Authors Note:
Fujoshi desu xD , ZERLIN, Rosiel-san : thank you for your kind review
Hikari chan: oya? Ada 3 loh reviewmu, kayaknya masuk semua, di moderate review nggak ada soalnya :D
Ane rasa Slaine nggak bingung pas dibilang kalo dia Koumori karena di chapter chapter sebelumnya pas ketemu sama Mama Magbaredge n Mazurek, uda dibilangin kalau Koumori itu uda lahir kembali sebagai anak SMA seumuran dia, ane pikir Slaine uda sadar kalau akhirnya dia sendiri itu Koumorinya setelah Bang Naho bilang :D , apa… cukup jelas?
Buat Edder, Seylum, sepertinya mereka terpengaruh keadaan di Vers jadinya kayak begitu, buat fans Seylum sama Edder gomen yak ,,
Untuk adegan-adegan selanjutnya, masih… dipikirkan…. Sabar yaaa, belum bisa jawab pertanyaan kamu nih, masih mengawang-awang
Aniway, Hikarin, hati-hati sama Slaine yah, kalau bilang Bang Naho buat ente, nanti Slaine bisa jelezzz, kalau sampe dia suruh Tharsis nembak kan repot :P Tapi dun worry, sebagai sesama jomblo kita boleh bebas bermimpi apa aja kok ;D
And for all of you: thank you for reading this fanfic. I hope you also enjoy this chapter ; )
.
.
.
Aldnoah Zero not mine
Obsession by cyancosmic
Warning : AU, OOC, Typos, Gender Bender, Fem!Slaine
.
.
.
Enjoy !
Chapter 21: A friend advice
"Silakan parfaitnya!"
Seorang pelayan membawakan gelas berisikan krim yang dipenuhi buah-buahan juga cokelat di atasnya. Gelas itu diletakkannya di meja bundar dengan tiga kursi mengitarinya yang ditempati oleh Inko, Slaine juga Rayet. Mereka bertiga sudah siap dengan sendok di masing-masing tangan. Dua di antaranya terlihat ragu, namun satu manik merah justru tampak antusias melihatnya.
"Terlihat manis," komentar si manik biru sembari menatap si manik merah dengan tak yakin. "Kau yakin, Inko?"
"Tentu saja!" jawab gadis yang ditanya itu, "Kenapa? Kalian 'kan sudah berjanji akan menghabiskannya bersamaku."
"Pass!" Si manik violet mengangkat tangan sambil menyandarkan punggung pada sofa. "Aku pesan makanan lain saja."
"Tidak! Kau tidak diizinkan memesan makanan lain." Inko berkata sambil merebut buku menu dari tangan Rayet. "Kau kalah taruhan, Rayet! Jadi terima hukumanmu."
"Tapi aku tidak ikut taruhan, justru akulah obyek taruhan kalian," ujar si manik biru pada dirinya sendiri. "Kenapa aku juga harus ikut-ikutan makan yang manis?"
"Sejak kapan kau benci makanan manis, Slaine?" Inko balas bertanya dengan sengit. "Seingatku kau tidak pernah protes kalau mengonsumsi donat dan kue-kue manis lainnya."
Slaine menggerakkan bola matanya dan menatap ke arah lain, menyingkir dari perdebatan dengan Inko. Memang benar, ia tak punya alasan untuk mengajukan keberatan. Toh dia tidak benci makanan manis, seperti sahabatnya yang bermanik violet. Hanya saja menghabiskan satu gelas parfait dengan krim sebanyak ini, membuatnya ragu. Akankah mereka berhasil menghabiskannya atau malah kekenyangan duluan?
Sementara itu, di sisi kanannya, si gadis bermanik violet mengerutkan dahinya mendengar perkataan Inko. "Tak bisa kupercaya orang itu mengizinkan Slaine pergi ke kafe. Kupikir ia akan menentang keras seperti biasa."
Inko menggoyangkan telunjuknya di depan Rayet sembari berdecak, ia membuat gadis itu sedikit kesal dengan tingkahnya. "Jangan pernah meremehkan kekuatan cinta! Karena cinta, seorang maniak tamagoyaki dan antisosial saja bisa sampai mengizinkan Slaine pergi bersama teman-temannya. Tidakkah itu luar biasa?"
"Dari kemarin kau terus saja menyinggung-nyinggung soal itu," protes Slaine sembari menyendok parfait untuk mengambil buah stroberi. Ia melakukannya berhubung parfait di hadapannya seolah meminta untuk dimakan. "Aku hampir bosan mendengarnya."
"Bosan apanya?" Inko menggunakan telunjuknya untuk menusuk pipi Slaine, "mentang-mentang hubunganmu dengan Kaizuka-san sedang langgeng-langgengnya kau jadi sombong sekarang. Kau tidak mau bercerita lagi soal kejadian sehari-hari, setiap ditanya pun jawabanmu mengawang-awang."
"Habis tidak ada yang spesial," jawab Slaine sembari menyendok kembali parfaitnya, sejauh ini kedua temannya belum berpartisipasi untuk menghabiskan makanan itu. "Apa yang harus kuceritakan?"
