Tales of the Steel Flower Princess
[A/N: Yes another update! Gomen na sai sudah membuat Fengxiao dibentak oleh papa Cao Cao T^T. Sebelum lanjut ke ceritanya, mari kita simak balasan reviewnya...
1. Saika Tsuruhime: Hahaha ok ga apa-apa. :D
.
2. Mocca-senpai: Hmm... Mungkinkah Cao Cao benar-benar dulunya orang yang baik sebelum kejadian ayahnya dibunuh ini? *mikir-mikir*
Cao Yin: *pundung di pojokan, isak tangis terdengar*
Me: CAO DAREN!
.
Thanks for the reviews!
Dan satu hal lagi, kali ini, untuk awalan saya pakai Cao Malie P.O.V. Saya meminta maaf sebesar-besarnya pada Mary-san kalau semisal Malie sangat OOC di sini T^T.
Enjoy!]
Chapter 21: Leave
[193 A.D., Spring, Yanzhou]
"Junshi bijak dan Jiangjun berani serta tangguh. Prajurit kuat, ransum cukup serta moral tinggi. Aku berani bertanya, apakah yang kurang dariku?" kata Cao daren pada kami semua yang berdiri di belakangnya. "Kalaupun ada yang kurang, itu adalah...," ia mencabut pedangnya. "Alasan untuk mengerahkan prajurit!" dan mengarahkan pedang itu ke arah prajurit yang berdiri di bawah sana.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat Yin yang melangkah maju, kelihatannya ia mau mencoba membujuk Cao daren untuk menghentikan pembantaian yang dianggap melampaui batas kemanusiaan ini. Bagaimana tidak? Yang melakukan pembunuhan itu hanyalah sekelompok semut tetapi Cao daren malah melibatkan seluruh rakyat Xuzhou yang tidak bersalah sama sekali, bahkan mungkin tidak tahu menahu tentang hal ini.
"Yifu, kumohon pertimbangkan sekali lagi keputusan ini. Kalau yifu tetap melakukan ini-"
"Yifu tahu konsekuensinya, Yin," balasnya. "Tetapi, yifu tidak akan mundur," ia berbalik menatap Yin. "Ini adalah pelajaran bagi mereka yang berani macam-macam dengan keluarga Cao, mengerti?"
Mendengar respon seperti itu, Yin hanya bisa terdiam saja dan kembali ke barisannya. Padahal sudah kubilang tadi pagi kalau cara apapun yang ia gunakan untuk membujuk Cao daren, hasilnya sama saja; keputusan daren tidak akan berubah. Aku menatap sayu sepasang kakiku dan tangan kananku menggenggam erat gagang pedangku.
"Muqin, Cao daren sudah tidak memedulikan lagi rakyat-rakyat seperti dulu. Aku berpikir untuk meninggalkan Cao daren karena sekarang tujuanku berbeda dengan Cao daren."
Muqin menepuk bahuku. "Aku sudah tahu semuanya tentang pembantaian yang akan dilakukan oleh Cao daren dan bahkan Yin menerima hukuman akibat menentangnya. Malie, apapun keputusanmu, muqin dukung sepenuhnya. Muqin tahu apa yang ada dipikiranmu dan muqin tidak akan menghalangimu. Kau sendiri menjadi Jiangjun selain untuk melindungi muqin, juga untuk melindungi rakyat dan Kaisar Han, bukan?" aku mengangguk pelan. "Jika kau tidak mau melayani Cao daren lagi, tidak masalah bagi muqin."
"Tapi, bagaimana dengan kalian yang di sini? Cao daren pasti-"
"Shhh... tenanglah, Malie," muqin berhenti sebentar karena batuk. "Kami akan baik-baik saja di sini. Cao daren tidak akan menyakiti kami. Yang terpenting adalah misimu, Malie," aku menunduk. "Cao daren sudah banyak sekali membantu kita tetapi itu bukan berarti kau harus terus melayaninya yang sekarang ini sudah menjadi seorang jahanam Han. Karena itulah, muqin tetap mendukung keputusanmu untuk meninggalkannya. Dan apapun yang terjadi, jangan pernah ragu dengan keputusanmu, meski ia mengarahkan sejuta pedang dan miliaran anak panah terhadapmu. Keraguan adalah awal dari kejatuhanmu."
Muqin... Aku kembali menatap Cao daren yang sedang memberikan komando pada setiap perwiranya. Cao daren yang sekarang... berbeda dengan yang dulu. Aku memalingkan wajahku agar tidak menatapnya. Kalau aku meninggalkannya, muqin dan yang lainnya mungkin akan celaka. Tapi kalau aku tidak meninggalkannya, entah berapa banyak rakyat Xuzhou yang mati di tanganku dan aku akan dicap sebagai jahanam. Mungkin lebih baik... untuk sementara, aku tetap mengikutinya. Jika tindakannya sudah terlalu brutal, aku akan meninggalkannya dan memilih berjuang sendiri untuk menyelamatkan Xuzhou, meski itu berarti aku tidak dapat melihat matahari esok setelahnya.
Setelah daren selesai memberikan komando pada kami semua, kami mulai bergerak menuju Xuzhou. Selama perjalanan, yang kupikirkan hanyalah hal tadi; antara ya atau tidak untuk meninggalkan Cao daren demi rakyat Xuzhou yang malang itu. Aku menyingkirkan pikiran itu sejenak saat aku menyadari ada sepasang mata yang terus menatapku. Tidak, tatapan ini bukanlah tatapan milik Yin. Bukan milik Guo Junshi, Xiahou Jiangjun ataupun yang lainnya. Tatapan ini adalah... aku mengangkat kepalaku dan menatap siapapun yang menatapku itu dengan ekspresi datar seperti yang biasa kutunjukkan, berusaha sebisaku untuk menutupi keinginanku itu. Ternyata sepasang mata yang melihatku sedaritadi adalah milik Cao daren. Jangan bilang ia sudah mengetahui bahwa aku berniat untuk meninggalkannya...
