"Baekhyun." langkah Baekhyun terhenti mendengar suara familiar dibelakang, detik berikutnya kedua mata kecil itu membuat sempurna. Berkedip, memastikan sosok yang berjalan mendekat itu nyata.
Kris Wu.
"Kau datang?"
Kris tersenyum tipis. "Jongdae mengundangku." jawabnya.
Dua bulan sudah lebih dari cukup bagi Kris untuk melewati masa terpuruknya, pemuda itu tampak sudah kembali seperti sedia kala. "Bagaimana kabarmu?" Kris membuka obrolan.
"Baik. Kau sendiri?"
"Merasa sangat baikㅡitu juga karenamu."
"Aku?"
"Ya, kauㅡ"
"Ehemm.." suara dehem seseorang menginterupsi obrolan mereka. Chanyeol menatap curiga Kris disana.
"Ah, Park Chanyeol. Apa kabar?" sapa Kris ramah, mengulurkan tangan untuk berjabat.
Chanyeol mengaduh pelan ketika Baekhyun menyikut perutnya cukup keras, merasa kesal karena Chanyeol tak kunjung merespon sikap baik Kris, pemuda itu hanya menatap heran wajah dan tangan Kris secara bergantian. "Baik." jawab Chanyeol.
"Hyung~" seruan Baekhyun membuat mereka menoleh, sosok Luhan mendekat sementara Baekhyun tak sabar untuk segera menghampiri, memeluknya. "Kau datang? Kapan kau tiba?"
"Aku tiba kemarin sore." Luhan tersenyum lebar.
"Kenapa tidak menemuiku?"
"Ini kejutan."
"Ah, jadi ini yang mereka maksud?ㅡaku akan mengucapkan terima kasih nanti." Luhan hanya terkekeh mendengar ucapan Baekhyun. "Kenapa susah sekali untuk menghubungimu? Kau kemana saja selama ini?"
"Kadaan banyak berubah selama dua bulan ini." jawab Luhan menyesal.
"Jangan menghilang lagi."
"Aku janji."ㅡmereka kembali berpelukan.
"Ah, ya. Kau datang sendiri?" tanya Baekhyun penasaran.
"Aku bersama Kris."
.
.
.
.
Hard to Say 'I Love You'
.
Chapter 21
.
ChanBaek
.
Boy Love, Yaoi, OOC, Typo(s)
.
Don't Like Don't Read
No Bash No Flame
.
.
Happy Reading
.
.
Kris hanya diam ketika pertama kali Luhan datang. Kepulangan Luhan terkesan mendadak, kedua orang tuanya terkejut namun tak banyak memberi komentar, dalam perjalanan menuju kerumah Luhan menceritakan semuanya, ia mencintai Kris, meminta mereka menemui kedua orang tua Kris. Hangeng tidak banyak memberikan reaksi tentang keinginan Luhan, sementara sang ibu memberi dukungan penuh.
Sudah hampir satu minggu Luhan datang berkunjung, senyum hangat ibu Kris selalu menyambutnya, membuat Luhan merasa diterima dengan baik meski Kris seolah tidak menganggap kehadirannya namun itu tak lantas membuat Luhan kecewa. Pagi itu segalanya berubah, Luhan berkunjung lebih awal dihari libur, membawa mampan sarapan Kris kedalam kamar, Luhan melihat Kris tengah duduk dipinggir ranjang, memandangi layar ponselnya, menatap lekat potret dirinya bersama Zitao disana.
"Krisㅡ"
"Lu!" selanya, menatap Luhan serius.
"Ya?"
"Kemarin Zitao datang ke mimpiku" mulainya lirih. Ini sebuah kemajuanㅡhampir satu minggu Kris jarang berbicara, hanya akan menanyakan kabar Luhan karena paksaan ibunya yang merasa tak enak atas sikap acuhnya namun kali ini tampaknya tidak.
