chap 21

*always me Mamori Anezaki*

Kami sudah mendarat di bandara. Hari juga mulai gelap, mungkin sekitar pukul 17 disini?. Untuk seorang Hiruma, mendapatkan ijin mendarat disini tidaklah sulit. Saat jarak dari udara ke tanah tidak terlalu jauh dia lompat dari helikopter, lalu merentangkan tangannya. Aku pun melompat, dan mendarat di pelukan Hiruma.

Dia tersenyum sambil melihatku. Dia mendongak ke atas, memberikan signal ke pilot agar segera pergi. Sesuai perintahnya, pilot itu pun pergi.

Hiruma menarik tanganku meninggalkan tempat itu.

"Hiruma.. sekarang kita mau kemana?".

"cerewet !".

"haah~ setiap kali aku tanya, kamu pasti jawabnya begitu".

"kau ingin aku menjawab apa heh?".

"jawablah pertanyaanku, kita mau kemana?".

"bertemu seseorang".

"siapa?".

"bisakah kau diam?! suara cemprengmu membuatku lupa jalan !" katanya untuk membuatku bungkam, dan itu berhasil.

Hiruma terus menggenggam tanganku, menarikku ke suatu tempat yang menurutku 'mencurigakan'. Dia memanggil taksi, lalu membukakan pintu untukku. Dengan bahasa inggrisnya yang super 'EXPERT', aku sampai tidak bisa menterjemahkannya. Kuperhatikan wajah supir taksi ini berkeringat, yaa.. aku mengerti alasannya.

Hari semakin gelap, tapi kami masih berada di jalan.

"Hiruma.. memang tempatnya jauh ya?".

"hm" Dia sedang mengetik sesuatu di handphonenya.

"sebenarnya kita mau kemana sih?".

"tadi kan sudah ku jawab" katanya tetap fokus ke layar handphonenya.

"mou ! memangnya kau sudah dapat izin dari orang tuaku? kalau mereka mengkhawatirkanku bagaimana?".

Hiruma terdiam, lalu dia menyeringai. Dia menoleh ke arahku. Aku hanya menatapnya heran.

"ada apa?" tanyaku.

"nih" dia memberikan handphonenya, ternyata sebuah e-mail.

'baiklah, aku izikan putri ku untuk bersamamu dalam beberapa hari ini ya nak Yoichi, tolong jaga dia.. dia itu makannya banyak sekali' eeh...aku? aku lihat pengirimnya "Mami Anezaki".

"kekekekekeke".

"Hiruma ! bagaimana bisa kamu dapat alamat email ibuku? aku saja tidak tau" kataku sambil memberikan handphonenya.

"kau seperti tidak tau aku saja kekeke". katanya sambil memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya.

"bagaimana bisa kamu mendapat izin ibuku?".

"itu RA-HA-SI-A~ calon istri sialan ! kekekeke".

"mou ! eeeh..." calon... istri...?.

*jepret* "KEKEKEKEKE !" Hiruma tertawa geli melihat foto di dalam kameranya.

"he.. hey ! kemarikan ! HAPUS FOTO ITU !".

"tidak mau".

"HAPUS !".

"aku bilang aku tidak mau !" Dia menyembunyikan kameranya di belakang punggungnya.

"mou !" aku menggembungkan pipiku.

"kekekeke" *jepret* "KEKEKEKEKE !".

"Hiruma !" aku mencoba merebut kameranya "kemarikan kameramu !".

"aku sudah bilang kalau aku tidak mau !".

"mou ! kau ini !" aku mulai gemas dengan tingkahnya yang seperti anak kecil ini. Aku mencoba lebih meraihnya. Dan tentu saja dia menjauhkan kameranya. Tiba-tiba taksi yang sedang dalam posisi kecepatan tinggi ini (mungkin) melewati polisi tidur tanpa mengurangi kecepatannya ! alhasil...

"Adaw !".

"aduh !".

"grr... fucking driver ! watch out that fucking street !" kata Hiruma sambil memegang dahinya.

"so.. sorry Your Highness".

"aduuh.. sakit..." kataku meringis. Akibat polisi tidur tadi, dahiku juga dahi Hiruma saling berbenturan dan itu sakit sekali.

"coba kulihat" tawarnya. Dia melepas tanganku yang masih mengusap dahiku.

"kekekeke kau tidak apa-apa manager sialan, jangan jadi manja begitu".

"Hiruma...".

"hah?".

"pusing..." jangan bilang demamku yang kemarin kambuh lagi.

"o.. oi.. kau kenapa jadi berkeringat gitu?".

"aku.. tidak tau.." sekarang nafasku bertambah berat.

"*grep* bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit dekat sini" dia memelukku erat, dia mengatakan sesuatu ke supir tadi tapi aku tidak dapat mendengarnya karena aku sudah tertidur...um.. mungkin pingsan.

Aku membuka perlahan mataku, menerjap-nerjapkannya beberapa kali. Cahaya di sore hari menerangi sebagian ruangan ini. Hal yang pertama ku lihat adalah warna putih, ruangan ini di dominasi warna putih.

