Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.

.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

[ Chapter 21 ]

.

.

.

[ Konoha ]

"Selamat datang di nice-market selamat belanja." Ucapku.

Aku benar-benar bekerja di nice-market, hanya berlibur selama dua hari di paris dan aku meminta Sai untuk mengajakku segera pulang, aku sampai lupa jika harus bekerja.

"Santailah, jangan tegang seperti itu." Ucap pria yang bekerja bersamaku.

"Ma-maaf, senior, aku hanya kurang terbiasa berhadapan langsung dengan orang-orang." Ucapku, aku memanggilnya senior begitu saja, lagi pula selama ini pekerjaanku jarang terlibat langsung dengan orang, aku hanya perlu menyesuaikan diri.

Saat pulang dan menyalakan ponselku, di paris ponselku tak bisa di gunakan, nomer ponselku tidak bisa di hubungi, begitu banyak pesan masuk dari ibu, Kabuto dan juga Sasuke, dia mencariku, tapi aku tidak ingin membalasnya, lagi pula hubungan kerjaku dengannya sudah berakhir saat dia memecatku.

"Selamat data- kenapa datang lagi!" Ucapku.

Aku tak tahu apa yang terjadi pada Sai, sebelumnya, dia menyatakan perasaannya padaku, aku sampai kebingungan untuk menjawabnya, sejujurnya aku pun menyukainya, dia sangat baik dan penuh perhatian, tapi aku perlu memastikan perasaan ini bukan karena perasaan aku tengah butuh seseorang di sampingku, aku tak mau menjadikan Sai sebagai pelarian.

Akhir-akhir ini pun Sai terus datang ke tempatku bekerja dengan alasan istirahat dan sudah beberapa hari dia makan siang dengan ramen instan yang di jual di sini.

"Aku datang untuk makan siang." Ucapnya dengan wajah ceria itu, aku yakin dia sedang berbohong.

"Perutmu akan bermasalah jika terus-terusan memakan mie instan, makanlah makanan yang baik untuk kesehatanmu, kau itu artis, jangan anggap sepele pola makanmu." Tegurku.

"Terima kasih atas rasa pedulimu ini Sakura."

"Bukannya aku peduli seperti yang kau pikirkan! Kau akan bermasalah dengan lambungmu dan managermu akan khawatir!" Ucapku, kesal.

"Bagaimana pun, orang yang jatuh cinta akan melakukan segalanya." Ucap seniorku.

Jika dia bukan seniorku, aku sudah menghajarnya bersama Sai, dia pun mulai terbiasa saat Sai datang, saat pertama kali datang, dia sampai syok dan tak percaya jika ada artis seperti Sai datang dan makan mie instan di nice-market kecil ini, dia sampai meminta foto bersama dan tanda tangannya, sekarang mereka terlihat seperti teman yang begitu akrab.

"Aku setuju denganmu senior." Ucap Sai, dia pun ikut-ikutan memanggilnya senior.

Berurusan dengan mereka membuat kepalaku pusing.

"Kalau begitu makan sianglah, aku akan menggantikanmu sementara waktu." Ucap senior.

"Ja-jangan seperti itu, aku akan bekerja sungguh-sungguh!" Tegasku.

"Tidak apa-apa, hanya beberapa menit saja, pergilah." Ucapnya dan mendorongku hingga keluar.

"Terima kasih atas kebaikanmu senior, aku akan mempromosikan nice-market ini." Ucap Sai.

Bodoh, kenapa mereka jadi seperti ini?

"Apa kau keberatan aku mengganggu kerjamu?" Tanyanya.

"Sudahlah, aku tidak bisa mengusirmu juga. Sekarang kau ingin makan dimana? Kalau bisa jangan restoran mahal, aku ingin hemat sementara waktu." Ucapku.

"Baiklah, tapi hari ini aku ingin makan daging." Ucap Sai.

Dia malah mengajakku ke restoran daging yang super mahal.

"Aku sudah katakan padamu, aku harus hemat." Ucapku, kesal, tapi tidak bisa teriak-teriak jika nanti ada yang mendengar ucapanku, hal itu akan membuatku malu.

"Tenang saja, aku akan mentraktirmu." Ucap Sai, bahkan memasang senyum manis itu.

"Aku tidak mau di traktir." Tolakku, aku sudah cukup dengan banyak pemberian darinya.