"Benarkah?"
"Apa kau benar-benar mencintaiku?ㅡseperti kata ibuku?" tanyanya.
Luhan tersentak pelan, berpikir ini bukan waktu yang tepat untuk mengakui perasaannya, bagaimanapun juga pemuda itu baru saja kehilangan Zitao, Luhan tidak ingin memaksa yang mana hal itu mungkin akan membuat Kris semakin tertekan.
"Lu, jawab aku!" tuntut Kris, menatap Luhan tajam seolah meminta kejujuran.
"Y-ya." jawab Luhan lirih. Ah, bodoh!Bagaimana jika Kris marah, menganggapnya lancang karena berani mencintainya? Oh, ini lebih buruk lagi! Bagaimana jika Kris membenciㅡ
"Hei, rusa.." entah Luhan salah dengar atau memang nada bicara Kris berubah melembut sekarang.
Belum sempat Luhan menjawab sebuah tangan besar menangkup wajahku, menuntun untuk menatap lurus pada mata tajam itu. Luhan tidak dapat berpaling meski tangkupan itu terasa lembut. Tatapan Kris seolah magnet kuat yang menarik Luhan untuk tetap pada posisi itu. Kris tak pernah berubah, selalu mampu membuat Luhan merasa gila karenaㅡ
"..menikahlah denganku."
ㅡdan Luhan rasa ia sudah benar-benar gila sekarang.
.
"Luhan hyung, dia menangis. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Ah, Jongdae-ya, kemarilah." undang Luhan.
"Sehunnie, kenapa menangis, baby?" tangan Kris terulur, mengambil alih bayi usia dua tahun itu dari gendongan Jongdae, sementara Baekhyun mengerjap kagum menatap sosok mungil itu.
Kris terlihat telaten mengusap lelehan air mata pada pipi bulat bayi laki-laki itu. "Aigo~ siapa dia?" tanya Chanyeol gemas. Baekhyun baru tahu jika tunangannya menyukai anak kecil. Kris memberikan bayi itu pada Chanyeol yang diterimanya dengan kaku. "Tidak apa-apa. Dia tidak akan banyak bergerak." ucap Kris ketika Chanyeol khawatir akan menjatuhkannya, bayi itu tertawa melihat raut lucu Chanyeol, tampaknya pemuda itu berbakat menjadi sosok ayah yang baik.
"Hyung, dia bayimu?" tanya Baekhyun kagum.
"Bayi kami." sahut Kris.
"Mengapa secepat ini memutuskan memiliki bayi?ㅡaku tidak yakin kau mampu menjaganya dengan baik, hyung." ceplos Baekhyun asal.
"Terima kasih atas pujianmu." balas Luhan kesal. "Aku kesepian. Kris melarangku pergi bekerja setelah kami menikah, Sehun seperti hiburan untukku."
"Kau tidak akan percaya Luhan mampu menjaga Sehun dengan sangat baik. Awalnya aku ragu tapi Luhan mampu mematahkan segala hal buruk yang aku khawatirkan." tambah Kris.
"Sepertinya Chanyeol menyukai anak-anak." Luhan menatap Chanyeol yang cepat akrab dengan Sehun. "ㅡjadi kapan kalian akan menikah dan mengadopsi seorang bayi seperti kami?"
.
"Kupikir nama Park Chanhyun tidak buruk." guman Chanyeol.
Baekhyun menoleh sekilas pada Chanyeol yang tengah menyetir, sudah menangkap maksud perkataan tunangannya itu. Bagaimana bisa Chanyeol membicarakan nama anak masa depan mereka nanti?
"Mungkin kita bisa memulai itu tujuh tahun yang akan datang." balas Baekhyun.
Chanyeol mendelik. "Kau ingin aku menjadi perjaka tua?"
Baekhyun mendesah lelah. "Kita akan sama-sama menjadi tua, Chanyeol. Bahkan aku lebih tua enam bulan darimu, jadi kau tidak perlu khawatir."
