Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya. Beberapa OC baik karakter manusia atau makhluk mitologi diambil dari legenda dan mitologi nyata dengan pengubahan seperlunya.
Rated : T
Warning : Alternate Universe, Original Characters. Maybe contains some Out of Characters and Typographical Error
About this fic : Ini merupakan sekuel dari fic Paradox –by Itami Shinjiru
Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance. Little bit of Mystery
Any Little Note: Tebak sendiri POV dalam tiap chapter
Enjoy read chap 21 !
Dari Langit dan Bumi keduanya bersatu
Yang keempat kan tetap lestari
Tugas engkau berdua akan tergantikan oleh teman Bumi
Yang Besar dan Yang Wibawa akan tersemat kembali lain waktu
Dan Yang Tunggal, bakti ayah dan ibu tak terlupa olehnya
Kegelapan sejati dimulai dari dua sahabat
Racun yang kelak kan menggantungkan nasib dunia
Delapan Drako akan selamatkan dunia
Dipimpin oleh seorang anak manusia
Yang menjadi belahan jiwa dari Sang Paradoks
Namun pada akhirnya dia akan gagal melindungi yang terpenting
Pada pertengahan tiga, adalah sumber masalah dunia
Pembawa dari kehancuran dan kedamaian adalah satu
Ada sesuatu yang disembunyikan dibalik sayap
.
.
Uzumaki, Uchiha, dan Ootsutsuki akan menerjunkan diri
.
Bersama kehampaan kan mengguncangkan dunia, dikalahkan senjata dalam nurani
.
Pertempuran cucu Paradox akan bawa pada mati
.
Kutukan Batu Merah harus seseorang hadapi
.
Ajaran Sang Rikudo akan meluruhkan cangkang samsara hati
.
Dan si sulung akan teruskan estafet mimpi
.
~ PARADOX 2 ~
The Blood of Pomegranate
パラドックス 2 - ザクロの血液
CHAPTER DUA PULUH SATU:
The Day of Doom
Kori no Kuni
NARUTO KIRA TIDAK ADA yang lebih mengerikan dari Nyx.
Dia keliru.
.
.
.
Begitu dia, Ardhalea, dan Renynola membalap ke sisi paling utara Kori no Kuni dengan kecepatan dua kali kuda balap, Naruto menyadari bahwa pertarungan mati-matian dengan sepasukan Naga Gatpura dan Penguasa Malam baru semacam prolog. Di depan mereka, telah muncul ancaman yang berkali-kali lipat lebih besar—secara harfiah maupun secara lahiriah—yang pasti jauh lebih serius dan buruknya, pasti lebih sukar untuk ditaklukkan.
Naruto mulai menyambungkan kabel-kabel di sirkuit otaknya. Tentang kedua mimpi itu, tentang kakek tua terrantai yang bertanya-tanya, seolah dia begitu kepo tentang dunia luar dan apa saja yang terjadi di sana. Uzumaki berambut kuning itu mulai berpikir tentang kemungkinan siapa sebenarnya kakek tua itu. Penyamaran apa yang dia gunakan.
Kuil. Kakek. Purba. Kuno. Makhluk yang sangat berkuasa, yang lebih tua dibandingkan Laramidia, Naga Gatpura, bahkan lebih terdahulu dibanding Naga Kosong. Cuma satu makhluk yang punya kemungkinan itu.
Dan sekarang mereka sedang melihatnya. Makhluk itu kira-kira enam sampai delapan kilometer jauhnya di sana, namun dari sini, mereka bisa melihat wujud kasarnya secara keseluruhan, dan raungan menggentarkan yang ditimbulkannya. Makhluk itu memancarkan chakra kuno yang teramat kuat. Dia berdiri serong belakang dari arah mereka, jadi makhluk itu jelas tidak melihat mereka, tapi dia sendiri cukup terang untuk dilihat di kegelapan.
Karena dia masih cukup jelas untuk dilihat dari jarak sejauh ini, Naruto menaksir tingginya sampai kepala paling tidak seribu meter. Dia berjalan dengan dua kaki, seperti postur manusia yang bungkuk. Punggungnya melengkung ke depan. Kedua tangannya panjang, seperti orangutan. Alih-alih bulu, rambut, atau sisik, sekujur tubuhnya dilapisi lava, ter, tanur, api, percikan listrik, dan benda panas apapun yang dapat mendidihkanmu dari jarak radius lima meter. Jari-jari tangan dan kakinya berjumlah lima, agak-agak mirip tangan dan kaki manusia, tetapi kurus, berlapis lava dan bebatuan terbakar, dengan ujung berupa cakar raksasa sepanjang paus. Duri-duri raksasa mencuat di punggung, leher, dan ekornya. Dia punya satu ekor panjang seperti cambuk, tidak diseret di tanah, tetapi diayun-ayun, menimbulkan gelombang angin besar. Makhluk itu juga punya sepasang sayap mahabesar di punggungnya, tersusun atas kulit hitam berapi dan sisik-sisik raksasa, yang kadang berjatuhan ke tanah. Di tiap tempat yang dipijakinya, tanah melebur seolah mencair, berasap, dan mengepulkan abu dan awan piroklastik seperti gunung berapi. Wajahnya sendiri agak sulit dilihat dari sini, tapi pasti mengerikan.
Makhluk itu jauh di sana, tapi suaranya masih memekakkan telinga. Dia melelehkan semua salju, pohon, batu, apapun yang diinjak atau dekat dengan kedua kakinya.
Renynola menegukkan ludah. "Aku merasakan aura jahat yang luar biasa, kemudian bangun, dan menyisir sekitar ... dan menemukan makhluk itu."
Naruto dan Ardhalea berpandangan.
"Mungkinkah itu ..." Naruto terlihat ragu, mungkin berharap Ardhalea menyangkalnya dengan mengatakan itu cuma salah satu Kaum Kolosal yang terlambat bangkit, tersesat ke Kori no Kuni, atau apa.
Ardhalea mengangguk. "Kakek moyang dari seluruh naga, asal-muasal kekuatan magis. Awal mula penciptaan. Aku tidak suka menerangkan ini, tapi ... yah. Dia Khamos."
"Kok bisa dia bangkit?!" Protes Naruto. "Bukannya Pararryon dan Nyx sudah berhasil dikalahkan? Apa jangan-jangan dia bangkit lebih dulu? Bukannya Menma pergi ke kuil untuk mencegah kebangkitannya? Lantas apa yang terjadi dengannya?!"
"Urus itu nanti," sergah Ardhalea. "Kita harus membuat inventaris keadaan," dia melirik Renynola.
"Sisi buruknya," Renynola berucap, "kayaknya dia kuat banget. Sisi baiknya, kayaknya keadaan sudah tidak mungkin lebih buruk dari ini."
Naruto menyeringai. "Ayolah! Kita sudah mengalahkan batalion Naga Gatpura! Kita bahkan menghabisi Nyx—"
"Deavvara yang menghabisinya," koreksi Renynola.
"Iya. Secara kasarnya, kita memenangkan pertarungan melawan Naga Kosong! Dengan bersama-sama, kita pasti bisa mengalahkan kakek butut itu! Dia hanya setingkat di atas Nyx! Dengan menyatukan kekuatan, tak ada yang mustahil kita kalahkan. Bagaimana?"
Ardhalea mengusap dagu. "Bagaimana kalau kita mendekat, sementara ini, untuk menganalisanya atau menaksir kekuatannya, atau melancarkan serangan coba-coba, kecil-kecilan dulu? Baru ketika kita punya informasi yang cukup, kita menyerangnya sungguh-sungguh."
"Begitu juga bisa," sambar Naruto. Ia merogoh Hiraishin Kunai, lantas melirik Renynola.
"Bagaimana?"
Gadis itu mengangguk. "Baiklah. Hanya sampai cukup dekat untuk melihatnya."
.
.
.
.
.
Jika hantu-hantu di mimpi burukmu punya mimpi buruk, mereka mungkin memimpikan Khamos.
Itu yang dipikirkan Naruto seiring mereka mendekat ke makhluk tua perkasa itu. Bahkan sebelum mereka berada pada jarak satu setengah kilometer, Naruto merasakan energi dan chakra yang begitu besar—jauh lebih besar dibanding seluruh chakra yang ada di menara pusat Rouran, Kuil Etatheon, bahkan Zeta dan Eta digabung. Bahkan Nyx. Makhluk mengerikan itu seperti punya medan magnet dan gravitasinya sendiri. Badai menggemuruh di atas, tetapi tidak ada air hujan. Ketika sepasang sayap superbesar milik Khamos tersibak dan mereka mulai mendekat, Naruto memahami betapa mengerikan dan irasionalnya naga ini.
Kepala Khamos sepanjang lapangan sepakbola, dengan sepasang mata tak berpupil yang menyala dengan cahaya keemasan, dan seluruh kepalanya seperti dilapisi oleh tulang. Tanduk mahabesar tumbuh di alisnya, dan satu mencuat diagonal di ujung moncongnya. Dia memiliki janggut tulang, kumis raksasa sepanjang kepalanya, dan dua lapis gigi, masing-masing gigi lebih besar daripada rumah. Cahaya keemasan merembes dari hidung, telinga (yang berupa bukaan sempit di belakang kepalanya) dan mulutnya yang ekstraraksasa. Otot-otot lehernya merobek keluar dari kulit lava dan bebatuan lelehnya.
"Wow," desis Renynola, "kita ... akan menyerang makhluk sebesar ini?"
