Balas Review! :D

BlueAhoge: Luthias sebenarnya kagak terlalu hebat buat ngelawak, tapi sekalinya ngelawak rada-rada begitu deh! ^^V Okey, thanks for Review! :D

Happy Reading! :D


Chapter 21: Rumah Atletik di Asrama Heroes Gakuen


Sekarang para penghuni asrama Heroes Gakuen sedang melakukan aktivitas pagi seperti biasanya, seperti sarapan pagi, mandi pagi, acara ngeden di toilet berjamaah (?), dan aksi ngintip orang mandi di pagi hari (tentunya oleh para cowok mesum).

Tapi mereka semua terlihat bingung saat melihat sebuah kotak super besar yang disegel dengan selotip dan bertuliskan 'Jangan dibuka atau kesialan akan menghampirimu!' tergeletak di ruang tengah.

"Bujug, deh! Memangnya dikate kotak pandora apa?" tanya Alexia sambil memperhatikan kotak ajaib tersebut.

"Tau, tuh! Kotak gaje dari mana, coba?" tambah Daren.

"Lha, beneran ngambang nih kotak?" tanya Kevin sweatdrop.

Sebenarnya kotak itu tidak begitu menarik, tapi yang menarik perhatian mereka adalah posisi kotak yang ngambang (?).

Jika dilihat dari atas, bawah, dan samping, sepertinya tidak ada yang aneh dengan kotak tersebut (kecuali fakta kalau kotak itu memang ngambang).

Akhirnya, dipanggillah tim Densus 33 (?) untuk memastikan kalau kotak gaje itu tidak berbahaya.

Akhirnya, setelah divonis tidak ada yang aneh, mereka semua pun langsung berangkat meninggalkan asrama.


Di kelas Rare, terlihat beberapa makhluk gaje yang sedang merusuh sambil menunggu waktu masuk dimulai, seperti Dodi yang entah gimana caranya lagi betulin buldosernya.

Mendingan kita liat aja keadaan Dodi!

KREK! KREK! KREK!

"Woah, Dodi! Lu ngapain bawa buldoser lu ke sini?" tanya Fira sambil mengalihkan perhatian sejenak dari buku yang dibacanya.

"Kemaren kagak sempet dibetulin gara-gara angket sialan itu!" dumel Dodi kesal sambil ngotak-ngatik buldosernya.

Fira hanya ber-'oh' ria saja mendengar jawaban Dodi barusan.

"Hebat! Gimana caranya tuh anak bawa buldoser ke sini?" tanya Meiva si gadis Skadi heran.

"Hmm, wakaranai sa!" jawab Urya sekenanya.

"Memangnya boleh bawa buldoser, ya?" tanya Vion kepada Eiuron dan Teiron yang hanya dibalas dengan gelengan dari kedua anak tersebut.

KLOTAK! KLATAK! KLUTOK!

Yah, kira-kira begitulah suara yang terdengar saat Dodi membenahi buldosernya.


Di tempat lain, seorang pria berambut pirang bersalib sedang berjalan mengelilingi Heroes Gakuen untuk patroli keliling menggantikan Berwald yang pergi entah kemana.

KLOTAK! KLATAK! KLUTOK!

"Eh, apaan tuh?" tanya pria itu heran.

Dia pun berjalan ke kelas Rare dan mendapati seorang bocah cowok sedang mengotak-ngatik mesin sejenis traktor mini (?) itu di sana. Melihat hal itu, pria berambut pirang itu pun langsung mengeluarkan lampu petromaks (?) dari dalam matanya (?) dan dia pun memanggil bocah tersebut.

"Hoi, Dodi! Bisa ke sini sebentar?" panggil pria berambut pirang tersebut.

Dodi pun menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang pria berambut pirang berdiri di depannya.

"Ada apa, Lukas-sensei?" tanya Dodi.

"Lagi betulin buldoser, ya? Kalau udah selesai, tolong ratain lapangan di depan sekolah, ya! Baru disemen, lho!" jawab Lukas watados sambil menunjuk lapangan yang lebarnya kayak bandara (?) tersebut.

Dodi pun melihat jalanan itu dan langsung facepalm di tempat.

"Sensei, bisa kagak yang kira-kira dikit?" tanya Dodi.

"Mungkin bisa minta bantuan?" tawar Lukas sambil menunjuk seorang bocah cewek yang lagi makan pisang sambil bergaya topeng monyet elit (?).

Dodi pun hanya bisa sweatdrop mendengar permintaan Lukas yang sangat konyol tersebut dan dia pun memanggil temannya dengan berat hati.

"Yasha-chan! Bantuin gue ngeratain lapangan, yuk! Kita disuruh sama Lukas-sensei!" pinta Dodi sambil menarik tangan Yasha.

"Se-sebentar! Lukas-sensei? Tumben dia ke sini!" tanya Yasha heran.

"Patroli harian!" jawab Dodi yang tidak terasa sudah menjauh dari Yasha.


Di depan asrama...

Yasha pun langsung jawdrop di tempat setelah melihat betapa besar lapangan baru di sekolah mereka (dan sebanyak apa pekerjaan menggilas mereka).

"Beneran nih lapangannya?! Ini lapangan atau tempat parkir, sih?" tanya Yasha saat melihat jalanan sekolah yang tiba-tiba jadi segede stadiun bola (?).

"Kagak tau! Kerjain aja, yuk!" jawab Dodi sambil menghinggapi (?) buldoser miliknya.

"Oke!" Yasha pun ikut menunggangi traktor miliknya.

BRRRRT! BRRRRT! BRRRRT! BRRRRRT!

Dodi dan Yasha mulai mengendarai kendaraan mereka mengarungi jalanan aspal yang sangat luas dengan kecepatan setara Mach 15210 (?).


Lima menit kemudian, setengah bagian pun sudah diselesaikan oleh mereka.

"Hmmm? Rapi juga mereka!" kata Lukas sambil berdiri di tengah bagian yang sudah dikerjakan oleh duo penggilas tersebut.

Melihat sang personifikasi Norwegia itu berdiri di tengah lapangan, Dodi dan Yasha pun mengeluarkan smirk kecil di mulut dan kendaraan (?) mereka.

BRRRRM! BRRRRM!

Lukas masih menginjakkan kakinya di aspal yang sudah dikerjakan oleh duo penggilas itu saat Dodi dan Yasha langsung mengendarai kendaraan mereka dengan kecepatan Boeing 000000000000 (?).

"Keras bener! Ya u- WHAT THE DENMARK?! APAAN I-" Lukas pun langsung panik melihat dua mesin penggilas jalan dengan evil smirk terhias baik di wajah pengendara beserta kendaraannya dan sepersekian detik kemudian, pria naas itu pun langsung tergilas kendaraan milik Dodi dan Yasha.

BRMMM! CRAT! CRAT! CRAT!

Kondisi pria itu pun sekarang sangatlah naas dan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata atau digambarkan di buku gambar. Pokoknya udah kagak berbentuk lagi, deh! *plak!*


Beberapa menit kemudian...

