Track 18


Baekhyun mengabaikan saran Luhan yang memintanya untuk jalan-jalan ketempat rekreasi. Alih-alih berjalan-jalan Baekhyun malah membawa mobilnya sejak pagi untuk mengawasi kantor Chanyeol.

"Kau pikir hanya kau saja yang bisa menguntit, aku juga bisa," puji Baekhyun pada dirinya sendiri.

Tanpa sadar seorang polisi lalu lintas menghampiri mobil Baekhyun dan mengetuk kaca mobilnya, Baekhyun menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum dengan canggung.

"Permisi, Tuan. Anda tidak diperkenankan parkir dijalan ini."

"Ah, baik, Pak."

Baekhyun menutup kembali kaca mobilnya dan membawa mobilnya masuk kedalam area parkir kantor Chanyeol. Belum banyak mobil yang terparkir diarea ini karena memang belum memasuki jam masuk kantor.

Baekhyun menunggu dengan sabar mobil Chanyeol yang tak kunjung datang, sampai akhirnya Baekhyun melihat sebuah mobil Audi R8 memasuki area parkir, Baekhyun yakin kalau itu adalah mobil Chanyeol, sedari tadi tidak ada mobil mewah yang memasuki area parkir kecuali mobil itu, dan benar saja, setelah mobil tersebut terparkir sempurna, Chanyeol keluar dari mobilnya.

Baekhyun menggenggam bat baseball ditangannya erat-erat, kemudian keluar dari mobilnya dan menghampiri mobil Chanyeol. Baekhyun mengayunkan bat baseball tersebut dan memusatkan seluruh tenaganya pada ayunan tangannya, sampai akhirnya bat baseball tersebut berhasil membuat retak kaca depan mobil Chanyeol namun belum cukup untuk menghancurkannya. Chanyeol yang mendengar suara kaca yang retak berbalik kearah belakang, "Baekhyunee?"

Baekhyun menyeringai, dan mengayunkan bat baseballnya sekali lagi. Kali ini pukulannya berhasil memecahkan kaca depan mobil Chanyeol.

"Don't Baekhyunee me!" kata Baekhyun dengan amarah yang terpancar dari kedua bola matanya.

Chanyeol dengan tenang mendekat kearah Baekhyun. "Diam disitu, atau kupatahkan kakimu," ancam Baekhyun. Chanyeol menurut dan mengangkat kedua tangannya seolah-olah ia sedang menyerah.

"Baek, apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol.

"Apa yang aku lakukan? Pertanyaan itu jauh lebih pantas dilontarkan untuk dirimu sendiri," cibir Baekhyun sambil sekali lagi memukul mobil Chanyeol, bahkan kali ini Baekhyun memukul kap atas mobil Chanyeol hingga membuat lempengan besi tersebut berdeformasi plastis. Sekeras apapun kau berusaha meluruskan lempengan besi tersebut tidak akan pernah berhasil membuatnya kembali mulus seperti semula, sama seperti pecahan gelas, sekeras apapun kau berusaha merekatkan pecahannya dengan lem sekuat apapun, bentuknya tidak akan pernah kembali seperti semula, begitulah kondisi hati Baekhyun, hancur berkeping-keping.

"Baek—"

"Diam!" Baekhyun mengatur napasnya yang terengah-engah, "Seharusnya kau bersyukur aku hanya menghancurkan mobilmu, kau bahkan melakukan hal yang jauh lebih buruk dariku," Baekhyun tanpa sadar menggigit bibir bawahnya, pikirannya sibuk merangkai kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ingin ia katakan. Baekhyun sempat ragu sejenak, kemarin ia sudah berusaha tegar dan tidak mau mengakui kekalahannya, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya, bagaimanapun juga ia telah jatuh cinta pada Chanyeol, Baekhyun kalah. Tanpa ragu lagi, Baekhyun menumpahkan perasaannya dalam satu teriakan, "KAU MENGHANCURKAN HATIKU, PARK CHANYEOL!"

