Author: Rio Hikari
Disclaimer: Eyeshield 21 adalah properti milik Inagaki Riichiro dan Yusuke Murata
Rating: M… Aduduh...karena masih belajar membuat sari lemon yang baik dan benar. Harap maklum ya...
Pairing: HiruSena
Summary: Kalau kau menemukan sesuatu, jangan membawa pulang barang yang bukan
milikmu…
Warning :Semi-AU, mistype
A/N:Terima kasih banyak untuk semuanya yang setia menunggu,mengingatkan update,menebak-nebak cerita,dan membaca ulang. Maaf sebesar-besarnya untuk keterlambatan yang luar biasa ini. Dikarenakan saya sudah masuk tingkat akhir, sulit rasanya mencuri waktu untuk menulis secara intens (terbentur program KKN)..Ini saya khususkan untuk kalian semua...TwT Sekali lagi maaf dan terima kasih banyak!
mendokusai : Akuma Techou itu artinya Buku Catatan Iblis
Ah, disini kita santai sejenak...sebelum pertandingan dan konflik dimulai nanti..kita bangun fondasi dulu pelan-pelan..Saa, ikou ka? :)
Selamat membaca!
XVI
Starting Point
"Nnh.." Lenguh pelan terdengar menanggapi sentuhan lembut yang seolah menyetrum tubuh kecilnya. Sena merasa tak nyaman dan berusaha menggeliat, namun entah mengapa usahanya tak membuahkan hasil.
Rasanya...seseorang memeluknya begitu erat. Mungkin itu juga yang bisa menjelaskan sayup suara sensual yang kini berbisik di telinganya.
"Ssh...kuso chibi...Tahan suaramu, jangan terlalu berisik...Bagaimana kalau yang lain mendengarmu, hm?"
/Kuso...chibi...? Suara ini kan.../ "Hiruma-san...," bisiknya pelan.
"Ck,ck...tak kusangka kau suka ketegangan seperti ini. Ternyata kau bisa jadi anak nakal, hm? Eyeshield-kun...," ujarnya dengan senandung menggoda.
Kali ini, Sena sungguh bisa merasakan wajahnya memerah ,"A-apa maksud-"
"Tak pernah terbayang olehku kau akan tiba-tiba masuk kemari dan memohon dengan begitu manis. Katakan padaku, apa kau sudah merencanakan hal ini sebelumnya? Apa kau penasaran ingin mencoba hal baru?" ujar Hiruma lagi sembari menggigit daun telinga runningback mungil itu.
Juniornya berusaha menahan lenguhan dari tindakan tadi. Bola mata karamel berkaca-kaca dan semburat merah muncul di apel pipinya karena sensasi berlebih yang dirasakan dari jemari panjang yang memainkan area privat miliknya.
/H-He? A-apa? Kenapa? Ini dimana?/ pikirnya kabur. Sedikit demi sedikit ia dapat mendengar suara lembut shower yang mengalir, merasakan tetes dingin air di antara panas tubuh seniornya yang bersentuhan lekat dengan punggungnya, melihat warna putih dari lantai keramik yang memiliki pola familiar dalam memori di benaknya, serta cahaya temaram lampu di atas ruang sekat kecil tempat kini ia berada.
/I-ini...kamar shower di ruang klub?/ ia tersadar.
Apa mereka di sini setelah latihan reguler?
Apa yang lainnya masih berada di ruangan lain?
Dan mengapa suaranya tak bisa berteriak keluar?
Suara serak basah kembali terdengar diantara jalan pikirannya yang tak fokus pada pemiliknya, "Wah, wah...tampaknya kau terlampau menyukai ini sampai melupakan siapa yang memberikannya padamu. Hm, itu harus kukoreksi..." Cubitan keras di putingnya membuat ia menjerit dan tersadar penuh bahwa ada seseorang yang kini terlampau bebas menjamah tubuhnya.
"Hyah!...Aahh! Nngh!..." Menahan ringis, ia menoleh mengadah untuk melihat seniornya yang kini tersenyum licik sembari mengigit bahunya, "Kh! Hha.."
"Kekeke...Kau suka itu?" tanyanya sembari mengulangi aksinya dan kali ini memakai tangan lainnya yang memeluk pinggang pemuda mungil itu untuk mengurut pelan lingganya.
"Aah! Ngnh..." Desahan lain keluar setengah tertahan dari bibir kecil yang kini memerah basah oleh saliva. Tangan mungilnya mengepal erat pada tembok dihadapannya dan berusaha menahan kakinya yang lemas lunglai.
/Aa...tu-tubuhku rasanya aneh.../ "Hi-Hiruma-san...berhenti...he-hentikan...Aah!"
Iblis itu terkekeh lagi ketika mendengar jeritan kecil yang diinginkannya,"Oh? Bagiku tak terdengar begitu..."
Mata karamel terpejam erat menahan rasa tersetrum yang membuat tubuhnya bergetar,"Cu..cukup...tolong...,"
Kecupan dan gigitan keras di lehernya menjadi jawaban penolakan dari permintaannya dan sang iblis tampaknya takkan berhenti sampai ia puas.
"Ahh! Hi-Hiruma-san! Jangan disana! Henti-mmfh!"
Lidah panjang memaksa masuk dan menghentikan protes dari mulutnya. Menambah sensasi berlebih berkali lipat dari sebelumnya. Sebelum secara mendadak pemuda pirang itu tiba-tiba berhenti dan melepaskan tubuhnya.
"Ah,aku harus segera pergi. Kita lanjutkan nanti ya? Kuso chibi..." ujarnya sebelum mengecup tengkuk juniornya.
/Eh? Ah? A-apa?/ pikirnya bingung sebelum muncul pintu perangkap entah dari mana di bawah kakinya dan tiba-tiba terbuka dan membuat ia terjatuh ke dalamnya.
BLAK!
FHUUUUUUUUUUUUUUUUUUUT!
"GYAAAAAAAAAAAAAAA!"
KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING! KRIIIIIIIIIIIIIIIIIING! KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING!
"AAAAAAAAAAAH!"
Dengan teriakan panik, Sena terbangun dari tidurnya dengan peluh membasahi tubuh dan membuat lengket piyama yang dikenakannya.
Terengah seolah usai berlari maraton, matanya dengan cepat mengelering ruangan di sekelilingnya. Iris karamel yang membesar panik mulai kembali normal ketika ia mengenali tempatnya berada. /Ini..kamarku...berarti.../
"Hhh...Haa...Mi...mimpi...hh...," helanya lega.
/Benar juga, sejak lusa kemarin aku sudah kembali ke Jepang ya?/ Ia mengatur napasnya dan menarik napas panjang.
"Fyuuh..." Pemuda mungil itu mengusap peluh dingin di dahinya dengan lengan piyama, sebelum merasakan bahwa ada area lain yang basah selain bagian wajar pada umumnya.
Gerutu keluar dari mulutnya ketika ia sadar apa yang terjadi. Tentu saja, tak aneh jika ia mendapati celananya lengket di pagi hari karena mimpi semacam itu semalam. Di masa pubertas untuk anak lelaki seusianya, ini bukan pertama kalinya terjadi pada Sena.
Hanya saja, sosok tanpa wajah dan sensasi yang terlupakan dalam mimpi ketika ia bangun dari tidurnya tak terjadi kali ini.
Sentuhan nakal dari tangan yang kasar...
Bisikan suara serak basah yang sensual...
Dan rasa aman yang mengatakan bahwa segalanya sempurna...
Kali ini ia bisa mengingat betul isi mimpinya. Kali ini ia bisa mengingat siapa yang menjadi partnernya. Dengan erang parau, Sena membenamkan wajahnya yang dihiasi semu merah pada kontrasnya putih bantal tidur. Perutnya terasa aneh dengan sensasi menggelitik yang tak wajar.
Dari semua orang yang dikenalnya di dunia ini...
"Ugh...kenapa harus Hiruma-san sih...?" bisiknya malu mengucap nama sang iblis.
Oh, entah mengapa, rasanya ia tahu hari ini akan jadi hari yang panjang.
(((1x21)))
Hari pertama masuk sekolah setelah liburan musim panas, diawali oleh pidato panjang membosankan dari kepala sekolah SMA Deimon. Di hall serba guna, suara terbata memberikan ucapan selamat dan salam semangat yang tipikal sebagai tanda dimulainya lagi kegiatan belajar mengajar.
Dengan amat sangat mencolok pula, di antara para murid yang berdiri rapi mendengarkan pidato, sesosok pemuda pirang jagung bertelinga runcing, duduk santai di atas sebuah kursi ala presdir perusahaan. Dengan AK47 bersandar di bahunya, sementara matanya fokus pada layar laptop putih yang di taruh di atas lipatan kakinya.
Haha...yah, pemandangan baru akan keunikan SMA Deimon tahun ini. Dengan gamblang, Hiruma sudah memperlihatkan kekuasaannya di sekolah itu. Dan para murid dengan bijaksana berpura-pura tak melihat kejanggalan tersebut untuk menghindari masalah dengan sang komandan neraka.
Semester baru itu juga diawali dengan sambutan kedua anggota tim basket yang menjadi pemain tak resmi di tim mereka, mengeluarkan rayuan gombal bahwa keduanya akan setia di Devil Bats untuk membantu manajer itu (yang langsung diseret Monta jauh-jauh ketika mendengarnya).
Doburoku-sensei juga mendapatkan pekerjaan sebagai petugas kebersihan di SMA Deimon, ini berarti mengontaknya sebagai pelatih akan lebih mudah (walau seluruh gajinya langsung masuk ke rekening Hiruma, sebagai uang pembayaran hutang).
Siang harinya, ketika istirahat, Sena yang sepanjang hari mati-matian berusaha menghindari Hiruma, mau tak mau bertemu dengannya ketika kaptennya 'meminta' seluruh anggota untuk berkumpul di ruangan klub karena adanya pengumuman penting yang ingin ia berikan.
