Sehun-ie family's? Yes!

I'M NOT HIM

HUNHAN

.

.

.

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

.

.

"Mmphh..Se—umhh..Sehun sto—mmhh..Sehun!"

Luhan memekik kesal sambil mendorong tubuh Sehun yang hampir menghimpitnya.

"Wae~?" tanya Sehun dibuat semanja mungkin, membuat Luhan memutar bola matanya jengah.

"Aku sulit bernafas dan kau terus saja menciumku tanpa henti." Luhan mempoutkan bibirnya, dalam hati Sehun benar-benar mengutuk bibir milik namja yang dia cintai ini saat bibir plum yang terlihat sudah hampir bengkak akibat pangutan yang ia lakukan.

"Tapi aku masih ingin menciummu~sayang~" rajuk Sehun saat Luhan memberi jarak berusaha jauh dari Sehun.

"Kita bisa lakukan nanti dan tidak disini eoh.."

"Hahh.." Sehun membuang nafasnya kesal. "Waeyo?" Tanyanya pada Luhan yang kini melipat kedua lengannya didada.

"Tuuuh!" Bibir Luhan maju mengarah ke Sehun, lebih tepatnya kearah belakang Sehun dan namja albino itu pun menoleh ke belakang.

"Cuma eomma dan appa..geuleom, wae?" Tanya Sehun yang kini terus saja mendekati Luhan dan menghirup pelipisnya sambil mengecup lembut berkali-kali seakan menggoda. Sekali lagi Luhan menekan dada Sehun agar menjauh.

"Kau seenaknya saja mengatakan 'lalu, kenapa?' Aishh jincha..coba lihat ituu.." Luhan kembali mengarahkan pandangannya kekiri ujung ranjangnya, Sehun pun menoleh kearah yang diarahkan Luhan.

"Baekhyun dan Chanyeol hyung..lalu apa yang salah?" Ucapnya jengah, membuat Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang Sehun katakan. Lalu ia mempoutkan bibirnya kearah sebaliknya dari pasangan ChanBaek dan Sehun tersenyum lagi menatap pasangan Kyungsoo dan Kai, terlihat keduanya sedang menyilangkan lengan mereka menatap Sehun malas. "Itu Kai hyung juga Kyungsoo hyung.. aduuuhh.. memangnya kenapa dengan mereka semua sayang?" Setelah Sehun menunjuk kearah KaiSo, ia pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.

TUK!!

"Akhh..appo.." Sehun mengusap kepala bagian belakangnya yang sakit seperti ada yang memukulnya dengan benda yang lumayan keras. Ia pun menoleh kebelakang dengan cepat, lalu agak kesal melihat seseorang yang tak lain adalah sang eomma sedang memegang botol susu kecil di tangan kanan dan buntelan berwarna pink di lengan kirinya. Si bayi mungil yang cantik yang baru berumur satu hari.

"Dasar bocah genit tidak tau diri dengan tingkat mesum yang hampir menyamai tiang listrik..kau benar-benar tidak tau malu dan tidak tau tempat! Aishh..nappeun namja!!" Nyonya Oh, sang eomma mencerca Sehun berbagai kata dengan pekikan yang ia tahan sebisa mungkin karena cucu pertamanya kini terlihat menyamankan diri dengan tertidur di lengannya yang lembut.

Sehun menganga tak percaya dengan apa yang eomma-nya katakan. "Ta-tapi Luhan kekasihku, eomma!" Pekik Sehun tertahan tidak mau kalah.

Kesal dengan kalimat Sehun, dengan cepat dan hati-hati memberikan buntelan kecil pada lengannya ke pelukan Kyungsoo karena si kecil seperti mengeliat akan terbangun, dan Nyonya Oh langsung mengangkat lengannya akan memukul Sehun lagi dan terjadi lagi..

TUK!

"Aihhhgg! Eomma..appoyo jinchaaa!" Sehun mengusap jidatnya yang di ketuk lagi oleh sang eomma dengan botol susu. "Anakku mau minum pakai apa jika botolnya nanti rusak gara-gara eomma memukulku dengan itu eoh?"

"Ya! Kakeknya bisa membeli pabriknya kalau perlu..aish..byeontae namja!" Pekik sang eomma lagi, karena tidak tahan dengan tingkat kemesuman anak bungsunya.

"Aku tidak mesum, aku mencintai Luhan..eomma~"

Kyungsoo terkekeh sambil mengayun pelan lengannya agar si kecil nan imut itu tidak terbangun karena appa dan sang nenek.

"Setidaknya hargai kami Oh Mesum Sehun.." Ujar Kai yang kini merangkul istrinya dengan sebelah tangannya kini mengusap pipi sang bayi lucu yang mengeliat, imut sekali pikir Kyungsoo dan Kai.

"Ya..ya..seperti kalian tidak begitu saja."

"Tentu saja, kami masih bisa menahan diri..bukan begitu chagi?" Lirih Kyungsoo dan mengecup pipi suami tersayangnya.

"Lihat..lihat..itu mereka berciuman!" Sehun menunjuk kearah pasangan KaiSo.

"Ya ampun Sehun-ah, itu cuma pipi dan bukan seperti yang kau lakukan tadi tiada henti memakan bibir gege-ku, dan kau tidak tau dari tadi Yeol-ie terus saja menyenggolku mengajak pulang!" Kini Baekhyun yang mencerca Sehun.

"Yak! Apa aku seperti itu? Kau ini mengarang saja!!" Chanyeol memekik tak terima karena Baekhyun jujur didepan semua, sungguh itu membuat dia malu walau julukannya Park Idiot Chanyeol.

"Eo' kalau begitu jangan menyuruhku pulang kalau kau memang tidak mau mengakui apa yang kau lakukan tadi." Kata-kata Baekhyun membuat wajah Chanyeol memerah malu.

"Sudah-sudah..kalau begitu lebih baik kita pulang saja dan nanti sore kita kembali lagi, dan sayang apa kau sudah mendapatkan baby sitter untuk menjaga Lauren dirumah?" Kini Tuan Oh yang bersuara.

"Appa~ berulang kali aku bilang, nama anakku itu Hanna.. Oh Hanna!"

"Andwae.. Oh Lauren itu lebih bagus dan lebih lucu, tentu saja nama cucuku harus berkelas!" Nyonya Oh tak terima saat Sehun mengatakan nama cucunya yang berbeda dengan keinginannya.

Sang appa menggeleng kepalanya sambil tersenyum. "Terserah kalian saja." Sambil mengangkat kedua lengannya tanda menyerah.

"Bagaimana kalau Oh Hanna Lauren?" Ini Baekhyun.

"Eo' atau Oh Lauren Hanna?" Dan ini Kyungsoo.

"Yak! Itu keponakanku, jadi letak namanya lebih bagus yang aku katakan tadi." Baekhyun berujar sengit.

"MWO? Luhan hyung sudah seperti hyung-ku jadi aku juga punya hak Baekhyun-ssi!" Ujar Kyungsoo tak kalah sengit.

"Ya! Ya! Apa kau bilang? Aku yang lebih berhak, kau hanya dongsaeng angkatnya!" Suara Baekhyun makin meninggi tak terima.

"Saudara kandung atau saudara angkat itu sama derajatnya, kau tau?" Kini Kyungsoo juga ikut memekik.

"Andwaeee! Beda!"

"Sama!"

"Beda!"

"Hei..kenapa jadi kalian yang berdebat?" Tanya Chanyeol kebingungan melihat kekasihnya kini perang mulut dengan 'istri' sahabatnya.

"Ya, Chanyeol benar..harusnya kalian tidak berteng—"

"DIAM!!!" Teriak kedua pria yang berwajah cantik, sampai..

Huweeeeeeeee..hu..huweeee..hu..hu..huwaaaaaaaaa..

Pekikan tangis yang tak kalah tinggi beberapa oktaf dari suara mereka terdengar sangat keras, seakan ia protes karena telah mengganggu tidurnya. Kyungsoo dan Baekhyun menyesal, berusaha mendiamkan sang bayi yang masih berada di gendongan namja bermata bulat.

Kyungsoo berusaha mengayun pelan lengannya berusaha membujuk sang bayi dan Baekhyun menyanyikan lullaby dengan suara yang mengalun indah agar si kecil kembali tenang dan tertidur. Mereka berdua pun tersenyum lega bersama sambil membuang nafas perlahan, agar si kecil tak mendengar keributan apapun, walau itu dari hembusan nafas mereka :D

Luhan terkikik kecil melihat interaksi keduanya, sungguh manis. "Xian.." Panggil Luhan, membuat sang didi menoleh padanya. "Kapan kalian menikah dan mempunyai anak?"

"Uhukk.."

Pertanyaan Luhan membuat Chanyeol tersedak ludahnya.

"Yak! Baekhyun yang ditanya kenapa kau yang tersedak?" Tanya Kai yang berada disisi kanannya, membuat mata Chanyeol membola dan membuat mimik ingin menusuk mata Kai dengan jari telunjuk juga jari tengahnya. Kai pun hanya memundurkan sedikit kepalanya kebelakang sambil terkekeh nakal pada sahabatnya.

"Sudah-sudah, ayo kita pulang dan biarkan Luhan istirahat." Ujar Tuan Oh sambil mendekati sang cucu yang sudah terlelap kembali di lengan Kyungsoo. Pelan Tuan Oh membelai kepala sang cucu tersayang dan mengecupnya gemas. "Harabeoji-ganda..eoh?" Ujarnya sedikit berbisik dan mengecup lagi pipi cucunya, sayang.

"Eumm..halmeoni juga pulang dulu ya? Besok harabeoji dan halmeoni menjemput ya Lauren-ie."

