Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Genre : Tragedy, hurt/comfort, fantasy
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya! Yang tetep bandel saya kutuk ngejomblo seumur hidup!
Selamat membaca!
Golden Cage
Chapter 20 : Penyatuan Dua Jiwa
By : Fuyutsuki Hikari
Tidak ada yang lebih mengagetkan Sasuke selain melihat kondisi istrinya yang terlihat menyedihkan saat ini. Sasuke sudah menebak jika percakapan Naruto dengan Ayame akan membuat Naruto terpuruk namun Sasuke tidak menyangka jika Naruto akan seterpuruk dan sesedih ini karenanya.
Wanita berambut hitam legam itu kini duduk dengan menekuk kedua lututnya, membenamkan kepalanya di sana. Naruto duduk dengan tubuh bergetar di sudut ranjang, seolah melindungi dirinya dari sesuatu yang membuatnya sangat takut. Tapi apa? Apa yang membuat Naruto terlihat ketakutan saat ini? Tanya Sasuke di dalam hati.
Dengan langkah cepat namun sikap hati-hati pria itu duduk di tepian ranjang nyaman miliknya lalu mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh bahu Naruto.
Merasakan gerakan tiba-tiba, Naruto mengangkat kepala sementara kedua bola mata safirnya menatap ke dalam dua manik gelap suaminya dengan kilat takut. "Ada apa?" Sasuke bertanya dengan nada lirih dan khawatir. Ia ingin sekali merengkuh tubuh istrinya yang terlihat begitu rapuh, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Naruto sama sekali tidak ingin disentuh, karenanya ia kembali menarik tangannya, meletakkan di atas ranjang empuk itu, dan menunggu dengan sabar hingga Naruto mau bicara.
"Aku harus segera mengebumikan jenazah ibuku," bisik Naruto dengan bibir bergetar, sementara Sasuke menautkan kedua alisnya, mendekatkan telinga ke arah istrinya untuk menangkap suara Naruto yang nyaris tidak terdengar.
Mengebumikan? Beo Sasuke di dalam hati. Siapa yang harus dikebumikan? Tanyanya lagi masih di dalam hati. "Apa maksudmu?" tanya Sasuke lagi dengan kesabaran yang menakjubkan. Pria itu memberanikan diri untuk menyentuh puncak kepala istrinya, namun efeknya sama sekali tidak disukainya-Naruto bergerak menjauh, merapat ke sudut kiri ranjang, matanya menatap nyalang dengan ketakutan yang meresahkan sementara tubuh wanita itu semakin bergetar, menggigil ketakutan.
"Ibuku, Sasuke. Ibuku," kata Naruto masih dengan nada rendah yang sama. "Aku harus mengebumikannya," tambahnya membuat tubuh Sasuke membeku. "Ibuku pergi. Ibuku tewas untuk melindungiku. Kenapa?" tanyanya mengunci mulut suaminya rapat. Sasuke tidak tahu jawaban apa yang harus diberikannya atas pertanyaan istrinya ini. Sedikit demi sedikit rahasia masa lalu Naruto yang diketahuinya membuatnya bertanya pada Dewa-kesalahan apa yang Naruto lakukan di masa lalu hingga memiliki jalan takdir yang menyedihkan di kehidupan saat ini? Namun hal yang lebih mengganggu Sasuke adalah; siapa yang bertanggung jawab atas tragedi yang dialami oleh istrinya di masa lalu?
"Kenapa tidak ada yang menolongku?" cicit Naruto meminta penjelasan yang kembali tidak bisa dijawab oleh Sasuke. "Kenapa tidak ada yang menolongku untuk mengebumikan ibuku?" tanyanya lagi terdengar sakit hati. Wanita itu mengangkat kedua tangannya yang bergetar, sama sekali tidak menangis walau tubuhnya masih bergetar hebat, sementara napasnya sedikit tersedat. "Menurutmu, apa ibuku menyukai tempat yang kupilih untuk mengebumikannya?"
Hening.
Naruto tersenyum pahit, mengerjapkan mata, menahan diri untuk tidak menangis. "Beliau pasti menyukai tempat yang kupilih, kan?" tanyanya lagi dengan tatapan mata tertuju lurus pada suaminya kini memasang ekspresi yang sulit dibaca. Wanita itu terkekeh kecil, kepalanya kembali menunduk menatap kedua tangannya yang masih saja bergetar. "Aku menggali lubang itu dengan kedua tanganku. Memerlukan waktu lama tapi aku berhasil menggalinya untuk ibuku." Naruto berhenti sejenak untuk kembali menatap wajah suaminya yang menyendu. "Aku memilih tempat yang memiliki pemandangan paling menakjubkan di tempat itu untuk ibuku, Sasuke. Aku memilihnya dengan hati-hati."
"Naruto-"
"Ibuku pasti menyukainya." Naruto kembali berkata pada dirinya sendiri, memotong ucapan Sasuke yang terdengar semakin khawatir. Wanita itu terdiam lama, seperti berpikir keras lalu ia menekuk kedua lututnya semakin ke atas sementara kedua alisnya bertaut saat ia kembali berkata, "Bagaimana jika diadatang menemuiku?" racaunya panik. "Aku tidak mau melihatnya," cicitnya ketakutan. "Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Aku takut. Aku sangat takut."
Sasuke menggeser tubuhnya semakin mendekat. "Siapa? Siapa yang membuatmu takut? Bukankah ibumu sudah meninggal? Beliau tidak akan marah, bukankah kau sudah mengebumikannya dengan baik?" tanyanya hati-hati, mencoba untuk mengorek informasi sekecil apapun tanpa disadari oleh Naruto.