Naruto mendecih. "Ini masih belum seberapa kalau dibandingkan Pulau Kolosal. Harusnya kau melihat Varan, putra sulung Horus-Haumea. Kepalanya sepanjang tubuh Khamos. Dia bisa melahap makhluk ini dengan sekali caplok kalau mau. Kalau naga segede itu saja bisa dikalahkan, yang ini juga akan bernasib sama!"
Ardhalea meliriknya. "Kalau begitu, kenapa tidak kau lakukan serangan perdana?"
Naruto bersila, melakukan Sennin Modo. Ardhalea, dalam wujud naga, berbincang-bincang dengan Renynola, tetap menjaga jarak dan sedapat mungkin berusaha agar tidak menarik perhatian Khamos, yang sampai sekarang hanya terus berjalan ke arah selatan sambil sesekali mengayunkan tangan.
"Apa kira-kira tujuannya?" Selidik Ardhalea.
Renynola mengedikkan sayapnya. "Menurutku? Dia akan memusnahkan manusia."
"Berarti dia akan menuju pedesaan terdekat," sesaat kemudian, wajahnya menegang. "Korigakure."
Renynola memasang wajah jeri. "Bisakah kita ... menghentikannya—atau memperlambatnya, sebelum mencapai desa itu?"
"Tidak mungkin, kalau hanya kita bertiga. Kita butuh seluruh kekuatan. Eta dan Zeta. Para Kage. Yang terkuat."
"Bagaimana jika kejadiannya akan sama atau bahkan lebih buruk daripada Perang Dunia Naga Keempat?" Tinjau Renynola sangsi. "Bagaimana jika ini memakan korban sangat banyak?"
Ardhalea menggeleng. "Aku tidak tahu. Pertama ... kira-kira dari mana asalnya? Dari mana Khamos bangkit? Makhluk sebesar ini takkan berjalan menyusuri daratan begitu saja tanpa menarik perhatian manusia atau naga."
"Dia pasti datang dari utara, melihat jejaknya," ucap Renynola. "Tunggu ... bukankah Menma menghancurkan Kuil Topaz? Setahuku itu adalah tempat bersemayamnya sebagian chakra naga-naga tertua. Dan lagi ... memangnya kenapa bisa Khamos bangkit begitu saja? Satu lagi," dia menuding sayap raksasa Khamos, "sayap itu mengingatkanku pada Pengunungan Erebos. Bentuk dan teksturnya sama persis."
"Aku sudah selesai!" Seru Naruto. Ia memunculkan tiga bunshin dan mengumpulkan chakra angin dan shinzen enerugi. Spiral angin berbentuk shuriken mulai membesar di punggung Sang Paradoks, dan Naruto melompat ke udara, berputar beberapa kali, dan melempar spiral shuriken raksasa itu tepat ke leher Khamos.
"MAKAN INI, BUYUT NAGA!" Pekiknya keras-keras.
Fuuton: Cho Oodama Rasenshuriken
(Elemen Angin: Putaran Spiral Shuriken Raksasa)
Jutsu itu terus berdesing, berputar, siap mencincang. Dia makin dekat ke target raksasa. Sampai sedekat itu, sampai detik itu, Khamos bahkan tidak menoleh.
Rasenshuriken raksasa berpusing menembus leher berototnya, kemudian keluar lewat leher dibaliknya, tanpa menimbulkan cedera atau gores apapun. Jutsu itu mendesing terus, menghantam udara pada garis lurusnya, hingga menubruk tanah dan bebatuan, meledak di dataran rendah, membuat sebuah kawah raksasa dan gelombang angin yang kuat ke segala arah. Cahaya birunya yang menyilaukan mengalihkan perhatian Khamos, kemudian, dengan perlahan, dia menggerakkan kepala ke sumber serangan, melihat dua titik kecil bercahaya remang-remang.
"EH?!" Seru Naruto. "Kok tembus?"
"Jutsunya benar-benar tembus!" Pekik Renynola. "Maksudku ... benar-benar menembusnya tanpa menghasilkan luka apapun ... bagaimana bisa?! Dia cukup besar! Tidak mungkin meleset!"
"Tentu saja tidak mungkin meleset!" Protes Naruto. "Ada yang tidak beres. Aku yakin."
TENTU ADA YANG TIDAK BERES, sebuah suara menggaung di pikiran mereka. Mereka bertiga berpandangan, seolah menyadari bahwa makhluk itu tidak menggerakkan mulutnya, tetapi mengirim langsung pembicaraannya ke pikiran mereka. Mereka bertiga bisa mendengarnya. Suaranya seolah membuat kepala mereka retak.
DUNIA YANG MENYEDIHKAN, kata suara itu lagi. AKU AKAN MERATAKANNYA DAN MEMBANGUN YANG BARU. SEKARANG, LEBIH BAIK KALIAN HENGKANG DARI SINI, SEBELUM AKU MEMAKSA KALIAN MUNDUR.
Naruto menuding Khamos. "Kau sudah gila!" Teriaknya. Ia membuat bunshin lagi, mengumpulkan chakra lagi, dan kali ini melempar dua Rasenshuriken raksasa ke wajah Khamos.
"MAKAN ITU!" Pekik Naruto. "Kau takkan lolos begitu saja!"
Lagi-lagi, kedua jutsu itu menembus kepala padat Khamos tanpa melukai, kedua Rasenshuriken berdesing di belakang. Naruto memerintahkan mereka untuk kembali, dan jutsu itu menurut. Spiral shuriken biru raksasa kembali menembus kepala Khamos dari arah sebaliknya, tapi tidak ada yang berubah, baik jutsu maupun target. Kedua Rasenshuriken itu meledak jauh di bawah, di belakang mereka, tanpa menggores Khamos.
"Cih," geram Naruto, "kenapa aku tidak bisa mengenai benda sebesar itu?"
KALIAN TIDAK BISA MENGALAHKANKU, gerungnya. AKU ADALAH KHAMOS. YANG TERTUA DARI SEMUA CIPTAAN. KEKUATANKU TAK BERBATAS. TIDAK ADA ARTINYA MELAWANKU. BAHKAN PARADOX SEKALIPUN.
Ia membuka mulut. Cahaya merah bersinar menyilaukan dari amandelnya.
"MENGHINDAR!" Teriak Ardhalea. Tepat setelah itu, secercah cahaya melesat secepat tembakan petir, nyaris menyerempet mereka, melabas ke pegunungan beberapa puluh kilometer di sebelah timur sana.
Cahaya itu menciut, bersinar, lalu meledak. Pegunungan rata dengan tanah. Suara gemuruh yang mengerikan terdengar, seperti sejuta meriam besar yang ditembakkan bersama-sama. Awan-awan memudar. Gelombang angin menyapu pepohonan, daratan, sungai, apa saja. Kawah raksasa tertoreh di tanah. Asap membubung tebal ke angkasa. Mereka terdorong mundur beberapa ratus meter ke belakang, makin dekat ke tubuh Khamos.
"Oke," kata Renynola, suaranya gemetar. "J-Jadi itu kekuatan dari kakek moyang seluruh naga. Sebagian kecil kekuatan dari kakek moyang seluruh naga. Sekarang kita mau ... apa?"
Ardhalea mengumpulkan Ryuudama, membentuknya jadi dua kali lebih besar dari panjang tubuh naganya sendiri, dan menembakkannya ke tenggorokan Khamos. Ryuudama tersebut menembus trakea superraksasa, kemudian muncul kembali di sisi sebaliknya, menghajar tanah. Salah sasaran. Ledakannya luar biasa, tapi itu sekalipun teramat kecil jika dibandingkan dengan ledakan jurus Khamos barusan.
"Mundur," titah Ardhalea, yang sepertinya jelas-jelas disukai Renynola.
Naruto menggumam. "Aku masih penasaran kenapa kita tidak bisa mengenainya."
"Kita akan mencari jawabannya di markas, genius," desis Ardhalea, mulai merasakan kekhawatiran lagi. "Satu tugas lagi untuk kita, barangkali yang terakhir."
Naruto benci kata-kata itu.
.
.
.
.
.
Mereka mengadakan rapat darurat di ruang tengah pada pukul empat pagi. Semuanya berkumpul di tempat itu, bahkan Kurama dan Demetra juga ikut mendengarkan, meninggalkan Angelo kecil yang masih terlelap beralaskan jerami tebal. Naruto, Ardhalea, dan Renynola menjadi narasumber.
Sasuke mendengus. "Jadi ... pertarungan kita lawan Nyx dan Naga Gatpura baru pemanasan."
"Kau membuatnya terdengar mengerikan, Sasuke," timpal Itachi. Ia menatap Naruto lurus-lurus. "Apa Khamos memang sekuat itu?"
Naruto menegakkan punggungnya, menekur ke meja, kedua tangannya mencengkeram paha atasnya. "Sebelumnya aku menganggapnya sama seperti naga perkasa yang lain," akunya. "Tapi pendapatku berubah saat aku beralih ke Sennin Modo. Teman-teman, tembakan pertama yang dilepaskan Khamos pada kami, jauh lebih kuat dibandingkan jutsu pamungkas Nyx yang membinasakan dirinya dan Deavvara."
Semua membisu. Naruto menyadari bahwa ucapannya barusan membawa atmosfer keputusasaan, jadi dia berdehem-dehem.
"Anggaplah itu jutsu jarak jauh," ucap Minato. "Khamos tadi membidikkannya berpuluh-puluh kilometer, kan? Dia takkan membidik dekat dengan dirinya sekalipun sasarannya berada dekat, sebab jika ledakannya sedahsyat itu, tubuhnya sendiri bisa jadi akan ikut terkena dampaknya."
