Author POV
Sepertinya harapan Park Chanyeol kembali terkabul. Ya, Baekhyun mengalami masa ke hamilan walau sosoknya adalah seorang namja. Dan tentu saja namja mungil itu sangat terkejut dengan semua yang terjadi padanya. Ia berpikir walaupun berkali-kali melakukan hal intim dengan Chanyeol, itu tidak akan membuatnya hamil karena faktanya dia adalah namja.
Namun karena Baekhyun sadar jika dirinya berada di dunia komik, mau tak mau dia harus mengikuti alur yang telah di buat Kyungsoo.
'Kenapa aku harus di buat hamil?!'
'Terkutuk kau Do Kyungsoo!'
'Bagaimana bisa aku melahirkan nanti?'
Kira-kira seperti itulah umpatan seorang Byun Baekhyun.
Semenjak dirinya diketahui hamil, Chanyeol memintanya untuk tinggal bersama. Tak hanya itu, Sehun pun mengetahui tentang hal ini.
Grrr~
Suara perut Baekhyun berbunyi tepat tengah malam. Tubuhnya terus berbalik arah mencoba untuk menenangkan perutnya yang lapar.
Chanyeol pun terbangun karena merasa Baekhyun tertidur sangat gelisah.
"Gwaenchana?"
"Kau terbangun karenaku? Mian..."
"Kau lapar?"
Dengan bibir mengerucut dan kepala mengangguk membuat Baekhyun terlihat sangat menggemaskan.
"Kau tidak bisa menahan lapar Baek. Ingatlah kau sedang hamil!" Kekeh Chanyeol mengusap puncak kepala Baekhyun dengan sayang.
Chanyeol beranjak dari tidurnya lalu mengangkat tubuh mungil Baekhyun dan membawanya menuju dapur. Kedua tangan Baekhyun menggantung manis pada leher jenjang milik Chanyeol.
"Mian, aku menyusahkanmu!"
Chup~
Sebuah kecupan kilat berhasil Chanyeol berikan tepat di belahan bibir Baekhyun.
"Aku tidak merasa terbebani Baek! Jangan pikirkan hal itu."
Baekhyun tersenyum manis dengan sikap manis Chanyeol pada dirinya.
Tiba di dapur, Baekhyun hanya bisa duduk terdiam memandang Chanyeol yang sedang membuatkannya sebuah pancake.
Tak butuh waktu lama Chanyeol selesai membuat pancake selai stoberi untuk Baekhyun.
"Habiskanlah~!" Chanyeol duduk di sebrang Baekhyun yang mulai menyantap pancake tersebut.
"Gomawo~"
Saat ini masa kehamilan Baekhyun memasuki 8 minggu. Bentuk perutnya belum begitu nampak membesar.
"Baek..."
"Tidakkah ada yang ingin kau minta dariku?"
Baekhyun selesai menghabiskan makanannya, ia segera meminum susu hamil hingga habis.
"Apa yang harus ku pinta padamu? Kau sudah memberiku segalanya Yeol."
Chanyeol beranjak dari kursinya lalu mendekati Baekhyun. Dan tiba-tiba namja tinggi itu mengangkat tubuh Baekhyun ke atas meja makan. Keduanya saling menatap diam untuk beberapa detik.
"Ada satu yang kau belum kau pinta dariku. Sesuatu yang ku harap kau memintanya. Karena aku pun sangat menginginkan itu."
Kedua mata sipit milik Baekhyun berkedip lucu karena bingung dengan ucapan Chanyeol.
"Apa yang kau harapkan lagi? Aku bahkan sudah hamil seperti ini karena harapanmu."
"Apakah semua harapanku akan terus terkabul? Ini adalah harapan terakhirku."
"..." Chanyeol meraih kedua telapak tangan Baekhyun untuk digenggamnya dengan hangat.
"Menikahlah denganku Baek!"
"Ye?"
"Satu langkah lagi hidupku akan sempurna jika aku dapat menikah denganmu."
"Karena tujuanku padamu hanya itu! Aku ingin segera menikahimu."
"Kau sudah hamil dan terdapat calon anak kita di dalam sini." Chanyeol mengusap sayang perut Baekhyun.
"K-kau yakin Yeol?"
"Sejak awal aku tidak pernah ragu untukmu Baek. Dan ku mohon jangan lagi ragu denganku." Sebuah kecupan mendarat pada punggung telapak tangan Baekhyun.
