CHAPTER 21
Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others
Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)
Rate : T
Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.
Annyeong, chingudeul. mian saya ga bs updet kilat ky dulu2 hbs skrg hrs cari wangsit bwt mangkas2 & tambal sulam ~omongan ga ada juntrungnya, abaikan~ hehe... mksd saya masukin lanjutan crita yoosu krn kan pd awalnya mrk ga temenan, jd saya mikir2 gmn caranya biar mrk bs saling deket gt :p. & tujuan saya biar bs jd penghibur bwt bbrp chingu yg mgkn nyesek baca jaema didzalimi trus. tp kynya ga brhasil, ya? jeongmal mianhae, kekeke... mgkn skitar 6-8 chap lg the end, smoga :). msh puanjang, ya :p. smoga chingudeul skalian msh mau nemeni saya ^^. o, iya. uchun jd superman dsni, jd cm istirahat brp hr aja udh pulih :p. jaema ga bs jualan panci, kan pancinya udh dirusakin sm org2nya pak kim kmrn LOL. drpd trus omong gaje lanjut aja ne :D.
###
"J-Jae-ah…" Jaejoong menoleh ke arah suara panggilan itu. Wajahnya sedikit terkejut melihat Yunho, tapi dengan segera dia memalingkan wajahnya lagi.
Yunho menatap Jaejoong yang tampak berantakan dari atas sampai bawah. Segera dia menyadari apa yang baru saja terjadi dan itu membuat hatinya sakit. Dengan hati-hati dia memegang bahu Jaejoong. "Jae-ah…" Seketika Jaejoong menepis tangannya dengan kasar.
"Jae-ah, mianhae…"
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Jaejoong dingin tanpa memandang Yunho.
"Jae-ah, ayo pulanglah bersamaku." ujar Yunho dengan tatapan memohon.
"Pulang? Rumahku sejak dulu sampai sekarang di sini. Selamanya aku tidak bisa keluar."
"Kau hanya akan menderita di sini."
"Aku justru akan menderita kalau aku harus mendengarkan semua omelanmu yang terus-menerus menyebutku rendah. Lebih baik aku di sini."
"Mi-mianhae. Jeongmal mianhae. Aku menyesali semua ucapanku semalam. Aku tidak punya perasaan. Aku sudah menyakitimu."
Jaejoong menoleh ke arah Yunho dengan tatapan datar tanpa ekspresi. "Kalau kau sudah selesai bicara, kau bisa pergi. Aku tidak mau melihatmu lagi."
"Jae-ah…"
"Apa perlu kutunjukkan jalan keluar?"
"Jae-ah, aku mau kau ikut bersamaku."
"Yunho-ah, apa perkataanku…"
Tiba-tiba suara langkah kaki yang sepertinya menuju ke atas mengejutkan Yunho.
"Cepat pergi dari sini."
"Ani! Aku tidak akan pergi tanpamu."
"Kalau kau tidak segera keluar, mereka akan menangkapmu."
"Aku tidak peduli. Biar saja mereka menangkap dan memukuliku." ujar Yunho dengan kekeraskepalaannya.
Jaejoong menatap Yunho. Sorot kekhawatiran mulai muncul dari kedua matanya. "Yunho, jangan bercanda."
"Aku sama sekali tidak bercanda."
Jaejoong menoleh ke pintu, semakin tegang mendengarkan suara yang semakin dekat itu. Apa yang akan mereka lakukan kalau melihat Yunho di kamar itu? Walaupun saat itu dia membenci Yunho, dia tetap tidak mau terjadi apa-apa pada Yunho.
"Ayo kita pergi." Yunho mengulurkan tangannya ke arah Jaejoong. Jaejoong ragu-ragu sejenak sebelum meraih uluran tangan Yunho. Yunho menghela nafas lega. Yunho menutupi pakaian Jaejoong yang sobek dengan jaketnya. Tanpa membuang waktu mereka keluar melalui jendela. Yunho membantu Jaejoong menuruni pohon itu dan mengendap-endap menuju gerbang kecil.
