What Dreams May Come.
Remang berhiaskan kabut tipis; latar suram di sepanjang mata memandang...
Clak...
Sol sepatu terus menapak dataran air, berulang-berulang-berulang. Berbagai ukuran lingkaran gelombang termanifes setiap kali mengayuh langkah, masing-masingnya membesar dan berpantulan, membaur dalam perpaduan dentang detak dari suara...
Jantungnya?
Walau berpetualang tergolong hobi, Motochika mulai mencecap khawatir karena kedua kakinya sudah berjalan ngalor-ngidul cukup lama tanpa kejelasan tujuan.
Entahlah, kesadarannya bisa dibilang nyata. Bahkan kala tangan kanannya menguak kabut tipis di sekitarnya, dapat dirasionalkan sewaktu bulu-bulu halusnya bereaksi terhadap kepekatan udara lembab yang menusuk sekujur pori-pori kulit.
Sejauh ingin mengabaikan detil, pikirannya terlanjur menerapkan sugesti 'realita' dan sedang beradaptasi.
Sementara satu pertanyaan dalam benaknya sampai detik ini...
'KAPAN aku berada disini?'
Penempatan "disini" sebenarnya rancu. Sebabnya, dunia INI terlalu asing untuk dicermati secara logika. Keseluruhan yang tampil pada kasat mata lebih mirip 'alam lain' ketimbang arti normal sebuah 'tempat' dan satu-satunya kesan yang dapat disimbolisasikannya hanya... abstrak.
Semakin tidak nyaman, instingnya menyebutkan bahwa sepasang mata tengah mengawasinya. Mungkin sedaritadi.
'Oi, oi... Apakah seseorang sedang bermain dengan rasionalku?' Motochika melirik pada kelam keheningan. 'Semacam genjutsu, kah?' praduganya kembali saat menimbang-nimbang pilihan resiko—Tentu di dunia asalnya, dirinya lumayan familiar dengan keunikan ninja.
Tapi daripada bertele-tele akan rasio, ada benarnya mencoba.
"HOI!" teriaknya.
Suaranya menggema, seiring kepul asap tipis terus terdorong keluar dari rongga mulutnya bersama alur hembusan nafas.
"Aku tahu kau disana!" tantangnya dikemudian; pandangan waspada dilayangkan ke sekelilingnya. "Biar kupertegas, kau memilih target yang salah, bung!"
Suaranya lagi-lagi menggema, terdengar panjang; vokalisasi miliknya seorang.
"Sungguh menyebalkan..." gumamnya, gara-gara tidak mendapatkan responsi apapun.
Tapi kali ini...
"Khufufufufu~"
Tanggapan tawa tiba-tiba berkumandang.
Motochika spontan berhenti ke pose bersiaga; bukan tersebab anggapan remeh yang tersirat dalam lantunan tawa tersebut, melainkan pengenalannya terhadap 'khas' dari nada arogansi disana.
Benar, 'arogansi' yang memprovokasi sepanas mentari, betapa meradiasi.
"Salah? Aku?"
Ucapan seakan balasan dari tantangan tadi, memaksanya memicing penuh antisipasi. Sementara kedua gendang telinganya bergetar mengikuti resonansi yang berasal dari...
'Belakang...-ku?'
"...!" Motochika pun memalingkan badan dan—
Sepasang iris coklat menyambutnya, mengembalikan sorot pandang miliknya.
Sekejap saja, pita suaranya seperti terjerat—Terlalu terkesima oleh penampilan 'sempurna': Alunan lembaran-lembaran rambut coklat sebatas bahu bersanding keindahan kimono berwarna hijau daun yang melibat postur berwibawa elegansi.
Baginya, seorang Mouri Motonari selalu membangkitkan afeksi dan ragam pelangi dari kebencian hingga penyesalan, bercampur-aduk gairah beserta rupa-rupa muak, juga rindu yang... luas.
Sayangnya, sosok sejarak jengkal dari hadapannya ini TIDAK berdiri sejajarnya literal, melainkan berdiri... terbalik, selayaknya terdapat DUA aturan versi gravitasi.
"Apa yang..." Motochika menapak mundur. Otaknya buntu tentang apa yang disaksikannya—Nyatakah? Ilusikah?
Setidaknya, KINI dirinya bisa menyimpulkan.
"Kau bukan Mouri..." tegasnya secara asumsi, agak kecewa.
'Motonari' tersenyum misterius saat menyeletuk, "Kukira akan membutuhkan waktu lama agar penyesuaian 'teritori' dapat memfleksibelkan otak kecilmu. Dan oh, itu harafiah."
Motochika JELAS membuka mulut, berniat memperdebatkan penekanan "teritori" dalam kalimat yang disebut "harafiah", yang NYATA terdengar menyindir.
Tapi atensinya teralih oleh—
"WOOOOOOOSSSHHHH!"
Kabut tipis mendadak terdorong ke seputar, membuka seutuhnya dunia 'abstrak'.
Dan terlihatlah bahwa pijakannya selama tadi 'berpetualang' adalah...
'LAUT?! Aku... sedaritadi... berdiri di atas LAUT?!' paniknya, meski tidak melewatkan pengamatan terhadap bentang air berwarna biru sebening kristal yang mempertontonkan kedalaman...
Tidak berdasar?
'Huh?' Melemparkan tatapan ke atas...
Ternyata pijakan 'Mouri' JUGA menggambarkan bentang serupa, dimana posisinya merefleksi posisi si pemilik "teritori" persis kaca.
"Setiap riak gelombang bercorak memori..." terang 'Motonari'. "Sengaja kuciptakan tempat tanpa distorsi, dimana posisiku tersamar dari mereka yang terpaku ironi."
Motochika mengernyit.
'Distorsi...? Mereka? Lalu apa INTI dari 'teritori' terhadapku...?' tanyanya dalam hati, berharap mengerti topik yang diusung 'Mouri'.
Masalahnya, kata-kata puitis tersebut MASIH di luar penalaran—Okelah, kesampingkan "teritori" terhubung "memori", fokusnya lebih berpokok pada...
"Dengar. AKU tak perduli, sungguh. Kalau kau ingin membunuhku dengan ide menggoyahkan kewarasanku, kusarankan kau antri dalam barisan karena aku sedang 'misi' dan teman-temanku membutuhkan partisipasiku. Jadi suka atau tidak, itu tawaranku."
'Motonari' mengangkat kedua alisnya, memasang raut tertegun sekaligus memaklumi.
"Kenapa aku harus repot-repot melakukan itu? Membawamu kemari merupakan resiko;" sanggahnya. "Inisiatif ini terjadi dikarenakan kami terhubung DIA. Mereka terdapat dimana-mana, semakin kuat dan memperoleh jati diri, seiring DIA memfasihkan transisi atas kekuatan supremasi yang bukan miliknya."
Motochika habis kesabaran. "MOURI! Berhentilah bertele-tele!" serunya segera. Tidak mau memusingkan pengertian "kami" dan siapa yang dimaksud "DIA".
Kepentingannya adalah menuju Korea, secepatnya!
Tapi dipikir-pikir...
'Bukankah aku seharusnya berada di pesawat? Pakaianku juga serupa tadi. Jika Mouri Motonari yang ini dikatakan sudah mati... Maka, 'posisiku' saat ini...?'
Sedetik berikutnya, konklusi baru terlintas. 'Sebentar, tadi dia bilang... kekuatan supremasi? Jangan-jangan "DIA" adalah...'
"Ohhh~ lihat, dirimu bergolak~" sela 'Motonari', menunjuk permukaan laut pijakan si bajak laut. Entah bagaimana air disana tahu-tahu berombak tanpa seduhan angin.
"Huh?" Mata kanan Motochika menyipit tepat mengikuti poin, yaitu...
"EH?!" teriaknya panik bukan kepalang sewaktu ramainya kisah lama semasa hidupnya—SEMUANYA tergambar pada pergerakan gelombang bergulung arus. Penampakan masing-masingnya tidak terkecuali dari yang sudah terlupa... sampai yang sengaja dilupakannya.
"Memori, memori, memori..." kata 'Motonari', terkesan mendramatisir selama kedua matanya asyik menebak-nebak saat menyatukan sepenggal demi sepenggal cerita bak permainan puzzle.
"WOI! Itu privasi!" seru Motochika seketika sebagian adegan kisah yang sukses terangkai diputar ulang pada permukaan laut pijakan 'Mouri'. Buru-buru saja kaki menendang ombak-ombak di dekatnya, berharap memutus rangkaian 'memori' yang tadinya sempat terlukis.
"Bagaimana kau melakukannya?!" tanyanya di detik jeda meredakan enggah sehabis lari pontang-panting tidak jelas demi mengejar-ngejar ombak.
'Motonari' menanggapi sesantai mengacuhkan—Mengalihkan tema ke konten 'inti'.
"Genbu, Suzaku, Seiryu, Byakko, Yin dan Yang... Dua sisi—berbeda, namun satu ikon... seperti koin."
Lalu mengayunkan tangan kanan.
Seiringnya...
Kemilau gugusan bintang tiba-tiba bermunculan. Keajaiban empat dimensi tesebut terpampang dalam kedalaman kedua versi bentang lautan dan mereka berdua seolah melayang dalam ruang hampa. Luar biasa.
"Andaikan sebuah tata surya, tidak terhitung jumlah bintang sebagai pusat rotasi;" lanjutnya. "Contoh termudah: Matahari, dimana planet-planet mengitari bola gas berpijar terang ini."
Dengan penjurusan "ini", 'Motonari' menggerakkan jemari seperti aksi seorang tukang sulap... menarik sebuah bintang, yaitu 'Matahari', keluar dari permukaan laut pijakannya.
Motochika menginterupsi, "Baiklah, pusat rotasi; Dokuganryuu—KEDUANYA—bisa dikatakan biang problema. DIA juga Seiryu, aku mengerti. Kemudian hubungan antara 'dua' dan 'satu', kenapa harus begitu dan apa solusi untuk menghentikan salah satunya?"
"Kalau hanya menghentikan, cukup menghabisi saja, benar?" jawab 'Motonari'. "Sudah barang tentu takkan semudah itu. Terdapat 'induksi' yang berujung 'interaksi', menciptakan keselarasan atau malah kehancuran. Inilah kompleks perseorangan."
Kemudian jemari menarik jajaran 'planet', diikuti keterangan, "Dari semua planet, yang terdekat dengan Matahari akan menerima degresi terbanyak."
"Byakko..." sambung Motochika, menangkap pengandaian 'planet' sebagai "perseorangan".
'Motonari' mengangguk sabar seraya meneruskan sesi 'kuliah', "Dan setiap planet berputar pada porosnya, menyebabkan perubahan siang dan malam."
"Yin dan Yang..." timpal si bajak laut kembali.
"Sayangnya, Yin dan Yang memiliki banyak arti intrinsik yang mengarah ke sistematis fraktal;" argumennya. "Terdapat pola-pola berulang yang menciptakan 'induksi' sekaligus 'interaksi' dan tidak bisa diganggu gugat tersebab lambang mereka sebagai 'keseimbangan'."
Motochika ikut berargumen, "Keseimbangan... bukan berarti sepaham—Melengkapi, namun berperan oposisi."
"Tepat."
"Tapi bisa saja sekedar 'rival', benar?" cetus Motochika.
"Hm," dengung 'Motonari' sewaktu merengkuh 'Bumi' , berlanjut membelahnya sehingga lapisan-lapisan daratan terlihat. "Kuberikan contoh tentang diferensiasi; lihatlah pusat Bumi, core berupa magma sepanas Matahari. Ada kalanya sebuah planet musnah dan lahir menjadi bintang, sampai bintang itu padam dan berubah menjadi sebuah planet kembali. Itu siklus yang tidak terelakkan."
Motochika manggut-manggut.
"Persamaan 'core' adalah jiwa," kesimpulannya. "Sedangkan 'kulit' dari sebuah planet berarti tubuh dan pikiran. Maka perlambangannya seperti... reinkarnasi? Tapi 'induksi'... aku tidak mengerti."
'Motonari' menunjuk 'alat peraga' kembali.
"Magma merupakan salah satu dari 'induksi' dan 'interaksi' yang terjadi adalah gempa; itu intrinsik. Sedangkan core memberikan dampak gravitasi, menyebabkan 'induksi' dari luar." Berikutnya menunjuk 'Bulan'. "Kurasa dirimu mengenal bahwa Bulan berefek pasang-surut terhadap lautan. Disini, 'interaksi' yang terjadi adalah hukum sebab-akibat."
Lalu mengimbuhi keterangan, "Tingkat 'interaksi' setiap kembaran tidaklah berbeda; semua terbentuk dari pilihan."
"Dan kalian...?" celetuk Motochika kala mengunci fokus ke lawan bicaranya yang tersenyum arti 'bingo!'
"Mencapai pada inti, kini?" goda 'Motonari'.
Motochika menggeleng arti 'tidak'. "Mau 'dua' atau 'satu', apalah; apapun urusan kalian tercangkup kami atau tetek-bengek perlambangan, sampai terhadap DIA... Toh kalian sudah mati. Jadi—"
"Aku BISA membantumu, Chosokabe."
