.

.


Suasana tenang senantiasa melingkupi ruangan yang terisi lebih dari satu rak berukuran tinggi dan besar dengan berbagai macam buku menempati masing-masing tempat di dalam rak tersebut. Ketenangan yang tercipta itu membuat sosok lelaki tampan yang kini sedang berjalan di salah satu lorong yang dibuat oleh dua buah rak yang saling berhadapan semakin memelankan langkah kakinya, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun yang dapat mengganggu orang-orang yang sedang sibuk dengan buku bacaannya.

Salah satu tangannya terangkat, menyentuh pelan pinggir-pinggir buku yang tertata rapi di dalam rak seraya masih terus melanjutkan langkah kakinya. Berbelok ke arah kanan, indra penglihatannya langsung disajikan dengan banyaknya kursi dan meja yang tersedia di dalam ruangan itu.

Tatapannya mengedar selama beberapa detik, sebelum fokus pada satu sosok yang sedang duduk santai dengan buku di atas mejanya. Bibirnya terus mengulas senyum manis seiring dengan kedua matanya fokus memerhatikan gerak-gerik sosok yang diketahui berjenis kelamin perempuan.

Lelaki tampan bernama Kim Jongin itu masih saja fokus memerhatikan gadis yang tidak ia ketahui namanya seraya tersenyum manis. Tetapi, senyuman yang sejak tadi terulas di bibirnya harus lenyap ketika ada sosok lain yang duduk tepat di depan gadis tersebut. Sosok itu berjenis kelamin lelaki, tetapi tubuhnya yang mungil membuat sosok itu terlihat tidak jauh berbeda dengan sosok gadis di depannya. Selain itu, wajahnya perpaduan antara manis dan cantik, ditambah dengan kedua matanya yang bulat menjadi alasan kenapa kerapkali sosok itu dikira seorang gadis oleh orang yang tidak mengenalnya. Sayangnya, Jongin justru mengenal baik sosok lelaki mungil tersebut. Tanpa sadar matanya memicing menatap lelaki mungil itu yang sedang berusaha mendekati gadis yang sejak tadi diperhatikannya.

Jongin terus memerhatikan dengan baik interaksi Kyungsoo bersama gadis tersebut. Tidak jarang kedua matanya sedikit melotot dengan deru napas yang berhembus kasar melalui mulutnya. Emosinya benar-benar dibuat campur aduk saat ini.

'Apa yang mereka lakukan?' desisnya dalam hati.

Tidak berniat untuk beranjak dari tempatnya berdiri—bersembunyi—saat ini, Jongin semakin menguatkan hatinya ketika dengan seenak hati kedua tangan Kyungsoo menggenggam salah satu tangan gadis itu. Tak tanggung-tanggung, lelaki mungil itu justru membawa salah satu tangan gadis yang sedang digenggamnya untuk mendarat di pipi sebelah kirinya kemudian mengelusnya penuh kasih sayang, membuat senyum malu-malu terulas di bibir gadis cantik itu dan emosi Jongin yang semakin meluap-luap.

Jongin tidak bisa lagi menjelaskan perasaan apa yang saat ini sedang berkecamuk di hatinya. Kontak fisik yang dilakukan Kyungsoo dan gadis cantik itu benar-benar membuatnya marah, menyisakan dirinya yang hanya dapat mengepalkan kedua tangan erat-erat seraya menggigit bibir bawahnya penuh emosi.

Jongin tidak sadar, bahwa beberapa detik yang lalu Kyungsoo sempat menatap ke arahnya dengan seringai tipis muncul di bibirnya.


Katakan Kyungsoo nakal, karena kenyataannya memang seperti itu. Hal itu terbukti dari salah satu tangan gadis cantik yang ada di depannya masih betah menempel dan mengelus-elus pipi sebelah kirinya, membuat Jongin yang sejak tadi memerhatikan tingkah lakunya semakin geram.

"Yerin-ah, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Kurasa cuaca hari ini cukup bagus untuk dihabiskan di taman hiburan," ujar Kyungsoo kemudian tersenyum manis.

Gadis cantik bernama Yerin itu tampak terdiam sebentar sebelum membalas ucapan Kyungsoo.