Naruto menggelengkan kepala dengan cepat. "Bukan ibuku. Tapi dia," katanya dengan nada satu oktaf lebih tinggi membuat Sasuke semakin penasaran akan sosok lain yang dimaksud oleh istrinya.
"Siapa?" Sasuke kembali bertanya lembut.
Naruto memejamkan mata, menutup wajah dengan kedua tangannya. Suaranya sama sekali tidak bisa keluar untuk menjawab pertanyaan Sasuke, seolah ada sebuah benda asing yang tersangkut di dalam tenggorokannya, membuatnya kesulitan untuk mengatakan jawaban atas pertanyaan Sasuke.
"Naruto?!" panggil Sasuke saat istrinya itu tidak menjawab dan terlihat semakin menjauh. Pria itu melepas napas berat, mengendalikan diri untuk tidak memaksakan kehendaknya dengan bertanya terlalu jauh. Naruto jelas tidak ingin mengatakan apapun saat ini padanya. "Tidurlah!" katanya kemudian. Bagaimana bisa dia lupa jika dia tidak akan bertanya apapun jika Naruto tidak menghendakinya?
"Ketakutanmu akan hilang saat kau bangun nanti," tambah Sasuke lagi masih dengan suara lembut yang sama namun hal itu malah berefek sebaliknya pada Naruto, bukan karena nada suara yang dilantunkan Sasuke, namun lebih disebabkan oleh kalimat yang sebelumya pria itu katakan.
Serta merta Naruto membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya, matanya membola, dengan panik dia menyentuh rambut hitam selututnya yang tergerai. "Aku tidak boleh tidur, Sasuke!" racaunya semakin panik. "Mereka akan memotong rambutku, dan menjualnya saat aku tidur."
Kedua tangan Sasuke terkepal erat mendengarnya. Emosinya kembali tersulut mendengar pernyataan istrinya itu. Berapa banyak orang yang tega melukai Naruto di masa lalu? Kenapa istrinya harus semenderita itu? "Jangan takut!" katanya dengan rahang terkatup. Sasuke marah. Marah pada siapapun bajingan brengsekyang sudah melukai istrinya di masa lalu. "Aku akan melindungimu," katanya dengan ekspresi mengeras. Sasuke merengkuh tubuh istrinya yang meronta ke dalam pelukannya. Mengabaikan protesan Naruto saat ia melakukannya. Sasuke terus memeluknya, berusaha menenangkan istrinya hingga akhirnya Naruto sedikit lebih tenang dalam pelukannya.
Mengamati ketakutan di wajah istrinya membuat Sasuke merasakan rasa sakit yang sama, dan ia sama sekali tidak menyukainya. Amat sangat tidak menyukainya. "Tidak akan ada lagi yang menyakitimu," kata Sasuke parau, sementara Naruto menenggelamkan wajahnya ke dada pria itu, mencari perlindungan yang selama ini dicarinya. "Mereka tidak akan bisa menyentuhmu. Aku tidak mengijinkan siapapun menyakitimu secara fisik. Luka-luka di tubuhmu tidak akan bertambah. Aku menjanjikan hal itu padamu."
Naruto tidak bisa menahan diri lagi. Dia meremat lengan hanfuSasuke, menundukkan kepala dalam sebelum akhirnya menangis keras di dada pria itu, menumpahkan rasa sakit yang disimpannya dalam. Menumpahkan rasa takut yang kembali datang padanya dengan kuat, membuatnya merasa sangat kecildan tidak berguna.
Percakapannya dengan Ayame tadi membuat kenangan-kenangan buruk itu kembali. Menamparnya dengan hebat, seolah mengejeknya. Ingatan saat Yamato dipenggal, kematian Dayang Chiyo, darah yang mengenai pakaian yang dikenakannya saat itu, tatapan dingin serta nada benci pada suara ayahnya, suara lecutan cambuk yang dilayangkan berkali-kali ke punggng ibunya, malam-malam menakutkan dan dingin saat ia dan ibunya di penjara, serta pelarian yang merengut nyawa ibunya kembali berputar-putar di dalam pikirannya, mengganggunya, nyaris membuatnya gila karenanya.
"Jangan takut!" bisik Sasuke lagi untuk kesekian kalinya. Ia semakin mengeratkan pelukannya, sebuah pelukan yang diharapkannya bisa menyembuhkan ketakutan istrinya.
Hening.
Keduanya berpelukan untuk waktu yang lama di dalam tenda yang begitu hening. "Aku akan menjagamu. Kau jangan takut. Lupakan masa lalu, sekarang kau adalah Naruto-istri Pangeran Keempat dari Ame, adik ipar dari Putera Mahkota Itachi, menantu Kaisar Fugaku. Siapa yang berani menyakitimu dengan statusmu saat ini?" tambahnya dengan suara menenangkan. "Mereka harus melewati jenazahku sebelum menyentuhmu," tukasnya mutlak. "Tidurlah!" kata Sasuke lagi dengan nada lebih lembut. "Aku akan menjagamu hingga kau terlelap."
"Tidak!" balas Naruto tiba-tiba. "Kau tidak boleh pergi walau aku sudah tertidur. Bagaimana jika mereka kembali?" tanyanya dengan tatapan nanar.
