Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Kore Wa Zombie Desu Ka? © Shinichi Kimura
Star guest: Eucliwood Hellscythe (sebagai adiknya Naruto di dalam fic ini. Nama marganya diubah menjadi Uzumaki Hellscythe, atas kesepakatan saya dengan Bima Ootsutsuki. Mungkin dia OOC di fic ini.)
Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton Future Media, dll
Star guest: Yowane Haku (sebagai adiknya Minato di fic ini. Dewi bulan yang bernama Selena)
.
.
.
Pairing: Naruto x Koneko
Genre: romance/adventure/fantasy
Rating: M
Note: Penambahan chara di luar fandom Xover Naruto and High School DxD ini, bertujuan untuk dijadikan pemain pendukung cerita saja. Artinya sama saja dengan bintang tamu yang bermain di sebuah film. Betul, kan? Hehehe ... ^^
Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah. Saya hanya menulis karena hobi. Cerita ini dibuat berdasarkan naskah yang sudah ada.
Terima kasih.
Selamat membaca ya ...
Sabtu, 30 April 2016
.
.
.
THE WANDERERS
By Hikasya
.
.
.
CHAPTER SEBELUMNYA:
"CERBERUS?!"
Jiraiya yang sibuk menghadapi monster-monster yang terus menyerangnya, kaget setengah mati melihat dari kejauhan karena makhluk mitologi berjenis anjing yang menjaga neraka itu, bisa juga muncul di saat-saat seperti ini. Keadaan semakin gawat saja saat dua makhluk raksasa bersiap-siap untuk bertarung di bawah perintah majikan masing-masing. Suasana meruncing dan meningkat drastis akibat peperangan antar dewa yang pertama.
.
.
.
Chapter 21. Akhir cerita masa lalu
.
.
.
Sementara itu, Kushina sudah melahirkan bayi kembarnya itu di sebuah gua, jauh dari desa Konoha. Di sanalah, Kushina disembunyikan bersama Selena dan ibu Minato. Juga ada Tsunade yang membantu persalinan Kushina dan Kakashi yang ditugaskan untuk menjaga Kushina.
"Ah, bayi kembarnya sudah lahir ...," kata Tsunade yang menyeka keringat yang turun dari balik rambut kremnya."Bayi pertama adalah laki-laki. Bayi kedua adalah perempuan. Kembar tidak identik."
Selena, ibu Minato dan Kakashi senang mendengarnya. Mereka berdiri tak jauh dari Tsunade dan Kushina.
"Wah, benarkah ... Tsunade-san?" seru Selena yang mempunyai nama manusia yaitu Yowane Haku. Dia adalah seorang gadis berambut putih dan bermata abu-abu. Umurnya sekitar 22 tahun.
"Syukurlah, mereka selamat ...," sang ibu menghelakan napas leganya.
Sedangkan Kakashi terdiam saat menyaksikan semua ini. Hatake Kakashi, begitulah nama kepanjangannya. Seorang laki-laki berambut putih dan bermata hitam sayu. Kain hitam menutupi hidung dan mulutnya. Dia adalah murid Minato. Umurnya sekitar 13 tahun.
Usai melahirkan, Kushina tampak kelelahan. Wajahnya pucat pasi. Napasnya sedikit tersengal-sengal. Dia terbaring lemah di tanah yang bersih dan kering.
Dia pun bertanya pada Tsunade.
"Tsu-Tsunade-san, bagaimana dengan keadaan bayi kembarku?"
Tsunade menjawabnya sambil berlutut di samping Kushina. Dia sudah membersihkan tubuh dua bayi kembar itu dengan air bersih. Lalu dua bayi kembar itu dibungkus dengan kain tebal berbeda warna. Dua bayi kembar itu sudah berhenti menangis.
"Tenang saja. Mereka baik-baik saja. Mereka sangat lucu sekali. Kembar tapi tidak identik."
"Eh, ke-kembar tidak identik?"
"Iya, bayi laki-laki ini memiliki penampilan yang sama dengan Minato. Rambutnya pirang tapi kulitnya kecoklatan. Sedangkan bayi perempuan ini berambut putih. Kulitnya juga lebih cerah. Penampilannya mirip dengan Haku. Aku rasa mereka akan menjadi seorang dewa dan dewi nantinya."
Kushina terdiam mendengarkannya. Lalu ia memanggil Kakashi.
"Kakashi!"
"Ah, ya ... Kushina-Obasan ...," Kakashi tersentak dan segera berjalan cepat menghampiri Kushina."Ada apa Obasan memanggilku?"
Dengan wajah yang pucat, Kushina menatap Kakashi.
"Tolong bawa bayi laki-lakiku ini menjauh dari sini. Selamatkan dia terlebih dahulu. Aku mohon, Kakashi."
