Akhirnya kembali juga. Maaf sekali buat yang nunggu. DeathCheater super sibuk kemarin! Again, im sorry.
Disclaimer: I don't have Naruto and Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Divisi 03, dua puluh kilometer dari Konoha
Divisi 03 telah bergerak dengan Kakashi sebagai ketuanya. Divisi yang terspesialisasi dalam pertempuran jarak jauh, terus melanjutkan perjalannya menuju perbatasan Hi no Kuni dengan Nami no Kuni. Mereka terus berlari dan meloncat dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya.
"Aku merasakan sekumpulan orang sedang berjalan dengan karavan melawan arah kita, tepat diarah pukul satu." kata seorang Sensor yang berada disamping Kakashi.
Kakashi perlahan membengkokkan kepalanya ke arah pukul satu. "Apa yang kau lihat?"
"Byakugan!" ternyata si Sensor bermata putih itu adalah pengguna Byakugan, mata yang melihat segala hal.
Seketika urat otot saling membuat pola yang melingkari mata putih yang juga menunjukkan pola yang melibgkari mata putih itu. Matanya melihat ke depan meskipun itu bukan pandangan aslinya, ia terus melihat dengan mata Byakugannya.
"Sekelompok orang sedang berjalan kemari."
"Siapa mereka?" tanyanya. Semua orang juga tahu kalau mata itu mampu melihat siapapun dalam jarak jangkauannya tentu juga bisa melihat sistem penyebaran chakra orang yang dilihatnya. Kemampuan Hyuuga adalah sesuatu yang hebat.
"Hm." Byakugan mulai membuat fokus sendiri seolah menelisik apa yang dilihatnya. Mata Hyuuga ini semakin menyipit saat ia memulai mendeskripsikan detail tentang apa yang dilihat. "Seseorang tua berambut putih."
Pasti dia.. Pikir Kakashi.
"Dia bersama seorang anak berambut hitam dan seorang perempuan juga berambut hitam. Lalu aku juga melihat sebuah karavan dengan tulisan 'Nami'. Aku rasa mereka membawa Daimyou bersama mereka." pemilik Byakugan itu berkata semakin detail pada setiap apa yang dilihatnya, sedangkan Kakashi malas untuk mendengarnya.
"Hmm, berapa orang kira-kira jumlah mereka?" tanya Kakashi pura-pura tertarik.
Si pemilik Byakugan masih mempertahankan posisi tangannya yang membentuk segel macam. "Mari kita lihat.. Satu, sepuluh, lima puluh, ah! Seribu seratus tiga puluh enam!"
Kakashi menngangguk mengerti.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Sensor itu melepaskan segelnya dan mengembalikan matanya kembali rileks.
"Tetap berjalan. Biarkan saja mereka berjalan ke Konoha sendiri." ujarnya kalem dan melihat kedepan.
Si Hyuuga lantas kaget. "Eh? Ke Konoha?"
Kakashi menyadari kekagetan dalam suara Hyuuga ini. Ia lalu memutar kepalanya ke si Hyuuga. "Lho? Apa? Kau tahukan kalau semua desa dan negara kebanyakan sudah diduduki Orochimaru, kan?"
"Lalu?"
"Kenapa kau tidak menyimpulkan sendiri?"
Karena tidak mau meneruskan lebih lanjut, sang Hyuuga menunduk dan mencoba menyimpulkan sendiri. Berarti Orochimaru benar-benar kuat. Dia membuat rakyat Suna pergi ke Konoha dan dia juga mungkin ada dibalik para rakyat Nami yang pergi mengarah ke Konoha.
Sedangkan disatu sisi, Kakashi juga sedang memikirkan sesuatu.
"Kembali berjalan, kita masih harus menempuh jalan yang panjang." kata Kakashi santai.
Suatu tempat di negara Api
Kisaki Himuro, Ami Tsukihana, dan Nara Takashi, adalah tim Naruto. Mereka selama tiga tahun lebih berada dibawah bimbingan Naruto sebelum dia menjadi Hokage. Tim ini dikenal sebagai salah satu tim yang benar-benar memiliki kehebatan seperti tim Hiruzen, tim Minato, dan tim legendaris yaitu tim 7. Mereka termasuk bentuk tim offensif-defensif.
Mereka secara langsung ditugaskan sebagai penjaga Daimyou. Naruto benar-benar mempercayakan para Daimyou hanya kepada tiga orang Chuunin ini. Apa yang benar-benar membuatnya percaya pada timnya? Apa kekuatannya?
"Hei hei Himuro, guru itu menyebalkan." kata seorang Nara yang menaruh kedua tangannya dibelakang kepalanya sebagai sandaran.
"Hn." ujar si lelaki pirang dengan dinginnya. Entah kenapa ia mirip sekali dengan Sasuke. Dia dingin namun tidak pernah termakan oleh sifat gelap dan jahat seperti Sasuke. Dia benar-benar menghormati temannya dan gurunya.