"Apa saja," ujar Rayet sembari turut menyendok parfait yang tidak disukainya itu, akhirnya ia menyerah dan menerima hukumannya. Ia mengernyit saat memasukkan krim manis ke mulutnya dan buru-buru menelannya. Setelah dihabiskan baru ia berkata, "Oh! Kemarin kau menonton film Silent House? Filmnya cukup bagus, ya?"
Slaine mengangguk dan menunjuk Rayet dengan sendoknya. "Bagus. Aku cukup menyukai filmnya."
"Adegan kemunculan hantunya tidak bisa ditebak," komentar Rayet sembari mengambil buah ceri. Tingkahnya sempat dipelototi oleh Inko, namun gadis itu memilih untuk membiarkannya kali ini. "Cepat sekali bergantinya, dari suasana tenang, damai, ceria, tahu-tahu saja berubah menjadi horor."
"Ya, ya, itu dia!" Slaine mengangguk dengan sedikit bersemangat. "Kau tahu adegan saat zombie muncul di dalam lemari baju? Kaizuka-san sampai melonjak ke belakang melihatnya. Lucu sekali!"
"Ah!" Rayet balas mengangguk dan memberikan kedipan pada gadis berambut hitam di seberangnya untuk mengikuti caranya. "Adegan itu cukup mengagetkan memang. Lalu saat hantunya muncul di bawah ranjang dan memegangi kaki pun cukup mengagetkan."
"Itu juga!" Si gadis berambut perak platina kembali menunjuk Rayet dengan sendok di tangannya, "Saat hantunya memegangi kaki tokoh utama, Kaizuka-san sampai menaikkan kaki dan memeluk lutut, sungguh menggelikan."
"Oh, ya?" Inko bertanya sembari melahap irisan buah peach, "kupikir film itu tidak terlalu seram. Tapi mungkin cukup mengerikan untuk orang yang tak terbiasa menonton film horor."
Slaine berpikir sejenak kali ini sebelum menjawab. Beberapa saat kemudian barulah gadis itu berkata, "Kaizuka-san memang tidak tahan menonton film semacam itu. Pertama kali mengetahuinya, aku menertawakannya. Sekarang pun aku masih tetap mentertawainya kalau ia menyembunyikan wajahnya di bahuku setiap kali zombie atau hantunya muncul."
Inko dan Rayet mengangguk-angguk, keduanya menaikkan alis begitu tahu bahwa rencana mereka berhasil. Salah satunya pun kemudian berkata, "Bagaimana caranya? Dia memeluk tanganmu dan menaruh kepalanya di bahu, begitu?"
"Semacam itu," jawab Slaine sembari mengangguk.
"Tumben dia mau menonton film semacam itu, memangnya kalian tidak bertengkar dulu sebelumnya?" Rayet melanjutkaan pertanyaannya. "Kalian sudah biasa bertengkar, bukan? Atau kalau mengikuti istilahmu, berdebat."
Slaine kembali menggerakkan bola matanya ke arah lain sementara satu tangannya menopang dagu, tampak berpikir keras. Setelah beberapa saat, gadis itu menganggukkan kepalanya dan berkata, "Kami berdebat memang, tapi belakangan ini ia cukup memberi toleransi padaku."
Gadis si sisi kiri Slaine langsung menyahut, "Dia memberi toleransi? Bagaimana bisa? Orang itu bukannya tidak bisa dibantah? Kau yang bilang bahwa editornya patut dikasihani karena menangani orang yang sulit diatur semacam Kaizuka-san."
"Memang." Gadis berambut perak itu menganggukkan kepalanya. "Calm-san kasihan sekali karena tidak pernah berhasil mendebat Kaizuka-san. Untung saja bukunya laku di pasaran, kalau tidak Calm-san bisa-bisa kehilangan pekerjaannya karena mengurusi novelis semacam dia."
"Ah ya, bicara soal editornya, apa dia tahu soal perubahan hubungan kalian?" tanya si gadis bermanik violet itu. "Kutebak dia takkan senang mengetahui bahwa hubungan ayah dan putrinya berubah menjadi sepasang kekasih. Ia pasti ingin mencegah skandal, terlebih ketika novel Kaizuka-san baru saja akan dibuat filmnya."
"Oh? Novel itu akan dibuat filmnya?" Inko balas bertanya. "Aku tidak pernah membacanya sih, syukurlah kalau dibuat film."
Rayet hanya menghela napas, "Justru itu. Mengingat dia novelis yang punya banyak penggemar, fansnya mungkin akan menanggapi lain kalau tahu bahwa kalian bukan lagi sekedar ayah dan anak."
"Benar juga! Fansnya pasti takkan senang mendengarnya." Inko turut menimpali. "Selama ini mereka menganggap Kaizuka-san adalah pria single yang masih menunggu seorang wanita. Kalau sekarang dia punya kekasih, terlebih kekasih itu adalah mantan anak angkatnya, kurasa mereka tidak akan membiarkannya."
Si gadis berambut perak yang tengah melahap buah kiwi hanya mengangguk-angguk kecil mendengar komentar sahabat-sahabatnya. Ketika kedua pasang mata memandangnya berhubung dia hanya menyantap parfait saja, barulah ia membuka mulut, "Calm-san memang marah besar! Dia bilang kondisi ini takkan bagus untuk film Kaizuka-san, juga untuk kami berdua. Publik akan memandang kami lain nantinya."