Baekhyun merasakan bebannya sedikit terangkat setelah meneriakkan kalimat tersebut. Baekhyun melempar bat baseballnya sampai berhenti tepat dibawah kaki Chanyeol. Baekhyun kembali masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Chanyeol sendiri. Kurang dari satu menit petugas keamanan datang dan menghampiri Chanyeol, "Ada apa, Pak? Saya mendengar keributan dan suara kaca pecah tadi."

"Tidak ada apa-apa," jawab Chanyeol singkat.

Sang petugas keamanan melihat kearah mobil Chanyeol yang kini tampak mengenaskan, "Oh, Tuhan. Apa yang terjadi pada mobil anda? Apa seseorang merusaknya? Saya akan lihat di CCTV pak."

"Hapus semua rekaman CCTV pagi ini, jangan sampai ada yang melihatnya."

"Ta-tapi, Pak—"

Chanyeol hanya memberikan tatapan tajam pertanda ia tidak menyetujui apapun yang akan dikatakan si petugas keamanan.

"Berikan kunci ini pada asistenku, dan bawa ke bengkel."

"Baik, Pak."

Chanyeol tersenyum, bayangan Baekhyun yang begitu marah padanya membuatnya semakin bersemangat. Ah, kalau saja Baekhyun berdiri lebih lama lagi sambil mengigit bibirnya sudah dapat dipastikan ia akan menerkam Baekhyun saat itu juga dan memperkosa Baekhyun didalam mobilnya.

Baekhyun mengemudikan kembali mobilnya ke arah apartemennya. Baekhyun tertawa lepas kemudian dalam hitungan detik tawa tersebut berubah menjadi tangisan, mirip seperti orang gila yang emosinya dapat berubah-ubah dalam hitungan detik. Baekhyun menelepon manajer Kwang dan meminta izin untuk tidak ke studio selama beberapa hari dengan syarat ia sudah harus membawa lagu terakhirnya ketika ia kembali ke studio, dan Baekhyun menyetujuinya.

Sesaat sebelum mencapai blok apartemennya Baekhyun memutar balik mobilnya dan membawanya ke daerah Gangnam dan memarkirkan mobilnya diarea apartemen baru yang ditawarkan kepadanya kemarin. Baekhyun mendudukkan bokongnya disebuah kursi ruang tunggu yang tersedia di kantor pemasaran apartemen tersebut.

Sesaat kemudian Baekhyun bertemu dengan sales yang menawarinya apartemen kemarin.

"Permisi, anda yang kemarin datang ke apartemen saya bukan?" tanya Baekhyun kepada orang tersebut.

"Tuan Baekhyun?" tanya si Sales.

Dari mana dia tahu namaku? Ah! Akukan artis, tentu saja semua orang mengenalku. Hi hi hi.

"Ah, iya. Saya sepertinya tertarik dengan apartemen baru ini, boleh saya melihat-lihat."

"Tentu. Silahkan ikuti saya."

Baekhyun mengikuti si Sales menuju apartemen barunya, setelah memasukkan beberapa kode di lift, Baekhyun sampai dilantai 14. Kemudian berjalan kearah disepanjang koridor dan sampai didepan pintu kayu besar berwarna hitam. Gagang pintu itu dilengkapi dengan passcode dan pemindai sidik jari serta retina mata, jauh lebih aman dari apartemennya yang sekarang.

Baru satu langkah Baekhyun menginjakkan kakinya didalam apartemen baru ini, Baekhyun sudah merasakan perasaan nyaman. Oh, mungkin ini efek dari Chanyeol, Baekhyun benar-benar harus melupakan Chanyeol, dan menemukan suasana baru akan sangat membantu proses melupakan Chanyeol semkin cepat. Baekhyun berjalan ke ruang tengah dan menyingkap kain putih yang menutupi sebuah grand piano hitam, sangat elegan dibandngkan Upright piano usangnya yang ada didalam apartemennya. Baekhyun mengelus lembut body piano tersebut kemudian mengangkat tutup dari grand piano itu untuk melihat dawai-dawainya yang indah.

"Apa anda menyukainya?" tanya si Sales yang melihat wajah Baekhyun penuh dengan kekaguman pada piano tersebut, matanya berbinar-binar seperti seorang Ibu yang baru saja menjalani persalinan dan melihat bayinya untuk pertama kalinya.