"Hanna..eomma..Hanna!" Pekik Sehun meralat nama yang eomma-nya panggil untuk sikecil. Seakan tak perduli dengan perkataan Sehun, Nyonya Oh terus mencium pipi chubby sang cucu sambil terus menyebutkan 'Lauren cucu halmeoni tersayang' dan tentu saja membuat Sehun makin jengah menatap sang eomma yang kini mencium pipi Luhan dan menoyor dahi Sehun lalu melambaikan tangannya pada semua dan merangkul sang suami setelahnya keluar dari kamar inap.

"Baiklah hyung, kami pun harus kembali. Jongin-ie harus kembali ke kantor." Kyungsoo meletakkan si kecil pada lengan kiri Sehun dan ia mengeratkan jemarinya pada jemari Kai lalu mereka pun menyusul keluar. Sehun tersenyum pada keduanya lalu mencium gemas bayi yang berada di pelukannya.

"Aiyoo..dia benar-benar lucu sekali. Rasanya aku tak ingin pulang." Ujar Baekhyun mendekat kearah Sehun lalu mengecup pelan bibir si bayi mungil yang kini benar-benar nyaman dalam pelukan Sehun.

"Yeah, jangan pulang..karena dalam waktu lima menit saja kita keluar dari kamar ini, gege-mu akan jadi santapan Lauren appa, Oh Mesum Sehun." Ujar Chanyeol yang juga ikut mendekat kearah Sehun sambil membelai kepala si kecil lalu mengecup surai hitam kecoklatan milik si mungil.

"Yak! Hyung! Kau—" Pekik Sehun.

"Hussssttt..Hun-ah.." Potong Luhan sambil mengarahkan delikan matanya pada si mungil yang terlihat terganggu oleh pekikan suara berat sarat cadel maksimal tersebut.

"Tapi sayang..aku hanya ingin bilang, kalau nama anak kita itu Oh Hanna..bukan Lauren." Lirih Sehun penuh penekanan.

"Lauren atau Hanna adalah nama yang sama-sama cantik dan indah di dengar, aku suka." Ucap Luhan penuh kelembutan, dan Sehun terdiam.

Baekhyun yang melihat Sehun terdiam seketika tersenyum geli mengulum bibirnya lalu mengarahkan bibir tipis miliknya ke telinga Chanyeol dan berbisik..

"Kalau dia diam begitu, berarti dia sudah luluh." Bisik Baekhyun pada kekasihnya.

"Wuaaahh..the power of Luhan's words." Chanyeol pun ikut membalas dengan berbisik pada telinga kekasihnya.

"Yak! Kenapa kalian berbisik seperti itu? Membicarakanku eoh? Itu tidak sopan!" Ujar Sehun saat melihat pasangan ChanBaek saling berbisik sambil mengerling padanya.

"A-aniyo..kami hanya mau pamit, benarkan sayang?" Chanyeol lalu menarik kekasihnya mendekati Luhan lalu mengecup si kecil sambil menoyor dahi Sehun. "Jangan terlalu mesum saat kami tinggalkan, arraseo?" Ujar Chanyeol lagi membuat Sehun mencibirkan bibirnya tidak terima. Luhan kan kekasihnya. Sesuka hatinya tentu saja.

"Gege, besok aku datang lagi oke? Princess kecil, samchon pergi ya."

Setelah membalas lambaian dari Baekhyun kini hanya tinggal Sehun dan Luhan juga si kecil. Luhan melihat Sehun sangat menyayangi buah hatinya.

"Jangan menatapku terus seperti itu.. Nanti kau tidak bisa hidup tanpa diriku." Ujar Sehun menggoda Luhan dan simata rusa hanya tersenyum sambil berdecih mendengar apa yang Sehun katakan.

"Begitukah?" Tanya Luhan lalu Sehun tersenyum lembut padanya.

"Tidak." Jawabnya sambil melangkah mendekati Luhan di ranjang. "Aku yang tidak bisa hidup tanpa dirimu." Tatapan mata elang Sehun melembut dan Luhan menjulurkan tangannya agar tangan kanan Sehun dapat ia raih dan jari-jari mereka menyatu dalam gengaman.

"Narang..gyeolhonhae..jullae?" Tanya Sehun dengan suara agak berbisik membuat Luhan mengerutkan dahinya tak mendengar.

"Ne?" Lirihnya saat tak terdengar jelas apa yang Sehun katakan.

Sehun tersenyum dan mengerti Luhan tak mendengar suaranya. Ia pun melepaskan rematan jemari mereka berdua lalu meletakkan si kecil pada pangkuan Luhan.

Sambil merogoh pada saku celananya tatapannya tak lepas dari Luhan. "Aku hanya ingin melakukannya dengan benar." Ujarnya, lalu menyodorkan kotak beludru sangat kecil berwarna hitam kehadapan Luhan dan membukanya perlahan.

"Luhan.." Panggil Sehun dan ia mengulum senyumnya sambil menarik nafasnya lewat hidung lalu membuangnya.

"Maukah kau menikah denganku?"

Bibir plum Luhan terbuka, lalu ia dengan cepat menutup bibirnya dengan jemari kanannya tak percaya dengan apa yang Sehun lakukan.

"Ta-tapi ini.." Luhan seakan menahan nafasnya menatap sepasang cincin yang terlihat biasa tapi sangat indah dengan batu berlian di bagian tengahnya, sangat indah.

Sesaat air mata Luhan pun mengalir di kedua pipinya. Baru dua hari lalu ia menyatakan balasan cintanya dan hari ini Sehun langsung melamarnya. Secepat inikah kebahagiaan yang ia dapatkan.

Haruskah ia mengatakan 'Ya?'. Haruskah?

"Ne.. Ne Sehun-ah..aku mau menikah denganmu." Tak terasa air mata Luhan pun mengalir di pipi-nya. Oh Tuhan, dia itu manly..tapi kenapa saat Sehun melamarnya seperti ini membuatnya terharu dan tak menyangka dengan keinginan Sehun yang ingin cepat-cepat menikahinya.

Dengan cepat Sehun mendekati Luhan lalu mencium bibir plum yang menjadi obat hatinya lalu mengecup kening Luhan lama karena ia terharu juga bahagia dengan jawaban Luhan.

"Aku akan memakaikan cincin ini di jarimu sayang." Ujar Sehun sambil menyematkannya di jari manis Luhan sebelah kiri. "Untuk cincin pernikahan, eomma telah menyiapkannya." Lanjutnya lagi, lalu dengan cepat menyematkan cincin yang sedikit lebih besar ukurannya dari milik Luhan dan ia memakainya pada jari manis sebelah kiri.

Sehun pun menggenggam jemari Luhan erat sambil menatapnya dalam dengan lembut.

"Aku tidak pernah seperti ini mencintai seseorang. Tapi terima kasih karena kau mau menjadi kekasihku dan menerima lamaranku." Ujar Sehun sambil memainkan jemari lentik Luhan yang terdapat cincin yang baru ia sematkan tadi.

"Aku, terlalu tua untukmu Sehun. Apa kau tidak malu nantinya?" Ujar Luhan sembari menunduk, sebenarnya masih ragu dengan umur mereka yang terpaut empat tahun.

"Sayang." Panggil Sehun lembut dan Luhan menoleh padanya. "Cinta itu tidak memandang umur aku rasa, dan itu bisa terjadi pada siapa saja termasuk kau dan aku." Lanjutnya penuh keyakinan.

Luhan pun tersenyum dan menatap si kecil. "Tapi jika kita menikah nanti, apa kau tidak apa-apa karena aku bisa punya anak darimu dua tahun lagi..dan..dan..itu sangat lama."

Sehun juga ikut memandang si kecil lalu membelai pipi si bayi yang ia beri nama Oh Hanna itu. "Untuk sementara aku akan puas dengan Hanna, aku sudah mencintainya sebelum ia menatap dunia ini." Lalu Sehun seketika mendekati Luhan dan mengecup pelan bibir dambaannya lembut. "..dan jika nanti saatnya tiba." Sehun menggigit bibirnya nakal kearah Luhan sambil mengedipkan sebelah matanya seakan menggoda. "Kita bisa bekerja keras setiap waktu untuk mendapatkan beberapa adik untuk Hanna..tiga mungkin.." Lanjut Sehun dan beberapa detik kemudian ia terkekeh melihat wajah Luhan dengan mata rusa yang hampir keluar dengan bibir yang menganga tak bisa berkata-kata.

"Aku..kau..sep—MWO!! Kau ma—hhmmmpp.."

Luhan yang terbata-bata seketika bibirnya bungkam karena lagi-lagi Sehun menciumnya, memangut lembut penuh perasaan. Beberapa puluh detik kemudian Sehun melepaskan pangutannya dan menyatukan kening mereka menikmati deru nafas Luhan yang selalu ia suka dengan keduanya yang saling menutup mata sambil tersenyum.

"Kau tau sayang?" Tanya Sehun dan Luhan menggelengkan kepalanya, tanpa menatap pun Sehun tau bahwa kekasihnya sedang menggeleng pelan.

"Aku hanya ingin hidup berdua selamanya denganmu sampai kita menua..." Sehun berujar sambil membelai pipi Luhan, membuat si pria cantik tersenyum. "...dan jika kita mempunyai anak lagi..itu aku anggap bonus yang sangat berharga dalam hidupku." Lanjutnya lagi lalu mengecup cepat bibir Luhan.

Perlahan mata rusa yang indah itu terbuka dan sedikit berkaca-kaca. "Terima kasih..terima kasih karena kau telah begitu mencintaiku."

"Tidak..tidak sayang, aku yang harus berterima kasih. Kapan kita ke Beijing dan meminta izin pada Baba dan Mama?" Tanya Sehun sambil mengecup lembut jemari Luhan lalu mengambil sang bayi dari pangkuan Luhan dan meletakkan si kecil yang cantik itu kedalam box baby di samping ranjang. Sehun tersenyum kecil memandang si cantik yang mengambil paras Luhan juga keluarganya.

"Terserah kau saja Sehun-ah..dan tentunya aku ingin kesana setelah aku pulih."

