Makasih banyak buat yang udah nyempetin review :D =
#D : iyaps ini lanjut, makasih banyak reviewnya ya
#Maehime : ufufufu ini fic rutin update per bulan kok XD kalopun maju ato mundur paling satu dua hari kukuku iya lah pan author sadis kalo ma sasu, kalo tachi mah disayang2 #plaak# iyaps keliatannya sih bakalan rampung nih fic setelah great war berakhir :3 sasuga anata desu. Btw makasih banyak semangatnya ya :D makasih banyak juga read and reviewnya.
#Guest : iyaps :D Obito. Semoga masih bisa dinikmati ceritanya. And thank you udah nunggu, ini update makasih banyak read and reviewnya ya…
.
Buat yang udah log in dibales lewat PM ya: raenegan, J'TrimFle, Shafiosia Prakasa, Fujiwara Kyousuke16, uzumakiey resty tafrijian, Shean Ren31, shin. sakura. 11, Suzuki Sora and Rivaille-chan.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 21: The Storm Strikes
.
.
.
Namaku Uchiha Sasuke.
Dan aku sedang melesat di atas medan pertempuran kastil Akatsuki. Aku sedang mencari pria bertopeng yang kulihat dalam kondisi setengah sadarku, orang yang kucurigai sebagai seorang Uchiha sama sepertiku. Dia muncul seperti tengah mengamati kondisiku, mungkin ada hubungannya dengan darah clan yang mengalir di nadiku, kira-kira apa lagi yang akan dia amati? Yang akan dia persiapkan? Apa dia kemari hanya untuk mengamati keadaan atau—…
Atau…
Aku berbelok ke arah kastil, merubah arah lariku. Chee! Pertempuran! Mau tidak mau aku melawan beberapa Namikaze saat mencoba mendekati kastil, tapi aku tak membunuh mereka, hanya melawan untuk membuka jalan. Keadaan dalam kastil senyap, kurasa belum ada Namikaze yang berhasil masuk. Sepertinya kekkai yang melindungi kastil lebih kuat daripada kekkai yang melindungi dimensi. Aku menuju bagian terdalam kastil, ada ruangan—atau malah tanpa ruang—di tengah kastil, seperti lubang besar yang menganga, aku tak pernah melihat apa yang ada di bawah sana karena terlalu gelap bahkan untuk mata vampire ku.
Aku berhenti di tepian pagar pembatas, menatap ke dasar lubang itu. Benar-benar gelap. Tapi aku mengambil taruhan ini, akupun melompat turun ke lubang itu, berada sedekat mungkin ke tembok dan menggunakan cakar serta kakiku untuk memperlambat laju jatuhku.
"Grrhh…!" erangku karena tanganku berdarah terkikis permukaan dinding. Aku jatuh lamaaaaaaaaa sekali, entah berapa dalam lubang ini. "Ghakk…!" akhirnya lututku menyentuh dasar, tubuhku ambruk karenanya. "Tch…!" decihku kesal dan bangkit, menatap sekeliling, gelap sekali. Aku membiasakan mataku, dan meski sedikit, akhirnya mata vampire ku bisa melihat sekeliling. Aku tersentak kaget saat pemandangan itu memasuki penglihatanku, di dinding-dinding ruangan ini ada jeruji yang sangat banyak jumlahnya, seperti penjara. Dan di seberang penjara terluar masih ada penjara lagi entah berapa banyak, dan di dalam tiap penjara ada sosok vampire dengan mata mengerikan.
Apa ini penjara Akatsuki? Tempat penghukuman bagi vampire yang melanggar batas? Mereka mendesis marah melihatku, tangan mereka menggapai-gapai keluar jeruji. Tubuh mereka sudah mirip kerangka, bisa kutebak mereka tak pernah meminum darah selama di penjarakan di sini. Aku meneguk ludah berat, ini bukan saatnya memikirkan mereka, aku melangkah menuju tengah ruangan. Tempat ini lumayan besar sampai aku tak bisa melihat sisi seberang saking gelapnya, aku melangkah hati-hati menuju sisi seberang, dan saat sudah melangkah cukup jauh, aku melihat sesosok pria berdiri membelakangiku. Ia menoleh lewat pundaknya, memperlihatkan wajah bertopengnya.
"Tak kusangka kau menemukanku di sini," ucapnya.
"Yeah, tebakan beruntung," ucapku. "Aku hanya berpikir kau sudah meneleport semuanya supaya tepat waktu, yang artinya kau sudah ada di tempat ini," aku menatap jauh ke hadapan pria bertopeng itu, samar kulihat sosok yang sangat besar, seukuran Shodaime. Sosok itu terduduk tak bergerak, tubuhnya berwarna putih, terlihat sangat rapuh seperti batu kapur yang siap hancur, di sekujur tubuhnya tertancap slang-slang kecil mengalirkan cairan berwarna merah ke tangki besar yang terletak tak jauh darinya. "Dimana nii-san?" tanyaku.
Ia tak menjawab, hanya kembali menolehkan kepalanya ke depan, yang artinya aku akan menemukannya kalau memperhatikan baik-baik. Akupun menatap sekeliling dan menemukan Kyuubi di dalam cell sebelah kiri sosok fosil itu, dan aku berhasil menemukan aniki di cell sebelah kanannya. Mereka berdua dalam keadaan tak sadar, dan vampire penghuni cell itu sudah terpenggal kepalanya. Sambil terus memerhatikan pria bertopeng itu, perlahan aku menghampiri cell tempat aniki berada. Pria bertopeng itu tak melakukan apa-apa.
