Yang sudah lupa tokoh/jalan cerita, bisa tanya langsung ke saya loh ^^ Kalo ada typo, tegur saya. Ngedit sy agak ngantuk.
Kritik saran ditunggu~
Lets go! Bismillah~
"Ngapain kau kemari?"
Daehyun terkejut melihat satu tangan terentang menghalangi jalan masuknya ke mobil. Ia kira seorang fans , ternyata lebih dari itu.
"Aku rasa aku perlu penjelasan kenapa kau kemari membawa temanmu yang melakukan hal gila di depan sekolahku?"
Di balik masker itu, Daehyun sedang tersenyum lebar. Ia gelagapan menghadapi tatap mata yang cukup tajam terlempar kepadanya. Meskipun telah lama ia tak bertemu pandang, mata itu tetap terasa mengancam, serta bikin rindu.
"A—aku tak mengenalnya, sungguh. Aku tidak duga dia kemari," tampangnya sok polos. Sebuah pernyataan konyol yang tidak akan bisa diterima Youngjae karena jelas hal itu bersebrangan pada fakta. Siapa yang tidak kenal partnernya sepanggungnya sendiri? Memangnya dia amnesia?
"Dan kau kemari untuk membuntutiku?"
Daehyun meneguk ludah. Kenapa hasil menguntitnya yang kedua kali malah berakhir jadi begitu kacau hanya karena Jongup terlibat begitu saja. Ia terdiam saja. Sedang mencari alasan yang paling pas.
Youngjae tidak bisa membairkan keheningan dari keduanya dibalik kebisingan teriak-teriak heboh para fangirl dari beberapa langkah mereka , berjalan terus sampai kehadiran mereka ketahuan. Ia mendesah nafas, "Kau ingin mendengar semua kata memuakkan dariku setelah membaca semua pesanmu?"
Mata Daehyun terbelakak. Sampai dirinya tergagap. "K-K-Kau jadi membaca pesanku!?"
Daehyun berteriak, dan suaranya yang memang khas itu sontak jadi perhatian beberapa orang yang masih berkumpul. Youngjae terkesiap, dan langsung mendesak tubuh Daehyun masuk ke belakang kemudi. Youngjae entah kenapa ikut duduk di sampingnya. Itu atas ketidak sadarannya. Tapi setidaknya lebih baik daripada para fangirl semakin merepotkan mengejar Daehyun pula.
"Jadi kau membacanya!?" pekik Daehyun kedua kalinya setelah membuka kembali maskernya. Kali ini ia tidak perlu khawatir sampai ketahuan oleh orang-orang.
"SSSSSTTTT.. bodoh! Bagaimana jika ada yang melihatmu?!"
"Terima kasih Tuhan! Youngjae ternyata membacanya!" Daehyun mendelik ke Youngjae. Mengabaikan keresahan yang muncul hingga Youngjae sampai kalang kabut memperhatikan sekitar. "Lalu kenapa kau tidak menjawabnya!? Barang 1 pun!"
"Untuk apa aku membalas orang yang membuatku marah seumur aku jadi fanboy?" Youngjae mendengus. Ia terlihat tidak senang diajak mengobrol. "Kau masih benci padaku?" bibir Daehyun mengerut kecewa. "Aku minta maaf."
Kepala pemuda itu terfokus memperhatikan Daehyun. Ada rasa yang terlampau menyesal ketika mengingat ucapan Diana tentang Daehyun yang tidak ia sadari. Daehyun hanyalah pemuda baik yang mau menolongnya, juga selalu menempatkan ruang kosong untuk Youngjae disana.
Bahkan sampai saat ini.
"Tidak juga," nada Youngjae melembut. Ia memelintir baju seragamnya dengan malu-malu. "Aku sudah tau beberapa hal dari Diana." Daehyun terperangah menatap Youngjae. Ekspresinya bertanya-tanya penasaran.
"Aku tidak percaya, akan berakhir sekejam ini,"
"Maksudmu?"
Youngjae tersenyum miris. Tampak sesal di wajahnya mungkin memalukan. Apalagi selama ini ia menjauh karena ingin membuktikan dirinya tidak kalah ditaklukkan Daehyun si penganggu, atau segala sebutan jelek di otaknya.
Tapi nyatanya...
"Rasa untuk tidak menyukai Daehyun, tak disangka akan berakhir dengan rasa keberatan dihiraukan olehmu meskipun aku mencoba. Ketika kau masih memberikan perhatian padaku setelah aku menjauhimu, aku malah justru merasa senang."
Daehyun mencoba pelan-pelan memasukkan ucapan Youngjae dalam otaknya yang terdengar tidak dimengerti. Suara keramaian di luar mobil telah berlalu. Keheningan semakin mendominasi.
Youngjae harus lebih jelas berkata bahwa...
"Aku sadar, aku tidak membenci Daehyun. Aku membenci skandal yang menganggumu. Aku benci pembohongan yang menyangkut pautimu. Aku hanya ingin kau meneruskan karirmu dengan atau tanpa dukunganku. Aku akan selalu berdoa kau sukses, terima kasih."
Youngjae tiba-tiba memegang kenop mobil. Ia akan keluar dari mobil itu. Sebuat reaksi yang tidak disangka Daehyun hingga membuatnya harus mencegat tangannya, membuat punggung Youngjae terhempas kembali ke bangku. Ini adalah kerja tubuh yang terjadi begitu saja. Seakan Daehyun sulit kehilangan pemuda itu kembali.
"Apa yang kau lakukan?!" Youngjae membelakak mata. Tidak menyangka Daehyun malah menahannya.
"Kau ingin meninggalkanku lagi?! Kau ingin mengabaikanku lagi?! Sampai kau lupa, gitu!?"
Youngae mengerut dahi. Haruskah Daehyun sedramatis ini menanggapi ucapannya.
Ya, Daehyun menganggap kepergian Youngjae berlebihan. Itu karena sebuah rasa yang sudah terlanjur muncul di hatinya. Youngjae belum tahu itu.
Maka disaat itulah Daehyun membuktikan ia serius, dan tidak akan mengulang kesalahan.