Sasuke melepas napas yang sedari tadi ditahannya. Ada alasan mengapa pria itu memilih untuk berjaga keamanan barak tiap malam, lalu mencuri waktu tidur beberapa jam di pagi hari, itu karena dia berusaha agar tidak tidur di atas satu ranjang yang sama dengan Naruto selama berada di barak ini. Pada awalnya dia memang ingin mengklaim kepemilikan wanita di pelukannya ini saat mereka tinggal di dalam tenda yang sama, namun entah sejak kapan keinginannya itu perlahan hilang. Sasuke tidak tahu sejak kapan ia memiliki pikiran tidak memaksa Naruto untuk menerimanya? Ia menginginkan wanita itu secara sukarela menyerahkan diri dan menunaikan tugas seorang istri atas dasar keinginannya sendiri, bukan karena keharusan ataupun paksaan. "Aku hanya akan tinggal hingga kau tidur. Mengerti. Sekarang tidur!" katanya serak, mengabaikan panas tubuhnya yang semakin meningkat karena gairah. Ini tidak baik, pikirnya masam.
Naruto menggigit bibir bawahnya, melepaskan pelukannya lalu mendongak untuk menatap wajah suaminya. "Kau tidak suka tidur di satu ranjang yang sama denganku? Walau aku berstatus istrimu?" tanyanya terdengar sakit hati.
"Bukan begitu," jawab Sasuke dengan suara berat dan aneh. Ekspresi sendu istrinya membuatnya semakin menginginkan Naruto saat ini juga. Sasuke sadar mungkin Naruto hanya membutuhkan penghiburan malam ini. Dan hanya dirinya yang bisa menghibur wanita itu saat ini. Itu saja. Tidak lebih. "Aku tidak bisa menemanimu tidur, Naruto." Katanya kemudian setelah mengambil napas pendek. "Kau sudah dewasa, kau pasti tahu maksudku, bukan?" katanya lagi, membuat Naruto mengerjapkan mata saat mengerti apa yang dimaksudkan oleh suaminya. "Dan kurasa ini bukan saat yang tepat. Kau sedang rapuh saat ini dan aku tidak akan menyukai jika kau mengatakan menyesalbesok pagi. Mengerti?"
Naruto memalingkan wajah, sementara rona merah mulai menghiasi kedua pipinya yang bersemu, malu. Demi Dewa Langit, kenapa dia harus merasa malu? Sasuke suaminya. Bukankah berhubungan badan antara suami dan istri hal yang wajar? Tsunade bahkan pernah meminjamkannya buku-cara menyenangkan seorang pria di ranjang, dan ingatan mengenai isi buku erotis itu membuat berhasil membuat Naruto merona semakin hebat karenanya. "A-aku tidak akan menyesal," katanya kemudian membuat Sasuke terkejut untuk sesaat, sebelum akhirnya ekspresinya berubah datar seperti biasa. Naruto berdeham kecil, tangannya gemetar untuk alasan yang berbeda saat ini. Oh, Dewa kenapa ia merasa seperti seorang wanita yang haus belaian seorang pria?
"Luka di punggungmu-"
"Lukaku sudah sembuh," potong Naruto cepat, bahkan terlalu cepat hingga membuat Sasuke menaikkan satu alisnya dan terkekeh pelan karenanya. Naruto menggigit bibirnya, egonya kembali menguasainya. Jika Sasuke tidak menginginkannya kenapa ia harus memaksa pria itu? Sangat memalukan, umpatnya di dalam hati. "Aku sudah baik-baik saja," katanya kemudian dengan nada tajam. "Kau boleh pergi. Aku bisa tidur sendiri seperti malam-malam sebelumnya," tambahnya membuat seringaian di bibir Sasuke semakin lebar. "Pergilah!" katanya lagi seraya meronta untuk membebaskan diri dari belenggu pelukan Sasuke.
Hening.
Keduanya terdiam lama. Naruto cemberut, sementara Sasuke mengamati wajah Naruto dengan susah-payah karena hasrat di dalam dirinya semakin tidak terkendali saat ini.
"Katakan padaku, apa kau benar-benar tahu akan apa yang akan terjadi setelah ini jika aku tetap tinggal?" Sasuke mengangkat dagu Naruto menggunakan ibu jarinya, memaksa wanita yang berstatus istrinya itu untuk balas menatapnya. "Katakan!" perintahnya dengan nada lembut saat Naruto hanya menggigit bibirnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Kau ingat kejadian saat malam pertama kita?"
Naruto kembali merona saat bayangan erotis itu terbayang di dalam pikirannya. Bagaimana dia bisa melupakan hal itu?
Satu alis Sasuke terangkat saat melihat perubahan ekspresi di wajah istrinya. "Bagus jika kau masih mengingatnya. Kau tahu aku akan berbuat lebih dari itu jika aku tidak meninggalkanmu malam ini. Apa kau tidak keberatan?"
Naruto balas menatap netra gelap suaminya yang menatapnya jauh ke dalam dirinya, seolah menunggu jawaban tepat dari mulutnya saat ini. Benarkah ini yang diinginkannya? Sudah siapkah dia menyerahkan tubuh dan hatinya untuk Sasuke? Dengan mengejutkan Naruto melingkarkan kedua tangannya pada leher Sasuke, mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir suaminya dengan desahan menggoda. "Aku tidak akan menyesal. Jadikan aku milikmu," katanya serak.
Sasuke tidak memerlukan alasan lain lagi untuk menyentuh istrinya. Dengan cepat ia membaringkan tubuh istrinya yang terlihat pasrah, dikecupinya mesra wajah Naruto-kening, alis, kelopak mata yang terpejam erat, hidung, kedua pipi, dagu dan mulut yang sedikit terbuka. Sasuke berlama-lama mencium mulut berwarna cherryyang seringkali berkata masam itu. Ia melepas dahaganya selama ini, meluapkan kebutuhannya atas istrinya, melumatnya, menggodanya hingga Naruto membuka mulutnya lebih lebar dengan sukarela.
Ia akan mengklaim Naruto malam ini juga, memetiknyadengan selembut mungkin.
