helo! I'm back! saya nggak jadi hiatus selama dua minggu karena satu dan dua hal.
huh, saya kzl. sayangnya saya gak mungkin curhat di sini.

ini part duanya ya, kesayangan. saya seneng banget pas liat review, beneran.
makasih yaaaaa untuk semuanya~~

saya mau balas-balas review dulu. gaya bener, kan.
Nam-SuPD, hai~ makasih udah ngingetin typonya. penempatan huruf kapital di NAMJINPEDIA emang nggak saya pake. soalnya ngetik ini di LINE. keyboard hp saya settingnya begitu. sayanya males ngedit lagi, maaf ya?
rrriiieee, hai! Yoongi oppa jadi oppanya kamu dong. nggak deng saya becanda, Yoongi oppa jadi oppanya saya. sok dibaca aja atuh ya biar tahu Yoongi oppanya kita jadi apa. wks
avis alfi, waktu nulis ini saya sih ngebayanginnya kerajaan ini kayak yang di Inggris gitu sih. tapi terserah kamu mau ngebayanginnya gimana. saya sengaja nggak pernah ngejelasin secara detail biar yang baca bisa ngayal sebebas-bebasnya.

udah, begitu aja.

happy reading ya! *wink*


Nordvéstur

PART II

Jin sedang memandangi senja dari balkon kamar ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya. Jin berbalik bersamaan dengan pintu yang terbuka. Namjoon berdiri di sana, di ambang pintu sambil tersenyum.

"hey," sapa Namjoon.

senyum Jin terkembang. "kau sudah tiba? aku menunggu sejak tadi," katanya.

Namjoon berjalan menghampiri Jin. "maaf aku terlambat," bisiknya sembari merengkuh tubuh Jin ke dalam dekapnya. "ada urusan di istana yang menahanku pergi."

"apa sesuatu yang buruk?" tanya Jin, cemas.

Namjoon menggeleng. "ayo turun, makan malam sudah siap."

Jin menatap Namjoon. dielusnya setiap inci wajah Namjoon, berusaha menghafal. mengingat. "aku merindukanmu."

Namjoon tersenyum, dikecupnya kening Jin lembut. "aku juga, Jin."

Jin menatap Namjoon tepat di mata. ada rindu penuh cinta yang bisa dia lihat di sana. juga dirinya sendiri. "hey, Prìns, tidakkah kau ingin berdua saja dengan kekasihmu ini barang sebentar?" kata Jin, wajahnya tertunduk menyembunyikan semburat merah dipipinya. "aku benar-benar merindukanmu."

Namjoon tersenyum. lalu didekapnya Jin sekali lagi. "kau ingin berdua saja denganku?"

Jin mengangguk, dihirupnya dalam-dalam wangi yang menguar dari tubuh kekasihnya itu. "bukankah kita harus memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya?"

Namjoon tertawa pelan, dilepasnya dekapan mereka. "tentu saja. tapi sebaiknya makan dulu, aku lapar sekali. kau tidak lapar?"

"tentu saja aku lapar. kapan aku pernah tidak lapar?"

Namjoon tertawa lagi. ditatapnya wajah Jin yang cemberut. "hey," panggilnya.

Jin menatapnya. "apa?"

dikecupnya bibir Jin cepat. "ayo makan dulu."

Jin mendengus. tiba-tiba ditariknya tengkuk Namjoon dan kemudian diciumnya panjang kekasihnya itu.

"sepertinya kita akan sedikit terlambat untuk makan malam," bisik Jin di atas bibir Namjoon.


Namjoon dan Jin menuruni tangga dengan tangan yang terkait erat. Jin merapikan sekali lagi rambutnya yang tadi sempat berantakan. wajahnya sudah semerah tomat. dia sedang berada di atas pangkuan Namjoon, sedang mengecup bibir kekasihnya itu habis-habisan, ketika Jimin membuka pintu kamarnya tiba-tiba.

"maafkan Jimin, Jin hyung. anak ini memang suka sembarangan," kata Yoongi. lelaki berkulit pucat itu menyeringai penuh arti pada Namjoon.

"tidak, Prìns, aku-aku..." Jin tergagap, diliriknya Namjoon dengan ujung matanya.

"hentikan itu, Yoongi. kau membuatnya panik," kata Namjoon.