"Tentu saja sayang..kita akan kesana setelah kau sembuh dari rasa sakit operasi. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu." Ujar pria pucat yang tampan itu lalu ia mendekati Luhan dan menyodorkan wajahnya sangat dekat pada wajah Luhan.

"Jadi.." Sehun tersenyum licik sambil membelai wajah kekasihnya. "Apa kita bisa melanjutkan yang tadi...sayang?"

Luhan menatap kekasih pucatnya jengah.

"Ya ampun Sehun."

.

.

I'M NOT HIM

.

.

"Apa semua sudah lengkap? Pakaian hangatmu bagaimana?"

Sehun menatap jengah pada wanita yang ia sayangi. "Eomma.. Ayolah, berhenti memperlakukan aku seperti bayi. Luhan sudah mempersiapkan semua."

"Eo' mianhae saeki-ya..eomma lupa kalau kau mempunyai eomma yang lain." Ujar Nyonya Oh dengan nada mengejek dan membuat semua yang mendengar terkekeh termasuk Luhan yang terus saja memeluk si cantik Hanna.

Beberapa detik kemudian terdengar suara pemberitahuan untuk semua penumpang pesawat menuju Beijing untuk menunggu diruang tunggu karena pesawat akan segera berangkat dalam tiga puluh menit lagi. Luhan pun menyerahkan Hanna kepada Nyonya Oh, ia tak bisa membawa si kecil karena Hanna masih berumur tiga bulan. Ia hanya bisa memandang sendu kearah si kecil. Nyonya Oh pun tersenyum manis menatap Luhan yang ia yakin kini si mata rusa yang sebentar lagi akan menjadi menantunya menatap sedih kearah sang cucu.

"Lauren akan baik-baik saja..eomma dan appa akan menjaganya dengan baik sampai kalian kemba—"

"Hanna..namanya Oh Hanna, eomma~" potong Sehun sambil merengek saat Nyonya Oh memanggil si kecil dengan nama 'Lauren'.

"Ini cucuku, jadi terserahku saja." Nyonya Oh mencibir tak perduli.

"Tapi Hanna anakku eomma~" rengek Sehun tak mau kalah.

"Ya Tuhaaan, geumanhaerago! Kalian akan ketinggalan pesawat jika terus saja bertengkar, ayolah." Ini Tuan Oh yang benar-benar jengah setiap melihat istri dan anaknya bertengkar hanya karena si kecil Hanna yang kini cuma mengeliat lucu sambil mengemut ibu jarinya sambil sesekali menatap sang appa juga halmeoni-nya.

"Ayo Sehun-ah.." Kini Luhan menarik lengan Sehun yang berat meninggalkan Hanna.

"Hanna-ya.. Appa tidak akan lama sayang, nanti appa secepatnya pulang, eoh?" Ujar Sehun sedih menatap sikecil yang hanya menatapnya sambil tersenyum mengeliat lucu seakan mengerti.

"Sudahlah Sehun-ah, pesawat tak akan menunggu kalian." Dan kini Baekhyun yang juga ikut mengantar kepergian sang gege juga berujar menatap Sehun jengah dengan mata cipitnya.

"Arraseo..arraseo..kalian harus menjaga anakku dengan baik, aku tidak mau sampai si cantik sakit, ne?"

Semua memutar bola mata mereka dan Luhan hanya bisa terkekeh sambil menarik kekasihnya menjauh sambil melambai kearah ketiga orang tersayang yang mengantarnya. Hanya Nyonya Oh yang seperti mengusir sang anak sambil mencium sayang sang cucu terus-menerus karena gemas.

.

.

Luhan menggenggam jemari Sehun erat, Sehun mengetahui bahwa Luhan phobia ketinggian dari Baekhyun. Walau dulu Luhan berusaha berani, tapi ketakutannya kini semakin menjadi saat mengingat tunangannya dulu yang kecelakaan dengan pesawat yang terjatuh di sungai Yalu.

Sehun mengerti ketakutan kekasihnya dan membawa jemari Luhan pada tangan kirinya.

"Apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu." Sehun meyakinkan Luhan yang kini jemari kekasihnya Sehun rasakan berkeringat hebat.

Luhan menatap mata elang kekasihnya. "Aku percaya, aku mencintaimu Sehun."

Sungguh indah rasanya dengan apa yang Luhan katakan dan itu membuat hati Sehun luluh lantak. "Aku lebih mencintaimu Luhan." ..dan ia pun mengecup punggung tangan mungil pria-nya.

"Tutuplah matamu, tidurlah..aku akan menjagamu." Ujarnya lagi sambil menaikkan keatas pegangan yang menjadi penghalang antara keduanya lalu tanpa melepaskan ikat pinggang pada kursi dan Luhan menyandar pada dada bidang Sehun dengan nyaman. Lihatlah wajah bahagia Sehun yang kini keinginannya tercapai.

'Sedikit lagi Luhan..selangkah lagi setelah meminta izin kau akan menjadi milikku seutuhnya.' Gumam Sehun dalam hati sambil tersenyum dan menutup mata perlahan menyusul sang kekasih yang kini tertidur dengan nyaman.

.

.

.

I'M NOT HIM

.

.

.

"Laopo..apa sudah hubungi Xian tepatnya mereka sampai jam berapa?"

"Aiya..sudahlah suamiku, yang penting kita sekarang sudah disini-aa..mereka bisa melihat kita dari sini."

"Luhan pulang bersama Sehun, aku belum pernah melihatnya. Apa dia sama seperti nak Yeonseok yang berperangai baik, ramah, juga sopan?"

"Laogong..mungkin dulu nak Sehun jahat sama anak kita, tapi lihat sekarang. Dia ingin meminta izin pada tuan kita untuk pernikahan mereka, berarti dia sudah berubah menjadi orang yang baik."

"Ahh..entahlah, aku tidak begitu yakin sebelum melihat langsung seperti apa itu seorang Sehun. Dihatiku masih Yeonseok-er tetap nomor satu.."

Perdebatan kecil antara suami-istri Lim yang menunggu kedatangan Luhan juga Sehun membuat sang suami meragukan sifat Sehun sekarang yang mencintai Luhan. Walau mereka berjauhan dengan kedua tuan muda, tetapi Baekhyun sang bungsu dari keluarga besar Xi selalu menghubungi kedua orang yang telah ia anggap pengganti ayah dan ibunya yang telah tiada.

Setelah beberapa menit menunggu dan menunggu..akhirnya—

"Aaa..itu..itu.. Laopo..itu Luhan-ku.."

"Oh yeah..dan seseorang yang terlihat dingin dan benar-benar tidak ada hangat-hangatnya..aiyohh..aku merindukan mendiang Yeonseok..semoga saja ia cepat ber-reinkarnasi.."

"Aiyaaah..kau bicara apa? Tidak masuk akal. Ayo kita sambut mereka." Istrinya pun meninggalkan dirinya yang masih saja mendegus tidak suka melihat wajah tampan milik Sehun yang tentu saja terlihat dingin dan tidak bersahabat.

Nyonya Lim berjalan cepat saat Luhan telah melihatnya dan ia pun menengadah kedua tangannya menyambut anak kesayangannya.

"Wo de erziii.." Teriak Nyonya Lim memanggil 'putraku' dengan sayang dan Luhan pun meninggalkan kopernya lalu berlari memeluk sang pengasuh yang telah lama menjaga dirinya dan Baekhyun dari kecil.

Kepala pelayan Lim yang telah Luhan anggap pengganti sang baba pun memeluknya penuh kasih sayang. Hal itu membuat Sehun tersenyum, betapa hangatnya kedua orang yang menyayangi Luhan-nya.

"Ahh..Luhan sayang- apa ini Sehun, adik dari Yeonseok?" Tanya nyonya Lim dengan bahasa mandarin yang tentu saja sedikit dimengerti oleh Sehun, karena ada namanya juga nama mendiang sang kakak.

"Walau mereka agak mirip, tapi apa dia sama seperti mendiang calon menantuku?" Ini tuan Lim bertanya dengan nada ketus dan Sehun tidak mengerti, tetapi melihat ekspresi Luhan yang canggung membuat Sehun agak mengerti dengan nada tak suka dari orang yang telah Luhan anggap baba ini.

Ia pun tersenyum sedikit walau memang dengan ekspresinya yang terlampau dingin membuat mata Tuan Lim memandangnya tanpa tatapan hangat, tetapi..

"Jieshao yixia, wo jiao Oh Sehun." Dengan hormat Sehun menunduk sampai 90 derajat memperkenalkan dirinya sambil menyebut namanya. Hal itu tentu saja membuat kedua pasangan paruh baya itu terkejut dan yang paling terlihat gelagapan adalah Tuan Lim yang tentu saja merasa tidak enak karena Sehun memperkenalkan dirinya dengan bahasa ibu-nya.

Melihat itu Sehun tersenyum memperlihatkan giginya, sepertinya ia telah belajar dengan baik cara tersenyum. Tentu saja, karena sang guru adalah Park Chanyeol si tukang tersenyum lima jari, kekasih dari calon adik iparnya.

Karena tak ingin terlihat mengerjai keduanya, Sehun pun berbisik ke telinga kekasihnya yang kemudian mengangguk mengerti.

"Paman.. Bibi.." Panggil Luhan sambil tersenyum, membuat keduanya menoleh kearah Luhan. "Sehun hanya tahu cara memperkenalkan diri saja, tapi yang lainnya ia tidak tahu. Jadi mohon bantuannya, katanya."

Kedua pasangan paruh baya itu pun memperlihatkan mimik yang berbeda. Sang istri terlihat sumringah sedang sang suami hanya menggarukkan tengkuknya sambil tersenyum kecil. Lalu sang istri pun berbisik pada Luhan dan sambil tersenyum lagi dan lagi Luhan menanggukkan kepalanya.