"Jika hanya dua tahun aku tidak masalah tapi tujuhㅡ"
"Berhenti membahas itu." sentak Baekhyun, sementara Chanyeol hanya mendengus kesal, memilih untuk mengalah.
Suasana berubah hening, Baekhyun melirik Chanyeol yang memasang wajah datar, fokus menyetir. "Yeol?"
"Hm?"
"Kau bertemu Kyungsoo tadi?"
"Ya. Hanya bertegur sapa." jawab Chanyeol. "ㅡjangan katakan kau cemburu?" tebaknya menggoda.
"Tidak. Hanya saja aku khawatir. Entahlahㅡaku tidak mengerti mengapa aku merasa ketakutan." jawab Baekhyun.
"Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu." Baekhyun memutuskan untuk menyudahi pembicaraan tentang Kyungsoo, Chanyeol melihat ituㅡsekeras apapun Baekhyun berusaha menutupi pemuda itu tahu sesuatu tengah mengganggu ketenangan tunangannya.
"Baek, ayo pergi ke tebing seperti waktu itu." ajak Chanyeol bersemangat. Chanyeol tahu Baekhyun sangat menyukai tempat itu, mereka dapat saling berbagi banyak hal disana, tempat itu seolah memiliki sesuatu yang membuat perasaan mereka terus merasa damai.
"Ini sudah malam, Chanyeol. Besok saja bagaimana?"
Chanyeol tersenyum, tahu Baekhyun mulai tertarik. "Aku khawatir tidak bisa pergi kesana lain waktu, mulai besok aku akan sangat sibuk dengan perusahaan."
"Ah, baiklah. Kita pergi."
Sejak Chanyeol memutar arah laju mobilnya, Baekhyun tahu itu akan menjadi perjalanan lumayan panjang dan melelahkan baginya terlebih Chanyeol yang tengah mengemudi, sudah lima belas menit perjalanan yang mereka tempuh dengan suasana hening mendominasi. Chanyeol tengah fokus menyetir sementara Baekhyun mencoba beristirahat disisa perjalanan.
"Chanyeol?"
"Hm?"
"Mau kugantikan menyetir, tidak?" tawar Baekhyun. "Aku khawatir kau lelah."ㅡsetelah melihat Chanyeol menguap beberapa kali, sesekali melakukan gerakan ringan mengilangkan rasa kaku ditubuhnya.
Chanyeol terkekeh mendengar tawaran Baekhyun, ia memang lelah dan sedikit mengantuk namun yakin masih dapat bertahan sampai tempat tujuan mereka. "Kau tidak pandai menyetir, Baek." tolak Chanyeol. "Pergilah tidur, aku akan membangunkanmu setelah kita sudah sampai."
"Kau meremehkanku." ucap Baekhyun sebal. "ㅡminggu depan aku mengikuti tes untuk mendapat lisensi mengemudi."
"Itu terdengar bagus. Aku harus menjadi orang pertama yang kau bawa pergi jalan-jalan begitu mendapatkannya."
"Baiklah." balas Baekhyun.
Jalanan yang mereka lewati telah memasuki kawasan pegunungan, Baekhyun melihat mobil yang sedari tadi berada dibelakang mereka, itu sedikit mencurigakan. "Chanyeol, kau lihat mobil dibelakang sana? Sepertinya mengikuti kita."
"Apa itu membuatmu takut?" tanya Chanyeol.
Baekhyun mengangguk cepat. "Baiklah kita akan lakukan sesuatu agar ketakutanmu menghilang." Chanyeol segera mengurangi kecepatan mobilnya, jalanan belum terlalu menanjak, cukup lebar untuk mobil lain mendahului mereka.
"Benar. Itu mobil yang sama, aku melihatnya didepan gedung resepsi tadi."ㅡapa yang Chanyeol lakukan tidak mengurangi kecemasan Baekhyun, tunangannya itu malah semakin panik. "Chanyeol, perasaanku tidak enak."