"Nii-san," panggilku, meraih pundaknya, mencoba membangunkan meski tak ada hasil.
"Tunggulah di sini, pertunjukan utamanya tak akan lama lagi," ucap pria itu. "Akan kubawakan satu kartu terakhir."
Deg…!
Apa? Jangan bilang dia memang sudah memprediksikan aku akan ke sini? Ia memang berniat mengurungku di sini sejak awal? Kuso! Aku mempermudah pekerjaannya.
"Tunggu," ucapku. Mungkin tak ada gunanya, tapi aku ingin memastikan. "Apa kau seorang Uchiha?" tanyaku.
"…" tak langsung menjawab, ia menoleh ke arahku, menyalakan mata vampire nya yang memiliki pola tiga koma. "Yeah," jawabnya. "Termasuk kakek tua itu juga, Madara Uchiha," ia menunjuk fosil raksasa itu dengan kepalanya.
"Para Namikaze memaksa kalian melakukan ini?"
"…sa~" ucapnya lalu menghilang ke dalam pusaran udara, lenyap begitu saja. Setelah ia pergi aku mencoba melompat naik tapi tak bisa, berarti dugaanku benar kalau aku sekarang sudah ditahan di sini. Chee, masuk ke dalam perangkap dengan senang hati. Tak berapa lama pria itu kembali dengan membawa Naruto di tangannya.
"Kuso! Lepas!" Naruto meronta dan orang itu mengabulkan, membiarkan Naruto tersungkur.
"Tunggulah dengan tenang," ucap pria bertopeng itu dan kembali lenyap.
"Kuso…!" umpat Naruto. Ia hanya duduk di tempat, melihat sekeliling. Meski aku taruhan dia tak bisa melihat apapun sehingga ia memilih diam di tempat. Ia ganti memeluk lututnya dengan tubuh bergetar halus, rengekannya terdengar seperti tangisan. Aku menghela nafas lelah setelah cukup lama melihatnya diam dan meringkuk ketakutan.
"Dobe," panggilku. Ia langsung mengangkat kepalanya, menatap ke arahku tapi lalu menatap sekeliling seolah memastikan pendengarannya.
"Teme…?" panggilnya lirih dan mencoba berdiri. "Sasuke kau juga di sini? Kau bisa melihatku?" ia berdiri, menatap sekeliling tanpa arah yang jelas. Cih! Mau tidak mau akupun melesat ke arahnya dan membawanya mendekat ke tepi dinding, dekat dengan cell aniki. "Kenapa tidak bilang kau ada di sini? Aku takut sekali," ucapnya sambil mengusap matanya yang basah.
"…" aku tak menjawab.
"Ne~ Sasuke, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa kita dikurung di sini di tengah peperangan?"
"Urusai," kesalku. Apa dia tidak bisa diam?
"Tapi aku lebih takut lagi kalau diam saja. Aku tak bisa melihat apa-apa bahkan kau yang ada di hadapanku sekalipun. Terus suara mendesis itu apa Sasuke? Menyeramkan sekali."
"Mereka vampire," aku menyerah juga pada kecerewetannya.
"Mereka ada di sini? Bersama kita?" paniknya.
"Yeah. Dan Kyuubi juga."
"Kyuu-nii! Dimana dia?"
"Diamlah. Lagipula tidak ada yang bisa kau lakukan untuknya!"
"…" ia bungkam, tapi tentu saja tak lama sampai ia mengoceh lagi. "Aku tidak mengerti Teme, kalau aku dan Kyuu-nii yang ditahan sih tidak masalah. Tapi kenapa kau juga?"
"…" alisku bertaut mendengar penuturannya. "Apa maksudmu Dobe?"
"Ano sa, kau tidak tahu? Orang yang membawaku ke sini adalah seorang Uchiha. Nagato-san memanggilnya Obito Uchiha saat dia membawaku pergi dari Nagato-san. Apa mereka bekerja sama? Atau Nagato-san diancam supaya menyerahkanku? Chee, tapi kelihatannya dia tidak keberatan Obito membawaku pergi."
Heeh, pada akhirnya aku tak mendapatkan info baru.
"Ngomong-ngomong apa Itachi-san juga ada di sini?" ocehnya lagi.
"Yeah," jawabku malas. "Dan satu fosil Uchiha berukuran raksasa."
"Sebesar Shodaime?"
"Ya."
Naruto menelan ludah berat.
"Kau tahu soal dia?" tanyaku.
"Ng…tidak juga," jawabnya yang membuatku tambah kesal. "Pernah melihat sekali saat mereka mengadakan ritual entah apa untukku dan Kyuu-nii."
Nah, ini baru membuatku tertarik. "Ritual?" tanyaku.
"Yeah, aku tidak tahu detailnya, tapi aku dan Kyuu-nii diletakkan di tengah ruangan dengan lantai bergambar segel dan tulisan entah apa. Tidak ada yang memberitahuku itu untuk apa, hanya Tou-san yang menenangkanku sambil mengatakan tidak apa-apa, aku dan Kyuu-nii akan kembali seperti semula setelah perang berakhir. Dan kejadian selama ritual tak bisa kuingat lagi."
"Apa setelah itu kau mendapatkan kekuatan atau semacamnya?" tebakku.