Kushina melirik ke arah Tsunade. Dia mengisyaratkan pada Tsunade untuk memberikan bayi laki-laki itu padanya. Tsunade mengerti dan memberikan bayi laki-laki itu pada Kushina. Kemudian Kushina berusaha duduk sebentar sembari menggendong bayi laki-lakinya dengan perasaan yang sangat sedih. Kedua matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan air bening yang akan keluar dari iris birunya.
"Anakku ... Kamulah kakak dari bayi perempuanku. Aku harap kamu akan menjadi pria yang tegar, kuat, lembut, penyayang, baik dan perhatian seperti ayahmu. Kamu harus hidup sendirian tanpa ada kami yang akan mengasuhmu. Jalani hidupmu dengan semangat. Jangan menyerah untuk mengejar mimpimu. Aku yakin pada suatu hari nanti, kamu akan pulang kembali ke kampung halamanmu yang sebenarnya. Desa Konoha, itulah asalmu ...," Kushina merasakan tubuhnya bergetar hebat saat mengelus rambut bayi laki-lakinya itu."Bertemanlah dengan siapa saja. Tolonglah orang yang dalam kesusahan. Lindungilah orang yang ingin kamu lindungi. Lalu cintailah gadis yang mirip seperti ibumu ini. Perlakukan dia dengan baik dan penuh kasih sayang jika kamu memutuskan menikah dengannya. Ingat, menikahlah dengan gadis yang kamu cintai. Jangan sakiti hatinya. Siapapun gadis itu, ibu akan merestuinya. Ayahmu juga akan merestuinya. Jadi, jangan sedih jika kita berpisah tanpa mengenal antara satu sama lainnya. Kamu akan mengetahui asal usulmu yang sebenarnya jika kembali ke desa Konoha ini. Di sanalah, kamu akan mengetahui semuanya. Kalau bisa, bawa juga istrimu ke sana juga ya ..."
Kushina tersenyum. Kedua matanya mulai mengalirkan air yang bening. Dia pun mengambil sebuah jubah jingga yang berada di sampingnya. Jubah jingga milik Minato saat menjadi seorang Hokage. Lalu bayi laki-laki itu dibedung lagi dengan jubah jingga sang ayah.
Sambil menangis tersedu-sedu, Kushina mencium kening bayi laki-lakinya untuk terakhir kali. Semua orang di tempat itu, ikut sedih melihat suasana yang mengharu biru seperti ini.
"Aku akan memberimu nama keluargaku agar dewa kematian tidak bisa menemukanmu. Uzumaki ... Uzumaki Naruto. Itulah namamu, anakku ...," lanjut Kushina sambil memberikan Naruto pada Kakashi."Kakashi, tolong bawa Naruto sejauh mungkin dari sini. Kalau bisa titipkan Naruto di panti asuhan. Tulis pesan pada pemilik panti asuhan itu kalau nama bayi laki-laki ini adalah Uzumaki Naruto."
Kakashi mengangguk dengan wajah yang sangat kusut. Ia menggendong Naruto dengan erat.
"Baik."
Kemudian Naruto dimasukkan ke dalam keranjang kayu yang sudah disiapkan oleh Kushina. Sebelum pergi, Kakashi menulis pesan di gulungan kertas kecil dengan tulisan singkat yaitu "Uzumaki Naruto."
Terlihat Haku dan ibu melepaskan kepergian Naruto dengan tangisan. Mereka menggendong Naruto secara bergantian. Bahkan Haku memberikan kekuatan perlindungan di sekeliling keranjang kayu yang ditempati oleh Naruto agar keberadaan Naruto sebagai calon dewa matahari selanjutnya, tidak tercium oleh dewa kematian. Karena energi dewa matahari sudah mulai muncul di tubuh Naruto. Itu membuktikan bahwa Naruto adalah dewa matahari selanjutnya yang akan menggantikan posisi Minato nantinya. Jadi, dialah yang harus diselamatkan terlebih dahulu karena target dewa kematian adalah membunuh calon dewa matahari selanjutnya.
Setelah itu, Kakashi segera pergi sambil membawa keranjang kayu yang berisikan Naruto. Keranjang kayu tersebut ditutupi dengan kain lagi agar keberadaan Naruto tidak tercium oleh monster-monster yang sedang mencari keberadaan Naruto sekarang.
DRAP! DRAP! DRAP!
Dengan mengenakan jubah berwarna coklat, Kakashi berlari cepat menyusuri jalan pegunungan yang terjal. Sebab goa di mana Kushina dan semua orang bersembunyi sekarang, terletak di daerah pegunungan terjal, jauh dari desa Konoha. Hari masih gelap gulita. Dari arah kejauhan, terdengar bunyi ledakan yang dahsyat. Suasana terasa kelam dan penuh bahaya. Di langit yang kosong dan tidak ada apa-apanya, terlihat banyak monster bersayap yang terbang sambil menembakkan serangan masing-masing ke segala arah. Lalu muncul banyak panah cahaya api yang mengenai monster-monster bersayap itu. Panah cahaya api itu adalah serangan dari dewi bulan yang bernama Artemis, adiknya Apollo.