Pernyataan dari 'Mouri' membuat Motochika menaikkan alis kanannya seakan bergaya salah dengar. "HA! Kau? Bercanda, benar? Maksudku, ayolah... apa yang bisa dilakukan oleh setan gentayangan sebangsamu?"
"THOSE FUCKERY UGLY SHITS ARE HAUNTING MY ASS!"
Pandangan reflek dilemparkan ke salah satu gambaran di ombak—Memori kata-kata si Hitokiri saat adegan di bathtub di ruangan kamar mandi kapal.
"Ohh?" dengusnya dikemudian. "Sempurna! Kau akan membantuku dengan menghantui pantatnya. Wow! Jadi setelah ini kau akan mendaftar peran kartun di serial Casper? Aku pasti nonton kok di TV kabel, ITU kalau kami gagal pergi dari dunia masa depan ini."
'Motonari' pun memijati pelipis. "Tampaknya dapat kutebak kenapa dirimu dan rival-mu selalu bersilang jalan."
"Kuterima sebagai pujian," balas Motochika secara sarkastis. "Tapi TIDAK, Mouri-niisan. Permasalahanku dengan Mouri si Scallywag seratus persen lebih dangkal dari situasi... teritori-mu. Sori. Bukannya aku meremehkan, bagaimanapun kami MEMANG membutuhkan bantuan. Sebaiknya apapun yang hendak kau proposalkan, cepat keluarkan saja. Waktuku tak banyak."
"Bukankah kubilang bahwa kami terhubung DIA?" tekan 'Motonari'.
"Hm?" Motochika masih menimpal, "Kukira Seiryu—"
"DIA berbeda," potong 'Motonari'. "Asal 'interaksi' yang dimilikinya diperoleh dari 'induksi' di luar eksposisi."
Motochika pun memicing kala mengingat kata-kata 'Mouri' di awal pertemuan...
"Inisiatif ini terjadi dikarenakan kami terhubung DIA. Mereka terdapat dimana-mana, semakin kuat dan memperoleh jati diri, seiring DIA memfasihkan transisi atas kekuatan supremasi yang bukan miliknya."
"INI pertanyaanmu tentang 'kenapa'," ucap 'Motonari' sambil menarik jajaran asteroid yang dianimasikan merotasi 'Matahari'. "Saat gravitasi berkembang jauh, berbagai ukuran asteroid dapat terbawa dan jatuh sebagai komet."
Motochika BARU menyesuaikan...
"MEREKA DIMANA-MANA! MESSIN' MY BRAIN DAN FUCKING EYE INI MEMAKSAKU PERCAYA!
I CAN'T ESCAPE!"
"Whoa! Tunggu, secara literal... kalian adalah jiwa, benar?" tukas Motochika tepat ombak-ombak terbentuk di seputarnya, berpadu memori miliknya. "Jika aku disini... berarti aku—sebentar, lewatkan aku—Intinya, jiwa-jiwa bakal terkoneksi gara-gara bajingan itu."
"Sejujurnya aku hanya ingin lepas dari mereka—kegiatan per-yakuza-an—Dan mendalami kehidupanku sebagai... diriku."
"Yakuza..." lanjutnya selama potongan-potongan gambar tercetak silih berganti pada setiap ombak. "Bahkan DIA sebelumnya mampu membunuh satu kompi pasukan seorang diri..."
"Bola mataku yang ini sudah bukan lagi karya Tuhan. Milikku berada di tangan Ieyasu, pemuda yang bersikap selayaknya kekasih dalam versi maniak, mengikat jiwaku.
Dan pria itu... Nobunaga memberikanku mata baru, satu mata untukku; INI tanda kematian, kekuatan untuk membelenggu fokusku. Aku... ingin membebaskan diri."
"Pangkal dari semua," lanjutnya kembali. "Oda Nobunaga membelenggu fokus Hitokiri Dokuganryuu dengan sebuah mata, pertukaran. Dan Tokugawa Ieyasu di dunia ini—Pernikahan itu; Ieyasu sudah mati, benar?"
Kemudian Motochika menelaah baik-baik gambaran-gambaran baru yang timbul-pudar, memori tentang percakapannya dengan Ishida Mitsunari di kapal milik Sparrow.
"Dengan kisahmu, ditambah kejelasan dari kembaranku tentang kedua Tokugawa Ieyasu, juga perkiraan dari Zabii tersebab berita-berita terbaru tentang perkembangan situasi yakuza, bahkan menyangkut Hideyoshi-sama sendiri...
Kesimpulannya: Oda tidak akan membiarkan dokuganryu-nya menikmati sebuah 'hadiah' sebebas itu. Apalagi sudah memiliki mata Iblis, YANG pastinya memiliki suatu MISI."
"DIA adalah magnet bagi kalian yang mencarinya untuk membalas dendam..." Pikirannya pun kalut saat menghubungkan, "Kalau DIA mati, Oda Nobunaga bakal memperoleh segalanya. Gawat!"
"Ohh? Kenapa dirimu berpikir, Oda Nobunaga bakal memperoleh segalanya?" cetus 'Motonari', mengintrospeksi selayaknya psikiater.
Baris gigi Motochika pun berkerat disertai desis, "Karena Oda Nobunaga yang kutahu sanggup mengendalikan jiwa!"
Dan disitulah; walau melewatkan kemustahilan tentang 'Oda' yang menghabitat di dunia ini, kekhawatirannya berlipat-lipat sewaktu mengingat...
"Aku... terikat padanya,"
"Jalan yang kupilih dengan pilihannya... dia—diriku di masa lalu—Aku terikat buah karma yang sama."
"Karma... DIA mempertahankan mata terkutuknya untuk menyamai level Dokuganryuu karena—"
Motochika menggantung kalimatnya seketika seringai merekah menghiasi wajah 'Mouri'. Sekejap saja, penampakan itu nyaris men-split wajah rupawan itu ke versi yang... menyeramkan.
"Dengan keberadaanku di 'teritori'-mu, kau tak bermaksud menggunakan—"
"Diriku tidak serendah itu;" potong 'Motonari' dengan penampakan kelam, cukup merendahkan. "Resiko dari 'induksi' kita, siapa tahu 'interaksi' apa yang terjadi. Tapi aku mengerti keterbatasan kita—Kuharap dirimu pun mengerti APA yang kupertaruhkan disini, untukmu."
'Untuk...ku?' pikirnya kala memperhatikan seksama lawan bicaranya dan Motochika tersentak seketika jemari tangan kanan 'Mouri' menjamah pipinya.
'Dingin...'
Basuh pertemuan kulit serupa hembusan angin bertemperatur es, membuatnya reflek memegang pergelangan tangan ramping itu untuk memastikan kepadatan; INI sepatutnya tidak terduga tersebab diferensiasi tentang APA penggolongan dirinya, disini.
Ngomong-ngomong... berapa lama tidak bersua dengan rival-nya? Dunia masa depan ruwet dengan aturan ini-itu; kejenuhan serupa mengecap buah Simalakama—Ingin bertemu, namun lika-liku mencangkup yakuza lebih menyita konsiderasinya.
Sayangnya, 'Mouri' yang ini bukan sosok yang diharapkannya. Ditambah, dirinya masih terpaut dendam demi 'Uesugi Kenshin'.
Ya, sungguh disayangkan.
Sesaat, suara 'Mouri' mengembalikan pokok pembahasan.
"Kami seharusnya berdiam di antara dua dunia, sekarang berkelana di luar eksistensi; yang terikat asa akan mencari mangsa dan menyesuaikan diri dalam pesona angkara murka di tengah tumpang-tindih kesenjangan alam di tanah Nihon ini."
"Oke..." datar Motochika atas perulangan keterangan berunsur puitis. Juga mendalami proposional dari penggabungan "kesenjangan alam", sepanjang jari-jarinya berpaut pegangan dengan 'Mouri', bagaikan kekasih dalam film "Ghost"—Oh, dirinya bakal tertawa nanti.
Tatapan 'Motonari' beralih sayu, senyum berganti formalitas sewaktu berkata, "Datanglah ke kediamanku dan temukan kepalaku."
"Huh...?" Motochika tidak habis pikir. "Dan apa yang bisa kepalamu lakukan untukku?"
'Motonari' tidak mau memperjelas lebih selain acuan perintah, "Jalankan apa yang kuminta, simpan baik-baik dalam jangkauanmu, kuyakinkan dirimu akan mendapatkan semangat dalam pengertian ikatan—ITU 'induksi' dariku, seutuhnya hanya untuk 'interaksi'-mu, seorang."
"..." Motochika mau komentar soal penekanan "hanya". Tapi gerakan tangan kanan 'Mouri' mendistraksi; menyibak kumpulan-kumpulan helai rambut sampai mengalung ke belakang kepalanya, mendekat dan berkata di depan bibirnya.
"Tentang permintaanku, katakan hal yang sama pada Dokuganryuu dari duniamu. Kalian berdua akan mengerti pada saatnya, nanti."
Saat Motochika membuka mulut untuk bertanya, 'Mouri' maju mengecup bibir—Menyegel mulutnya.
"...!" JELAS dirinya membelalak syok, namun...
Rasa...
Imitasi pun...
Apa yang tersuguh...
Uniknya, tidak ada lagi perbedaan walau terpisah... gravitasi.
Jemari kedua tangan pun menyusuri kedua lengan 'Mouri', diteruskan menaiki lekuk kedua sisi leher yang ramping; INI tetap Mouri Motonari... kan?
Rindu...
Terlalu rindu.
'Mouri...' Benaknya mendesah tepat melingkarkan kedua tangannya ke belakang kepala 'Mouri' dan memejam, memperdalam ciuman, menanggapi, mencecap paraunya imajinasi memadu kasih...
Sekali lagi, namun...
"Nhh..." Motochika mendesah pelan saat memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut 'Mouri', merasakan kontak lidah; kontak hati dari koneksi rival, beserta segala yang pernah tertinggal dalam penyesuaian 'dulu' dan 'sekarang'.
'Mouri...'
Bagaimana suguhan perfeksionis semanis madu kala gesekan antara lidah...
'Mouri...'
Rancunya integrasi rona saliva; longkap jangkauan 'masa' seakan tersamar dalam interpretasi cinta.
...Bagaikan dua 'dunia' melebur menjadi—
Motochika mengerutkan alis kanannya seketika lidah yang mengisinya tiba-tiba memudar seiring laju hembusan nafas, mata kanannya pun terbuka di detik raupan antara mulut terhenti semudah 'Mouri' melepaskan rangkulan.
"A—"
Bahkan kontak ciuman diputus sepihak karena—
'Mou...'
Tubuhnya terdorong ke belakang oleh sekali tekanan tangan kanan 'Mouri' pada bidang dadanya.
'...ri.'
Tangan kanannya menggapai, namun 'Mouri' terasa...
Jauh.
"Meski aku 'mengakui'-mu, kesadaranmu tidak bisa menghalangi konsisten perasaan yang dirimu ciptakan sendiri."
Perkataan 'Mouri' menyertai kedatangan ombak besar yang meraup tubuhnya.
'Apa yang—'
"BYUUURRRR!"
"Inilah alasannya mengapa aku tidak memanggil salah satu dari kelima lainnya;" dengus 'Motonari'. "Byakko tidak bisa berpikir perspektif dan berada pada stagnasi. Sementara Yang cepat terpolusi dan Yin kehilangan responsi. Kemudian Suzaku sedang bermain api. Terakhir, Seiryu, nama Dokuganryuu tengah menjadi tabu dan pria itu tidak mampu bersiteguh tanpa Migime-nya; mengundangnya sama saja mengundang ratusan interuptor yang haus darah."
Lalu memejam sejenak, berbarengan lautan di 'langit' bekas pijakan si bajak laut tengah mengamuk dasyat, pertanda bahwa terdapat interupsi 'penyusup' dari pihak lain—Jiwa sebangsanya yang memiliki koneksi dengan tamunya.
"Tapi rekonsiliasi seperti citra Genbu; tidakkah ini akan memberikan DUA nilai positif secara mutualistis dan realistis?" liriknya dikemudian, pada sosok ramping semampai yang sudah memijak di sebelahnya.
Sedangkan di kedalaman laut...
Motochika tergulung dalam kepekatan air.
"Bwa-ah...!" Air asin tertelan memasuki kerongkongannya sejalan laju arus berubah kental, badannya tergelung, terombang-ambing sekaligus tersedot dan tertarik jatuh.
Terus.
Terus.
Terus.
Dan terus tenggelam.
...Menjadikan udara menipis dalam pertaruhan hidup dan mati.
Motochika berusaha keras berontak, berenang mencari permukaan, atau apalah reaksi tercepatnya. Anehnya, dirinya melawan sia-sia seakan menentang... pusaran raksasa.
'Apakah aku akan mati...?'
Sedangkan otot-ototnya mulai kehilangan fleksibilitas.
'Bukankah aku harus ke Korea... mencari tempat pertemuan pertamaku dengannya, DIA, Hitokiri Dokuganryuu...'
Tiba-tiba potongan arus melewatinya, menggambarkan sepenggal memori.
"Chosokabe, meski kita tidak bersua terlalu lama, dirimu telah banyak berubah."