Setelah janjian ketemu, Monta,Sena, serta Yukimitsu berangkat bersama menuju ruang klub sambil melihat pengumuman daftar turnamen di majalah yang dibawa reciever mereka. Dengan serius WR itu membaca keras-keras isi kolom mengenai Christmas Bowl, "Hmm...katanya kita ada di level tim D? KURANG AJAR!"
"Ahaha...bagaimanapun juga kita hanya pernah satu kali tanding secara resmi sewaktu melawan Koigahama." Yukimitsu mencoba merasionalisasi alasan pemberian klaster tersebut.
"Jalannya masih jauh ya..." Sena menimpali komentar seniornya sebelum mengintip siapa lawan tanding pertama mereka, "He..lawan pertama kita Amino Cybrog. Rasanya baru dengar.."
"Ufft...Oujo ada di blok lainnya. Kalau begini sih harus terus menang baru kita bisa bertemu di pertandingan!" Monta meninju udara dengan semangat.
Sena hanya balas tersenyum pelan sembari bersiap membuka pintu ruang klub, "Soalnya sudah janji bertemu kan?"
GREEEEEEEEK!
"YA!" Sapa ceria seorang gadis dengan kostum cheerleader, lengkap dengan pompom merah muda di tangan dan inline skate hitam.
GREEEEEEK! BLAM!
"Ka-kalian lihat itu?" gumam ketiganya berbarengan setelah, karena kaget, Sena otomatis dengan cepat menutup kembali pintu ruangan klub.
GREEEEEEEEK!
"Kenapa pintunya tiba-tiba ditutup sih?" Seorang gadis mungil berambut blueblack dan mata biru menatap marah ketiganya, "Tidak sopan! Padahal aku kemari untuk menyemangati kalian...Huft !" ujarnya cemberut.
"Ka-kau mengangetkan kami..." Sena berusaha menenangkan Suzuna. Gadis itu menyeringai tipis dan menggoyangkan pompomnya di depan wajah pemuda mungil tadi.
"Hee...aku mengerti~ Kau malu ya,hm? Bocah satu ini..hihihi...Kau senang melihatku ya?" tawanya jahil. Sena hanya bisa tertawa ragu, dia tak tahu harus menanggapi bagaimana.
"EHEM!" Monta berdehem keras di sampingnya, membuat perhatian ketiga orang lainnya berpindah padanya, "Suzuna...biar kukatakan ini..."
Bola mata cokelat berapi-api ketika dengan lantang ia berbicara,"SEORANG PRIA MENDEDIKASIKAN SELURUH TENAGANYA DALAM PERTANDINGAN INI! PRIA SEJATI AKAN BERTARUNG WALAU TANPA DUKUNGAN!"
Woah...secara ilusi, Sena bisa melihat Monta berdiri di atas tebing pinggir laut sambil menatap matahari terbenam. Aura semangat yang hebat sekali...
"Hmph! Tapi aku senang kau menyemangati kami. Kuhargai itu.." tambahnya lagi sok gentleman. Suzuna menatapnya bosan sebelum menggumam pelan,
"Hoo...begitu ya?" Dan dengan santai gadis bermata biru itu meluncur ke dalam ruangan klub untuk...menarik seseorang?
"Su-Suzuna-chan...aku tak usah keluar ya..ma-malu.." Terdengar suara familiar dari manajer klub mereka dari dalam ruangan.
"He?" Ketiga pemuda tadi hanya bertatapan satu sama lain sebelum mata Monta membesar kaget melihat Mamori yang memakai kostum yang sama dengan Suzuna.
"MUKYIIIIIIIIIIII!" teriaknya bersemangat sebelum pingsan karena mimisan.
"Hehe...Bagaimana? Itu memberimu pelajaran, hm?" Suzuna tertawa licik ketika melihat reaksi Monta.
"Mamori-neechan..." Suara dengan nada tanya itu cukup untuk membuat Mamori mengeluarkan alasannya.
"Ha-habisnya tadi aku dipaksa Suzuna-chan..." ujarnya pasrah. Sena melirik lagi Suzuna yang kini bersemangat membalas Monta yang tengah pingsan. Familiar sekali rasanya...
/Ah..benar juga...Dia mirip Hiruma-san.../ pikirnya sadar dan tak sadar bergidik. Haih...Devil Bats akan makin ramai tampaknya.
Setelah membaringkan Monta di kursi klub dan membiarkannya mendinginkan diri dibantu kipas angin, anggota lainnya yang sudah sampai di ruang klub mengelilingi meja 'hijau' dan mendengarkan ucapan antusias dari Suzuna,
"Ya! Karenanya aku akan jadi cheerleader untuk kalian. Aku memang bukan murid Deimon, tapi kakakku kan sudah diterima di tim ini!" ujarnya senang.
"Wah? Begitu? Selamat ya!" Mamori langsung memberi ucapan pada gadis itu.
"Hee...sejak kapan?" Sena agak terkejut juga mendengarnya. Ia tak tahu soal ini...
"Bukannya pengumuman posisi pemainnya besok?" Yukimitsu menambahi.
"He?" Ekspresi Suzuna langsung berubah begitu komikal mendengar ini.
GREEEEEEEEEEK!
"Yo~ semuanya ada disini ya?" Oh, kebetulan sekali. Rupanya Taki yang baru saja tiba.
"Tu-Aniki! Apa maksudnya ini? Katanya pengumuman pemainnya baru akan diresmikan besok!" Gadis mungil itu menggeram curiga.
"Ahaha~Apa masalahnya, my sister? Aku sudah 150% pasti diterima!" Ujarnya percaya diri dan tak lupa berpose narsis.
"...GRRRRRRRRH! Kalau begitu jangan bilang sebelum semuanya pasti! Aku seperti orang bodoh saja berpakaian begini!" teriaknya sembari menginjak kakaknya yang masih tertawa narsis. "Takkan kumaafkan kalau sampai gagal!"
/Uwwa...seram.../ Baru saja Sena berpikir begitu, suara sepatu yang menjejak keras di depan daun pintu yang terbuka, membuat hening isi ruangan klub. Yah...sang manifestasi kata 'seram' yang sesungguhnya sudah tiba.
"Kita mulai rapat sekarang." Seringai tajam di wajah kapten mereka menandakan waktunya untuk serius.
Dan karena subjek yang dihindari Sena sekarang berada di dekatnya, dengan perasaan masih ingin menghindar, ia menempatkan diri di antara Monta dan Yukimitsu (yang begitu antusias mendengarkan bahwa akan adanya seleksi pemain) sebagai benteng manusia.
/He?/ Ia tersadar dari lamunan berputar mengenai mimpinya yang membuatnya tak bisa tenang seharian, ketika mendengar rencana seleksi pemain inti. /Kupikir kita semua akan main?Bukankah jumlah anggota intinya sudah pas?/ pikirnya heran namun tetap tekun mendengarkan apa yang Doburoku katakan saat itu.
"Dan karena tujuan tim kecil ini adalah Christmas Bowl," pelatihnya melirik Hiruma di kalimat ini sebelum melanjutkan, "Aku tak mau mengambil resiko kesalahan sekecil apapun di awal turnamen sebelum kita mendapatkan posisi yang pasti sebagai calon pemenang. Karenanya, sebagai pelatih resmi kalian, aku memutuskan untuk memulai penilaian khusus terhadap kemampuan permainan kalian secara keseluruhan selama tiga hari ke depan, untuk melihat poin keunggulan dan konsistensi kekuatan kalian. Bisa dipahami?" ujar kakek itu tegas.
Dengan perasaan harap cemas, seluruh anggota Deimon Devil Bats yang berada di ruangan itu menjawab serempak,"Kami siap!"
-x-x-x-x-x-x-
"Uwwah! Rasanya aku makin bersemangat dengan adanya penilaian ini. Yosha! Ayo kita perlihatkan kemampuan yang terbaik kita, Max! Ya, Sena, Komusubi?" Monta berteriak semangat padanya ketika mereka dan Komusubi pulang bersama setelah latihan sore.
"Aa...," jawabnya lesu. Baru kali ini latihan pemanasan terasa amat melelahkan. Bukan secara fisik, namun mentalnya. Dengan sadar ia menghela napas panjang.
"Sena-kun...Tak apa-apa?" Lineman mungil di sampingnya bertanya khawatir.
Subjek yang ditanya lantas menganggukkan kepala dan memberinya senyum menenangkan. Komusubi balas mengangguk paham dengan menangkap kalau Sena tak ingin membicarakan soal itu lebih lanjut. Monta, yang lebih terbuka dan kurang bisa membaca situasi, menepuk punggung kawannya dengan keras dan memberinya ibu jari penyemangat.
"Kawan, kalau kau sih tak usah khawatir soal penilaian itu. Kau 'kan Eyeshield, ace tim kita. Mana mungkin digantikan dengan yang lain toh? Jadi tenang saja, jangan dipikirkan...Yah, bisa dikatakan kalau kau itu ada di posisi aman...Kalau aku sih masih bisa disaingi Taki dan Yuki-san, jadi tetap usaha lagi Max!" ujarnya berapi-api ketika ingat anggota baru mereka yang punya talenta multi.
"Ah...tidak begitu juga...rasanya sombong kalau aku berpikir begitu. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin selama tiga hari nanti untuk menunjukkan apa aku pantas berada di posisi runningback," Sena memberinya konter alasan yang halus.
"Hm..kau terlampau baik...padahal kalau benar ada politik nepotisme di tim kita, kau pasti sudah lulus lancar karena adanya Hiruma-san. Betul, Komusubi?" Monta berspekulasi rumit dan melempar voting instan pada lineman yang kini kebingungan mendengarnya.
"Hn? Kenapa begitu, fugo?"
Baru saja Monta berniat menjelaskan, tatapan tajam dari Sena membuatnya mereka ulang pemikirannya, "Oo, tidak apa-apa...bukan apa-apa..lupakan saja tadi aku bicara apa...Hahaha..." tawanya hampa bercampur panik.
