Rated: T

Disclaimer: All of these chara are totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine.

Warning: bahasa gajelas, alur lompat2, setting gajelas, Crack pairing, OOC tingkat dewa dsb

SasuTen slight ItaTen

read it with ur own risks(:

Couple words from author:

Holla minna-san! aduh maaf banget ya author lama apdetnya. dikarenakan harus menyiapkan diri untuk uas hehe. akhirnya uas sudah terlewati author jadi bebas ngelanjutin fic ini deh hehe. author bales reviews dulu yaa..

Leomi no Kitsune : Wahahaha! iya Sasuke soalnya geregetan karena Tenten ngehindarin dia mulu ._. untungnya Tenten gadiiket beneran ya -_-' wkwk, makasih Leomii! maaf ya apdetnya ngareett bgt :( tetep baca fic ini yaa...

Bang ari : ahaha, iya gahanya Tenten yang dibikin bimbang, Ino pun dibikin bimbang sama sikap Itachi-senpai .-. hehe.. ini udh diapdet maaf bgtt ngarett kebangetann :(

akira ken : ahaha yang ini diapdetnya lamaa :( maaf yaaa.. hmm tau ga ya? soalnya kan Itachi lagi di Canada .-. hehe, ini udh dilanjutin maaf ya ngaret apdetnyaa :(

Guest : nyahaha, udh jangan flashback dong :) hoo menurut kamu Sasuke udh kayak gitu belom? hehehe, makasih yaa masukannya :3

Ita-ten : iyaa ajaib banget dia bisa unyu gitu ya.. wkwk, ada kok tapi gaakan berkesan romance lagi hehe :) nanti Itachi bakal menceritakan semuanya sama Tenten kok, dan Tenten juga bakal menceritakan semuanya sama Itachi hehe :) sepertinya sampai chapter 25 keatas .-. jangan bosen bacanya yaa wkwk...

aruna-chan : maaaff :( author habis menghadapi uas jadi konsentrasi belajar duluu :( maaf ya maaff, ini udh diapdet kok hehe..

okee semua reviews udh dibales, sekali lagi author minta maaf karena keterlambatan apdetnyaa :( yosh langsung ajaa...

Chapter 21

Tahun baru sudah berlalu dan selama seminggu setelah itu Sasuke mendapati dirinya disibukkan oleh Naruto dan persiapan recital nya yang dulu sempat tertunda. Karena sekarang tangan Sasuke sudah sembuh total, Naruto tidak membuang-buang waktu dan langsung bekerja. Sering sekali Sasuke memikirkan Tenten, yeah, walaupun hubungan mereka sudah kembali membaik Sasuke belum sempat bertemu dengan Tenten, dikarenakan kesibukannya. Sasuke hanya sempat menelpon gadis itu beberapa kali untuk menanyakan keadaannya, walaupun begitu mereka tidak bisa bicara lama-lama karena Sasuke harus kembali bekerja dan Tenten… Tenten juga sepertinya sibuk.

Sebenarnya setiap kali Sasuke bertanya apa yang sedang dilakukannya, Tenten hanya menjawab. "Oh, tidak ada yang penting." Awalnya Sasuke tidak terlalu memikirkannya, tapi sekarang kalau dipikir-pikir dengan seksama, gadis itu memang terkesan sibuk. Tak jarang bahkan gadis itu tidak menjawab telponnya. Kadang-kadang Tenten terkesan tidak bisa bicara lama-lama dan ingin segera menutup telepon.

Kening Sasuke berkerut sementara ia mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja kerja kantor produsernya yang luas dan mewah. Ia dan Naruto sedang menunggu produsernya yang katanya ingin membahas beberapa hal dengan mereka yang bisa Sasuke jamin bukanlah hal yang terlalu penting. Mereka sudah menunggu selama tujuh setengah menit dan produsernya masih belum muncul. Sasuke tahu ia tidak akan bisa berkonsentrasi bekerja kalau sosok panda imut dengan cepolan coklat dikedua kepalanya masih bergentayangan dibenaknya.