"Jangan sok. Aku tahu kau juga lelah dengan hal ini." si Nara terus menggodanya sambil berbisik-bisik ke teman seperjuangannya.
"Kita tak punya pilihan lain."
"Heh." dia mendengus. "Kita bisa menolaknya sebenarnya saat itu." ia menaikkan bahunya juga tangannya. "Yah tapi apa mau dikata."
"Bahkan kau tidak bisa membantahnya, bagaimana juga kau mau menolak permintaan guru?" Himuro balik bertanya.
"Dia Bunshin ketika ia memberitahu kita. Jelas saja aku tidak mau berargumen melawan kloningannya." sekali lagi ia mendengus.
"Kau dan pembelaan dirimu." ia membalasnya dengan tajam dan menyeringai.
"Hei!"
"Jangan membela diri terus, Nara. Itu tidak baik." dan lagi, Himuro menyeringai ke temannya. Ia bisa melihat Takashi kesal dengan tingkahnya. Takashi selalu dianggap sebagai rivalnya dan begitu juga sebaliknya. Seolah panggilan, 'bodoh' dan 'brengsek' kembali turun ke tim Naruto.
"Brengsek." benar saja.
"Bodoh." keduanya saling menggumam satu sama lain dan semakin lama semakin menjadi seperti teriakan.
Keduanya masih bersahutan dengan penggilannya, hingga mereka menyadari satu temannya kurang dari timnya.
"Mana wanita Gorilla itu?" Takashi mendesis tajam. Ia memanggil Tsukihana dengan panggilan itu. Apa ada wanita yang terima dengan panggilan seperti itu? Sepertinya tidak, tapi Takashi benar-benar senang untuk memanggilnya dengan panggilan seperti itu.
"Bisakah kau berhenti memanggilnya Gorilla?" Himuro bertanya pelan. Lalu Takashi langsung menatapnya tajam dan menyipitkan matanya. "A-apa?!"
Takashi melihat seolah banyak tinta pink menghiasi pipi temannya. Ia semakin melihat ke pipinya yang semakin merona.
"A-apa?!"
"Oh," Takashi langsung membalikkan wajahnya menjauh dari pandangan Himuro lalu menaruh kedua tangannya dibelakang kepalanya. "Tidak. Tidak apa-apa." jauh dalam hatinya ia berpikir, kemungkinan semakin kecil.. Aku bisa melihat Himuro mulai menyukai Tsukihana. Dan aku tidak akan pernah bisa mendapatkan dia. Kisah cinta seperti ini akan berakhir pahit.
Himuro berkedut matanya. "Kau terlihat sedang termenung." itu tidak terdengar seperti pernyataan bukan juga pertanyaan.
"Aku? Pfft.. Yang benar saja." ia mengerucutkan bibirnya dan mengeluarkan angin sehingga membentuk suara seperti itu.
"Apakah ini.."
Belum sempat Himuro menyelesaikan pertanyaannya, Takashi langsung melesat memotong pertanyaannya. "Ini apa?" tanyanya balik sebelum ia ditanyakan. Ia sepertinya mengerti apa yang akan ditanyakan Himuro.
Sepertinya kau masih menyimpan ruang kosong untuk Tsukihana. Yah.. Jangan sampai Tsukihana telat menyadari apa yang ia rasakan seperti nyonya Namikaze. Heh, fan-girl.. Jelas ternyata Himuro tidak menaruh perasaan kepada temannya, dan tidak mungkin. Karena ia lebih menyayangi timnya ketimbang permasalahan hati.
"Oh Takashi, aku rasa Tsukihana sudah menunggu didalam kabin." Himuro menoleh ke belakang dan ia melihat ke arah kabin yang tidak layak disebut kabin. Kabin itu terlalu besar. Itu lebih mirip real estate ditengah hutan negara Api, Hino Kuni.
Wajah Takashi tampak pasif dan tidak terlalu mengindahkan apa yang dibilang temannya. "Oh, iya." ia menoleh dan kembali pasif.
"Kita tak boleh membuang waktu kalau begitu. Daimyou Hi no Kuni dan Kaze no Kuni sudah menunggu juga didalam." ujarnya tersenyum. Takashi tidak menoleh sama sekali tetapi mendengar apa yang didengarnya.
Apa yang aku pikirkan? Ini Himuro. Aku seharusnya senang jika mereka benar-benar saling suka. Aku tidak punyq hak untuk mengintervensi perasaan siapapun. Takashi menggeleng kepalanya secara spontan atas pemikirannya.
"Ada apa dengan lehermu? Menggeleng sendiri?" Himuro bertanya dan respon Nara hanya biasa dan kembali menggeleng.
Takashi mengambil satu langkah lebih awal saat Himuro terhenti dalam langkahnya. Menyadari Himuro berhenti, Takashi menoleh dan bertanya. "Jangan berhenti, pirang. Para Daimyou punya batas kesabaran yang relatif."