"Ah, Komusubi-kun, Monta...aku duluan ke arah sini ya? Ada sedikit urusan yang harus kulakukan.." Sena menunjuk arah kiri di persimpangan jalan yang mereka temui.
"Oh, oke. Sampai jumpa besok ya! Hati-hati di jalan!" Monta dan Komusubi melambai semangat padanya sebelum mereka berbelok ke arah berlawanan.
"Ya...dah...otsukaresama..." ujarnya pelan sebelum melanjutkan jalan perlahan menuju daerah pinggir sungai. Dengan langkah berat ia menyeret kedua kakinya menuruni tanah lembut dengan rerumputan kecil sebelum mengambil posisi berbaring di atasnya. Senja yang dilihatnya di langit dan angin yang bertiup lembut berperan efektif sebagai obat penenang alami untuk ketegangan dan kebingungan pikirannya.
"Fuh...," ia meniup dandelion kecil yang dipetiknya di samping tempatnya berbaring. Warna putih lembut berterbangan di sekitarnya, berlatarkan pantulan cahaya matahari senja di atas sungai, bisa dikatakan itu menjadi hiburan yang baik baginya. Ia tak pernah menemukan dandelion yang berterbangan sebegitu indah dan menariknya sebelum hari ini.
"Aah...aku harus bagaimana?" bisiknya pada diri sendiri sembari menatap tarian dandelion yang terbawa angin. Bebas lepas tanpa ada beban masalah...
Pipinya bersemu manis ketika ia mengingat kembali mimpinya semalam. Yang benar saja, seumur hidupnya baru kali ini ia punya fantasi seksual pada pria. Walaupun itu seorang yang potensial dalam segi fisik...otak...modal kehidupan...um...oke, nyaris semua namun minus perilakunya...
Apalagi mengingat reaksinya yang biasa-biasa saja ketika melihat Suzuna memakai baju khas cheerleader yang bisa dibilang manis, Hiruma mungkin memang sudah mengacaukan orientasi seksnya sejak pertama mereka bertemu. Iblis yang seenaknya itu tak peduli batasan mengenai aturan dunia manusia dan dengan santainya melakukan hal yang ia inginkan pada Sena.
Ia takkan memungkiri kalau ia merasa nyaman pada tiap kali pengalaman pertama yang ia dapatkan dari kaptennya. Tapi ia juga ingin menolak, karena dari seluruh pengalaman hidupnya sebelum bertemu dengan iblis itu, ia tahu apa yang ia lakukan takkan mudah untuk dikatakan benar.
/Tapi.../ Jemari kecil meraba pelan lehernya yang terasa geli tertiup angin. Sensasi dingin di atas kulit tubuhnya yang masih panas karena latihan tadi, terasa begitu familiar, /...tadi malam rasanya...begitu nyata...Apa karena aku pernah mengalaminya di luar mimpi?/ Di akhir pikirannya, Sena memerah padam dan kontan memalingkan wajahnya pada semak dandelion putih.
Ia memejamkan erat bola mata karamelnya dan menghela napas panjang, /Aku pasti sudah gila.../ Ia menggeram pelan mengutuk dirinya dengan harapan dapat melupakan bayangan di pikirannya.
Satu-satunya hal pada setting damai di sungai yang membuat terapi dirinya terpecah adalah suara berat seseorang yang memanggilnya dengan nada monoton,
"Eyeshield ?"
(((1x21)))
Suara dengung di ruangan penuh sesak oleh tumpukan folder tersebut terdengar menyeramkan ditambah dengan pencahayaan remang disana. Lembaran-lembaran kertas digantungkan rapi menggunakan klip di atas benang-benang yang berlalu-lalang bagai jaring laba-laba, membuat jebakan penglihatan yang sempurna bagi siapapun yang berusaha mengintip seseorang yang berbaring lelah berbantalkan buku besar dan beralas kasur tipis.
Dengan laptop putih masih menyala di sampingnya, dua komputer besar dengan kabel jaringan internal yang saling bersambungan dimana layarnya berpendar lembut, sosok tersebut terlihat seperti perwujudan seorang hacker sejati yang kelelahan karena terlalu lama bersenang-senang untuk membongkar enkripsi terdalam di dunia maya.
Napas pelan terdengar dari pemuda berambut pirang itu. Temponya yang konstan menandakan tubuhnya sedang membawanya pada istirahat total untuk mengumpulkan energi. Detak tetap jarum jam tampak seolah menjadi satu melodi berbeda lainnya dan membawa hipnosis yang menggoda seorang untuk terlelap.
Namun tampaknya pemuda itu tak mau bekerja sama untuk membiarkan dirinya beristirahat. Perlahan ia menggeser kertas dan folder di sekitarnya sebelum bangkit duduk dan meregangkan otot tubuhnya.
Hiruma Youichi memijat pelan jembatan hidungnya untuk mengurangi sedikit rasa pusing karena terlalu lama terjaga selama beberapa hari terakhir setelah ia kembali dari Amerika. Tumpukan-tumpukan kertas itulah sebenarnya yang menjadi alasan ia begitu kelelahan. Tak disangka hanya dengan meniggalkan Jepang selama 40 hari, bahan ancaman dan informasi rahasia dapat berkembang biak dengan kecepatan dan kuantitas yang luar biasa.
/Salahku tak mengecek sewaktu di Amerika...dan aku terlampau santai saat kembali kemari.../ pikirnya sekelebat. Yah, selain itu juga ada beberapa hal lain yang terlampau ia pikirkan. Contoh konkritnya mengenai seseorang dengan rambut cokelat kemerahan dan mata karamel.
"Tch..." Sang iblis mengacak pelan rambutnya ketika bayang-bayang pemuda manis itu terlintas lagi di benaknya. Jarang sekali seseorang, apalagi manusia, bisa membuatnya terus memikirkan mereka. Awalnya ia pikir, mungkin ini karena keduanya terikat oleh kontrak. Tapi akhir-akhir ini, bayang-bayangan itu bisa berubah menjadi lebih...um, sensual dengan imajinasi liar yang entah mengapa seolah selalu ada jika berhubungan dengan subjek tersebut.
"Kurasa karena kali ini aku menahan diri dan lebih fokus pada satu orang saja..." ujarnya pada diri sendiri ketika mengingat-ingat sepak terjangnya di dunia manusia saat ini, "Tapi..."
Ya, tapi fokus itu begitu intensnya sehingga dari sudut matanya ia mampu menangkap bibir merah basah ketika pemiliknya menegak haus air ketika jeda istirahat, leher ramping berkilau lembab seusai pemuda mungil itu mandi setelah latihan, pipinya yang bersemu karena panas, atau binar mata karamel yang menatapnya kagum jika ia melakukan sesuatu di luar kemampuan manusia yang entah mengapa di matanya hal inosen tersebut justru terlihat...erotis...
"Gila...aku bisa dikatakan terobsesi.." Ia menggeleng pelan dan tertawa kecil. Dengan malas tangannya mengambil buku bersampul kulit warna hitam yang berada dekat dengan laptop putih di samping ia tidur tadi.
Flap! Flap!
Kelebatan halaman yang terbuka dengan cepat seolah menunjukkan ia hanya memainkan buku tersebut di tengah kebosanan, namun gerakannya yang terkontrol ketika ia berhenti pada satu halaman dapat membuat orang berpikir lain.
Kedua halaman itu kosong, tak ada tanda-tanda seseorang menulis apapun di dalamnya. Kertas kuning tua yang terlihat termakan waktu untuk menunggu dengan setia apabila pemiliknya ingin mencantumkan sesuatu. Tapi perlahan, pendar ungu lembut terlihat keluar dari buku tersebut. Dan di atas kertas kekuningan itu, tipis-tipis terlihat bayangan huruf-huruf yang semakin lama menebal dan cukup jelas untuk dibaca siapapun.
Jika pada satu sisi halamannya tertulis penuh dan beraturan mengenai suatu hal secara detail, maka di halaman lainnya, hanya ada satu kata yang tertulis dalam posisi acak. Hiruma menemukan halaman itu ketika mengecek kembali isi buku catatannya sejak bertemu Doburoku. (Siapa tahu bahan ancaman yang dulu masih bisa dipakai jika orang-orangnya masih hidup...)
Mata hijau tosca menajam memandang tulisan tersebut, ini juga salah satu alasan mengapa Sena selalu berada di pikirannya. Entah ini kebetulan yang terlalu mengerikan atau...
/Aku tak percaya takdir.../ pikirnya menolak opsi lainnya. Ia yakin ada hal lain yang luput darinya tentang semua ini.
Dalam kertas itu, tergores tulisan tangan miliknya dengan tinta hitam yang memudar. Mengeja tanpa dosa untuk memanggil paksa kembali ingatan sepuluh tahun lalu. Warna dari fosil getah berharga yang bertahan dalam seleksi alam. Warna dari mata seseorang yang kini jadi pemegang kontraknya.
AMBER
Ia memejamkan erat matanya untuk memaksa mengubur hipotesis irrasional yang otomatis bermunculan di benaknya karena kata tersebut. Dan dengan hela panjang ia memutuskan, bahwa bahkan bagi iblis sekalipun, tiga hari tanpa tidur mungkin membuatnya kelelahan dan berpengaruh pada cara pikirannya yang kacau.
-x-x-x-x-x-
Di sela istirahatnya dari hack dan tegah menegak cola dingin, suara bel apartemen yang berbunyi memanggil pemiliknya membuat Hiruma mengerutkan dahi. Matanya mengecek jam dinding dan membuat kerut di dahinya semakin pendek.
Biasanya yang bertamu pukul sembilan malam atau di atas itu ke apartemennya, hanya petugas servis makanan, kurir barang rahasia, atau kepala apartemen yang mengecek kondisi kamarnya.
