Last chapter preview
"Baek, tinggalah bersamaku malam ini.." ucap Chanyeol setelah ia melepas tautan bibirnya. Manik matanya menatap dalam manik mata Baekhyun menunggu jawaban dari kekasihnya itu. Sebuah anggukan dari Baekhyun menandakan persetujuan dari lelaki mungil itu.
Chanyeol kemudian menggandeng tangan Baekhyun, mengaitkan jemarinya dengan jemari lentik Baekhyun. Mereka berjalan beriringan menuju hotel di mana Chanyeol menginap. Selama keduanya berjalan, tidak ada kata yang terucap, hanya gerakan dari kedua tangan mereka yang saling meremas menyampaikan berjuta perasaan yang tak tersampaikan.
.
.
Fate XIX
.
.
Di dalam ruangan sempit berdinding baja, tak ada suara apapun yang terdengar kecuali suara tetesan air yang mengenai lantai ruangan. Tetesan air itu berasal dari pakaian yang dikenakan oleh dua orang lelaki berbeda postur tubuh. Keduanya saling diam, hanya remasan – remasan pada jalinan tangan mereka yang menjadi bentuk komunikasi non verbal meneriakan kata – kata yang hanya diketahui oleh keduanya.
Ting!
Bunyi yang telah ditunggu - tunggu akhirnya berdenting, diikuti dengan terbukanya salah satu dinding baja yang menjadi jalan masuk dan keluar dari ruangan bergerak itu. Tak mau membuang waktu lebih lama, lelaki yang lebih tinggi lebih dulu melangkah keluar diikuti oleh lelaki yang lebih pendek tanpa melepaskan jalinan pada kedua tangan mereka. Baekhyun sedikit kewalahan mengikuti tempo dari langkah kaki Chanyeol saat menyusuri lorong untuk mencari pintu yang memiliki nomor yang sama dengan nomor yang tertera pada kartu yang tengah lelaki jangkung itu pegang. Baekhyun hanya diam, karena sejujurnya Ia juga sudah tidak sabar untuk segera menemukan pintu itu. Setelah menemukan pintu yang dicari, Chanyeol segera menempelkan kartu itu pada sensor yang terdapat di samping gagang pintu. Lampu hijau menyala menandakan bahwa kunci ruangan tersebut telah terbuka.
Dhump!
Suara pintu tertutup sedikit keras terdengar akibat hantaman dari tubuh Baekhyun yang menabrak pintu. Lelaki mungil itu tengah dihimpit oleh lelaki yang lebih jangkung tepat di belakang pintu. Kedua bibir mereka saling melumat, meraup bongkah kenyal masing – masing untuk menyalurkan dorongan yang berasal dari dalam tubuh mereka. Kedua telapak tangan Chanyeol tengah memegang rahang Baekhyun, sedikit mendongakanya agar Ia lebih leluasa menggiati bibir tipis yang terasa manis itu. Sedangkan Baekhyun sudah mengalung kedua lenganya di leher jenjang Chanyeol, berpegangan kuat di sana agar tubuhnya tidak terjatuh karena lututnya yang kehilangan daya.
"jika kau ingin berhenti, katakan sekarang.." ucap Chanyeol tepat di depan bibir Baekhyun. Ia menatap lekat manik mata Baekhyun, menunggu jawaban dari lelaki mungil berwajah bak kepiting rebus.
"tidak...aku tidak ingin berhenti." Jawab Baekhyun sebelum Ia meraup bibir plum lelaki jangkung di hadapanya lagi. Ciuman itu semakin panas dan basah, keduanya sudah terbakar oleh gejolak yang berasal dari dalam dada masing – masing.
Dengan satu kali hentakan, Chanyeol dengan mudah membawa tubuh Baekhyun ke dalam gendonganya. Baekhyun refleks mengalungkan kedua kakinya ke pinggang Chanyeol karena tidak mau terjatuh dari tubuh jangkung itu. Tanpa melepas tautan kedua bibir mereka, Chanyeol berjalan membawa Baekhyun menuju tempat tidur yang sedari tadi sudah memanggil – manggil nama kedua lelaki yang sedang bercumbu itu. Sebelum bergelung di atas tempat tidur, keduanya saling menanggalkan kain basah yang sedari tadi membalut tubuh mereka ke atas lantai begitu saja.
"Kau sangat cantik Baek..." bisik Chanyeol dengan suara basnya saat Ia perlahan merebahkan tubuh polos Baekhyun ke atas tempat tidur.
Tak ada perlawanan dari lelaki mungil itu karena Ia tahu, jantungnya hanya berdebar untuk lelaki yang sedang berada di hadapanya itu. Ia dengan ikhlas menerima setiap sentuhan dan perlakuan lembut dari lelaki yang sudah menggenggam hatinya itu. Sesekali Ia turut mengekspresikan perasaanya yang tidak cukup hanya diungkapkan dengan rangkaian kata.
