Terima kasih atas reviewnya di chapter sebelumnya :
anna chan—wah seneng, chapter kemarin dapet respon positif. Hahaha, iya chapter19 tuh loncat-loncat kayak kanguru(?)/ Oh, mungkin chapter ini kembali njelimet, Anna-chan. Kembali bikin kepala pening(?) hehehe/ Oh, iya, saya juga pernah baca kok di situs mana (gak ingat juga) kalau lambang divisi ke-3 itu bunga krisan. Tapi setelah saya nanya-nanya dan nyari-nyari lagi, ternyata yang krisan itu lambang divisi pertama, lalu divisi 3 bunga marigold. Anna-chan bisa cek di link ini kok: www. bleach. wikia. com (hilangin spasinya).
Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Azalea Yukiko | Nuha-Hikari7 | ai-haibara777 | Yukizawa Aiko Michinobe | Kazuko Nozomi | CahDero | Kujo Kasuza Phantomhive | Ashrey | noviaellen | Fabri KuroShirou01
.
Selamat Membaca!
.
.
Bleach © Kubo-sensei (Tite Kubo)
.
Characters :
Toushiro Hitsugaya
Rukia Kuchiki
Yuuichi Shibata
Ganju Shiba
Seizo Harugasaki
.
Warning :
Kemungkinan OOC itu ada (karena author bukan Kubo-sensei), typo (berseliweran kayak kecoa), action (tidak masuk akal), romance (lambat kayak keong), dan lain-lain.
.
.
.
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
Peringatan Khusus :
Lagi-lagi chapter ini Full Action, tanpa ada scene HitsuRuki, sedikit pun.
.
.
.
.
.
320 DISTRICTS
.
East Rukongai Arc
.
# 6 #
900 SEKON
Pertaruhan Sang Penakluk Langit. Demi Seuntai Janji
.
.
.
Bernaung di bawah kuasa langit biru, bertumpu di atas tolakan udara dingin yang membeku. Toushiro Hitsugaya berdiri tegap dengan kepakan sepasang sayap besar di punggung dan Hyourinmaru di genggaman tangan kanannya. Singkat cerita, ia berada dalam mode Bankai. Yang berjarak sepuluh langkah di hadapannya, komandan Onmitsukidou yang berair muka tenang (jika dilihat dari jauh), dilihat lebih dekat, gurat-gurat wajah menegang dengan sepasang mata tajam yang menyipit.
Perempuan itu tak tahu kalau yang laki-laki yang berjuluk kapten jenius ini, bukanlah laki-laki yang sama ketika bertarung di bukit Sunpu. Toushiro tidak akan meragu seperti saat itu. Karena di detik ini, tepat di relung hatinya, bergejolak dan bergolak lebih banyak harapan, kepercayaan, dan janji. Seuntai janji pada keempat rekannya. Pertama, janji pada si Shiba untuk bersama-sama melanjutkan misi ini hingga selesai; kedua, janji pada Seizo bahwa ia akan kembali dan tidak akan membiarkan pria itu mati; ketiga, janji pada Yuuichi kalau ia takkan terluka, ia akan baik-baik saja setelah ini; keempat, janji pada perempuan itu untuk menunggunya.
Terakhir sekaligus yang terpenting: janji pada dirinya sendiri.
"Dan setidaknya sebelum misi ini berakhir, aku ... ingin menghabiskan waktu bersamanya."
Ia tidak main-main mengatakan itu. Ia serius. Oleh karenanya, ia tidak ingin menghabiskan waktu di pertempuran ini. Lebih menyenangkan bersama perempuan itu. Iya, tidak? Bukankah tidak ada yang lebih membahagiakan ketika kau menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kau sayangi? Toushiro pun tak beda.
Dan jika memungkinkan, ia akan menyelesaikannya seperti janji yang sesumbar pada Yuuichi.
15 menit—atau 900 detik.
Lebih cepat akan selalu lebih baik.
"'Tidak punya banyak waktu, banyak orang yang menungguku'," Soifon mengulang kalimat Toushiro dengan gerut wajah memuakkan. "Kau serius, Toushiro Hitsugaya? Heh, aku tidak percaya kata-kata seperti itu akan keluar dari—"
"—dari mulutku? Jadi perlu kuulangi agar kau percaya?"
Cepat. Shunpo yang begitu cepat. Soifon bahkan tak sempat berkedip ketika suara dingin itu menyambangi telinganya dari arah belakang.
Trang!
Tapi, jangan memanggilnya komandan Onmitsukidou jika ia tak bisa berbalik gesit dan menampik serangan Hyourinmaru, tapi jangan pula memanggil Toushiro si pemilik Zanpakutou tipe es kalau ia tak serta merta memberi Soifon serangan hempasan es.
Sepasang kaki mundur sambil mengontrol napas yang tersengal. Tak peduli lagi dengan serpihan es yang bertaburan di haori dan lengan kiri shihakusou-nya, Soifon memanggil, "Jinteki Shakusetsu, Suzumebachi!"
Namun, sedetik kemudian atau baru tiga detik berselang dari serangan pertama, Toushiro kembali menerjangnya. Lagi, arah serang dari belakang. Sayang, si poni rata tidak terjebak pada serangan sama. Suzumebachi di pergelangan tangan Soifon berjibaku dengan mata pisau Hyourinmaru. Tak ada yang mau mengalah, Toushiro akhinya melompat mundur. Pikir Soifon, inilah kesempatan memberi laki-laki itu serangan balasan, tapi lagi-lagi ia kalah cepat. Toushiro memutar Hyourinmaru dalam arah horisontal sambil melantangkan:
"Hyouryuu Senbi!"