"ooh.. sudah bangun rupanya, selamat pagi nona Anezaki" sapa seorang perempuan. Aku melihatnya dari bawah sampai atas, dia mengenakan jas putih. Dia menghampiriku.

"um.. aku dimana?".

"kamu berada di rumah sakit".

"bukannya aku lagi berada di Amerika?".

"ya.. memang.. kamu masih berada di Amerika" aku menaikkan alisku. Kalau aku sedang berada di Amerika, kenapa dia bisa berbahasa Jepang?.

"aah.. mungkin kamu bingung ya, kenapa aku bisa berbahasa Jepang?".

aku mengangguk.

"itu karena aku punya suami orang Jepang" aah.. aku mengerti sekarang.

"umm.. begitu, apa dokter melihat temanku?".

"hoo.. si anak berambut jabrik itu ya?".

aku mengangguk lagi.

"dia sedang berbicara dengan calon dokter dari universitas shuuei, mungkin kamu kenal?".

"hooo.. kau sudah bangun rupanya manager sialan?!" suara itu...

"Hiruma !" aku senang sekali mendengar suara jeleknya.

"Apa kabar Anezaki?" seseorang yang tinggi di belakang Hiruma menyapaku, Ichiro Takami. Quarterback dari ojo.

"Takami san.. jadi kamu calon dokter itu".

"hahaha aku masih dalam tahap pembelajaran".

"dia itu mendapat beasiswa sialan untuk belajar langsung dari dokter sialan itu" kata Hiruma sambil menunjuk ke arah ibu Dokter tadi.

"hey.. hey.." Dokter berambut biru laut itu hanya berdecak kesal "aku punya nama, namaku... ".

"doctor Ema ! where are you?! we need you immidiately !" seseorang menggunakan microphone memanggil nama Dokter Ema. Jadi itu namanya.

"oh my gosh, excuse me" dia pun pergi.

Aku, Hiruma juga Takami hanya meratapi kepergiannya.

"padahal umurnya masih terbilang muda, tapi dia sudah menjadi dokter yang bisa di bilang setingkat dengan professor" Gumam Takami.

"kekeke kau naksir dia heh?".

"aa.. apa.. tentu tidak ! dia itu guruku".

"kekekeke akan ku bilang !" Hiruma mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan.

"fuuh.. Anezaki.. apa kamu sudah tidak apa-apa?" Takami membetulkan kacamatanya. Dia mendekatiku, lalu menggenggam pergelangan tanganku.

"oi oi.. jangan seenaknya menyentuhnya !"

"aku ini calon dokter" kata Takami.

"aku tidak peduli kalau kau calon dokter sialan, dia sudah tidak apa-apa.. jadi lepaskan dia !" Hiruma mendekatiku.

"ada apa Hiruma? kamu cemburu?".

"Apa kau bilang?!".

"fufufu akui saja kalian memang punya sebuah hubungan kan?" kata Takami sambil melepas tanganku, daritadi aku hanya diam mendengar percakapan dua orang ini.

"memang ! lalu kau ada masalah heh kacamata sialan?!" Hiruma berada tepat di sisi yang berlawanan dengan Takami.

"Anezaki.. apa kamu mau menikah denganku?" tanya Takami tiba-tiba.

"ee.. eeh.." wajahku memanas. Sedangkan Hiruma menggeram.

"hahaha aku hanya bercanda ^^" Takami kembali berdiri.

"KAU !" Hiruma mengeluarkan machine gunnya.

"he.. hey Hiruma ! ini rumah sakit !" cegahku.

"aku tidak peduli !" dia mengkokang senjatanya.

"kau tak akan menembakkan senjata itu" Takami hitam !.

"heey ! kalian berdua !" aku mulai mencegah mereka,

*greek* suara pintu terbuka

"ada apa ini ribut sekali ?" kata seseorang dengan aura hitamnya.

"aah.. ti.. tidak ada apa-apa Dokter !" Takami mulai keringat dingin.

"biarkan dia istirahat ! kalian berdua keluar dari ruangan ini !".

"ba.. baiklah, sampai jumpa Anezaki" Takami tersenyum lembut ke arahku, lalu berjalan keluar.

"kau juga keluar !".

"siapa kau? berani memerintahku?!".

"Hiruma.." bisikku terhadapnya "keluar saja, aku memang sedang butuh istirahat".

Dia melirikku di ujung matanya "cih" dia pun berjalan keluar ruangan.

Ibu Dokter tadi menutup pintu, lalu menghampiriku.

"bagaimana keadaanmu?" tanyanya.

"lebih baik :)".

"baguslah kalau begitu, sebaiknya kamu istirahat saja dulu.. besok kamu boleh pulang".

"aku ingin pulang hari ini".

"kau ini.. pulangnya besok, biar kondisimu pulih".

"memangnya aku sakit apa dok?".

"kau hanya kelelahan saja, tidak ada yang parah".

"begitu..".

"pasti orang itu menyuruhmu melakukan hal aneh ya?".

"hahaha tidak juga :)" sebenarnya sih memang iya.

"Doctor Ema ! please come back here ! PLEASE !" kata seseorang lewat microphone lagi.

