Chanyeol akui dia dulu memang lelaki brengsek, pergi ke club, mabuk-mabukan sampai meniduri wanita-wanita di sana. Tetapi segila apapun atau semabuk apapun dia, takmungkin Chanyeol lupa memakai 'pengaman' saat berhubungan badan.
Park SooYeong, atau dia suka mengenalkan diri dengan nama Joy. Chanyeol tentu ingat dengan wanita itu, dia adalah wanita dari ekluarga terhormat dan kaya, salahnya dia jatuh cinta pada lelaki yang salah, alki-laki yang dianggap tidak sederajat oleh keluarganya, dan wanita itu memilih melepaskan semua yang dia punya. Dan malam itu dia sedang bertengkar dengan kekasihnya, Chanyeol pun sedang bertengkar dengan Sehun. Mereka saling bercerita sambil menyesap bergelas-gelas alcohol, mereka mabuk dan 'melakukannya' sampai pagi. Biasanya Chanyeol akan meninggalkan pasangan one night stand nya begitu saja, pagi itu Chanyeol bahkan sempat berpamitan dengan SooYeong dan mereka mengakui itu adalah murni kesalahan mereka berdua dan berjanji tidka akan mengungkitnya jika bertemu di kemudian hari.
Chanyeol bisa melihat SooYeong bukan wanita jalang yang dengan mudah melemparkan tubuhnya ke sembarang pria, hanya saja malam itu dia sedang putus asa. Tetapi memiliki anak? Ini aneh, kenapa dia baru menghubungi Chanyeol setelah bertahun-tahun tidak bertemu?
"Channie, kita kaan makan malam ke mana?" pertanyaan Baekhyun emmbuyarkan lamunannya.
Chanyeol sebenarnya merasa sangat bersalah dengan istrinya, seharusnya mereka bisa liburan mewah di Eropa atau daerah tropis seperti Bali atau Phuket, tetapi karena terbatasnya waktu akhirnya dia hanya bisa menikmati hotel mewah selama 3 hari.
"Malam ini kita akan makan malam dipuncak Namsan, pastikan kau memakai baju yang lebih hangat, Sayang" kata Chanyeol pada Baekhyun yang hendak melangkah mandi.
Saat Baekhyun di kamar mandi, ponsel Chanyeol berdering, dan dilayarnya tampak nama 'Kim Jongin' yang mengajaknya video call. Chanyeol menggeleng geli lalu menekan tombol hijau, dan sedikit mendengus saat dia melihat 2 gambar di sana, gambar di layar bagian atas ada Jongin dan di bagain bawah adalah adiknya, Oh Sehun. Tampaknya mereka berdua sudah melakukan video call dulu sebelumnya lalu baru menghubunginya.
"Hai pengantin baru" kata Jongin dengan cengirannya.
"Mana Noona-ku?" tanya Sehun.
"Istri ku sedang mandi. Dan tidakkah kalian berhenti mengganggu ku sementara aku berbulan madu singkat ini?"
"Eyy..ayolah, kita bahkan tidak merayakan pesta lajang dengan benar, bagaimana mungkin kau berkata kasar pada kami" ujar Jongin.
"Pesta lajang yang kau inginkan pasti termasuk gadis-gadis setengah telanjang yang menari dengan tiang" cibir Chanyeol.
"Itu kita yang dulu Chanyeol, sekarang aku punya ratu cantik yang mengandung bayi kami" Chanyeol dan Sehun menunjukkan wajah ingin muntah.
"Kau menggelikan saat mengatakan hal seperti itu, Kai. Semua orang tau kau adalah makhluk ter-mesum di dunia" ucapan Sehun membuat Chanyeol tertawa.
"Ngomong-ngomong mesum, apa kabar malam pertamamu? Hadiahku cukup berguna, bukan?" Jongin menaik turun kan alisnya.
"Kau tidak perlu tau detailnya tapi yah terima kasih kadonya"
"Kau pasti bercanda menggunakan 'benda' itu untuk Baekkie Noona?!" Sehun dari posisi bersandar sampai terduduk.
"Jangan salahkan aku, kakakmu bahkan menjadi ketagihan" Chanyeol menyeringai dan membuat Sehun mengumpat.
"Dasar brengsek, bisa-bisanya kau melakukan itu di malam pertama kalian"
"Lihatkan, Chanyeol memang lebih gila daripada aku" kekeh Jongin.