Bagi Chanyeol ini hanya masalah sepele, bukan sesuatu yang patut di waspadai. "Baek, kau tak perlu khawatir, akuㅡ"
"YA! CHANYEOL AWAASS!"
BRUAAAKK~
"Akhh.."
Chanyeol menoleh cepat, mengabaikan keterkejutannya ketika mendengar teriakan Baekhyun meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya yang terbentur jendela mobil. "Sialan, dia ingin mencari masalah denganku rupanya!" umpat Chanyeol.
"YaㅡChanyeol! Sudahlah." Baekhyun berusaha mencegah melihat Chanyeol melepas seatbelt-nya, buru-buru keluar menemui si pengendara yang hampir membuat mereka celaka karena berhenti mendadak.
"Aku akan segera kembali, tunggu sebentar disini." pinta Chanyeol dari luar mobil.
Baekhyun melihat Chanyeol mengetuk kaca mobil didepan dengan brutal, memaksa si pengendara keluar dari sana, masih tak fokus pada keadaan sekitar ketika seseorang menerobos masuk, dengan cepat menarik Baekhyun untuk keluar dari mobil.
Tubuh Baekhyun menegang merasakan sebuah tangan melingkari lehernya erat, sementara benda dingin terbuat dari logam sengaja diarahkan pada urat lehernya, sekali saja Baekhyun salah bergerak maka sudah dapat dipastikan benda itu akan menggores lehernya dalam. Nafas Baekhyun tertahan mengetahui siapa seseorang yang tengah mengancam keselamatannya, Baekhyun melihat Chanyeol masih tidak menyadari situasi, mobil didepan kembali berjalan membuat Chanyeol hampir mengejar sementara Baekhyun diseret paksa memasuki sebuah mobil dibelakang.
"ChaㅡChanyeol.."
Chanyeol segera menoleh, terbelalak mengetahui keadaan tunangannya. "Baekㅡ"
"Jangan mendekat! Aku tidak akan segan-segan melukainya jika kau tidak mendengar ucapanku!" ancaman itu membuat langkah Chanyeol terhenti.
"Kyungsoo, kauㅡLEPASKAN BAEKHYUN!"
"Chanㅡugh!"
"Diam!" sentak Kyungsoo.
"Tidak. Lepaskan Baekhyun! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau membuatnya terluka."
Kyungsoo tersentak mendengar itu, amarah semakin menguasai dirinya. "Aku bersumpah akan membunuhnya, Chanyeol! Aku tidakㅡ"
"Kau tidak bisa melakukan itu."
Kyungsoo tersenyum remeh. "Mengapa tidak?
"Karenaㅡjika Baekhyun mati, aku akan ikut mati bersamanya." lirih Chanyeol serius.
Nafas Kyungsoo tercekat, Chanyeol telah berubah, pemuda itu bukan sosok kekasihnya yang dulu. "Kau tidak mencintainya, Chanyeol. Kau hanya mencintaiku."
"Aku sangat mencintainya." Chanyeol tidak mempedulikan tatapan Baekhyun yang memintanya berhenti. "ㅡByun Baekhyun."
"Hentikan!" teriak Kyungsoo geram, Chanyeol berusaha membuat Kyungsoo lemah agar dapat menarik Baekhyun dari sana.
"LEPASKAN BAEKHYUN!"
Kyungsoo memandang tak suka. "Kau berani membentakku?ㅡdia merubahmu begitu banyak, membuatmu membenciku."
Chanyeol mendengus pelan melihat air mata itu. "Tidak apa-apa. Sebentar lagi semuanya akan kembali seperti awal, bukan?"
"Hanya dalam mimpimu!"
Kedua mata bulat itu melebar sempurna. "Jangan membuatku marah karena aku tidak ingin menyakitimu." ancamnya.