.
.
.
Lima orang pria dalam lindungan jubah berwarna hitam itu terus melajukan kudanya tanpa henti, meski bayangan gelap masih menaungi negeri ini. Kelimanya bahkan tidak berhenti untuk beristirahat di penginapan terdekat. Terlalu berbahaya, menurut Minato jika ada seseorang mengenalinya, walau itu dirasanya mustahil jika rakyat biasa mengenali wajahnya, kecuali musuh-musuhnya.
Setelah memanggil Danzo dan menyusun rencana untuk menyembunyikan kepergiannya dari dalam istana, Minato segera mengumpulkan empat orang kepercayaannya untuk ikut pergi bersamanya menuju perbatasan Rouran dan Suna. Tidak ada iring-iringan prajurit yang menyertai kepergian mereka saat ini. Tidak ada kereta kuda mewah kerajaan untuk membawanya pergi. Hanya kuda-kuda terbaik serta persenjataan untuk melindungi diri juga bekal makanan yang cukup yang dibawanya untuk perjalanan ini.
Perjalanan menuju perbatasan akan memakan waktu selama dua hari satu malam jika ditempuh tanpa istirahat, karenanya Minato memutuskan untuk terus memacu kudanya, mungkin nanti ia akan berhenti sejenak untuk memberi kuda-kuda mereka minum dan makan lalu kembali melanjutkan perjalanan, begitu seterusnya, pikirnya.
Yang ada di pikirannya saat ini adalah sampai ke barak tempat Kurama berada secepat mungkin. Keselamatan Kurama menjadi prioritas utama untuknya saat ini, selain sesuatu hal yang juga sama mengusiknya-keberadaan wanita muda bernama Naruto itu entah kenapa membuatnya gelisah.
Mungkinkah wanita muda itu putrinya? Minato terus bertanya di dalam hati, mengabaikan fakta penting jika wanita yang kini berada di dalam barak perbatasan Rouran dan Suna itu memiliki warna rambut hitam legam asli, berbanding terbalik dengan warna rambut putri kandungnya yang berwarna kuning keemasan.
Dia pasti melakukan sesuatu pada rambutnya. Itu yang ada di pikiran Minato saat ini. Tapi jika wanita di dalam barak itu memang benar putri kandungnya, bagaimana bisa ia menyembunyikan diri selama sepuluh tahun ini tanpa bisa diendus oleh mata-mata Konoha yang sangat terkenal akan kemampuannya? Hal itu menjadi sebuah tanda tanya besar di kepala Minato.
Tidak. Dia tidak boleh berharap terlalu tinggi jika pada akhirnya dia akan terhempas karena kecewa. Melindungi Kurama harus menjadi fokusnya saat ini. Ia juga harus melihat keadaan Rouran dengan mata kepalanya sendiri. Jika benar apa yang dikatakan dalam laporan mengenai keadaan menyedihkan rakyat Rouran, maka Minato sendiri yang akan menghukum Mukade atas ketidakbecusannya dalam menjalankan pemerintahan di kerajaan kecil itu.
.
.
.
Naruto menunduk, menatap sepasang tangan kokoh yang memeluk perutnya erat. Malam ini akhirnya ia menyerahkan kesuciannya pada suaminya. Sebuah rasa malu menyentakknya saat ia menyadari jika punggung telanjangnya menempel erat pada dada bidang telanjang suaminya. Naruto sama sekali tidak menyangka jika Sasuke akan memperlakukannya dengan kelembutan mengejutkan, bukan perlakuan kasar seperti yang terjadi saat malam pengantin mereka dulu.
Sasuke mengecupi seluruh tubuhnya dengan pemujaan, penuh kesabaran yang nyaris membuat Naruto menjerit karena ketidaksabaran. Pria itu menuntunnya dengan lembut, mengutamakan kepuasan Naruto saat percintaan mereka berlangsung. Sasuke bahkan menahan diri saat tubuh mereka menyatu, menjaga ritme percintaan mereka tetap stabil hingga rasa sakit yang Naruto alami memudar dan berganti dengan kenikmatan yang tidak pernah dibayangkannya.
"Kau sudah bangun?"
Suara serak Sasuke terdengar sangat menggoda di telinga Naruto saat ini. Wanita itu menelan air liurnya dengan susah payah dan hanya mampu menjawab pertanyaan suaminya dengan mengangguk kecil.
Suasana di dalam tenda itu sangat gelap saat ini. Api unggun sudah lama padam, sementara lentera yang ada sengaja Sasuke matikan sebelum keduanya tidur. "Tidurlah!" katanya serak, membuat bulu kuduk Naruto meremang untuk alasan lain. Sasuke tersenyum miring saat merasakan tubuh istrinya kaku. Dengan seringai jail ia mulai melancarkan serangannya, dengan gerakan seringan bulu ia menyentuh tubuh telanjang istrinya, menyentuh titik-titik sensitif yang telah dicicipinya.
"Hentikan! Aku mau kembali tidur," erang Naruto seraya berusaha untuk melepaskan diri dari jangkauan suaminya. Dengan keras ia menampar tangan kanan Sasuke yang kini mulai merayap turun untuk menyentuh pusat kewanitaannya, "Hentikan!" perintahnya lagi, berusaha untuk terdengar tegas. Naruto bernapas lega untuk sesaat sebelum akhirnya kembali terkesiap saat suaminya memilih target lain untuk disentuh dan dicumbunya. "Sasuke, hentikan!" mohonnya parau, sementara tubuhnya kembali menggelinjang tidak nyaman.
"Apa masih sakit?" Sasuke balik bertanya. Naruto mengerjapkan mata, mencari mata kelam suaminya dalam kegelapan. "Apa kau masih merasakan sakit?" tanyanya lagi.