"Uhm.. bagaimana jika aku pesan banyak, tapi bantu aku habiskan."

Dia selalu saja punya ide untuk melakukan segalanya sesuai keinginannya.

"Kau menang." Ucapku.

Daging mahal dengan kualitas super, rasanya memang sangat enak, Sai memesan begitu banyak dan memberinya padaku, aku rasa hampir semuanya aku makan, dia hanya melihatku makan sambil tersenyum.

"Setidaknya kau harus makan, jangan melimpahkan semuanya padaku." Ucapku.

"Aku akan makan, jadi tenang saja."

Aku sampai ketagihan memakan daging ini, daging bakar dan bir akan menjadi paduan yang sangat sempurna, tapi ini masih siang, aku tidak mau minum dan malah menjadi orang bodoh saat bekerja, teh dingin pun tak masalah.

.

.

.

.

Bukannya aku hanya ingin mempermainkan Sai, tapi aku belum mendapatkan perasaan yang benar-benar sangat mencintainya, kembali menatap layar ponselku, pesan Sasuke yang di kirim saat aku tengah berada di paris bersama Sai, aku masih belum membalasnya, mungkin saja dia mencariku di rumah, tapi tidak ada yang berubah meskipun dia mencariku atau Kabuto kembali menawarkan pekerjaan untukku.

Tringg...~


:: 098845XXXXXX

Sakura, apa kita bisa bertemu? Aku sangat ingin berbicara denganmu, lagi pula aku ada sebuah pesan dari Sasuke, katanya ini cukup penting.

Hanare.


Sebuah pesan dari nomer yang tak ku ketahui, tapi setelah membaca di akhir pesannya, ini nomer dari wanita itu, untuk apa dia mengirim pesan padaku? Dan lagi, kenapa dia mengatakan ingin berbicara dan menyampaikan sebuah pesan dari Sasuke padaku? Apa sekarang dia sudah menjadi perantara Sasuke? Aku tidak bisa percaya padanya, hanya perlu hati-hati, aku masih tak tahu dia wanita seperti apa, berbeda saat bertemu Ino yang langsung saja mengeluarkan sikap aslinya.


:: 098845XXXXXX

Aku menunggumu di kafe XX besok.


Aku tak bisa besok, aku hanya penasaran kenapa Sasuke mengirim pesan melaluinya, aku pikir Sasuke bisa mengatakan langsung padaku, tapi aku lupa jika sampai detik ini saja aku tak membalas pesannya, Sasuke mungkin memikirkan jika aku benci padanya, aku yakin jika siapapun di posisiku akan sangat tidak di terima jika di pecat begitu saja.


Aku tidak bisa besok, bagaimana jika hari sabtu saja.


Balasku.


:: 098845XXXXXX

Oke, aku akan menunggumu.


Perasaanku jadi tak enak setelah mendapat pesan dari Hanare, sejujurnya aku jauh lebih penasaran kenapa mereka bisa begitu dekat tanpa adanya hubungan yang terlihat jelas.

Saat hari sabtu.

Kami benar-benar bertemu, dia terlihat begitu ceria saat menemuiku, rasanya ada yang aneh.

"Aku senang kita bertemu kembali." Ucapnya, mungkin sekedar basa-basi.

"Maaf, aku hanya ingin tahu apa yang Sasuke sampaikan padamu." Ucapku.

"Begitu yaa, kau tipe yang tak suka basa-basi."

"Aku hanya tak punya banyak waktu."

"Sasuke sibuk mencarimu, dia kesulitan menemukanmu, akhir-akhir ini dia sering marah-marah dan kesal padaku, seharusnya kau bisa datang dan menenangkannya."

Pesan macam apa itu? Apa Sasuke sengaja menyuruh Hanare untuk memohon padaku?

"Aku sudah tidak bekerja lagi padanya."

"Sayang sekali, dia hanya berpikiran pendek, ayolah, kau harus kembali."

"Sebaiknya kau menyampaikan ini pada Sasuke, aku tidak bisa bekerja lagi padanya."

"Kenapa? Apa karena aku? Tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian, lagi pula kalian tidak mungkin memiliki hubungan."

Aku mulai merasakan ada yang ganjil dari pertemuan kami hari ini, apa sebenarnya yang ingin di katakan Hanare padaku? Apa hanya pesan dari Sasuke saja atau itu hanya sebuah alasan agar aku mau menemuinya.