"Dan kata Kaizuka-san?" Inko turut menyangga dagu dengan satu tangan sementara tangannya yang lain mulai meraih parfait dan memakan anggurnya. "Dia bilang apa?"
"Ah ya, Kaizuka-san tetaplah Kaizuka-san." Slaine menghela napas saat mengatakannya. "Dia bilang dia akan berhenti menulis dan tidak mau novelnya difilmkan. Dia tidak mau fansnya menggangguku. Lebih baik ia jadi orang biasa yang tak punya fans."
"Wow!" komentar Inko tak sadar. "Dia merelakan pekerjaannya karena takut itu mengganggumu? Khas Kaizuka-san sekali."
"Ya, tapi aku khawatir dia kehilangan pekerjaan," jawab Slaine sembari menyunggingkan senyum tipis. "Kami tidak bisa lagi makan tamagoyaki kalau dia tidak punya uang untuk membelinya."
"Sejak kapan kau jadi suka tamagoyaki?"
"Aku hanya terbiasa." Slaine menjawab sembari memasukkan sesendok penuh krim ke mulutnya.
"Kurasa tak semudah itu," ujar Rayet yang kembali mengambil irisan kiwi dengan tangan dan langsung melahapnya. "Para fans yang mencintai tulisannya, maupun fans yang menyukai wajahnya justru takkan membiarkannya begitu saja kalau tahu Kaizuka-san berhenti menulis. Lebih baik katakan padanya untuk melanjutkan pekerjaannya kalau ia masih ingin kau selamat."
"Apa itu ancaman dari seorang fans?" goda Slaine.
"Nope! Aku bukan fansnya, sudah kukatakan sebelumnya," jawab gadis bermanik violet itu. "Tapi siswi di kelasku yang membacanya sepertinya salah satu anggota fans. Kurasa mereka juga yang sering main ke kelasmu dan mengganggumu bila orang itu mengantarkanmu ke sekolah."
"Jadi, Slaine diincar mereka?" Inko kembali bertanya. "Apa mereka tidak tahu Slaine itu punya kelincahan luar biasa dan selalu nomor satu untuk urusan olahraga apa pun?"
Rayet hanya mengangkat bahu, "Kelincahan takkan ada gunanya kalau kau dikepung banyak orang."
"Kau ini di pihak siapa sih?"
"Aku hanya mengatakan fakta," jawab Rayet tegas. "Dan aku mengatakannya karena bagi fansnya tulisan Kaizuka-san seolah ditujukan pada mereka. Karena itu harga diri mereka takkan membiarkannya kalau tahu tulisan itu bukan untuk mereka."
"Sebegitunya," gumam Slaine sembari menggelengkan kepala. "Apa memang tulisannya sebagus itu?"
"Carilah waktu untuk membacanya," komentar Rayet. "Dan kalau boleh katakan padanya untuk melanjutkan tulisannya."
"Kau juga fansnya?" Inko dan Slaine berkata berbarengan saat mendengar perkataan Rayet.
Yang ditanya hanya mengangkat alis dan sembari memasukkan almond ke mulut, gadis berambut merah marun itu berkata, "Bukan, tapi aku ingin ia menjelaskan pada para fansnya bahwa ia sudah menemukan wanita yang ditunggunya. Jangan membuat fansnya berpikir bahwa ia masih menunggu!"
"Ah!" Inko menatapnya sembari merangkul Slaine, "maksudmu anak ini 'kan? Anak ini yang ia tunggu?"
Rayet hanya mengangkat bahu, sementara si gadis berambut perak mendorong kepala Inko darinya. Melihat bahwa gadis berambut perak itu tidak memberikan pembelaan, Inko pun lanjut berkata, "Dari awal juga aku tahu bahwa ada sesuatu di antara kalian, lebih dari sekedar ayah dan anak. Maksudku, mana ada ayah yang masuk ke sekolah dan menyelamatkan putrinya di ruang kimia? Atau mana ada ayah yang mengikuti kencan putrinya dan tahu-tahu membawanya pulang setelah putrinya pingsan?"
"Itu…"
"Oh iya, kejadian di taman bermain waktu itu juga aneh," Inko kembali menimpali. "Waktu kau tidak keluar-keluar dari arena atraksi, kupikir kau terlalu terpesona dengan atraksinya sehingga sengaja berlama-lama di dalam. Tapi tahu-tahu saja Kaizuka-san muncul sembari membawamu yang sudah tak sadarkan diri."
Rayet yang menyadari ke mana arah pembicaraan buru-buru berkata, "Inko, parfaitnya sudah mau habis. Kau belum memakannya dari tadi."
"Iya yah, bagaimana ia tahu bahwa kau sudah pingsan di dalam?" Inko memberikan tatapan menyelidik pada Slaine. "Aku saja yang bersamamu tidak merasa ada yang aneh. Kenapa ia bisa tahu bahwa ada sedikit kecelakaan pada atraksi di dalam sana?"
"Parfaitnya kuhabiskan saja, ya?" Slaine juga mencoba membantu mengalihkan pembicaraan. "Tinggal krim dan cokelat."
