Ketika orang-orang melihat sang Hokage berambut putih itu, sebagian besar dari mereka mengatakan, rambut itu mirip dengan Jiraiya-sama, dan dalam benak mereka berpikir 'Naruto adalah titisan Jiraiya, berarti dia memiliki sifat dan sikap yang sama dengan Jiraiya', tapi apakah itu benar?

Chapter 21 (spesial) update! (5 k!)

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre –Yang sekiranya sesuai

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 21

Pertemuan Kage

Desa Konoha, desa yang asri, nyaman dan tentram, masih banyak hal-hal positif yang bisa kita lihat ketika melihat desa elok nan permai tersebut, dedaunan hijau yang berlubang adalah asal muasal nama desa itu terbentuk, ketika dua anak kecil mengumbar idealisme gila mereka tentang kedamaian dunia Shinobi yang sulit untuk digapai, berangan-angan seolah hal itu mudah untuk dicapai, tertawa bersama di sebuah perbukitan yang berakhir dengan pahatan patung Kage, memang kedamaian belum terealisasikan tapi ada satu orang yang bisa melanjutkan angan-angan dan impian bodoh itu, Uzumaki Naruto, Hokage keenam Konoha.

Goresan tinta tipis terbubuh di selembar kertas dokumen penting desa, seorang pemuda terduduk di kursi Kage sambil sesekali membaca informasi perkembangan ekonomi dunia Shinobi. Dia tersenyum, kata-kata di Koran itu lah yang membuat senyuman itu terukir di bibirnya, Ekonomi desa-desa dan negara besar mulai membaik dan berangsur stabil, Konoha mulai menyuplai berbagai bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari untuk kepentingan desa-desa kecil. Naruto membalik halaman berikutnya sambil membubuhkan tanda tangannya, namun perhatiannya teralihkan ketika pintu terbuka dengan sendirinya, dilihatnya Sakura yang tiba-tiba saja datang sembari memasang raut muka khawatir.

"Sakura?"

Tanpa basa-basi lagi, Sakura berjalan cepat mendekati Naruto dan memegang lengan kirinya, dirasakannya kehampaan dari luar lengan putih tersebut. tidak ada apa-apa di dalam lengan itu, hanya kekosongan yang dapat ia rasakan.

"K-kau benar-benar b-bodoh !" air mata mengalir dari pelupuk mata aquamarine Sakura, gadis berambut merah muda itu sudah tak bisa menahan diri lagi, dia tidak boleh bersikap egois dalam keadaan seperti ini, dia sangat khawatir terhadap apa yang telah terjadi pada Naruto, orang yang benar-benar ia cintai. Untuk alasannya, ia tidak begitu memperdulikan itu, yang terpenting adalah…. Keselamatan Naruto.

"Sudah kubilangkan, jangan berbuat seenaknya sendiri… kau itu panutan desa! kau adalah Hokage keenam, tidak seharusnya kau yang langsung turun tangan ke lapangan, aku kan sudah bilang itu berulang kali! Kenapa kau tidak mendengarkannya!"

Naruto hanya diam saja, mengabaikan Sakura bukan pilihan yang terbaik, ia pun menatap matanya yang berkaca-kaca dengan mata Rinnengannya, mata indah dan masih suci Sakura melihat mata yang penuh kebencian serta kegelapan dunia milik Naruto, ketika dua pasang mata itu saling menatap, air mata senantiasa mengalir lagi, kali ini sampai membanjiri pipi Sakura, basah semua pipi lembutnya.

"Maaf Sakura…" sedikit ungkapan singkat yang berasal dari ujung bibir sang Hokage, melumpuhkannya membuatnya ingin mendekap hangat pemuda berjubah putih bertuliskan Rokudaime tersebut. ingin rasanya memeluknya, tapi dia tau… itu tidak mungkin. 'Wanita sepertiku, mana mungkin bisa memeluknya, dia membenciku…' pikir wanita berparas cantik itu sambil menyembunyikan air matanya di balik kedua tangannya yang hampir menutupi wajah secara keseluruhan.

Naruto berdiri dari kursinya, mereka berhadapan satu sama lain, dan secara mengejutkan Hokage yang memiliki sifat dingin itu memeluk tubuh Sakura, dan ia tersenyum ketika ia memeluk tubuh kecil Sakura. baginya, itu adalah pelukan paling nyaman yang pernah ia rasakan. "Maaf Sakura, aku tidak bisa mendekapmu, karena kau tau? aku tidak memiliki dua tangan sekarang," semburat senyum tergambar di wajah sang Hokage. Tanpa melihat wajah Naruto, Sakura menangis tersedu-sedu..

"Aku tau itu… Aku tau itu…. Hiks Hiks Hiks…."

"Mengenai Sasuke-"

"Aku sudah mengetahuinya… kau melawan dia bukan?"

"Iya.."

"Souka, aku mengerti sekarang… akhirnya…" mereka berdua melepas pelukannya, Naruto menatap wajah Sakura yang masih tersisa bekas-bekas air mata yang berlinang di pelupuk mata indahnya.

"Akhirnya?"

"Penderitaannya tentang pembalasan dendam telah berakhir bukan? dia memang cinta pertamaku, dan ketika aku melihat kelakukannya yang semakin hari semakin brutal, aku berpikir sekali lagi, untuk apa aku mencintai pria seperti itu? bahkan dia tidak memperhatikanku sama sekali."

"Kau bisa menemuinya, Sakura.. aku akan mengantarkanmu ke sana. Tempat dimana Sasuke dirawat.." ucap Naruto sambil tetap memasang wajah tenang, menstabilkan dirinya sendiri supaya ia dapat mengendalikan pikirannya yang kosong. Sakura mengangguk, ia ingin menengok keadaan Sasuke yang sekarang, karena sudah lama ia tidak bertemu dengan laki-laki yang notabene adalah cinta pertamanya.