"Lepaskan Baekhyun sebelum kau mendapat masalah." peringat Chanyeol.
"Tidak akan." balas Kyungsoo. "ㅡaku tidak peduli kau akan meninggalkanku setelah ini. Tujuanku melenyapkan Byun Baekhyun. Aku tidak akan membiarkannya hidup tenang sementara aku merasa menderita."
Kyungsoo melangkah mundur, melihat pergerakan Chanyeol membuatnya semakin waspada. "Kuperingatkan padamu untuk tetap disana, Park Chanyeol!" ancamnya.
Chanyeol menahan nafas melihat mereka semakin mendekati mobil dibelakang, Chanyeol tahu jaraknya terlalu jauh untuk menarik Baekhyun sebelum Kyungsoo berhasil membawanya masuk kedalam mobil.
Ketika Kyungsoo mulai membuka pintu mobil dengan satu tangannya yang bebas, ia melihat Chanyeol berlari kearahnya, hal itu membuatnya terkejut dan panik, segera mendorong kasar Baekhyun dikursi belakang dengan cepat memasuki kursi kemudi, mengunci pintunya. Mata bulat Kyungsoo terbelalak melihat Chanyeol hampir saja meraih mereka, pemuda tinggi itu mengetuk brutal kaca mobil seperti hendak memecahkannya, belum tuntas rasa paniknya, Kyungsoo kembali dikejutkan dengan seseorang yang mencekiknya dari belakang. Sial, Baekhyun melakukan itu! Susah payah Kyungsoo meraih pisau disamping, mengangkat benda itu danㅡ
Crash!
"Aargh.." pekik Baekhyun, darah segar mengalir cukup deras dari lengannya yang tergores.
"Kau berani melawanku, dasar brengsek!" tangan Kyungsoo terulur danㅡduakk!
Seketika Baekhyun merasakan pening menghantam kepalanya yang terbentur, teriakan Chanyeol diluar terdengar samar-samar, diambang batas kesadarannya Baekhyun dapat merasakan mobil mulai bergerak.
"Sial!" umpat Chanyeol, berlari memasuki mobil. Medan yang mereka lewati cukup berat, jalanan mulai menanjak membuat Chanyeol lebih waspada pada keadaan sekitar yang diselimuti kegelapan pekat.
'Baekhyun-ah..'
'Lepaskan Baekhyun.'
'Aku tidak akan memaafkanmu jika kau membuatnya terluka.'
'Aku sangat mencintainyaㅡByun Baekhyun.'
Ucapan Chanyeol terniang dikepala Baekhyun, seperti sebuah mimpi namun terasa begitu nyata, Baekhyun merasakan dirinya berada disebuah mobil yang tengah berjalan, tubuhnya tersentak kasar karena jalanan menanjak juga cara menyetir Kyungsoo yang seperti orang kesetanan. Baekhyun mengerang pelan, tubuhnya mati rasa, bau anyir darah membuatnya mual, meskipun tak menoleh, Baekhyun tahu Kyungsoo tengah tersenyum mengejek.
Chanyeol mengumpat kasar karena tidak kunjung berhasil membuat mobil Kyungsoo berhenti, jalanan mulai menyempit jadi Chanyeol tak bisa gegabah, mengernyit melihat mobil didepan mulai kehilangan kendali, Baekhyun pasti telah melakukan sesuatu disana, ini sebuah kesempatan. Chanyeol terbelalak melihat mobil Kyungsoo hampir menyentuh pagar pembatas yang disisinya terdapat jurang.
"Ugh!"
"Hentikan mobil ini!" teriak Baekhyun mengeratkan tangannya pada leher Kyungsoo, wajah pemuda itu tampak tersiksa.
