Chapter 21
Hari berganti dan waktu berjalan perlahan menuju Bulan baru (bulan mati) dan Game yang menentukan akhir dari dunia ini semakin mendekat.
Yang dipilih adalah mereka yang terbaik di pasukan militer kota Anzen berdasarkan voting dari penduduk kota selama tiga hari. Memang banyak yang mencalonkan diri, tapi setelah itu mereka mundur setelah mendengarkan pidato Seijuurou serta penjelasan secara rinci tentang lawan mereka oleh Takuya. Mereka melakukan itu untuk menghindari pengorbanan yang sia sia. Tetapi mereka yang tak mundur bagaimanapun juga akan dijadikan sebagai kru kapal yang memang butuh banyak orang karena mereka akan sekaligus menyediakan apa-apa yang di perlukan selama di benua pasir misterius, Yamssuha yang tersembunyi di balik laut berkabut.
Yang terpilih di antara mereka tidak di ragukan lagi, yaitu keempat Akashi bersaudara, Aomine Daiki, Kise Ryouta, Midorima Shintarou, Murasakibara Atsushi, Nijimura Shuuzou sebagai tangan kanan Aomine, dan yang terakhir, melupakan pekerjaannya sebagai pedagang, Kagami turut serta.
Bulan mati berada di akhir bulan tepat saat game tersebut di umumkan, tak ada yang berpikir bahwa itu jebakan, dan meskipun itu jebakanpun, kesepuluh orang ini pasti bisa mengatasinya dan kru kapal mereka juga terdiri dari orang orang yang bisa di andalkan. Keberangkatan mereka tak terlalu dramatis karena penduduk telah terbiasa dengan sistem dunia ini sekarang, mereka yang pergi untuk berperang tak terhitung, dan yang tak kembali juga tak bisa lagi di dokumentasi, mereka sudah terbiasa akan kematian yang berada di pundak mereka. Tapi meskipun begitu, semua orang pasti tetap akan mendoakan yang terbaik untuk para pejuang mereka.
Persiapan satu bulan penuh, dan selama itu pula Takuya tak berbicara pada mereka semua. Mengunci rapat mulutnya dan tatapan mata juga wajahnya seakan menganggap mereka orang asing, hanya kenalan, termasuk kepada ketiga adiknya. Meskipun performanya tetap hebat, komunikasi berkurang drastis.
Samudera yang mereka arungi tak kenal ampun, malam badai seakan mempermainkan mereka seperti anak kecil dengan kapal mainan barunya. Di tengah kekacauan yang ada di geladak, lambung kapal dan dek, para pejuang itu memanfaatkan waktu yang ada untuk beristirahat, karena kru kapal sendiri punya harga diri yang harus mereka pertahankan, dan keahlian yang harus mereka manfaatkan.
Di tengah deritan kayu dan suara badai yang ganas diluar, Takuya mendengar ketukan yang pelan di pintunya "Masuk" katanya dan pintu ruangannya pun terbuka
"Kak" Tetsuya mencoba memanggilnya, punggung kakaknya tak bergeming, tak berbalik padanya maupun membalasnya, Tetsuya mengeratkan kepalan tangannya, memberanikan diri
"Akhir akhir ini... kau kenapa?" tanyanya dengan suara kecil tapi Takuya bisa mendengarnya, derit kayu kapal yang mereka tumpangi mengisi keheningan yang menyesakkan itu.
Takuya tak segera menjawab "... jika tak ada pertanyaan yang penting, dokter Akashi. Mohon untuk tidak ke ruanganku. Ini bukan saatnya untuk mengungkit masalah pribadi." Katanya dengan nada datar dan dingin. Dia berbalik dan menatap lurus Tetsuya tanpa goyah sedikitpun
Dan itu membuat dada Tetsuya merasa nyeri
"tolong kembalilah keruanganmu. Istirahatlah selagi bisa. Kau adalah salah satu orang yang berperan penting dalam misi ini" katanya. Dan Tetsuya lari menjauhi pintu ruangan tempat ia berdiri. Dia tak menangis, tapi Takuya tau kalau hatinya pasti sakit tak terperi. Tapi dia tak bisa menghentikannya, perasaan menjijikkan yang merambat kapanpun dia melihat salah satu orang orang dekatnya, meskipun mereka adalah satu satunya keluarga kandungnya yang tersisa. Aku harus segera menyingkirkannya. Sesegera mungkin, harus. Batinnya sambil mengeraskan rahangnya, lalu dia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara halus.