Ia tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia merasakan gadis itu menyembunyikan sesuatu darinya. Ada yang aneh disini. Dan ia akan mencari tahu sekarang. Karena itu ia harus menemui Tenten segera. Sekarang.

"Sepertinya aku harus pergi, Naruto." Kata Sasuke sambil berdiri dari kursinya dan menyambar mantel yang digantung didekat pintu masuk kantor.

"Wow, Sasuke, tunggu dulu. Kau mau kemana?" Tanya Naruto kaget. "Pertemuan akan segera dimulai dan kau berniat pergi tanpa alasan yang jelas? Apa yang harus kukatakan pada produsermu."

"Aku percaya padamu Naruto." Kata Sasuke sambil mengenakan mantel abu-abunya dengan terburu-buru. "Tidak ada masalah yang tidak bisa kau selesaikan, bukankah itu moto hidupmu? Dan soal alasan, aku yakin kau adalah laki-laki berbakat yang memiliki kreativitas tanpa batas, jadi aku yakin kau bisa menemukan alasan yang bagus untuk produserku. Nah sekarang aku harus bergegas dan menyelesaikan urusanku dengan seseorang." Naruto mendesah kesal, namun tetap tersenyum.

"Aku tahu ini soal panda kesayanganmu itu bukan? Sudah kubilang gadis itu akan mengkontaminasi duniamu, cepat atau lambat." Sasuke memutar bola matanya,tetapi tidak berkomentar. Kemudian ia berderap ke pintu kantor dan membukanya dengan satu sentakan cepat. Sebelum ia keluar, ia menoleh kembali kearah Naruto dan berkata. "Terimakasih Naruto, aku berhutang padamu." Naruto tertawa dan mengibaskan tangannya diudara.

"Oh ya, omong-omong hutangmu padaku sudah setinggi menara eifel sekarang. Jangan khawatir. Akan kutagih suatu hari nanti."

xXx

'Gadis itu tidak menjawab telpon.' Rutuk Sasuke dalam hati. Sasuke melempar ponselnya ke bangku penumpang disampingnya lalu mengarahkan mobilnya ke department store tempat Tenten mengajar. Mungkin gadis itu sedang mengajar dan tidak bisa mengangkat telpon.

Tapi Tenten tidak ada di ice rink itu. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh laki-laki bertubuh gempal yang tengah merapihkan rak sepatu ice skating. 'Lalu dimana panda itu sekarang?' Geram Sasuke dalam hati. Demi Tuhan. Sasuke tidak akan senewen seperti ini kalau gadis itu menjawab telpon darinya, bukankah ia sudah memberitahu gadis itu untuk selalu menjawab telponnya?

Saat itu seorang gadis bersurai pirang berjalan mendekati Sasuke dengan ragu-ragu, dan sepertinya Sasuke menyadari kehadiran gadis itu. Gadis itu tersentak kaget ketika mendapat tatapan tajam dari Sasuke.

"Sasuke?" Ketika mendengar suara itu, wajah Sasuke yang tadinya terlihat garang menjadi sedikit melembut.

"Ah Ino." Gadis pemilik nama itu mengerutkan kedua alisnya. "Apa yang kau lakukan disini?" Sasuke terlihat sedikit gugup lalu berkata.

"E-eh.. aku hanya ingin mengajak pa-maksudku Tenten makan siang." Kata Sasuke gugup, Ino mengerjap heran. "Kau mencari Tenten?"

"Ya, tapi katanya dia tidak ada disini, apa kau tahu dimana dia?" Ino menatap Sasuke dengan tatapan bingung. "Oh, apa Tenten belum memberitahumu? Dia berhenti mengajar di ice rink itu untuk sementara karena menerima tawaran untuk tampil dalam pertunjukan yang akan diselenggarakan oleh Dearburn. Jadi aku rasa kau bisa menemuinya di ice rink mereka."

xXx

Gustav bertepuk tangan dua kali dan berseru, "Bagus sekali, girls! Latihan kita sampai disini dulu, besok kita lanjutkan lagi." Tenten mengusap kening dengan punggung tangannya dan berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Gadis itu meluncur mendekat ke pintu masuk ice rink dan langsung disambut oleh Gustav. "Tenten sayang, kau sangat luar biasa." Puji Gustav sambil menepuk pundak Tenten. Tenten mengucapkan terimakasih dengan pelan karena masih agak sulit bernafas, kemudian segera meninggalkan Gustav menuju bangku tribun, tempat tasnya diletakkan. Tenten menghempaskan tubuhnya disamping tasnya, mengeluarkan sebotol air mineral dan meneguknya.

