Chanyeol menyelesaikan tugas yang di berikan kepadanya secara tiba-tiba itu dengan cepat, dia kembali kerumah dengan tergesa, dia mengkhawatirkan Baekhee, pasalnya dia meinggalkan gadis itu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Tapi dia panik saat tidak menemukan Baekhee dimanapun di dalam rumah, Baekhee tidak mungkin pergi jauh dari rumah itu.
"Sial!"
Chanyeol berlari keluar rumah seperti orang kesetanan. Dia berlari ke toko roti di seberang rumahnya, dia masih berpikir positif jika baekhee mungkin berada di tempat itu.
Chanyeol masuk begitu saja ke dalam toko itu.
"Minseok Ajumma!, apa Baekhee menemuimu hari ini?"
"Baekhee?, tidak, dia tidak kesini, kenapa kau—"
Minseok sedikit terkejut saat Chanyeol tiba-tiba datang dan menanyakan keberadaan Baekhee, karena dia tidak pernah tahu jika laki-laki yang di maksud Baekhee adalah Park Chanyeol.
"Jeosonghamnida" Chanyeol meminta maaf karena menerobos masuk, kemudian Chanyeol langsung berbalik dan bergegas meninggalkan tempat itu.
"Chan—"
Minseok merasa aneh dengan ekspresi wajah Chanyeol yang terlihat panik dan berlari begitu saja tanpa menghiraukannya dan keadaan sekitar.
"Brengsek kau Kriss Wu!" Chanyeol memukul-mukul stir mobil yang dia kemudikan, dan melajukan kendaraanya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Chanyeol mengangkat ponselnya dan menekan panggilan cepat untuk menghubungi Sehun.
"Sehun-ah!, jika aku tidak kembali dalam 1 jam, susul aku di rumah tua bangka itu"
"Apa yang ter-"
'pip'
Chanyeol mematikan sambungan telpon begitu saja, bahkan sebelum Sehun menyelesaikan kalimatnya.
"Jika kau berani menyentuhnya, aku tidak akan segan membunuhmu!, aku tidak perduli jika aku adalah orang yang tidak tahu balas budi, sudah cukup kau mencelakakan kedua orangtuaku, aku tidak akan pernah membiarkanmu mengambil orang yang aku sayangi sekali lagi"
Chanyeol akan melakukan apapun, sekalipun dia harus membunuh Kriss dia akan tetap melakukanya.
Chanyeol sangat membenci Kriss, Sejak mengetahui jika kecelakaan yang di alami orangtua nya di sebabkan oleh Kriss yang dengan sengaja hendak menabrak mobil yang orangtuanya kendarai dengan sebuah Truk besar.
Dan pria itu pun mengatakan jika dia sangat membenci ayah Chanyeol yang melaporkannya pada atasan jika sudah meloloskan seorang tersangka pembunuhan yang membuat dirinya di keluarkan dari kepolisian.
Bahkan saat ayah Chanyeol berhasil menagkap tersangka itu pun, Kriss yang saat itu belum merubah namanya selalu mengirimkan pesan yang berisi terror pembunuhan pada keluarga Chanyeol.
Pada awalnya Kriss ingin membunuh Chanyeol, tapi dia berubah pikiran dan memilih mengambilnya untuk dia jadikan alat untuknya.
Chanyeol masih bertahan bersama pria itu, dia tidak gegabah hanya karena membenci Kriss, dia mempersiapkan semuanya, tapi rencanaya berubah saat mengetahui pemilik panti asuha tempat Baekhee tinggal akanmenjual Baekhee pada Kriss.
Chanyeol membunuh pria itu dan membakar Panti Asuhan saat para penghuninya sedang beraktivitas di luar panti, termasuk Baekhee yang sedang berada di Bawah pohon tempat biasa mereka bertemu semasa kecil.
Chanyeol keluar dari mobil dengan tergesa sesampainya di rumah yang Kriss tinggali, dia di cegat oleh dua orang yang menjaga rumah itu.
"Minggir kalian!"
Chanyeol menghajar keduanya hingga keduanya tersungkur, Chanyeol memukul mereka di area kepala yang membuat kedua orang itu tidak sadarkan diri.
Chanyeol mendekati kamar kriss, dia geram saat mendengar suara Baekhee yang berteriak.