Si Nara itu.. Pasti dia memikirkan apa yang aku katakan tentang perempuannya. Himuro memandang temannya yang saling bertatap muka sambil berkeringat dingin. Ia memberinya senyuman yang dipaksa. Atau mungkin aku berpikir berlebihan?
"Hei ayolah!" Takashi masih menoleh ke arah temannya dan memasukkan kedua tangannya ke sakunya. Tipikal Nara. Walaupun bodoh dan banyak omong, gayanya masih malas seperti kebanyakan Nara biasanya.
"I-iya." Himuro yang membengong tersadar dengan ajakannya. Mereka berdua pergi kedalam kabin besar. Gaya arsitektur jepang masa Edo sangat kuat dan kental di setiap aspek bangunannya. Bangunan itu cukup besar, cukup besar untuk dibilang Kastil.
Ada dua orang yang berada di ruangan utama dengan sebuah meja yang memanjang dengan dua bangku utama saling berhadapan di ujung depan dan belakang, serta sisanya memenuhi spasi kosong antara dua bangku itu.
Dikedua bangku utama, salah satunya duduk seorang Daimyou dengan aksesoris mirip suku latin dengan gambar-gambar api di atasnya. Ia juga membawa kipas putihnya. Dia adalah Daimyou Hi no Kuni. Lalu di sudut berikutnya ada seorang Daimyou yang bisa dibilang, gempal. Ia memiliki kumis yang mirip ikan lele. Tentu ini adalah Daimyou dari Kaze no Kuni, yang baru datang bersama kawanan Suna.
"Ini saran terbaik Hokage?" tanya Daimyou yang gendut. Ia mengatakannya seolah merendahkan Hokage yang memberinya perlindungan.
"Iya. Dia memberi kita tiga ninja terbaiknya." jawab Daimyou Hi sambil memegangi kipasnya yang menutupi setengah wajahnya kecuali matanya.
"Tiga ninja? Apa tingkatan mereka? Jounin?" Daimyou itu bertanya sesumbar. Sebenarnya ia juga bertanya dengan maksud juga untuk memastikan bahwa jiwanya berada pada pengamanan yang benar-benar ampuh.
"Sayangnya Chuunin." lawan bicaranya menyeringai. Daimyou Kaze sempat ingin berteriak tidak senang atau tidak setuju dan tidak percaya bahwa Hokage hanya mengirim tiga Chuunin untuk menjaga kepala pemerintahan. "Tetapi jangan salah, tim Naruto terkenal akan tingkatannya sebagai Chuunin Elit, sedikit dibawah Jounin dan lebih tinggi diatas Chuunin biasa."
"Tunggu." Daimyou menyadari apa yang dikatakan Daimyou Hi, dia menyebut nama Hokage. "Apa maksudmu mereka dulu berada dibawah pengawasan Hokage?" ia menaikkan alisnya yang sedikit berkedut akibatnya.
"Persis seperti yang aku katakan." ia tertawa dan menutupi mulutnya lagi dengan kipas putihnya. Ia mengambil sebuah folder dan memberinya ke Daimyou yang lebih gendut darinya.
"Oh apa ini?" ia mengambil berkas kuning yang memiliki kover depan lambang Konoha. Tertulis, 'Catatan Tim Naruto.'
"Untuk meyakinkanmu bahwa tim yang dikirimnya bukan tim asal-asalan." lanjut Daimyou tua itu. Ia membiarkan teman sesama Daimyounya membaca catatan tim Naruto. Ia agak senang melihat sang Daimyou Kaze menaik turunkan alisnya serta melebar sempitkan pupil matanya. "Melihat sesuatu yang menarik, hah?"
"Catatan yang cukup menarik. Tertulis bahwa mereka memiliki bakat untuk mencari pemecahan masalah dengan solusi terbaik, tentu juga disebut kemampuan bertarung dan bertahan tiap individu di tim ini. Bisa dibilang tim ini tim elit."
"Lebih dari dua ratus misi tingkat D, lima puluh tiga misi tingkat C, empat puluhan misi tingkat B, dua puluhan misi tingkat A dan belasan bertingkat S." itu adalah benar-benar catatan yang impresif untuk tim Chuunin.
"Hmm, tapi Hokage itu, apa dia tidak terlalu berlebihan untuk hanya mempercayakan kediaman rahasia ini hanya kepada tiga orang? Apalagi Hokage sempat bilang bahwa beberapa Daimyou dan desa kecil lainnya sedang mencari perlindungan dari Orochimaru yang katanya telah menyerang mereka." katanya sambil membuka lembaran baru.
Itu cukup beralasan, ia berpikir sambil memikirkan juga apa yang akan ia katakan. "Yah aku juga agak terkejut, padahal saat perang lalu skuad untuk proteksi dan pengamanan Daimyou sendiri dipimpin oleh Mizukage sendiri. Tetapi aku rasa aku mengerti kenapa Hokage mengeluarkan jumlah pasukan yang sedikit."