"Tapi sebelum itu, aku ingin menyembuhkan lukamu dulu, Naruto."

Naruto mengerti, dan tidak lama setelah proses penyembuhan yang berlangsung sedikit lama, lumayan menyita waktu, akhirnya mereka berdua menuju ke tempat Sasuke, penjara bawah tanah Konoha.

Naruto dan Sakura telah berjalan di lorong yang sepi, di sebelah kanan dan kiri mereka terdapat sel-sel penjara bawah tanah yang diprioritaskan untuk tahanan kelas kakap, hanya sebagian kecil shinobi yang tau akan penjara bawah tanah itu, maka dari itu penjagaan di sana sangat ketat bahkan ninja hebat pun tidak akan mudah untuk kabur dari penjara dengan pengawasan super ketat tersebut. derap langkah kaki terdengar memantul di dinding-dinding lorong, semakin mendekati ruangan Sasuke, semakin berdebar detak jantung Sakura.

"Perasaan ini…."

Naruto masih berjalan di samping Sakura, tanpa memperdulikan kerisauan yang telah mendera pikiran Sakura, buatnya itu hanya sekedar rasa keingintahuan yang berlebih, atau bisa dibilang dia sangat merindukan Sasuke. wanita berlidah dua, apakah istilah itu cocok untuk wanita yang baru-baru ini menyatakan cinta kepada sang Hokage?

Tiba-tiba saja tangan Sakura menyentuh tangan Naruto, wanita itu ingin mengenggam tangan kuat Naruto, memberi kode kepada sang Hokage agar percaya kepadanya, bahwa cintanya benar-benar tulus. Sakura menunjukkan senyuman manis di bibirnya membuat Naruto tidak tahu harus berkata apa. Dan akhirnya mereka telah sampai di ujung lorong, sebuah pintu telah menunggu kedatangan mereka berdua.

"Ini kamarnya?" tanya Sakura lirih.

Tanpa menjawab pertanyaan itu, Naruto langsung membukakan pintu tersebut. Sakura terkejut, pemuda berambut raven telah duduk termenung di ranjangnya sedangkan di sampingnya duduk Karin sambil menyuapinya dengan penuh kasih sayang. "Ini aaa Sasuke?" satu sendok berisi makanan lembut itu masih Karin suapkan ke mulut Sasuke, namun mulut Sasuke tidak mau terbuka dari tadi, membuatnya kesusahan untuk menyuapinya.

"Ahh, makan Sasuke, nanti tambah sakit lho.." ucap Karin yang memberi dorongan dan semangat untuk Sasuke tentu saja dengan penuh cinta dan kasih sayang seorang wanita.

"Sasuke-kun?"

Karin menoleh ke arah pintu, begitu juga Sasuke.

"Heh? Hokage-sama? dan…?"

Sasuke tampak tidak peduli terhadap kehadiran Naruto dan Sakura, ia masih melamun melihat ke depan tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan, perban terlilit di sekeliling perutnya menutupi lukanya yang cukup parah, perban kotak juga menutupi mata Sasuke yang telah kosong … Naruto dan Sakura berjalan mendekati Sasuke, namun pemuda yang masih melamun itu, tak urung juga memberi ucapan atau sekedar salam sapa antara sesama team 7 yang baru pertama kali berkumpul semenjak kepergiannya 4 tahun yang lalu.

"Aku Haruno Sakura, teman Sasuke…" ucapan perkenalan disampaikan Sakura sambil membungkuk dan memperlihatkan senyumannya, mengekspresikan dirinya bahwa dia benar-benar berterima kasih kepada wanita berambut merah ini, yang telah menjaga Sasuke selama ini.

"Uzumaki Karin. Salam kenal oops." Naruto terkejut ketika dia membawa-bawa nama klannya yang terselip di namanya.

"Uzumaki?" ucap Sakura reflect, karena ia tahu Naruto juga memiliki marga seperti itu, wanita berambut merah muda itu menoleh ke arah Naruto. "Kalian dari klan yang sama?" tanya Sakura dengan ekspresi bingung.

"Huh? Bisa jadi.."

"….." Naruto tidak perduli mengenai klan Karin yang sama dengannya, padahal itu adalah satu-satunya petunjuk tentang kedua orang tua Naruto, tapi Naruto hanya masa bodoh, memikirkan semua itu cuma buang-buang waktu.

Dan perhatian kembali lagi tertuju pada Uchiha Sasuke. pemuda berambut hitam raven itu masih melamun saja, pikirannya kosong, seperti manusia yang sudah tak memiliki tujuan hidup dan ujung-ujungnya mengakhiri hidupnya dengan alasan bodoh, wajah Sakura masih risau dirinya tidak bisa berhenti mencemaskan keadaan Sasuke.

Karin masih berusaha menyuapi Sasuke, tapi satu suapan pun belum masuk ke dalam mulutnya, meskipun begitu wanita tersebut tetap sabar, mengiyakan segala permintaan Sasuke, menunggu kepulihannya sampai kapan pun, tidak ada batasan dalam mencintai, dan ia tahu betul memanfaatkan waktu yang diberikan oleh tuhan ini, benar-benar berharga. Bagi wanita berambut merah itu, waktu bersama Sasuke, adalah waktu terindah yang pernah ia jalani, jadi satu detik, dua detik, tiga detik, tiap menitnya akan sangat berarti baginya, iya sangat berarti.

