got me begging...

Begging, I'm on my knees...

Lagu Maroon Five berjudul Sugar memecah keheningan mobil Sasuke, saat ia menyalakan radio di lampu merah. Sasuke sudah mengunyah habis tomatnya, Onyx-nya menatap kedepan sambil mendengar ungkapan Adam Lafine mencurahkan isi hati. Ibarat kehidupan, pria membutuh gula agar hidupnya serasa manis, bagaimana denganmu Sasuke? apa kau membutuhkan gula? gula merah muda mungkin?

Mobil sedan yang ditumpangi empat wanita cantik berhenti di samping mobil Sasuke beberapa saat kemudian, salah satu dari mereka yang duduk di samping jendela sedang memoles lipstik dan lipstiknya langsung menabrak jalur bibir saat melihat sosok pengemudi tampan. Dalam hitungan detik, para wanita di dalam mobil itu histeris tidak jelas. Sasuke menoleh, empat wanita itu mengedipkan mata sambil melambai genit ke arahnya tapi Sasuke hanya memasang wajah datar. Lampu hijau menyala, Sasuke langsung melaju mengacuhkan para wanita yang tersentak kaget saat bunyi Tin! Tin! terdengar. Lampunya sudah hijau, kalian menghambat jalan...

Your sugar..

Yes, please...

Won't you come and put it down on me...

I'm right here, 'cause I need...

Little love and little sympathy...

Lagu Maroon five berakhir saat mobil Sasuke tiba di studio. CR Z hitam itu melaju ke area parkir basement. Sasuke keluar dari parkiran lalu berjalan menyelusuri taman, langkahnya cepat seperti biasa, sapaan para pegawai terdengar terutama para wanita yang tergila-gila padanya.

"Pagi Sasuke-kun..."

"Pagi Sasuke..."

"Pagi Sasuke-san.." Sasuke langsung menoleh saat mendengar suara Sakura, gadis itu berjalan di belakangnya, ia tampak bergegas.

"Pagi." jawab Sasuke dan Sakura tersenyum.

"Mana Naruto?" Tanya Sasuke.

"Naruto tadi sakit perut, aku pergi duluan."

"Kau naik bus?"

"Hem..," Sakura mengangguk. "Jaa.." Sakura mempercepat langkahnya mendahului Sasuke, berjalan dengan pria itu bisa menimbulkan masalah karena dipelototi penggemar Sasuke bisa merusak mood berkarya. Sasuke hanya memandang Sakura yang semakin menjauh sambil tersenyum tipis. Kejar dia Sasuke!

.

.

"Pra produksi sudah fix, Segala persiapan film baru sudah siap, minggu depan kita akan mulai masuk dalam proses produksi." Ucap Suigetsu, produser studio yang baru.

Hari ini adalah rapat esekutif produser pertama saat Sasuke menjabat sebagai CEO. Sasuke mengadakan rapat untuk membahas proyek film animasi 3D yang baru. 'Time is money' itu selogan untuk para esekutif produser. Selogan itu memang lekat untuk para pengusaha, tapi untuk para seniman, 'Time is art'.

Studio Gamabunta tidak pernah berhenti memproduksi film animasi, tidak ada waktu luang untuk acara minum teh saat satu proyek film sudah dirilis. Membutuhkan beberapa tahun untuk menggarap sebuah film animasi layar lebar. Waktu itu cukup lama untuk orang-orang di balik layar agar penonton bisa duduk di bioskop sambil mengunyah popcorn lalu berkomentar.

Studio Gamabunta memiliki dua devisi story, masing-masing unit 3D dan 2D. Tugas mereka adalah mencari ide serta menyusun cerita, sutradara berperan penting untuk menghidupkan cerita itu. Ketika satu cerita sudah masuk ke tahap pra produksi, devisi story akan langsung membuat ide cerita yang baru. Berapa lama proses pra produksi mematangkan sebuah konsep cerita film animasi layar lebar? proses itu membutuhkan waktu setahun bahkan lebih. Jadi, ketika satu film rilis, satu cerita sudah selesai melalui tahap pra produksi sehingga unit produksi langsung menggarap film baru tanpa harus menunggu.

"Aku cukup terkesan dengan apa yang Greenoch raih dalam satu pekan ini." Saat ini Teuchi membahas film Greenoch.

"Dalam opening weekend, penjualan tiket Geenoch sudah mencapai 70 juta US dollar dari box office. Rating kita di IMDb (Internet Movie Database) juga cukup tinggi, aku menghargai kinerja produser sebelumnya tapi jumlah angka itu menurun jika dibandingkan dengan pembukaan minggu film terakhir kita." Sambung Teuchi, jelas dia sedang mengoreksi Sasuke.

Teuchi adalah esekutif produser yang tingkat kehadirannya dalam rapat bisa dibilang jarang karena ia tidak menetap di Konoha. Ada lima esekutif produser studio Gamabunta, Teuchi memegang 20 % saham terbesar studio setelah Itachi.

"Aku yakin dua minggu kedepan Greenoch akan mencetak box office, tapi Teuchi-san ada benarnya, penjualan Greenoch satu minggu ini kalah jika dibanding film-film kita sebelumnya." Ucap salah esekutif produser lainnya.

"Anda semua benar." Sasuke angkat bicara, "Greenoch memang kalah jika dibandingkan dengan film sebelumnya karena anda semua menitik fokuskan pada hasil penjualan satu minggu ini. Aku sedang tidak mencari-cari alasan, Kita bisa melihat reaksi masyarakat dari rating IMDb dan penjualan tiket opening weekend, tapi aku juga tidak menyangkal minat masing-masing orang pada film berbeda."

"Benarkah? apa karena bukan tingkat pemasaran yang kurang jitu?" Sanggah Teuchi. Sasuke merasa Teuchi sedang memojokkannya.

"Pemasaran juga terbatas oleh dana." Sahut Sasuke.

"Bukankah kita sudah memberi anggaran dana cukup besar untuk pemasaran?" Balas Teuchi.

"Kita pun sudah memaksimalkan dana itu Teuchi-sama. Semua berjalan sesuai prosedur, jika hasilnya kurang memuasakan, kita akan lebih maksimal untuk film selanjutnya karena itu aku diangkat menjadi seorang CEO." Ucap Sasuke dan Itachi tersenyum tipis.

"Untuk kali ini saja kita tidak usah terlalu fokus dengan grafik penjualan satu minggu, yang namanya grafik selalu naik turun kan tuan-tuan? hahahah..." Ucap salah seorang esekutif produser yang perawakannya ceria dan tidak terlalu serius.

"Kuharap produser yang baru bisa lebih maksimal menggarap proyek film baru kita, ini bukan hanya masalah uang, tapi ini menyangkut citra studio." Ucap Teuchi.

"Saya akan melakukannya sebaik mungkin." Ucap Suigetsu, ia bertatapan dengan Sasuke sekejap.

"Sepertinya dia sedikit sensitif padamu, masalah pribadi?" Tanya Suigetsu saat rapat usai, ia dan Sasuke berjalan menelusuri taman. Para pegawai menyapa mereka, dilihat dari bagaimana para pegawai wanita menyapa Sasuke, Suigetsu paham pria di sebelahnya ini bintang idola.

"Aku tidak heran jika Teuchi-san mengoreksiku, sebaiknya kau bekerja dengan baik jika tidak ingin dikoreksi." Ucap Sasuke, pandangannya lurus ke depan dan dia menangkap sosok Gaara berjalan berlawanan arah dengannya.

"Kau mengaku kinerjamu kurang baik?" Tanya Suigetsu.

"Jangan mudah puas saat kau meraih tujuanmu." Ucapan Sasuke membuat Suigetsu tersenyum tipis, mereka lalu berpapasan dengan Gaara. Onyx Sasuke lurus kedepan sedangkan Suigetsu membalas sapaan Gaara saat pria itu mengangguk.

"Sabaku Gaara? dia bekerja di sini?" Suigetsu sedikit terkejut saat melihat Gaara.

"Hn. Kau mengenalnya?" Tanya Sasuke.

"Tidak, yang kutau dia bekerja di DreamWorks sebelumnya. Pria itu salah satu aset penting DreamWorks.

"Aa.."

"Studio berani menggajinya berapa sampai dia memilih berkarir di sini?"

"Kita memberikan harga yang pantas dengan kemampuannya." Jawab Sasuke.

"Hm.." Suigetsu mengangguk-angguk.

.

.

"Woaaa..."

Artist background 2D sedang melihat review Trailer film animasi Black Jack dari layar LCD 60 ins yang dipajang di salah satu sisi dinding ruangan. Trailer itu baru diselesaikan oleh devisi editting kemarin, setelah sebelumnya semua komponen meliputi animasi, background, suara dan effect digabung oleh team compositor, adegan per shoot-nya akan digabung menjadi satu oleh team editor.

"Jack! you are my man..." Tunjuk Kiba usai trailer diperlihatkan.

"Keren...keren..." beberapa lainnya menepuk tangan.

"Well done, background kita juga keren..." Ucap salah satu background artist.

"Kalian lihat background Sakura di beauty shoot tadi? Background itu sejarahnya panjang..." Ucap Obito.

"Apa kalian ingat saat Anakonda melotot padanya?" Timpal Konohamaru, Sakura hanya menghela nafas mengingat kejadian itu.

"Apa kau masih ingat sensasinya Sakura?" Goda Ino.

"Ucapkan salam pada suhu..." Konohamaru menunduk sambil menyatukan kepalan tangannya.

"Kalian harus dipelototi Anakonda dulu baru bisa merasakan sensasi membuat background yang sesungguhnya. Maksudku sensasi mata sekarat." Ucap Sakura membuat semua terkekeh.

"Tapi jika saja art director kita Gaara, kau mungkin akan betah dipelototi kan?" Paduan suara cie-cie terdengar. 'Shannaro... Kenapa malah menuju ke situ?'

"Kalau Sasuke yang menjadi art director bagaimana?" Ucap Ino tapi suara cie-cie tidak terdengar.

"Sasuke-san itu CEO, bukan art director, jadi tidak mungkin menggantikan Anakonda." Ucap salah satu artist, semuanya mengangguk setuju.

"Ngomong-ngomong soal tuan CEO, apa dia itu masih dekat denganmu Pinky?" Tanya Konohamaru setelah mereka kembali ke meja kerja masing-masing.

"Kenapa kau tanyakan itu?"

"Apa dia tidak khawatir kau akan direbut Gaara?" Ucap Konohamaru.

"Kau tahu? sebaiknya kita membicarakan hal lain." Ucap Sakura, Obito hanya melipat tangan memandanginya.

"Memangnya kenapa?" Tanya Konohamaru.

"Karena jika dia khawatir padaku, akan ada angin tornado terlebih dahulu." Ucap Sakura, ia beranjak dari meja kerja lalu keluar ruangan.

.

.

Mungkin Sakura bisa berlagak santai tapi sebenarnya dia memikirkan perkataan Konohamaru tadi, hubungannya dengan Sasuke memang sudah membaik, tapi itu bukan berarti Sasuke..., Sakura menghela nafas, bukan berarti Sasuke menyukainya atau sejenisnya kan? Sakura menganggap Sasuke hanya ingin berteman. Berbeda dengan Gaara yang sudah terang-terangan menyatakan bendera pendekatan padanya. Sakura bukannya jual mahal dengan Gaara, dia juga ingin jatuh cinta tapi hatinya itu, entah kenapa hatinya...

"Awas..." Gaara menarik Sakura yang sejengkal lagi akan menabrak patung Gamakichi.

"Ah! Gaara-san..." Sakura kaget, ia menoleh ke Gaara lalu memandang patung Gamakichi, 'Shannaro sedikit lagi...'

"Perhatikan langkahmu..." Tegur Gaara.

"Ah, ya.. Hahah..." Sakura tertawa sekejap lalu terdiam saat jari telunjuk Gaara menyentuh dahinya.

"Gaara-san apa yang kau lakukan?" Sakura melirik ke atas.

"Menerawang."

"Menerawang?"

"Menerawang apa yang sedang kau pikirkan." Gaara tersenyum tipis, begitupun Sakura yang juga tersenyum sambil menyingkirkan jari Gaara dari keningnya. Keduanya lalu berjalan menelusuri teras gedung.

"Darimana?" Tanya Sakura.