"Anda juga sebaiknya kembali ke ruangan anda, pak Marsekal, Akashi Seijuurou." Katanya sambil melanjutkan kegiatannya memilah dokumen yang akan di tanganinya malam ini. Meskipun dia berusaha untuk bagaimanapun caranya agar bisa membuat perasaan itu menghilang, ia tidak bisa, mungkin bukan sekarang, tidak secepat itu.
Seijuurou keluar dari bayang bayang dinding koridor di depan pintu "Begitukah sikapmu terhadap atasanmu dan sekaligus adikmu?" tangannya bersidekap dan dia menatap tajam punggung kakaknya yang kini lebih kecil darinya. Jujur saja, ia merasa perbedaan ini membuatnya lebih...aman.
Takuya mendengus geli "Ah, sekarang kita bermain sebagai keluarga? Serius?" tanyanya penuh sarkas dan dia berbalik, menunjukkan senyum miringnya dan Seijuurou tak menyukai arti dari tatapannya.
"Jika kau ada keluhan katakan-"
"Oh! Ada! Makanan di sini tak enak jadi bicaralah pada kawan bongsormu itu untuk mencoba masakannya sebelum dihidangkan" cara bicaranya untuk menunjuk Murasakibara membuat Seijuurou terkejut bukan kepalang, tak pernah Takuya memanggil seseorang dengan cara seperti itu.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan Takuya"
Takuya mengendikkan bahu tak peduli "Aku mengutarakan keluhanku"
Seijuurou mengerutkan alisnya dan menatap tajam "... kau mengerti apa maksudku, Akashi Takuya"
Takuya balas mengancam "Jangan memanggilku dengan nada itu, Seijuurou. Entah apa yang akan kulakukan padamu"
"Hoo, memangnya apa?"
Brak
"Aku bisa membuatmu mengingat malam itu lagi kalau kau mau, dan mungkin saja aku akan memperlakukanmu lebih kasar" ancam Takuya sambil memerangkap tubuh Seijuurou di bawahnya, gerakannya sangat cepat dan tiba tiba hingga Seijuurou tak sempat menghindar.
Ingatan Seijuurou tentang malam dimana harga dirinya hancur tak bersisa dihadapan orang lain meluap kepermukaan, dia menggertakkan giginya dan bermaksud untuk berbalik mendorong Takuya ke lantai, tapi tenaganya kalah, walaupun dia sudah lebih tinggi darinya. Dan cengkeraman Takuya di lengannya seakan menghambat pembuluh darahnya.
Dia mencoba meronta tapi Takuya tetap tak bergeming, tatapannya masih tak berekspresi, seperti Tetsuya, hanya saja lebih...
Tak berperasaan
"Takuya!" kepalanya mulai terasa ringan dan dingin
"Aku tau, aku memang bersalah telah melupakan kalian dan meninggalkan kalian selama ini, tapi apakah itu setimpal dengan ketidaktahuanku akan kematian orang tuaku sendiri?" kenapa kalian tak mengatakannya padaku.
Seijuurou terdiam dan membelalakkan matanya dia sudah tau.
Takuya melepaskan cengkeramannya dan bangkit dari lantai, berjalan ke mejanya, poninya menutupi setengah wajahnya selagi ia menunduk "Keluarlah"
Dan Seijuurou tanpa sadar menurutinya, keluar dari ruangan itu dengan langkah tergesa.
.
.
.
"Selamat datang di Benua pasir, di sebuah tanah yang terlupakan, di karenakan perang yang berkepanjangan, dan pemimpin kami yang mulai bosan, seperti yang kalian tau, kami mengajukan sebuah game. Yang masing masing tempat dan "apa" yang dimainkan akan di tentukan oleh kedua dadu segi delapan ini" seekor burung tiga warna berbicara seperti robot di atas ranting pohon kering setibanya mereka di sana, dan di bawahnya seorang wanita menggenggam kedua dadu dengan kedua tangannya.