"Aaaa? Sasuke?" pinta Karin untuk membuka mulut Sasuke, tapi Sasuke masih tidak mau membuka mulutya, ia hanya duduk mematung, lamunannya tidak diketahui sudah sejauh mana, dan untuk itulah, Naruto dan Sakura mulai merasa iba kepadanya.

"Sasuke-kun?"

Melihat keadaan temannya yang sangat mengkhawatirkan tersebut, Naruto ikut campur tangan, sang Hokage berjalan mendekatinya, menatap matanya yang tidak bisa menatap mata Rinnengan miliknya. "Kau melihat apa Sasuke? lihat aku…"

Sasuke menuruti perkataan Naruto, ia menatap wajah dingin Naruto, wajah yang haus akan kebencian, bukankah itu benar? Pembunuh berdarah dingin yang bersembunyi dibalik gelar Hokage.

"Naruto?" kata-kata itu membuat Karin sedikit lega, pasalnya ini adalah pertama kali Sasuke berbicara setelah tersadar dari pingsannya.

"Apa?"

"Aku benar-benar manusia yag tidak berguna…"

"Apa yang kau katakan Sasuke, kau bukan…"

"Diamlah, Karin. Aku memang manusia yang tidak berguna."

Melihat kalimat keputusasaan yang dari tadi terucap dari mulut Sasuke, Naruto senantiasa tak bisa menahan emosinya, tapi untuk apa dia emosi? Karena hal itu hanya membuang-buang ekspresinya, dan sekarang ia hanya bisa tersenyum kepada Sasuke sambil mengambil sesuatu dari kantung ninjanya.

"Aku tidak tau ini apa. Tapi cobalah untuk membukanya, aku menemukan buku ini di rumahmu, maaf aku masuk tanpa izin, karena ada yang ingin aku periksa di sana, ketidak jelasan misi rahasia dan informasi Danzo membuatku harus berputar otak, dan aku memikirkannya hanya untukmu, teman dekatku, ketika kau sudah bisa mempercayaiku atau melakukan hal yang baik minimal menghargai seseorang yang menyayangimu, suatu saat aku akan datang dan mengembalikan semuanya…. ini ambilah…"

Seorang seperti Naruto berbasa-basi, sebenarnya itu bukan gayanya tapi melihat kondisi Sasuke yang mencemaskan, dia tidak begitu memperdulikan sifatnya sendiri, semuanya hanya demi teman yang telah berusaha membunuhnya, berususah payah hanya demi kepentingan yang tidak masuk akal.

Saat Sasuke membuka buku itu,tiba-tiba saja air mata berlinang dari pelupuk matanya, mata dinginnya itu terus menitikkan butiran-butiran air yang perlahan membasahi pipinya.. tidak henti-hentinya ia menangis membaca kata-kata pilu yang tertulis rapi dicatatan sang kakak tercinta, Uchiha Itachi.

'Untuk Sasuke…. Jika kau telah membaca buku ini, berarti kau telah berhasil membunuh kakak, (senyuman) kakak benar-benar bangga kepadamu, kau semakin kuat dan kuat, dan sekarang kau bisa melindungi dirimu sendiri.. kekuatan itulah yang menghubungkan tali persaudaraan kita, kau di dunia dan kakak di sini, di tempat yang jauh, kakak akan selalu mengawasimu dari sini..oleh karena itu bangunlah keluarga Uchiha dari awal lagi, kakak mempercayaimu Sasuke..'

Sasuke membalikkan kertas itu ke halaman selanjutnya sampai seterusnya.

'Hari ini aku bermain dengan Sasuke.'

'Dia terlalu ceroboh, jadi kakinya terkilir…'

'Aku menerima misi yang paling berat yang harus aku jalani disepanjang hidupku, Sasuke? jika kau tau tentang ini? bagaimana?'

'Maaf Sasuke… aku benar-benar kakak yang bodoh.'

'Maaf Sasuke mungkin lain kali…'

'Maaf Sasuke kakak sibuk, tap…'

'Maafkan kakak Sasuke, mungkin lain kali (senyuman)'

Dan ketika buku itu telah sampai di kertas terakhir, Sasuke tak bisa lagi menahan tangisannya, baru kali ini pemuda tersebut menangis sampai seperti itu, dan hal itu membuat dua wanita yang melihatnya tersenyum bersama seakan-akan tangisan itu merupakan penghilang beban yang sekarang ini diemban Sasuke seorang diri, dan Sasuke tidak harus membalaskan dendam lagi, karena ….

Sasuke melihat foto keluarganya, tentu saja bersama kakaknya. Terlihat di situ foto keluarga yang bahagia, mereka berempat tersenyum bersama, dan rambut Sasuke kecil dielus lembut oleh tangan kakaknya. "Aku memiliki kakak terhebat di dunia. Maaf kak, aku…. Untuk kali ini aku akan mewujudkan harapan kakak."

Sasuke mengusap-usap air matanya, dan memakan suapan yang diberikan Karin. "Mm terima kasih Karin…"

"Sasuke?" mata Karin berkaca-kaca, air mata haru menghiasi senyuman kebahagiannya, melihat orang yang dicintainya kembali bersemangat untuk menjalani hidup, ia tidak menyangka, Sasuke yang sebelumnya dingin, dan haus akan balas dendam berubah derastis menjadi seperti ini, ini bagaikan mimpi. Naruto dan Sakura juga tersenyum, mereka berdua benar-benar tau cara menghadapi teman lama.

"Untuk sekarang, tinggal lah di sini Sasuke, aku harus bersiap-siap dipertemuan para Kage, kemungkinan besar aku akan meminjam namamu di sana,"

"Kau benar-benar menjadi Hokage yang hebat"

"Jarang sekali kau memujiku, mungkin ini pertama kalinya."