"Hmm..." Ia memicingkan mata dengan curiga sebelum menaruh kaleng cola dan melangkah santai dengan pikiran bertanya-tanya. Pesanan yang mana yang datang? Bahan ancaman apa yang didapatkan? Atau mungkin manajer apartemen itu belum kapok setelah ia peringatkan untuk menghindari kamarnya sebisa mungkin?
/Apapun itu, akan kuselesaikan secepatnya.../ pikirnya lelah dan bosan sebelum menekan tombol interkom yang menghubungkan dengan kamera lorong di luar kamarnya. Apa yang dilihatnya membuat bola mata tosca membesar terkejut sebelum senyum misterius mengembang di wajahnya.
"Wah...wah..." gumamnya sembari merogoh sakunya untuk mengambil kunci kartu kamar.
Dengan satu gesekan, kedip kehijauan di interkom menandakan pintu yang kini sudah dapat diakses untuk dibuka. Menahan seringai yang ada di wajahnya mengembang lebih lebar lagi, ia menikmati waktunya perlahan ketika membuka penuh pintu dan menatap lurus seseorang yang berdiri cemas di lorong.
"Kuso chibi..." sapanya pelan penuh perhitungan agar tak ada emosi yang tersirat di dalamnya, "Tak kusangka kau ingat jalan ke apartemenku..." Matanya menyiratkan rasa tertarik pada kenyataan dimana subjek yang membanjiri pikirannya selama beberapa hari ini berada dalam jangkauan tangannya...plus ia datang sendirian...
"Um...yah..." Sena menjawab pelan tanpa memandang seniornya dan memainkan ujung seragamnya.
/Seragam ? Ah...dia masih membawa tasnya juga.../ pikir sang kapten tersadar. "Oi, kuso chibi. Bukannya tadi kau pulang dengan anggota trio chibi yang lain?" tanyanya penasaran. Selain itu..apa yang dikenakan Sena saat ini juga menunjukkan bahwa pemuda mungil itu tak kembali ke rumahnya dalam perjalanan pulang.
"Ah..y-ya...itu...tadi tiba-tiba aku...um...bisakah aku masuk dulu, Hiruma-san?" ujarnya terbata dan buru-buru. Dan kedua kalinya dalam hari ini, sang iblis dikejutkan dengan tindakannya. Running back itu INGIN bertamu apartemennya? Sejujurnya...ada sesuatu yang dirasanya salah...
"Hoo...biasanya kalau kuajak masuk, kau menolak. Ada apa ini? Hm?" godanya pelan. "Bisa kukatakan kalau ini tindakan yang...begitu langka..." tambahnya.
"Aku hanya ingin saja. Tak enak bicara di luar. Tidak boleh?" Nada terburu-buru dan cemas tak luput terdengar dari telinga Hiruma. Namun ia tetap mempertahankan sikap main-main karena melihat keadaan ini menarik. Melebarkan celah pintu perlahan, ia membungkuk pada Sena dengan tangan yang tertekuk di dada. Gesture seorang gentleman yang sempurna sebelum memenuhi permintaan majikannya.
"Silakan, Tuan Muda... Apa perlu kubawakan tasmu juga?" godanya dengan berakting sebagai host yang 'baik'.
Sena mengerelingkan mata karamelnya melihat hal itu dan melangkah masuk mempersilakan dirinya sendiri ke dalam apartemen. Dan dengan sedikit keberanian yang tiba-tiba muncul (mungkin karena sudah terbiasa meladeni Hiruma), ketika ia berhadapan sejajar dengan sang iblis, dengan lancar meluncur kalimat untuk membalas ucapan seniornya tadi, "Ya, dan tolong siapkan secangkir teh susu hangat. Kurasa kau bisa memijat kakiku yang pegal sembari aku menikmati kudapan sore."
Ekspresi kaget yang tersirat mungkin dapat menjadi momen kemenangan bagi Sena yang selama ini lebih inferior dibandingkan pemuda pirang itu. Walau itu hanya beberapa detik saja...dan dengan cepat digantikan dengan seringai yang seolah berkata kau-pasti-akan-kubalas-dengan-sesuatu-yang-tak-terlupakan ditujukan padanya.
/Uh...oh.../ Panik mulai merayap dalam kesadarannya setelah ia mengingat kembali ucapannya. Ia baru saja menantang Hiruma Youichi. Ia baru saja membalas kata-katanya. Dan sekarang ia punya firasat buruk...
Tanpa sadar, ia melangkah mundur menuju lorong apartemen. Berusaha menjauh dari subjek yang kini menatapnya lapar. Ia menelan ludah dengan keras,"Er..ma-maksudku...um..ti-tidak usah...uh..ya...um.."
"Oh...aku jelas sekali menangkap apa maksudmu, Tuan Muda..." Seniornya masih memasang seringai tersebut sebelum mendekatinya selangkah. Dan dengan insting, Sena melangkah mundur menjauhinya.
Tampaknya Hiruma sadar kalau ini akan menjadi scene klasik dimana salah satu akan melangkah mendekat, sementara satunya melangkah mundur jika dilanjutkan terus. /Hm...tidak menarik. Terlalu biasa.../ pikirnya sebelum berhenti melangkah dan teringat bahwa mereka kembali ke posisi awal ketika pertama kali ia membuka pintunya.
Sena sendiri justru lebih fokus pada bagaimana caranya memperbaiki hal ini dan jangan sampai apa yang tadi ia lakukan memberi sugesti apapun pada sang iblis,"Um...Hi-Hiruma..eh? HYAAAAAH!"
Tampaknya ia terlambat, karena dengan satu gerakan, secara cepat kaptennya mengangkat ia dari lantai koridor dan kini ia berada dalam gendongan ala tuan putri. Warna merah padam di wajahnya dan kedua tangannya yang secara otomatis mengalungkan pada leher Hiruma karena menahan jatuh, justru membuat seringai sang iblis yang melihatnya menjadi lebih enigmatik.
"Bukankah tadi kau bilang kakimu pegal? Lebih baik begini kan?" tanyanya pura-pura tak bersalah.
"Turunkan aku!" Sena berteriak panik di tengah rasa malunya. Pemuda pirang itu menaikkan sebelah alisnya jahil.
"Tak kulihat kau menolak," matanya memberi isyarat pada kedua lengan yang melingkar di lehernya, "dan ini lebih mudah daripada aku harus berlama-lama mendengarkan alasan dan banyaknya mekanisme pertahanan diri atas ucapanmu tadi..." ujarnya sebelum melangkah masuk ke dalam apartemen. Sena beringsut berusaha melepaskan diri dan kini dengan sadar melepaskan rangkulan tangannya.
"Oh, diamlah! Kau ingin kujatuhkan disini!" Hiruma menggeram kesal. Jarak antara lorong depan dan sofa terdekat kira-kira ukuran standar dua kamar, dan ia sejujurnya memperlambat jalannya untuk menikmati kesempatan pemuda yang berada dalam pelukan tangannya sungguh terlalu banyak bergerak sehingga membuatnya sulit menjaga keseimbangan.
"Bukan aku yang ingin diperlakukan begini! Turunkan aku!" sang syumu menggeliat keras dan mendorong keluar.
"Berisik! Bilang saja kau senang kenapa sih?" balas Hiruma sembari mengeratkan pelukannya. Dengan cepat pemuda mungil itu berbalik marah dan menyilangkan tangannya,
"Siapa yang bilang aku senang!"
"Wajah manismu yang merah padam," tegasnya dan otomatis menambah gelap rona merah muda di wajah mungil itu. Sena sendiri terdiam kaget mendengar ucapan seniornya.
Bola mata hijau berkilat senang melihat ekspresi tersebut,"..Seharusnya kau lihat dirimu di cermin sekarang dan melihat bukti ucapanku..."
Pemuda mungil itu tersadar kembali dan membalas kesal,"Aku ini lelaki, jangan katakan wajahku manis !"
"Sulit mencari padanan kata yang cocok. Itu yang paling pas menurutku..." Dengan santai seniornya mengeluarkan argumen bernada bosan.
"Kau menggodaku?" Sena menatapnya curiga.
Pemuda pirang yang menggendongnya hanya membalas dengan ekspresi seduktif, "Menurutmu?"
"Ugh..." Semu manis terlukis lagi di apel pipinya ketika pemiliknya mengalihkan pandangan dari kedua tosca yang menatapnya lurus.
"Apa perlu kuberi ciuman agar kau percaya bahwa aku jujur berkata kalau kau manis?" Bisik goda sang iblis di telinga kecilnya.
"Hentikan itu..." Sena memperingatkan dengan nada dingin. Lebih dari ini, apalagi dengan bayangan mimpinya semalam yang masih ada di pikirannya, pasti akan ada hal yang ia sesali nanti.
Suatu hal yang amat langka dan mengejutkan ketika Hiruma menuruti ucapannya, walau wajahnya memberikan ekspresi kemenangan yang menyebalkan, setidaknya ia memberikan Sena ruang privasinya,"Ah, setidaknya aku berhasil membuatmu berhenti menggeliat," ucapnya sebelum melangkah lagi menuju ruang tengah.
Tiba di sana, dengan ringan seniornya menurunkannya di sofa dan kembali memberi gesture membungkuk,"Nah, sudah sampai, Tuan Muda."
Sena menggeram antara kesal dan menutupi rasa malu,"Aku benar-benar membencimu."
"Kekeke...Terima kasih. Kalau tidak begitu, reputasiku sebagai iblis bisa tercoret," jawabnya santai. Ah...tentu saja tak luput dari kenyataan bahwa menyenangkan sekali menggoda juniornya.
Runningback yang duduk di hadapannya membalas, "...Kau mengucapkan terima kasih saja sudah salah kaprah."
Alis runcing melengkung naik mendengar komentar menarik tersebut, "...Ah, lidahmu makin tajam ya? Kuso chibi..."
Mendengar ini, Sena hanya mengangkat bahunya santai, "Berkat kau..kurasa..."