Para penghuni Heroes Gakuen pun mulai masuk ke kelas masing-masing, kecuali Dodi dan Yasha yang sedang mencuci kendaraan mereka karena takut ketauan membantai Lukas. XD

Sementara itu, seorang gadis berambut hitam sedang berjalan menuju ke kelas yang akan diajarkannya dan matanya melihat dua bocah yang sedang mencuci sebuah benda yang seharusnya tidak berada di asrama manapun.

Yap, buldoser dan traktor! XD *digiles bersama.*

"Hoi, kalian sedang apa?" tanya gadis tersebut.

"Lagi nyuci kendaraan, Garu-sensei! Masa habis menggilas Lukas-sensei?" jawab Yasha asal ceplos yang dihadiahi tamparan keras dari temannya.

"Yasha-chan no baka!" bentak Dodi setelah menampar Yasha.

"Oooh! Habis menggilas jalanan sekaligus Lukas, ya? Tenang saja, dia kan immortal!" jawab Garu watados.

Dodi dan Yasha pun langsung headbang di kendaraan mereka masing-masing.


-skip time-


"Selamat siang!" sapa Garu memasuki kelas Rare sambil menggiring kedua bocah kuli penggilas jalanan yang kepalanya bocor tersebut. *digiles lagi.*

"Siang, sensei!" balas yang lainnya.

"Dodi sama Yasha kenapa, ya?" tanya Teira saat melihat darah segar mengalir dari kepala kedua bocah itu.

"Mereka? Entahlah! Aku pikir mereka habis headbang atau apapun namanya!" jawab Garu polos yang sukses membuat seisi kelas (kecuali Dodi, Yasha, dan Teira) hanya bisa sweatdrop mendengar jawaban polos tersebut.

'Itu mah namanya headbang beneran!' pikir mereka semua (kecuali Dodi, Yasha, Teira, dan Garu) sweatdrop kuadrat.

"Ya udahlah, mari kita mulai pelajaran hari ini!" kata Garu.

Mereka semua pun langsung menyiapkan buku.


Sementara itu...

"A-ah!" Lukas yang entah gimana caranya bisa kembali normal secepat itu pun hanya bisa speechless di tempat saat melihat keadaan di kelas Special.

Terlihat Saphire yang mukanya memerah (mabuk?) dan hanya diam di tempat, Frida yang menggampar Shyo, Monika yang membentangkan sebuah spanduk besar bertuliskan 'Foto-foto langka Saphire!' dan beberapa foto nista Saphire, Miuto yang entah kenapa jadi super pendiam, dan yang paling mengejutkan adalah sepasang pemuda yang lagi berciuman.

"Aduh..." gumamnya sambil geleng-geleng kepala.

"WOY! KALIAN KAGAK MALU, YA?! BADAN GEDE TAPI KELAKUAN KAYAK ANAK KECIL!" teriak Lukas yang sukses mengagetkan seisi kelas, kecuali Vroyen dan Maurice yang sepertinya sedang berada di dunianya sendiri.

Melihat pasangan Yaoi ini tidak terusik, Lukas pun mendekati mereka dengan tatapan membunuh yang sayangnya, dia malah dikacangin lagi sama kedua pemuda yang asik-asiknya berciuman dan yang membuat pria berambut pirang itu bingung adalah: kenapa tidak ada yang menonton adegan mesum itu. Biasanya, Shyo dan Miuto udah nongkrong di depan pasangan mesra itu.

Tapi tidak! Lukas masih memaklumi Shyo karena dia sedang disiksa oleh Frida, tapi Miuto sangat dingin seperti es hari ini.

"Kalian berdua, harap ikut denganku sebentar!" kata Lukas sambil memisahkan Vroyen dan Maurice dari ciuman panas mereka dengan terpaksa dan menyeret mereka ke ruang guru.

"Yap, dua korban lagi!" gumam Miuto dingin.

"Eh, Miuto! Lu tau dari mana kalau Lukas-sensei bakalan ngambil korban lagi?" tanya Monika.

"Terus, kenapa lu dingin banget hari ini? Kebanyakan berdiri di depan kulkas, ya?" tanya gadis itu lagi dengan nada meledek yang dihadiahi timpukan buku dari Miuto.

"Urusai!" balas Miuto sarkastik.

"Et, deh! Orang cuma nanya juga!" kata Monika sambil mengambil sebotol minuman dari dalam tasnya.


Beberapa jam kemudian...

Para siswa Heroes Gakuen sedang berjalan menuju ke asrama setelah belajar seharian. Tapi ketika tiba di depan pintu, mereka dihentikan oleh seorang pria berambut pirang jabrik dengan kemeja merah, celana panjang berwarna senada, dasi dan sarung tangan hitam, sepatu boot coklat, dan sebuah topi kecil di atas kepalanya.

Yap! Siapa lagi kalau bukan salah satu guru nista kita, Mathias Køhler!

"Yo!" sapanya sambil mengangkat tangan.

"Ah, Thias-sensei! Ada apaan, nih? Tumben mampir!" tanya Lucy heran.

"Pengen aja, memangnya kagak boleh?" jawab Mathias bertanya balik.

Lucy pun hanya bisa facepalm seketika setelah mendengar jawaban Mathias barusan.

"Oh iya, kalian ikut aku ya!" ajak Mathias sambil mengisyaratkan mereka semua untuk mengikutinya dengan satu jari.

Yang lainnya pun saling bertatapan dan mengikuti sang guru tersebut.


Beberapa menit kemudian...

"Nah, kita sampai!" kata Mathias sambil berbalik ke arah kerumunan yang mengikutinya kayak bebek. *plak!*

"APAAN, TUH?!" koor mereka semua ketika sampai di depan tempat yang dimaksud.

Sebuah bangunan berwarna merah terang bergaya pecinan dengan tulisan 'ElesiSushi' di papan reklamenya.

"Nah, kalian laper kan? Ayo masuk!" kata Mathias sambil mengajak masuk kerumunan makhluk gaje tersebut.

Akhirnya, mereka pun memutuskan masuk karena tuntutan perut mereka yang dari tadi semakin ganas. XD

"Irasaimase, selamat datang di ElesiSushi!" kata seorang cewek berambut merah panjang sambil menunduk.

"Ada tempat untuk puluhan orang?" tanya Mathias kepada gadis merah tersebut.

"Tentu saja, silahkan masuk!" kata gadis itu sambil menunjukkan tempat mereka duduk.

Yang lainnya pun hanya mengikuti gadis itu ke tempat duduknya. Setelah menunjuk meja yang dimaksud, seluruh murid Heroes Gakuen pun langsung duduk dengan tertib.

"Anda mau pesan apa?" tanya gadis tersebut sambil menunjukkan sebuah buku menu kepada pria jabrik itu.

Selagi Mathias melihat daftar menu yang sepertinya diragukan menu dan orang yang memilih menunya (?), para murid Heroes Gakuen pun mulai meributkan apa yang ingin mereka makan.

"Oke! Pesan paket spesial tujuh orang empat porsi, ya!" teriak Mathias pake toa saking ributnya para murid yang kayak anak kecil baru pertama kali diajak ke restoran. *dibantai.*

"Hmm, paket spesial tujuh orang empat porsi! Mau minum apa?" tanya gadis itu sambil mencatat pesanan Mathias.

"Orange Juice!" teriak Vira.

"Banana Float!" Lucy ikut-ikutan.