"Heh? Apa benar?"

Dan ruangan yang sebelumnya sunyi itu telah berubah nuansa menjadi ramai, penuh canda tawa antara dua laki-laki dan dua perempuan yang telah ditakdirkan bersama, ketika semuanya tersenyum dalam kegembiraan, tidak ada yang tahu dari alam bawah sadar salah satu seorang di situ, tercipta senyuman penuh keangkuhan yang misterius, pemilik rambut putih yang asli, "Menarik, kekuatan yang sangat menarik.." seringai White dalam tatapan yang mengerikan.

Keesokan harinya….

Naruto beserta dua pengawalnya, Neji dan Kakashi telah bersiap-siap di depan gerbang kebesaran Konoha, nampak di sana, Sakura, Tsunade, Shizune serta teman-teman Jonin lain yang menyuarakan dukungannya melalui lambaian tangan dan senyuman penuh semangat.

"Hati-hati!"

"Hati-hati di jalan ya, Hokage-sama!"

"Semangat!"

"Naruto?" ucap Sakura sambil mendekati Naruto yang sudah bersiap untuk berangkat.

"Hmm?"

"Semoga berhasil!"

Naruto mengangguk dan meneruskan jalannya, di bawah matahari yang terbit itu nampak 3 bayangan yang berbeda-beda, jubah putih yang melambai-lambai yang dikenakan Naruto, dua bayangan manusia biasa yang berasal dari Kakashi dan Neji, tentu saja mereka berdua memakai rompi Jonin. Dan ketika caping itu ia kenakan di atas kepalanya, sang Hokage keenam sudah siap menghadapi semuanya, termasuk intaian anggota Akatsuki yang terakhir.

Mereka berjalan santai, di sebuah jalan setapak. "Naruto, ada apa dengan tanganmu?"tanya Neji penasaran. Kakashi juga sangat penasaran, namun hal itu telah ditanyakan Neji, ia hanya perlu mendengar jawaban Naruto sekarang.

"Hanya masalah pertemanan…"

"Jangan bilang kau-"

"Semuanya telah berakhir sekarang"

'Naruto membunuh Sasuke!?" pikir Neji. 'tidak mungkin…'

"Dia membuat pertaruhan besar, Sasuke meninggal?" dan Naruto tahu, tapi hanya beberapa orang yang mengetahuinya, biarlah ini berlalu dan terlupakan dengan sendirinya.

Sunagakure.

Gaara beserta Kankuro dan Temari juga sudah bersiap-siap di depan gerbang desa Suna, terlihat Jonin dan masyarakat desa yang memberikan semangat serta dukungannya, tanpa terkecuali. Gaara pun melambai sambil menyongsong matahari yang terbit dari ufuk timur menuju ke tempat pertemuan para Kage, desa Samurai.

Kumogakure.

"Ayo berangkat, Shee, Darui!"

"Ho!"

"Hati-hati Raikage-sama!"

"Semoga berhasil!"

Kirigakure.

Wanita berambut merah kecoklatan telah menerima caping bermakna gelar Mizukage, ia mengenakannya sambil tersenyum, "Serahkan padaku.." ujarnya percaya diri. diikuti oleh dua penjaganya yang setia, Chojuro dan Ao, mereka berjalan menjauhi desa ditemani sorakan-sorakan perpisahan yang terdengar mendengung ditelinga mereka.

"Semangat!"

"Kibarkan nama Kirigakure!"

Iwagakure.

Seorang kakek kecil terlihat memaksakan dirinya untuk menggendong sebuah tas, tapi tak masalah memang dia orang yang kuat, Krkkk… "Aaaaa!"

"Kakek, biar aku saja…"

"Kakek ini, sudah tua masih saja memaksakan diri…" gumam Kurotsuchi seraya melihat kakeknya yang sepertinya sudah tak bisa diandalkan.

"Cerewet kau, Kurotshuchi.."

"Iya-iya!"

"Tsuchikage hajar musuh-musuh Iwagakure!"

"Semangat!"

"Hati-hati di jalan ya!"

'Memangnya ini perang? Pertemuan Kage ini dilakukan untuk membahas perdamaian dunia Shinobi…' batin kakek tua itu sambil berjalan tanpa mengangkut tasnya.

Masih di langit yang sama, tapi berbeda tempat, semua perwakilan telah memasuki rutenya masing-masing menuju ke tempat tujuan, dengan semangat yang menggebu serta kepercayaan diri yang tinggi, mereka melangkah cepat untuk mencapai desa Samurai, tidak ada yang mau datang paling terakhir. Naruto terlihat memimpin perjalanan, Kakashi dan Neji berada di belakangnya. Satu jam lagi, mereka akan sampai ke wilayah desa Samurai, butiran-butiran es lembut mulai berjatuhan di sekeliling mereka, menghujani tubuh mereka tanpa bersuara, Hushhh! Angin menderu keras, menyapu salju-salju putih yang melayang-layang di udara, dahan-dahan berselimut salju adalah landasan untuk berpijak bagi kaki-kaki petualang, Hushhh…

"Sepertinya kita, telah memasuki kawasan desa Samurai.." ujar Neji mengawali pembicaraan tersebut, salju-salju putih bukan halangan mereka untuk berkomunikasi, sedangkan Neji ingin mengetahui apakah rute yang dilalui Naruto sudah tepat?

"Iya, sebentar lagi kita akan sampai ke tempat diadakannya pertemuan Kage." Jawab Naruto tanpa melihat ke belakang, capingnya yang lebar menghindarkan dirinya dari salju yang mengenai matanya.