"tidak, aku tidak," jawab Yoongi. Prìns of Sud-ést itu masih saja menyeringai menatap Namjoon. "Hoseok beruntung kalian tidak berkencan di istana."

Hoseok tertawa. "kalian bisa bayangkan nasibku jika mereka berkencan di istana. hormon Namjoon sedang tinggi-tingginya," katanya.

Namjoon dan Jin menghela nafas saja mendengar dua lainnya tertawa.

"oh, kalian sudah kembali?" Jimin keluar dari arah dapur membawa senampan besar ayam panggang utuh. "Jin hyung, makanlah yang banyak. ku rasa kau perlu banyak tenaga malam ini."

"Jimin-ah," rengek Jin, mengundang tawa yang lainnya sekali lagi.


"hanya ingin berkumpul dengan kalian, itu saja," kata Yoongi, disesapnya segelas wine ditangannya.

"aku pikir ada sebuah perayaan besar," kata Hoseok.

"aku inginnya begitu. tapi bukankah sebentar lagi kami akan menikah, jadi perayaan besarnya nanti saja," kata Jimin, digenggamnya tangan Yoongi erat-erat.

Jin menatap keduanya, tersenyum. Yoongi dan Jimin terlihat sangat bahagia. Jin merasa mereka berdua sangat beruntung. Sud-ést mendukung keduanya. Prìns Yoongi dan Jimin, sudah menjadi headline news di laman-laman berita sejak awal mereka berkencan.

Namjoon merangkul Jin, mengelus lengan kekasihnya itu pelan. "di Sud-és atau di sini?" tanyanya pada Yoongi.

Jin menatap Namjoon. wajahnya tampak tampan disinari api unggun yang menyala di tengah-tengah mereka. Jin menarik selimut yang menutupi kakinya, menyelimuti Namjoon juga. Namjoon yang sedang mendengarkan Yoongi menoleh padanya, lalu tersenyum. diraihnya jemari Jin, digenggamnya dalam diam. hangat.

"Jungkook akan pulang," kata Namjoon tiba-tiba.

Hoseok menegakkan duduknya. "benarkah?" tanyanya, terkejut.

Namjoon mengangguk. ditatapnya Jin yang terlihat bingung. "dia sudah siap mengabdi untuk Nordvéstur."

Prìns Jungkook, adik bungsu Namjoon. Jin tahu, tapi tidak mengenalnya dengan baik. dia jarang bercengkrama dengan orang-orang, lebih banyak mengurung diri di kamar. umurnya tiga tahun lebih muda dari Namjoon. dari yang Jin dengar, Jungkook memang bersekolah di luar negeri. setelah dia pergi, tak ada kabar lagi yang terdengar tentangnya.

"apa dia akan baik-baik saja? bertahun-tahun hidup bebas di luar negeri lalu kembali ke kerajaan?" tanya Jimin.

Namjoon menggedikkan bahunya. "Jungkook akan selalu baik-baik saja."

"tapi Namjoon, dia pulang untuk apa? bukankah dia bilang, dia tak ingin berurusan dengan kerajaan?" tanya Hoseok.

Jin lalu menatap Namjoon, lelaki itu hanya menjawab pertanyaan Hoseok dengan seulas senyum tipis. senyuman yang tidak Jin tahu artinya apa.


Namjoon mengusap peluh dipelipisnya. senyuman puas terpatri di wajahnya. nafasnya masih terengah. Jin sendiri sudah tumbang di atas dada Namjoon. untuk pertama kalinya, mereka berdua bercinta tanpa perlu terburu-buru dan rasa takut. Jin bahkan bisa mendesah sekuat yang dia mau, beruntung Jimin memilihkan kamar paling sudut untuk mereka.

"aku mencintaimu," bisik Namjoon. dikecupnya puncak kepala Jin.

"hn, aku juga, Namjoon," sahut Jin.

"apa kau senang di sini?" tanyanya.

Jin mengangguk. "Yoongi dan Jimin menyambutku dengan hangat. terimakasih sudah mengenalkanku pada mereka, Namjoon."

"tentu aku harus mengenalkanmu pada sahabat-sahabatku. jadi kau tahu, sahabatku bukan hanya Hoseok."

"ah, ya. aku tidak tahu Hoseok hanya memanggilmu Namjoon di luar istana," kata Jin, tiba-tiba.