"Negi Juice!" teriak Lisa yang sukses bikin teman-temannya langsung sweatdrop. XD

"Cappuchino!" kata Alexia sambil mengangkat tangannya.

"Mango Bubble!" teriak Teira dan Teiron kompak.

"Milkshake!" kata Icilcy dan Exoray.

"Jus Sambel Balado!" kata Elwania ngawur.

'Memangnya ada jus Sambel Balado?' pikir yang lainnya sweatdrop.

"Sakeeeeee!" teriak Elemy yang langsung dihadiahi death glare dari Mathias.

"Ehehehehe! Aku Cola aja, deh!" kata Elemy sambil tertawa garing.

"Strawberry Float, ya!" kata Ikyo.

"Jus Ikan (?)!" teriak Monika.

"Jus Blueberry!" teriak Vience dan Daren bersamaan.

"Aku sama kayak Ikyo!" kata Jeremy datar.

"Ah, aku belum pernah nyoba minuman Jepang! Umm, ocha!" kata Vivi yang dari tadi sibuk memilih.

"Same with me!" timpal Saphire.

"Cherry Float!" pesan Kaien.

"Chococinno!" kata Kevin sambil berpikir sejenak.

"Aku sama kayak Elwa-nee!" teriak Flamy.

'What the?!' Yang lainnya (min Elwania) pun langsung sweatdrop di tempat.

"Darah manusia! Slurp!" kata Eiuron sambil menjilat bibirnya dengan senyuman Yandere khas-nya.

'Dafuq! Nih orang udah kagak normal kali, ya?!' pikir yang lainnya jawdrop.


Setelah semuanya memesan, terjadilah keributan saat acara makan-makan di ElesiSushi. Mulai dari acara rebutan sushi, Elemy yang tiba-tiba mabok, sampe liveshow Elesis yang motongin tuna menjadi sashimi.


Beberapa jam kemudian...

"Haah, kenyang!" kata Exoray sambil merosot dari kursinya.

"Sama, dayo!" balas Musket yang juga ikutan merosot.

"Nah, kalian udah selesai kan? Ayo pulang!" kata Mathias sambil memesan satu minuman.

"Thias-sensei kagak ikutan balik?" tanya July.

"Kagak, aku masih ada sedikit 'urusan' di sini!" jawab Mathias santai.

"Soreja, mata na!" koor yang lainnya sambil keluar dari ElesiSushi.


Di jalan...

"Okashi na!" Frida masih berpikir keras.

"Kenapa lagi, Anee-chan?" tanya Shyo.

"Kayaknya gue dapet firasat buruk, deh!" jawab Frida sambil memijat keningnya.


Di ElesiSushi...

Wow wow wow wow wow wow, Hokuou! Wow wow wow wow wow wow, Hokuou!

"Halo?" Pria jabrik itu pun mengangkat teleponnya.

"Sudah siap!" kata yang di seberang sana.

"Oke! Mereka sudah kembali tadi! Mungkin lima menit lagi mereka akan sampai!" kata Mathias sambil melirik jam tangannya.

"Held og lykke (Semoga beruntung)!" katanya sambil menutup telepon.

"Ini minumannya!" kata sang pendiri restoran sambil menaruh segelas bir di mejanya.

"Ah, tak!" balas Mathias sambil meminum bir tersebut.

"Let the fun begin! Now!"


Back to gerombolan (?) Heroes Gakuen...

"Akhirnya nyampe juga! Ternyata ElesiSushi jauh banget, ya!" kata Icilcy sambil membuka kunci pintu dan menarik pintu asrama. "Hm?"

"Kenapa, Icy?" tanya Teiron yang melihat Icilcy sedikit kesulitan.

"Pintunya! Coba deh dibuka!" jawab Icilcy sambil menyingkir dari pintu.

Teiron pun mencoba menarik pintu tersebut dengan tampang kayak Hercules mengangkat barbel (?) yang sukses membuat teman-temannya hanya bisa sweatdrop melihat kelakukan bodoh bocah yang satu ini.

"Teiron-nii! Pintunya didorong, bukan ditarik!" kata Teira sambil tertawa miris.

Teiron pun hanya bisa facepalm di tempat. Dia pun memegang kenop pintu tersebut dan mendorongnya.

"Tadai-" Perkataannya menggantung, tapi pintunya belum terbuka.

Webek, webek...

"Pintunya masih dikunci?" tanya Lisa kepada Icilcy.

"Kagak kok, sumpah! Orang gue udah buka tadi!" jawab Icilcy berargumen.

"Pintunya memang kagak dikunci!" kata Teiron yang masih memegang kenop pintu asrama.

CEKLEK!

"Lihat? Biasanya kalau dikunci bunyinya kagak kayak gini, tapi ini udah kagak dikunci!" kata Teiron lagi

"Terus, kenapa kagak bisa dibuka?" tanya Vroyen dan Maurice yang udah kagak sabaran pengen masuk.

Mungkin aja mereka ingin ber-Yaoi ria lagi. XD *dihajar yang bersangkutan.*

"Masalahnya, berat banget coy!" jawab Teiron sambil nangis bombay yang sukses membuat mereka semua hanya bisa sweatdrop dan juga penasaran tentang apa yang dimaksud dengan 'berat banget'.

"Kok berat? Bukannya pintunya terbuat dari kayu, ya?" tanya Vira.

"Keliatannya! Tapi pintunya kayak diganti dengan beton yang dicor, deh!" jawab Teiron miris yang sukses membuat mereka semua hanya bisa jawdrop di tempat mendengar perkataannya yang sangat tidak masuk akal tersebut.

Akhirnya, Rosa sang gadis Zorro pun mengeluarkan raiper miliknya.

"Cho-chotto! Lu bisa ditangkep polisi, BakaRosa!" kata Feiren yang berusaha mencegah anak itu.

"Pintu itu seharusnya terbuat dari kayu, kan? Mendingan ditebas aja biar kita bisa masuk!" Rosa pun menghunuskan raiper-nya ke arah sebuah pintu yang tidak berdosa (?) itu.

Dancing Samurai, HEA! (?)

Lagu 'Dancing Samurai' dari Gakupo pun berkumandang (?) dan yang lainnya pun langsung nari-nari gaje. *plak!*

Abaikan saja yang barusan!

SRING! WEEEET! (?)

Ternyata raiper Rosa langsung memble kayak tali rafia (?).

"Aduh! Kekuatan lu kurang tuh, cyiiin!" komentar Ikyo (yang entah kenapa) masuk ke dalam mode banci yang sukses membuat mereka semua langsung headbang berjamaah, kecuali sepasang makhluk yang 'mengambil kesempatan dalam kesempitan' (you know who I mean). XD

"Hoy, lu pada ngapain?" tanya Fery sambil menunjuk Vroyen dan Maurice yang 'keterusan' melakukan adegan Yaoi.

"Woy, kalau mau ciuman jangan di sini! Di jamban (?) aja sana!" teriak Vience sambil berusaha menarik Maurice dari pelukan Vroyen, begitu juga dengan Saphire yang menarik Vroyen agar lepas dari Maurice.