Hempasan es bulan sabit melibas Soifon dan membekukannya, andaikan ia tak ber-shunpo. Ia mengelak dengan menjauh, hanya saja tindakan itu tidak cukup meruntuhkan serangan Hyouryuu Senbi.
"Zekku!"
Komando Toushiro membuat Hyouryuu Senbi bak ular bayangan yang akan mengikuti mangsanya ke mana pun ia pergi. Menyusur macam tombak tajam menembus pepohonan, membelah hutan; ke mana pun Soifon lari, salah satu teknik Hyourinmaru itu akan mengikutinya. Si rambut kepang tidak buntu otak. Ketika di hadapannya menghadang batang pohon raksasa, alih-alih menghindar, batang pohon dijadikan tolakan kedua kakinya dan melesak bagai torpedo menyongsong Hyouryuu Senbi. Seolah telah siap mati, ia penuh nyali berhadapan langsung dengan si tombak tajam. Oh, ralat. Ia melaluinya dengan selisih jarak dua puluh senti dari daerah sekitar dada dan perut. Yang dituju bukan si Hyouryuu Senbi, tapi pengendalinya.
Kapten divisi ke-10.
Cerdas sekali.
Sepasang iris turquoise membulat. Suka atau tidak suka, Toushiro menghentikan serangan itu kecuali ia bodoh, ingin dihantam oleh serangan sendiri. Soifon yang telah mengira, ber-shunpo tepat di depannya. Menggerakkan satu jari pun tak sempat, kurang dari se-detik Suzumebachi menohok bagian depan pundak kanan si pemuda spiky.
Lambang kematian, Houmonka, kini tersemat di sana.
"Kau tamat, Toushiro Hitsugaya."
Tamat? Ingat kembali bahwa pertarungan pertama mereka di Sunpu, Soifon berhasil menyematkan dua Houmonka di tubuh Toushiro. Pangkal lengan adalah salah satu tempatnya. Lalu yang kedua?
Bagian depan pundak kanannya.
Toushiro telah terkena Houmonka dua kali di tempat yang sama.
Ia benar-benar sudah tamat.
.
.
.
.
.
Kepercayaan diri tidaklah cukup untuk mengalahkan musuh, yang jelas-jelas kekuatannya jauh di atasnya. Seizo tahu betul hal itu. Tahu betul bahwa ia takkan menang melawan pasukan Onmitsukidou berjumlah ratusan, sekeras apa pun ia berusaha; tahu betul bahwa mengeluarkan teknik berpedang terbaiknya pun takkan cukup menumbangkan mereka; tahu betul bahwa ini akan menjadi pertempuran terakhirnya.
Sudah sedari awal, ia tahu itu semua.
Maka sedari awal pula, ia tak berharap sama sekali turunnya keajaiban dari langit. Keajaiban bahwa langit akan mengasihani dan memberinya Reiryoku.
Sama sekali tidak.
Sehingga sedari awal juga, ia sudah siap mati. Acungan jempol pada kapten divisi ke-10 bukanlah jaminan ia akan memegang janji. Hanya sekadar lambang permohonan agar kapten itu mengizinkannya bertempur. Memercayainya. Puluhan tahun tidak menginjakkan kaki di medan pertempuran sejak kehilangan kekuatan Shinigami adalah waktu yang sudah cukup untuk memendam hasrat bertempur yang mulai menyesakkan dada.
Dan hari ini adalah pembebasan. Ia tak mau menahan diri. Ia meluapkan semua yang ia punya. Meski tahu akan kalah, meski tahu bahwa pada akhirnya semuanya akan sia-sia; ia tak mundur.
Bahkan ketika detik ini, ia hanya mampu menekuk satu lutut sebagai topangan untuk berdiri, darah bercucuran dari kedua pelipis, daging yang terkoyak di lengan kekarnya; ia tak ada niat untuk mundur.
Dan tak ada pula rasa sesal. Sebersit pun.
Seizo berupaya bangkit seutuhnya, mengangkat kedua wakizashi yang hanya sisa setengah badan pedang. Ia bak mayat hidup. Hanya keteguhan hati sebagai petarung yang membuatnya terus berdiri.
"Ke-kenapa—kalian diam saja? Ayo ki-kita lanjutkan."
"Orang ini keras kepala sekali," pria yang berkata demikian menghantam tengkuk Seizo dengan gagang pedang. Yang tak pelak membuat pria Kusajishi itu tersungkur bersama dengan satu wakizashi yang terlepas dari genggaman ketika si pria Onmisukidou menginjak kelima jarinya.
"Hentikan!" seorang wanita bersuara.
"Untuk apa dihentikan? Sampah seperti ini seharusnya lenyap saja. Orang lemah tidak punya tempat di dunia ini." Pria itu semestinya tak berkata sekejam itu sambil mengayunkan katana ke kepala Seizo karena tangannya yang bebas langsung saja dipuntir keras ke belakang oleh si wanita hingga ia merintih sakit. Lehernya pun ikut dibekuk.