'Tanpa berbicara sepanjang perjalanan, dia benar-benar berbeda sekarang…' Kakashi merasa perubahan derastis pada sifat Naruto, biasanya saat menjalankan misi bersama team 7, Naruto akan selalu cerewet di sepanjang perjalanan, namun ini sangat berbeda.

Naruto dan dua lainnya mendarat di daratan yang tertutup salju yang tebal, jubah putih Hokage keenam itu terus terhembus angin dingin yang tak bisa berhenti begitu saja, dan dikejauhan mereka melihat tempat tujuan yang sudah berada di depan mata.

"Besar sekali?" ujar Neji terkagum.

"Aku juga baru pertama kali ke sini…"

"Ayo!"

Kemudian mereka menghilang ditelan salju yang semakin lama semakin memperburuk cuaca di daerah yang selalu dilanda musim dingin tersebut.

"Brrr dingin sekali…" gumam Kankuro kesal, pria berpenampilan aneh itu menyalahkan suhu dingin yang menyelimuti wilayah desa Samurai. Dia masih menemani adiknya yang memimpin perjalanan menuju ke tempat pertemuan,

"Jangan seperti itu, Kankuro. Sekitar 30 menit lagi kita akan sampai."

"Baiklah Gaara, aku mengerti…"

Hushhh… Gaara masih memandang ke depan, yang hanya terlihat butiran salju yang bermotif kristal-kristal berukuran nano yang secara lembut menerpa wajahnya, ketika ia terus memandang ke depan tanpa berpikir, ia merasakan kehangatan, sebentar lagi dia akan bertemu dengannya.

"Dia sangat senang, Temari?"

"Iya… sudah lama sejak perpisahan mereka berdua, dan lagi akhirnya si Naruto itu berhasil menjabat gelar Kage, benar-benar diluar perkiraanku."

"Kau terlalu meremehkan anak itu.." dan ketika menerima sebuah kenyataan yang membuat sang adik turut bahagia, wanita yang memiliki gaya rambut khas gurun pasir itu ikut tersenyum dalam kebahagiaan yang tidak ia kenal.

"Iya… aku tau, dia sangat kuat, jika aku melawannya aku pasti akan kalah telak."

"Heh? Bukan kau saja, aku pasti juga akan seperti itu, hanya Gaara yang bisa menandingi kekuatannya.."

Tiba-tiba Gaara ikut dalam pembicaraan singkat di tengah hujan salju yang cukup menganggu tersebut, ketika berbicara tentang Naruto, pastinya Gaara akan memberikan tanggapan paling terbaik tentangnya. "Tidak, aku tidak sebanding dengannya." Ujar Gaara yang membuat Kankuro dan Temari membisu. Hushhh…. Udara dingin yang dirasakan mereka berdua telah lenyap, jika Gaara berkata seperti itu, maka perkataan itu bisa dianggap mutlak, karena dia bisa mengukur sejauh mana kekuatan teman ataupun lawan.

Sedangkan di tempat lain, rute yang menuju ke tempat pertemuan Kage, Ao pengawal Mizukage merasakan chakra yang persis dengan chakranya. "Tidak salah lagi, pengguna Byakugan yang lain…" dan hal itu menimbulkan kecemasan dari dalam dirinya, karena ia ketahui, jika seorang keturuan Hyuga melihat mata Byakugan yang terpasang di mata keturuan lain, itu akan menimbulkan emosi, dendam, dan amarah yang tidak berujung. Dan Ao menyadari semua itu.

"Apa yang harus kita lakukan, Mizukage-sama?" tanya Ao panik. Mereka bertiga masih dalam perjalanan dengan meloncat dari dahan ke dahan pohon lainnya, semakin cepat akan semakin baik.

"Tenang saja, kita ke sana untuk perdamaian."

Si kacamata Chojuro baru pertama kali melihat Ao-san secemas ini, bahkan untuknya ini bukan sesuatu untuk ditonton, ekspresi itu menunjukkan seberapa takut dirinya.

Kumo dan Iwa telah tiba terlebih dahulu, dari ketiga perwakilan lainnya karena jarak desanya dengan desa Samurai tidak terlalu jauh dan mereka tahu betul seluk beluk akses jalan tercepat untuk tiba di tempat bersalju ini.

"Kau rupanya…."

"Lama tidak bertemu, Raikage."

"Hmm…"

Mereka berenam masuk secara bersamaan, sambutan hangat dari menteri pertahanan desa Samurai mewarnai kedatangan mereka di gedung pertemuan tersebut. "Terima kasih sudah mau jauh-jauh datang kemari, silahkan masuk, para pemimpin desa," sambutan ramah tamah itu diberikan cuma-cuma untuk petinggi desa, dan setelah mereka berenam masuk, tiba giliran Naruto, Kakashi dan Neji.

"Kami sudah menunggu kedatangan kalian Hokage-sama, terima kasih sudah mau datang ke sini.." dan dua perwakilan lainnya datang secara berurutan, dan akhirnya mereka semua telah masuk ke gedung itu, namun sebelum masuk ke tempat pertemuan resminya, mereka ditempatkan di ruangan berbeda-beda.

3 cangkir kopi hangat telah tersaji di meja, diperuntukkan untuk Kage dan pengawalnya. Di ruangan 20 x 30 meter itu hanya berisikan meja, kursi dan sebuah penghangat ruangan. Nampak lantai kayu yang berlapis karpet yang difungsikan untuk menyerap suhu hangat. Ketika 3 orang yang hampir memiliki karakteristik sama berdiam di satu ruangan, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi? pikiran Neji berpencar ke mana-mana ketika ia menyadari hal tersebut mengganjal di benaknya.