"Ah, apaan sih?! Kalau di jamban mah kita bakalan ngelakuin *piiiip.*, kali!" bentak Maurice kepada Vience yang sukses membuat kawan-kawannya (min Vroyen) langsung jawdrop mendengar perkataan pemuda itu.

'Mulai sekarang mereka kagak boleh dibiarin masuk toilet berdua!' kata yang lainnya dalam hati.

Parno banget, sih!

"Lu berdua apa-apaan, sih?! Orang masih di tempat umum juga?!" bentak Monika kepada sepasang makhluk pengidap Yaoi tersebut dan yang dibentak hanya bisa nyengir kuda laut (?).

"Eh, pintunya mau diapain nih?" tanya Daren sambil berusaha mengembalikan topik pembicaraan ke arah semula.

"Oh iya, pintu!" kata Flamy kembali ingat akan tujuannya kemari.

"Nah, sekarang mau diapain? Raiper-nya Rosa cacat, sih!" keluh July sambil menyeruput minumannya.

"Yah, berarti mau kagak mau kita dorong aja nih pintu!" saran Alexia.

"Ah, tumben lu bener!" kata Jeremy asal ceplos.

"Diem, ah! Sekarang, ayo dorong!" balas Alexia yang sudah bersiap mendorong pintu asrama yang entah kenapa jadi berat tersebut dan yang lainnya pun ikut berdiri di depan pintu asrama.

"DORONG!" teriak Alexia sambil memberikan aba-aba dan yang lainnya pun mulai mendorong pintu asrama yang aneh bin ajaib tersebut.

"DORONG! DORONG!"

Walaupun kelihatannya mereka semua sudah mengeluarkan otot mereka, pintu gaje itu pun tetap tidak bergerak sama sekali.

"Hosh! Hosh! Itu pintu atau tembok, sih?" tanya Elemy sambil memburu nafas.

"Ho-oh! Hosh!" timpal Saphire.

"Kok tuh pintu kayak dicor, ya?" tanya Eiuron.

"Kan tadi udah gue bilangin, pintunya kayak abis dicor! Gimana, sih?" jawab Teiron bertanya balik sambil memasang tampang 'you-don't-say-?'.

"Dicor?" tanya Vion yang dibalas dengan anggukan pelan dari Eiuron dan Teiron.

Tiba-tiba, muncullah laptop (?) dari atas kepalanya.

"Woy, loli kuda lumping (?)! Traktor lu kagak dibawa, ya?" tanya Vion kepada bocah cewek yang lagi makan pisang sambil nongkrong di jamban terdekat (?). *digiles Yasha.*

"Gue kagak loli, tuyul laptop (?) dan kagak! Traktor gue ditinggal di kelas!" balas Yasha yang dihadiahi gamparan laptop dari Vion. (Dodi: "Poor you, Yasha-chan!" XD)

"Ambil sono, bareng Dodi!" perintah Vion yang langsung Himedere mode on dan sukses membuat Yasha hanya bisa berkeringat dingin melihatnya.

"Ha-ha'i, Vion-sama!" kata Yasha sambil menarik tangan Dodi dan langsung ngacir.


Lima menit kemudian...

"Nah, tuh dia dateng!" kata Vion sambil menunjuk Yasha dan Dodi yang sedang nge-drift pake kendaraan (?) mereka.

"Lu mau apaan nyuruh gue bawa buldoser gue?" tanya Dodi kepada sang tuyul laptop tersebut. *digeplak pake laptop.*

"Dobrak pintunya pake kendaraan lu berdua!" perintah Vion.

Webek, webek...

"Vion! Otak lu udah terbang ke jonggol (?), ya? Tapi bodoh amat, lha! Ayo Yasha-chan!" ajak Dodi sambil ngegas buldoser tercintanya, begitu juga dengan Yasha yang menaiki traktor-nya.

"Siip! Satu!" Yasha pun memberikan aba-aba dengan suara pelan.

"Dua!"

"Ti-"

Belum hitungan ketiga, Yasha dan Dodi pun langsung memacu kendaraan mereka dengan kecepatan Sukhoi 1508302747 (?).

Mendengar gemuruh kendaraan tersebut, yang lainnya pun langsung menyingkir dari depan pintu asrama kecuali Elemy yang lagi mabok.

"EMY(-CHAN/-NEE), AWAS!" teriak yang lainnya.

Tapi naasnya, teriakan mereka diacuhkan Elemy dan...

BRMMM! CRAAAAT! BRUAK!


-skip time-


Sekarang nasib Elemy pun sama naasnya dengan Lukas yang tadi pagi dilindes oleh orang yang sama. (Lukas: *bersin.*)

"Yosh, pintunya kebuka!" kata Dodi sambil joget gaje.

"Aduuuh! Untung nyawa gue banyak (?), jadi kagak langsung mati deh!" kata Elemy sambil bersusah payah bangun dari tempat peristirahatan terakhirnya. *plak!*

"Et, deh! Emy udah kayak kucing aja!" gumam Lisa sambil geleng-geleng kepala.

"Eh, gue pikir lu udah mati!" kata Daren ngasal yang langsung dihadiahi getokan tongkat sihir dari Elemy.

"Diam aja lu, BakAndreas!" teriak Elemy setelah menggetok kepala Daren dengan tongkat sihir keramatnya.

Tapi yang didengarnya malah suara pundung dari sepasang cowok di pojok teras.

"Hiks! Apa salah kita sampai dibilang baka?" tanya Saphire sambil pundung.

"Boku wa wakaranai sa, hiks, otouto!" jawab Vience sambil ikutan pundung yang sukses membuat kawan-kawannya langsung sweatdrop melihat drama FTV liveshow abal-abalan tersebut.

'Idiiih! Malu deh gue punya abang baka-nya selangit!' batin Daren sambil ber-facepalm ria.

Sekarang pintu asrama itu telah rubuh, tapi buldoser Dodi dan traktor Yasha masih teronggok (?) di depan asrama.

Kenapa? Memangnya kalian pikir pintu asrama itu selebar apa sampe dua kendaraan gede itu bisa muat ke dalem sekaligus? Ya kagak mungkin selebar itu juga, lha! (Reader: *sweatdrop.*)

"Nah, ayo masuk!" ajak Yasha setelah dia dan Dodi memundurkan kendaraan mereka.

July pun melangkah masuk ke dalam. Tapi belum selangkah di sana, badannya udah melayang kayak layangan putus. *plak!*

"K-KYAAAA!" teriak July sambil memegangi roknya (yang masih dalam keadaan melayang tentunya).

"Wuo-wuo-wuo! Kenapa lagi, nih?!" teriak Exoray yang penasaran dengan teriakan July dari dalam.

"WOY! MASUK AJA, LHA! GUE JUGA PENGEN LIAT, NIH!" teriak Exoray kesal.

Karena penasaran dan berada di belakang, Exoray pun langsung mendorong mereka semua masuk ke dalam asrama entah gimana caranya (?).

Setelah masuk ke dalam asrama, terdengarlah suara jeritan para gadis yang diperkaos. *dibunuh bersama.*

Ehem, maksudnya suara-suara seperti di bawah ini!

"KYAAAA!"

"Waaaw! Coklat!"

"Tei-kun hentai!"

"JDUAK!"

"PLUOOOK!"

"Woy, jangan berantem apa?!"