Semua dewa-dewi sibuk berperang melawan monster-monster yang tersisa. Tampak Apollo yang berusaha untuk melenyapkan Hades dengan pedangnya. Hades juga ingin melenyapkan Apollo dengan jurus elemen kegelapannya yaitu "Death Black Hole."
Terciptalah lubang hitam yang berpusar di tubuh Apollo. Apollo kaget setengah mati. Dia tidak menyangka jika pamannya akan melenyapkannya dengan jurus Death Black Hole.
"Apa?"
"HAHAHA, TAK LAMA LAGI KAU AKAN BINASA DARI ALAM INI, APOLLO! AKU TIDAK MEMBIARKANMU HIDUP LAGI! ANAKKU JUGA AKAN MELENYAPKAN ANAKMU!"
Apollo menggeram kesal. Gigi-giginya menggeretak kuat. Dia pun mengaktifkan kekuatan elemen cahayanya pada pedang miliknya.
Teknik elemen cahaya, "Death Light".
Pedang Apollo bercahaya merah. Kemudian pedang itu dilemparnya secepat kilat dan sukses menusuk jantung Hades.
ZLUUUUUB!
Hades terkejut bukan main. Kedua matanya membulat sempurna. Tangan tangannya mengepal kuat.
"Apa yang kau lakukan, Apollo?"
Apollo tersenyum dengan wajah cerah saat bersamaan tubuhnya perlahan-lahan dihisap oleh lubang hitam kematian yang berpusar di tubuhnya.
"Kita akan binasa bersama-sama dari alam ini, paman Hades."
Mendengar itu, Hades kembali tersentak kaget. Kedua matanya semakin membulat sempurna. Sesaat pedang Apollo itu bercahaya merah penuh dan menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya terasa panas dan terbakar hebat. Semakin lama semakin panas. Kemudian ...
DHUAAAAAAAAAR!
Tubuh Hades meledak dahsyat dan berakhir tanpa tersisa. Begitu juga dengan Apollo.
FYUUUUUUUSH!
Lubang hitam kematian menghisap habis seluruh tubuh Apollo. Kemudian lubang hitam kematian itu menghilang begitu saja dari ketiadaan. Melenyapkan Apollo dari ketiadaan. Sehingga Apollo tidak ada lagi di alam ini. Begitu juga dengan Hades.
Dua dewa sudah lenyap dari ketiadaan. Jiwa mereka sudah lenyap. Tidak dapat dibangkitkan lagi kecuali atas izin sang Kami-sama, maka mereka pun bisa bangkit kembali.
Tapi, inilah takdir mereka. Takdir yang sudah tertulis. Tidak dapat ditentang lagi.
Tinggallah dua dewa penerus mereka yang masih saja bertarung habis-habisan dengan menggunakan bantuan hewan peliharaan masing-masing.
BLAAAAAAAAAAR! BLAAAAAAAAAAAAR! BLAAAAAAAAAAAAR! BLAAAAAAAAAAAAAAR! BLAAAAAAAAAAAAAAAAAR! BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAR!
Artemis juga sibuk memanah para monster yang tersisa dengan panah emas miliknya yang bernama "Oria Feather". Dia berdiri di udara bersama Fugaku yang melayangkan tombak ujung perunggunya yang meluncurkan halilintar besar.
BZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZT!
Semua monster tersambar halilintar yang sangat besar. Ditambah dengan halilintar yang datang dari langit, merupakan jurus elemen petir dari Sirzech. Sirzech juga datang untuk membantu para dewa-dewi dalam peperangan besar ini.
BZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZTTTTT!
Terjadilah ledakan dahsyat yang menghancurkan para monster dalam sekejap mata. Tanpa tersisa sedikitpun.
DHUUAAAAAAAAAAAAAAAR!
Akhirnya bala tentara yang dipanggil Kimimaru berhasil dimusnahkan dari bumi ini. Tinggallah Kimimaru yang sedang bertarung dengan Minato, jauh dari sana.
TEP!
Artemis dan Fugaku mendarat di tanah. Menemui para dewa-dewi yang berkumpul yaitu Sirzech, Grayfia, Ares, Yasaka, Hiruzen, Jiraiya dan Azazel. Membicarakan sesuatu yang penting.
"Syukurlah aku datang tepat waktu," ujar Sirzech yang menghembuskan napasnya yang lega.
"Aku sudah katakan padamu, kan suamiku? Kalau Galen tidak akan main-main dengan sumpahnya waktu itu," ungkap Grayfia yang berdiri di samping Sirzech.
"Ya, aku tidak menyangka kejadiannya bakal seperti ini."
Sirzech mengedarkan pandangannya ke segala arah. Semuanya tampak hancur dan kacau balau. Desa Konoha sudah rata dengan tanah. Mayat-mayat berserakan di mana-mana. Api yang berkobar menghiasi tempat itu. Asap-asap mengepul dari hasil ledakan yang telah menyapu bersih tempat ini. Sebagian bumi hancur lebur akibat kemurkaan sang dewa kematian.
