Not a FairyTale

Author: Nacchan Sakura

I DO- not own Durarara!. Sadly.

.

.

.

Chap 21: A second chance

.

.

.

A/N: AU / Angst / Shizuo's POV / Drabble / maaf kepada readers yang udah request, karena saya mendahulukan keegoisan saya sendiri.. Fanfic ini dibikin, karena tiba-tiba teringat sama seseorang yang sekarang udah bisa dibilang, ga ada di sisi saya lagi. Ngga, dia ngga meninggal, kita cuma jarang bicara aja, karena suatu masalah.. dan ya, tiba-tiba kepengen bikin yang beginian. Anggap aja fanfic ini ngegambarin isi pikiran aku sekarang.

Maaf jadi curcol.. and hope you like this one. :)

.

.

.

Saat pintu yang besar itu terbuka,

Kau akan pergi dan berjalan menjauh.

Apa suara dan do'a ku,

Akan sampai kepada dirimu di jauh sana?

.

.

.

Hey, arti dari 'hubungan' itu, apa?

Aku bertanya akan hal ini kepada Kasuka kemarin. Ia bilang, hubungan adalah sesuatu yang dapat membuat dua orang tetap bersama dalam satu ikatan. Entah ikatan teman, atau yang lainnya.

Dan ini membuatku berpikir sejenak.

Lalu, apa ikatan yang ada di antara aku dan Izaya?

"Haha, Shizu-chan~ kau tahu, aku membencimu. Kenapa kau selalu saja mengejarku kalau aku datang ke Ikebukuro, sih? Mengganggu saja. Memangnya aku mau melihat wajahmu?"

..Entahlah.

Aku membenci mahluk ini. Ia juga membenciku. Hubungan yang sama, serupa, saling berbalas.

Tapi dulu, semuanya tidak seperti ini.

Ini semua... hanya karena masalah yang sepele dan keegoisan yang selalu menang di atas hati kecil.

.

.

.

Pintu itu telah terbuka,

Kini kau telah menghilang dari hadapanku.

Keberadaanmu,

Akan berubah menjadi uap..

Dan bersatu dengan awan.

Lalu akan turun menjadi hujan yang membasahi kota.

.

.

.

Dulu, yang tahu semua hal tentang aku itu, hanya dia. Dari apa yang menjadi aibku, rahasia yang aku sembunyikan dari semua orang, bahkan—aku yang tak pernah terlihat menangis di depan siapapun—hanya mau menangis depan dia.

Hanya dia yang selalu ada di saat apapun juga. Hanya dia yang selalu membagi tawa dan keceriaannya kepadaku.

Sampai—

"Lalu? Asal kau tahu, Izaya. Aku membencimu. Aku bahkan sudah malas berteman denganmu."

..Mungkin, itu untuk pertama kalinya, aku sudah membuat dia menangis.

Kenapa aku tidak bisa memaafkannya?

.

.

.

Tanpa aku sadari,

Aku akan menjadi dewasa.

Dan mulutku,

Akan bisa membuat kebohongan yang manis.

.

.

.

Sudah berapa lama?

"Halo, Shizu-chan. Kau tidak bosan mengejarku terus? Aku sih, bosan melihat wajahmu~"

Sudah berapa lama aku tidak berbicara, tertawa, dan menangis bersamanya?

"Kenapa diam saja? Hey, kenapa kau? Sudah bodoh, malah terlihat tambah bodoh, tau."

Apa yang sebenarnya kurasakan?

Benci?

..Bukan.

"E-eh?" Izaya terdiam sesaat. "..Shizu-chan? ..k-kau menangis?"

Maaf, ya, Izaya.

Maafkan aku.

"Maaf... maaf.."

Yang sebenarnya selalu kurasakan bukan benci.

Aku hanya kesal.

Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri,

Yang waktu itu tidak bisa memaafkan dirimu.

"Maafkan aku..."

"H-hey, sudahlah Shizu-chan.. kenapa kau menangis sih? Kenapa kau meminta maaf?"

"Maaf.. maaf.."

Yang selama ini aku inginkan, adalah untuk memeluk dirinya.

Bisa melihatnya tersenyum dari jauh saja sudah cukup,

Tapi aku mengharapkan lebih.

Aku ingin ia berada di sisiku. Seperti dulu lagi.

Aku ingin ingat kembali, seperti apa perasaan saat aku tertawa dan menangis bersamanya.

Apa masih sempat?

"Shizu-chan.. berhenti menangis, bodoh!" Izaya menangkat wajahku, dan yang kulihat adalah sosoknya yang juga menangis.

"Izaya.. maafkan aku.."

"Bodoh! Bodoh! Kenapa kau meminta maaf? Aku.. aku tahu, aku memang sudah membuat kesalahan yang besar. Aku tahu, pasti sulit untuk memaafkanku. Tapi.. Shizu-chan tidak perlu menangis."

Aku menatap wajahnya yang tersenyum tipis. Jari-jarinya perlahan menghapus butiran air yang mengalir di wajahku.

"Maafkan aku, Shizu-chan."

Apa masih ada kesempatan?

Apa masih bisa jadi seperti dulu lagi?

"Ayo ulang semuanya dari awal, Shizu-chan."

Masih ada, masih ada.

Jika aku berkata jujur, jika aku lebih jujur sedikit lagi saja,

Kesempatan itu akan selalu ada di hadapanku.

"Terima kasih, Izaya."

The End