"hmm... sepertinya hari ini banyak panggilan, aku pergi dulu ya" dia mengusap lembut kepalaku "istirahatlah" dia pun pergi.

Tak berapa lama setelah kepergiannya.. "cih, dokter sialan itu menyusahkan" dia pun masuk ke dalam.

"Hiruma.. ngapain kamu masuk kesini?" tanyaku.

"melihat keadaanmu, kenapa? tidak boleh?".

"tapi aku harus istirahat".

"yasudah istirahat saja, aku akan menunggumu disini" dia menarik bangku ke sebelah ranjangku "sekarang kau tidur saja !" Hiruma mengeluarkan laptopnya, lalu mulai sibuk dengan 'kesibukannya'.

"hmm.." aku memejamkan mataku, sekarang hanya tinggal suara ketikan Hiruma yang terdengar. Suara itu terasa seperti suara piano, aneh memang. Tapi aku merasa nyaman. Mungkin aku akan mimpi indah.

Tek.. Tek... ungghh..

Aku membuka mataku, sekarang yang terdengar hanyalah bunyi detakan dari jam dinding, cahaya lampu dari luar hampir menerangi seluruh ruangan ini.

"Hiruma..?" aku menoleh ke arah kananku, dan melihat Hiruma yang sedang tertidur. Dia meletakkan kepalanya dia ranjangku, tangan kiri menompang kepalanya sedangkan tangan kanannya menggenggam tanganku.

"Hiruma?" Aku tersenyum lembut melihatnya yang sedang tertidur ini. Aku melepas tanganku dari genggamannya, dia bereaksi.

Tangannya yang tadi menggenggam tanganku, bergerak-gerak mencari-cari tanganku. Aku dengan sengaja menaruh kembali tangannku sekedar melihat reaksinya. Tangannya kembali menggenggam tanganku seperti saat aku terbangun tadi.

Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Aku melepas genggamannya lagi, sekarang giliranku yang menggenggam tangannya. Dia malah terbangun.

"maaf Hiruma.. Aku tak bermaksud membangunkanmu"

Dia melihatku dalam diam "kamu cantik".

"eeh...?"

"kamu selalu terlihat cantik"

"Hiruma?"

"aku sangat mencintaimu"

"*blush* a.. ada apa denganmu?"

"aku akan melindungimu" sesuatu yang aku tau, mungkin Hiruma sedang mengigau. Jadi aku dengarkan semua yang akan di ucapkan dari alam bawah sadarnya.

"aku benar-benar mencintaimu Anezaki"

"eeh.." bahkan sedang mengigau pun, dia tetap mengingatku

"aku tak akan bisa melepasmu dengan orang lain.."

'apa maksudnya ini?'

"aku takut.. kalau nantinya aku menyakitimu.. aku tidak bisa bersamamu karena aku..."

Aku terus diam melihatnya yang terus mengigau, matanya yang sayu terus menatapku.

"karena aku... memiliki hubungan dengan..." aku terkejut mendengar kalimatnya yang ini. Bagaimana bisa?!

"dengan.. cerberus sialan ! jangan gigit sepatuku dasar anjing sialan !" dia pun kembali tertidur.

Aku hanya sweatdrop dengan igaunnya barusan. Tapi.. apa jangan-jangan Hiruma membawaku kesini... *gasp* dia juga bilang kalau dia membawaku kesini karena ingin mempertemukanku dengan seseorang. Jangan-jangan seseorang yang dia maksud...

TBC

Hiruma : cih, kacamata sialan bikin kesel saja ! hapus dia dari fic ini !

ane : enak saja ! dia kan termasuk ke dalam chara Eyeshield 21 !

Hiruma : tapi dia itu penganggu !

ane : wah wah.. kau cemburu ya ?

Hiruma : manager sialan kan pairingku !

ane : lalu? ini kan ceritaku.. weeek :p

Hiruma : hoo.. kau berani juga ya..

ane : biarin :p bilang aja kalau abang kangen kan sama aku ,

Hiruma : cih, aku lebih kangen rice bowl ketimbang kangenin kamu adik sialan !

ane : oh yaa.. *puppy eyes*

Hiruma : *menatap malas*

ane : *tetap dengan puppy eyes*

Hiruma : *masih menatap dengan malas*

ane : *menambahkan springkle di puppy eyes*

Hiruma : *tambah menatap malas*

ane : *melebarkan puppy eyes*

Hiruma : *diam* *colok mata ane*

ane : huwaaa... MY EYES !

Hiruma : kekekekekeke ! RnR ! * lalu pergi tanpa dosa*

Tenang saja aku baca kok reviewnya Aika chan ^^ cuma sedikit butuh waktu buat melepaskan kebiasaan lama hehehe..

Mau tulis apa yaa? udah lama gak posting.. yasudah.. lebih baik saya tidur saja~ Jaa... Seperti biasa kalau ada typo.. yaa.. anggap saja angin yang berlalu~

Review selalu di baca :) asal jangan yang isinya makian aja ya.. mending saran daripada makian.. betul tidak? /tidak betul(?)/ wuahahahahahaha.. uhuk uhuk...

RnR ^^d