"?" Daimyou Kaze lalu mengarahkan kepalanya ke arah Daimyou Hi seketika, ingin tahu hal itu tentu saja.
"Efisiensi."
Daimyou Kaze tidak terlalu terkesan dengan jawabannya. "Aku mengerti maksudmu. Hokage ingin Konoha tetap berdiri setelah perang ini berhasil, tetapi ia menggunakan jumlah pasukan dengan bijak dan bahkan jumlahnya aku yakin tidak sampai sepuluh ribu. Tetapi, bukankah ini adalah perang yang total. Kita tahu Orochimaru itu adalah tukang melawan hukum alam. Menghidupkan orang mati, ingin hidup selamanya di dunia dan menguasai semua Jutsu. Dia pasti merencanakan sesuatu yang lebih besar apa lagi dengan invasi ke Suna dan penyerangan desa dan negara lain."
"Aku setuju dengan apa yang kau utarakan dan aku rasa yang aku maksud dari efisiensi bukan pada pasukan, tetapi Hokagenya sendiri." Daimyou Hi melanjutkannya sambil menyipitkan mata seolah fokus pada satu titik.
"Apa intinya?"
"Intinya adalah, menurutku, peran dominan dalam perang kali ini adalah dari Hokage, bukan pasukan atau apapun." Daimyou Kaze menggaruk kepalanya belum mengerti. "Tampaknya kau masih belum mengerti, hah?"
"Bahasamu itu tipikal orang dari Hi no Kuni, berbelit-belit." ia tertawa ringan, meringankan sedikit suasana yang agak tegang.
"Hokage sekarang, Rokudaime Hokage, Namikaze Uzumaki Naruto adalah orang yang tidak mungkin membiarkan orang banyak mati dengan mudah. Untuk itu ia hanya mengirim sedikit pasukan dengan rata-rata memiliki kelas antara Chuunin dengan Jounin dan memiliki ranking antara B hingga S. Maka itu jumlah pasukan hanya sedikit. Kebanyakan ninja yang bertahan di Konoha adalah Genin dan bertingkat D hingga C."
"Jadi?"
"Sama seperti perang kemarin, dia akan menggunakan efisiensinya sendiri." Daimyou Kaze mulai mengerti apa yang dibicarakannya. "Dibanding dengan pasukan sebatalyon, sepeleton, atau sebanyak apapun, aku rasa mereka bukan tandingan Hokage. Maka dari itu, aku berhipotesis bahwa.."
Daimyou Hi belum selesai berbicara, langsung dipotong oleh Daimyou Kaze. "Dia akan menjadi efisiensi untuk pasukannya."
"Tepat sekali. Dan menurut rumor, usut punya usut, ada sebuah kekuatan tersembunyi dalam diri Rokudaime Hokage dan itu masih misteri." katanya menyeringai dibalik kipas putihmya lagi. Yap, dia belum tahu kekuatan aslinya.
"T-tetapi apa yang membuatmu yakin kalau dia akan menjadi pusat efisiensi pasukan Konoha? Dan bagaimana juga tentang kekuatan rahasianya?" ia bertanya dengan suara yang sedikit tergagap. Ia mencernanya sedikit mentah-mentah.
"Hokage yang satu ini disebut-sebut sebagai Hokage terhebat dalam sejarah Konoha setelah adanya Shodai. Dia berhasil melawan kekuatan Rinnegan Pein, Akatsuki, Edo Tensei dan Bijuu serta Juubi. Seluruh catatannya benar-benar luar biasa dan itu jelas menjawab pertanyaanmu yang pertama." jelas Daimyou Hi santai.
"Lalu bagaimana dengan pertanyaan kedua? Tidakkah kau ingin membagi rumor itu?" ia seolah menggodanya untuk memberikan informasi semacam itu.
"Oh, soal itu ini bukan kewenanganku untuk membicarakan hal ini. Ini adalah hak Hokage untuk memberitahu kebenaran tentang rumor ini iya atau tidak."
"Kau terdengar mengetahuinya. Apa telingaku yang bermasalah atau bukan, karena kau baru saja menyebutnya rumor dan sekarang kau benar-benar terdengar seperti mengetahuinya." tanya Daimyou yang memimpin negara Angin.
"Begitulah." jawabnya sederhana namun membuat Daimyou semakin ingin tahu.
Sring!
Sebuah kunai terbang menuju menuju Daimyou Kaze. Daimyou Hi tidak menyangka ini terjadi, serangan sudah dimulai. "A-apa?" Daimyou Hi berkata tergagap melihat pemandangan ini. Untungnya kunai itu tidak mengenai Daimyou Kaze.
"S-siapa itu!?"
Perlahan orang pelempar kunai mulai muncul dari kegelapan dibelakang Daimyou Hi. Sangat jelas sekali, itu adalah perbuatan Tsukihana.