'Mouri... di Sekigahara...'
Mata kanannya memicing kala pemikiran, 'Mouri Motonari, si Scallywag, kenapa aku selalu menyebutnya "rival"? Bukankah rival seharusnya seperti mereka...'
"...Ya, 'dia' sangat kuat. Bocah naïve yang membakar semangatku; dia, Sanada Yukimura.
Dan dia selalu berjanji, sebagaimana aku selalu menanti."
Potongan-potongan arus kembali melewati sisi-sisinya, gambaran-gambaran baru bermunculan...
"Sanada Yukimura-ku sudah mati dan kutemukan pengganti. Kali ini, aku takkan melepaskannya. Kalau dia menolakku dan aku berakhir membunuhnya... Setidaknya dia mati oleh kedua tanganku sendiri. Toh aku tidak masalah tidur dengan mayat."
'Hitokiri Dokuganryuu...' Jemari kedua tangannya mengepal. 'Apakah itu "karma" yang kau inginkan bagi keutuhan "rival"...?'
"Jika perlu; JIKA aku harus menghadapimu dan mereka, semua pun, ITU urusanku.
...Dan keputusanku."
Ruas-ruas jarinya berkerat.
Dan potongan arus tersisa, sebelum tatapan hampa perlahan demi perlahan terisi pemandangan hitam...
"Tenanglah, Motochika. Aku mengerti perasaanmu. Tapi jangan biarkan amarah mengambil kendali, bisa-bisa kita kembali ke titik awal."
'Keiji... di Fukagu...'
Mata kanannya memejam, mengingat. 'Ahh ya, Fukagu bersanding lautan, rumah keduaku... Dan Mouri selalu hijau, daratan Aki; di seberangnya, Shikoku, rumah pertamaku.'
Tubuhnya kini terasa melayang dan gelung-gelung arus di seputarnya sedikit demi sedikit membaur, meresap dan menyatu menjadi bagian dari pribadinya...
'Tampaknya, aku sudah berkelana terlalu jauh, eh...?'
Garis senyum terbesit seiring potongan arus bergambar seseorang yang pernah berkata...
"Tidak apa-apa, Motochika."
Kelopak matanya membuka dan kilau api terefleksi di iris kanannya, bersamaan sebentuk sosok berlibat kobaran api tampil mengulurkan tangan di hadapannya.
'...Ne, Kenshin?'
Wajah cantik sang sosok pun menyunggingkan senyum seolah tanggapan, saat jemari tangan kanan Motochika menyambutnya dan menggenggamnya dengan hangat.
...Berbarengan kemilau cahaya seterang mentari membuka sayup-sayup suara.
"...i"
"...ki."
"...niki."
"Aniki?"
"Uah!" Motochika tersentak seketika jamah pada bahunya; menyadarkannya bahwa—
"Um... Aniki, Anda tadi meminta ini."
Pemberitahuan pendek dari lelaki di dekatnya, bersama unjuk sebuah botol.
Kemilau rupa-rupa warna akibat bias cahaya dari lampu kabin tercetak pada puluhan lekuk siku-siku kristal di botol itu, memaksa mata kanannya mengedip seakan menelaah—Sejujurnya sibuk menekankan... realita. Apalagi di detik mengamati posisinya masih duduk di kursi kabin pesawat.
'Aku tertidur...? Tadi mimpi?' Motochika reflek menatap jemari tangan kanannya yang memegang metal penahan pinggir kursi—Jemari yang tadinya menggenggam jemari tangan milik sosok berbalut api dalam mimpi.
Tidak ada yang berbeda darinya atau dengan tangannya. Hanya terasa... ringan, baik beban di hati beserta perasaan galau yang sebelumnya bertumpuk sesak dalam kepala KINI seperti hilang begitu saja.
'Kenshin...'
Dan pertanyaan di benaknya, 'Kenapa Mouri—'
"Aniki...?"
Interupsi suara panggilan bernada khawatir dari lelaki yang sama, menyadarkannya kembali.
Fokus diberikutnya tertuju ke label botol yang tertulis "Buchanan's", yaitu botol dipegangan sosok yang dikenalnya sebagai salah satu anak buah Sparrow—Baru diingatnya, botol itu dipesannya karena diyakini bakal memberikan doping semangat membunuh dalam dirinya.
Ya, itu merupakan minuman yang sama dengan minuman pemberian si Hitokiri Dokuganryuu.
Senyum pun terbentuk pada rautnya yang berganti humor. "Ya-ya. Taruh saja di meja."
Sementara pria itu menjalankan perintah, menaruh botol plus sebuah gelas...
Motochika segera bertanya, "Uhh, kita sudah sampai mana?"
"Masih setengah jalan." Sahutan padat di sela sang penjawab memulai kesibukan membukakan penutup botol dan menyediakan sebaskom es batu. "Kira-kira dua jam lagi mendarat di Seoul. Dari sana memesan helikopter, disambung sejam untuk sampai pada pemberhentian di Pulau Jeju; pada tempat dimana batu berbentuk kepala naga, Yongduam, berada."
"Hmmm~" Untuk sejenak, rasionalnya menimbang-nimbang. Lalu bertanya kembali, "Menurutmu kita sempat memutar ke Nagato?"
"Ehh?" Lawan bicaranya terkejut, namun ekspresi itu beralih ke mode berpikir, diikuti lisan. "Bisa sih... Tapi bukankah Sparrow-Aniki meminta kita ke Korea?"
Motochika berdiri.
"Sebenarnya balik ke Jepang pun memang tanggung..." ungkapnya, mengiyakan. Entah kenapa, rasa percaya diri mendadak timbul dari dasar hati—Tekad...?
Atau mungkin nekat.
Pastinya, kedua kakinya mengayuh langkah, berjalan di jalur tengah ruangan kabin. Setelahnya, berhenti dan mengangkat tangan kanannya ke depan.
"Jiwa..." gumamnya. Terdapat implikasi ragu-ragu terhadap sepatah kata itu. Akan tetapi, sekali lagi 'anehnya'...
"A-Aniki..." Anak buah Sparrow yang tadinya berperan pelayan, hendak memberikan solusi atas pembahasan perubahan rute—
"Katakan," desis Motochika pada angin kosong. "Apa yang bisa jiwa sebangsamu lakukan! MOURI!" Berbarengan jemarinya mengepal SANGAT erat, diikuti gerakan tebas.
Spark api mendadak berkobar bersama kemunculan sebentuk benda dalam libat deret jari.
"..." Sosok-sosok 'saksi' langsung menganga syok melihat penampakan sebuah tombak-jangkar dipegangan tangan kanan itu, betapa kehadiran senjata khas tersebut serupa sihir. Ajaib!
Sementara Motochika menyeringai. "Jadi begitu..."
"CRINK...!"
Gemerincing luwesnya lilitan rantai pada pertengahan gagang membuatnya percaya bahwa apapun kejadian luar biasa ini sesolid detil dalam "mimpi" barusan, yang mengandung makna lebih dari sekedar misteri.
"Perasaan yang kuciptakan sendiri—tidak—INI adalah perasaan tentang harapan..." ungkapnya seraya jemari tangan sepasangnya menggenggam panjang rantai.
'Heh, bajingan. Semua Mouri Motonari memang sama, licik; kau berdalih "mengakuiku", namun menggunakan jiwa Kenshin sebagai pemicu...'
Namun Motochika menyeringai.
'Kalau begini caranya, aku jadi SERIUS penasaran ada apa dengan "kepala"-mu. Mungkin ideku tentang Itsukushima bisa menjadi tempat peristirahatan akhirmu, nanti.'
"Yak!" Membalikkan badan, gagang tombak-jangkar ditopangkan ke bahu dan menatap satu per satu para bawahan yang dipercayakan Sparrow padanya. "Matey, kalian siap dengan kepemimpinan ala-ku—Iblis penguasa kepulauan Iblis?"
Yang mendengar MASIH terbengong-bengong, meski berakhir mengangguk. Toh berada di ketinggian ribuan kaki dari lautan, mau menolak pun tidak ada yang bisa dilakukan.
Tapi sekali lagi, pria yang tadinya berperan pelayan, meminta waktu bicara.
"U-um... Aniki, tidakkah sebaiknya—"
"BRAK!"
Pucuk jangkar dijatuhkan ke lantai kabin, otomatis memotong kalimat itu. JELAS, sosok-sosok mengernyit giris tersebab polesan kayu agak terkuak gara-gara efek berat dari senjata khas tersebut.
"Mmm~" Kaki kanan Motochika menginjak pinggir jangkar, bergaya sesantai memberikan opsi, "Kita ambil jalan tengah saja."
Selanjutnya memberikan pandangan menyeluruh; pengarahan dilontarkannya bak seorang kapten.
"Tujuan kalian tetap Korea. Situasi di Yongduam berdasarkan pengalamanku sudah kugambarkan dua jam lalu, sekaligus pengaturan pembagian kelompok. Berhubung waktu yang terbatas, aku mengehendaki BANYAK penyelesaian. Maka untuk misi mencari tempat persembunyian Oda Nobunaga, kalian akan dipimpin komando kedua," tunjuknya segera pada pria yang sedaritadi berusaha mengajukan pendapat.
"Ehhhh? A-aku?"
"Hu-uh, selamat. Kau mendapatkan promosi." Angguk Motochika penuh semangat. "Dan aku membutuhkan perhitungan koordinat kita sekarang, plus rute tercepat ke Nagato."
"Sebenarnya ada apa di Nagato?" tanya si "komando kedua" dengan mimik tidak ngeh, semenjak Aniki yang ini begitu kokoh repot-repot balik ke Jepang. "Bagaimanapun, satu-satunya golongan yakuza, keluarga Mouri, sudah tidak lagi aktif dalam dunia hitam. Walau sejujurnya rumor tentang kebangkitan putra Mouri cukup dipertanyakan..."
Perkataan menggantung beberapa detik kala mengingat Aniki yang ini TADI menyebutkan nama "Mouri" pada pertunjukan 'sulap'.
"Sebentar, Anda serius mau mengecek sendiri di tengah misi ini?" tanyanya kembali, rautnya SUNGGUH tidak percaya.
"Itu intensiku, mulanya..." tegas Motochika. "Juga ada urusan kecil yang harus kubereskan, permintaan khusus, tak bisa ditunda. Sebenarnya sekalian pembayaran atas ini."
Poin "ini" teracu ke tombak-jangkar dipegangan tangan kanannya.
Meskipun rancu terhadap maksud "pembayaran", si "komando kedua" tidak mau banyak ribet berdebat. "Baiklah, aku akan meminta pilot cadangan untuk memanaskan helikopter di bagasi belakang. Anda bisa Nagato menggunakan itu." Kemudian bergegas menuju ruangan utama pilot untuk mengerjakan tugas hitung-menghitung koordinat.
Setelahnya, Motochika mengambil ponsel, berlanjut menekan speed-dial nomor milik Sparrow.
Tepat nada sambung berganti salam "Yo!" langsung saja dirinya memulai kata dengan lawan bicaranya yang berada di seberang sambungan telepon.
"Oi Sparrow, kau takkan percaya ini..." katanya sembari menarik tombak-jangkar dan ditopangkan kembali ke bahu. Lalu berjalan menuju meja, mengambil botol dan menuang minuman ke gelas, tigaperempat gelas.
"...Tapi kuyakinkan, aku punya rencana yang lebih baik. Mau bertaruh padaku?" tantangnya sebagai kalimat lanjutan, diteruskan meneguk keseluruhan isi gelas secara straight.
...
..
.
Sejalan bangkitnya kekuatan supremasi milik Motochika, di waktu sekitar tiga belas menit yang lalu...
Sparrow berulang kali menghela panjang selama mendengar penuturan si Hitokiri; versi si Mouri sama saja sami-mawon. Yep, membosankan.
Dan duduk di kursi paling belakang, terperangkap bersama pandangan kritis dari keduanya...
Oh ya, penyiksaan. TOTAL.
Sesudah sekian lama memijati pelipis, ide pun akhirnya dilontarkan.
"Begini saja deh," ucapnya segera. "Mit, tugasmu snipping, seperti biasa. Kalau Mouri..."
Beberapa lama 'Mitsunari' memperhatikan cara si bajak laut berbicara.
Motonari tidak ubahnya berlaku serupa, mengerutkan kedua alis untuk setiap utaraan yang meluncur dari mulut si bajak laut, khususnya pada panggilan yang ditujukan bagi 'Mitsunari'—"Mit" terdengar terlalu 'buddy-buddy'.
"...Tugasmu mudah, cukup sebagai pengalih." Keterangan seterusnya, sambil men-sketsa gambaran 'taktik' di udara. "Mitsun jalan duluan, targetkan apa saja yang terlihat; kuharap langsung headshot. Toh tidak ada ruginya kalau Monster itu mati. Kemudian—"
"Kalau kau berencana mendepakku dari misi..." potong si Hitokiri tiba-tiba, pastinya dengan tatapan datar. "Kau tahu, headshot tak mungkin kulakukan. Pokoknya aku stick bersama kalian, tak ada yang terpisah."