"Kalau kubilang hentikan, ya hentikan. Kau tidak dengar, ya? Aku ketua tim di sini. Jika kau berani membantahku, kau akan pulang ke Seireitei tanpa kepala. Mengerti?" Andai pria itu tak sesegera mengangguk, mungkin kepalanya akan serta merta dipatahkan.
Didorongnya pria itu, dan nyaris terjungkal sebelum terdengar gumaman cercaan. "Cih! Dasar perempuan! Kenapa Komandan Soifon memilih perempuan sebagai ketua?"
Beruntunglah pria itu; meski si ketua mendengarnya, ia tak acuh dengan lebih memilih berjongkok di depan Seizo. "Orang ini sangat kuat."
"Apanya yang kuat?" sahutan heran terdengar dari gadis muda yang berdiri di sebelahnya. "Dia hanya konpaku, bukan Shinigami. Sama sekali tidak punya kekuatan. Dia lemah," gadis muda itu tak sungkan menyuarakan pendapatnya pada senior yang begitu disegani di Onmitsukidou.
"Karena itulah, aku bilang dia kuat. Pemandangan yang biasa jika orang yang memiliki kekuatan berdiri dengan berani di tengah pertarungan. Tapi," percayalah, di balik masker hitamnya, ketua itu tersenyum, "bukan hal yang biasa ketika orang tanpa kekuatan melakukan hal yang sama."
"Kalau menurutku, pria ini cuma sok berani—atau kasarnya, dia bodoh. Sudah tahu tidak punya kekuatan, tapi masih saja keras kepala."
Lagi-lagi, si ketua tersenyum, "Pria ini memang tidak punya kekuatan, tidak punya Reiryoku. Tapi pria ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki semua petarung. Keteguhan hati yang sangat kuat."
"Keteguhan hati?"
Gadis muda itu masih dinaungi keheranan ketika daratan mendadak bergetar hebat. Gempa bumi? Berita baru bahwa Provinsi Yamazaki diterpa bencana alam gempa, dan opini itu cuma bertahan selama lima detik ketika debu membumbung ke langit, dan tertampak tak jauh dari sana geng penunggang hewan bercula satu. Geng badak. Di saat yang sama, bola baja hitam dari langit membombardir pasukan.
"Halo, Tuan dan Nyonya! Ayo kita mulai pestanya! Aku, Daruku, sudah tidak sabar mengajak kalian bermain!"
Doll bernama Daruku melesakkan rentetan bola baja hitam. Jangan pikir ukurannya sebesar bola tenis meja. Bola voli. Bayangkan bagaimana kocar-kacirnya pasukan Onmitsukidou untuk menghindar. Malang tak dapat ditolak, tak semua pasukan mampu mengelak. Setengahnya, mau tak mau harus menjadi korban.
Si pemilik Doll, Koga, menghampiri Seizo dan menyerahkannya pada Katsumoto begitu pria jambul bersama geng badaknya tiba di lokasi. Berpesan kalau pasukan Onmitsukidou biarkan Koga yang mengatasi, Katsumoto membawa Seizo menjauh. Setidaknya mantan Shinigami itu perlu pertolongan pertama. Deru napas orang yang telah dianggap Katsumoto sebagai pahlawannya kian memupus.
Orang ini tak boleh mati. Tak boleh.
.
.
.
.
.
Hanya Soifon yang tahu kalau dirinya agak ragu ketika kembali disodori tugas menangkap Toushiro Hitsugaya dan Rukia Kuchiki. Bagaimana tidak? Kurang dari dua minggu yang lalu, ia diberi misi yang serupa. Sepenuh hati dijalankan meskipun hasilnya tidak begitu memuaskan. Kapten divisi ke-10 lepas dari cengkeraman, tapi setidaknya bawahan divisi ke-13 telah jatuh di tangan mereka. Begitulah pikirnya ketika Oomaeda bilang kalau perempuan itu dibawa pergi oleh Byakuya Kuchiki.
Tapi apa yang didapatkan beberapa hari kemudian setelah itu, ketika menyuruh Oomaeda ke divisi 6 untuk meminta pengalihan penahanan Rukia Kuchiki ke Onmitsukidou. Kenyataannya, dari awal gadis bangsawan itu tidak dibawa pulang ke Seireitei. Jadi apa yang dilakukan Byakuya Kuchiki ke Sunpu? Bukan menangkap adiknya?
Tidak terima pembangkangan kapten divisi ke-6, Soifon melaporkan pada Soutaichou agar ketua klan Kuchiki itu diberi hukuman setimpalnya. Tapi tanggapan yang menyambutnya di divisi pertama adalah si kakek yang tidak menggubris. Punggung renta itu memunggunginya dan menyuruhnya pergi ketika ia melaporkan segalanya. Apa maksudnya ini? Menyuruhnya menangkap kedua orang itu, tapi ketika ia gagal total, si tua bangka tidak bilang apa-apa.
Soutaichou kalem-kalem saja.
Soifon tidak habis pikir, apa yang direncanakan komandan kapten. Berada di pihak mana sebenarnya si kakek itu? Di pihak—ingin menangkap kedua orang itu atau tidak?
Adanya keraguan dari awal, membuat Soifon bereaksi lambat saat kapten divisi ke-10 menyerangnya bertubi-tubi sejak detik pertama pertarungan.