"Justru di situ masalahnya," Neredox menimpali. "Minato, jika Khamos bisa membidik ratusan kilometer dari tempatnya, dia bisa mengincar sesuatu yang jauh. Bayangkan, senjata penghancur massal yang dapat menempuh ratusan kilometer dalam waktu beberapa detik, menghancurkan area seluas mungkin dalam waktu singkat. Dan dia bisa melakukan itu berkali-kali. Jika Khamos menghendaki menghancurkan desa-desa besar terdekat dengan teknik ini ..."
Tidak ada yang meneruskan. Semua sudah tahu jawabannya.
"Korigakure jelas berada dalam jangkauan tembak," kata Sasuke. "Berarti tindakan pertama kita ... adalah memecah regu menjadi dua tim. Satu tim berusaha memperlambat dan mengalihkan Khamos. Satu tim yang lain mengungsikan seisi Korigakure. Jarak Khamos ke Korigakure, jika dia tidak bergerak cepat, sekitar 30 km. Jika kita ingin menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin, kita harus bertindak cepat."
"Masalahnya, kemana mereka akan kita ungsikan?" Naruto menggumam. "Bukan berarti aku merasa pesimis. Tempat mana yang tepat menurutmu, Pantat Ayam?"
"Giring mereka menjauh dari zona pemukiman," Ardhalea akhirnya bicara. "Khamos berkata bahwa dia akan memusnahkan manusia, pasti dimulai dari desa-desa utama. Jika dia muncul di Pegunungan Erebos ... titik paling utara dunia ... dia akan menuju Korigakure, kemudian ke Iwagakure, melewati Rouran juga, barangkali, kemudian Suna ... Ame ... Konoha ... dan Kumo, ditambah pedesaan besar dari negara-negara kecil di sekitarnya. Kemudian dia akan menyeberangi laut ke Kirigakure. Tamat."
Melihat semua orang memasang wajah keruh, dia menambahkan. "Itu hanya perkiraanku saja."
Naruto menggebrak meja, lantas berdiri. "Kita harus peringatkan seluruh dunia. Khamos bukan sembarang naga. Dia tidak seperti Nyx yang bertindak melalui rencana dan menghasut orang-orang. Dia tidak seperti Naga Gatpura yang mengumpulkan anggota dulu baru mau membuka diri. Dia bahkan tidak seperti Madara atau Laramidia ... yang lebih memilih cara mudah—mengendalikan lewat genjutsu besar-besaran. Khamos lebih brutal, lebih tepat ke intinya. Hancurkan ya hancurkan."
Ardhalea mengangguk. "Pasti sulit, tapi kita akan melakukannya. Toh kita tidak sendirian. Eta dan Zeta bisa membantu. Para Kage mungkin juga bisa. Penduduk-penduduk yang tidak memiliki cukup kekuatan ... mereka bisa membangun kuil-kuil untuk Zetatheon yang tersisa dan berdoa di dalamnya. Itu akan membuat naga-naga itu makin kuat."
Minato menggaruk kepala. "Kita ... akan melakukan penyerangan sekarang? Bagaimana soal Menma?"
"Kesampingkan dulu," sambar Sasuke. "Aku dan Itachi bisa menyuruh penduduk mengungsi. Kalian semua pergilah. Kami akan menyusul. Mungkin dalam selang waktu ini juga bisa dipanggil beberapa Eta dan Zeta."
"Aku akan butuh kekuatan lebih," Naruto melirik Kurama. "Hei, Sobat. Bisa kita berfusi lagi?"
Kurama mendengus. "Aku takut tubuhmu jauh lebih apak dibandingkan saat terakhir kali aku berfusi denganmu ... tapi demi dunia, baiklah. Aku bisa menyuplai chakra yang tak kalah banyaknya dibanding Sennin Modo."
Ardhalea mengangguk. "Baiklah. Sekarang, ayo kita berangkat."
Sasuke, Itachi, dan Demetra pergi ke perkampungan, memperingatkan seisi desa. Naruto, Ardhalea, Minato, Neredox, dan empat Tatsuniken yang ada pergi ke utara, menghadapi sang raja, kehampaan.
.
.
.
.
.
Neredox berdecak. Ayahku tampak berusaha susah payah meneguk ludah—Edo Tensei bisa meneguk ludah ya?—sedangkan Kazuuto dan Akahana mengusap mata mereka berkali-kali. Bahkan dari jarak sejauh ini, Khamos tampak ... mengerikan. Seolah melihatnya saja sudah membuatmu kehilangan setengah nyawamu dan seluruh tulangmu ngilu. Dia memancarkan energi kuno yang luar biasa gede.
"Jadi itu Khamos," gumam Akahana. "Agak lebih mengesankan daripada yang pernah kubayangkan."
"Agak lebih mengesankan," Kazuuto membeo. "Yeah. Dia jelas sangat mengesankan. Kenapa tidak kita tembaki kepalanya dengan Ryuudama bertubi-tubi? Atau lubangi sayapnya, kalau memang makhluk itu bisa terbang. Atau kita bisa siramkan miliaran galon air ke tubuhnya yang tampak panas."
"Itu benar-benar besar," imbuh Shion. "Aku nggak suka peruntungan kita."
"Pertanyaan pertama," cetusku sebelum kami sampai di medan perang. "Kenapa serangan kita tidak bisa mengenainya?"
"Naruto," desis Ardhalea. "Itu masih—ah, sudahlah. Teman-teman, ada hal yang harus kita pertimbangkan. Masalah terbesar selain ukuran raksasa dan kekuatannya. Aku dan Naruto sudah mencoba menyerangnya dengan Rasenshuriken raksasa dan Ryuudama, tetapi kedua serangan itu menembusnya begitu saja. Kedua jutsu itu tetap menghasilkan kerusakan hebat, tetapi di titik sebaliknya."
"Semua itu hanya menembusnya begitu saja seolah dia hanya genjutsu!" Protesku.
"Genjutsu!" Seru Neredox. "Apa mungkin Khamos memang hanya genjutsu yang sangat kuat? Tapi rasanya bukan. Aku bisa merasakan chakranya dengan jelas. Aku juga tidak mendeteksi gangguan pada sirkulasi chakra kita sendiri."
"Menembus seperti apa?" Selidik ayahku. "Bisa saja itu termasuk salah satu tipe Shunshin. Jika Khamos adalah yang paling primordial dari semua naga ... aku tidak heran kalau meskipun ukurannya seraksasa itu, dia bisa berpindah tempat dalam sekejap, atau menghilang atau jadi tembus dalam sepersekian detik selama kontak dengan substansi yang membahayakan. Kali ini, coba kita lakukan serangan jarak jauh beruntun ke bagian tubuhnya yang berbeda," ucapnya panjang lebar.
Aku menyeringai. "Aku suka ide itu. Dia akan merasakan Uzumaki Naruto Rendan!"
"Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya," decih ayahku. "Aku tidak memiliki jutsu jarak jauh berdaya hancur yang hebat seperti kalian. Aku hanya bisa menancapkan beberapa Hiraishin Kunai ke beberapa bagian tubuhnya dan berkelebat diantara itu, mengecek. Naga sebesar ini pasti punya titik lemah yang kentara. Tugas kalian, adalah membuka celah untukku."
Neredox menghunus pedangnya. "Itu kedengarannya mudah."
Kakek tua itu terjun dari punggung Ardhalea, dan langsung merubah wujudnya menjadi naga (kalau begitu apa gunanya dia menghunuskan pedang? Au ah!) melesat secepat angin mendekati Khamos tanpa gentar, dan mengumpulkan chakra di mulutnya, menembakkan bola cahaya sebesar diameter tubuhnya, dan menumbuk siku tangan kiri Khamos.
Ups. Bola cahaya itu meleset menembus lengan kiri Khamos, menembus lengan kanannya, kemudian mendarat di perbukitan, menghancurkan areal seluas seratus kolam renang. Tanpa menimbulkan cedera, lagi-lagi. Khamos menoleh.
NEREDOX, ucap Khamos. Aku berjengit mendengar suaranya. Kurama yang berada dalam tubuhku sekalipun pasti bisa mendengarnya, dan dia tidak terlihat senang.
CUCU DARI ANAKKU, kata Khamos lagi. MESTINYA KAU SUDAH MATI ... OH, YA. EDO TENSEI TERKUTUK ITU. BAH. BIAR KUBUAT KAU MENDEKAM DI ALAM KUBUR LAGI.
"Jangan sembarangan bicara!" Neredox memekik. Khamos membidik. Alih-alih sinar merah seperti serangan sebelumnya, ia menyemburkan api. Api itu berwarna merah-kuning-jingga dan agak cair serta kelihatannya tidak lebih panas dibanding api milik Etatheon, tapi sama saja. Jangkauan satu semburan cukup untuk meluluhlantakkan Takigakure. Neredox terbang dengan lincah, menembakkan Ryuudama sebesar tubuhnya berkali-kali ke tubuh Khamos, tapi semuanya menembus.
"Kita harus membantunya," ujar Kurama dari dalam tubuhku, "Naruto, coba pakai chakraku."
Aku menurut. Aku mengeluarkan sebuah shuriken, memperbesarnya hingga berukuran raksasa, dan melemparnya dengan tambahan api Wivere Kurama. Senjata logam tersebut berpusing cepat ke bahu kiri Khamos, tapi sama saja—menembus tanpa berefek samasekali. Aku meneguk ludah.
"Sennin dan naga tidak berhasil," gumam Shion. "Apa harus pakai Ryooton?"
Akahana, Kazuuto, Renynola, dan Shion menembakkan api bersama-sama, empat peluru besar membara yang melejit ke bahu Khamos, tapi sama seperti semua serangan sebelumnya, serangan kuadruped mereka tidak berhasil. Keempat api itu menembus tubuh Khamos dan keluar dari sisi sebaliknya, membakar daratan.