Sudah hampir seminggu ia menghabiskan pagi dan siang berlatih di sky rink milik kelompok Dearburn. Ya ia sudah resmi menerima tawaran Gustav untuk tampil dalam pertunjukan penutup yang direncanakan oleh Gustav. Ia tahu kondisi tubuhnya yang melemah akan menjadi gangguan, tapi ia ingin tetap meluncur disana. Demi Tuhan, ia seorang figure skater. Ia harus meluncur. Ia juga ingin meluncur diatas sky rink milik Dearburn yang megah itu, walaupun hanya satu kali. Ia sudah memikirkannya baik-baik, mempertimbangkan segalanya, bahkan sudah membahasnya dengan dokter dan Tsunade-baa-chan. Oh tentu saja mereka tidak melompat kegirangan dan mendukung tindakan Tenten.

Tetapi mereka memahami keinginan besar Tenten dan akhirnya menyerah dengan enggan. Jadi Tenten secara resmi menerima tawaran Gustav. Masalahnya, sampai sekarang ia belum memberitahu Sasuke. Tenten tidak tahu mengapa ia merasa gugup membayangkan reaksi laki-laki itu kalau sampai tahu tentang keputusannya untuk kembali bergabung dengan Dearburn selama satu malam. Gagasan memberitahu Sasuke tentang keputusannya terasa lebih menakutkan daripada ketika ia memberitahu Tsunade-baa-chan. Tetapi Tenten tahu ia harus segera memberitahu Sasuke, entah apa jadinya kalau Sasuke sampai mengetahui semua ini dengan sendirinya, demi Tuhan hubungan mereka baru saja membaik, Tenten tentunya tidak ingin ia kembali bertengkar dengan Sasuke. "Capek?"

Tenten tersentak kaget lalu menoleh kesamping. Dan seketika itu juga mata hazel Tenten melebar kaget. "Itachi-senpai?" laki-laki berhelai hitam itu tersenyum kecil. "Yeap, namaku masih Itachi." Tenten mengerjap kaget.

"Bagaimana kau… kukira kau sedang mengikuti olimpiade di Canada." Itachi menatap lurus kedepan dan menghela nafas panjang seraya tersenyum kecil. "Jadi, Ino sudah memberitahumu ya." Tenten hanya terdiam, lalu mengganti topic. "Jadi, bagaimana hasilnya?" Tanya Tenten.

"Apa kau tidak menonton ESPN kemarin lusa?" Tanya Itachi sambil melirik kearah Tenten. Tentu saja Tenten melihatnya. Ia melihat Itachi meluncur disana, dibabak final dengan back sound james bound madley, dan sukses membuat para juri berdiri dan bertepuk tangan. Sudah jelas, Itachi mendapat medali emas, setelah absent selama lima tahun.

"Selamat untuk kemenanganmu." Kata Tenten sambil tersenyum kecil. Sebenarnya Tenten agak kesal karena Itachi tidak memberitahunya soal keputusannya untuk kembali terjun ke olimpiade. Ia tahu ia dan Itachi tidak dalam hubungan khusus, tapi setidaknya mereka cukup dekat untuk saling terbuka. "Kulihat kau masih seorang skater yang hebat, meskipun sedikit kelelahan." Kata Itachi sambil tersenyum ringan.

"Yeah, aku merasa bersyukur." Kata Tenten santai, menyadari sikap Tenten yang agak cuek membuat Itachi menatap gadis itu dan berkata.