Setibanya mereka di luar, mereka mendengar suara yang familiar. "Yunho-ah."
Yunho mencari asal suara dan seketika menghela nafas lega melihat Junsu di dalam mobil. "Kenapa kau bisa di sini?"
"Sudahlah. Ayo cepat masuk. Kita harus segera pergi sebelum mereka menyadari perbuatanmu." ujar Junsu.
Tanpa membuang waktu mereka memasuki mobil itu. Yunho terkejut melihat si pengemudi yang tidak lain tidak bukan adalah Yoochun. "Yoochun, bagaimana bisa kalian di sini?"
Yoochun melihat wajah Jaejoong yang pucat dan seketika dia mengencangkan cengkeraman tangannya ke kemudi dengan sorot mata berapi-api. Junsu yang menyadari perubahan wajah Yoochun mengguncang lengannya pelan.
"Kami mengikutimu sampai ke sini. Kami berpikir mungkin kalian akan membutuhkan bantuan." ujar Junsu.
"Gomawo, Junsu-ah, Yoochun-ah." ujar Yunho penuh rasa syukur. Lalu dia menoleh ke arah Jaejoong yang masih berada di dunianya sendiri. Kesunyian menyelimuti keempat namja itu. Tidak ada seorangpun yang bersuara.
"Berhenti di sini."
Ketiga namja itu memandang Jaejoong dengan heran.
"Wae, Jaejoong-ah? Apartemen kita masih beberapa meter lagi, kan." ujar Yunho.
"Kubilang aku mau turun di sini." sahut Jaejoong dingin.
Yoochun dan Junsu berpandangan sejenak sebelum Yoochun menghentikan mobilnya.
"Gomawo." ujar Jaejoong sambil keluar dari mobil.
Yunho mendesah karena Jaejoong sama sekali tidak menghiraukannya. "Sekali lagi terimakasih atas bantuan kalian." ujarnya lalu mengikuti Jaejoong.
"Kenapa kauhalangi aku memberi pelajaran padanya?" tanya Yoochun dengan geram.
"Yoochun-ah, ini masalah mereka dan kita tidak boleh ikut campur ne?"
"Dia sudah berjanji untuk tidak menyakiti Jaejoong. Tapi dia tidak menepatinya."
"Bukankah sudah kubilang, kita tidak ada hubungan dengan masalah ini. Biarkanlah mereka menyelesaikannya sendiri. Tolong jangan membuat masalah mereka semakin berat ne?"
Yoochun hanya mendesah tanpa mengatakan apapun.
###
Yunho memandangi Jaejoong yang ada di sampingnya. Mereka sedang duduk di taman dekat apartemen Yunho. Sejak Jaejoong pindah ke sana, tempat itu menjadi tempat favoritnya. Tempat itu sedikit banyak bisa menenangkan pikirannya yang kacau.
"Jaejoong-ah, mianhae…" ujar Yunho lirih. Jaejoong tetap diam tidak merespon. Sejak keluar dari rumahnya, Jaejoong tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Yunho mendesah. "Aku yang bersalah. Pikiranku tidak ada di tempat saat aku membentakmu semalam. Aku tidak sadar dengan semua yang kukatakan." Beberapa saat keheningan menyelimuti kedua namja itu.
"Aku benci diriku sendiri. Aku sudah berjanji untuk selalu menjaga dan melindungimu, tidak akan membuatmu menderita lagi. Tapi apa yang kulakukan justru membuatmu semakin terpuruk. Aku benar-benar tidak berguna. Tapi apa kau tahu? Itu karena aku terlalu mencintaimu."
Perlahan air mata mulai menggenang di kedua mata Jaejoong.