Orang-orang yang lewat di depan asrama itu pun hanya bisa melongo ke dalam dengan tatapan heran dan horror.

'Makhluk-makhluk sarap!' Begitulah pikiran mereka.

Mereka yang sedang berjalan sambil membawa anaknya pun segera menutup telinga dan seluruh tubuh anaknya dengan perban sehingga terlihat seperti mumi nyasar (?).


Back to Heroes Gakuen Student...

"WHOAAAAA!" Yang lainnya pun masih berusaha untuk diam di tempat.

Di antara kekacauan tersebut, Musket melihat sebuah puting beliung yang tertancap di tanah (?). Merasa cukup kuat untuk menahan mereka semua, Musket pun berusaha dengan susah payah untuk menggapai onggokkan angin tersebut. (Musket: "Jangan pernah meremehkan kekuatan angin, dayo!" *nyengir nista.*/Thundy: *sweatdrop.*)

"Minna! Pegangan ke sini, dayo!" teriak Musket saat dia sudah berhasil memegang angin tersebut.

Yang lainnya hanya bisa jawdrop di tempat melihat pemuda berambut hitam tersebut bisa diam di tempat hanya dengan berpegangan pada angin.

'Gile, yang bener aja! Masa pegangan sama angin?!' pikir yang lain sambil jawdrop di tem- Oh, kagak deng! Mereka lagi melayang gaje kayak layangan putus. *plak!*

"Ya udahlah! Ayo!" kata Icilcy mengajak teman-temannya untuk mengikuti Musket.

Akhirnya, setelah mereka semua memegang angin tersebut, pegangan mereka berubah menjadi sebuah tugu batu berbentuk pedang atau lebih tepatnya, seperti sebuah pedang yang tertancap pada sebuah batu. Kemudian, pedang batu itu pun mulai bercahaya.

"Awww!" teriak Thundy sambil menutup matanya dan yang lainnya juga segera menutup mata mereka.

"Waw, silau men!" komentar Fery yang udah memakai kacamata hitam entah sejak kapan.

"Hm?" Fery langsung tercengang saat melihat sebuah tulisan muncul dari batu tersebut.

"Ada apa?!" tanya Kaien yang masih menutup matanya.

"Ada tulisan gaje muncul di sini!" jawab Fery sambil berusaha mengidentifikasi tulisan ajaib yang baru saja muncul di depan matanya.

"Apa tulisannya?" tanya July yang masih berpegangan pada tugu batu tersebut.

Sekedar informasi, ruangan tengah asrama Heroes Gakuen sekarang tidak memiliki gaya gravitasi.

"Sebentar!" Fery pun memicingkan matanya untuk melihat tulisan gaje tersebut dari balik kacamata hitamnya.

"Umm, 'Yang bisa mencabut pedang Excalibur akan dinobatkan sebagai raja'! Hah?" kata Fery sambil mengerenyitkan alisnya dan sweatdrop.

'Masa cerita raja Arthur bisa nyasar ke sini?!' pikir Fery emosi.

"Apa tulisannya?!" Kali ini giliran Vivi yang bertanya.

"Kagak tau! Ini kayak legenda raja Arthur, deh!" jawab Fery yang masih sweatdrop.

"Legenda Raja Arthur? Ooh! HAH?! KENAPA MONUMENNYA BISA NYASAR KE SINI?!" teriak Vivi bertanya balik.

"Lu aja bingung, apalagi gue!" jawab Fery sweatdrop.

"Minna! Kita cabut batu ini bareng-bareng! TARIIIK!" teriak Fery sambil memberikan aba-aba kepada yang lainnya untuk menarik pedang yang diragukan keasliannya tersebut.

Anehnya, yang lainnya langsung mengikuti Fery tanpa banyak tanya. Mungkin inilah yang disebutkan 'The power of kefefet' (?)! XD *plak!*

"TARIK!" Yang lainnya berusaha menarik batu itu ke atas.

KREK!

"Sedikit lagi! Ayo!" teriak Elwania saat mendengar bunyi seperti batu yang terpecah.

Yang lainnya pun semakin lelah, tapi semakin bersemangat untuk mencabut pedang batu tersebut.

"UURRRGGGGHHH!" Seluruh penghuni pun mengeluarkan segenap tenaganya, sampai akhirnya...

KREK! CLANG! BRUKK!

Pedang itu pun terlepas, saudara-saudara! Saat pedang itu lepas, pedang itu terlempar dan gaya gravitasi di asrama pun kembali normal.

Naasnya, Teiron yang berada paling bawah harus menerima hukum gravitasi alias tertimpa para makhluk sesama penghuni asrama tersebut. (Thundy: "Poor you!" XD *ditabok Teiron.*)

Tapi tanpa mereka sadari, pedang batu tadi berubah menjadi sebuah pedang asli saat terlempar ke udara dan pedang itu pun langsung berubah menjadi pusaran angin kembali saat menancap ke tanah.

"Aaah!" Teiron malah tersenyum puas kayak dapet permohonan terakhirnya sebelum mati. *ditabok lagi.*

"Punya Jemy-kun sangat empuk!" kata Teiron yang seperti melihat surga.

Oooh, sekarang kita tau kenapa Teiron seneng-seneng aja ditimpa oleh mereka semua!

Mendengar perkataan yang sangat ambigu tersebut dan melihat posisinya, Jeremy pun berusaha mengeluarkan diri dari tumpukan manusia tersebut.

"Sumimasen!" sapa seseorang dari luar ruang tengah asrama.

"H-ha'i?" tanya Jeremy yang mendapati seorang gadis berambut coklat side ponytail beriris emas sedang memperhatikan keadaan sekitar.

"Umm, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya! Kalau boleh tau, namamu siapa ya?" tanya Jeremy yang masih berusaha mengeluarkan diri dari tumpukan manusia itu.

"Watashi wa Wy, desu!" jawab gadis itu sambil berjalan ke arah angin puting beliung itu dan mencabutnya dari lantai asrama.

Setelah dia mencabut pedang itu, angin puting beliung tadi pun menghilang dalam sekejap mata.

"Kalian sepertinya kesulitan, mau aku bantu?" tanya gadis itu.

Yang lainnya pun langsung mengangkat jempol mereka dengan aura 'blink-blink' di sekitar tumpukan manusia naas tersebut. Gadis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sebentar dan langsung menghampiri tumpukan (sampah) manusia tersebut. *dibantai.*


Sepuluh menit kemudian...

"Aduuh! Remuk deh badan gue!" kata Teiron meringis sambil mengusap punggungnya.

"Oh iya, tadi namamu siapa?" tanya Daren.

"Watashi wa Wy, desu!" jawab gadis itu sambil beranjak pergi.

"Oh iya, aku merasakan aura aneh di sini! Lebih baik kalian berhati-hati! Mata aimashou!" kata gadis itu sambil pergi dari asrama.

"Wy? Nama yang aneh untuk penduduk lokal!" komentar Feiren.

"Begitu juga untuk nama asing!" tambah Kevin.

"Ya udahlah, naik aja yuk!" ajak Lucy sambil berjalan ke tangga dengan nafas yang hampir habis.

Saat menaiki anak tangga tersebut, Lucy merasa ada yang aneh. Lima menit kemudian, dia baru merasakan sesuatu yang aneh.