"Dari HRD. Kau mau kemana? Kafetaria?"

"Yup, kau benar..."

"Malam Natal besok ada acara?" Tanya Gaara, Sakura lalu menghentikan langkahnya.

"Aku akan melewatkan malam Natal bersama Naruto dan Hinata."

"Ah..." Gaara mengangguk, mereka melanjutkan langkah kembali. Sakura ingin menawarkan Gaara untuk bergabung tapi dia ragu, tawarkan, tidak, tawarkan, tidak, tawarkan, tidak...

"Gaara-san, apa kau mau bergabung bersama kami?" Tanya Sakura ragu-ragu, Gaara gantian menghentikan langkahnya.

"Aku diundang?"

"Hem.." Sakura mengangguk. "Anggap saja ini pengganti hari yang waktu itu."

"Kuanggap itu bukan pengganti hari kencan kita." Gaara tersenyum Samar. "Tapi, aku akan datang malam natal nanti." Sakura bingung mau menanggapi apa jadi dia tersenyum saja.

"Baiklah, pulang nanti ingin kuantar atau pulang bersama Naruto?" Tanya Gaara, ia mengalihkan Jadenya menatap objek di belakang Sakura.

"Aku akan pulang..." Emerald Sakura berdenyut saat melihat Sasuke melintasi mereka dari arah belakang.

"Aku akan pulang bersama Naruto." Jawab Sakura dan entah kenapa Sasuke tersenyum tipis saat mendengarnya. Jugo hanya membatin moment singkat itu.

"Baiklah." Gaara menyentuh kepala Sakura. "Sampai ketemu."

"Emm." Sakura mengangguk, dua orang itu pun mengambil arah masing-masing.

"Sasuke, nona Sakura sepertinya dekat dengan Gaara." Setelah menganalisis Sasuke cukup lama, sekarang Jugo sudah bisa membaca kondisinya.

"Hn." Sahut Sasuke. Jugo hanya membatin kenapa Sasuke santai-santai saja?

"Jugo kau duluan." Sasuke menghentikan langkahnya.

"Kau mau kemana Sasuke? rapat produser dengan Unit 3D dan 2D akan berlangsung lima belas menit lagi.

"kafetaria." Sasuke melangkah pergi, Jugo merasa analisisnya tentang Sasuke kurang mendalam.

.

.

"Ok, satu milk tea akan segera datang..." Izumo tersenyum penuh arti sambil memandang ke arah lain, ia lalu beranjak menyiapkan pesanan Sakura.

Sakura berdiri di depan meja counter kafetaria, ia berkutat dengan ponselnya dan tersenyum saat melihat email utakata, pria itu mengirim foto lukisan kado pernikahan Sakura yang dipajang di ruang tengah rumahnya. Pesannya tertulis..

'Wajahku kurang tampan, tapi wajah istriku sangat cantik. Terimakasih untuk kadonya.'

"Satu milk tea..." Ucap Izumo, ia menahan minuman itu seperti biasa sambil tersenyum manis.

"Sakura musim dingin." seseorang mengatakan kata magic, spontan Sakura langsung menoleh ke belakang.

"Sasuke-san?"

"Satu milk tea." Ucap Sasuke pada Izumo. Sakura bingung saat Izumo spontan menyerahkan minumannya pada Sasuke.

"Izumo..." Sakura lalu menatap Sasuke. "Maaf Sasuke-san, kau harus mengantri..."

"Waktuku tinggal sepuluh menit lagi." Sasuke melihat jam tangannya. "Aku pesan satu milk tea lagi."

"Baiklah Sasuke-san." Izumo tersenyum. Genma yang membaca kondisinya melihat Sasuke sekejap lalu menatap Sakura sambil tersenyum tipis. 'Sudah mulai ya?'

"Kenapa? kau mau ini?" Tanya Sasuke saat Sakura menatapnya dengan ekspresi heran.

"Itu memang minumanku Sasuke-san."

"Kau bisa memesan lagi setelah pesananku datang." What?

"Genma, berikan aku satu milk tea." Pinta Sakura.

"Maaf kau harus mengantri." Genma menunjuk satu pegawai yang menuju ke arah kafetaria, bahkan jaraknya masih sepuluh meter, Shannaro!

Sakura akhirnya mengalah, ia tetap berdiri di depan meja counter sambil menghentak-hentakkan kakinya menunggu Izumo sedangkan Sasuke yang masih menungu di belakang Sakura hanya tersenyum samar. Sasuke apa kau sedang menjahili Sakura?

"Satu milk tea, Sasuke-san." Izumo menyodorkan minuman itu tanpa meminta kata magic lagi.

"Ini untukmu." Sasuke menyodorkan satu milk tea pada Sakura lalu beranjak pergi begitu saja. Sakura hanya bengong memandang Sasuke sampai Izumo berdeham.

"Sakura musim dingin." Izumo mengulangi kata magic Sasuke sambil tersenyum penuh arti. Sakura hanya menatap heran Izumo dan berlalu pergi sambil berpikir orang-orang semakin aneh.

.

.

Sasuke kembali ke ruangannya usai melakukan rapat, ia menyandarkan punggung ke kursi kerja, menutup mata dan mengurut pelipis matanya sekejap. Sasuke lalu memandang momentum yang bisa membuat kita gila itu. Entah apa yang sedang dipikirkan Sasuke, kalian tahu? kadang aku juga lelah menerawang Sasuke, tapi aku tidak boleh menyerah, jadi jika kalian lelah, istirahatlah... lihat saja tindakan pria itu sambil minum teh.

Sasuke cuma memandang momentum selama sepuluh detik, pria itu lalu mengeluarkan ponsel, mencari kontak Sakura lalu menuju pesan.

To Sakura : 'apa...'

Sasuke menghapus isi pesannya, ia memikirkan kata-kata yang lebih tepat.

To Sakura : 'nanti pulang...'

Hapus lagi, nanti pulang apa Sasuke?

To Sakura : 'aku ingin makan...'

Hapus lagi?! ingin makan apa?! jangan membuat kita penasaran seperti ini! Kita sudah lelah!

To Sakura : 'aku akan ke supermarket, jika kau mau membeli bahan makanan, kau bisa ikut."

Supermaket? Kau ini sedang mengajaknya atau bagaimana?

Sasuke lalu menekan tombol kirim dan beberapa menit kemudian Sakura baru membalas pesannya.

Sakura : 'tidak Sasuke-san.., aku masih punya banyak bahan makanan.'

(Pftttt.... ) Sasuke lalu membalas pesan Sakura.

To Sakura : 'berapa banyak?'

Sakura : 'Aku tidak sempat mendatanya.'

To Sakura : 'kalau begitu lengkapi isi kulkasnya.'

Sakura tidak mengerti kenapa Sasuke begitu perduli dengan isi kulkasnya, gadis itu menatap layar ponsel sambil berpikir apa Sasuke ingin ditemani belanja atau bagaimana. Sakura mengetik balasan pesan tapi belum ia menyelesaikan ketikannya Sasuke sudah mengirim pesan lagi.

Sasuke-san : 'temani aku belanja.'

Sakura terpaku menatap layar ponsel, tunggu dulu..., maksud Sasuke ini apa? menemani? Sakura masih memikirkan jawabannya, ada sedikit denyutan di dada ketika membaca pesan itu tapi Sakura segera meluruskan.

"Terima saja..." Nada suara Ino pelan. Sakura hanya menatap Ino yang menempel assignment baru di layar komputernya. Ino sempat melirik ponsel Sakura karena gadis itu tegang seperti mengikuti ujian akhir nasional.

"Terima apa?" Telinga Konohamaru tajam.

"Terima assignment-ku..." Ino tersenyum sambil menempelkan assignment baru pada layar Konohamaru. Beberapa saat kemudian ponsel Sakura bergetar.

Naruto : 'Nanti kita mampir ke tempat Hinata, dia mengundang kita makan malam."

Onyx Sasuke langsung melirik ponselnya saat pesan balasan Sakura masuk.

Sakura : 'maaf Sasuke-san, sepertinya aku tidak bisa menemanimu karena Naruto mengajakku makan malam.'

Beberapa menit kemudian Naruto membalas pesan Sakura.

Naruto : 'tidak jadi, aku ingin makan romantis dengan Hinata. Kau pulang naik bus saja, ok?'

Shannaro! apa-apaan ini?

Beberapa detik kemudian ponsel Sakura bergetar lagi.

Sasuke-san : 'aku akan menunggumu pulang nanti.'

Tepat pukul lima sore kurang lima belas menit, ruangan background 2D hening. Keheningan itu bukan karena mereka saking seriusnya, keheningan tercipta saat sosok yang sangat tidak terduga masuk ke ruang background tanpa ada tanda-tanda angin tornado. Kusarankan kalian tidak usah ikut kaget karena mungkin Sasuke datang ke ruang background 2D hanya untuk melihat-lihat saja. Ya, seorang CEO datang untuk melihat-lihat ruang devisi background 2D.

"Sasuke..." Ino menyambut Sasuke, ekspresinya terkejut begitu pula dengan semua artist background 2D. Bagaimana dengan Sakura? gadis itu sempat mematung. Jadi ini yang dimaksud Sasuke 'akan menunggumu pulang nanti?'

Datang ke ruang background 2D huh? Kau tidak kasihan pada Sakura, Sasuke?

Sasuke hanya menatap Sakura sejenak lalu duduk di sofa ruang tengah, Obito dan Konohamaru sudah sibuk menyenggol kaki Sakura seperti main sepak bola sementara artist background berpikir dalam ketenangan yang abadi. Tenten langsung membuka chatting konferens atau chatting terbuka hanya untuk devisi background 2D saja.

Ada yang bisa kubantu Sasuke?" Ino tahu alasan Sasuke datang tapi dia berbasa-basi.

"Tidak, aku menunggu Sakura." Ucapan Sasuke membuat telinga semua orang di ruangan itu bergerak. Sakura berlagak santai walau jantungnya seperti mulai tidak beres. Menunggunya? Tenang, tenang, tenang, tenang, tenang, tenang, tenang... Spark Sakura berkedip-kedip dan dia masuk ke chatting terbuka.

Tenten : guys...! Catat tanggal hari ini!

Unknown artist : apa ada badai salju di luar sana?

Unknown artist : dia mencari Sakura, kalian dengar itu?! dia datang ke ruang BG 2D mencari Sakura!

Konohamaru : berapa suhu di luar sana sampai pemanas ruangan CEO tidak bisa menghangatkannya?

Obito : aku merasakan pemanas di ruangan kita terlalu panas, buka jendelanya...

Iruka : Sakura, apa ada sesuatu yang kami lewatkan?

Tenten : tidak usah ditanya lagi, pasti kita melewatkan sesuatu!

Konohamaru : kita harus membentuk dua kubu, pendukung Sasuke dan pendukung Gaara.

Sakura langsung menginjak kaki Konohamaru dan suara teriakan membuat semua menoleh kaget, begitu juga dengan Sasuke yang melihat Konohamaru sekejap lalu berkutat dengan majalah New Type lagi. Suasana ruangan kembali hening, hanya terdengar suara ketikan keyboard yang saling beradu.

Obito : Ada yang sedang memanas, seseorang ambilkan tumpukan salju di luar. Urgent.

Sakura langsung melirik tajam Obito.

Unknown artist : apa kisah lama akan bersemi kembali?

Obito : apa kita harus mengadakan seminar cinta lagi, Konohamaru?

Konohamaru : wah... Beraaat...

Unknow artist : Sepertinya Sasuke-san sudah mengencangkan tali sepatunya..

Unknown artist : bagaimana dengan Gaara?

Tenten : Gaara vs Sasuke! Siapkan popcorn kalian!

Kiba : jelaskan sesuatu Sakura, kenapa kau diam saja?

Sakura : aku tidak tahu apa-apa! percayalah padaku!

Chatting ini terus berlangsung mengiringi menit-menit jam pulang pegawai, baru kali ini Sakura merasa menit-menit itu serasa seperti satu tahun sementara Sasuke duduk tenang membolak-balik majalah. Hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik dari moment ini, Sasuke memang mengencangkan tali sepatunya. Sakura merasa mulai besok dia harus tabah menjalani hari-hari.

.

.