Keduanya saling berbagi hangatnya buah kasih hingga sang dewi malam mulai kembali ke peraduanya. Mereka tutup malam terkenang itu dengan senyuman yang terplester di wajah masing – masing saat perlahan memasuki alam mimpi dengan raga yang saling mendekap di balik hangatnya selimut.
Pagi itu matahari bersinar lebih cerah, cahaya keemasanya menyeruak menghapus kegelapan malam yang menyelimuti bumi. Begitupun dengan seorang lelaki barwajah manis yang perlahan membuka kedua kelopak matanya, menampakan manik jernihnya yang berwarna seperti lautan. Baekhyun, perlahan menggapai kesadaranya, seulas senyum manis perlahan terbentuk kala netranya malihat sebuah telapak tangan maskulin yang baru saja semalam menjamahi tubuhnya tengah menggenggam telapak tangan miliknya, ingatanya memutar kembali memori indah yang baru saja tadi malam Ia lalui.
Pemilik telapak tangan maskulin itu tepat berada di belakang Baekhyun, masih terlelap sambil mendekap tubuh mungil lelaki berparas manis itu. Sejujurnya Baekhyun merasa bersalah karena menjadikan lengan kekasih raksasanya itu sebagai bantalan kepalanya, tetapi Ia belum mau beranjak dari posisinya karena nyaman yang Ia rasakan.
Namun tiba – tiba keningnya berkerut saat Ia melihat sebuah benda melingkar di jari tengahnya. Penasaran, ia segera menarik telapak tanganya mendekat untuk melihat benda itu lebih jelas. Itu adalah sebuah cincin dengan permata emerald yang mengelilinginya. Manik matanya berbinar mengagumi keindahan benda berwarna silver itu.
"Kau menyukainya?"
Tiba - tiba sebuah suara parau terdengar tepat di belakang telinga lelaki yang masih mengagumi cincin yang meingkar di jarinya itu. Baekhyun segera membalikan tubuhnya untuk berhadapan dengan pemilik suara bas tadi.
"I-ni -untuku?" tanya Baekhyun terbata dengan mata berbinar bak anak anjing yang akan mendapatkan biskuitnya.
Chanyeol sempat menahan senyumnya ketika melihat wajah menggemaskan Baekhyun.
"hum" jawab Chanyeol kemudian, sambil menunjukan jarinya yang juga tengah mengenakan cincin yang sama. Baekhyun semakin tersenyum lebar dengan manik mata yang membola. Melihat ekspresi terkejut di wajah kekasihnya, Chanyeol maraih salah satu tangan Baekhyun untuk dikecupnya lama penuh perasaan.
"dengan cincin ini aku ingin menyatakan padamu bahwa perasaan yang kumiliki ini sangat tulus, sayang. Aku berharap cincin ini menjadi simbol yang mewakili hubungan kita, infinity ring mewakili rasa kasihku padamu yang tak terbatas." Jelas Chanyeol sambil menatap manik mata Baekhyun dalam "dan aku sengaja memilih permata emerald ini karena itu mengingatkanku pada manik mata indahmu." Tambah Chanyeol sambil mengelus pipi Baekhyun sayang.
"terimakasih sayang.. Aku sangat menghargainya." Jawab Baekhyun dengan mata berkaca – kaca sambil balas mengusap rahang maskulin kekasihnya. Chanyeol refleks mendekatkan wajahnya pada Baekhyun untuk mengecup kening kekasih mungilnya itu lama.
"Aku harap, apapun yang akan terjadi esok, kau akan terus bertahan disisiku Baekhyun."
"tentu Chanyeol." Jawab Baekhyun penuh keyakinan. Chanyeol sempat menatap manik mata Baekhyun serius sebelum berucap,
"Walaupun itu terasa sangat berat?" tanya Chanyeol lagi
"hum." Baekhyun balas menatap Chanyeol serius. Mendengar jawaban penuh keyakinan itu, Chanyeol tersenyum lega.
Bukanya Ia tidak percaya pada Baekhyun, tetapi jujur dirinya sendiri tidak tahu cobaan macam apa yang akan mereka hadapi kedepan nanti. Sejak mendengar cerita dari Pamanya tentang sejarah para leluhurnya, ada sedikit ketakutan dalam dirinya jika Ia tidak akan mampu menyelesaikan kutukan ini.
"Byun Baekhyun, bahkan jika semua orang menentang kita berdua, maukah kau pergi meninggalkan dunia ini bersamaku?"
Baekhyun menatap kedua manik mata Chanyeol bergantian, menemukan sebuah ketakutan yang sedikit terpancar di sana. "Hanya kau yang kumiliki di dunia ini Park Chanyeol." jawab Baekhyun dengan tatapan penuh kasih, sambil meremas telapak tangan Chanyeol, berusaha meyakinkan kekasih jangkungnya itu.