Sparrow kontan menoleh, "Huh? Apa maksud—"
Motonari ikut menyela, tidak kalah melengkapi kata-katanya dengan tatapan datar. "Aku pun tidak mau maju sebagai pengalih, perananku jauh lebih murni dari sekedar numpang lewat maupun menentukan rekonsiliasi. Kamu bisa bicara dengan pintu, Chosokabe—Kalau itu memang namamu. Jadi..."
"ITU takkan terjadi." Pernyataan serempak dari 'Mitsunari' dan Motonari, SUPER kompak.
Sparrow menganga.
Maka, menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya, dirinya pun menyanggah, "Intinya kooperatif, boys."
'Mitsunari' langsung menjejak lengan si bajak laut atas perbedaan signifikan dalam pemakaian kata jamak "boys" dan "matey", yang sebelumnya terekam dalam kepala sewaktu momen dirinya disekap di kapal Sparrow.
"Sudah kuduga; bangsat, ngapain sih ikut-ikutan berada disini?! Rencanamu 'gimana?!"
"Gah! Bagaimana kau bisa—"
"Tentu saja mudah," timpal Motonari dengan cueknya. "Kamu terlalu terorganisir."
"Dan AKU terlalu mengenalmu," sambung 'Mitsunari' tanpa ekspresi. "Memangnya sudah berapa lama kita bersama, haa? Dasar moron."
Sparrow pun menepok jidat. "Memangnya kembaranku terlalu bodoh, apa?" Lalu meringis ke 'The Ripper'. "Dan sori, kupikir kita hanya hitungan jam."
"Keparat!" 'Mitsunari' spontan menendang dengkul si bajak laut atas konotasi "jam" yang disamakan hitungan prostitusi.
"Tidak juga..." balas Motonari soal kata "bodoh" pada tanggapan sebelumnya. "Tapi aku selalu mengenal tindak-tanduknya yang emosian." Kedua matanya menyemukan puluhan 'kenangan' tentang siapa yang tersebut "dia".
"Tch," decak Sparrow sambil mengangkat kedua tangan lambang menyerah. "Baik-baik. Lakukan apa saja yang mau kalian lakukan. Tapi Hitokiri Dokuganryuu tak boleh lolos lagi—TIDAK kali ini. Apa kalian mengerti?"
'Mitsunari' kembali menjejak, kali ini benar-benar berniat menendang wajah si bajak laut. "Perduli setan dengan itu! Aku di pihaknya!"
Sparrow kontan naik pitam, "Brengsek, berhenti mencampur-adukkan afeksi cinta. DIA bahkan tak perduli padamu!"
"So what?!" bentak 'Mitsunari' dengan sengit.
"OI! Aku khawatir padamu!" bantah Sparrow, sekalian saja buka kartu, baik soal perasaan beserta poin rencana. "Lagian kenapa 'ga kabarin soal Mouri, hah?!"
"Tak ada urusan! Mouri milikku, titik. Rencanaku LEBIH membutuhkan partisipasinya!" balas 'Mitsunari'.
Giliran Motonari yang sengit, "Kuso kalian, melibatkan namaku dalam rencana ini dan rencana itu, bisa langsung pada inti?" Sejelasnya ngedumel.
"Bagaimana dengan kedua samurai?" Sparrow masih memfokuskan subyek yang SANGAT "inti".
"Dokuganryuu dan Wakakitora sedang meyakinkan DIA." Jawaban padat dari Motonari. Tentu saja menjadikan si bajak laut mengalihkan acuan pandang ke arahnya barang sejenak.
"Dan kau, kooperatif macam apa yang kau janjikan padanya?" Mata kanan Sparrow memicing penuh menyelidik; penjurusan "-nya" tertuju ke 'The Ripper'.
Saat 'Mitsunari' membuka mulut hendak menimpal, keduluan suara dari depan, dari si sopir.
"Gereja tinggal hitungan meter, mau berhenti di depan atau—"
"Langsung terobos!" ceplos Sparrow tanpa basa-basi.
"Hm?" Motonari mengangkat kedua alisnya. "KAU mau memberitahukan ke DIA bahwa kita selamat-aman-damai-sentosa dan membiarkan SEMUA mengejar kita?" sarkartisnya.
...Menerangkan seringkas tema bahwa dirinya adalah penentu, semenjak asupan cerita dari 'The Ripper' dan 'Takenaka Hanbei' sendiri tentang kedua samurai plus kematian 'Tokugawa Ieyasu', ditambah perkiraannya tentang keberadaan si bajak laut yang ini, yang menggantikan posisi Chosokabe si Iblis penguasa kepulauan Iblis.
"Terserah saja, mau terobos atau berlagak Rambo. Kuulangi, aku takkan menembak DIA!" sambung 'Mitsunari' dengan tatapan ancang-ancang, malah sudah mengambil kedua pistol Colt dari holster dada, bersiaga akan siapapun yang berniat menentang keputusannya.
"Bung!" seru Sparrow sambil menggaet kerah jaket si Hitokiri, tampangnya benar-benar seratus persen kesal. "Kesempatan ini cuma sekali, jika DIA lolos—"
"RING RING!"
Tiba-tiba suara dering ponsel mengisi ruangan mobil, membekukan perdebatan ketiganya.
"RING RING!"
Sparrow segera melepaskan cengkeraman, mengecek dimana ponsel-nya berada. Kedua penumpang turut mengambil ponsel dan...
"Yo!" jawab Sparrow sesudah memencet tombol "accept".
"..." Kedua lainnya pun menatap ke pria yang terlihat kusyuk mendengarkan kata-kata si penelpon.
Kemudian Sparrow melirik 'The Ripper', sosok tinggi itu ternyata sibuk memperhatikan kaca depan. Kakinya pun menginjak sepatu pria muda itu untuk memperoleh perhatian.
"What...?" 'Mitsunari' menoleh kesal.
"Tugas untukmu."
Pernyataan ringkas si bajak laut menjadikan ekspresi 'Mitsunari' beranimatif arti "siapa lo?"
Motonari sendiri sesungguhnya tidak perduli mau siapa 'kek yang menelpon atau mau apalah hubungan antara si bajak laut dengan 'The Ripper'. Sayangnya, begitu suara si penelpon dialihkan ke mode speaker, jantungnya mendadak berdegup tanpa ritme.
"Chosokabe...?"
[...Huh? M-Mouri?]
Jemari tangan kanan langsung menyabet ponsel dari pegangan Sparrow. "Chosokabe, kau idiot!" makinya spontan saja.
[Heeeeeee? Dan kau Akujin, Mouri!]
"Fokus!" bentak Sparrow, memotong kasar cekcok adu mulut.
[Ohh ya-ya. Sori. Jadi... Sparrow, kau sudah menangkap Mouri, huh?]
"Bukan menangkap..." desahnya sambil memijati pelipis. Terkadang kembarannya memang agak rada-rada.
Kemudian memerintah si pengendara, "Oi, sopir! Tolong tepikan kendaraan, sebentar!"
Yang diajak bicara sempat memandang kaca spion tengah. Berakhir menjalankan perintah si bajak laut seketika dari refleksi, Tuan Muda-nya mengangguk pertanda memperbolehkan.
Sedangkan 'Mitsunari' benar-benar pusing saat mobil menepi ke trotoar. "Dan apa maumu dengan—"
"Mitsun, waktumu 45 menit untuk mendapatkan kepala Sanada Yukimura yang sebelumnya hidup di dunia ini dan kau TAHU cara mencarinya."
Keterangan si bajak laut lugas dan jelas, berbarengan 'Mitsunari' mengerutkan kedua alisnya.
"What the fuck, Sparrow?!" Konfrontasi tercermin fasih dengan ultimatum. Tentu saja tidak suka diperintah; plus limit waktu? Apa-apaan?!
"Bitch," tekan Sparrow kala mendekatkan wajahnya di depan wajah si Hitokiri. "Semakin cepat kau jalankan permintaanku, bakal semakin cepat kau ber-reuni dengan kekasihmu."
Penyebutan "kekasihmu" tersemat kecemburuan yang dalam dan wajahnya menerangkan tidak ada tawar-menawar.
Dengan cara 'ex'-nya menekankan kepentingan, 'Mitsunari' pun mendesis, "Kau berhutang padaku untuk ini, asshole."
Lalu menyarungkan kedua pistol Colt-nya ke holster dada, menyabet senapan sniper-nya, membuka pintu dan turun dari mobil, diteruskan pergi menuju mobil-mobil yang diparkir berjejer samping trotoar.
Tidak terlihat kesulitan berarti pada pemilihan kendaraan yang mana ataupun teknik maling seperti apa; kebutuhannya hanya performa kecepatan.
"BRRUUUUUUMMM!"
Begitu raung motor sport terdengar, Sparrow menyunggingkan senyum tipis. Balasan 'Mitsunari' sewaktu melewati sisi mobil cukup acung jari tengah.
"Heh," dengusnya secara monoton saat memandang motor sport berkelas 'Kawasaki Ninja' yang menjauh dari jangkauan pandangannya. Kemudian pindah tempat duduk, tempat yang tadinya diduduki 'The Ripper'.
"Kuharap dirimu tahu resiko menjauhkan satu-satunya 'As' dalam 'tim' kita..." komentar Motonari. Perkataannya bukan tanpa sebab, Hitokiri Dokuganryuu sejelasnya ancaman dan berhadapan satu-lawan-satu bukanlah pilihan.
"Yep." Angguk Sparrow dengan simple, malas bertele-tele lebih. Berikutnya memandang ponsel dipegangan Mouri. "Bro, kau masih disana?"
[Keras dan jelas.]
"Good. Lakukan apa yang menurutmu benar. Jawabanku: seratus persen percaya dan aku berani bertaruh untuk itu."
[Sip! Dan oh, sebisa mungkin jauhkan Hitokiri Dokuganryuu dari Date Masamune. Ingat, jangan sampai DIA mati.]
"Perlukah?" tanya Motonari, nadanya angkuh, sejelasnya menolak disuruh-suruh kalau menyangkut Chosokabe Motochika yang rutin bikin masalah dengannya.
[Mouri, aku tahu kau mempunyai rencana bejat yang sama sarapnya dengan Monster itu. Malah aku tak perduli jika kau mau serius berperan Akujin dan mengutuk dirimu sendiri. Satu hal kuperingatkan, dunia ini bukan tempat kita, bung. KITA adalah distorsi. Kau tak mau keturunanmu menderita karma buruk, benar?]
Motonari pun menjawab sedingin es, "Aku tidak mengerti satupun perkataanmu, Chosokabe."
[Che, munafik. Mungkin keputusanmu akan berubah kalau aku bermain dengan Setoumi-mu? Aku sedang menuju ke sana sekarang .]
"Apa...?" Motonari memicing seketika mendengar—
[Saaaaaaaaaaaaaahhh~ SURF'S UP!]
Berlanjut suara deru dari speaker ponsel, deru yang SUPER keras bagaikan gemuruh.
[BRRAAAAAAAAAAAAASHHHHH!]
Disambung tumpuk-tumpuk suara... air?
Motonari membelalak. 'Mungkinkah...'
[Yosh! Lima belas menit lagi adalah tarian Siren. Kalau mau, kau bisa menikmati siaran langsung, nanti, saat pesta teknik Heaven Ho'-ku memporak-porandakan kediaman kembaranmu. Cao~ Mouri!]
Tepat sambungan telepon ditutup dari seberang...
"Cho—"
Kalimatnya terpotong todongan pistol Revolver, dari Sparrow, pas pada dahinya.
Sang sopir menyaksikan melalui kaca yang sama, segera mengambil shotgun pendek yang tersembunyi di bawah jok.
"A-a-a," Sparrow melirik kaca spion tengah, ke refleksi wajah si sopir; bibirnya menyeringai sadis saat menarik kenop pemicu, menyiagakan pistol di kondisi aktif, kapanpun. "Jadilah anak baik. Jalankan mobilnya, tetap pada rencana semula. Terobos."
"..." Pria di kursi penyetir SANGAT ragu-ragu menanggapi perintah si bajak laut. Apalagi headset wireless via bluetooth di telinga kirinya mendengungkan suara-suara dari para kolega—para bodyguard gabungan keluarga 'Mouri' dan kelompok yakuza 'Toyotomi'—Mereka berada di mobil-mobil lain, mengekor mobil ini dan mempertanyakan mengapa mobil yang dikendarai berhenti pada titik yang bukan ketentuan tujuan.
"Tidak masalah, jalankan mobilnya; semuanya berjalan searah, jadi tidak ada ruginya."
Perintah berintonasi kalem dari Tuan Muda-nya mengisi ruangan mobil. Sang sopir terpaksa menuruti; menaruh kembali shotgun pendek ke bawah jok, memasang gigi kopling dan menginjak pedal gas.
Mobil pun melaju kencang menuju gereja.
Sementara Motonari melanjutkan, terkhusus ke bajak laut. "Prajurit hanya pijakan, namun dirimu tidak tahu dengan siapa dirimu memilih lawan."
...Terdengar SUPER mengancam sejalan benaknya membariskan kekesalan sumpah-serapah tersebab kekuatan si Chosokabe Motochika sudah terlebih dahulu bangkit, mengunggulinya.
