=Two Worlds=

"Kita tidak pernah sendirian di semesta ini"

Story & Cover by:

Zanas-kun

Genre:

Fantasy, Friendship, Humor, Action

Disclaimer:

Kuroko no Basuke character by Fujimaki-sensei

Warning:

[Insert all, just for save]

If you like it click Next, if you hate it click close/back

DON'T LIKE DON'T READ!

Enjoy!

Chapter 21

"Murasakibara dan Himuro"

Pemuda bertubuh jangkung menatap mereka bosan "Kalian mengenalku?"

Dan pemuda berrambut hitam di sebelahnya tersenyum simple "Tak kusangka aku bisa melihat para tuan muda dari berbagai ras berkumpul di sini"

"Terima kasih atas bantuannya tadi! Yaah, kami benar benar terpojok tadi!" kata Takao ramah.

Himuro tersenyum padanya "Tidak apa-apa. kami mendengar kegaduhan dan aktivitas tak biasa disini. Untung sempat ya" senyumnya tak mencapai mata

Murasakibara menghela nafas "Haaah bodoh sekali, muro-chin pulang yuk. Disini hanya buang buang waktu." Kagami akan protes tapi mulutnya langsung di bekap Sanada.

Himuro menghela nafas "Iya-iya, setelah ini ya." Kata Himuro pada Murasakibara, lalu dia melihat sekeliling, terutama dimana lubang tercipta dan tanah yang dulunya ada menghilang, menyisakan satu pijakan di tengah menyerupai tiang "Tapi bagaimana aku menyampaikan ini pada ayahmu?" gumamnya kemudian sambil menghela napas pelan.

"Murasakibara Atsushi, anak dari pemimpin ras Barbarian, dan Himuro Tatsuya, sang penasihat. Senang bertemu dengan kalian. Aku Nijimura Shuuzou, pemimpin dari kelompok ini. Maafkan atas kekacauan yang kami buat" Nijimura menunduk di hadapan kedua pemuda yang lebih muda dan sepantaran dengannya itu.

Kagami gagal paham "Nijimura-senpai, kenapa kau-"

"Shh! Ikuti contohnya!" kata Takao memaksa kepala Kagami untuk menunduk dan membungkam mulutnya sebelum Kagami bereaksi apapun. Dan yang lainnya juga ikut menunduk.

Hening sejenak

"Oke, kalau begitu kalian harus mengikutiku menemui pemimpin kami, dengan kata lain, ayah dari Murasakibara Atsushi di hadapan kalian" jawab Himuro setelah berpikir. Mereka semua menelan ludah.

Jika anaknya bertubuh kekar dengan tinggi melebih dua meter, mereka tidak mau memperkirakan seberapa 'gigantik' ayahnya nanti, mungkin dia hampir 3 meter. Nijimura dan Kise merasakan firasat yang tidak enak di dada mereka.

.

.

"percayalah, anak lelaki biasanya lebih tinggi dari ayahnya" gumam Takao saat mereka sedang duduk di hadapan singgasana milik pemimpin ras Barbarian yang liar dan kasar. Disebelahnya Sanada juga bersimpuh dan berusaha keras menahan tawanya, untung Haizaki tidak ikut, ia tidak ingin keadaan menjadi lebih buruk dan untunglah Kagami lumayan bisa di atur.

Raja itu tengah berdiri angkuh, di sebelahnya anaknya berdiri juga, raja yang hanya sampai dada anaknya itu menatap penuh curiga pada sekelompok pemuda di depannya, dia mengelus jenggotnya yang lebat dan tak tertata perlahan.

"... karena telah merusak wilayah kekuasaanku... bagaimana kalau ditarik kuda sejauh 10 mil?" gumamnya pada orang orangnya yang berdiri di pinggir karpet hewan yang memanjang dari pintu masuk ke singgasana Raja. Bahu para 'pelaku' di depannya menegang.

"Tidak, kupikir memotong tangan mereka akan lebih baik!"

"Tidak, kaki mereka!"