"Err…aku tidak merasa ada yang berbeda. Tapi kadang banyak kejadian yang tak bisa kujelaskan, aku pernah terbangun dengan kamar berantakan dan semuanya hancur—dalam artian sebenarnya—atau bahkan lingkungan sekitar rumah," jelas Naruto. Ah, sudah kuduga. Mungkin sama seperti saat dia menolongku saat pertarunganku dengan Sandaime.
"Bagaimana dengan Kyuubi?" tanyaku.
Naruto menggeleng. "Entah, yang jelas dia selalu ada di dekatku dalam keadaan pingsan setiap kali aku bangun dengan lingkungan hancur. Aku takut aku yang menyerangnya, tapi ia tak terluka sama sekali."
"…" berarti kekuatan Naruto terhubung dengan Kyuubi. Sandaime juga terkejut saat Naruto bisa menggunakan kekuatannya meski tak ada Kyuubi, meski sekarang masuk akal karena ternyata Kyuubi ada di dimensi ini. Tapi apa artinya para petinggi Namikaze itu tak mengetahui kalau Obito sudah memindahkan semuanya kesini? Atau karena memang kekkai pelindung kastil yang terlalu kuat sampai mereka tak menyadari?
"Sssaaaaaa…!" aku berjengit kaget saat desisan para vampire di cell semakin menggila, mereka seperti serigala yang tiba-tiba melolong.
"Apa yang sebenarnya terjadi," ucapku dan melihat sekeliling ke mata-mata buas mereka.
"Sasuke," panggil Naruto, ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan tangannya meraba tubuhku, meraih pundakku lalu wajahku. "Kuharap ini bukan yang terakhir tapi…" ucapnya lalu mencium bibirku beberapa saat. "…entahlah, aku takut ini yang terakhir. Semoga saja tidak," ia mencoba tersenyum.
Zeess…!
Obito muncul kembali dari pusaran udara. "Sudah waktunya," ucapnya. Ia menghampiri cell aniki dan mengeluarkannya, membiarkannya ambruk di dekatku.
"Nii-san!" panggilku dan memapahnya. Obito lalu menghampiri cell Kyuubi, mengeluarkan Kyuubi dari sana dan menyeretnya ke arah kami. Ia lalu menghampiri Madara, mencabut seluruh slang dari tubuh rapuh Madara dan membiarkan tubuh itu ambruk. Tubuhnya terbelah dua dari perut ke kepala dan perut ke bawah, tangan kirinya hancur sesiku karena menahan ambruknya tubuh bagian atas. Obito lalu kembali melangkah ke hadapan kami, menatap kami dengan mata berkilat. Ia menyedot kami ke dalam pusaran udara, detik berikutnya kami berada di atas benda berbentuk persegi panjang berwarna pucat, seluruh dimensi ini terdiri dari benda itu. Obito tak ada bersama kami, tapi tak berapa lama ia muncul dan kembali meneleport kami, kali ini ke dunia luar, ke tengah pertempuran.
Gasp…!
Aku dan Naruto hanya bisa terkesiap, kami berada di tengah kubu vampire dan Namikaze. Kulihat Pain berdiri di atas lututnya sambil satu lengan memegangi lengan lainnya, tubuhnya penuh luka. Baru kali ini kulihat leader Akatsuki itu separah ini. Tapi pihak lawan juga tak jauh beda. Kedua makhluk raksasa Namikaze tampak terluka parah, yang ber-armor biru bahkan kehilangan lengan kanannya sampai ke siku.
"Sudahlah, hentikan perlawanan sia-sia kalian. Ini kartu As kami, kalau kalian menurut mungkin kematian kalian akan cepat," ucap raksasa ber-armor merah.
"…" tak ada jawaban dari pihak vampire, tidak dari Pain atau siapapun.
"Obito, segera aktifkan," ucap raksasa itu lagi. Dan detik berikutnya Pain memberikan komando yang membuatku membelalakkan mata.
"Bunuh mereka ber-lima," ucapnya dengan tatapan dingin—berlima! Apa itu artinya aku dan aniki termasuk!? Dia gila! Err…tapi, well, mungkin daripada kami jatuh ke tangan musuh dan menambah buruk keadaan, mungkin itu yang terbaik. Meski mendengarnya sendiri dari mulut Pain tetap saja terasa…—detik berikutnya pasukan vampire menyerbu ke arah kami dengan tatapan membunuh—termasuk anggota Akatsuki yang sudah semuanya berkumpul—dan kubu Namikaze juga menyerbu ke arah kami untuk mencegah para vampire menyentuh kami, sementara Obito sudah menjulurkan tangannya di depan wajah Naruto.
Panik karena ingin melindungi Itachi-nii, aku malah mengaktifkan Amaterasu dan membakar sekelilingku membentuk lingkaran, mengurung kami berlima. Para vampire dan Namikaze langsung menghentikan langkah mereka pastinya, tapi tentu saja itu kesempatan bagi Obito untuk melanjutkan apapun yang tengah dilakukannya.
"Kai," ucap Obito dan detik berikutnya segel dan tulisan hitam muncul di tanah di bawah kami, menyala merah beberapa saat lalu menghilang.
Gasp…!
Naruto tersengal, ia seperi tercekik. Matanya terbuka lebar dan tubuhnya mengejang, begitu juga tubuh Kyuubi. Namikaze setengah vampire itu membuka matanya dalam keadaan sama seperti Naruto, tapi lalu tubuhnya yang terbaring kini terangkat ke udara.
"Aaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrggggghhhhhh…..!" jerit keduanya. Ledakan besar terjadi, asap tebal dan cahaya yang membutakan mata muncul menghapus semua pemandangan yang ada, dan saat cahaya itu meredup, seekor rubah berekor Sembilan berukuran super super super besar muncul secara tiba-tiba.
"GROOAAAAAAA…!" raung rubah itu dan menggetarkan seluruh permukaan udara. Awan hitam yang selalu menggantung di langit Akatsuki kini berkumpul dan membentuk pusaran di atas kepalanya. Aku memerhatikan puncak kepala rubah ini dan terkejut saat melihat Naruto ada di sana, tubuh bawahnya terbenam di kepala si rubah, seolah menyatu. Apa rubah ini Kyuubi? Apa kini Naruto mengendalikannya di luar kesadaran?
Apapun itu aku harus segera menyingkir dari sini. Aku memapah Itachi-nii, tapi sebelum sempat bangun, lututku sudah harus kembali menubruk bumi.
"Ghhh…!" tiba-tiba segel dan tulisan seperti sebelumnya kembali muncul, tapi kali ini merayap ke tubuhku dan tubuh aniki sebelum menghilang. Detik berikutnya tubuhku terasa sangat nyeri, bahkan aniki sampai terbangun karena nya, seluruh pembuluh darahku seolah dipelintir supaya darahku mengalir keluar. Benar saja, darahku mengalir ke tanah lewat segel-segel itu. Dari arah lain aku juga melihat hal yang sama, ah, jangan bilang mereka berasal dari tangki darah yang menampung darah Madara!
"Aaaarrghhhh!" jeritku kesakitan. Awan di atas sana sudah membentuk awan badai dan kini halilintar menyambar di mana-mana, menghancurkan setiap tempat yang disentuhnya. Kyuubi juga masih mengaum dan menyabetkan ekor semaunya, membunuh tanpa ampun siapapun yang tak sempat menghindar baik vampire maupun Namikaze. Tiba-tiba darah yang mengalir di segel-segel itu mencuat ke angkasa, seolah ditarik oleh gravitas yang sangat mendadak. Mereka membentuk pilar pilar tipis berwarna merah yang akhirnya menghilang setelah semua darah terkuras.
Tubuhku ambruk. Aku tersengal sambil mencoba meraih aniki, apa kami akan mati? Setidaknya aku ingin bisa menyentuhnya sebelum itu terjadi. Aku berhasil meraih tangannya, ia memutar kepalanya ke arahku, menatapku dengan tatapan mati.
"Sa…su…ke…" ia menggumam lirih. Aku tak bisa membalas panggilannya, aku hampir tak punya tenaga sekedar untuk berkedip.
Tes…
Sesuatu membasahi pipiku, tetesan hujan. Awalnya tak begitu deras, tapi beberapa detik berikutnya menjadi sangat deras. Dan aku baru menyadari kalau tetesan yang jatuh berwarna merah. Apa itu darah kami yang tadi mengangkasa? Kini turun sebagai hujan?
"Aaarrgghhh…!" aku mendengar jeritan di mana-mana, dari ujung mataku bisa kulihat pasukan vampire lah yang menjerit. Ah, tentu saja, ini darah Uchiha. Mereka lemah terhadap senjata yang dilumuri darah Uchiha, bagaimana kalau darahnya langsung? Chee, jadi ini yang dimaksud menghabisi sekaligus. Sementara di pihak Namikaze kulihat mereka tak mengerang, hanya saja cahaya crimson di mata mereka meredup, apa itu artinya mereka sudah kembali menjadi manusia normal dan bukannya setengah vampire lagi? Cih! Ini tidak adil! Kenapa hanya bangsa vampire yang harus mati!
"Kyuubi, hancurkan mereka sampai tak tersisa walau tulang sekalipun," kudengar seseorang mengomando, entah Shodaime atau Nidaime. Moncong Kyuubi terbuka lebar, benda berwarna hitam dengan warna orange meletup-letup seperti air mendidih terkumpul di depannya, Kyuubi menembakkan benda itu, menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Chikuso…apa tidak ada yang bisa kulakukan? Apa semua akan benar-benar berakhir sampai di sini?
Well, aku bukan penggemar bangsaku sendiri, tapi ini tetap saja menyakitkan. Bagaimana dengan para vampire tak bersalah? Mereka yang hanya menjadi korban takdir yang tak mereka inginkan. Bagaimana dengan Kimimaro? Apa dia selamat? Apa dia juga tengah kesakitan seperti yang lainnya?
Tap…
Seseorang mendarat di sampingku, aku berusaha menatap wajahnya, pandanganku yang buram bisa menangkap sosok bertopeng. Obito. Satu sosok lagi menghampiri kami dengan tertatih, Pain. Ia tak menjerit, tapi jelas sekali ia kesakitan.
"Jangan coba-coba menyentuhnya," ucap Pain. Obito tak menjawab, dan ia mengacuhkan ucapan Pain. Ia berjongkok di samping aniki, memapahnya, lalu mendekatkan nadinya ke mulut aniki.
"Sebaiknya ingatanmu sudah kembali," ucap Obito yang mengiris nadinya dan mengalirkan darah ke mulut aniki. Aniki minum beberapa lama hingga ia kembali mendapatkan tenaganya, ia bisa duduk dan mencoba menggerakkan kedua tangannya. Tanpa kata aniki menatap Obito dan menunjukku dengan wajahnya, dan tanpa jawaban juga, Obito mendekatiku dan meminumkan darahnya padaku. Rasanya nikmat sekali saat tetes demi tetes darah menyentuh lidahku, melewati tenggorokanku, tapi aku tidak punya cukup tenaga untuk meminumnya dengan rakus, jadi aku pasrah saja dengan jumlah darah yang Obito berikan padaku. Kesadaranku mulai pulih dan tenagaku juga mulai kembali, aku masih meminum darah Obito saat Pain mendekati aniki dan meraih wajahnya. Leader bangsa vampire itu tersenyum di tengah kesakitannya.
