Balas Review! :D
Bigfoot the 2nd: Seperti biasanya, alternate screen yang sangat super! ^^'a Okay, Thanks for Review! :D
Happy Reading! :D
Malam Minggu Adelia: Jendela dan Masalah Besar
"Hmmm..." gumam Eiuron di depan jendela kamarnya.
"Hmmm..." gumam Eiuron sambil jungkir balik di depan jendela kamarnya.
"Hmmm..." gumam Eiuron sambil Shuffle Dance di depan jendela kamarnya.
Perasaan Eiuron dari tadi bergumam mulu, deh! Ada apaan, sih?
TOK TOK TOK!
"Permisi, Kak Eiuron!" kata Adelia sambil memasuki kamar Eiuron.
"Oh! Silakan masuk, Adelia!" perintah Eiuron.
Padahal Adelia udah masuk sendiri seenak pantatnya dari tadi. Hah, anak muda zaman sekarang! *Girl-chan digigit Cerberus.*
"Ada perlu apa, Kak?" tanya Adelia sesopan mungkin.
"Kau tau apa ini?" tanya Eiuron sambil menunjuk jendela kamarnya.
Adelia pun mengikuti arah telunjuk Eiuron yang mengarah ke jendela.
"Iya, aku tau! Tomcat, kan?" jawab Adelia watados.
"Benar! Tomcat adalah salah satu serangga hama yang beracun- Eh? Tomcat?"
Eiuron pun langsung menengok ke arah jendela yang ditunjuknya dan ternyata memang ada Tomcat di sekitar situ.
Maklumlah! Orang Avelon Mansion dan sekitarnya sedang terkena serangan hama Tomcat sejak kemaren!
"Bukan!" bantah Eiuron agak emosi. "Bukan itu! Perhatikan telunjukku baik-baik!"
Adelia pun memperhatikan lagi jari telunjuk pria itu baik-baik.
"Oh, itu ya? Aku tau! Lonceng anginnya bagus, kan? Kemarin aku dan Kak Oberia membelinya di pasar tepat saat penjualnya lagi cuci gudang! Karena tidak ada yang mau, jadi kami pasang di jendela kamarmu!" jawab Adelia santai.
"Yah, bagus juga! Suaranya nenangin hati sih, apalagi- BUKAN! JENDELANYA, JENDELANYA! GUE NUNJUK JENDELA KAMAR GUE!" teriak Eiuron emosi tingkat dewa.
"Oh, itu toh! Maafkan aku, Kak! Aku juga tau kalau itu jendela! Memangnya ada apa dengan jendela itu?" tanya Adelia watados.
Eiuron pun hanya bisa menghela nafas sambil berusaha menenangkan dirinya yang sempat emosi barusan.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu dengan jendela itu!" jawab pria itu datar.
"Sesuatu? Memangnya aku harus ngapain?" tanya Adelia sambil mengerutkan keningnya.
"Aku ingin kau memperbaiki jendela itu!" perintah Eiuron.
"Memperbaiki? Memangnya kenapa?" tanya Adelia sambil meneliti setiap sudut jendela tersebut.
"Aku beri kau tiga alasan! Alasan pertama, belakangan ini Yorei dan Jioru sering berantem di kamarku karena masalah sepele! Saat aku mau menghentikan mereka, mereka malah melompat keluar dari kamarku lewat jendela dan jendelanya pun langsung rusak! Aku ingin jendelanya diperkuat!" jawab Eiuron.
Adelia pun langsung sweatdrop mengingat kejadian itu. Maklumi aja! Orang dia salah satu sukarelawan yang membantu menghentikan amukan kedua makhluk sarap tersebut.
"Baiklah!" jawab Adelia yang masih sweatdrop sambil memikirkan alasan Eiuron.
"Kedua, meskipun kamar ini cukup besar, tapi jendelanya hanya satu! Kan kagak enak kalau cahaya matahari pagi hanya datang dari satu arah? Karena itu, tolong jendelanya diperbanyak!"
"Baiklah!" jawab Adelia sambil menimbang-nimbang seekor Cerberus kecil di Posyandu terdekat (?).