"Ini semua salahku, ayah," ucap Azazel yang memasang wajah kusut."Akulah yang mengajarkan kekuatan kegelapan pada Galen atas permintaan Hades. Hades ingin anaknya menjadi dewa kematian yang sangat hebat. Galen berharap sekali padaku dan ingin belajar menggunakan ilmu elemen kegelapan itu. Ya, aku pun mengajarkan semua ilmu elemen kegelapan padanya dan berharap juga dia akan menggunakan kekuatannya itu sebaik-baiknya. Tapi, kenyataannya ... Dia malah bersumpah akan menjadi musuh dewa matahari hanya karena Sword Of Eden itu. Pangkal masalah dari kejadian ini adalah perebutan Sword of Eden."
Semua dewa-dewi pun terdiam mendengarnya. Kemudian Sirzech menyahut perkataan Azazel.
"Akulah yang salah karena aku yang telah menyebabkan kekacauan ini. Andai saja aku tidak mengadakan pertarungan untuk mendapatkan Sword Of Eden itu, pasti kejadian ini tidak akan terjadi."
"Tapi, ini sudah takdir. Sang Kami-sama yang telah menyuruhmu untuk mengadakan pertarungan itu, kan suamiku?"
"Eh, itu benar, Hera."
"Jadi, jangan salahkan dirimu atas kejadian ini. Kau adalah Raja para dewa yang bisa menentukan takdir atas izin sang Kami-sama. Mengadakan pertarungan antar dewa-dewi untuk menentukan pemilik baru Sword Of Eden. Takdir telah menjatuhkan Sword Of Eden pada Helios. Jadi, ini adalah takdir yang tidak bisa diubah. Kejadian seperti ini mutlak terjadi. Kita harus menerimanya."
Sang Zeus pun terdiam mendengarkan perkataan istrinya itu. Dia menutup matanya sebentar. Lalu dibukanya kembali.
"Ya, ini sudah takdir yang tertulis. Setelah ini, Helios akan ..."
Perkataan Sirzech terputus sejenak. Artemis pun mendesak sang Raja para dewa itu untuk meneruskan perkataannya.
"Ada apa? Apa yang akan terjadi pada Helios, ayah?" tanya Artemis yang mulai khawatir.
Cukup lama terdiam, Sirzech pun menjawabnya.
"Aku harus menyelamatkan Helios secepatnya karena Galen akan melenyapkan Helios dengan menggunakan Death Black Hole."
Semuanya pun tersentak kaget. Bersamaan Sirzech segera terbang melesat secepat kilat menuju ke tempat Minato dan Kimimaru yang masih bertarung.
Jiraiya memasang ekspresi yang sangat kaget. Kedua matanya membulat sempurna disertai mulut yang menganga lebar.
Grayfia yang mengatupkan kedua tangannya sambil menutup matanya rapat-rapat.
Fugaku yang memanggul tombaknya di bahu kanannya.
Ares bersidekap dada dan memasang wajahnya yang kusut.
Hiruzen memegang jenggotnya yang sudah memutih.
Yasaka berwajah serius tapi kelihatan panik.
Azazel yang menghembuskan napasnya yang sangat berat karena merasa telah mendidik murid yang salah.
Akhirnya bencana besar ini terjadi juga. Akibat sumpah Kimimaru dan Minato dalam perebutan Sword Of Eden. Intinya, Sword Of Eden inilah sumber masalah dari bencana besar ini. Begitulah yang terjadi.
.
.
.
BWOOOOOOOSH!
Semburan api biru besar meluncur cepat ke arah Cerberus. Cerberus pun membalas serangan api biru itu dengan tembakan api dari ketiga kepalanya. Membentuk bola api raksasa yang tergabung dari tembakan ketiga kepala itu. Lalu meluncur ke arah serangan api biru itu.
Terjadilah benturan serangan yang saling menghantam di udara. Menimbulkan ledakan yang besar.
DHUAAAAAAAAAAAR!
Sang kucing raksasa terus berlari menyerbu Cerberus itu. Menembakkan serangan api biru yang bertubi-tubi dari dua ekornya. Melesat secepat kilat. Menghindari bola api yang ditembakkan oleh setiap kepala Cerberus.
BWOOOOOSH! BWOOOOOSH! BWOOOOOOOOOSH! BWOOOOOOOOOOOOOSH! BWOOOOOOOOOOOOOOOOSH!
BWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOSH!
Dengan gesit, Matatabi menghindarinya sambil terus menembakkan serangan api biru dari dua ekornya. Minato tampak berlutut di atas kepala Matatabi. Dia berpegangan erat pada bulu biru bersinar Matatabi.
Sementara Kimimaru berdiri di udara, menyaksikan pertarungan itu. Dia bersidekap dada dengan wajah yang sangat datar.
HUP!