"Apa itu instingnya?" Inko masih penasaran hingga tidak menggubris pertanyaan Slaine. "Rasanya hampir setiap Slaine dalam bahaya, ia pasti ada di sana dan tahu-tahu membawa Slaine begitu saja."
"Inko, parfait!"
"Jangan-jangan dia memasang pemancar?" Inko bertanya lagi. "Atau alat penyadap?"
Menyadari bahwa upaya mereka berdua untuk mengalihkan perhatian gagal, Slaine akhirnya mengeluarkan jurus terakhir. Terburu-buru gadis itu menatap ke arah lain dan berkata,"A-aku ke toilet dulu!"
Inko yang melihat Slaine beranjak meninggalkan tempat langsung buru-buru berkata, "Hei! Aku belum sele…"
Ucapan gadis itu terpotong begitu seseorang memasukkan sesendok penuh krim berisi cokelat dan almond ke mulutnya. Ia nyaris saja tersedak karena ulah orang tersebut, sehingga ia buru-buru menelan krim di mulut dan berkata, "Rayet! Apa-apaan sih?"
"Parfait!" tunjuk gadis itu pada isi gelas yang sudah tinggal setengahnya. "Habiskan!"
Mendengar ucapannya, Inko kembali protes karena Rayet menyuruh-nyuruhnya. Sementara itu, gadis lain yang tengah bersembunyi di balik dinding dan mengamati situasi langsung menghela napas begitu melihat bahwa perhatian Inko sudah teralih sepenuhnya. Namun ia tak buru-buru kembali ke tempat, dan berjalan ke toilet seperti yang ia sampaikan sebelumnya. Ia berniat untuk mengulur waktu beberapa saat hingga Inko benar-benar lupa soal kejadian di taman bermain.
Slaine sendiri bukannya ingin menyembunyikannya. Tapi, bagaimana menjelaskan pada Inko bahwa di dalam atraksi sebenarnya terjadi pertempuran mati-matian melawan si Orbital Knights? Bila gadis bermanik merah itu tahu, Slaine sangat yakin gadis itu akan panik luar biasa. Pertanyaannya juga pasti akan sangat panjang dan bukan tidak mungkin pada akhirnya gadis itu akan mengetahui soal Vers. Padahal seharusnya keberadaan bangsa Vers tidak diketahui oleh manusia-manusia Bumi.
"Sudahlah," ucap Slaine akhirnya sembari menggelengkan kepala dan menatap dirinya melalui cermin di wastafel. "Tidak perlu dipikirkan sekarang! Tidak perlu dipikirkan!"
Ia pun menggerakkan tangan, hendak mencuci tangan karena ada bekas krim yang juga menempel di telunjuknya. Gadis itu mematikan kran air dan hendak mengambil sabun yang ada di ujung, di samping orang lain yang juga tengah mencuci tangannya. Melihat itu, Slaine berpikir untuk mengitari orang itu dan mengambil sabunnya. Namun orang di samping Slaine justru menggeser sabun ke dekat Slaine, seolah mempersilakannya.
"Oh!" ucap Slaine yang menyadari bahwa ia tak perlu lagi berjalan memutar untuk mengambil sabun. "Terima kasih!"
"Sama-sama."
Gadis bermanik sebiru lautan itu terdiam sejenak saat mendengar suara tersebut. Rasanya ia pernah mendengar suaranya, hanya tak ingat di mana. Ia pun menoleh pada orang di sampingnya dan memandangi wajahnya.
Di sampingnya, berdiri seorang wanita dengan rambut hitam kelam lurus yang melebihi bahu. Wanita itu memiliki bola mata yang kekuningan, perawakan yang langsing, tidak terlalu tinggi dan memiliki senyum yang cukup manis. Slaine tahu itu karena ketika mata mereka bertatapan, wanita itu tersenyum padanya.
"Sabunnya sudah?"
"O-oh, belum," ujar Slaine sembari buru-buru menekan botol sabun dan buru-buru mencuci tangannya. "Silakan!"
"Terima kasih," jawab wanita itu yang juga memencet pegangan pada botol sabun dan menggosok-gosokannya ke tangan, sama seperti Slaine. Selama beberapa saat, Slaine mengamati aksi wanita itu. Ia memerhatikan ketika si wanita itu membasuh tangannya dengan air, mematikan kran, menggoyangkan tangan beberapa kali untuk menyingkirkan air yang mengalir dan bercermin. "Apa… ada masalah?"
Menyadari bahwa caranya menatap diketahui oleh wanita itu, buru-buru Slaine menggelengkan kepala dan membersihkan tangannya. Ia menyalakan kran air dan membersihkan tangannya, berharap wanita itu segera pergi. Namun wanita itu malah diam di sisinya, menunggunya bicara.
"O-oh, tidak," jawab Slaine begitu menyadari bahwa ulahnya membuat wanita itu pun menaruh perhatian padanya. "Hanya merasa bahwa Anda mirip seperti orang yang kukenal."
Wanita itu mengangkat alisnya saat mendengar ucapan Slaine. "Oh?"
"Suara Anda," ucap Slaine lagi, "mengingatkanku pada seseorang yang kukenal."
