Disclaimer: Not own anything.
Baki mengerutkan alis matanya, dan keringat mulai menetes dari dahi. Pandangan fokus pada apa yang terjadi di bawahnya. Hanya satu yang berada di pikirannya pada saat ini. Sial. Sebuah ketidakberuntungan yang harus dihadapi pada waktu secepat ini. Seharusnya tidak begini! seharusnya yang membuat takut lawannya adalah Gaara dan bukan musuhnya. Jika terus dibiarkan, maka Gaara akan membuat rencana yang telah dibuat berantakan jika dia sampai lepas kendali. Jinchuriki yang tidak stabil merupakan kata besar TIDAK untuk memasuki Desa lainnya.
Dan Gaara hampir melewati batas itu akibat musuhnya, Uzumaki Naruto.
Apa yang dibayangkan dirinya dan muridnya yang lain merupakan pertarungan singkat yang meninggalkan genangan darah dari tubuh yang hancur diremuk. Tapi tidak. Anak itu menunjukkan kemampuan yang mengagumkan untuk seorang Genin dalam bertarung, dan menghadapi Ninja seperti Gaara. Pada awalnya, Baki mengira hal itu hanya akan bertahan dalam beberapa menit sebelum Genin Konoha itu kehabisan tenaga dan tidak bisa lagi lari.
Seperti yang diharapkan, anak itu seperti kehabisan tenaga dan Gaara hanya perlu menghancurkan musuhnya yang terdiam tidak bergerak dengan pasirnya. Selesai...
Tapi apa yang berada di pikirannya itu tidak terjadi sama sekali. Kenyataan yang ada hanyalah hal mustahil yang bahkan tidak pernah terjadi dalam sejarah Suna. Bukan lagi rahasia umum di Suna; bahwa Gaara memiliki pengendalian pasir absolut. Dengan itu, anak dari Kazekage itu memiliki pertahanan terkuat yang bahkan tidak dilewati oleh serangan apa saja. Apalagi serangan fisik menggunakan tangan. Gaara adalah musuh terburuk yang bisa didapatkan Ninja yang spesialis petarung jarak dekat. Semua itu tidak terjadi di sini, dan sebelum dirinya sadari, Gaara sudah memasuki tahap lepas kendali.
Lepas kendali karena musuhnya yang dengan mudah mementahkan serangannya dan juga menghancurkan pertahanan miliknya hanya dengan dua tangan. Terpojok, merupakan situasi yang tidak pernah dihadapi Gaara sebelumnya, karena itu ia tidak mengerti apa yang ia lakukan pada saat ini. Lebih bergantung pada suara yang seperti berbisik ke telinganya. Mengikuti perintah yang diberikan tanpa pertanyaan. Semua itu ia dia lakukan agar dapat membunuh lawannya. Semua tidak sesuai rencana, dan untuk kedua kalinya dalam hidupnya Gaara merasakan perasaan yang sudah lama ia lupakan.
Ketakutan.
"...Bahwa, masih ada yang lebih kuat darimu, Jinchuriki ekor satu."
Jantung berhenti berdetak, dan mata yang melebar menatap dengan terkejut. Bukan karena identitasnya sebagai Jinchuriki telah diketahui musuh. Namun, karena betapa menyeramkannya nada suara yang mendesis halus tersebut. Sebuah suara yang hanya bisa ia dengar seorang. Seperti.. menganggapnya lebih rendah dari yang lain. Menghina.
Diam...
Diam.
DIAM!
Siapa dia berbicara seperti itu!? siapa dia berani menggunakan nada suara itu pada dirinya!?
Tidak ada yang boleh menghinanya seperti itu! Tidak ada!
Perubahan mulai terjadi, warna mata yang berubah dan kulit yang mulai diselimuti pasir yang hendak membentuk bagian tertentu. Rasa sakit kepala yang menjadi-jadi dan raungan sinting yang seperti hendak mengambil alih tubuh. Kemarahan yang tidak akan pernah pudar sekali itu muncul.
'Pandangan mereka yang seperti peduli padamu, seperti mengerti kau dan menerimamu dengan hangat berbeda denganku! Aku muak melihat itu semua! Jangan sok kuat dihadapanku!' Gaara melihat itu. Dari dalam hati menghitamnya yang paling dalam, ia menyaksikan itu. Setiap kali ia akan membunuh lawannya, akan selalu ada yang peduli dengan orang yang ia bunuh. Akan ada yang selalu menangis untuk orang itu dan terus mengingatnya. Dan untuk sekian kalinya, saat ia akan membunuh lawannya ini... hal itu terjadi lagi. Perempuan berambut pirang itu yang menatap dengan khawatir... pria dengan penutup wajah yang memerhatikan dengan seksama seperti berdoa akan kemenangan muridnya. Dan Kakek tua Hokage yang memiliki wajah bangga pada saat ini.
Iri.
Iri, karena dirinya tidak pernah mendapatkan apa yang dimiliki orang itu selama hidupnya. Tidak akan ada yang menangisi dirinya jika dalam situasi berbahaya. Tidak akan ada yang memberikannya perhatian seperti yang dimiliki Uzumaki Naruto. Dan tidak akan pernah ada orangtua yang akan bangga dengan pencapaian anaknya layaknya Hokage itu menatap Uzumaki Naruto.
Saat dirinya mencoba tidak akan pernah ada yang membantunya seperti itu. Gaara menyadari itu, pada akhirnya... ia akan sendiri. Selalu sendiri, dan tidak akan pernah menjadi sesuatu yang biasa. Dirinya monster. Monster yang hanya bisa menghancurkan apa saja yang terlalu rapuh.