"Terakhir, model jendelanya udah kagak modis! Apalagi daun jendelanya yang besar itu! Kalau dibuka, angin yang masuk pasti kagak kira-kira! Jadi aku ingin jendelanya dibikin modis dan angin yang masuk tidak terlalu besar!" kata Eiuron mengakhiri pembicaraan.
"Baiklah!" jawab Adelia sambil menimbang-nimbang bahan sembako (?).
Aku jadi bingung! Adelia itu buruh sembako, ya? *Girl-chan dikejar-kejar pasukan Cerberus.*
"Jadi singkatnya, aku ingin kau merombak jendela kamarku menjadi baru lengkap dengan ventilasi yang baik sehingga udara lancar!" perintah Eiuron.
"Iya, Kak!" jawab Adelia sambil berjalan pergi.
"Hoy, kau mau kemana?" tanya Eiuron kepada Adelia.
"Helow? Gue mau ke gudang buat betulin jendela lu yang udah rusak itu! Masalah buat lu?" jawab Adelia yang tiba-tiba jadi ngalay.
"Tapi, bukannya arah gudang ke sana?" tanya Eiuron sambil menunjuk arah sebaliknya.
Adelia pun langsung cengengesan.
"Hehehe! Aku hanya bercanda, Kak!" kata Adelia sambil bersiap meninggalkan ruangan tersebut.
Adelia pun langsung ke gudang untuk mengambil perkakas untuk membuat jendela baru. Kayu, kaca, paku, palu, gergaji, linggis, dan juga pipa paralon (apa hubungannya pipa paralon dengan pembuatan jendela?).
Sekilas barang-barang yang dibawa Adelia membuatnya terkesan seperti bakalan ganti profesi menjadi tukang bangunan (?). Untungnya tidak! Daripada manggil tukang buat bikin jendela baru, lebih baik bikin sendiri. Apa kata dunia kalau seorang Adelia Avelon kagak bisa membuat jendela?
Kagak kenapa-kenapa, sih! Tapi nanti Adelia beneran jadi tukang bangunan, dong!
Oke, deh! Karena isi paragraf di atas udah mulai ngaco, kita kembali ke cerita!
TOK! TOK! TOK! BLETAK!
"AUW!"
Adelia pun mulai mengerjakan tugas dari sang sepupu tercinta (sampai-sampai tangannya sempat menjadi korban kerasnya palu) dengan rambut yang diikat ponytail, tas pinggang buat naruh paku, plus nyempilin paku di mulut.
"Hah, ada-ada aja Kak Eiuron! Masa kerjaan sepele kayak gini gue yang disuruh ngerjain?" gerutu Adelia kesal.
Dia lupa kalau Eiuron lagi korslet karena kesamber petir milik Thundy sewaktu dia berantem sama Lukas hanya gara-gara ngomongin sihir dan makhluk gaib.
"Tapi, jendela yang kuat, diperbanyak, modis, dan juga saat dibuka udara yang masuk tidak berlebihan! Aku pasti bisa, aku kan hebat!" kata Adelia yang masih sibuk mukul-mukul palu di atas kayu dengan narsisnya.
Di tengah kesibukan itu, pintu kamar Eiuron pun terbuka. Awalnya Adelia mengira kalau itu Eiuron yang masuk untuk melihat pekerjaannya sekarang, tapi Adelia teringat kalau Eiuron seharusnya lagi main badminton sama Vion.
Terus, yang masuk siapa dong?
"Adel-chan!"
"Yo, Adel-chan!"
"Halo, Adelia!"
"Hai, Adelia-senpai!"
Kalau kalian kagak tau, mereka adalah (dari yang paling atas) Vivi, Kaila, Lira, dan Windy.
Para pengganggu telah datang!
"Adha pherlu apha?" tanya Adelia ogah-ogahan.
Dia tidak menyadari kalau paku di mulutnya tertelan saat ngomong barusan.
"Oy, lu ngapain di sini?" tanya Kaila sambil menghampiri Adelia yang batuk-batuk keselek paku. (Bantuin, kek!)
"Ngapain, sih?" tanya Lira dengan nada malas dan tidak peduli dengan Adelia yang batuk karena keselek paku yang panjangnya 10 senti lebih.