"Potong lidah mereka!"

"penggal kepala mereka!"

"Bakar mereka!"

"Kubur mereka hidup hidup!"

"Kalau merampas semua yang mereka miliki bagaimana? Termasuk kesucian mereka?"

'KAMI MOHON APAPUN TAPI JANGAN YANG TERAKHIR!' Batin Nijimura sekelompok merinding

"Ah, tapi yang mulia, ini merupakan kesempatan bagus untuk menjalin aliansi dengan ras lain. Seperti yang anda ketahui, ras kita kekurangan bahan makanan dan obat, juga pengetahuan mengenai aliran dunia yang sedikit aneh yang terjadi akhir akhir ini..." Himuro menyarankan dan dengan nada yang penuh penghormatan berbicara pada rajanya "kita bisa gunakan mereka dan masalah yang mereka buat untuk 'melancarkan' urusan kita nanti" katanya sambil melirik sinis kepada mereka.

"tolong ingatkan aku untuk tidak cari gara gara dengan himuro-senpai" gumam Takao sangat rendah, di sebelahnya Sanada mengangguk.

'Tatsuya... aku tidak pernah menduga sisi ini darimu' batin Kagami sweatdrop, dia rasa dirinya disini tak mengenal kakak seperguruannya dalam basket itu, begitu juga sebaliknya, mereka tak mengenal dengan dekat seperti di dunia mereka yang asli. Itu membuatnya sedikit kecewa

"Keluar deh sifat liciknya" gumam Nijimura sekalian menghela nafas sambil mengerutkan alis, lalu tersenyum miring.

"Bukannya orang yang disini belum tentu sama sifatnya dengan orang yang disana?" tanya Kuroko polos

"Buat jaga jaga ato referensi gitu" kali ini Mayuzumi yang menjawab

Brak! Mereka semua terdiam lalu duduk tegap kembali hampir secara otomatis

"Sandera dilarang bicara!" ucap salah satu orang yang berkumpul yang Sanada kira adalah salah satu tetua di sana.

Murasakibara mengerutkan alisnya, para tamunya kali ini tidak biasa. Kebanyakan dari tamu yang datang pasti akan ketakutan oleh presensi dari seorang Barbarian, dan kini situasi mereka layaknya dikepung. Tapi, mereka bahkan tidak gemetaran. Sama sekali

"Ketenangan kalian membuatku ingin menghancurkan kalian..." kata Murasakibara tidak membaca situasi

Para tamunya menatapnya penuh arti setelah dia mengatakan kalimat yang bisa membuat seorang pria dewasa menangis itu. Dan itu membuatnya kesal.

Mereka bermuka tebal dan mereka tidak takut. Dan yang penting, mereka membuat perasaan Murasakibara tidak nyaman, ada 'sesuatu' dengan mereka. Saat Murasakibara melangkah maju dengan kesabaran yang habis, langkahnya terhenti oleh tangan ayahnya yang terbentang di depannya.

"Baiklah, kalian pulanglah ke masing masing rumah kalian, katakan pada mereka bahwa kami, ras Barbarian 'menawarkan' kerjasama, dengan jaminan..." sang Raja melirik Sanada, Nijimura dan Mayuzumi sinis. Lalu para penjaga dengan sigap menahan mereka dan menyita senjata mereka bertiga "Keselamatan teman teman kalian dan perbatasan mereka" dia menyelesaikan kalimatnya dengan seringai buas. Dia menyadari kekuatan sukunya dan ketakutan ras lain karena itu. Tentu, kecuali Suku dengan ras besar dan di anggap sebagai ras tertua dengan kekuatan yang tak di ragukan lagi, seperti Vampire, Sorcerer, Werewolf, dan sebagainya, tapi bagi ras berkemampuan rata rata seperti SoulEater dan Demon Samurai, apa lagi ras bukan petarung seperti Healer, mereka bisa apa?