"Terimakasih.." jawab Chanyeol sambil mengecup pelipis Baekyun dalam.
Tak sengaja Baekhyun menangkap tanda kutukan yang berada di dada Chanyeol saat lelaki jangkung itu melepas ciumanya.
"Sudah berapa kesialan yang kita lalui Chan? Tanya Baekhyun sambil menyentuh tanda kemerahan itu dengan jari telunjuknya.
"jika melihat jumlah kelopak yang kita miliki artinya sudah tujuh kali kesialan yang sudah berhasil kita lalui. Milikmu tersisa tiga, dan miliku tersisa dua." Jelas Chanyeol
"Benar kata Paman, semakin sedikit kelopak yang tersisa, kesialan yang kita alami menjadi semakin berat. Bahkan waktu kejadianya sudah tidak bisa diprediksi lagi." Ucap Baekhyun sambil menghembuskan nafas beratnya.
"Kau tenang saja, Aku akan selalu menjagamu. Oleh karena itu selalu-lah berada di dekatku." Pinta Canyeol. Baekhyun hanya mengagguk – angguk lucu menjawab permintaan kekasih jangkungnya itu.
"kau tidak ada agenda dengan anggota clubmu, pagi ini?" tanya Chanyeol sambil memainkan surai halus kekasihnya.
"hum, hanya menghabiskan seharian di pantai dengan bermain bola." Jawab Baekhyun
"Kalau begitu ayo bersiap, pasti teman – temanmu sudah khawatir padamu." Ucap Chanyeol sambil menyibakan rambut yang menutup kening Baekhyun.
"hum.. kau mandilah dulu, aku setelahmu." Jawab Baekhyun dengan wajah merona
"eeii.. kenapa malu hum?" tanya Chanyeol menggoda Baekhyun yang tengah mengalihkan pandangan dari mata Chanyeol
"A-aku tidak mengenakan apapun Yeol.." Jawab Baekhyun masih belum mau menatap manik mata Chanyeol.
"ahahaha... sayang, kenapa harus malu?" Chanyeol terbahak " aku sudah melihat semunya semalam." Bisik Chanyeol tepat di depan wajah Baekhyun dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya. Baekhyun reflek meninju dada Chanyeol lembut, mendorong tubuh lelaki jangkung itu agar tidak terlalu dekat karena khawatir Ia akan mendengar detak jantungnya yang tidak biasa.
"ooh jadi kau ingin aku pergi? Baiklah!" ucap Chanyeol kemudian bangkit dari atas kasur hanya dengan mengenakan boxer. Ia berjalan ke arah kemar mandi, kemudian menyalakan air untuk mengisi bath-tubnya.
Sedangkan Baekhyun masih betah berbaring di atas kasur, Ia menurunkan selimutnya untuk melihat kenampakan tubuhnya sendiri. Wajahnya kembali merona saat dilihatnya bercak kemerahan yang tersebar di tubuhnya, sebenarnya hal inilah yang membuatnya malu untuk menampakan tubuh polosnya. Saat Ia tengah tenggelam dalam pikiranya sendiri, Ia tidak menyadari kehadiran lelaki jangkung yang diam – diam melangkah menghampirinya. Dan hanya dalam hitungan detik tubuh mungil Baekhyun sudah terangkat di udara, Chanyeol mengangkatnya untuk membopongnya menuju kamar mandi. Ia berjalan cepat dengan Baekhyun yang meronta dalam gendonganya. Chanyeol hanya terbahak menanggapi omelan lelaki mugilnya itu.
.
"Kau tidak kembali ke Seoul?" tanya Baekhyun pada kekasih jangkungnya yang tengah merangkul pundaknya saat keduanya sedang berjalan menuju pantai untuk berkumpul bersama anggota club paduan suara yang lain.
"hum, jika tidak ada hambatan aku kembali sore ini." Jawab Chanyeol sambil menaikan kerah kaos putih kebesaran yang Baekhyun kenakan untuk menutupi bercak kemerahan. Ya, Baekhyun memang tengah mengenakan kaos milik Chanyeol saat ini, itu karena pakaian yang semalam ia kenakan masih basah karena air hujan.
" ish, ini semua karena perbuatanmu semalam!" gerutu Baekhyun, ikut merapihkan kaos yang ia kenakan.
"Kau juga meninggalkanya! Ini!" gerutu Chanyeol tak mau kalah sambil menunjukan bercak merah yang terdapat di bahunya.
"Ta-tapi tidak sebanyak dirimu!" Baekhyun masih belum mau mengalah, bahkan Ia sedikit meninggikan suaranya, mengomel dengan wajah merona.