"H-hey, apa yang kau pikirkan? Mencoba membunuhku?!" Daimyou Kaze menuduhnya keras. Ia berdiri dari tempat duduknya dan kembali menuduhnya. "Dipihak mana kau sebenarnya?"
"Oh, tuan Daimyou. Bukankah sudah jelas? Aku ini ninja Konoha jelas afiliasiku hanya kepada Konoha." katanya menyeringai. "Tapi bagaimana dengan anda? Chakra anda sungguh familiar sekali. Apa aku pernah bertemu dengan anda?" ia bertanya seraya mengambil dua kunai baru dari kantung kunai di saku pahanya.
"K-kita belum pernah bertemu. Melihat wajahmu saja aku tidak pernah!" nyatanya sambil menunjuk ke wajah Kunoichi dengan pembelaan diri yang memaksa.
"Che.." ia mengelap bibirnya dan malah mengambil lebih banyak kunai. "Masih belum mau mengaku?" ia mempersiapkan kuda-kuda bertarungnya.
"Tsukihana!" teriak Daimyou Hi keras. Ia menggebrak meja dan kembali menyentak. "Apa yang kau pikirkan? Kau baru saja melakukan percobaan pembunuhan kepada pemimpin negara! Kau bisa dipenjara atau didakwa!"
"Apa saja yang anda beberkan ke Daimyou ini?" tuduh Tsukihana masih dalam kuda-kudanya. Semua kunainya semakin mengarah ke Daimyou Kaze dengan penuh kecurigaan.
"Tsukihana!" Daimyou Hi terus berteriak ke arah Tsukihana sembari melihat antara si perempuan dan si Daimyou.
Lalu datang kedua temannya meloncat ke samping Daimyou Hi, Himuro dan Takashi. Himuro memilih memegang pedang sedangkan Takashi lebih menginginkan kunai standar sebagi senjata pilihannya. "Kau tidak akan bergerak kemana-mana, penipu."
"Cepat kemari, lepaskan semua senjata dan jalan perlahan ke arah kami dengan tangan ke atas!" Himuro menyuruhnya seperti standar protokol untuk menyerahkan diri.
"Apa-apaan ini?! Kalian mencoba menangkap Daimyou?" tanya Daimyou Hi marah. Sekarang tensinya benar-benar naik pitam. Pertama ia tidak tahu apa yang terjadi, dan kedua, sesuatu membuatnya syok karena Daimyou dituduh sesuatu yang tidak-tidak.
"Kita akan jelaskan nanti, tuan." jawab di pirang Himuro kalem. Ia menggerinda giginya dan lehernya mulai mengeluarkan keringat.
"Iya, tidak waktu untuk ini. Segalanya akan kami atur dari sini. Sekarang jika anda bersedia, tolong mundur perlahan, tuan Daimyou. Kami tidak mau anda terluka untuk saat ini. Rakyat masih membutuhkan seorang pemimpin."
Daimyou Hi tidak bergerak sedikit pun. Ia tidak mengindahkan perintah apa yang diminta oleh si jenius tapi bodoh, si Nara. Ia sepertinya akan beralasan untuk yang satu ini. "Tidak sebelum kalian menjelaskan situasi yang sebenarnya sedang terjadi sekarang!"
"Perlukah?" tanya si Nara sambil menaikkan kepalanya sedikit.
Beberapa saat sebelumnya
Saat itu, Himuro dan Takashi akhirnya menemukan Tsukihana. Mereka bertemu disebuah lorong yang cukup panjang untuk memasukkan sebuah bis. Tsukihana yang sedang melihat sekeliling dikagetkan dengan teriakan dari Nara.
"Zukizuki!" teriaknya dalam nada anak-anak seolah mengejeknya.
Tsukihana menunjukkan beberapa uratnya yang muncul di pelipis kirinya. Manusia itu.. Gumamnya dalam pikirannya sendiri. Ia menaikkan tangan kanannya yang terkepal kencang, dengan otot triseps yang siap meluruskan lengannya ke arah Nara.
"Hei Zukizuki, bukankah kau seharusnya diruangan utama bersama Daimyou?" tanyanya ingin tahu, masih dalam nada kekanak-kanakan.
Himuro diam saja melihat pemandangan seperti biasa, penuh dengan keceriaan dan kelucuan. "Untuk terakhir kalinya, baka.." ia menarik napas dalam. "Jangan panggil aku Zukizuki!"
Duagh!
Pukulan mautnya mulai mendekati dan menyetarai pukulan Sakura ke Naruto. "Dan menjawab pertanyaanmu, aku rasa insting naturalku membawaku ke kamar kecil." jawabnya sambil menepuk tangannya dan debu langsung bertebaran disekitaran telapak tangannya.
"Ugh.." ia merasakan rasa sakit yang luar biasa sakitnya, hingga ia mulai mendengar suara yang sama sepertinya, tetapi terdengar seperti seseorang yang sedang dibekap. "Kalian dengar itu?!" katanya langsung berdiri dan menaruh tangan kanannya dibelakang telinga kanannya mencoba untuk mendengarnya lebih jelas.