"Kau baik saja?" ucapnya lirih. Aniki mengangguk lalu menurunkan bajunya, membiarkan ceruk lehernya terbuka.
"Minumlah," ucap aniki dan menarik Pain ke dalam pelukannya.
Aku melihat alis Obito bertaut. "Itu tidak ada dalam perjanjian," ucapnya.
"Aku masih membutuhkannya," balas aniki. "Minumlah," ulang aniki. Aku menyudahi minumku dan kini hanya menatap Pain yang dengan perlahan menembus leher aniki dengan taringnya. Beberapa detik kemudian matanya terbelalak, ia tampak kesakitan. "Ssh shh shh, tahanlah. Sakitnya tidak akan lama," aniki menenangkan Pain dan tetap memeluknya, tak peduli kini Pain menghujamkan kukunya ke punggung aniki karena menahan sakit.
Ah, benar juga. Pain bukan Uchiha, dan terkena darah Uchiha saja dia sudah kesakitan. Bagaimana kalau dia meminumnya? Aku tidak mengerti, tapi sepertinya Itachi-nii lebih paham jadi aku tak angkat bicara sama sekali.
"Apa kau sudah selesai? Aku tidak yakin bisa mempertahankan kekkai nya lebih lama lagi," ucap Obito. Aku menatapnya lalu menatap sekitarku, aku baru sadar kalau tempat kami berada begitu tenang, sangat aneh karena Kyuubi tengah mengamuk tak jauh dari kami. Pantas saja, rupanya Obito melindungi kami dengan kekkai.
"Yeah," ucap Itachi-nii. Pain sudah melepaskan taringnya, ia terlihat lemah sekali dan bahkan tubuhnya ambruk. "Tenanglah, perlu beberapa waktu supaya tubuhmu menyesuaikan," ia membaringkan Pain lalu berdiri. Ia membuat beberapa segel aneh di tangannya dan beberapa saat kemudian kekkai di sekeliling kami berpendar beberapa detik.
"Kenapa kau malah memperkuat kekkai nya?" ucap Obito.
"Sasuke dan Pain belum bisa melindungi diri mereka sendiri, mulai dari sini aku bergerak sendiri, kau lindungi mereka," Itachi-nii melangkah keluar kekkai.
"Apa? Jangan bercanda!" bentak Obito, ia mencoba keluar kekkai tapi tak bisa. "Teme! Apa yang kau rencanakan?"
Itachi-nii hanya menatap lewat pundaknya. "Negosiasi," ucapnya lalu lenyap. Detik berikutnya aku melihat ia berdiri di hadapan Kyuubi, monster itu menatap marah padanya, kembali mengumpulkan benda berwarna hitam orange di mulutnya dan siap di tembakkan, tapi aniki sudah menyelesaikan segel di tangannya dan kini ia menapakkan tangannya ke bumi. Detik berikutnya tubuh raksasa Kyuubi ambruk, ada rantai yang lebih mirip tattoo membelenggu tubuhnya. Meski mencoba bangun, Kyuubi hanya bisa meraung, dan Naruto juga hanya melakukan hal yang sama.
"Uchiha brengsek, apa yang kau lakukan!" ucap Namikaze raksasa berarmor biru.
"Tenang saja, Nidaime. Aku tak menyakiti mereka," jawab aniki lalu kembali melesat pergi. Kali ini aku tak melihatnya di manapun. Saat aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, yang kulihat hanyalah para Namikaze yang terluka dan tubuh para vampire yang ambruk setelah hujan darah kami yang telah berhenti beberapa waktu yang lalu.
Gasp…!
Aku terkesiap saat tiba-tiba raksasa Namikaze berarmor merah yang pastinya adalah Shodaime kini tiba-tiba ada di hadapan kami.
"Obito-kun, kupikir tidak begitu rencananya," ucapnya. Suaranya menggelegar di telingaku.
"Bukan salahku. Dia bergerak semaunya sendiri," jawab Obito.
"Jangan berdalih," Nidaime tiba-tiba saja juga sudah berada di dekat kami. "Untuk memulihkannya juga bukan bagian dari rencana. Seharusnya kita menghabisi semua vampire malam ini."
"Tapi dia seorang Uchiha," bantah Obito.
"Tidak peduli. Intinya seluruh bangsa vampire harus dihancurkan!"
Mata Obito memicing. "Ah, jadi malam ini kalian juga akan membunuhku?"
"…" baik Shodaimu maupun Nidaime tak menjawab.
"Chee, so much for let me to be the only Uchiha left," cibir Obito.
"…" keduanya masih diam, tapi lalu Nidaime meraih pedangnya. "Kalau Uchiha musnah, tidak akan ada lagi vampire entah itu darah murni atau darah campuran. Dan ya, sejak awal kami memang bermaksud membunuhmu bersama para vampire lainnya," ucap Nidaime lalu mengayunkan pedangnya ke arah kami. Tapi pedangnya lalu tertahan oleh kekkai yang dipasang aniki. "Tidak mungkin," Nidaime tampak terkejut. "Bagaimana mungkin pedangku tidak bisa menembus kekkai ini!"
