Di eratkan kepalan tangannya seiring dengan Mori yang terus mendekat. "Akhirnya aku mendapatkan misi sesungguhnya."
Bayangan besar pria itu semakin besar di mata Kyouka. Anak perempuan itu mundur selangkah, berharap ia bisa bangun dari mimpi ini. Sayangnya ini bukanlah mimpi, ini realita, Kyouka harus mnghadapinya. Jantungnya berhenti sesaat saat Mori menghentikan langkah pelannya, dan berdiri di samping Kyouka setelah ia berlari menepi dari tengah ruangan.
Tentu saja ini menjadi pemandangan yang aneh dan mengejutkan untuk Kyouka. Ia tak pernah melihat wajah Mori Ogai sebegitu paniknya, tidak.
Kahwatir.
Tak lama kemudian, sebuah tangan datang mengentuh kulit dingin Kyouka dan memaksanya untuk mundur bersandar pada dinding.
Kyouka panik. Ia tak ingin bersentuhan, melihat saja tidak akan. Jadi ia berusaha untuk menepis cengkraman mantan bosnya dan pergi dari sisinya. Tapi nihil, Mori tampaknya tak akan melepaskan si mungil Kyouka.
Saat Kyouka ingin melepaskan teriakan di ujung mulutnya, Mori segera membungkam mulutnya dengan tangan kirinya. Dia melihat Kyouka sejenak, melepaskan pandangannya dari kamera di pojok sana. Kyouka menjadi jadi, ia panik dan berusaha melepaskan tangan kotor Mori dari wajahnya.
"Apa yang anda lakukan Mori san?! Lepaskan, aku!" bentak Kyouka. Matanya terpejam seraya tubuhnya melakukan gerakan perlawanan.
Menanganinya, Mori berjongkok berusaha menenangkan mantan bawahannya. "Shh...shh! aku tak akan menyakitimu, atau melakukan apapun padamu. Tenanglah Kyouka, aku butuh bantuanmu."
Si raven membuka matanya heran juga marah. Untuk apa seorang bos bermartabat meminta bantuan dari seorang anak kecil seperti dia? Hal itu membuat Kyouka menenang, tapi belum cukup untuk menghentikan perlawanannya.
"Mau apa kau, Mori san?" bisik Kyouka penuh dengan amarah.
Masih mendengar nada penolakan di balik lembutnya suara Kyouka, Mori berusaha mencairkan suasana dengan senyum sehari harinya. "Tak banyak. Kau hanya perlu untuk melemparkan pedang mini-mu ke CCTV itu. Lalu-"
Thud..
Keduanya terdiam dan masing masing melihat ke arah sebuah kamera kecil yang sudah jatuh ke tanah, dilingkup dengan aliran listrik biru. Netra violet Mori kembali memandangi Kyouka yang telah kembali dari posisi melemparnya. Ia tersenyum, dan Kyouka merasa sebulir keringat barusan melewati pelipisnya.
"Baguslah, ayo kita selesaikan ini." Mori berdiri, kembali berlari dan duduk di kursi kontrolnya. Kyouka dengan ragu mengejarnya.
"Kita?" beo Kyouka, memerlukan penjelasan.
Mori menghentikan sebentar kegiatan mengetiknya, dan memutar kursi itu menghadap Kyouka. Gadis manis itu melonjak.
"Ya, kita. Bukannya kau ingin menolong Agensi dan menangkap Dostoyevsky?"
Kyouka mengangguk, setuju kali ini. "La, lalu apa yang kau lakukan? Bukannya kau melawanku tadi?"
"...Aku tak ingin di perbudak siapa siapa, nak." Ucap Mori pelan, bahkan Kyouka hampir tak mendengarkan saat kepala itu menurun ke bawah, menyembunyikan wajah penyesalannya. Lalu memutar kembali kursinya, mengetik beberapa di keyboard.
"Kau, kau menolak permintaan Fyodor...dan...dan membelot darinya?" ucapnya gusar, kedua mata blue metalic itu tak lepas dari targetnya.
"...Ya." ucapnya lagi, melanjutkan pekerjaannya di depan layar.
Kyouka semakin bingung. Jika ia memang membelot dari Fyodor, lalu kenapa ia tak melakukannya dari awal?
"Jika...jika kau berencana melakukannya...kenapa kau tak melakukannya dari awal? Kau adalah Bos Port Mafia, tidak ada yang bisa menghentikanmu!"