Menerima itu... dirinya adalah Monster. Yang diciptakan dari kesengajaan yang tidak akan pernah keluar dari lingkaran takdir yang sudah diciptakan setelah ia lahir. Pandangan itu yang ia lihat dari matanya. Kesimpulan yang tidak akan pernah berubah bahkan sampai ia mati. Karena itu...
Oleh sebab itu...
Ia akan membuktikan dirinya.
Gaara akan menemukan keberadaannya diantara para monster yang menciptakannya seperti ini.
Hanya Monster.
Entah mengapa Gaara merasa tenang. Ia menengadah ke atas, langit-langit arena seperti hilang digantikan dengan bayangan langit berawan cerah yang menerangi sangkar besi yang tidak akan pernah terbuka. Hanya bisa melihat keindahan dari kurungan miliknya dan tidak akan pernah mendapatkan kebebasan yang sama dirasakan orang lain. Hanya bisa terduduk diam menatap dengan iri apa yang tidak akan pernah ia dapatkan.
Menyedihkan...
... Memang tidak ada jalan keluar.
Temari, Kankuro, saudara dari Gaara hanya bisa menatap dengan tidak percaya apa yang terjadi di depan matanya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka karena apa yang mereka saksikan di depan mata mereka. Sesuatu yang mustahil mengingat apa itu Gaara. Jantung berdebar kencang dengan rasa khawatir karena Gaara yang sudah mulai memasuki phase perubahan terhenti di detik-detik akhir. Mustahil, karena mereka tahu jika Gaara sudah mulai memasuki perubahan maka tidak ada kata berhenti. Gaara akan berubah secara langsung karena apa yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan hal itu terjadi, sesuatu yang membuat mereka kehilangan kata-kata. Gaara berdiri, menengadah ke atas dengan ekspresi tenang seperti tidak ada yang mengganggunya. Seperti semuanya tidak lagi masalah bagi dirinya. Dan pasir yang tadinya mulai menutupi tubuh dengan corak hitam kini mulai menghilang dan berjatuhan dari tubuh seperti bermandikan pasir.
"Bodoh sekali..." Gaara mengangkat tangannya ke atas, seperti mencoba mencengkram matahari yang berada di bayangannya. Tapi tidak berhasil. "Karena apapun yang aku lakukan... tidak ada gunanya."
Pasir mulai mengitari Gaara secara perlahan dengan gerakan pelan.
Naruto mengerutkan alis matanya menatap apa yang terjadi. Dirinya tidak paham, sungguh tidak mengerti apa yang telah terjadi pada Gaara. Jawaban apapun yang ia coba hasilkan, semuanya seperti tidak masuk akal untuk menjelaskan apa yang terjadi pada laki-laki yang sepert kehilangan akal sehatnya tadi. Seperti Gaara berubah kepribadian begitu saja...
"Untuk pertama kalinya aku tidak mendengar suara itu." Gaara menutup matanya, menggerakkan kedua tangannya bagaikan menari dengan nada yang ia keluarkan dari mulutnya sendiri.
Suara retakan mulai terdengar dan seluruh mata mulai melihat sekitar mereka, dinding yang tadinya berdiri gagah lurus tanpa adanya retakan ataupun kerusakan, kini mulai terkikis seperti ada yang menariknya. Tidak jatuh ke tanah, melainkan berubah menjadi partikel kecil yang kemudian menuju arah Gaara.
Mengejutkan.
Itu apa yang terjadi, Gaara menarik elemennya dari bangunan tempat mereka berdiri. Tanpa ada kesulitan sama sekali, Guci yang berada di punggungnya seperti pajangan saja dibandingkan dengan pembawa pasir hidup yang selalu ia bawa. Seperti mengikuti suasana hati Gaara, pasir mengelilinginya dengan teratur. Mulai membentuk tangan dan jemari yang tidak mendefinisikan dirinya. Namun, tangan dan jemari yang menyerupai wanita, menyentuh Gaara dengan perlahan dan lembut meskipun hanyalah pasir.
"..Aku yang menang." Gaara mengeluarkan pernyataan itu. Suara yang lebih hidup dari nada monoton biasanya. Dan pasir bagaikan ratusan cambuk melayang di udara dalam detik yang sama menyerang Naruto.
Naruto mengeratkan rahangnya, sebelum mengambil langkah mundur untuk menghindari serangan pertama. Tidak hanya itu, tubuh bagian atasnya juga menghindari dengan kecepatan yang sama. Langkah terhenti, pergelangan kaki miring, dan Naruto telah lompat ke udara. Manuver pada saat yang sama, dan menggunakan momentum yang tepat untuk kembali menghindar di udara dengan menggunakan pasir padat yang lewat dalam detik yang sama.
Sebuah pertunjukkan yang seperti keluar dari sirkus itu sendiri. Perbedaannya hanyalah ini adalah pertarungan yang menentukan segalanya. Naruto menggunakan Jigen-tou untuk memotong dimensi tempat pasir itu mengarah sebelum bisa melewatinya. Tapi Naruto hanya memiliki dua tangan. Dua tangan tidak cukup untuk melindungi tubuh dari serangan segala arah yang dilancarkan dari segala arah. Dan juga serangan yang tidak habis itu sudah membuat staminanya terkuras dengan cepat karena tidak ada waktu jeda dalam usaha pertarungan tersebut.
Garis panjang tercipta di wajah, dan darah menyembur dari tempat itu.
Naruto tidak mengeluarkan ekspresi kesakitan, karena seluruh perhatiannya ia fokuskan pada serangan beruntun Gaara. Sobekan, dan punggung menerima cambuk pasir tersebut.