Sungguh, Naruto sangat bersyukur karena ruangan itu dalam keadaan gelap gulita. Sasuke pasti mengolok-oloknya jika ia melihat wajahnya yang pasti sangat memerah karena malu. "Sudah tidak sakit," jawabnya setengah berbisik.
"Bagus," jawab Sasuke sensual. "Karena aku ingin bercinta denganmu lagi," tambahnya serak.
.
.
.
Posisi matahari sudah berada di puncak kepala saat Pangeran Gaara melangkah keluar dari dalam tendanya untuk pertama kali setelah ia terkurung di sana selama empat hari lamanya. Kesehatannya sudah kembali membaik saat ini, oleh karena itulah ia menetapkan hati mencari Naruto untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.
Gaara berhenti sejenak, melihat ke sekeliling barak. Seperti biasa, para prajurit sibuk berjaga, menjaga keamanan di dalam barak. Sejak kejadian yang menimpanya, keamanan di dalam barak itu semakin diperketat. Setiap pendatang baru diperiksa dengan seksama sebelum diijinkan masuk ke dalam barak, dan semuanya harus atas seijin Itachi sebagai kepala penanggung jawab keamanan.
Pria berambut merah itu melepas napas keras, sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju tenda para tabib. Ia akan mencari Naruto di sana. Biasanya wanita itu akan berada di dalam tenda tabib untuk meracik ramuan pada siang hari, sebelum kembali memeriksa kondisi pasien di sore hari.
Gaara hanya mengangkat tangannya ringan ke udara saat dua orang prajurit yang berjaga di depan pintu tenda tabib bergegas memberinya hormat saat ia datang.
"Anda sudah sehat?" ada nada terkejut sekaligus senang pada suara Naruto saat melihat Gaara berdiri di dalam tenda tabib saat ini, namun Gaara tidak mengatakan apapun. Alih-alih menjawab, pria itu hanya mengangguk kecil dengan ekspresi datar. Wanita itu menghentikan kegiatannya untuk sementara, lalu berdiri dan memberi salam sebagai penghormatan serta bagian dari tradisi kerajaan.
Naruto tidak membungkuk untuk memberi hormat pada Gaara, karena saat ini statusnya sebagai seorang putrisudah diketahui, dan lagi Naruto berasal dari kerajaan yang jauh lebih besar, karenanya ia tidak memiliki keharusan untuk memberi hormat pada Gaara yang berstatus pangeran dari kerajaan koloni Ame. "Apa ada yang bisa saya bantu?" Naruto kembali bertanya dengan nada sopan sembari melanjutkan pekerjaannya yang untuk sejenak tertunda.
Gaara tidak langsung menjawab. "Aku datang untuk mengucapkan terima kasih," katanya kemudian, membuat Naruto tertegun, sama sekali tidak menyangka jika Gaara akan datang merendahkan diri hanya untuk mengucapkan terima kasih. "Asal kautahu, aku bukan orang yang tidak tahu terima kasih," katanya lagi masih dengan nada serta ekspresi datar yang sama.
Naruto tersenyum tanpa menatap putera mahkota dari Suna yang berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu memasukkan beberapa akar tumbuh-tumbuhan ke dalam alat penumbuk untuk dihancurkannya hingga halus. Sungguh hal ini seperti dejavubagi Gaara, secara tidak sadar pria itu melangkah mundur karenanya.
"Anda tidak perlu mengucapkan terima kasih, Pangeran Gaara," kata Naruto pada akhirnya setelah terdiam lama. "Sudah menjadi kewajibanku untuk menyelamatkan pasien-pasienku. Aku seorang tabib, ingat?"
"Apapun yang kaukatakan, tetap tidak bisa mengubah kenyataan jika aku berhutang nyawa padamu," jawab Gaara tegas.
Naruto melepas napas panjang, melirik ke arah Gaara lurus. "Kita lupakan masalah hutang budi ini. Bagaimana? Lagipula, seperti yang sudah aku katakana tadi, aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang tabib-apa yang kau lakukan?" Naruto berdiri, setengah terpekik saat Gaara tiba-tiba berlutut dengan satu kakinya, kepalanya menunduk dalam. "Bangun, Pangeran Gaara!" kata Naruto panik, takut jika ada seseorang yang melihat perilaku Gaara saat ini.
"Dewa Langit menjadi saksi atas sumpahku, aku-Putera Mahkota Suna bersumpah meletakkan kesetiaanku pada Puteri Naruto-istri dari Pangeran Keempat Ame sebagai balas budi."
"Kau tidak perlu melakukan itu!" pekik Naruto lagi tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Jangan membebani dirimu dengan sumpah seberat itu, Pangeran Gaara," tegurnya, namun Gaara bergeming. Ia sudah menetapkan hati untuk meletakkan kesetiaannya pada Naruto sebagai balas budi dan hanya kematian saja yang bisa memutus sumpah yang telah diucapkannya itu. "Kerajaan Suna akan resah jika mengetahui hal ini, terlebih kau meletakkan kesetianmu padaku, pada seorang wanita yang berstatus sebagai istri Pangeran Keempat Ame. Apa yang kaulakukan ini bisa membuat kesalahpahaman, Pangeran Gaara. Bagaimana jika kelompok-kelompok tertentu menganggap hal ini sebagai dukungan terhadap suamiku? Aku tidak mau hal itu terjadi," tukas Naruto panjang lebar.