"Tapi Yeol..."
Sungguh ini adalah impian Baekhyun. Namun ada perasaan sakit dan menyedihkan yang Baekhyun rasakan. Kalau saja ini bukan dunia komik, Baekhyun akan sangat bahagia dengan nasibnya.
Air mata Baekhyun terjatuh begitu saja pada kedua pipinya. Ia tidak tau arti dari air mata ini. Ingin sekali ia mengatakan jika air mata ini adalah air mata kebahagiaan, namun kenyataannya air mata ini adalah bentuk dari perasaan sedihnya.
"Aku sangat mencintaimu Yeol! Sungguh beruntung aku bisa memiliki seseorang sepertimu."
"Kau tau? Yang ku rasakan saat ini adalah rasa takut. Aku merasakan akhir dari nasibku sudah datang."
"Dengan permintaanmu itu, aku seperti belum siap untuk mengakhiri semua ini."
Kali ini Chanyeol yang bingung dengan ucapan Baekhyun. Bahkan ia tak tau arah pembicaraannya.
Dengan kasar, Baekhyun menghapus air matanya lalu mencoba untuk kembali tersenyum.
"Mari menikah!"
Sebuah senyuman lebar terlukis pada bibir Chanyeol ketika mendapati ucapan terakhir Baekhyun.
"Secepatnya akan ku bawa kau ke altar Baek!"
Baekhyun membungkukkan tubuhnya untuk memeluk tubuh kekar Chanyeol. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu lebar tersebut.
'Bagaimanapun aku harus siap dengan akhir dari cerita ini. Aku harus siap kehilangan Park Chanyeol. Aku harus siap kehilangan segalanya yang ada disini. Dan aku harus siap untuk kenyataan ini. Chanyeol hanyalah cinta semu untukku.' Batin Baekhyun mencoba untuk tidak menangis kembali.
Byun Baekhyun POV
Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Park Chanyeol. Tidak begitu banyak tamu undangan. Hanya beberapa orang dekat yang menyaksikan.
Acara yang menurutku singkat telah kami lalui dengan lancar. Kini aku Byun Baekhyun resmi menjadi pasangan hidup Park Chanyeol.
"Sekarang kau adalah istriku Baek!" Bisik Chanyeol saat aku ingin membuka tuxedo hitam yang ku kenakan. Ya, kami sudah di rumah kembali.
"Aku bukan wanita Yeol!"
"Kau cantik lebih dari sosok wanita. Bagaimana bisa kau memiliki wajah sempurna seperti ini?"
Blush~
Walau aku sudah terbiasa dengan ucapan manisnya, namun tetap saja aku masih merasa terbuai.
Tiba-tiba saja tangannya menghentikan tanganku yang sibuk membuka kancing kemeja.
Deg~
Ia menarik ku hingga tubuh kami menabrak satu sama lain.
"Mau bermain sedikit denganku? Bukankah ini masih bisa dikatakan malam pertama?" Bisiknya membuatku cukup merinding.
"T-tapi aku sedang hamil Yeol!"
"Aku janji tidak sampai klimaks."
Perlahan Chanyeol mengangkat daguku dengan tatapan teduhnya. Nafas hangatnya menerpa wajahku.
Dan semua pakaian kami terlempar begitu saja. Suara decitan ranjang menjadi saksi terjadinya aktivitas malam pertama kami.
Untuk kali ini Chanyeol memakai pengaman. Entah sejak kapan dia menyiapkan itu tanpa sepengetahuanku.
"Nghhh Yeol~"
"Yahh disana hhh~"
Tanpa henti lenguhan keluar dari bibirku beriringan dengan peluh di wajahku. Chanyeol terus menggoyangkan pinggulnya dan semakin memasukan lebih dalam yang ada di bawah sana.
Namun tak butuh waktu panjang, Chanyeol benar menepati janjinya. Ia menghentikan permainannya sebelum dirinya lepas kendali.
Dengan menarik selimut, Chanyeol berbaring di sampingku. Tubuh kami sudah tertutup selimut tebal ini.
"I love you Baek!" Bisiknya mendekapku dan mengecup keningku.
"Aku mencintaimu Yeol! Walaupun jika semua ini hanya terlihat mimpi. Ini adalah mimpi yang indah."
"Gomawo untuk semuanya Baek. Manhi saranghae..."
