"Naruto? Naruto? Naruto?" panggil suara halus itu kali ini disertai dengan goyangan pada tubuh pria yang sedari tadi melamunkan sesuatu.
Pria dengan cengiran rubah itu mengerjapkan matanya beberapa kali dan melihat ekspresi sedih tunangannya. "Maaf, Hinata aku tadi melamun." Ucapnya dengan nada bersalah.
Hyuuga Hinata hanya menggeleng pasrah. Dia tahu keadaan tunangannya ini akhir-akhir ini tidak bisa konsentrasi seperti biasanya. Padahal saat ini mereka berdua tengah mendiskusikan beberapa rencana untuk pernikahan mereka berdua yang tak lama lagi akan diselenggarakan.
"Apa kita tunda saja dulu pernikahan ini, Naruto?" Tanya Hinata khawatir.
Naruro menggeleng dengan cepat. Air mukanya tampak tidak setuju dengan apa yang baru saja diucapkan Hinata. "Tidak, kita sudah lama menantikan hal ini, Hinata-chan," Naruto mengelus pipi putih merona Hinata dengan lembut.
"Tapi, bagaimana dengan Sakura-san?"
Naruto menghela nafas panjang. "Tidak apa-apa. Aku yakin Sakura-chan akan segera sembuh. Kita berdoa saja untuk kesembuhannya."
Hinata mengangguk, "Sasuke-kun juga, aku khawatir dia akan jadi seperti Sakura-san jika terus sepeti itu."
"Tidak akan, sayang." Naruto memeluk Hinata dengan sayang, mengecup pucuk kepala Hinata dengan emmbisikan kata baik-baik saja pada dirinya sendiri juga.
Dia tidak ingin hal buruk menimpa pada kedua sahabatnya itu. Mereka berdua harus bahagia karena bagaimanapun benang merah sudah saling mengikat mereka sejak dahulu. Tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka.
"Mereka akan bahagia seperti kita."
.
.
.
Mencintaimu adalah caraku bernafas. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa berhenti mencintaimu?
.
MELEPASMU
Last Chapter!
.
Kurousa Hime
.
All characters © Masashi Kishimoto
.
OOC, rumit, alur lambat, typo(s) no edited, Italic untuk flashback, nama yang diberi BOLD akan menjadi sudut pandang orang tersebut.
.
Pusisi Habibi dan Ainun
Sedikit dari fanfic lamaku, Goodbye My, Lover
.
SasuSakuGaa
Finnaly SasuSaku
.
.
.
Enjoy reading minna!
See You! And Arigatchu!
.
.
Beberapa hari ke depan terasa memuakan bagi Sasuke. Ia lelah untuk berharap Sakura kembali seperti sedia kala. Meski kali ini Sakura tidak lagi berteriak histeris dengan meneriakan nama Gaara, kali ini Sakura hanya diam terisak terus menerus. Dia seperti tuli dan buta terhadap siapapun.
Omongan Sasuke, Sasori, Naruto bahkan kedua orangtuanya sama sekali tidak menggugah Sakura untuk berbicara barang sekatapun. Dia tak ayal bagai sebuah boneka yang telah rusak ditinggal oleh majikannya.
Hari ini akan terasa sama seperti hari-hari biasanya yang mereka lewati terutama teman dekat Sakura. Tetapi mungkin saja sesuatu akan terjadi lain dengan yang dibayangkan jika yang datang adalah wanita dengan rambut jingga kemerahannya yang menyala.
Langkahnya besar-besar Nampak tak anggun menlengos dalam lorong Rumah Sakit. Wajah cantik sangarnya tak bisa ia sembunyikan, ia begitu kesal mendnegar berita sahabatnya mengalami depresi yang berkepanjangan karena meninggalnya calon suaminya itu.
Pagi menjelang siang itu terasa mencekam karena udara begitu terik entah kenapa.
Saat wanita itu menemukan kamar rawat VIP sahabatnya itu segera saja ia masuk dan mendapati wanita yang tampangnya sangat berantakan itu tengah terduduk di kasurnya dengan memeluk kedua kakinya.
Pandnagan matanya kosong. Jejak air mata membekas jelas di wajah ayunya. Rambut merah muda yang biasanya terawat itu tampak kusut dan tidak terawatt sama sekali membuat wanit ayng melihat dengan iris rubinya itu emndengus geli.
Didekatinya ranjang itu dimana Sakura berada dan sebuah tamparan keras telak emngenai pipi kanan Sakura. Bahkan tamparan yang keras itu emnggema dalam ruangan yang sepi itu.
Emerald Sakura membelalak sempurna. Pipinya tampak berkedut panas akibat tamparan wanita yang tak jelas ini tindak tanduknya apa.
"SADAR KAU BODOH!" teriak wanita itu.
"Kyuu…," gumam Sakura. Itu adalah kata pertama yang Sakura ucapkan saat ketidakwarasannya.
"YANG TERSIKSA BUKAN HANYA KAU SAJA, SAKURA!" wanita yang dipanggil Kyuu itu mencengkram erat pundak Sakura hingga ia meringis kesakitan. "Kau orang bodoh yang pernah kutemui sepanjang hidupku selain orangtua sialku!" desisnya dengan suara parau.
Sakura memalingkan wajahnya. Ia tidak suka dengan Kyuubi yang seenaknya mencampuri urusannya. "Aku hanya ingin Gaara."