Gaara kembali berdiri, dan menjawab tenang, "Aku meletakkan kesetiaanku padamu. Hanya aku, kau, langit dan bumi yang tahu mengenai hal ini. Kapan-pun kau memerlukan bantuanku, aku akan datang, mempertaruhkan nyawa yang telah kau selamatkan ini untuk membelamu," ujarnya sebelum membalikkan badan untuk keluar dari dalam tenda, meninggalkan Naruto yang hanya bisa memejamkan kedua matanya dan melepas napas berat.
.
.
.
"Apa yang membuatmu begitu resah?" Kurama bertanya sementara matanya mengamati Itachi yang masuk ke dalam tendanya dengan kening ditekuk. "Apa sesuatu terjadi lagi?" tanyanya lagi saat Itachi mendudukan diri di seberang mejanya.
"Raja Suna menginginkan Ayame untuk dibawa dan diadili di pengadilan mereka," jelas Itachi membuat Kurama menahan napas lalu mendesah keras. "Aku sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi sama sekali tidak menduga akan secepat ini," akunya kemudian dengan gigi gemertuk.
"Bagaimana-pun juga, Ayame nyaris membunuh Putera Mahkota Suna, jadi sudah sewajarnya jika Raja Suna mengambil tindakan cepat atas peristiwa ini," terang Kurama tanpa bisa menahan kegeramannya. Kurama sama sekali tidak bisa memikirkan jalan keluar selain membunuh ayame untuk menutup mulut wanita itu agar tidak mengatakan kebohongan mengerikan yang bisa menyebabkan terjadinya perang antara Suna dan Ame atau lebih parahnya antara Konoha dengan Ame. "Mungkin lebih baik jika kita membunuh wanita itu," usulnya membuat Itachi berpikir dalam, merenungkan usulan sahabat karibnya dengan serius.
"Jika kau setuju, aku akan memerintahkan Kakashi untuk melakukannya dengan cepat," tambah Kurama serius.
Ruangan di dalam tenda nyaman itu hening untuk waktu lama, meninggalkan keheningan pekat yang mencekam.
Untuk kesekian kalinya Kurama melepas napas panjang sebelum berkata dengan geraman marah, "Apa lagi yang kau pikirkan?" tanyanya sinis. "Terkadang kita perlu mengorbankan satu orang demi menyelamatkan nyawa banyak orang," tukasnya beralasan.
Itachi mengusap wajahnya dengan telapak tangannya yang besar. "Dan Naruto?"
Kurama mengerjapkan mata, bagaimana dia bisa melupakan Naruto? Sialnya Sasuke tidak mengatakan apapun mengenai apa yang terjadi tadi malam di dalam tenda tahanan Ayame. Yang Kurama bisa tangkap, kebencian Sasuke terhadap Ayame semakin berlipat. Pasti ada yang terjadi, pikir Kurama sehingga Sasuke begitu membenci pengkhianat itu. "Naruto tidak perlu tahu jika kita yang berada di balik konspirasi kematian Ayame. Dia mungkin akan bersedih, namun tidak akan memakan waktu lama hingga ia melupakannya. Bukan begitu?" katanya setelah terdiam lama.
Itachi menggelengkan kepalanya pelan. "Entahlah. Kurasa tidak begitu," jawabnya dengan nada tidak yakin. "Jujur saja, selama Naruto tinggal menetap bersama kami, aku sama sekali tidak bisa membaca hingga jauh ke dalam pikirannya. Aku tidak tahu apa dia benar-benar bahagia saat tinggal bersama kami, atau itu dilakukannya untuk membuat kami tenang dan bahagia saat melihatnya tersenyum senang." Itachi mengangkat sebelah bahunya sebelum kembali bicara dengan nada miris, "Naruto menyimpan terlalu banyak rahasia di dalam dirinya. Dan itu sama sekali tidak bisa membuatku tenang dan hanya bisa menduga-duga akan apa yang sedang dipikirkan atau dirasakannya."
"Kita tidak boleh ragu lagi, Itachi." Kurama menyahut cepat, mengingatkan dengan tajam. "Kita akan meikirkan mengenai Naruto nanti. Yang terpenting saat ini adalah membungkam mulut Ayame," putusnya mutlak.
.
.
.
Naruto berlari, nyaris terjatuh karena ketergesaannya. Napasnya memburu, dadanya naik-turun, wanita itu panik bukan kepalang saat tidak sengaja menangkap pembicaraan beberapa prajurit jika Ayame akan dibawa sebagai tahanan sore ini juga ke Ibu Kota Suna untuk diadili langsung oleh Kazekage-Raja Suna. Pantas saja dia melihat beberapa prajurit Suna berkemas siang tadi. Mungkin mereka tengah menyiapkan keberangkatannya untuk mengantar tahanan ke raja mereka. Sial, umpat Naruto di dalam hati. Kenapa dia harus ketinggalan berita sepenting ini?
Kenapa tidak ada satu orang-pun yang mengatakan hal ini kepadanya? Sasuke, Itachi dan Kurama sama sekali tidak menyinggung masalah ini saat bertemu dengannya pagi ini. Apa mereka sengaja menyembunyikan hal ini darinya? Tanyanya di dalam hati.
"Mau kemana?" pertanyaan yang dilontarkan dengan suara berat itu menghentikan langkah Naruto. Kedua tangannya terkepal erat, Naruto membalikkan tubuhnya untuk menatap sengit suaminya yang berdiri di belakangnya dengan punggung tegak dan dagu terangkat.
"Mereka akan membawa Ayame ke Kerajaan Suna?" ujar Naruto yang terdengar seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan. Sasuke bergeming, menatap lurus istrinya dengan ekspresi datar. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanya Naruto lagi, kesal sekaligus sedih karena ia harus mendengar mengenai hal ini dari orang lain. "Kenapa tidak ada satu orang-pun yang mengatakan hal penting ini padaku?" tanyanya lagi dengan tatapan menusuk.