Windy kagak ngomong apa-apa, tapi dia sibuk memperhatikan Adelia yang lagi keselek tersebut. Dia sadar ada yang salah dengan gadis Hades itu, tapi dia malah membiarkannya.
"Hey, kawan! Buat apa, tuh?" tanya Vivi dengan wajah ceria plus semangat 10 November (?) dan juga tidak memperdulikan Adelia yang lagi sekarat.
Adelia pun langsung bangkit dari keterpurukannya (?) dan entah kenapa, paku di tenggorokannya pun menghilang secara ajaib.
"Aku sedang membuat jendela baru untuk Kak Eiuron dan kuulangi pertanyaanku, ada perlu apa kalian kemari?" tanya Adelia sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Well, kami sedang bosan dan lagi nyari kerjaan! Makanya itu, kami ingin membantumu membuat jendela untuk Eiuron! Lumayan, bosannya bisa hilang!" jawab Kaila sambil menepuk punggung Adelia.
"Tidak perlu! Kalian lihat saja dengan tenang! Itu sudah cukup membantuku!" Adelia pun melanjutkan pekerjaannya dengan cuek bebek.
TOK! TOK! TOK! BLETAK!
"ADAW!"
"Kenapa harus bikin baru lagi? Jendelanya kan masih bagus!" komentar Lira sambil memperhatikan jendela Eiuron yang sedang dalam proses pembuatan yang baru.
"Kak Eiuron mau jendela yang kuat, modis, dan juga sesuai kebutuhan!" jawab Adelia seadanya sambil mengibaskan telapak tangannya yang kena palu (lagi).
TOK! TOK! TOK! PLAK!
"ADUDUDUH!"
"Eh? Modis sekaligus kuat? Eiuron ada-ada aja, ya! Apa kepalanya habis kebentur tiang?" komentar Vivi yang juga lupa dengan kejadian 'itu'.
Di lapangan badminton, Eiuron langsung bersin dengan pose dan suara yang tidak elit di depan Vion.
Kita kembali ke Adelia dan para makhluk pengganggu tersebut!
"Yah, dia ingin ventilasi dan jendela kamar ini cukup agar sirkulasi udaranya lancar!" jawab Adelia sambil mengusap pipi kirinya karena seekor nyamuk dengan kurang asemnya hinggap di wajahnya.
Bermaksud untuk membantunya, Kaila pun memukulnya dengan kekuatan yang terlalu berlebihan.
"Begitu, ya? Baiklah, kami akan membantumu!" kata Vivi dengan semangat yang masih sama plus cengiran khas-nya.
"Bukannya sudah kubilang tidak perlu?" tanya Adelia mulai membentuk kerangka jendela bikinannya.
"Ventilasi udara yang cukup! Berarti tinggal tambahkan lubang saja yang banyak biar udara yang masuk lebih banyak, kan? Windy! Tebas tembok ini sampai berlubang!" lanjut Vivi mengabaikan perkataan Adelia.
"Baiklah!" jawab Windy sambil mengeluarkan senjatanya.
"Tu-tunggu dulu!" Adelia mulai merasakan firasat buruk.
"YOSH! Kalau Windy-chan mau membantu Adel-chan, aku juga ikutan!" balas Kaila yang mendadak semangat Bandung Lautan Api (?).
"Terakhir, aku dan Lira akan membuat ventilasi berbentuk vertikal dan horizontal di sana-sini!" kata Vivi sambil menyiapkan palunya diikuti Lira yang menyiapkan tongkatnya.
"Tung-"
Terlambat, Adelia! Kalau untuk urusan menghancurkan seperti itu, kecepatan kinerja Quartet Sarap tersebut meningkat setara dengan kecepatan cahaya.
SLASH! SLASH! DHUAR!
DUAK! DUAK! DUAK! BOOM!
Terlambat sudah! Nasi telah menjadi bubur! Adelia pun kewalahan menghadapi keempat temannya tersebut.
Tidak apa-apa, Adelia! Nothing is perfect! Don't mind, don't mind!
Beberapa jam kemudian...
"Adelia!" panggil Eiuron sambil berusaha menahan emosi.