Dan pertanyaan dalam pikirannya... 'Sebentar, apa hubungan kepala Sanada Yukimura yang berada di dunia ini dengan tujuan Chosokabe ke kediaman keluarga kembaranku di Nagato...? Soal kedua Dokuganryuu sendiri, kenapa harus dijauhkan? Apa maksudnya "Jangan sampai DIA mati"?'
Sparrow menyahuti sembari merebut ponsel dari pegangan Mouri dan menendang tongkat baton yang tergeletak dekat kursi yang diduduki si samurai.
"Jawabanku tetap seratus persen, Mouri-niisan. Mau bagaimanapun situasi yang dipilih oleh kembaranku, peranannya hanya kartu Joker. Kebetulan juga dengan 'The Ripper', barusan saja. Sedangkan aku sendiri? MEMANG mempunyai rencana denganmu. Tapi coba tebak, siapa yang kuincar."
...
Selama kedua kisah itu, 33 menit yang lalu di halaman gereja...
"CRANK! CRANK! BLAAAAAAASSSSTTTT!"
Bilah-bilah katana saling beradu penuh presisi. Pengingnya denting demi denting berbaur tembakan, membumbung hingga ke gulung-gulung awan hitam di langit pagi yang beralih sekelam petang.
Mendung telah menjelang.
Riuhnya gemuruh pertarungan pelik sahut-menyahut, tidak terhitung berapa kali aliran-aliran petir biru berdansa dasyat seakan menghubungkan langit dan daratan.
Sekarang pun...
"DUAAARRRR!"
Mobil kesekian meledak terkena acuan lurus dari peluru berlibat-libat kekuatan supremasi, gara-gara meleset dari target.
"NOT EVEN CLOSE!" Masamune menerjang turun. Acuan bilah berlibat-libat kekuatan setara pun menghajar. Sayangnya, lawannya melompat mundur.
...Bisa ditebak kemana serangan berpenghujung.
"BLAAAAAAAAARR!"
Di tengah porak-poranda berbagai ukuran bebatuan yang merusuh area tiga kuak serupa cakar terpajang...
"Heheheheheheh. Not even close either!" 'Masamune' mengibas tangan kirinya, kelima 'Ryuu no Tsume' terbawa jalinan hubung alunan-alunan petir biru; bagaikan puppeteer, menghunuskan kelimanya sesuai acuan telekinesis sebelum sol sepatu menemukan pijakan di atap gereja.
"CRANK! CRANK-CRANK-CRANK! CRANK!"
Kelima pedang ditangkis sempurna oleh Masamune.
"Oi-oi, tidakkah INI sedikit berlebihan?" komentarnya kala jeda menarik nafas, kedua tangan kembali mengangkat pedangnya. "Kekuatanmu benar-benar tak lazim, bung!" lanjutnya tepat maju berlari menaiki reruntuhan tembok, mengejar lawannya dengan serangan 'S-String'.
"Heh," dengus 'Masamune' sambil mengomando kelima pedang ke mode defensif, melayang di seputarnya dan memblokade, sebareng mengacungkan ujung laras pistol Deagle. "Kalo lelah, menyerah saja!"
Tembakan menggema.
"BLAAAAAASSSTT! BLAAAASSSSSTTT!"
Masamune cekat menghindar tipis untuk peluru yang meluncur pertama, berikutnya memutar dan menebas peluru kedua sehingga dampak ledakan sesaat menyamarkan posisinya.
"Dan KAU, ke laut saja!" serunya kala menyeruak dari bumbung api, menghaturkan tebasan dari arah kanan kembarannya.
Namun 'Masamune' lebih dari sekedar sigap, sedikit gerakan saja dapat ditangkap pengelihatan demonic-nya dan terakumulasi; jemari tangan kirinya menyabet salah satu gagang pedang dari kelima yang melayang dan mengarahkan bilah, menangkis semudah menyeringai.
"CRAAAAANK!"
Akibat sama-sama keras kepala, adu tekanan mental mengentalkan sirkulasi efek pertemuan masing-masing jenis kekuatan supremasi.
Di lain sisi...
...
..
.
Yukimura reflek menggaet lengan Ieyasu dan lengan 'Nouhime', tidak memusingkan soal ketentuan pihak yang tadi diperdebatkan; menarik keduanya untuk berlari seketika tembok-tembok beton beserta permukaan tanah tergerus berbagai versi voltase bertegangan tinggi yang menyebar dan menerjang... membabat yang berdiam dalam medan tanpa terkecuali.
Sementara di pusat 'arena'...
...
..
.
Kedua pria berwajah dan berperawakan serupa TETAP pantang berhenti, meski kehancuran menghiasi dimana-mana.
Masamune sempat melirik ke sosok-sosok yang menjauh. 'Good choice...' Apresiasi bagi tindakan rival-nya berinisiatif menjauhkan Tokugawa Ieyasu plus 'Nouhime'; mengingatkannya tentang 'tujuan' awal duel ini.
"Ayolah, katakan dimana si keparat Oda Nobunaga berada..." pancingnya sembari memimik ekspresi di depannya, menyeringai; sejujurnya miris menyembunyikan giris tersebab ramainya luka, ditambah stamina yang menipis sepanjang aksi.
"Bisa mencari menggunakan 'Yellow Pages', kan?" sahutan sarkastis dari 'Masamune'.
Masamune menimpal, "Sudah, bung. Tapi instansi 'yakuza' tak buka di hari Minggu!" Seraya menghentak, memutuskan kuncian antara bilah, diikuti runtuhnya sebagian atap gereja yang menjadi pijakan.
Sekalipun sempat terdorong, 'Masamune' menetapkan bertahan menghadapi sembari mencari pijakan pada bebatuan besar yang berjatuhan.
"Kalau begitu biar kubantu dengan appointment; tak perlu besok, mati saja sekarang!" serunya disambi menembak; mengisi sejenak jeda yang terjadi selama longkap jarak agar menyibukkan lawannya.
"BLAAAASSSSSTT! BLAAAAASSSSTT!"
Peluru-peluru itu sekejap terbagi empat potongan simetris saat terlalui bentuk-bentuk 'X', serangan balasan dari Masamune.
"DUAAAARRR! BLAAAAARRR!"
Mengabaikan ledakan-ledakan yang bertebaran...
"ENAM!" teriaknya kala men-charge satu-satunya Tsume tersisa secara maksimal, diteruskan melesat maju tanpa memperdulikan puing-puing yang terbang menghalang.
"Masih terlalu pagi!" sahut 'Masamune' saat jemari tangan kirinya membebaskan genggam, pedang melayang ke barisan 'Ryuu no Tsume'; tidak berhenti, kelimanya diarahkan merajam, seiring tangan yang sama mengambil kotak magasin baru dan—
"...!" Kesadaran pun terlintas di detik meraba stok amunisi yang... kosong?!
Masamune melebarkan seringai, "Terlalu pagi untuk mati? Ohhh~ ITU hanya demotivasi! Get ready with your last shot, punk!" Bola-bola energi petir dilontarkan dari udara.
"JDEEEEEEEEERRRR!"
Kelima pedang terpental dari acuan kendali 'Masamune' seketika beradu momentum 'Hell's Dragon'.
Masamune AKHIRNYA mendapatkan kesempatannya atas keterbukaan celah, kembali melesat maju. "HA!"
"Tch!" 'Masamune' cekat mengelak cecar tebasan; posisinya lumayan genting saat panjang laras pistol Deagle dipaksakan berperan bak tameng.
"CRIIIIIIINKK!"
Sekilas percik api akibat pertemuan bahan metal...
Tidak diduga, tangan sepasang lawannya meraih dan mencengkeram dasinya, menarik sebareng sruduk dengkul kaki kanan menghantam perutnya.
"BUGH!"
"Khh!" 'Masamune' pun oleng.
Sedangkan Masamune memutar seiring tebas.
"SLAATT!"
Pipi kiri 'Masamune' tergores.
Begitu kedua Dokuganryuu mendarat di permukaan tanah...
Stance ala taekwondo dipasang 'Masamune' demi mengembalikan damage; tendangan jejak disuguhkan ke tulang kering betis lawannya—ternyata lolos—Maka melanjutkan kombo susulan, tendangan atas menggunakan tumit yang dijatuhkan ke arah kepala.
Masamune roll ke samping disertai ayunan bilah tajam ke kaki kembarannya yang bertumpu poros.
Begitu tendangan tadi membelah angin kosong, 'Masamune' cepat mengganti stance dan melompat, menghindari sabetan diikuti tendangan putar, sekedar memundurkan lawannya—Tanpa mengetahui bahwa kehebohan face-to-face berbatas tipis ini SENGAJA diperbuat lawannya untuk mendistrupsi pikirannya, sehingga...
"BATZ!"
Kedua tangan Masamune menangkap kelima pedang dengan aturan: tiga di apit kanan, tiga di apit kiri; sebareng ancang. "Hehehehehee. Jangkauan kakimu pendek; merasa hopeless tanpa kelima Tsume-ku, eh?! MAKANYA BIKIN TSUME-MU SENDIRI!"
Dan lagi-lagi melesat maju!
Diferensiasi kecepatan disertai sengitnya serangan pedang vs. melee tidak berimbang, TOTAL berarti—
"GAHH!" 'Masamune' terhentak ke belakang seketika tiga bilah tajam menoreh poin pada sisi tubuhnya.
"CRAAAASSSHH!"
Darah pun menyeruak deras ke udara.
"Guh!" Tubuhnya berakhir sedikit limbung meringkuk... tersengal berat menahan sakit walau kedua kakinya MASIH menetapkan berdiri selama ceceran merah kental berjatuhan ke permukaan tanah.
"Bagaimana, hm? Mayat bodyguard sebenarnya banyak dan kau bisa memilih senjata api nganggur apa saja, bahkan kapan saja. Namun malah bertahan dengan pistol-mu. Pride, huh? Kau benar-benar jiplakanku..." ungkapan manis Masamune sembari memasang pose kuda-kuda. Dengan keenam pedang begini, kemenangan mutlak bakal berpihak padanya.
Tapi DIA... bukan lagi mengandaikan diri sebagai seorang manusia; Monster, mereka bilang.
"Hehehee..." kekeh menggema nyaring dari katup mulut yang mengalirkan darah segar. "Jangan menyamakanku denganmu... KAU... berkat karma... membuatku hadir ke dunia ini 421 tahun kemudian..."
Iris mata kiri si Monster tiba-tiba berpendar. Terdapat lambang petir serupa lambang di punggung Date Masamune, melingkari pupil garis, berputar, seolah bola mata mekanis mirip 'Terminator'.
"Namun KAU tetap 421 tahun TERLAMBAT untuk membuat perbandingan!" seru 'Masamune' seketika meluncur hilang-timbul bagaikan literal kilat.
"...!" Masamune memicing, memfokuskan pandangannya saat partial-partial tanah dan debu beriak dimanapun kembarannya menyongsong arah; dekat dan dekat dan dekat dan semakin dekat serupa imajinasi ketukan tangga lagu.
Di detik pelik Pianissimo...
Mata kirinya membelalak akan kemunculan si Monster di depannya, sejarak jengkal, berposisi membungkuk agak menikung.
'DIA cepat...!'
Kalut pemikiran terpotong jurus tendangan tinggi dan—
"CRANK! SRAAAAAAKK!"
Tertangkis ketiga bilah. Beruntung Masamune sempat menyerong—Niatnya sih menebas, namun jadi terdorong cukup jauh.
"Yea..." gerat baris gigi kala menguatkan apit jemari pada ketiga gagang pedang. Nafasnya terenggah-engah dan tangan kirinya lumayan gemetar terkena efek getaran dari ketiga Tsume-nya yang tadi dijadikan tameng. "Terus saja salahkan karma yang kau buat sendiri, dasar kelakuan..."
'Masamune' cukup menanggapinya dengan aksi; tangan sepasangnya menapak di permukaan tanah sebagai daya dorong seakan pendulum, berakhir melompat dan menghilang di udara.
"...!" Masamune pun reflek bersiaga.
Kali ini, instingnya menyebutkan—
"DISANA!" serunya seiring menebas.
"WOOOOSSSSHHHHH!"
Seketika deru angin dari ayunan tiga bilah tajam...
'Huh?' Masamune mengedip pada kehadiran kembarannya di—
"Aku membencimu karena diriku adalah reinkarnasimu, bahkan keluargaku—FAKE!"
Monster itu telah memijak di atas sisi tumpul ketiga Tsume-nya, sedikit condong, berlanjut menaiki bahunya segesit kedua kaki memutar kuncian, dengkul kanan itu menghujam belakang kepalanya.
"Shit!" Masamune terdorong, namun cekat mempergunakan keenam ujung bilah sebagai tumpu.
Sedangkan 'Masamune' segera turun dan melempar pistol Deagle ke udara. Jemari tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan kanan lawannya, menarik secara hentak sebareng memutar bersama tendangan keras ke belakang kepala lawannya.
"BUAGH!"
"Khh!" Masamune terhuyung terbawa alur.
Sementara 'Masamune' menangkap pistol yang jatuh sesuai gravitasi. Lalu membidik, titik target adalah punggung bagian kiri lawannya. Acuannya 'one bullet, one hit, one kill.'