Sedikit canggung, wanita itu menggerakkan kepalanya, "Hanya suaranya saja?"
Slaine mengangguk dan menatap wanita itu. "Aku baru saja mendengarnya beberapa hari ini, hanya aku tak tahu wajahnya."
Mendengar itu, si wanita menunjuk dirinya sendiri dan berkata, "Apa mungkin…"
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, "Tidak, tidak mungkin Anda itu dia. Saat ini dia sedang berada di tempat yang jauh, jadi tidak mungkin dia berada di sini."
"Tapi… bukankah kau tidak pernah melihat wajahnya?" Wanita itu kembali berkata sembari memicingkan mata, "kupikir aku juga mungkin mengenalmu."
"Oya?" Slaine menoleh kembali padanya. "Kalau begitu kita mungkin saling mengenal. Siapa namamu?"
"Namaku Izuka. Panggil saja Izu."
"Izu?" Slaine mengerutkan dahi, "Baiklah, Izu-san. Namaku Slaine."
"S…laine?" Wanita itu melambatkan ucapannya mendengar nama gadis berambut perak di sampingnya.
Gadis itu sendiri tidak menyadari perubahan suara maupun tatapan wanita itu karena tengah mengeringkan tangannya. "Ya, namaku Slaine."
"Halo, Slaine!" Wanita itu berkata lagi sembari menunjukkan senyum manisnya. "Kurasa aku baru kali ini bertemu denganmu. Bagaimana denganmu?"
Slaine kembali tertawa mendengar ucapan wanita itu, "Kurasa aku juga baru kali ini mendengar namamu, Izu-san. Mungkin benar, hanya suaramu saja yang mirip dengan suara orang yang kukenal."
Wanita berambut hitam itu kembali bertanya lagi, "Apakah dia orang yang penting bagimu?"
"Dibilang penting, mungkin cukup penting," ujar Slaine sembari menatap ke arah lain, "kupikir ia orang yang cukup berharga untuk orang yang penting bagiku."
"Hm?"
"M-maksudku, dia cukup penting," kata Slaine, menyimpulkan langsung. "P-pokoknya begitu. Kalau begitu, aku permisi dulu."
"Ya!" Wanita itu kembali menunjukkan senyumnya. "Sampai jumpa lagi."
Gadis berambut perak itu membungkuk dan langsung berjalan meninggalkan toilet perempuan. Ia bahkan tidak lagi menoleh ke belakang dan bergegas menuju ke tempat teman-temannya. Wanita itu masih bisa mendengar ribut-ribut di depan mereka sebelum menyilangkan tangannya, menatap tempat di mana gadis itu berada sebelumnya. Mulutnya menggumamkan sesuatu, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan dari gadis yang baru saja mengobrol dengannya.
Slaine sendiri tidak sadar bahwa dirinya tengah dipandangi oleh wanita berambut hitam yang tadi mengobrol dengannya. Ia lebih fokus pada parfait yang sudah kosong itu dan langsung histeris melihatnya. Ia bergegas menuju ke tempatnya dan menunjuk gadis yang tengah mengeruk suapan terakhir parfait tersebut, "Bagaimana mungkin kau menghabiskan semuanya, Inko? Paling tidak sisakan untukku!"
"Habisnya, kau lama sekali!" Inko berkata sembari memasukkan suapan terakhir krim ke mulutnya. "Kupikir kau sudah tidak mau parfaitnya."
"Aku hanya mengobrol sebentar dan tahu-tahu sudah habis," keluh Slaine. "Biar kupesan lagi kalau begitu."
"Hentikan!" Rayet merebut buku menu dari tangan Slaine. "Aku tidak mau lagi memakan makanan yang manis."
"Tapi…"
"Ngomong-ngomong, handphonemu berdering terus," ujar Inko sembari menunjuk handphone berwarna putih dengan kelelawar albino di gantungannya. "Sudah berdering tiga kali semenjak kau pergi ke toilet."
Mendengar itu, penasaran, Slaine pun membuka kunci layar touchscreennya dan melihat daftar panggilan masuk di handphonenya. Ia tidak heran melihat nama Kaizuka-san muncul dan tercatat sebagai si penelepon yang telah menghubunginya hingga tiga kali. Slaine malah takjub karena baru tiga kali pemuda itu menelepon, dan bukannya enam sampai tujuh kali seperti dulu.
"Kau masih menamainya 'Kaizuka-san'" tanya Inko yang mengintip dari samping. "Tidak ada panggilan khusus begitu?"
"Apa maksudmu?" Slaine balas bertanya, sementara jarinya menyentuh layar untuk menghubungi pemuda itu kembali. "Panggilan khusus seperti apa?"
Inko mengangkat bahu, "Bukankah biasanya sepasang kekasih akan saling memanggil dengan mesra? Panggilan sayang. Kau tidak punya panggilan itu untuk Kaizuka-san?"
Slaine mengerutkan dahi. "Tidak. Tidak ada. Kaizuka-san tetap Kaizuka-san saja."
"Kau tidak mau mencoba memanggil nama depannya?" Inko kembali memberikan tatapan menyelidik. "Kalau kau memanggilnya Kaizuka-san juga, apa bedanya denganku dan Rayet?"