Dan ketika Toushiro Hitsugaya lengah, Soifon tidak berpikir jauh saat menggunakan Suzumebachi. Sedikit sesal bahwa ia telah mengenyahkan kapten berbakat itu. Tapi, mau apa lagi. Sudah terlanjur. Sekarang, satu-satunya yang perlu dikhawatirkan adalah Batalion 13 harus kembali kehilangan salah satu kapten. Ia pun harus mempersiapkan seribu alasan, karena sepulangnya dari sini, ia akan disambut tumpukan ceramah dan keluhan habis-habisan dari Shinigami lainnya.
Dan percayalah, baru lima detik berselang setelah opini tersebut, kapten berambut kepang itu terusik oleh sesuatu. Ada yang ganjil. Ia yang paling tahu bahwa kemampuan khusus Suzumebachi semestinya menghilang bersama dengan tubuh mangsanya. Tak bersisa. Tapi di bawah sana, tubuh Toushiro Hitsugaya teronggok begitu saja.
Ketika otak cerdas sang komandan meraih kesimpulan yang masuk akal, tajamnya pedang telah mengancam nyawanya dari belakang. Bersama dengan sahutan:
"Kau lengah, Soifon."
Keraguan memang selalu mendatangkan malapetaka. Lihatlah Soifon yang mati kutu. Tak sempat menghindar atau bahkan berbalik; secepat kedipan mata, Toushiro telah menikam perutnya.
"Engh!" Soifon merintih sakit. "Kau ... Suzumebachi ...?"
Setidaknya Toushiro tidak mau perempuan ini mati penasaran, jadi ia memberitahu, "Zanghyou Ninghyou. Boneka es. Teknik itu hanya bisa kugunakan sekali. Karena itu, aku menunggu kau mengeluarkan kemampuan Suzumebachi."
Di sisa kekuatan, Soifon menengok ke bawah. Di sana terdapat bongkahan es sebesar batu gunung, yang beberapa detik lalu dipikirnya adalah tubuh kapten divisi ke-10. Tipuan, ternyata.
"Satu kerugianku di pertempuran kali ini adalah kau berhasil memberiku dua lambang Houmonka di pertarungan sebelumnya. Itu sama saja daya hidupku telah berkurang setengahnya. Tapi aku lega, aku menggunakan Zanghyou Ninghyou di saat yang tepat."
Keberhasilan taktik si kapten ini tak lepas dari bantuan Ran'Tao dan Seizo. Lambang kematian Houmonka yang tersemat di dua tempat: di pangkal lengan kanan dan bagian depan pundaknya, bukanlah sekadar lukisan. Racun Suzumebachi ikut menyertainya. Ran'Tao yang tahu itu, menetralisirnya sehingga tubuh si kapten spiky masih segar-bugar sampai sekarang, tapi ia diwanti-wanti kalau racun Houmonka akan kembali aktif dan membunuhnya ketika Soifon menyarangkan serangan kedua di titik yang sama.
Lalu Seizo. Pria itu memberi Toushiro cawan berisi cairan kental berwarna agak kecoklatan, setelah ia curhat tentang uneg-unegnya kalau ia tidak ingin gadis bernama Rukia Kuchiki sampai melihat kedua lambang ini. Bisa-bisa, ia diberondong berbagai pertanyaan, dan yang paling penting: ia tak mau melihat raut cemas di wajah perempuan itu. Jadi Seizo menyuruh si kapten melumuri cairan, yang entah apa namanya ke tubuhnya untuk menyamarkan. Dan tak terduga, berhasil. Buktinya, Rukia tidak bertanya apa-apa ketika ia dipergoki telanjang—telanjang dada maksudnya, ketika insiden menghilangnya Yuuichi.
"Kau kalah, Soifon."
Si empunya nama memejamkan mata. Mengakui, mungkin. Mengakui kemenangan si kapten jenius. Yah, mengakui dengan tarikan bibir ke atas, dan membentuk seulas ... seringai?
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan"—dua manik hijau Toushiro membulat—"Toushiro Hitsugaya."
Tak perlu waktu dua detik untuk kapten berjuluk "Prodigy" itu menyadari kalau yang tersangkut di katana-nya hanya sehelai haori berlambang angka 2. Nihil si pemilik haori. Ia berbalik, dan mendapati Soifon yang tersengal-sengal sambil memegang perut. Hyourinmaru berhasil melukainya.
"Shunpo Onmitsu, teknik ke-3 Shihou," Toushiro memberitahu, "Utsusemi."
Soifon masih sempat mendengus remeh sebelum menimpali, "Heh, kau tahu banyak, ternyata."
Balas Toushiro, "Kau pikir aku siapa," sambil bernada menantang. "Aku memang bukan Onmitsukidou, tapi pengetahuan tentang teknik shunpo tidak kalah dari kalian."
Soifon tahu itu. Mengajak kapten jenius itu berbincang sejenak, sebetulnya untuk memberinya waktu mengontrol napas sambil menyusun strategi berikutnya. Karena keraguan, kini ia berada dalam posisi terdesak. Kecepatan shunpo-nya kalah satu ketukan.
Dan ia pun kembali kalah dalam melayangkan serangan kejutan.
Puluhan pilar es mendadak mengepung di semua sisi. Soifon terjebak. Dengan berbekal luka di perutnya, mencoba ber-shunpo keluar dari kurungan bukanlah ide yang bagus. Sia-sia saja.