Kyuubi tertawa getir mendengar ucapan Sakura yang dibalas oleh tatapan tak suka olehnya. "Kau masih bermimpi, Nak? Gaara sudah mati!"
"Gaara tidak mati!"
"Oh, ya?!" nada mengejek Kyuubi begitu menyiksa emosi Sakura. "Kau wanita bodoh! Sadarlah Sakura Gaara sudah mati, dia sudah tidak ada lagi di sini! Kau harusnya sadar itu! Kau memiliki kehidupan lain selain hanya menangisi kepergian Gaara!"
"Jaga mulutmu, bitch!"
"Kau yang jaga mulutmu! Lihat sudah berapa banyak orang yang tersakiti akibat ulahmu! Mana ada yang senang melihat keadaanmu yang menyedihkan seperti ini termasuk AKU DAN JUGA GAARA!"
"Dan kau tidakkah lihat masih ada yang berharap cinta darimu? Lihatlah Sasuke, dia memang tidak bisa emnggantikan Gaara sama seperti Gaara yang tidak bisa menggantikan Sasuke dulu. Lihat! Bahkan Sasuke dan Gaara mempunyai kemiripan yang sama. Mereka berdua tidak pernah menyerah untuk berjuang mendapatkanmu, mendapatkan kebahagiaanmu. Apa Gaara akan senang kau seperti ini? Gaara melihatmu Sakura…,"
Isak tangis Kyuubi membuat emerald Sakura yang tadinya berkabut menjadi kembali tak kosong. Semua ucapan Kyuubi ada benarnya. Dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana orang-orang disekitarnya yang turut tersiksa dengannya.
"Maaf… Maaf…," Sakura memeluk Kyuubi dengan erat. Kyuubi balas memeluknya. Air mata yang membasahi pundaknya begitu terasa, guncangan akibat tangisan Kyuubi membuat Sakura bersedih. Pikirannya kembali terbuka.
Ah, andai saja wanita ini tidak datang untuk menamparnya, memarahinya, mungkin Sakura akan tetap sama. Mungkin Sakura tidak akan pernah sadar betapa dirinya sangat dicintai oleh siapapun.
"Kumohon berhentilah menangis," sendirinya berucap seperti itu namun Sakura akhirnya ikut menangis bersama Kyuubi hingga keduanya merasa lelah.
.
.
.
Kyuubi menutup pintu ruangan Sakura dengan hati-hati agar Sakura tidak terbangun dari tidurnya. Sebelum Kyuubi pergi meninggalkan Sakura, dia melihat lingkaran hitam dan tirusnya wajah Sakura tapi saat melihatnya tertidur kali ini Kyuubi yakin Sakura sudah jauh lebih baik dari yang mungkin sudah ia lewati.
Nafasnya begitu teratur saat tidur dan dia begitu nyaman. Semoga ia memimpikan indah kembali meski itu kenangan akan Gaara. Tidak pelak kelegaan muncul dalam hati, Kyuubi sendiri datang jauh-jauh dari Suna menuju Konoha karena dipanggil oleh seseorang.
Seseorang yang dahulu ia cintai namun untuk sekarang dan selamanya tidak lagi. Dan lagi orang itu adalah…
"Kau sudah menjenguk?" Kyuubi hampir saja terlonjak kaget dan akan memarahi siapa yang berani-beraninya mengagetkannya itu tapi diurungkannya saat tahu siapa yang mengagetinya itu adalah Naruto.
Wajahnya sedikit bersemu kemerahan karena tampaknya sudah beberapa tahun tidak bertemu dengan Naruto, pria muda itu semakin tampan saja meski sorot matanya masih sejahil saat mereka sekolah dulu.
"Ya-ya, aku sudah menjenguknya. Dia sudah tidur lebih baik kita pergi saja." Baru saja Kyuubi melenggang pergi tangannya dicengkal oleh tangan berkulit tan itu.
"Bagaimana kalau kau minum kopi bersamaku? Kau tampak kusut Kyuu sekaligus manis," kekeh Naruto saat mendapati wajah malu Kyuubi.
"Sialan kau!"
.
.
.
Semua orang bisa mendengar apa yang dikatakan. Tapi, tidak semua orang bisa mengerti apa yang dikatakan
.
.
.
Sakura terbangun dari tidur singkatnya. Rasanya ia sudah tertidur begitu lama dan ia merasa ada seseorang yang menjaganya selama ia tidur. Usapan demi usapan yang dilakukan oleh seseorang itu membuat Sakura nyaman bukan main.
Itu semua mengingatkannya akan Gaara. Ketika mengingat Gaara tidak ada lagi rasa sakit seperti sebelumnya, ia merasa sudah lega. Ia yakin Gaara sendiri pasti tidak akan suka jika melihat dirinya seperti orang gila, yeah tapi dia memang sudah gila kemarin-kemarin.
Dia tersadar. Meski dia sudah tidak kantuk lagi matanya masih setia untuk terpejam. Dia tidak ingin usapan memabukan ini hilang, ingin ia miliki dan tidak boleh berhenti makanya Sakura tidak berniat membuka matanya.
Sakura sadar, siapa yang tengah mengusapnya ini. Ini rasanya sama seperti saat ia masih kecil dulu saat ia tengah berada dalam gendongan Uchiha Itachi. Yang membelai dengan sayang kepala merah mudanya adalah Sasuke. Sasuke suka membelainya dengan cara aneh dari pucuk kepalanya hingga telinga Sakura.