"Pergi!" Baekhee berteriak
"Apa yang Phoenix ajarkan padamu eoh?!" Chanyeol mendengar suara Kriss yang meninggi "...Tidurlah denganku, maka aku akan melepaskan kalian" Chanyeol semakin geram saat mendengar kata-kata itu
'brakk!'
Chanyeol menendang pintu kamar itu dan menerobos masuk, Chanyeol menghampiri Kriss yang duduk di hadapan baekhee yang terlihat gemetar ketakutan. Gadis itu menangis karena ketakutan.
'bugh'
Chanyeol meraih kerah pakaian Kriss dan melayangkan sebuah pukulan di wajah pria itu.
"JANGAN BERANI MENYENTUHNYA BRENGSEK!"
Chanyeol kembali menarik kerah baju Kris dan berteriak tepat di wajah Kriss, pria itu hanya menyeringai melihat Chanyeol yang seperti orang kesetanan.
'BANG!'
'Brukk'
Chanyeol ambruk saat sebuah tembakan mengenai perut sebelah kirinya. Kriss menyembunyikan pistolnya di belakang, Chanyeol yang terbakar amarah tidak memperhitungkan kemungkinan apapun, hingga pria itu berhasil menembaknya.
"Oppa!" Baekhee berteriak saat mendengar suara Tembakan yang memekakan telinganya.
"Haha!" Kriss hanya tertawa saat melihat Chanyeol tergeletak tidak berdaya di lantai denga perutnya yang mengeluarkan banyak darah
"...kau belum mati kan Phoenix?, lihat bagaimana aku meniduri gadismu, nikmati pertunjukan sore mu Tuan Phoenix"
Kriss menyeringai, dia membuang pistol yang dia pegang ke sembarang arah dan kembali menghampiri Baekhee yang masih menangis histeris setelah mendengar suara tembakan itu.
"Breng-sek kau!" tangan Chanyeol menggapai ke udara, ingin sekali dia berlari dan menarik pria itu kemudian membunuhnya, tapi dia tidak berdaya.
"Bangkitlah jika kau bisa" Kriss membuka jas yang dia kenakan dan menatap sinis pada chanyeol yang terkapar di lantai.
"Dengarkan baik-baik desahan gadismu ini, hahaha!"
"Andwae!, Oppa tolong aku, pergi!" Baekhee meronta dan berteriak saat kris mulai menyentuhnya.
'Plak'
Kriss menampar Baekhee yang terus saja melawan, walaupun tenaga gadis itu tidak berarti apa-apa.
"B-baekh-" Chanyeol lirih saat melihat gadisnya di perlakukan secara kasar, dia menangis karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolongnya.
Chanyeol mencoba bergerak tapi rasa nyeri di perutnya luar biasa, itu terasa panas dan menusuk.
"Oppa!, Andwae, aku tidak mau, Oppa tolong aku!"
Hati Chanyeol merasa tersayat saat kembali mendengar Baekhee berteriak dan meminta tolong padanya.
"Diam kau!" Kriss terus saja berusaha melucuti pakaian yang Baekhee kenakan, dia berhasil merobek lengan gaun Baekhee dan meraup leher mulus gadis itu san mencumbuinya.
"Tidak, ku mohon jangan, aku tidak mau, Oppa!" Baekhee terus saja meronta dan memanggil-manggil Chanyeol.
'breett'
Kriss merobeek gaun yang Baekhee kenakan hingga memperlihatkan paha dan dada mulus gadis itu.
"Baekh, jangan, kumohon jangan lakukan itu padanya, jangan menyakitinya" Chanyeol lirih.
Chanyeol berusaha sekuat tenaga untuk bangkit, dia melawan rasa sakitnya sendiri demi gadis yang dia sayangi, dia sudah berjanji akan melindungi Baekhee apapun caranya.
'BANG!'
'Bruk'
Chanyeol berhasil meraih pistol yang Kriss lemparkan, dan menembak pria itu tepat di punggungnya membuat pria itu tersungkur menindih tubuh baekhe, kakinya yang menjuntai ke bawah mempermudahkan Chanyeol menarik tubuh pria itu hingga terkapar di lantai.
"Akh!, anak kurang ajar!" Kriss kesakitan
"Aku bukan anakmu" Chanyeol merangkak dan berhasil duduk di atas tubuh Kriss, dia menggunakan selurus tenaga yang tersisa untuk melakukanya.