"Aku tahu tidak ada gunanya meminta maaf. Kesalahanku terlalu besar. Akupun tidak tahu apa aku bisa memaafkan diriku sendiri. Kau begitu berharga bagiku lebih dari apapun. Lebih baik aku dipukuli daripada harus melihatmu bersedih. Lebih baik aku mati daripada harus melihatmu terluka seperti ini. Waktu itu yang kurasakan hanyalah emosi. Aku benar-benar marah saat melihatmu ada di pelukan namja itu. Aku benci melihatmu berciuman dengannya. Aku muak melihatnya menyentuh tubuhmu seperti itu. Aku…"
Yunho tidak sempat menyelesaikan ucapannya ketika tiba-tiba bibir Jaejoong menempel di bibirnya. Jantungnya berdebar kencang saat merasakan bibir Jaejoong yang menyapu lembut bibirnya. Beberapa saat kemudian Jaejoong melepaskan ciumannya.
"Selama ini kaupikir aku menikmati setiap ciuman mereka. Tapi apa kau tahu? Aku sama sekali tidak menyukainya. Tidak ada perasaan apapun di hatiku ketika mereka menyentuhku. Yang ada hanyalah rasa jijik tapi apa gunanya mempertahankan tubuhku yang tidak berharga ini? Tapi semuanya berubah sejak aku mengenalmu. Karena kau aku ingin belajar mencintai dan menghargai diriku sendiri. Setiap pelukanmu mampu membuatku aman dan melupakan semua bebanku. Apa sampai sekarang kau belum menyadari perasaanku?"
Yunho tertegun menatap Jaejoong. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia melihat air mata Jaejoong mengalir di pipinya. Tanpa sadar dia mengangkat tangannya menghapus air mata itu. Hatinya bergetar mendengar setiap ucapan Jaejoong, tapi dia belum bisa mempercayainya. Perlahan Jaejoong meraih tangan Yunho di wajahnya dan mendekatkan ke bibirnya. Jantung Yunho serasa berhenti berdetak saat Jaejoong mencium tangannya dengan lembut. Dia tidak bisa menahan perasaannya lagi. Seketika dia memeluk Jaejoong erat-erat.
Beberapa saat lamanya mereka berpelukan. Sejenak mereka melupakan apapun yang ada di sekeliling mereka. Yunho menangkupkan kedua tangannya ke pipi Jaejoong. Perlahan didekatinya bibir yang indah itu dan menyatukannya dengan bibirnya sendiri. Semakin lama ciuman yang lembut itu menjadi agresif dan saling mendominasi. Jaejoong melingkarkan lengannya ke leher Yunho dan membiarkan lidahnya memasuki mulut Yunho menelusuri setiap bagiannya.
"Yu-Yunho-ah…" bisik Jaejoong di tengah-tengah nafasnya yang berpacu. "Aku… aku ingin bersamamu malam ini."
Yunho hanya menatap Jaejoong dengan jantungnya yang berdebar dan nafasnya yang cepat tak beraturan.
###
Yunho dan Jaejoong berada di kamar apartemen mereka. Beberapa menit berlalu dan bibir mereka sama sekali tidak mau melepaskan satu sama lain. Perlahan Jaejoong merebahkan tubuh mereka berdua ke ranjang. Yunho melepaskan ciumannya dari Jaejoong dan menatap wajah cantik yang begitu dekat itu. Jaejoong menangkap keraguan dari sorot mata Yunho. "Wae, Yunho-ah?"
"Jae-ah, apa kau serius mau melakukan ini?"
Jaejoong tersenyum lalu mengangguk. "Aku belum pernah seserius ini, Yunho-ah."
"Aku hanya takut… Aku takut kau menganggapku sama dengan mereka yang hanya menginginkan tubuhmu."
"Aku memang berpikir begitu tapi itu dulu. Aku tidak tahu apakah aku bisa menemukan orang sepertimu di dunia ini. Itu yang membuatku mencintaimu, Yunho-ah."