Matatabi melompat tinggi untuk menghindari bola api yang lewat di bawahnya. Jaraknya dengan jarak Cerberus semakin dekat. Bersamaan Minato melompat jauh sambil melayangkan pedangnya secara vertikal dengan cahaya kuning menyala di sekujur tubuhnya. Itulah mode Yellow Flash.
"RASAKAN INI! HIAAAAAAAAAAAAAAAT!"
CRAAAAAAAAAAAASH!
Sword of Eden membelah kepala Cerberus di bagian tengah. Hingga dibelahnya Cerberus itu sampai terbagi dua. Si anjing berkepala tiga itu menggeliat kesakitan dengan suara yang sangat keras.
GAAAAAAAAAAOOOOOOO!
Dalam sekejap mata, Cerberus itupun berubah menjadi abu yang diterbangkan angin malam. Sesaat Minato mendarat di tanah dan ...
SYUUUUUUUUSH!
Tembakan bola kegelapan raksasa meluncur ke arahnya. Minato menyadarinya. Lalu ...
DHUUUUUUUUUAAAAAAAAAAAR!
Matatabi yang terkena serangan "Dark Ball" itu. Dia menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Minato.
BRUUUUUUK!
Sang kucing raksasa ambruk ke tanah. Tubuhnya lemas seketika.
"Matatabi!" seru Minato keras. Dia ingin menghampiri Matatabi. Namun, Kimimaru mencegahnya. Dia mengayunkan pedang kegelapannya secara horizontal ke arah Minato yang lengah.
TRAAAAAAAAANG!
Minato menahan serangan pedang Kimimaru dengan cepat. Wajahnya mengeras penuh amarah.
"Galen ... Hentikan semua ini! Kau ... KAU SUDAH SANGAT KETERLALUAN! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!"
Kimimaru hanya tersenyum sinis. Wajahnya menggelap bagaikan iblis.
"Oh ya ...? Inilah yang kusuka. Kehancuran dan kematian. Itulah yang diingini seorang dewa kematian seperti aku. Termasuk kau juga, aku akan mencabut nyawamu sekarang juga, Helios ...," salah satu tangan Kimimaru yang bebas bergerak ke arah Matatabi."Terlebih dahulu aku akan melenyapkan makhluk yang tak berguna ini."
DWOOOOOOOOOONG!
Lubang hitam muncul di tubuh Matatabi. Itu adalah teknik Death Black Hole. Kimimaru bermaksud akan melenyapkan Matatabi dari ketiadaan.
FYUUUUUUUUSH!
Lubang hitam kematian menghisap cepat tubuh Matatabi dalam sekejap mata. Lalu menghilang dari tempat itu selamanya.
ZAAAAAAAAAAAAAA!
Angin malam bertiup kencang. Menerpa apa saja yang ada di dekatnya. Memberikan kesan yang begitu kelam di tempat yang sudah hancur lebur itu.
Pandangan Minato tampak nanar. Ia sangat syok melihat semua ini. Matatabi, sahabat terbaiknya sudah hilang dari ketiadaan.
GYUUUUUT!
Kedua tangan Minato mengepal kuat. Gigi-giginya menggeretak keras. Wajahnya menegang. Kemarahan berkobar di hatinya seiring sinar kuning di tubuhnya juga semakin berkobar.
"TAK AKAN KUMAAFKAN! KAU HARUS KULENYAPKAN DARI DUNIA INI, GALEN! HAAAAAAAAAAAAA!"
Sang dewa matahari mengamuk sejadi-jadinya. Sword of Eden bernyala api merah. Kemudian bergerak maju sehingga Kimimaru mundur dibuatnya. Pedang mereka masih melekat. Lalu Minato memajukan pedangnya untuk menusuk Kimimaru.
Dengan tangannya yang bebas, Minato mengeluarkan rasengan biasa dan dilayangkannya tepat ke arah ulu hati Kimimaru.
BLAAAAAAAAAR!
Rasengan itu sukses mengenai bagian ulu hati Kimimaru. Menimbulkan bekas ledakan yang berpusar di bagian ulu hatinya. Membuat Kimimaru terpelanting jauh ke belakang.
ZYUUUUUUUUUUUUNG!
Kimimaru jatuh menghantam pepohonan yang terbakar. Pedang kegelapan itu terlepas dari tangannya.
BRUUUUAAAAAAAAAAAK!
Tubuh Kimimaru lemas seketika. Mengeluh kesakitan yang luar biasa di bagian ulu hatinya. Terbaring dalam keadaan terlentang.
ZLUUUUB!
Tanpa disangka-sangka, Sword of Eden telah menusuk dada kirinya. Menembus jantungnya yang telah mengeluarkan darah merah segar. Dada kirinya bersimbah darah merah kehitaman yang mengental.
Kedua matanya melotot. Wajahnya syok saat melihat Minato yang telah menusuk dada kirinya dengan pedang bernyala api merah. Kini sang dewa kematian sudah menemui ajalnya. Dia akan lenyap dari ketiadaan.