"Oke!" jawabnya riang.

Kyungsoo semakin mengembangkan senyum manis di bibirnya saat Yerin menyetujui ajakannya, namun beberapa detik setelahnya senyum manis itu kembali menjadi seringai tipis tatkala kedua matanya melirik Jongin yang masih berada di tempat persembunyiannya—menurut Jongin.

"Kajja!" ajak Kyungsoo seraya berdiri. Satu tangannya kembali menggenggam tangan Yerin dengan erat kemudian melangkah sedikit terburu-buru.

Jongin yang melihat Kyungsoo dan Yerin (Jongin tidak mengenal Yerin, hanya Kyungsoo saja yang mengenalnya) tiba-tiba pergi dengan langkah sedikit terburu-buru bergegas menyusul keduanya setelah sebelumnya memukul rak buku yang ada di dekatnya.

"Sial!" umpatnya kemudian berlari menyusul Kyungsoo dan Yerin.


Kyungsoo dan Yerin terus berlari seraya sesekali kepala keduanya menoleh ke belakang, memastikan sosok yang sedang mengejar mereka tidak terlihat dan tidak dapat menangkap keduanya. Deru napas yang berhembus cukup keras menjadi bukti bahwa Kyungsoo dan Yerin merasa lelah setelah menuruni berpuluh-puluh anak tangga dengan berlari.

Awalnya Yerin menolak ketika Kyungsoo menyuruhnya menuruni anak tangga dengan berlari. Namun ketika Kyungsoo mengatakan ada sosok tidak dikenal sedang mengejar mereka, tanpa pikir panjang Yerin langsung menuruti perintah Kyungsoo. Lari keduanya semakin cepat saat melihat sosok yang tidak dikenal—untuk Yerin—berada beberapa jarak di belakang keduanya.

"Hahh… Hahh… Hahh…" Kyungsoo dan Yerin terengah-engah ketika keduanya sudah berada di lantai satu gedung kampus.

"Sebenarnya ada apa, oppa? Kenapa lelaki tadi mengejar kita?" tanya Yerin kesal.

"…"

Kyungsoo hanya diam. Belum berniat untuk menjawab pertanyaan Yerin. Lelaki berparas manis yang berkuliah di jurusan Sastra Inggris itu justru masih sibuk menghirup oksigen untuk cepat-cepat memenuhi paru-parunya yang hampir kosong.

"Ya! Kyungsoo oppa! Jawab pertanyaanku!" bentak Yerin.

Kyungsoo mendelik seraya mendengus kesal mendapat bentakan dari Yerin.

"Kau ini berisik sekali. Aku kan sudah bilang, ada orang tidak dikenal mengejar kita. Jadi, aku tidak kenal dia itu siapa!" jawabnya kesal seraya membawa tubuhnya yang semula sedikit membungkuk untuk kembali berdiri tegak.

Yerin refleks mendekati Kyungsoo kemudian melingkarkan kedua tangannya dengan manja di salah satu lengan Kyungsoo saat sosok yang tadi mengejar mereka datang mendekat.

"Dia siapa, oppa?" tanya Yerin sekali lagi pada Kyungsoo. Satu tangannya dengan berani menunjuk Jongin yang kini sedang menatap penuh emosi ke arahnya.

"Dia kekasihku!" sahut Jongin seraya menunjuk Kyungsoo.

Yerin terkejut, kedua matanya membulat sempurna setelah mendengar pengakuan Jongin. Keterkejutannya semakin bertambah ketika Kyungsoo menepis dengan kasar kedua tangannya yang masih melingkar di salah satu lengannya.

"Ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini? Kyungsoo oppa! Kau bilang kau menyukaiku. Kau bilang kau tidak memiliki kekasih. Tapi nyatanya, sekarang ada sosok yang mengaku-ngaku sebagai kekasihmu dan dia seorang lelaki! Kau menipuku, heh? Kau menipuku, kan? Kau pembohong, oppa. Kau pembohong!"