"Sakura." Ini kedua kalinya Sasuke memanggil Sakura, gadis itu melamun dari tadi, dia masih syok dengan kedatangan Sasuke ke ruangan devisi background 2D apalagi mengatas namakan dirinya. Sakura memandang keluar jendela sementara mobil Sasuke melaju ke Supermaket.

"Sakura." Sasuke menaikkan nada suaranya dan Sakura langsung menoleh.

"Kau kenapa?" Tanya Sasuke.

Sakura menatap Sasuke sejenak lalu memutar tubuhnya menghadap Sasuke.

"Sasuke-san, kenapa kau lakukan ini padaku?"

"Kenapa?" Sasuke menautkan alisnya.

"Kenapa kau datang ke ruang background ? kau bisa menunggu di tepat parkir atau dimana saja terserah, asalkan jangan ke ruang background."

"Memangnya Kenapa?"

"Kenapa bagaimana? aku bisa di-bully habis-habisan besok."

"Di-bully karena apa?" Sakura ingin menjawab tapi entah kenapa sulit sekali. Sakura menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya. Satu hal yang ia syukuri tadi, dia tidak bertemu dengan Gaara saat menuju tempat parkir bersama Sasuke.

"Di-bully karena aku dekat denganmu?" Tanya Sasuke. Sakura langsung menoleh.

"Kau paham kan Sasuke-san? itu maksudku..."

"Memangnya kenapa? bukankah kita memang sudah dekat dari dulu?" Sasuke menoleh, menatap Sakura. DEG. Sakura langsung mengalihkan pandangannya, ia merasa Sasuke sedikit berbeda sekarang.

"Malam natal kau ada acara?" Tanya Sasuke kemudian.

"Aku akan menghabiskan malam natal bersama Naruto, Hinata dan..." Sakura memaki dirinya sendiri yang mengucapkan kata penghubung 'dan'

"Dan siapa?" Tanya Sasuke. Jawab saja Sakura, tidak usah takut...

"Dan..." Sakura menoleh ke luar jendela.

Shannaro!

Sakura spontan bergerak melosot ke bawah. Sasuke bingung melihat Sakura yang tiba-tiba bersembunyi di bawah, pandangan Sasuke menuju keluar jendela dan dia melihat sosok Gaara mengendarai motor berhenti di samping mobilnya. Gaara lalu menoleh, ia dan Sasuke bertatapan sejenak. Jade Gaara bergerak melihat ke bangku penumpang dan dia tersenyum tipis di balik helmnya. Lampu hijau lalu menyala dan Gaara melaju duluan. Sepertinya Gaara sudah tahu siapa penumpang Sasuke walau sosok itu bersembunyi.

"Kenapa bersembunyi?" Tanya Sasuke saat mobilnya melaju, Gaara sudah jauh di depan.

"Aku tidak bersembunyi, kakiku tiba-tiba keram..." Sakura meringis, posisinya masih di bawah antar bangku dan dashboard.

"Duduk yang benar." Tegur Sasuke, Sakura lalu kembali duduk di ke posisi semual.

"Besok aku akan menjemputmu malam-malam." Ucap Sasuke.

"Tapi besok kan aku..."

"Usai kita berkumpul dengan Naruto dan lainnya." Kita? memangnya kau diundang?

"Kau mau datang?!" Sakura sedikit panik, rencananya Gaara juga mau datang.

"Kenapa? aku tidak diundang?"

"Bu-bukan begitu..."

"Lalu kenapa?" Sasuke menoleh.

"Tidak ada.., baiklah." Sakura tersenyum kaku. Percakapan lalu berhenti sejenak.

"Memangnya kita mau kemana Sasuke-san?" Tanya Sakura kemudian.

"Ke rumahku."

"Apa Itaru dan Kenji yang meminta?"

"Hn." Sasuke berseringai tipis.


Sakura mencoba untuk menghubungi Sasori saat malam natal, dia sudah mengirim beberapa email untuk kakaknya beberapa hari yang lalu tapi tumben sekali Sasori tidak menanggapinya. Sakura sempat berpikir yang tidak-tidak, siapa tahu Sasori memang punya kekasih alien di sana.

"Sudah bisa dihubungi?" Naruto berdiri di depan pintu kamar Sasori.

"Belum, dia hanya mengirim email foto dirinya bersama para astronot di dalam stasiun pesawat empat hari yang lalu." Sakura menutup laptop.

"Mungkin dia sedang merayakan malam natal bersama para alien." Ucap Naruto.

"Ya, kau benar." Sakura beranjak dari ranjang Sasori.

"Kau sudah menelpon paman?"

"Hem, sudah, ayah dan nenek menitip salam padamu, katanya pohon natalmu bagus." Sakura melangkah keluar kamar.

"Aku akan menelpon mereka besok." ucap Naruto sambil mengikuti langkah Sakura.

"Maaf Hinata, aku tinggal sebentar tadi..." Sakura menghampiri Hinata yang menata berbagai hidangan di meja makan. Ada pizza, ada kentang goreng, ada onigiri, dan jajanan Jepang lainnya. Naruto yang memborong semua makanan itu, katanya biar seperi pesta kecil keluarga.

"Tidak apa Sakura-chan..., Naruto-kun yang membantuku." Ucap Hinata. Naruto yang mendekat spontan mengecup kepala Hinata. Sesaat Sakura merasa seperti obat nyamuk melihat adegan mesra itu.

"Na-Naruto-kun..." Hinata malu dilihat Sakura, pipinya sedikit memerah.

"Santai saja Hinata..." Sakura tersenyum santai.

"Kau mau dicium juga Pinky? makanya cari kekasih...tentukan pilihanmu." Sakura langsung melempar satu kentang goreng ke arah Naruto.

"Hei, jangan membuang makanan!" Omel Naruto, ia menangkap kentang goreng yang tersangkut di kaosnya lalu melahap kentang itu.

Ting! Tong !

"Ah.. Itu mungkin Gaara-san..." Sakura beranjak membuka pintu.

"Sasuke-san..." Sakura disambut penampakan Sasuke dengan wajah datar dan... Kenapa wajahmu pucat sekali Sasuke?

"Teme... Kukira kau tidak jadi datang..." Ucap Naruto.

"Hn." Sasuke langsung menuju sofa. Sakura memandangi Sasuke, ia merasa ada yang tidak beres dengan Sasuke.

"Sasuke-san ini ocha.." Sakura menyodorkan teh hangat sambil memperhatikan raut wajah Sasuke yang pucat. Tanpa basa-basi Sakura langsung menyentuh kening Sasuke.

"Kau tidak sehat Sasuke-san." Sakura merasakan suhu tubuh Sasuke panas.

"Aku sehat." Sasuke meletakkan gelas ocha di atas meja akuarium lalu memandang Sakura.

"Sehat apanya, kau demam.." Naruto ikut-ikutan menyentuh dahi Sasuke.

"Singkirkan tanganmu Dobe." Sasuke mengelak.

"Ayo, pergi ke tempatku dan istirahat." Naruto membujuk Sasuke.

"Tidak, aku baik-baik saja."

"Baik-baik saja bagaimana? wajahmu sudah seperti peri salju, pucat sekali."

"Naruto benar, kau harus istirahat Sasuke-san..." Sakura khawatir dengan kondisi Sasuke, wajahnya pucat, bibirnya merah sangat menggoda... 'Shannaro.. apa yang kupikirkan?'

"Tidak." Sasuke tetap bersi keras. Onyx-nya menatap Sakura dan Naruto seakan mengatakan 'berhenti mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja.' Sakura dan Naruto hanya menghela nafas. Membujuk Uchiha Sasuke memanglah susah.

"Sasuke-san, sebaiknya kau tidur di dalam kamar." Sakura menarik lengan Sasuke.

"Sakura." elak Sasuke.

"Istirahat atau aku tidak akan ikut denganmu." Sakura mengancam, ia merasa terlalu percaya diri tapi tidak ada pilihan lain, ia berusaha mati-matian menatap Sasuke selama lima detik, matanya bahkan mulai berair.

Sasuke lalu berdiri, pria itu akhirnya menurut dan itu membuat Naruto sedikit takjub. Sakura menggiring Sasuke menuju kamar Sasori. Naruto hanya tersenyum geli saat memandang Sasuke.

"Aku tidak mengerti kenapa Mukade membiarkanmu pergi dalam kondisi seperti ini." Ucap Sakura sambil melepas jaket Sasuke, pria itu hanya diam, ia lalu terbaring, memejamkan mata, dan nafasnya sedikit memburu.

"Usai berkumpul kau ikut aku pulang." Ucap Sasuke. Sakura tidak mengerti kenapa pria ini ngotot sekali, bahkan dalam kondisi sakit.

"Baiklah, tapi sekarang istirahat dulu." Sakura beranjak mengambil segelas air putih.

"Dia tidur?" Tanya Naruto.

"Hm." Sakura mengangguk, dia mencari termometer dan vitamin C di kotak obat.

"Sepertinya dia sudah sakit dari tadi pagi, aku bertemu dengannya di lobi gedung satu. Wajahnya pucat tapi tidak sepucat tadi." Ucap Naruto sambil mengunyah kentang goreng sementara Hinata mengupas apel.

"Sakura-chan, mau kusiapkan air kompres?" Tanya Hinata.

"Ah, ya Hinata, aku minta tolong rebus airnya."

"Tidak menggunakan air dingin?" Tanya Naruto.

"Tidak, pakai air hangat saja, air dingin membuat suhu tubuh semakin naik." Sakura kembali ke kamar lagi membawa segelas air, termometer, dan vitamin C.

"Sasuke-san. Minum ini." Gerakan Sakura sigap, Sasuke menurut tanpa banyak bicara. Setelah minum vitamin C dan mengukur suhu badan, Sasuke tidur lagi. Suhu badan Sasuke 40 derajat, Sakura tidak menyelimuti Sasuke karena itu akan membuat panasnya tidak keluar. Pria tampan itu sedikit meringkuk di ranjang Sasori dan entah kenapa Sasuke yang sedang sakit sangat menggemaskan. Sakura hanya memandang Sasuke sejenak lalu pergi mengambil air kompres sambil tersenyum tipis.

Ting! Tong!

"Ah..itu pasti Gaara-san. Naruto tolong buka pintunya." Pinta Sakura sambil berjalan menuju kamar kembali membawa air kompres.

"Haaaaaai...!" Suara meriah menyambut Naruto. Sakura spontan menghentikan langkahnya.

"Kalian?!" Sakura terkejut melihat Tenten, Ino, Konohamaru dan Kiba, tunggu! ada dua sosok yang menyusul... Sai? Neji? Lee?! Sakura menatap tajam Naruto dan pria itu tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Kalian masuklah!" Seru Sakura, ia melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ada seorang pasien yang tidak bisa diacuhkan.

"Siapa yang datang?" Tanya Sasuke, ia merubah posisinya menjadi terlentang saat Sakura membalikkan tubuhnya.

"Teman-teman studio, Naruto mengundang mereka." Sakura menaruh kompes di kening Sasuke.

"Sasuke-san istirahatlah, tidak usah kemana-mana." Sakura berharap Sasuke tidak akan kemana-mana apalagi keluar kamar, bisa dibayangkan kondisinya nanti jika pria ini menampakkan diri. Craps...

Sakura menghampiri rekan-rekannya setelah menutup pintu kamar, yang Sakura pikirkan saat ini adalah Sasori. Ada lebih dari satu pria selain Sasuke berkunjung ke apartemennya, Naruto tidak masuk hitungan karena pria itu pengecualian khusus. Sakura ingin mengomeli Naruto karena tidak membahas ini terlebih dahulu, tapi setelah melihat moment kebersamaan ini, lupakan saja...

"Kau tinggal sendirian di sini, Pinky?" Tanya Konohamaru, ia menuangkan minuman soda ke gelas.

"Ya, begitulah. Ini apartemen kakakku." Sakura berdiri di samping Ino yang sedang mengunyah cemilan.

"Kau pasti sangat kesepian Sakura-chan..." Ucap Lee dan Sakura hanya tersenyum.

"Kakakmu tidak pulang?" Tanya Tenten. Sakura menjawab 'tidak' sambil melirik Neji dan Sai yang duduk di sofa ruang tengah. Mereka berdua satu paket dengan Ino dan Tenten. Tunggu, sepertinya ada yang kurang di sini, siapa ya?