"Iya, Kak?" tanya Adelia harap-harap cemas.
"Aku memang memintamu membuat ventilasi agar udara yang masuk cukup, tapi..." Background di belakang Eiuron pun berubah menjadi gunung berapi. "KENAPA KAU MALAH MELUBANGI DINDINGNYA?!"
"Maaf, Kak Eiuron! Ini semua-"
"CEPAT BERESKAN SEMUA INI!"
"Ba-baiklah!"
Special Omake:
(Bagian ini sengaja dibuat di saat otak ane lagi buntu, jadi harap maklum! -w-V)
1. Permainan
Apa yang dilakukan para pengurus OSIS Heroes Gakuen saat kebosanan melanda?
"Aku bosen, nih!" keluh Alpha sambil merenggangkan tubuhnya di sofa.
"Gue juga!" timpal Vience sambil mengangguk setuju dengan wajah yang menyiratkan kebosanan luar biasa.
Alexia mulai membuka lemari DVD untuk mencari film yang terlewatkan untuk mereka nikmati. Exoray duduk tenang di sofa dan sibuk memperhatikan adiknya yang mengobrak-abrik isi lemari.
"Bagaimana kalau kita bermain sesuatu?" usul Icy yang sama bosannya dengan mereka semua sambil memasang senyum yang sulit ditebak artinya.
"Main apaan?" tanya Thundy yang mulai merasa was-was dengan isi kepala si Ice Mage yang seringkali nista dan tak tertebak anomalinya.
Icy hanya tersenyum sambil membuka laci di samping sofa dan mengeluarkan sebuah kotak tipis berbentuk persegi panjang. Permainan yang entah dari zaman kapan.
Dia pun menjelaskan, "Ini namanya 'monopoli'! Sebuah permainan multiplayer yang dirancang untuk mengembangkan sense berbisnis dan mengatur uang ditambah sedikit faktor keberuntungan!"
"Jiah! Jangan yang mikir-mikir gitu ah, Icy! Otak gue lagi buntu!" tolak Ikyo. "Lagian, kalau game yang berurusan dengan manajemen, pasti lu yang menang! Carilah game yang seimbang dan kita semua bisa punya kesempatan yang sama untuk menang, tarik tambang misalnya!"
"Seimbang dari Kanada?!" semprot Saphire sewot. "Kalau kita narik talinya pake Valkyrie Tank Lance-sensei full speed versus Golem-nya Teiron, itu baru seimbang!"
"Terus lu sendiri punya saran apaan, Sap?" tanya Ikyo datar.
Saphire pun berpikir sebentar sambil ngomong, "Hmm, kalau main kartu gimana? 41 atau apalah itu!"
"Jujur, gue sampe sekarang masih kagak ngerti sama sekali dengan konsep 41!" ujar Daren mengakui.
"41 pada hakikatnya adalah sebuah permainan kartu dengan konsep 'draw and discard' alias 'tarik dan buang'! Tujuannya adalah mengumpulkan kartu sejenis dengan poin sebanyak-banyaknya! Poin maksimal yang bisa didapatkan adalah empat puluh satu poin, yang terdiri dari kartu As, kartu king, queen, dan jack atau sepuluh!" jelas Exoray tanpa diminta dengan ekspresi ala kadarnya.
Mereka semua pun berusaha menahan diri untuk tidak memijat kening mendengar hal itu. Flamy sudah mulai membuka mulut untuk bertanya, tapi Icy keburu menahannya dengan sebuah gelengan karena enggan mendengarkan ronde kedua.
"Moncong-moncong soal kartu, bagaimana kalau kita main... Umm, apa itu namanya? Ah iya, tepok nyamuk! Yang cepet-cepetan nepok kartu itu!" usul Teiron antusias.
"Tolong jangan, Teiron! Refleks-mu itu mengerikan! Terakhir kali aku main tepok nyamuk denganmu, aku kalah telak dan jariku mati rasa beberapa jam!" tolak Thundy.
Mereka pun kembali terdiam dan berusaha mengorek pikiran untuk mengingat kembali memori masa lalu yang lama terlupakan. Permainan apa yang sekiranya cukup adil untuk dimainkan mereka semua.