Makanya Sakura tahu siapa yang membelainya saat ini dan ia tidak begitu keberatan dengan perlakuan Sasuke. Ia hanya ingin… memberi Sasuke kesempatan. Bukan, bukan berarti bahwa kini perasaan Sakura langsung teralihkan dari Gaara pada Sasuke. Rasanya dia seperti tidak tahu malu saja.
Lagipula Sakura tidak ingin Sasuke menanggapinya dengan berlebihan kalau-kalau dia sadar Sakura sudah sedikit lebih baik dari kemarin.
"Sakura…," Sakura berdebar saat namanya disebut oleh suara khas Sasuke itu. "Aku menemukannya di sana."
Sakura tidak bisa mengernyitkan alis merah mudanya, nanti ketahuan bukan akalu ia tengah berpura-pura tidur?
"Aku menemukan sebuah surat untukmu. Kalau kau sudah lebih baik bacalah. Tolong bacalah dengan seksama, maka kau akan mencoba memahami bagaimana perasaan cinta yang sebenarnya dari dia untukmu."
Sasuke menghentikan usapannya. Ia menaruh sepucuk surat beramplop kuning pudar dengan tulisan tinta merah menyala dengan nama Sakura di tengahnya dengan rapih. Sebelum pergi Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura hingga hembusan nafas hangat mengenai pipi tirus Sakura hal ini membuat Sakura berdebar-debar dibuatnya.
"Kumohon, lihat aku di sini untukmu," sebuah bisikan lirih terdengar di telinga Sakura bersamaan dengan menghilangnya nafas hangat Sasuke.
Langkah besar Sasuke menghilang di luar sana. Sakura membuka matanya yang sudah berkaca-kaca. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa Sasuke tampak begitu lain dari yang ditemuinya selama ini. Sasuke menjadi sangat lembut padanya.
Diliriknya meja kecil di samping ranjangnya. Sakura mengenali betul tulisan yang tertera di sana. Itu tulisan Gaara yang rapih dan tampak tegas. Dengan tak sabaran Sakura mencium surat tersebut dan harum citrus menguar. Perasaan rindu tiba-tiba saja menyeruak hangat dalam ingatannya.
Ragu. Sakura ragu untuk membukanya. Ia takut akan kehilangan control kembali. Ia takut sesuatu akan membuatnya terisak kembali jika membaca isi surat tersebut. tapi, semuanya harus berubah. Sakura sudah bertekad dalam mimpinya tadi.
Dia tidak boleh membuat siapapun bersedih kali ini. Dia mencintai Gaara. Selamanya akan tetap seperti itu. Tidak akan ada yang berubah sama sekali. Gaara akan selalu berada dalam posisi teratas hatinya. Dan anaknya, kini Sakura rela. Memang bukan kehendaknya dia tidak bisa menjaga calon buah hatinya tapi perasaan menyesal itu selalu ada. Maka Sakura tidak akan menyesal untuk kedua kalinya.
Dia harus berubah.
Ya, harus.
Diberanikan dirinya untuk membuka amplop kuning pudar itu. Selembar kertas putih polos dengan tulisan rapih apik di sana membuat Sakura menahan mulutnya agar tidak terisak kembali.
.
.
.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Naruto sembari menyesap kopi hitamnya dengan gentle.
Kyuubi emndengus geli, pasti dia berpura-pura memesan kopi pahit seperti itu. Tanpa creamer dan gula juga, tawa Kyuubi dalam hati. "Aku baik. Kau sendiri?"
"Yaaaah, seperti yang kau lihat!" ucapnya ceria.
"Kau sama sekali tidak berubah." Decak Kyuubi melihat tingkah polah Naruto yang terlihat kekanakan.
"Aku ini berjiwa muda, sih." Cengengesnya sembari emnggaruk pipinya yang tak gatal.
"Terserahlah," dengus Kyuubi geli kemudian menyesap frapucinonya. "Lalu mana undangannya?" pinta Kyuubi meletakan telapak tangannya di depan wajah Naruto yang bodoh.
"He? Ternyata kau tahu, ya maksudku?"
"Tentu saja bodoh!"
Keduanya tertawa geli bersamaan. Naruto mengeluarkan sebuah undangan tak lebih besar seukuran tabletnya yang berwarna silver dengan tinta purple keperakan yang indah. Di sana telah dibordir tulisan Kyuubi bersama Kankurou.
Kyuubi tersenyum simpul. Wanita ini sudah menikah lebih dulu dibanding dengan teman-teman lainnya satu tahun yang lalu. Kyuubi menerima lamaran kakak kedua dari Gaara yang bernama Sabaku Kankurou. Memang siapapun yang pernah mengenal keduanya sangat tidak menyangka akan tumbuh benih cinta.
Tapi, itulah kenyataannya sekarang. Kankurou dan Kyuubi sudah berbahagia dengan keluarga kecil mereka. Dan kali ini disusul oleh Naruto dan Hinata yang sudah saling mencinta sejak Kyuubi menjadikan Naruto cinta pertamanya.
Kyuubi tidak akan pernah menyesal bagaimana takdir cintanya ternyata begitu pahit dan manis di waktu yang bersamaan. Belum lagi dia tidak akan emnyangka bahwa kehiduapannya akan sebegini berwarna-warni layaknya bunga mawar hingga kini.