"Galen ... Alias Kimimaru. Kau sudah tamat sekarang. Sumpahku sudah menjadi kenyataan. Sword of Eden telah berhasil menusuk dada kirimu. Pedang ini tidak akan membiarkanmu hidup lebih lama lagi. Kejahatan harus dimusnahkan dari dunia yang tidak berdosa ini."
Merasakan sakit yang luar biasa di dada kirinya, Kimimaru pun sempat mengatakan sesuatu untuk terakhir kalinya.
"A-Aku ... Tidak akan berhenti untuk menjadi musuhmu. Generasi dewa kematian baru yang akan membalas kematianku ini. Anakku yang akan lahir ke dunia ini sebentar lagi. Dialah yang akan menjadi musuh baru buat anakmu dan dunia ini. Dialah yang akan meneruskan kebencianku pada dewa matahari. Ingat itu, Helios. Dewa kematian akan selalu ada untuk mengacaukan dunia ini. Hehehe ..."
Kimimaru menyempatkan dirinya untuk tertawa sinis. Lalu salah satu tangannya pun mengarah pada Minato.
"Sebelum aku pergi, aku akan melakukan sesuatu. Terimalah ... SERANGANKU YANG TERAKHIR INI, HELIOS!"
DWOOOOOOOOONG!
Lubang hitam mendadak muncul di tubuh Minato. Minato kaget bukan main.
FYUUUUUUUUSH!
Dengan cepat, lubang hitam kematian itu menghisap cepat tubuh Minato beserta jiwanya. Tapi, sebelum itu, jiwa Minato cepat ditarik oleh Sirzech yang tiba-tiba muncul di samping Minato. Sirzech menggunakan teknik "Soul Hand". Sehingga tubuh sejati Minato yang terhisap ke lubang hitam kematian itu. Bersamaan tubuh Kimimaru meledak hebat.
DHUAAAAAAAAAAAR!
Sebelum terjadi ledakan, Sword of Eden juga ditarik oleh Sirzech dengan cepat. Lalu membawa jiwa Minato jauh dari pusat ledakan yang membakar habis tubuh Kimimaru sampai hangus. Jiwa Kimimaru juga ikut terbakar. Dia pun sudah lenyap dari ketiadaan.
Sang dewa kematian sudah binasa dari alam ini. Sang dewa kematian baru akan segera lahir untuk menggantikannya.
Semua sudah usai. Perang sudah berakhir. Kini kehancuran yang tertinggal.
Jiwa Minato disegel ke dalam Sword Of Eden oleh Sirzech. Sword of Eden akan disimpan untuk sementara di tempat yang aman dan akan diserahkan lagi jika Naruto sudah menginjak remaja.
Para dewa-dewi bersedih mendengar kabar tentang tubuh Minato yang lenyap. Jiwanya hidup di dalam Sword Of Eden sekarang. Sirzech yang menceritakannya pada mereka.
Dengan kemampuannya sebagai dewa langit, Sirzech mengembalikan keadaan bumi seperti semula atas izin sang Kami-sama. Desa-desa yang dihancurkan kembali berdiri. Pepohonan yang rusak dan terbakar kembali menghijau. Tapi, para manusia yang sudah mati tidak dapat hidup kembali. Hanya keadaan bumi yang kembali hidup sediakala.
Setelah keadaan bumi sudah kembali seperti semula, para dewa-dewi kembali ke negeri Olympus. Jiraiya juga pergi menemui Kushina yang berada dalam goa. Kushina masih terbaring lemah di tanah sambil ditemani oleh Tsunade, Haku dan ibu Minato. Kemudian Jiraiya menceritakan semua yang terjadi pada Minato. Semua orang kaget mendengarnya.
"TIDAK! TIDAK MUNGKIN! MINATO MANA MUNGKIN BISA LENYAP DARI DUNIA INI!" teriak Kushina sekeras mungkin."MINATO ...! KENAPA KAU MENINGGALKAN AKU? KENAPA? MINATOOOOOOOO ... Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
Kushina menangis tersedu-sedu. Dia sangat syok. Begitu juga dengan Haku dan ibu. Mereka juga menangis karena harus kehilangan Minato dengan cara seperti ini. Tsunade dan Jiraiya berwajah sedih atas kabar duka ini.
Tiba-tiba ...
Kushina mengalami komplikasi. Dia merasakan perutnya berkontraksi sangat hebat. Sakit sekali. Dia memegangi perut bagian bawahnya sekuat mungkin.
"AAAAAAAAAH, PERUTKU SAKIT!"
"Eh, apa yang terjadi?"
Tsunade segera melakukan tindakan untuk memeriksa Kushina. Dengan kemampuannya, dia segera menemukan penyebab Kushina merasakan sakit di perutnya.
Ternyata Kushina mengalami perdarahan hebat karena adanya masalah dan kelainan di dalam rahimnya. Dia tidak mampu menahannya lagi. Hingga pada akhirnya dia pun menghembuskan napas terakhirnya di tempat itu.
SIIIIIING!