Kagami akan bangkit dan menarik pedangnya tapi terhalang oleh gadha yang besar dan berat di depannya, mengikuti panjangnya, dia melihat muka garang Okamura. 'Gorilla! Eh-Okamura-senpai!' batin semuanya terkejut dan Kagami sport jantung.

Himuro berkata dengan senyum yang tak mencapai matanya "Maaf tapi tolong turuti kata kami, jika kalian tak ingin ada darah yang tertumpah"

Dan mereka menurutinya.

Hasil dari itu, pada hari yang sama, penerima pesan Ras Barbarian menerima pemberitahuan akan di adakan rapat mengenai aliansi yang akan di adakan sebulan dari sekarang. Dari klan Healer, DemonSamurai, SoulEater, dan Sorcerer. Rapat itu akan di adakan di sebuah gedung di pusat kota ras Sorcerer. Lima hari setelah ini.

.

.

.

Pagi telah menjelang dan Sanada membuka mata biru safirnya, cahaya matahari telah menyelinap masuk dari celah korden kamarnya, di sebelahnya terdapat kasur lagi dan Takao masih tertidur pulas di atasnya.

"...Apa-apaan yang tadi..." gumamnya sambil menghela nafas lelah. Hari harinya di sana sangat kacau, masih sekitar sehari di sana tapi umurnya seperti telah terserap beberapa tahun. Mereka terlalu kasar dan tak berpendidikan dari yang Sanada kira. Hampir berulang kali mereka kehilangan kesabaran dan kendali diri.

"Dan apalah daya kita yang Cuma sebagai sandera" kata Nijimura dari belakangnya, dengan mudah membayangi Sanada untuk mengambil sikat gigi di lemari yang terpaku di tembok di atasnya.

"Setidaknya tunggu aku selesai" kata Sanada datar sambil melihat satu lengan Nijimura di sisi kirinya.

Nijimura sudah mengambil sikat gigi dan pasta giginya "Dan aku akan telat untuk rapat klub pagi ini dan para pelatih akan membunuhku." Katanya datar sambil mengoleskan pasta giginya ke sikat gigi yang sudah di basahi

"tidak sampai semenit juga" lalu Sanada di depannya berkumur

"Berisik, cepatlah menyingkir" dan kebetulan Sanada juga sudah selesai cuci muka dan sikat gigi. Dan sesuai titahnya Sanada menyingkir dan berjalan menuju kamarnya untuk ganti baju, sepertinya Nijimura sama setresnya dengannya, apalagi harga dirinya tinggi. Tak lama kemudian dia melihat Mayuzumi melewati kamarnya dan Takao yang mulai bangun.

"Oh iya, Haizaki tidur di rumah pacarnya lagi ya?" tanyanya pada Takao yang sedang merapikan tempat tidur.

"Yeeeh" jawab Takao sekenanya, lalu Takao menguap lebar.

"... aku terkejut pemimpin kalian menyetujui rapat aliansi itu" kata Sanada setelah hening sejenak

Takao terhenti di depan pintu "Entah apa yang dipikirkannya, bahkan Shin-chan lebih mudah di tebak. Awalnya setelah aku pulang aku menyampaikan pada mereka persis seperti yang pak tua kekar itu bilang. Aku juga tak menyangka tuan Midorima menerimanya. Heck, bahkan dia tak tau siapa kalian. Dan kurasa klan Midorima juga bisa dengan mudah menendang bokong para Barbarian itu." Lalu dia berjalan kembali, Sanada terbiasa dengan ucapan kotor, tapi cukup mengejutkan kalo yang mengucapkannya adalah Takao

"Woi! Sarapan nih!" dari pintu depan terdengar suara kasar Haizaki.

"Taruh aja di meja makan!" balas Nijimura di kamar sebelah

"Tumben kau bawa makanan" kata Mayuzumi telah memakai seragam dengan rapi dan menyiapkan meja makan

Haizaki tersenyum miring "Anggap saja bonus dariku, kudengar kalian mengalami masalah yang cukup serius ya disana?" katanya menggoda

"Kalau kau tau kenapa kau tidak melakukan sesuatu?" tanya Sanada selagi dia duduk di meja makan, disusul Takao yang sudah rapi berseragam.