"Sang pelempar adalah putri dari suku setempat, jadi semua akan adil" sambung burung itu. "Pertandingan akan di mulai besok, jadi persiapkan diri kalian, para Pahlawan" dan burung itupun terbang dengan tawa aneh bersamaan dengan wanita itu yang menghilang bagai pasir tertiup angin.
"Kita harus menemukan tempat untuk singgah"
Kagami melangkah dulu diikuti oleh Takuya, mereka berdua pernah kesini sebelumnya "ikuti aku" katanya.
Desa mereka temukan setelah perjalanan yang jauh, sangat menguras tenaga dan mereka tiba di depan gerbang Pemukiman dengan keadaan tubuh mereka yang hampir roboh karena kelelahan dan panas. Mereka disambut dengan sangat baik tak seperti yang mereka duga, ternyata Kagami dan kepala suku berteman dekat dan membangun mitra dagang yang sangat baik sejak kunjungannya yang terakhir. Lalu Takuya mendadak dikerubungi oleh penduduk yang merindukannya selama absennya ia.
Malamnya mereka mengadakan pesta sederhana untuk sekedar menyambut para pahlawan mereka dan menyimpan tenaga mereka untuk besok.
Dan lagi, sehari telah lewat tanpa seorangpun yang berani berbicara pada Takuya kecuali Kise yang terkadang menyapanya dan Murasakibara yang bertindak dengan khasnya tersendiri, dia masih membalas mereka tapi hanya sebatas membalas tidak lebih.
Keesokan harinya, mereka semua berkumpul di tengah desa, di depan mereka adalah putri kepala suku yang di jadikan sandera untuk mencegah gangguan dari luar.
Dadu terlempar dan menunjukkan angka 7-5
"Tebing Doh, Duel 2 lawan 2, tanpa sihir" kata gadis itu dengan suara jernih, matanya kosong menatap mereka. Dia dihipnotis.
Gerbang besi dengan hiasan kepala badut yang sangar berangsur angsur muncul di depan mereka, rantai rantai yang menancap ke pasir seakan perlahan membukanya, dan dari balik sana terlihat tenah keras yang terhampar, di sepanjang cakrawala langsung terpapar awan mendung seperti akan hujan.
Yang maju adalah Aomine di temani oleh Kagami. Pertarungan fisik 2 lawan 2, pertarungan secara langsung seperti itu sudah pasti akan membuat semangat Kagami dan Aomine terpompa hingga mereka tak bisa menyembunyikan seringai mereka dan aura liar mereka, sedewasa apapun mereka. Takuya tersenyum tipis melihat dua orang yang dihormatinya itu maju dengan semangat yang membara melewati gerbang.
Dan senyum itu tak terlewat oleh beberapa pasang mata di sana.
Aomine dan Kagami merasakan angin kencang langsung menabrak tubuh mereka sesaat setelah mereka memijakkan kaki di tebing itu.
Dan lawan mereka berdua, keduanya mengenakan pakaian aneh yang identik dengan kotak hitam putih dan garis hijau yang membentuk corak di wajah mereka. Satu perempuan berambut oranye diatas rambut dan pelangi di bawah rambut dan lipstik yang ia pakai seperti pernak pernik baju, disebelahnya terdapat lelaki berkulit gelap dan berotot yang mempunyai rambut perak yang di kelabang kecil kecil dan diikat kebelakang, ia memakai kalung besi berantai dan ia mempunyai seringai layaknya binatang.
"Oi-oi apa ini? Apa kalian akan mengadakan pertunjukan di suatu tempat? Kalian seperti badut pesta" ejek Aomine sambil mengayungkan pedang besarnya, Kagami dibelakangnya hanya berekspresi datar, terlalu kagum akan kostum unik yang lawan mereka kenakan
Salah satu dari mereka-yang bertubuh besar- membalas dengan dengusan geli "Ya, dan kalian adalah hidangan pestanya! Ayo! Tak usah buang nafas sia-sia dan-"
Lalu pria berbadan besar itu menghantamkan tinjunya yang meluas dan menimbulkan jeda untuk memunculkan retakan besar yang menyebabkan tebing itu seakan mau hancur, asap bertebaran dimana-mana dan menghalangi semua pengelihatan, Aomine dan Kagami yang berhasil melompat sebelum tanah itu retak dan menjadi tak rata kini berpijak pada bebatuan besar yang tak teratur, dan tanahnya yang keras membuatnya cukup berbahaya jika tergelincir.