Yunho terharu mendengar pengakuan Jaejoong. "Jae-ah, aku tahu. Tapi kupikir kau tidak perlu melakukannya."
Jaejoong menatap Yunho dengan kecewa. "Wae? Kau tidak menyukaiku? Kau tidak percaya padaku?"
"Ani! Kau tahu pasti bagaimana perasaanku padamu. Hanya kupikir kau tidak perlu membuktikan cintamu dengan melakukan ini. Aku percaya padamu."
Jaejoong menggeleng. "Aku bukan ingin membuktikan perasaanku. Aku ingin hanya kau yang ada di sampingku dan bukan orang lain. Aku ingin hanya kau yang memilikiku seutuhnya dan bukan orang lain. Dan aku ingin menjadi milikmu seorang. Aku ingin menjadi satu-satunya di hatimu. Aku ingin melakukannya… hanya denganmu."
Yunho masih menatap Jaejoong dengan ragu-ragu. Jaejoong menggenggam tangan Yunho lalu menempelkannya ke wajahnya sendiri. Perlahan dia menggerakkan tangan Yunho turun menyusuri dagu, leher, dan meletakkannya di atas kancing bajunya. Yunho tidak bisa menahan dirinya lagi dan menindih Jaejoong. Dia mencium bibir Jaejoong dengan agresif lalu bergerak turun ke lehernya. Tangan Yunho mulai bergerak meraba apapun yang bisa diraihnya. Dia mulai menyisipkan tangannya ke dalam kaus Jaejoong.
"Aah…" Suara itu mengejutkan Yunho yang segera membuka matanya. Suara itu begitu lemah, suara yang sepertinya sedang menahan sakit. Seketika dia baru ingat bahwa sebagian tubuh Jaejoong sedang terluka. Dia menarik tubuhnya bangkit dari tubuh Jaejoong.
"Wae, Yunho-ah?"
"Kita tidak bisa melakukannya sekarang. Kau sedang terluka."
Jaejoong tersenyum lemah. "Aku tidak apa-apa."
"Ani. Kalau kita meneruskannya, lukamu akan semakin parah. Aku tahu tadi Tuan Kim memaksamu, kan. Aku tidak mau membuatmu semakin sakit."
Jaejoong menatap Yunho dengan terharu. Yunho benar-benar mempedulikan perasaannya. Yunho benar-benar berbeda dari orang lain. Itu membuatnya semakin mencintai Yunho.
Yunho beranjak mengambil obat dan mengobati luka Jaejoong. Jaejoong memegangi tangan Yunho yang berdiri dari ranjang sesudah selesai mengobatinya. "Kau mau ke mana?"
"Aku mau mengembalikan kotak obat ini lalu tidur. Kau juga sebaiknya segera tidur."
"Ani. Aku tidak akan tidur kalau kau tidak di sini bersamaku."
"Eh?"
"Tolong jangan pergi. Temani aku di sini ne?"
Yunho tersenyum dan meletakkan kotak obat di meja dekat ranjangnya. Lalu dia berbaring di sebelah Jaejoong. Dia menarik tubuh Jaejoong merapat padanya. Dia menatap kedua mata Jaejoong yang indah. "Kau tahu? Kalau terus begini aku takut tidak bisa menahan diriku lagi."
"Aku tahu kau tidak akan menyakitiku. Lagipula kalaupun kau tidak bisa menahan dirimu, aku juga tidak keberatan."
Yunho tertawa kecil. Dia mencium kening Jaejoong. "Jaejoong-ah, saranghae."
Jaejoong menatap Yunho dengan lembut. "Nado saranghae, Yunho-ah. Jeongmal saranghae."
Mereka bertatapan selama beberapa saat. "Kenapa kau bisa sampai ke rumah itu lagi, Jae-ah?" tanya Yunho memecah kesunyian diantara mereka.
