nanti temen-temennya wonu satu sekolah ngiranya wonu sembunyi'in identitas apa transgender? (istrinyameanie)emm yaa…. Itu rahasia dong ya. liat aja ntar :p

Itu pasti kana kan biang nya yg nyuruh org2 buat gangguin wonu lgi? Kpn sih si kana sadarnya?Wonu kapan brhnti diginiin? (Jjinuu7) iyap. Ntahlah. Aku juga ga tau kapan berentinya XD

kok pke sepatu tinggi? berarti temen temennya udah tau dong klo wonwoo perempuan? (kirino07) nah. Itu rahasia. Spoiler Cuma cukup sampai disini XD

Ais apa pula kana nyebar berita? (Khasabat04) belum kok

pasti itu suruhan si Kana yg nyulik si WonWoo iyakan? (ismi) iyap

happy endingnya kapaaaaaaaannn?!(Wonwoosayang) masih lamaaaaa hahahaha

Wonu mau dibawa kemana..? (17MissCarat)ke hatiku dong ya ;)

kira2 mingyu bakal nolongin wonwoo ga tuh? (ketiiiliem) nggak. haha

Ch 21

.

"Bukankah itu—Wonwoo?" tanya Jeonghan saat melihat kearah luar lewat kaca jendela mobil.

"Apa?" tanya Jisoo, segera melihat kearah yang Jeonghan tunjuk.

"Mana?" tanya Minghao ikut-ikutan.

Ketiganya berada di mobil milik Seungcheol, dimana sang pemilik juga duduk didalamnya dibalik kemudi.

"Dia pulang sendiri? Tapi Minghao bilang dia sedang terluka bukan?" tanya Jeonghan.

Minghao mengangguk, "Seharusnya sih ada Mingyu—"

"Tapi mana Mingyu?" tanya Jisoo.

Jeonghan tertawa kecil, "Apa yang dia lakukan?" tanyanya saat melihat Wonwoo berjalan pelan selangkah demi selangkah.

"Kasihan dia disana sendirian, perlu di sapa?" tanya Seungcheol.

"Boleh sih—" perkataan Jisoo terhenti saat melihat lima orang pria kekar masuk ke halte dan menganggu Wonwoo.

"Wonwoo tidak bisa melawan, tubuhnya sedang tidak dalam keadaan baik." Ucap Seungcheol.

"Hey—hey, apa yang dia lakukan—dia menggerayangi Wonwoo—" ucap Jeonghan panik.

"This is not good—"

Mereka terkejut saat melihat Wonwoo merosot jatuh.

"Seungcheol—"

Seungcheol dan Minghao segera keluar dari mobil, berlari cepat kearah halte. Mereka menolong Wonwoo dan mengusir pria-pria itu dengan sedikit pukulan-tinju-tendangan yang membuat mereka segera pergi dengan terbirit.

Jisoo mengernyit heran saat melihat seorang gadis berdiri tak jauh dari halte, berteduh di bawah atap pertokoan, "Itu Kana." Ucapnya.

"Apa?" tanya Jeonghan.

"Itu Kana! Itu Kana! Dia gadis yang menyukai Mingyu!" seru Jisoo.

Jeonghan segera melihat kearah gadis yang ditunjuk Jisoo.

"Jangan-jangan dia sengaja melakukan ini?" tanya Jisoo.

Jeonghan menatapnya tak mengerti.

"Pria-pria itu bukan dari sekolah kita—dan tidak mungkin datang begitu saja hanya untuk menganggu Wonwoo.." terang Jisoo, "jadi mungkin gadis itu menyuruh mereka untuk—"

"Wow—wow," sela Jeonghan, "Wonwoo cowok, okay? Tidak mungkin mereka menerima begitu saja perintah gadis itu untuk mengganggu bahkan menggerayangi Wonwoo."