Ting! Tong!

"Ah, Gaara-san datang...' Batin Sakura, ia beranjak membuka pintu. Sakura cuma pasrah dengan respon rekan-rekannya saat melihat sosok Garaa

"Hai." Penampakan Obito dan Rin muncul di balik pintu, Sakura tidak kaget dengan Obito hanya saja dia cukup terkesima dengan Rin. Sakura lalu mempersilahkan mereka masuk sambil bepikir tidak akan mengejutkan jika Kakashi dan istrinya tiba-tiba datang, tapi kemana Gaara? Kenapa dia tidak muncul juga?

"Kau tidak mengundang Gaara, Pinky?" Tanya Konohamaru.

Ting! Tong!

Sakura membuka pintu, ia tidak berpikir itu Gaara. Mungkin yang datang itu Adolf Hitler.

"Hai." Akhirnya sosok Gaara terlihat setelah Sakura membuka pintu.

"Gaara-san.." Sakura tersenyum dan serempak semua menoleh ke arah pintu.

"Banyak tamu yang diundang." Gaara menengok ke arah dalam.

"Begitulah, kami sedikit memperbanyak undangan." Sakura mempersilahkan Gaara masuk. Rekan-rekan yang lain saling menyapa, tatapan sulit diartikan tertuju pada Sakura tapi ia berusaha bersikap santai.

"Gaara..." Seru Naruto, entah kenapa nadanya itu keras sekali. Semoga Sasuke yang sedang istirahat tidak terganggu dengan keributan di luar.

"Sepertinya ada yang kurang..." Ucap Kiba, tatapan menggoda dari Tenten, Ino dan Konohamaru menuju ke Sakura lagi. Obito hanya tersenyum tipis. Sakura berpikir apa dia harus memberi Sasuke CTM agar pria itu terlelap panjang.

Mereka semua mengobrol sambil bercanda ria di ruang tengah. Konohamaru dan Obito melakukan stand up komedi membuat yang lain tebahak-bahak. Masing-masing pasangan duduk berdekatan termasuk Sakura yang duduk di samping Gaara, disamping sedikit grogi karena sesekali dilirik rekan-rekannya, Sakura juga sedang khawatir dengan Sasuke yang sedang istrirahat di dalam sana, apakah suhu badannya sudah menurun atau belum. Sakura lalu beranjak menuju kamar melihat kondisi Sasuke.

Sakura menutup pintu kamar kembali, ia lalu naik ke aras ranjang. Sasuke sepertinya tertidur pulas, kompresnya terjatuh di samping bantal, Sakura menyentuh dahi dan telinga Sasuke, suhu badannya belum turun, nafas Sasuke masih panas. Sakura lalu mengganti kompres, ia memandang Sasuke dalam keheningan sekejap lalu keluar kamar.

"Kau menikmatinya?" Gaara menghampiri Sakura di meja makan.

"Hm..." Sakura mengangguk sambil meneguk soda.

"Sepertinya ada yang sedang mengganggumu, kau mengkhawatirkan apa?" Gaara menarik kursi makan lalu duduk sambil memakan irisan apel.

"Tidak ada, memangnya kenapa?" Sakura tersenyum, ia lalu melahap pizza. Gaara hanya memandangi Sakura lalu tersenyum samar.

"Besok ada acara?" Tanya Gaara kemudian. Sakura tidak enak menjawab karena dia akan pergi menginap di rumah Sasuke.

"Aku sudah ada acara Gaara-san.."

"Benarkah? aku berharap tidak keduluan Sasuke." Gaara tersenyum tipis. Sakura cukup terkejut dengan tebakan Gaara dan disaat bersamaan Sasuke keluar dari kamar.

Suara berisik stand up komedi spontan hening saat mereka semua menoleh melihat Sasuke berdiri di depan pintu kamar. Ekspresi mereka terkejut seakan mengatakan 'kenapa Sasuke ada di kamar Sakura?'. Sakura langsung mengurut keningnya sementara Gaara memandang Sasuke dalam ketenangan.

"Sasuke, kau sudah baikan?" Naruto mencairkan keheningan. Semuanya langsung menoleh ke arah Sakura dan Gaara yang ada di meja makan, termasuk Sasuke, Onyx-nya menatap Gaara. Mereka melihat Sakura dengan ekspresi yang sulit diartikan, Sakura pasrah... dia berharap Gaara tidak salah paham dengan ini.

"Konohamaru... Lanjutkan ceritamu!" Naruto mengalihkan perhantian. Semua perhatian lalu tertuju pada Obito dan Konohamaru kembali, mereka berpura-pura bersikap biasa saja walau masing-masing membatin sesuatu. Sasuke lalu menuju meja makan. Sakura tidak mengharapkan ini, gadis itu sedikit gugup. Konohamaru yang melanjutkan ceritanya sedikit tidak fokus saat mengoceh sambil melirik ke arah meja makan.

Sasuke meneguk segelas air putih sementara Sakura berlagak fokus melahap pizza sedangkan Gaara memperhatikan cerita Konohamaru dari kejauhan. Sasuke meletakkan gelasnya di meja dapur lalu menuju kulkas.

"Cari apa Sasuke-san?" Tanya Sakura.

"Tomat." Sasuke mencari tomat yang dibeli bersama Sakura di supermarket. Gaara hanya tenang memperhatikan Sakura menghampiri Sasuke.

"Kenapa hanya makan tomat? ada banyak makanan di meja makan Sasuke-san."

"Mulutku pahit." Jawab Sasuke sementara Sakura berjongkok mengambilkan tomat di tempat sayuran.

"Ada makanan manis di meja makan, ada apel juga." Sakura menyodorkan satu tomat lalu menutup pintu kulkas.

"Aku tidak suka apel, rasanya manis." Sasuke menoleh dan dia bertatapan dengan Gaara sekejap, Sasuke lalu menggeret kursi makan.

'Jangan duduk, jangan duduk, jangan duduk, jangan duduk...' Bantin Sakura tapi Sasuke duduk, pria itu menonton stand up komedi dari meja makan sambil mengunyah tomat. Sakura merasa grogi di dekat Sasuke dan Gaara jadi dia kabur menghampiri yang lain di ruang tengah.

"Kenapa kau kesini?" Tanya Ino dengan tatapan menggoda. Sakura hanya memutar bola matanya lalu mengambil tempat di samping Hinata.

"Kau sedang tidak sehat Sasuke?" Gaara memecah keheningan diantara mereka.

"Hn. Sedikit." sedikit apanya? suhu badanmu itu bisa untuk menggoreng telur dadar.

Kedua pria itu lalu terdiam menonton stand up komedi dari Kiba. Semuanya terkekeh, Gaara tersenyum tipis sedangkan Sasuke hanya berwajah datar.

"Sudah cukup! Saatnya ganti acara..." Konohamaru menuju meja makan, diikuti beberapa lainnya.

"Bagaimana jika nonton film saja?" Usul Tenten, dia mengambil snack.

"Ah benar! bagaimana jika nonton film horror?" Sakura tampak antusias sambil melangkah ke meja makan.

"Kukira itu ide buruk.." Sahut Gaara.

"Kenapa?" Tanya Sakura. "bukankah itu asik?"

"Aku tidak mau melihat wajah pucatmu untuk kedua kalinya." Jawab Gaara. Konohamaru, Tenten dan Kiba langsung melirik Sasuke yang sekejap menatap Gaara. Sakura hanya menampakkan deretan giginya saat mengambil pizza dengan kaku.

"Lupakan film horror, lagi pula ini malam natal, siapa yang mau menakut-nakuti diri..." Protes Tenten kemudian.

Suasana lalu mengalir dengan sendirinya, ada yang mengobrol, nonton film, asik mengemil di meja makan, seperti Lee dan Sakura yang asik mengobrol tapi tidak berlangsung lama saat Sasuke manatap tajam Lee yang ambil kesempatan menyilakan rambut Sakura. Moment kebersamaan itu berlangsung sampai akhirnya mereka mengadakan turnamen adu panco. Sakura memperhatikan Sasuke yang duduk tenang di sofa, wajahnya sudah mirip seperti Hayate. Sakura meletakkan minuman soda lalu menghampiri rekan-rekannya yang sedang terfokus dengan adu panco antara Naruto dan Obito.

"Obito.. Jangan biarkan Rin melihat kekalahanmu..." Konohamaru mengompor-ngompori Obito, membuat tenaga Obito semakin kuat, tampaknya Naruto akan kalah.

"Maaf Obito, sepertinya Rin harus melihat kekalahanmu." Naruto melawan balik, tenaganya tidak main-main, Obito sedikit kewalahan dan akhirnya dia kalah.

"The winner is... uzumaki...!" Konohamaru mengangkat tangan Naruto. Semua pendukung Naruto tepuk tangan sedangkan Obito memasang wajah kecewa karena kalah taruhan. Dengan senang hati uangnya melayang ke dompet Naruto.

"Ok, pilih kandidat selanjutnya Naruto..." Ucap Konohamaru. Aturannya, pemenang berhak memilih kandidat tanding baru.

"Sasuke-san, sebaiknya kau istirahat." Sakura berdiri di belakang sofa, ia menunduk lalu berbisik pada Sasuke. Gaara sempat memandang interaksi mereka.

"Tidak, aku sudah baikan." Jawab Sasuke.

"Sasuke dan Gaara!" Naruto menunjuk kandidat tanding selanjutnya. Gaara dan Sasuke langsung bertatapan dan suasana menjadi hening. Sakura langsung menatap Naruto seakan mengatakan 'jangan bercanda! Sasuke sedang sakit!'

"Pilih kandidat lain!" Seru Sakura.

"Memangnya kenapa? Kalian tidak keberatan kan? atau kalian tidak berani adu panco?" Candaan Naruto sangat mengada-ngada. Gaara hanya tersenyum tipis sedangkan Sasuke menatap datar Naruto.

"Baiklah..., ambil posisi kalian." Konohamaru mempersilahkan, kedua pria itu lalu mengambil tempat di meja panco.

"Ok, pasang taruhannya. 5000 yen" Konohamaru mematok uang taruhan lumayan besar, semua langsung menatap Konohamaru yang berseringai tipis. Ayolah... 5000 yen untuk Gaara dan Sasuke? bukan masalah yang sulit.

"Bagaimana? deal?"

Sasuke lalu mengeluarkan selembar uang 5000 yen dari dompetnya, begitu juga Gaara. Sasuke dan Gaara lalu mengambil posisi tangan, keduanya saling bertatapan sekejap, terpancar aura yang menegangkan karena serempak semuanya terdiam.

Konohamaru menahan tangan Sasuke dan Gaara, sempat ia membatin kenapa suhu tangan Sasuke panas sekali. Konohamaru lalu menghitung mundur.

"Tiga...dua..." Suasanan hening dan tegang. "Satu!"

Tenaga Sasuke dan Gaara sama-sama kuat, tidak terlihat sedikitpun tangan mereka bergerak dan ini berlangsung sampai satu menit. Pandangan Konohamaru sebagai juri tidak beralih dari kedua tangan Gaara dan Sasuke.

"Yang menang akan mendapatkan bonus mencium Sakura." Ucap Obito. Sasuke langsung menoleh dan Gaara langsung memperbesar tekanannya saat Sasuke sedikit lengah. Sementara Sakura yang ingin menjitak Obito langsung ditahan oleh Ino dan Tenten. Sasuke dengan sekuat tenaga menahan kekuatan tangan Gaara, pria itu berhasil sedikit menggerakkan tangan Sasuke tapi Sasuke berhasil mengembalikan posisi tangan mereka tegak seperti semula. Tidak ada yang bersorak karena semua tegang, Naruto sebenarnya mau mendukung Sasuke tapi dia tidak enak dengan Gaara.

"Hitung mundur!" Seru Konohamaru. "Sepuluh..., sembilan..." Semua serentak menghitung mundur. Sasuke dan Gaara semakin memperkuat tenaga mereka. Keduanya saling bertatapan, Sasuke lebih memperbesar tenaganya dan ia berhasil menggerakkan tangan Gaara.

"Lima... Empat..." Gaara berhasil menekan tangannya lagi.

"Tigaaa..." Sasuke tidak mau menyerah ia lebih menekan tangan Gaara.

"Dua..."

"Satu!"