Daehyun mencuri kembali ciuman Youngjae, sebelum pemuda itu hendak membalas dengan argument lainnya. Semuanya menjadi berlalu dalam ketenangan. Bahkan untuk para siswa yang berjalan di trotoar sebelah mobil mereka terparkir, tidak bisa dikhawatirkan lagi.
Tidak ada penolakan, Youngjae membiarkan ciuman itu merayapi bibirnya. Beberapa menit kemudian terlepas. Mereka mencoba mengambil napas. Kemudian Daehyun tak tahan untuk memberikan ciuman lainnya. Kali ini kecupan lembut saja, karena kalau semakin dalam, akan sangat berbahaya.
"4" Youngjae mengingatkan kembali hitungan ciuman yang terjadi di antara mereka setelah Daehyun menjauh. Ia menyandarkan duduk dengan sangat lemas—memandangi kemudinya dengan tatap tegang. Apa yang baru saja ia lakukan terhadap seorang anak SMA?!
Daehyun yang menatap kosong kemudinya, mau tak mau membalas dengan kikuk. "1... 1 ciuman yang tidak kau tolak."
Sama-sama diam, Daehyun kemudian mulai memegang setirnya. Ia menghidupkan mobil.
Saat mobil mulai bergerak, ia memandangi tangan Youngjae yang bertengger di samping duduknya. Terkepal gelisah. Ia paham bahwa Youngjae saat ini sangat tegang juga sama sepertinya—akibat ciumannya lagi-lagi diambil dalam sekejap. Di keheningan yang sama. Yang membedakan hanya lokasi, dan sebuah perasaan yang lain.
Maka Daehyun dengan cukup percaya diri, memegangi tangan Youngjae dan mengaitkan jemari di antara mereka. Dan lagi-lagi, tidak ada penolakan.
"Kau berarti sudah baca pesan terakhirku?"
Youngjae tertunduk malu-malu. Sambil mengangguk pelan.
"Aku akan membalas pesan itu nanti, lewat ucapanku langsung."
"Aku benar-benar tidak percaya. Junhong!? Dengan Jongup?! Selama ini sahabatku punya hubungan dekat dengan JONGUP!?" Jaebum membuka pintu café dengan terburu-buru. Diikuti Himchan yang menanggapi dengan senyuman ramah seperti biasa ketika berpapasan dengan Hyunsik dan pemilik café.
"Cukup sudah Youngjae jadi antek-antek dalam BA, sekarang Jongup bahkan mengajak jalan-jalan Junhong."
Setelah duduk di bangku paling nyaman, Jaebum kembali meneruskan celetukannya. "Jangan-jangan kau juga !? Youngjae pernah bilang kau punya hubungan dengan Yongguk!? Jangan bilang malah kau—"
"Oh ayolah Jaebum! Jangan melempar intuisi aneh padaku."
Jaebum mengerut bibir. Kesal. "Kalian bertiga cocok sekali dengan si BA itu."
Himchan merasa cukup dengan keluhan Jaebum, kemudian memilih untuk memesan minuman secepatnya agar dapat menenangkan kepala penat Jaebum.
Kemudian datanglah Hyunsik menengahi percakapan mereka dengan membawa senampan minuman yang terpesan. "Bagaimana ujian kalian?" Hyunsik seperti biasa melayani ramah.
"Sangat baik, Hyung," ucap Himchan sambil menerima gelas. Jaebum masih kusut dengan ekspresi tidak puas karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan.
"Jaebum kenapa?" Hyunsik tidak tahan untuk menanyakan keadaan pemuda yang memelas di atas meja tersebut. Ia mengasihani wajah Jaebum yang terlihat tertekuk.
"Tadi Jongup datang ke sekolah kita, Hyung!"
Tanggapan Jaebum terlalu bersemangat. Sampai hampir terdengar ke satu ruangan. Beberapa pengunjung café lekas memperhatikan percakapan antara pelayan dan pelanggan ini, tidak salah mendengar sebuah informasi bagus. Himchan saking terkejutnya, segera menendang kaki Jaebum. Sontak si korban mengatup bibir.
"Jongup datang ke sekolah dan menjemput Junhong. Kurasa mereka saling kenal."Himchan yang lanjut menanggapi. Tapi lebih tenang.
"Oh ya?" Hyunsik memutar mata bingung. Ia merasa déjà vu. Seterkenal ini kah teman-teman Himchan sampai bisa menarik perhatian artis. Bahkan dahulu seingatnya Daehyun sampai datang kemari demi bertemu Youngjae.
"Kurasa ketiga dari mereka punya skandal dengan BA." Bisik-bisik Jaebum polos. Mengundang tawa para partner bicaranya.
"Aku tidak punya hubungan dengan BA. Kami hanya bertemu sebagai pendukung dan idolanya." Himchan menyeruput minumannya, sementara Jaebum masih mendecih ragu-ragu dengan pernyataan yang diutarakan Himchan.
"Sebaiknya berhati-hati jika berteman dengan kalangan mereka," ucap Hyunsik dengan nada seriusnya. Mata dua pemuda itu terpana sejenak. "Gaya hidup mereka terlalu rumit."
"Aku setuju. Hati-hati, Himchan. Kau bisa dikejar-kejar kamera di sekelilingmu." Jaebum antusias menatapi Himchan. Dibalas tawa kecil dan elusan pundak dari Hyunsik yang kemudian dirinya pergi melanjutkan pekerjaan. "Ngomong-ngomong aku tidak lihat Youngjae. Tidak pulang bersama kita?"
Himchan melihat-lihat isi bukunya, "Dia bilang dia ada urusan dengan seseorang. Punya janji."
"Janji dengan siapa? Orang penting?" Merasa bosan karena Himchan sudah mulai membuka bukunya untuk belajar, Jaebum pun beralih meninggalkan meja. "Aku mau pesan kue dulu—"
Bruk
Tubuhnya tak sengaja menyenggol seseorang ketika ia bangun. Secangkir kopinya terjatuh ke atas buku belajar Himchan. Himchan sampai melompat kaget karena kertas bukunya bernoda kecokelatan dan tidak dapat terpakai lagi untuknya belajar.
