REMAKE fanfiction from The Half Blood Vampire - karya TaniaMs

Cast : Shim Changmin, Cho Kyuhyun, and others

Warning : GS, Typo(s)

a/n: Fanfic ini merupakan karya milik TaniaMs. Saya hanya meREMAKE dan sedikit merubah tempat, nama serta mengurangi atau menambah kata seperlunya untuk keperluan cerita.

.

.

.

Kyuhyun memukul menekan tombol pada stik PSnya dengan lincah. Saat ini dia sedang bermain PS bersama Sehun, itupun setelah berhasil memohon pada Changmin, karena Changmin menyuruhnya istirahat.

"Aaaargh!" Erang Kyuhyun. "Kenapa aku kalah lagi?!"

Sehun yang duduk di sampingnya hanya bisa tertawa. "Noona, kau tak akan menang melawanku. Hahaha"

"Kau pasti curang!" Bantah Kyuhyun. "Coba aku melawan Minho, aku pasti menang! Cepat berikan stiknya pada Minho."

Sehun tertawa. "Coba saja kalahkan dia! Hahaha" Sehun pun menyerahkan stiknya pada Minho.

Changmin yang duduk di sofa mendengus. "Cih! Melawan Sehun saja tidak bisa! Sudahlah, kau naik saja ke kamar, lalu istirahat!"

"Setelah itu kau akan menyusulnya, dan ikut tidur disampingnya, begitukan?" Celetuk Heechul yang baru bergabung. Dia duduk di samping Arrum.

Bruuk! Sebuah bantal bersarang tepat di wajah Heechul, hasil lemparan Changmin.

"Jangan sok tahu!"

"Aku bukan sok tahu, Changmin. Aku bicara fakta. Benarkan Arrum?"

Arrum mengangguk setuju. "Tepat sekali."

"Bilang saja kalian iri!" Sahut Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

"Iri bagaimana?" Protes Heechul.

"Iya, oppa pasti iri karena tidak ada yeoja yang oppa peluk ketika tidur, begitu juga Arrum, tidak ada namja yang memelukmu. Beda denganku dan Changmin."

Perkataan Kyuhyun berhasil membuat Heechul dan Arrum terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Suasana henung itu terjaga sampai pada akhirnya terdengar tawa Changmin.

"Hahahaha... Lihat wajah kalian berdua! Ya ampun, lucu sekali! Hahaha" Changmin sampai memegangi perutnya.

Minho melirik Heechul lalu tertawa kecil. "Sepertinya kata-kata Kyu noona barusan sangat menusuk kalian. Hahaha"

Changmin kembali tertawa. "Sepertinya begitu. Hahaha" Changmin menepuk puncak kepala Kyuhyun. "Kali ini kau pintar Kyuhyun."

Kyuhyun mencibir. "Terserah!"

tok tok tok

Seluruh orang yang ada di ruang tengah itu memutar kepalanya ke arah ruang tamu.

"Siapa yang bertamu di hari minggu ini?" Tanya Arrum. "Kau?" Dia bertanya pada Minho.

"Tidak." Ujar Minho. "Mungkin teman Heechul hyung."

Heechul menggeleng. "Apalagi aku. Tidak mungkin." Heechul melirik Changmin. "Mungkin itu teman yeoja Changmin. Yoona atau siapa namanya?"

Kyuhyun langsung menatap Changmin, mengabaikan permainannya dan Minho. "Kau mengundang mereka lagi?"

Changmin langsung menggeleng tegas. "Tidak! Untuk apa aku mengundang mereka."

Tok tok tok

"Astaga! Kenapa kalian malah berdiskusi, hah?! Harusnya kalian membukakan pintu untuk tamu itu!" Omel Jaejoong sambil berjalan menuju ruang tamu.

Setelah Jaejoong berlalu, mereka kembali memusatkan perhatian pada permainan Kyuhyun dan Minho.

"Aaaaargh!"

"Aku menang!" Seru Minho.

"Lihat! Kau itu tidak bisa bermain. Ayo cepat! Kita ke atas saja!" Cetus Changmin.

"Iya Kyu, Changmin sudah tak tahan ingin segera memelukmu." Sahut Heechul. Dia benar-benar tidak jera menggoda Changmin meski kata-kata Kyuhyun tadi masih terngiang di telinganya.

Changmin mendengus. "Terserah kau saja hyung. Aku tahu kau itu iri."

Heechul sudah hampir melempar Changmin dengan bantal ketika Jaejoong tiba-tiba datang dan berkacak pinggang, menatap Heechul kesal. " Di depan itu kekasihmu! Kenapa kau tidak membuka kan pintu untuknya, hah?!"

Semua menata Heechul. Mereka penasaran dengan kekasih Heechul karena Heechul tak pernah mengenalkannya pada mereka. Kecuali Changmin, ia pernah bertemu sekali dengan kekasih Heechul itu, ketika kekasih Heechul mengira kalau Arrum adalah selingkuhan Heechul.

"Kekasih Heechul oppa/hyung?!" Seru mereka. Minho, Kyuhyun, Arrum, Sulli dan Sehun.

Dalam satu gerakan mereka langsung berdiri dan menghambur ke ruang tamu membuat Heechul melongo. Sedangkan Changmin hanya bisa terkaget-kaget karena Kyuhyun juga ikut berlari tanpa memikirkan kandungannya.

"KYUHYUNNN!" Teriak Changmin.

"Hai!" Arrum yang lebih dulu memasuki ruang tamu menyapa kekasih Heechul yang bermata kucing itu.

Yeoja itu tersenyum. "Hai."

"Oh, hai!" Kyuhyun, Minho, Sehun dan Sulli menyapa bersamaan.

Yeoja itu kembali mengulum senyum.

" Aku Minho!"

"Aku Sehun dan ini kembaranku, Sulli."

"Aku Arrum."

"Dan aku Kyuhyun."

Yeoja itu mengangguk meski tidak langsung mengingat nama-nama orang di hadapannya, karena mereka mengucapkan namanya dengan cepat.

Heechul hanya bisa menggaruk kepalanya, melihat saudara-saudaranya memperkenalkan diri pada kekasihnya.

"Ah, ya, aku Kim Hyoyeon. Salam kenal."

Kyuhyun dan pasukan ber-oh ria. "Salam kenal." Ucap mereka bersamaan.

Mereka mempersilahkan yeoja bernama Kim Hyoyeon itu duduk, sedangkan mereka duduk di hadapan Hyoyeon. Terlihat jelas kalau Hyoyeon salah tingkah ketika seluruh saudara Heechul menatapnya.

"Jangan menatapnya seperti itu!" Ketus Heechul sambil duduk di samping Hyoyeon. "Kenapa kalian masih di sini? Pergilah!"

Tidak ada yang mendengarkan perkataan Heechul.

"Hyoyeon eonni, kau manusia?" Tanya Sulli polos. "atau vampire hmphffhmpf" Sulli tidak menyelesaikan ucapannya karena mulutnya sudah du bekap oleh Minho.

Hyoyeon tersenyum. "Aku tahu. Aku manusia."

Mereka menatap Hyoyeon takjub.

"Kau tahu Heechul oppa vampire? Kau tidak takut?" Tanya Arrum tak percaya.

"Kalau vampire seperti Heechul oppa, tidak akan ada yang takut. Beda dengan Changmin." Cetus Kyuhyun tanpa berpikir. Sedetik setelah itu dia langsung membekap mulutnya saat melihat Changmin tengah menatapnya tajam.

"Silahkan di minum." Jaejoong kembali masuk ke ruang tamu. "Kenapa kalian semua berkumpul disini?! Biarkan Heechul bersama kekasihnya!"

"Kami hanya berbicara sebentar." Ujar Arrum.

Heechul melemparkan tatapan tajam pada Minho, Arrum namun mereka mengabaikannya

"Kau satu kampus dengan Heechul ya?"

"Ya. Kami juga astu fakultas." Sahut Hyoyeon.

Mereka malah asyik mengobrol dan Hyoyeon menanggapinya dengan antusias, mengabaikan Heechul yang notabennya adalah kekasihnya. Mereka menceritakan kebiasaan buruk Heechul pada Hyoyeon membuat Heechul hanya bisa tersenyum kikuk ketika Hyoyeon menatapnya.

"Ku rasa, alasan dia menggodaku dan Changmin karena dia iri." Sahut Kyuhyun. "Dia sangat ingin memelukmu ketika tidur, atau kau yang memeluknya. Dan hal yang paling dia inginkan adalah..."

"MORNING KISS!" Seru Minho, Arrum dan Kyuhyun kompak.

"Hahahahaha"

Tanpa komando, wajah Heechul dan Hyoyeon memerah. mereka langsung menundukkan wajahnya serendah mungkin.

"Hyung! Wajahmu memerah. Hahaha" Changmin ikut tertawa. Jarang-jarang dia bisa membuat kakaknya itu malu.

"Jadi, kalian cepat-cepat menikah saja, agar dia tidak menggodaku lagi. Oke?" Ujar Kyuhyun lagi.

"Hyung juga pasti tidak sabar ingin segera 'melakukannya'." Changmin kembali menggoda Heechul.

Arrum tertawa. "Iya kau benar, Changmin! Hahaha."

Mereka kembali tertawa, saat wajah Heechul dan Hyoyeon semakin memerah. Kapan lagi bisa menggoda si Raja Jail ini, kalau bukan sekarang?

.

.

CHANGMIN's POV

Aku melangkahkan kakiku memasuki kamar. Kali ini aku lebih memilih masuk lewat pintu dapur dari pada lewat balkon seperti biasa.

Mataku menyipit saat mendapati tempat tidur kosong. Seingatku didapur hanya ada Umma, sudah pasti Kyuhyun ada di kamar. Tidur seperti biasa. Ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan dia baru bangun.

"Kyuhyun!" Aku memanggilnya.

Tidak ada sahutan.

Aku berjalan ke kamar mandi. Ketika tanganku sudah terulur untuk membuka pintunya, pintu itu tiba-tiba terbuka, membuatku terkejut.

"Astaga! kau membuatku kaget, Changmin!" Seru Kyuhyun kesal.

"Memangnya kau saja yang terkejut?! Aku juga!" Ucapku tak kalah kesal.

Kyuhyun mendengus lalu berjalan melewatiku.

Ku perhatikan dia yang sedang berdiri di depan cermin meja rias. Dia terlihat semakin gemuk, ku rasa.

"Ya Tuhan! Aku semakin gemuk. Lihat pipiku!" Kyuhyun menggerutu.

Aku terkekeh. "Memang," sahutku lalu berjalan ke tempat tidur dan duduk di pinggirnya.