Kerutan di dahi gadis berambut perak itu semakin dalam. Mungkin temannya itu benar juga. Tidak mungkin ia terus-terusan memanggilnya dengan sebutan Kaizuka-san terus. Panggilan itu hanya ditujukannya saat ia menganggap pemuda itu hanya sebagai walinya. Sekarang, pemuda itu sudah bukan sekedar wali baginya 'kan?
"Slaine…"
"Oh!" Slaine berseru begitu mendengar orang yang dihubunginya memanggil namanya, "Kaizuka-san! Ada apa? Kau mencariku?"
Kedua temannya merapat pada Slaine, berusaha untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Inko malah sampai menempelkan telinganya sehingga si gadis berambut perak harus mendorong kepalanya. Namun gadis itu tidak jera dan lagi-lagi mendekat pada Slaine untuk mencuri dengar. Ia kembali mendekatkan kepalanya, berjuang untuk mendapatkan sepatah atau dua patah kata dari telepon tersebut. Sayangnya, usahanya gagal karena sahabatnya itu keburu mematikan teleponnya.
"Sudah meneleponnya?" Inko balas bertanya.
"Begitulah," ujar Slaine, tidak mempermasalahkan ulah sahabatnya yang baru saja mencoba mencuri dengar.
"Apa katanya?"
"Katanya, ia sudah di depan," jawab gadis itu sembari menunjukkan handphonenya. "Dia minta agar aku segera keluar dan mengakhiri acara gosip tidak sehat ini."
"Dia sudah di luar?" Inko bertanya dengan tidak percaya. "Kau memberitahunya sebelum kita datang ke sini."
"Aku memang selalu mengabarinya karena ia membiasakanku untuk itu," jawab Slaine sembari menggerutu. "Tak pernah kusangka akan digunakan untuk memaksa menjemputku."
Rayet mengangguk-angguk mendengar perkataan Slaine. "Tapi sepertinya kau tidak terlihat sebal."
"Bicara apa kau, Rayet? Aku cukup kesal karena ia seenaknya menjemput di saat aku masih ingin makan parfait."
"Kurasa tidak," ujar Rayet sembari menunjuk Slaine, "Nadamu mungkin memang sebal, tapi kau tidak bisa menyembunyikan cengiran di wajahmu. Tingkahmu yang sedang membereskan tas juga malah menunjukkan bahwa kau senang bila ia menjemputmu."
"Rayet…"
"Sana!" Gadis berambut merah marun itu tersenyum pada Slaine. "Lain kali katakan padanya untuk menjemputmu jam 7, bukan jam 5."
"Dia pasti takkan mengizinkan," keluh Slaine.
"Coba saja!" Inko kembali berkata, "Siapa tahu dia akan mengizinkan seperti hari ini. Hari ini saja buktinya ia mengizinkanmu, bukan?"
"Akan kucoba," janji gadis itu sembari mengangkat tas selempang dan menyampirkannya di bahu. Gadis itu pun mengucapkan selamat tinggal dan langsung bergegas menuju ke pintu keluar. Kepergiannya masih diikuti oleh dua pasang mata yang ada di ruangan itu.
"Enaknya," ucap Inko sembari menyangga dagu dengan satu tangannya. "Aku juga mau punya kekasih."
"Terus saja bermimpi."
"Memangnya kau tidak mau?" Inko balas bertanya. "Punya kekasih seperti Kaizuka-san, bikin iri saja anak itu."
Rayet mengangkat alis. "Kelihatannya memang menyenangkan dan membuat iri, kau hanya tidak tahu saja apa yang sudah diperjuangkan kedua belah pihak sebelum memutuskan menjadi sepasang kekasih."
Inko berpikir sejenak mendengar perkataan Rayet, "Benar juga! Slaine yang tak pernah menangis saja sampai menunjukkan airmatanya waktu harus mengakui perasaannya. Kalau aku yang menjalaninya, mungkin aku sudah gagal duluan."
"Akhirnya kau sadar juga," gadis berambut merah marun itu kembali menimpali. "Ngomong-ngomong, kau kalah taruhan! Tebakanku benar, Slaine hari ini pun dijemput oleh novelis itu."
Mendengar tuntutan Rayet, Inko berteriak sembari mengacak-acak rambutnya. "Argh! Novelis satu itu. Kenapa sih toleransinya hanya setengah-setengah?"
"Entah, yang jelas kau sudah kalah," jawab Rayet sembari membuka kembali buku menunya. "Pesan apa ya sebaiknya?"
…
"Kan sudah kubilang bahwa aku tidak mau dijemput sebelum jam tujuh," ujar Slaine sembari berlari kecil untuk menghampiri pemuda yang tengah bersandar pada pintu mobilnya. Ia melambatkan langkahnya begitu ia sudah berada di hadapan si pemuda dan mengatur napasnya terlebih dahulu. "Ini baru jam lima."
"Lima lewat sepuluh," ujar pemuda itu sembari melirik pada jam tangan yang ada di tangan kirinya. Pemuda itu pun beranjak dari pintu untuk membukakannya untuk gadis berambut perak di hadapannya. "Dan seorang gadis SMA harus pulang sebelum jam tujuh."