Lama tak menerima jawaban, Kyouka memiringkan kepalanya untuk menyadari Mori telah menunjuk ke suatu tempat dari beberapa detik lalu. CCTV yang telah hancur.
"CCTV itu membungkamku. Jika aku ketahuan melakukan hal yang tidak tidak, si Iblis tak akan segan segan membunuhnya." Ucapnya sayu. Matanya lesu memandang keyboard di depannya, tak beranjak dari sana.
Kyouka tercekat, ia tak percaya ia melihat sebulir air mata di pelupuk matanya.
"Fyodor...mengancam anda?" kata Kyouka. Ia tak bisa melihat momen klise di depannya, jadi ia menurunkan volume suaranya dan memakai kata sopan di depan pria dewasa ini.
"Ya."
Sang gadis mungilpun terharu. Entah kenapa ia bisa terharu, ia juga tak tahu. Tapi melihat seseorang yang biasanya terlihat dingin dan kejam, hampir meneteskan air mata, membuat hati Kyouka terenyuh. Apalagi mendengar jawabannya nanti.
"Kenapa anda tak melawan balik?"
"Aku tak bisa!" Mori terlonjak marah, beberapa tombol keyboard di pukulnya kencang. "Aku tak bisa membiarkan anakku teranianya. Aku tak bisa melihatnya menanggung hal atas apa yang kuperbuat...aku bahkan melukainya, mengancurkan kakinya..."
Kyouka tetap terdiam, memandangi mimik wajah sang Bos Mafia yang tertunduk, mencoba menyembunyikan bulir bulir air mata yang jatuh mendarat di meja di depannya. Begitu banyak tanda tanya dan perasaan kasihan di hati Kyouka. Melihat seseorang yang selalu kejam di matanya, berubah menjadi seorang figur ayah yang menyesal, menangisi anaknya yang tersiksa. Tanpa sadar, tangan kanan Kyouka terangkat, mengelus ragu bahu kiri Mori Ogai.
"Aku berhasil di kendalikan oleh si Iblis itu! Dia membuatku menyiksa anakku sendiri! Tidak akan, tidak akan kubiarkan dia! Dia akan membayar apa yang telah ia lakukan!" seru Mori lagi. Ia menghentakkan kedua kepalan tangannya ke meja komputer dan kembali bersedih, mengusap kasar sisi wajah menggunakan punggung tangannya. Sang gadis kimono tetap diam, sebulir air mata jatuh dari kelopak matanya.
"Walaupun aku seorang bos mafia sekalipun, aku tak bisa kehilangan serigala manisku. Entah apa yang telah di lakukan Fyodor kepadanya sekarang."
Chuuya memekik keras, memerintahkan para tamu untuk segera keluar dari gedung. Elise dan Tsukasa juga melakukan hal yang sama. Anak berkucir kuda itu terdiam di temani Elise di depan pintu dengan keadaan yang sama seperti sebelumnya. Jika ia berdiri di depan pintu dengan tubuhnya yang memancarkan cahaya, para tamu akan otomatis mendekati sumber cahaya, dan keluar dari pintu yang telah di buat Chuuya.
Sementara ia sibuk mengomando orang orang untuk segera keluar, lampu tiba tiba hidup kembali dan mengejutkan siapa saja. Lampu gantung emas yang terletak di tengah ruangan dan lampu meremang di sekelilingnya mulai bercahaya kembali, dan membuat setiap orang tersenyum lega.
Nakahara tidak punya waktu untuk itu. Setelah Ranpo memberitahu ia tak punya lagi banyak waktu dan bom yang di letakkan Himawari di suatu tempat, membuatnya tak bisa tenang.
"Tidak ada waktu lagi untuk merasa tenang. Kalian semua bisa tenang ketika kalian sampai ke rumah masing masing! Bergerak, keluar dari gedung ini secepatnya!" seru Chuuya kembali. Sampai sampai Tsukasa dan Elise terlonjak kaget mendengar suara gelegar pria topi itu.
Rombongan manusia yang sempat berhenti tadi kembali berlari kencang, buru buru keluar dari gedung aneh ini hingga keluar dari pagar. Sesampainya mereka di luar, zona aman, belasan mobil polisi dengan sirinenya menyuguhkan pandangan mereka. Chuuya juga mengikuti, keluar pagar untuk masuk ke dalam mobil yang ia kenali, ven putih di mana pusat dari rencana ini tersusun.
Begitu masuk, seorang pria sepantarannya mengejutkan Chuuya karna berdiri di depan pintu mobil.
"Minggir Fancy Hat! Aku harus menyelamatkan Hima!"