Kazuuto mengerang frustasi. "Apa-apaan dia?! Bagaimana bisa kita sulit mengenai benda seraksasa itu?"
"Mungkin itu semacam teknik yang spesial untuk dirinya," gumam Ardhalea. "Seperti Obito yang dapat memindahkan sebagian tubuhnya ke dimensi lain bila dia terkena serangan. Itu tidak mustahil. Hanya saja kali ini pelakunya adalah seekor naga yang amat besar."
"Serangan beruntun mutlak diperlukan," sambung Shion. "Tapi Khamos berukuran sangat besar. Kecuali kita menggunakan serangan beruntun dengan daya hancur yang hebat juga, itu semua tidak akan berguna. Kita hanya sedikit di sini—terlalu sedikit untuk memberikan serangan beruntun yang cukup lama dan berefek pada naga sebesar ini!"
"Aku sudah mengirim telepati pada Zeta dan Eta," ujar Ardhalea. "Mereka akan datang membantu."
"Selagi itu kita harus memperlambatnya," cetusku. Aku melompat dari punggung Ardhalea dan merubah diri menjadi naga, mengepakkan sayapku sekuat tenaga guna melawan gaya gravitasi buatan Khamos, terbang ke depan kepalanya yang mahabesar, dan menyeringai lebar-lebar, menembakkan api sekuat tenaga ke hidungnya. Api tersebut menembus rahang atasnya, kepalanya, lalu keluar lagi dari tengkuknya tanpa menghasilkan kerusakan apapun, tapi cukup untuk membuat Khamos melirikku (atau apapun kau bisa menyebutnya, pasalnya dia nggak punya biji mata).
"HEI, JELEK!" Aku memekik keras-keras. Aku telah mempelajari banyak hal tentang kekuatan. Dalam hidupku, aku pernah bertemu beberapa musuh yang tidak bisa kukalahkan—setidaknya tidak sendirian—dan juga musuh yang tidak bisa kukalahkan ... setidaknya dengan kekerasan fisik. Aku harus menggunakan cara lain. Tipu daya. Senda gurau dan kenakalan. Atau sesuatu yang diajarkan Hermes secara tidak langsung padaku: buat dia marah!
Kuharap Khamos adalah naga bertemperamen tinggi.
"Kau besar!" Teriakku. "Kau kuat, oke! Tapi sesuatu yang besar biasanya lambat! Dan karena kau sangat besar, berarti kau sangat lambat! Kau takkan bisa menangkapku, bukankah begitu? Bagaimana kalau kita taruhan, Kakek dari seluruh bangsa naga? Yang lebih cepat, dia akan menguasai dunia!"
Khamos maju selangkah. Bumi berguncang. Awan debu membuncah dari kakinya. Kilat menyambar-nyambar beberapa ratus meter dari kepalanya.
"HOI!" Pekikku. "DENGAR NGGAK? Punya telinga? Aku curiga kau sudah budek gara-gara kelamaan bersimpuh di dasar bumi! Pasti aliran magma dan lava sudah menulikan indera pendengaranmu! Dengarkan aku, dasar bodoh! Aku yakin IQ-mu pasti tidak tembus angka 70!"
Aku berdehem, kerongkonganku seperti dirambati sekoloni rayap. Usahaku membuahkan hasil. Khamos memalingkan pandangannya, menatapku skeptis, kemudian mendengus, mengeluarkan busi raksasa dari sepasang lubang hidungnya, lalu mengambil selangkah lagi ke depan.
Dia mengacuhkanku.
Kesabaranku menguap. "KUBUNUH KAU!"
"Naruto!" Seru Ardhalea. "Jangan gegabah!"
"HI-YAAHH!"
Aku mengubah wujud menjadi Tatsuniken, melemparkan beberapa Hiraishin Kunai ke kepalanya yang raksasa. Tidak satupun menancap. Aku menghunus Nunboko no Tsurugi dan melesat ke kepalanya, menghunjam dengan pedang berlumur api, petir, dan angin. Seranganku kembali luput. Ketika kutebaskan pedang hitam itu sekuat tenaga, gelombang tebasannya mengalir menuruni angin dan membelah tengkorak Khamos, tapi tidak menghasilkan kerusakan apa-apa. Gelombang tebasan itu mencederai tanah di bawahnya.
TERUSLAH MENCOBA, DRACO P, gerung Khamos. TANPA KUURUS, KAU SEKALIPUN LAMA-LAMA AKAN BINASA. SILAKAN HABISKAN CHAKRA DAN HIDUPMU YANG BERHARGA UNTUK MEMBUNUHKU.
"Dasar gila!" Balasku. "Aku takkan menyerah! Cepat atau lambat, aku pasti menghancurkanmu hingga berkeping-keping!"
Khamos membuka mulutnya yang mahabesar, memercikkan busi, dan menyemburkan api.
Untuk beberapa detik, kukira Khamos akan mirip atau sama seperti Varan—semata-mata keunggulannya hanya ukurannya yang ekstra-super-jumbo. Apinya takkan menyebar luas, lagipula dia tak bisa menyembur lama-lama dan berdasarkan proporsionalnya, jarak serangnya paling-paling hanya seperdelapan dari panjang tubuhnya sendiri, tidak seperti naga-naga lain.
Khamos adalah pengecualian. Ia menembakkan api super raksasa berwarna oranye kekuningan yang sanggup membakar sebuah kota, melaju ke depan secepat kecepatan rata-rata Etatheon. Aku mengubah diriku menjadi naga secepat mungkin dan meloloskan diri dari jarak tembaknya. Percuma, meskipun aku berusaha sekuat tenaga, aku takkan bisa mengimbangi semburan tunggal Khamos. Ayolah, aku memang orangnya keras kepala, tapi aku nggak sebodoh itu juga.
Aku ingin memanas-manasi naga tua itu dengan mengatakan 'CUMA ITU YANG KAU BISA?' tapi aku menahan diri.
Tanpa mengatakan itu pun, situasi sudah jadi lebih buruk. Khamos mengalihkan semburan apinya menjadi semburan abu vulkanik. Abu tersebut malah menyebar lebih cepat daripada api—aku terperangkap seketika. Dari jauh kulihat Khamos seperti melakukan gerakan menjentikkan jari, dan seluruh abu vulkanik meledak beruntun, seperti ledakan satu miliar petasan tahun baru yang ditaburi bubuk warna hitam, cokelat, dan abu-abu alih-alih merah, hijau, jingga, kuning, atau biru.
Sayup-sayup kudengar teman-temanku meneriakkan namaku. Abu ini meledakkan sekaligus menyesakkan napas. Tak kuasa, aku berubah menjadi Tatsuniken lagi, dan jatuh bebas ke tanah.
BRUK!
Aku meraba sekelilingku. Ini bukan tanah. Tempat pendaratanku terasa lebih hangat sekaligus ribuan kali lebih jahat. Aku mendarat di kepala Khamos, di tengah-tengah moncong atasnya. Aku memukul substansi keras itu, dan tidak menghasilkan apa-apa. Abu berputar di sekelilingku. Khamos tampaknya tidak tahu aku berada di kepalanya.
Padat, pikirku. Tubuh Khamos sejatinya padat. Lalu kenapa serangan kami tidak bisa mengenainya? Jika dia memang seperti Obito, kira-kira apa dia punya durasi waktu? Apa sesungguhnya Khamos harus diserang dari dekat?
Aku mengangkat pedangku. Patut dicoba.
Kuhunjamkan pedangku sekuat tenaga, kukucurkan semua kekuatan lenganku. Aku yakin bilah ini mampu menembus hingga perut gunung.
Tapi Khamos memang di luar imajinasiku.
Pedang Rikudo terbenam hingga gagang, tapi tidak ada yang terjadi.
Tidak ada yang terjadi.
Otot wajahku mengencang. Gigiku bergemeletuk. Aku mengumpulkan chakra di kedua lenganku, mengabaikan pedangku, dan meninju penuh kekuatan ke bawah dengan sepasang batu pemberat masif.
Sekelilingku berkelebatan. Alih-alih meretakkan tengkorak Khamos, aku tertembus jauh ke bawah, menembus tubuh naga raksasa ini hingga muncul di sisi tenggorokan bagian bawahnya, dan jatuh bebas ke tanah bersama pedangku. Aku mengepakkan sayap, menyambarkan petir dengan frustasi ke segala arah, tapi semuanya lagi-lagi dan lagi-lagi, menembus tubuh superraksasa Khamos. Dia bahkan tidak berminat untuk melirikku.
Ardhalea menembakkan Ryuudama beruntun. Kazuuto membakar diri dan mencelat diantara sayap Khamos, berusaha melubanginya. Renynola, Akahana, dan Shion menembakkan bazoka api gabungan. Neredox menebas-nebaskan pedang super dengan api putihnya.
Tidak ada yang berdampak pada Khamos ... sedikit pun. Seluruh serangan kami benar-benar menembusnya seolah dia cuma genjutsu. Dia seolah transparan. Dia dapat meratakan pegunungan dan mengeringkan danau, tapi ledakan nuklir tidak berpengaruh padanya—malah merusak daratan.
Kenapa?
Aku sudah memastikan dengan Sennin Modo sebelumnya. Khamos adalah kumpulan chakra kuno yang murni, tua, dan teramat kuat dan jahat. Dia sama seperti Juubi—bahkan dengan Sennin Modo, aku tidak bisa menaksir sekuat apa dia sesungguhnya. Seolah dia punya chakra tak terbatas. Situasinya akan jauh lebih buruk apabila Khamos yang ini baru bentuk pertama dan dia masih bisa berubah jadi lebih kuat dan mengerikan selagi kami tidak bisa membuatnya memar.