"Cih...padahal aku berniat membuatmu lebih...submisif..." umpat Hiruma setengah hati. Yah...sebenarnya begini juga boleh...karena lebih banyak tantangan, akan lebih
mengasyikkan. /Hm..ya, hidangan akan terasa lebih lezat jika bumbunya lebih pedas.../ pikirnya senang.
Bola mata karamel menatapnya sebal mendengar umpatan kaptennya,"Jangan bercanda. Tidak akan..."
Sang iblis menggubris ucapan itu seolah angin lalu dan dalam diam ia mengambil tangan juniornya sebelum memberi kecupan bersuara di punggung tangan mungil tersebut.
"Aku serius, sayang...Kekeke.."
BLUSH!
Hanya dalam sepersekian detik tangan itu ditarik kembali oleh pemiliknya yang sedari tadi tampaknya memerah permanen. Melihatnya, mau tak mau naluri Hiruma sebagai pria yang mendominasi, merasa bangga karena ia sadar sebagai penyebab rona tersebut.
"Kekeke...oh, astaga..." tawanya terhibur.
Pemuda mungil itu menggeram kesal. Lagi-lagi ia dipermainkan...tapi tak berarti bisa membuatnya melupakan alasan ia ke apartemen mewah itu, "Oh! Diamlah! Bisakah kau serius? Aku kemari karena-"
"Tadi kau bertemu Shin dari Oujo White Knights?" potong seniornya dingin. Atmosfir canda sebelumnya seolah berubah drastis membeku hanya karena satu kalimat tersebut. Sang syumu sendiri merasakan perubahan itu secara nyata dan tak sadar mengepal tangannya waspada,
"A..ah...ba-bagaima.." Sekelibat pikiran bahwa mungkin saja Hiruma memiliki kamera tersembunyi di seluruh kota membuatnya bergidik. Namun bola mata tosca yang sejenak menatapnya, memberi jawaban berbeda,
"Aroma...dan aku tak suka itu..." Sang komandan neraka mengingat kembali jejak aroma yang ditangkap indra penciumannya ketika tadi juniornya berada dalam pelukannya. Wangi sabun yang biasa ia pakai setelah latihan sore dengan sedikit parfum buah dari pencuci rambut yang selalu digunakannya, rumput segar dengan embun sore, serta bunga dandelion...
Ditambah sentuhan jiwa yang putih bersih, aroma tubuh pemuda mungil itu bisa dikatakan membuat insting iblisnya 'lapar'. Namun diantara semuanya, samar-samar aroma lain turut melekat. Dan karena ia mengenal siapa pemiliknya, itu membuatnya waspada. /Cih, mengganggu saja.../
Melihat ekspresi seniornya yang makin gelap, tak sadar Sena beringsut menjauh ke sisi lain dari sofa, "A..oh.."
"Jadi ?" tanyanya lagi.
RB Deimon itu mengambil napas pendek sebelum mulai menjelaskan, "Uh...um...y-yah...tadi aku memang bertemu dengan Shin-san. D-dan sebetulnya kenapa aku datang kemari karena..ah...Ku-kurasa seharusnya aku tak perlu sampai kemari..um..err..."
Setelah dipikir-pikir dengan tenang, tampaknya ia hanya terlalu panik tak jelas karena kaget. Padahal ia bisa menyampaikannya lewat pesan singkat atau menelepon, tapi kakinya bergerak lebih cepat dari pikirannya. /Duh, tapi sudah terlanjur tiba disini.../ ia berujar cemas dalam hati. Dan sekarang Hiruma tampaknya mulai kesal menunggu...
"..."
Menelan ludah, dengan terbata Sena berkata,"...A-aku pulang sa-"
Lengan panjang yang dengan cepat ditempatkan pada kedua sisi luar tubuhnya, dengan jelas membuat penjara tubuh yang melarangnya pergi. Belum lagi senyum super manis yang perlahan tersungging di bibir tipis kapten timnya,
"Hm...? " Ia bergumam tanya. Sekali lihat saja Sena tahu kalau 'Hiruma' dan 'senyum manis' jika berada dalam satu frame, sudah sepatutnya diwaspadai penuh. Mengalihkan pandangannya dari bola mata hijau tosca yang menatapnya lurus, ia akhirnya menyerah untuk menjelaskan.
" ...Ta-tadi...anehnya, ia bukan membicarakan soal turnamen dan semacamnya...ta-tapi.." Runningback mungil itu terhenti sebelum menggigit bibir bawahnya ragu.
"...Tapi ?.." bujuk seniornya tak sabar.
"Ah...um, so-soal...Hiruma-san..." Jawaban ini membuat sang iblis menaikkan alis keheranan.
"...Aku?" tanyanya. /Hoo...menarik../
Dengan cemas Sena mengibaskan tangannya takut dan cepat-cepat menambahkan,"Bu-bukan mengenai strategi yang kau buat! Er...bagaimana aku menjelaskannya..umh..."
Hiruma menghela pelan sebelum bangkit melepaskan pemuda mungil itu dan mengambil tempat duduk di kursi tangan yang berada di samping sofa dimana Sena duduk. Menyilangkan kaki dan menopang dagunya santai dengan punggung tangan, ia memulai, " Ceritakan saja. Kalau memang apa yang ia bicarakan begitu membuatmu merasa panik hingga harus menemuiku sekarang."
Sena mengangguk,"Ah...oh..y-ya...ta-tadi kami bertemu di jalur lari yang biasa kupakai latihan. Um, awalnya pembicaraannya biasa saja mengenai turnamen...tapi.."
"Kapten kalian..."Sesungguhnya suara datar Shin dirasakan begitu membuat kaku atmosfir santai yang tadi berada di sekitar sungai itu, namun karena kelihatannya sejak awal apa yang ia akan bicarakan adalah hal penting , Sena berusaha bersikap biasa saja,
"Ya? Ada apa dengan Hiruma-san?"ujarnya tenang. Dalam hatinya, runningback itu bersorak karena suaranya tak terbata.
Linebacker Oujo yang duduk di sampingnya menolehkan kepala dan menatap lurus padanya, "Kau...atau kalian...dari mana mengenalnya?"
/Ha?/ Sena otomatis menjawab, "Eh? Tentu saja di sekolah..."
"Asalnya?"
"Um..orangtuanya dari Jepang..." jawabnya ragu. Entah mengapa, firasatnya tak enak...
"Ia punya kakak?" lanjut Shin.
"Er..." /Ugh gawat...aku lupa menanyakan pada Hiruma-san mengenai identitas palsu yang ia buat./ Secara sadar Sena memainkan rerumputan yang ada di bawah tangannya ketika berpikir untuk mengalihkan pertanyaan sebelumnya, "Kenapa..Shin-san ingin tahu soal itu?"
Pemuda berambut hitam itu terdiam sejenak, tanpa beban ia mengalihkan pandangannya kembali pada sungai yang berkilau karena matahari sore,"Aku heran saja."
"Hah?"
"Kalau benar ada seorang yang memiliki kemampuan bermain football seperti itu, seharusnya semasa SMP ia setidaknya dikenal lewat rumor sekalipun tak pernah ikut bertanding," jelasnya profesional. Tapi jawaban ini membuat Sena harus berpikir keras lagi membuat cerita palsu.
"Er..yah...mungkin dia low profile? Sejujurnya aku sendiri kurang tahu apa-apa tentang Hiruma-san..." ujarnya setengah hati./Ha-ha-ha...yah...walau semua itu tak sepenuhnya bohong.../
"...Eyeshield ?"
"Ya?"
"Menurutmu...adakah manusia yang sama persis sepuluh tahun yang lalu dengan dirinya saat ini?" Suatu pertanyaan yang ada di luar perkiraan pemuda berambut cokelat yang kini menatap lawan bicaranya kaget.
"Err...tentu tidak...mereka seharunya...menua...yah...normalnya begitu.." jawabnya mengira-ngira.
"Operasi plastik juga tidak mungkin untuk mempertahankan wujud remaja seseorang. Kau setuju dengan itu?"
"Um..ya...tentu saja. Mustahil jika terlihat tanpa cacat." Sena mengangguk bingung. /Apa maksudnya Shin-san soal ini?/Apa yang dikatakan Shin berikutnya justru membuat ia yang mendengarnya panik,
"...Kalau...kukatakan bahwa aku pernah melihat foto kapten kalian sepuluh tahun yang lalu dengan perawakan yang tepat sama dengan sekarang. Apa menurutmu?" tanyanya dengan nada tegas.
/Hieeeee?/ Ekspresi panik Sena akan terlihat amat menarik jika saja linebacker itu sedang tak menatap sungai dengan begitu intens, namun ini kesempatan bagi murid Deimon itu juga untuk mengendalikan dirinya,"A-ahhahaha...Ma-mana mungkin kan? Barangkali ada yang mirip dengannya..." tawanya ragu.
"Tapi terlihat begitu identik.." bisik linebacker itu, nyaris tak terdengar rival yang duduk disampingnya.
"Eh? Maaf?"
"Bukan, bukan apa-apa..." Seniornya itu menggeleng pelan, hela lelah terdengar pelan sebelum ia melanjutkan lagi, "Tapi jujur saja...keberadaannya membuatku tak nyaman."
"Ke-kenapa?" Tiba-tiba Sena teringat pikirannya dulu mengenai pemuda berambut hitam itu yang sepertinya memiliki indera keenam.
Di sini, Shin tampak ragu untuk menjelaskan. Ia terhenti sejenak untuk menyusun kata-katanya agar tersampaikan jelas,"Ini mungkin terdengar absurd..tapi...sepertinya ia tak seharusnya berada di sini..."
"Ah..."
Mendengar respon pendek itu, sang linebacker menatap lawan bicaranya yang mengeluarkan ekspresi kepemahaman. Tampaknya ia salah mengartikan,"Oh, bukan maksudku bahwa aku membencinya atau ingin menghilangkan pesaing dalam football. Tapi...istilahnya seperti tersesat di dunia..."