Sasuke mengambil dua langkah ke depan untuk mengamit tangan istrinya sebelum menjawab dengan nada datar yang menjengkelkan, "Seorang Puteri sepertimu tidak seharusnya mengurus seorang pengkhianat sepertinya."
Naruto membeku. Ada yang aneh dari cara Sasuke bicara saat ini. Mungkin orang lain yang tidak mengenal Sasuke dengan baik menganggap nada bicara suaminya itu datar seperti biasanya, namun Naruto berani bersumpah jika ia bisa mendengar nada dendam di dalam nada bicara suaminya ini.
Wanita itu menelan kering. Apa Sasuke mendengar pembicaraannya dengan Ayame tadi malam? Tanyanya di dalam hati. Tapi Sasuke tidak mengatakan apapun atau bertanya mengenai hal itu saat pria itu datang ke dalam tendanya pagi tadi untuk beristirahat. "A-apa maksudmu?" tanyanya terbata tanpa mampu mengalihkan tatapannya dari tatapan suaminya yang menelanjangi hingga ke dasar jiwanya.
Sasuke menjawab, "Pengkhianat sepertinya tidak pantas mendapat perhatian dan belas kasihanmu, Naruto." Wajah Sasuke mengetat saat mengatakannya. Sejak tadi malam ia sudah menahan diri untuk tidak menebas kepala Ayame dengan pedangnya. Persetan dengan alasan Ayame yang mengatakan jika semua ini dilakukannya untuk menyelamatkan kedua adiknya. Pengkhianat tetaplah pengkhianat di mata Sasuke. Kemarahan pria itu semakin tersulut saat tahu jika ibu kandung Ayame tega menjual Naruto untuk bertahan hidup? Sungguh, Sasuke sama sekali tidak menyangka ada manusia sejahat itu. "Biarkan pengadilan mengadilinya," tegasnya tajam.
Tapi bukan Naruto namanya jika tidak membantah. Wanita itu menepis tangan Sasuke, dan menyahut dengan desisan sinis, "Apa kau lupa jika Ayame melakukannya dengan terpaksa?" pancingnya. Naruto melayangkan tatapannya ke segala arah sebelum kembali bicara, "jika kau menguping pembicaraanku tadi malam dengan Ayame seharusnya kau merasa iba padanya. Dia melakukannya karena terpaksa," ujarnya setengah berbisik.
"Kejahatan tetaplah kejahatan, apapun alasannya," balas Sasuke tenang, sementara Naruto hanya bisa menatapnya nyalang. "Pencuri tetaplah pencuri, apapun alasan mulia dibaliknya. Jadi, jangan ikut campur mengenai masalah ini, Naruto. Ini diluar kekuasaanmu!" perintahnya mutlak sebelum berbalik pergi.
"Aku akan meminta bantuan Pangeran Gaara," ujar Naruto keras kepala, menghentikan langkah Sasuke.
Sasuke tersenyum sinis, menoleh lewat bahunya dan menjawab tajam, "Jangan mempersulit orang lain hanya untuk mempertahankan keegoisanmu, Puteri Naruto!" ujarnya menohok Naruto dengan keras, tanpa bisa mengelak, dan sore itu Naruto hanya bisa terdiam, menatap kepergian kereta tahanan yang membawa pergi Ayame dengan perasaan campur aduk.
.
.
.
"Apa kau sudah menemukan jawaban atas pertanyaanku?" Sasuke bertanya dengan nada masam, membuat Shikamaru yang tengah serius membaca perkamen terlonjak, berdiri untuk memberi hormat pada Sasuke yang datang dengan tiba-tiba ke tendanya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sasuke mengangkat tangan kanannya, meletakkan pedang yang tersampir di pinggangnya ke atas meja sebelum mendudukkan diri dengan keras di kursi kosong. "Apa kau punya arak?" tanyanya lagi pada Shikamaru yang segera berbalik untuk mengambilkan sepoci arak untuknya.
"Saya belum bisa menemukan jawaban yang Anda cari, Pangeran Sasuke," jawab Shikamaru terdengar menyesal. "Jika berada di istana, akan lebih mudah bagi saya untuk mencari jawabannya di perpustakaan kerajaan. Saya yakin di perkamen tanda lahir keluarga bangsawan, tanda lahir itu pasti tercantum."
"Kenapa kau menekuk wajahmu seperti itu?" tanya Sasuke setelah menyesap araknya dengan cepat.
Situasi hati Sasuke tengah memburuk saat ini. Bagaimana tidak? Tadi malam mereka baru saja menyatukan hati dan jiwa mereka dalam sebuah percintaan yang membuai dan sekarang, sekarang Naruto memilih untuk mengabaikannya hanya karena Ayame? Istrinya itu bahkan tidak mau bersusah payah untuk menyapanya saat ia datang ke tenda untuk mandi dan berganti pakaian. Dasar wanita! Ujar Sasuke di dalam hati.
Shikamaru memiringkan kepalanya ke satu sisi. "Jujur saja, saya baru melihat tanda lahir serumit ini," akunya pada Sasuke yang menatapnya dengan satu alis terangkat. Shikamaru menyempitkan mata, menatap kertas yang sudah dilukis oleh Sasuke-gambar tanda lahir yang terdapat pada bahu istrinya. "Maaf jika saya lancang, tapi dimana Anda melihat tanda lahir ini, Pangeran?" tanyanya penasaran.
Sasuke bergeming, memilih untuk menyesap araknya dengan pelan dan nikmat.