Kyuhyun mendengus. "Harusnya kau bilang 'tidak Kyuhyun yang cantik. Kau tidak gemuk, tapi kau terlihat sangat seksi' dasar suami aneh!"

Aku memutar bola mataku jemu. Bosan mendengar kepercayaan dirinya.

Kalau di perhatikan, dia tidak terlalu gemuk. Tapi kalau mengingat tubuhnya sebelum hamil, dia memang sangat gemuk. Lihat pipinya. Rasanya ingin mencubitnya saja. Lagi pula dia benar. Kalau dia memakai dress, dia terlihat seksi karena perutnya itu.

"Apa yang kau pikirkan?" Kyuhyun membuyarkan lamunanku. "Kau pasti membayangkan yang tidak-tidak!"

Aku mencibir. "Jangan sok tahu!" Lalu membaringkan tubuh. Aku ingin tidur sebelum pergi kuliah jam 10 nanti.

Ketika aku hampir tertidur, tempat tidur berguncang. Jangan di tanya ulah siapa. Tentu saja ulah istriku, Kyuhyun.

"Changmin!"

"Aku tidur, Kyuhyun!" Ucapku tanpa membuka mata.

"Kuliah kan jam 10. Ini masih jam setengah 7."

"Lalu kau mau apa?!" Tanyaku sambil mengeratkan pelukanku pada guling.

"Jam 7 nanti, Heechul oppa mengajakku jalan-jalan ke taman, oppa bersama Hyoyeon eonni sedangkan aku denganmu."

"Kalau aku tidak ikut?" Aku ingin mengetes Kyuhyun. Harusnya, kalau aku tidak ikut, dia juga tidak usah ikut.

"Aku bersama Minho."

Aku langsung membuka mataku dan duduk di tempat tidur. "Apa?!"

Alis Kyuhyun bertaut. "Kenapa kau histeris seperti itu?"

Aku mengendalikan raut wajahku agar terlihat datar. "Histeris? Jangan bercanda. Aku hanya bertanya."

Kyuhyun mencibir. "Ya sudah, aku mau turun, menunggu Heechul oppa."

Braak! Pintu kamar pun ditutup dari luar.

Tanpa berpikir lebih lama lagi, aku segera bangkit dari tempat tidur dan segera menukar pakaian. Setelah mengambil handuk kecil, aku langsung melesat ke bawah.

"Bagaimana? Heechul hyung sudah datang?" Tanyaku pada Kyuhyun yang sedang meminum susu khusus ibu hamilnya.

"Dia sedang dalam perjalanan," ucap Kyuhyun sambil membersihkan mulutnya dari sisa susu.

setengah jam kemudian, kami sudah berada di sebuah taman yang cukup terkenal di daerah Seoul. Dan kali ini, aku dan Kyuhyun sedang duduk di bangku taman, sedangkan Heechul dan Hyoyeon masih melanjutkan jalan-jalan paginya.

"Masih lelah?" Tanyaku pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk. "Ne."

Aku kembali menoleh kearah kolam yang tak jauh berada dari posisi kami. Namun, tiba-tiba saja, aku merasa sebuah tangan melingkar di lengan atasku di susul dengan kepala yang disandarkan pada bahuku. Aku tersenyum. Belakangan ini. Semenjak usia kandungannya memasuki usia delapan bulan, dia jadi sedikti lebih manja dari biasanya. Seperti kemarin siang, dihadapan pegawai Umma di butik, dia malah menyuruhku untuk menciumnya.

"Apa? Menciummu?" Tanyaku tak percaya.

"Iya. Orang yang sudah menikah biasnya kan selalu berciuman sebelum berpisah"

Aku menggaruk tengkukku bingung. Pegawai Umma ku lihat kesusahan menahan tawanya. "Kau serius?" Bukannya aku tidak mau menciumnya, tapi saat ini kami sedang di dalam butik.

Akhirnya, dengan menahan rasa malu, aku mencium kening Kyuhyun cepat dan tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung kabur dari sana.

"Changmin!"

Aku terlonjak. "Ya?" Aku menatap Kyuhyun bingung. Pikiranku tidal fokus karena mengingat kejadian kemarin.

"Kau dengar ucapanku tidak?"

Aku menggeleng. "Apa yang kau ucapkan?"

Kyuhyun tersenyum. "Tidak ada."

Aku menatapnya tajam. "Katakan padaku."

Kyuhyun menggeleng. "Tidak seru kalau di ulang lagi." Ucap Kyuhyun. "Aku juga sudah tidak yakin akan melakukannya."

Aku jadi semakin penasaran. "Kyuhyun?"

Kyuhyun tertawa lepas. "Oke tutup matamu."

Aku yakin apa yang akan dilakukannya pasti membuatku malu. Tapi aku tetap menutup mataku.

"Saranghae, Changmin."

Aku mendengar bisikan Kyuhyun. Membuatku tersenyum. Lalu tiba-tiba, ketika aku masih menutup mata, sesuatu yang lembab namun lembut menyentuh bibirku. Sedetik kemudian, Kyuhyun menjauhkan wajahnya.

Aku membuka mataku sambil tersenyum. Lalu menatapnya yang sedang tertunduk. Apa itu bawaan bayi-bayi kami? Kerja bagus nak.

"Jadi itu yang kau lakukan?" Tanyaku meremehkan. "Aku juga bisa!"

Dia menatapku heran. "Hah?"

Aku menarik tengkuk Kyuhyun, ketika bibir kami hampir bersentuhan, tiba-tiba terdengar teriakan Heechul. Membuatku ingin melemparnya ke kolam saat ini juga.

"HEI! INI DI TAMAN! KALAU INGIN BERMESRAAN, PULANG SAJA!"

Orang di sekitar kami menoleh kearah kami, lalu tersenyum kecil.

"Damn!"

.

.

Kyuhyun mendesah keras-keras saat Changmin terus berusaha membangunkannya. Dengan susah payah, Kyuhyun membuka matanya yang terasa berat. Belakangan ini, semenjak usia kandungannya memasuki bulan ke delapan, dia sedikit malas bangun. Tapi menurut Changmin, dia memang sudah malas bangun pagi semenjak dulu.

"HEECHUL OPPA?!"Seru Kyuhyun terkejut. "Apa yang oppa lakukan disini?!"

Heechul mendesah putus asa. "Tentu saja membangunkanmu adik ipar!"

Kyuhyun duduk perlahan. Perutnya yang saat ini sudah cukup besar, tidak memungkinkan lagi baginya untuk duduk tiba-tiba, atau secara cepat. "Dimana Changmin?"

Heechul melihat jam tangannya. "Kurasa, saat ini dia masih belajar."

"MWO?!" Kyuhyun kembali berseru. Ia segera melihat jam. 8.30.

Heechul mengusap telinganya. "Jangan berteriak di telingaku, Kyuhyun!"

"Jadi Changmin sudah pergi?!" Tanya Kyuhyun tak percaya. "Dia meninggalkanku ketika aku masih tidur? Apa dia tak mau mengantarku ke tempat Umma?" Kyuhyun merengek.

"Wow! Tahan Kyuhyun, jangan menangis, oke?" Ucap Heechul sedikit panik. Saat ini hanya dia dan Kyuhyun di rumah, karena dia memang tidak kuliah. karena itulah, dia menyuruh Changmin pergi kuliah sementara Kyuhyun masih tidur agar adiknya itu tidak terlambat. Ia tidak tahu kalau reaksi Kyuhyun akan kecewa seperti ini.

"Sudahlah, aku mau tidur lagi." Ketus Kyuhyun, dan kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

"Tapi Kyu, kau sarapan dulu, minum susu baru tidur lagi. Bagaimana?" Tawar Heechul.

Dari dalam selimut dia menggeleng. "Tidak mau." Ia sedang kesal pada Changmin karena Changmin pergi kuliah tanpa membangunkannya, dan pamit padanya.

Heechul menggaruk tengkuknya bingung. "Tapi Changmin menyuruhmu sarapan paling lambat jam 8.30 Kyuhyun."

Kyuhyun mengeluarkan kepalanya dari selimut. "Aku tidak mau mendengarkannya. Terserah dia saja."

"Tapi Kyu, kalau dia mengomel padaku bagaimana?" Heechul memohon. "Kau kan tahu, dia itu memang adikku, tapi kadang-kadang dia bisa bersikap seperti kakakku!"

"Tutup saja teliga oppa kalau dia mengomel." Ucap Kyuhyun. "Sudahlah oppa! Keluar sana! Aku ingin tidur."

Saat Heechul akan kembali membujuk Kyuhyun, ponselnya berbunyi. "Lihat, dia sudah menelfonku!" Keluh Heechul pada Kyuhyun karena orang yang menelfonnya adalah Changmin. Dengan malas, Heechul mengangkat telfonnya.

"Yeoboseo?"

"..."

"Belum, dia.."

"..."

"Oke." Ujar Heechul patuh. Terpaksa. Padahal saat ini dia ingin berteriak di depan wajah Changmin.

"Kau tahu apa katanya barusan?"

Kyuhyun menggeleng.

"Dia mengataiku bodoh! Kakak tidak berguna, dan tak bisa diandalkan!" Heechul mengucapkannya dengan berapi-api.

Kyuhyun terkekeh kecil. Changmin itu memang kurang ajar.

"Dasar adik kurang ajar! Seharusnya, dia tidak berkata seperti itu pada kakaknya! Dia itu tidak tahu sopan santun! Satu-satu adikku yang kurang ajar hanya dia! Apa jangan-jangan dia bukan adikku? Dia sangat berbeda dengan Arrum, kau tahu? Menurutmu bagaimana?"

Kyuhyun menggeleng lagi.

"Sudahlah! Aku bisa gila mengingat kata-kata dia terus!' Heechul mengibaskan tangannya. "Sekarang, cepat kau bangun lalu sarapan!" Sambung Heechul.

"Eeeerrgh! Aku kan sudah bilang tidak mau!" Bantah Kyuhyun.

Heechul mendesah. Kali ini dia sudah tidak bisa bersabar lagi. Dia juga tak ingin bayi Kyuhyun kekurangan gizi. "KYUHYUN!" Bentak Heechul. Heechul mempertahankan wajah kesalnya, padahal, dia paling tidak bisa memarahi orang.

Kyuhyun terkejut. Tidak menyangka Heechul akan membentaknya. "N-ne?" Ucap Kyuhyun takut-takut.

"Aku-mau-kau-turun-lalu-habiskan-sarapanmu!" Heechul mengeja tiap katanya.