"Entahlah, bukan aku yang memasangnya. Mungkin kau harus menanyakannya pada Itachi," cibir Obito. "Dan aku baru ingat kalau dia baru saja menghilang entah kemana. Berharap saja dia tidak sedang mengunci dimensi ini dari luar dan mengurung kalian di sini selamanya."
Shodaime dan Nidaime tampak terbelalak, mereka lalu melesat pergi dan mengomando bawahannya yang masih bisa bergerak untuk mengecheck pintu keluar dimensi. Perhatian mereka teralihkan, aku menatap Kyuubi yang ukurannya semakin menyusut. Sekarang mungkin hanya dua kali besar singa, perlahan tubuhnya menyusut menjadi tubuh manusia, tubuh Naruto juga terpisah darinya. Tapi karena itulah aku juga bisa melihat segel yang mengekang tubuh mereka tampak melonggar. Mata Obito tampak mengawasi mereka dengan tajam.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyaku.
"Mungkin menyandera mereka untuk berada di pihak kita," ucap Obito. "Itupun kalau mereka cukup gila untuk tidak menolak. Mereka bisa saja berubah kembali dan malah membunuh kita dalam sedetik."
"Tenang saja, mereka gila," ucapku dan melesat keluar kekkai.
"Ap—…" Obito tampak terbelalak menatapku keluar kekkai dengan mudah sementara ia tak bisa. Mungkin karena sudah bersama aniki seumur hidupku aku bisa mengerti pemikirannya. Dia mempercayaiku. Dan dia percaya aku bisa melakukan hal yang benar.
Perhatian pasukan Namikaze masih teralihkan, dengan cepat aku melesat ke arah Kyuubi dan Naruto, membopong mereka, lalu dengan kecepatan yang sama membawa mereka ke dalam kekkai dimana Obito dan Pain berada.
"Kyuubi, Naruto," aku mencoba membangunkan mereka.
"Sasu…ke…" Naruto berhasil membuka matanya. "Sasuke…"
"Hei kau bisa bangun?" aku memapah kepalanya. Tak berapa lama Kyuubi juga membuka mata. "Sekarang apa?" tanyaku pada Obito.
"Mungkin kau harus membuat Naruto menjadi setengah vampire," ucap Obito.
"Apa?"
"Naruto bisa memegang kekuatan itu karena dia darah murni, kalau dia menjadi setengah vampire seperti Kyuubi, mereka tidak akan bisa berubah lagi."
"Baiklah, bagaimana cara mengubahnya menjadi setengah vampire? Meminumkan darahku padanya?"
"Ya. lalu—…"
"Jangan bercanda! Uhuk…" potong Kyuubi. Meski tampak kesakitan ia berusaha bangkit. "Kami akan membunuh kalian semua, karena itulah aku dan Naruto tidak boleh kehilangan kekuatan kami. Jadi jangan harap aku akan membiarkan kalian melenyapkan kekuatan kami!"
"Coba saja, memangnya kau bisa apa di kondisimu sekarang," balas Obito.
"Jangan remehkan aku Uchiha. Aku bisa—…"
"Aku mau," potong Naruto. "Aku mau…menjadi setengah vampire."
"Naruto! Tunggu!" cegah Kyuubi. "Mereka ingin membunuh seluruh clan Namikaze! Kalau kekuatan kita lenyap, kita tidak bisa melawan mereka!"
"Huh!" Naruto sedikit terbelalak.
"Itu benar Naruto!" tambah Kyuubi. "Sejak awal aku sudah curiga pada Obito, bagaimana mungkin seorang Uchiha mau membantu kita untuk melenyapkan bangsanya sendiri, meski alasan dia untuk melenyapkan vampire darah campuran. Aku tahu dari Tou-san baru-baru ini, kalau tujuan dia selain melakukan itu juga sekaligus melenyapkan clan kita."
"Huh? Memangnya apa yang salah dari itu?" ucap Obito dingin. "Tujuanku memang melenyapkan vampire darah campuran, tapi tidak ada alasan juga bagiku untuk membiarkan kalian Namikaze hidup."
Kyuubi hanya menggeram marah menatap Obito.
"Apa Nii-san juga berada di pihak yang sama denganmu?" tanyaku pada Obito.
"Ah, tentu saja. Sebelum ingatan kalian disegel, Itachi bahkan sudah cukup dewasa untuk kami ajak kerja sama di luar sepengetahuan orang tua kalian. Atau bisa dibilang, orang tua kalian bahkan tidak tahu keberadaan kami."
"Kami?"
"Yeah, aku dan Uchiha Madara. Yang Uchiha tahu hanyalah bahwa Madara telah ditangkap dan dibunuh, setelah itu clan Uchiha juga punah, hanya menyisakan beberapa yang akhirnya mati di tangan hunter. Orang tua kalian hanya cukup beruntung tidak dibunuh secepatnya, dan itu juga karena Itachi yang menyembunyikan mereka."
"Jadi sejak awal ini bahkan sudah rencana aniki eh," ucapku.
"Ya, terlebih sekarang ingatannya sudah kembali. Dia pasti sudah ingat tujuan kami semula."
"Cukup masuk akal bagiku," ucapku dan mengiris nadiku. "Minum," perintahku pada Naruto yang kini tampak ragu-ragu.
"A-apa kau akan membunuh semuanya setelah ini?" ucap Naruto. "Termasuk orang tuaku juga?"