Baekhyun menatap si Salas sambil tersenyum, "Ya, aku sangat menyukainya."

"Mainkanlah," tawar si Sales.

Baekhyun sempat ragu sejenak, tapi gejolak dijiwanya tidak bisa ditahan. Ia ingin sekali menyentuh tuts-tuts lembut piano tersebut dan mendengerkan sehalus apa suara piano elegan ini. Baekhyun mendudukkan dirinya diatas kursi yang ada dihadapan piano tersebut, kemudian mulai meletakkan jarinya diatas tuts piano. Detik berikutnya jari-jari Baekhyun menari dengan piawai memainkan lagu Song from a secret garden. Lagu ini terkenal di Korea pada tahun 1995 berkat drama Sunny spots (or Places) of the Young, yang dibintangi oleh aktor kawakan Lee Jong Won.

Siapapun yang mendengar alunan lagu ini, pasti akan merinding dibuatnya. Baekhyun menaruh seluruh hatinya dijari-jarinya, memainkan melodi tersebut dengan penuh kesungguhan. Siapapun yang mendengarkan Baekhyun saat ini pasti akan menitikkan air matanya. Melodi ini terlalu menyayat hati, bahkan tanpa permainan biola sekalipun rasa sedihnya tetap tersalurkan dengan baik. Tanpa terasa audiens Baekhyun satu-satunya—si Sales menitikkan air matanya.

Baekhyun melepaskan jarinya dari piano tersebut dan seketika itu pula si Sales memberikan tepukan tangan untuk Baekhyun.

"Indah sekali," puji si Sales sambil mengelap air matanya.

Baekhyun hanya tersenyum sopan.

Baekhyun sudah jatuh cinta pada apartemen barunya, pada grand piano hitamyang baru saja mengungkapkan perasaannya yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.

"Aku setuju untuk membeli apartemen ini. Jadi kapan aku bisa menempatinya?" tanya Baekhyun.

"Secepatnya, Tuan. Saat anda sudah menyelesaikan pembayarannya. Tapi, apa Tuan tidak mau melihat-lihat kamar, dan tempat-tempat yang lain terlebih dahulu?"

"Tidak perlu, aku sudah jatuh cinta pada tempat ini. Aku akan mengurus pembayarannya segera, kalau begitu aku permisi dulu."

Baekhyun meninggalkan apartemen tersebut dan kembali ke apartemennya. Baekhyun mengambil beberapa kertas dan pena untuk menulis lagu, inspirasinya sedang meledak-ledak didalam kepalanya. Baekhyun akan menulis semua perasaan dan kekesalannya yang tak mampu ia ungkapakan pada Chanyeol melalui sebuah lagu.

Baekhyun mulai menuliskan beberapa lirik lagu dan memainkan jarinya untuk menemukan melodi yang tepat. Baekhyun menghabiskan harinya untuk menulis lagu, entah sudah berapa kertas yang berhamburan karena Baekhyun berkali-kali mencoret lirik lagu yang telah ia tulis. Baekhyun bahkan tidak peduli kalau ia belum makan sejak siang hari, konsentrasinya tercurahkan seutuhnya untuk menulis lagu.

Sampai akhirnya Baekhyun berhasil menyelesaikan setengah lagunya pada pukul 9 malam dan iapun sudah tidak sanggup lagi menahan amukan perutnya yang sedari tadi berteriak "pizza ... pizza ... pizza" dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh Baekhyun dan perutnya.

Seperti biasanya Baekhyun memesan delivery pizza dan menghabiskan 3 box pizza sendirian. Setelahnya, Baekhyun kembali menulis lagunya sampai ia tertidur diatas pianonya.

.

.

.

Luhan : Bacon! Hari ini aku akan berangkat ke Seoul.

Sent

Selang berapa lama tak ada jawaban dari Baekhyun.

Luhan : Hei! Baekhyun pesawatku akan take off pukul 9.

Sent

Luhan : HEI DAGING BABI BODOH! Aku akan take off sebentar lagi, kubunuh kau kalau berani membuatku menunggu.