"Yak! Memangnya kau lupa siapa yang punya pasangan one night stand terbanyak selain Kim Jongin"
"Setidaknya aku menikahi Kyungsoo tanpa menyentuh dia sebelumnya, dan benar-benar bertaubat karenanya"
"kau pikir aku percaya? Tiap hari kau memandangi pantat kakakku tanpa berkedip, itu juga melecehkan asal kau tau" cibir Chanyeol pada pembelaan diri Jongin.
"Lalu apa bedanya denganmu, Hyung? Kau pikir aku tidak tau kau selalu mencumbu Noona ku setiap ada kesempatan" balas Sehun.
"Setidaknya bukan aku yang 'bermain' di kantor dengan sekretarisnya" tiba-tiba wajah Sehun memerah dan Jongin melotot tidak percaya.
"Sehun? Oh Sehun melakukan itu? Dengan Luhan?"
"Yeah aku tidak sengaja mendengar teriakan Luhan semacam rusa yang sedang digauli habis-habisan. Dan sialnya aku sedang di kantor dan menjadi 'tegang' mendengarnya"
"Jangan berani-berani kau membayangkan Luhan" Sehun menatap kesal.
"Tentu tidak, aku cukup puas dengan Baekhyun-ku" Jongin tertawa dengan perbincangan mereka.
"Sungguh, aku paham kalau itu Chanyeol yang melakukan hal yang tidak-tidak di kantor. Tapi Sehun? Ku kira kau tipe orang yang akan menyekap wanitamu di tempat private atau apa"
"Nyatanya aku bisa membuat istriku masih perawan sampai pernikahan kami" bangga Chanyeol.
"Jangan katakan pada baekkie Noona, dia-"
"Chanyeol, apa itu suara Sehun?" tiba-tiba Baekhyun muncul di belakang Chanyeol dengan menggunakan bathrobe Panjang.
"Jongin dan Sehun terlalu merindukanku sampai meneleponku" Chanyeol menarik istrinya untuk duduk di sebelahnya.
"Hai Jongin, Sehun" Baekhyun melambai dengan tersenyum manis.
"Ah, lihatlah betapa bedanya kau sebelum menikah dan setelah malam pertamamu, kau lebih bersinar" goda Jongin. Chanyeol ingin menggeplak kepala sahabatnya itu kalau dia ada di hadapannya, sedangkan Baekhyun menyembunyikan wajahnya di bahu Chanyeol karena malu.
"Noona, apa Hyung memperlakukanmu dengan baik?" tanya Sehun lembut. Chanyeol hendak menjawab dengan protesan, tetapi Baekhyun lebih dulu memotongnya.
"Dia baik seperti biasa, aku bahagia, Sehun-ah" Chanyeol mencium pucuk kepala Baekhyun. Sehun dan Jongin tidak bisa tidak tersenyum melihat pasangan baru itu.
.
.
.
Setelah menikmati liburan singkatnya, Chanyeol membawa Baekhyun ke rumah yang telah di belinya sebelum menikahi Baekhyun. Mereka baru memindahkan beberapa 1 minggu sebelum pernikahan mereka.
"Baby, kau tau kita seperti tidak berbulan madu. Apa bulan depan kita pergi ke suatu tempat?" Chanyeol menghampiri Baekhyun yang sedang merapihkan lemari.
"Hmm..aku tidak masalah. Kita bisa berkencan tiap akhir pekan" Baekhyun berusaha menenangkan suaminya yang merajuk.
"Harusnya dari awal aku menolak kerjasama dengan orang China gila bernama Xiumin ini, dia benar-benar tidak memahami kalau aku baru menikah dan seharusnya berbulan madu bukannya mengurusi pek-"
CUP
Baekhyun mengecup bibir Chanyeol yang masih mengoceh.
"mulutmu, Sayang. Jangan mengumpat. Lagipula aku bisa membantu sebagai asistenmu kalau kau kesulitan"
"kau yang terbaik" Chanyeol memeluk istrinya senang.
"Chan, apa kita makan malam di rumah keluarga Park saja? Aku ingin menjenguk Kyungie Eonnie, ugh aku gemas melihatnya, dia hamil tetapi begitu cantik" Chanyeol terkekeh dengan ekspresi istrinya.