Dengan hentakan keras, Yerin melangkah cepat setelah menumpahkan kekesalan dan kekecewaannya pada Kyungsoo. Wajah cantiknya tampak memerah, menahan marah juga malu dalam waktu yang bersamaan.

Selama beberapa detik Jongin menatap kepergian Yerin dalam diam, namun kemudian tatapannya kembali terfokus pada lelaki manis yang saat ini sedang bersandar di dinding dengan kedua tangan tersilang di depan dada.

"Do Kyungsoo! Kau pikir apa yang sudah kau lakukan di dalam perpustakaan tadi, heh?"

Kyungsoo langsung menatap Jongin sinis setelah mendengar nada bicara Jongin yang terdengar dingin di telinganya.

"Untuk apa kau bertanya lagi? Bukankah kau sudah melihat apa yang kulakukan pada gadis tadi?" jawab Kyungsoo tak kalah dingin.

Jongin mendengus kesal mendengar jawaban Kyungsoo.

"Jawab dengan jujur pertanyaanku, Kyung! Apa maksudmu melakukan semua itu? Kau ingin membuatku marah?"

Masih dengan tatapan sinisnya, Kyungsoo tanpa ragu langsung menjawab pertanyaan Jongin.

"Sekarang aku yang bertanya padamu, Kim Jongin. Bagaimana perasaanmu ketika melihat kekasihmu bermesraan dengan orang lain? Kau merasa senang? Atau marah? Lalu kau pikir, bagaimana perasaanku ketika melihatmu bermesraan dengan Luhan hyung di tempat umum? Aku tahu Luhan hyung sahabatmu, tapi tidak bisakah kau dan dia menjaga jarak meski hanya sedikit? Kau tahu? Kau itu payah!"

Tepat setelah mengeluarkan semua kata-kata yang sejak tadi mengganjal di hatinya, Kyungsoo lantas membuang pandangannya untuk menatap apapun di sekelilingnya. Ia berusaha menghindari tatapan Jongin yang entah kenapa selalu sukses meluluhkan hatinya.

Jongin tersenyum. Sekarang ia mengerti kenapa Kyungsoo melakukan hal seperti itu di dalam perpustakaan tadi. Masih dengan senyum di bibirnya, Jongin melangkah perlahan mendekati Kyungsoo. Mencoba mengikis jarak dengan lelaki manis bertubuh mungil yang sudah menjadi kekasihnya selama 40 bulan itu.

Setelah berada tepat di hadapan Kyungsoo, Jongin dengan cepat mengangkat satu tangannya ke udara kemudian menempelkan telapak tangannya pada dinding yang ada di belakang Kyungsoo, membuat tubuh mungil Kyungsoo secara tidak langsung seperti terkurung di dalam tubuh tinggi dan tegapnya. Sementara Kyungsoo yang melihat perbuatan Jongin hanya menatapnya sekilas sebelum kembali membuang pandangannya ke arah lain.

"Kau cemburu?" tanya Jongin seraya menatap lekat wajah manis Kyungsoo.

Kyungsoo kembali membawa pandangannya untuk menatap Jongin.

"Tidak!" jawabnya cepat, kemudian kembali menatap ke arah lain dengan raut wajah yang cemberut.

Jongin tersenyum tipis melihat perubahan raut wajah Kyungsoo.

"Jujur saja, sayang. Kau cemburu?" tanya Jongin lagi. Kali ini tangannya yang bebas ia gunakan untuk memegang dagu Kyungsoo dan menuntun lelaki manis itu untuk kembali menatapnya. Namun lagi-lagi Kyungsoo membuang pandangannya disertai dengan decakan pelan terlontar dari bibirnya.

Bukannya marah, Jongin justru terkekeh melihat kekasihnya yang sedang merajuk. Bagaimanapun sikap dan tingkah laku Kyungsoo, semuanya benar-benar membuat Jongin gemas.

Tanpa ragu Jongin membuat jarak wajahnya dengan wajah Kyungsoo semakin menipis. Satu tangannya yang memegang dagu Kyungsoo turut membantu dirinya untuk mempersempit jarak wajahnya dengan wajah sang kekasih. Semakin dekat, membuat keduanya dapat merasakan hembusan napas hangat yang menerpa wajah masing-masing, hingga—

Cup

—penyatuan bibir itu terjadi tepat setelah Kyungsoo menutup kedua mata bulatnya.