'Tidak bisa begini. Aku harus menemukan cara untuk menghentikan serangan tanpa celah itu.' Naruto menggigit bibir bawahnya menahan diri dari mengeluarkan suara teriakan. Apapun yang terjadi, membuat Gaara mengeluarkan kemampuan aslinya akan pengendalian pasir. Dan pengendalian pasir dalam jumlah banyak seperti ini yang bergerak dari segala arah merupakan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi dalam, namun tidak bagi Gaara.
Hiruzen mengerutkan alis matanya atas apa yang terjadi. Sembari menyepitkan mata untuk mencegah pasir yang berterbangan di udara memasuki matanya. Hal itu tidak dilakukan oleh dirinya seorang, tapi banyak lainnya. Dari getaran yang terasa ia tahu pasir Gaara mulai mengambil unsurnya dari bangunan itu sendiri. 'Kekuatan yang menakutkan, jika pengendalian pasirnya sebaik ini dalam usianya yang muda, apa yang akan terjadi jika ia dibiarkan tumbuh hingga usia matangnya?' Itulah yang terlintas dipikirannya saat ini. Pertarungan yang sudah tidak bisa lagi dikatakan pertarungan antara Genin. 'Apa yang akan kau lakukan, Naruto-kun? Menghadapi lawan yang seperti ini?'
Bagi yang mengetahui Naruto, mereka akan berpikir bahwa Naruto adalah tipe Ninja yang berjalan dan memulai spesialis dalam Taijutsu atau mungkin Kenjutsu, namun tidak dengan Ninjutsu. Hal itu terjadi, karena selama mereka bersama atau berada di sekitar pemuda itu, observasi yang terjadi adalah Naruto selalu menggunakan kedua hal itu dalam melawan musuhnya dan jarang sekali menggunakan tipe Ninjutsu dalam beberapa situasi yang memang memungkinkan harus menggunakan Ninjutsu. Jadi tidak salah, bahwa asumsi itu tercipta dari apa yang mereka ketahui... dan bukan apa yang mereka saksikan sekarang.
Jinchuriki berambut pirang itu membuat beberapa segel tangan yang bahkan terlalu cepat diikuti oleh mata biasa, menarik nafas yang dalam hingga bagi yang melihat bisa menyaksikan dada Naruto membesar dengan udara, sebelum Naruto membuka mulutnya, "Fūton: Renkūdan!"
Tembakan-tembakan bola udara keluar dari mulut Naruto menuju Gaara. Mereka tahu, bahwa jurus yang dikeluarkan oleh Naruto merupakan jurus yang berbahaya sekali jika mengenai lawan. Karena tidak hanya berisi udara, tapi juga bola udara tersebut memiliki sifat alami yang akan meledak secara langsung ketika mengenai targetnya.
Gaara membawa tangannya dengan cepat ke depan dan membukannya, satu tameng lapis terbentuk sebelum tameng lainnya terbentuk melapisi pertahanan yang sebelumnya. Serangan pertama mengenai, menghancurkan perlindungan pertama, begitu juga dengan yang kedua dan terus selanjutnya. Jinchuriki dari Suna itu mengeratkan rahangnya.
"Uoh Uoh! Apa mereka Gila!?" Kiba berteriak seraya mengambil tempat berlindung sebelum dirinya mengenai efek serangan yang menyebar ke berbagai arah. "Ini bukan lagi duel, ini kompetisi siapa yang lebih cepat menghancurkan gedung ini!"
"Tidak bisa dipungkiri, memang fakta itu yang terjadi di depan mata. Dengan kekuatan mereka yang seperti ini, apapun bisa terjadi." Dengan tenang meskipun berhati-hati dalam mengambil jarak aman, Shino menyaksikan dua Genin terkuat di bawahnya.
"Shino, ingatkan aku untuk tidak bertingkah bodoh lagi di sekitar Naruto." Permohonan itu keluar dari keturunan Inuzuka yang berlutut di lantai dengan kedua tangannya menutupi kepalanya. Sedangkan Anjingnya berada tepat di bawah lehernya.
"Mengingat kepribadianmu, aku tidak bisa janji, Kiba-san."
Kurenai yang sudah kembali dari tempat di mana Hinata dirawat hanya bisa mengerutkan alis mata. Ia kembali setelah memastikan bahwa Hinata akan baik-baik saja, dan saat ini ditangani oleh medis-Nin. Menyangka pertarungan lainnya tidak akan begitu hebat, dan melebihi tingkatan Genin biasa, di mana yang ada hanyalah pertarungan menggunakan Taijutsu tingkat bawah, dan juga beberapa Ninjutsu ringan yang telah diajarkan Guru mereka. Bukan pertarungan yang bisa membahayakan nyawa siapa saja meskipun tingkatan mereka. Menggunakan lengan tangan, Kurenai menutup pandangannya dari pasir yang telah dihancurkan oleh kompresi udara tersebut.
"Hebat sekali, aku tidak tahu bahwa ada Genin yang bisa menggunakan Elemen Angin selain aku di Desa ini." Kurenai tidak perlu melihat, dari nada suara itu ia sudah tahu dimiliki oleh Asuma yang saat ini menyeringai meskipun keadaan telah menyapukan rokoknya dari mulutnya. "Genin dengan elemen afinitas alami angin, dan sudah bisa mengeluarkan teknik kelas B, menakjubkan. Sepertinya tidak salah kalau Kakashi menyatakan muridnya yang terbaik dalam Ujian Chunin ini!"