"Benar! Benar! Dasar pengkhianat! Aku berani bertaruh kau pasti malah senang senang kan?!" kata Takao sebal pada Haizaki yang mengeluarkan makanan dari dalam kresek yang di bawanya

Haizaki mendengus geli "hei bung, aku masih menyayangi nyawaku, memangnya aku menyuruh kalian membuat kekacauan di area ras Barbarian?" lalu dia berjalan ke kamarnya

"Aku mengatakan hal yang sama padamu, Takao. Kau pasti juga bersantai setelah menyampaikan pesan kan?" kata Mayuzumi selagi dia menyediakan minuman.

Takao terdiam "I-itu, aku... mempersiapkan diri menjadi pengawal Tuan Midorima bersama Shin-chan!" jawabnya gelagapan.

"Uh-huh" jawab Nijimura sambil duduk di hadapan Takao, nadanya seperti tidak percaya.

Saat Takao akan membalas Mayuzumi menyela "Udah udah, cepet sarapan."

Haizaki berjalan keluar kamarnya dengan seragam yang tak terpakai dengan benar, khas dia yang Nijimura sudah terlalu capek untuk mengingatkan. Lalu Mayuzumi yang terakhir duduk. Dan mereka sarapan dengan tenang.

.

.

.

Saat istirahat siang, di atap. Kagami mengajak Sanada bergabung, dan Ogiwara istirahat bersama teman sekelas yang lain. Dan sesampainya di sana, Sanada juga melihat Takao yang melambai padanya dengan senyum garing.

"Kenapa kau ada disini?" bisik Sanada selagi dia duduk di sebelah Takao

"Aku juga gak tau, Shin-chan mengajakku, semenjak tadi suasananya gak enak cuy." Bisik Takao sambil mencondongkan tubuhnya.

Lalu Sanada melihat sekeliling dan tatapannya terhenti ke Akashi yang melihat kepadanya. Sanada merasa canggung. Lalu Akashi tersenyum tipis dan memulai pembicaraan

"Senang kalian mengajak teman kalian, istirahat siang jadi terasa lebih ramai dari biasanya"

Lalu Takao menjawab "Hahaha, maaf kalau mengganggu, aku sangat penasaran seperti apa kiseki no sedai saat istirahat, kalian selalu bersama sih"

"Tak ada yang khusus, sama saja seperti kalian" jawab Akashi

"Hm~ tak peduli dilihat berapapun Sanada-kun tetap mempesona ya~" komentar Momoi fangirling dan mencubit pipinya.

"hah?" sanada mengangkat sebelah alis dan menatap aneh Momoi

"Rambut dan perawakan seperti boneka~ bahkan Shiorin saja rambutnya berwarna perak, kalian orang luar negeri ya?" matanya berbinar saat menanyakannya

"Tapi kalau dilihat lihat mereka berdua tidak mirip... padahal sepupu kan?" tanya Kagami sambil menaruh dagunya di antara ibu jari dan telunjuk.

"Ya iyalah, orang aku sama sepupuku aja gak mirip" celetuk Aomine kemudian

"Tapi tetap saja pasti ada miripnya-ssu!" protes Kise

"Kalo Dai-chan mah memang beda sendiri di keluarganya, hihihi" kata Momoi dan dia tertawa kecil setelahnya

"Berisik!"

"Ah, sebenarnya aku anak angkat jadi wajar kalau gak mirip" jawab Sanada datar

"Anak angkat?" tanya Kagami, Kise dan Momoi bebarengan

"Begini, dulunya saat umurku tujuh tahun kakekku yang sekarang mengadopsiku yang seorang anak jalanan, saat natal di Inggris."

"Whoa... kayak yang di film film ya" komentar Kagami tiba-tiba yang sebenernya gak penting

"Kaga-chin gak nyambung de..." kata Murasakibara sambil menikmati makanan ringannya

"Tolong jangan buat dirimu lebih bodoh dari ini Kagami" komentar Sanada selanjutnya

"Siapa yang kau panggil bodoh?!"