"-Mari kita mulai saja kesenangannya" pria itu melanjutkan perkataannya saat wajahnya dan wajah Aomine berdekatan, tinju beradu dengan tinju, dengan badan besarnya ia dengan mudah membayangi Aomine. "Aomine Daiki, jenderal besar pasukan Jepang, ingatlah nama pria yang akan melumatmu ini, aku Jason Silver" Aomine menyilangkan lengannya di depan wajahnya untuk memblokir tinju Jason dan Aomine terlempar beberapa meter kebelakang
"Ara-ara Jason, kau tidak sabaran dan buas seperti biasanya ya" komentar wanita di belakangnya "Oh, Kagami-san, apa kau serius mau melawanku yang seorang wanita ini?" katanya sok imut ketika Kagami meliriknya dan menatapnya curiga, Kagami punya firasat bahwa penampilan nyentrik wanita ini seperti meneriakkan 'Aku berbahaya'. Dia memakai sarung tangannya yang dilengkapi besi tajam yang mencuat saat dia mengepalkan tangan, lalu Kagami memancarkan auranya yang meneriakkan kekuatan monster dan matanya fokus kearah wanita itu, ia siap untuk bertarung.
Jika diibaratkan maka warna wanita didepannya seperti warna warna hewan dan tumbuhan yang memiliki warna atau bau yang mencolok dan tak biasa, biasanya beracun atau berbahaya dan itu sebagai peringatan bagi predator alami mereka.
Kembali ke Aomine, ia mendecakkan lidahnya dan menambah kekuatannya "Siapa juga yang mau mengingat nama anehmu!" dan berhasil membuat Jason terpukul mundur dengan tinjunya yang lebam .
Tak pernah ada musuh yang bisa membuatnya lebam hanya dengan satu pukulan, kenyataan itu membuat senyuman Jason tambah melebar "Bagus.. bagus... sepertinya kau tak akan membuatku bosan!" lalu mereka maju dan berbenturan tinju sekali lagi, saling melancarkan serangan fisik, kepalan dengan kepalan, kepala dengan kepala, tendangan dengan tendangan yang menimbulkan angin kesekitar mereka disetiap hantaman.
Bertahan dari terpaan angin saja Kagami kesulitan, tak sepeti wanita mungil di seberang arena yang sudah menggenggam kedua kipas besi berukuran cukup besar di kedua tangannya. Melihat itu ia semakin meningkatkan kewaspadaannya
Pertarungan fisik dengan tangan kosong itu di tayangkan di monitor besar di seluruh dunia.
Takuya diam menonton pertarungan itu, berharap yang terbaik bagi teman baik dan pamannya, lalu menilai orang orang yang menjadi lawan mereka. Ia masih menanti kapan paman Kagami dan lawannya akan bergerak, diamnya mereka seperti sedang mengukur lawan mereka dan menyusun strategi dalam diam
Tidak mencerminkan Kagami sekali karena dia terkenal akan emosinya yang mudah meledak dan pikirannya yang simpel, tapi hey, orang yang menjalankan bisnis perdagangan yang sukses juga perlu beberapa taktik bukan? Minimal 2-3 strategi perdagangan untuk menghadapi masalah internal dan ekspternal.
'ah, akhirnya mereka berdua bergerak' batin Takuya
Kagami menyerang duluan dengan melompati bebatuan itu dengan lincah dan melepaskan teriakan pertarungannya yang sarat akan kekuatan, tinjunya bertemu dengan udara kosong, tempat sebelumnya wanita itu berpijak yang sekarang tengah melompat dengan elegannya menghindari serangan Kagami selanjutnya dengan lihai
"Ah, aku belum memperkenalkan, diri... namaku Veneva... kau ingat? Kagami-san? Kita pernah menghabiskan malam yang penuh pesona itu bersama bukan?" dan mata Kagami melebar
Saat menonton layar di depannya, Takuya terus merengut seakan mengingat ingat sesuatu, lalu dia mencoba untuk mengganti riasan wanita itu dalam kepalanya dan
"Pfft! Ah paman, sekarang karmamu mendatangimu. Sudah kubilang berkali kali untuk tak menurunkan penjagaanmu" komennya pelan sambil menahan tawa, bocah lelaki berusia 15 tahun dan berkulit hitam serta berambut keriting di sebelahnya –Kaher- menatapnya bingung "Memang ada apa Taku?"