"Gue setuju sama Thundy! Lagian, kalau cepet-cepetan kayak begitu kan kasihan Flamy! Dia kan yang refleks-nya paling lambat!" timpal Icy yang selain karena hal itu, dia juga khawatir kalau Teiron bakalan lepas kendali dan bukan tidak mungkin jari mereka semua bakalan berakhir retak karena dia.
"Al, lu ada ide permainan yang seru nggak?" tanya Ikyo sambil menoleh ke arah Alpha karena siapa tau aja anak itu punya jawaban yang bisa menyelesaikan masalah mereka.
"Permainan, ya? Ada spesifikasinya?" Alpha mulai mengakses dunia maya.
"Multiplayer!" timpal Exoray cepat. "Yang pakai kartu karena mengingat itu satu-satunya benda yang kita punya sekarang ini! Sebenernya gue punya congklak di kamar, tapi mager ngambilnya!"
"Siapa juga yang mau main congklak?! Merinding gue bayanginnya!" balas Alexia sambil bergidik membayangkan dua belas orang cowok yang berjongkok mengelilingi papan congklak dengan muka jumawa. "Yang lebih ngandelin skill dan luck daripada kecepatan, deh! Kalau cepet-cepetan, kita semua bakalan di-pwned sama Teiron!"
"Yang nggak bikin keringetan!" tambah Flamy sebelum menoleh ke arah Thundy. "Ngomong-ngomong, pwned itu apa?"
"Errr, mungkin akan aku jelaskan besok..."
"Aku sudah menemukan permainan yang cocok dengan kriteria kalian semua!" ujar Alpha mengalihkan perhatian teman-temannya.
"Apa itu, dayo?" tanya Musket yang percaya kalau anak itu semestinya bisa memberikan jawaban yang brilian.
'Semestinya' menjadi kata kuncinya.
"Strip poker!"
2. Cupcake
"Cupcake lagi?" tanya Ikyo saat melihat apa yang tersaji di meja makan, kemudian mata keemasan itu menatap temannya dengan tampang memelas. "Apa tidak ada makanan lain, Teiron?"
"Tapi cupcake itu enak, lho!" sahut Teiron senang sambil mengambil sebuah cupcake dan memakannya.
Kedua mata sang Earth Mage berambut merah itu terpejam saat menikmati setiap gigitan dengan sepenuh hati. Cupcake buatan tangannya memang yang paling enak dari semua cupcake yang pernah dimakannya.
Ikyo dan Alpha hanya terdiam saat melihat sahabat mereka terbuai oleh cupcake yang dimakannya. Keduanya pun saling berpandangan dan tersenyum, kemudian ikut mengambil sebuah cupcake dari piring porselen di atas meja makan.
Cupcake memang bukan makanan favorit Ikyo dan Alpha, tapi melihat ekspresi gembira Teiron membuat mereka berusaha menerima cupcake dalam kehidupan mereka. Apalagi karena cupcake selalu membahagiakan cowok berkacamata itu.
3. Buku
"Minna-san! Hari ini kalian belajar mandiri, ya! Kami akan rapat di luar!"
Setelah Tino sang wali kelas Ranged pergi, anak-anak di sana pun langsung menjalankan ritual jam kosong mereka.
"WOI! JAM KOSONG MAU NGAPAIN, NIH?!"
Yap, ritual harian mereka di jam kosong adalah ngerusuh!
"NONTON CIVIL WAR, YUK! EYFIN BAWA LAPTOP, NIH!"
"WOI, LAPTOP GUE JANGAN DILEMPAR SEMBARANGAN! KALAU JATUH, LU MAU GANTI?!"
Laptop Eyfin pun nyaris terbanting ke lantai akibat tangan Xyagna yang sembarangan melempar laptop itu ke tangan Jeremy si ketua kelas.
Setelah beberapa saat, laptop pun telah sukses terpasang dengan infokus.
"WIL, PINJEM FLASHDISK LU!"
Flashdisk Willy yang berisi file-file film pun bernasib sama seperti laptop Eyfin.
BRAK!