"Dengar apanya?" Himuro seperti biasa menunjukkan sikap datarnya dan berusaha untuk tetap keren dan menjaga penggambaran dirinya.
"Mungkin hantu yang kau dengar." wajahnya menggelap, seperti hanya sebuah sinar menyenteri dari bawah dagunya.
Membalasnya dengan cemoohan, Takashi malah semakin serius. "Aku tidak bercanda disini. Aku serius." Takashi seketika membuat teman setimnya merinding mendengarnya berubah serius. Takashi akan berubah serius jika ia fokus, dan jika ia serius, ia akan terlihat sangat mengerikan dalam beberapa hal tertentu.
"L-lalu apa?"
Takashi berdiam sejenak dan mulai mendengarkan arah dari suara misterius yang ia rasakan. "Mmf!" suaranya perlahan terdengar oleh orang lain yang bersama Takashi.
"Apa itu?!" nah sekarang Tsukihana benar-benar ketakutan karena ia memikirkan bahwa itu adalah hantu. "Takashi, apa itu?" tanpa sadar, ia sudah memeluk Himuro dan pipinya merona sesaat dan spontan langsung melepasnya. "Maaf."
Yah, lihat mereka. Sungguh cocok, aku memang tidak punya kesempatan lagi, ya? Benar kata Shikamaru, 'wanita itu memang merepotkan' sudahlah lebih baik aku fokus ke satu masalah ini. Ia tidak benar-benar menengok saat Tsukihana memeluk Himuro karena reflek, tetapi hanya mendelik sedikit dan tersenyum pahit. "Aku pikir kau tidak percaya soal tahayul seperti itu." ia menggertak sambil mencoba melemaskan suasana yang tegang dan canggung.
Himuro menengok menjauh dan mengedutkan bibirnya. "Tch, siapa juga? Sekarang bukankah kau harus menemukan sumber suaranya?" ia menyadarkannya untuk kembali ke alam fokusnya lagi dan kembali serius.
"Sedang kulakukan!" Takashi makin merasakan suara yang ia hampiri semakin dekat dan jelas. "Aha!" ia membuka sebuah ruangan yang terlihat dari pintunya juga kecil. Perlahan ia buka pintunya dan ia melihat seseorang bertubuh gempal dengan pakaian Daimyou namun kedua tangan dan kaki terikat serta mulutnya terlalkban.
"D-Daimyou!"
Sekarang ketiganya bersama Daimyou Hi bersiap untuk mengkonfrontasi yang melakukan Henge sebagai Daimyou Kaze. Daimyou Hi mulai mengerti situasi sekarang. Berjalan perlahan mundur dengan keringat yang menjalar dilehernya membawanya semakin dalam ke arena konfrontasi. Sekarang Daimyou asli sudah berada dibelakang Tsukihana.
"!"
Takashi, Himuro dan Tsukihana melebarkan bukaan matanya. Ia sadar saat itu juga, Daimyou palsu itu menghilang dan langsung membuat Kagebunshin, mengincar kedua Daimyou.
"Kalian bergerak, mereka mati." katanya menyeringai. Ia mengincar nadi leher dan ginjal dengan masing-masing tangannya.
"Ugh.." Daimyou Hi dan Kaze lalu hanya bisa terdiam ketakutan sambil sesekali mendelik ke arah Daimyou palsu yang menodongkan kunai.
Cepat sekali, mungkin cukup cepat untuk menghindari Kagemane, pikir Takashi menekuk mulutnya dan kunainya masih dipegangnya.
"Tuan Daimyou?!" teriak Tsukihana.
"Che, dari awal aku sudah mengatur semuanya. Aku pancing dia bicara, dia mengambil umpannya dan aku angkat hasilnya. Terlalu mudah. Hokage sepertinya salah untuk memberi kepercayaan kepada kalian. Apa lagi kalian hanya bertiga, apa yang membuatkalian yakin, kalian bisa menang melawan ninja sepertiku?" ejeknya.
"Tch, siapa kau? Kau sendiri tidak terlalu hebat dengan perawakan seperti itu." Takashi balik mengejek. Memang, ia meng-Henge dalam bentuk Daimyou Kaze, analoginya hanya membuatnya lebih buruk. "Tubuh besar yang merepotkan.." gumamnya.
"Siapa aku itu tidak penting." suara yang sama seperti Daimyou palsu mulai muncul dari kegelapan ujung ruangan. "Yang terpenting sekarang, ada informasi yang harus diberikan ke Orochimaru." ia berjalan mendekat dan semakin dekat memperlihatkan wajah aslinya.
"Jadi semua ini tentang informasi hah?" Himuro menegok ke arah Daimyou Hi dan Daimyou Hi terlihat mulai menunjukkan beberapa cairan terbentuk di matanya.
"Kita bertemu lagi nanti."