"Baik." Ucap Kyuhyun tanpa membantah lagi.

Kyuhyun memakan makanannya dalm diam, sementara Heechul duduk di hadapannya. Dia tidak berani menatap Heechul, atau megajak Heechul berbicara karena masih syok atas kejadian tadi.

"Makananya enakkan?" Tanya Heechul. Dia juga merasa bersalah karena sudah membentak Kyuhyun dan sekarang adik iparnya itu tidak mau berbicara dengannya.

"Enak." Ucap Kyuhyun tanpa menatap Heechul. Dia tetap menunduk.

"Eerrr... Soal yang tadi, aku minta maaf ya? Aku tidak bermaksud membentakmu." Ucap Heechul. "Aku hanya ingin kau sarapan, itu saja."

Kyuhyun menatap Heechul dan tersenyum manis, "tidak. Aku yang harus minta maaf. Karena aku, oppa jadi di marahi Changmin." Ucap Kyuhyun.

Heechul terkekeh. "Dia kan memang seperti itu."

"Oh ya oppa, kapan ulang tahun Changmin?" Tanya Kyuhyun sambil membersihkan mulutnya.

Heechul berpikir sejenak. "Ulang tahun Changmin? Berarti ulang tahun Arrum juga ya?"

"Iya. Kapan? Aku ingin memberi mereka kejutan."

"Astaga! Ulang tahun mereka hari ini!" Seru Heechul. "Kenapa tidak ada yang ingat?! Demi Tuhan, ada apa dengan seluruh penghuni rumah ini?!"

Mata Kyuhyun melebar. "Oppa serius?"

"Aku tidak bercanda Kyuhyun!" Tukas Heechul. "Umma pasti sangat sibuk, sampai-sampai melupakan ulang tahun Arrum dan Changmin!"

"Apa yang akan kita lakukan?!" Seru Kyuhyun.

"Biasanya, aku dan Minho akan memberikan hasil buruan pertama kami pada mereka berdua."

Kyuhyun bergidik takut. "Darah, maksudmu?"

Heechul mengangguk, "tentu saja."

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Itu pasti sangat menjijikkan."

Heechul tertawa. "Bukannya kau dulu sangat menginginkannya?"

Kyuhyun menggeleng. "Terkutuklah diriku, kalau aku sampai menginginkan darah hewan itu."

Heechul tertawa lepas. "Kau ini benar-benar!" Ucapnya.

Hening.

Kyuhyun ingin memberikan kejutan pada Changmin, seperti yang Changmin pernah lakukan padanya.

"Aku tahu kejutan yang harus kau berikan pada Changmin!" Seru Heechul.

"Saengil chukkae, Arrum!" Seru Kyuhyun, Heechul dan Minho begitu Arrum memasuki rumah.

Arrum membekap mulut, terharu. "Huaaa, terima kasih!"

"Ayo tiup lilinnya!" Seru Minho.

Saat itu baru Minho, Kyuhyun dan Heechul yang memberikan kejutan pada Arrum. Sedangkan Changmin masih belum pulang. Termasuk Jaejoong, Yunho, Sulli dan Sehun.

"Yeeee!" Mereka kembali berseru saat Arrum selesai meniup lilinnya.

Tiba-tiba mereka terdiam saat mendengar suara mesin mobil. Changmin.

"Kau paling depan Kyuhyun!" Ucap Heechul.

Mereka bersembunyi di balik dinding penghubung ruang tengah dan ruang tamu.

"Aku pulang!"

"Saengil chukkae, Changmin?!" Ucap Kyuhyun sambil berdiri di hadapan Changmin,

Changmin menatap Kyuhyun tak percaya. Ia sangat kesal saat pulang dari hutan tadi pagi, karena Kyuhyun tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Bertambah kesal saat Kyuhyun tidak mau di bangunkan. Dan sekarang, yeoja itu berdiri di hadapannya sambil memegang kue, dan mengucap kata-kata itu padanya. Dia langsung memeluk Kyuhyun.

"Gomawo, Kyu" bisik Changmin di telinga Kyuhyun.

"Sama-sama" ucap Kyuhyun.

"Sudah! Jangan berpelukan terlalu lama. Tiup lilinnya. Kyuhyun sudah punya hadiah khusus untukmu." Sahut Heechul. Merusak moment romantis yang sudah tercipta. Bahkan, Changmin sudah hampir mencium Kyuhyun, kalau Heechul tidak bersuara.

Changmin menata Heechul tajam. Seolah mengisyaratkan 'tunggu pembalasanku'. "baiklah. Aku harus mengucapkan permohonan ya?" Tanya Changmin,

Kyuhyun mengangguk. "Tentu saja!"

Changmin tersenyum, lalu mulai memejamkan matanya.

"Tuhan, aku ingin Kyuhyun selamat saat persalinannya nanti. Aku ingin bayi-bayiku sehat. Dan terakhir, aku ingin hidup bersama mereka sampai akhir hayatku."

Fuuuuh!

"Yeee!" Mereka kembali berseru.

"Ayo Kyuhyun, kadomu! Berikan padanya." Ujar Heechul.

Kyuhyun tersenyum, "pegang kue ini, Minho." Kyuhyun menoleh pada Changmin. "Tutup matamu."

"Kau ingin menciumku, ya?" Tebak Changmin sambil menutup matanya.

"Itu pasti harapanmu!" Ketus Arrum.

Kyuhyun pun pergi kedapur tempat dia meletakkan kado untuk Changmin. Heechul bilang, Changmin sangat menyukai sesuatu yang akan diberikannya ini. Sambil tersenyum kecil, Kyuhyun berdiri di depan Changmin.

"Kyuhyun memberinya 'itu'?" Tanya Arrum tak percaya.

"Sudah! Kau diam saja! Ini ideku!" Jawab Heechul kesal.

"Tapi, Changmin..."

"Tutup mulutmu!" Ujar Heechul lagi.

Kyuhyun menarik napas, "oke, kau bisa membuka matamu." Ucap Kyuhyun.

"1...2...3!"

"AAAAAAAAAAAA!" Changmin berteriak histeris. "KUCIIIIINNGGG" Changmin langsung lari kearah tangga, dan masuk kekamarnya.

Kucing dalam gendongan Kyuhyun langsung kabur entah kemana, karena terkejut mendegar jeritan Changmin.

"Hahahahahahahaa!" Heechul langsung tertawa terbahak-bahak bersama Minho.

Sedangkan Kyuhyun tak tahu harus berbuat apa. Heechul bilang, Changmin menyukai kucing. Lalu kenapa sekarang Changmin malah kabur?

"AKU BENCI KUCING KYUHYUNNN!" Changmin berteriak kesal dari lantai atas.

.

.

Kyuhyun bertopang dagu di meja makan. Sekarang sudah sore. Semenjak ia memberikan kucing pada Changmin tadi siang, namja itu tak pernah lagi mengajaknya berbicara. Termasuk saat makan siang. Changmin hanya menyantap makanannya tanpa menoleh sedikit pun padanya. Dan setelah itu, namja itu pergi keluar dan sudah sesore ini masih belum pulang.

Kyuhyun mendesah untuk kesekian kalinya.

"berhentilah mendesah Kyuhyun." tegur Heechul yang saat itu melewati ruang makan. "suami tercintamu itu pasti akan pulang."

Kyuhyun memberengut.

"percuma dia pulang, kalau tidak bicara padaku!"

Heechul terkekeh.

"itu kan karena kau memberinya kucing. Kau ini bagaimana? Suamimu takut kucing, tapi kau malah memberikan kucing padanya."

wajah Kyuhyun semakin kusut. "aku kan tidak tahu kalau dia takut kucing!" katanya kesal.

"lagi pula, itukan idemu! Kupikir Changmin benar-benar menyukai kucing!"

Heechul kembali tertawa.

"makanya, lain kali, jangan dengarkan kata-kata Heechul oppa lagi!" sahut Arrum yang baru bergabung dengan mereka.

"tapi tidak semua kata-kataku bohong!" sungut Heechul.

Arrum memutar bola matanya. "tidak semua." katanya. "tapi hampir semua ucapan oppa tidak pernah benar."

"issh kau!" Heechul sudah hampir melempar Arrum dengan buah jeruk jika yeoja itu tidak segera masuk ke dapur. Heechul beralih pada Kyuhyun yang tengah menelungkupkan kepalanya diatas meja makan. "kau telepon saja dia. Lalu minta maaf. Dan bilang, kau tidak tahu kalau dia benci kucing."

Kyuhyun mengangkat kepalanya lalu berteriak kesal. "ini semua karena oppa! Bukankah sudah ku katakan? Dia tidak mau berbicara denganku! Kalau aku menelfonnya, otomatis dia tidak akan mengangkat telepon dariku!"

Heechul mengangkat bahu tak peduli. "sekarang terserah kau saja. Aku sudah memberi saran, so, aku bebas dari tanggung jawab." katanya santai. "lagipula, aku ingin tidur. Bye adik ipar!"

Kyuhyun menghembuskan nafas keras-keras begitu Heechul hilang dari pandangannya. "bagaimana caranya aku minta maaf?" gumamnya. "lagipula, ini juga salahku. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui apa yang tidak disukai suamiku sendiri? Istri macam apa aku ini?"

"kau sudah jadi istri yang baik Kyuhyun." sahut Arrum sambil berjalan menuju ruang tengah. Menonton bersama Minho.

Kyuhyun melihat jam tangannya. Sudah jam 5 lebih sepuluh menit. Sedangkan Changmin pergi sejak jam 2 tadi siang.

Kyuhyun menatap layar ponselnya yang menampilkan nomor ponsel Changmin. Ia sedang bingung. Ia ingin menelfon Changmin, tapi takut tidak diangkat. Sedangkan kalau dia tidak menelfon, dia penasaran dimana keberadaan Namja setengah vampire itu.

Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk menelfon Changmin. Namun, begitu ia menghubungi namja itu, bukannya masuk, panggilan itu malah dijawab oleh operator yang menyatakan nomor Changmin tidak aktif.

"kau dimana Changmin!?" erang Kyuhyun.

Kyuhyun tengah berbaring di tempat tidur begitu pintu kamarnya terbuka. Masuklah Changmin dengan wajah datarnya seperti biasa, namun namja itu terlihat membawa kantong belanjaan. Seperti dari mall.

Kyuhyun segera melihat jam. 6.50 pm. Setengah ragu Kyuhyun memanggil Changmin. "Changmin?"

Changmin tak menjawab. Ia terus melanjutkan kegiatannya yang tengah membuka kemeja yang dia gunakan seharian ini.

Kyuhyun berdehem dan kembali memanggil Changmin. "Changmin?"