"Astaga," Pria paruh baya terlihat panik, mengeluarkan sapu tangannya. Mengelap daerah yang ternoda, meskipun mustahil mengembalikan bentuk buku ke bentuknya semula.
"Maafkan aku," Jaebum terus menunduk meminta maaf. Sang pria memberikan tepukan pundak pada Jaebum untuk menghentikan tundukannya yang ke sekian. Ia terlalu formal.
"Tidak apa-apa. Saya seharusnya yang minta maaf pada pemuda ini yang bukunya jadi kotor."
Himchan menggeleng. "Tidak apa-apa," meskipun raut wajahnya kecewa.
Setelah keributan mereda, Hyunsik sudah datang membawakan pel (dibantu Jaebum membersihkan), dan Himchan merapikan kembali bukunya, si Pria tidak tinggal diam di tempat saja. Ia memberi teguran kecil pada Himchan, membuat pemuda itu mau bertemu pandang dengan si Pria dengan kenaan kacamata hitamnya. Rasanya familiar..
"Apakah kau teman Bang Yongguk, nak?"
Tangan Himchan sampai terhenti memasukkan bukunya. Alisnya bertautan heran. Ia amati pria gagah itu dari kaki hingga kepala.
"Aku ayahnya."
1 buku pelajaran Himchan sampai lolos dari tangannya ke lantai.
"Aku tidak enak dengan Pak Presdir. Seharusnya tidak perlu melakukan sejauh ini."
Himchan tertunduk malu-malu—sambil memeluk sekeresek buku-buku pelajaran baru. Tidak berani bertemu pandang dengan seorang presdir dari agensi terkemuka Korea, yang notabene juga ayah dari Bang Yongguk.
Pria yang bernama Yongin , tertawa seraya membelokkan kemudinya. Mereka berdua berada di tengah jalan Seoul yang luas. Dimana hanya ada keduanya di dalam mobil BMW kebangaan milik Yongin, setelah pria itu berhasil menawarkan Himchan untuk pergi ke toko buku.
Jaebum ditinggalkan di café bersama Hyunsik. Himchan dibawa lari oleh Yongin—tidak, atas pembujukan yang cukup pintar. Himchan sampai tidak berkutik harus diajak kemana-mana oleh Yongin meskipun ini pertemuan intens mereka yang pertama kali.
Ada rasa aneh yang menggantung. Pribadi Yongin yang begitu mengutuknya saat mereka berpapasan di rumah sakit ketika Daehyun dirawat, berbeda seratus delapan puluh. Tidak ada cercaan atau tatap menyudut. Seakan apa yang lihat dahulu bukan Yongin yang sebenarnya. Terasa sangat aneh.
"Apakah kau benar akan memanggilku Pak Presdir terus?"
"Eh?" Himchan mengamati raut Yongin. Pria di sampingnya benar-benar masih terlihat segar nan tampan meskipun sudah berkepala sekian. Tidak ubahnya dengan sang putera. Benar-benar bibit bagus.
"Panggil aku saja Yongin. Seperti kau memanggil Yongguk. Anggap saja aku ini temanmu."
"Yo—Yongin-ssi?"
"Ya, seperti itu."
Himchan tertawa kecil, merasa canggung. Ia tak tahu harus berlaku apalagi untuk mengusir rasa canggungnya. Ini bahkan lebih berbeda dari pertemuannya bersama Yongguk pertama kali. Yang notabene belum ada ekspektasi bahwa dirinya adalah selebritis.
Tapi level Yongin sungguh di tingkat yang berbeda.
Kenapa pria-pria seternama Yongguk dan Yongin tidak enggan bergaul bersama lelaki sesederhana Himchan?
"Apa keadaan ibumu baik?"
Topik pembicaraan yang mendadak ini, cukup menyentak Himchan.
"A—anda kenal dengan Ibu saya?"
"Kami teman satu sekolah."
Himchan tidak bisa menutup rahangnya sepersekian menit.
"Hubungan kami tidak seakrab itu memang. Setelah aku mendapatkan title sebagai Presdir. Ia menjauhiku karena menganggap level kami berbeda. Padahal aku sangat mempedulikannya."
Himchan mendengar dengan seksama. Seraya sesekali mengangguk. Ia paham betul kenapa hubungan Yongin dan ibunya (yang di luar ekspektasi) agak renggang. Ibunya sangat awas dengan kehidupan entertainment. Seleb, berita-berita idola, atau apapun di depan kamera, membuat beliau rada tidak suka.
"A—aku tak percaya kalian bersahabat."
"Hahahahaha.. kau boleh tidak percaya. Tapi aku tidak pernah lupa sedekat apa hubungan kami. Ia bisa saja menjadi wanita yang sukses seperti teman-temannya kalau saja dia—"
Yongin mengerem ucapan. Emosi di dalam hatinya masih agak meledak hingga ia hampir mengutarakan sebuah rahasia yang ingin ia sembunyikan.
Himchan mengamati Yongin dengan tatap harap, mau mendengar kelanjutan kalimatnya.
"Maksudku, dia adalah sosok gadis hebat dahulu. Aku tidak percaya setelah kepulanganku dari luar negeri, mendengar dia tidak bisa berjalan. Apa aku benar?"
Himchan mengangguk. "Banyak hal yang telah beliau lewati. Ia mengidap penyakit sehingga mengalami kelumpuhan."
"Dia masih terlihat hebat saat terakhir kami bertemu."
"Kalian bertemu?"
Yongin mengangguk dengan antusias. Tidak lupa bagaimana mereka bertemu dan melakukan kencan di restoran mewah. Meskipun wanita itu menolaknya berkali-kali. "Dia terlihat lemah." Himchan tersenyum. Bersyukur dengan pujian yan diutarakan oleh Yongin bisa membuat hatinya lebih terhibur.
"Tapi apakah kau tidak merasa kasihan, bahwa ia sangat 'kelelahan'?"