Orang itu langsung meloncat keluar dari jendela kaca. Sebelum ia sempat meloncat, Takashi padahal sudah menyiapkan segel tangannya dan mengeluarkan Jutsu untuk memanipulasi bayangannya, tetapi ia lebih cepat. Saat itu juga, mereka kehilangan satu rahasia yang cukup besar. Dan Bunshin yang meniru Daimyou Kaze langsung menghilang.
"Oh hebat, sekarang dia pergi. Dan dia sudah mengetahui tempat ini." Takashi berbalik arah dan memasukkan kedua tangannya.
Daimyou masih syok dengan keadaan dan seluruh badannya bergetar cukup hebat. "A-aku hampir terbunuh saat itu juga."
Himuro menghempaskan helaan napas dan Tsukihana langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Takashi yang melakukan segel tangan. "Apa yang kau lakukan?"
"Kuchiyose."
Puff
Yap, ia memanggil seekor kodok. Dan itu jelas sekali, itu adalah Gamakichi. Tapi kenapa? Karena ia dulu, saat ia berada dibawah Naruto bersama timnya, ia dianjurkan untuk menandatangani kontrak kodok, dan sekarang Gamakichi adalah salah satu pembantunya.
"Yo halo Takashi! Kenapa kau memanggilku? Aku pikir Naruto." ia melambaikan tangannya ke arah pemanggilnya dan pemanggilnya hanya memberi tampang todak peduli. "Oh!" ia melihat sekeliling dan melihat Tsukihana dan Himuro. "Hei hei, Zukizuki dan tuan sok keren!" ia mengatakannya seolah dia adalah Bee. "Dan salam tuan Daimyou!"
Takashi lalu mencoba menggunakan Kagemane, tetapi itu akan hanya membuatnya terrepotkan. "Oke Gamakichi, berhenti berbicara, sekarang aku ingin kau beritahu Hokage, bahwa baru saja seseorang menginfiltrasi tempat Daimyou. Bilang untuk berikan aku satu Sensor dan dua Medis serta tiga ninja lagi. Dan oh, sekalian minta agar dia mengirim tim penyergap, kemungkinan ia mengarah ke arah timur dari Konoha."
"Tunggu pelan-pelan. Biarkan aku mencerna informasimu, kawan." ia lalu duduk sila dan menaruh kedua telapak tangannya di kepala. "Jadi sekarang tempat ini disusupi?" Takashi dengan cepat mengangguk. "Dan kau mau aku menginformasikan ini ke Naruto dan kau juga meminta bantuan dalam bentuk satu Sensor, dua Medis serta tiga ninja?" Takashi mengangguk lagi. "Dan juga, kau meminta untuk mengirimkan tim penyergap untuk menangkap si penyusup? Dan asumsimu dia mengarah ke timur?"
"Hm.."
"Berarti itu Kiri?"
"Aku tidak bilang sih, tapi itu cukup untuk referensi bagi tim penyergap."
"Oke Takashi, sekarang aku mengerti! Sekarang, bisakah kau memberiku sesuatu yang bisa aku makan?" ia menunjuk mulutnya yang terbuka dan meminta dengan mata anak anjing yang menurut beberapa orang, menggemaskan.
"Kau akan mendapatkan yang kau mau jika kau selesai dengan permintaanku, sekarang pergi!" ia menyentak Kodok remaja itu.
"Iya, iya, sekarang bisakah kau berikan salam untuk teman-temanmu yanga disana?" Nara itu mengangguk dan mengambil Gamakichi dan melemparnya keluar jendela.
"Wee! Sampai jumpa!"
Sementara itu Tsukihana memandangnya jahat. "Kau pasti yang mengajarinya untuk memanggilku Zukizuki." kedua tangannya saling beradu satu sama lain bersiap untuk memukulnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau meminta medis? Kita tahu Tsukihana cukup handal untuk permasalahan medis." Himuro bertanya sembari memasukkan kembali katananya.
Takashi lalu menyeringai. "Percayalah, aku ini ketua dari kelompok ini dan aku tahu apa yang terbaik untuk kelompokku." nyatanya. "Dan perang akan terjadi dalam kurang dari dua puluh empat jam, sebaiknya kita bersiap."
Kembali bersama Naruto, dia masih bersama keenam Rikudounya. Tendou, Shuradou, Ningendou, Chikusousou, Gakidou, Jigokudou. Mereka semua berhadapan ke pusatnya Gedou. Siapa sosok Rikudou dari tiap tubuh itu kita tidak tahu. Mereka semua memakai topi petani. Dan dalam gelap, hanya Rinnegan milik mereka yang muncul di gelapnya ruangan itu.
Tok tok
Dari luar terdengar ketukan perlahan. Itu ketukan dari satu orang. "Siapa?" tanyanya berteriak dan tidak mematikan Rinnegannya.
"Aku, Hanabi dan Udon."