"sst! Diam atau kucium kau sekarang untuk dilihat oleh semua orang." Ancam Chanyeol
"Yak!" pekik Baekhyun sambil mendorong tubuh Chanyeol saat Ia berbisik tepat di depan telinganya.
"HAHAHAH!" Chanyeol hanya terbahak. Ia sangat suka menggoda kekasihnya itu karena tingkahnya yang sangat menggemaskan.
Saat keduanya asyik bercengkrama sambil berjalan menuju pantai, sebuah panggilan mengambil atensi mereka. Rupanya itu adalah Yuan yang terlihat cantik dengan pakain santainya. Ia melambai pada Chanyeol dan Baekhyun sambil membawa sebuah kelapa muda di tanganya.
Keduanya sempat bertatapan sebelum mebalas lambain dari wanita itu. Dari pandangan itu sepertinya Chanyeol tengah menanyakan persetujuan dari Baekhyun, dan Baekhyun tentu saja tidak memiliki hak untuk membatasi pergaulan kekasihnya itu, toh kemarin Chanyeol sudah menjelaskan bahwa mereka berdua tidak memiliki hubungan apapun.
"kalian mau air kelapa?" tawar Yuan saat kedua lelaki itu telah sampai di hadapanya.
"Kau mau Baek?" tanya Chanyeol pada Baekhyun
"Boleh." jawab Bakehyun sambil menganggukan kepalanya
"Biar aku saja yang mengambilnya." Ucap Chanyeol cepat sebelum Yuan melangkah untuk mengambilkan air kelapa untuk mereka.
Kini Baekhyun dan Yuan sedang duduk di sebuah kursi panjang yang memang terdapat di pinggir pantai. Pengelola sengaja meletakanya berjajar di sepanjang pantai agar dapat digunakan oleh para pengunjung.
"Kau berteman dengan Chanyeol? Kalian terlihat sangat akrab" tanya Yuan membuka topik pembicaraan mereka pagi itu. Baekhyun sempat terdiam sebelum menjawab pertanyaan dari wanita berambut pendek itu.
"Hum. Kami sudah berteman sejak enam bulan yang lalu." Jawab Baekhyun dengan senyum ramahnya. Entahlah, Baekhyun hanya ingin bersikap senormal mungkin saat ini, walaupun sebuah perasaan aneh tengah menyelimuti dadanya.
"Waaah.. kebetulan sekali!" pekik wanita itu dengan manik mata berbinar. Baekhyun sempat bingung melihat reaksi yang ditunjukan oleh Yuan.
"eemm.. bagaimana sifatnya? Apakah dia baik?" tanya Yuan penasaran
"hum. Dia sangat baik." Jawab Baekhyun mantap
"lalu, apakah dia sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Yuan lagi
"eerrr... a-aku tidak tahu kalau masalah itu" jawab Baekhyun canggung "Kenapa kau tiba – tiba menanyakan hal tentangnya?" akhirnya Baekhyun melontarkan pertanyaan yang sedari tadi berputar di kepalanya.
"emm.. tapi tolong jaga rahasi ini ya, sebenarnya Chanyeol adalah cinta pertamaku. Aku sudah menyukainya sejak di bangku SMA. Kebetulan Ayahku dan Ayah Chanyeol bersahabat jadi mereka memasukan kami di sekolah yang sama." Yuan memulai bercerita tentang kisah pribadinya "Tapi sepertinya Chanyeol tidak mengetahuinya, karena dia anak yang sangat dingin dulu. Mungkin karena dia penerus utama keluarga kerajaan, jadi dia hanya fokus pada studinya. Kalau kuingat – ingat, saat itu dia hanya memilki satu teman, yaitu Oh Sehun."
Baekhyun hanya diam mendengarkan cerita dari wanita yang tengah duduk di sampingnya itu. Ada sedikit rasa sakit di dadanya saat Ia baru saja mengetahui cerita masa kecil Chanyeol. Dan sakitnya itu karena Ia mengetahuinya dari mulut wanita yang menaruh hati pada kekasihnya. Tapi Baekhyun tetap berusaha memasang wajah sedatar mungkin, seramah mungkin agar Yuan tidak menyadari perasaanya.
"lalu kenapa kau menyukai lelaki sedingin itu?" tanya Baekhyun penasaran
"itu karena pernah satu kali aku melihatnya tertawa lepas, dan saat itu aku berfikir jika aku bisa membuatnya selalu tersenyum seperti itu pasti rasanya sangat bahagia." Jawab Yuan dengan kilatan mata penuh ketulusan.
Mendengar penuturan itu, tiba- tiba saja hatinya terasa semakin sakit. Refleks Ia menggosok dadanya sendiri untuk meredam rasa sakit tak kasat mata itu. Hampir saja air matanya terjatuh jika saja Chanyeol tidak menyela di antara mereka. Chanyeol mengambil duduk di antara Baekhyun dan Yuan, sehingga kini Ia berada di tengah.