"Terima kasih, Naruto." Gumam Kyuubi namun tak terdengar oleh Naruto. Dan yang terlihat oleh iris rubinya hanya Naruto yang tengah tersenyum bahagia. Tak pernah berubah.
.
.
.
The most beautiful thing is to see a person you love smiling and even more beautiful is knowing that you're the reason behind it.
.
.
.
Akasuna Sasori tak menyangka adiknya kini berbicara dengannya seperti orang noemal lainnya seperti sedia kala. Keterkejutan di wajah baby facenya membuat Sakura terkekeh geli.
"Sasori-nii aku punya satu permintaan untukmu." Pinta Sakura dengan tatapan sayu sembari meremas surat dalam pelukannya.
"Apa itu, Sakura?" Sasori sebagai kakak yang baik akan selalu mengabulkan apapun itu keinginan adik sepupu semata wayangnya itu. Mengelus puncak kepala Sakura dengan sayang dan senyuman bahagia terlihat. "Apapun akan kukabulkan."
"Tolong bawa aku pergi dari sini. Aku… Aku ingin memantapkan hatiku, nii-chan."
Sasori menelan ludahnya sulit. Beberapa kilasan perjanjian dengan Sasuke membuatnya ragu untuk mengiyakan permintaan Sakura. Dikepalnya erat kedua tangannya dan wajahnya dipalingkan. Sakura tahu kakaknya tidak bisa menerima permintaannya itu.
"Sasori-nii, kumohon… Ini, ini demi kebaikanku dan Sasuke. Aku tidak ingin Sasuke melihat keadaanku yang menyedihkan ini. Aku hanya ingin satu pembuktian lagi kalau memang… Kalau memang Sasuke layak untuk membahagiakanku selain dengan Gaara."
Memijat keningnya yang pusing, Sasori akhirnya memutuskan, "baiklah, aku akan membawamu pergi tapi berjanjilah kau akan segera kembali. Aku tidak ingin bocah itu yang gila sekarang."
Sakura memeluk Sasori erat, "Terima kasih, Sasori-nii kau memang yang terbaik."
Dan Sasori menepuk-tepukan pucuk kepala Sakura dengan sayang.
.
.
.
Ketika Naruto sudah selesai emngantarkan Kyuubi ke lobi Rumah Sakit, ia ingin mengunjungi Sakura dahulu meski tadi Kyuubi bilang pasti Sakura masih tertidur. Tapi, paling tidak dia harus memberikan undangan pernikahannya pada sahabatnya bukan?
Dengan langkah riang ia memasuki kamar VIP tersebut. tetapi, yang didapatnya adalah kamar VIP itu sudah kosong melompong tak ada penghuninya sama sekali.
Kamar itu tengah dibersihkan oleh perawat. Tidak aada lagi barang-barang Sakura, padahal Kyuubi dan Naruto tidak begitu lama mengobrol hanya dua jam lebih untuk melepas rindu dan mustahil Sakura hilang. Apa dia salah kamar?
"Permisi, ini bukannya kamar Sakura?" tanyanya pada pearwat yang tengah merapihkan seprai.
"Ya, ini memang kamar nona Sakura tapi beliau baru saja keluar 15 menit yang lalu, mungkin—" Tak menunggu lama, Naruto segera keluar dari kamar tersebut. "hei, Tuan!"
Dengan panik Naruto menghubungi ponsel sahabatnya namun beberapa kali yang terdengar hanyalah suara mailbox. Naruto berdecak sebal, kemana si Teme ini di saat sedang genting? Gerutunya kesal.
Karena berlari di lorong Rumah Sakit, Naruto sempat beberapa kali ditegur oleh perawat yang lewat tapi tak dihiraukannya hingga mencapai lobi Naruto emndapati wanita dengan rambut merah muda itu tengah menunggu entah siapa di sana.
Segera Naruto menghampirinya dan mencengkram erat pergelangan tangan Sakura. Sakura mendongak kaget melihat Naruto yang sepertinya kehabisan nafas.
"Naruto?" pekiknya kaget.
"Kau…," Naruto menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara kembali. Nafasnya tersengal-sengal akibat berlarian. "Kau… Mau ke mana, Sakura-chan?" Tanya Naruto tanpa babibu.
Senuah sedan hitam terparkir di depan Sakura dan sosok pria jangkung dengan rambut batanya keluar dari dalam mobil. Sasori.
"Naruto, aku harus pergi." Ucap Sakura halus sembari melepaskan cengkraman Naruto.
"Pergi? Pergi ke mana?!" Tanya Naruto panik.
"AKu tidak bisa memberitahumu," geleng Sakura. "Tapi, aku punya satu permintaan padamu."
"Tu-tunggu! Perjanjiannya tidak seperti itu 'kan, Sasori-nii? Kau 'kan sudah janji tidak akan membawa Sakura pergi dari sini!" geram Naruto.
Sasori hendak membela dirinya sendiri namun kedahuluan oleh Sakura, "Aku yang memintanya Naruto. Tolonglah mengerti, biarkan aku pergi, ya?"
"Apa alasannya, Sakura-chan? Aku tidak bisa membiarkan Sasuke kehilanganmu lagi."
"Ini juga untuk Sasuke, Naruto. Mengertilah…," pinta Sakura kali ini dengan nada memohon.