"...Dia bicara seolah aku ini hantu...Heh..." Hiruma mendengus tawa mendengar cerita tersebut. /Tak disangka. Dia membaca artikel itu ya?/
Pemuda mungil yang sedari tadi begitu cemas menceritakannya, tak sabar bertanya langsung, "Ja-Jadi? Kenapa bisa begitu? Maksudku...kau dan foto itu..."
"Itu aku.." jawab sang iblis santai.
Bola mata karamel membesar kaget mendengar jawaban bernada ringan itu,"Eh? Kalau begitu..."
Hiruma hanya mengangkat bahunya santai dan bersandar penuh pada kursinya. Ia menggumam pikir sebelum menjelaskan,"Kecurigaan si hand crusher itu benar. Yang berada dalam foto sepuluh tahun lalu itu , orang yang membebaskanku waktu itu cukup terkenal, jadi bagaimanapun juga, mau tak mau media mengeksposnya. Kalau jeli seperti dia, mungkin dia sadar bahwa beberapa kali aku ikut tertangkap kamera beberapa di artikel koran."
"Ah..begitu ya...masuk akal..." Sena mengangguk-angguk paham akan penjelasan panjang tadi. Ada saja kebetulan seperti itu di dunia...
"Ya. Begitulah," jawab singkat seniornya membenarkan.
"..."
"..."
Hiruma mengangkat alisnya heran dengan terhentinya percakapan mereka,"...Kau tak penasaran?"
"Hm? Soal apa?" Pemuda mungil yang duduk di depannya balik bertanya bingung.
"10 tahun lalu. Siapa yang membuka segel buku itu dan berhasil membuatku tersegel lagi?" bujuknya. Bukankah biasanya orang akan penasaran setelah mendengar segelintir kisah 'hidup'nya di dunia manusia di masa lalu?
"Kau ingin memberitahuku?"
"Kau mau tahu?"
Sang syumu mengangkat bahunya ringan dan mengerutkan kening penuh tanda tanya, "Kalau tak keberatan, silakan. Aku tak memaksa..."
Hiruma terhenti sejenak sebelum mengibaskan tangannya tanda menolak,"Tak usahlah..."
"Ya sudah..."
"..."
Hela keras bercampur geraman keluar dari mulut sang senior yang tampaknya tak menyangka tanggapan seperti ini yang akan ia dapatkan,"Hei,hei...Apa ini? Sungguh reaksimu itu tak menarik. Mendengar Shin membicarakan kecurigaannya, kau panik. Tapi begitu jelas perihalnya, kau justru tak penasaran. Padahal selama ini kau tak kenal banyak mengenai iblis dihadapanmu ini..." Akhirinya dengan menunjuk diri sendiri.
Bersandar merilekskan punggungnya yang kelelahan, Sena menatap langit-langit apartemen saat berpikir apa yang membuatnya bersikap seperti itu sebelum menanggapi komentar tadi, "...Yah..jujur saja..aku penasaran. Tapi..."
Ia terhenti. Mungkin jawabannya ini akan terkesan begitu hebat dan sepenuh hati, namun itu hal sejujurnya yang ia pikirkan ketika mendengar kisah yang diceritakan seniornya, "..kalau masa lalu itu membuatmu tetap terjebak kembali ke dalam buku, kurasa takkan memberiku petunjuk apa-apa untuk membantumu bebas." Lanjutnya yakin.
Mata tajam menyipit memandangnya dengan tatapan curiga "...Siapa kau dan apa yang kau lakukan pada kuso chibi?"
"Oh, ya ampun...Biarpun aku lambat, tak berarti aku bodoh. Hiruma-san sendiri terlihat terlalu tenang ketika kuberitahu bahwa mungkin saja seseorang mengetahui siapa sebenarnya dirimu. Kurasa sejak awal kau punya kecurigaan, jadi kutarik kesimpulan bahwa sebenarnya percuma saja aku panik," Sena mendengus sebal.
"...Bingo. Analisismu kalau mau, pengamatanmu bisa tajam juga..." Seniornya mengangguk-angguk pada diri sendiri, menemukan hal yang baru ia ketahui tersebut menarik.
Pemuda mungil itu terdiam sejenak berpikir sebelum menjelaskan,"Mungkin...karena sering main dengan Mamori-neechan, aku sedikit paham bagaimana para gadis berinteraksi. Mereka jarang memakai kata-kata secara langsung, namun secara tersamar mereka mengerti dari bahasa tubuh mereka. Kupikir, aku bisa menggunakannya untuk menjauhi orang yang berpotensi akan mengusikku...sebagian besar itu benar...walau tetap saja..." Ia menghela panjang mengingat nasibnya selama ini.
Hiruma memandangnya sebal setelah mendengar penjelasan tadi, /Memangnya aku anak gadis apa?/. Namun, ia jadi sadar sesuatu dari cerita tersebut, "Ah...itu yang menyebabkan kau sensitif toh..."
Sena mengangkat bahunya kecil sebelum melanjutkan, "Lagipula...sebenarnya Hiruma-san tak mau bicara mengenai hal itu dulu kan?"
"...Nanti saja kalau kau sudah siap...," ujarnya setelah terdiam sesaat.
Sena mengangguk pelan,"...Terserahmu saja..."
Hening.
"Oi, kuso chibi.."
"Hm?" Sena mengintip dari balik poninya mendengar namanya dipanggil setelah entah berapa lama. Astaga, keheningan dan suhu sejuk ruangan membuatnya nyaris tertidur.
"Ini baru hari ketiga sejak kita semua kembali dari Amerika dan derajat kedewasaanmu tiba-tiba naik." Seniornya berucap pikir.
"...Ah...kurasa karena aku banyak merenung untuk introspeksi diri hari ini..," jawab Sena tanpa bertatap langsung dengan lawan bicaranya.
"Untuk apa?" Ia bisa merasakan kaptennya mengangkat alis.
"BLUSH!...Bu-bukan apa-apa...," ujarnya terbata.
"Hoo..." Kaptennya terdengar penasaran, sangat mungkin disebabkan karena rona merah yang muncul di pipi pemuda mungil itu. Mata hijau toscanya menatap tajam, seolah menanyakan lebih jauh untuk penjelasan selanjutnya.
Sena menelan ludah dan memberanikan menatap langsung sang iblis,"La-lagipula..tadi aku hanya agak kaget dan panik saja...seharusnya tak usah sampai kemari...Rasanya...berlebihan kan?"
Hiruma terdiam mendengar itu dan tetap melempar tatapan tajam padanya ketika menanggapi,"Ya...memang."
Dalam hati, Sena menghela lega. Ia berdehem menghilangkan canggung sebelum bicara lagi,"Ugh...umh...ka-kalau begitu..itu saja...Kurasa sebaiknya aku pulang...Um..ya.." ujarnya sembari memainkan tangannya cemas dan mengangguk-angguk pelan.
"..."
Melihat tak ada respon khusus, syumu mungil itu bangkit dari sofanya dan merapikan diri, "Euh...oke..a-aku pergi-" Belum selesai kalimatnya, Hiruma memanggilnya pelan.
"Kuso chibi."
"A-apa?" Sena menatap seniornya ragu. Pemuda tampan itu turut bangkit dari sofanya sebelum berkata,
"Temani aku."
"Ha?" Bola mata karamel memandang bingung kaptennya yang kini tengah meregangkan tubuh.
"Ughh...Di sini membosankan...berkas kerja juga membuatku jenuh...," jelasnya tatkala memutar tangan dan lehernya. Ini tetap saja tidak menjawab kebingungan runningback mungil itu,
"Er...dan?" tanyanya lagi.
Hiruma memutar tangannya ketika menjawab ringan,"Hmh...karena sudah kukirim pesan singkat pada orang tuamu kalau kau keluar bersamaku-"
"APA? SEJAK KAPAN?" Rasa-rasanya ia tak melihat iblis itu menggunakan ponsel sedari tadi. Oh..tunggu..tadi ia sempat nyaris tertidur..mungkin pada saat itu. Tapi tetap saja,
"...jadi sekarang aku ganti pakaian dulu. Kau juga ganti, karena pakai seragam tampak terlalu formal-"
"TUNGGU! DENGARKAN AKU DULU!"
"-setelah itu kita cari makan malam." Hiruma menyelesaikan kalimatnya setelah menggeretakkan buku-buku jarinya yang pegal.
"HIRUMA-SAN!"
"Apa?" Sang iblis menaikkan alisnya santai, tak sadar sama sekali bahwa sedari tadi ia tak mengacuhkan pemuda mungil itu.
"Kau...ugh...kenapa kau lakukan ini sih?" Sena bertanya pasrah.
"...Kan tadi kubilang, di sini membosankan," jawab seniornya pasti.
"Lalu! Hubungannya denganku?"
"...Yah...kalau bersamamu biasanya ada hal menarik..." jawabnya tanpa kehilangan intonasi. Sena tertawa sarkastik mendengar itu,
"...Ha-ha-ha.."
"Ikut aku..." Perintah sang iblis sembari melangkah pergi dari ruang tengah.
"Kemana?"
"Kamarku."
"HAH?" Sena berteriak panik mendengarnya.
Hiruma berbalik menatapnya sebal, "Kau mau ambil pakaian ganti atau tidak? Atau kau mau aku yang memilihkan-"
Teringat dengan pengalamannya dulu, Sena buru-buru memotong tawaran kaptennya,"Biar aku saja!"
(((1x21)))
Sena menatap Porterhouse steak ukuran besar yang terhidang hangat di depannya dengan tatapan tak percaya. Malam itu berubah menjadi event yang membingungkan dalam waktu beberapa jam saja. Diawali dengan kejutan bahwa Hiruma memiliki mobil dan bisa mengendarainya. (terlebih lagi sedan sport jenis Roll Royce. Yang dengan bangga dijelaskan pemuda pirang itu pada juniornya.)