"Sejujurnya aku tidak ingin meninggalkan Sasuke, tapi sepertinya dia mulai tidak peduli padaku."

Pembicaraan ini berubah, bukan lagi ajakan untuk kembali.

"Jadi kau ingin aku bertanya tentang kalian?" Tebakku.

"Aku tidak akan sungkan menceritakan tentang kami, apa kau tak penasaran dengan Sasuke dulunya?" Ucapnya.

Tepat sekali, aku selalu penasaran akan Sasuke, selama ini aku hanya memahami kebiasaannya saja, tapi aku tidak benar-benar memahami Sasuke.

"Ya, aku yakin jika kau sudah tahu jika kedua orang tua Sasuke telah meninggal, dan selama itu pun aku yang mengurusnya, sikap Sasuke buruk-"

Hanare hanya menceritakan dimana Sasuke masih berada di kediaman, sikap buruknya pun aku rasa masih tak berubah, dia masih menjadi tipe yang cepat emosi, Hanare mulai menceritakan hubungan mereka yang hanya sebatas pengasuh dan majikan, aku jadi melihat jika dulunya Hanare mungkin sama seperti aku, aku juga bekerja hanya untuk mengasuh Sasuke, banyak hal yang telah terjadi pada mereka, termasuk ringan tangan dari Sasuke, hingga hal yang tak pernah aku sangka, Hanare bukan lagi seorang gadis, ini akibat perbuatan Sasuke, Hanare memperlihatkan rasa sedihnya, dia hanya ingin mendapat sebuah pertanggung jawaban, tapi Sasuke malah mengusirnya menjauh dari Konoha.

Setelah pertemuan kami itu, aku jadi banyak berpikir tentang siapa Sasuke sebenarnya, kisah yang ceritakan Hanare padaku membuatku sedikit kasihan padanya, hanya saja aku memilih untuk menutup rasa peduli ini dan aku sangat ingin mendengar dari sudut pandang Sasuke, apa benar dia seperti itu? Namun aku tak ingin menemuinya lagi, dia bahkan salah paham begitu saja.

"Apa bekerja disini membuatmu bosan? Yaa kadang-kadang tidak ada pembeli yang datang, aku sampai ingin membawa ranjangku ke sini." Ucap senior padaku, dia pun mulai sedikit bercanda dan memikirkan jika aku benar-benar bosan.

"Ma-maaf, aku tidak bosan, hanya tengah berpikir saja."

"Apa memikirkan Sai?"

"Bu-bukan!"

Kenapa dia jadi salah paham terus? Apa yang ada di kepalanya aku harus jadian dengan Sai?

"Aku pikir kalian benar-benar menjadi pasangan, dia pria yang pantang menyerah."

"Aku tahu, hanya saja ini rumit, aku harus benar-benar memikirkan perasaanku ini, aku tidak mau membuat keputusan yang salah lagi." Ucapku.

Bersama Sasori masih menjadi trauma bagiku, ketika perasaan cintaku sudah begitu besar padanya, hancur begitu saja, aku harus rela melepaskannya, dia hanya membuatku amat sangat kecewa, meskipun sekarang dia bersikap baik dengan ingin menjadi sebatas kenalan yang baik, aku masih tak ingin mencapnya sebagai teman.

"Kisah cinta kadang tidak ada habisnya, walaupun sudah menikah, masih ada perpisahan."

Aku memahami akan hal itu, semakin memikirkannya semakin membuatku takut untuk berdekatan dengan pria manapun, tapi di saat seperti ini, aku malah memikirkan Sasuke dan sangat ingin menemuinya, sangat ingin menjelaskan kesalahpahamannya, walaupun sudah mengatakan hal yang sebenarnya, aku tetap tidak akan kembali bekerja padanya.

Pintu nice-market terbuka.

"Selamat datang di nice-market!" Ucap semangat senior.

Mulutku sampai tak bisa mengucapkan kalimat yang wajib kami katakan itu.

"Sakura, jangan melamun." Bisik senior dan menyenggolku.

"Ma-maaf." Ucapku.

"Kenapa kau berada disini?" Ucap seseorang yang baru saja aku pikirkan, dia tiba-tiba datang ke sini, meskipun dia menggunakan perlengkapan untuk menutupi identitasnya.