Kurenai jarang sekali mendengar Asuma bersemangat seperti itu setelah mendengar bahwa Uzumaki Naruto memiliki afinitas pada angin yang kuat. Kurenai menjadi hening, apa yang selama ini ia pikirkan mengenai Uzumaki Naruto, salah...? bahwa anak itu merupakan anak nakal yang hanya bisa mengacau? Atau apa yang ia dengar selama ini hanyalah kebohongan untuk menutupi bahwa sebenarnya Uzumaki Naruto jauh sekali dari apa rumor yang beredar. Mungkin, ancaman yang tidak terlihat yang diberikan oleh Kakashi pada waktu itu memang benar akan kebenarannya, dan dirinya masih terlalu naif untuk membuat kesimpulan sebelum mengetahui lebih dalam?
Sepertinya dirinya harus memperbaiki diri dan mengoreksi kesalahannya kembali. Jika tidak, dirinya tidak pantas menjadi seorang Jounin.
Seluruh mata tertuju pada Naruto ketika mereka menyaksikan sesuatu, dan hanya bisa melebarkan kelopak mata. Hanya ada dua kata yang terlintas ketika mereka menyadari apa yang akan dilakukan Naruto.
"Oh... tidak."
"Fūton: Daitoppa!"
Naruto menepukkan kedua tangannya, dan angin berubah menjadi satu hembusan. Dorongan angin keras yang tertuju pada lawannya. Dengan penggunaan chakra yang besar, Naruto mengeluarkan level baru dari Jurus yang hanya dikategorikan dalam tingkat C tersebut. Setiap pasir yang terbentuk di udara, mulai mengikuti ke arah mana angin membawa. Lantai yang bergoyang seperti akan lepas, dan juga efek dari teknik Naruto sebelumnya, yang meninggalkan banyak lubang di segala sisi. Keturunan Uzumaki itu merasakan chakranya yang berada di sekitarnya, membantunya mengendalikan teknik angin dengan daya desktruktif.
Celah..
Kata itu sekilas ia pikirkan, sebelum tubuhnya secara otomatis bergerak dengan cepat, satu langkah... dua langkah, dan angin membawanya bersama.
Gaara menutup matanya. Membiarkan pasir miliknya yang sekarang seperti sudah berubah perasaan mencari keberadaan musuhnya. Semua seperti lebih jelas, tidak tahu apa yang terjadi... tapi dirinya hanya bisa menerimanya. Ninjutsu tersebut lebih berbahaya daripada apa yang ia kira. Dan Gaara mendengar kembali bisikan-bisikan itu, tapi... entah mengapa dirinya sekarang lebih mudah menekan suara itu dari biasanya. Ya... ini yang ingin ia rasakan, adrenalin ini! Di mana ia bisa merasakan apa itu pertarungan sesungguhnya. Tidak karena benci atau dibenci, namun karena ini adalah jalan menuju tingkatan lebih tinggi.
Tidak... tidak bisa dirasakan, angin membawa hawa keberadaan Uzumaki Naruto.
Gaara menatap para penonton yang berada di atas, saudara yang hanya dari darah, Guru yang terlalu berhati-hati di sekitarnya. Genin Konoha yang ia rasakan bersembunyi saat berada di Hutan, namun ia biarkan hidup karena tidak menarik bagi dirinya. Dan juga Guru mereka. Tapi, pandangan mereka tidak tertuju pada dirinya. Ada yang salah...
Dan Gaara menemukan kesalahan itu ketika ia menurunkan pandangannya, menatap iris biru dari Uzumaki Naruto. Dengan tangan yang berada di lehernya.
"Menyerahlah... atau kau tidak akan menyukai hasilnya." Naruto mengeluarkan pernyataan. Hening, Angin telah berhenti lama setelah kata-kata itu terucap. Dan pasir Gaara tidak bisa memasuki area jangkauan Naruto karena pasir itu tahu apa yang akan terjadi jika mereka mencoba menyerang Ninja yang saat ini menaruh sudut jarinya pada leher pemiliknya.
Gaara tidak mengeluarkan suara, bahkan eskpresi tidak terlintas dalam wajahnya. Tangan Naruto maju sedikit, dan garis kecil tercipta di leher yang kemudian mengeluarkan merah. Gaara mengeratkan rahangnya, dan tatapannya sekali lagi berpapasan dengan Uzumaki Naruto. Waktu terasa lama berlalu dalam pandangan itu.
"Aku... menyerah."
Suara itu terdengar dari kecil, namun dari keheningan tempat itu, nada sekecil itu sudah cukup untuk didengar oleh semuanya.
"Pemenang ronde penyisihan, Uzumaki Naruto!" Meskipun dalam keadaan tidak sehat, sang Juri dengan sepenuh hati menyatakan itu.
Ino langsung melompat-lompat dari tempatnya, wajah bahagia menghapus ekspresi khawatirnya tadi. Shikamaru hanya mengorek telinganya, seperti tidak terlalu memerdulikan apa yang dikatakan oleh Ino, yang kebanyakan isinya memuji Naruto, kemudian berjanji akan membalas Naruto karena telah membuatnya khawatir dan.. sebagainya. Bahkan dipeluk sekencang ini gara-gara kebahagian temannya ...merepotkan. Walaupun tidak semerepotkan kepribadian Ino yang lain.
Ino melepas pelukannya dengan tatapan terkejut, dan melihat ke bawah. Dan menghela nafas, tatapannya melotot pada Shikamaru. "Jangan salah paham."
"Salah paham atau tidak, aku tidak yakin Naruto peduli pada itu." Shikamaru membalas dengan tatapan lurus.