"Tentu saja," jawabku jujur.
Naruto mengeratkan giginya. "Kalau begitu aku tidak ma—…hmph…" tapi aku memaksakan pergelangan tanganku masuk ke mulutnya.
"Naruto!" Kyuubi berusaha menghentikanku tapi Obito menahannya.
"Mmphh…mmhh…" Naruto meronta, tapi tetap saja aku lebih kuat. Apalagi karena aku telah meminum darah Obito, itu artinya aku sudah kembali menjadi vampire darah murni kan?
"Sebaiknya kau pikir baik-baik Naruto," ucapku. "Kalian menghabisi bangsa vampire, sebaiknya kalian juga bersiap untuk kepunahan clan kalian sendiri. Kalau vampire sudah tidak ada, begitu juga hunter harus lenyap. Itu cukup adil."
"Lalu bagaimana denganmu! Kau sendiri vampire, brengsek!" ucap Kyuubi. "Dan aku yakin kalian tidak berpikir untuk bunuh diri setelah semua Namikaze mati!"
"Tenang saja, kami tidak akan berurusan dengan dunia depan setelahnya. Kami juga tidak akan lagi mengubah manusia menjadi vampire supaya tak ada lagi darah campuran. Bukannya itu sudah cukup bagus," balas Obito.
"Nah, kau dengar sendiri. Jadi minumlah," aku memaksakan darahku mengalir ke tenggorokan Naruto. Ia tersedak, tapi aku tidak peduli.
"Narutooo!" Kyuubi masih berusaha memberontak meski sia-sia. "Hentikan brengsek! Itu semua hanya omong kosong kalian! Apanya yang tidak akan berurusan dengan dunia depan! Kalian tetap butuh darah manusia untuk tetap hidup! Suatu hari entah berapa puluh ribu tahun dari sekarang kalian pada akhirnya akan mengubah orang lain menjadi vampire!"
Aku menghentikan gerakanku saat mendengar penuturan Kyuubi, aku menatapnya dengan alis bertaut. Kyuubi tampak sedikit tenang dan menatapku serius.
"Ya, kau pikir siklus ini belum pernah terjadi?" ucap Kyuubi. "Sebelum ini bangsa vampire juga pernah punah, hanya disisakan beberapa Uchiha saja yang mengatakan janji yang sama, tapi pada akhirnya vampire kembali muncul seperti sekarang ini. Jadi bagaimana mungkin aku percaya pada kalian! Dan kalian bilang kalian akan membunuh seluruh Namikaze dan hanya menyisakan Uchiha saja? Yang benar saja! Jadi maksud kalian, kalian ingin membangkitkan lagi bangsa vampire tanpa ancaman dari hunter? Bagaimana jadinya dunia depan nantinya!"
Aku terdiam, aku sudah menarik nadiku dari mulut Naruto dan bocah itu kini tengah terbatuk meski tak berhasil mengeluarkan seluruh darah yang sudah ditelannya. Aku beralih menatap Obito, mencari kebenaran ucapan Kyuubi, dan ia tak menjawab. Apa itu artinya Kyuubi mengatakan yang sebenarnya?
Kuso!
Kalau aku tahu itu yang akan terjadi aku tidak akan melakukan ini. Mungkin benar satu-satunya jalan adalah memusnahkan seluruh Uchiha, termasuk aku, atau mungkin ada cara yang lainnya. Dan apapun itu, kurasa kekuatan Naruto diperlukan, tapi aku sudah melenyapkan itu. Sekarang apa?!
"Bagaimana cara mengubah Naruto kembali? Tadi bagaimana caranya supaya para Namikaze kembali menjadi manusia?" tanyaku. "Hanya dengan hujan darah kami?"
"Tidak, normalnya darah kalian lah yang membuat kami menjadi vampire. Ada segel yang harus diaktifkan," jawab Kyuubi. "Tapi tenang saja, Naruto tidak akan berubah menjadi setengah vampire kalau tidak—…"
Kreteekk…!
Ucapan Kyuubi terpotong saat bunyi itu terdengar, baik aku maupun Kyuubi terbelalak saat melihat Obito dalam sedetik saja memelintir leher Naruto hingga patah. Kepala Naruto sekarang berada dalam posisi yang sangat salah.
"Narutooo!" teriak Kyuubi dan langsung menghampiri tubuh Naruto, memapahnya.
"Brengsek! Kenapa kau membunuhnya!" bentakku pada Obito.
"Seorang Namikaze harus meminum darah Uchiha dan mati dalam keadaan darah tersebut masih berada di dalam system pencernaannya, dengan begitu barulah seorang Namikaze bisa berubah menjadi vampire," ucap Obito datar. Jadi artinya dia hanya menyelesaikan prosesnya saja kan? Naruto tidak akan mati kan? Tapi bukannya tetap gawat kalau Naruto bukan lagi Namikaze murni? Dan aku tidak yakin Obito akan membiarkanku mengubahnya kembali menjadi manusia, terlebih aku tidak tahu segel nya. Terakhir kali kulihat adalah Obito yang bisa menggunakan segel itu atas komando Shodaime dan Nidaime, jangan bilang para Namikaze juga tidak bisa menggunakan segel itu?