"Aku tidak bisa mengerti kalau kau tidak memberitahukan alasannya!"
"Naruto! Tidak semuanya harus dengan alasan, 'kan? Aku hanya butuh satu keahlianmu. Tolong buatlah Sasuke percaya bahwa aku akan kembali, bahwa dia jangan pernah melepaskan asanya untukku, ya?" Sakura menggenggam jemari Naruto erat.
Naruto ragu tapi, ada kalimat aneh yang dikatakan Sakura untuk Sasuke. Sakura hanya meminta bantuannya untuk terus membuat Sasuke percaya bahwa Sakura akan kembali. Tapi, kembali untuk apa? Siapa? Mengapa? Ah, Naruto pusing dibuatnya.
"AKu tidak mengerti…," lirihnya.
"Tidak apa. Naruto kau ingin aku bahagia bukan?" Naruto mengangguk cepat. "Maka dari itu tolong katakana kepadanya, maukah ia menungguku lagi?" Sakura tersenyum simpul kemudian memeluk erat Naruto sebagai perpisahan.
"Sakura-chan! Jangan lupa datang pada acara pernikahanku, ya! Kuharap kau kembali saat itu!" Sakura hanya melambaikan tangannya melalui kaca mobil, entah ia mendnegar teriakan cempreng Naruto atau tidak.
Naruto mengeratkan genggamannya. Dia yakin. Kali ini sangat yakin bahwa kebahagiaan akan mendekati kedua sahabatnya. Asalkan bisa bersabar maka kebahagiaan akan terus ada bersama.
Dan sekarang masalahnya, bagaimana Naruto membuat Sasuke tenang dengan berita yang akan dibawanya, ya? Semoga dia tidak diguna-guna oleh bungsu keturunan Uchiha tersebut.
.
.
.
Maybe I hope too much. Maybe I dream too much. But at least I won't give up until I've tried, and I won't regret anything
.
.
.
Sasuke baru saja tiba di kantornya sehabis menemui kakaknya yang akan menggantikannya untuk sebuah pertemuan penting esok hari.
Tapi, yang di dapatnya saat tiba di ruangannya adalah, Naruto dengan wajah guguonya serta cengiran rubahnya yang memuakan bagi Sasuke saat itu. Dia sedang capek tetapi emngapa temannya itu bertindak konyol di kantornya?
"Ada apa kau menghubungiku hingga beberapa kali, heh?" Tanya Sasuke dnegan ketus saat ia merasa sudah duduk cukup nyaman di kursinya.
Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik di lehernya. Sedang Naruto dengan gaya kaku berjalan menghampirinya. Jalannya mirip seperti robot semakin membuat Sasuke menatapnya curiga. Belum lagi butir-butir sebesar biji jagung itu menyembul di dahi tannya itu.
"Kau mencurigakan!" tuding Sasuke tanpa maksud.
Tubuh Naruto menegang. Produksi cairan keringatnya bertambah banyak. Rasanya ruangan kerja Sasuke semakin panas saja.
"Err, begini Sasuke," gagapnya. "Ah, pertama kau harus tenang dulu saat aku, ya, ya, ya, pokoknya kau harus tenang. Titik. Tenang akan membuat pikiranmu merasa—"
"Seharusnya kau yang tenang, baka." Cibir Sasuke. "Ada apa sebenarnya?"
Naruto menarik nafas dalam-dalam. Dengan segenap keberanian ia mengucapkan, "kau tahu, Sakura hari ini keluar dari Rumah Sakit, ia pergi tidak tahu kemana dan jangan Tanya aku ke mana dia pergi Sasori yang membawanya tapi itu jelas atas dasar paksaan Sakura dan Sakura memintaku untuk menyampaikan sesuatu kepadamu agar kau untuk menunggu Sakura kembali entah itu kapan aku tidak tahu. Dan sumpah aku tidak tahu ke mana Sakura-chan pergi!"
Dengan nafas ngos-ngosan Naruto berhasil menyelesaikan kalimat panjangnya itu tanpa jeda dan membuat Sasuke melongo tidak mengerti. Naruto piker dia sudah terbebas karena sudah menyampaikan pesan dari Sakura tapi tatapan mengintimidasi sang bungsu Uchiha membuatnya menegak ludahnya kembali.
"Jelaskan dengan pelan dan tolong jangan cepat-cepat, mengerti Naruto?" ujar Sasuke dengan setiap nada penuh penekanan.
"Ba-baiklah… Ja-jadi begini, Hari ini aku meneleponmu karena Sakura-chan keluar dari Rumah Sakit."
"Benarkah?" kelegaan terpancar dalam raut yang biasanya datar itu. Naruto semakin takut-takut untuk berbicara lebih lanjut. Ia merasa saatnya untuk memberi harapan palsu pada Sasuke.
"La-lau, sebenarnya ia pergi keluar dari Rumah Sakit tidak tahu ke mana," Sasuke tiba-tiba mendelik tajam ke arahnya, "su-sungguh aku tidak tahu Sakura-chan akan pergi ke mana, dia membawa Sasori—"
"Jadi Si Baby face itu tidak menepati perjanjiannya, HAH?!" Sasuke menggebrak meja kerjanya dengan keras hingga telapak tangannya berdenyut nyeri.
"Tu-tunggu, Sasori-nii dipaksa oleh Sakura-chan. Dialah yang meminta untuk pergi dari sana!"