Semuanya kembali kaget dan syok. Kushina meninggal dunia tepat di hari kelahiran anak kembarnya. Spontan, Haku dan sang ibu berteriak kencang bersamaan.
"KUSHINA!"
Mereka duduk di samping Kushina sambil menangis. Tsunade juga menangis melihatnya. Jiraiya memasang wajah lirih menyaksikan pemandangan duka seperti ini. Semuanya berakhir dengan tragedi.
Sang dewi bulan menggendong bayi perempuan Kushina dengan penuh kesedihan. Haku menangis dan merasakan energi dewi bulan pada bayi perempuan Kushina itu.
"Aku yang akan merawat bayi perempuan ini. Aku merasakan energi dewi bulan di tubuhnya. Aku menamainya Luna. Nama manusianya adalah Hellscythe. Aku akan memanggilnya dengan sebutan Hell-chan ...," tutur Haku pada ibunya."Ibu, bolehkan aku membawa Luna ke bulan? Aku akan merawatnya di sana dengan penuh kasih sayang. Aku akan melatihnya untuk menjadi dewi bulan yang hebat nantinya."
Sang ibu menjawab.
"Ya, tentu saja boleh. Rawatlah Luna sebaik-baiknya. Mungkin ibu akan pergi dari negeri Olympus dan menyendiri ke tempat lain. Ayahmu dan kakakmu sudah tidak ada lagi. Hanya kamulah yang ibu punyai sekarang."
"Baiklah. Aku mengerti."
Mereka berwajah sedih. Berusaha meredakan tangisannya yang begitu menyayat hati. Tsunade merasa terpukul atas meninggalnya Kushina. Dia merasa belum bisa menjadi dokter yang sesungguhnya. Meskipun dia adalah dewi perapian. Tapi, dia memiliki kekuatan penyembuh yang hanya bisa menyembuhkan luka. Kemampuan dokter yang dipunyainya adalah kemampuan yang didapat selama tinggal di bumi. Dia merasa telah membunuh satu orang. Syok yang begitu mendalam.
Jiraiya terdiam menyaksikan semua kejadian ini, hanya bisa berdiri di dekat mereka. Tidak tahu harus berbuat apa. Menyakinkan dirinya jika semua ini adalah takdir dari sang Kami-sama yang sudah tertulis.
.
.
.
FLASHBACK END
.
.
.
"Begitulah ceritanya. Itulah yang terjadi sebelum kalian dilahirkan ...," kata Jiraiya mengakhiri ceritanya."Aku mengetahui kejadian itu berdasarkan apa yang kulihat, kudengar dan kualami sendiri. Masih banyak yang belum aku ketahui sih. Tapi, kalau mau tahu lebih jelas tentang cerita ini, kalian bisa tanya pada Fugaku. Fugaku sekarang masih tinggal di sini kok."
"Tidak. Tidak perlu. Ini saja sudah cukup, Jiraiya-sensei," ucap Naruto berwajah lirih."Aku sudah puas mendengarkan kebenaran dari cerita ini. Ternyata ayah dan ibuku sudah meninggal. Tapi, ayah ... Jiwanya yang hidup sekarang di dalam Sword Of Eden itu. Kenapa ...?"
Naruto memutuskan perkataannya sebentar. Kepalanya tertunduk dalam. Menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sebenarnya. Tubuhnya sedikit bergetar. Dapat dirasakan oleh Koneko saat tangan Koneko masih digenggam dengan tangan Naruto. Tangan Naruto meremas tangan Koneko dengan kuat. Tapi, itu tidak sakit buat Koneko.
'Naruto-kun ... Apa kamu ingin menangis setelah mendengar semua ini? Selama ini kamu berusaha tegar dan menyembunyikan semua kesedihanmu. Kamu selalu tampak ceria. Aku belum pernah melihatmu menangis. Tapi ... Aku juga ingin menangis mendengar semua kisah tentang keluargamu ini. Aku tidak dapat menahannya lagi.'
Koneko menyadari air bening mengalir dari kedua iris kuningnya. Dia sangat sedih sesaat mendengar cerita dari Jiraiya itu.
Bahkan Konan dan Nagato juga menangis. Tapi, ada satu orang yang menangis secara berlebihan yaitu Yahiko. Dia menangis dengan penuh ingus belepotan dan berteriak histeris sekali.
"WUAAAAAAAAAAAAAAAH! SUNGGUH CERITA YANG SANGAT MENYEDIHKAN! AKU SEDIH SEKALI MENDENGARNYA! HUWAAAAAAAAAAAAAAA!"
Semuanya menangis kecuali Jiraiya. Jiraiya memasang wajah lirihnya dengan kedua matanya yang sayu. Terdiam sejenak sambil memandangi Naruto yang masih menundukkan kepalanya.
"..."
Lalu Jiraiya bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan masuk ke arah kamarnya. Yahiko memperhatikannya.