Jisoo menghela napas, "Sekarang apapun bisa, Jeonghan. Hanya sedikit dorongan uang dan mereka akan melakukannya. Itu tak sulit bagi seorang seperti Kana." Ucapnya.

Saat itu pulalah, pintu mobil terbuka dan Minghao memasukkan tubuh tak sadarkan diri Wonwoo ke samping Jisoo, lalu menutup pintu, kemudian Minghao membuka pintu depan dan masuk, juga kembalinya Seungcheol ke dalam mobil.

"Pakaiannya basah semua, kita harus segera menggantinya." Ucap Jisoo.

"Okay—" ucap Seungcheol, "kemana kita pergi?" tanyanya.

"Rumah Wonwoo, tentu saja." Jawab Jeonghan.

Seungcheol menoleh, "Tapi aku tidak tahu rumahnya."

Keempatnya terdiam. Hingga Seungcheol bertanya, "Tak ada satupun yang tahu?"

Jisoo, Jeonghan dan Minghao sontak menggeleng. Seungcheol menghela napas, "Okay—tempat tinggal siapa yang paling dekat dari sini dari kalian bertiga?" tanyanya.

"Jisoo!" jawab Jeonghan, "Hanya sepuluh meter dari sini, kau lihat apartement menjulang itu?" tanya Jeonghan.

"Yup." Kemudian mobil berjalan meninggalkan tempat itu bertepatan dengan Mingyu yang sedang menyebrang jalan.

.

.

.

Mingyu bergerak gelisah. Ia mulai tidak sabaran. Antrian memang sedang banyak karena akhir-akhir ini hujan turun dan mungkin saja banyak yang terserang demam.

Mingyu mendekati pintu kaca apotek, melihat kearah luar untuk memastikan bagaimana keadaan Wonwoo di halte sana. Tapi guyuran hujan yang menghalangi membuatnya mendesis kesal.

Apakah Wonwoo baik-baik saja? Ia mulai was-was.

Namanya dipanggil, dengan cepat dia datang dan setelah itu ia mendapat pesanannya—perban, plester luka, obat merah, antiseptik, dan beberapa barang lainnya. Setelah membayarnya, dengan cepat ia keluar dari apotek dan berlari menuju halte.

Ia menyebrang dan kakinya berhenti di halte dan tidak menemukan Wonwoo disana. Jantung Mingyu serasa mencelos dari tempatnya. Ia celingukan, mencari Wonwoo dimanapun dengan matanya. Tapi tidak ada. Ia memutari halte. Menembus hujan, mencari di beberapa toko dimana kemungkinan Wonwoo berada. Berlari mencari sambil menolehkan kepalanya ke segala arah.

Detak jantungnya memburu, kepanikan melandanya. Ia menjambak rambutnya. Dimana Wonwoo?

Mingyu merasakan dirinya sangat bersalah. Ketakutan menghinggapinya.

Bagaimana jika Wonwoo tidak baik-baik saja? Bagaimana jika dia diserang lagi? Bagaimana jika—

Sekali lagi Mingyu merasa ia tidak bisa melindungi gadis itu. Ia sedih luar biasa. Ia mulai merutuk kearah dirinya sendiri. Kenapa ia bodoh sekali? Kenapa ia harus pergi tadi? Kenapa ia tidak berada di sini saja dulu dengannya? Kenapa ia selalu tak bisa melindunginya?

Mingyu duduk pasrah di kursi halte, tak punya petunjuk apapun dimana Wonwoo berada. Dadanya terasa sesak dan tenggorokannya tercekat. Air matanya meleleh dan ia menunduk dalam.

"God, kumohon lindungi dia.." lirih Mingyu.

"Aku tidak ingin kehilangan dia—" isaknya.

'Aku tidak ingin kehilanganmu..'

.

.

.

Jisoo menyalakan saklar lampu. Ia mempersilakan tamunya masuk. Minghao memapah Wonwoo hati-hati dan mendudukkannya di sofa.

"Apa kita punya baju ganti untuknya?" tanya Jeonghan.