Dan balasan yang ia dapat adalah pukulan di perut. Baru ia sadar, Ino juga memiliki kekuatan otot yang melebihi perempuan seumurannya.
Sang Hokage, mengeluarkan tepuk tangan kecil. Meskipun seharusnya ia bersikap layaknya pemimpin, tapi pertandingan yang baru saja terjadi cukup memukau bagi dirinya yang sudah menjadi Kakek-Kakek veteran seperti ini. Tepuk tangan itu tidak ditujukan pada Naruto saja, tapi juga bagi Gaara, akan performanya. Meskipun pada awalnya Gaara terlihat kaku pada menit-menit pertama? Tapi pada akhirnya Gaara menunjukkan kapasitasnya sebagai Ninja yang layak mendapatkan kenaikan tingkat. Bukan berarti ia tidak bisa merasakan, tapi... kedua Jinchuriki itu sama sekali tidak menggunakan kemampuan 'apa' yang tersegel di dalam diri mereka. Dan itu sudah cukup untuk membuatnya ikut bertepuk tangan.
Gaara sebagai Jinchuriki? Sejak pertama kali anak itu menginjak gerbang desa Konoha, Hiruzen sudah merasakan itu. Namun tidak mengambil aksi karena tidak ada masalah yang timbul sama sekali. Dirinya bukan orang yang mendeskriminasi jika Jinchuriki datang ke desanya bertujuan untuk mengikuti Ujian kenaikan tingkat. Dengan pertunjukkan kemampuan seperti ini, tanpa melaju ke Final pun ia akan merekomendasikan Gaara untuk dinaikkan tingkatannya menjadi Chunin.
Naruto menghela nafasnya, dan memindahkan tangannya dari leher Gaara, pertanda sudah aman. Senyuman perlahan muncul di wajahnya ditujukan kepada Gaara. "Aku pikir akan terjadi sesuatu, sepertinya instingku salah..." Naruto kemudian tertawa halus ketika mendapati Gaara menaikkan alis matanya yang tidak ada. "Tidak, tidak. Tadi itu pertarungan yang bagus. Aku pikir aku akan kalah tadi." Naruto mengelurkan tangannya, "Namaku Uzumaki Naruto."
Gaara hanya menatap tangan yang diulurkan itu, tanpa bergerak. Beberapa saat berlalu, dan terlihat jelas Gaara tidak akan membalas perkenalan Naruto. Ninja Konoha itu menarik tangannya dengan tawa gugup.
"Aku sudah mengetahui namamu, hal itu tidak diperkukan." Gaara menjawab pendek, "Tadi itu aku lengah, lain kali kau akan mati menghadapiku."
Dengan begitu, Gaara berjalan dengan tenang keluar dari arena bertarung, Kembali menuju tempat di mana timnya berada. Meninggalkan Naruto yang seperti masih tidak bergerak dari kata-kata tadi. Pandangan tidak nyaman ia terima dari saudaranya dan juga Baki. Hening sesaat, sebelum Baki membuka mulutnya, tapi Gaara yang sudah lebih tahu apa yang akan dibicarakan langsung memotong. "Diam, atau kau yang akan kubunuh."
Hal itu sudah cukup membuat Baki mengambil satu langkah mundur dengan wajah terkejut. Begitu juga dengan Temari dan Kankuro, tapi... ia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh mereka pada saat ini. Pandangannya kembali ke seberang, tempat di mana Naruto berada, 'Uzumaki Naruto.. ya? Aku tidak mengerti apa yang terjadi.. tapi, sepertinya kau membuatku menyadari sesuatu yang penting. Meskipun wajahmu sekarang hanyalah topeng belaka yang menunjukkan sifat alamimu. Sampai berapa lama kau akan bersandiwara? Sementara kau dan aku yang terlahirkan menjadi monster berusaha menyesuaikan diri?'
Pandangan pengendali pasir itu tertuju pada tangannya, di mana sebuah pasir mengitari tepat di atas telapak tangan. 'Sekarang memikirkan... apa kau?'
0o0o0o0o0o0oKristoper21o0o0o0o0o0o0o0o
Naruto menatap bola yang berada di tangannya, dan membukanya... sebuah nama muncul dalam secarik kertas. "Huh, Hyuuga Neji?"
Apa yang terjadi sebelumnya sudah menjadi blur di ingatannya, pertandingan tetap dilanjutkan, namun karena tubuh yang kelelahan Naruto memutuskan untuk mengambil waktu istrahat sementara peserta lainnya tereliminasi dalam pertandingan mereka masing-masing. Shikamaru yang menggunakan kecerdasan dan bayangannya saat melawan Kiba, dengan menjebak anjing tersebut dalam bayangan dan taktik lain untuk menyingkirkan Kiba. Terlihat tidak menakjubkan, tapi ini adalah Shikamaru, yang mencari cara lebih efisien daripada menghabiskan tenaga berlebihan. Mengingat Kiba dan... tingkat pemikirannya, hal itu tidak terlalu sulit bagi Shikamaru.
Sebuah nama yang akan Naruto perhatikan terus menerus.
Dan mungkin juga sebaliknya... tidak, hal itu berlaku bagi mereka berdua. Shikamaru memang sosok yang sulit untuk ditebak, meskipun dengan penampilannya yang seperti itu dan tingkahnya yang mudah sekali ditebak orang lain. Tapi di balik semua itu, terdapat pemikiran yang beberapa langkah lebih maju daripada apa yang orang normal pikirkan dalam situasi tertentu. Naruto tidak menganggap dirinya sebagai orang yang pintar menyamai Shikamaru yang merupakan genius bawaan lahir. Dirinya lebih suka disebut sebagai pekerja keras yang menemukan caranya sendiri untuk menyamai Shikamaru.