"Kenapa gue kayak diem di tempat, ya?" tanya Lucy kebingungan.

Yang lainnya pun hanya bisa sweatdrop sambil memasang trollface. Lucy pun melihat ke bawah dan mendapati anak tangga yang dinaikinya terus bergerak mundur. Akhirnya, dia pun menyadari satu hal: dia belum naik dari tadi.

"Sialan! Kalian bilang dong kalau tangganya mun- Eh, mundur? Sejak kapan tangga di sini jadi kayak eskalator?" tanya Lucy curiga.

Yang lainnya pun hanya mengangkat bahu teman yang berada di sebelahnya (?).

"Eh, eh?! HUWAAAA!"

Tanpa Lucy sadari, eskalator itu berjalan semakin cepat melawan arah gerakan Lucy sehingga gadis yang satu ini harus berlari untuk (setidaknya) berada di tempatnya sekarang dan yang lainnya pun hanya bisa jawdrop melihat Lucy yang sepertinya benar-benar ingin segera naik dari bangunan gaje yang diketahui merupakan asrama mereka sendiri. XD

"Mau naik nih, bantuin Lucy?" tanya July.

Yang lainnya pun mengangguk.

"Yang penting masuk kamar dulu! MAJUUUUUUUUUUUUUUU!" teriak Vira kayak seorang panglima veteran (?) sambil berlari ke arah Lucy dan menabraknya kayak banteng matador (?).

Lucy pun langsung mental menghantam pintu kamar terdekat, sementara yang lainnya bersusah payah berlari agar bisa naik ke atas.

Lucy yang sempat tidak sadarkan diri karena menghantam pintu kamar (yang walaupun terbuat dari kayu, tapi tetap aja keras kalau didobrak) pun melihat sebuah alat aneh di sampingnya. Dia pun membaca instruksi pemakaian dari alat aneh tersebut dan memencet sebuah tombol merah bertuliskan 'RESET' pada alat tersebut.

"LUCY(-CHAN/-NEE/-SENPAI)?!" teriak yang lainnya saat mereka hampir sampai di atas.

Tiba-tiba, eskalator instan itu pun berhenti. Ruang tengah asrama yang tadinya terlihat seperti terkena angin topan pun kembali seperti semula dan pintu asrama yang tadinya roboh gara-gara dihantam kendaraan pun terpasang kembali di tempatnya.

Naasnya, saat eskalator itu berhenti, yang lainnya pun langsung terjungkal ke lantai dua asrama dan nasib Fery pun sekarang tidak jauh beda dengan Teiron yang ditimpa para warga Heroes Gakuen. XD *dihajar Fery.*

"Aduuuuuh! Lepasin gue, dong!" teriak seseorang dari dalam tumpukan (sampah) manusia tersebut.


Beberapa menit kemudian...

Entah bagaimana caranya, mereka semua telah terpisah dari tumpukan tersebut. Dodi dan Yasha pun memasukkan kendaraan mereka ke dalam asrama setelah pintunya kembali normal entah gimana caranya dan yang lainnya mulai penasaran saat mendengar cerita Lucy tentang alat aneh yang menyelamatkan hidup mereka.

"Huh, dikiranya mau atletik apa?!" gerutu Elemy kesal.

"Tau, nih!" balas Teira yang kagak kalah kesalnya.

"Su-sudahlah! Biarkan aja yang udah lewat!" kata Icilcy meleraikan mereka berdua.

"Tapi tuh alat aneh juga, ya! Masa langsung ngilang gitu aja setelah dipake?" kata Exoray mengalihkan pembicaraan.

Lucy hanya mengangkat bahunya sambil menghela nafas tanda tidak tau.

"Baiklah! Yang barusan itu beneran gila!" kata Kaien memecahkan suasana ruangan yang saling berlomba mencuri nafas demi kebutuhan oksigen.

"Bener banget! Hosh!" balas Feiren sambil mengelap wajahnya dengan sebuah handuk yang entah sejak kapan dipegangnya.

"Eh? Tadi lu pada kagak nyadar, ya? Kotak ngambang itu kagak ada di sini pas kita udah masuk!" kata Alexia sambil menggerakkan kedua jari telunjuknya seperti menggambar sebuah kotak.

Yang lainnya pun memunculkan tanda tanya di atas kepala mereka.

"Kotak ngambang?" tanya Jeremy meyakinkan dan dibalas dengan anggukan mantap dari sang penanya.

"Ooh! Kotak gaje yang dibilang 'Kotak Pandora' itu, ya?" tebak Fery.

"Yup!" balas Alexia sambil mengacungkan jempolnya.

"Moncong-moncong, benar juga sih! Kayaknya gue kagak liat kotak ngambang gaje itu di ruang tengah!" balas Kevin.

Webek, webek...

Yang lainnya pun berusaha memeras otak mereka untuk membuahkan lampu minyak (?) dari kepala mereka yang berkapasitas mulai dari pentium seperdelapan (Teiron) sampe pentium lima belas (Lisa). *dihajar Teiron.*

"Terus, kenapa alat aneh bin gaje yang dipencet Lucy tadi langsung ngilang begitu aja? Kan aneh! Memangnya tuh alat dari fandom Devil May Cry (?) apa?" tanya July.

Webek, webek...

"AAAH! KALAU BEGINI MAH KAGAK BAKALAN ADA ABISNYA! MENDINGAN GUE NGEMIL DULU, DEH!" teriak Thundy sambil berjalan ke dapur.

BRAK!

Saking emosinya, Thundy sampai lupa menutup pintu dengan baik dan benar.


"Pusing banget gue, ngomongin hal gaje!" gerutu Thundy sambil mengobrak-abrik kulkas untuk mencari sesuatu.

"Ah, yatta! Akhirnya ketemu juga kau, kuchen-chan~" kata Thundy sambil mengeluarkan sebungkus kue yang dibelinya kemarin.

TOK TOK!

"Siapa?" tanriak Thundy dari dapur.

"Jeg Luthias! Ada yang perlu aku bicarakan sebentar!" jawab yang berada di atas sana. *ditabok Luthias.* Maksudnya, yang berada di seberang sana.

"Ha'i, tadaima!" Thundy pun mendorong pintu asrama dengan malas.

"Eh? Efek gaje alat tadi masih ada, ya?" gumam Thundy sambil mendorong pintu asrama.


Di luar asrama...

"Kok lama banget, ya?" gumam seorang pemuda berambut putih jabrik yang dari tadi menunggu di depan pintu.

"Pintunya didorong dari sini, kan?" gumamnya lagi sambil mencoba mendorong pintu tersebut. "Hm?"

Dia sepertinya bisa mendorong pintu tersebut. Tapi yang mengherankan, ada seseorang yang (menurutnya) menahan pintu tersebut. Luthias pun hanya bisa sweatdrop di tempat setelah mengetahui siapa yang menghalanginya masuk ke asrama Heroes Gakuen.


Back to Thundy's Place...

"HMMMMMPPPPPHHHHH!" Thundy masih terus berusaha mendorong pintu asrama.

'Yah, pintunya jadi berat banget!' pikir Thundy.

Sepertinya dia lupa dengan prinsip engsel, deh!