Kerutan dahi Himchan tampak jelas. Ia kembali bertemu mata dengan Yongin mencari tahu maksud ucapannya sehingga berkata demikian.
"Kau ingin ibumu bisa berjalan lagi, kan? Kau ingin ada yang menemani ibumu saat kau sibuk bersekolah atau bekerja?"
Ada perasaan aneh yang menjalar dalam tubuhnya. Seakan pertanyaan itu adalah tamparan untuknya. Bagaimana Yongin bisa tahu pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya ?
Tidak butuh waktu lama untuk mobil Yongin sampai di depan rumah Himchan yang tampak sederhana. Pekarangan asing bagi Yongin yang baru melihatnya pertama kali setelah diarahkan Himchan. Yongin melihat keluar. Ia miris dengan keadaan rumah wanita yang disayangnya.
"Kita sudah sampai."
Himchan bisa sedikit tenang karena ketegangan semula tergantikan dengan ucapan sampai jumpa. Namun sebelum pamit keluar dari mobil, Yongin mencegatnya sejenak.
"Aku punya hadiah sebagai permintaan maafku juga." Yongin kemudian mengulurkan kotak handphone kepada Himchan. "Hubungi aku jika kau perlu sesuatu. Apapun akan kupenuhi."
"P—Pak Presdir, maksudku—Yo—Yongin-ssi!?" Himchan amati lama kotak itu dengan shock. Kresek bukunya hampir saja terlepas dari tangan.
"Terima saja. Ini bukan HP yang terlalu canggih, kau bisa menggunakannya dengan mudah."
Himchan tidak bisa percaya dengan benda di kedua tangannya. Sudah lama ia tidak menggunakan HP, apalagi diberi HP yang cukup bagus kualitasnya. Ia tidak menggunakan HP lagi setelah HP nya rusak, dan sama sekali tidak bisa diperbaiki. Dan ia tidak ingin menghamburkan uang untuk membelinya.
"Kau tahu bahwa hubungan aku dengan ibumu tidak terlalu baik. Aku tidak ingin ada kekacauan untuk saat ini. Jadi bisa kau sembunyikan tentang pertemuan kita kepada siapapun, terutama pada ibumu?"
Himchan tidak cukup konsen karena masih terpukau dengan HP barunya. Ia pun mengangguk paham.
"Bagus. Seperti yang ku petuahkan. Aku ikhlas melakukan apapun untuk membantu kalian. Anggap saja sebagai balas budi. Jadi jangan ragu pergunakan fasilitas yang kumiliki."
Himchan mendapat acakan di kepalanya dari Yongin. Ia benar-benar tenggelam pada pesona dan perhatian yang begitu besar dari sosok Yongin. Dibalik penampilannya yang begitu elit, ia sangat bijaksana dan dermawan.
"Semoga sukses dengan ujianmu."
Yongin tersenyum ramah. Ia melajukan mobil mewahnya meninggalkan Himchan.
Pemuda manis itu memperhatikan segerombolan barang yang ia dapatkan cuma-cuma dari uang Yongin. Walaupun ia tidak minta sama sekali, Yongin pasti tahu apa saja yang paling ia butuhkan.
Himchan bingung bagaimana menjelaskan pada Ibunya perihal kebetulan ini. Tapi ia sudah terlanjur berjanji untuk diam.
Himchan melenguh nafas. Ia tidak sanggup membohongi Ibunya, namun tindakan sebaik ini tidak mungkin ia tolak. Ia terpengaruh terhadap kata-kata manis Yongin yang masih mengusiknya.
'Kau ingin ibumu bisa berjalan lagi, kan? Kau ingin ada yang menemani ibumu saat kau sibuk bersekolah atau bekerja?'
Himchan memasuki rumahnya yang tampak tenang. Tanpa sambutan dari wanita yang begitu ia sayangi. Barang-barang di tangannya ia taruh di sembarang tempat. Ia kembali lupa dengan kebahagiaan yang didapat akibat barang mahal yang diterima.
Ia sebenarnya , tidak butuh itu semua.
"Ibu?" Himchan masuk ke salah satu bilik kamar. Terdapat ibunya tertidur lemas di ranjang. "Demamnya sudah turun?" punggung tangan Himchan menempel di kening ibunya. Masih agak tinggi.
Ibunya sama sekali tidak merespon. Napasnya begitu berat, tapi ia tertanda sedang terlelap. Sayang sekali Himchan tidak bisa menemani ibunya sejak 2 hari ibunya jatuh sakit. Ia harus konsen mempersiapkan ujian dan juga merawat ibunya. Belum lagi dalam keadaan sakit. Himchan tidak punya pendapatan lagi setelah cuti dari pekerjaannya. Dan ibunya keberatan membiarkan Himchan meminjam uang.
"Seandainya Yongguk disini."
Entah kenapa Himchan memikirkan pemuda itu. Yang telah lama tidak ia kabari. Tapi ia harus mengubur dalam-dalam setelah kenyataan menabraknya perihal Yongguk yang akan lebih konsen pada calon istrinya. Dia yang terpenting.
"Besok ujian terakhir. Aku akan bawa Ibu ke rumah sakit," ucapnya sambil mengelus punggung tangan ibunya yang agak berkeringat.
Himchan benar-benar butuh bantuan.
Yongin turun dari mobilnya. Memberikan kunci mobil segera setelah seorang bawahannya menghampiri. Ia berjalan gagah tanpa terlihat kelelahan seharian menghabiskan waktu berjalan kesana kemari tanpa disupiri menuju ke dalam rumahnya.
"Pak Presdir," seorang wanita berjalan cepat mendekati tuan besarnya. "Tuan Yongguk datang dengan Nona Chungha tadi siang."
"Mereka tidak menungguku?" Yongin memberikan jasnya kepada sang asisten. "Tidak, Tuan. Mereka punya urusan lain setelah meninggalkan contoh undangan," ucap gadis itu gegabah menyeimbangkan langkah Tuannya yang cukup cekatan sampai ke dalam rumah.