"Tentu saja bibi, Sehun bisa berbahasa inggris." Ujar Luhan yang kini menjadi penerjemah dadakan, lalu dengan cepat menoleh kearah Sehun sambil mengatakan apa yang ditanyakan bibi Lim padanya. Mendengar itu, Sehun tersenyum lagi lalu..

"Aunt-ie, i can speak english. How about you and uncle?" Tanya Sehun seramah mungkin.

Lagi-lagi membuat ekspresi yang berbeda pula kini pada kedua pasangan paruh baya didepan Sehun. Yang wanita terlihat malu-malu dan yang lain kini lebih berbinar, mungkin karena keramahan yang Sehun perlihatkan.

"Annyeong.. Jimmy Lim, imnida..aku bisa bahasa Korea walau sedikit dan kau bisa memanggilku samchon dan ini istriku tercinta Kelly Lim..kau bisa memanggilnya imo jika kau mau.. Bhanggapseumnida." Paman Lim pun sedikit menunduk kearah Sehun dan tentu saja ia langsung suka pada Sehun yang telah berusaha untuk memperkenalkan diri dengan bahasa ibu-nya. Itu sangat menghormati dirinya bagi paman Lim.

"Kehormatan bagi saya, kamsahamnida Lim samchon." Sehun menunduk sekali lagi membuat pasangan paruh baya didepannya benar-benar kagum dengan sosok Sehun yang juga sopan seperti sang mendiang hyung-nya.

Paman Lim mendekat kearah Sehun dan tersenyum ramah sambil menepuk pundaknya. "Karena kau akan menikah dengan putra cantikku, jadi jangan terlalu formal begitu, ne?"

Sehun merasa senang sekali diterima oleh paman Lim, membuatnya mengangguk antusias berkali-kali. "Ne Lim samchon."

Bibi Lim hanya tersenyum menatap keduanya, lalu ia mendekat kearah Luhan dan sedikit berbisik sambil tetap merapatkan giginya membuat Luhan terkekeh menatapnya.

"Apa yang mereka bicarakan? Apa mereka bergosip tentang diriku?"

Mendengar sang bibi berbisik lirih membuat Luhan tertawa.

" Ya ampun bibi.. Mereka hanya saling mendekatkan diri dan paman sekarang menyukai Sehun." Ujarnya lalu menatap Sehun yang kini telah dirangkul sang paman. "Ayo belajar bahasa Korea bibi, tuh seperti paman. Walau sedikit tapi setidaknya paman bisa melakukannya."

"Bushi..bahasa inggis sudah cukup melelahkan dan harus di tambah dengan bahasa Korea? Tidak..tidak..pokoknya bushi." Ujar sang bibi sambil menggelengkan kepalanya dengan terus mengatakan 'tidak'.

Melihat itu Luhan terkekeh dan memeluk rindu sang bibi.

"Bibi.." Panggil Luhan lirih, membuat wanita paruh baya yang tadinya menatap sang suami yang berinteraksi dengan Sehun menatap Luhan seakan matanya bertanya 'ada apa'?

"Apakah tidak mengapa aku menikah dengan Sehun? Sedang dia adik kandung mendiang Yeonseok hyung."

Sang bibi menatap lembut pria bermata rusa yang telah ia anggap anaknya ini. "Apapun pilihanmu sayang. Jika ia pria yang baik, walaupun adik mendiang Yeonseok, tidak ada salahnya. Asal kalian saling mencintai satu sama lainnya."

Lalu Luhan menatap Sehun yang berjalan pelan sambil berbincang dengan paman Lim, benar apa yang bibi-nya katakan. Tak ada salahnya jika mereka saling mencintai.

Luhan melihat Sehun menatapnya juga, mereka saling tersenyum. Tapi tiba-tiba Sehun menundukkan pandangannya dan yang membuat Luhan bingung adalah itu terjadi karena sang paman berbisik ke telinga Sehun. Luhan mengernyitkan dahinya dan masih menatap Sehun sambil memiringkan kepalanya. Sedang pamannya melihat Luhan sambil terus berbisik ke telinga Sehun yang kini sudah memerah.

"Hao-lah..mereka tidak membicarakanku, tapi membicarakan dirimu." Ini sang bibi yang berbicara.

"Huh?" Luhan makin bingung. "Dari mana bibi tau?"

Sang bibi memutar bola matanya jengah karena Luhan selalu lupa dengan sifat sang paman. "Bibi ingatkan kembali saat paman-mu baru berkenalan dengan mendiang Yeonseok.."

Luhan sesekali menatap langit-langit bandara lalu menatap Sehun yang kini sudah memegang dahinya sambil menunduk menutupi wajahnya yang memerah kini.

Lalu sang paman melangkah cepat sambil menarik Sehun.

"Lulu.. Ayo cepat kita kerumah. Paman sudah masak banyak, hari ini paman memasak banyak daging dirumah." Ujar sang paman dan di balas anggukan antusias oleh sang bibi.

"Kamar kalian juga sudah bibi rapikan." Lanjut si paman sambil menaik-turunkan alisnya.

"Paman~" keluh Luhan sedikit manja saat sang paman mengatakan itu dengan suaranya yang lantang, sungguh Luhan malu sekali dengan kelakuan sang paman yang terlalu bersemangat.

Sehun?

'Aku tahu kalian lagi panas-panasnya, kamar Luhan kedap suara.'

—ia mengingat bagaimana sang paman membisikkan sesuatu padanya tadi.

"Hey, kenapa kau merengek. Paman hanya mengatakan kamar kalian sudah rapi, apa yang salah?" Luhan menatap jengah sang paman. Kenapa juga harus menggunakan bahasa negri ginseng? Apa supaya Sehun mendengar?

Sedang sang bibi juga menatap jengah suaminya, tetapi lain persepsi- karena ia pikir suaminya hanya ingin pamer di depan Sehun.

"Oh iya, paman juga sudah memasukkan Leg press machine, Treadmill, juga Chin up bar..untuk otot-mu!" Ujar sang paman lagi dengan mimik mengangkat barbel dan tentu saja lagi-lagi dengan bahasa Korea-nya yang terdengar sedikit aneh.

Luhan bersumpah akan mencari tahu apa maksud sang paman, karena ia melihat Sehun kini makin menundukkan wajahnya yang memerah.

'Luhan itu sok manly, setiap pagi dia suka berolahraga dan suaranya seperti orang yang sedang bercinta.'

"Ouwhh!" Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya, ia bersumpah saat ini ia terasa panas mengingat apa yang paman Lim bisikan kedua padanya.

"Ada apa Sehun?" Tanya Luhan saat mendengar suara yang terdengar seakan Sehun sedang merinding karena melihat hantu.

"A-anio..a-amugeotdo aniyo." Jawab Sehun terbata-bata. Jujur saja, semenjak beberapa bulan lalu Luhan sebenarnya sudah boleh disentuh tetapi Sehun masih kuatir nanti mengganggu jahitan yang ada di perut kekasihnya. Tapi kalau di hadapkan dengan kalimat yang secara tak langsung membuatnya—

"Hey..ingat! Jangan coba-coba hanya memakai kemeja kebesaran di sekitar rumah arra? Paman dua minggu lalu merekrut beberapa pelayan baru untuk restauran yang baru di buka dikota Dandong."

Uhuk..uhuk..

Ahh! Sehun tersedak ludahnya sendiri sampai terbatuk.

'Luhan itu anak bandel, sudah dewasa tapi tidak tau aturan dalam berpakaian dirumah. Terkadang hanya memakai kemeja panjang saja.'

Oh Tuhan, itu bisikan paman yang ke tiga yang membuat dia makin menundukkan pandangannya sambil mengipas-ngipas tengkuknya yang tiba-tiba berkeringat.

Luhan melihat Sehun yang berusaha mengelap keringatnya pada dahi juga pelipisnya. Merasa kasihan, ia pun mengambil tisu di kantong kemejanya lalu mengusapnya pelan.

"Kau berkeringat seperti ini, apa Beijing sangat panas sayang?" Ujar Luhan sambil mengusap keringat Sehun dengan tisu.

"M-mungkin eheheh.." Oh Tuhan, tolong Sehun.

"Ya sudah, kalau begitu ayo cepat kita pulang..kau bisa santai di kamar."

Gleg!

'Mungkin kau tak akan bisa santai dikamar nantinya, karena akan melihat Luhan mondar-mandir tanpa memakai apapun..anakku itu tak punya malu sedikitpun'

Dan ini bisikan si paman yang terakhir..apakah benar yang dikatakannya tadi? Sehun terus menerus berpikir apa yang paman Lim katakan semuanya benar? Oh jantung Sehun seakan berlari di tempat atau kaki miliknya ingin segera berlari secepat mungkin agar sampai di kediaman Xi sekarang juga.

Sehun hanya bisa mengusap wajah dengan tangan kirinya yang kosong. Ia mengikuti Luhan dan sang paman yang lebih dulu berjalan ke area parkiran.

"Just don't you try to believe, everything he say..every little things..okay!?"

Ini suara sang bibi yang kini menepuk punggung lebar Sehun yang kini hanya bisa melongo menatap bibi juga paman Lim. Apakah Sehun tertipu? Oh Tuhan.

.

.

.

Suasana di dalam kendaraan hanya terdengar suara pasangan paruh baya Lim yang selalu meributkan apapun. Luhan dan Sehun yang duduk di jok belakang hanya sesekali tersenyum sambil menautkan jari-jemari mereka. Sehun tak ingin melepaskan jemari lentik Luhan, sesekali ia mengecup punggung tangan Luhan dan membuat si mata rusa tersipu. Sehun suka sekali melihat wajah kekasihnya dengan mimik seperti itu.

Sehun pun menarik tubuh Luhan agar kekasihnya bersandar di dada bidangnya. Sehun menyukai ini, lembutnya kulit Luhan dan aroma shampoo yang ia pakai membuatnya terbuai dan menutup matanya sampai..

"Lulu.." Tiba-tiba terdengar suara sang paman memanggilnya.