TOK TOK!

"Iya, Luthias-sensei?" teriak Thundy yang masih mendorong pintu asrama dari dalam.

"Kamu yang dorong pintunya, Thundy?" tanya Luthias dari seberang sana.

"Iya!" teriak Thundy yang masih mendorong pintunya.

"Boleh aku kasih saran?" tanya Luthias dari luar.

"Jangan sekarang, sensei! Aku lagi bukain pintunya, nih!" teriak Thundy.

Webek, webek...

'Nih anak kelewatan baka atau gimana, sih?' batin Luthias sweatdrop.

"Ya udahlah, orang pintunya ditarik dari dalam!" kata Luthias santai.

"Heh?" Thundy pun melihat ke sudut pintu untuk melihat dimana engselnya terpasang dan langsung facepalm di tempat menyadari kebodohannya sendiri.

"Ha'i, tadaima!" kata Thundy sambil menarik pintu asrama dengan cengengesan.

Luthias yang kesabarannya hampir habis pun hanya bisa menghadiahi Thundy dengan death glare mautnya.

"Yang lainnya kemana?" tanya Luthias.

"Mereka di ruang tengah, lagi ngedumel soal kejadian aneh di sini!" jawab Thundy sambil mengupas bungkusan kue-nya.

"Kejadian aneh? Kebetulan! Lebih baik kita ke sana aja!" ajak Luthias sambil berjalan ke ruang tengah.

Thundy pun mengikutinya setelah menelan lima potong kue bulat-bulat (?).


Di ruang tengah...

"Inuugujaq (Selamat sore)!" sapa Luthias sambil membuka pintu.

"Konbawa mou, sensei!" koor yang lainnya.

"Wah, tumben Luthias-sensei dateng kagak bareng Mathias-sensei! Ada angin apaan, nih?" tanya Exoray kepada pemuda berambut putih tersebut.

"Yah, cuma mau jelasin beberapa hal aja!" jawab Luthias sambil tertawa kecil.

"Oke, Luthias-sensei!" balas Exoray sambil memberikan salam Nazi (?) yang langsung dikeroyok oleh seluruh murid Heroes Gakuen.

"HOY, LU MAU DITANGKEP AGEN PBB APA?! PAKE HORMAT BEGITUAN SEGALA!" bentak Alexia kepada pemuda berambut hitam kebiruan itu.

"Eh, memangnya yang tadi itu hormat gaya apaan ya?" tanya Exoray watados yang sukses membuat mereka semua hanya bisa headbang di tempat mendengar jawaban pemuda yang satu ini.

"UDAHLAH! YANG PENTING, JANGAN NGASIH HORMAT KAYAK TADI LAGI!" teriak July tepat ke telinga Exoray yang sukses membuat gendang telinganya pecah. *digampar Exoray.*

"Oh, oke deh!" jawab Exoray yang udah tuli. *digampar lagi.*

"Oh iya, tadi Luthias-sensei mau cerita apa?" tanya Vira yang merasa melupakan sesuatu yang penting.

"Tentang kotak gaje yang ngambang tadi pagi!" jawab Luthias dengan bertele-tele, kagak padat, dan gaje (?). *plak!*


-Flashback-

Setelah Lukas menggiring Maurice dan Vroyen ke ruang guru, mereka berdua pun diserahkan kepada Luthias untuk dimarahi habis-habisan.

"Kalian ini apa-apaan, sih?! Kalian mau nanti direkam terus dimasukin ke Hetabox (?) di Gakuen sekian (?) sama para Fujo?!" bentak Luthias menasihati mereka.

Vroyen dan Maurice pun hanya menggeleng dan Luthias pun hanya bisa menghela nafas.

sherantou fyuntou ni boonhorumutou, yutorando hantou mo orenchi~

HP Luthias pun berbunyi dan dia pun mengangkat panggilannya tanpa melihat namanya.

"Jiah, ringtone-nya lagu abangnya sendiri!" gumam Maurice pelan.

"Haluu (Halo)?" tanya Luthias kepada yang di seberang sana.

Luthias terdiam agak lama sambil sesekali menganggukkan kepalanya, sementara Vroyen dan Maurice hanya bisa menatapnya dengan penasaran.

"Oh, oke! Bisa tunggu sebentar?" tanya Luthias sambil menekan tombol 'hold' di HP-nya dan berbalik menatap Maurice dan Vroyen yang (tanpa sepengetahuannya) sedang ber-Yaoi ria lagi tanpa beban.

Luthias sebagai 'anak teladan' pun berusaha menarik paksa Vroyen dari pelukan Maurice.

Kenapa Vroyen? Karena kalau dia menarik Maurice, nanti dikiranya nyari kesempatan. Mau dibawa ke mana mukanya sebagai seorang guru? Ke jonggol? *ditabok Luthias.*

"KALIAN KAGAK USAH BER-YAOI RIA DI TEMPAT UMUM BISA KAGAK, SIH?!" teriak Luthias sambil menarik Vroyen yang masih saja melakukan adegan 'indah tapi menyesatkan' itu dengan Maurice.

"Aaah! Sensei mah gangguin aja, nih! Atau sensei minta dicium ju-" tanya Vroyen jahil yang dipotong dengan...

DUAK!

"Bisa bilang sekali lagi?!" tanya Luthias dengan nada yang menyeramkan.

"I-iie, nande mo nai desu!" jawab Vroyen yang mukanya ringsek ke dalam karena dihadiahi sebuah bogem mentah dari Luthias.

"J-jadi, Vro-kun selingkuh? Vro-kun selingkuh? Vro-kun seling-" tanya Maurice mendramatisir sebelum kembali dibungkam oleh Vroyen.

Luthias pun hanya bisa jawdrop sambil mencerna perkataan Maurice barusan.

'What the? Setinggi apa imajinasi kedua orang ini?' pikir Luthias yang heran melihat kedua makhluk tersebut.

"Kalian, bisa dihentikan?!" teriak Luthias.

Sontak, Maurice dan Vroyen langsung melepaskan diri mereka masing-masing.

"Ha-ha'i?" tanya mereka berdua gelagapan.

"Kalian boleh kembali ke kelas, jangan diulangi lagi!" kata Luthias sambil mempersilahkan kedua pemuda itu keluar.

Sebenarnya dia berniat ingin memarahi mereka habis-habisan, tapi mengingat ada panggilan 'orang penting', Luthias pun buru-buru mempersilahkan mereka keluar.

-Flashback Interuppted (?)-


Muka Vroyen dan Maurice pun langsung memucat mendengar cerita Luthias barusan, sementara yang lainnya hanya bisa ngasih tatapan 'Gila lu berdua masih berani ngelakuin 'itu' di depan Luthias-sensei!' dengan tampang horror.

"Lu-Luthias-sensei! Bisakah sensei jaga rahasia ini hanya di antara kita?" tanya Vroyen memohon.

"I-iya, nanti aku kasih ikan kod seperahu (?), deh!" tambah Maurice.

"Sudahlah, aku belum selesai bercerita!" balas Luthias sweatdrop mendengar perkataan kedua pemuda di depannya tersebut.

Walaupun sebenarnya dia sangat ingin mengambil ikan yang ditawarkan Maurice dalam hati untuk persediaan bakar ikan sore-sore.