"baiklah aku akan menelepon Jongin dan mengatakan kita akan berkunjung" Baekhyun hendak membuka mulut sebelum Chanyeol menghentikannya.
"Tidak ada Sehun, kau masih milikku seutuhnya sampai beberapa bulan ke depan, aku tidak rela berbagi dengan Sehun" katanya tegas, Baekhyun mengulum senyum dengan kecemburuan suaminya.
Baekhyun berkemas untuk ke rumah keluarga Park, karena pernikahan mereka baru berlangsung keluarga Park masih berkumpul di mansion mereka, rencananya beberapa hari ke depan ayah dan ibu Chanyeol akan melakukan perjalanan bisnis.
"Wah, aku terkejut kau sudah sampai di sini" goda Jongin saat melihat adik iparnya, tetapi pria itu segera menunduk saat melihat tatapan tajam istrinya yang sedang hamil.
"Baekkie~ Channie bilang kau merindukanku? Aku yakin anakku akan secantik kau nanti" Kyungsoo memeluk Baekhyun sebagai ucapan selamat datang.
"Eomma sampai terkejut saat Jongin bilang kau mau datang, ku kira putraku akan melarang kau datang apalagi ada Sehun di sini" kata ibu Chanyeol.
"Sehun? Kenapa dia ada di sini?" Chanyeol membulatkan matanya dan seketika mendengus saat melihat adiknya itu bersandar di tembok sambil menyeringai. Baekhyun berlari menghampiri Sehun dan memeluknya dan Sehun dengan senang hati menyambut pelukan itu bahkan menciumi pipi Baekhyun.
"Hyung tidak menyekitimu kan?" tanya Sehun dengan penuh perhatian, Baekhyun mengerucutkan bibir lalu tangannya memainkan kancing baju Sehun.
"Sakit, Hunnie~" rajuknya dengan berbisik. Chanyeol menarik tubuh Baekhyun lalu memeluk pinggangnya posesif.
"Dia milikku, jangan sembarangan menyentuhnya" kata Chanyeol menatap tajam Sehun. Semua yang ada di situ hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Chanyeol.
Mereka semua sedang menikmati makan malam dengan tenang saat ponsel Chanyeol berbunyi, semua mata memandang Chanyeol, tetapi lelaki itu memilih me-reject nya dan membuat Baekhyun menatapnya penuh tanya.
"Ini sedang masa liburku, aku tidak mau ada telepon urusan bisnis" kata Chanyeol sambil menatap istrinya. Tapi ponsel itu lagi-lagi berdering.
"Angkat saja, Chan. Mungkin Xiumin-ssi menghubungimu?" kata Baekhyun. Akhirnya Chanyeol ijin untuk meninggalkan meja makan sambil membawa ponselnya.
Hampir sepuluh menit Chanyeol tidak kembali, karena khawatir, Baekhyun mencari Chanyeol yang ternyata berada di kamarnya, Baekhyun sedikit mengintip takut mengganggu, tetapi dia mendadak berhenti karena mendengar percakapan suaminya dengan orang yang tidak dia kenal.
"Jangan mengancamku, Joy! Kita tidak ada hubungan apapun, aku tegaskan itu! Jangan mengada-ada cerita dan-"
TING TONG
Baekhyun sedikit terkejut mendengar suara bel rumah berbunyi, dan Baekhyun memperhatikan Chanyeol lebih terkejut dengan suara bel itu, dia melempar ponselnya dan mengumpat.
"DAMN!" Chanyeol hendak membuka pintu kamar dan matanya membelalak saat sadar Baekhyun ada di sana.
"Baek, apapun yang terjadi percayalah padaku, oke?" Chanyeol memegang pundak Baekhyun seolah menunggu jawaban wanitanya itu. Baekhyun mengangguk ragu.
"Aku mencintaimu" Chanyeol mengecup bibir Baekhyun sebelum berlari menuju pintu depan.
Baekhyun mengikuti Chanyeol dan sampai di ruang tamu, dia melihat seluruh keluarganya sedang memandang seorang wanita yang tampak sangat kurus dengan seorang anak kecil yang Baekhyun perkirakan berumur 2 tahun. Anak itu tampak beringsut di pangkuan ibunya karena dikelilingi orang-orang asing.
"Ah, Junhoe itu Daddy" semua mata memandang Chanyeol dengan wajah terkejut, takjauh beda dengan Chanyeol yang tiba-tiba menegang. Baekhyun mematung karenanya.