Jisoo mengetukkan jari di dagu, "Aku rasa ada—ah! Ada! Aku ingat masih ada baju Minghao disini! Ku ambilkan dulu!" serunya senang lalu masuk kedalam kamar.

Jeonghan, Minghao dan Seungcheol terdiam sejenak mendengarnya. Lalu dengan cepat Jeonghan dan Seungcheol menoleh dengan mata penasaran kearah Minghao yang terdiam kaku di tempat.

"Aku tidak melakukan apapun, sumpah. Hanya berteduh disini, kemarin." Ucap Minghao gugup.

Jisoo keluar dari kamar dan segera menyodorkan satu stel baju pada Minghao. Minghao menerimanya.

"Biar aku bantu." Ucap Seungcheol.

Minghao mengangguk, "Terima kasih."

"Kami tidak perlu membantu, kan?" tanya Jeonghan.

Minghao dan Seungcheol menoleh.

"Kami wanita, jadi, kami tidak perlu membantu—mengganti baju dia kan?" tanya Jeonghan.

Seungcheol dan Minghao mengangguk, "Tentu saja."

Jisoo tersenyum, "Ayo ke dapur Jeonghan, kita harus memasak sesuatu." Ajaknya.

"Oke."

Setelah kedua gadis itu menghilang dibalik tembok dapur, Minghao dengan hati-hati membuka blazer milik Wonwoo, dan menyisakan hem putih dibaliknya.

"Tunggu." Ucapan Seungcheol membuat gerakannya terhenti dan menoleh kearah pemuda yang lebih tua darinya itu.

Seungcheol terlihat heran, ia menunjuk kearah sesuatu yang terlihat samar dibalik hem Wonwoo yang kini tembus pandang karena basah. Minghao segera melihat kearah yang ditunjuk dan dengan segera menjatuhkan rahangnya.

"I—itu, bra bukan?" tanya Seungcheol.

Minghao mengeryit bingung dan menggeleng tidak yakin, "Tidak mungkin, hyung—setahuku, Wonwoo itu laki."

Seungcheol menatapnya dengan mata membulat, "Eh. Serius? terus itu apa?" tanyanya.

Minghao mengendikkan bahu, "Bisa saja singlet, bukan?" tanyanya, lalu membuka kancing hem Wonwoo satu persatu dari atas dan setelah empat kancing, mereka menahan napas saat melihat benda itu benar-benar bra dan belahan dada yang tercetak jelas disana.

Minghao dan Seungcheol memucat, mereka melangkah mundur, "GYAAAAAHHH!"

Jisoo dan Jeonghan segera datang, "Apa? Ada apa?"

Minghao dan Seungcheol tidak menjawab, mereka segera menunjuk kearah Wonwoo yang masih diam ditempat dengan baju yang terbuka dan menampakkan dadanya.

Jisoo dan Jeonghan mematung.

Loading sedetik—

Dua detik—

Tiga—

"ASTAGA! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" pekik Jeonghan segera menutup pemandangan itu dengan blazer Wonwoo.

Minghao dan Seungcheol menggeleng panik, "Kami tidak tahu apapun!" seru keduanya sambil bersujud, "Kami bahkan tidak tahu kalau dia itu cewek!"

Jeonghan lalu menoleh pada Jisoo yang kini tersadar dari mematung di tempat.

"Aku juga baru tahu kalau dia itu cewek—" lirih Jisoo, masih terkejut dengan apa yang terjadi.

Keempatnya lalu terdiam, mulai sibuk mencerna apa yang terjadi. Hingga Jeonghan menyadari Wonwoo belum berganti baju sama sekali.

"Jisoo! Kita harus mengganti bajunya sekarang! Cepat!"

.

.

Keempatnya kini menatap Wonwoo yang kini terbaring dengan pajama dress selutut berwarna putih dengan tatapan bingung.

"Katakan sesuatu tentang ini." Ucap Jeonghan setelah menyelimuti Wonwoo.