"Aku sudah bilang sebelumnya, aku tidak punya banyak waktu. Jadi kuselesaikan sekarang, Soifon!" Di detik berikutnya, Toushiro berseru, "Sennen Hyourou!" Diputarnya Hyourinmaru 90 derajat. Puluhan pilar berputar kian cepat. Soifon tampak tak berkutik. Berdecak kesal adalah pemandangan terakhir kapten divisi ke-2 ketika puluhan menara merapat dan menyatu sambil menyergap dan melumatkan tubuh kecilnya.
Desau napas Toushiro yang terengah-engah menjadi satu-satunya yang mengisi kesenyapan. Mengeluarkan Sennen Hyourou tak semudah kelihatannya. Setidaknya, hasilnya setimpal. Pertempuran berakhir dalam waktu sepuluh menit. Lima menit lebih cepat dari janjinya pada Yuuichi.
Namun lagi-lagi, selebrasi kemenangan harus tertunda ketika suara derak es menyambangi pendengaran Toushiro, dan sedetik kemudian terdengar seruan, "Shunkou!"
Ledakan membahana bersama dengan runtuhnya ketangguhan benteng es. Soifon berdiri tegap dengan lengan, bahu, dan punggung shihakusou yang perlahan menipis. Toushiro belum memasang kuda-kuda, Soifon telah melesak cepat bak torpedo. Tinju tepat di ulu hatinya membuat Toushiro mengerang sakit tiada tara. Tak tanggung-tanggung, tendangan tepat di tengkuknya mengirim si kapten termuda mendarat keras pada permukaan danau di bawah dengan keadan tertelungkup. Perlahan namun pasti, tubuhnya terbenam, tak kuasa membendung tubuh yang dicecar serangan beruntun. Toushiro tak sadarkan diri.
Melihatnya seperti itu, Soifon memutuskan menghabisi laki-laki itu dengan Suzumebachi. Diyakininya, Shunkou telah cukup melumpuhkan hampir semua organ dalamnya. Sebelum itu, ia perlu rehat sebentar. Tak pernah terpikirkan akan menggunakan Shunkou, yang menghabiskan setengah energinya. Tapi melawan kapten divisi ke-10, ini sudah seharusnya.
Lalu, di dalam danau ...
Sepasang manik turquoise setengah membuka. Sayap besar di punggung telah hancur setengahnya. Dada sesak, serasa ditekan. Sulit bernapas. Jantung berdetak di bawah ambang normal. Kakinya lemas, seolah dalam keadaan mati rasa. Menggerakkan satu jari sama susahnya ketika mengangkat batu seberat sepuluh ton.
Apa ia sudah kalah?
Iris turquoise bergeser ke ekor mata ketika jepitan perunggu terlepas, dan mengapung. Hanya getaran lima jari sebagai usaha terbaik untuk meraihnya ketika si jepitan pelan-pelan melewati dan menjauhinya, turun ke dasar danau.
Jepitan?
"Saya lihat, selempang Hyourinmaru agak longgar tanpa sebuah jepitan yang sering Hitsugaya-taichou pakai. Jadi di pasar Hokutan tadi, saya menyempatkan diri membelinya. Beruntung ada yang mirip dengan jepitan yang sering Anda kenakan."
Pemberian gadis itu.
"Maaf ... jika tidak sebagus dan tidak semirip dengan jepitan Anda yang hilang."
Tidak. Menurutnya, jepitan itu bagus. Sangat bagus.
"Anda tidak tahu bagaimana cara memakainya, ya?"
Sepasang sudut bibir Toushiro tertarik ke atas. Ia tersenyum.
"Kalau tidak keberatan, saya bisa membantu."
Rona merah menghiasi kedua pipinya. Jangan lupa dengan degupan jantung yang mulai kembali ke batas normal. Bahkan, meningkat. Ia berdebar-debar.
Entahlah, fenomena ini harus dinamakan apa. Keajaiban, barangkali. Bahwa baru lima detik berselang nyawanya berada di ujung tanduk, di detik keenam raut kehidupan mulai merayap ke sekujur tubuhnya.
"Pastikan kau menyusul kami. Kami membutuhkanmu menyelesaikan misi ini."—pada Ganju.
"Selama apa pun, aku akan menunggumu. Jadi tidak apa-apa. Biarpun lama aku akan menunggumu."—pada Rukia.
"Tetap hiduplah sampai aku kembali! Jangan mati!"—pada Seizo.
Terakhir:
"Aku tidak peduli Onii-chan lama atau sebentar, asalkan Onii-chan tidak terluka,"
"Kalau Onii-chan terluka, bisa-bisa Rukia-neechan menangis.
Jika dirinya terluka ... perempuan itu akan menangis? Yang benar saja.
Tapi terserah hal itu benar atau tidak, setidaknya sudah cukup membuat kelima jarinya menggenggam erat gagang Hyourinmaru. Ia belum mau mengaku kalah.
Sebelum kembali berhadapan dengan komandan Onmitsukidou, pikirannya melayang pada percakapan dengan Hyourinmaru dua minggu yang lalu atau sehari setelah peristiwa di Zaraki.
"3/4 tahap pertama?"
"Iya, Master. Mencapai Bankai tahap sempurna Anda harus melalui tiga tahap. Saat ini Anda telah melalui 3/4 tahap pertama."
"Tunggu. Bukankah sebelum perang musim dingin kau bilang Bankai-ku baru mencapai ½ tahap pertama? Sejak kapan Bankai-ku meningkat ...?"