"Ahahaha diantara kami kau itu yang paling ceroboh dan kepala panas Kagami!" kata Takao berikutnya

"Kalau aku yang paling bodoh dan ceroboh berarti Kuroko yang paling kepala batu-akh!" dan Kagami mendapat side-chop tepat di ulu hatinya "KUROKO!" teriaknya kesal pada pemuda pendiam di sebelahnya

"Jadi kau mengakui kalau kau bodoh ya?" tanya Aomine dengan seringai meremehkannya

"Levelnya sama denganmu Ahomine" komentar datar Sanada selanjutnya

"Apa katamu?!"

"Berisik-nanodayo! Makan yang tenang!" teriak Midorima akhirnya dengan urat di pelipisnya

"Tuh, dengarkan kata ibu kalian! Pffft!"

"Takao. Mati"

Akashi hanya menonton keramaian itu tanpa ada niat untuk mengganggunya, tingkah para coretanakbuahcoret temannya itu layaknya anak kecil tapi dia menikmatinya, sedikit tak menyangka keramaian ini membuatnya tenang. Hal seperti ini juga membuatnya melupakan mimpi yang kabur dan perasaan aneh saat ia bangun tidur akhir akhir ini.

Saat akan berjalan ke kelas bersama Murasakibara, jarang jarang pemuda jangkung tersebut mengajaknya bicara

"Aka-chin"

"ya?"

"Akhir-akhir ini aku punya mimpi aneh, aku... ada di sebuah tempat yang seperti di film film, bahkan aku melihat orang-orang yang mirip Muro-chin, Nijimura-senpai dan Mayuzumi-senpai"

"Mungkin kau kelelahan, Atsushi. Lagipula, mimpi seperti itu memang biasa terjadi"dan itu adalah kalimat yang sama yang ia katakan pada dirinya.

.

.

.

"Jadi, Kuroko, apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Nijimura pada adik kelasnya yang mengajaknya keluar gym dengan alasan ada hal penting yang ingin di bicarakan.

"Nijimura-senpai, apa kau masih ingat apa yang orang-orang berjubah itu katakan tentang tujuan mereka?" tanyanya menatap lurus kakak kelas dan juga kaptennya

Nijimura mengangguk "Iya, aku masih ingat. Tapi, Mereka tak mengatakan dengan jelas apa tujuan mereka" katanya sambil bersandar ke dinding dan menatap langit, sudah bewarna keunguan, sebentar lagi latihan berakhir

"Aku tau tujuan mereka"

"Ap-?!" Nijimura menatap Kuroko terkejut dan mendorong tubuhnya menjauh dari dinding, dia memelankan suaranya yang sempat menaik "Bagaimana?"

"orang yang melawanku mengatakannya sendiri padaku, bahwa tujuan mereka adalah..."

Flashback

"Sekarang apa alasanmu mengincar senjata legenda." tanyanya dengan tegas ke arah musuh yang perlahan menyeringai. "Aku akan berbaik hati untukmu dan menjelaskan panjang lebar untukmu, seven Miracle yang pertama kali bangkit"

"Senjata Legenda menyimpan kekuatan yang besar, sangat besar hingga hanya orang orang tertentu yang bisa memegangnya, orang orang yang lahir di antara tujuh titik pusat putaran sihir yang tak diketahui pasti keberadaannya, tujuh orang yang kelahirannya berada di waktu ketika dimensi antara kedua dunia sangatlah tipis, dan itu adalah kalian, Gate Guardians."

"Tapi, senjata itu tidak hanya berfungsi sebagai senjata maupun pelindung, mereka tak sesederhana itu." Dan entah bagaimana Kuroko mengerti hal itu, dia juga merasa bahwa senjatanya tak berfungsi hanya sebatas itu.