"Aku tidak tahu dia seorang gadis." Ucap Jisoo.

"Aku sepertinya ingat biodatanya tertulis, gendernya pria." Ucap Seungcheol.

"Aku ingat aku pernah pipis di sampingnya di toilet, dia pria." Ucap Minghao.

Tatapan mata segera menghujam kearah Minghao.

"Lalu, apa yang sedang kita lihat ini hanya kebohongan belaka?" tanya Jeonghan, "Dia bahkan punya payudara dan vagi—"

"Jeonghan!" pekik Jisoo.

"Ups."

Minghao menggeleng bingung, "Aku tidak tahu. Entahlah.."

Seungcheol menggeleng juga, "Aku juga tidak tahu."

Jeonghan menatap Jisoo, Jisoo mengendikkan bahu.

"Atau selama ini dia menyembunyikan identitasnya sebagai wanita?" tanya Jeonghan.

Seungcheol mengangguk, "Bisa jadi."

Jisoo tidak mengomentari, sedangkan Minghao menggeleng, "Tidak mungkin, aku ingat seratus persen dia pipis di sebelahku, serius."

Keempatnya kembali terdiam.

"Mungkin ada satu orang yang tahu apa maksud semua ini?" tanya Jisoo, "Mingyu misalnya?"

Minghao mengankat kepala, menjentikkan jarinya, setuju dengan usul Jisoo.

"Aku akan menghubungi Mingyu." Ucapnya lalu menelpon Mingyu.

Tapi Mingyu tak mengangkatnya sama sekali, hingga Minghao ingat ponsel Mingyu sedang diperbaiki.

"Ponselnya sedang di perbaiki, tidak mungkin untuk menghubunginya."

Keempatnya menghela napas, lalu terdiam lagi.

"Tunggu, dimana tas Wonwoo?" tanya Seungcheol menginterupsi.

Jeonghan, Jisoo dan Minghao sontak menatap kearah Seungcheol lalu menatap ke Wonwoo yang masih belum sadar.

"Benar juga, Dia pulang sekolah tapi tidak membawa tasnya!" pekik Jeonghan, "mungkin sebelumnya dia bersama seseorang yang membawa tasnya? Dengan tangan yang dibebat begitu tak mungkin dia membawa tasnya sendiri."

"Berarti Mingyu?" tanya Jisoo.

Minghao mengangguk cepat, "Aku akan mengubungi nomor Wonwoo hyu—eh, noona sekarang."

.

.

.

Trululululu~

Trulululululu~

Trululululu~

Mingyu mendongak saat mendengar dering ponsel. Dia dengan cepat menoleh, dan mendapati tas Wonwoo di bahunya. Karena ia tidak membawa ponsel, maka itu adalah ponsel Wonwoo.

Ia dengan terburu melepas tas Wonwoo dan membukanya, mengambil ponsel yang masih berdering dan melihat nama Minghao disana. Detak jantung Mingyu menggila, ia mengharap bisa mendengar berita baik jika ia mengangkat telepon ini.

"Halo?"

"Oh. Mingyu?" suara Minghao terdengar.

"M-M-Mi-Minghao, Wonwoo—Wonwoo-noona—dia—" Mingyu tidak bisa mengontrol suaranya.

"Dia ada disini." Ucap Minghao.

Mingyu menghela napas lega, bebannya seolah menghilang begitu saja. Tubuhnya yang sedari tadi tegang kini terasa rileks.

"Dia—baik?" tanyanya.

"Ya."

"Syukurlah—syukurlah—syurkurlah.."

"Kau khawatir?"

Mingyu tidak menjawab, ia malah balik bertanya, "Apa yang terjadi padanya?"

Minghao terdiam sejenak, "Dia di ganggu beberapa pria kurang ajar yang menggerayangi tubuhnya, tapi tidak apa, kami langsung menolongnya, walaupun—yah—dia tidak sadarkan diri." Ceritanya.