"Apa?! Apa-apaan itu?!" Naruto menutup kedua matanya takut. Suara menggelegar Sasuke mirip sekali dengan Ibunya ketika mendaptai Naruto kecil mengompol di kasurnya.
"Te-tenanglah, Sasuke!" Naruto mencoba meredakan emosi si bungsu, sayang Sasuke tak mempan dengan aksi setengah takut Naruto.
"Mana bisa aku tenang! Sakura masih dalam kondisi tidak baik! Aku harus mencarinya!" segera disambarnya kunci mobil yang tergeletak pasrah di atas meja namun Naruto menghalangi jalan Sasuke untuk keluar. "Minggir!"
"Tidak! Dengarkan aku dulu, Sasuke! Aku yakin, 100% aku yakin bahwa Sakura saat berbicara denganku sudah baik-baik saja. Dia hanya perlu menata hidup dan hatinya kembali, Sasuke! Dengar! Dia memintaku untuk menyampaikan hal ini padamu."
Sasuke mengernyit heran. "Apa?"
"Dia bilang dia ingin kau untuk menunggu."
Apa? Sasuke tidak salah dengar bukan? Sakura memintanya untuk menunggu? Berarti…
Tiba-tiba kedua bibir tipis Sasuke menyeringai senang hingga kedua matanya menyipit. Pemandnagan yang sangat langka sekali Naruto lihat. Naruto sendiri sampai terbengong lebar karena bisa melihat ekspresi Sasuke yang err, begitu bahagia dan terlihat kekanakan…
"Aku akan menunggunya," tak lama memang, seringaian khas Uchiha itu muncul kembali membuat Naruto kecewa. Kenapa kecewa, eh?
Meski begitu Naruto menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala durennya. "Menunggu bukan hal yang sulit bagimu, 'kan? Lima tahun saja terlewat, bahkan seratus tahun pun kau rela kan?" cengirnya.
Dan Naruto mendapat jitakan panas dari Sasuke untuk rasa terima kasihnya.
.
.
.
You know that I can't live without you. I will protect you till the day I die. I don't want to lose you—please come back to me.
.
.
.
Waktu memang cepat berlalu bagi yang tidak merasakanya, tapi bagi Sasuke waktu sangatlah lambat untuk berlalu meski itu hanya dua bulan.
Hari ini adalah hari pernikahan Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata. Keduanya yang telah menjalin cinta sejak akhir masa sekolah mereka hingga kini berlangsung sangat lama meski suka duka selalu menggelayuti keduanya.
Tapi, akhirnya keduanya pun akan mencapai sebuah kebahagiaan yang baru. Sasuke sebenarnya iri melihat sahabatnya itu bisa melangkah lebih dahulu dibanding dengannya. Hei, Uchiha tidak suka kekalahan bukan?
Dan demi sahabat terbaiknya lagi dan lagi, Sasuke sudah berusaha mengatakannya dalam hati dia akan membuat pidato untuk sahabatnya yang serampangan dan mesum itu di akhir acara. Pernikahan Naruto dan Hinata memang bergaya klasik dengan ajaran Shinto. Dengan dibalut berbagai kimono indah menghiasi kebun itu membuat Sasuke merasa nyaman.
Belum lagi guguran-guguran bunga sakura di awal musim semi ini sangat indah. Naruto dan Hinata sangat tepat memilih tempat dan juga waktu untuk pernikahan mereka. Pernikahan dilangsungkan dengan khidmat dan cepat, para wanita kelas atas dengan kimono indahnya begitu pesolek di mata pria kelas atas yang datang juga.
Tak pelak, Uchiha Sasuke sang Tuan Muda yang sangat diincar itupun sudah dikerubungi oleh nona-nona muda kaya bangsawan yang ingin pendekatan padanya. Dan Sasuke begitu kerepotan menanganinya. Tak ada yang berniat membantu, sahabat-sahabat masa sekolah dan kuliahnya hanya menertawakannya dari jauh dan Sasuke sebal karenanya.
Acara sudah berlangsung naik, kini giliran Sasuke memberikan penyambutan mewakili Ayahnya Naruto yang dia bilang tidak berjiwa muda jadi Sasuke saja yang menggantikannya. Dengan canggung terlihat dari dalam tapi cool dari luar membuat beberapa gadis memekik kepadanya.
Sasuke hanya sweat drop melihat nona-nona genit itu melambaikan tangan kepadanya. Dengan acuh Sasuke memulai basa-basinya, dia bilang begitu.
"Aku hanya tidak ingin membuat kalian bosan dengan ucapanku, karena hanya dengan melihatku saja kalian sudah bosan," beberapa tuan-tuan tergelak mendengar Sasuke berbicara lain dengan gadis-gadis yang mencicit tidak menyetujui ucapan Sasuke.
"Aku hanya tidak menyangka bahwa sahabatku yang sejak dalam kandungan—menurut Ibuku, sih seperti itu, kini sudah menjadi seorang suami dari isteri yang cantik jelita. Itu membuat kalian iri tidak para bujang?" kekeh Sakura yang mendapat sorakan dari pihak laki-laki.