Bukan sebuah ucapan seperti, apa kabar? Atau kita bertemu lagi, bagaimana kabarmu? Dia benar-benar tidak akan berubah.

"Aku bekerja disini." Tegasku.

"Bekerja? Bagaimana bisa kau bekerja disini jika kau masih bekerja padaku." Ucapnya dengan nada kesal.

"Kau sudah memecatku, ingat itu."

"Kontrakmu masih berlaku, kau tidak bisa bekerja disini, ikut aku kembali." Ucapnya, sampai menarik tanganku.

"Aku tidak mau! Aku akan tetap bekerja disini!" Ucapku, marah, menepis tangannya dan menarik tanganku.

"Tuan, tolong jangan mengganggu pegawai disini." Ucap senior, dia sampai melindungiku.

"Siapa dia? Selalu saja bersama para pria."

"Kau selalu saja salah paham! Aku kadang terlihat bersama seorang pria tapi tidak berarti kami memiliki hubungan seperti otakmu yang terus saja memikirkan hal bodoh!" Kesalku.

"Aku tidak mau mendengar ocehanmu, kembali sekarang juga."

"Kau tidak ada hak mengaturku!"

"Aku punya hak! Apa perlu nice-market ini aku ratakan saja dengan tanah?"

"Ha! Kau gila! Keluar dari sini sekarang juga! Jika kau berani meratakan nice-market ini aku akan membuat hidupmu susah!"

"Kau! Masih saja berani padaku!"

"Bisakah kalian berbicara lebih santai, lagi pula jika nice-market ini di ratakan managerku akan syok, lalu, tuan, nona Sakura masih terikat kontrak dengan kami, tolong jangan memaksanya." Ucap senior.

"Kau tidak punya hak untuk berbicara denganku." Angkuh Sasuke.

"Keluar dari sini!" Usirku. Aku benar-benar kesal padanya.

"Kau pikir ancaman itu akan berguna untukku? Aku akan menghancurkan tempat ini atau kau ikut bersamaku." Ancam Sasuke.

Ada apa dengannya? Tiba-tiba saja datang dan marah-marah seperti ini, bahkan memaksaku kembali, seharusnya dia minta maaf terlebih dahulu padaku.

"Apa kau tidak punya sopan santun saat di luar, tuan?" Ucap seseorang yang baru saja masuk, menoleh dan itu adalah Sai, aku tak tahu akan terjadi perang apalagi jika mereka bertemu.

"Sekarang ikut aku." Ucap Sasuke, dia mengabaikan Sai.

"Kau tak bisa seperti itu, Sakura sedang bekerja." Tegur Sai.

"Aku tak bicara padamu."

"Tapi kau sedang mengganggu pacarku, tuan." Ucap Sai, bahkan menatap serius pada Sasuke.

Hening.

Aku sampai syok mendengar ucapan Sai, kami tak memiliki hubungan seperti itu, menatap ke arahnya, seakan memberi kode 'kenapa kau mengatakan seperti itu!', Sai hanya membalasku dengan senyuman tipis di wajahnya.

Kali ini tatapan Sasuke mengarah padaku, apa itu? Kenapa tatapan yang terlihat kecewa? Aku tidak melakukan hal buruk padanya, Sai mungkin hanya ingin melindungiku dari sikap seenaknya.

"Kalau begitu, selamat untuk kalian." Ucap Sasuke, dia pun menyerah memaksaku pergi dan keluar begitu saja.

Seharusnya kesalahpahaman ini tidak perlu terjadi, kakiku bergerak, melihat Sasuke keluar dengan wajah seperti itu membuatku tak tenang.

"Tunggu, jika kau menemuinya, dia akan tetap bersikap seenaknya padamu." Cegat Sai, dia pun menahanku untuk tidak mengikuti Sasuke keluar.

.

.

TBC

.

.


update...~

Sakura dan Sai sudah kembali jalan-jalan, tak banyak hal yang terjadi, cuma pernyataan itu saja yang nongol.

Hanare menghasut Sakura, berhasil nggak ya?

Terus, bagaimana Sasuke mendengar ucapan Sai?

dan sebuah pesan dari reader tercinta, eh(?)

vitaminku123 : Jgn lupa ffn yg laen jg dilanjutin y ka

J : terima kasih atas pengingatnya, author akan berusaha update kembali fic-fic yang lain... *kedip-kedip*

.

.

see you next chapt!.