"Ada apa paman?" Luhan bertanya dengan bahasa mandarinnya, mendengar paman memanggil dengan nama kecilnya ia tahu bahwa pamannya akan membicarakan sesuatu yang serius.

"Sebagai anak tertua marga Xi, paman ingin kau datang ke kota Dandong menghadiri acara penting, karena kebetulan kau berada disini." Benar apa yang Luhan pikirkan.

"Apakah ini tentang pembukaan cabang restoran barbeque yang paman katakan pada Xian?" Tanya Luhan yang masih bersandar pada dada bidang Sehun sambil memainkan jari-jari kokoh kekasihnya yang hanya diam karena tak mengerti apa yang Luhan bicarakan dengan paman Lim. Tentu saja karena Sehun tidak begitu tahu bahasa mandarin.

"Restoran kita berkerja sama dengan restoran Nyonya Kim. Banyak pegawai dari Korea Selatan juga Korea Utara dan paman juga merekrut pegawai dari restoran kita." Luhan hanya mengangguk mengerti.

"Hao-lah paman, nanti kita kesana. Oh apa aku boleh membawa Sehun?" Luhan setuju dan diakhiri oleh pertanyaan.

"Tentu saja." Jawab sang paman dan Luhan pun tersenyum sambil menatap Sehun yang bingung menatapnya seakan-akan bertanya kenapa Luhan menyebutkan namanya.

Luhan tidak mau Sehun berpikir macam-macam. Ia pun memberitahu, "Sehun..kita akan jalan-jalan ke kota Dandong, menghadiri acara pembukaan restoran yang baru paman buka..eotte?"

Sehun menyunggingkan senyumnya yang lembut. "Ne, apapun untukmu sayang." Ucapnya sambil mengecup lembut bibir Luhan. Ohh mereka tidak tahu sepasang suami istri paruh baya di depan mereka menatap teduh dan bahagia yang tak terkira melihat apa yang mereka lakukan. Manis sekali, seperti manisnya jeruk mandarin gumam sang bibi di dalam hatinya.

"Okay..kita sudah sampai.." Pekik sang paman membuat Luhan dan Sehun agak berjengit sedikit terkejut.

Ini pertama kalinya Sehun ke negri bambu ini dan untuk pertama kalinya juga ia akan menginjakkan kakinya di rumah keluarga besar Xi.

Ia menatap gerbang besar yang terbuka, jujur jantung Sehun berdebar karena ia akan berjumpa dengan orang tua Luhan dan meminta izin.

Luhan menggenggam jemari Sehun erat. "Gwaenchana?" Tanya si pria cantik, si tampan yang disebelahnya menggeleng pelan dan tersenyum menatap kekasih mungilnya.

"Nan gwaenchana..." Jawabnya lalu mengecup lembut jemari Luhan. Kendaraan pun memasuki gerbang, Sehun membuka jendela mobil dan menikmati hembusan angin yang masuk. Segar sekali udara di sekitar halaman rumah keluarga besar Xi. Luas dengan aspal yang mulus dan dipinggir jalan beberapa pohon beringin yang tinggi dan indah di pandang mata.

Disisi pohon tersebut terbentang luas rumput yang bersih dengan beberapa bendera golf disana. Sehun tahu, itu pasti lapangan golf yang sangat disukai sang mendiang hyung.

Ia menatap sendu hamparan luas itu dan entah kenapa hatinya seakan sesak mengingat hyung tersayangnya yang telah pergi selamanya. Tapi pandangannya beralih pada kekasih mendiang hyungnya. Dalam hati ia berjanji akan selalu disisi Luhan walau apapun yang terjadi, akan menjaga Luhan juga keponakan yang telah ia anggap darah dagingnya sendiri.

Kendaraan pun berhenti di sekitaran taman air mancur, walau terlihat kecil tapi sangat indah. Saat Sehun menikmati pandangannya kearah taman kecil dengan air mancur itu seketika tubuhnya berjengit saat Luhan menepuk paha-nya.

"Ayo kita turun sayang.." Ujar Luhan lembut dan Sehun pun membuka pintu disisi kanan saat melihat Luhan telah turun di sisi kiri. Sekali lagi ini pertama kalinya Sehun menginjak tanah Beijing, tepatnya kediaman keluarga besar Xi.

"Sayang~~"

Sekali lagi Luhan memanggilnya lalu melangkah pelan kearahnya. "Kau melamun. Memikirkan sesuatu? Atau kau tidak suka disini? Kita bisa—"

"Tidak sayang." Potong Sehun. "Aku suka dan kurasa, aku terpesona dengan tempat ini." Lanjutnya. "Dan aku tak sabar ingin melihat..kamar kita.." Goda Sehun dan diberi hadiah cubitan oleh Luhan.

"Sudaaaah..mesra mesra-nya nanti sajaaa.. Masuk dulu dan beristirahat." Pekik sang paman sambil menyuruh beberapa penjaga membawa barang-barang milik Luhan dan Sehun.

.

.

.

I'M NOT HIM

.

.

.

Hari ini adalah hari ke-tiga, setelah kemarin Luhan dan Sehun mengunjungi makam orang tua Luhan dan meminta izin melamar dan ingin menikahi anak mereka membuat Sehun lebih lega dan makin ingin mempercepat pernikahannya.

"Eughh..arhh..segarnyaaa.." Sehun mengerang saat ia terbangun dan meregangkan lengannya juga tubuhnya. Ia mengecap bibirnya dan mengerjapkan mata sayu bangun tidurnya. Kamar yang terlihat masih remang dengan cahaya matahari sedikit masuk dari sela-sela tirai.

Ia tersenyum tipis saat menatap pria cantik yang masih meringkuk dibalik selimut satin silk nan lembut berwarna hitam yang memperlihatkan pundaknya yang putih. Ia pun kembali berbaring disisi Luhan sambil menyentuh lembut pundak itu dan mengecupnya perlahan.

Setelah beberapa detik mengecup pundak itu, Sehun makin tergoda saat lirikan matanya naik ke leher jenjang Luhan.

Ia pun menjilat bibir bawahnya dan menarik nafas dalam, tubuhnya ia geser agak naik sedikit lalu bibir tipis nan penuh itu pun mengecup perpotongan leher Luhan.

Awalnya hanya mengecup, tetapi Sehun tidak tahan dan memangutnya pelan untuk lebih mengecap rasa kulit lembut Luhan.

Saat Sehun sedang asik melakukan aksinya, tubuh mungil yang sedang tertidur itu pun terusik dan mengeliat. Sehun menyukai apapun yang ada pada Luhan dan ia pun gemas sendiri menatap Luhan yang tidurnya tak tenang akibat aksinya tadi. Senyum terkulum pun tak luput dari bibir Sehun.

Ia memeluk Luhan gemas.

Mata rusa itu pun mengerjap-kerjap berkali-kali terlihat masih mengantuk. "Maafkan aku sayang..tapi bukankah pagi ini kita akan pergi bersama paman dan bibi ke kota Dandong?" Ujar Sehun sambil terus saja mengecup pipi, pundak juga punggung Luhan.

"Nnghh..aku masih mengantuk Sehun-ah.. Aku—

"LUHAN.. SEHUN.. WAKE-UP!! IT'S TIME TO BREAKFAAAST!!"

—oh ya Tuhan bibi.." Luhan menutup wajahnya kesal karena kalimatnya terpotong oleh sang bibi yang tiap pagi selalu saja membangunkan mereka seperti itu.

"Setidaknya bukan paman yang membangunkan kita sayang. Kau ingat bagaimana paman membangunkan kita dua hari yang lalu." Ujar Sehun sambil terkekeh mengingat bagaimana cara sang paman yang dengan tak perduli memasuki kamar memakai kunci duplikat dan menarik selimut yang saat itu menutupi tubuh Luhan yang hanya memakai kemeja kebesaran yang pendek begitu juga Sehun yang hanya memakai boxer-nya dengan bertelanjang dada.

Sebenarnya Sehun tidak mempermasalahkan apapun yang paman Lim lakukan. Tetapi saat itu Luhan sedang ehmm..menindihnya karena itu permintaan Sehun. Jadilah Luhan diatas Sehun dengan tubuh yang menyatu walau kemeja Luhan yang menjadi pembatas antara tubuh mereka.

Sungguh hal itu membuat Sehun malu. Jika itu appa dan eomma-nya, mungkin ia tak perduli. Tapi ini paman Lim. Paman kekasihnya. Pastinya sang paman berpikir jika Sehun adalah namja yang mesum, walau kenyataannya memang 'iya'.

Tetapi rupanya sang paman malah memukul keras pantat Luhan dan mengatakan keponakannya mesum.

Pukulan sang paman sangat keras sampai-sampai Luhan memajukan bagian privat-nya karena pukulan sang paman. Tetapi berakibat fatal pada Sehun yang sebenarnya pagi itu sedang ereksi seperti biasanya. Begitu juga Luhan tentu saja karena mereka adalah pria yang mempunyai penis yang selalu ereksi di tiap pagi-nya.

"Kau benar sayang." Jawab Luhan sambil bangun dan menyandarkan punggung telanjangnya pada headboard. Sehun pun ikut menyandarkan punggungnya dan sedikit memiringkan tubuhnya sambil membelai lengan kiri Luhan dengan jemari kirinya.

"Apa kita akan menginap disana?" Tanya Sehun yang kini sudah mengusap pundak Luhan dengan hidung bangirnya.

"Tidak sayang." Jawab Luhan dan kini ia bersandar di dada Sehun. "Setelah acara pembukaan kita langsung pulang." Ujarnya lagi sambil menarik garis didada Sehun dengan abstrak. Oh Sehun suka ini dan saat ia ingin—

"Baiklah..ayo kita bersiap-siap."

—mencium bibir si rusa nakalnya, tapi gagal. "Setidaknya biarkan aku menciummu sebentar sayang." Sehun terlihat sedikit kesal saat Luhan memakai bathrobe miliknya.