Ide gila terlintas di benakku. Apakah Khamos hanya bisa dikalahkan oleh Taijutsu ... atau jutsu yang tidak kukuasai samasekali—Gedojutsu?
Aku berpikir sejenak, mengumpulkan chakra sambil terbang, dan menembakkan Jinton ke kepala Khamos. Jutsu Kekkei Touta itu melesat lurus seperti tembakan laser mini jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya, mestinya sudah melubangi otaknya (kalau dia punya otak) tapi sama seperti semua serangan yang lain, bahkan Jinton hanya menembusnya. Tidak ada luka apa-apa.
"Dasar bebal," gerungku. Aku mengambil ancang-ancang, terbang dengan kecepatan penuh ke dada Khamos, melakukan tendangan.
Tidak berdampak. Seluruh tubuhku menembus lapisan kulit batu dan lava dada Khamos, kemudian tertarik ke luar begitu cepat hingga nyaris jatuh. Kepalaku terasa berputar-putar. Sekujur tubuhku serasa baru direbus dalam api kecil.
Aku mengertakkan gigi. "MAKHLUK MACAM APA SEBENARNYA KAU INI?!"
Bagai menanggapi teriakanku, dada Khamos berdenyut, mengkerut, lantas meletup, memunculkan seekor ular lava raksasa, lidah apinya menjulur-julur. Aku menembaknya dengan Jinton, tetapi kubus pemecah molekul sekalipun tidak ada hasilnya. Ular itu meliuk, hampir menyabetku. Aku menebaskan pedangku, tapi hembusan anginnya tidak memperlambatnya. Terpaksa, aku melakukan aksi pengecut: terbang hingga tak termaktub dalam jarak serangnya.
Ardhalea menangkapku, meletakkanku ke punggungnya.
"Naruto," desisnya. "Kau berantakan. Chakramu berkurang banyak."
"Bahkan dengan bantuanku," ucap Kurama dari dalam. "Dari tadi tindakan-tindakanmu ekstrem banget. Melawan naga segede itu dari jarak sedekat ini?"
Aku mengusap peluh dengan kasar. "Khamos susah sekali dikenai, Ardhalea, Kurama."
"Kami mengalami hal yang sama," ucap Ardhalea. "Aku khawatir kita tidak punya waktu untuk mencari cara untuk mengalahkan Khamos selagi kita tidak bisa menyerangnya. Dia sudah separuh perjalanan ke Korigakure. Semua serangan kita tidak berguna."
"Tidak berguna," Kurama mengiyakan. "Sekarang apa?"
Bola cahaya berwarna kuning keemasan mencelat dari balik awan, menembus tengkorak Khamos. Naga itu mengaum pendek, menerbangkan beberapa ratus ton tanah di sekitarnya ke udara, dan mengerak-gerakkan sayap raksasanya dengan gelisah. Awan-awan gelap tersibak, bersamaan dengan mentari yang mulai menampakkan diri.
Dan bersamaan itu pula ... dengan sepuluh cahaya berwarna-warni yang terbang dengan kecepatan penuh, menembakkan bola-bola cahaya berdaya hancur masif ke sekujur tubuh Sang Kehampaan.
Semua meleset. Hermes menukik, menghunjam ke siku Khamos. Dari gerakan sayapnya, dia sepertinya ingin mempreteli tangan kanan si naga raksasa, tapi dia menembus ligamen dan tulang serta barikade lava dan bebatuan obsidian di lengan Khamos dan nyaris membentur tanah kalau saja manuvernya meleset sedikit saja. Beleriphon menembakkan kubus Jinton raksasa ke leher Khamos, tapi tidak menyebabkan kerusakan.
Pyrus dan Quetzalcoatl terbang berdampingan seperti ular-ular langit. Parthenon mengikuti di belakang mereka, dan mereka membentuk formasi, menembakkan sinar hijau ke mata kanan Khamos.
"Demi Makemake!" Pekik Pyrus. Cahaya itu menembus mata Khamos dan keluar lewat sisi bawah rahang bawahnya, menyasar ke tanah agak jauh dari kakinya, dan menumbuhkan hutan dadakan dengan akar-akar pencekik yang sanggup meremukkan fondasi sebuah gedung berlantai dua puluh.
"Kau sudah pernah melawan Naga Kosong, Khamos, aku kagum! Tapi kau tentu tak pernah melawan sepuluh naga dewa sekaligus, kan?!" Bentak Hermes. Ia tidak menyerah, terus menembakkan Ryuudama seperti senapan mesin otomatis, menyasar lutut, ekor, pinggang, hingga perut Khamos, tapi tak ada luka yang ditimbulkannya.
"Dia butuh air!" Seru Owatatsumi. Ia menggebrakkan daratan, memunculkan laut dadakan. Gelombang tsunami raksasa setinggi lima ratus meter (yang berarti hanya separuh tinggi badan Khamos) menghantam dadanya, tapi malah menembusnya dan ombak super duper raksasa itu memecah di belakangnya, menghanyutkan ribuan ton bebatuan sia-sia.
Kirin menembakkan petir. Akurasinya luar biasa, tapi tidak ada yang benar-benar mengenai Khamos. Bahkan sepuluh naga dewa, Eta dan Zeta ... tidak ada satupun serangan mereka yang benar-benar melukai naga itu. Bahkan Styx mengumpat-umpat di udara, tanduk segelnya tidak berguna.
Aku menegangkan sayapku. Tanganku mencengkeram gagang pedangku hingga buku-buku jariku memutih. "Bagaimana bisa Khamos ... seperti itu? Kalau begitu bagaimana cara kita menyerangnya?"
"Lihatlah masa lalu," saran Ardhalea. "Naruto, mari pikirkan bagaimana cara Paradox pertama dan sekutu-sekutu leluhur bumi membenamkan Khamos ke inti. Bagaimana cara mereka menyerang?"
"Kita harus menanyakan ini pada Menma!" Seruku. "Dimana dia, sih?"
ETATHEON DAN ZETATHEON, gerung Khamos. KALIAN SEKALIPUN TERLAMPAU LEMAH UNTUK MENEPISKU.
"Siapa yang kau sebut lemah, wahai Wajah Kalsium?!" Pekik Hermes. "Biar kuganyang kau!"
"Hermes!" Beleriphon berteriak. "Jangan gegabah! Semua serangan kita sia-sia! Kalau kau terus begini—"
Khamos mengangkat tangan kirinya, menghantamkannya ke tanah. Ledakan yang setara dengan seratus ton TNT membahana di tempat lengan raksasa itu membentur bumi, tapi itu baru awalnya. Gelombang udara panas merambat luar biasa cepat dari sumber ledakan, menghabisi apapun di udara, mengubah hutan cemara menjadi ladang tandus dalam waktu lima detik, menggunduli perbukitan di sekitarnya, mendorong mundur semua naga dewa—termasuk kami.
Aku menancapkan Pedang Rikudo dalam-dalam, menembus lapisan tanah. Ardhalea mengubah diri menjadi naga, menancapkan cakar-cakarnya. Bahkan dengan tindakan seperti itu, kami terdorong ke belakang kira-kira seratus meter dengan pakaian hangus dan luka bakar di beberapa tempat.
Shion bangkit, menggunakan pedangnya sebagai tongkat jalan. Kimononya compang-camping. Seluruh napasnya seolah baru ditarik dari paru-parunya. Rambut pirangnya berantakan.
"Kehancuran sehebat ini," kata Shion terengah-engah, "...hanya dengan mengayunkan satu tangan?"
Kazuuto meludahkan pasir. "Cuih. Dia tidak bisa diserang, dan satu serangannya bisa membunuh sejuta manusia sekaligus. Benar-benar pertarungan yang sangat seimbang. Aku suka. Selanjutnya apa lagi?"
"Akan kubunuh dia," geramku. Ardhalea menggaet kerah belakangku dengan salah satu cakar kaki depannya, kemudian menjatuhkanku.
"Jangan," cegahnya. "Kita masih belum tahu apa kelemahannya."
"Aku menyerangnya terus-terusan untuk mencari titik lemahnya!" Belaku.
"Dia tidak bisa diserang," sentak Ardhalea. "Tidak peduli berapa kali kau mencobanya! Aku benci mengakui ini, tapi Khamos jauh lebih kuat dari semua musuh yang pernah kita kalahkan! Dia mungkin memang hampir mustahil dikalahkan, jika hanya sedikit dari kita ..." dia memandang kesepuluh naga dewa yang terkapar, berusaha bangkit mati-matian.
Khamos meraung, menggetarkan udara, mengirim hawa keputusasaan.
TETAPLAH TENGGELAM, katanya. BIAR KUURUS DUNIA KALIAN YANG MENYEDIHKAN INI. SELAMA MASIH ADA TAKUT DAN RAGU, KALIAN TAKKAN BISA MENGHENTIKANKU, SELAMANYA.
Khamos menjuput sebuah bukit dengan tangan kanannya, dan melemparkannya pada kami.
Kesepuluh naga dewa menembakkan Ryuudama jumbo bersamaan, meledakkan bukit tersebut sebelum menimpa kami, memecahnya menjadi jutaan batu dan gumpalan tanah. Khamos menggerung, mengumpulkan cahaya merah lagi, seperti serangan perdananya di pagi buta tadi.
Ardhalea terbang, mengumpulkan Ryuudama sebesar mungkin. Khamos nyaris menembak. Sang Paradoks memutar tubuhnya beberapa kali dan melepaskan Ryuudama. Kedua bola cahaya sarat energi itu berbenturan di tengah jalan, meledak. Keduanya seimbang, entah mengapa. Ledakan terjadi lagi, begitu memekakkan telinga. Kawah raksasa terukir di tanah, persis di depan Khamos. Meskipun ledakan itu teramat dahsyat, tubuhnya tidak terpengaruh.