"benarkah? kau tidak pernah mendengarnya memanggilku seperti itu selama ini?"

Jin menggeleng. "dia memanggilmu Prìns di istana, saat menceritakanmu padaku pun dia tidak pernah memanggil namamu saja."

"aku dan Hoseok selalu bersama-sama sejak kecil, dulu dia hanya memanggilku Namjoon. baru ketika umurku dua belas tahun dan dia menjadi nöbetku, dia mulai memanggilku Prìns. tapi saat sedang berdua saja atau di luar istana, kami melepaskan segala embel-embel kerajaan."

"aku dengar ayah Hoseok adalah prajurit terbaaik kerajaan."

"benar, ayahnya meninggal saat melindungi kakekku, ibunya meninggal tak lama setelah itu."

"oh, begitu," Jin mengangguk-angguk. "Namjoon, ceritakan padaku tentangmu."

Namjoon menatap Jin yang kini sudah berbaring disampingnya. menatapnya sambil tersenyum tipis. "kau sudah tahu semua tentangku."

"ceritakan apa saja. kita sudah kenal lama tapi pasti ada yang belum pernah kau ceritakan padaku. seperti... Jungkook? aku jarang mendengar kau menyebut namanya. kau lebih sering bercerita tentang Hoseok dari pada adikmu sendiri."

Namjoon terdiam, ditatapnya mata bening Jin dalam-dalam. perlahan tenggelam dalam keindahannya. "Jungkook selalu menyesal kenapa dia lahir sebagai salah satu Prìns of Nordvéstur. dia tidak suka segala hal tetek bengek kerajaan semenjak bayi. dia bahkan menangis kencang saat dipakaikan baju besar kerajaan di hari perayaan kelahirannya. beruntung ayah dan ibu mencintainya, amat sangat mencintainya. dan... sebut saja aku iri padanya, Jin. sebab dia selalu berani mengungkapkan keinginannya. jika dia tidak suka, dia bilang tidak."

Jin meraih jemari Namjoon lalu digenggamnya. "lalu?"

"keinginannya untuk meneruskan sekolah ke luar negeri di tentang ayah dan ibu. pangeran harus bersekolah di istana. tapi Jungkook bersikeras, dia rela tidak difasilitasi asal bisa bersekolah di sana. hebat kan?" Jin mengangguk. "hanya perlu bersikeras, dan dia mendapatkan apa yang dia mau."

"lalu kau?"

Namjoon tersenyum. "ayah dan ibu tidak pernah membiarkanku mengungkapkan apa yang aku mau. aku tak berhak bersuara. aku harus mengikuti apa-apa yang sudah dipersiapkan untukku. pewaris tahta tak boleh memberontak, sedikit pun. aku tidak pernah melanggar satu pun apa yang sudah kerajaan siapkan untukku. kecuali satu."

Jin menaikkan alisnya, bertanya.

"mencintaimu." Namjoon menghela nafas, begitu juga Jin. "tapi aku tidak menyesal. sebab aku lelah terus menurut. aku ingin sekali saja mengambil langkah untuk bahagiaku. dan bahagiaku ada padamu."

Jin tersenyum tipis. "apa kemungkinan terburuk untuk kita jika kerajaan tahu? apa aku akan diusir dari kerajaan? dipisahkan jauh darimu?"

Namjoon tersenyum, dielusnya pipi Jin lembut. "tidak akan ada kemungkinan terburuk, Jin. aku berjanji."

"Namjoon, hubungan kita ini resikonya terlalu besar. kemungkinan terburuk adalah hal yang jelas-jelas pasti."

Namjoon menarik Jin dalam dekapnya. "setidaknya aku tidak akan membiarkan kemungkinan terburuk itu terjadi, Jin."

"Namjoon," bisik Jin. "katakan padaku apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu. bahkan berada sedekat ini denganmu masih belum bisa membuatku mengerti apa yang kau pikirkan tentang kita. sejak awal kau memilihku, hingga saat ini."

"tidak ada, Jin. tidak ada. kau hanya perlu tahu bahwa dipikiranku saat ini hanya ada kau. dan kebahagian kita."

kebahagian seperti apa, Namjoon? kebahagiaan saat ini? hanya saat ini? sebab kita tak punya kebahagian di masa depan kita? benarkan, Namjoon?

tbc~