Tentu saja tiga pasang mata 'saksi', salah satunya, dari kejauhan... Yukimura berteriak, "MASAMUNE-DONO!"
Masamune spontan menoleh, mengantisipasi semenjak rival-nya tengah memperingatkannya.
Namun...
Terlambat.
Telunjuk si Monster menekan pelatuk.
Dan suara tembakan menggema.
"BANG!"
Keheningan pun melanda kala darah mengalir ke udara, terilustrasi bersama corak-corak percik dari serpih daging yang menyiprat bak lukisan konteporer.
Sekali lagi, 'namun'...
Pistol Deagle terlepas dari pegangan yang mengendur.
"KLETEK!"
...Seiring badan 'Masamune' merenggang limbung dan—
"Hghh...!"
Jatuh berlutut.
"..." Masamune pun terhenyak oleh erangan tertahan yang berasal dari kembarannya. Nafasnya sendiri masih memburu serupa slide patah kala memandang bercak merah yang membasahi kemeja putih... pada bidang dada bagian kanan disana.
"What the—"
"GUH!" 'Masamune' memuntahkan darah tepat meringkuk, satu tangan menapak pada permukaan tanah. Sedangkan tangan sepasang mencengkeram luka yang menganga. Bekas timah panas sekelas kaliber besar dari senapan sniper P-30 serius mengoyak rangka dada sekaligus mencabik paru-parunya.
Itu... FATAL.
"Keparat!" desis Masamune.
Sejauh ketidakperduliannya untuk bertele-tele dengan sesi 'mengasihani', fokus kekesalannya LEBIH dikarenakan peran-serta pihak ketiga terhadap pertarungan fair ini—PERTARUNGANNYA!
MEREKA... orang-orang berlabel 'yakuza', sekumpulan RAMAI setara geng, membawa senjata api sekelas rifle—DARIMANA MEREKA?! Benar-benar tidak diperkirakan kedatangannya!
Dan disana...
Sesosok orang tengah berjalan mendekat, berkelengkapan pistol bertipe Beretta M9 dipegangan tangan kanan; seorang pria ramping berpakaian standarnya kemeja dan jas, cuma lebih elegan, mengawali pembukaan kata.
"Terima kasihku untukmu, Hitokiri Dokuganryuu. Kamu sukses membuat distraksi yang baik."
Pastinya Masamune SANGAT mengenal siapa.
"Takenaka Hanbei..." geramnya.
Senyuman picik menghiasi wajah rupawan 'Hanbei'. Kedua kaki menghentikan langkah, berdiam sejarak hitungan delapan meter dari kedua Dokuganryuu.
"Ah ya, senang berjumpa denganmu, Date Masamune dari dunia lain..." salamnya dengan santun yang bertema menghina.
"Dan bagaimana keadaanmu, hm?" lanjutnya tanpa memberikan kesempatan bagi lawan bicaranya untuk melepaskan makian. "Tampaknya dengan berbagai luka seperti itu, meski kamu mampu menjuruskan perlawanan dengan keenam pedang plus kekuatan supremasi, probabilitas melawan senjata api berarti minus dari sepuluh persen. Belum ditambah mencari kemungkinan dimana para penembak jitu berposisi. Maka seandainya tidak keberatan, kuminta dengan sangat, buang keenam pedangmu dan berjalanlah kemari sebagai 'tamu' Hideyoshi-sama."
'Hanbei' menambahkan penekanan atas pengertian "tamu" bagi Date Masamune si samurai, "INI undangan."
...
..
.
"Itu—"
'Nouhime' buru-buru menekan kepala kedua pemuda agar keduanya tetap bersembunyi di balik mobil-mobil yang berjejer di parkiran luar. Maksudnya supaya tumpuk-menumpuk interupsi tidak beralih menjadi kericuhan yang tidak diinginkan—Baginya, tentu.
Selain itu, dua pemuda ini merupakan 'tali kekang' terhadap Hitokiri Dokuganryuu.
Di sisi Ieyasu...
JELAS tensinya terbakar oleh kehadiran si licik 'Takenaka Hanbei'. Apalagi biang awal ricuhnya pesta perkawinan adalah orang-orang kelompok yakuza 'Toyotomi' dan konklusi tercepat: menangkap 'Hanbei' berarti membuka keterangan dimana 'Hideyoshi' berada.
Tapi prioritas, sebagai pemimpin klan Tokugawa di dunianya, berpikir panjang adalah ketentuan.
Pertama, konsideritasnya adalah wanita di dekatnya ini. Jika dirinya maju untuk bernegoisasi, meninggalkan wanita itu bersama Wakakitora yang memusingkan keselamatan kedua Dokuganryuu sama saja menaruh kesempatan bagi si wanita untuk melarikan diri. Ditambah dirinya tidak memiliki sedikitpun kekuatan, sejelasnya hanya membebani.
Kedua, meski meminta Wakakitora yang sudah membangkitkan kekuatan supremasi untuk maju membantu, konsiderasi pemuda itu dipastikan nekat mengamankan kedua Dokuganryuu sekaligus. Sedangkan pengenalannya terhadap Date Masamune pemimpin geng Oushuu, pria itu tidak bakal mau mundur sebelum menyelesaikan 'skor'.
Serba runyam.
Ketiga, jika Dokuganryuu si samurai memaksa melawan, paling tidak harus ada 'pengalih'.
"Bukankah kamu tidak kemari sendirian?" pancing Ieyasu dikemudian.
Yang mendapatkan penjurusan "kamu" langsung mendengus angkuh.
"Kalau kamu berpikir aku perduli dengan kalian para samurai, itu salah besar, Tuan-Tuan!" tegas 'Nouhime'. "Kedatanganku menyangkut urusan personal, jadi sori saja, aku takkan mengorbankan orang-orangku terhadap kedua Dokuganryuu maupun terhadap kelompok yakuza Toyotomi."
Ieyasu mencoba mengarahkan, "Bukankah keinginanmu adalah menagih hutang pada Hitokiri Dokuganryuu? Kalau beliau gugur, apa yang bisa didapatkan? Sedangkan Dokuganryuu dari duniaku bukanlah lawan sepadan untukmu maupun untuk orang-orangmu. Dan kamu tahu, Sanada Yukimura yang ini takkan membiarkanmu."
'Nouhime' pun tersenyum. "Tenanglah."
"Paling gara-gara orang-orangmu cuma segelintir..." datar Ieyasu.
"Mau bertaruh, eh, bocah?" balas 'Nouhime', sejelasnya sewot gara-gara dianggap datang tanpa preparasi.
Yukimura menyela secara kritis, "Lalu kenapa Anda menyembunyikan kami?" Jemari kedua tangannya mengepal erat, dirinya merasa harus berbuat sesuatu.
'Nouhime' menjawab mudah, "Sederhana. DIA ada disana. Dan kalian harus melihat sebuah 'karya'."
"..." Ieyasu mengerutkan kedua alis saat menyaksikan raut bertema 'rencana' yang tergambar di wajah cantik si pengantin Iblis.
Sementara di saat yang sama...
...
..
.
Masamune melihat keenam Tsume-nya sejenak. "Proposalmu ada benarnya sih... Tapi bukannya aku mau mengancammu balik, Hanbei. Kalau MEMANG menginginkan mereka lepas dari kendaliku..."
Kemudian melirik ke kembarannya yang tersengal perih merenggang nyawa—tidak—Terlewat dari pengetahuannya bahwa si Monster sedang terokupasi halusinasi.
...Imajinasi sekental simponi kematian.
Linang menggenangi mata kiri 'Masamune' kala bentuk-bentuk bayangan asing sedikit demi sedikit terjangkau pengelihatan demonic-nya; mereka tampil merambat di sekitarnya dan bergolak menjijikkan seakan manekin horor.
"Monster..."
Apakah ini saatnya...?
"Limitmu..."
Apakah mereka datang 'menjemputnya'...?
"Penentuanmu..."
Air mata menetes saat tangan-tangan milik mereka menggapainya, meraba realita-nya.
"Pathetic..."
Semakin dramatis, butir-butir rintik hujan berguguran membasahi daratan.
"Tidakkah dirimu mengerti... apa arti pinjaman...?"
"Resonansi...
Kau... adalah pusat rotasi..."
Bisikan-bisikan terus terdengar saling mengisi dan mengikis... bagi kesadaran kelima inderanya seorang. Walau ibarat halusinasi, bisa terasa angin bertemperatur sedingin es yang menerpa kulitnya... berasal dari cekikik tawa yang berhembus silih berganti.
"Berdiri..."
"Kau takkan bisa lari..."
"Kami disini..."
"Masamune..."
"Masamune..."
"Masamune..."
"Masamune..."
Baris giginya bergemeretuk, relung dadanya sesak oleh semai kegilaan yang bergejolak dalam jiwa dan pikirannya.
Pengelihatannya mulai rabun.
Dan memandang pistol Deagle kesayangannya... seperti Surga, karena peluru yang telah termuat dalam chamber barrel masih berada disana. Utuh.
'Satu peluru...'
Akankah jauh lebih baik seandainya memilih... mati?
Tidak buruk, kan, bertemu Yuki?
Mungkin...
Mata kirinya memejam erat saat mengenang memori tentang ketulusan pemuda yang pernah menggenggam hatinya.
'Hanya terhadapmu... Mungkin karena aku mencoba."
Ya, mungkin.
"CRAK!"
'Masamune' membuka matanya, tersentak oleh bunyi keenam pedang yang ditancapkan serempak ke permukaan tanah, betapa perlambangan dari kembarannya tersebut seolah... menyerah?
"Apa boleh buat, kan?" ucap Masamune. "Toh aku sudah kehilangan Migime-ku. Kalaupun Tsume-ku harus kutinggalkan juga, asal jiwaku tetap berada..."
Sorot pandangannya beralih determinasi serius sewaktu meneruskan, "Paling tidak, hargai mereka yang mati-matian bertaruh dengan waktu; seburuk apapun tujuan ataupun kepentingan yang hendak dicapai—sejauh kontra—Setidaknya mereka berani mengambil resiko, bukan sebagai pengecut!"
"..." 'Masamune' memicing bingung seketika bayangan-bayangan distorsi tadi mendadak pudar selayaknya tersapu air hujan.
"Are you ready, kiddo?"
Pertanyaan dari kembarannya—Terkhusus soal pemberian nickname yang dijuruskan untuknya...
ITU mengembalikan kesejajaran kompleks, mengingatkannya, tepat mendefinisikan seksama KESELURUHAN cerita miliknya.
"Satu mata untukmu... Satu nyawa untukku.
Bawa Dokuganryuu padaku, hidup, dan aku akan mengembalikan kekasihmu. Dua... dia dan Sanada Genjirou Yukimura."
'Pria itu...' Irisnya bergetar.
"...Pria itu, kamu kira akan mengabulkan keinginanmu begitu saja? Menghadiahimu kekuatan, SUPREMASI... yang bisa ditarik kapanpun."
"Kau sungguh menyedihkan. Kau tahu apa yang kupelajari saat di pulau Jeju? Pepatah: 'kebahagiaan itu seperti butir pasir, sementara kesedihan sebesar batu karang.' Bila mau bersama-sama dan tidak bersikap plegmatis; lalu mau sampai kapan terus berakting, hm?"
Pupilnya menipis-mengembang rancu selama perulangan berputar dan berputar dan berputar.
"Masamune-ku JUGA selalu berjalan sendiri, menunjukkan punggung, membebankan diri dengan berakting tidak perduli selain penjurusan kode-kode yang kuharap tidak kumengerti...! Sekarang dirimu pun..."
"...Kau benar-benar jiplakanku."
Mata kirinya membelalak saat 'koneksi' terjalin sempurna.
'Dasar bajingan, KAU tahu kalau KAU tidak bisa mengembalikan mereka yang sudah mati. Namun satu mata yang KAU berikan, membuatku melihatnya... menyaksikannya... terobsesi padanya—Yang KAU inginkan hanya 'copy'!'
'Shit...' maki benaknya seiring jemari tangan kanannya mengeruk koyak luka di bidang dada kanannya.
"...AKU MEMUTUSKAN DAN BERLAKU SESUKA KARENA AKU BISA!"
Sorot tatapannya menjadi parau kala kata-katanya sendiri terngiang dalam kepala.
Semenjak awal... epilog telah ditentukan, bahkan 'karma'.
Kisah ini... tidak ada yang 'kebetulan' di dunia ini, hanya kejadian yang tidak terelakkan. Bukankah begitu?
Guyuran air hujan terus membasahi setiap jengkal rambut dan pakaiannya, menambah rona deviasi yang terplester pada mimik iritasi, sewaktu sahutan sejijik racun dikeluarkan bagi kembarannya.
"Jiwa... eh?"
Lalu menegakkan badan dengan terenggah-engah, sekujur tubuhnya gemetar dan terasa berat. "Kau akan menyesal saat melihat mereka dari perspektifku—But yea, I'm ready. Bagaimana denganmu... ossan?"
"Siapa yang 'ossan', kusogaki!" bentak Masamune, lumayan sewot.
"Heh," dengus 'Masamune'. "Sebagaimana pilihanku untuk menolak berada dalam bayanganmu... Tapi... bukankah kita serupa...?"