"Jiraiya-sensei, mau kemana dia?" gumam Yahiko yang tiba-tiba berhenti menangis. Dia bengong saat melihat Jiraiya kembali lagi seraya membawa sesuatu di dua tangannya.
Sesuatu itu berbentuk persegi panjang berukuran besar. Dibungkus dengan kain berwarna putih. Lantas Jiraiya langsung menyerahkannya pada Naruto ketika sudah duduk bersimpuh di tempatnya semula.
"Terimalah ini. Benda ini adalah benda peninggalan dari orang tuamu, Naruto."
Mendengar itu, Naruto mengangkat wajahnya. Wajahnya suram. Kedua mata birunya meredup. Dengan tangan sedikit bergetar, dia mengambil benda yang disodorkan oleh Jiraiya padanya. Entah benda apa itu.
"Terima kasih," sahut Naruto dengan nada pelan dan segera membuka bungkusan kain putih yang menutupi benda persegi panjang itu. Koneko memperhatikannya dengan seksama. Begitu juga dengan Yahiko, Konan dan Nagato.
SRET! SRET! SRET!
Bungkusan kain putih sudah dibuka. Memperlihatkan isi di dalamnya ternyata ...
JREEEEEEENG!
Lukisan orang tua Naruto yang tampak nyata. Mereka mengenakan pakaian pernikahan tradisional. Wajah mereka tampak begitu bahagia dan bersinar.
Rambut Kushina yang disanggul dengan konde. Mengenakan kimono putih shiromuku. Dia merangkul lengan Minato dengan senyuman yang lebar. Minato yang tampak gagah dalam balutan baju kimono dan hakama hitam. Dia tersenyum manis disertai kemerahan di dua pipinya. Salah satu tangannya memegang rambutnya. Latar belakang warna biru cerah menambah kesan hidup bagi dua orang yang ada di lukisan itu. Di bawah lukisan itu tertera nama "Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina."
TES!
Air bening jatuh membasahi kanvas lukisan itu. Air bening yang berasal dari iris biru sang Uzumaki. Ternyata air mata yang ditahannya sedari tadi, tidak dapat lagi ditahan. Mendesak untuk keluar. Merasakan kerinduan dan kesedihan atas keluarganya. Kini dia sudah mengetahui siapa dia yang sebenarnya. Di desa Konoha, tempat kebenaran yang sesungguhnya.
"Kaa ... Kaasan ... Tou ... Tousan ... A-Aku sudah pulang. Uzumaki Naruto, putra kalian sudah pulang ke desa Konoha ini. Aku sangat merindukan kalian. Sungguh rindu ... Huhuhu ..."
Naruto menangis tersedu-sedu dengan senyuman kecil. Air matanya terus mengalir. Tubuhnya berguncang hebat. Kepalanya tertunduk dalam.
Untuk pertama kalinya, Koneko melihat Naruto menangis. Untuk pertama kalinya, Naruto bertingkah seperti bocah berumur 10 tahun yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Kini dia sudah tahu semuanya dari Jiraiya. Betapa terpukulnya hati Naruto setelah mendengar semua ini. Orang tuanya sudah tiada sekarang. Tapi, jiwa sang ayah masih sempat menemui Naruto di saat-saat tertentu saja. Itupun tanpa diduga sama sekali.
Tangan Koneko memegang bahu Naruto. Dia juga ikut menangis sambil menatap lukisan itu.
"Naruto-kun ...," bisik Koneko pelan. Kedua matanya menyipit sayu.
Semua orang tampak terhanyut dalam suasana sedih ini kecuali Jiraiya. Jiraiya hanya memasang wajah lirih. Dia memandang Naruto dan Koneko dengan penuh perasaan yang tidak menentu. Kedua matanya menyipit tajam. Entah apa yang dipikirkannya. Namun, yang pasti di dalam pikirannya hanya ada satu persoalan yaitu tentang hubungan Naruto dan Koneko sekarang.
'Kenapa gadis Matatabi ini bisa menyukai Naruto ya? Apalagi mereka sudah menikah hampir dua bulan ini. Hm ... Aku tak habis pikir. Apa cinta mereka ini terlarang atau bukan ya? Ah, aku sendiri bingung sih ...,' batin Jiraiya pada dirinya sendiri.
Setelah itu, keadaan mulai memasuki tahap konflik pertengahan. Bagaimana reaksi Yami jika mengetahui Koneko sudah hamil? Lihat saja bagaimana kelanjutannya.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Hm, gimana ya pertarungan Matatabi dengan Cerberus? Kekuatan Matatabi di fic ini berdasarkan hasil imajinasi saya sendiri. Apa udah sama dengan yang di canon-nya? Saya sendiri nggak tahu. Hehehe ...
Ya, udah terasa nyampe di chapter 21. Setelah ini konflik yang sebenarnya akan dimulai. Tengok saja di chapter 22 nanti.
Terima kasih buat yang mereview dan membaca sampai di sini.
Arigatou gozaimasu.
Sekian dari saya.
Author Hikasya
Minggu, 1 Mei 2016