"Maaf aku tidak memberitahukanmu soal keputusanku untuk kembali terjun ke olimpiade, aku kira kau dan Sasuke-"

"Tidak." Sela Tenten cepat. "Aku tidak pernah ada hubungan special dengan Sasuke." Kata Tenten dengan nada datar. Itachi menghela nafas panjang. Lalu kembali berkata.

"Kau tahu, aku tidak sabar berlatih denganmu besok pagi." Kata-kata Itachi membuat Tenten menoleh kearahnya dan menatapnya dengan tatapan bingung.

"Berlatih bersama?" Itachi mengangguk. "Apa Gustav belum memberitahumu kalau kita akan menjadi pasangan dipertunjukan itu?" Tenten tercengang, well ternyata bukan hanya Itachi yang menyembunyikan sesuatu darinya. "Baiklah, sepertinya aku harus berbincang dengan Gustav, sampai jumpa besok." Kata Itachi sambil tersenyum kecil dan seperti biasa, menepuk kepala Tenten. Gadis itu membalas senyuman Itachi dan akhirnya berdiri meraih tasnya. Yeah, setidaknya kali ini ia akan sedikit lebih semangat karena kehadiran Itachi. Setelah meraih tasnya, Tenten segera melangkah menuju tangga tribun dan terpaku ketika melihat siapa yang berdiri diambang pintu tribun. Uchiha Sasuke.

Dan laki-laki itu sama sekali tidak tersenyum ketika menatap Tenten dengan tajam sambil melipat kedua tangannya.

xXx

Sasuke bisa melihat gadis itu menggigit bibir bawahnya ketika berjalan menghampirinya diambang pintu. Ia mencoba melemparkan senyuman kecil kearah Sasuke, berharap hal itu bisa meredakan amarah Sasuke yang sudah telanjur sampai ke ubun-ubun. "Hei." Sapa Tenten lalu berdeham beberapa kali.

"Sedang apa kau disini?" Sasuke menatap gadis yang berdiri gugup dihadapannya dengan mata disipitkan. "Lucu sekali, panda." Gumam Sasuke datar. "Karena aku juga berniat untuk menanyakan hal yang sama padamu."

Tenten membuka mulut. "Aku-"

"Kita bicara sambil makan siang." Sela Sasuke tajam seraya mencengkram siku Tenten dan menariknya pergi. Empat puluh menit kemudian mereka duduk berhadapan disalah satu restoran kecil diujung blok, dekat apartemen Sasuke. Tepatnya restoran tempat Tenten membeli makan siang Sasuke ketika ia menghancurkan makan siang Sasuke. Sasuke masih marah, tapi amarahnya sudah mulai mereda selama perjalanan mereka dari sky rink menuju restoran ini. Ia hanya ingin penjelasan dari Tenten. Jadi setelah pelayan mencatat pesanan mereka dan berbalik pergi, Sasuke menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan bertanya. "Jadi, kau akan ikut tampil dalam pertunjukan Gustav?"

Tenten menarik nafas dalam-dalam dan membasahi bibirnya. "Ya." Jawabnya pelan. Mata hazelnya menatap Sasuke dengan ragu. "Aku ingin melakukannya."

"Bukankah doktermu sudah memintamu berhenti meuncur karena kondisi tulangmu?"

"Ya, tapi karena ini hanya pertunjukan satu kali, dan aku bukan anggota resmi kelompok mereka, aku tidak perlu menjalani latihan keras dari pagi sampai malam." Tenten buru-buru menjelaskan. "Aku sudah menjelaskan kepada Gustav bahwa aku hanya bisa ikut berlatih dari pagi sampai siang. Dan tentu saja aku tidak menuturkan alasan yang sebenarnya. Dia setuju. Padahal para skater lain, termasuk Itachi-senpai harus menjalani latihan rutin." Sasuke mengernyitkan hidungnya ketika mendengar nama abangnya meluncur keluar dari bibir Tenten. "Apa? Kakakku ikut juga?" Tenten mengangguk santai.