Gemuruh kilat mencakar awan-awan kelabu, secercah sinar pun menyibak lukisan senyum ironi si Monster tepat jemari tangan kiri itu bergerak mengepal.
Keenam 'Ryuu no Tsume' langsung bergetar menerima sambutan kekuatan supremasi yang melibat dan mengalir hingga ke ujung-ujung bilah.
Orang-orang kelompok yakuza 'Toyotomi' JELAS terperangah, penat dengan pilihan waspada sekaligus menanti aba-aba.
Sedangkan Masamune menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Jangan sok cool, brat. Walau ya-ya. Kuakui aku pun menyesal tidak menerima tawaranmu di dini hari itu. Tapi kalau pembahasanmu menyangkut tentang bocah itu..."
"Dan aku sanggup mem-backstab punggungmu kapan saja..." sambung 'Masamune' sedatar mengarahkan keenam pedang melayang ke belakang kembarannya, ujung-ujung runcing terkunci sejengkal dari punggung.
"Jangan membuatku tertawa, bastard..." timpal Masamune, menjiplak mimik iritasi kembarannya.
"Jadi... kau mau bercanda huh...?" 'Masamune' tetap saja menyahuti selama memaksakan energi tersisa demi mengatur keenam pedang yang berada dalam kendali telekinesisnya.
"Jika kau biarkan aku merobek wajahmu..."
"Kuberikan momenmu... setelah aku mengobok-ngobok keseluruhan organ dalammu, nanti..."
"Tidak lucu..."
"Kalau begitu, berhitung saja... bagaimana...?" tawar 'Masamune', waktunya SUPER terbatas dikarenakan darah dari luka-lukanya terus berjatuhan terbawa air hujan.
"Kecil atau besar?" goda Masamune.
'Masamune' kini memasang tampang berpikir karena aturan 'kecil' atau 'besar' biasanya terhubung 'judi'. "Hn, kau mengingatkanku... si 'Pembawa Sial' baru membayar 400.000 dollar Amerika padaku, kurang 100.000..."
"Kau masih mengingat soal duit? Lihat kondisimu..." datar Masamune.
'Masamune' mendesah lelah sambil mengambil se-pack rokok beserta pematik api dari saku jas, berlanjut menyalakan sebatang dengan gemetar; merasakan padatnya asap nikotin bergelung dalam paru-parunya—Entah berapa lama organ vital itu sanggup mensuportif kehidupannya.
"Kondisi, hm?" celetuknya dikemudian, seiring hembusan kepul asap. 'Warna 'merah' seperti cerita... Sempurna bersanding 'hitam'. Kau tak tahu nikmatnya mengais rasa... setiap kali aku membayangkannya—Sanada Genjirou Yukimura." Diteruskan menjilat bibir atasnya secara psikotik.
Masamune semakin menjuruskan tatapan flat ke kembarannya. "Kau sengaja, kan, eh bangsat? Memancing emosiku, haaa?"
"Sudah kukatakan... aku membencimu." Lirik 'Masamune'. "Apa mau digenapkan saja...? Even?"
Balasan tersebut ditumpuk oleh 'Hanbei' yang terlupakan.
"Boys, bisakah kita mempercepat ini?" ucapnya sekalem memberikan signal pada anak buahnya. Mereka pun dengan senang hati menyiagakan masing-masing rifle dipegangan tangan.
Masamune merekahkan seringai saat meneruskan 'cekcok', "Too bad, pilihan yang ada untuk kita hanya double."
Mendadak...
...
..
.
"BRUUUUUUUUUUMMMMM!"
"...!" Semuanya serempak menoleh ke... mobil? D-d-d-d-dan... MOBIL "AUDI A4" ITU MENABRAK PAGAR DEPAN!
"GRUSAAAAKK! GROMPYANG!"
Pagar besi penyok, otomatis terlepas dari engsel dikarenakan efek tubrukan dan benda berbahan metal tersebut terpental ke halaman depan, melayang sampai ke salah satu jendela bundar di menara gedung gereja.
"PRAAANG!"
Dan sekali lagi, dampak dari kerasnya momentum membuat tembok menara retak, puncak dari menara pun kehilangan pondasi... berakhir ambruk menghancurkan pagar samping gedung gereja.
"BRUUUUUUAAAGGGGHHHH!"
Alhasil, rentetan kejadian tersebut menjadikan aspal jalanan yang tertimpa reruntuhan pun ikut retak.
Epik.
"..." Yang menyaksikan hanya menatap datar sedatar-datarnya.
"CIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT!"
Mobil berlanjut oleng agak berdecit tersebab kedua ban belakang memaksakan berhenti pada 'arena' yang becek.
Dengan interupsi sekilas 'iklan' itu...
...
..
.
Masamune berseru, "Put ya guns on!"
'Masamune' menyengkat pistol Deagle-nya sehingga terpental. Kemudian menangkapnya sebareng mengarahkan keenam pedang ke orang-orang yang berdiri sebagai oposisi baru.
"BLAAAAARRRR!"
Kontan mereka terbang kocar-kacir mengenaskan tersebab 'kejanggalan' vs. manusia biasa, meski semuanya di pihak kelompok yakuza 'Toyotomi' tetap nekat berjuang memberondong tembakan sebisanya.
Di tengah riuh desing...
'Masamune' mempapas batang rokok ke katup mulut kembarannya secepat memutar dan merapatkan punggung ke punggung kembarannya selama memperluas pautan-pautan petir biru; menarik keenam pedang merotasi di sekeliling mereka untuk menangkis jenis-jenis peluru.
Sedangkan bibir Masamune mengapit filter tepat kedua tangan menyabet empat pedang yang melayang—masing-masing dua dalam apit jemari—Berlanjut maju membabat bak banteng, melapangkan jalan plus berlaku dekoy sewaktu kembarannya menggigit pistol Deagle diikuti mengambil dua pedang tersisa dan sejenak...
"Haa-..." Vibrasi nafas merembes dari garis bibir, embun menghiasi permukaan metal slider pistol; pupil kucing menipis—Menghitung skematis setiap letak beserta kemungkinan langkah target-target yang berada dalam jangkauan zoom.
Berikutnya tanpa aba-aba, 'Masamune' melesat hilang-timbul berkecepatan sarap.
Sekejap, udara pun terisi cipratan darah beserta potongan-potongan tubuh mereka yang bernasib sial bersilang jalan dengan si Hitokiri.
...
..
.
'Hanbei' memilih menyingkir ke tempat terjauh.
Tapi naas, ujung laras pistol tahu-tahu menempel di pangkal punggungnya diikuti seduh kalimat.
"Yooooo~ Selalu ada yang mengambil untung di tengah masalah, benar?"
Suara itu dikenalnya milik—
Sparrow menyeringai, meski rada-rada kecapean karena tadi meloncat keluar dari mobil di detik mobil tumpangannya mencoba berhenti... demi menangkap basah orang incarannya.
Dan lucky~
"Aku tak mau bertele-tele tentang kedua Dokuganryuu maupun problema ketiga sisi," lanjutnya. "Masalahnya, memperalat bukanlah solusi."
"Kamu—"
"HANBEI-SAMA!"
Seruan empat anak buahnya yang berniat maju menolong...
Sesosok pria berperawakan ramping mendadak menyongsong seindah tarian, mengayunkan stik baton, menebas tangan-tangan mereka yang mengacungkan pistol, dilanjutkan menghajar seorang demi seorang dengan gampang.
"Mouri..." geram 'Hanbei'.
"Harus kukatakan, INI di luar perkiraan. Dan selebihnya memang paksaan." Motonari menyambung sepasif menekan tombol pada gagang stik baton, aliran listrik pun tampil mengintimidasi, berbarengan iring-iringan mobil berhenti di luar halaman gereja dan orang-orang yang turun dari mobil-mobil itu merupakan para bodyguard 'Mouri'.
"Intinya sebuah versi yang takkan merugikanmu; biarkan kami yang menangani Oda." Lanjutan 'deklarasi' darinya.
"Yosh-yosh!" timpal Sparrow. "Kau bisa duduk ongkang-ongkang kaki bersama si 'Saru', kan? Ayolah, INI 'negosiasi' bagus, Han~bei~"
Kemudian mendekat disertai bisik, "Mungkin sebagai bonus, Hitokiri Dokuganryuu akan kukirimkan via parcel. ATAU kau bisa menolak, berarti aku bakal membawamu berlayar dan melemparmu ke Antartika—Entah apa yang akan kulakukan selama perjalanan dengan pria semanis dirimu~"
'Hanbei' membiarkan nafas hangat si bajak laut menerpa kulit lehernya, bahkan membebaskan mengintimidasinya sesuka. Toh keberadaannya di 'garis depan' TIDAK sebatas pemeriah suasana.
Di sela pemikiran sibuk memperhitungkan "negosiasi" sepanjang melirik serunya adegan kombo bahu-membahu kedua Dokuganryuu...
"Bagaimana caraku memegang omonganmu?" tanyanya dikemudian, menangguhkan praduga: apa saja yang sudah dilakukan oleh Sparrow Chosokabe, semenjak pria itu telah menampakkan batang hidung dan berlenggang-kangkung seenaknya di jalanan Tokyo, teritori kelompok yakuza 'Tokugawa'.
"Kamu tahu, Oda selalu mengintai dan 'pelacur' itu ada disini..." lanjutnya secara skeptis. "Dengan kehancuran keluarga besar kelompok yakuza Tokugawa, juga absennya DIA, 'Red Pole' tertangguh, sudah pasti terdapat 'bagian' yang harus diperebutkan."
Sparrow membalas santai, "Masuk akal. Namun beri kepercayaan sedikit. Kita kan satu 'saudara', ne, Fukucho. Meski begitu, kalaupun kau mau berlaku se-maruk itu, okelah, ambil saja—Asal grupmu tak mengganggu Shikoku dan jalur perdaganganku, tentunya. Jadi semua sama-sama senang, kan?"
Menurut pertimbangan 'Hanbei' sendiri, iming-iming yang diberikan oleh Sparrow memang menguntungkan kejayaan 'Hideyoshi'-sama. Pada akhirnya perluasan wilayah suatu saat bakal mencapai Shikoku juga. Yang penting mematangkan penempatan pos dulu, benar?
"Baiklah," ucapnya sebagai pencapaian 'kesepakatan'. Pistol Beretta M9 berakhir dimasukkan ke holster dada.
"Lalu antara kita, Mouri?" sambungnya sewaktu mengibas jasnya yang lepek. "Apakah batas 'seminggu' masih berlaku?"
"..." Sparrow melirik ke sosok si samurai, menaruh fokus tersendiri.
...Sesuai keinginan 'Hanbei'.
"Hm," dengung Motonari sambil memperhatikan kekompakan dua Dokuganryuu, mengabaikan pandangan menyelidik dari si bajak laut. "Walau urusan keluarga Saica telah selesai, aku takkan menarik kata-kataku. Kutekankan sekali lagi: yang kuyakinkan berjalan, akan berjalan. Matahari tidak bisa dipadamkan segampang literalnya satu kali rotasi abstrak; masing-masing pribadi mempunyai dua kartu serupa—As dan Joker. INI mencangkup semua pengertian bagi Hideyoshi-mu."
Bibir 'Hanbei' menggaris senyum. "Kuserahkan DIA dalam otoritasmu. Tapi empat hari tersisa, pastikan kamu memenuhi semuanya."
Ya, pernyataannya tidak menyembunyikan 'rencana' terhadap si pemimpin kelompok yakuza 'Chosokabe' maupun terhadap INI; intensinya sekedar mengadu domba.
Sementara dari semua tumpang-tindih 'rencana', probabilitas memiliki konsisten tersendiri.
Seperti saat dirinya bebas pergi, mengambil ponsel dari sabuk dan men-dial beberapa nomor para anak buahnya secara sambungan grup.
Apakah hasil akan berpucuk 'penyelesaian'?
Ataukah...
...
..
.
'Masamune' kehabisan nafas dan terhuyung akibat memforsir serangan. Menggerakkan enam 'Ryuu no Tsume' di awal, disambung dua secara melee. Berhubung terlalu menguras tenaga, barusan terpaksa benar-benar memutus kontak kendali.
Tidak banyak disadarinya tentang situasi... bahwa sebuah kemilau di sebuah puncak salah satu gedung, dari sebuah scoope senapan sniper, terlewat dari antisipasinya.
Titik poin cross sudah mengincar kepalanya, berarti takkan lama lagi bagi si Monster untuk mengenyam akhir tragis.
Seketika jari telunjuk disana menekan pelatuk...
"BANG!"
Gema tembakan membelah udara—
"...!" 'Masamune' terkejut tepat sebuah tangan melingkar di depan abdomennya dan dirinya terbawa alunan gaya tarik PAS peluru melewati sisi wajahnya. TIPIS.
Dari seluruh ketegangan yang terjadi sejenak dentang detik...
Otot-ototnya reflek pasrah oleh kuatnya dekapan yang berasal dari belakangnya, juga kehangatan pertemuan antara tubuh—Keseluruhannya mutlak berunsur perhatian.
...Hingga bau nikotin tercium berbarengan bibir asing menempel pada lubang telinga kanannya.