"Wanita itu" tunjuk Takuya saat layar memfokuskan pada pertarungan Kagami dan Veneva, pertarungan antara api dengan angin yang semua tentu telah mengetahui bahwa elemen api lebih kuat, tapi tak ada satupun yang tau siapa pemenang pertarungan ini diakhir nanti "Adalah mantan pacarnya"
"mantan pacar Om Kagami?!" teriak Kaher terkejut "Tunggu! Bukannya om Kagami sudah punya istri?!" tanyanya kemudian, Takuya dan beberapa lelaki di belakang mereka tertawa
"Ahaha! Kaher, kau masih terlalu kecil untuk itu!" kata mereka, tak menjawab pertanyaan Kaher
"Hei aku sudah 15 tahun! Aku sudah dewasa!" protes Kaher dibalas tawa mereka yang semakin kencang, bahkan beberapa wanita-termasuk ibunya- juga tertawa geli.
"Ahaha..." Takuya mengusap air yang keluar dari sudut matanya "Itu yang para orang dewasa sebut dengan bermain api, Kaher" mereka kembali bertatapan mata "Lelaki yang sering berpetualang dan jarang di rumah pada dasarnya pasti akan haus akan kasih sayang dan sentuhan wanita. Apalagi Himuro-san" dadanya sesak saat menyebutkan nama itu lagi "-memilih untuk tinggal di Jepang untuk mengurus kantor paman..."
Takuya rasa Kaher mulai menyadari arah pembicaraan dari mata hijau Kaher yang bersinar "Sebaiknya kau jangan menirunya, Kaher, tak peduli seberapa hausnya kau, jika kau sudah memiliki pasangan, hati dan tubuhmu adalah milik orang itu. Itu yang dinamakan seorang lelaki sejati" dan tentu Takuya bukan salah satunya. Ia mengerti kalau yang pamannya lakukan demi kelancaran bisnis, karena koneksi mereka tak semua laki-laki. Dan hati pamannya seluruhnya milik Himuro, sepupunya yang 'cantik' itu. Tapi sekali kau menurunkan penjagaan dirimu, maka kau akan 'dilahap'.
"ooh..." suara Kaher membuyarkan lamunannya dan Takuya kembali fokus pada pertarungan.
Kembali ke Kagami
"Berkat malam itu, aku mempunyai informasi mengenai dirimu yang begitu misterius dan mempesona" kata Veneva begitu mereka berdua memijak tanah lagi, Kagami dan Aomine saling memunggungi
"Apa itu benar Kagami?! Dasar, kau itu memang-Kh! pria brengsek huh?! Sejak kapan oi!" teriak Aomine selagi ia menahan serangan dari Jason
"Berisik! Mana aku tau kalau ternyata dia-" swooosh "anggota Tenebris?! Lagipula jarang aku melakukannya dengan sembarang-" pembelaan Kagami terpotong oleh sesuatu yang ia sadari, Kagami menatap penuh amarah terhadap Veneva
"Kau... kau mempengaruhiku dengan obat bakar dan minuman..." Kagami tak tau barang barang apa yg wanita itu terus menerus sodorkan kepaddanya selama kurang lebih 2 jam... ia rasa itu adalah barang ilegal
Dan Veneva hanya tertawa mengejek
Kagami berlari dan mengayunkan pedangnya kuat-kuat, bahkan ayunannya menyebabkan angin terbelah dan berhasil menggores perut wanita itu, hanya dengan angin bekas ayunan pedangnya. Semua yang dilihat Kagami adalah merah, dengan serangan membabi buta pada satu target, Veneva sudah tak bisa bermain-main lagi.
Kagami mengayunkan keatas dan kebawah, dan Veneva menangkis serangan itu seperti mengipas sehelai bulu, lalu ketika gilirannya menyerang, Kagami menghindari serangannya dan berhasil sedikit melukai lengan bawah wanita itu dan saat dia lengah, perutnya mengenai lutut Veneva dan ia terlempar ke udara, dan veneva menyusul dengan melompat ke udaa, bersiap untuk memberinya tendangan kapak ke bawah tapi Kagami justru mengayunkan kakinya lebih dulu dan mengenai pahanya, menyebabkan mereka berdua kehilangan keseimbangan di udara, dan jatuh.