"Mwo~?" Luhan menoleh sambil mengikat bathrobe putih yang ia pakai. "Kau ingin menciumku yang belum sikat gigi?" Tanya Luhan tersenyum manja.

Sehun memutar bola matanya jengah. "Kau tak mandi pun, aku akan tetap memakanmu sampai aku mati sayang."

Setelah Sehun mengucapkan kalimatnya, senyum Luhan luntur seketika. Lalu ia melangkah cepat dan naik keatas ranjang langsung duduk di pangkuan Sehun. "Please..aku mohon..jangan ucapkan kata-kata 'mati' please Sehun..don't.." Luhan menggeleng kepalanya dan Sehun melihat itu ia sungguh menyesal lalu memeluk tubuh mungil Luhan erat.

"Mianhae.. Jeongmal mianhatta.." Sehun mengecup bibir Luhan setelah meminta maaf. Ia tahu, Luhan trauma dengan kata-kata itu. Baginya seperti sebuah bencana. "Aku janji kita akan hidup bersama sampai maut memisahkan..oh Tuhan.. Sayang maafkan aku." Ujar Sehun lagi sambil mengecup bibir Luhan lagi dan lagi.

"Aku memaafkanmu.. Jja..kita mandi bersama." Gumam Luhan pelan lalu menarik Sehun ke kamar mandi.

.

.

Kini Luhan, Sehun juga bibi dan paman Lim berada di dalam van. Ketiga pria terlihat sangat tampan, maksudnya hanya dua dan satunya lagi terlihat imut walau ia menggunakan jas yang sama yaitu berwarna abu-abu seperti paman Lim juga Sehun. Hanya bibi Lim yang terlihat cantik dengan long dress berwarna kuning gading yang dipaksa Luhan untuk dipakai pada hari ini. Oh tidak lupa seorang supir juga terlihat tampan dengan jas hitam yang kini sedang tersenyum geli melihat sang bibi yang sedari tadi cemberut karena tidak bisa memakai pakaian yang biasa saja.

Sungguh sang bibi terlihat kesal tetapi Luhan tidak perduli, ia sudah meng-klaim pasangan Lim adalah pengganti baba dan mama-nya yang telah tiada. Jadi ia ingin pasangan paruh baya bermarga Lim, harus mau memakai pakaian yang mewah, dengan terlihat tampan dan cantik.

"Luhan, You look so cute today.." Goda sang bibi saat melihat Luhan yang ingin menaikkan poni-nya tetapi selalu saja Sehun menutupinya agar Luhan tidak memperlihatkan dahi-nya.

"Ow stop-it yimaa.." Luhan cemberut dan Sehun terkekeh melihat sang bibi hanya menjulurkan lidahnya.

"Tapi bibi benar sayang..kau memang imut seperti ini." Sehun merapikan lagi poni Luhan agar terlihat lebih cantik.

"Sehun~aku ini tampan~" Luhan mem-pout-kan bibirnya kesal sambil memukul lengan Sehun.

"Oh ayolah sayang, semua pasti tahu hanya Sehun dan paman disini yang tampan." Kini sang paman yang ikut bersuara.

Luhan memutar bola matanya jengah. "Koll..paman berkata benar..aku setuju paman.." Sehun melakukan tepukan saat paman Lim menyodorkan kedua telapak tangannya. Luhan hanya bisa berdecih dan mencibir sambil menjauhkan tubuhnya dari Sehun, hey ia melakukannya karena ia kesal.

"Eo'..mengapa kau duduk diujung seperti itu?" Tanya Sehun saat melihat Luhan menjauh darinya dan bersedekap memicingkan matanya kesal. "Kau marah?" Tak ada jawaban, Luhan menolehkan wajahnya ke jalan- tak ingin menatap Sehun.

"Hhh.." Sehun membuang nafasnya lalu tersenyum. "Kau tahu kenapa aku menurunkan poni pada dahi-mu berkali-kali?" Tanya Sehun dan Luhan tetap diam dan tidak mau menjawab ataupun menoleh padanya, tetapi Sehun tak menunggu reaksi Luhan dan— "aku tidak mau ketampanan-mu membuat para wanita di sana nanti melirik padamu sayang."

Luhan tersenyum simpul, tetapi sang paman malah memutar bola matanya tak percaya dengan kalimat yang Sehun ucapkan. Lalu Luhan berbalik menatap Sehun, kekasihnya.

"Aigo..apa kau cemburu? Ahh..jincha~" Luhan memukul manja dada bidang Sehun lalu menubruk dada itu dan memeluk Sehun.

Pria albino itu pun tersenyum memperlihatkan giginya pada paman Lim lalu membuat tanda cinta dengan kedua jari telunjuk dan ibu jari miliknya, seakan-akan memberitahu ia bisa menaklukkan Luhan dengan rayuannya dan tak lupa ia mengedipkan mata kirinya kearah paman dan bibi Lim yang mengerti sambil memberikan tanda 'kau memang pintar' dengan mengacungkan ibu jari juga mengedipkan sebelah mata mereka tanpa sepengetahuan Luhan.

Setelah beberapa menit mereka sampai di bandara Beijing tepatnya lapangan mewah di distrik Chaoyang. Keempatnya lalu turun dari van dan memasuki bandara tersibuk nomer dua di dunia- ini.

Paman Lim menyewa pesawat pribadi pada penerbangan bisnis agar cepat sampai di kota Dandong untuk pulang-pergi.

Luhan tak melepaskan genggaman jemari Sehun, ia kuatir Sehun kesal dengan perjalanan ini. Seolah mengerti sang kekasih pun menatapnya dan tersenyum. "Ingat kembali..kemana pun kau pergi, aku akan ikut bersamamu." Ujar Sehun lalu mencium pipi Luhan gemas dan tak pada siapapun yang menatap mereka, karena Sehun tahu bahwa para penumpang yang lainnya sibuk dengan urusan mereka.

Paman dan bibi menaiki pesawat pribadi disana hanya ada pilot dan co pilot juga seorang pramugari yang cantik tentu saja menyambut mereka.

Sang pramugari menatap berbinar kearah Luhan yang tersenyum manis kearahnya. Sehun yang juga ingin tersenyum seketika menjadi datar sedingin es lalu menatap sang pramugari kesal karena yeoja itu masih terkagum-kagum menatap Luhan yang berlalu dari hadapannya. Sehun tak bergeming, lalu sang pramugari-pun menoleh kearahnya dan berusaha sopan dan memulai mempersilahkan Sehun lalu terse—

"That's my man..my lover..stay away from him!" Gumamnya geram, lalu menepuk dua kali permukaan jas pada dada-nya kesal. "Aish..jincha..byeontae yeoja..aughhh!!!" Lirihnya pelan dan tentu saja sang pramugari mendengar itu langsung menundukkan pandangannya, takut.

Setelah menghempaskan pantat-nya Sehun masih terlihat kesal dan mata tajamnya nyalang lalu menatap kekasihnya. Ia kuatir bagaimana nanti disana? Ia takut Luhan akan di ganggu wanita-wanita centil nantinya. Awas saja kalau ada yang berani menggoda Luhan-nya. Pria bermata rusa ini miliknya.

"Kau bosan ya?"

Sehun seketika mengerjapkan matanya dan menatap Luhan dengan pandangan bersalah, tak seharusnya ia memperlihatkan wajah keruhnya pada kekasihnya.

Lalu Sehun beranjak dari tempat duduknya dan membantu Luhan memasang seatbelt pada kursinya dan mengecup bibir Luhan sayang.

"Aniyo..aku hanya tak suka berhadapan seperti ini..aku ingin disisimu, memelukmu."

Luhan mencubit hidung bangir Sehun. "Ishh..nanti sampai dirumah kau bisa memelukku sampai kau puas." Tak lupa ia membelai lembut rahang tegas milik Sehun dan saat Sehun ingin mengecup Luhan lagi, aksinya tertahan oleh suara seorang—

"I'm sorry Mr. Oh..the plane will take of for—"

"Yea..i know! Just stay away from here!" Potong Sehun yang kesal pada sang pramugari saat suara itu terdengar oleh telinganya.

"Hun-ie.. Waeyo~?" Tanya Luhan lembut, kuatir akan kelakuan kekasihnya yang kasar pada sang pramugari dan baru kali ini Sehun kasar dengan seorang wanita. Berbeda dengan sang paman dan bibi, mereka sangat tahu dengan Sehun yang cemburuan di awal menaiki pesawat saat Luhan ditatap kagum oleh sang pramugari.

"Aniyo chagi-ya.." Sehun melembutkan suaranya lalu menunduk dan memangut bibir Luhan sedikit sensual agar pramugari itu tahu siapa pemilik si pria bermata rusa yang sedang ia cium ini, lalu Sehun tersenyum menyeringai kearah sang pramugari yang hanya bisa menelan ludah melihat itu. Sungguh kekanak-kanakan sekali, paman juga bibi Lim rasanya ingin tertawa lepas melihat kekasih dari Luhan. Sungguh unik.

.

.

Setelah lima puluh menit perjalanan dengan pesawat pribadi akhirnya mereka sampai di bandara kota Dandong. Setelah turun dari pesawat mereka sudah di sambut oleh Nyonya dan Tuan Kim

"Ni haaaaao.." Pekik Nyonya Kim saat melihat pasangan paruh baya Lim, sang bibi pun berjalan cepat dan memeluk Nyonya Kim erat. Sang paman pun bersalaman dengan Tuan Kim.

"Oh iya, kenalkan..ini si sulung anak mendiang Tuan dan Nyonya Xi juga calon suami-nya yang baru hari ini menginjak kota ini."

Luhan dan Sehun pun maju kedepan memperkenalkan dirinya pada pasangan Kim. "Annyeong haseyo, chonun Xi Luhan imnida."