Ardhalea jatuh, bertransformasi menjadi Tatsuniken lagi. Tembakan itu pasti sudah menguras banyak chakranya. Khamos menyemburkan api.
"Gawat. Sekarang dia serius," kata Renynola jeri. Kesepuluh naga dewa tak berputus asa. Mereka terbang, menghadang. Aku tidak bisa membiarkan mereka jadi lakon—maka aku ikut mencebur. Aku mengubah diri menjadi naga emas berselimut petir dan topan, menghambur ke udara, dan menghembuskan api sekuat yang kubisa. Ardhalea berada di sampingku, mengontribusikan api peraknya. Renynola, Kazuuto, Akahana, Shion, dan Neredox turut serta.
Hebat. Sebelas naga dewa plus ayahanda Paradox dan lima Tatsuniken unggulan hampir tidak bisa menyamai semburan tunggal Khamos. Kami perlahan terdorong ke belakang. Aku sungguh berharap kalau saja aku bisa melipatgandakan semburanku jadi ratusan, seperti Kagebunshin no Jutsu.
Tunggu sebentar.
Aku merubah diri menjadi manusia. Ayahku melirikku, menyiratkan pandangan protes, tapi aku menyeringai iseng.
"Tajuu Kagebunshin no Jutsu!"
Ratusan klon diriku menyebar, dan aku berteriak pada mereka.
"KALIAN SEMUA! JADILAH NAGA—DAN BAKAR WAJAH TULANG KERIPUT DI DEPAN!"
Ratusan naga Naruto muncul dari balik kepulan asap, menyemburkan api kuning dengan semburat oranye, jauh lebih banyak daripada yang pernah kulakukan. Perlahan, api Khamos terdorong. Aku memerintahkan bayangan-bayanganku untuk menyembur lebih keras.
Kami menang. Api Khamos tergulung bersama api-api naga-naga dewa dan kami, menyembur dirinya sendiri. Itu bakalan jadi momen yang sangat bagus kalau saja api bermacam warna itu tidak menembus tubuhnya dan melalap udara hingga ke awan, memanggang langit.
Droconos meraung frustasi. "Percuma."
"Kalian tidak bisa mengenainya," ayahku tiba-tiba muncul di sebelahku. Ratusan bunshinku buyar, aku jatuh terduduk. Jika tidak ada Kurama dalam tubuhku yang turut menyumbangkan sejumlah besar chakra, aku pasti sudah pingsan. Yondaime Hokage tersenyum, kemudian mengacak-acak rambutku. "Yang barusan itu heroik sekali, Naruto."
"Makasih," jawabku hampa. "Tapi Yah, nggak ada artinya kalau Khamos tidak bisa dikalahkan ..."
KERJASAMA, ucap Khamos. MEMANG BISA MENYELESAIKAN BANYAK MASALAH. TAPI, TIDAK SEMUA.
Khamos mengayunkan tangan kirinya secara diagonal ke kami. Lima jarinya menggores langit, lengan sebesar satu blok kota itu mendesing di udara, membawa hawa panas tak terkira. Beberapa detik kemudian, daratan menjeblak-jeblak, seolah lempeng bumi bergeser jutaan kali lebih cepat. Tebing raksasa dan jurang dadakan muncul tanpa kenal aturan, gempa bumi hebat mengguncang tanah. Kami nyaris terpencar-pencar.
Sang Hampa menatap ke selatan. Matahari sudah tinggi di atas, tetapi cuaca masih mendung tertutup awan gelap Khamos. Raksasa itu membuka rahangnya, memercikkan cahaya api berwarna merah tua. Mataku membesar.
"Tidak," Ardhalea memekik tertahan, suaranya meragu. "T-tidak!"
Dalam lima detik, aku mengerti maksudnya.
Khamos menembak lurus ke selatan. Kami hanya memandang tanpa daya ketika cahaya itu meluncur dengan kecepatan yang mempecundangi peluru meriam, menghalau awan-awan dan jatuh di suatu tempat puluhan kilometer di sana. Ledakan. Getaran merambat. Gelombang angin menyebar.
Renynola jatuh terduduk. Akahana melepaskan pegangannya dari sabitnya. Neredox dan ayahku memandang ledakan itu tanpa berkedip. Aku hanya bisa berharap kalau Sasuke, Itachi, dan Demetra sudah mengungsikan semua penduduk.
Korigakure telah binasa.
MATI SATU, suara Khamos berdengung di telingaku, berdentum-dentum di kepalaku. Aku mengepalkan tangan begitu keras sampai-sampai kedua lenganku terasa mati rasa, memandang naga itu dengan tatapan benci sekaligus heran.
"AKAN KUBUNUH KAU!" Aku melompat tanpa perhitungan, mengumpulkan inti Raiton dengan dikelilingi elemen angin dan api. Aku menumbuhkan sayap dan tanduk, mempercepat akselerasi, terbang lurus ke perut Khamos. Naga kolosal itu membuka mulut dan menembakkan sesuatu.
"NARUTOOO!"
.
.
.
.
.
WAKTU AKU membuka mata, aku tidak bisa mengetahui apakah itu hari yang sama atau tidak.
Tapi ada satu yang bisa kupastikan: aku sedang bermimpi. Kurasa, kemungkinan begitu. Soalnya, sekitarku tampak begitu terang.
Kemudian, aku melihat sosok yang tidak asing. Lelaki itu mengenakan jubah bermotif garis terusan berwarna abu-abu dengan latar belakang cokelat seperti warna kulit pohon, yang sudah compang-camping, robek di sana-sini. Sepatu perangnya berantakan—satu solnya rengkah dan dia menyandang wadah senjata yang rusak dan sudah kosong. Wajah tirusnya menatapku datar. Dia terlihat seperti manusia biasa kalau kau tidak memperhatikan sepasang tanduk berulir di kepalanya dan sayap yang terbuat dari api di punggungnya. Kaki kirinya buntung separuh. Sebagai gantinya, dia menggunakan sebuah tongkat dari kayu yang entah apa namanya.
Aku mengusap mata, hampir tidak percaya.
"Deavvara."
Ia mengangguk sinis. "Coba lihat apa yang kau lakukan."
"Dimana ini?" Tuntutku. "Aku—harus segera kembali! Khamos menghancurkan semuanya!"
"Nanti dulu," cegahnya, "kau tidak bisa pergi begitu saja. Ada beberapa hal yang harus kusampaikan. Ini eksistensi terakhirku, dan kau sedang berada dalam keadaan lemah sekarang ... makanya aku bisa menarikmu dari alam bawah sadarmu."
Aku mengibas tangan. "Jangan bertele-tele!"
"Sudahkah kau memecahkan sandiku?" Selidiknya tanpa menghiraukan situasi. Aku menggeleng.
"Kuminta Ardhalea memecahkannya ..." aku menggaruk kepala. "Tetapi Khamos muncul sebelum kami sempat memikirkannya lebih lanjut."
"Khamos, ya," geram Deavvara. "Dia bangkit lebih cepat dari yang kukira."
Aku menghela napas. "Dia luar biasa merepotkan. Hei ... dari yang kukira? Maksudmu ... jangan katakan kalau kau telah menduga bahwa Khamos akan bangkit!"
Deavvara menepuk dahi. "Itulah maksudnya, Uzumaki! Itu maksud pesanku! Ah, sudahlah. Ardhalea pasti bisa memecahkannya suatu saat. Sekarang, lebih baik kubeberkan semua yang kutahu tentang ramalan itu—Ramalan Besar Shinjuu dan ramalan Shinjuu mengenai nasib Uzumaki, Uchiha, dan Ootsutsuki."
"Maksudmu ..."
Lelaki blasteran naga-manusia itu mengangguk cepat. "Aku telah memikirkan ramalan terbaru dari Shinjuu itu sejak kau mengutarakannya. Aku terus memikirkan siapa yang dimaksud takdir, seorang Uchiha, seorang Uzumaki, dan seorang Ootsutsuki. Kutukan batu. Kehampaan. Semuanya. Aku mengait-ngaitkannya dari Ramalan Besar, kemudian mencari tahu dari sumber sejarah. Aku sampai pada satu kesimpulan."
"Berapa persen kesimpulan ini relevan?"
"Tumben kau pintar," gerutu Deavvara. "Kira-kira delapan puluh persen. Sekarang, biarkan aku menjelaskannya."
.
.
.
.
"Bagaimana?"
Aku termagu. "Bagaimana apanya? Kau menafsirkan ramalan itu seolah kau sendiri yang mengucapkannya."
Deavvara terkekeh. "Aku memang hebat. Nah, kurasa waktunya sudah menipis. Kau harus segera kembali. Sampaikan salamku pada adik dan ayahku. Itu saja."
"Deavvara."
"Hm?"
"Waktu ledakan terakhir Nyx itu," aku menimbang-nimbang. "Apa kau memang benar-benar sudah mati?"
"Secara teknis belum," jawabnya cepat. "Sesungguhnya, aku menggunakan momentum ledakan itu untuk memindah tubuhku sejauh mungkin. Tapi luka sebaran ledakannya dan luka yang dihasilkan Nyx terlalu parah. Sebenarnya, aku masih hidup sampai detik ini, berada dalam keadaan koma. Tubuh ragawiku berada jauh sekali dari Tsuchi no Kuni, terlempar ratusan kilometer. Aku membangun kesadaran terakhirku dan memasuki alam bawah sadarmu. Ini kekuatan terakhirku. Jadi, kalau kemarin-kemarin aku belum mengucapkan salam perpisahan ... aku bisa melakukannya sekarang. Dadah," ujarnya cuek.