"Semalam aku pergi tidak tentu arah. Aku tidak tahu mau ke mana. Tiba-tiba ada mobil menghadangku yang ternyata orang suruhannya. Lalu aku dipaksa kembali."
"Jae-ah, jeongmal mianhae."
"Sudah cukup. Aku tidak mau lagi mendengarmu mengatakan itu."
"Jae-ah, bagaimana menurutmu kalau kita pindah ke apartemen baru? Kurasa tempat ini sudah tidak aman."
Jaejoong terbelalak. "Mwo? Kenapa kita harus pindah? Ani. Aku tidak mau, Yunho-ah. Aku suka tempat ini."
"Tapi setiap saat mereka pasti akan datang dan memaksamu pulang."
"Walaupun mereka menyeretku, aku tetap tidak mau pulang. Kau terlalu mengkhawatirkanku, Yunho-ah."
Yunho menghela nafas panjang. "Suatu hari nanti aku akan membawamu ke Gwangju. Kurasa tidak mungkin Tuan Kim mengejar kita ke sana."
Jaejoong terkejut mendengar ucapan itu. Perasaan senang sekaligus tegang bercampur menjadi satu. "Tapi…"
"Wae?"
"Apa orangtuamu akan menyetujui hubungan kita dan menerimaku? Kita ini sama-sama namja, Yunho-ah." ujar Jaejoong ragu-ragu.
Yunho terdiam sejenak. Dia baru sadar kalau dia belum pernah berpikir sejauh itu. Dia menggenggam tangan Jaejoong. "Kalaupun seandainya nanti mereka menolakmu, itu karena mereka belum mengenalmu. Tapi aku akan mendekatkan kalian. Orangtuaku adalah orang yang mengutamakan kebahagiaan anaknya. Kau jangan takut. Yang penting kau mau kan ikut denganku?"
Jaejoong tersenyum. "Ne. Aku akan menuruti semua keputusanmu dan akan terus mengikutimu sampai kau bosan."
Yunho tertawa. "Yah, aku sendiri tidak yakin kapan aku akan bosan padamu." Tiba-tiba Yunho terdiam memandangi Jaejoong.
"Wae, Yunho-ah?"
"Tadi kaubilang kau mencintaiku. Apa aku tidak salah dengar? Aku masih merasa seperti mimpi."
Dengan cepat Yunho memegangi tangan Jaejoong yang akan mencubitnya. Dia tertawa kecil. "Jae-ah, aku tahu kebiasaanmu."
Jaejoong hanya tertawa mendengarnya. Yunho membelai rambut Jaejoong yang hitam dan halus. "Kumohon jangan mendiamkanku lagi ne? Jangan pernah meninggalkanku lagi. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan kalau tidak ada kau."
"Kau juga jangan pernah membentak dan memakiku lagi. Aku tidak peduli bila orang lain menyebutku dengan kata-kata yang paling kasar sekalipun. Tapi aku tidak bisa mendengar itu semua darimu."
"Aku tidak akan memarahimu asal kau berjanji kau tidak akan berbuat konyol seperti itu lagi. Kau tahu aku tidak tahan melihatmu bermesraan dengan orang lain."
"Kau cemburu?" tanya Jaejoong dengan senyum menggodanya.
"Ne. Aku cemburu."
Jaejoong sedikit terkejut dengan keterusterangan Yunho. Dia tertawa. "Sekarang kau baru mau mengakuinya."
"Ne. Jadi jangan pernah sekalipun mengulanginya. Atau aku akan memukulmu."
"Apa kau setega itu?" ujar Jaejoong masih dengan tawanya. "Yunho-ah, aku janji mulai sekarang aku hanya akan memberikan ini untukmu." Jaejoong tersenyum dan mencium kening Yunho, hidung, pipi, lalu turun ke bibir dan melumatnya pelan hingga terdengar desahan dari bibir Yunho.