-Flashback Continued-

Setelah Vroyen dan Maurice pergi, Luthias pun buru-buru merogoh HP-nya dan membuka kembali panggilan yang sempat ditahannya tersebut.

"Haluu?" tanya Luthias saat membuka kembali teleponnya.

"Ja? Kenapa lama sekali?" kata yang di seberang sana balik bertanya.

"Biasalah, ada pasangan Yaoi yang harus aku urus! Tadi apa rencanamu?" jawab Luthias kepo tingkat medusa (?).

"Rencananya, ya? Jadi-"


-skip time-


"Seharusnya kuncinya di sini, kan?" gumam Luthias sambil meraba ke bawah karpet.

Tapi entah kenapa dia merasakan sesuatu yang menancap tangannya saat meraba di bawah karpet.

"IIIIIIIYAAAAAAAAAAAAAUUUUUUUUUUUUW!" Luthias pun langsung terbang sampai langit kesepuluh triliyun (?) karena tangannya mengagetkan seekor landak yang sedang tiduran di bawah karpet.


Lima menit kemudian...

"Aduh! Ngapain coba tuh landak tiduran di atas kuncinya, sih?!" tanya Luthias sambil berusaha mencabuti duri-duri landak yang menancap di tangannya.

Akhirnya, Luthias pun berhasil melepaskan seluruh duri-duri yang menancap di tangannya dengan susah payah, walaupun tangannya memuncratkan (?) banyak sekali darah seperti kepala yang dipenggal. *ditabok Luthias.*

"Nah!" Luthias pun mengepalkan tangannya yang telah dicelupkan ke dalam seember betadine (?) dan diperban kayak mumi.

Dia pun membuka kuncinya dan masuk ke dalam asrama.

"Sekarang! Mana barang yang dimaksud?" tanyanya sambil mencari sesuatu di ruang tengah asrama.

"Nah! Ini dia barangnya!" kata Luthias sambil menghampiri kotak gaje yang ngambang tersebut.

"Oke! Kita liat apa aja yang ada di dalamnya!" ujar Luthias sambil membuka isi kotak tersebut tanpa mengindahkan peringatan yang tertulis di kotak itu.

"Hm?" Luthias pun mengobrak-abrik isi kotak tersebut dan menemukan enam buah alat beserta buku panduannya.

Dia pun mengambil buku panduan itu dan membacanya.

"Hmm, 'Alat yang paling atas disebut 'Gravity Zero (Code-1)'! Alat ini akan mengubah ruangan sekitar menjadi area anti-gravitasi! Pasang ini di langit-langit ruangan yang ingin dijadikan rumah atletik'!" Luthias pun melongo ke arah kotak tadi sambil mencari sebuah barang dengan kode '1'.

Dia pun mendapati sebuah alat aneh berbentuk satelit dengan angka '1' di badan alat tersebut.

"Benda ini harus ditaruh di atas, ya?" tanyanya sambil mengambil barang tersebut dan melemparnya ke atas.

Anehnya, benda itu malah langsung menempel di langit-langit entah gimana caranya setelah dilempar oleh Luthias.

"Nah, selanjutnya! 'Jika sudah, tanamkan 'Seed of Invisible Air (Code-2)' di dalam tanah! Ini akan membuat sebuah pilar angin transparan'! Hah? Alat macam apaan ini?" tanya Luthias bingung sambil mengambil sebuat botol bertuliskan '2' dan menuangkan isinya ke lantai (dan tentu saja setelah tutup botolnya sudah dibuka).

"Kenapa makin lama makin gaje, ya? Hmmm, 'Setelah itu, tempelkan 'Material Converter (Code-3)' di samping pintu dan atur bahan dan bobot pintu sesuai keinginan'!" Luthias pun mengeluarkan sebuah alat seperti PDA dari kotak tersebut dan segera menaruh alat tersebut sambil mengaturnya.

"Sebentar! Ini ditaruh di sini, terus, atur!" gumam Luthias sambil menaruh alat tersebut.

"Aturnya jadi besi seberat 100 ton aja, ya? Ah, jangan! Kasihan mereka! Mendingan dijadiin beton aja, deh!" gumamnya lagi sambil mengotak-atik pintu tersebut.

"Nah, selesai! Selanjutnya..." Luthias pun kembali ke kotak gaje tersebut. "Hmm, 'Taruhlah 'Instascalator (Code-4)' jika ada tangga di dalam ruangan'!"

Luthias pun menemukan alat yang dimaksud dengan mudah dan menaruh alat itu di samping tangga.

"Gimana ya reaksi mereka?" tanya Luthias sambil tertawa ala maniak iklan sarden (?).

"Cukup tertawanya!" Luthias pun kembali ke kotak gaje tersebut.

"Yaaaah! Udah seru-seru dibuat gaje, malah ada defuse kit-nya!" keluh Luthias sambil menaruh sebuah tombol besar berwarna merah bertuliskan 'RESET' di atas tangga dengan berat hati.

"Yang terakhir-" Luthias pun melihat ke arah kotak gaje tersebut dan mendapati sebuah tombol pemicu.

"Ah, kalau yang ini mah kagak usah pake buku panduan!" kata Luthias sambil membawa alat itu beserta kotaknya keluar dari asrama.


Beberapa menit kemudian...

"Nah, sekarang sudah siap!" kata Luthias setelah membuang kotak kardus tersebut dan mengunci pintu asrama.

"Satu, dua, tiga!" Luthias pun memencet pemicu itu dan cahaya dari alam gaje pun mulai menyelimuti asrama.

Tidak lama setelah cahaya gaje itu menghilang, Luthias pun buru-buru merogoh HP-nya.

"Halo?" tanya yang di seberang sana.

"Sudah siap!" jawab Luthias sambil berjalan meninggalkan asrama dengan gaya kalem.

-Flashback End-


"Jadi begitulah kenapa asrama bisa berubah jadi rumah atletik!" kata Luthias setelah bercerita panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume bangun ruang. *plak!*

"Hooo, jadi Luthias-sensei yang ngelakuin ini semua?!" tanya Eiuron santai tapi sadis diikuti dark aura dari seluruh penghuni.

"E-eh, v-vent! Denne plan er min Broder (Yang merencanakan itu kakakku)! Serius, deh!" bantah Luthias sambil mengeluarkan tanda 'peace' dengan kedua jarinya.

"Kagak mau ta-"

"Oy, god- Eh?" Tiba-tiba Mathias nyelonong masuk.

"NAH! ITU ORANGNYA! HAJAAAAAAR!" teriak Ikyo memberikan aba-aba untuk memukuli pria jabrik tersebut.

"Eh, eh? Kenapa, nih? Whoa!"

BAK! BIK! BUK! PRANG! ZRASH! CRAT! BZZZT! FYUUUUUUNG!

Apa yang terjadi selanjutnya sangatlah tidak lulus sensor dan Mathias pun langsung babak belur diamuk massa oleh para penghuni asrama merangkap warga Heroes Gakuen.


To Be Continue...


Ini cukup panjang, ya? Aku merombaknya dari tiga Chapter di salah satu fic-ku, jadi jangan ditanya ya! ^^V

Review! :D