Lagi-lagi tak ada jawaban. Changmin berjalan kesudut ruangan mengambil handuk.

"Changmin?" panggil Kyuhyun lagi.

Langkah Changmin terhenti begitu tiba didepan pintu kamar mandi. Dia berbalik dan menatap Kyuhyun kesal. "kau itu mau bicara apa? Sedari tadi hanya memanggil namaku terus?!"

"eerr...tidak jadi." ucap Kyuhyun. Nyalinya langsung ciut saat mendengar nada suara Changmin.

Changmin mendesah. Lalu bersidekap, tanpa mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. "katakan saja apa yang ingin kau katakan. Sebelum aku benar-benar masuk ke kamar mandi."

"kau...soal tadi siang itu... Kau marah padaku?"

"siapa yang tidak marah kalau diberi sesuatu yang paling dia takuti?" Changmin bertanya balik.

Kyuhyun menggaruk tengkuknya bingung. "kalau aku minta maaf, kau mau memaafkanku tidak?"

Changmin mengangkat bahu. "ya. Jika kau benar-benar minta maaf."

"aku benar-benar minta maaf." sahut Kyuhyun cepat.

Changmin mengerutkan keningnya, terlihat berpikir keras. "akan ku pertimbangkan permintaan maafmu."

blaaam. Changmin menutup pintu kamar mandi dengan sedikit keras.

Kyuhyun langsung mendesah keras. "kenapa permintaan maafku harus di pertimbangkan dulu?! Dasar vampire aneh!" gerutu Kyuhyun. "aduuh!" Kyuhyun mengerang karena perutnya di tendang dari dalam. "astaga! Kalian berlebihan sekali. Hanya karena umma bilang Appa kalian vampire aneh, kalian langsung marah." Kyuhyun mengusap perut besarnya.

15 menit kemudian, Changmin keluar dari kamar mandi, sudah rapi dengan kemeja ungu yang lengannya dia gulung hingga siku yang dipadukan dengan celana jeans putih. Mata Kyuhyun menyipit melihatnya.

"kau mau kemana?" tanya Kyuhyun penasaran bercampur curiga.

.

.

Dengan hati-hati, Kyuhyun menuruni tangga. Mulai hari ini, dia tidak akan pergi ke butik lagi sementara Changmin pergi kuliah, karena jadwal kuliah Minho, Heechul dan Changmin tidak ada yang bersamaan, jadi mereka bisa menemani Kyuhyun dirumah.

Kyuhyun pun duduk diruang tengah. Hanya duduk disana, tanpa melakukan apa-apa. Hanya saja, pikirannya dipenuhi kejadian yang di alaminya tadi malam.

"kalau noona terus tersenyum seperti itu, orang bisa menganggapmu gila." tiba-tiba saja Minho muncul lalu duduk di samping Kyuhyun dan menghidupkan tv.

"ish! Kau ini mengganggu saja!" gerutu Kyuhyun.

"ehem!" tiba-tiba Heechul juga ikut duduk di sampingnya.

Kyuhyun memutar bola matanya. Pasti namja ini akan menggodanya.

"bagaimana dia tidak tersenyum kalau pikirannya di penuhi moment dinner romantis bersama Changmin tadi malam?" kata Heechul.

Flashback

"kau mau kemana?"

Bukannya menjawab, Changmin malah mengambil kantong belanjaan yang dia bawa tadi dan menyerahkannya pada Kyuhyun.

"gunakan pakaian yang ada didalamnya kalau kau ingin di maafkan." katanya datar, lalu keluar dari kamar.

Kyuhyun pun mengeluarkan pakaian yang dimaksud Changmin. Matanya membulat begitu menyadari kalau itu adalah gaun malam. Gaun itu berwarna ungu, persis dengan kemeja Changmin, berlengan tiga perempat, dan panjangnya mencapai mata kaki. Gaun itu lumayan besar dan sepertinya sangat cocok untuknya yang sedang hamil.

Setelah selesai berdandan, Kyuhyun keluar dari kamar lalu menghampirinya diruang tengah. Ternyata, dia sana ada seluruh keluarga kecuali Arrum, karena sepengetahuannya Arrum pergi keluar dengan teman-temannya.

"Noona, kau cantik sekali."

"tentu saja!" sahut Changmin tanpa sadar. Sedetik kemudian, dia menyadari kebodohannya karena semua orang menatapnya dengan senyum penuh arti. Changmin berdehem, lalu berdiri. "baiklah. Aku dan Kyuhyun pergi dulu."

"aku pergi." pamit Kyuhyun.

Selama perjalanan, mereka hanya diam. Tak ada suara apapun, termasuk suara musik. Membuat Kyuhyun kesal, dan rasanya ingin mencakar wajah Changmin karena wajah namja itu terlalu datar.

Tak berapa lama, mereka tiba di sebuah hotel mewah. Kyuhyun menatap Changmin minta penjelasan.

"kenapa ke hotel?" tanya Kyuhyun.

"ayo turun!"

Kyuhyun hanya menurut saat Changmin menggenggam tangannya memasuki hotel itu. Mereka disambut hangat oleh salah satu pelayan hotel dan orang itu membawanya ketempat tertinggi di hotel itu. Atap hotel.

Atap hotel itu benar-benar luas. Tidak ada dinding atau pun atap. Atapnya adalah langit yang saat itu ditaburi bintang. Ditengah atap itu ada dua buah bangku yang saling berhadapan, dengan meja ditengahnya. Sepertinya makanan juga sudah disediakan.

"terima kasih." ujar Changmin pada pelayan itu, lalu beralih pada Kyuhyun, "ayo kesana."

Kyuhyun mengangguk. Dan mengikuti Changmin.

Lalu mereka duduk berhadapan.

Angin musim semi berhembus, menggoyang rambut Changmin hingga membuatnya berantakan. Namun, dengan rambutnya seperti itu, Changmin malah terlihat semakin tampan.

"kau suka?"

Kyuhyun mengangguk dan memandang kesekelilingnya. "ini pertama kalinya aku berada di atap hotel." katanya. "oh ya, kenapa kau membawaku kesini?"

"merayakan ulang tahunku."

"tapi aku tidak punya kue."

"tidak perlu kue." tegas Changmin. "yang perlu kau lakukan hanyalah menghabiskan malam ini, bersamaku."

Setelah makan malam mereka, Changmin berjalan kesebuah grand piano hitam yang letaknya tak jauh dari mereka. Lalu Changmin mulai menyanyi.

Kyuhyun hanya menatap Changmin tanpa bergerak sedikitpun. Dia menyukai alunan lagu yang dilantunkan Changmin, termasuk suara namja itu. Berat, namun halus. Menenangkan hatinya, namun juga membuat jantungnya berdebar karena pada saat-saat tertentu Changmin menyanyi sambil menatapnya. Tepat pada matanya.

I wish we had another time.

I wish we had another place.

But everything we have is stuck in the ummaent.

Adn there's nothing my heart can do.

To fight with time and space cause I'm still stuck in the ummaent with you.

Namun, entah kapan, tiba-tiba saja Changmin sudah berjongkok dihadapannya, membuatnya sedikit menunduk. Alisnya terangkat bingung.

"ada apa..."

Sebelum ucapannya selesai, bibir Changmin sudah menempel dibibirnya. Kemudian namja itu berbisik ditelinganya. "Saranghae."

Flashback End

"lihat! Dia tersenyum lagi!" suara Heechul membuat Kyuhyun lepas dari lamunannya.

Kyuhyun mengambil bantal sofa dan memukulkannya pada wajah Heechul. "Oppa! Cepatlah menikah dengan Hyoyeon eonni! Agar kau tidak mengganggu hidupku terus!"

Heechul terkekeh. "asal kau tahu saja, mengganggumu itu termasuk hal yang menyenangkan!"

Kyuhyun mendengus lalu beralih pada tayangan di televisi.

Selang beberapa menit, Kyuhyun merasa perutnya sakit. Tapi dia tidak memberitahu Heechul karena hal seperti lumayan sering terjadi belakangan ini. Kontraksi palsu. Namun, semakin lama, sakitnya semakin terasa, hingga membuatnya menggigit bibir bawahnya agar tidak menjerit. Karena tidak tahan lagi, Kyuhyun mencengkram lengan Minho dan berteriak.

"HEECHUL OPPA! PERUTKUU!"

.

.

"HECHUL OPPA! PERUTKUU!"

Heechul menatap Kyuhyun sekilas, lalu kembali menatap televisi. "Kyuhyun, itu kontraksi palsu lagi kan? Sudahlah, jangan histeris begitu." ucapnya santai.

Kyuhyun menggeleng dan semakin menggigit bibir bawahnya. Perutnya saat ini benar-benar sakit. Serasa ditendang-tendang sangat kuat dari dalam, sampai dia khawatir kalau perutnya akan meletus atau sebagainya.

"AAAAAARRGGGH!" terdengar dua teriakan sekaligus.

Heechul menatap Kyuhyun dan Minho bergantian. "kalian kenapa?" tanyanya bingung.

"PERUTKUU! / LENGANKU!" Kyuhyun dan Minho berteriak bersamaan.

Heechul langsung panik. "Kyuhyun? Kau benar-benar mau melahirkan? Bagaimana mungkin? Cepat sekali?"

Kyuhyun memelototi Heechul karena pertanyaan anehnya. Saat dia akan menjawab, perutnya kembali sakit. "CHANGMINN!"

Minho yang lengannya di cengkram Kyuhyun ikut-ikutan menggigit bibir karena kuku-kuku Kyuhyun serasa menembus kulitnya. "Heechul hyung, apa yang harus kita lakukan?!"

Heechul menggeleng tidak tahu. Pikirannya benar-benar buntu kalau sedang dalam keadaan panik seperti sekarang.

Tiba-tiba ponsel Heechul berbunyi. Membuat Heechul langsung mengangkatnya. Changmin.

"Changmin,..."

"ada apa dengan Kyuhyun?" tanya Changmin langsung.

Heechul bergumam. "tidak tahu, dia bilang perutnya sakit dan dari tadi dia hanya berteriak histeris."

"MWO?!" Seru Changmin kaget. "Hyung...tolong bawa dia kerumah sakit terdekat. Saat ini aku masih ujian... Hyung harus menemaninya sampai aku datang! Okay?" ucap Changmin panjang lebar.

Heechul mengangguk-angguk. "baiklah. Aku mengerti."

"Heechul hyung, kau kakakku, ku percayakan semuanya padamu. Jaga Kyuhyun."