"BERISIK!" teriak Alexia (sang pelaku penggebrak meja barusan) sambil memegang sebuah buku.
Webek, webek...
Hebat juga lu, Lex, bikin kelas rusuh itu hening!
"Kok lu rajin banget sih, Lex? Jam kosong begini malah megang buku!" tanya Gino yang duduk di depan Alexia sambil merebut buku yang dipegang temannya.
Ketika dia melihatnya sebentar, Gino pun mengembalikan buku itu kepada pemiliknya sambil memperlihatkan wajah pokerface plus semburat merah.
"Lu kenapa, Gin?" tanya Leif.
Gino pun menatap Leif sebentar, kemudian melambaikan tangannya sebagai tanda untuk mendekatkan telinganya.
Ketika Gino membisikkan sesuatu, Leif pun langsung masang tampang pokerface.
"Lu berdua kenapa, sih? Kok begitu banget?" tanya Doni yang duduk di sebelah Leif.
"Don, si Alexia, Don!" balas Leif yang mulai heboh.
"Hah? Alexia kenapa?"
"ALEXIA TERNYATA FUDAN, COY! DIA BACA DOUJIN YURI HARDCORE R-18!"
Alhasil, kelas pun kembali rusuh.
4. Boros
"Bersulang untuk keberhasilan kita!" seru Fery sambil mengangkat kaleng soda-nya diikuti kawan-kawannya.
"Kalian tau, setelah dipikir-pikir... Kita cukup boros, ya!" ujar Kevin sambil menatap dompetnya dengan miris.
"Sudahlah, kita kan jarang merayakan keberhasilan kita seperti ini!" celetuk Philip sambil menepuk pundak Kevin plus nyengir lebar.
Noris mendelik ke arah Kevin sambil ngomong, "Kau ini perhitungan sekali, Vin! Kita kan hanya pesta kecil-kecilan sekaligus untuk menghabiskan uang akhir bulan!"
Kevin hanya menggeleng. Bagaimanapun, mereka tidak boleh terbiasa hidup boros.
"Teman-teman, uang akhir bulan itu lebih baik ditabung untuk keperluan bulan depan daripada melakukan hal mubazir seperti ini!" nasihat anak itu.
Kaien hanya bisa menghela nafas. Kenapa dia bisa terseret di antara orang-orang aneh seperti mereka?
Dia pun berdiri sambil menatap sahabatnya satu per satu dan berhenti ke arah Kevin.
"Vin, kita sudah merayakan ini di emperan ketoprak terdekat sesuai saranmu, dibayar sama Toni pula! Apalagi yang kau mau?!" tanya Kaien frustasi sambil mengacak rambutnya.
5. Pemilihan
Pemilihan pengurus kelas di kelas Rare berlangsung ricuh karena semua anak saling melempar nama.
"Ketua?" tanya Mathias selaku wali kelas Rare.
"Teiron!"
"Wakil?"
"Teiron!"
"Eh, sekretaris?"
"Teiron!"
"Bendahara?"
"Te-i-ron~"
"WOY KALIAN!"
"Seksi Kebersi-"
"TEIRON SEMUA AJA, SENSEI!"
Webek, webek...
Alhasil, Teiron yang emosi pun langsung melempar batu bata ke arah Dodi si Jumper provokator dan sukses mengenai dahinya.
Omake End!
OC of The Day:
Adelia Avelon
Umur: 16
Tanggal Lahir: 25 Januari
Zodiak: Aquarius
Warna rambut/mata: ungu/biru
Hero: Hades
Kelas: Melee
Fakta unik:
-Adik sepupu Eiuron. (Baca Chapter 8, di bagian Daren ketemu Adelia dan Eiuron!)
-Cewek yang paling ditakuti Ikyo. (Udah tau kan alasannya?)
-Punya kakak cowok bernama Jioru.
-Kalau dia marah, Cerberus bertindak. (Baca Chapter 8 (lagi)!)
-Lebih akrab dengan saudara dibanding teman. (Jangan ditanya aja alasannya! ^^a)
Ah, rasanya greget banget pengen nulis cerita tentang nih bocah! Yah, kayak ada apa-apanya gitu! :V *dicakar Cerberus.*
Review! :D