Waktu berhenti dengan posisi tangan Sasuke yang lebih condong ke sisi Gaara. Sasuke dianggap menang.

"Pemenangnya adalah Sasuke!" Seru Konohamaru, ia mau mengangkat tangan Sasuke tapi ragu-ragu.

Gaara hanya tersenyum tipis menerima kekalahannya, Konohamaru lalu menyerahkan uang taruhan pada Sasuke tapi Sasuke menyerahkannya pada Sakura. Alasannya, itu bonus untuk tuan rumah. Gaara setuju dengan ide Sasuke dan dia tidak keberatan. Sakura menolak uang Gaara tapi Ino berbisik untuk menerima uang itu karena pria terkadang gengsi, apalagi Sasuke. Sakura akhirnya menerima uang itu dan berniat untuk mengembalikannya pada Gaara. Ini rumit.

"Ok, sekarang kau bisa mencium Sakura, Sasuke-san."

"Konohamaru!" Bentak Sakura.

Adu panco terus berlanjut beberapa putaran sampai jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Mereka lalu saling mengucapkan selamat natal, tidak lupa mengabadikan satu foto moment kebersamaan di dekat pohon natal lalu beranjak pulang.

"Pinky, kami pulang, semoga kau bisa memutuskan pilihanmu secepatnya." Obito menepuk pundak Sakura diikuti senyuman Rin dan Konohamaru.

"Sakura-chan.. Senang bisa mengabiskan malam natal bersamamu." Lee menampakkan deretan giginya. Kiba hanya mengacungkan jempol.

"Sampai berjumpa lagi." Tenten berseringai penuh arti bersama Ino. Sai tersenyum dan Neji mengangkat tangan.

"Terimakasih jamuannya..." Kini giliran Gaara yang pamit.

"Terimakasih sudah datang Gaara-san..., maaf jika merepotkanmu."

"Merepotkan kenapa?"

"Itu uang taruhan tadi, aku akan mengembalikannya padamu." Bisik Sakura.

"Tidak perlu, simpan saja untuk kencan kita." Bisik Gaara, Sakura grogi sambil melirik Sasuke yang duduk di sofa menonton TV bersama Naruto.

"Apa mereka bermalam di sini?" tanya Gaara, mungkin yang ia maksud Sasuke. mungkin.

"ah, mereka juga akan pulang nanti.." jawab Sakura.

"baiklah, Sampai jumpa..." Gaara menyentuh kepala Sakura lalu beranjak pergi, Sasuke sempat menoleh dan melihat adegan itu.

"Percepat langkahmu Teme..." Ucap Naruto, nadanya pelan.

Setelah semuanya pulang, tinggal Naruto, Sasuke, dan Hinata yang tersisa. Hinata dan Naruto membantu Sakura bersih-bersih sedangkan Sasuke terbaring di sofa, Sakura menyuruh Sasuke berbaring di kamar tapi Sasuke tidak mau, katanya usai bersih-bersih ia dan Sakura akan langsung pergi.

"Sasuke bermalam di sini?" Tanya Naruto.

"Tidak, selepas ini aku akan bermalam di rumahnya."

"Untuk apa?" Naruto menatap Sakura sambil tersenyum curiga.

"Di sana ada keponakannya." Sakura meluruskan. "Kau akan mengantar Hinata?"

"Hem." Naruto mengangguk. "Sekalian, kita keluar sama-sama saja setelah membersihkan ini." Naruto membuang plastik sampah.

Setengah jam kemudian apartemen Sakura lumayan bersih. Sakura lalu membangunkan Sasuke, pria itu terdiam sejenak untuk mengumpulkan energi. Melihat kondisi Sasuke yang belum membaik, Sakura memintanya untuk pulang besok saja tapi Sasuke menolak.

"Teme.., kau yakin bisa mengendarai mobil?" Tanya Naruto.

"Tentu saja." Sasuke memakai jaketnya. Sakura hanya menggeleng pasrah.

"Dobe, nanti kau ikut menginap di rumahku saja."

"Baiklah..., setelah mengantar Hinata aku akan menyusul." Sahut Naruto.

"Sudah berkemas?" Tanya Sasuke pada Sakura.

"Hem." Sakura mengangguk, ia membawa tas berisi baju ganti.

"Baiklah.. ayo kita berangkat." Ajak Naruto setelah Hinata keluar dari kamar mandi.

Mereka berempat meninggalkan apartemen dan pergi ke tujuan masing-masing. Naruto mengantar Hinata sedangkan Sasuke langsung menuju rumahnya. Selama perjalanan Sakura sesekali memandang Sasuke yang tenang mengendarai mobil. Nafas Sasuke terlihat agak memburu dengan suhu badannya yang belum turun.

"Sasuke-san, sampai rumah kau harus istirahat." Sakura khawatir.

"Hn." Sahut Sasuke. "Kecuali jika kau memintaku untuk menemanimu tidur.." Sasuke tersenyum tipis. Sakura hanya melirik Sasuke sambil berpikir saat demam Sasuke bisa bercanda.

Mukade menyambut Sasuke dan Sakura saat tiba di kediaman Uchiha. Mukade sudah mengenakan baju tidur lengkap dengan sweater-nya berwarna merah tua, pria itu setia menunggu Sasuke pulang karena tahu Sakura akan menginap.

"Itachi-nii sudah tiba?" Tanya Sasuke.

"Itachi-san sudah tiba pukul delapan malam tadi. Aku sudah memberitahukan kau akan pulang tengah malam bersama nona Sakura." Ucap Mukade. "Sasuke-san, apa kau sehat?"

"Aa, aku baik-baik saja."

"Tidak! Dia tidak sehat Mukade-san!" Seru Sakura, ia mengagetkan Mukade.

"Sakura..." Sasuke menatap Sakura.

"Apa? Kau memang sakit Sasuke-san..."

"Aku akan memanggil dokter keluarga, sebaiknya kau langsung istirahat Sasuke-san." Ucap Mukade.

"Tidak, aku tidak perlu dokter." Sasuke menuju kamarnya, meninggalkan Mukade dan Sakura.

"Sudah berapa lama Sasuke-san demam nona Sakura?" Tanya Mukade, Sakura menemani Mukade bersama sseorang pelayan meramu obat traditional.

"Dia demam sejak tadi pagi, Naruto yang mengatakannya padaku." Sakura memperhatikan Mukade menumbuk akar lotus lalu diseduh dengan air panas, dicampur jahe dan ramuan lainnya.

"Apa ini ramuan khusus Mukade-san?"

"Iya, ini resep Nyonya Mikoto, saat Sasuke-san sakit, nyonya akan membuatkan ini."

"Ah.." Sakura mengangguk, ia paham nyonya Mikoto itu ibu Sasuke. Ponsel Sakura lalu berdering, Naruto mengabarkan sebentar lagi ia akan sampai.

Sakura lalu ikut bersama Mukade beserta satu pelayan ke kamar Sasuke, pria itu meringkuk lemas di ranjang. Kasihan tapi sangat menggemaskan. Mukade memeriksa kondisi Sasuke, Sakura hanya berdiri di samping ranjang memperhatikan Mukade yang sedang mengukur suhu badan Sasuke. Sakura merasa Mukade seperti seperti seorang ibu, pria itu sangat perhatian. Sasuke lalu meminum ramuan obat Mukade, sempat terbesit rasa penasaran Sakura seperti apa rasanya saat melihat Sasuke meminum obat itu dengan sekali nafas.

"Berapa suhu badannya Mukade-san?" Tanya Sakura.

"38 derajat."

"Sasuke-san, kau harus kembali istirahat." Sakura mengarahkan Sasuke untuk berbaring lagi.

"Naruto sudah datang?" Tanya Sasuke, suaranya pelan dan sedikit serak.

"Belum, aku akan menunggunya. Selamat istirahat Sasuke-san..." Mukade pamit diikuti Sakura.

"Sakura..." Panggil Sasuke.

Sakura menghentikan langkahnya, Mukade mengangguk memberi kode Sakura untuk tetap tinggal, Mukade lalu keluar kamar.

"Ada apa?" Sakura mendekat. Sasuke diam saja dan tidak menjawab. Sakura lalu naik ke atas ranjang, ia menyentuh kening Sasuke.

"Tanganmu dingin." Ucap Sasuke.

"Ah.., maaf..." Sakura menarik tanganya. "Istirahatlah Sasuke-san.."

"Kau tetap di sini." Sasuke menutup matanya.

"Kau mau ditemani?" Sakura memandang Sasuke seperti anak kucing yang sedang tidak berdaya.

"Hn." Sasuke meng-iyakan.

Sakura lalu duduk di sisi Sasuke, ia bersandar pada sandaran ranjang. Suasanan hening, Sakura memandang Sasuke yang terpenjam, nafasnya memburu, wajahnya pucat, Sasuke terlihat tidak yaman dan tidak bisa terlelap. Sakura tau betul bagaimana rasanya jika sedang demam tinggi, seluruh tulang rasanya pasti linu. Sakura lalu terbaring menghadap Sasuke, ia menekan jari jempolnya ke pusat kening Sasuke lalu mengurutnya sampai ujung tulang mata. Sasuke tidak merespon apapun saat Sakura memijat keningnya.

"Zutto... Zutto... mukashi ni... Fureta koto no aru ano nukumori..." Sakura bersenandung lagu Futatabi mengiringi Sasuke untuk terlelap.

"Kenapa kau suka menyanyikan lagu itu?" Tanya Sasuke.

"Karena lagunya bagus. Apa kau masih mau mendengarnya?"

"Hn. Lanjutkan..." Sakura lalu melanjutkan senandungnya.

"Naruto-san..." Mukade menyambut Naruto yang sudah tiba.

"Hallo, Mukade." Sapa Naruto. "Sasuke dan Sakura sudah tidur?" Naruto mengedarkan pandangan ke penjuru kediaman Uchiha yang sangat sepi itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi.

"Semua sudah beristirahat Naruto-san, mari kuantar ke kamarmu."

"Ah, baiklah. Terimakasih Mukade." Mukade lalu mengantar Naruto menuju kamar tamu.

"Itsuno hi mo anata... Watashi no hikari..." Sakura berhenti bersenandung. Sasuke tampak tenang, sepertinya pria itu sudah terlelap. Sakura memandang Sasuke dalam keheningan, tangannya bergerak dengan sendirinya menyentuh pipi Sasuke yang panas.

"Kenapa berhenti?" Ternyata Sasuke belum tertidur. Sakura akan menarik kembali tangannya tapi Sasuke menahannya. Sasuke tidak mengatakan apapun, pria itu masih menutup mata sambil menggenggam tangan Sakura di pipinya.

"ta-tanganku dingin." Sakura sedikit gugup.

Sasuke membuka mata, sepasang onyx kelamnya memandang Sakura dalam. Mata Sasuke sedikit sayu, mungkin karena demam yang cukup tinggi. Sakura merasa jantungnya mulai tidak beres saat Sasuke secara pelahan mendekat. Pria itu lebih mendekat dan Sakura mematung tidak bergerak, ia menahan nafas saat kening Sasuke menempel pada keningnya. Jarak mereka sangat dekat, Sakura bisa merasakan suhu badan Sasuke, nafas Sasuke panas menerpa dagu Sakura. Keduanya terdiam, Sasuke memejamkan mata sedangkan emerald Sakura bersembunyi di balik kelopak matanya yang mengadah ke bawah. Sakura ingin menerawang apa yang Sasuke rasakan saat ini, kening mereka yang bersentuhan seakan ingin membaca pikiran satu sama lain.

"Suhu badanmu panas sekali."

"Kau bisa merasakannya?" Tanya Sasuke.

"Hm." Sakura sedikit mengangguk.

"Boleh aku membaginya padamu?"

"Membagi?"

"Hn.."

Keduanya terdiam, Sasuke membuka mata, kening mereka masih menyatu. Tangan Sasuke lalu bergerak menyentuh tengkuk Sakura, perlahan Sasuke mendekatkan bibirnya. Sakura seperti terkunci, jantungnya berdegup semakin kencang, tangan kanannya masih menyentuh pipi Sasuke sedangkan tangan kirinya mengepal erat. Sasuke semakin mendekat, pria itu mengeleminasi jarak bibir diantara mereka dan ia mencium Sakura.