Chuuya bangun dari kakunya dan mulai menyadari Ranpo menaikkan emosinya, dan menepuk dadanya untuk minggir dari jalannya. Tapi Chuuya menolak kasar.
"Kau harus tetap disini. Aku yang akan menyelamatkan Dazai dan Hima." Pria itu membujuk, mencoba mendorong Ranpo kembali masuk ke dalam mobil. Saat wajah Ranpo memandangnya, kedua mata itu terbuka, memberikan tatapan setajam silet.
"Tidak. Dia adikku dan aku kakaknya. Aku akan melindunginya walaupun nyawaku taruhannya." Ancam Ranpo.
Ia mendekatkan wajahnya ke batas nafas Chuuya agar sang pria mafia itu mengerti keadaan dan perasaannya. Ia tak bisa bernafas normal jika ia tak memeluk adiknya sekarang.
Saat Chuuya ingin mengucapkan sesuatu, tubuh Ranpo terdorong kebelakang akibat tarikan dari lengan si megane. Wajah Ranpo berubah marah saat Kunikida menghentikkannya.
"Dia adikku! Ini hakku untuk menyelamatkannya!" Ranpo menyela, matanya mulai memerah.
Kunikida menunduk lesu. Menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa Ranpo san. Jika kau pergi ke sana, siapa yang akan memimpin kami di sini?"
"Sachou akan memimpin kalian! Dari tadi ia hanya duduk manis tanpa bergerak memberikan perintah atau kata kata penyemangat untuk kita! Dan sekarang adalah gilirannya untuk menggantikanku! Aku selesai! Aku akan masuk ke sana, menyelamatkan adikku!"
Saat Ranpo hendak berbalik, tubuhnya terhenti seketika saat Kunikida berani menyentuh pundaknya.
"Tidak Ranpo san...tidak ada yang bisa menggantikan anda."
Kata kata itu sukses membuat Ranpo terdiam sesaat memandangi pagar tinggi gedung Mafia yang terbuka sedikit, dan mobil polisi yang membuat kegaduhan. Mulutnya menganga saat pandangannya memblur dan setitik air jatuh menyelusuri pipi kirinya.
Ia hanya mengkhawatirkan malaikat mungilnya, adik manisnya. Hima dalam bahaya, Ranpo dapat merasakannya.
Seorang kakak dapat merasakannya.
Sebuah transmisi masuk ke pendengaran di pengguna topi Ushanka. Dia langsung menautkan alisnya marah dan berdiri dari duduknya. Seorang perempuan di dalam kegelapan itu menoleh kebelakang dengan satu tangannya memegang tangan lain. Hima melihat Fyodor yang frustasi berbicara pada orang lain di seberang sana. Dan hendak beranjak ke pintu keluar.
Hima membelalak sejenak dak kembali tenang sedetik setelah pintu baja turun dengan berdebum dan membuat Fyodor mematung. Mereka terjebak. Di dalam sel bawah tanah.
Melihat keadaan yang sesuai rencana, Hima mengeluarkan segulung perban dari mantel Dazai dan melilitkannya ke telapak tangan Yumeno. Kepala bermahkota bulu putih itu langsung menoleh geram dan menemukan si putri pink yang sedang mengobati anak mungil jaminannya.
Dostoyevsky tersenyum kembali dan mengambil langkah mendekati jeruji besi. Ia memegangnya kuat sambil terus memandangi tindakan gila Hima. Tapi perempuan itu mengabaikannya, sengaja.
"Kukira kau hanya ingin menemani."
"Berikan penawarnya, Fyodor."
Si Iblis mengangkat alisnya sebelah dan meyandarkan sisi kepalanya ke jeruji besi.
"Penawar apa, Himawari san?" ucapnya, sedikit menggoda.
Hima segera kesal, ia bangun dari jongkok lututnya dan menghadap Fyodor dengan seuah pemicu di tangannya. Mengeksposenya agar menjadi ancaman nyata untuk Fyodor sendiri.
"Penawar untuk Dazai san, Iblis! Aku membutuhkannya, sekarang." Hima membentak. Kesabarannya telah habis beberapa detik lalu karena Fyodor yang terus mengulur waktu. Dan Hima tau itu, ia tau Fyodor pasti mempunyai penawarnya, walaupun kemungkinan ia tak akan membutuhkannya nanti.