"Yah, Kim Jaejoong. Jangan menggodaku, atau aku akan…"
"Apa yang akan kaulakukan?" tanya Jaejoong sambil tersenyum-senyum.
Yunho menarik nafas dalam-dalam, berusaha mati-matian menahan hatinya yang sudah bergejolak dengan sentuhan Jaejoong itu. "Kalau kita tidak tidur sekarang, besok kita bisa kesiangan." ujarnya lalu memeluk Jaejoong dan memejamkan matanya.
Jaejoong tersenyum lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Yunho dan memejamkan mata. Dia tahu benar bahwa Yunho sedang berusaha keras menahan diri, sama sepertinya. Untuk pertama kalinya dia berada satu ranjang dengan Yunho. Untuk pertama kalinya dia merasakan debaran jantungnya yang tidak beraturan hanya dengan menempel di tubuh Yunho seperti ini. Sama sekali berbeda dengan orang-orang yang pernah tidur bersamanya. Perlahan dia melingkarkan lengannya ke pinggang Yunho. Dalam waktu singkat kedua namja itu tertidur pulas dalam pelukan hangat.
###
Yunho dan Jaejoong berjalan ke kafetaria dan melihat Yoochun dan Junsu duduk di sudut ruangan.
"Boleh kami bergabung di sini?" tanya Yunho sambil tersenyum dan duduk di depan mereka.
Junsu memandang Yunho dan Jaejoong bergantian dengan terkejut sekaligus gembira. "Sepertinya kalian sudah berbaikan." ujarnya sambil tersenyum-senyum.
Yoochun mengalihkan pandangannya pada Jaejoong. "Kulihat kau pucat sekali kemarin. Seharusnya kau jangan ke sekolah dulu. Kau masih sakit, kan."
Jaejoong tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Gomawo, Yoochun-ah. Yunho… umm… Yunho sudah mengobatiku kemarin." ujar Jaejoong dengan wajah yang mendadak bersemu merah.
Seketika tawa Junsu meledak. "Ommo… aku sudah melewatkan kejadian seru. Sayang sekali, ya."
"Yah, apa maksudmu?" Yunho membelalakkan matanya ke arah Junsu. Yoochun hanya memandangi Jaejoong tanpa ekspresi.
"Umm… apa nanti kalian ada waktu? Kami mau mengundang kalian makan."
"Umm…" Junsu melirik Yoochun dengan ragu-ragu. "Mianhae. Nanti aku tidak bisa."
"Oh, kau ada acara ya?"
"Ne. Umm… Yoochun mau ke rumah."
Yunho memandangi mereka bergantian dengan penuh selidik. "Junsu-ah, aku belum sempat menanyakan ini padamu. Sejak kapan kalian menjadi dekat? Kalian… pacaran?"
Seketika Yoochun tersedak oleh minumannya sendiri.
"Ani! Kau salah!" teriak Junsu dengan wajah yang mulai memerah.
Jaejoong tersenyum geli melihat sikap mereka berdua. "Beberapa hari ini aku sering melihat kalian pergi berdua. Aku jadi bertanya-tanya apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Ani! Kalian salah paham! Yoochun… se-sekarang dia menjadi guru les Kibum." jawab Junsu terbata-bata.
"Eh?" Alis Yunho semakin berkerut tapi bibirnya menyunggingkan senyum menggoda. "Sejak kapan dongsaeng mu mengenal Yoochun?"
"Itu… itu… aisshh… ceritanya panjang, Yunho-ah. Kapan-kapan saja kuceritakan padamu ne." Junsu gelisah menghindari tatapan curiga Yunho dan Jaejoong pada mereka.
Jaejoong tersenyum melihat Yoochun yang salah tingkah. Walaupun Yoochun hanya diam, tapi dari tatapan mereka satu sama lain dia bisa merasakan sesuatu yang berbeda dan istimewa. 'Yoochun-ah, sepertinya kau sudah menemukan belahan jiwamu. Aku tidak pernah menyangka, kenapa kalian bisa begitu terlambat? Aku lega sekarang. Aku ikut bahagia untukmu.' batinnya.