Lalu, ia diseret ke butik-butik privat langganan seniornya untuk membeli jas dan coat. (Yang membuat runningback itu ternganga karena harga yang tertera di tag dan kenyataan bahwa sang kapten sangatlah memperhatikan mode). Tentu saja malam itu tak lolos dari rutinitas Hiruma membeli amunisi dari pasar gelap (khusus yang ini, Sena ditinggal di dalam mobil sehingga tak tahu dengan siapa dan dimana Hiruma bertransaksi).
Satu-satunya hal yang paling normal dialami syumu mungil itu adalah belanja kebutuhan sehari-hari di hypermarket dimana seniornya lebih banyak 'membebaskan' ia untuk berkreasi mengisi lemari dapur apartemennya.
Dan kegiatan terakhir mereka...justru makan malam yang menjadi tujuan utama Hiruma pergi ke luar hari itu. Belum habis rasa kaget Sena setelah dibawa kesana-kemari, restoran tempat mereka makan juga tak tanggung-tanggung sekelas jetset dan berada di puncak gedung tempat butik Burberry berada, dimana tadi Hiruma berbelanja parfum. (Favorit QB Deimon itu tetap yang memiliki wangi citrus dalam racikannya.)
Bagaimana dengan harga menu yang berada di restoran itu? Jangan ditanya...
Belum memesan saja sudah membuat perut Sena melilit ketika melihat daftar menu. Syukur seniornya berinisiatif memesankan ia makanan dan dengan santai mengatakan bahwa ia yang mentraktir makan malam ketika melihat dirinya mematung dengan muka pucat.
Dan ketika aroma hangat kaldu sapi kental dengan sentuhan bumbu lada hitam dan rempah ringan dari daging setengah matang terhirup oleh hidung kecilnya, ia baru tersadar kembali dari pikirannya yang membeku.
Pikiran pertama yang membuatnya berekspresi tak percaya adalah, /Besar sekali ukuran dagingnya!/ Sebelum ia menarik napas ringan dan membiarkan aroma masakan membuatnya lapar. Membuka matanya perlahan, mau tak mau ia harus menganggumi interior ruangan yang berkesan nyaman, mewah, namun tidak berlebihan.
Dominasi warna obsidian, sedikit sentuhan warna putih gading pada penggunaan kain, dan pendaran lembut lilin aromaterapi di atas meja yang menemani kelip lampu dari pemandangan kota dari kaca yang mengelilingi ruangan, jelas mengatakan bahwa kau berada dalam tempat istimewa dengan penawaran kualitas terbaik.
/Tapi rasanya ada yang luput dari keadaan ini.../ pikir RB itu kebingungan. Ya, jelas saja. Hiruma Youichi? Membawanya untuk makan malam di tempat mewah? Ditraktir pula? (Sekalipun itu keputusan sepihak) Terlalu aneh...
"Hi-Hiruma-san?" Panggil Sena perlahan sembari melihat seniornya yang kini melahap tuna caviar.
"Hm?" gumam Hiruma tanpa melihat lawan bicaranya.
Bola mata karamel menatapnya ragu,"Kau yakin..er...kau sehat?"
Pemuda jangkung itu mengangkat kepalanya dan memberi tatapan skeptis, "Ya...tentu...aku tak pernah sakit..." jawabnya ringan sebelum melanjutkan makan lagi.
"Um..oke..." Sena mengangguk kecil dengan pertanyaan menumpuk di benaknya. Seniornya yang melihat ia terdiam tak menyentuh makanan, dengan datar berkomentar,
"Kuso chibi, kalau kau tak mau steaknya, berikan padaku," ujarnya ringan. Jujur saja, perutnya masih lapar. Menu yang ia pesan tampaknya tak cukup mengenyangkan perut 'manusia'nya.
Syumu Deimon itu menggeleng pelan,"Ah..tidak. Akan kumakan..."
Hiruma menatapnya lurus sebelum menghela pelan,"Hh...Kau bingung?"
"...Ya...," ujar Sena setelah beberapa saat terdiam. Kaptennya tak langsung menjawabnya, pemuda pirang itu memainkan buah zaitun di gelasnya sebelum bicara,
"Jujur saja...aku tak tahu kenapa aku melakukan ini...hanya rasanya tiba-tiba ingin. Impuls irrasional kurasa..." jelasnya dengan sedikit nada keraguan dalam suaranya.
"Oh..." Pemegang kontraknya menggumam sembari mengunyak potongan daging lambat-lambat. Entah mengapa, rasanya ia harus bersiap untuk pembicaraan yang berat, "Hiruma-san...?"
"Hn..?"
Denting lembut besi dan keramik alat makan yang beradu ketika Sena meletakkan peralatan makannya menandakan ia sudah siap untuk bicara. RB mungil itu memulai,"Ini mungkin agak aneh...tapi...apa benar kau tak apa-apa?"
"Energi dan kewarasanku masih ada, kalau itu maksudmu...," jawab Hiruma santai.
"Bukan, bukan begitu...," Sena mengerutkan dahi ketika ia merangkai ucapan yang dalam pikirannya, "...jujur saja. Selama beberapa hari di Las Vegas juga kau seperti ini. Maksudku, terlihat...sangat kelelahan secara emosional...Bukan fisikmu, tapi...entahlah... Walau ketika tiba di Jepang itu semua berkurang, tapi...kau masih terlihat berbeda.." jelasnya panjang. Alis runcing berkerut mendengarnya dan sejenak mata pemiliknya tampak kosong tanpa menatap hal tertentu.
"Hmm...Kuso chibi, apa akhir-akhir ini kau pernah merasa tiba-tiba kelelahan tanpa alasan jelas?" ujar seniornya setelah beberapa saat. Runningback mungil itu menggeleng pelan,
"Uh...tidak?"
Hiruma bersandar mundur pada kursinya ketika mendengar hal ini,"...Kalau begitu aku tak bisa menjawab pertanyaanmu."
"Maksudmu?"
"Jawabanmu tadi mencoret opsi terakhir yang jadi dugaanku sebagai apa penyebabnya. Dengan kata lain, aku tak punya jawaban untuk hal itu." Jelasnya dengan nada datar. Ada sesuatu yang luput dari masalah ini...tapi apa?
Suara juniornya mengembalikan fokusnya dari debat mental dalam dirinya,"Ah..begitu...Tapi, apa ini mengganggumu? Maksudku..perubahan keadaan kemarin?"
Dahi sang iblis berkerut mendengar pertanyaan tadi, /Mengganggu...ya?/ Tak pernah terpikir olehnya hingga ke arah sana, variabel lain bernama 'perburuan blackmail dan MLM ala iblis' mungkin jadi alasan pikirannnya tak berfokus pada hal tersebut. "...Kurasa, tidak sampai menjadi keadaan yang berada diluar kendaliku. Jadi...kurasa tidak..." Jelasnya perlahan. /Atau ya...karena sesungguhnya baru kali ini aku merasa benar-benar tak nyaman..seolah ada sesuatu yang luput dari sepengetahuanku./
"Hm...lalu...kenapa kau sempat berpikir alasannya dihubungkan denganku?" Sena menyeruput sedikit jus apel di gelasnya sebelum menanyakan hal ini. Pembicaraan berat selalu membuatnya tegang.
"Kontrak."
"He?"
Bola mata tosca menatapnya lurus saat menjelaskan dengan nada serius,"Kontrak darah yang mengikatmu denganku. Dan kau pernah memberikan energi hidupmu padaku. Seharusnya, aku tak merasa kelelahan maupun diluar kontrol. Tapi beberapa waktu lalu, seperti yang kau katakan, aku memang merasa...agak kacau..."
"Um...tapi sebelumnya setelah kuberikan..um, err..energiku..kau tak pernah seperti itu kan?" Sena menahan rona merah yang berusaha muncul di pipinya ketika mengingat 'proses' transfer energi tersebut di masa lampau. Dilihatnya seniornya menopang dagu di kepalan tangan yang ia taruh di atas meja,
"Karena itu...kupikir kau yang mengalami kelelahan ekstrim."
Mata karamel memandangnya bingung, "Oh?"
/Ah...aku lupa. Ia tak tahu mengenai hal itu.../ Hiruma tersadar akan minimnya obrolan mereka mengenai kontrak darah yang mengikat keduanya dan menjelaskan,"Seandainya pemegang kontrakku energi kehidupannya berkurang, aku bisa merasakannya secara langsung. Dulu sekali ketika orang yang mengikat kontrak denganku mendekati akhir hidupnya, aku mengalami hal yang mirip. Seolah energiku turut terhisap..."
"Ah..sedangkan keadaanku baik-baik saja. Jadi kau tak tahu apa penyebabnya. Begitu ya?" Syumu mungil itu mengangguk-angguk sendiri.
"Hn."
"...Apa...karena kau memforsir diri?" tanyanya lagi.
"Kurasa tidak."
"Benar juga...itu tak mungkin..."
Keduanya terdiam lagi. Sena kembali melanjutkan makannya dan Hiruma sesekali menyesap wine di gelasnya. Anak SMA yang baik sebetulnya tak minum alkohol, tapi hei...dia bukan manusia, jadi aturan itu tak berlaku baginya. Plus,minuman mewah cocok untuk kesempurnaan penampilannya malam ini. Yah, kalau sudah modis, totalitas hingga perfeksionis.
...Tidak juga, dia hanya senang menikmati pandangan iri dari pelanggan lain di restoran itu yang mengira-ngira dari mana ia mendapatkan semua kemewahan miliknya. Boleh lah kalau kita mengatakan ia sedang ingin pamer. Lagipula, energi negatif yang keluar justru membuat sang iblis merasa nyaman.
"Um...Hiruma-san? Aku sudah selesai." Hiruma menatap piring juniornya. Garpu dan pisau yang sudah dibalik serta gelas jus yang nyaris kosong memang menandakan hal tersebut. Ia mengangguk paham sebelum membunyikan lonceng untuk memanggil pelayan.