"Annyeong haseyo, Oh Sehun imnida." Mereka berdua pun menunduk hormat pada pasangan paruh baya bermarga Kim di depan mereka.

"Kim Yong Hun imnida dan ini istri saya Kim Min Se, Bhanggapseumnida." Tuan dan Nyonya Kim sedikit menunduk pada Luhan juga Sehun.

"Baiklah, apakah kita bisa langsung ke restoran? Karena para tamu juga wartawan sedang menunggu kita di sana, lebih tepatnya mereka menunggumu Luhan-ssi." Tuan Kim tersenyum ramah dan mempersilahkan ke-empat tamunya agar naik ke dalam van yang telah ia persiapkan.

"Padahal kau bisa saja menyuruh supirmu menjemput kami." Ujar paman Lim pada tuan Kim.

"Oh tidak, sahabatku..karena kau mengatakan akan membawa si sulung dari mendiang Tuan Xi, makanya kami merasa bahagia bila langsung bertemu tanpa menunggu di restoran..benar kan istriku?" Jawab Tuan Kim antusias dan Nyonya Kim mengangguk senang.

"Tidak harus seperti itu Nyo—"

"Tolong, panggil imo saja, aku dan mendiang ibu-mu sudah seperti saudara." Potong nyonya Kim.

Luhan tersenyum sumringah. "Baiklah imo, aku senang sekali..terima kasih." Dan nyonya Kim menepuk punggung tangan Luhan lembut.

"Kapan kalian akan menikah?" Tanya tuan Kim pada Luhan dan Sehun. "Apa kami akan diundang?"

"Tentu saja, kami akan mengirimkan undangannya dan berharap anda berdua akan hadir pada pernikahan kami secepatnya." Ini Sehun yang bersuara.

"Suatu kehormatan bagi kami untuk menghadiri pesta pernikahan dari CEO muda seperti anda, Tuan Oh Sehun-ssi." Tuan Kim merasa tersanjung atas undangan Sehun dan tentu saja ia mengetahui siapakah seorang Oh Sehun, dan tentu saja itu dari paman Lim.

"Tidak..tidak..cukup panggil aku Sehun saja ahjussi..malah kami yang bahagia bila ahjumma dan ahjussi mau datang atas undangan kami nanti, bukan begitu sayang?" Sehun menggenggam jemari Luhan dan di jawab anggukan oleh Luhan.

"Sehun benar, paman..kami pasti bahagia sekali jika paman dan bibi Kim datang di pernikahan kami nanti." Ujar Luhan tersenyum bahagia.

Setelah percakapan singkat tadi, van pun memasuki pekarangan yang luas dan lumayan ramai oleh para pengunjung juga para tamu dan kolega.

"Wuaaaah.. Ramai sekali.." Luhan berbinar melihat para pasangan juga para wanita karier yang ikut mengantri masuk ke dalam restauran.

"Kau belum tahu saja sayang, Barbecue Pyongyang sudah membuka cabang dimana-mana dan daging juga ikan-nya selalu produk yang segar dan yang terbaik." Ujar paman Lim.

"Daging!" Kini Sehun yang memekik. "Sayang, aku harus mencoba daging panggang disini." Ujarnya lagi sambil menggenggam jemari Luhan dan dibalas anggukan oleh sang kekasih.

"Tentu! Anda harus mencobanya Sehun-ah." Nyonya Kim pun ikut antusias saat melihat bungsu bermarga Oh itu sumringah menyukai daging.

Tuan Kim pun mempersilahkan mereka turun lalu membawa ke bagian pemotongan pita untuk pembukaan restoran tersebut.

Setelah pembukaan dan kata sambutan dari Luhan selaku pemilik juga sang paman yang di berikan kewenangan untuk memegang saham juga Nyonya Kim yang memberikan sepatah dua patah kata. (#goyang patah-patah khusus untuk Sehun :D )

Acara pemotongan pita pun telah terlaksana sebagai bukti restoran telah resmi di buka. Karena baru dibuka sang pemilik Nyonya Kim juga paman Lim sepakat memberikan discount 50% pada setiap pengunjung pada semua varian menu.

Luhan senang melihat para pengunjung yang antusias ingin merasakan bagaimana nikmatnya rasa daging yang di panggang dengan bumbu lezat yang menambah nikmat rasa dari daging panggang tersebut.

Sehun yang terlihat lapar pun membuat Luhan ingin memesan untuk kekasihnya.

"Kita coba menu ini ya sayang?" Luhan menarik lengan Sehun dan memperlihatkan menu daging panggang yang nampak lezat, sang kekasih pun mengangguk antusias..

Melihat sang kekasih yang terlihat senang, dengan cepat Luhan berbalik tanpa hati-hati dan...

PRANK!!!

Oh..lengan Luhan tak sengaja menyenggol seorang pelayan wanita muda yang membawa beberapa gelas minuman diatas nampan.

"Ya Tuhan..ma-maafkan aku..tidak sengaja.." Luhan berusaha membantu sang pelayan wanita sambil meletakkan beberapa pecahan gelas.

"Tidak apa-apa tuan..oh ya ampun, Tuan..jangan! Biarkan saya yang—" sang pelayan tersebut seketika tercekat saat menatap Luhan, ia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.

"K-kkk-k-kau.. KAU?!!" Seketika yeoja itu memekik sambil menunjuk Luhan dan tangan kirinya cepat menutup bibirnya cepat tak menyangka siapa yang saat ini berada di depannya.

Sehun melihat yeoja tersebut melihat kekasihnya tak berkedip, langsung pasang badan. "Yak!! Siapa kau eoh??!!" Pekik Sehun tak terima Luhan di tunjuk seperti itu oleh seorang pelayan.

"Kau baik-baik saja sayang?" Tanya Sehun pada Luhan setelah memekik pada sang pelayan, lalu ia membawa Luhan duduk di kursi terdekat.

"Ka-kau memanggilnya ssa-sayang??" Sang pelayan melirih dan Sehun dapat mendengarnya walau samar.

"Ne! Dia kekasihku.. Apa mau-mu! Eoh?" Sehun benar-benar kesal pada pelayan dihadapannya. Semua mata melihat kearahnya yang terlihat marah.

Tuan Kim secepatnya melangkah kearah Sehun dan berusaha menegur sang pelayan.

"Kim Ji Won! Ada apa ini?" Tanya tuan Kim, lalu ia menoleh kearah Sehun. "Maafkan pelayan kami Sehun-ah, dia memang tidak sopan." Ujar tuan Kim meminta maaf.lalu menyuruh sang pelayan itu membersihkan semua gelas yang terjatuh.

"Ah..paman, ini bukan kesalahan pelayanmu..aku yang salah." Luhan pun angkat suara dan Sehun memperlihatkan mimik tak suka-nya.

"Tapi pelayan itu tidak sopan padamu sayang, dan aku tak suka."

"Sudahlah Sehun-ah..aku yang salah sayang." Luhan tetap bersikeras dan berusaha merayu Sehun agar ia mau meredakan amarahnya.

"Nanti akan paman tegur dia lagi agar lebih sopan." Ujar tuan Kim pada Sehun dan Luhan.

"Eum..tidak apa paman, mungkin aku yang agak emosi saat melihat ia melihat Luhan seperti itu." Sehun pun akhirnya jadi merasa bersalah karena terlalu cemburu mungkin.

"Tapi, sepertinya pelayan itu kenal denganku paman." Luhan berusaha mengingat lagi kenapa pelayan tadi memekik kearahnya sambil menunjuk wajahnya seakan-akan sangat mengenal wajahnya, tetapi Luhan berusaha mengingat kembali apakah ia mempunyai teman dengan nama— "Oh maaf paman, siapa tadi nama pelayan itu?" Tanya Luhan.

"Namanya Kim Ji Won, ia sebatang kara dan tak punya keluarga katanya. Istriku bertemu dengannya dirumah sakit." Tuan Kim menjelaskan.

"Kau kenal sayang? Atau kau punya teman dengan nama itu?" Tanya Sehun pada Luhan yang sedang memikirkan apakah ia mempunyai teman wanita dengan nama Kim Ji Won.

"Sepertinya tidak ada..ah sudahlah.. Paman, katakan padanya aku meminta maaf karena menyenggolnya tadi."

Sehun pun mengangguk setelah Luhan mengucapkan kata maafnya. "Aku juga paman, katakan padanya karena aku telah memarahinya tadi."

"Baiklah, akan paman sampaikan padanya. Tapi sebelum kalian kembali, paman telah memesan daging panggang saus jamur lada hitam."

"Kedengarannya sangat lezat, pasti aku dan Sehun sangat senang mencicipinya paman." Sehun pun tersenyum tak sabar karena telah menjilat bibir bawahnya mendengar daging panggang yang disiram saus jamur lada hitam kesukaannya. Lalu mereka pun duduk pada tempat yang telah disiapkan untuk mereka berdua setelah tuan Kim melangkah untuk ke bagian dapur utama.

Meninggalkan Sehun dan Luhan yang telah menunggu, tuan Kim pun selesai menyebutkan pesanan pada sang koki utama lalu matanya menangkap seorang pelayan yang masih muda tentu saja yang bernama Ji Won tadi.

Yeoja muda tadi pun melihat Tuan Kim melangkah kearahnya, ia terlihat takut.

"Ji Won-ah.." Panggilnya lembut dan pelayan yeoja itu pun menatapnya dengan rasa bersalah. "Kau tidak apa-apa?" Tanya-nya dan yeoja itu hanya mengangguk.

"Paman minta maaf karena membentakmu tadi. Mungkin kau tahu siapa mereka tapi tadi mereka meminta maaf, apa kau mau memaafkan mereka?"

"Ne, paman..aku memaafkan mereka dan aku sebenarnya juga salah." Jawab Ji Won pada tuan Kim.

"Tapi Ji Won-ah.. Apakah kau mengenal Luhan?" Ji Won menggelengkan kepalanya cepat. "Kau yakin?" Tanya tuan Kim lagi.