"Kemarin, saat di Zaraki."
"Maksudmu saat kau memperlihatkan wujudmu yang sebenarnya?"
"Iya. Ingat luka yang Anda terima karena tusukan menyelamatkan Rukia Kuchiki."
"Ah. Luka itu menutup dengan sendirinya ... Tunggu. Regenerasi?"
"Lebih sederhana. Jika tangan Anda terpotong saat pertempuran, tidak berarti tangan Anda akan kembali."
"Jadi, seperti daya tahan tubuh yang meningkat."
"Iya, ketahanan tubuh yang meningkat menandai bahwa level Bankai telah menanjak, tidak seperti saat perang musim dingin. Dan juga saat di Zaraki, semua warga bisa melihat dengan jelas wujud saya yang sebenarnya. Bahkan, bagi mereka yang tanpa Reiryoku."
"Ah, iya. Wujudmu seharusnya hanya bisa dilihat oleh Shinigami level tinggi. Begitu, ya. Hah, aku sudah bertambah kuat."
"Anda harus berterima kasih pada Rukia Kuchiki, Master."
"Kenapa?"
"Bukankah karena kemauan Anda yang begitu kuat untuk melindunginya saat di Zaraki, Anda bisa melampaui batas Anda dalam wujud konpaku dan sampai memanggil saya?"
"Ah, iya, aku tahu. Nanti saja, nanti ... aku akan berterima kasih padanya."
"Oh, iya. Ada yang ingin saya tanyakan, Master."
"Apa?"
"Mengapa kalau menyinggung tentang Rukia Kuchiki, wajah Anda merah?"
"Ti-tidak. Kau salah lihat."
"Anda sangat menyukainya."
"Berisik."
"Jadi, itu ciri-ciri ketika menyukai lawan jenis. Wajah menjadi merah."
"Cerewet."
Ia akui, memasuki perang musim dingin sebulan lalu, Bankai yang dikuasainya baru 16 % dari yang seharusnya. Kini telah meningkat menjadi 20 % atau mudahnya, baru seperlima dari kekuatan sebenarnya Hyourinmaru, Zanpakutou tipe es terkuat. Masih panjang perjalanan Toushiro untuk menjadi Sang Penakluk Langit yang sesungguhnya. Tapi, tak pernah diduganya akan meningkat sebanyak ini dalam waktu sebulan. Di masa lalu, ia perlu setahun atau dua tahun.
Seperti kata Hyourinmaru, ia memang perlu berterima kasih pada Rukia.
Dan lebih baik, jangan singgung godaan Zanpakutou-nya di perbincangan terakhir. Bisa-bisa, ia merona lagi.
Sementara itu ...
Soifon bergeming, memandang permukaan danau. Ia menunggu mangsanya menampakkan diri. Ragu, bahwa lelaki itu telah tewas. Shunkou telah dinon-aktifkan. Sekarang, kapten divisi ke-10 akan dihabisi dengan Suzumebachi.
Sepasang mata tajamnya menyipit. Riak air bermunculan di mana-mana. Dan berani bertaruh, Soifon sama sekali tak menduga kapten jenius itu masih memiliki kekuatan membuat gelombang raksasa air di kiri, kanan, depan, dan belakang. Berujar satu kata pun tak sempat ketika gelombang setinggi puluhan meter itu membeku bak benteng. Tentu dengan cerdasnya, Soifon menjauh ke atas ketika keempat benteng berusaha mengapitnya. Tindakan itu sayangnya bukanlah tindakan yang cerdas karena kapten divisi ke-10 telah menunggu dengan serangan duri-duri tajam di kedua kepakan sayapnya.
"Guncho Tsurara!"
Hujaman duri es menerkam tajam. Terdesak. Ke mana sekarang? Di keempat sisi Soifon, benteng terus mendekat dan tinggal menunggu waktu akan melumatkannya, sedangkan di atas lebih buruk lagi. Pilihan terbaik, ya ke bawah.
Sengaja menceburkan dan menenggelamkan diri ke dalam danau, sebagai tindakan terbaik. Soifon hanya perlu berenang dan keluar di sisi danau yang lain. Kasihannya, rencana itu sekadar rencana begitu Toushiro menancapkan Hyourinmaru ke salah satu sisi danau sambil menggunakan sisa Reiatsu-nya untuk membekukan seluruh danau.
Serius?
Ya. Toushiro serius, dan pembuktiannya: danau perlahan membeku dari satu sisi ke sisi yang lain. Hingga danau membeku seutuhnya
Wow! Kini danau tak seperti danau lagi. Mirip lantai es. Dijamin, kau bisa berjalan di atasnya, melenggak-lenggok sambil bercermin. Menunggangi badak pun tampaknya tak akan membuat lantai es itu jebol.
Jangan lupakan, demi siapa lantai es itu dibuat. Perhatikan area kosong di tengah empat benteng yang menekan Soifon tadi. Di bawah, kapten divisi ke-2 telah membeku bak fosil.
Toushiro sengaja menjebaknya di sana.
Dan baru saja Hyourinmaru ditariknya dari tancapan di danau es, terdengar bunyi retakan, dan detik selanjutnya benteng es rubuh bersama dengan kemunculan Soifon dalam mode Shunkou. Komandan Onmitsukidou bagai kucing yang punya sembilan nyawa. Tapi lagi-lagi, Toushiro telah menduga dengan kontan melafal, "Bakudou no Roku jyuu Ichi, Rikujoukourou!"