"Aku tahu kita semua pasti akan emndapatkan kebahagiaan kita sendiri nantinya, tapi, untuk sahabatku, dia sudah bekerja sangat keras untuk menempuh kebahagiaan. Berbeda sekali denganku, kawan." Sasuke menghela nafas panjang. "Tahukah? Kebahagiaan itu tidak hanya berasal dari pacar kalian saja, lihatlah sekeliling kalian. Orangtua, teman, itulah yang seharusnya membuat kalian bersyukur dan membuat kalian bahagia bisa memiliki mereka dan Naruto, sahabat baikku menerapkannya. Dia pria terhebat yang pernah kutemua. Dia sahabat baikku. Saat suka maupun duka dia selalu ada untukku, hei, aku bukan homo dengannya, teman."
"Naruto dan sahabatku lainnya mengajarkanku arti cinta yang sebenarnya. Arti persahabatan yang sebenarnya. Jujur saja mana ada yang suka menunggu bukan? Apalagi menunggu sebuah kebahagiaan? Kedengarannya mustahil memang tapi lagi-lagi SI Rubah itu mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih mudah. Kita bukannya menunggu. Kita hanya perlu bersabar hingga kebahagiaan itu datang kepada kita sendiri tapi yakinlah kebahagiaan itu datang setiap hari tanpa kita ketahui."
Sepintas Sasuke melihat sosok berambut merah muda yang melihatnya dengan pandangan lurus kepadanya. Kimono dengan warna hijau daun yang menyala dipadu sulaman-sulaman emas berbentuk bunga-bunga itu begitu indah dipakainya. Rambut merah mudanya tergelung indah dengan kepangan dan juga sebuh jepitan cantik kupu-kupu tersemat di sana.
Sasuke yakin dialah Akasuna Sakura yang sudah dia tunggu sejak dua bulan bahkan lima tahun lamanya. Maka Sasuke tersenyum miring melanjutkan pidatonya tanpa kertas.
"Sama sepertiku. Aku sudah terlalu cukup bersabar menunggu kebahagian datang emngunjungiku. Lima tahun, tiga tahun, dua tahun, dua bulan. Itu bukanlah waktu yang singkat juga bukan waktu yang lama bagiku. Asalkan kebahagiaan itu datang menghampiriku. Dan akhirnya kebahagiaan itu akan datang pada hari ini di sini. Saat dimana sahabat kami berbahagia maka kami pun berbahagia, benar?"
Sakura mengangguk mengiyakan perkataan Sasuke. Matanya sudah berkaca-kaca. "Dan kau tahu? Kebahagiaanku adalah kau, Sakura."
Tangan Sasuke tergapai menuju Sakura hingga penonton menolehkan kepalanya ke belakang dan emndapati wanita yang Sasuke maksud adalah ia. Sasuke segera turun dari atas panggung dan memeluk wanitanya penuh haru.
Sakura balas memeluknya erat seperti lem yang tak ingin diisahkan kembali. Keduanya menitikan air mata, Naruto yang melihat sahabatnya itu bersatu pun ikut menitikan air mata.
"Masa laluku adalah milikku, masa lalu kamu adalah milikmu," Sasuke membisikan sebuah kata di telinga Sakura. "Tapi, masa depan adalah milik kita." Sakura emngangguk haru dalam bahu Sasuke. Air mata sudah membasahi kainnya.
Mereka melepaskan pelukannya sebentar. Sasuke mengusap sisa-sisa air mata pada pelupuk mata Sakura. "Aku tidak menjanjikan banyak hal padamu, Sasuke. Tapi, yang jelas aku akan menjadi isteri yang akan selalu mendapingimu."
"Aku juga," Sasuke mengelus pipi ranum Sakura. "Aku tidak bisa menjajikan banyak hal, tapi yang jelas aku akan menajdi suami yang terbaik untukmu, Sakura."
Keduanya menempelkan bibir mereka erat. Ini ciuman pertama mereka setalah bertahun-tahun lamanya. Mereka tidak pernah bisa pernah menyatu seperti ini sebelumnya. Begitu banyak kesedihan yang sudah mereka alami dan lewati. Begitu banyak rintangan yang mereka cobai, padahal benang merah jelas tak bisa diputuskan begitu saja.
Benang merah mereka begitu kuat membekas. Meski untuk mencapai kebahagiaan itu begitu lamanya, pada akhirnya kebahagiaan akan datang padamu.
"Tuhan, semoga orang yang kami sayang mendapatkan kebahagiaannya."
Dan percayalah Tuhan akan mengabulkannya.
.
.
.
Kedua jemari itu saling bertautan satu sama lainnya. Dengan sebuah cincin di jari manis mereka masing-masing menguatkan akan status mereka sebagai seorang suami-isteri.
Mereka berjalan dengan pelan, menikmati sepanjang jalan dalam kuil meski itu adalah sebuah kuburan keluarga. Cuaca siang hari itu sangat terik, meski begitu tak mempengaruhi keduanya untuk mengunjungi orang yang mereka kasihi.
Meski langkah yang satunya sedikit terseret karena bebannya yang tengah mengandung tujuh bulan, tampak sang suami menggandenganya dengan hati-hati dan penuh sayang. Hingga langkah keduanya tiba dalam sebuah makam yang tak asing.
Di mana ada sebuah vas yang sudah terisi bunga layu menguning, maka digantikan oleh si pria yang membawakan anyelir merah muda. Menyalakan dupa, menepukkan kedua tangan mereka, terpejam hormat dan berdoa demi keselamatan orang terkasih di alam sana.