Selama beberapa detik Jongin hanya menempelkan bibirnya dengan bibir Kyungsoo. Namun di detik berikutnya, lelaki tampan bermarga Kim itu dengan lihai melumat dan menghisap bibir bawah dan atas Kyungsoo secara bergantian.

Sementara Kyungsoo, lelaki manis yang gemar memasak itu hanya diam. Membiarkan kekasihnya yang berwajah tampan itu bermain-main dengan bibirnya. Hingga beberapa detik terlewati dan ia berniat untuk membalas lumatan yang diberikan kekasihnya, sang kekasih dengan seenak hati melepaskan tautan bibir mereka berdua, menyisakan saliva tipis yang terlihat ketika sang kekasih menyudahi ciumannya.

"Ya! Jongin! Kenapa dilepas?" seru Kyungsoo tidak terima. Wajahnya kembali membuat raut cemberut dengan kedua pipi menggembung lucu.

Sekali lagi Jongin terkekeh.

"Hei, memangnya sejak kapan kekasih mungilku ini mulai nakal, huh?" goda Jongin seraya mengedipkan sebelah matanya pada Kyungsoo.

Kyungsoo tidak dapat menahan tawanya saat menyadari jika dirinya bersikap—cukup—aneh di depan Jongin.

"Aku benar-benar tidak menyangka jika kekasihku bisa mencium tangan seorang gadis sebanyak itu," kata Jongin kemudian mencium salah satu tangannya berkali-kali, berusaha mempraktikkan bagaimana Kyungsoo ketika mencium tangan Yerin di dalam perpustakaan tadi.

Kyungsoo menunduk sebentar, kemudian kembali menatap Jongin yang sedang berjalan mundur perlahan-lahan, masih dengan kedua tangan dan bibirnya mempraktikkan apa yang ia lakukan di dalam perpustakaan tadi. Wajah Jongin yang begitu senang ditambah dengan kekehan terus terlontar dari bibirnya membuktikan jika lelaki tampan itu dalam mood baik untuk mengejeknya.

"Kalau begitu aku akan membalas perbuatanmu tadi, sayang. Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu saat kita sudah berada di apartemen," kata Jongin seraya menyeringai tipis, kemudian membalikkan tubuhnya untuk menuruni beberapa anak tangga.

Kyungsoo yang mendengar perkataan Jongin hanya dapat meloloskan tawanya dengan pelan. Hatinya tidak keberatan dengan apa yang akan Jongin lakukan padanya nanti.

Melihat Jongin yang sudah berada sedikit jauh darinya, Kyungsoo bergegas menyusul Jongin. Langkah kedua kakinya sedikit cepat, sebelum—

Hap

—tubuh mungilnya sukses berada di atas punggung Jongin dengan kedua tangan melingkar erat di leher Jongin. Lagi—alunan tawa kembali terlontar dari bibir Jongin dan Kyungsoo.

"Aku mencintaimu, Jongin-ah…"

"Aku lebih mencintaimu, sayang…"


.

.

.

End

.

.

.


Hai. Aku kembali ^^

Ini adalah kekhilafan pertamaku setelah dua bulan tidak buka FFN. Drabble di atas merupakan hasil remake dari video bertema gay yang pernah aku tonton. Sebelumnya aku pernah publish ini, tapi aku hapus, dan sekarang aku publish lagi. Tidak banyak yang kuedit, dan ini adalah gaya penulisanku satu tahun silam (sepertinya). Semoga kalian menyukainya ya ^^

Bye-bye. Sampai ketemu di drabble selanjutnya. Aku mau melanjutkan BAB III-ku dulu biar bulan ini bisa sidang proposal, hehehe.

(Mohon maaf belum bisa menyajikan drabble dengan ide yang fresh. Otakku sudah terlalu stress karena skripsi :D)

.

.

.

Yang berkenan dan ikhlas...

Bisa memberikan reviewnya untukku?

Kritik dan saran diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka :*

.

.

.

Terima kasih ^^