###
Yunho dan Jaejoong pulang dengan mengobrol dan bersenda gurau. Seketika tawa mereka berhenti melihat beberapa namja di depan ruang apartemen mereka.
Salah satu namja membungkuk di depan Jaejoong. "Tuan muda Jaejoong, kami datang menjemput anda kembali."
Jaejoong menoleh ke arah Yunho dengan gelisah. Refleks Yunho menarik tubuh Jaejoong ke belakangnya.
"Yunho-shi, jangan coba-coba menghalangi kami. Cepat lepaskan tuan Jaejoong sebelum kami berbuat sesuatu yang akan membuatmu menyesal."
"Kalian jangan terlalu banyak berharap karena aku tidak akan pernah melepaskannya lagi." ujar Yunho tegas.
"Kalau begitu jangan salahkan kalau kami bertindak kasar." Namja itu melangkah maju dan menarik tangan Jaejoong. Tapi sebelum tangan itu berhasil menyentuh Jaejoong, Yunho sudah mendorong tubuh si namja.
"Kau cari mati rupanya." Namja itu kehilangan kesabaran lalu mulai melayangkan pukulannya. Yunho yang menangkap gerakannya segera menghindar dan balas memukul. Teman-temannya bergerak mulai mengeroyok Yunho. Yunho tidak segan-segan lagi dan memukul setiap namja yang akan menyentuh Jaejoong.
Jaejoong tidak tinggal diam. Dia segera maju membantu Yunho. Dia menggerakkan tangan kakinya memukul dan menendang siapapun yang mendekati mereka. Yunho terkejut dan segera menarik Jaejoong keluar dari arena mereka tapi Jaejoong maju lagi. Seketika para namja itu berhenti menyerang dan memandang Jaejoong dengan ragu-ragu. Walau bagaimanapun mereka tidak berani melukai putra dari tuan mereka.
Tiba-tiba seorang yeojya setengah baya keluar sambil mengacung-acungkan tongkatnya. "Yah, siapa kalian yang nekad membuat keributan di sini?!" teriaknya.
Belum sempat para namja itu menoleh, pintu-pintu ruangan di sekitarnya terbuka dan muncul beberapa namja dan yeojya. Dengan segera mereka mengerubuti para namja yang mengeroyok Yunho dan memukuli mereka dengan tongkat, sapu, panci, dan barang-barang rumah tangga lainnya. Dalam waktu singkat tubuh para namja itu babak belur.
"Apa kalian belum mau pergi?!" bentak salah seorang namja. Namja pertama yang menyerang Yunho memberi isyarat pada teman-temannya untuk meninggalkan tempat itu. Dia menoleh sekilas ke arah Yunho. "Ingat, Yunho-shi. Jangan senang dulu karena ini belum selesai." ujarnya penuh ancaman sebelum berlalu.
"Yah, kau tidak apa-apa?" tanya Jaejoong dengan khawatir. Seketika dia terbelalak melihat sedikit darah di pipi Yunho. "Ommo… kau terluka." ujarnya sambil menyeka darah itu.
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Bagaimana denganmu?"
Jaejoong menggeleng sambil tersenyum. Yunho lalu mengalihkan pandangannya pada orang-orang itu. "Gomawo. Kalau tidak ada kalian, entah apa yang akan terjadi pada kami."
"Ne. Kami berhutang nyawa pada kalian. Gomawo." ujar Jaejoong sambil memandangi mereka satu-persatu.
Yeojya setengah baya itu menepuk-nepuk pundak mereka. "Gwenchana. Kita semua yang tinggal di sini bersaudara. Sudah seharusnya kita saling membantu."