"Oh, baiklah"
"Dan—"
"Bisakah kau meninggalkanku?"
Permintaan Yongin yang absolut membuat si Asisten tidak berkutik meskipun ia belum selesai dengan ujarannya. Maka setelah selesai mengantar ke dalam, ia pamit undur diri.
Langkah Yongin pun semakin memasuki rumah mewah itu, mendekati ruang inti. Yongin melihat ada beberapa buku undangan yang tertata di atas mejanya. Ia amati seksama satu persatu dengan tidak tertarik. Meskipun ini adalah sebagian dari persiapan pernikahan anaknya, ia masih kurang tertarik.
"Kau sudah bertemu pemuda manis itu, Yongin-ssi?"
Aksi melihat-lihatnya harus diganggu oleh pemuda yang baru keluar dari salah satu bilik pintu. "Maaf aku meminjam kamar mandimu," ucapnya sambil mengusap tangannya yang basah.
Pemuda itu muncul dengan santai seolah ia juga pemilik rumah. Namun Yongin tidak merasa keberatan, dan membiarkan ia menelangsa mengelilingi ruangan pribadinya.
"Wah sahabatku, Lee Junki!" Yongin mengembangkan senyum lebar serta melebarkan pelukannya. Tamu tidak tampak senang, wajahnya datar saat mereka bertemu.
"Kau masih terlihat membosankan dengan penampilanmu ini," Yongin memberikan penilaian pada rupa Junki setelah keduanya dibiarkan berdua saja di dalam ruangan. Si pemuda masih tidak mengubah ekspresinya. Masih tampak menghakimi. "Seorang informan berhargaku."
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Yongin merasa tertolak. Ia biarkan si pemuda mengabaikannya dan beralih masuk ke bar untuk membuatkan minuman. "Seperti biasa dari pengamatan yang begitu tajam. Kau lebih cepat tahu daripada aku sendiri."
"Kau benar-benar akan mencelakakannya?"
Yongin mengulurkan segelas wine pada sahabatnya itu.
"Kau masih tidak lupa dengan percakapan kita dahulu, hm?"
Junki mengamati cukup tajam kea rah Yongin seolah ia tidak serius menanggapi pertanyaannya. Ia tidak bisa tenang meminum wine nya jika Yongin bertingkah polah begitu.
"Hahaha.. baiklah. Itu tidak akan terjadi. Aku tidak ingin menjadi seorang kriminal—lagi." Yongin menghampiri tempat duduk yang sama dengan sahabatnya itu. "Kalau aku tidak bisa mengambil hati ibunya, aku harus mengambil hati anaknya."
"Bukankah kau ingin menjauhkan Yongguk dan Himchan. Bukankah itu keinginan Hayeon juga?"
"Iya." Yongin meminum winenya cukup tenang. Minuman memabukkan itu sedikit mengambil kesadarannya. "Aku yang akan menggunakan Himchan untuk menjauhkan dirinya sendiri dari Yongguk."
Pemuda itu berdecak. "Itu lebih baik."
"Aku memang lebih pintar dari yang kau duga—" Yongin pun mengajak sahabatnya bersulang. "Junki."
Ctak
Jongup terkejut setelah menyalakan lampu ruang dorm. Daehyun sedang duduk di sofanya sambil mengunyah popcornnya dengan sangat keras. Tatapannya tajam sekali mengawasi si Jongup.
"Apa? Dan kenapa kau makan-makan di tempat gelap dari tadi."
Kunyahan pertama sengaja dikeraskan. Ada hawa jengkel menguar. "Sengaja. Biar kau tidak kabur."
"Hah?"
Daehyun bangun sambil menaruh popcornnya. "Tadi siang ngapain ke SMA Jaehyun?"
Jongup sampai melotot kaget bereaksi dengan tuduhan Daehyun. Pemuda itu langsung mengangkat telunjuk kearah partnernya, balik menuduh. "KAU MENGIKUTIKU?!"
"KAU YANG MUNCUL TIBA-TIBA ANAK KEPARAT!" Daehyun sudah angkat bantalnya saking gemas ingin melempar dongsaengnya itu.
"MAU APA KAU JUGA DISANA?!"
"KAU SENDIRI?!"
"Ada apa ini ribut-ribut!?" Yongguk tiba-tiba muncul dari ruangannya setelah mendengar keributan kedua sahabatnya. Ia terkejut melihat Daehyun dan Jongup sudah ancang-ancang melempar barang dari kedua sisi.
Kehadiran Yongguk sontak membuat keduanya terdiam. Kejadian pelemparan digagalkan dengan hunusan tatap leader mereka yang tidak kenal ampun. Apalagi dalam keadaan dirinya yang sedang tidak mood, begitu jelas tampak tak ingin bersengketa bersama keduanya.
"Jelaskan padaku segera sebelum aku memaksa kalian menjelaskan akibat kalian berkelahi." Ucapnya dengan tangan tersilang.
Kekacauan segera terkendali dalam keheningan. Kedua mata para pelaku saling bertukar.
"Jadi kau dan Youngjae sudah berdamai?"
Yongguk melemparkan tatap tidak percaya. Jongup yang sedikit tidak tahu menahu perihal hubungan renggang Daehyun dan Youngjae hanya bisa manggut-manggut.
"Well, ada sedikit kesalahpahaman hingga ia perang dingin denganku. Yang pasti aku tidak tinggal diam dan segera ke Jaehyun untuk menemuinya.
Tapi anak satu ini," Daehyun menyentil jidat Jongup "Ia datang dengan percaya dirinya menemui kekasihnya. Aku hampir saja ketahuan para fans."
"BELUM, HYUNG!" Jongup mendecih. Ia tidak suka dipersalahkan terus sedari tadi. Daehyun mendelik seolah ingin melempar pernyataan, 'jadi benar kau punya skandal dengan anak itu, hah?!'
"Oke, soal Daehyun aku bisa memahaminya. Bagus. Aku tidak mau sampai ia tidak maksimal perform karena merasa patah hati memikirkan anak itu.
Tapi, Jongup? Sejak kapan kau dekat dengan anak dari Presdir Choi? Yang notabene adalah teman Himchan juga?"