Sakura tidak bisa mengelak saat bibir Sasuke menempel pada bibirnya. Sasuke memaut bibir Sakura secara perlahan dan lembut. Sakura bisa merasakan nafas dan bibir Sasuke yang panas, suhu badan Sasuke seakan mengalir padanya, bibir Sasuke sangat lembut, Sakura dibuat melayang.

Sasuke menarik bibirnya dan kening mereka bersentuhan kembali, keduanya terdiam, Sakura tidak mengucapkan sepatah katapun, sulit baginya untuk berpikir. Sasuke tersenyum tipis lalu mengecup bibir Sakura kembali, pria itu mengecup dua kali sampai akhirnya bibir Sakura ikut memaut. Sakura tidak mengerti, kenapa bibirnya menyambut kecupan itu, keduanya saling berpautan lembut. Tidak ada yang mereka pikirkan karena keduanya terhanyut dalam ciuman penuh arti yang mengundang seribu tanya.

Keduanya lalu menarik bibir mereka masing-masing, nafas panas Sasuke masih menerpa wajah Sakura, jarak mereka dekat. Mereka berdua terdiam dalam keheningan yang menyelimuti kediaman Uciha saat salju turun malam itu.

"Kau merasakannya?" Sasuke memecah keheningan.

"Hm." Sakura menunduk, wajahnya merona merah.

"Wajahmu memerah, mungkin kau tertular demam..."

"Hm..." Sakura tidak punya kata-kata lain.

"Kau tidak marah aku menciummu?"

"Entahlah..." Sakura tidak berani menatap Sasuke.

Keduanya lalu terdiam.

"Kau akan tetap di sini kan?" Tanya Sasuke.

"Apa kau mau aku tetap di sini?" Tanya Sakura.

"Hn, aku ingin kau tetap di sini." Sasuke menyentuh helaian rambut Sakura.

"Kurasa sebaiknya kau istrirahat sekarang Sasuke-san..." Sungguh Sakura bingung jika ingin membicarakan apa maksud dari ciuman tadi.

"Aa..." Sasuke menghirup aroma helaian rambut Sakura di tangannya sambil memejamkan mata.

"Aku ingin mendengar nyanyianmu lagi." Ucap Sasuke. Sakura memandang Sasuke lalu menyanyikan lagu futatabi lagi sambil ikut memejamkan matanya.

.

.

Sakura bangun pukul setengah enam pagi, semalaman dirinya berkali-kali tidur dan terbangun untuk melihat kondisi Sasuke yang tidur tidak nyaman, pria itu terus menggerakkan tubuhnya kesamping kanan dan kiri sepanjang tidur. Sakura bangkit dari sofa lalu mendekat ke ranjang. Suhu badan Sasuke sudah turun walau masih hangat, ada sedikit keringat yang keluar.

"Tanganmu dingin..." Ternyata Sasuke sudah bangun, pria itu sedikit menggeliat.

"Bagaimana rasanya? apa sudah enakan?"

"Hn..." Sasuke mengurut keningnya. "Kau tidur di sofa?"

"A, iya..." Jawab Sakura. Sasuke lalu bangkit perlahan, kepalanya terasa pusing dan berat.

"Minum dulu Sasuke-san, habiskan airnya." Sakura menyodorkan segelas air putih, Sasuke meneguk habis air itu. "Suhu badanmu sudah menurun, Sasuke-san..."

"Benarkah? Sepertinya aku berhasil memindahkan suhu badanku semalam." Ucapan Sasuke membuat semburat merah di wajah Sakura.

"A-aku akan memanggil Mukade." Sakura sedikit salah tingkah.

"Aa..." Sasuke beranjak dari ranjang perlahan.

"Kau mau kemana? istirahat saja..."

"Ada yang harus kulakukan, bersiaplah dan pergi ke ruang tengah."

Setelah Mukade membangunkan Naruto yang tertidur cantik, pria pirang itu pergi ke ruang tengah menghampiri Sakura yang melamun duduk di sofa memandang pohon Natal keluarga Uchiha yang... entah berapa itu tingginya, yang jelas lebih besar dari kepunyaan Naruto.

"Pohon natalku lebih bagus..." Naruto memecah lamunan Sakura.

"Ya, punyamu tidak ada tandingannya..." Sakura tersenyum. Naruto lalu duduk di sampingnya.

"Kau sudah melihat keadaan Sasuke?"

"Hm, panasnya sudah turun." Sakura tidak menceritakan dia tidur di kamar Sasuke semalam. "Naruto, kenapa kita disuruh berkumpul di ruang tengah?"

"Ah, pertunjukan Santa..." Naruto menguap lebar, lalu memejamkan mata. Rasanya mengantuk sekali..

"Pertunjukan Santa?" Tanya Sakura.

"Hm..." Sahut Naruto, disaat bersamaan terdengarlah suara ribut anak kecil.

"Yeeeeee...! Merry Christmas!" Itaru dan Kenji berlari menuju ruang tengah, mereka masih memakai piyama. Naruto langsung tidak jadi mengantuk.

"Sakula-chan!" Seru Kenji.

"Sakura-chan...! Rambut Jerami!" Seru Itaru.

"Naluto-niichan..." Kenji naik ke sofa.

"Hei...hei... Para jagoan uchiha..." Sapa Naruto, ia mengepalkan tangannya untuk ber-tos ria dengan Kenji.

"Pagi..." Konan datang bersama Itachi, Sakura dan Naruto lalu berdiri memberi salam.

"Mukade baru memberitahuku keadaan Sasuke pagi ini. Kami menyuruhnya istirahat tapi Sasuke tidak mau melewatkan apa yang sudah menjadi rencana." Ucap Konan, Sakura mengangguk paham.

"Mana Santa! mana Santa!" Itaru dan Kenji semangat, mereka tidak bisa diam.

"Itaru.., Kenji..., duduk yang rapi baru Santa datang." perintah Konan. Itaru dan Kenji langsung mengambil tempat di bawah pohon natal, mereka duduk rapi dengan tatapan mata seperti anak kucing, sedangkan Naruto sedang bercengkramah dengan Itachi, Sakura jadi penasaran bagaimana dulunya sampai Naruto bisa dekat dengan keluarga Sasuke.

"Akan ada Santa Klaus?" Tanya Sakura.

"Hem..., tapi kita membuat improvisasi tahun ini." Konan tersenyum sambil menyalakan handcam di tangannya.

Beberapa detik kemudian bunyi lonceng terdengar saat seorang sinterklas datang dan juga... Jack Frost? Sakura dibuat terkejut melihat sosok Sasuke mengenakan cosplay tokoh Jack Frost pada film animasi Rise of Guardians diikuti Mukade yang menjadi Santa Klaus.

Sasuke memakai kostum Jack Frost bahkan dia memakai wig berwarna perak serta kontak lens warna biru sebiru obsidian Naruto, niat sekali tapi sangat masuk. Sasuke membawa tongkat kayu dengan wajah lebih berekspresi. Naruto memotret penampilan Sasuke sambil terkekeh geli, sedangkan Konan sudah mulai merekam video. Ada Jack Frost si peri penjaga anak-anak dan Santa Klaus di kediaman uchiha, seharusnya mereka menjadikan Sasuke dan Mukade sebagai model natal dan memajang gambar mereka di Layar raksasa tengah kota.

"HOHOHOHO..., merry Christmas anak-anak..." Ucap Santa Klaus.

"Jack Frost! Jack Frost!" Itaru dan Kenji menyerbu Sasuke dengan wajah sangat exited.

"Kau mempersiapkan semua ini Konan-san?" Bisik Sakura dan Konan mengangguk.

"Hai guys..." Sapa Sasuke. Wajahnya masih pucat tapi dia sangat menyatu dengan perannya.

"Siapa yang mau kado?" Tanya Santa.

"Aku! Aku!" Kenji dan Itaru mengangkat tangan mereka.

"Ok, aku ingin mendengar pengakuan dan janji kalian..." Ucap Santa. "Dimulai dari Itaru."

Itaru lalu berdiri di tengah.

"Aku membiarkan kamarku berantakan, aku akan membersihkan kamar tidurku sendiri dan tidak menyimpan mainan di bawah kolong tempat tidur." Ucap Itaru.

"Bagaimana dengan memperbaiki sikap jahil?" Tanya si Jack.

"Aku tidak akan menjahili temanku." Itaru terdiam sejenak. "kecuali jika dia tidak nakal duluan." Itaru melirik Naruto dan Naruto menautkan alisnya, Sakura hanya menahan senyum.

"Bagaimana otousan?" Tanya Jack pada Itachi yang duduk tenang di sofa.

"Janji diterima, kau harus bisa membedakan antara bermain dan menjahili Itaru. Bermain itu boleh tapi menjahili itu sikap yang tidak baik." Ucap Itachi, Itaru mengangguk paham.

"Ini kadomu..." Sasuke menyerahkan kado Itaru yang dibungkus dengan sampul biru gelap dihiasi pita merah. Itaru mengucapkan terimakasih lalu bertos ria dan memeluk Sasuke.

"Sekarang Kenji." Tunjuk Konan.

"Aku!" Kenji berdiri dan maju ke tengah. Kenji sangat imut, Sakura ingin sekali menciumnya.

"Aku..." Kenji diam sejenak. "Aku cedikit mengompol." Kenji terdiam, semua tersenyum, Sakura mengalihkan pandangannya menahan kekehan.

"Tidak sedikit, dia sering mengompol!" Seru Itaru.

"Cedikit!" Elak Kenji dan Sakura terkekeh dibalik punggung Naruto.

"Aku akan belatih agal tidak mengompol." Ucap Kenji.

"Bagaimana dengan tidak mau makan sayuran?" Tanya Konan.

"Okasan..." Kenji menatap ibunya seperti anak kucing yang merajuk. Sakura sudah tidak tahan lagi melihatnya.

"Kenji, kau harus makan sayuran. Dinosaurus suka makan sayuran." Ucap Konan.

"Apa kau ingin menjadi anak yang hebat Kenji?" Tanya sang Jack. Kenji mengangguk pelan.

"Sayuran itu enak Kenji!" Seru Itaru.

"Jika kau ingin menjadi anak yang hebat, kau harus menyukai sayuran." Ucap Jack.

"Aku akan makan sayuran." Kenji menganguk-ngangguk.

"Bagaimana Okasan?" Tanya si Jack Frost.

"Diterima." Jawab Konan sambil tersenyum, ia masih mengambil rekaman video.

"Kau berjanji padaku atas janjimu?" tanya Jack dan Kenji mengangguk yakin, ia lalu memberikan kado Kenji, anak itu mengucapkan terimakasih. Kenji mencium pipi Jack lalu berpelukan.

Sasuke lalu melangkah menuju Sakura. Oh apakah Sakura juga mendapat kado dari Jack Frost?

"Ini untukmu." Sasuke memberikan Sakura sepasang sumpit berwarna pink diikat pita kuning. Sumpit?

"Te-terima kasih Jack..." Sakura menerima kado itu, mata mereka bertemu dan Sakura menoleh dengan sedikit semburat merah. Naruto yang melihat gelagat Sakura hanya membatin.

"Kenapa Sakula-chan tidak membuat pengakuan dan janji?!" Protes Itaru. Shannaro...

"Pengakuan dan janji..." Naruto menyikut Sakura sambil terkekeh. Sakura tidak mau mengacaukan sistem jadi dia mengaku..., mengaku... mengaku apa? tidak ada ide yang pas!

"Mengaku perasaanmu mungkin?" Bisik Naruto dan dia dihadiahi sikutan.

"Aku sering mencolek selai kacang dengan tangan, mulai sekarang aku akan menggunakan sendok." Ucap Sakura, ia ragu-ragu memeluk Sasuke, tapi karena peraturan memeluk dan mencium masih berlaku, Sakura mendekat lalu mencium pipi Sasuke disertai grogi tingkat tinggi. Naruto dan Konan mendokumentasikannya dan Sakura berniat membuang ponsel Naruto nanti. Ah yang benar?

Sasuke lalu merogoh kado dalam kantung lagi.

"Wah, untukku juga ada..." Naruto tampak antusias.

"Ok, ini untukmu Dobe." Sasuke memberikan Naruto satu buah sendok. Naruto menerimanya dengan tatapan malas. Sasuke mungkin mengambilnya di dapur secara asal.