Mingyu terdiam menahan napas mendengar hal itu. Ia kembali merasa bersalah lagi.

"Ngomong-ngomong, Mingyu—"

"Ya?"

"Datanglah ke apartementnya Jisoo-noona."

"Untuk?"

"Kau tidak ingin melihat Wonwoo?"

Mingyu mengangguk, "Aku datang. Aku datang."

"Oke. Dah."

Sambungan terputus. Mingyu menghela napas lega untu kedua kalinya. Hatinya serasa plong sekarang. Dengan cepat dia melangkah, menyetop sebuah taksi. Ia akan mendatangi apartement Jisoo.

Jika saja ia tidak sadar dengan pakaiannya yang kini sudah basah kuyup. Mingyu mengusap wajah. Sepertinya ia harus ke apartementnya dulu untuk ganti baju.

.

.

.

"Ah, kau sadar," Ucap Jisoo, saat Wonwoo membuka mata dan bertanya dimana dia berada, "kau berada di apartementku." Jawabnya.

Wonwoo mengangguk, Jisoo lalu membantunya duduk dan meberinya satu gelas air hangat dan semangkok sup.

Wonwoo terdiam, tidak segera menerima yang di berikan Jisoo. Ia mulai mengingat-ingat apa yang terjadi dan mengapa dia ada di apartement Jisoo. Begitu mengingat, ia segera menatap Jisoo.

"Ada apa?" tanya Jisoo.

"Kalian menolongku lagi? Terima kasih…" jawab Wonwoo.

"Nah, itu tidak apa. Sekarang, nikamati makanmu, setelah itu ada yang harus kami tanyakan padamu." Ucap Jisoo.

Wonwoo mengangguk.

.

.

Seungcheol membuka pintu setelah mendengar bel dan mendapati Mingyu berdiri dihadapannya.

"Emm… hai… hyung?" sapa Mingyu dengan tanda tanya di kepala, bingung mengapa Seungcheol yang membuka pintunya.

"Hai," Seungcheol tersenyum, "masuklah."

Mingyu mengangguk, sambil menatap Seungcheol ia bertanya, "Kenapa hyung ada disini?"

"Memangnya kenapa?" tanya Seungcheol dan mendorong Mingyu masuk kedalam setelah pemuda tinggi itu melepaskan sepatunnya, disana terdapat Jeonghan, Jisoo dan Minghao yang duduk menunggu di sofa.

"Oh, kau datang Mingyu!" seru Minghao.

"Dimana Wonwoo—hyung?" tanya Mingyu.

Minghao menaikkan sebelah alisnya saat mendengar kata 'hyung', tapi dengan cepat ia menunjuk kamar Jisoo. Mingyu mengangguk dan dengan cepat masuk ke dalam kamar Jisoo dan mendapati Wonwoo yang baru saja selesai menghabiskan sup-nya.

"Dia memanggil Wonwoo dengan hyung." Ucap Seungcheol.

"Aku rasa itu karena dia bermaksud menyembunyikannya," balas Jeonghan.

"Ya, tadi ia terlihat ragu." Ucap Minghao.

"Lebih baik kita menguping saja." Ucap Jisoo.

Keempatnya lalu merapat di dekat pintu yang terbuka sedikit dan mendapati Mingyu tengah memeluk Wonwoo.

Wonwoo tergagap, begitu masuk kamar, Mingyu berlari kearahnya dan memeluknya erat sembari membisikkan kata maaf.

"Maaf…"

"Em.. Mingyu? Kau tidak salah apapun." Ucap Wonwoo.

"Tapi, aku meninggalkanmu."

"Tapi, kau kan sedang membelikan perban untukku. Oh ya, mana barangnya?" tanya Wonwoo.

Tanpa melepaskan pelukannya, Mingyu menatap Wonwoo tajam, yang ditatap menatapnya heran.

"A—apa?"