Enam jeruji emas mengunci Soifon. Sudah cukup. Ia tidak terima dengan perlakuan ini. Tidakkah ia pernah bilang kalau ia sangat benci berada di posisi terpojok, dan akan melakukan apa pun untuk meraih kemenangan. Karenanya, tanpa berpikir baik-buruknya, Soifon berseru:
"Bankai!"
.
.
.
.
.
Si kembar tiga: Nobuki, Nobushi, dan Nobura bergotong-royong mengobati Seizo. Pria itu tidak rugi mengajari mereka pengobatan sederhana meskipun ia harus berjuang pantang mundur. Tahulah, tingkat kecerdasan si kembar tak lebih dari anak umur sepuluh tahun, jadi perlu kesabaran ekstra.
Kedua lengan dan leher terbalut perban. Seizo nyaris mirip mumi. Hanya sebatas ini yang bisa dilakukan si kembar bersaudara. Hidup-matinya Seizo bergantung pada keinginan pria itu sendiri untuk tetap hidup atau tidak. Setelah selesai, ketiga botak itu berkomat-kamit ria sambil menutup mata dan mengatupkan telapak tangan. Berdoa, agar menghidupkan Seizo kembali.
Dan entah doa itu dikabulkan Soul King atau tidak, pria yang terbaring itu pelan-pelan membuka mata dan melantunkan suara serak:
"Nobura ... Nobuki ... Nobushi ...?"
Kompak saja mereka membuka mata, dan berteriak bak orang tak waras, "Katsumoto-niisan! Seizo-san hidup kembali! Seizo-san hidup kembali! Seizo-san hidup kembali!"
Katsumoto yang merenung di pinggir tebing langsung berlari menghampiri, yang setibanya di tempat si kembar didapati Seizo yang berupaya bangkit.
"Oi, O'-san, beristirahatlah dulu! Kau itu hampir mati!"
Semua orang di sana: warga Kusajishi yang ikut serta dan si kembar, terpaku dibuatnya. Ketika Katsumoto memanggil Seizo 'O'-san', bukan 'Seizo-san', artinya suasana hati pemuda itu sedang tidak bagus. Dan lebih baik jangan dekat-dekat dengannya ketika sedang dalam mood buruk, kecuali kau ingin pulang ke Kusajishi tanpa kaki.
"Lihat! Shinigami itu sama sekali tidak tahu terima kasih. Sudah dibantu, mereka meninggalkanmu di sini." Katsumoto tak mampu lagi membendung amarahnya.
"Katsumoto—"
"Apa? Kau ingin membela mereka? Kau itu dibuang oleh Shinigami, makanya kau ada di Kusajishi," tidakkah Katsumoto sadar kalau kalimat terakhirnya telah menyinggung perasaan Seizo. "Aku pikir dua orang itu berbeda, tapi sama saja. Mereka meninggalkanmu juga. Shinigami tetap saja Shinigami, tidak ada niat baiknya."
Seizo mencoba tetap tenang. "Hitsugaya-taichou dan Rukia-san tidak meninggalkanku."
"Lalu ke mana mereka sekarang? Tidak ada di mana-mana. Apa namanya kalau bukan meninggalkan? Padahal sudah tahu kalau kau tidak punya kekuatan—"
"Jangan bilang kau ingin mereka berdua melindungi dan mengasihaniku, hah?" kesabaran Seizo juga ada batasnya ketika didapatinya kalimat pemuda berjambul itu merujuk pada makna yang merendahkan. "Apa itu maksudmu?"
Dan pertahanan Katsumoto pun runtuh. Kedua mata sipitnya bergetar dan mulai kepanasan. "Yah ... setidaknya dengan begitu ... kau tidak akan terluka seperti ini," suaranya melunak. "Kalau kami tidak datang, kau pasti sudah mati. Kalau sudah begitu, apa kau masih ingin membela mereka?" Akhirnya, air mata itu tumpah juga. Katsumoto bahkan tak mau repot-repot menyekanya.
"Katsumoto," intonasi suara Seizo merendah, "kau tidak mengerti."
"Aku memang tidak mengerti," dengan air mata yang membasahi wajahnya, Katsumoto tetap saja menentang, "karena aku bukan Shinigami."
"Karena itu kubilang kau tidak mengerti!" Seizo berteriak. Orang-orang di sana sampai terkesiap. "Kalau tidak mengerti, jangan banyak bicara! Dasar anak bodoh!"
Pertama kali pria yang merupakan pahlawan hidupnya membentaknya, membuat Katsumoto menelan ludah susah payah agar bisa kembali bersuara. "Aku tahu, aku bodoh," suaranya begitu samar, hampir menggumam, "tapi aku tahu satu hal, mereka yang meninggalkan temannya tidak pantas disebut teman. Shinigami itu ... Kau tidak seharusnya membantu Shinigami itu."
"Harus kubilang berapa kali kalau Hitsugaya-taichou dan Rukia-san tidak meninggalkanku, Katsumoto," Seizo berusaha memberi pengertian. Suara bak ayah kembali didapatnya. "Mereka percaya padaku. Begitulah seharusnya Shinigami kepada rekan-rekannya."
"Percaya?"
Seizo berniat menjelaskan, sebelum semak-semak bergemeresek dan memunculkan Koga.
"Koga-san ...?"