"Daddy?" kata Baekhyun lirih. Chanyeol hendak mengatakan sesuatu pada Baekhyun tetapi Park Seunghyun lebih dulu memanggilnya.
"Chanyeol, jelaskan siapa mereka?" wajah ayah Chanyeol tampak penuh amarah. Seperti paham, Sehun segera mendekati Baekhyun dan menyandarkan wanita itu di bahunya.
"Kita tunggu di kamar?" tanya Sehun, tapi Baekhyun menggeleng, tanpa sadar airmatanya meleleh, mungkin karena perasaan kecewanya yang sangat besar.
"Aku jelaskan di sini. Joy atau Sooyeong hanya bertemu sekali dan kami tidak ada hubungan apa-apa, dan jangan mengarang cerita tentang anak ini!" Chanyeol menunjuk Junhoe dengan pandangan tajam, membuat anak itu semakin meringkuk.
"Kau lupa kita tidur bersama di hotel? Kau ingin menyangkal kalau kita sudah melakuk-"
"Tolong hentikan. Tidak baik membicarakan hal seperti ini di depan anak-anak. Junhoe, kau ikut dengan Imo, hm? Imo punya banyak makanan" Kyungsoo merasa perlu membawa anak itu dari pertengkaran yang mungkin bisa terjadi. Awalnya anak kecil bernama Junhoe itu hanya menatap wanita hamil itu dengan takut-takut, tapi melihat senyumnya dan tangan Kyungsoo yang terulur, Junhoe lulus juga.
"Bye, eomma" anak itu melambaikan tangan pada ibunya dengan senyum polosnya sebelum menggandeng tangan Kyungsoo.
Sehun menggandeng Baekhyun untuk duduk , mata Baekhyun tidak lepas dari wanita bernama Sooyeong itu. Wanita itu membungkuk sekilas saat beradu pandang dengan Baekhyun.
"Aku hanya ingin Chanyeol menjaga anakku, lagipula dia anak Chanyeol hasil one night stand kami 3 tahun lalu" kata Sooyeong to the point.
"Setelah 3 tahun kau baru memberi tau? Kau pikir itu tidak aneh?" sinis Chanyeol.
"Aku terpaksa. Aku harus menjalani kemoterapi selama 3 bulan di Rumah Sakit, aku terkena leukemia, aku tidak tau harus di mana menitipkan Junhoe, aku terpaksa harus memberitahumu setidaknya kau sebagai ayahnya bisa menjaga dia sebentar. Lagipula dia jadi mengenal ayahnya"
"kau pikir dengan cerita karanganmu itu akan kan percaya?!" bentak Chanyeol.
"Bagaimanapun aku yakin dia bukan anakku!" kata Chanyeol lagi.
"A-apa benar kau tidur dengan SooYeong-ssi?" suara serak Baekhyun membuat semua orang memandangnya. Chanyeol menatap Baekhyun dengan wajah gugup.
"Ya, aku mengakuinya" Chanyeol tertunduk.
"Baru kemarin kau berjanji akan membahagiakan kakakku, tapi sekarang apa yang kau lakukan, hah?!" Sehun hendak menarik kerah Chanyeol dengan wajah marah. Tetapi tiba-tiba Sehun ditarik oleh Baekhyun.
"Dia sudah berjanji di depan Tuhan, Hunnie. Chanyeol tidak akan berbohong, aku percaya pada suamiku. Tolong, jangan sakiti dia, aku akan sedih melihatnya" Chanyeol rasanya ingin memeluk Baekhyun, tetapi wanita itu memilih untuk bersandar di bahu Sehun.
"Aku hanya meminta kebesaran hatimu sebagai Ayah, Chanyeol. Ijinkan Junhoe tinggal bersamamu selama aku di rumah sakit, aku yakin istrimu yang baik ini bisa membantu merawatnya. Maaf merepotkanmu, Baekhyun-ssi, tapi sebagai wanita bisakah kau mengerti perasaanku? Aku hanya hidup berdua dengan putraku yang tidak pernah tau ayahnya, dan sekarang aku sakit, aku hanya meminta untuk menjaganya sebentar saja" Baekhyun belum sempat menjawab, tetapi Chanyeol sudah memotongnya.