"Aku sering makan mie instant dan aku akan mengurangi porsinya." Ucap Naruto dengan nada malas. Konan terkekeh begitu juga Sakura, Itachi hanya menyimak moment itu sambil tersenyum tipis. Naruto tidak mau mencium Sasuke jadi dia hanya memeluk.

"Baiklah! Saatnya membuka kado..." Konan menghampiri anak-anaknya setelah memberikan handcam pada Naruto. Mereka membuka kado bersama-sama, Itaru mendapat buku luar angkasa anak-anak berjudul Rocket and Spacescraft, sedangkan Kenji mendapat puzzle 3D dinosaurus terbuat dari kayu. Itaru dan Kenji saling memamerkan kado mereka sambil mengoceh.

"Teme. Sesekali ke studio pakai kostum ini." Goda Naruto sambil merekam wajah Sasuke.

"Hentikan itu Dobe." Sasuke mengalihkan kamera dengan tangannya. Sakura terus memandang Sasuke yang tampak berbeda, Sasuke menoleh dan Sakura langsung mengalihkan pandangannya.

"Jack..., ayo berfoto dengan anak-anak, setelah itu kau istirahat." Konan siap dengan kamera ponselnya, Sasuke dan Mukade mendekat, Konan lalu mengambil foto kebersamaan mereka. Naruto tidak mau melewatkan kesempatan selfie dengan Jack Frost, Sakura sebenarnya juga ingin foto dengan Jack tapi dia sungkan. Tenang saja Sakura, foto dirimu mencium si Jack sudah ada di ponsel Naruto.

Naruto dan Sakura menemani Itaru dan Kenji di ruang keluarga usai sarapan pagi bersama. Naruto sedang membantu Kenji menyusun puzzel sedangkan Sakura menyimak Itaru membaca buku luar angkasa. Itachi sedang baca buku di ruangannya, Konan sedang menyiapkan hidangan cemilan entah apa, wanita itu cuma bilang mau membuat kue yang lezat. Sedangkan Sasuke, pria itu terbaring tenang di sofa ruang keluarga berselimut bed cover putih tebal, sudah tidak menjadi Jack Frost lagi. Mereka menyuruh Sasuke tidur di kamar tapi membujuk Uchiha satu itu memanglah susah.

"Yeay! Sudah jadi! Sudah jadi!" Kenji mengangkat fossil puzzel dinosaurus-nya yang ia rakit bersama Naruto.

"Wah..., bagus sekali Kenji-kun..." Puji Sakura, Itaru hanya memperhatikan sekejap lalu fokus ke bukunya lagi.

"Ah..., bagaimana jika kita membuat puzzel lagi Kenji?" Tanya Naruto. "Tapi, kali ini dengan salju." Naruto tersenyum penuh arti, spontan Itaru dan Kenji saling bertatapan.

"Main saljuuuuuuuuu...!" Kedua anak itu langsung berlari keluar, menuju taman tengah kediaman Uchiha.

"Hei pakai jaket kalian dulu..." Sakura mengejar Itaru dan Kenji, Naruto mengikuti di belakang, mereka meninggalkan Sasuke yang tampak tertidur lelap di sofa.

Kenji, Itaru, Naruto dan Sakura main salju di taman tengah, taman itu lumayan lebar untuk bermain salju, Naruto dan Itaru membuat boneka salju ukuran besar sedangkan Sakura dan Kenji membuat versi mini setinggi tubuh Kenji.

"Ah!" Punya kita sudah jadi Kenji! Seru Sakura saat Kenji menusukkan ranting pohon sebagai tangan ke boneka saljunya. Itaru menoleh dan memperhatikan boneka salju Kenji.

"Yeyey! Sudah jadi! Yeyey...!" Kenji melompat-lompat girang.

"Punyaku lebih besar..." Ucap Itaru, ia menepuk-nepuk perut boneka saljunya. Kenji gantian memandang boneka salju kakaknya.

"Kenji, kita memerlukan bantuan, maukah kau membantu kami?" Tanya Naruto dan Itaru langsung menoleh, "Boneka salju ini akan lebih bagus jika dikerjakan bersama Kenji." Ucap Naruto. Itaru lalu mengangguk dan mengajak adiknya bergabung.

Sasuke berjalan menelusuri teras, pandangannya menemukan Naruto, Sakura, dan kedua keponakannya sedang asyik membuat boneka Salju. Saat terbangun tadi, Sasuke mendapati ruang keluarga kosong, pelayan mengatakan keponakannya beserta yang lain ada di taman.

"Paman Sasuuu..." Kenji melambai ke arah Sasuke yang duduk di ujung teras balkon panjang yang mengitari taman. Sakura lalu menghampiri Sasuke.

"Sasuke-san... diluar dingin, sebaiknya kau istirahat di dalam." Tegur Sakura.

"Aa, tidak apa, aku ingin disini."

"Tapi di sini dingin..." Sakura naik ke teras lalu masuk ke dalam rumah, ia mengambil selimut di sofa lalu membawanya kembali keluar.

"Pakai ini..." Sakura menyelimuti tubuh Sasuke, pria itu tidak protes dan menurut saja.

"Ok, kau sudah hangat." Sakura memastikan tubuh Sasuke sudah terbungkus rapi. Sasuke terlihat seperti kepompong yang dililit bed cover putih.

"Sepertinya suhu badanmu sudah lebih menurun Sasuke-san.."

"Aa, kenapa tidak kau pastikan saja sendiri?"

Sakura terdiam, pipinya merona tipis, ciuman semalam langsung terlintas begitu saja. Sakura masih penasaran dengan ciuman itu tapi dia enggan membahasnya. Sakura tidak mau terlihat seperti mengartikan hal itu terlalu dalam sedangkan Sasuke sendiri tidak mengatakan apapun.

"Aku mau main salju lagi. Jika kau merasa kedinginan, segeralah masuk."

"Sakura..." Panggil Sasuke saat Sakura akan menuju taman kembali. Sakura menghentikan langkahnya lalu menoleh.

"Hmm? ada apa?"

"Kemarilah..."

Sakura lalu berbalik dan duduk disamping Sasuke. Sakura bertanya 'ada apa?' tapi Sasuke hanya menjawab 'tidak ada' lalu terdiam. Ada rasa grogi yang dirasakan Sakura saat keheningan tercipta, keduanya terdiam sambil memandang Naruto, Itaru dan Kenji yang asik membuat boneka salju.

"Kau punya keponakan yang sangat lucu Sasuke-san..." Sakura memecah keheningan.

"Aa..." Pandangan Sasuke tertuju pada Itaru dan Kenji yang sedang kejar-kejaran mengitari boneka Salju. Naruto sedang sibuk membentuk kepala boneka, Sakura lalu menoleh dan memandangi Sasuke.

"Ada apa?" Sasuke tiba-tiba menoleh, menatap sakura, mengagetkan saja.

"Ah.. tidak." Sakura mengalihkan pandangannya.

"Kenapa? Kau masih penasaran dengan suhu badanku ?" Tanya Sasuke.

"A, aku..." Sakura jadi malu jika menyangkut pautkan tentang Suhu badan.

"Tempelkan tanganmu." Pinta Sasuke, Sakura sebenarnya gugup tapi juga penasaran, ia melepas sarung tanganya lalu menyentuh leher Sasuke.

"Kau merasakannya?" Tanya Sasuke.

"Hem." Sakura mengangguk. "Suhu badanmu sudah lumayan turun."

Tangan Sasuke lalu menjulur menyentuh kening Sakura, membuat selimut yang melilitnya sedikit melosot.

"Kau dingin." Ucap Sasuke. Sakura sedikit kaget dengan pergerakan Sasuke, tangan mereka masih saling menyentuh merasakan suhu badan. Sasuke menatap Sakura sedangkan Sakura menatap ke leher Sasuke,dia tidak berani menatap sepasang onyx itu.

"Apakah yang kau rasakan saat ini sama dengan yang semalam?" Tanya Sasuke.

"A-apa maksudmu?" Sakura menarik tangannya, begitu juga Sasuke.

"Saat aku membagi suhu badanku, apa kau merasakannya?" Pandangan Sasuke lurus ke depan, Sakura menoleh diselimuti semburat merah di wajahnya.

"Aku..." Sakura menunduk. "Sasuke-san. Sulit bagiku untuk merasakan apa yang sedang kau pikirkan."

"Aku sudah memberitahumu apa yang kupikirkan semalam." Ucap Sasuke, Sakura memandang Sasuke dengan ekspresi tidak mengerti. Ada sedikit kejelasan tapi Sakura tidak terlalu yakin.

"Apa kau merasakannya?" Sasuke menoleh, ia menatap dalam Sakura. "Kau bisa merasakan apa yang kurasakan padamu kan?"

"Ciuman itu..." Ucap Sakura.

"Aa, kau pasti bisa memahaminya."

Sakura terpaku memandang Sasuke, jantungnya berdetak hebat saat ini. Sakura langsung mengalihkan pandangannya, ia tahu betul apa maksud Sasuke barusan. Sakura seperti tidak mempercayai ini tapi Sasuke baru saja mengutarakannya. Pria itu menyatakan apa yang selama ini membuat Sakura bertanya-tanya, tapi...

"Aku tidak heran jika kau bimbang saat ini." Ucap Sasuke.

"Entahlah..." Nada Sakura pelan, gadis itu melihat ke arah taman walau pikirannya terbang ke arah lain. Sakura tidak bisa langsung merespon perasaannya. Ada sesuatu yang Sakura pikirkan dan dia tidak bisa diabaikan begitu saja.

"Maaf, aku sudah membuat kesalah pahaman diantara kita." ucap Sasuke.

"Tidak juga, itu bukan kesalahanmu, semua terjadi begitu saja tanpa kita sadari." Ucap Sakura. Keduanya lalu terdiam.

"Aku merasakannya, rasa itu masih tersisa untukku." Kata Sasuke. "Apa aku harus mengulanginya dari awal?"

"Sasuke-san, aku..."

"Aa, aku mengerti. Kau bisa memilih."

"Kenji! rasakan pembalasanku!" Seru Itaru, kedua anak itu kini saling melempar salju.

"Kekuatan dino!" Kenji melempar salju ke arah Itaru tapi tidak kena, Kenji langsung berlari ke Naruto untuk berlindung dari kejaran kakaknya. Perhatian Sasuke dan Sakura kini teralih pada mereka.

"Ah.., sepertinya seru..." Sakura lalu berdiri.

"Maaf Sasuke-san, karena kau sakit jadi kau akan melewatkan ini." Sakura tersenyum lalu melangkah ke taman. Sakura mengambil segenggam salju lalu berlari ke arah Itaru, Kenji, dan Naruto.

"Bantuan datang komandan Itaru! isi amunisinya!" Sakura melempar salju ke arah Naruto.

"A! Pinky!" Naruto tidak akan diam begitu saja, ia membentuk bola saju lalu menyerang Sakura dan mereka berempat berperang bola salju. Sasuke hanya memperhatikan dari teras.

"Ah... Sasuke-kun.., kenapa kau di luar?" Konan menghampiri bersama Mukade dan pelayan yang membawa minuman serta bakpau hangat.

"Aa..." Sahut Sasuke. Pandangan Konan tertuju pada anak-anaknya yang asyik berperang. Konan lalu memakai jaket serta sepatu boots yang dibawakan Mukade.

"Maaf Jack, sepertinya kau hanya bisa menonton." Konan mengusap punggung Sasuke sekejap lalu meluncur ke medan pertempuran.

"Sasuke-san, teh-nya..." Mukade menyodorkan teh untuk Sasuke.

"Kalian! bergabunglah bersama kami!" Seru Konan. Pelayan yang masih menata hidangan hangat itu memandang Mukade dan Mukade mengangguk. Beberapa menit kemudian tiga pelayan terjun ke medan perang lengkap dengan atribut masing-masing bahkan ada yang membawa skop dan ember.

Mukade hanya duduk di sisi belakang menemani Sasuke, beberapa menit kemudian Itachi datang, ia duduk di samping Sasuke di lantai teras. Itachi memandang keasyikan pertempuran salju dari dua kubu sambil tersenyum tipis.

"Rumah tidak pernah seramai ini eh Sasuke?" Tanya Itachi.