"Penjelasan kenapa aku ada di sini bisa menunggu, tapi ada yang lebih penting." Koga menoleh ke belakang. Ia tak sendiri. Salah satu pasukan Onmitsukidou ikut menampakkan diri. Warga Kusajishi siap memberi perlawanan setidaknya sampai wanita bermasker itu mengumumkan.
"Seizo Harugasaki, pergi dari sini. Mereka sekarang menunggumu di perbatasan Rukongai Timur dan Selatan."
Hah? Mereka? Siapa yang dimaksud?
.
.
.
.
.
"Bankai! Jakuho Raikoben!"
Bankai berjenis misil raksasa dari baja emas akan menjadi serangan terakhir Soifon. Ini akan mengakhiri semuanya. Yang berjarak cukup jauh di depannya, berdirilah Toushiro dengan sepasang manik hijau yang membeliak sempurna. Kapten divisi ke-2 itu pasti sudah gila mengeluarkan Bankai di tempat seperti ini. Ditolehkan kepalanya ke belakang sebelum kapten divisi ke-10 itu terbang menjauh. Bisa gawat jika Bankai yang dilihatnya ketika Winter War dilesakkan di tempat ini. Yuuichi—tidak, bukan hanya bocah itu. Seizo, Rukia, Ganju, juga keempat orang yang membantunya akan ikut kena imbasnya.
"Jangan menghindar, Toushiro Hitsugaya," Soifon ber-shunpo, dan berdiri tak jauh dari Toushiro dengan mengarahkan Jakuho Raikoben ke arah berlawanan, "atau kau ingin anak kecil itu mati?"
Toushiro terkesiap. "Kau ...?"
Jakuho Raikoben terarah ke tempat Yuuichi berada, hingga tak pelak kapten divisi ke-10 mengepakkan sayap dan berdiri di hadapannya dengan jarak yang terbilang jauh. Toushiro takkan tinggal diam, ia rela jadi tameng.
"Pikirkan Toushiro Hitsugaya. Pikirkan apa yang bisa kau lakukan untuk menghentikan Bankai ini."
"Jangan main-main, Soifon! Pasukanmu pun akan mati, juga letnanmu!" Toushiro berupaya menyadarkan.
"Aku tidak main-main," tapi tak berhasil. "Anak buahku, Oomaeda, sudah siap mati sejak awal. Asalkan tugas ini berhasil."
Tampaknya komandan Onmitsukidou sudah hilang akal. Demi menghabisi Toushiro, ia akan merelakan semuanya.
Mata menyipit, mengarahkan pada sasaran. Sebelum ditembakkan, Soifon memejam mata siap mengambil resiko semua ini. "Maju!"
Bagai artileri, Jakuho Raikoben melesak sangat cepat. Toushiro tak diberi waktu berpikir ide terbaik apa untuk menahannya, bahkan mengayunkan Hyourinmaru pun tak sempat. Mata membelalak dan tubuh mematung. Ia benar-benar akan tewas.
"Shunkou!"
Namun sebelum meluluhlantakkannya, si pemilik suara menendang Jakuho Raikoben sekuat tenaga. Sekuat yang ia bisa. Menjauhkan misil yang mampu membumihanguskan Rukongai ke langit nan jauh di sana. Sejauh-jauhnya.
"Hachi! Sekarang!"
"Shiju no Saimon!"
Barrier yang terbuat dari kombinasi empat pelindung: Ryubi, Koko, Kikai, dan Hoyoku no Joumon, terlihat membentuk barrier terkuat dengan bentuk persegi. Meredam efek ledakan Jakuho Raikoben di atas sana. Hanya tekanan udara dan getaran samar yang terasa setelah misil itu meledak.
"Uh~ tepat waktu," si pembuat barrier tampak lega, kemudian pandangannya tertumbuk pada Soifon. Yang dipandang hanya menekuk wajah, dan kian tertekuk ketika suara orang yang begitu dikaguminya menggema.
"Apa yang kau pikirkan, Soifon? Kau ingin menghancurkan Rukongai, ya?"
"Yo-Yoruichi-sama ... ma-maaf ... saya ..."
Malu. Soifon serasa tak punya kekuatan, bahkan untuk menatap wanita berkulit gelap itu. Tak lama kemudian, sahutan Toushiro mengusik reuni mereka.
"Yoruichi Shihouin?"
Yoruichi agak tersentak; dan ketika berbalik, mimik muka tak tertebak terpampang di sana sebelum diubah menjadi seringai jahil.
Wanita ini ... kawan?—atau justru musuh?
.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
.
.
A/N :untuk arc ini dan arc terakhir (South Rukongai Arc), gak akan ada chapter transisi seperti 2 arc sebelumnya. Saya gak buat karena takut motong konflik yang hampir nyampe klimaks. Chapter transisi kan saya buat khusus untuk scene HitsuRuki, yang di mana gak berhubungan dengan konflik di fic ini. Tapi karena di arc terakhir HitsuRuki-nya cukup banyak, jadi gak usah buatlah. Jadi, chapter transisinya saya jadiin chapter keenam.
Oke, gitu aja cuap-cuapnya. Jika ada uneg-uneg, kritik, saran, jangan sungkan-sungkan sampaikan di kotak review. Tenang aja, saya gak hobi gigit kok(?) Sampe jumpa lagi ya di arc terakhir: South Rukongai Arc.
Ray Kousen7
26 November 2012