"Maaf.. aku lama" ucap Chanyeol sambil menyerahkan salah satu buah kelapa yang dibawanya kepada Baekhyun. Chanyeol sempat bingung melihat ekspresi wajah Baekhyun yang terlihat seperti menahan emosi, tetapi belum sempat Ia menanyakan keadaanya, Yuan sudah terlebih dahulu menyelanya.
"Um.., Chanyeol aku ingin menunjukan ini padamu." Ucap Yuan sambil mengeluarkan handphonya dari dalam rok pantainya.
"Apa ini yang kau maksud dengan seaglass?" tanya Chanyeol sambil memperhatikan deretan foto yang tengah ditunjukan oleh Yuan di handphonya
"Hum. Kau benar, ini yang namanya seaglass. Dan tadi aku sempat berjalan di pinggir pantai, dan kau tahu aku menemukan beberapa!" ucap Yuan girang sambil menunjukan tiga buah seaglass berukuran kecil yang berwarna frosted blue.
"Wow, aku tidak tahu kalau seaglass secantik ini!" pekik Chanyeol saat melihat tiga benda mungil di telapak tangan Yuan.
"mereka akan semakin cantik ketika diubah menjadi sebuah cenderamata atau perhiasan. Oleh karena itu, Aku sering menyebutnya dengan sea treasure!" ucap Yuan dengan senyum lebarnya
"ahahaha! Seperti harta karun bajak laut?!" Chanyeol tertawa menanggapi ucapan wanita itu
Chanyeol rupanya tidak menyadari bahwa saat ini ada seseorang yang telah tersakiti hatinya karena sejak tadi Ia hanya memunggungi lelaki mungil yang duduk di sampingnya itu. Karena semakin berat menahan emosinya Baekhyun akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
"Baek? Kau mau kemana?" tanya Chanyeol sambil menarik telapak tangan Baekhyun saat ia tiba – tiba berdiri.
"a-aku, ingin bermain bola bersama Kyungsoo" ucap Baekhyun terbata sambil menampakan senyum palsunya.
"aah... baiklah. Aku akan menyusulmu." Ucap Chanyeol sambil melepas genggamanya pada jemari Baekhyun. Tidak menunggu babibu, Baekhyun segera melenggang menuju tengah pantai untuk bergabung bersama Kyungsoo yang tengah bermain voli di sana.
Hatinya terasa sesak dan tenggorokanya terasa kering. Belum pernah Ia merasakan perasaan yang sangat menyakitkan seperti ini. Rasanya ingin sekali Ia berteriak jika Chanyeol adalah kekasihnya. Namun tentu saja itu tidak bisa Ia lakukan. Sebuah cincin yang melingkar di jari tengahnyalah yang rupanya mampu meredam emosinya.
"Kau harus kuat Baekhyun!" gumamnya sambil menghembuskan nafas berat. Ia yakin Chanyeol tidak berbohong dengan ucapanya tadi pagi. Baekhyun kembali mengembangkan senyumnya sambil berlari kecil menghampiri segerombolan orang yang tengah bermain voli untuk ikut bergabung.
Chanyeol kembali melanjutkan obrolanya dengan Yuan, tetapi rupanya fokusnya telah terbagi dua pada Baekhyun yang sedang bermain voli. Ia sesekali memandang ke tengah pantai saat sedang berdiskusi tentang bisnis yang diajukan Yuan padanya.
Baekhyun pikir dengan bermain bola, akan sedikit mengurangi rasa sakit di dadanya. Tapi ternyata Ia salah, karena sejak tadi dari kejauhan netranya terus saja mengamati Chanyeol yang terlihat begitu serius menanggapi ucapan Yuan. Karena hanya membuat kesalahan saat bermain, Baekhyun akhirnya memutuskan hanya duduk dan menonton dari pinggir lapangan. Dan tentu saja, manik matanya bukanya melihat jalanya permainan tapi justru mengamati dua orang lelaki dan perempuan yang sekarang terlihat sedang tertawa lepas.
"Aku ingin membuatnya selalu tersenyum" kata – kata Yuan tadi tiba – tiba saja berputar di kepalanya dan hal itu rupanya berhasil menjebol tembok pertahanan di dadanya. Emosinya meluap, membuat sekujur tubuhnya panas seakan tengah terbakar api. Ia berdiri dengan kasar, lalu berjalan menuju tepi pantai. Ia pikir dengan berenag mungkin akan mengurangi rasa panas yang tengah dirasakanya.