Tapi jika ditanyakan siapa yang akan menang dalam tes kegeniusan, maka hasilnya sudah itu sudah tidak menjadi masalah lagi sekarang. Yang jadi pikiran untuk selanjutnya adalah bagaimana cara mengalahkan Neji? Mengingat pertandingan akan dijadika Turnamen di mana ribuan orang dari seluruh penjuru dapat menonton pertarungan antar Ninja.
Menatap sosok yang menjadi lawannya itu, Naruto hanya bisa menaikkan bahu. Bukannya merasa arogan atau apa, dengan kemampuan seperti itu, Neji bukanlah lawan yang pantas untuk ia lawan dalam pertarungan jarak dekat.
Naruto terhenti sesaat, dan menatap ke dua tangannya. Dan mencoba mengepalkan tangan... namun tidak berhasil. "Aku kira sudah kukuasai penuh... ternyata... apa boleh buat."
XXXXXX
Neji melihat punggung dari musuhnya di turnamen yang akan datang. Musuhnya di pertandingan selanjutnya berjalan dengan tenangnya keluar dari Tower dan menuju pusat kota. Tanpa ada beban terlihat di wajahnya. Neji mengepalkan tangannnya, dan hanya bisa mengutuk di bawah bibir. Uzumaki Naruto, nama itu yang selalu ia dengar. Seberapa kuatnya sih dia? Apa yang membuatnya istemewa dari yang lainnya? Yatim-piatu yang terlahir dari orangtua tidak diketahui, bukan siapa-siapa dan juga bukan dari Klan mana pun. Dia bisa membuat seluruh orang terpukau dengan kemampuannya. Tidak ada yang membatasinya.
Tidak seperti dirinya, yang menjadi sekuat apapun akan tetap menjadi budak.
Yang akan setia sampai mati, tetap akan dicap dengan segel yang tidak akan dihapus.
Segel yang menunjukkan dirinya lebih rendah daripada keluarga utama.
Genin yang seharusnya tidak bisa melakukan hal sebaik itu. Tidak dengan siapa dia. Tidak memiliki apa-apa, namun tidak terikat dengan takdir. Takdir yang seharusnya mengikat orang lemah yang terlahir bukan siapa-siapa di dunia ini. Ia telah melakukannya... ia telah menyalurkan kebencian yang ia pendam melalui serangan fatal ke Nona Hinata. Perempuan lemah yang memiliki hati lembek, namun akan tetap menjadi yang utama. Meskipun sudah jelas siapa yang lebih kuat diantara mereka. Tapi... Neji tidak merasakan apa-apa dari itu, tidak merasakan kepuasan yang selama ini ia cari setelah menyalurkan rasa sakit yang disebabkan oleh perempuan itu.
Uzumaki Naruto yang bukan siapa-siapa...
Itu membuatnya muak. Namun, meskipun seberapa iri dan bencinya Neji melihat itu, ia mengakui kemampuan Uzumaki Naruto sebagai Ninja. Lawan yang akan menjadi musuh terkuatnya. Ia akan menunjukkan pada Uzumaki Naruto, bahwa tidak ada yang akan bisa kabur dari rantai Takdir, dan... di pertemuan nanti, Naruto akan mengetahui apa itu takdir. Dan... dari itu mungkin, dirinya bisa menemukan apa yang ia cari selama ini.
XXXXXX
"...Pak Tua, coba tebak siapa yang datang~"
Hiruzen hanya menghela nafas akan ketidaksopanan pemilik suara itu. Ia tidak menatap pintu, karena tahu pasti dari mana orang itu akan muncul untuk menemuinya. "Sudah berapa kali aku katakan, gunakan pintu depan jangan jendela! Kau memberikan contoh yang buruk pada Ninja yang lainnya, Jiraiya!"
"Namaku bukan Jiraiya jika tidak menggunakan jendela dalam segela kesempatan. Baik itu menyusup ke pemandian air panas, lari dari Rumah Makan, atau kabur sebelum wanita yang kutiduri bangun." Jiraiya menyilangkan tangannya dengan wajah bangga yang terukir. "Tapi, tetap saja Konoha yang akan menjadi tempat tinggalku. Selalu ada hal yang kurindukan dari tempat ini... dan setiap kali aku datang, terlihat hal yang berubah dan tetap sama." Pria berambut putih itu menyandarkan punggungnya ke dinding di samping tempat ia masuk tadi.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Beres beres," Jiraiya mengipaskan tangannya, "Menemui beberapa masalah, tapi aku berhasil membereskannya sebelum menjadi tidak terkendali. Informasi baru juga kudapatkan dari jaringan mata-mata milikku yang ada di beberapa desa, dan juga desa-desa Ninja yang baru-baru ini berdiri. Tidak ada yang mencurigakan, namun lebih baik berjaga-jaga daripada terjadi hal yang tidak diinginkan." Pria berperawakan tinggi itu kemudian meletakkan sesuatu di meja Hokage tersebut. "Seperti yang kujanjikan... edisi kelanjutannya, cetakan pertama dan menjadi pembaca pertama sebelum tanggal keluar sebenarnya."
"Hhm," Sarutobi mengeluarkan batuk kecil, namun satu tangannya dengan cepat memasukkan buku kecil berwarna oranye ke lacinya sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Jiraiya hanya menyeringai menyaksikan tingkah Guru nya tersebut.