Teriakan Kyuhyun kembali menggema di seantero rumah setelah Heechul mengakhiri panggilannya dengan Changmin.

"Minho, bantu aku mengangkat Kyuhyun ke mobil. Kita harus membawanya kerumah sakit."

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Kyuhyun tak henti-hentinya berteriak. Untung kali ini sasaran cengkramannya bukan lengan Minho, melainkan sebuah boneka milik Sulli yang sempat diambil Minho untuk mengamankan lengannya.

Begitu tiba disebuah rumah sakit, Kyuhyun langsung dibawa keruang bersalin ditemani Heechul dan Minho. Pada awalnya, para perawat disana tidak membiarkan Minho masuk, namun karena tatapan memelas Minho, akhirnya para perawat itu luluh.

Begitu Changmin selesai mengerjakan ujiannya, dia langsung keluar dari ruang ujian. Kali ini dia memang tidak menutupi kepintarannya. Dalam waktu 15 menit, dia sudah menyelesaikan seluruh soal ujian, membuat peserta dan dosennya kebingungan tak percaya.

15 menit kemudian, Changmin tiba dirumah sakit yang dimaksud Heechul. Dia langsung menuju ruang bersalin.

Changmin terlonjak begitu tiba didepan pintu ruang bersalan itu, dia mendengar suara teriakan. Dengan perlahan dia masuk.

"maaf, anda siapa?"

"aku suaminya." ucap Changmin dan berdiri di samping sang dokter.

Kyuhyun saat itu tengah berbaring diatas bangkar dengan posisi lutut ditekuk, yang syukurnya di tutupi dengan kain. Changmin mengintip sedikit kedalam kain tersebut.

"ya ampun, darahnya banyak sekali."

Sang dokter menatap Changmin aneh, lalu kembali meneruskan pekerjaannya. "ya, ayo dorong..bagus..."

"benarkah? Sebanyak apa? Coba ku lihat." ucap Minho.

Changmin memukul kepala Minho yang ingin ikut mengintip kedalam kain. "heh! Kau tidak boleh melihatnya!"

"kenapa?" tanyanya polos.

"tidak boleh!" tegas Changmin dan kembali berdiri di samping Kyuhyun.

Minho menatap Heechul. "kenapa aku tidak boleh melihatnya?"

Heechul diam. Malas menjawab. Dia sedang khawatir pada Kyuhyun.

"Kyuhyun, ayo." Changmin menggenggam tangan Kyuhyun.

Air mata Kyuhyun menitik untuk yang kesekian kalinya. "aku tidak kuat... Changmin."

"kau kuat. Kau pasti pasti bisa." Changmin menyemangati Kyuhyun.

Sesaat kemudian Kyuhyun kembali berteriak. "aaaarrggh!"

Changmin dibantu Heechul terus berusaha menyemangati Kyuhyun. Sebenarnya Changmin tidak sanggup melihat Kyuhyun kesakitan seperti itu, karena itulah dia menyuruh Kyuhyun operasi saja, tapi yeoja itu makah memilih normal seperti ini.

Lamunan Changmin buyar seketika mendengar suara tangis bayi.

"Ooeekk...ooekk"

"namja." ucap sang dokter. "suster, tolong mandikan dia."

Mata Changmin memanas. Terharu melihat janin yang selama ini berada dalam rahim Kyuhyun akhirnya lahir. Air matanya menitik dan dia segera menghapusnya.

"KYUHYUN NOONA! Bayimu lahir!" seru Minho semangat.

Kyuhyun tersenyum lemah, dan tak lama kemudian, perutnya kembali sakit. "dokter, perutku..."

"ayo nyonya. Seperti tadi. Tarik nafas... Ya... Dorong..."

Kyuhyun merasa tubuhnya sudah sangat lemah, tapi dia harus bertahan untuk melahirkan satu nyawa lagi.

"aku harus bisa!" batinnya.

"kau pasti bisa Kyuhyun. Bertahanlah. Aku...aku sangat mencintaimu, jadi...kau harus bertahan." ucap Changmin.

Kyuhyun mengerahkan sisa-sisa tenaganya. Saat dia berhasil melahirkan anak keduanya, dia benar-benar sudah tidak bertenaga lagi. Sebelum dia hilang kesadaran, dia sempat mendengar suara bayinya dan dokter itu berucap,

"seperti dugaan, bayi kedua ini yeoja."

dan semuanya gelap.

.

.

Kyuhyun membuka matanya yang terasa berat. Ia masih ingin tidur lebih lama, tapi ada tangan yang mengusap kepalanya sehingga membuatnya terbangun.

Matanya memandang langit-langit diatasnya dengan pandangan menerawang. Mengingat kejadian yang terjadi sebelum dia hilang kesadaran.

Kyuhyun langsung memegang perutnya. Datar. Sekarang dia tahu, proses melahirkan itu bukan mimpi sama sekali.

"kau sudah sadar?"

Kyuhyun menoleh ke sumber suara. Changmin. Sepertinya baru saja keluar dari kamar mandi yang berada disudut ruangan itu.

"sudah lebih baik?" tanya Changmin sambil duduk dibangku yang terletak disisi tempat tidur Kyuhyun.

"aku masih sangat lemah." ungkap Kyuhyun jujur.

Mata Kyuhyun menelusuri ruangan bercat krem itu. Dan tidak mendapati orang lain diruangan itu selain dirinya dan Changmin.

"keluargaku dan keluargamu sedang makan siang." ucap Changmin, setelah berhasil membaca pikiran Kyuhyun.

Kyuhyun memperbaiki posisi tidurnya menjadi duduk, namun daerah dibawah perutnya terasa sakit membuatnya meringis.

"ada apa?" tanya Changmin cemas.

"hanya sedikit sakit."

"berhati-hati lah." ucap Changmin mengingatkan.

"eerr...Changmin? Mereka kemana?"

"bukankah tadi sudah kukatakan mereka semua sedang makan siang?" Changmin balik bertanya.

Kyuhyun menggaruk kepalanya bingung. "bukan mereka, tapi 'mereka'?"

Changmin ikut bingung mendengar pertanyaan Kyuhyun.

Sebelum Changmin sempat menjawab, dua orang perawat masuk sambil mendorong dua buah box bayi.

"selamat siang nyonya. Ku rasa sudah waktunya kau menyusui mereka."

Kyuhyun menatap perawat itu ragu. "menyusuinya?"

Perawat itu menatap Kyuhyun seolah-olah yeoja itu orang terbodoh. "tentu saja."

"susui dia dulu." perawat yang lain menggendong bayi yang rambutnya tipis.

Kyuhyun menerimanya dengan kikuk. "bagaimana caranya?"

Senyum perawat itu terkulum.

Changmin mendengus. "haruskah kau menanyakannya, Shim Kyuhyun?"

Kyuhyun menatap Changmin kesal. "keluarlah dari sini!"

"kenapa? Kau malu, begitu?" Tanya Changmin tak percaya. Dia menggelengkan kepalanya. Lalu segera keluar dari ruangan Kyuhyun sambil tertawa kecil.

"jangan tertawa, Changmin!" teriak Kyuhyun kesal.

"ooeekkk...oeekk"

"jangan berteriak di dekat bayimu, nyonya." ujar perawat itu cemas.

"jadi namanya siapa?" tanya Kyuhyun sambil menatap box bayi yang terletak di samping tempat tidurnya.

Begitu dia selesai menyusui kedua bayinya, Changmin baru masuk kembali. Entah kenapa, wajahnya memerah begitu selesai menyusui bayinya. Membuat Changmin kembali mengejeknya.

Sebelum Changmin sempat menjawab...

"sayang, kau sudah sadar?" seru Donghae yang baru memasuki ruangan.

Donghae langsung memeluknya erat. Padahal perutnya masih sakit, jadi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan kesakitannya.

"jangan memeluknya terlalu erat, dia masih lemah." ujar Changmin datar dan tanpa melihat Donghae.

Donghae melepas pelukannya dan menatap Changmin tajam. "bukankah sudah kukatakan untuk sopan padaku?!"

"sudahlah Hae oppa!" Kyuhyun menarik ujung kaos Donghae.

Tak lama kemudian, Keluarga Changmin dan orangtua Kyuhyun masuk keruangan itu. Membuat ruangan itu terasa mengecil. Mereka memeluk Kyuhyun dan mengucapkan selamat. Lalu berkumpul di dekat box bayi.

"bayimu sungguh lucu sekali!" ujar Arrum dengan suaranya yang benar-benar gemas melihat bayi kembar dihadapannya. "aku mau menggendongnya, boleh ya?" sambung Arrum.

"tidak boleh!" jawab Changmin cepat. "mereka baru saja tidur!"

"kalau nanti boleh ya?" tanya Heechul.

"tetap tidak boleh." tegas Changmin.

Heechul mencibir. "pelit sekali."

"kalau bayiku terjatuh dari gendonganmu bagaimana?!" ketus Changmin.

"sudahlah! Kalian ini ribut sekali!" lerai Jaejoong. "jadi, siapa nama bayi kalian?"

Kyuhyun mengangkat bahu tidak tahu. Dia menatap Changmin. "bagaimana?"

"bagaimana apa?" tanya Changmin tak mengerti. Beberapa saat yang lalu dia sedang berkonsenterasi pada ponselnya, jadi dia tidak begitu mendengar pembicaraan Kyuhyun.

Mr. Cho tertawa. "bayimu Changmin. Siapa namanya?"

Changmin membuka mulutnya ingin berbicara, tapi dia kembali menutupnya dan menatap Kyuhyun. "kau punya usul?"

Donghae mendengus. "dasar bodoh! Adikku bertanya padamu tadi, dan sekarang kau malah kembali bertanya padanya."

"Hae!" tegur Mrs. Cho.

"kau setuju kalau aku yang memberi nama?" tanya Changmin pada Kyuhyun.

"tidak." sahut Donghae yang kemudian mendapat pelototan dari ibu dan ayahnya. "baiklah. Aku akan diam."

Changmin terlihat sedang mengingat sesuatu.

"jadi?" tanya Minho mulai tak sabar.

"bagaimana kalau..."

"ya?"

"Hyun Min untuk namja, dan Min Hyun untuk yeoja." ucap Changmin.

Semua orang diruangan itu terdiam.

"artinya kuat (anggep aja itu artinya yaa hehe). Bukankah bayi-bayiku memang kuat? Mereka tetap bertahan meski beberapa kali dalam keadaan bahaya." ucap Changmin sambil menatap Kyuhyun penuh arti. "bagaimana, Kyuhyun?"

Tanpa pikir panjang Kyuhyun langsung mengangguk. Changmin kembali tersenyum lebar pada Kyuhyun. Hal yang jarang dia lakukan.