Namun rupanya Baekhyun tidak menyadari keberadaan papan peringatan yang tertancap tak jauh dari posisinya. Papan itu bertuliskan,
"Peringatan! Dilarang berenang karena arus bawah laut yang besar"
Baekhyun perlahan berjalan ke tengah laut, kini tubuhnya sudah setengah berada di dalam air. Ia hempaskan tubuhnya, perlahan mulai berenang semakin menuju ke tengah laut. Ia semakin mengerahkan tenaganya untuk mengayunkan lengan dan kakinya, berharap emosinya akan hilang bersamaan dengan setiap hantaman yang ia lakukan di dalam air. Namun sesuai dengan peringantan yang sudah tertulis, tiba – tiba sebuah ombak besar terlihat datang menghampirinya. Baekhyun sempat membolakan kedua matanya saat melihat ombak itu. Ia berusaha membalikan tubuhnya untuk berenang ke arah pantai, tetapi Ia kalah cepat dengan ombak yang dalam sekejap telah menggulung tubuhnya. Tubuhnya berputar di dalam air ikut terbawa putaran arus yang disebabkan oleh ombak besar tadi. Ia berusaha menggapai permukaan air, tetapi tubuhnya terasa tertarik semakin dalam. Ia sempat merota di permukaan sebelum arus bawah laut menyeretnya menuju ke tengah lautan. Saat itu hanya satu orang yang berkelebat dalam kepalanya.
"Cha-nyeol" ucapnya sebelum kesadaranya hilang di dalam arus laut yang mulai menyeret tubuhnya ke bagian laut yang dalam.
.
"Baek ayo ke warung, aku sudah sangat haus." Ucap Kyungsoo saat Ia baru saja selesai bermain voli. Karena tidak mendapatkan jawaban, akhirnya lelaki bermata doe itu memalingkan tubuhnya ke tempat di mana Baekhyun tadi duduk.
"ke mana dia.." gumamnya saat Ia tidak menemukan sosok Baekhyun di antara anggota club yang lain. Tiba – tiba Ia merasakan bahunya ditarik oleh seseorang.
"DI MANA BAEKHYUN?! BUKANYA TADI IA BERSAMAMU?!" pekik Chanyeol dengan wajah penuh kekalutan. Kyungsoo hanya diam dengan wajah semakin bingung saat melihat ekspresi lelaki jangkung di hadapanya itu.
Melihat tak ada harapan dari pria yang sedang ia tanyai, Chanyeol segera berlari untuk mencari sosok lelaki mungil yang kini tengah membuat jantungnya seakan ingin melompat keluar. Sudah lima belas menit Chanyeol kehilangan sosok Baekhyun dari pandangan matanya, awalnya Ia mengira Baekhyun masih bermain bersama Kyungsoo di tengah pantai, tetapi saat perasaan khawatir mulai menghampirinya, Ia putuskan untuk menghampiri lelaki mungil itu. Tetapi hasilnya nihil, Ia tidak menemukan Baekhyun di sana. Hingga sebuah pekikan dari arah tepi laut mengambil atensinya.
"ADA SESEORANG YANG TENGGELAM!"
"BUKANYA SUDAH DIPASANG PAPAN LARANGAN UNTUK BERENANG DI LAUT?!"
"TAPI TADI AKU MELIHAT KEPALA SESEORANG MUNCUL DARI SANA!"
Terlihat dua orang lelaki tengah berebat di tepi pantai. Melihat itu jantung Chanyeol rasanya seperti sudah terlepas dari tempatnya.
"BAEKHYUUUNN!" Teriak Chanyeol sambil berlari kencang ke arah dua orang itu, diikuti oleh anggota club lain yang juga tengah menaruh kecurigaan yang sama.
"DI MANA KAU MELIHATNYA?!" tanya Chanyeol tergesa kepada salah satu orang yang berdebat itu. dengan segera orang itu menunjuk ke arah di mana Ia melihat kepala manusia yang sempat muncul ke permukaan tadi.
"Kau mau apa Chanyeol?! arus lautnya sedang besar!" pekik Kyungsoo saat melihat Chanyeol tiba – tiba melepas kaosnya.
"BAGAIMANA JIKA ITU BAEKHYUN?!" Pekik Chanyeol dengan wajah paniknya
"dan bisa saja itu bukan Baekhyun. Kau bisa terseret arus! kita panggil penjaga pantai saja!" pekik Kyungsoo. Tak menghiraukan ucapan itu, Chanyeol sudah berlari dan mulai berenang menuju posisi di mana Baekhyun berada.