Sent

Masih tak ada jawaban. Luhan pikir Baekhyun pasti sedang tertidur. Luhantidak bisa meminta agensinya untuk menjemputnya secara tiba-tiba, karena Luhan meminta untuk memajukan jadwal keberangkatannya secara tiba-tiba sehingga dari pihak agensi tidak bisa menyiapkan armada untuk menjemputnya.

Perjalanan dari Beijing ke Incheon memerlukan waktu tempuh sekitar 2 jam, karena Seoul 1 jam lebih awal dari Beijing maka Luhan akan sampai di Incheon sekitar pukul 12 siang.

Baekhyun terbangun dari tidurnya yang sangat tidak berkualitas sekitar pukul 10 pagi, ponselnya mati, Ia lupa mengisi ulang baterainya sejak tadi malam. Baekhyun mencari-cari charger ponselnya dan langsung menghubungkannya ke soket terdekat. Setelah beberapa lama, logo buah yang tergigit dipinggirnya mulai nampak dilayar ponsel Baekhyun, kemudian beberapa pesan mulai masuk.

"Oh Tuhan, bisa gawat kalau aku terlambat. Si Rusa gila bisa membunuhku, padahal aku sudah mengurungkan niat untuk bunuh diri."

Baekhyun berlari kedalam kamar mandinya, membersihkan dirinya secara asal kemudian segera mengganti pakaiannya. Paling tidak dari Seoul ke Incheon membutuhkan waktu sekitar 2 jam, dengan mode berkendara Baekhyun yang seperti siput paling tidak membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Baekhyun membalas pesan Luhan sebelum masuk ke dalam mobilnya.

Baekhyun : Hei cantik! Tunggu aku, maaf aku baru bangun.

Sent

Kali ini Baekhyun mengambil risiko dan menginjak pedal gas mobilnya sekeras yang ia bisa.

"Woohooo... Oh my God! 80 km/jam! Ini harus masuk dalam buku sejarah Byun Baekhyun!"

Sekitar pukul 12.30 Baekhyun sudah samapi di arrival gate bandara Incheon dan dengan setia menunggu Luhan.

Satu menit kemudian Luhan muncul dengan membawa tiga koper besar dan beberapa ransel yang ia dorong bersama trolinya.

"Baguslah kau datang tepat waktu, padahal aku sudah merencanakan beberapa metode untuk membunuhmu."

Baekhyun tidak menghiraukan lelucon Luhan dan langsung memeluk tubuh sahabatnya dengan sangat erat. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Baekhyun, tapi Luhan dapat memahaminya dengan jelas perasaan sedih Baekhyun yang menjalar dari pelukan mereka. Ikatan persahabatan mereka selama bertahun-tahun mampu membuat mereka berkomunikasi hanya melalui gestur saja.

Luhan menepuk-nepuk punggung Baekhyun seraya berkata, "Kau akan baik-baik saja. Aku percaya itu."

Baekhyun melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada Luhan, "Tentu saja. Ayo! Bukan saatnya untuk bersedih-sedih lagi...," Baekhyun melirik kearah troli yang didorong Luhan, "Oh Tuhan! Memangnya kau mau berapa lama tinggal di Seoul? Sampai sebanyak ini barang bawaanmu."

"Ha ha ha. Kau tahukan aku ini artis professional, aku membutuhkan semua barang-barangku ini."

"Aku tidak yakin mobilku akan sanggup menampung semua barang-barangmu ini."

"Kita bisa menyewa beberapa taksi untuk membawa bagasiku."

"Merepotkan," cibir Baekhyun.

Hari sudah sore ketika Baekhyun dan Luhan sampai diapartemen Baekhyun. Belum ada satupun yang membahas tentang masalah Baekhyun. Luhan menunggu waktu yang tepat, begitupula dengan Baekhyun sehingga mereka berdua terlihat kikuk.

Malam harinya dengan piama kesayangan mereka, Luhan dan Baekhyun berbaring diatas ranjang. Baekhyun paham, sesi inilah sesi yang tepat untuk mencurahkan kegelisahan hatinya. Sayang selaksa sayang Kyungsoo tak ada disini.