Jongup kembali merasa terpojok. Saat itu ketiganya membuat sebuah percakapan serius di ruang inti di atas sofa empuk masing-masing. Jongup meraih bantal duduknya dengan rasa cemas.
"A—aku.." Jongup tergagap. Ia ragu harus menjelaskannya darimana. Padahal, masalah pertemuan dengan Junhong agak membingungkan dan sangat rumit. Bahkan sungguh dirahasiakan.
Haruskah ia meluberkannya semudah itu seperti ,"Oh dia mantan tunanganku, oh Junhong dulu berpakaian wanita, ibu Junhong bermasalah, kami melakukan kontrak" dan lain-lain. Kedengarannya sangat tragis.
"Orang tuaku kenal dengan orang tua Junhong. Kami berteman cukup lama." Jongup harus berbohong. Membuat sebuah skenario baru, yang membuat kedua alis dua partnernya bertautan.
"Lalu kenapa harus kau sembunyikan pada kami. Kalau kalian sedang berteman?" Daehyun menggali semakin dalam. Membuat pertanyaan dari sikap Jongup yang tampak mencurigakan. Seperti ada rahasia lain yang belum diungkapkan. "Tidak aneh seorang penerus Perusahaan Choi berteman dengan artis BA."
"Ini soal masalah pribadiku!" protes pemuda lain sambil menekan bantalnya. Gemas.
"Sudah-sudah. Apa-apaan berkelahi untuk hal seperti ini. Biarkan saja."
Daehyun berdecih. "Kau mengomeliku karena terlibat skandal. Kalau anak ini buat skandal, kau diam saja gitu, Bang?"
"Karena dia tidak comel sepertimu, Daehyun."
Balasan Yongguk sontak menghentikan keras kepala Daehyun yang sudah tergeletak di sofa sambil mendengus. Sementara Jongup sudah buang muka karena masih rada sebal.
Yongguk pun menghembus nafas. Memberikan ruang lapang untuknya sendiri. Ia mengamati kedua partnernya serius bergantian sambil tersenyum.
"Syukurlah kalian sudah berdamai dengan orang-orang terdekat kalian."
Jongup dan Daehyun saling melempar tatap kepada 1 orang yang sama. Duduk termenung entah memikirkan apa dengan senyum mengulas. Keduanya paling tahu apa yang sedang diberatkan pria itu beberapa hari ini, ditambah kasus yang menimpanya. Tidak biasa senyuman leader mereka yang begitu tulus, terlihat suram. Sangat tidak biasa.
"Oke. Besok Dongwook hyung datang untuk mengatur schedule kita sebelum konser amal sabtu ini." Yongguk melompat dari Sofa. Merenggang punggungnya yang terasa sedikit pegal. Berlagak semuanya terlihat baik-baik saja.
Setelah Yongguk memasuki kembali kamarnya, Daehyun dan Jongup duduk mendekat. Bukan sesuatu yang biasa setelah melakukan keributan. Namun ada bahasan yang lebih penting.
"Kau tahu sebelum kau datang. Anak itu mendekam terus di dalam kamarnya. Wajahnya lusuh sekali. Sepertinya ada masalah dengan nenek sihir itu lagi." Bisik Daehyun. Jongup hanya bisa manggut-manggut paham.
"Aku tahu anak itu tidak pernah setuju dengan pernikahan ini. Tapi masih saja meneruskannya. Ada apa dengannya? Masokis?" Daehyun menekan dahinya keberatan.
"Ia berusaha menyelamatkan grup ini."
Daehyun menatap Jongup yang terlihat tidak semangat.
"Ayah Yongguk cukup memanipulasi puteranya. Bukankan selama ini pertemuan mereka begitu dingin. Aku tidak pernah suka saat bertatap muka dengan Pak Presdir. Ia selalu memojokkan kita sebagai pelaku kenapa Yongguk begitu menyedihkan."
"Dan yang kita lakukan hanya bertengkar dan mengeluh."
Keduanya pun saling berhembus nafas.
"Kau tahu. Kita bisa memberi sedikit hadiah untuk Yongguk."
"Hadiah? Mau apa? Dia sudah punya semuanya."
Daehyun menggeleng. "Tidak semua. Saat ini hubungan mereka sedang sangat rumit."
Jongup membeliak mata. "Maksudmu, Himchan?"
"Kau tahu maksudku. Ia selalu bersemangat mengenai bocah itu."
"Aku juga jadi rindu dengan anak itu."
Kemudian hening beberapa saat selagi mereka berpikir.
"Konser amal ini jadi konser sebelum kita hiatus." Daehyun menatap partnernya. Menukar satu pendapat. "Kau berpikir sama sepertiku?"
"Kurasa aku paham."
Seorang siswa mengetuk-ngetuk pulpennya.
Siswa lainnya tampak serius melihat soal.
Ada juga yang menulis seluruh jawaban dengan khitmat tanpa kesulitan.
Keadaan kelas yang begitu hening pada detik-detik terakhir jam ujian akan usai.
Teng, suara denting bel telah berbunyi. Punggung-punggung tegang itu melonggar di bangku masing-masing setelah kertas ujian mereka kumpulkan. Senyum puas mereka terulas, bagaimana pun mereka menjawabnya tadi.
Akhirnya minggu ujian telah usai.
"ARGH kau bisa lihat wajahku sesuram apa selama menjawab 50 soal tadi," Jaebum melempar diri di kursi berhadapan dengan Himchan.
"Kau mau mengoreksinya lagi dengan jawabanku?"
"Tidak. Terima kasih. Aku sudah kenyang." Himchan tertawa ketika kertas isi jawabannya yang ia tulis didorong kembali. "Ngomong-ngomong, Paman kemarin siapa sih? Kok kayaknya dekat sekali sama kamu, Chan?"
Himchan sedang membereskan alat tulisnya. Ia tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sementara Jaebum sudah menunggu jawaban, Youngjae menghampiri keduanya.