Yunho menatap yeojya itu penuh rasa syukur. "Ne. Gomawo, Ahjumma."
"Aisshh… sudahlah. Yunho-ah, jagalah Jaejoong-shi baik-baik ne?" ujar yeojya itu sambil tersenyum lebar.
Yunho dan Jaejoong berpandangan dengan wajah memerah. "N-ne, Ahjumma." jawab Yunho sambil menunduk.
"Kalau perlu apa-apa, panggil saja kami ne?"
"Ne. Mianhae karena kami sudah merepotkan kalian." ujar Yunho.
Yunho dan Jaejoong masuk ke apartemen mereka. Yunho menghela nafas lega. "Kita selamat untuk kali ini. Aku bersyukur kita punya tetangga-tetangga yang baik. Kenapa kau ikut berkelahi tadi? Bagaimana kalau kau terluka?"
"Pabo. Mana mungkin aku membiarkanmu dipukuli seperti tadi. Sini, lukamu harus diobati."
"Gwenchana. Ini hanya luka ringan. Kusiapkan dulu makanan untuk kita ne?"
Belum sempat Yunho melangkah, Jaejoong sudah menarik pergelangan tangan Yunho sampai tubuh namja itu merapat ke tubuhnya. Mereka bertatapan selama beberapa saat. Jaejoong mengangkat tangan membelai lembut pipi Yunho. "Yunho-ah, wae? Sejak bertemu denganku, hidupmu tidak pernah tenang. Kenapa nasibmu begitu buruk? Kenapa harus aku, orang yang mencintaimu, yang membuat nasibmu berubah drastis seperti ini?"
Yunho menatap Jaejoong dengan lembut. "Jae-ah, kau tahu? Hidup manusia seperti ombak. Kadang tenang, kadang bergelombang. Dan gelombang itu bisa kecil ataupun besar. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita besok. Bisa saja kita tertawa hari ini, tapi tidak ada yang bisa menjamin kita masih bisa gembira besok, dan sebaliknya. Bukan hidup namanya kalau selalu datar tanpa masalah. Yang terpenting kita jangan sampai terpuruk dengan keadaan itu. Kita harus terus optimis dan terus berusaha meraih kebahagiaan kita."
Jaejoong terdiam sejenak. Ucapan Yunho benar-benar menyentuh hatinya. Tanpa disadari Jaejoong sudah melingkarkan kedua lengannya pada leher Yunho. Yunho menahan nafas melihat bibir Jaejoong yang mendekati bibirnya. Bibir mereka bertemu dan Yunho memejamkan matanya. Seketika dia merasakan dunianya berhenti dan dia tidak bisa berpikir tentang apapun lagi selain namja cantik yang saat itu sedang menciumnya. Yunho menarik pinggang Jaejoong seolah tubuh mereka belum cukup dekat.
Semakin lama ciuman itu semakin dalam. Jaejoong duduk di meja dan melingkarkan kedua kakinya ke pinggul Yunho. Yunho tersentak merasakan junior Jaejoong yang mengeras menekan perutnya. Dia tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia menggerakkan bibirnya menyapu wajah Jaejoong dan kedua telinganya.
"Umm…" Suara desahan Jaejoong semakin membangkitkan gairah Yunho. Perlahan bibirnya turun menyusuri rahang dan leher Jaejoong dan meninggalkan beberapa bekas kemerahan di sana.
###
1 lg edisi gombalan saya muncul, haha... mian kl membosankan. finally... akhirnya... ssdh berliku2 dr chap 1-20, yunjae jadian jugaaa... ngapain aja sih mrk slama ini ~menangis terharu~ ~super lebay, abaikan~ XD. saya msh sangat sangat ngarepin review chingudeul skalian. ada yg mau urun rembug or ngasih sy contekan NCan yunjae bwt chap depan? bkl sy trima dgn senang hati & tangan trbuka lebar. qiqiqi... gomawo :D.