Sang Iblis menampakkan gigi gigi rapinya. Tentu saja Fyodor tau apa yang sedang di pamerkan Hima itu. Ia berencana meledakkan seluruh gedung ini, bersama mereka yang ada di dalamnya. Tak mau kalah Fyodor mengeluarkan sebotol ramuan hijau dari balik sakunya dan memperlihatkannya pada Hima. Dengan tatapan serius, ia berstatement.
"Apa kau mencoba untuk meledakkan gedung ini? Bersama kami?"
"Ya."
Fyodor mengangkat alisnya sedikit saat melihat jari jempol Hima yang hampir menekan tombol merah di paling atas benda itu. Ia tersenyum meremehkan saat Hima memasang wajah serius.
"Berikan aku penawar itu! Lihat dia, dia semakin buruk setiap detiknya!" seakan tak menanggapi apa apa dari Fyodor, Hima memekik keras sehingga Dazai dan Yumeno memandangnya, lelah.
Netra violet Dostoyevsky langsung melihat pria berkemeja putih yang ternoda darah dengan jari telunjuk Hima menunjuk ke arah Dazai, pria itu mendangak sesaat sebelum menggerutu dan kembali tidur. Fyodor tersenyum.
"Dengan apa Hima chan? Bom?"
Bibir Hima mengerucut dan kedua alisnya menaut kesal. "Ya. Kami telah memasang bom tak jauh dari sini. Dan aku 100 persen yakin, para tikusmu itu berada di sini."
"Kau ingin penukaran?" jawab Fyodor santai. Hima mengangguk, menempelkan jari jempolnya ke tombol merah itu.
"Heh, sebagai detektif pasti kau telah mengetahui resiko dan akibat dari perbuatan ini. Bagaimana jika kau memberiku pemicu itu dan meledakkan kita semua disini? Bagaimana jika semua tamu di gedung ini mati?"
"Hm, kau tidak tau, para mafia telah mengosongkan gedung ini beberapa menit yang lalu. Yang berarti, hanya ada kita disini. Biarpun gedung ini meledak, aku tak peduli. Aku masih bisa menggunaan hadiahku." Himawari mengangkat satu sudut bibirnya, menyeringai. Sambil menjulurkan tangan yang menggenggam kuat pemicu itu.
Fyodor menggelengkan kepalanya, menghela nafas panjang. "Baiklah. Kau duluan."
Netra emerald imitasi Ranpo itu melengket lekat dengan iris Violet Fyodor. Ia memikirkan syarat yang di ajukan Fyodor dengan mempertaruhkan segala resiko. Jika ia memberikan terlebih dahulu, pasti ada kemungkinan penawar yang di pegang Fyodor sendiri akan sampai di tangannya.
Hima mengangguk pelan, setuju. Fyodor memajukan tangan kosongnya menanti tabung kecil yang berperan besar dalam penghancuran. Awanya putri Edogawai ini di penuhi rasa ragu. Tapi sejenak kedua irisnya melirik ke arah Dazai yang melihatnya, membuat hatinya semakin yakin jika ia memang benar benar menginginkan penawar itu. Dazai sudah memburuk. Semakin memburuk, ia harus melakukannya. Sekarang.
Saat pemicu kecil itu sudah berpindah tangan, Fyodor tersenyum dan melihat Hima yang kembali menengadahkan tangannya meminta agar sistem barter ini berjalan jujur. Senyuman Fyodor semakin membesar saat tangan kirinya menjulur dan memberi sebotol ramuan kehijauan itu.
Tapi, ia menjatuhkannya.
Fyodor Dostoyevsky menjatuhkan penawar sarin itu sebelum Hima sempat terkejut. Botol itu menyentuh tanah dengan cepat dan pecah, mengeluarkan semua isinya, diserap oleh tanah kering di bawah mereka.
Hima menunduk ke bawah, melihat pecahan yang menyebar dan sisa sisa cairan kehijauan yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Dazai terkejut, begitu juga Yumeno yang meneriaki, tidak! Baik Yumeno dan Dazai tak bisa melakukan apa apa selain melihat, sebotol penawar sarin yang sekarang hanyalah pecahan kaca tak berguna.
Akhirnya kepala Hima menengadah melihat iris Violet Fyodor penuh amarah. Sang pria tak berreaksi lain selain tersenyum dan mulai mundur ke belakang, mengangkat tangan kanannya dan memencet tombol merah di atasnya.
Tet.
Hanya ada satu suara setelah itu, suara yang menggelegar di langit Yokohama.
Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanficDazai ini.
すべてを読んでくれてありがとう
Subete o yonde kurete arigatō
(Terimakasih sudah membaca semuanya)