"Bagaimana dengan anak itu?" Ragu, memang ada... namun Jiraiya memberanikan diri menanyakan keadaan dari anak muridnya yang telah lama mati tersebut.
"Tidak ada masalah." Hiruzen menjawab dengan senyuman di wajah, "Dia tumbuh menjadi Shinobi yang akan membuat orangtuanya bangga jika mereka masih hidup. Dia hidup mandiri, tidak pernah membuat masalah dan... tidak bersosialisasi."
"Huh?"
Kakek tua itu menghela nafas berat. "Tidak ada yang bisa disalahkan kecuali kebodohanku mengikuti perkataan Minato. Untuk kali itu, aku percaya... penduduk Desa akan memperlakukan Naruto layaknya sebagai pahlawan karena apa yang ia tahan di dalam tubuhnya. Tapi, kenyataan tetaplah kenyataan... Jinchuriki akan selalu menerima nasib sepert itu. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengubah pandangan mereka. Yang bisa kuberikan adalah perlindungan dan sedikit nasehat. Meskipun dengan pengawasan, Naruto tumbuh dengan sulit... dia berubah. Dan penduduk desa pun tidak membantu sama sekali dengan perlakuan mereka yang menganggap Naruto sebagai bom berjalan. Aku masih ingat itu, di mana dia masih bersemangat dan periang... sedikit mencari perhatian, karena aku tidak selalu ada untuknya karena kesibukan yang memang harus aku jalani."
Wajah Hokage itu mengambil raut nostalgia. "Kurasa, Naruto kecil juga menemukan batasan di mana ia ingin berusaha pada saat itu. Dan mulai menghiraukan segalanya, dan melakukan apa yang ia mau tanpa mencari perhatian itu lagi. Aku tidak tahu kapan itu terjadi, Naruto mulai tertarik dengan Buku, menghabiskan waktunya di perpustakaan sedangkan anak seumurannya bermain dengan cerianya. Memerhatikan Ninja yang sedang latihan, dan mencoba melatih diri lebih keras dari yang lainnya. Anak yang biasa-biasa saja, dan tanpa kemampuan perlahan mulai tidak terlihat lagi. Digantikan dengan seorang anak yang siap mengambil jalan sebagai Shinobi." Hening, Hiruzen membasahi bibirnya, seraya mengeluarkan asap rokok yang ia isap.
"Bersosialisasi, iya... tapi ada rencana untuk membuat teman, tidak ada. Dia tidak memiliki keinginan itu... hanya beberapa saja yang bisa membawa Naruto berbicara lebih dari sekedar sopan-santun. Aku melihat itu Jiraiya, pandangan yang sama dengan 'orang' itu ketika ia masih kecil. Pandangan di mana dia tidak lagi menemukan yang sebanding dengan dia. Di mana tidak ada yang bisa memahami pemikirannya yang lebih dari normal."
"Hal itu gampang," Jiraiya mencoba menghilangkan suasana berat itu, "Aku memiliki banyak cara agar anak itu jadi lebih hidup sedikit."
"Ahahaha.." Hiruzen tertawa halus, "Jika apa yang kau maksud seperti 'itu' aku rasa kau akan gagal, Jiraiya. Naruto... cukup terkenal di kalangan gadis seumurannya." Jiraiya menaikkan alis mata mendengar itu, namun tidak bertanya lebih lanjut. Hokage itu menghela nafas sesaat.
"Saat ini Naruto berada di persimpangan... dan aku tidak ingin dia salah memilih jalan sebelum itu terlambat. Selama hal itu belum terjadi, tidak ada salahnya mencoba sebisa kita membawa anak itu lebih mempercayai orang di sekitarnya. Terlihat sepele.. namun, hal ini juga yang membuat mantan muridku pada akhirnya menjadi seperti itu." Pria tua itu mengeluarkan senyuman pahit. "Ya... sebelum terlambat."
XXHXXXAXXXKXXXUXXX
Suara langkah kecil terdengar bergema. Lantai yang mengkilat, menunjukkan satu langkah kaki yang terpantul. Warna putih yang menghiasi semua pemandangan, dan aroma khas yang dimiliki gedung tersebut. Langkah itu terhenti, dan sebuah pintu dengan nama terhias dengan jelas di papan pasien. Jari perlahan memegang handel pintu. Memegang dengan ragu, seakan takut bahwa ketika ia membuka pintu itu akan ada hal buruk yang terjadi. Menelan ludah, pemuda itu membulatkan tekadnya, dan membuka perlahan pintu tersebut.
Meja kecil, dan di atasnya terdapat pot bunga segar yang baru diganti, Naruto tahu karena beberapa hari ini ia tidak mengunjungi Haku. Jendela yang terbuka setengah, membiarkan udara pagi masuk. Sebuah tempat tidur pasien, dengan seseorang yang terlelap di atasnya. Pemuda berambut pirang itu hanya menatap terdiam dari pintu, dan perlahan mengambil langkah untuk maju. Semakin ia berjalan, semakin jelas wajah dari perempuan tersebut. Surai hitam yang tergeletak di samping wajahnya dengan rapi. Wajah putih pucat namun perlahan memiliki kembali warnanya berbeda saat pertama kali ia dibawa ke Rumah Sakit.
Sebuah jarum infus yang tertancap di tangan berkulit putih salju tersebut.
Naruto menarik nafasnya secara perlahan, dan melihat betapa stabilnya perempuan itu sekarang bernafas. Ini adalah kedua kalinya ia melihat perempuan ini di Rumah Sakit, yang pertama saat pertama kali ia membawanya dalam keadaan sekarat... dan kedua adalah ini. Memang ia akui, ia mengunjungi, dan melihat keadaan Haku setelah apa yang terjadi. Itu semua terjadi saat gadis itu masih tidak sadarkan diri. Tapi kali ini berbeda.