Jantungnya berdegup sangat kencang, perasaanya sudah campur aduk tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yang ada di dalam pikiranya hanya satu, yaitu menemukan lelaki yang menggenggam seluruh dunianya. Ia semakin menyelam ke dalam lautan, matanya terasa pedas karena asinya air laut, tetapi ia terus membuka kedua bola itu untuk mencari sosok yang diinginkanya. dengan pandangan terbatas, perlahan netranya menangkap sesosok tubuh yang terlihat melayang di dalam air. Ia berenang cepat mendekati sosok itu, dan betapa terkejutnya Ia saat netranya menangkap dengan jelas wajah dari tubuh tak sadarkan diri itu. Ia segera meraih tubuh itu dalam dekapnya untuk membawanya berenang menuju permukaan, tetapi sesuatu menahan tubuh Bakehyun. Saat Ia melihat ke bawah, rupanya salah satu kaki Baekhyun tersangkut di antara karang. Dengan sisa nafas yang Ia miliki, Chanyeol dengan susah payah menghancurkan karang yang menjepit pergelangan kaki Baekhyun itu. Ia gunakan sebuah batu besar untuk menghantam karang itu dan berhasil.
Chanyeol segera berenang ke permukaan sambil membawa tubuh lemah Baekhyun. Suara pikikan terdengar saat Chanyeol berhasil mencapai permukaan dengan sisa nafas yang Ia miliki. Ia raup udara sebanyak banyaknya untuk mengisi oksigen ke dalam paru – parunya. Tidak ingin membuang waktu, Chanyeol segera berenang menuju pantai sambil membawa tubuh Baekhyun, dengan sisa tenaga yang Ia miliki ia kayuh lengan dan kakinya dengan susah payah. Ia sudah tidak memperdulikan kondisinya sendiri, hanya beribu doa yang mampu Ia panjatkan demi keselamatan lelaki mungilnya itu.
Ajaibnya Chanyeol merasakan tubuhnya seperti sedang di dorong dari belakang. Alhasil Ia berhasil mencapi tepi pantai lebih cepat dari pada saat Ia pergi tadi, padahal Ia sedang membawa tubuh Baekhyun berenang bersamanya. Chanyeol membopong tubuh lemas Baekhyun keluar dari dalam air berjalan menuju tempat yang lebih kering. Masih dengan wajah yang panik dan pucat, Ia letakan jarinya di leher Baekhyun untuk mengecek denyut nandi lelaki malang itu. betapa leganya Ia saat ujung jarinya merasakan denyut nandi milik Baekhyun. Chanyeol segera memberikan pertolongan pertama dengan membuat nafas buatan sambil menekan – nekan dada Baekhyun.
"Kumohon Baekhyun sadarlah.." ucap Chanyeol sambil terus melakukan pertolongan pertama pada tubuh yang tengah terbaring itu. Hingga pada nafas buatan ke sepuluh akhirnya Baekhyun terbatuk dan mulai memeperoleh kesadaranya. Kelegaan kentara sekali terpancar di wajah lelah Chanyeol, Ia segera membawa Baekhyun ke dalam dekapanya. Memeluknya erat seakan seluruh hidupnya bergantung pada lelaki mungil itu. Dan itu memang kenyataanya.
" a-aku memanggilmu -tadi.." ucap Baekhyun lemah dengan air mata yang mengalir di pelipisnya, tangan lemasnya Ia angkat untuk memegang lengan kekar Chanyeol yang barusaja melepas pelukanya. Betapa hancur rasanya hati Chanyeol mendengar ucapan lelaki mungil itu. Kenapa Ia tidak segera menyusul Baekhyun tadi, kenapa Ia tidak menyadari bahwa kesialan kini bisa datang kapan saja.
Chanyeol kembali membawa Bekhyun dalam dekapanya, kali ini Ia membopong tubuh lemah itu kedalam gendonganya. Tanpa sepatah katapun Chanyeol melangkah pergi meninggalkan orang – orang yang mengerumuninya dan Baekhyun. Lelaki yang berada dalam gendongan hanya diam menerima setiap perlakukan yang Chanyeol berikan, karena tubuhnya terasa sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun.
"Ya Tuhan syukurlah Baekhyun selamat, aku sangat khawatir tadi"
"Chanyeol benar-benar keren"
"Aku tidak tahu kalau Chanyeol memiliki tato di dadanya?"
Itulah sekelebat ucapan dari beberapa orang yang sempat melihat aksi heroik tadi. Namun Kyungsoo hanya diam, ada sesuatu yang menggagu pikiranya. Chanyeol terlihat sangat ketakutan tadi, seakan Baekhyun merupakan pusat kehidupanya. Kemudian tato di dada Chanyeol, sepertinya Ia pernah melihat tato serupa di dada Baekhyun saat Ia melihatnya sedang berganti baju. Kemudian satu lagi adalah, cincin identik berwarna hijau yang melingkar di jari Chanyeol dan Baekhyun. Semua hal yang ia lihat ini seakan menuntunya kepada kecurigaan yang selama ini Ia taruh pada kedua temanya itu. Sepertinya kesimpulanya telah bulat, bahwa Chanyeol dan Baekhyun memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman.
.
