PUISI UNTUK CINDERELLA

CHAPTER 21

Shim Kyeong adalah pria pintar, cerdas, licik, sebut segala hal yang bisa membuatnya terlihat begitu berkuasa, ia memiliki hal itu. Setelah keluar dari rumah keluarga Yoon, dapat dikatakan, Shim Kyeong tak puas. Ia tidak mempermasalahkan akan kepada siapa Choi Minho jatuh cinta namun ada sisi dalam dirinya yang tidak percaya bahwa cinta yang sedang Minho perlihatkan adalah sebuah kesungguhan, sesuatu yang benar-benar terjadi. Singkat kata, Minho tak sebenarnya-benarnya jatuh cinta kepada Jeonghan dan menikah hanya karena syarat dari Shim Kyeong sendiri. Melihat perawakan Jeonghan, tak mungkin ia menggoda Minho atau apapun itu.

Tuan Kang membaca kegelisahan Paman Kyeong dari bangku supir. Ia bertanya, "Sesuatu mengganggu pikiran Anda Tuan?"

"Katakan, apa kau pernah melihat perilaku Minho yang aneh semenjak ia sampai di Seoul?"

"Aneh? Tidak. Tapi saya sering melihatnya menulis. Sepertinya Tuan Muda gemar menulis."

"Oh ya, aku sering melihatnya menulis namun tak pernah sekalipun Minho memberitahuku apa yang tengah ia tulisnya. Selain itu? Apa ia sering pergi ke suatu tempat yang spesifik? Restoran atau apapun itu?"

Tuan Kang menggeleng ragu. Bagaimana ia akan tau jika nyaris 24 jam ia juga harus mengurus Paman Kyeong dan Minho selalu terbang menghilang tiba-tiba dari mansion tanpa sepatah kata.

Paman Kyeong tiba-tiba mengeluarkan telunjuknya, mengetuk-ngetuk angina seolah menunjuk sebuah fakta yang mengambang. Tuan Kang terlihat kerepotan antara melihat Paman Kyeong dan jalanan di depannya.

"Kau mengerti?" tanya Paman Kyeong entah atas dasar apa. "Minho tidak pernah pergi berkencan dan secara tiba-tiba ia mengatakan padaku ia ingin menikah? Bukan 'kah itu aneh untukmu Tuan Kang?"

Tuan Kang mendengung panjang lebar. Ia pun tak tau harus menanggapi seperti apa.

"Seberapa lama mereka saling kenal? Dimana mereka pertama kali bertemu? Bagaimana bisa mereka bertemu? Apa yang mereka lakukan saat pertama kali bertemu? Apa yang mereka lakukan saat mereka berkencan?" pertanyaan Paman Kyeong semakin bertubi-tubi.

"Aku rasa pertanyaan terakhir agak sedikit tabu untuk ditanyakan—"

"..bagaimana mereka bisa jatuh cinta..?" Paman Kyeong tidak mendengarkan Tuan Kang. "Tuan Kang, apa kau memiliki kenalan mata-mata handal?" secara tiba-tiba pertanyaan menjadi berputar menyeramkan.

Tuan Kang tidak menjawab pertanyaan tersebut karena ia tau akan pergi kemana hal berikutnya berlanjut.

"Aku memerlukan mata-mata handal."

"Tuan, Anda terlalu keterlaluan jika harus tidak percaya dengan perasaan yang dimiliki oleh Tuan Muda."

"Aku benar-benar memerlukan mata-mata handal."

"Tuan—" Tuan Kang akhirnya mengalah, menghela panjang. "Baiklah, saya akan mencarikan mata-mata handal walau saya yakin Anda tak memerlukannya."