'Tidak kusangka, kita harus beristirahat di tempat ini, apa yang harus kukatakan untuk mengawali pembicaraan supaya nuansa bosan ini menghilang?' batin Neji resah. Naruto tersenyum dingin, ketika membaca pikiran Neji.

"Kau tidak perlu bersusah payah untuk meramaikan suasana yang membosankan ini Neji, berkonsentrasilah pada misimu untuk menjagaku, awasi seluruh pergerakan aneh dari perwakilan desa lain, kau mengerti?"

"Naruto-sama?"

"Neji… Kakashi-san?" ucapan itu mengindikasikan sebuah kode bahwa mereka berdua telah diawasi dari luar, sesuatu yang sangat sulit untuk dijangkau bahkan Naruto sekalipun.

"Byakugan!" Neji menembus dinding-dinding dan melihat keadaan ruangan lainnya, dan ia melihat hal-hal biasa saja, di satu ruangan ke ruangan lain, namun ketika matanya tiba ke ruangan terakhir, dua mata Byakugan itu saling menatap.

"T-tidak mungkin…" ucap Neji tak percaya.

"Sudah kuduga.."

Di ruangan lain, Ao gelisah. "Ada apa? Ao?" tanya Mei Terumi yang sedari tadi melihat keringat yang mengucur di sekitar wajahnya, padahal di sini suhunya tidak terlalu panas, malah sebaliknya.

"Byakugan itu menatapku, Mizukage-sama."

Ruangan Hokage.

"Aku mengerti… ada Shinobi dari desa lain yang memiliki Byakugan bukan? pada suatu konflik terdahulu, ada perebutan kekuasaan, dimana desa Kirigakure menawarkan perjanjian, jika mereka berhasil merebut wilayah Konoha, maka Konoha harus menebus wilayah itu dengan kekuatan klan Hyuga. Yang berarti klan Hyuga dipaksa untuk bekerja di bawah kekuasaan desa Kirigakure, namun semuanya tidak terima akan hal itu dan menyerang desa Kirigakure secara membabi buta, dan seorang klan Hyuga meninggal di sana, matanya pun menjadi perebutan banyak orang, dan akhirnya berakhir di orang itu… aku tidak tau secara detailnya namun konflik itu benar-benar terjadi di masa lalu." cerita Kakashi mengawali rasa benci yang sudah mendidih di aliran darah Neji, ia benar-benar tidak terima akan perlakuan tersebut, membuatnya untuk tidak mempercayai cahaya, kebencian mulai merasuk merenggut kesadarannya.

Namun tangan Naruto menggagalkan itu semua. Tangan kanan yang kuat itu menggenggam pergelangan tangan Neji, memberi ucapan tak langsung 'Jangan…' ketika mata Byakugan Neji menatap mata Rinnengan Naruto, Neji pun menuruti perintah sang Hokage tersebut dan mengurungkan niatnya untuk membalas dendam, tentu saja membunuh orang yang menggunakan mata Byakugan itu.

"Dengan cepat, dia berhasil menenangkan Neji… perasaan apa ini? apa Naruto memiliki kekuatan semacam itu?"

Tok-tok-tok, ketukan pintu terdengar dari luar ruangan Hokage, setelah dibuka salah satu suruhan desa Samurai memberitahukan bahwa rapat akan segera dimulai, Hokage dan pengawalnya dimohon untuk segera berkumpul di tempat yang telah dipersiapkan.

Mereka bertiga berjalan, dengan posisi seperti biasanya. dan kelima Kage telah berpapasan di salah satu pintu, sedangkan para pengawal diantar ke pintu yang berbeda. tatapan dingin antara satu dengan yang lainnya menghiasi pertemuan itu, dan ketika Gaara melihat mata Naruto yang telah berbeda, pikirannya bercampur aduk, antara bingung dan takut.

"Naruto?"

Naruto tak menyapa Gaara, bahkan senyuman pun tidak ia tunjukkan sama sekali, dan sampailah mereka berlima ke tempat resmi pertemuan Kage, dan diatas terdapat tempat duduk pengawal yang digunakan pengawal Kage untuk menyaksikan suasana rapat dari atas. Melihat sisih kejanggalan maupun keanehan yang akan terjadi ke depannya.

Hokage, Kazekage, Mizukage, Raikage, Tsuchikage, telah duduk di kursi yang sesuai dengan lambang negaranya masing-masing, dan disaat itu juga mereka disuruh meletakkan capingnya di atas meja yang rata. Nuansa serius nan mencekam masih terasa di situ, atmosfer yang begitu menakutkan seakan-akan membuat detak jantung berdebar-debar… dan inilah pertemuan para pemimpin desa yang telah ditakdirkan.

"Saya Mifune, moderator pertemuan Kage kali ini… peraturan di ruangan ini adalah tidak boleh menggunakan jutsu dalam bentuk apapun."

Tsuchikage melihat hal yang menarik, dua pemimpin desa yang masih sangat muda. Tergolong sesuatu yang sangat langka menurutnya. "Apakah di desa Suna dan Konoha, sudah tidak ada Shinobi yang kompeten lagi? semacam senioritas atau pengalaman? Sampai menyuruh anak muda seperti kalian memimpin desa sebesar itu… seharusnya kalian di rumah saja, menonton tv atau hal lainnya." Ejek Tsuchikage yang mengawali pembicaraan tersebut.