Kyungsoo sangat terkejut melihat mobil Chanyeol hampir berjalan mendahului, karena cekikan Baekhyun yang semakin menyiksa juga reflek gerakan tangannya, pemuda itu membanting setir kekiri membuat mobil Chanyeol tergeser yang menjadi hilang kendali hingga menerobos pagar pembatas, terjun bebas kedasar jurang, beberapa detik kemudian suara ledakan terdengar menyusul.
Mobil Kyungsoo langsung berhenti setelahnya, pemuda bermata bulat itu tampak masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, bahkan mengabaikan Baekhyun yang tergesa keluar dari mobil menuju pagar pembatas.
"CHANYEOL! CHANYEOL-AH!" teriak Baekhyun panik. Tidak terlihat apapun dibawa sana selain kobaran api yang semakin membesar.
Pikiran Baekhyun kacau, hampir terjun ketika melihat ledakan lebih besar menyusul tak lama kemudian. "TIDAK! CHANYEOL!"
Teriakan Baekhyun menyadarkan Kyungsoo, tanpa sengaja menemukan pisau yang sempat terlempar dibawah kakinya saat Baekhyun mulai mengancamnya tadi, Kyungsoo meraih itu sebelum keluar dari mobil.
Baekhyun mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetaran, merasakan seseorang menepuk pundaknya bahkan sebelum ia sempat menyentuh apapun, tangan sedingin es itu membuat bulu kuduk Baekhyun berdiri.
"Kau membunuh Chanyeol."
Baekhyun menegang, tubuhnya dibalik paksa hingga dapat melihat Kyungsoo dengan wajah gelapnya. "Kau harus membayar semua iniㅡ"
"Aakh.." mata Baekhyun melebar merasakan nyeri yang segera menjalar, benda tajam itu menembus dalam kulit perutnya hanya dalam beberapa detik saja.
Kyungsoo menyeringai menatap wajah shock Baekhyun, menahan luka dengan sebelah tangannya dan menjadi sangat terkejut ketika menemukan warna pekat darah mengalir deras dari sana. Baekhyun jatuh berlutut dengan wajah pucat pasi, menatap raut dingin Kyungsoo dengan pandangan yang semakin memburam sebelum tubuhnya menghantam tanah.
Kyungsoo menatap puas pisau berlumur darah ditangannya, hendak menikam punggung Baekhyun sebelumㅡ
"ChanㅡChanyeol.." suara itu teramat lirih namun cukup terdengar karena keadaan begitu senyap. Tangan Kyungsoo bergetar mendengar nama Chanyeol kembali Baekhyun sebut. Pisau ditangan Kyungsoo jatuh tepat disamping tubuh Baekhyun, nyaris mengenainya. Pemuda itu berlari kearah pagar pembatas, berteriak memanggil nama Chanyeol seperti orang tak waras.
Baekhyun berkedip lemah, setetes liquid bening jatuh dari sudut matanyaㅡsedetik sebelum pandangannya berubah gelap, ia melihat seseorang menarik Kyungsoo menjauh dari pagar pembatas.
.
.
.
.
TBC
Annyeonghaseyo..
Baru update lagi nih setelah tiga bulan, maafkan saya yang lemot ini.. Oh, ya chapter ini lumayan pendek ya tapi ntar chapter depan bakalan lumayan panjang karena udah end.
Makasih buat readerdeul yang udah review, follow dan favorit.
Pergi bertapa dulu buat ending chapter.. Bye~ bye~
.
.
Big Thank's to
chanbaekssi, narsih556, baekyeolable, Oh Se Hyun, VampireDSP, lixotic, allika azallika, egatoti, cheonsarang614, neli amelia, Jung NaeRa, sanyakie, baekyeoljung, ChanBaekLuv, EXO12LOVE, reiasia95, Kim673, ia, aya, Re Tao, fitry sukma 39, LDearHae, ooh, baegle6104, azharifaisal666, Xoloverisa, chanbaeklapers, byun, sulaksmiindah.
.
.
Review?
.
.
.