"Haha!" Kriss hanya tertawa hampa saat melihat Chanyeol menodongkan ujung pistol itu tepat di kepalanya.
"Hyung!" Sehun tiba-tiba berdiri di ambang pintu. Sehun khawatir saat menerima panggilan terakhir dari Chanyeol segera menjemput Luhan untuk menyusul Chanyeol sesuai yang laki-laki itu suruh.
"Arrghhh!" Chanyeol menggeram kesakitan saat tangan lemah Kriss meremas luka di perut kirinya yang terus mengeluarkan darah "...mati kau Naga Tua!, Arrgghhh!"
'BANG!'
'BANG!'
'Bruk'
Chnyeol kembali ambruk setelah berhasil menembak kepala Kriss dan membuat pria itu meregang nyawa saat itu juga.
Sehun berlari menghampiri Chanyeol yang terkapar di sebelah mayat Kriss.
"Oppa!" Sehun memakaikan jaket ke tubuh Baekhee yang setengah telanjang
"Hah..Hah, Baek" Chanyeol terengah-engah pandanganya mulai kabur "...Gwenchana?" dia mengkhawatiran gadis itu, walaupun keadaanya sendiri tidak jauh baik.
"Oppa, mianhae" Baekhee bersimpuh di sebelah tubuh Chanyeol dan menggenggam tangan chanyeol yang penuh darah dengan bantuan Sehun.
Chanyeol menagkupkan telapak tangan Baekhee ke wajahnya, laki-laki itu mengangkat bibirnya hingga tercetak sebuah lubang di pipinya.
"Oppa~hiks" Baekhee terus saja menangis, dia menyesal menyuruh Chanyeol pergi setelah laki-laki itu menceritakan semuanya.
"Ya Baek, oppa disini" suara Chanyeol semakin melemah, tanganya meraih pipi Baekhee yang basah karena air mata.
"Jangan menangis" Chanyeol menyeka air mata Baekhee.
"Sehun-ah, bakar tempat ini, aku tidak ingin melihat tempat ini lagi" Chanyeol lirih "...Sehun-ah, jaga Baekhee untukku"
"Tidak Oppa, jangan tinggalkan aku lagi" Baekhee menangis sejadinya saat mendengar kata-kata Chanyeol seolah laki-laki itu akan pergi selamanya.
"Baekh-" Chanyeol menurunkan tanganya dan megelus perut Baekhee yang sedikit membuncit.
"Hei, jaga eomma-mu, Cadenza Park, karena kau dan eomma mu sudah menjadi irama yang indah di hidupku yang kelam, berikan irama yang indah yang bisa di dengar eomma-mu, dan jaga eomma baik-baik jangan pernah membuatnya sedih, berbahagialah"
"Andwae Oppa!" Baekhee merasakan tangan Chanyeol yang jatuh lemas.
"Tidak hyung, kau pasti bisa bertahan bertahan"
"Sehun-ah, jaga mereka"
"Oppa!"
"Hyung!"
Sesuai pesan Chanyeol, Sehun membakar habis tempat itu hingga tidak tersisa.
Mulai hari ini, mereka harus menjalani kehidupan baru tanpa adanya Chanyeol di sekitar mereka.
Mereka berdiri di depan gundukan tanah yang masih basah dan mengenakan pakaian serba hitam, Baekhee menggenggam sebuket bunga Crissant putih di tanganya. Dia tidak tahu bagaimana akan bertahan hidup tanpa Chanyeol.
"Ku mohon Lahirkan dia"
Tiba-tiba kata-kata Chanyeol terlintas di pikiranya, itu adalah sebuah permohonan laki-laki itu saat dirinya mencoba meloncat dari jendela Rumah sakit dan hendak mengakhiri hidupnya, saat itu anak yang di kandungnya adalah beban baginya, tapi saat ini anak itulah yang menjadi harapanya dan bertahan hidup selama yang dia bisa.
"Aku akan melahirkan dia Oppa, apapun yang terjadi. aku akan memberinya kue cokelat setiap hari ulang tahunnya, aku akan memberinya nama yang kau berikan, jadi Oppa, berbahagialah disana, aku pun akan berbahagia dan bertahan untuknya"
END