"Hei"
Jaebum memutar jengah matanya. "Ada apa ini? Wajahmu kelihatan senang terus. Aura mu saat menjawab soal tadi mengangguku tau gak."
"Siapa suruh duduk sebangku denganku." Youngjae balik mencemooh. Kemudian ia memperhatikan wajah Himchan yang terlalu tenang. "Ada masalah Hicmhan?"
Pemuda itu yang pikirannya sedang kemana-mana, memperhatikan dua sahabatnya dengan gegabah. "A—aku baik-baik saja." Walaupun wajah biasa saja, tidak kelihatan di wajah lelahnya.
"Kau tidak seperti lega dengan ujian kita yang telah usai." Youngjae menepuk belakang kepala Jaebum dengan sengaja. Jaebum menggerutu kesakitan. "Lihat sumringah anak ini."
"Kau yang kelihat lebih senang daripadaku, sialan."
Himchan hanya terkekeh melihat tingkah keduanya, "Aku baik-baik saja." Himchan mengamati teman-teman lainnya yang tengah merayakan kebebasan mereka setelah menyelesaikan minggu ujian yang melelahkan di luar kelas.
"Abis ini mau makan di café , ga?" ajak Jaebum sambil menenteng tasnya. "Hyunsik hyung bilang ada menu baru."
"Kenapa, sih kau jadi betah banget datang ke café. Hyunsik hyung mulu yang disebut-sebut." Youngjae ikut bangkit dari bangkunya sambil menenteng tasnya. Hendak keluar kelas. "Naksir, ya?"
Tangan Jaebum melingkar ke pundak Youngjae. Ia kelihatan sedikit salah tingkah. Tapi ia berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan tertawaan cengegesannya yang khas. "Kalau dikasih yang gratis-gratis, aku gak akan nolak."
"Dasar pikiranmu busuk." Youngjae menyentil jidat Jaebum. Kepalanya sedikit meneleng, mencari seseorang. "Junhong! Ayo, pulang! Eh, kemana anak itu?"
"Dia langsung melarikan diri. Tahulah kemarin dia didatengin sama siapa hingga semua orang pasti ngejer-ngejer dia," Jaebum membukakan pintu kelas, dan Youngjae menyusul. Ia mengangguk mengerti kalau ternyata anak itu berusaha melindungi dirinya.
Kemudian ia mengalihkannya ke Himchan yang tertinggal. "Himchan, bareng?"
Himchan menggeleng. "Hari ini aku punya urusan. Tidak apa-apa, kan? Kemarin aku sudah nemenin Jaebum ke café."
Jaebum mengeratkan rangkulannya ke Youngjae, buru-buru membawanya keluar kelas hingga anak itu hampir saja tersandung. "Cepat! Traktir aku! Kemarin kau sudah kabur!" Kemudian keduanya telah menghilang dari balik pintu.
Sementara Youngjae dan Jaebum sudah pulang, Himchan baru selesai merapikan buku-bukunya. Ia akan pergi dari mejanya, sampai sesuatu bergetar dari tasnya.
HP barunya menunjukkan sebuah pesan. Pastinya dari orang yang memberikan HP nya kemarin.
Aku menunggu di luar, kau bilang kau perlu sesuatu untuk ibumu yang lagi sakit?
Himchan sedikit ragu untuk membalas. Ia merasa tidak enak telah menghubungi Yongin dalam keadaan seresah ini. Tapi ia membutuhkan bantuan, dan pria itu telah menawarkan. Ibunya tidak mungkin ia biarkan sakit.
Ya, Yongin-ssi. Saya segera kesana.
"Kau yakin obat-obat ini cukup untuk ibumu," Yongin menatap kantung belanja berisi beberapa kotak obat demam, batuk, dan penahan rasa sakit yang bertengger di atas paha Himchan. Himchan hanya mengangguk mengiyakan.
Pemuda itu kebetulan saja menghubunginya. Menawarkan pergi ke suatu tempat, namun Himchan hanya butuh pergi ke apotik. Mengetahui Hayeon sakit, Yongin harus menahan diri untuk tidak panik. Ia sendiri sampai gelisah, dan hanya bisa tahu keadaannya dari mulut sang putera saja. Meskipun ia ingin sekali mendobrak masuk ke rumah mereka, dan membawa pergi Hayeon ke rumah sakit dengan segera. Tapi ia bisa apa?
Himchan memberikan bungkukan terima kasih karena telah dibantu serta ditemani. "Beliau tertidur lelap, dan berkata baik-baik saja setelah bisa beristirahat cukup. Terima kasih atas bantuannya, Yongin-ssi."
"Langsung hubungi aku jika ada kenapa-napa dengannya lagi."
Himchan kemudian pamit keluar dari mobil, mendekati rumahnya. Yongin tidak bisa langsung menyalakan mesin mobil untuk pergi. Dilihat punggung anak itu lama sampai menghilang dari balik pintu. Niatnya untuk mendobrak masuk tetap masih ada. Bagaimana pun perasaan rindu begitu juga cemas pada Hayeon sangat menganggunya.
"Huft, tenanglah Yongin. Kau harus bersabar. Step by step.."
Mesin mobilnya dinyalakan, dan ia hendak mengidupkan sepuntung rokok. Sampai tiba-tiba seseorang berteriak dari kejauhan, "YONGIN-SSI"
Rokok yang tak sempat dinyalakan tiba-tiba terjatuh ke bawah kaki. Ia melihat Himchan tergesa mendekatinya. "Ada apa?"
"IBUKU! Ia tidak sadar!"
Yongin shock. Keinginannya yang tertahan, dikabulkan pada hari itu.
Mendobrak masuk rumah Himchan, dan menemui wanita tercintanya yang sudah tampak lemas.
Junhong mengendap masuk pelan-pelan. Tangannya mengenggam sebuket bunga segar. Wajahnya tertekuk khawatir. Mengamati keadaan di dalam ruangan tersebut.
Seorang wanita menengok ke arahnya ketika ia datang. Senyumannya lusuh, namun berarti. Ini merupakan senyuman yang begitu ikhlas diberikan pada puteranya yang selama ini tak teranggap. Kaki Junhong jadi terasa kaku.