"Aku bukan anak kecil," balas Slaine dengan keras kepala. Namun pemuda yang diajaknya bicara tidak menanggapinya. Karena itu Slaine pun menggerakkan kepalanya agar pandangannya sejajar dengan pemuda itu, "Kaizuka-san?"
"Kubilang tidak, Slaine."
"Inaho-san?"
Pemuda itu menoleh ke arah si gadis berambut perak yang memanggilnya dengan nama depannya. Ia mengangkat satu alis dan kembali berkata, "Sejak kapan kau memanggilku seperti itu, Slaine?"
"Tidak boleh?" Slaine balas bertanya.
"Tidak."
"Kenapa?" Slaine mengerutkan dahi, tidak mengerti. "Kenapa aku tidak diperbolehkan memanggilmu dengan nama depan?"
"Aku jauh lebih tua darimu."
"Berbeda lima ratus tahun lebih memang," jawab Slaine cepat sembari menganggukkan kepala. "Tapi bukankah sepasang kekasih akan memanggil dengan nama depan masing-masing? Kau juga selalu memanggilku dengan sebutan Slaine, Slaine terus. Kenapa aku tidak boleh memanggilmu dengan nama depanmu juga?"
"Kau tidak memanggilku begitu sebelumnya," ucap pemuda itu sembari membukakan pintu mobil. "Kau tidak mau masuk?"
"Tidak. Jelaskan dulu kenapa aku tidak boleh memanggilmu dengan nama depan." Slaine menyilangkan kedua tangannya di depan dada, tidak terpengaruh dengan pintu mobil yang telah dibukakan untuknya. "Aku mau tahu sekarang."
Melihat tingkahnya, Kaizuka Inaho pun menghela napas. "Sudah kukatakan, kau tidak memanggilku seperti itu sebelumnya."
"Jadi maksudmu aku harus memanggilmu Kaizuka-san terus?"
Inaho menggeleng, "Lima ratus tahun yang lalu, bukan itu nama panggilan yang kau berikan untukku, Koumori."
Mendengar nama itu disebut, Slaine mengerjap-ngerjapkan matanya selama sesaat. Ia pun berkata, "K-Koumori?"
"Aku selalu memanggilmu itu sebelumnya," ucap Inaho sembari mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan si gadis. "Bukan Slaine, bukan Troyard-san, atau apa pun yang orang lain gunakan untuk memanggil namamu."
"Tapi, aku…"
"Sekarang ini kau tidak suka dipanggil Koumori," ujar pemuda itu seolah mengerti dan meletakkan tangan gadis itu di bibirnya. "Aku tahu. Makanya aku memanggilmu Slaine, seperti orang lain."
Tenggorokan gadis berambut perak itu tercekat begitu mendengar ucapan pemuda yang menjadi kekasihnya. Memang benar, pemuda itu mengatakan bahwa dirinyalah Koumori yang selama ini ditunggu oleh si pemuda. Namun, mendengar pemuda itu menyebut nama Koumori dan Koumori terus, rasanya seperti mendengar nama orang lain yang tak biasa ia gunakan. Makanya, ia tidak begitu suka bila Kaizuka-san mencoba memanggilnya dengan nama itu. Namun, ia juga ingin memanggil Kaizuka-san dengan sebutan lain, sebutan yang hanya khusus digunakan olehnya saja.
Karena itu ia pun berkata, "Jadi, sebutan apa yang harusnya kugunakan untuk memanggilmu, Kaizuka-san?"
Inaho menurunkan tangan Slaine dari bibirnya. Pemuda itu pun berkata, "Kau harus mengingatnya sendiri, Slaine."
"Bagaimana aku dapat mengingat apa yang kulakukan di kehidupan sebelumnya?" Gadis itu bertanya lagi. "Sejak kapan orang yang bereinkarnasi dapat mengingat apa yang ia lakukan pada kehidupan yang lalu?"
Pemuda itu mengangkat bahunya, "Bagus kalau kau tidak dapat mengingatnya."
"Kaizuka-san!"
"Aku tidak mau memberitahukannya padamu."
"Kenapa begitu?" Slaine langsung gusar begitu mendengar pemuda itu tidak mau memberitahukannya. "Kau tidak memperbolehkanku memanggil nama depanmu, tapi memanggil nama panggilan khusus untukmu pun kau tidak mau memberitahukannya. Jadi aku harus bagaimana?"
Pemuda itu menggerakkan kepalanya, "Panggillah Kaizuka-san seperti biasa."
"Tapi…"
"Dua tahun ini, aku sudah terbiasa dipanggil dengan sebutan itu olehmu," ucap pemuda itu sembari menatap lurus pada Slaine. "Jadi, tetaplah memanggilku dengan sebutan itu hingga kau dapat mengingat sebutan yang sebelumnya kau gunakan untukku."
"Aku tidak mengerti," jawab Slaine, "apa kau tidak ingin dipanggil secara khusus olehku?"
Pemuda itu menggelengkan kepala dan menyentuhkan dahinya pada dahi Slaine. Ia memejamkan mata sehingga Slaine menoleh ke arahnya, sedikit bingung. Sebelum Slaine dapat memanggilnya, pemuda itu sudah lebih dulu berkata, "Aku… ingin kau mengingatnya, tapi aku juga takut bila ingatanmu kembali."