"Easy, kiddo."
Bisikan singkat dari Masamune...
JELAS menjadikan 'Masamune' mengernyit jijik; menyikut dan berontak. "GET OFF...!"
"I said, EASY!" bentak Masamune kala menepis, diteruskan mencengkeram lengan itu sembari membalikkan badan di depannya, tanpa melepaskan pelukan.
"Nhhh...!" Kembarannya berakhir tidak berkutik begitu wajah berhadapan saling sejajar sejalan pertemuan pandang—Kedua versi intrik terpisah longkap inci dan saling mereplika ekspresi.
Pastinya, keduanya sama-sama pissed.
"Jangan salah sangka, bastard..." sinisnya disertai jemari menggali luka hasil karya ketiga Tsume-nya pada pertarungan tadi, menjadikan lawan bicaranya mendesis. Tapi Masamune memang SERIUS karena INI pertaruhannya!
"Sejauh keinginanku melihatmu digilir habis-habisan oleh mereka, aku tak se-sick itu dan guess what?" lanjutnya. "Aku TAK PERDULI urusanmu dengan Ishida Mitsunari dari duniaku dan Otani Yoshitsugu dari duniamu, maupun cara Oda mendidikmu sampai kau sekacau ini, bahkan aku perduli MINUS dengan simpati 'misi' yang kau emban—Seandainya KAU menetapkan pandangan self-esteem soal 'reinkarnasi' ataupun 'karma'; memilih mengambil spotlight sendiri bersama semua bullshit hutang terhadap ketiga sisi ketimbang mencari jalan keluar yang logis... It's so fucking fine, that's your fucking life. Toh AKU mengakuimu 'rival' dan kuyakinkan, kuberikan kehormatan untuk mati di tanganku."
'Rival...' ulang 'Masamune' dalam benaknya seketika mengingat...
"Namun sejauh pengakuan, perasaanku padamu... lebih dari saudara. Aku Sanada Yukimura bersumpah tidak akan meninggalkanmu lagi. Jika kamu jatuh... aku akan menemanimu sampai dasar Neraka terdalam. Walau kamu menjauhiku, aku akan selalu meraih punggungmu, membuatmu melihat padaku bahwa aku selalu ada untukmu. Kalau aku berakhir membunuhmu..."
Sejauh takdir, setidaknya diriku. Bukan mereka."
Perasaannya sekarang sekesal muak tersebab seorang 'alien' berwajah serupanya sekaligus seseorang yang sangat penting bagi pemuda yang beberapa hari ini dianggapnya sebagai 'kekasih'... seenaknya saja menghakiminya, bahkan mengakuinya dengan persamaan picik.
"Rival...? Jangan bercanda... Kau terlalu pathetic untuk berdiri setara denganku..." geramnya kala mempererat genggaman pada gagang pistol Deagle-nya. "Walau harapanku adalah menyingkirkanmu... sekali dan selamanya darinya... Sayangnya... aku sudah diberi down payment... dengan satu mata."
"Begitu, eh? Jadi aku HARUS hidup; itu permintaan 'klien'-mu?" pancing Masamune.
"Pernah sedikit saja berasumsi kalau Oda menumbalkanmu? 'Nouhime' ada disini, mendahuluimu selangkah dan kau tak memperkirakan hal itu, benar? Lalu bagaimana dengan kehadiran Takenaka Hanbei, tak melihat koneksinya?! Kau adalah sitting duck!" sambungnya. "Jikapun kau sukses membawaku padanya, pada akhirnya kau tetap mempunyai satu hutang tersisa—Oda Nobunaga!"
"Ya..." hela 'Masamune'.
"Panggil aku 'idiot' sesukamu..." ucapnya segetir mulutnya yang tidak berhenti mengalirkan darah. "Pilihanku menaruh asa atas sugesti kerusakan mental yang kucamkan sendiri... Dan sekali lagi 'ya', penyesalanku berada jauh-jauh-jauh sebelum kita bertemu... Tapi aku memiliki prinsipku sendiri bagi para looser... khususnya dirimu..."
Bagi Masamune, itu... sesuai perkiraan tanggapan, begitu persistent bastard.
Maka, 'enough is enough.' Persetan sudah dan fuck-lah semua.
Balasannya cukup meluweskan senyum 'tersanjung'. Lalu mendekatkan wajahnya, sedikit miring, benar-benar terkesan intimasi kala bibirnya nyaris bersentuh bibir di depannya.
"Mungkin memang sudah waktunya mengakhiri pikiran-pikiran madness-mu." Diteruskan mendorong kasar tubuh kembarannya.
Kemudian menyelipkan sebatang rokok yang masih berada dalam posesi, ke katup mulutnya, menghisap kadar nikotin sambil mengambil keenam pedang yang tadi dijejerkan di permukaan tanah sebelum inisiatif menolong.
"Last shot?" Menyempatkan bertanya—Pertanyaan terakhir untuk pria yang akan dieksekusinya.
'Masamune' bertahan tetap berdiri, meski sekujur tubuhnya benar-benar remuk-redam seperti habis ditabrak kereta gandeng.
Sementara mata demonic-nya berusaha memfokuskan pandangan, baik terhadap orang-orang kelompok yakuza 'Toyotomi' yang berlarian menjauh dari 'arena' dan terhadap pria yang barusan mengakuinya 'rival'.
"Yang mati tetaplah mati... jikapun aku harus kembali... Setidaknya aku masih punya pengganti."
Ingatan akan kalimatnya sendiri membuatnya teguh; mengangkat pistol Deagle-nya dan ditepatkan dengan susah payah pada lawannya. Satu peluru belum terpakai sedaritadi.
"Ya... fuck you."
Masamune mengangguk dan menatap ke langit kelam sejenak, pada hujan yang tidak kunjung berhenti.
Walau berkata 'tidak perduli', dirinya SUNGGUH perduli, entah dikarenakan 'reinkarnasi' atau 'karma' atau mungkin... 'apresiasi'. Selebihnya: perasaannya terhadap Sanada Genjirou Yukimura, keduanya.
Sebenarnya, 'rencana' SUDAH dirangkainya. Memperpanjang pertarungan, melihat siapa saja para antagonis yang berperan, semenjak pesta pernikahan bertajuk yakuza merupakan undangan masal dalam rangka pembantaian.
Tampaknya dalam pertaruhan ini, yang dinanti tidak datang mengambil peran.
'Apa boleh buat, kan? Jika satu jenderal hilang, berarti pemimpin tak ada lagi pegangan.'
Kedua tangannya pun bersiap.
"Rest in peace."
Salam penutup darinya...
Setelahnya, Masamune melepaskan segenap charge kekuatan destruktif yang terkoordinasi tanpa konsisten taktik dan melesat menuju kembarannya yang membidiknya.
Sementara itu, di sisi mereka yang berperan 'saksi'...
...
..
.
"MASAMUNE—"
"Hentikan!" bentak 'Nouhime' pada pemuda berambut ekor; menahan agar tetap diam pada posisi karena pemuda itu merupakan kartu 'As' untuk menekan Hitokiri Dokuganryuu.
Ieyasu mulai pegal mengikuti perintah wanita yang seharusnya menjadi 'tawanan'.
"Orang-orang kelompok yakuza Toyotomi pada mangkat dan sebagian lagi sudah mundur. Takenaka Hanbei bahkan tidak lagi terlihat!" celetuknya sambil memegang pergelangan tangan kiri si wanita, dimana jemari disana sedang memegangi lengan kanan Wakakitora.
"Biar keduanya menyelesaikan apa yang mau mereka selesaikan!" sanggah 'Nouhime'. Sepatutnya perkataannya SUPER mengundang tanda tanya, diharapkan dapat mengokupasi—"HEI!"
Tapi malah dirinya yang tersibukkan menangani pemuda kembaran Kumichou Tokugawa. Sedangkan Sanada Yukimura berlari menuju halaman depan gereja.
"Bodoh!" serunya segera.
Ieyasu tidak mau tanggung lagi, langsung mencengkeram leher ramping wanita itu.
"Khh!" 'Nouhime' reflek memegangi tangan itu; menekan, mencakar, atau apalah yang bisa dilakukannya tepat tubuhnya didorong jatuh ke permukaan tanah yang becek.
"Aku sudah berjanji untuk menangkapnya jika DIA jatuh. Karena itu, untukmu... aku bersumpah..." geram Ieyasu seraya mencekik lebih untuk mempertegas ancaman.
"Nghhh!" Tangan kiri 'Nouhime' berniat mengambil shotgun pendek dari holster yang melingkar di paha, ternyata pemuda itu lebih sigap menduduki perutnya sehingga gerakannya terjepit serba sulit. Diperparah dengan derasnya hujan yang menghalangi pandangan.
Tangan kanannya pun melepaskan pegangan dan mengais-ngais sesuatu, pokoknya sesuatu yang ada di dekatnya.
...Hingga sebuah tembakan berperedam, membuat badannya terhentak mengejang sesaat dan pandangannya berakhir memudar tanpa fokus.
Sedangkan Ieyasu membelalak terkaget-kaget, spontan melepaskan cekik sekaligus menjauh sewaktu melihat darah yang berasal dari kepala wanita di bawahnya.
"Nou—"
Dan kata-katanya berhenti tepat mendengar beberapa langkah sepatu, diikuti bayangan besar yang tampil menutupinya, dimana rupa si pemilik bayangan dikenalnya teramat sangat sebagai—
"Sepertinya pesta hampir usai. Bukankah begitu, Ieyasu?" Pembukaan salam dari 'Hideyoshi', bersama tatapan dingin yang membekukan raga.
TBC...
A/n: oke, 'Masamune' harus habis-habisan di chapter ini, juga dalam keadaan sekarat. 'Nouhime' sudah dipastikan gugur dan Masamune hendak mengeksekusi kembarannya.
Dari semua keterangan di chapter ini, bisakah kalian menduga apa maksud Oda Nobunaga memberikan 'satu mata' bagi 'Masamune'?
Maaf updatenya lama banget, soalnya kemaren" sempat berlibur ke Malang, terus baru" ini sibuk urusan repair" rumah. Plus ada beberapa masalah pribadi yang menyita waktu saya. *Hiks*
Terima kasih pada para pembaca dan reviewer~ *Hugs untuk Velly, Ruruichi, Kaein-Aerknard, Saaaaa, widi orihara, Hotaru*
- Velly: hahahaha, ah ya, sudah dibenahi. Hooh, pada reuni ga jelas. Mungkin arisan? /ngek
- Ruruichi: kekekekeke, thx. Hati-hati petunjuk terkadang menjebak, lho~
- Kaein-Aerknard: ahahaha, pertarungan kedua Dokuganryuu di chapter ini masih berjalan, tapi... entah juga apa jadinya kalau 'Hideyoshi' ikutan pesta.
Ehem, DateSana ada momennya, sepertinya next chapter? Hihihihi.
"Masamune-selfcest"? Tentu boleh. Dan sebagai awal... apa teaser disini cukup? *Eaaa... teaser" /ditebas
- Saaaaa: okei~
- Widi Orihara: yup dalam bentuk roh. :) Tidakkah mereka sangat menggemaskan? /apanyaaaa
- Mrs. Panda: thx. 'Masamune' bisa dibilang mempunyai versi "bastard" yang... unik. Sejujurnya kepribadiannya tidak jauh berbeda dengan Date Masamune yang bercitra prideful, hot, egois, dan provokatif. Namun tersebab latar dan kisah hidupnya, alhasil citra dia terjabar elegan, cold, ekstrim, dan manipulatif. Plus, kebanyakan perempun menyukai "bad boy", benar? Hehehehe.
Ah ya, sex scene-nya hampir per-chapter. *jadi malu* Tapi tenang, sebagian dimaksudkan untuk memberikan 'feeling' bagi keenam karakter utama. Selain itu, setiap pertemuan dengan para karakter di dunia masa depan walau se-'random' apapun, agar para karakter dapat beradaptasi, berinteraksi, sekaligus menentukan: Apakah akan berujung pada 'sekedar lalu' atau malah memilih 'bond yang kompleks'.
Lalu soal 'Yuki', kisah dia rencananya akan diangkat kembali karena pemuda itu satu-satunya yang mampu menggenggam hati 'Masamune'. /ehem
- Hotaru (via LINE and Fb): gyahahahahahaha, hooh, Fuuma bisa ngomong karena... -beeeeeep- *Contain spoiler* /Ditabok
"Masamune-selfcest" cuma sebatas 'itu'... sayangnya. Atau... sebaiknya sampai 'anu-anu'? *kedip" mata*
Juga terima kasih banyak untuk Mimiko X As Sakura, Mrs. Panda, Fujoshi Ren, yang sudah mem-favorit dan mem-follow cerita ini. *Bearhugs buat kalian*
Waktunya 'hint'.
DIA, batasan dari nama, pembeda, itu yang mereka kata. Namun cerita, siapa yang menduga? Mungkinkah mereka percaya, ataukah lebih baik berdiam tanpa bicara dan menanggalkan semua—demi dua dunia—Begitukah adanya?
Next chapter: "Gone In Sixty Seconds."
Tebak apa yang akan terjadi?