"Kau ini—mengerti sedikit lah kalau aku khawatir padamu.." keluh Mingyu, "rasanya aku mau mati saja tadi—kau benar-benar tidak apa?"

Wonwoo mengangguk, ia tersenyum kecil saat mendengar suara Mingyu begetar. Rasa khawatir itu benar-benar sampai padanya.

Mingyu terus memeluknya, "Aku—"

Wonwoo mengusap punggung Mingyu dan tertawa kecil, "Jangan menangis." ucapnya.

Mingyu segera melepaskan pelukannya dan membalas, "Siapa yang nangis?!"

"Kamu." Ucap Wonwoo.

"Tidak—"

Wonwoo tersenyum lebar padanya, "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Ia mengelus pipi Mingyu yang terasa dingin karena hujan saat ia ke apartement Jisoo ini.

Mingyu terdiam, lalu menghela napas. Ia kemudian menempelkan keningnya pada kening Wonwoo dan memejamkan matanya. Wonwoo merasakan wajahnya memanas saat wajahnya terasa begitu dekat dengan wajah pemuda itu. Mingyu kemudian menggenggam tangan kanannya, meremasnya lembut, lalu menautkan jemari mereka.

"Noona, dengar.." bisik Mingyu.

"Hmm?"

"Aku berjanji, selanjutnya, aku lah yang akan menolongmu.. aku akan berada di sisimu.. aku akan melindungimu.." Mingyu terdiam sejenak, "dan jika aku tidak bisa melakukannya—kau boleh memukulku." Ucapnya.

Wonwoo yang awalnya tersenyum malu mendengar hal itu langsung tertawa. Mingyu membuka matanya dan mendapati Wonwoo tertawa. Mingyu tersenyum.

Wonwoo berhenti tertawa, "Baiklah, tapi aku tidak akan memukulmu tenang saja." Ucapnya.

"Tidak apa, pukul saja aku." Ucap Mingyu, "kalau bisa, sekarang kau boleh memukulku."

Wonwoo menyentil kening Mingyu, "Yya. Apa kau itu masokis?"

Mingyu tersenyum tipis, "Maafkan aku karena tadi tak menolongmu—" gumamnya kemudian.

"Tidak apa, Mingyu~ setidaknya sekarang aku baik-baik saja bukan?"

Mingyu menatapnya beberapa detik kemudian tersenyum dan melepaskan tangan Wonwoo yang ia genggam, "Ya…."

Keduanya terdiam, Mingyu memperhatikan Wonwoo. Yang diperhatikan menunduk malu.

"Noona, pakaian siapa yang kau—pakai?" tanya Mingyu.

"Eh?" Wonwoo segera menatap kearah pakaian yang membalut tubuhnya, matanya melebar dan ia segera menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan tertegun saat ia memakai sebuah pajama dress selutut berwarna putih.

"A—apa ini?"

.

.

.

.

Thanks to : oomuoMingyu, Saythename, jeonjk, istrinyameanie, Firdha858, Jjinuu7, kirino07, Khasabat04, korokurakwayun, , Meanieonfire, ismi. Ryeosomnia, XiayuweLiu, Julia306, ikka1296hoon, Anna-Love 17Carats, putrifitriana177, GameSMl, Wonwoosayang, 17MissCarat, NichanJung, zhrsyrn, exoinmylove, wonnderella, yeojxyii, ketiiiliem, hamipark76, fvcksoo, wonrepwonuke, bizzleSTarxo, C1C3C5C7, Herdikichan17, 1214NaiR, BLUEFIRE0805, XXX, kimtaejin, kookies, wan UKISS, mingyu dongsaeng, cissy, RistiBoo, kimxjeon, Guest, egik, elferani, GuaTerseponeh611, redhoeby93

Okay, thanks banget buat saran2 bajunya XD sekarang biarkan aku bersemedi pilih yang mana wkwkwk

:)

TBCorEND ?

Don't forget to Review!

Coffey Milk

See you next week :*