"Maksudnya?"
Tidak menjawab, pemuda itu hanya mengacak-acak rambut Slaine. Ia pun kembali memegang pegangan pintu dan secara tidak langsung mengisyaratkan pada si gadis berambut perak untuk masuk ke dalam mobil berwarna orange itu. Sikapnya yang tidak mengatakan apa-apa itu disambut dengan helaan napas gadis itu, yang masuk ke dalam mobil masih dengan ekspresi kesal. Melihatnya, Inaho pun tidak ambil pusing dan langsung bergegas masuk ke mobil.
Sebelum pemuda itu menjalankan mobilnya, si gadis berambut perak kembali berkata, "Kau egois, Kaizuka-san."
"Kau sudah tahu itu dari dulu, kurasa," jawab Inaho sembari menoleh pada gadis yang mengarahkan pandangan pada kaca jendela di sampingnya, tidak mau menatapnya.
"Aku… jadi harus memanggilmu sama seperti yang lainnya," ujar gadis itu lagi. "Lalu apa bedanya aku dengan Rayet ataupun Inko yang juga memanggilmu Kaizuka-san?"
"Slaine…"
"Hm?" Gadis itu menoleh dan saat itulah gadis itu mendapatkan kecupan ringan di bibirnya yang membuat kelopak matanya melebar. "K-Kaizuka-san?"
"Aku tidak melakukan itu pada Rayet dan Inko, juga tidak pada orang lain," jawab pemuda itu. "Apa itu tidak cukup?"
Mendengarnya, gadis berambut perak itu pun memicingkan mata, "Kau benar-benar tidak boleh melakukannya pada orang lain selain aku lho!"
"Memang tidak akan kulakukan pada orang lain," jawab pemuda itu sembari menghidupkan mesin dan menjalankan mobilnya.
"Benar? Kau janji?"
"Kalau aku tidak melakukannya, kau juga tidak boleh, Slaine," ujar pemuda itu sembari menggerakkan tangannya untuk menyetir mobil. "Baik itu pada Harklight, pada Mazurek, atau pada teman barumu yang bernama Ian Carmyl."
"B-Bagaimana kau bisa tahu namanya?" tanya Slaine, cukup terkejut begitu mendengar pemuda itu mengetahui nama pemuda yang belakangan ini cukup gencar mendekatinya. "Aku tidak pernah menceritakannya."
"Aku tahu saja."
"Tidak mungkin," selidik Slaine sembari menatap pemuda itu. "Jangan-jangan kau memang memasang alat penyadap padaku, atau…"
Slaine tidak mengatakan apa-apa, ia memicingkan mata. Perkataan Inko membuatnya berpikir. Mustahil pemuda itu bisa selalu ada tepat waktu ketika ia terancam bahaya ataupun ketika ia bertemu dengan orang baru yang tak pernah ia ceritakan. Terlalu tidak wajar kalau disebut insting dan terlalu bagus untuk dibilang analisis. Kalau begitu, mungkin benar pemuda itu memang penyadap padanya. Masalahnya, di mana ia menaruh penyadapnya? Slaine tidak pernah menyadari…
"Tharsis!" Slaine tiba-tiba berseru. "Tharsis 'kan?"
Pemuda itu tidak menjawab, namun sosok berbentuk kelelawar albino itu muncul dan mengepakkan sayapnya di dalam mobil. "Tharsis ready to assist, Slaine-sama."
"Tidak, aku tidak memanggilmu untuk itu," ujar Slaine begitu si kelelawar menunjukkan diri. "Tapi kebetulan kau muncul, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Apa yang ingin Slaine-sama tanyakan?" Si android berbentuk kelelawar itu kembali berkedip.
"Aku ingin tahu, apa selama ini kau melaporkan semua kegiatanku pada Kaizuka-san?" Slaine bertanya. "Termasuk saat kejadian di taman bermain dan di ruang praktikum?"
"Tharsis, silence!"
Android kelelawar itu langsung menutup mulutnya dan kembali menjadi bentuk gantungan handphone begitu mendengar perintah penciptanya. Melihat itu, Slaine langsung memberikan tatapan menyelidik pada pemuda yang tengah menyetir di sampingnya. "Kaizuka-san…"
"Bisa saja Orbital Knights di sekelilingmu dan kau tidak menyadarinya, Slaine," ujar pemuda itu berusaha memberikan pembelaan. "Dua kali pula kau nyaris kehilangan nyawa kalau Tharsis tidak memanggilku."
"Jadi benar Tharsis yang selama ini memberikan laporan padamu?"
Pemuda itu kembali bungkam, hingga membuat Slaine menghela napasnya lagi. Gadis itu hendak memperingatkannya, namun ia rasa pemuda itu takkan mendengar. Ia perlu mencoba cara lain untuk membuat pemuda itu jera dan ia hanya tahu satu cara untuk itu.
"Coba kita lihat," ujar gadis itu sembari membuka kunci pada layar handphonenya dan mulai menelusuri internet, "ada film horor apa malam ini."
…
t.b.c
Thank you for reading :D
Aniway, if you mind, please leave a review so I can make it better.