Shim Hyun Min.

Shim Min Hyun.

.

.

Kyuhyun bergerak tak menentu di atas tempat tidurnya. Ia tak bisa tidur sama sekali. Hal itu sudah dilakukannya berkali-kali, dan sekali lagi dia memutar tubuhnya menghadap boks bayi.

"sampai kapan kau akan bergerak tak menentu seperti itu?" tanya Changmin. "ini sudah hampir tengah malam." nada bicaranya agak ketus.

Kyuhyun memutar tubuhnya menghadap Changmin yang duduk di dekat sofa. "kau tidak ingin pulang kerumah lalu ke hutan?"

"lalu membiarkan dirimu sendiri di rumah sakit ini, begitu?" Changmin bertanya balik, namun tanpa mengalihkan pandangannya dari buku kuliah di pangkuannya.

"lagi pula tak ada bahaya." kata Kyuhyun. "memangnya kau tak ingin minum darah?"

Changmin menatap Kyuhyun tajam. "tidak. Jadi cepatlah tidur!"

"aku serius, Changmin. Kau tak ingin minum darah?" tanya Kyuhyun lagi.

"kau takut aku menggigit mereka, bukan?" tanya Changmin sambil mengarahkan pandangan pada boks bayi.

TEET! BINGO!

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Changmin. "tidak."

Changmin mendengus. "kau lupa aku bisa membaca pikiran?"

"tidak." ucap Kyuhyun. "memangnya salah, kalau aku berpikir kau akan menggigit mereka?"

Changmin memutar bola matanya. "kau ini, pura-pura bodoh atau memang bodoh?"

Kyuhyun menatap Changmin kesal.

"Dengar, aku ini punya otak. Jadi aku bisa membedakan siapa buruan, dan siapa yang harus dijaga."

"dan mereka, masuk kategori yang harus kau jaga?"

Changmin mendengus keras-keras. Heran melihat kebodohan Kyuhyun. Akhirnya ia memilih kembali serius ada buku kuliahnya. "untung saja moodku sedang baik, jadi aku tidak mengatainya bodoh lebih dari tiga kali." gumam Changmin dengan suara rendah namun Kyuhyun masih mendengarnya.

"Yak! Kalau kau punya otak, harusnya kau tau bagaimana bersikap pada orang yang baru melahirkan anak-anakmu!" ketus Kyuhyun.

"hmm.." Changmin menjawab malas-malasan.

"Changmin!" Kyuhyun semakin kesal mendengar tanggapan Changmin.

"tidurlah Kyuhyun! Kau tidak tahu sekarang jam berapa?!" bentak Changmin. "lihat! Sudah jam 12 lebih! Jangan buat bayi-bayiku terbangun karena ucapan tak berartimu!"

Kyuhyun bertambah kesal. "dia juga bayi-bayiku!"

Changmin kembali menatap Kyuhyun. "mereka bayi kita. Jadi cepatlah tidur!"

Keesokan harinya, Kyuhyun baru terbangun saat jam sudah menunjukk pukul 10. Dan begitu membuka mata, ia mendapati Changmin tengah tertidur di atas sofa dengan wajahnya ditutupi buku.

"ck, seharusnya dia tidur dirumah!" gumam Kyuhyun.

Drrt...drrt...

Kyuhyun mengangkat ponsel Changmin yang bergetar yang letaknya diatas meja disisi tempat tidur Kyuhyun.

"halo Changmin? Katakan pada Kyuhyun, setelah pulang kuliah nanti, aku dan Minho akan kesana." ujar Heechul.

Kyuhyun terkekeh. "ini aku, oppa."

Di seberang sana ikut terkekeh. "oh, kau Kyuhyun. Ku pikir Changmin karena ini ponselnya. Dimana dia?"

"dia tidur." jawab Kyuhyun setelah melirik Changmin sekilas.

"baiklah. Sampaikan salamku pada Hyun Min dan Min Hyun. Bye."

Kyuhyun kembali meletakkan ponsel Changmin diatas meja. Ia pun duduk perlahan dan mulai turun dari tempat tidur. Mungkin, karena masih belum bertenaga, tubuh Kyuhyun terhuyung. Sebelum Kyuhyun berhasil mencengkram tepian tempat tidur, seseorang lebih dulu menangkap pinggangnya.

"kenapa tidak katakan padaku kalau kau ingin turun?!" ketus Changmin.

"kau kan sedang tidur."

"kau bisa membangunkanku." jawab Changmin.

Kyuhyun tak menjawab lagi. "aku mau ke kamar mandi."

Changmin pun menemaninya hingga depan pintu. Setelah selesai, Kyuhyun kembali keluar dan Changmin kembali menuntunnya menuju tempat tidur.

"ayo makan!"

Kyuhyun membuka mulutnya menerima suapan Changmin. "Changmin?"

"hm?"

"kau tidak kuliah?"

"tidak." katanya. "buka mulutmu!" ucap Changmin saat Kyuhyun akan kembali berbicara.

Sepuluh menit kemudian, Kyuhyun sudah menyelesaikan sarapannya. Dia kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur, sedangkan Changmin duduk membelakanginya menghadap boks bayi.

"kenapa kau cepat sekali memikirkan nama mereka?" tanya Kyuhyun.

"aku sudah memikirkannya dari lama." ucap Changmin.

"bagaimana bisa? Aku bahkan tidak memberitahumu kalau bayi kita itu namja dan yeoja." saat mengucapkan 'bayi kita' Kyuhyun merasa wajahnya panas.

"memang. Tapi setidaknya aku tahu, bayi kita kembar. Jadi yang perlu aku lakukan hanya mencari nama bayi kembar."

Kyuhyun mengangguk mengerti.

.

.

Kyuhyun memperhatikan Changmin yang masih betah memandang kedua bayi mereka. Sesekali terlihat memasukkan tangannya kedalam boks bayi dan mengelus pipi bayinya.

"mereka tidak bangun?" tanya Kyuhyun.

"tidak. Kelihatannya tidur mereka sangat nyenyak." ucap Changmin.

"aku ingin menggendong mereka." ujar Kyuhyun.

Changmin menatap Kyuhyun ragu, namun akhirnya dia mengangkat seorang bayi berambut cokelat kehitaman dan sedikit tebal lalu menyerahkannya pada Kyuhyun.

"Min Hyun." ucap Changmin.

Kyuhyun menggendong Min Hyun hati-hati. "terima kasih."

Changmin mengangkat seorang bayi lagi. "Hyun Min bersamaku."

Kyuhyun tersenyum dan kembali menatap Min Hyun yang berada dalam pelukannya.

Min Hyun...bayi itu sangat mirip dengan Changmin.. Tulang pipinya, bibirnya, semuanya replika Changmin. Kecuali mata dan hidungnya, serta rambutnya, mirip dengan miliknya. Sedangkan Hyun Min, hanya matanya yang diambil oleh bayi namja itu. Selebihnya milik Changmin.

"Hyunnie, ayo bangun." Kyuhyun mengusap pipi Min Hyun pelan.

"panggil dia Minnie." Changmin mengingatkan. "Hyunniepanggilan untuk Hyun Min."

Kyuhyun menggeleng. "tidak mau! Aku mau memanggilnya Hyunnie."

Changmin mendengus. "heh! Kau ini bukan anak kecil lagi! Kau sudah punya bayi. Jadi jangan mendebatkan hal yang tidak penting."

Kyuhyun memberengut. "iya! Aku panggil dia Minnie."

Changmin terkekeh, lalu kembali menatap Hyun Min.

Ketika mereka sedang asyik dengan bayi dalam gendongan mereka, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

"selamat siang, semuanya!" seu Minho dengan semangat.

Changmin menautkan alisnya. "sungguh berlebihan."

"Changmin, Kyuhyun, lihat aku membawa siapa?" ujar Heechul yang hanya berdiri diambang pintu. "tadaaaa!"

Tak lama kemudian, masuklah dua orang yang sangat dirindukan Kyuhyun. Kedua sahabatnya.

"KIBUM! EUNHYUK!" Seru Kyuhyun tanpa sadar telah membuat bayi digendongannya tersentak kaget.

"astaga! Kau membuatnya terkejut Kyuhyun!" seru Changmin.

Kyuhyun terkekeh pelan, dan langsung mengelus kepala Min Hyun, agar bayi itu tidak jadi bangun.

"pertahankan posisi itu." ujar Heechul yang sedang sibuk mengutak atik kameranya. "nah, kalian berdua, tersenyum kearah sini."

Kyuhyun dan Changmin saling berpandangan.

"aku tidak mau di foto!" ketus Changmin, dia langsung membawa Hyun Min kearah jendela.

"ayolah Kyuhyun! Kalian harus berfoto sambil menggendong bayi kalian." bujuk Kibum.

"tidak. Kau tidak lihat, wajahku berantakan?" bantah Kyuhyun.

"itulah buktinya kalau bayi digendonganmu itu benar-benar bayimu." ucap Eunhyuk.

"apa maksudmu?" tanya Changmin.

Heechul terkekeh. "apa kalian tidak sadar, wajah kalian berdua itu tidak cocok untuk di panggil Umma dan Appa? Orang lain pasti mengira bayi kalian itu, adalah adik kalian."

"jadi, berhubung kau masih menggunakan baju rumah sakit, ayo berfoto!" ucap Kibum.

Akhirnya, Kyuhyun mau difoto, dan Changminpun tak menolak lagi untuk berfoto dengan Kyuhyun bersama bayinya.

"cepatlah oppa! Aku capek menggendong mereka berdua sekaligus seperti ini!" rutuk Kyuhyun.

Klik!

"nah sekarang, kau tetap menggendong kedua bayimu, dan kau Changmin, cium Kyuhyun!"

"ANIYO!" seru mereka bersamaan.

Heechul terkekeh. "baiklah."

"kami pulang! Bye!"

Satu jam kemudian, Kibum dan Eunhyuk pamit pulang. Meninggalkan Changmin dan Kyuhyun diruangan itu. Sedangkan Minho dan Heechul sedang pergi ke cafetaria rumah sakit untuk makan siang.

"ah, lihat, Minnie bangun!" seru Kyuhyun.

Sedari tadi Kyuhyun memang tidak melepaskan Min Hyun sekalipun, sedangkan Hyun Min sudah dia letakkan setengah jam yang lalu, tak ingin mengganggu tidur bayinya.

Mata bayi itu sudah terbuka sepenuhnya. Menatap Kyuhyun dengan tatapan yang membuat Kyuhyun gemas.