"Dan hal penting yang harus kau ketahui, Sasuke. Sudah satu minggu aku menjalani latihan. Dan sejauh ini kondisiku baik-baik saja." Sasuke membuka mulut, hendak menutuskan argumentasinya. Tapi Tenten buru-buru mencondongkan tubuhnya kearah Sasuke dan menyela.

"Aku sudah memikirkan semua ini matang-matang, Sasuke. Aku sudah membicarakan ini semua dengan Tsunade-baa-chan dan Dr. Hamilton. Aku berjanji pada mereka akan berhenti bila latihannya terbukti terlalu berat untukku. Aku juga akan menjanjikan hal yang sama padamu. Aku tidak akan memaksakan diri. Aku mohon percayalah padaku." Sasuke menghela nafas dan kembali membuka mulut, tapi Tenten menyelanya lagi. Sepertinya gadis itu belum selesai bicara. "Aku ingin meluncur." Katanya dengan suara tercekat.

"Dulu aku berhenti ketika namaku hampir dikenal. Aku seorang figure skater. Impianku sama seperti para figure skater lain. Aku ingin meluncur ditengah-tengah skyrink, dengan lampu sorot yang mengikutiku, dengan ratusan penonton yang melihatku. Aku ingin dunia tahu bahwa aku bisa."

Tenten berhenti sejenak, berusaha menarik nafas dalam-dalam sementara kedua mata hazelnya mulai berkaca-kaca. Melihat pemandangan itu membuat hati Sasuke remuk. Setelah menelan ludah yang bagaikan seenggok daging, Tenten melanjutkan. "Aku ingin meluncur selama aku masih bisa, sebelum aku sama sekali tidak bisa meluncur lagi. Sebelum pencakokan tulang itu dilakukan. Tidak, kumohon jangan menyela Sasuke. Kau pasti tahu kalau aku membutuhkan pencakokan tulang belakang itu, sekarang keadaan tulang-tulangku semakin buruk, keseimbanganku semakin terganggu dan kau sudah tahu akan hal itu. Jadi ku harap kau mengerti alasan mengapa aku mengambil keputusan ini."

"Kau sudah memberitahu Tsunade dan doktermu, kenapa kau belum memberitahuku? Kenapa aku menjadi orang terakhir didunia ini yang kau beritahu?" Tanya Sasuke penasaran, Tenten terlihat salah tingkah lalu mengangkat kedua bahunya. "Entahlah." Sahutnya jujur. "Kurasa aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Tapi aku memang berencana untuk memberitahumu hari ini, sungguh."

"Kapan pertunjukannya digelar?" Tanya Sasuke setelah menghela nafas panjang. "Dua minggu lagi." Sasuke tidak berkata apa-apa dan memilih untuk memperhatikan Tenten yang duduk dihadapannya dengan wajah pucat dan gugup. Gadis itu berkata bahwa ia tidak ingin membuat Sasuke khawatir, tetapi Sasuke selalu khawatir tentang segala hal yang bersangkutan dengan Tenten. Jangan Tanya kenapa. Karena Sasuke sendiri belum mampu memastikan jawabannya. Yang jelas ia ketahui adalah, ia tidak akan bisa tenang selama tidak memastikan dengan mata kepala sendiri bahwa Tenten baik-baik saja. Lagipula Sasuke pernah berjanji pada Tsunade untuk menjaga Tenten.

"Aku akan membiarkanmu ikut pertunjukan itu." Kata Sasuke dengan suara parau, lalu menyenderkan tubuhnya di senderan kursi. "Asalkan kau bisa mengabulkan permintaanku." Tenten terlihat terkejut.

"A-apa? Kau ti-tidak akan meminta ha-hal-hal yang aneh bu-bukan?" Sasuke membuka mulut hendak menjawab perkataan Tenten, tetapi terpaksa harus mengurungkan niatnya ketika seorang pelayan mengantarkan makanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, Sasuke mencondongkan tubuhnya kearah Tenten. "Tentu saja tidak, aku bukan tipe laki-laki mesum kalau itu maksudmu."