Menit berikutnya Baekhyun menceritakan tentang tragedi penculikannya dan hari-harinya selama dirumah terasing.

"Jadi kau tidak ada di Eropa?" tanya Luhan tak percaya disela-sela cerita Baekhyun.

"Eum."

"Benar-benar orang sinting." Luhan mengomentari laki-laki yang menculik Baekhyun.

Baekhyun kembali melanjutkan ceritanya sampai akhirnya ia pulang kembali ke apartemennya dan menemukan fakta bahwa laki-laki itu akan segera bertunangan.

"Brengsek!" Luhan mulai geram. "Lalu kau diam saja? seharusnya kau memukulinya sampai mati dipesta itu."

"Hei, aku masih punya otak. Aku tidak mau merusak reputasiku, apalagi kalau sampai ini menjadi skandal dan masuk berita, aku tidak mau kalau Ibuku samapai tahu tentang skandal memalukan ini."

"Ya, kau benar. Ah. Aku terlalu emosi. Lalu apalagi yang terjadi sampai kau ingin bunuh diri? Tidak mungkinkan hanya karena kau tahu ia memliki tunangan lalu kau mau bunuh diri, pasti terjadi sesuatu.

Baekhyun memutar rekaman kejadian beberapa hari lalu, disiang hari dimana Chanyeol begitu dinginnya menendang Baekhyun dari sisinya, menghancurkan hatinya berkeping-keping.

"Silahkan duduk," ujar Chanyeol sembari menunjuk sebuah kursi kepada Baekhyun. Chanyeol tersenyum tapi senyumannya terasa sangat dingin dan menusuk Baekhyun.

"Tidak, terima kasih. Aku lebih suka berdiri," jawab Baekhyun mantap.

Seluruh otot-otot tubuh Baekhyun menegang, ia benar-benar ingin meledakkan dirinya sekarang, tapi ia menahan semuanya.

"Baiklah, terserah kau saja," ucap Chanyeol tenang sambil duduk di kursinya.

Baekhyun masih berusaha menahan emosi dan air matanya, ia tidak boleh terlihat lemah. Apapun itu, Baekhyun menolak untuk bertekuk lutut dihadapan Chanyeol, apalagi sampai harus menangis tersedu-sedu, harga dirinya sudah terkoyak, ia tidak mau semakin merendahkan martabatnya dihadapan Chanyeol.

"Aku meminta penjelasan atas semua yang terjadi." Baekhyun mengepalkan tangannya, kalau ia sedang menggenggam gelas sudah pasti gelas itu akan pecah akibat tekanan yang diberikan tangan Baekhyun.

"Penjelasan apa? semua sudah jelas, aku akan bertunangan bulan depan," jawab Chanyeol lugas seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.

"Lalu apa maksud semua ini? Apa maksudmu mengurungku? Dan apa maksud semua perlakuanmu selama ini?" Baekhyun masih berusaha tenang, masih mencoba tegar dan menahan beban kesedihan yang ada dihatinya.

"Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin melakukannya."

Baekhyun benar-benar geram, darahnya mendidih hingga memenuhi ubun-ubunnya. Baekhyun mendekati meja Chanyeol kemudian menarik kerah kemeja Chanyeol dan memaksanya untuk berdiri.

"Kau pikir semua ini lelucon? Kau pikir kau bisa bermain-main dengan perasaan seseorang begitu saja," ucap Baekhyun dengan sedikit menaikkan suaranya.

Chanyeol tertawa kecil, kemudian meremas tangan Baekhyun dan melepasnya secara paksa dari kerah kemejanya.

"Perasaan? Aku tidak pernah memintamu untuk melibatkan perasaanmu, kau sendiri yang memberikannya padaku...," Chanyeol berhenti sejenak, kemudian mendekatkan wajahnya kearah Baekhyun, "... Ah, jadi kau jatuh cinta padaku?"

Baekhyun tidak tahu harus berkata apa, tak bisa ia pungkiri ia memang sudah menjatuhkan hatinya ditangan Chanyeol, tapi egonya menolak untuk mengakuinya apalagi dalam kondisi seperti ini.

"Biar kuluruskan," lanjut Chanyeol.