"Hn..." Sahut Sasuke, ia memandang Sakura yang berlari menghindari serangan Naruto. Sakura tampak menikmatinya, tawa Sakura hangat, gadis itu menjadi pusat perhatian Sasuke.

Sasuke lalu tersenyum tipis. Setelah apa yang terjadi di antara ia dan Sakura, Sasuke hanya menyakini satu hal.

Apa yang sudah menjadi miliknya sejak lama tidak akan lari kemana-mana.


"Hei..." Tenten memecahkan lamunan Sakura dari sup tofu, gadis itu mengaduk-ngaduk sup tofu-nya hampir sepuluh menit.

"Apa yang membuatmu bingung?" Tanya Ino, ia tidak perlu repot-repot membaca pikiran Sakura. Hinata yang duduk di sampingnya hanya memandang.

"Tidak ada yang membuatku bingung." Sakura melahap supnya.

"Kau pikir kami tidak mencurigaimu? beberapa hari ini kau bersikap aneh." Ucap Tenten.

"Aneh bagaimana? tentu saja aku aneh karena kalian terus mem-bully-ku." Sakura tidak bisa terbebas begitu saja dari bullyan asmara para background artist 2D dua hari ini semenjak kedatangan Sasuke ke ruang devisinya. Shannaro...

"Bukan itu..., maksudku seperti ada sesuatu yang terjadi antara kau dan mr. Smitty..." Tenten merendahkan nada suaranya saat menyebut mr. Smitty.

"Ekspresimu aneh setiap melihatnya, bahkan kau seperti menghindar dan malu-malu saat berpapasan dengannya di teras gedung tadi." Sambung Ino.

"Apa kita perlu membuatmu mabuk dulu untuk mengungkapkan apa yang terjadi?" Tenten berseringai, Sakura hanya menatapnya malas.

"Jika kau membuatku mabuk lagi, aku akan benar-benar mencabut cepolmu." Ancam Sakura.

"Aku akan memanggil Gaara dan mr. Smitty sebelum kau melakukannya." Balas Tenten, Sakura langsung terdiam.

"Point kena." Ino menunjuk Tenten dengan sumpit. "Ada hubungannya dengan kedua pria itu?" Ino langsung ke intinya.

"Darimana kau mendapat kesimpulan seperti itu?" Sakura menautkan alisnya, Hinata hanya diam dan menyimak.

"Membacamu seperti membaca buku yang terbuka."

"Benarkah? kau melupakan cover-nya..." Sahut Sakura.

"Tidak ada basa-basi lagi sayang, berbagi atau menyimpannya sendiri?" Tanya Tenten.

"Menyimpannya sendiri."

"Oh! Okay...tidak masalah..." Tenten acuh melahap makan siangnya. Beberpa menit kemudian Gaara datang ke kantin bersama gengster Yakuza.

"Ah, lihat siapa yang datang...Tenten, Hinata, kita pindah tempat." Ino mengangkat nampan makanan-nya tapi spontan Sakura menahan tangan Ino.

"Ada apa sayang? kalian butuh ruang privasi kan?" Ino tersenyum tipis.

"Lagi pula tidak ada yang perlu menjadi bahan obrolan." Timpal Tenten.

"Jangan tinggalkan aku." Sakura menatap tajam Ino dan Tenten. Hinata mau angkat bicara tapi dia memilih diam. Sakura lalu melihat ke arah Gaara yang mengangkat tangan menyapanya dari kejauhan, Sakura hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.

"Aku akan menceritakan satu hal." Ucap Sakura. Ino dan Tenten bertatapan sejenak lalu duduk tenang kembali.

"Baiklah, kami siap mendengarnya." Tenten berseringai tipis, sial...

Sakura menghela napas lalu mengaduk sup-nya lagi, ia mengedarkan pandangan sekejap dan melihat Gaara duduk menyantap makan bersama gengster Yakuza. Sakura lalu mengaduk sup lagi.

"Kau ini mau bicara apa? dari tadi kau hanya mengaduk sup." Protes Tenten. Sakura lalu menghentikan kegiatannya, gadis itu mengatakan sesuatu dengan nada pelan sambil merundukkan kepala, posenya seperti orang berbisik.

"Benarkah?!" Seru Tenten, beberapa orang menoleh ke arahnya tapi Tenten bersikap santai kembali. Ino hanya mengangguk-ngangguk sambil tersenyum penuh arti. Hinata memandang Sakura dengan tenang.

"Lalu kau menjawab apa?" Tanya Tenten.

"Tidak ada, aku tidak bisa berpikir saat itu, lagi pula dia hanya menyatakannya saja." Jawab Sakura.

"Aku paham." Ino mengangguk, "Kau tidak bisa memutuskan begitu saja, berada di posisimu memang sedikit membingungkan." Ino tersenyum.

"Aaa... ya...ya..., aku mengerti." Tenten melipat tangannya dan ikut mengangguk, ia sempat menoleh ke Gaara sekejap.

"Bagaimana menurutmu Hinata?" Tanya Sakura.

"Emm.., ano Sakura-chan..., ada yang pernah mengatakan padaku, cinta itu bukan apa yang dipikirkan oleh akal, tapi apa yang dirasakan oleh hati." Ucap Hinata dan Sakura tersenyum tipis. Ino dan Tenten setuju dengan kata-kata Hinata.

"Haaah... baiklah, lupakan itu sejenak, saatnya makan!" Sakura menyantap makan siangnya dengan lahap.

.

.

Ponsel Sakura bergetar saat ia sedang serius mengerjakan assignment background. Sakura menghentikan kegiatan sejenak lalu membuka pesan masuk.

Gaara-san : mau makan malam bersama?"

Disaat bersamaan saat Sakura membaca pesan Gaara ponselnya bergetar lagi. Satu pesan masuk.

Sasuke-san : pulang nanti kita makan malam bersama.

Sakura jadi bingung mau membalas kedua pesan itu, ia meletakkan ponselnya sambil memandang mainan Spongebob Obito.

"Kau kenapa?" Obito menoleh saat Sakura masih melamun.

"A, tidak..." Sakura menggeleng, ia menyaut ponselnya kembali lalu menyandarkan punggungnya. Obito lalu memutar kursi kerjanya.

"Kau tau Pinky.., saat kita dihadapkan oleh pilihan yang sulit, tutup mata dan lihat pilihan mana yang paling keluar duluan." Ucap Obito.

"Bagaimana kalau yang keluar bukan kedua pilihan itu." Sakura tersenyum tipis.

"Ya berarti tidak usah memilih keduanya."

"Caramu unik, akan kucoba nanti saat memilih sepatu baru." Sakura bangkit lalu mengirim pesan spark pada Ino. Obito memandang Sakura sejap lalu tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya kembali ke layar komputer.

Sakura : Ino, pergi shoping?

Ino : apa ini saatnya aku direpotkan? :)

Sakura : ya... Kurasa begitu. Aku butuh refreshing...

Ino : kita akan bersenang-senang...

Sakura lalu menyandarkan punggungnya lagi sambil membalas pesan Sasuke dan Gaara.

To Gaara-san : maaf Gaara-san, malam ini aku akan pergi dengan Ino, girl's time :)

Sakura lalu membalas pesan Sasuke, ia tersenyum tipis sebelum mengirim pesan itu.

Ponsel Sasuke bergetar saat ia berkutat dengan laptop, satu pesan diterima, Sasuke lalu menyandarkan punggunya pada kursi kerja dan membaca pesan Sakura.

Sakura : maaf Sasuke-san, mungkin lain kali.

Sasuke tersenyum tipis membaca pesan Sakura.

.

.

"Tadaimaaa..." Sakura membuka pintu apartemennya diiringi kekehan Ino dan Tenten. Ketiga gadis itu membawa kantung belanjaan pada masing-masing tangan mereka. Ino dan Tenten menuju ruang tengah membokar kantung belanjaannya, sedangkan Sakura menuju kulkas untuk mengambil jus.

"Kau lihat wajah wanita tadi? dia tidak akan bisa mengalahkanku." Tenten mencium sepatu heels-nya yang baru.

"Astaga Tenten, aku malu di dekatmu saat itu..." Ucap Ino, ia melepas kemejanya dan mencoba bra yang baru dia beli.

"Victoria's secret..." Ino berkacak pinggang memerkan bra warna merahnya yang seksi.

"Kau akan menggunakan itu di depan Sai?" Tanya Tenten.

"Lihat, siapa yang akan tidak berkutik malam ini?" Ino tersenyum nakal.

"Kau membeli bra mahal hanya untuk menunjukkannya pada Sai?" Sakura menghampiri lalu duduk di sofa.

"Kau tau, Sai butuh pelajaran intensif..." Ucap Ino.

"Intensif bagaimana?" Sakura meneguk jus jeruknnya. Ino hanya menggeleng maklum.

"Aku juga ingin mencoba punyaku." Tenten membuka pakaiannya untuk mencoba sepasang bra dan celana dalam baru. "Apa aku sudah mirip salah satu angel victoria?" Tenten berkacak pinggang memamerkan pilihan pakaian dalamnya.

"Aku lebih memilih membeli sepuluh pasang pakaian dalam tanpa merek dari pada hanya mendapat satu koleksi victoria's secret." Ucap Sakura.

"Oh ayolaaah..., sesekali kau perlu memanjakan tubuhmu." Sahut Ino.

"Kukira kalian memanjakan kekasih kalian." Sindir Sakura.

"Kau belum berpengalaman jadi perlu belajar..." Tenten melipat tangannya. Sial...

"Kami jadi ingin tahu seperti apa pakaian dalam pilihanmu, kuharap Sasuke atau Gaara tidak syok saat melihatnya."

"Tenten!" Bentak Sakura dan Ino terkekeh.

"Kenapa? apa kau memakai celana dalam yang rendanya melar?"

"Hahahahahahahaha!" Ino tertawa lebar. Sakura malas menanggapinya, ia acuh sambil terbaring di sofa. Ino dan Tenten lalu bertatapan, mereka tersenyum jahil, Ino memberi kode Tenten dan mereka langsung menyerbu Sakura.

"Hei..!" Sakura terkejut saat Ino dan Tenten menyergapnya, Sakura berusaha memberontak tapi kalah, ia tak berdaya saat Ino dan Tenten berusaha melucuti pakaiannya.

Sakura berakhir tersungkur di karpet hanya memakai pakaian dalam. Tenyata pakaian dalam Sakura lumayan bagus, setidaknya ia tidak memakai celana dalam pink-nya yang usang itu. Celana dalam penuh kenangan dengan Sasuke. Pftttt...

"Kalian gila..." Sakura lemas sambil meredam kekehannya, ia mengambil banyak nafas. Ino dan Tenten masih terkekeh.

"Pakaian dalammu lumayan... tapi perlu di-upgrade." Ucap Tenten, Ino mengangguk setuju. Suasanan sesaat menjadi hening.

"Music..." Ino mengeluarkan ponselnya, lalu menuju buffet TV, ia mencolokkan kabel speaker dan memutar lagu.

Ariana Grande - Problem.

Lagu itu bergema dengan volume keras, Ino dan Tenten berhadapan lalu mulai menggoyangkan tubuh mereka menikmati alunan musik. Sakura masih terbaring di karpet memandang Ino dan Tenten.

"Berdiri..." Ino menarik Sakura untuk bangkit.

"Goyang badanmu Sakura..." Tenten memprovokasi Sakura untuk bergoyang. Sakura hanya berekspresi malas.

"Come on..., kau tidak tahu caranya bergoyang? Payah sekali..." Ejek Ino, Sakura tersenyum tipis lalu menunjukkan kebolehannya.

"Woa..., ini dia..." Ucap Tenten.

Musik terus beralun dan ketiga gadis itu berjoget dengan asyik. Ino dan Tenten bahkan beradu melakukan Twerking. Sakura hanya menggelengkan kepala melihat mereka.

Ceklek!

Suara musik yang keras membuat ketiga gadis itu tidak menyadari seseorang membuka pintu. Seorang pria berdiri kaku saat melihat penampakan tiga gadis hanya memakai pakaian dalam berjoget ria di ruang tengah.

Sasori, pria itu mematung di depan pintu apartemennya sambil membawa koper.

Sakura, Ino, dan Tenten yang serempak menoleh langsung terpaku seperti orang bodoh.


to be continued :)