Tubuh Tenten berubah santai, gadis itu mendesah dalam hatinya. Ia merasa bodoh karena sempat berpikir Sasuke akan meminta sesuatu yang 'aneh' padanya. "Lalu apa permintaanmu?"

"Aku ingin kau tinggal di apartemenku sampai pertunjukan itu selesai." Tenten terbelalak kaget ketika mendengar pernyataan Sasuke. "Apa?"

Sasuke mendesah lalu bergegas menjelaskan. "Panda, Tsunade dan Susune pernah memintakku untuk menjagamu saat kita berkunjung ke Jepang. Awalnya aku heran mengapa mereka terlihat begitu khawatir denganmu, setelah aku tahu semua ini, aku rasa hal itu sangatlah wajar, aku yakin kau juga mengerti alasan mereka. Intinya mereka tidak ingin hal buruk terjadi padamu."

Tenten mengerjap, menunggu Sasuke melanjutkan kalimatnya. Sepertinya gadis itu masih terlalu kaget untuk memberi komentar.

"Dan kurasa kau tidak bisa tinggal bersama Ino. Karena well kau tahu.. Ino pasti sibuk akan urusannya, lagipula tidak menutup kemungkinan kau akan risih tinggal ditempat baru. Karena itu kau bisa tinggal ditempatku, setidaknya sampai pertunjukan itu selesai, keuntungannya adalah kau sudah mengenal apartemenku, jadi bisa dibilang apartemenku bukan tempat asing untukmu bukan? Aku yakin Tsunade akan tenang jika ada seseorang yang menemanimu." Tenten menatap Sasuke dengan ragu. "Tapi, Sasuke-"

"Aku tidak akan memintamu memindahkan semua barangmu ke apartemenku, panda. Kau berhak mempertahankan apartemenmu. Kau hanya perlu membawa barang-barang yang benar-benar kau perlukan."

"Kenapa kau melakukan semua ini?" Tanya Tenten sambil menatap Sasuke lurus-lurus. Sasuke menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Kurasa kau tahu alasannya, panda." Gumam Sasuke. "Terlebih aku sudah berjanji pada Tsunade untuk menjagamu." Wajah Tenten merona, gadis itu menundukan kepalanya dan mengaduk-aduk chiken doria yang masih mengepulkan asap.

"Kau tahu permintaanku ini masuk akal, panda." Kata Sasuke dengan nada memohon. "Kau tahu.. aku benar-benar heran. Kau selalu memintaku melakukan sesuatu untukmu.. tapi sekarang kau memintaku melakukan sesuatu demi kepentinganku."

"Oh jangan salah paham dulu, panda. Aku mengajukan permintaan itu demi kepentinganku sendiri. Demi ketenangan jiwaku." Bantah Sasuke.

"Ketenangan jiwaku?" ujar Tenten membeo. Sasuke mengangguk "Dan agar aku bisa kembali berkonsentrasi pada pekerjaanku." Tenten mengernyitkan hidungnya ketika melihat Sasuke tersenyum miring padanya.

"Kau tahu apalagi keuntungan yang kuperoleh jika kau tinggal bersamaku? Aku bisa menikmati kopimu setiap pagi." Kata Sasuke dengan senyuman jail yang menggoda, yang membuat Tenten harus memejamkan matanya sesaat.

"Jadi bagaimana? Apakah semua alasan itu bisa membuatmu setuju untuk mengabulkan permintaanku?"

Tenten mendengus menyerah. "Memang aku punya pilihan lain?"

"Tidak." Sahut Sasuke sambil tersenyum. Tenten menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Baiklah, kukabulkan permintaanmu."

Dan saat itulah Sasuke yakin, ia belum pernah merasa selega ini seumur hidupnya.

Yeah! Itachi senpai sudah pulang dari Canada guys nyehehe, yap disini Sasuke terkesan memanfaatkan suasana banget ya-_- wkwkwk, sekali lagi author minta maaf buat keterlambatan apdetnyaa :( author janji akan apdet lagi secepatnyaa ;) okee segini aja deh, jaa nee minna san!