"Maafkan atas kelancangan saya, Pangeran," ujar Shikamaru kemudian. Pria itu bisa menebak dengan jelas jika Sasuke tidak mau menjawab pertanyaannya itu. Jemarinya kini menyentuh lingkaran berpola rumit yang mengelilingi sebuah tanda berbentuk spiral di dalamnya, "Aku tidak pernah melihat tanda lahir seindah ini di dalam perkamen manapun. Atau mungkin ada perkamen yang terlewat kubaca?" Shikamaru mengumpat di dalam hati, mengutuk kebodohannya jika hal itu terjadi.
Sasuke mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja. Bukankah Naruto mengatakan jika tanda di bahunya merupakan tanda dari sang feniks? Bagaimana jika tanda dibahu itu terdiri dari dua buah tanda? Tanda dari sang feniks dan tanda lahir wanita itu? "Apa kau pernah melihat tanda lahir ini sebelumnya?" Sasuke bertanya sembari menunjuk tanda spiral di atas kertas.
Shikamaru mengangguk dan menjawab yakin. "Tentu saja. Bentuknya mirip dengan tanda lahir yang dimiliki oleh keluarga Uzumaki," jelas Shikamaru membuat Sasuke nyaris tidak bisa bernapas karena terkejut.
"Apa kau yakin?" Sasuke bertanya dengan nada biasa. Dengan kelihaiannya ia mampu menyembunyikan keterkejutannya itu dengan baik.
Shikamaru kembali mengangguk dengan sangat yakin. "Saya sangat yakin, Pangeran. Tanda ini sangat mirip dengan tanda lahir yang dimiliki oleh setiap keturunan keluarga Uzumaki." Shikamaru mengernyit dalam setelahnya, "Namun saya masih belum tahu arti dari tanda rumit yang mengelilinginya ini."
Sasuke segera berdiri, menyambar pedangnya dan berkata tegas, "Tidak perlu mencari lagi, Shikamaru. Sepertinya aku sudah tahu jawabannya," katanya membuat Shikamaru mengernyit heran, sebelum berdiri untuk memberi hormat dan mengantar kepergian Sasuke yang terlihat sangat tergesa saat keluar dari dalam tenda miliknya.
Dalam perjalanannya menuju tenda Kurama, Sasuke berpikir dengan keras, alasan apa yang harus dikatakannya pada Kurama agar putra sulung dari Kerajaan Konoha itu bersedia memperlihatkan atau menggambarkan lukisan Puteri Naruto padanya. Sesuatu menyentak Sasuke dengan keras, apa mungkin gadis kecil yang dicarinya selama ini adalah Naruto yang sama yang kini berstatus sebagai istrinya? Bukankah sihir feniks mampu mengubah fisik seseorang yang dilindunginya sehingga orang-orang yang pernah mengenalnya tidak mengenalinya lagi? Apa itu yang selama ini terjadi pada Naruto?
Sasuke menahan napas untuk beberapa saat. Bolehkah dia berharap tinggi jika istrinya memang gadis kecil yang selama ini dicarinya?
Tidak. Dia tidak boleh gegabah untuk hal sepenting ini. Ia harus memastikannya sendiri.
Dia harus mendapatkan lukisan Puteri Naruto kecil dari Kurama, lalu sekembalinya ke Ame dia akan meminta bantuan Sai untuk melukis Puteri Naruto versi dewasa dengan rambut pirang.
Langkah Sasuke terhenti seketika. Dia tidak perlu menunggu kembali ke Ame untuk membuktikan kebenaran ini. Yang perlu dilakukannya hanya meminta lukisan Puteri Naruto kecil dari Kurama lalu pergi ke Desa Rouran dimana rumah bordil yang dilaporkan oleh anak buahnya itu pernah berdiri dan menyelidiki nama pemilik rumah bordil itu.
Benar, dia hanya perlu mencari waktu dan alasan tepat untuk pergi ke Desa Rouran lalu mencocokkan hasil penyelidikannya dengan apa yang pernah dikatakan Naruto mengenai masa lalunya.
.
.
.
TBC
Aloha... saya kembali lagi. Hm... maaf untuk banyaknya typo(s) dichap kemarin. #NgorekTanah Chapter ini nggak terlalu menegangkan, kan? Bagian sedihnya sengaja saya simpan untuk chapter depan yah.
Dan untuk pembaca baru, selamat bergabung, Teman-teman! #TembakConfetty
Menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya untuk menyambut para pembaca baru disetiap chapter yang saya update. Rasanya menyenangkan bisa berbagi imajinasi yang ada di dalam otak saya bersama kalian. Semoga pembaca sabar menunggu chap-chap selanjutnya yah. Dan terima kasih juga untuk yang bersedia meluangkan waktu mengoreksi typo(s) di chap-chap yang lalu. Terima kasih banyak. ((:
Dan untuk fic ini, semoga pembaca sabar menunggu; apakah Sasuke berhasil mendapatkan lukisan Naruto dari Kurama? Menunggu apa Ayame jadi dibunuh oleh Kakashi? Menunggu apa Naruto akan bertemu dengan Minato? Serta menunggu apakah Sasuke berhasil menyatukan puzzle yang ada untuk menemukan cinta pertamanya? Hehehe!
Semoga chap ini typo(s)-nya nggak terlalu banyak. #Amien
Ah, rencana update minggu ini ; LMOMT dan TBWY. Jadi jangan tanya kapan fic lain update yah. #Melotot XD
Untuk UC saya kerjakan sedikit demi sedikit, semoga bisa update bulan ini. #Amien
Sekian, dan sampai jumpa dichap serta lanjutan fic-fic lainnya! ^^
#WeDoCareAboutSFN