Naruto diam saja sedangkan Gaara menegur apa yang dikatakan Tsuchikage. "Jika anda berbicara seperti itu, maka anda salah… desa kami menggunakan system yang berbeda dari kalian, kami mengutamakan kecerdikan dan memanfaatkan tenaga muda untuk berbicara banyak sedangkan yang tua kami jadikan penasihat jika sewaktu-waktu kami melakukan kesalahan, kami tidak sebodoh apa yang anda kira, dan desa Iwagakure, masih saja menerapkan system kepemimpinan sepanjang masa, apa tidak ada pemimpin lain selain dirimu, kakek tua?" timpal Gaara yang mengejutkan Naruto. White pun tertawa mendengar teguran keras itu, namun Naruto masih dalam mode serius, ia masih mendengarkan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut pemimpin lain.

"Heh, ini menarik." Ujar Temari yang melihat perseteruan antara generasi tua dan generasi muda tersebut.

"Apa yang dilakukan kakek tua itu!" seru Kurotsuchi yang berusaha mempelankan suaranya supaya tidak menganggu jalannya diskusi.

Mizukage pun ingin tertawa ketika mendengar itu, namun tertawa bukan hal yang sopan untuk seorang pemimpin desa, dengan situasi resmi seperti ini.

"Yang terpenting Hokage! Dimana Sasuke! jangan bilang kau menyembunyikannya!" teriak A marah-marah dirinya teringat lagi akan kejadian adiknya yang diculik oleh Sasuke, seorang Shinobi dari Konoha.

"Apa maksudnya? Apa benar Naruto?" Kakashi juga mulai berspekulasi ketika mendengar teriakan keras yang datang dari mulut Raikage.

"Tenang Raikage, ini pertemuan resmi para Kage, seharusnya anda mengesampingkan pokok permasalahan desa dan menghargai pemimpin desa yang lain."

"Kenapa aku harus menghargai yang lain! Aku tidak terima jika adikku diculik dan disiksa oleh anggota Akatsuki!"

"Sabar Raikage-sama… anda harus mendengarkan Mifune-san untuk menjadi juru bicara pada pertemuan kali ini.." sela Mizukage yang berusaha meredakan amarah Raikage untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, dia hanya menggunakan teriakan, kekerasan dan otot.

"Tugas saya hanya mengatur jalannya diskusi ini, tidak lebih. Dan pertemuan Kage kali ini, kita akan membahas tentang AKATSUKI, mohon kesampingkan masalah lain. Para pemimpin desa yang terhormat." Kata Mifune dengan wajah tenang berusaha mengendalikan diskusi agar berjalan sesuai rencana.

Duarr… serpihan kayu hasil pukulan keras menyebar ke mana-mana. "Ya ampun, dia membuat malu desa kita." ujar Darui sambil memasang wajah santai.

"Bagaimana aku tidak marah jika adikku tidak diketahui keberadaannya seperti ini.!"

Raikage masih melotot ke wajah Naruto, mata Naruto masih terpejam, ia memejamkannya dari masuk ruangan sampai sekarang, dan saatnya yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

"Bolehkah aku berbicara?" ucapnya dengan tatapan yang mengerikan dihiasi mata Rinnengan yang menyala saga, bulatan abu-abu yang menakutkan, dari tatapannya semua orang yang berada di tempat itu langsung terkejut.

"Rinnengan?"

"Tidak mungkin…"

"Sebenarnya berbicara banyak bukan tipikalku, kemungkinan besar aku berbicara banyak karena adanya problema yang menganggu pendengaranku, terutama Raikage… anda tau kan? ini pertermuan resmi dan untuk pertama kali desa Samurai sebagai desa netral/penengah dari 5 negara besar bersedia meminjamkan tempatnya untuk diskusi kita, membahas AKATSUKI yang semakin hari semakin membuat kacau dunia Shinobi, sebagai orang tua di sini, anda harus memberikan panutan bagi para pemimpin lain, bukannya berbicara membabi buta dan seenaknya sendiri… tata krama dan kesopanan anda nol besar, dan anak muda seperti saya dan Gaara mengetahui itu, sulit untuk bersikap sopan terlebih lagi jika terhadap pemimpin seperti anda…"

"Sialan kau bocah!"

"Heh? Kasar sekali kata-katanya, apa tanggapanmu A? dihina dan dicaci oleh Shinobi muda yang belum tau mengenai peperangan seperti dia" Tsuchikage malah memprovokasi Raikage agar menyelesaikan masalah di tempat, bukannya menasihati salah satu diantara mereka. dan pertemuan ini semakin berantakan ketika tangan besar Raikage sudah berada tepat di wajah Naruto.

Dashhh!

"Rasakan ini, bocah!" Naruto terpental jauh dan menabrak tembok sampai tembok di belakangnya hancur. Melihat itu Kakashi dan Neji turun tangan, mereka berdua berusaha menyerang Raikage, namun dua pengawal Raikage tidak kalah cepat, dan mereka sudah menghadang Kakashi serta Neji supaya tidak menyerangnya.

"Hokage-sama!?" teriak Mizukage khawatir, dia menilai Raikage terlalu berlebihan dan melakukan hal seenaknya sendiri.

"Naruto?" Kazekage Gaara juga mencemaskan keadaan Naruto yang terkena pukulan maut Raikage dan menghantam dinding di belakangnya dengan keras.

"Keterlaluan…" ucap Neji cemas.

"Dia yang berani berbicara seperti itu di depan Raikage kami.." bela Shee yang menangkis kunai Neji Mereka terlibat duel singkat. Kakashi pun juga demikian namun serangannya berhasil ditangkis Darui.

"Raikage-sama? di sini tidak diperkenankan untuk menyerang atau melukai pemimpin dari desa lain…" tegur Mifune tegas.

'Ini semakin menarik saja' batin kakek tua cebol yang mencoba memperkeruh suasana itu, tujuannya adalah untuk membatalkan diskusi ini, karena dia hanya ingin berperang.