Suara itu berbeda sekali dengan sosok yang masuk ke kegelapan ruangan itu. "Konohamaru.. Hanabi.. Udon.." yap, suara tadi adalah tidak lain dari suara Sarutobi Konohamaru. Mereka masuk ke dalam bersama temannya, Udon dan.. uh.. pacarnya, Hyuuga Hanabi. "Kalian datang juga."
"Maaf kami terlambat, tuan Hokage." kata hanabi sambil menundukkan kepala serta badannya hingga sembilan puluh derajat dan diikuti Konohamaru serta Udon.
"Bos." Konohamaru memulai pembicaraan. "Apa kau kembali akan menggunakan kekuatan itu?" tanyanya sambil melihat Jigukudou. "Soalnya, agak aneh melihat orang yang mati kembali hidup, apa lagi dengan tindikan seperti itu."
"Oh." ia menyadari melihat ke arah Jigukudou. "A-aku mengerti. Aku bisa mengganti tubuhnya jika kau mau, Konohamaru. Aku tahu pasti itu membuatmu merasa terganggu." lanjutnya sambil melepaskan helaan napas yang panjang.
"Tidak, tidak. Aku akan dengan senang hati, kau bisa menggunakan mayat ini, tetapi hanya saja.. Melihat mereka tanpa ekspresi itu sedikit mengerikan." Konohamaru menyentuh-nyentuh tubuh Jigukudou dan benar, tidak ada ekspresi sama sekali atau respon.
"Jika kau berkata seperti itu, aku merasa tersalahkan." Naruto menunduk dan aura gelap serasa mengelilinginya.
"Maaf atas kelancangannya, tuan. Tetapi apa penduduk desa siap dengan ini? Maksudku, Rikudou Rokudaime, semuanya adalah orang yang sangat berarti bagi desa. Semua kritikan pasti akan benar-benar pedas, tuan." jelas Udon yang kini lebih mirip Ebisu, namun kacamatanya lebih modis dan tanpa kain yang menutupi kepalanya.
"Hm. Dilihat dari semuanya memang benar seperti yang dikatakan Udon. Tetapi kami akan tetap loyal terhadap anda, tuan." Hanabi setuju. Hanabi sekarang menjadi wanita yang benar-benar modis dengan setelan Jouninnya.
"Itu adalah satu hal yang aku sangat perhatikan. Tetapi jika penduduk menginginkan aku untuk mengganti tubuhnya, akan aku ganti dengan tubuh lain." ia melihat keenam Rikudounya sesaat matahari semakin masuk kedalam ruangan berventilasi satu itu.
"Kami mengerti." ketiga orang paling loyal kepada Hokage mengangguk dan berdiam diri. Mereka adalah sebenarnya pengawal pribadi dan lebih dari ANBU, mereka sangat tahu Hokagenya, maka tentu ia juga tahu soal kekuatan itu.
Rikudou perlahan membuka topi petaninya dan mulai memperlihatkan wajah asli mereka. "Tendou, Namikaze Minato. Gakidou, Senju Hashirama. Ningendou, Senju Tobirama. Jigokudou, Sarutobi Hiruzen. Chikusoudou, Uzumaki Kushina. Dan yang terakhir, Shuradou, Uzumaki Mito." ucap Naruto satu persatu menyebutkan identitas tiap Rikudounya.
Dan benar, Tendou memiliki rambut kuning, dan dia benar-benar Namikaze Minato, tak lain sebagai Hokage keempat, Yondaime Hokage. Dan juga tak lain sebagai ayah dari Naruto, si Rokudaime. Sekarang ia penuh dengan tindikan benda hitam, penerima chakra.
Begitu juga, Kushina dan Rikudou lainnya. Mereka semua memiliki tindikan namun memiliki pola berbeda. Dan dengan ini semua Rikudou milik Naruto memiliki ranking setingkat S dan semuanya Kage minus Kushina dan Mito yang setidaknya berpangkat Jounin elit.
"Orochimaru akan merasakan bagaimana ditendang bokongnya oleh lima Kage." Konohamaru menyeringai sedangkan Naruto diam mengangguk setuju tapi dengan wajah yang datar meski tersenyum melihat tingkahnya.
Cut! Chapter duapuluh selesai! Gimana? Agak kecepetan, ya ngumumin sosok-sosok Rikudou yang sebenarnya? Males banget soalnya kalo rombak ceritanya, soalnya udah sampai chapter tiga puluhan di penyimpanan.
Dan DeathCheater seneng sama review terakhir, tapi plis, jangan ada spam. Cerita ini pasti akan diupdate, tunggu aja tanggal mainnya, tenang aja, DeathCheater ga bakal discontinue cerita ini kok, soalnya semuanya sudah diperkirakan. Jadi jangan spam, tapi tetap review, tapi juga tetap review yang relevan, bukan spam, tapi tetap review, diapresiasi.
Oke, terakhir makasih juga yang support dan review kemarin, dan tolong juga tuangkan apa pemikiran kalian tentang chapter ini. Next chapter ga bakal menunggu lama kok, paling akhir weekend, oke?
Keep cool, im out