"Kalau ini memang yang terakhir," kataku, tidak puas, "kenapa aku yang kau kabari? Kenapa kau tidak langsung mengabari adikmu atau ayahmu? Atau Renynola? Kau benar-benar tega! Mengangkatnya langsung jadi Draco O kemudian meninggalkannya!"
"Aku tidak punya pilihan," ucap Deavvara sendu. "Aku ingin hidup lebih lama, tapi kau tahu kan, itu artinya mengacaukan ramalan dan membahayakan nyawa Ardhalea—lagi. Aku tidak mau kejadian itu berulang. Ardhalea dan Renynola, dua-duanya adalah orang yang paling berharga bagiku. Aku akan melindungi mereka, meskipun berarti hayatku harus dikorbankan. Dan aku membuat keputusan, bahwa aku harus menyampaikan semua ini padamu."
"Akan kusuruh Hermes mencari jasadmu," tekadku, "dan kau akan diobati oleh Parthenon. Kalau hanya koma, dia bisa menanganinya."
Deavvara menggeleng. "Biarkan takdir berjalan, Naruto. Jangan halangi. Jangan mencoba memperdaya ramalan. Tidak. Akhirnya bisa tragis. Jangan cari aku. Biarkan aku mati. Lagipula memang sudah seperti ini seharusnya. Pesan terakhirku, Uzumaki Naruto, Draco P ..."
"Buatlah adikku bahagia."
Aku melongo seperti orang dungu. "Apa maksudmu?"
"Kau harus mencari tahu itu sendiri," Deavvara tak peduli. "Waktuku telah tiba. Aku telah berbuat sangat banyak kesalahan dan kegagalan sepanjang hidupku. Keburukan dan kenaifanku tak terkatakan. Aku selalu merasa bahwa aku bukan orang baik. Maaf, Naruto, semuanya. Aku tidak bisa bersama kalian lebih lama lagi. Aku telah menyelesaikan tugasku."
Mata violet Deavvara berair. Ia menyedot ingus.
Aku maju, mendekapnya. "Kau sudah menjadi kakak yang luar biasa."
Deavvara terisak. "Mungkin."
"Akhirnya," cengirku, "Sang Ortodoks bisa menangis juga."
"Cerewet," dia merona. "Eksistensiku makin memudar. Kau akan lihat aurora ungu sebentar lagi. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Sampai jumpa, Uzumaki Naruto. Aku menantikan dunia baru yang luar biasa dari sana. Kalahkan Khamos untukku."
.
.
.
Aku setengah hati bangun. Maksudku ... yah. Aku ingin bangun, tentu saja, demi menjejak perut Khamos atau membuatnya muntah, atau menonjok hidungnya, tapi perjumpaan dengan Deavvara untuk kali terakhir terasa ... sangat singkat.
Sekarang dia sudah tidak ada selama-lamanya, pikirku.
Hei, tunggu. Aku dimana?
Sebuah kamar. Kamar biasa dengan dinding semen, ranjang kayu, dan lantai keramik. Pakaianku sudah diganti dengan yang baru. Luka-lukaku sudah sembuh. Aku tidak merasakan Kurama di tubuhku. Dengan panik, aku pergi ke luar.
Hanya sebuah rumah biasa. Aku melirik jam dinding, pukul enam. Enam pagi atau sore? Terakhir kali kuingat, aku jatuh dari tembakan Khamos sekitar tengah hari. Aku berlari keluar, dan tidak mendapati siapa-siapa. Ini hanya sebuah desa kecil tanpa penduduk, mungkin semuanya sudah diungsikan. Aku berubah menjadi naga, dan terbang secepat yang kubisa. Hanya satu yang kutuju. Jika Khamos telah meluluhlantakkan Korigakure, dia akan terus ke selatan.
Ke Iwagakure.
Ardhalea, ayahku, Neredox, Renynola, Kazuuto, Akahana, Shion. Sasuke, Itachi, Demetra. Kurama juga. Dimana mereka semua sekarang?
Kupercepat terbangku. Awan badai bergulung makin lebat. Hujan abu vulkanik turun, tapi aku mengabaikan semuanya. Beberapa belas kilometer di depan, aku melihatnya, vorteks angin raksasa dengan sambaran listrik dan lidah api. Tanah padat terburai-burai ke langit. Banjir bandang lahar dingin menghajar daratan, persawahan, dan hutan. Di sekitarnya, cahaya-cahaya kecil berusaha menyerbu si vorteks, tapi tidak menghasilkan apa-apa selain serangan yang tembus.
"Naruto!" Teriak Renynola. Aku menoleh padanya. Dia berada dalam wujud naga, di punggungnya ada dua anak kecil usia sepuluh atau sebelas tahun, berselimut abu dan luka bakar. Mereka terluka, tapi secara keseluruhan baik-baik saja.
"Apa yang terjadi? Berapa banyak yang kulewatkan?!" Semburku.
"Tahan dulu," ucapnya. "Kau pingsan selama tiga hari."
Mataku membesar. "T-tiga ... hari?"
Renynola mengangguk, memasang wajah prihatin. "Kau melewatkan ... lumayan banyak. Sampai kini kami tidak bisa mengenai Khamos. Dia terus bergulir ke selatan."
"Kita harus lindungi Iwagakure," geramku. "Bagaimanapun caranya."
Renynola memasang wajah pilu.
"Apa?" Tuntutku.
Dia menunjuk ke bawah.
Apa yang kulihat adalah: tiga jurang raksasa dengan dasar berupa sungai lava, api berkobar di sepanjang daratan. Bebatuan berserakan seperti kepingan mainan bongkar pasang. Hawa panas memenuhi udara. Aku baru menyadari satu kepingan bangunan raksasa menorehkan kanji berwarna hijau kusam di permukaannya yang berbentuk piringan. Atapnya yang berbentuk kerucut sudah lebur. Semua pohon sudah hangus terbakar.
Jantungku serasa berhenti berdetak beberapa detik.
"Iwagakure sudah musnah tadi pagi," isak Renynola, "anak-anak ini yang terakhir selamat, bersama segelintir manusia beruntung yang lain. Alarm evakuasi sudah dibunyikan begitu Khamos tampak di cakrawala, tapi dia membelah tiga desa ini. Sebagian besar tidak seberuntung itu. Sekarang sudah malam, hampir empat hari sejak Khamos muncul, dan dia meneruskan perjalanan ke Sunagakure."
Aku memandang Khamos, yang tak menghiraukan naga-naga dewa dan teman-temanku yang berada di sekitarnya yang berusaha menyerang dengan kekuatan penuh. Naga buyut itu memperlakukan mereka seperti sekelompok lalat. Beberapa kali seberkas sinar seperti senter mini menghunjam Khamos, tapi tidak berefek apapun. Sepertinya Kakek Tua Cebol si Tsuchikage ikut bertarung juga. Aku ragu obat encoknya bisa menyelesaikan masalah ini. Jika keadaan benar-benar darurat, Gaara pasti juga akan turun tangan.
"Khamos adalah lawan yang kekuatannya tidak bisa ditaksir," desis Renynola. "Namun, masalah terbesar kita adalah kita belum bisa memberikan satu serangan yang menghancurkan sebagian tubuhnya meskipun sedikit. Semua serangan kita menembusnya. Neredox dan Ardhalea-sama masih belum tahu apa yang menyebabkan itu bisa terjadi. Nara Shikaku dan ahli-ahli strategi terbaik di Lima Negara Besar sudah berusaha membantu ... tapi semua spekulasi mereka tidak berguna."
"Deavvara tadi mengatakan sesuatu tentang mengalahkan Khamos," gumamku.
"Apa?"
"Nggak," kilahku. Aku terbang mendekati Khamos. Naga itu menepis ke udara, melemparkan sebuah titik cahaya berwarna perak, tepat ke arahku. Aku bersigap tepat waktu untuk menangkapnya sebelum dia kebablas jatuh seperti meteor. Ia terbatuk, memuntahkan abu, berubah menjadi manusia. Aku menekan perutnya lembut dengan bagian tumpul cakarku, dan Ardhalea terbatuk-batuk hebat. Asap mengepul dari mulutnya. Beberapa detik kemudian, dia siuman, duduk.
"Naruto," panggilnya lirih dengan suara serak. "Kaukah itu?"
Aku meringis. "Wow. Rasanya aku cuma tidur sebentar, dan ternyata sudah tiga hari. Aku ingin sekali menampar naga itu."
"Kita masih belum bisa," gumam Ardhalea. "Aku tidak tahu kenapa."
"Ya, aku tahu," tegasku. Aku berubah menjadi manusia, duduk bersila, mengumpulkan energi alam. Ardhalea tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi aku lebih dulu memejamkan mata. Dia cukup tahu untuk tidak menggangguku, selagi menunggu dirinya sendiri pulih.
Aku memikirkan baris-baris ramalan itu.
Bersama kehampaan kan mengguncangkan dunia, dikalahkan senjata dalam nurani
Deavvara memberitahuku bahwa kehampaan yang dimaksud adalah Khamos. Naga Hampa. Yang pertama dari semua naga. Yang paling kuat. Paling berkuasa. Khamos akan dikalahkan dengan senjata dalam nurani. Deavvara masih belum bisa memastikan apa artinya, tetapi dia memberitahuku bahwa jawabannya terdapat dalam hatiku sendiri.