"Aku tidak pernah sedikitpun berminat pada spesies homo sepertimu, pernahkah kau mendengarku mengatakan cinta kepadamu?"

Baekhyun mencoba memutar memorinya selama ia terkurung, memorinya mengangguk setuju, Chanyeol tak pernah sekalipun mengatakan cinta, dan Baekhyun benci itu.

"Semua kulakukan demi menghancurkan dirimu dan karirmu. Kalau bisa, akupun ingin menghancurkan homo-homo yang lain, kalian sangat menjijikkan...," Chanyeol menahan kalimatnya dan membiarkan Baekhyun menelan semua ucapannya, kemudian menyeringai, "...dan terima kasih untuk tubuhmu," cibir Chanyeol sambil memberikan tatapan yang merendahkan kepada Baekhyun.

Pertahanan Baekhyun runtuh, air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, Baekhyun benar-benar berharap saat ini ia memegang pistol atau semacamnya untuk memecahkan kepala Chanyeol.

Baekhyun menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dalam sekali hembusan yang berat, ia berusaha menenangkan pikirannya, ia tidak boleh melepaskan emosinya begitu saja, itulah yang diinginkan Chanyeol, Chanyeol ingin melihat Baekhyun menderita, dan Baekhyun menolak untuk memberikannya. Baekhyun tidak akan membiarkan Chanyeol menang, Baekhyun masih bisa bertarung.

Baekhyunpun melepaskan cincin couple mereka dan meletakkannya dengan lembut diatas meja Chanyeol.

"Aku tidak peduli seberapa bencinya dirimu pada gay sepertiku, tapi kalau kau berpikir kau sudah menghancurkan aku dan karirku, kau salah besar. Aku akan tetap berdiri tegak, aku tidak selemah itu untuk kau hancurkan hanya dengan sedikit cinta palsumu. Kuucapkan terima kasih atas pelajaran berharga yang kau berikan." Baekhyun mengangkat kepalanya, menolak keras untuk terlihat lemah.

"Omong-omong, aktingmu sangat bagus, kuharap kau bisa mendapatkan tawaran untuk bermain film secepatnya, dan kudoakan agar pernikahanmu berbahagia selamanya, tanpa adanya seorang anak gay yang terlahir dikeluarga bahagiamu kelak, agar tak perlu lagi ada anak yang dibenci ayahnya hanya karena ia terlahir sebagai gay," tutup Baekhyun sambil melangkahkan kakinya kearah pintu keluar.

Setelah merasa Chanyeol sudah tidak bisa melihatnya lagi, Baekhyun menumpahkan semua air matanya begitu saja, ternyata berpura-pura tegar menguras habis tenaganya, Baekhyun merasa lututnya tak mampu lagi menopangnya untuk berdiri, hatinya jauh lebih sakit lagi menerima kenyataan yang baru saja ia dapatkan.

"BAJINGAN!" teriak Luhan sambil emlangkahkan kakinya keluar kamar Baekhyun. Baekhyun mengejar Luhan dan menarik tangannya hingga Luhan berhenti.

"Kau mau apa?" tanya Baekhyun.

"Tentu saja membunuhnya, apalagi memangnya?"

"Hei, tenanglah. Percayalah aku sudah membalasnya tadi pagi. Walaupun tidak sepenuhnya memuaskan, paling tidak aku bisa sedikit membalasnya."

Tapi kenapa pada akhirnya hanya aku yang masih menangis.

"Memangnya apa yang kau lakukan?"

"Aku menghancurkan mobilnya dengan bat baseball."

"Bodoh! Kau seharusnya menghancurkan kepalanya."

Merekapun kembali kedalam kamar dan menutup sesi curhat mereka.


***
Sumpah ya kalian nggak ngasih aku napas.. dalam sehari targetnya udah tercapai, dan aku malah baru ngepost sekarang. Mian.

Aku nggak sempet double check, karena pengen segera lunasin janji. Jadi kalo ada typo maapin aja.

Next target, 140 vote + 30 comments. Gak papa banyak, biar aku bisa napas nulisnya. Gila aje kalo tiap hari aku harus update. Wkwkwk

-Mamah Dedeh?