Tapi semua mata telah tertuju pada kursi Hokage lagi, mereka yang melihat seakan-akan tidak percaya, bahwa Naruto masih duduk tenang di sana, tidak ada gangguan yang mengusik sedikit pun. Senyuman dingin ia perlihatkan. "Maaf Mifune-san, terpaksa saya menggunakan jutsu untuk mengelabui Raikage."

"Apaa! Sialan kau bocah!" seru Raikage yang tidak terima dipermainkan oleh anak kecil. Kakashi dan Neji merasa lega bahwa Naruto masih dalam kondisi baik-baik saja, sedangkan kubu pengawal Raikage kecewa dan kesal akan sandiwara yang dimainkan Hokage.

"Kembali Kakashi-san, Neji." perintah Naruto, dan mereka berdua berdiri di belakang Naruto untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi lagi. begitu juga dengan Raikage ia kembali ke kursinya sambil ditemani dua pengawalnya. Melihat situasi itu, para pengawal lain juga ikut-ikutan, berjaga-jaga dan mencegah sesuatu hal yang tidak diinginkan jika terjadi sewaktu-waktu.

"Errr…"

"Jadi kau dipermainkan ya? hahaha." Ejek Tsuchikage yang dari tadi hanya melihat perkelahian menarik tersebut.

"Diam kau cebol!"

"Kembali ke topik utama, mengenai AKATSUKI. Sampai dimana tadi, saya lupa?" bahkan seorang Mifune bisa melupakan sesuatu akibat pertengkaran yang membuat pusing kepalanya itu. ia pun menyuruh salah satu anak buahnya untuk membawakan segelas air putih.

Sesudah itu, ia memimpin jalannya diskusi lagi. "Maaf… saya tidak menduga bahwa sesuatu yang gila seperti itu akan terjadi. baiklah kita lanjutkan masalah AKATSUKI."

"Maafkan kami, Mifune-san," ucap Darui sambil menunduk-nunduk di tempat. Mifune mengangguk paham, dan Kazekage mengawali diskusi tersebut. "Anggota AKATSUKI yang telah kita ketahui berjumlah 12 orang diantaranya adalah, Sasori, Deidara, Kakuzu, Hidan, Itachi, Kisame, Pein, Sasuke, Juugo, Karin, Suigetsu, dan Orochimaru. Soal Orochimaru, saya tidak mengetahui jika dia keluar atau belum, yang pasti dia termasuk salah satu anggota AKATSUKI." Gaara mengawali pembicaraan itu, dan ditimpali oleh Mizukage.

"Dan mereka yang meninggal berjumlah 9 orang kecuali Sasuke, Suigetsu, Karin, dan Orochimaru. Itu setau saya." Timpal Mizukage menurut pendapatnya.

"Hal yang membuatku penasaran adalah sebagian besar dari mereka dibunuh oleh Hokage. Apakah itu benar Uzumaki Naruto?" tanya Mifune yang turut membuat Tsuchikage terkaget, karena baru pertama kali ia mendengar informasi ini, Raikage tidak begitu terkejut karena memang itulah fakta yang sebenarnya.

"Tidak mungkin, Hokage yang berhasil membunuh hampir semua anggota AKATSUKI?" Kakek tua itu masih saja tidak percaya terhadap kenyataan, ia seperti tidak berdaya jika dibandingkan dengan Naruto yang telah melakukan segala pencapaian demi kedamaian dunia Shinobi.

"Aku akan menjelaskan detailnya, tapi ingat Hokage, kau masih harus menjawab pertanyaanku mengenai Sasuke.." sela Raikage sambil menatap mata Naruto, Naruto hanya terdiam dan belum ingin membicarakan sesuatu, jika belum waktunya berbicara ia hanya menatap seorang Kage yang berbicara dan menilai dari segi cara bicaranya, seberapa kuat dan cerdas pemikiran pemimpin desa tersebut.

"Sasori telah dibunuh oleh Nenek Chiyo dari desa Suna dan Sakura dari desa Konoha, Deidara dibunuh oleh Uchiha Sasuke dari desa Konoha, Hidan dan Kakuzu dibunuh oleh Uzumaki Naruto dari desa Konoha, Itachi dibunuh oleh Uchiha Sasuke, Kisame dibunuh oleh team gabungan antara Konoha dan Kumogakure yang diketuai oleh si sharingan Hatake Kakashi, Pein dibunuh Uzumaki Naruto….. hanya itu yang aku ketahui…" dan semua orang terkejut ketika fakta itu dikalkulasi dan sebagian besar dari mereka yang membunuh adalah dari desa Konoha.. ini merupakan prestasi yang harus diberi penghargaan.

"Selebihnya aku yang akan melanjutkannya…."

Wajah Naruto yang tenang, dihiasi gemerlap Rinnengan yang begitu mengagumkan terpampang jelas di mata para pemimpin lain dan dari sudut pandang ini (depan), kita bisa melihat Hokage yang sangat disegani.

To be continue

Chapter 21 (spesial) END!

Tentang pembunuhan Akatsuki, saya nurut cerita yang saya buat bukan cerita dari Canon dan mengenai Chapter spesial ini akan muncul disaat-saat yang tidak terduga, jadi tunggu Chapter spesial yang lainnya…

Dan mulai sekarang POW akan update hari sabtu…. Seminggu sekali, jangan lupa ya!

Terima kasih telah membaca sampai akhir…. Berikan rasa terima kasihmu dengan Review, Follow, dan Favorite ya! biar saya semangat untuk selesain fanfik ini!

See you next week!

Parody Scene.

White : Kurama?"

Kurama : Apa?"

White : Aku OC terkeren dan terbaik kan?

Kurama: Njirrr!