Ketika seniornya memberikan kartu platinum untuk pembayaran, ia memberi isyarat pada Sena untuk bersiap-siap pergi, "Kau tunggu di luar saja, aku menunggu tab dan kartuku. Nanti kuantar pulang," perintahnya.
Sena mengangguk pelan sebelum bangkit dari kursi dan keluar restoran lebih dulu untuk menunggu di lobi. Lagi-lagi...ada perasaan menggelitik di perutnya dan pikirannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang ia lupakan.
(((1x21)))
Tunggu.
TUUUUUUNGGU DULU!
Apa?
Seolah terkena tackle beruntun ketika pertandingan, perasaan terkejut bercampur malu -dan...apa ia merasa senang juga?- bergerumul dalam dirinya ketika menyadari keadaannya sekarang yang terasa begitu familiar. Atau lebih tepatnya setelah panjang lebar mendengarkan Hiruma mengulas kembali kegiatan mereka malam itu.
Oke, pertama ia keluar dengan seniornya untuk jalan-jalan (lebih banyak berbelanja sih...). Kedua, mereka makan malam di restoran. Dan ketiga, seniornya mengantarkannya pulang ke rumah. Catatan tambahan bahwa mereka pergi berdua dan dengan fasilitas super mewah milik Hiruma yang seolah amat memanjakannya.
Ditambah atmosfir, tempat yang begitu strategis ketika mereka berdua pergi, dan kenyataan bahwa keduanya bisa mengobrol santai, rasanya ia bisa mengerti jika orang-orang di semua tempat yang mereka kunjungi tadi memandanganya dengan aneh. Ia, dengan pakaian santai, bercengkrama santai dengan pemuda tampan dengan tampilan borjuis. Jika ia menempatkan dirinya pada pandangan orang-orang tersebut, ada tiga hal yang menjadi perkiraan utama. Mungkin dia dianggap sebagai adiknya, namun melihat bagaimana Hiruma memperlakukannya...
"Jadi, seharusnya aku mendapat kecupan selamat malam di akhir kencan hari ini..." Seniornya mengatakan hal itu dengan senyum iblis berlapis gula. Wajah rupawan yang seolah berpendar pucat oleh lembut cahaya bulan yang berhasil menembus kaca mobil itu memberinya pandangan nakal ketika kepala pemiliknya bersandar pada setir mobil.
Syumu mungil itu melempar tatapan tajam sebagai peringatan. Alangkah efektifnya hal tersebut jika tak disertai dengan rona merah muda di wajah manisnya. "Tidak."
"Oh..ayolah..toh bukan pertama kalinya kau menciumku di depan rumahmu sendiri kan? Kekeke.." Ah, ya. Itu satu hal lagi yang menjadi alasan mengapa ia harus menolak permintaan tersebut.
"Ti-dak. Titik. Terima kasih atas tumpangannya,dan aku akan sangat menghagai jika kau membuka kunci mobil ini." Sena menyilangkan tangannya dan memberikan ekspresi paling mengancam yang ia bisa. Sejenak lawan bicaranya menaikkan alis, namun sesuatu yang membuatnya mengeluarkan seringai tipis.
"Membosankan~ Kuso chibi kau terlalu kaku." Dengan nada main-main Hiruma menanggapi juniornya. Belum sempat Sena membalas, sang iblis turun dari mobil dan berputar santai mengelilingi kendaraan mewah miliknya sebelum membukakkan pintu bagi pemuda mungil itu, "Silakan."
Nada lembut yang mengiringi kata tersebut bukan hanya membuat Sena terkejut, namun juga waspada. Kenapa Hiruma tiba-tiba berubah..
"Oh! Kudengar ada suara mobil, ternyata Hiruma-kun!"
Sena menahan diri untuk mencekik leher jenjang yang berada di dekatnya ketika mendengar suara senang Mamanya yang keluar dari rumah.
"Selamat malam, Kobayakawa-san." Secara otomatis mode 'anak baik-baik dan menawan' dari Hiruma, keluar untuk berakting di depan orang tuanya.
/Dia itu.../ Antara cemas dan kesal Sena akhirnya turun dari mobil dan memaksakan tersenyum menyapa, "Hai, Ma.."
"Sena! Bagaimana tadi? Menyenangkan? Kalian pergi kemana saja? Wah, wah...Hiruma-kun...ini..luar biasa..." Mamanya dengan cepat berpindah topik dari putranya ketika melihat dengan apa Sena diantar pulang. Bola mata cokelat juga menilai baik-baik tampilan seniornya sebelum terkikik senang, "Ara~? Kau terlihat amat tampan malam ini, Hiruma-kun. Sayang sekali hanya jalan-jalan dengan Sena ya?" Mamanya menggoda seniornya dengan nada canda.
"Ahaha..Terima kasih...Soal itu bukan masalah. Toh, dia cukup manis untuk menjadi pasangan kencanku kan? Bagaimana?" balas seniornya dengan nada canda yang sama. Sena mengeleringkan matanya mendengar ironi tersebut. Mendadak ia merasa dingin ketika melihat orang tuanya terdiam berpikir dan memberinya pandangan serius.
/Ba-bahaya.../
"M-Ma...aku tidak-"
"Ahahahha!" Suara tawa Mamanya membuat ia mematung bingung. Lho? Kenapa? Apa yang terjadi? Ia yakin betul tadi tatapan dingin berasal dari bola mata cokelat itu...
"Oh, astaga. Hiruma-kun...Sena memang manis sekali, tapi kurasa kehidupan masa mudamu masih panjang~" Mamanya mengedipkan mata.
"Dia saja cukup," ujar Hiruma santai dengan seringai nakal tersungging di bibirnya. Orang tuanya menanggapi dengan seringai yang sama.
/Oke...ini mulai terasa aneh.../ pikir Sena waspada. Seolah ada interaksi yang tak ia mengerti diantara keduanya, namun ia bisa menangkap sinyal bahaya.
"Hmm...nanti kita bicarakan lagi ya, Hiruma-kun?" Gumam pelan terdengar dari wanita paruh baya tersebut.
"Asalkan jangan berakhir dengan hasil buruk," senyumnya santai. "Aku masih ingin berkunjung kemari."
"Oh, kau manis sekali..." Kobayakawa senior tertawa lepas lagi. Sena tak tahan dengan keanehan ini, memutuskan bicara.
"Ma...apa maksudnya?" tanyanya ragu. Entah kenapa berharap tak mendengar jawabannya.
"Bukan apa-apa...hanya saja Hiruma-kun beberapa kali datang kemari untuk meminta ijin berkencan denganmu."
APA?
"...dan jelas saja Mama dan Papa kaget sekali dengan permintaannya. Maksud Mama..kau tau...masyarakat dan tanggapan orang..."
HAH?
"...tapi kami memutuskan mencoba memberi kesempatan malam ini..."
TUNGGU DULU!
"...dan setelah melihat ini serta tanggung jawabnya selama kau di Amerika, Mama rasa kami bisa menyerahkan kepercayaan sepenuhnya pada Hiruma-kun untuk hal tersebut..."
BAGAIMANA DENGANKU?
"...Ia bisa diandalkan."
Seumur hidupnya, baru kali ini kaki Sena terasa benar-benar lemas. Kalau benar apa yang ia pikirkan, "Ma! Aku bukan-"
"Terima kasih, Kobayakawa-san. Aku akan menjaganya baik-baik." Hiruma membungkuk hormat dan menunjukkan wajah bahagia seolah lepas dari beban berat ketika ia menegakkan punggungnya lagi. Tapi, Sena tahu betul tindakannya itu untuk memotong ucapan pembelaan dirinya.
"Hiruma-san! Jangan bercanda! Bagaimana dengan-"
"Sena," panggil Mamanya lembut. "Tidak apa-apa. Kami sudah tahu mengenai hubunganmu dan Hiruma-kun. Jangan bersikap seolah itu tidak ada...kasihan Hiruma-kun.." ujarnya pelan.
/Kasihan? Dia? Bagaimana denganku!/ Pemuda mungil itu menyerah dengan kata-kata dan tak berusaha bicara apapun lagi. Ia terlampau bingung, marah, dan frustasi dengan kejutan ajaib ini. Tapi apa yang dikatakan Mamanya berikutnya membuat ia tersedak liurnya sendiri dan berharap dapat membunuh sang iblis,
"Oh...dan Mama dan Papa tetap ingin menggendong cucu yang manis~ Kalian jangan lupa itu ya~"
Ralat.
Ia berharap seseorang membunuhnya sekarang.
Iindesuka? Iindesuka?
Konna ni hito wa suki natte inndesuka?
Iindesuka? Iindesuka?
Konna ni hito wa shinjitemo iindesuka?
(1)
...TBC…
(((1x21)))
A/N:
(1) Iindesuka – Radwimps (Yang suka main di fandom Durarara! Pasti tau deh..XD~)
Yeah, fluff ringan akan ada untuk beberapa chapter kedepan disisipi dengan jalannya pertandingan. Ah, dan saya butuh seorang beta-reader. Kalau ada yang punya rekomendasi atau bersedia membantu saya untuk cerita ini, saya amat berterima kasih untuk bantuan kalian.
Lalu..beberapa waktu lalu saya bertemu beberapa pembaca cerita ini yang juga cosplayer di acara bunkasai, menyenangkan bisa ber-otaku ria secara langsung dan barter info. Hehe..kalau ada diantara kalian yang tinggal di daerah Bandung, sekali-kali kita ketemuan yuk :D ~
Ooh, satu lagi. Melihat akhir-akhir ini banyak 'gangguan' menulis bagi author di .(fandom manapun) saya jadi terpikir untuk membuat kinkmeme untuk fandom Eyeshield21 Indonesia. Bagaimana menurut kalian?
Oke, sekian dari saya untuk chapter ini. Yang berikutnya semoga tidak terlalu lama proses penulisannya. Dan juga...selamat berpuasa bagi yang menjalankan..:)
Mohon komentarnya ya!
Terima kasih telah membaca!
HR