"Minnie, Umma disini!" ucap Kyuhyun sambil mengusap kedua pipinya.

Minnie mengerjap beberapa kali.

"lihat itu Appa! Dia sedang melihat Hyunnie!" ucap Kyuhyun sambil mengerahkan Min Hyun pada Changmin.

Selang beberapa saat, Min Hyun kembali menguap tak lama setelah itu dia kembali tertidur.

"yah, dia tidur lagi." desah Kyuhyun. "padahal aku ingin mengajaknya berbicara."

Changmin memutar bola matanya. "dia masih kecil, tentu saja dia sering tidur. Lihatlah kalau dia sudah mulai besar, aku pastikan kau tidak akan tidur dibuatnya." ujar Changmin. "berikan padaku, dia harus di baringkan. Nanti tulangnya tidak normal."

"lucu bukan?" ucap Kyuhyun sambil menatap jendela diruangannya.

Setelah memastikan kepala Min Hyun benar-benar pas di atas bantal, Changmin menoleh. "lucu apanya?"

"hidup kita."

Changmin mengernyit tak mengerti. "kenapa?"

Kyuhyun menunduk. Tak lama kemudian dia menatap Changmin sambil tersenyum. "apa kau pernah membayangkan, pada saat usiamu 19 tahun, kau sudah di panggil Appa?"

"heh?"

"setahun lagi, usiaku dan kau baru 19 tahun, tapi Min Hyun dan Hyun Min sudah memanggil kita dengan panggilan Appa dan Umma. Bukankah itu lucu?"

"tidak. Itu bukan lucu. Tapi menyenangkan." ucap Changmin.

"menyenangkan?" tanya Kyuhyun tak percaya.

"tentu saja. Di panggil Appa dan Umma oleh anak-anak kita sendiri, bukankah itu sangat menyenangkan?" ujar Changmin sambil tersenyum menatap Kyuhyun. Senyum tulus.

.

.

Setelah sebulan kelahiran Hyun Min dan Min Hyun, Kyuhyun mulai terbiasa. Terbiasa bangun malam, terbiasa menggantikan popoknya, terbiasa memandikannya, hingga sudah terbiasa menyusuinya. Meskipun saat menyusui kedua bayinya, Kyuhyun selalu menyuruh Changmin keluar dari kamar karena dia merasa malu. Padahal, seharusnya malu itu sudah tidak ada.

"makan ini!" suara Changmin membuyarkan lamunannya.

"apa ini?" Kyuhyun memandang semangkuk makanan dihadapannya dengan tatapan jijik.

"itu bayam." (emang di Korea ada ya? #plak)

"kenapa warnanya merah seperti ini?"

"sudahlah! Jangan banyak tanya! Makan saja!" ujar Changmin, lalu mulai memakan makanannya.

Saat itu mereka sedang makan siang, sedangkan Hyun Min dan Min Hyun bersama Arrum, Heechul dan Minho juga Jaejoong.

"ini bayam apa?" tanya Kyuhyun lagi.

"itu bayam merah." jawab Changmin. "aku tidak akan menjawab pertanyaanmu lagi, jadi makan saja makananmu."

Kyuhyun memberengut, lalu mulai mencicipi bayam merah itu. Rasanya sama saja, jadi dimulai memakannya. "memangnya kenapa harus bayam merah?"

"kau tanya saja pada Umma. Yang memasak makanan ini kan Umma." jawab Changmin.

Kyuhyun menatap tajam Changmin, beberapa detik kemudian, dia mendengus lalu kembali memakan makanannya.

Ketika tengah berkonsentrasi pada makanan masing-masing, terdengar teriakan dari ruang tengah.

"KYUHYUN! HYUN MIN!" teriak Heechul.

"aku saja." ujar Changmin ketika Kyuhyun akan bangkit dari duduknya. "lanjutkan makanmu."

Kyuhyun mengangguk, sambil tersenyum.

Setelah meminum beberapa teguk air putih, Changmin pun menuju ruang tengah.

Entahlah, tapi Kyuhyun merasa Changmin sedikit berubah setelah kehadiran Hyun Min dan Min Hyun. Namja itu lebih perhatian dan pengertian meski tidak ditunjukkan secara gamblang. Seperti yang terjadi barusan.

"sepertinya dia haus." Changmin kembali muncul dengan Hyun Min di gendongannya.

Kyuhyun mengerjap. "biar ku susui dulu."

Setelah Hyun Min berada dalam pelukannya, Kyuhyun bangkit dari duduknya lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.

CHANGMIN's POV

Ku lihat Kyuhyun sudah hilang dibalik dinding. Sepertinya dia sudah menaiki tangga. Aku kembali melanjutkan makan siangku.

Meskipun tidak ada yang sadar, tapi aku merasa sikap Kyuhyun mulai berubah. Dia lebih tenang dari sebelumnya. Bisa di katakan, dia sudah mulai dewasa. Bukankah seharusnya memang seperti itu? Diusianya sekarang, dia memang sudah harus bersikap dewasa. Aku yakin, kalau saja saat ini kami belum punya anak, dia pasti masih seperti anak-anak.

"Changmin, Minnie baru saja mengompol. Sepertinya dia juga haus."

Aku terkejut saat Umma tiba-tiba saja sudah berada dihadapanku dengan Min Hyun yang menangis di gendongannya. "Mwo?"

"Minnie, mengompol dan dia haus."

Aku segera memindahkan Min Hyun kedalam gendonganku. "

"cepat bawa dia keatas sebelum dia pingsan karena menangis."

Aku mengangguk dan segera membawa Min Hyun ke atas. Meskipun langkahku terburu-buru, namun kakiku terarah. Aku tak ingin melakukan kesalahan yang akan berakibat buruk bagi bayiku.

Ceklek!

Aku terpaku ditempatku berdiri. Bahkan aku menahan nafasku. Ya ampun! Tuhan! Dihadapanku Kyuhyun tak kalah terkejutnya.

Saat itu dia sedang menyusui Hyun Min, namun yang membuatku terkejut adalah penampilannya. Bagaimana bisa dia membuka kaosnya, dan menyisakan bra pada bagian atas tubuhnya. Sedangkan dibawahnya dia masih memakai celana jeans pendek selutut.

"kau...kenapa berpakaian seperti ini?!" tanyaku sedikit kesal. Bagaimana kalau Heechul atau Minho yang masuk ke kamar kami?

Kyuhyun segera menyambar selimut dan menutupi tubuhnya. Wajahnya benar-benar memerah.

Aku yakin, wajahku juga memerah saat itu, jadi aku memutuskan segera mengganti popok Min Hyun. Namun, setelah diganti, Min Hyun masih saja menangis.

"sepertinya Minnie juga haus." ucapku tanpa melihat Kyuhyun. Karena saat itu dia masih belum memakai pakaiannya.

"Hyunnie belum selesai." ucapnya sedikit cemas.

Aku menggaruk tengkukku. Mulai bingung karena Min Hyun masih menangis.

"ajaklah dia bicara. Atau bermain dengannya." ucap Kyuhyun.

Yeoja itu bercanda?! Apa yang harus aku bicarakan dengan bayi ini? Aku memang jarang mengajak Hyun Min dan Min Hyun berbicara, tidak seperti Kyuhyun, tapi aku sangat menyayangi mereka. "em... Minnie. Aku Changmin, Appamu." ucapku kaku.

Ku dengar Kyuhyun terkekeh. "kenapa kau kaku seperti itu?"

Aku menatapnya tajam, membuatnya terdiam, lalu kembali menatap Min Hyun. "kau tidak boleh menangis. Oke? Jangan cengeng seperti Ummamu."

Min Hyun mulai berhenti menangis. Dia tengah menatapku sambil sesekali berkedip, membuatku ingin mencubit pipinya.

"nah, yeoja pintar! Jangan menangis lagi!"

tiba-tiba saja Min Hyun kembali menangis.

Kyuhyun segera merebut Min Hyun dariku, sedangkan Hyun Min sudah dia tidurkan di tempat tidur. "kenapa kau mengancamnya seperti itu?! Lihat, dia menangis lagi!" omel Kyuhyun.

Aku hanya bisa menggaruk tengkukku. "dia itu salah paham mendengar suaraku." ucapku membela diri, dan tentu saja gagal.

.

.

Kyuhyun menyantap makan malamnya dengan semangat, meskipun saat itu hanya ada dia dan Jaejoong. Malam ini, Jaejoong memasakkan makanan kesukaannya. Sup daging. Lagi-lagi bayam merah ikut serta dalam menu makanannya kaki itu.

"ini, bayam merah kan Umma?" tanya Kyuhyun memastikan.

Jaejoong mengangguk. "iya. Kenapa?"

"beberapa hari ini, kau selalu memasakkan ini untukku. Memangnya kenapa?"

Jaejoong terkekeh. "oh, itu karena bayam merah bagus untuk ibu menyusui."

Kyuhyun mengangguk paham. "aku baru mengetahuinya."

"sebenarnya, umma juga tidak akan ingat kalau Changmin tidak menyuruh umma." Jaejoong kembali terkekeh.

Kyuhyun menyipitkan mata. "Changmin?"

"iya, Changmin. Suamimu. Memangnya siapa lagi?"

Kyuhyun menghembuskan nafasnya sedikit keras. "dasar namja aneh!" rutuk Kyuhyun pelan. "gengsian! Katakan saja kalau itu idenya, aku juga tidak akan marah! Benar-benar!"

"sudahlah! Jangan merutuki sifat gengsinya terus." sela Jaejoong.

Kyuhyun terkekeh lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Mereka kembali memakan makanan masing-masing.

"oh ya, umma ingat sesuatu."

Kyuhyun menatap Jaejoong dengan tatapan bertanya. "apa?"

"umma dengar, kalau kau menyusui Hyun Min dan Min Hyun, kau membuka pakaianmu. Benar begitu?"

"uhuk..uhuk..." Kyuhyun tersendak potongan daging yang dia makan.

"ayo minum." Jaejoong menyuguhkan air putih pada Kyuhyun.

Kyuhyun segera meminumnya. Untung saja potongan daging itu luruh bersama air.

"kau tidak apa-apa?"

Kyuhyun mengangguk. "Umma, kau tahu dari mana?"

"haruskah ku jawab? Kau pasti sudah tahu,kan?" tanya Jaejoong dengan senyumnya yang menenangkan.

Kyuhyun menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia merasa wajahnya benar-benar memerah.

"CHANGMINN!" Kyuhyun menjerit dalam hati. "kenapa sampai hal seperti harus dikatakan pada Umma?! Kalau kau ada dihadapanku saat ini, aku pasti akan mencakar wajahmu yang selalu menatapku tanpa ekspresi itu! Atau mungkin aku akan menjambat rambutnya.. Atau..."