"Ne, paman. Aku tidak mengenalnya. Mungkin dia hanya mirip temanku saja.." Tuan Kim pun mengangguk mengerti. "Oh paman, apa aku boleh meminta izin sebentar? Aku janji takkan lama?"

"Menjenguk temanmu lagi?" Ji Won tersenyum manis dan menganggukan kepalanya. "Baiklah, jangan pulang terlalu malam oke? Nanti bibi bisa kuatir."

"Baik paman, aku pergi dan tak akan lama..pay-pay!" Ji Won melepaskan apron hitam-nya lalu melambaikan tangannya pada tuan Kim melewati pintu keluar dapur bagian belakang. Ia berlari cepat dan melambaikan tangannya pada taxi yang lewat lalu dengan sigap menaiki kendaraan tersebut. Ia mengatur nafasnya dan menatap sang supir yang menunggu.

"Pak, rumah sakit Dandong Anorectal."

"Hao." Jawab sang sopir lalu melajukan kendaraannya menuju tempat yang Ji Won katakan tadi.

Yeoja cantik itu meremat genggaman kedua tangannya. Sesekali menggigit bibir bawahnya dan pandangannya tak beraturan.

"Bisa cepat pak?" Ujarnya. Keinginannya hanya ingin cepat sampai ke tujuan.

"Hao!" Lalu sang supir pun berusaha melajukan lebih cepat dan mengambil jalur tol.

Beberapa puluh menit kemudian sampailah taxi itu didepan rumah sakit besar kota Dandong. Ji Won dengan cepat memberikan uang-nya dan mengatakan untuk tidak usah memberi kembalian. Lalu ia keluar dari taxi dan secepat mungkin berlari memasuki loby rumah sakit tersebut.

"Ji Won?" Seseorang memanggil namanya dan ia pun melihat seorang suster dengan tagname Gigi Lai memanggilnya.

"Suster Lai.." Pekik Ji Won, lalu ia melangkah mendekati sang suster.

"Aku pikir kau akan datang sore nanti, karena kemarin kau bilang ada acara siang ini." Ujar sang suster. "Kau baik-baik saja kan?" Tanya sang suster.

"Aku baik suster, aku hanya ingin melihatnya."

"Hao..ayo, aku baru saja memeriksanya beberapa menit yang lalu tapi aku tidak bisa menemanimu karena ada rapat penerimaan dokter ahli dari Beijing besok hari."

Mereka berdua pun melangkah cepat menuju lift untuk naik ke lantai tiga.

"Ji Won-ah, maaf.. Sebenarnya ada apa?"

Ji Won menatap sang suster. "Nanti sampai di kamar, aku akan cerita semuanya suster. Saat ini aku hanya ingin melihatnya."

"Baiklah."

Pintu lift pun terbuka, Ji Won dan suster Lai keluar lalu belok kiri dan membuka pintu pertama yang mereka temui.

Ji Won melangkah pelan kearah ranjang. Diatasnya ada seorang namja yang terbaring lemah tak berdaya. Ia koma.

"Ventilator yang baru sengaja dipasang agar ia dapat mendengar dan getarannya lebih terasa jika nanti ia terbangun. Mudah-mudahan ada keajaiban nantinya. Awalnya dokter Wang akan melubangi bagian lehernya agar memasuki tube kedalam tenggorokan, tetapi harus persetujuan dari mu karena bisa saja membuat pasien tidak nyaman nantinya."

Ji Won hanya diam menatap sang namja yang kini sedang berusaha untuk hidup. "Hahh.." Ia membuang nafasnya seakan-akan beban berat tak bisa lepas dari pundaknya. Sang suster menyentuh pundaknya lalu sedikit meremasnya lembut.

"Ada yang ingin kau katakan Ji Won-ah?" Yeoja cantik itu pun menoleh pada suster yang bertanya padanya.

"Hari ini aku melihat dia datang ke acara peresmian restoran paman dan bibi."

"Apa?! M-maksudmu siapa?" Tanya sang suster seakan tak yakin dengan apa yang Ji Won katakan.

"Luhan.." Ji Won berusaha menelan ludah pada tenggorokannya yang kering. Sambil menunjuk sang pasien yang sedang koma kini.

"..dia.. Tunangannya Oh Yeonseok."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

MUAHAHAHAHAHAHAHAHAAAAAA...

#ketawa dulu yak sebelum A/N...

Tarik nafaaaaaaaassss..buaaaaaang..

*preeeeeeetttt..* upsss ma-af xixixixi...

Oke kita mulai cuap-cuapnya...

PERTAMA : Maafkan aqyu yang telat update karena jujur aja ga sempat akibat dari sang kekasih yang tiba-tiba me..ehehehe..MELAMAR DIRIKU.. UAAAAAAAAAHHHH CENENGNYAAAAAA... (Ucapin selamat duooonkzz..kalo ga nangis nuiiii hikkssss!!!)

KEDUA : Aku hampir kena wabah WB. Ohohoho..tp ga jadi krn author dambaanku baru saja kembali dari istirahatnya yang panjang.. Haseeeekkk..

KETIGA : TERIMA KASIH BGT NI BUAT READER YANG BERNAMA 'rebaem' JUGA 'waterm3lon' KALIAN BENAR-BENAR MENGARAHKAN AKU UNTUK LEBIH MENYAKITI SEHUN TERCINTAAAHAHAHA... Oh aku mencintai kalian berdua, andai aku bisa menikahi kalian berdua. #author lagi sedeng# *abaikan*

Udaaaahhh.. 3 ajaaaaa..

Nah sekarang akan aku balas dend.. Eh maksudnya balas review kalian gitchuuu qiqiqiqi.. *author-jadi-kunti*

-BB137 - ga koq say.. Aq cma masukkan gmn rasa sakit mo lahiran sampe pingsan, kejadian ma tetanggaku wkt itu aq yg nyetir buahahahah...

-elfueki - wuaduh extreeem amiiirrr bayanganmu say.. Jadi tatut nuyy.. :D

-bambi pororo - ni dah lanjut n dont baper..mending laperrr..haseeeekkk..

-hunhan shipper - huaaaaaaa...aku jadi semangaaaaaaaattt!!!!

-alietha doll - buseeeettt dahhhh klo lahiran normal..ya operasi dunk say..wkkkkkk...

-sarah - buat qm, aku lanjutkan..ahhaaaayyyy...

-all guest - udah cepet niii...tapi maceeettt xixixixi... udaaaahhh.. Ni Thor udah ketuk palu khusus untuk yang menunggu dr bln lalu wkwkwkwkwkwk.. waduuuhh telat sampe 4 chap.. Rapopo.. Nii chap lanjutan buat qmyuu.. *

-Luhan204 - buru-buru amat sich.. Sehun menderitanya blon total..jangan end duyu akh..ekekekekek..

-Feyaliaz307 - dede' sayang.. Luhan tu di operasi ekekekek..trus di chap ini Sehun belum aq buat menderita..tapi udah di rasa kan? Hawa-hawa angin neraka untuk Sehun, mungkin chap depan qiqiqiqi.. #mbak-kunti-mode-on# upssss..

-selynLH7 - jangan..cimol itu unyuuu.. Trus gmn di chap ini? Apa udah terasa angin-angin surga untuk Sehun menderita?? Kita lihat nanti di chap depan..

*please-jgn-salahkan-aku-salahkan-mereka-yang-menyebut-nama-yeonkeseleok* :D

-rebaem - Ohh.. Inspirasiku..terima kasih dengan reviw-mu yang memberi aku pencerahan secerah mata rusa Luhan yang berbinar haseeeeekkk.. Jasadnya ketemu koq..kan udh di kremasi..tapi itu yang di kremasi jasad siapa ya??? Uhuhuhuuu..bimiriaaaaa.. *

-Hannie222 - jujur aqyu dulu ga suka Sehun deket-deket my lulu n selalu merasa dia deket ma lulu cma pgn di kenal, abisnya dia cma tampan n bisa dance doank siiiihhh..but DAMN-IT..dia tu cucok bgt ama my lulu setelah bang kai dan sialnya aku makin cinta ama HunHan..dan aku ingin Sehun menderitaaaahhh..owhhh tidaaaaaakkk...*jambak-rambut-sehun*

-hun4han520 - maaf sayang-ku..penderitaan Sehun belum berakhir..YIAHAHAHAHAHAHADUUUUUWWW..SAPA SEH YG LEMPAR BATUUUU????

-VizaOSH94 - owh pleaaaaase..biarkan kaka membuatnya menderita..sudah cukup lulu yang menderita di luar sana..*ff lain kamsud-nya* ekekekek... Ini udah lanjut ya sayang..

-seluhundeer - kenapa semua mencintai Sehun???!!! Apa ga ada yang memikirkan perasaan AK..eh maksudnya LULU???? :D

-waterm3lon - Ohhh, penyongkong hidup ff-quhh.. Terima kasih kau telah memberi ide yang membuatku makin mencintai menulis ff ini sampai selesai..dan kata 'mungkin' akan menjadi 'YA' di chap depan..do'a ken yuaaaaa *

-xiluhan74 - kaisoo emg so sweetu..dede' tenang aja, semua akan bahagia pada akhirnya..haseeeeeeekkk...

-Apink464 - ouw jangan sayang... Sehun belum cukup menderita dan review kalian sesuatu yang sangat menginspirasi hatiqyu ahhaaayyyyy...

Okraaaayyyy!!! Segitu ajaaa.. Thanks banyak-banyak yang baru baca, baru komen, baru fav, baru foll dan baru bangun tidur muehehehehe..untuk sider.. I love u juga karena udah capek-capek membaca, mungkin kalian bosan karena chap ini lumayan panjang buat aqyu hihihihi.. Di bagian bawah ini ada tulisan review.. Mohon di repiuh atuh ahh jika berkenan.. Dan sampai jumpa next chappyyyy mmmuaaaaachhhhh...