Aku menenggelamkan wajahku pada dada bidangnya. Kedua mataku terpejam hingga semuanya menjadi gelap.
Sangat gelap.
Dan...
Hampa.
Aku mencoba membuka kembali kedua mataku yang entah kenapa sangat berat.
Pandanganku hanya bisa menangkap cahaya putih hingga beberapa detik kemudian bayangan Kyungsoo semakin jelas ku lihat.
"Baek..." Suara Kyungsoo dapat ku dengar.
Aku terdiam memandang atap langit yang putih. Dan dapat ku dengar suara alat dektektor jantung seperti di rumah sakit.
'Tunggu, rumah sakit?'
Dengan kesadaranku yang sudah stabil, ku perhatikan seisi ruangan yang terlihat seperti di ruang rawat rumah sakit. Dan terdapat Kyungsoo juga Kai di hadapanku.
"Kau sudah sadar Baek? Oh my! Syukurlah..." Seru Kyungsoo mendekap telapak tanganku.
"Apa yang terjadi? Ini di rumah sakit?"
"Kai-ya, tolong panggilkan dokter untuk memeriksa Baekhyun kembali."
Tanpa penolakan, Kai segera keluar dari ruangan ini setelah perintah dari Kyungsoo.
"Kau tau? Ku pikir kau mati suri Baek! Aisshh...kau sangat mengkhawatirkanku."
"M-mwo?"
"Saat itu aku melihatmu tidur di kamarku. Lebih tepatnya tertidur di meja belajarku dan dengan laptopku yang menyala."
"Namun kau sulit dibangunkan. Dan saat ku periksa, nafasmu kecil dan jantungmu sangat lambat berdetak."
"Kau benar-benar membuatku panik saat itu. Hingga aku segera membawamu ke rumah sakit."
Aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini. Hingga beberapa menit kemudian Kai kembali dengan seorang dokter.
"Kau sudah sadar tuan Byun Baekhyun?"
Kedua mataku membulat sempurna ketika mendapati sosok dokter di hadapanku.
"Kau mengalami koma cukup lama karena kondisi tubuhmu sangat menurun. Itu semua akibat kau terlalu lelah dan stress."
"..." Aku masih terdiam menatap dokter ini.
Oh Sehun?!
"Sekarang aku tau kenapa kau mengambil cuti kerja Baek! Kau sangat lelah dan stress bukan? Maafkan aku yang menyebalkan ini." Ucap Kyungsoo.
Celotehan Kyungsoo ku abaikan karena aku terlalu fokus pada sosok dokter ini.
"Sekarang akan ku periksa kondisi dirimu kembali." Dokter ini memeriksa beberapa bagian tubuhku dengan stetoskopnya.
'Apakah semuanya hanya mimpi? Selama ini aku tidak benar-benar masuk ke dunia komik? Lalu kenapa sosok Sehun ada di dunia nyata?'
'Dan bagaimana dengan Chanyeol? Apakah dia ada di dunia nyata ini?'
"Gurae, kondisimu sudah membaik. Istirahatlah yang cukup. Aku permisi..."
Dokter itu kembali pergi dengan tersenyum. Dan senyuman itu pun khas dari Sehun.
"Kyung, kau membuat komik tentang diriku bukan?"
"Aku tau kau pasti sudah membacanya! Kau tidak ingin protes untuk ini bukan?"
"Sepertinya aku terlalu asik membaca komikmu hingga aku bermimpi dan merasa nyata."
"Oh Sehun! Di mimpiku sosok itu seperti dokter tadi."
"Itu karena aku mengenal dokter itu sebelumnya. Namun hanya nama saja ku ganti." Kekeh Kyungsoo.
"Lalu bagaimana dengan Park Chanyeol?"
"Untuk peran itu, aku hanya berkhayal saja. Karena Kai menyarankanku sosok namja yang berlawanan dengan ciri-cirimu."
'Sepertinya memang bagaimanapun komik hanyalah sebuah imajinasi semata. Sosok itu tidak akan bisa ku temukan di dunia nyata ini.'
"Terima kasih untuk menciptakan sosok Park Chanyeol dalam komikmu Kyung. Aku menyukainya."
"Ye?"
Aku hanya tersenyum melihat wajah Kyungsoo yang bingung dengan ucapanku.
_End_
sepertinya pada ga bisa nebak endingnya akan seperti ini wkwk
akhirnya bisa selesaikan ini sampai ending :')
gomawo untuk readers~