"maafkan aku.." ucap Baekhyun lagi. Itu merupakan permintaan maafnya yang ke sepuluh yang Ia peruntukan pada lelaki jangkung yang kini sedang merawat pergelangan kakinya yang terluka. Namun tak ada respon dari lelaki jangkung itu. Sejak tiba di kamar hotel tadi, lalu di kamar mandi, kemudian berakhir di atas kasur seperti saat ini, lelaki jangkung itu hanya diam membisu, tidak memberi respon atau bahkan menatap maniknya. Ia hanya bekerja dalam diam, membersihkan dan merawat tubuh kekasih mungilnya.
Baekhyun tahu kini Chanyeol tengah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak menjaganya dengan baik. Ia tahu bahwa lelaki berhati lembut itu tengah terpukul atas kejadian yang baru saja menimpa mereka. Tetapi Baekhyun ingin Chanyeol juga tahu jika hatinya semakin terasa sakit saat melihat Chanyeol bersikap demikian. Hingga kesabaranya habis, Baekhyun akhirnya meluapkan perasaanya. Ia sedikit berteriak di depan lelaki jangkung yang sedang memasang perban di pergelangan kakinya itu.
"Ada apa denganmu Yeol! Jangan membuatku takut huh!" pekik Baekhyun bersamaan dengan bulir bening yang terjatuh dari pelupuk matanya. Betapa terkejutnya Ia saat merasakan tetesan air juga terjatuh di atas kakinya yang sedang berada di atas pangkuan Chanyeol. itu adalah air mata milik Chanyeol.
"-Aku pikir.. -aku sudah kehilanganmu Baek" rintih Chanyeol dengan bahu yang bergetar.
Melihat itu Baekhyun reflek meraih wajah Chanyeol untuk menatap manik mata lelaki itu. Betapa sakit dadanya saat melihat bagaimana wajah maskulin itu kini terlihat sangat hancur, manik matanya memerah dengan pipi yang sudah sangat basah karena aliran air matanya.
"a-aku tidak papa Chanyeol, aku masih di sini. Aku masih hidup, dan itu berkatmu.." ucap Baekhyun dengan suara lembutnya sambil menarik tubuh lelaki jangkung itu ke dalam pelukanya, menggosok punggung lebar itu untuk menenangkan isakanya. Baekhyun ikut menangis melihat kondisi Chanyeol seperti ini. Ia rasakan perlahan tubuhnya didekap dengan kuat oleh lengan panjang Chanyeol, dekapan itu tak kalah kuatnya seperti beberapa saat yang lalu ketika Ia memperoleh kesadaranya pasca tenggelam. Keduanya bertahan dalam posisi itu sampai dirasakan ketenangan perlahan mulai muncul di hati keduanya.
Chanyeol membatalkan kepulanganya sore itu, Ia memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama Baekhyun, membantunya yang sedang kesulitan berjalan karena pergelangan kakinya yang terluka. Begitupun dengan Baekhyun, Ia memutuskan untuk tinggal di kamar hotel Chanyeol, bergantian merawat pergelangan kaki Chanyeol yang tentu saja menerima luka yang sama seperti yang dimilikinya. Satu kelopak menghilang dari tanda kutukan yang berada di dada Baekhyun, menandakan bahwa kesialan ke delapan telah berhasil mereka lewati dengan penuh perjuangan dan air mata.
Seoul 8 p.m.
"Suruh seorang jurnalis untuk mengeluarkan artikel besok pagi, gunakan foto – foto yang sudah kukirim sebagai buktinya." Perintah seorang pria paruh baya melalui handphonya.
"Siap Tuan." Jawab seorang lelaki di ujung sambungan.
"Semua orang harus tahu dengan siapa Putera Mahkota menjalin hubungan." Ucap lelaki itu setelah meletakan kembali handphonya ke atas meja kerjanya. Tatapanya tajam dengan rahang yang bergeletak menahan amarah. Emosinya terbakar karena sebuah panggilan telfon yang Ia terima tadi sore. Panggilan itu berasal dari putri kesayanganya yang terdengar menangis mengadukan perasaan hatinya.
.
.
-TBC-
Next chapter preview
"Aku sudah pernah bilang padamu Baek, kenapa kau tidak mendengarkanku? Lihat sendiri kan, semuanya hanya akan berakhir menyakitimu!" ucap lelaki bermata doe itu penuh emosi.
"Ayo menonton nanti malam! Aku yang traktir!" ucap lelaki berkulit pucat itu dengan senyum lebarnya.
Halo halo! 🙋
Happy Saturday, Happy reading!
Jujur aku nulisnya sambil megap – megap, karena aku sendiri juga takut sama laut.😣
Jangan lupa tinggalin komentar kalian ya, krna itu sangat menyemangatiku 😆
Pay..pay.. ily🙋
Salam 614!