Di sisi lain, Aomine menghindari hujaman pukulan yang seperti berkali kali lipat dari yang seharusnya hanya ada dua di depannya saking cepatnya, mencari celah. Dan detik ia menemukannya, bergantung pada reflek yang luar biasa dia meninju titik vital itu kuat kuat hingga lawan yang hampir 2 kali lebih besar darinya itu terseret mundur dan kepalanya membentur batu.
Dan aomine kira ia memenangkan pertarungan ingi melihat bercak merah di batu tersebut
Tapi ternyata salah
Karena jari pria itu berkedut, dan dengan mata yang seluruhnya putih dan seringai binatang yang semakin lebar, Aomine bahkan merasakan sekelilingnya otomatis menjadi lebih gelap dan dingin, matanya fokus pada lawannya yang dengan cepat berdiri dengan punggung yang membungkuk, dan kedua tangannya menggantung, berayun selagi dia bergerak.
Aomine mengeratkan pegangannya pada pedang besarnya, sudah saatnya dia berhenti menahan diri, hell, bahkan Bakagami sudah mengeluarkan seluruhnya dan kini terlibat pertarungan serius dan tidak main-main.
Jason dan Aomine berlari ke satu sama lain, dengan raungan seperti monster dan teriakan penuh kekuatan.
.
.
Dan begitu mereka sadar Kagami dan Aomine ada di rumah tabib. Semua terjadi begitu cepat seberti kelibatan warna dan blur di kepala mereka tapi mereka berdua tau satu hal
Mereka kalah, kekalahan yang pahit.
Aomine tak bisa merasakan kedua tangannya, ia asumsikan keadaannya begitu parah, tubuhnya berkedut disana-sini, nyeri, tulangnya seperti remuk. Dia menggeram, mencoba untuk menggerakkan kakinya, tapi 'Sialan!' kakinya seperti besi berkarat. Dan yang ia rasakan hanya sakit. Ia menoleh ke ranjang di sebelahnya, Kagami sudah sadar, tapi keadaannya tak lebih baik, Kagami bahkan kini hanya bisa berkedip dan melirik kembali ke padanya.
Aomine menatap kosong langit langit ruangan itu, yang mereka hadapi bukan penyihir, bukan monster, bukan petarung maupun sesimpel manusia
Mereka adalah makhluk yang seharusnya tak boleh ada.
Sebenarnya apa yang dilakukan Tenebris pada mereka? Tak salah lagi bahwa mereka dulunya adalah manusia.
Pikirannya tak sampai, perhatian Aomine kini berganti pada Midorima yang memasuki ruangan dengan 2 mangkuk yang dia bawa hati-hati dan meletakkannya pada atas bufet yang ada di antara ranjangnya dan ranjang Kagami. Dibelakangnya Takuya menyusul dan matanya tak menunjukkan kekecewaan, atau sedih, atau apapun padahal pihak mereka telah kalah pada pertandingan yang pertama, awal yang buruk. Takuya hanya melihat kearahnya, tak berkata apapun, lalu mengagetkannya dengan senyumnya yang tipis mirip senyum si bungsu.
Aah, Aomine sudah tak mengerti lagi, ia hanya ingin istirahat.
.
.
.
.
TBC
Author: *screaming madly* INI DIAAAAAAAA GAAAH INI DIAAAA SEJAUH INI CHAPTER INILAH YANG SESUAI EKSPEKTASIKU AAARGHHH RASANYA ITU GWAAAAH BANGET
Takuya: ...
Author: katakan sesuatu bung, aku menciptakan karaktermu bukan karakter pendiam dan bisu seperti ini, atau kau mau mencontoh Mitobe-senpai?
Takuya: ku bahkan kehilangan kata-kata Zanas-chan, lagipula siapa itu Mitobe?
Author: kenapa? Terlalu takjub akan chapter ini? *blinking cutely*
Takuya: takjub akan kesedenganmu yang bener #ditendang