Ketika aku memikirkan kata nurani, yang muncul di benakku adalah hati. Ketulusan, mungkin? Masa iya Naga Hampa bisa dikalahkan dengan ketulusan? Untuk apa? Kalau sekedar ketulusan untuk merelakan si kakek buyut naga itu pergi selama-lamanya, aku secara pribadi merasa sudah amat sangat luar biasa tulus. Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Daripada dia menghancurkan semua yang kusayangi.
Hei, sebentar.
Apa mungkin ketulusan di sini adalah ketulusan untuk melindungi mereka yang dicintai? Tapi ... aku bertarung bersama Ardhalea. Bersama Neredox. Bersama Renynola. Mereka salah satu jejeran orang paling tulus yang pernah kukenal. Mengapa mereka tidak bisa memperlambat Khamos?
SELAMA MASIH ADA TAKUT DAN RAGU, KALIAN TAKKAN BISA MENGHENTIKANKU, SELAMANYA.
Aku terngiang ucapan naga butut itu tiga hari lalu. Takut dan ragu?
Aku meneguhkan hatiku. Aku tidak bertarung sendirian. Semua orang bersamaku. Semua naga dewa bahu membahu. Bahkan seluruh Lima Negara Besar saat ini mungkin sedang memanjatkan doa untuk Zetatheon, menjadikan serangan mereka makin berlipat ganda dari hari ke hari.
Ini bukan masalah kekuatan. Ini masalah gentar atau tidak hati dan pikiran serta fisikmu dalam menghadapi lawan.
Khamos bukan sembarang naga. Dia amat raksasa, megah, teramat kuat, gelap, dan purba. Kekuatan paling primordial dari semuanya. Wajar jika Dracovetth tertangguh dalam sejarah pun akan dibuat ciut nyalinya.
Tapi aku tidak akan bernasib sama.
Aku membuka mata, Shinzen Enerugi sudah terisi. Aku berubah menjadi Tatsuniken, mengaktifkan Ryooton. Aku meregangkan kelima jari tangan kananku. Di ujung tiap jari, api berkobar. Merah, kuning, hijau, biru, dan jingga. Aku menyatukan mereka di tengah, membentuk pentagram api yang kian besar dengan petir sebagai pusatnya. Aku melakukan Kagebunshin, memunculkan dua klon untuk membentuk Rasenshuriken di tangan kiriku. Aku berputar-putar di udara dalam perjalanan terbang. Khamos masih tidak melihatku.
Hampir bersamaan, aku menabrakkan Rasenshuriken ke jutsu pentagram apiku dan mendesingkannya, menembakkannya lebih cepat dari peluru. Angin memperbesar api. Dalam perjalanan, pentagram api warna-warni itu meraksasa, berputar dengan kecepatan tinggi, melaju lurus ke bahu kiri Khamos. Dia tidak melirik.
Aku menahan napas. Seluruh tubuhku menegang.
Tanpa rasa takut, pikirku. Akan kuhancurkan bahumu, naga buyut.
Jutsu itu membentur bahu kiri Khamos dan menghasilkan suara yang sulit kudeskripsikan. Api lima warna dan jutaan jarum angin membombardir bahu kiri Khamos. Ledakannya kurang besar kalau dibandingkan ukuran tubuhnya yang raksasa, tapi cukup untuk mengejutkannya. Ribuan ton kulit lava, magma, bebatuan, dan jalinan otot-otot mahabesar tumpah ruah, jatuh ke tanah, meledak beruntun. Khamos meraung kesakitan.
Berhasil!
Aku melakukan handseal. Kekkei Touta akan sangat mudah kali ini.
"MAKAN INI, KHAMOS!" Teriakku. Jinton tertembak seperti sinar laser superbesar, dan aku menyasar lutut Khamos, menggeser Jinton hingga mengenai kedua anggota geraknya, memotongnya tanpa sisa. Sendi lututnya goyah, tak sanggup menahan beban jutaan ton di atasnya. Khamos memekik, dan dia ambruk. Tubuhnya menimbulkan suara berdebam ekstra keras di tanah. Bebatuan lava, lapili, dan sisik-sisik obsidian berhamburan. Gempa bumi besar merambat di tanah.
Aku menyeringai menang. Teman-temanku mengerubungiku.
"Itu," kata Neredox, "adalah hal terhebat yang pernah kulihat."
"Bagaimana kau tiba-tiba bisa mengenainya?" Selidik Sasuke. Dia mendadak muncul, tapi aku nggak terkejut. Dia menaiki Styx, dan Itachi menaiki Droconos. Ayahku sendiri menaiki naga masa lalunya, Pyrus.
"Menyerang tanpa keraguan dan rasa takut atau gentar," jelasku. "Itulah kuncinya. Selama ini, kita mendapatkan lawan yang lebih remeh dari Khamos. Khamos adalah yang terkuat diantara yang terkuat. Penampilannya saja bisa membuat siapapun ketakutan. Ketika kita melancarkan serangan untuk pertama kali di kali pertama kita melihat Khamos, wujudnya sudah lebih dulu membuat kita takut walau sedikit. Dan ketika menyadari serangan pertama gagal—karena rasa takut itu—kita dibayang-bayangi kegagalan terus-terusan, jadi serangan berikutnya tak berhasil juga karena dilandasi keraguan."
Ayahku mengangguk mengerti. "Masuk akal."
"Tumben kau pintar," kata Sasuke, entah mengejek, entah memuji.
Aku berpaling pada Eta dan Zeta. "Sekarang saatnya membuktikan gelar kedewaan kalian semua! Hajar Khamos dengan semangat dan kekuatan berlipat ganda!" Aku mengacungkan pedangku yang dialiri listrik berbentuk pusaran angin. Mendadak, sekelebat bola cahaya berwarna perak melesat mengarungi langit, menabrak dada Khamos seperti ledakan nuklir. Ia terjengkang jatuh, berdebum lagi sebelum sempat memulihkan kakinya dengan sempurna.
Ardhalea meregangkan jemarinya. Kedua sayapnya menekuk. Tanduk emasnya berdenyar menantang. Ia menatap ke depan, rambut perak sepahanya berkibar seirama angin. Kimono hijaunya koyak dan sobek kecil di beberapa bagian, dan beberapa gores menghiasi tangan dan wajahnya. Tapi dia tetap terlihat sangat ... cantik.
Gadis berambut perak itu menatapku. "Seperti itu?" Diktenya.
Aku meneguk ludah. "Ya ... seperti itu."
Ia mengernyitkan alis. "Kau kenapa?"
"Eh. Nggak."
"ZETA DAN ETA!" Gerung Kirin. Ia membubung, mengembangkan sayapnya, memancarkan kilat dan bunyi guruh. Udara berbau ozon. Sekujur tubuhnya bercahaya kuning dan biru. "GABUNGKAN RYUUDAMA!"
Ardhalea merubah wujud menjadi naga. Hermes, Pyrus, Parthenon, Styx, Droconos, dan Beleriphon merapat bersama Owatatsumi, Aitvaras, Kirin, dan Quetzalcoatl. Aku berubah menjadi naga, ikut menyumbangkan chakra. Tak lama, bola energi berat berukuran masif tercipta, membuat aura intimidasi yang amat kuat. Khamos memulihkan lututnya selagi berusaha bangkit kembali.
"Jangan biarkan dia!" Pekik Neredox. Ia menyabetkan pedangnya ke bola energi, membuatnya dilapisi api berwarna putih. Kurama, Demetra, Shion, Akahana, dan Kazuuto melakukan hal yang sama.
"Renynola!" Perintah Ardhalea. "Tembakkan Ryuudama ini!"
Gadis itu tergagap. "Aku? Mana mungkin aku bisa!"
"Tentu kau bisa!" Dukungku. "Kau adalah Draco O! Deavvara sedang melihatmu!"
Renynola terdiam, membulatkan tekad. Sayap kebiruannya mulai ditumbuhi bulu-bulu berwarna ungu dengan setrip hitam, mengembang setajam mata pedang. Ia menghunus tombak bermata tiganya, dan kami menyentakkan Ryuudama ekstra itu. Ayahku melempar dua Hiraishin ke Khamos.
"Ini untuk Deavvara!" Pekik Droconos.
BAH! Khamos mengaum, mengguncangkan bumi. SUNGGUH KALIAN TIDAK MENGETAHUI. AKU TIDAK SELEMAH ITU.
Dia mengumpulkan chakra padat di depan rahangnya, sehitam dan segelap jutsu pamungkas Nyx waktu itu. Sekujur tubuhku merinding. Napasku seperti terisap masuk ke lubang hitam itu.
"Gawat!" Seru Itachi. "Dia menggunakan jutsu yang sama untuk meluluhlantakkan sebagian Tsuchi no Kuni sebelah utara kemarin!"
"Kalau begitu saja, aku bisa mengatasinya," cetus ayahku. "Kalian semua, TEMBAK!"
Kami menembak. Ryuudama masif itu meluncur seperti peluru meriam terjumbo di dunia, melewati udara tanpa bisa dihentikan. Khamos melebarkan jangkauan jutsunya. Begitu Ryuudama makin dekat, tepat ketika jutsu itu seakan terpilin dan terisap masuk ke lubang hitam buatan Khamos, Ryuudama menghilang ... dan muncul kembali tepat di belakang punggung Sang Naga Hampa.
Tanpa bisa dihindari, Ryuudama raksasa itu meledak. Kami menyaksikan saat tubuh mahabesar Khamos meluruh dalam cahaya menyilaukan, menyapu segala yang ada di dekatnya, menimbulkan kawah raksasa. Kedua sayap raksasa Khamos jatuh berdebum ke tanah. Otot-otot punggungnya terurai. Selapis demi selapis kulit magmanya robek dan pecah. Naga Hampa jatuh dengan wajah lebih dulu, menyusul ledakan kedua di punggungnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