"dengan mantra yang tepat dan jika segala persyaratan memenuhi, mereka bisa merobek dan menghancurkan, bahkan lapisan pelindung dimensi sekalipun. Maka dari itu, kalian, beserta senjata Legenda, kalian di puja dan di takuti, di sayang dan di benci, menjadi sumber harapan maupun sumber bencana bagi kedua dunia dan isinya."

"Tujuan kami adalah..."

Flashback over

"Untuk menyatukan kedua dunia."

Nijimura tak bisa berkata apa-apa saking shocknya. Tak pernah terbayangkan bahwa kekuatan Senjata tersebut bisa seperti itu, dan adik kelasnya menanggung tanggung jawab sebagai pemegangnya. Pemuda di depannya bahkan bertubuh kecil. Entah bagaimana, masalah ini perlahan seperti akan menjadi sesuatu yang besar. Sesuatu yang telah diluar imajinasi Nijimura sendiri. Ia kira ini akan menjadi masalah biasa seperti sebuah kelompok serakah yang menginginkan kekuatan. Hanya itu.

Nijimura menarik nafas sebanyak banyaknya dan menghembuskannya perlahan. Dia memijat pangkal hidungnya "Kuroko, usahakan kau jangan memberitahu siapapun. Ini adalah rahasia diantara kau dan aku"

Kuroko sedikit ragu untuk mengiyakan, jadi Nijimura menambahkan

"Jika terlalu terburu buru untuk memberitahukan ini kepada semuanya, akan terjadi kepanikan dan gerakan yang tidak perlu, apalagi beberapa orang diantara kita tak tau apa yang namanya menahan diri. Kita sendiri belum tau orang berjubah itu berbohong atau tidak. Untuk saat ini, kita harus menjaga senjata Legenda agar tak jatuh di tangan mereka. Lindungi baik-baik, sampaikan itu pada Kagami dan Kise." Kata Nijimura dengan penekanan di kalimat yang penting

Kuroko mengangguk mantab "Baik"

Dan tak diketahui keduanya, Sanada yang sedang berada di dekat pintu yang awalnya untuk mengambil bola secara tak sengaja mendengar semuanya.

' menggabungkan kedua dunia? Apa hal itu bisa di lakukan?' tanyanya dalam hati sambil mereka reka apakah Shiori dan kakeknya tau tentang hal ini. Secara Shiori adalah informan mereka dan kakek adalah pemimpin mereka. Tapi, tak usah di beri tahupun, mereka mungkin juga tau sendiri.

"Oi Sanada! Mau one-on-one denganku?" teriak Aomine dari kejauhan "Yah, walaupun aku gak yakin kau bisa menang sih" katanya meremehkan

"Kalau kau sudah tau kenapa kau mengajakku?" tanya balik Sanada sambil berlari ke arahnya

"Hm... lagi ingin saja, waktuku luang sekarang karena aku sudah menyelesaikan menu si raja iblis" katanya sambil melempar basket ke arah Sanada yang di tangkap dengan mudah, lalu, Aomine memasang posisi bermain

Sanada menghela nafas "Jadi aku hanya sebagai pengisi waktu luang ya..." lalu Sanada menunduk dan mendrible bola, menatap Aomine yang menyeringai "Akan kuberikan kau tea time yang memuaskan, panther"

.

.

.

.

TBC


Heiya para readers maaf ini terlambat update! maaaf banget!

Oh! kalau kalian penasaran sama kostum para gate guardians ini silahkan ke profilku, sebenarnya covernya itu sudah menunjukkan pakaian mereka sih soalnya aku tidak pandai mendeskripsikan pakaian secara detail, kukira kalian akan membukanya tapi ternyata ada yang tidak, hahaha. tidak kuwarnai karena... aku buruk dalam hal warna, ciyus.

hati hati dengan typo karena aku tidak sempat memeriksa kembali

Bagi para kelas 3 yang menghadapi Try Out, KITA BERJUANG BERSAMA KAWAN, RASAKANLAH SEMANGATKU

oh mungkin ini rendah tapi aku minta review~