"bagaimana?"

Kyuhyun menatap Jaejoong bingung. Astaga! Dia tidak mendengarkan ucapan Jaejoong barusan karena sibuk merutuki Changmin. "oh, baiklah. Tak apa." ujar Kyuhyun sok setuju. Dia tidak mungkin kembali menyuruh Jaejoong mengulang apa yang tadi di katakannya.

"besok kau minta antar dengan Changmin saja. Akan umma berikan alamat butik teman umma."

Kyuhyun lagi-lagi menganggukkan kepalanya.

"cepat bangun!"

Dengan malas Kyuhyun membuka matanya. Sebenarnya dia bisa pura-pura tidak mendengar seruan Changmin, tapi dia tidak bisa pura-pura tidak merasakan guncangan pada tubuhnya yang dilakukan Changmin.

"aku masih mengantuk!" erang Kyuhyun.

"Yak! Kau tidak perlu berteriak seperti itu!" Changmin membentak balik.

Kyuhyun membuka matanya lalu menatap Changmin setajam mungkin.

"apa?!" tantang Changmin. "cepat bangun! Hyun Min buang air besar!"

"tidak mau!" bantah Kyuhyun. "biasanya kan kau bisa." dia masih kesal karena Changmin mengadu pada Jaejoong tentang dia yang menyusui tanpa memakai kaos.

"biasa bagaimana? Kalau dia mengompol, aku baru biasa. Cepat bangun!" Changmin menarik tangan Kyuhyun. Sebenarnya dia sedikit heran melihat tingkah Kyuhyun pagi ini.

Kyuhyun mengerang. "kalau aku tidak mau, kau mau mengatakannya pada umma kan? Seperti waktu aku menyusui Minnie tanpa memakai kaos?"

"hah?"

Kyuhyun membekap mulutnya dengan tangan kanan. Seharusnya dia tidak mengatakan hal itu, Heechul pasti mendengarnya.

"CK, KYUHYUN! AKU TIDAK MENYANGKA!" teriak Heechul dari kamar sebelah.

Changmin menatap Kyuhyun. "lihat akibat kecerobohanmu! Itu yang aku takutkan! Bagaimana kalau Heechul atau Minho melihatnya?!"

Kyuhyun mengusap wajahnya yang terasa panas. "jangan menyebutnya lagi! Itu semua juga karena ulahmu! Huh!" Kyuhyun segera bangkit dari tempat tidur.

Kyuhyun menghampiri boks bayi Hyun Min dan mengeluarkan Hyun Min dari sana, membawanya ke kamar mandi setelah memastikan Min Hyun benar-benar masih tidur. Untung saja, Hyun Min termasuk bayi yang tidak rewel. Kalau dia mengompol atau sebagainya, dia tidak menangis histeris seperti Min Hyun.

"itu aneh, kau tahu?" ucap Changmin.

"biarkan saja, yang penting dia tidak membuatku pusing karena mendengar tangisannya. Lihatlah Minnie, kalau sudah menangis." Kyuhyun menggelengkan kepalanya, sambil mengeringkan kaki Hyun Min.

"Minnie seperti itu juga karena menuruni sifatmu." ucap Changmin cuek. "sedangkan Hyunnie, dia menuruni sifat cool ayah nya. Aku."

Kyuhyun memutar bola matanya, lalu memasangkan popok Hyun Min dan kembali membedungnya.

"kalau sudah selesai, kita turun. Sarapan. Minnie biar aku yang bawa." Changmin berjalan ke boks bayi. Min Hyun masih tidur jadi dia menggendongnya hati-hati. "oh ya, Umma bilang kau ingin pergi ke butik temannya. apa yang akan kau beli di sana?"

"apa?"

"Umma bilang, kau ingin beli baju. Benar?"

"hah?"

Changmin mendengus. "hanya itu yang bisa kau katakan? Apa dan Hah?"

"hehe"

"harusnya aku bertanya pada Umma! Pikiranmu pasti tidak ditempatnya saat Umma berbicara!" ketus Changmin. "sudahlah! Ayo sarapan!"

"tunggu, aku cuci muka dulu." cegat Kyuhyun.

"Kyuhyun! Kau benar-benar!"

.

.

"NOONA! CEPAT PULAANG!" Kyuhyun segera menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar jeritan histeris dari Minho.

Sejam yang lalu Kyuhyun dan Changmin memang meninggalkan rumah. Pergi ke butik teman Jaejoong untuk membeli baju khusus ibu menyusui. Dia memang tidak mempunyai baju berkancing depan, yang dia punya hanya kaos lalu dress yang dipakainya saat hamil dulu. Karena itulah, dia terpaksa membuka kaosnya kalau ingin menyusui Hyun Min dan Min Hyun.

Setelah memastikan Minho tidak akan berteriak lagi, Kyuhyun berkata, "iya, saat ini aku sedang di jalan. Kenapa?"
"bayi-bayimu menangis, sedangkan Arrum dan Heechul baru saja pergi entah kemana." ujar Minho dengan nada cemas.
"sepuluh menit lagi aku baru akan tiba dirumah." ucap Kyuhyun. Butik teman Jaejoong memang cukup jauh dari rumah mereka. "berusahalah menenangkan mereka. Ajak mereka berbicara, atau mungkin nyanyikan lagu untuk mereka." sambung Kyuhyun.
"aku sudah mengajak mereka berbicara, tetap saja mereka menangis. Aku juga tidak bisa menggendong mereka berdua sekaligus. Sepertinya mereka haus."
"baiklah. Secepatnya aku akan tiba dirumah." ucap Kyuhyun lalu memutuskan panggilan.

-
"sudah kukatakan, sebaiknya kau meninggalkan Asi dalam botol susu untuk mereka jika ingin keluar!" ketus Changmin.
Kyuhyun menatap Changmin kesal. "aku juga sudah katakan, kalau aku tidak bisa menggunakan alatnya!"
"bukankah aku sudah menyuruhmu untuk diajarkan pada Umma?!" tanya Changmin.
Kyuhyun menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu memalingkan wajahnya ke jendela mobil.
"tenanglah. Minho pasti bisa menenangkan bayi kita." ucap Changmin lembut, sambil mengusap puncak kepala Kyuhyun.

Kyuhyun segera mengalihkan pandangannya dari jendela pada Changmin. Dia sedikit terkejut mendengar suara menenangkan Changmin ditambah lagi dengan sentuhan ringan di puncak kepalanya. Tindakan kecil namun berhasil membuat cintanya pada Changmin bertambah.

Changmin berdehem pelan, lalu segera menarik tangannya dari puncak kepala Kyuhyun. "mungkin...aku sebaiknya...maksudku lain kali kita membawa mereka, jika keluar rumah."
Kyuhyun terkekeh pelan mendengar perkataan Changmin yang berantakan. "yeah, kau benar. Mungkin kita memang harus membawa mereka, meski merepotkan."

lima menit kemudian mereka tiba dirumah. Changmin benar-benar membawa mobil dengan kecepatan diatas rata-rata, sehingga mereka bisa tiba dirumah dengan cepat. Padahal, harusnya dalam waktu sepuluh menit. Bisa dibayangkan bagaimana kecepatan mobilnya.

Kyuhyun segera keluar dari mobil, begitu mobil Changmin berhenti didepan pintu garasi.

"bagaimana Hyunnie dan Minnie?" tanya Kyuhyun begitu Minho membukakan pintu untuknya.
"mereka tertidur. Mungkin kelelahan menangis." ucap Minho.
"dimana mereka?"
"diruang tengah. Aku tidak bisa membawa mereka keatas." ucap Minho. "maaf."
Kyuhyun tersenyum. "bukan salahmu. Jadi jangan merasa bersalah."

Kyuhyun kembali berlari menuju ruang tengah. Ia tersenyum kecut melihat kedua bayinya tengah tertidur di atas kasur bayi. Pipi dan hidung keduanya terlihat memerah.

"maafkan Umma ya." ucap Kyuhyun sambil mengusap puncak kepala keduanya.
"harusnya kau juga minta maaf padaku, karena sudah membiarkanku membawa seluruh barang belanjaanmu dari mobil hingga di sini." ucap Changmin sambil meletakkan seluruh kantong belanjaan dihadapan Kyuhyun.
Kyuhyun menatap Changmin dengan wajah penuh permohonan. "karena kau sudah membawakannya dari mobil hingga sini, apa salahnya jika kembali membawanya hingga kamar?"
Changmin mendengus. "tidak. Aku tidak mau."
Minho terkekeh. "aku ingin ambil minuman, ada yang mau?"
"aku!" ujar Kyuhyun cepat. Lalu kembali beralih pada Changmin. "Changmin, mau ya? Kau kan ke atas juga, ingin mengganti pakaian, jadi sekalian saja, ya?"
Changmin mengerang. "baiklah." ujar Changmin setengah kesal. "kau ini, kapan kau akan mengubah sikap kekanakanmu ini, hah?"
"kenapa aku harus mengubah sikapku? Bukankah kau menyukaiku karena sikap kekanakanku?" tanya Kyuhyun santai.
Minho yang baru kembali dari dapur mendengarnya, ia pun tak dapat menahan tawanya saat menyerahkan sebuah minuman kaleng pada Kyuhyun.
Changmin melayangkan tatapan 'kau tak usah ikut campur!' pada Minho, lalu "dan kau, kurasa minuman kaleng ini tak baik untuk ibu menyusui sepertimu. Kau minum air putih saja." ucap Changmin sambil merebut minuman kaleng dari tangan Kyuhyun.
Kyuhyun mendesah keras. "kurasa, larangan untuk ibu menyusui tak kalah banyak dibanding ibu hamil."
Minho kembali tertawa.
"kalau kau tak minum air putih, seluruh barang belanjaanmu ini akan kulempar keluar." ungkap Changmin.
Kyuhyun memberengut. "iya. Aku mengerti."
Changmin pun segera berlalu dari hadapan mereka.
"eh, aku jadi ingat saat noona pertama kali datang kesini. Noona pingsan begitu tahu akan menikah dengan Changmin." ucap Minho dengan tatapan menerawang.
Kyuhyun tertawa. Membenarkan ucapan Minho.

.

.

"aku membiarkan hidup tenang selama beberapa bulan belakangan, bukan berarti aku menyerah Kyuhyun."

.

.

TBC

Maaf ya klo updatenya agak lama soal'a lagi bnyk banget kerjaan jd baru sempet buat edit dan ngepost. #BOW