"Aku ke penjaga kuil sebentar, ya?" si pria meminta izin untuk pergi dan meninggalkan istirnya dengan keadaan baik-baik saja.
Sang istri mengangguk lalu menatap punggung suaminya yang pergi itu di kejauhan. Kemudian tangannya memasuki saku bajunya dan emngeluarkan sebuah surat using yang sudah sedikit robek di sana-sini.
Sejak setahun yang lalu, Akasuna Sakura yang kini telah berganti marga emnjadi Uchiha Sakura sudah menikah dengan Uchiha Sasuke. Pernikahan mereka dilangsungkan tak lama setelah pernikahan Naruto. Bukannya mereka terlalu buru-buru mengikat sesuatu tetapi, yang namanya kesempatan tidak akan datang kembali dan Sakura tidak ingin mengalami penyesalan kembali.
Dia sudah menerima ganjaran dan pelajarannya. Begitu menyakitkan.
Sakura mengusap batu hitam dengan goresan nama Gaara di sana. Mengusap dengan sayang seperti membayangkan itulah cintanya yang masih setia berlabuh dalam posisi tertinggi hatinya. Ditaruhnya surat pemberian Gaara itu di samping vas bunga yang baru saja Sasuke ganti.
Dan tak lupa balasan surat yang Sakura buat untuk Gaara di sana. Sakura tersenyum simpul sebelum tangan kekar membantunya untuk berdiri.
Sakura mendongak melihat Sasuke yang tersenyum ke arahnya dan membisikan sesuatu hingga Sakura menitikan air matanya lagi. Keduanya pamit di depan makam Gaara dan meninggalkan dua pucuk surat yang telah diganjal oleh batu untuk dibaca.
.
.
.
Untuk Sakuraku
Selama ini aku sellau mencintaimu, tak pernah barang sedetikpun cintaku padamu berkurang. Bagiku kaulah segalanya yang kumiliki. Melebihi bintang di langit. Melebihi tata surya di jagat raya. Kedengarannya memang aku menggombal tapi itulah yang kurasakan.
Sakura…
Bukan maksudku untuk meninggalkanmu seorang diri. bukan mauku bila bukan raga ini yang mendapingimu. Jangan bersedih sayang. Sebenarnya cinta itu tidak menunjukan seberapa besar aku menunjukannya padamu, tapi percayalah aku melakukan ini hanya untukmu seorang.
Bila memang kepergianku begitu emnyakitkan maka lepaskanlah aku, sayang. Aku yakin kau bisa melakukannya sama seperti aku yang melepaskanmu.
Bukan maksudku untuk melepaskanmu, tapi, melepaskanmu berarti aku menginginkan kau bahagia dengan orang lain yang lebih pantas. Aku memang tak bisa memilih dengan siapa aku akan jatuh cinta dan dengan siapa kamu jatuh cinta, tapi aku sangat bahagia karena kaulah cinta pertama dan terakhir yang kucintai. Percaya bukan?
Cintaku untukmu bagai bunga keabadian yang tak akan layu. Yang tak akan rusak. Yang tak akan tergantikan keindahannya
Juga…
Yang tak akan bisa diperoleh dengan mudahnya dan tak bisa sembarang diganti
Hanya untukmu…
Sayangku, Haruno Sakura
Sakura, harapanku sederhana. Tetap mencintaimu saat ini, nanti, dan selamanya.
Maka melepasmu bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi. Aku hanya akan mencintaimu dengan sederhana di sana.
Semoga kau bahagia, sayang…
.
.
.
Gaara, terima kasih dengan segala cintamu untukku.
Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang
Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada
Aku bukan hendak mengeluh tapi rasanya selalu sebentar kau di sini
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu saying
Tanpa mereka sadari
Bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku untuk mendua
Tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia
Kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini
Hanya ada beberapa kalimat yang mampu kuucapkan padamu…
Since that day, today, tomorrow, even the day after tomorrow, I'll always loving you.
Terima kasih…
.
.
.
OWARI
.
.
.
ARENA BACOTAN CERIA (LAST)
Akhirnyaaaaaaaaaaaaaa! Multi fanfic-ku rampung juga ditamatkan! Rasanya begitu senang sekali! Meski chapter ini pendek dengan akhir yang kurang memuaskan tapi jangan khawatir! Aku akan emmbuat side story dari melepasmu sebanyak 4 fanfic!
Dan terima kasih atas teman-teman yang membaca fanficku dari awal sampai habis. Maaf aku tidak bisa menyebutkannya satu-satu karena aku update melalui ponsel, aku akan mencantumkan nama kalian pada akhir side story SasuSaku Melapasmu nanti setelah aku selesai ujian 3 minggu lagi yang kemungkinan baru bisa kuperbarui satu bulan lagi!
Terima kasih kepada teman fanficers yang sudah mau polling dan polling ulang IFA 2012! Tanpa kalian IFA 2012 tidak akan berjalan lancar!
Dan terima kasih kembali, fanfic ini lolos nominasi IFA 2012 sebagai Best Friendship Multichapter dan Most Favorite Multichapter saya sangat senaaaaaaaaaaaaaaang sekali!
Jika berkenan silahkan kalian bisa menghubungiku di twitter at Nnapyon untuk share apapun itu sesuak kalian
Tanpa kalian fanfic-ku ga akan bisa tamat seperti ini.
Sampai jumpa di fanfic berikutnya!