"aku akan mengecek DNA, kalau dia anakku akau akan merawatnya di sini, dan kalau hasilnya negative, aku akan membawa anakmu ke panti asuhan" kata Chanyeol tegas. Sooyeong tampak tersenyum.
"Terima kasih, aku akan menjalani pengobatan dengan tenang" Sooyeong berdiri dan membungkuk mengucapkan terima kasih. Setelah berpamitan pada putranya yang tentu saja anak kecil itu menangis saat ibunya pergi, Sooyeong pergi dari kediaman Park meninggalkan putranya yang menangis sambil memeluk Kyungsoo.
.
.
.
Baekhyun duduk berhadapan di kamar Chanyeol, mereka masih di mansion keluarga Park.
"Aku tidak tau, Baek. Sungguh, aku tidak tau apa yang sedang terjadi. Maafkan aku" Chanyeol berkata dengan wajah putus asa.
"Jujur saja, aku kecewa, sangat kecewa" lirih Baekhyun.
"Aku tau wanita itu mungkin masa lalumu, tapi anak itu…dia masih mempunyai masa depan. Kau juga harus memikirkannya. Apa sebaiknya, kau memilih anak itu dibandingkan aku?" Chanyeol terkejut.
"Tidak..tidak, Baek. Ku mohon jangan tinggalkan aku. Tidak, aku tidak ingin apapun selain kau, Baek. Ku mohon" Chanyeol memegang tangan Baekhyun yang terasa dingin.
"Ku rasa aku perlu berpikir jernih. Bisakah aku tinggal dengan Sehun beberapa hari? Aku membutuhkannya" Chanyeol hampir berteriak 'tidak', tapi dia tidak mungkin melakukannya. Istrinya membutuhkan ruang tanpa dia.
"Ya, pulanglah dengan Sehun. Aku akan buktikan kalau dia bukan anakku, aku akan tes DNA besok. Jika dia bukan anakku, cepatlah pulang, Baek" Baekhyun melepaskan genggaman tangan Chanyeol dan meninggalkan kamar itu tanpa menengok, dia ingin menyembunyikan air matanya.
Baekhyun masih mendengar suara isakan Junhoe di ruang keluarga, anak itu tampak bergelung di depan televisi dengan Jongin dan Kyungsoo yang menemani. Sesekali Kyungsoo tampak menepuk-nepuk lembut pantat anak itu berharap dia cepat tertidur, tetapi Junhoe masih terisak memanggil ibunya.
Baekhyun mendekat membuat Kyungsoo, Jongin dan bahkan Sehun yang duduk takjauh dari situ memandangnya penuh rasa khawatir.
"Junhoe-ya" merasa namanya dipanggil, anak itu menengok. Dan Baekhyun terkesiap melihat betapa merahnya wajah anak itu, menandakan tangisnya yang terlalu lama.
Tanpa diduga Baekhyun merentangkan tangannya, seolah membutuhkan perlindungan, anak itu melompat ke pelukan Baekhyun dan menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun dengan mata terpejam.
"Kau bisa tidur di kamar Daddy-mu" Baekhyun mengelus lembut punggung Junhoe.
"Sehun, setelah aku memindahkan Junhoe, aku akan pulang bersamamu" Sehun segera paham dengan situasinya.
"Kau ingin pulang ke rumah Luhan? Aku akan meneleponnya untuk menyiapkan kamarmu"
"Tidak perlu, sepertinya aku butuh tidur bersama Luhan malam ini" setelah berkata seperti itu, Baekhyun membawa Junhoe yang mulai tertidur ke kamar Chanyeol.
Chanyeol terkejut saat mendapati Baekhyun kembali dengan Junhoe di gendongannya.
"Sepertinya dia terlalu lelah menangis sampai tertidur, biarkan dia tidur di sini. Setidaknya kau bisa belajar menjadi ayah yang baik" Baekhyun meletakkan tubuh gempal Junhoe ke ranjang.
"baek, berhenti mengatakan omong kosong, dia bukan anakku" tegas Chanyeol.
"Kenyataan tidak seperti itu, Chan. Paling tidak jangan biarkan anak ini terlantar"
"Aku akan meyakinkanmu dengan tes DNA, aku akan membawamu pulang dan aku akan mengantar anak ini ke panti asuhan terdekat"
.
.
.