"Ibu, sudah baikan?" Junhong menaruh sebuket bunga ke atas nakas. Kemudian duduk di kursi yang telah tersedia, dengan senyuman tidak luntur.
"Baik"
"Syukurlah~, aku harap terapi nya lancar."
Gyun memandangi Junhong cukup lama ketika pemuda itu berdiam diri tanpa ingin bertemu pandang padanya. Ia tidak menyangka yang di sampingnya adalah seorang laki-laki manis, yang merupakan puteranya. Yang mau menjaganya, menginginkan kasih sayangnya. Rasa patah hati itu masih sedikit terasa, tapi ia bisa apa sebagai wanita lemah.
Sudah cukup beberapa saat setelah insiden pengakuannya, hubungan antara ibu dan anak ini masih cukup tenang namun hampa. Tidak ada pembicaraan penting lainnya. Hanya ada perantara, misalkan Siwon sang Ayah ataupun Wongjun sebagai supir yang memberi sedikit informasi. Lagipula Gyun harus mengikuti berbagai terapi dan rehab untuk memperbaiki keadaan mentalnya yang sering terganggu.
Baru beberapa kali, Junhong dengan senang hati datang. Membantu Gyun dan segala kesulitannya. Kemudian ia akan pulang sendirian ke rumah.
Gyun mengambil napas. Tangannya yang lelah, ia coba angkat. Menyentuh puncak kepala Junhong. Dielusnya lembut. Junhong sampai shock.
"Hari ini hari terakhir ujian sekolahmu, kan?" ucap Gyu dengan nada selembut sutera. Tidak ada intonasi keras akibat marah.
Hati Junhong tercubit, rasanya ingin menangis. Ia mengangguk semangat. "Aku bisa menjawab semuanya dengan lancar!" Pemuda itu gemas ingin sekali merangkul ibunya. Namun ia merasa canggung sekaligus lancang. Maka ia hanya bisa mencabik dua celana seragam di kedua pahanya dengan sabar.
"Bagus. Ayahmu juga sudah cerita perihal kepergian kita ke Kanada."
Sontak cabikan Junhong mengendor. Hati bahagianya mengelos. Tiada arti lagi rasa leganya, melainkan luka yang kembali ditaburi garam.
"Sudah ambil keputusanmu?"
Junhong tidak bisa membuat sentuhan di atas kepalanya terlepas. Ia ingin merasakan kehangatan itu lebih lama, bahkan setiap hari dan dimana pun.
"Sudah, Ibu."
Gyun kemudian mengelus pipi Junhong. "Kita perbaiki semuanya. Kembali membuat cerita baru di antara kita bertiga."
Junhong mampu menyungging senyum lebih lebar dari biasanya di samping ibunya sendiri.
Junhong keluar dari ruangan ibunya. Ia bertemu Wongjun yang setia menunggu dari luar.
"Bagaimana, tuan muda?"
Junhong senyumi optimis. "Ibu baik-baik saja." Ia menyerahkan jaket yang ia kenakan ketika di dalam ruangan yang begitu dingin kepada Wongjun. Sigap pria itu mengambilnya.
"Syukurlah." Ada kelegaan dari Wongjun. "Keadaan nyonya semakin membaik saja. Ini kemajuan yang bagus semenjak Tuan Muda sering menjenguk beliau" Keduanya berjalan beriringan.
"Aku tahu," Junhong tidak bisa menyembunyikan senyum puasnya. "Aku pasti akan melakukan apapun demi keadaan ibu. Meskipun harus berpakaian seperti Kak Juyong lagi."
"Aduh tidak perlu, Tuan. Gantengan seperti sekarang." Wongjun dan Junhong tertawa hingga sampai di ruang resepsionis. "Saya mau liat data kesehatan Nyonya untuk diberikan Tuan Besar."
Junhong mengangguk. "Aku akan tunggu di ruang tunggu."
Junhong kemudian berjalan menuju ruang tunggu sambil memainkan hp nya untuk melihat beberapa pesan masuk dari Jongup yang memenuhi kotak pesannya. Ada beberapa pesan dengan emoticon beragam, atau bahkan video lucu lain yang random. Setiap 30 menit rasanya ia mengirim pesan. Junhong merasa tidak kesepian, meskipun mereka tidak bisa tiap hari bertemu.
Hubungan mereka semakin membaik saja.
"Lucu sekali dia—" Junhong menghentikan main HP nya, hendak mencari bangku kosong. Selagi menelusuri, ia tak sengaja menangkap seseorang yang terlihat familiar. Duduk lemas di bangkunya. Wajahnya menggambarkan kepanikan.
"Himchan!?" Ia segera duduk di bangku kosong sebelah Himchan. Pemuda itu terkejut dengan kehadiran sahabatnya yang tidak ia duga.
"Kenapa ada disini?"
Himchan yang telah lama menahan air matanya, akhirnya luluh juga. Memeluk Junhong dengan erat. Seolah kejadian fatal telah terjadi. Junhong tidak kalah khawatir dengan keadaan Himchan yang begitu memilukan saat ini.
"Ibuku. Dia tidak sadarkan diri."
Isakan Himchan di balik pelukan keduanya, ikut membuat Junhong merasa terenyuh. Ia hanya bisa menenangkan Himchan dengan elusan di punggung.
"Berdoalah bahwa semua akan baik-baik saja." Ungkap Junhong yang hanya bisa memberi dukungan.
Tak lama kemudian setelah suasana mereda dan tangisan Himchan berhenti, seorang pria mendatangi keduanya. Junhong mengira pria itu adalah Wongjun yang telah selesai dengan urusannya. Namun pakaian yang dikenakan berbeda. Ia mendongak, dan menghadap dengan seorang pria lain.
Wajahnya terlihat mirip dengan seorang selebritis yang dikenalnya.
To Be Continue
Cerita ini cepat update di Wattpad, biasanya up2date disana ( Mir_ramen). Saya juga update Ori BL di acc lain saya ( Mir_ayam).