Tak berapa lama tubuh kaku Naruto mulai bergerak. Lehernya yang patah mulai beregenerasi dan kembali ke posisi semula, ujung jemarinya bergerak sedikit juga pelupuk matanya. Tapi saat matanya terbuka, bukan lagi warna langit seperti biasanya yang kini terlihat, melainkann warna crimson berkilat. Mata itu menatapku, mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi detik berikutnya malah mulut itu sudah berada di leherku dengan keempat taring menembusnya. Aku terbelalak, apa yang harus kulakukan? Apa kubiarkan saja? Karena vampire baru pastilah sangat haus darah, kalau tidak terpenuhi pasti sangat menyakitkan. Jadi—…
"Asal kau tahu saja, itu tahap terakhirnya," Obito menunjuk Naruto, tentu saja yang ia maksud adalah meminum darahku, itu tahap terakhir perubahannya. Chikuso! Aku segera menarik tubuh Naruto, tapi percuma saja kan? Dia sudah minum darahku! Aku menatap tatapan liarnya yang perlahan meredup.
"Sasu…ke…" ujarnya lirih, sepertinya ia sudah mendapatkan kesadarannya kembali, hanya saja matanya tetap memancarkan warna darah. Dia benar-benar sudah menjadi vampire sekarang. Atau setengah vampire, karena pada dasarnya Namikaze tak bisa menjadi vampire sepenuhnya. Seolah darah kedua clan itu saling bertarung dan masing masing hanya bisa menguasai setengah tubuh saja.
Blaammm…!
Tiba-tiba saja tanah di sekeliling kami berguncang saat Shodaime mendarat di dekat kami, ia menatap marah karena Naruto dan Kyuubi yang berada di tangan kami, dan ia tampak lebih murka saat melihat warna mata Naruto.
"UCHIIHHAAAAA…!" raungnya dan membentuk segel aneh di tangannya, detik berikutnya kayu—pohon bermunculan dari tanah, membelah bumi, bahkan tempat kami berada pun tak luput. Kekkai di sekelilingku hancur, beberapa cabang kayu menarik tubuh Kyuubi dan Naruto menjauh, beberapa cabang lagi berusaha menembus tepat ke kepalaku. Aku menghindar, bisa kulihat Obito melakukan hal yang sama, sementara kulihat Pain sedikit kewalahan. Chee, aku hampir melupakan keberadaannya meski kami tadi berada di kekkai yang sama. Gerakannya masih lamban, mungkin pemulihannya belum sempurna. Tapi hampir seratus persen aku yakin tidak perlu melindunginya.
Pohon-pohon itu kembali menyerangku, reflex aku menggunakan Susano'o saat satu dahan runcing menuju ke arahku. Aku berhasil menahan—…
Gasp…!
Aku terkejut saat melihat dahan itu perlahan menembus Susano'o ku, awalnya hanya retakan kecil, tapi aku yakin Susano'o ku akan hancur detik berikutnya. Aku akan mati! Aku harus segera menghindar! Tapi aku sudah tidak punya waktu. Tidak! Tidak! Tidak!
Aku melihat Obito melesat ke arahku, ia memotong dahan itu tepat sebelum ujungnya mengebor mataku.
"Aku berhutang padamu," ucapku masih dengan jantung berpacu empat kali lebih cepat dari biasanya.
"Jangan salah sangka. Aku masih butuh kau sebagai sandera kalau sampai Itachi ma—…" tapi ucapan Obito terpotong saat tiba-tiba saja di sekeliling kami muncul dahan-dahan yang sama. Kali ini tanpa celah, mereka menyerbu ke arah kami. Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk bertahan, tidak Susano'o, tidak katon, tidak apapun! Semua terjadi hanya dalam sekejap mata. Saat aku yakin riwayatku benar-benar tamat kali itu, saat itulah terdengar seseorang berkata.
"Hentikan, Hashirama," suara yang tenang tapi berat.
Seketika pohon-pohon itu berhenti bergerak, termasuk yang tengah menerjang kami. Aku menoleh ke sumber suara, sempat kulirik Obito melakukan hal yang sama. Lewat lubang topengnya bisa kulihat matanya terbelalak, jadi kuikuti arah tatapannya. Aku melihat Itachi-nii, dan di sebelahnya berdiri seseorang dengan ukuran tubuh seperti Shodaime. Aku mengingat kalau dia mirip fosil Uchiha yang ada di penjara kastil Akatsuki, bedanya tubuhnya sudah tidak seperti fosil lagi. Tubuhnya sudah menjadi tubuh manusia, dibalut dengan pakaian hitam dan armor coklat kemerahan seperti Shodaime. Apa itu Madara Uchiha?
"Bodoh! Kenapa si brengsek itu membangkitkan Madara lagi!" omel Obito dengan nada rendah tapi penuh kemarahan. "Tch! Salahku juga tidak sekalian memastikan Madara mati!"
"Memangnya kenapa?" tanyaku. "Bukannya Madara itu sekutu kita? Dia menghentikan Shodaime dan baru saja menyelamatkan kita."
"HUH?" ia menatapku dengan tatapan mencibir dan merendahkan. "Meskipun Uchiha, Madara itu adalah orang yang paling ingin menghabisi clan Uchiha itu sendiri! Kau pikir siapa yang dengan suka rela memberikan darahnya kepada Namikaze untuk mempersenjatai diri? Dia itu orang yang membocorkan segala rahasia tentang clan kita dan mendalangi pemusnahan seluruh Uchiha dan vampire pada malam ini!"
.
.
.
~To be Continue~
.
.
.
Fuaahh akhirnya update tepat waktu T-T seharian fanfiction nggak bisa dibuka situsnya hueeeeee…
Btw, read and review please…