Sudah 3 hari sejak Junhoe tinggal di Mansion Park, ayah dan ibu Chanyeol lebih banyak menemani anak itu, mereka tidak mungkin membenci anak sekecil itu. Berbeda dengan Chanyeol, dia merasa anak itu penyebab Baekhyun sampai sekarang tidak mau mengangkat teleponnya bahkan menolak bertemu dengannya dengan alasan: sedang membutuhkan waktu untuk berpikir.
"Chanyeol, habiskan dulu sarapanmu" Nyonya Park duduk di meja makan bersama suaminya dan Junhoe yang duduk di kursi kecil dengan menggoyang-goyangkan kakinya.
"Daddy, makan?" mata bulat Junhoe membuat Chanyeol hampir luluh tetapi dia hanya membuang muka.
"Aku harus ke rumah sakit mengambil hasil tes DNA"
"Eomma mulai pusing memikirkannya, kalau dia bukan anakmu, apa kau sungguh tega membiarkan dia berada di panti asuhan? Tapi kalau dia putramu, aku sulit untuk memaafkanmu, Chanyeol. Apalagi jika memikirkan perasaan Baekhyun. Ah, Eomma sakit kepala memikirkannya" Chanyeol hanya terdiam. Dia mengecup singkat pipi ibunya dan menatap Junhoe sekilas yang masih menatapnya dengan mata penuh harapan agar orang yang dia panggil daddy itu juga menciumnya, tetapi Chanyeol memilih pergi menuju garasi.
Senyum Chanyeol mengambang.
"0% kecocokan"
Chanyeol bisa menemui Baekhyun sekarang dan membawa Baekhyun pulang ke rumah mereka.
Dengan tergesa, lelaki itu mengendarai mobilnya dan tiba di rumah Luhan, tetapi rumah itu tampak sangat sepi. Chanyeol menekan bel pintu berkali-kali tetapi sama sekali tidak ada suara dari dalam. Akhirnya Chanyeol memutuskan untuk kembali ke Mansion Park dahulu sebelum nanti dia akan menghubungi Sehun untuk menanyakan keberadaan istrinya.
Saat memasuki rumah orangtuanya, Chanyeol mematung, tubuhnya seketika menengang saat melihat istrinya ada di sana.
Wanita itu sedang tertawa bersama Junhoe di atas matras bergambar lucu yang diletakkan di ruang keluarga. Nyonya Park duduk di sofa dekat mereka dan Kyungsoo yang mengelus perutnya yang mulai membuncit tersenyum melihat Junhoe yang berusaha merebut mainan berbentuk gajah di tangan Baekhyun.
"Baek?" Panggil Chanyeol pelan. Baekhyun baru menyadari suaminya sudah berdiri di sana, tiba-tiba wanita itu berlari menubruk Chanyeol. Chanyeol yang masih terkejut hanya bisa terdiam saat Baekhyun memeluknya.
"Aku merindukanmu" lirih Baekhyun.
" Aku baru saja mengambil hasil tes DNA ,d-"
"Aku tidak peduli dia anakmu atau bukan, kau tetap suamiku. Kalaupun dia anakmu, aku tidak keberatan merawatnya sampai ibunya sembuh. Jangan bawa June ke panti asuhan, aku akan sangat sedih membayangkan dia menangis sepanjang malam di sana" Baekhyun mendongakkan kepala menatap mata suaminya dengan wajah sedih.
"Aku tetap mencintaimu bagaimana pun masa lalumu, Chan" tambahnya. Chanyeol tidak tahan lagi.
Dia mencium istrinya, melumat bibirnya sampai Baekhyun terbuai dan menutup matanya, membalas pagutan-pagutan Chanyeol dengan sensual.
"Ehem, ada Junhoe memperhatikan adegan dewasa, kurasa kau harus membawa istrimu ke kamar Chanyeol" suara Jongin membuat mereka melepas pagutan itu dan menyatukan dahi mereka sambil tersenyum. Junhoe berlari ke arah mereka dan menarik rok Baekhyun.
"Ayo kita main lagi, Mommy!"
"Mommy?" Chanyeol menatapnya tidak percaya.
"Uh-huh, mulai saat ini June akan memanggilku Mommy dan memanggilmu Daddy, terdengar bagus bukan?"
Chanyeol masih ternganga, Junhoe sudah berlari kembali ke matras dan Baekhyun berbisik di telinga Chanyeol.
"Ada banyak yang perlu kita bicarakan, Sayang"
.
.
.
TBC