Masih terbayang, wajah tersenyum dari gadis itu meskipun kematian hampir menjemputnya. Sebuah kenyataan yang tidak akan pernah Naruto terima jika dirinya yang berada di dalam posisi tersebut. Itu sama saja membohongi pondasi yang selama ini ia bangun, yan menjadikan dirinya Uzumaki Naruto.
Bahkan ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri... mengapa ia membantu Haku?
Bukankah dia telah menipunya pada waktu itu? meskipun begitu, Naruto tetap menolongnya. Aneh, itulah dirinya. Didefinisikan sebagai orang yang susah dipahami jika dilihat dengan kacamata orang normal. Hanya sebagian yang memahaminya, dan itupun memerlukan waktu yang lama. Masih terlintas, pembicaraan yang terjadi, dan betapa mudahnya bercanda tawa tanpa mementingkan siapa dan siapa. Tapi pada akhirnya pikirannya tertutup awan keraguan... awan keinginan, di mana dirinya menganggap Haku sebagai teman. bagai jahatnya takdir, pada akhirnya musuh tetaplah musuh
Ditemukan dalam persimpangan berdarah, di mana hanya ada bunuh dan saling membunuh.
Naruto mengangkat kedua tangannya dan menatap telapak tangannya. Dengan tangan ini... kedua tangan inilah yang memberikan apa yang seharusnya serangan pengakhiran untuk Haku. Namun, karena kedua tangan inilah... mengapa gadis ini masih ada dan bernafas di dunia kehidupan. Naruto hanya bisa tertawa akan ironisnya kejadian yang terjadi.
Ia berusaha menyampingkan pikiran itu disudut alam sadar, mencoba melupakan apa yang ia lakukan pada Haku, dan memenuhi kesaharian dengan kegiatan yang penuh hingga saat malam hanya ada rasa lelah dan kantuk yang menyerang.
Tapi, kali ini ia siap untuk menghadapi itu. Karena Yuki Haku telah sadarkan diri.
Kelopak mata dengan bulu mata lentik itu terbuka. Pandangan menatap langit-langit untuk beberapa saat dan seperti menyadari kehadiran seseorang dari bayangan. Iris mata cokelat bertemu dengan biru.
Pemuda itu membuka mulutnya sesaat, seperti masih memikirkan kata-kata yang cocok untuk membuka pembicaraan. Meskipun sudah memikirkan apa yang cocok untuk dikatakan, namun kata-kata tidak mau keluar, dan pandangan seperti masih menunggu. Beberapa detik seperti terasa berjam-jam, dan dari bibir pemuda itu hanya muncul satu kata meskipun berpikir pembuka pembicaraan yang tepat, namun tidak dapat pada akhirnya.
"Hei.."
Wow, 95 reviews. Waw, melebihi dari perkiraan. Jadi begitu ya yang terjadi jika saya memutuskan mengupdate suatu fict dalam waktu yang dapat diterima pembaca. Ada yang bagus, ada yang kritik bermanfaat, ada komplain tidak jelas,dan ada flames yang buat saya tertawa pada akhirnya.
Kamu bingung karakter Naruto? kadang gini kadang gitu? Itu sudah dijelasin sama beberapa karakter yang telah mengobservasi Naruto. Seperti Gai, Ino, Hiruzen dan beberapa bagian paragraf Narator. Atau memang kamu yang nggak baca secara keseluruhan dan lompat-lompat sehingga pas baca ketemu Naruto yang berbeda karakternya pada chapter lain?
Karakter saya sampai terbawa ke MC yang saya tulis dan menurut anda sama semua karakter Naruto dalam segala fict saya? Eee... guest-san, kalau mau bertanya seperti itu tolong pakai Akun biar bisa saya jawab.
Mask of ANBU: Blunt Naruto with heart in the right place.
Ilusi menjadi kenyataan: Ambisius Naruto yang pandai ber-acting dan memainkan emosi orang lain.
Light in our hearts: Mature and Caring Naruto.
Dunia di mata birumu: Complicated Naruto.
Dan beberapa pengkarakteran berbeda di setiap fictnya. Jadi, di mananya yang sama? Penulisnya memang sama. Cara penyampaian memang sama mengingat gaya penulisan seorang Author tidak bisa dirubah dan pasti diketahui oleh pembaca. Namun, semuanya berbeda dalam segi fict yang lain? Baru 3-4 chapter, terlalu cepat memutuskan pemikiran anda sebelum karakter tersebut bisa berkembang dalam 10-15 chapter.
Memang pertanyaan tidak jelas sebagian maksudnya nge-troll penulis. Tapi, ya... saya sudah baik mau menjelaskan pada anda yang masih bingung. Kurangin deh tingkah seperti itu, tanda banget kamu itu bukan orang dewasa, hidup ke depan nggak akan berhasil kalau anda tidak bisa menghargai apa yang dilakukan orang lain, Mas/Mba.
Kembali lagi dalam cerita: Gaara menemukan sesuatu lebih cepat dari yang seharusnya. Neji menemukan dirinya dalam kebimbangan, dan akan menghadapi pertarungan yang tidak mungkin akan ia menangkan(Siapa tahu?) Jiraiya kembali ke Konoha layaknya Godfather of the year. Naruto... bertemu dengan Haku dan memulai percakapan paling canggung yang ada antara yang mau dibunuh dan si penghunus pedang.