"SIAPAPUN YANG MENGHIANATIKU, AKAN KUPASTIKAN SELURUH KELUARGANYA DIHUKUM MATI BERSAMA SI PENGHIANAT ITU!" teriak daren pada seluruh pasukan yang mengikutinya, tetapi aku merasa lebih ditujukan padaku seorang.
Sial, bahkan Cao daren sudah mengetahui maksudku. Muqin, apa yang harus kulakukan sekarang? Daren sudah mengetahui apa yang akan kulakukan nanti dan mengantispasinya.
Ia kembali berbalik ke depan dan memecut kudanya, mempercepat perjalanannya menuju Xuzhou. Aku hanya bisa diam tertegun pasca kejadian tadi dan tersadarkan begitu ada sebuah suara yang memanggil namaku. Aku menengok ke kiri dan melihat Yin yang lesu sejak tadi. Wajahnya yang ceria itu, matanya yang menunjukkan semangat hidup dan berjuang demi Han, semua itu telah tergantikan oleh keputusasaan, kesedihan dan bingung.
"Lie-Lie," ia kembali memanggilku, memastikan bahwa tadi aku tidak salah dengar, "apakah kau akan meninggalkan yifu?"
Pertanyaan itu berhasil membuatku kembali terkejut. Bahkan Yin juga mengetahuinya. Aku memalingkan wajah dan menatap pelana yang kugenggam erat-erat dengan kedua tanganku. "Menurutmu, Yin?"
Ia masih tertunduk. "Aku yakin kau sudah tahu jawabanku."
Aku mendesah. "Kau sendiri, suram terus sejak peristiwa kemarin," ia tidak membalas. "… Kau sendiri bagaimana, Yin?" ia menoleh ke arahku. "Apakah kau akan tetap mengakuinya sebagai yifu-mu atau kau akan meninggalkannya dan mencari zhugong yang benar-benar berjuang untuk Han seperti Liu daren?"
Ia terdiam sejenak sebelum menjawab, "Kau sendiri juga tahu jawabanku. Aku tidak mungkin meninggalkan yifu hanya karena hal ini. Aku sudah berhutang budi pada yifu karena telah menyelamatkanku dan menghidupiku hingga sekarang."
Seharusnya aku tidak bertanya akan hal itu karena jawabannya pasti 'tidak'. "Jangan bilang kau akan tetap membujuknya untuk menghentikan perang ini," ia mengangguk. "Bendan," tegurku, "Cao daren tidak akan menghentikannya meski kau menggantinya dengan nyawamu."
Ia tetap diam saja. Aku yakin pikirannya sudah melayang entah kemana. Aku menyadari setetes air mata turun dari kelopak matanya, disusul oleh yang selanjutnya. Aku tidak heran kenapa ia menangis, tetapi itu cukup membuatku terkejut. Belum pernah aku melihat Yin menangis seperti ini sebelumnya sejak kami pertama kali bertemu di pasar beberapa tahun yang lalu. Aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku benar-benar tidak pernah melihat Yin putus asa, bingung, dan merasa tersakiti hingga menangis seperti ini.
"Yin, kita hidup di zaman yang pergolakannya sangatlah banyak. Di zaman ini, kau harus bisa bertahan dengan cara apapun. Kau akan mati sekali kau salah satu langkah saja. Tetapi, itu bukan berarti kau harus bekerja pada mereka yang kuat tetapi tak punya hati. Kau harus bisa menerima semuanya dan tegar atas apapun yang terjadi," kataku, yang lebih terdengar seperti nasihat. "Hidupmu bukan ada di tangan Cao daren, tetapi di dirimu sendiri. Keputusanmu bukanlah keputusannya. Jika memutuskan untuk meninggalkannya, itulah keputusanmu dan harus kau laksanakan. Aku sarankan kau jangan mengikuti prinsip 'zhong chen bu shi er zhu' jika itu tidak cocok denganmu," setelahnya, aku tidak berbicara lebih dan mempercepat langkah kudaku, meninggalkannya di belakang untuk memberi 'ruang' agar ia bisa mengambil keputusan. Namun, satu hal yang pasti adalah… anak ini tidak mungkin meninggalkan Cao daren.
Heh, aku yang biasanya pendiam menjadi banyak bicara hari ini, bukan?
.
[Cao Yin P.O.V]
Apa yang dikatakan Lie-Lie benar. Mungkin harusnya aku meninggalkan yifu dan mengabdi pada Liu daren yang lebih peduli pada rakyat dan kekaisaran. Tetapi, itu akan membuatku dicap sebagai 'langzi'.
"Aku sarankan kau jangan mengikuti prinsip 'zhong chen bu shi er zhu' jika itu tidak cocok denganmu,"
"Lie-Lie…," aku menatap sosoknya yang semakin jauh di baris depan bersama para Jiangjun yang lainnya. Ia sudah bertekad akan meninggalkan kami tetapi setelah yifu mengumumkan hal tadi… apakah pendiriannya tetap kokoh atau justru sebaliknya, goyah dan dia akan selamanya berada dalam cengkraman yifu? Tapi, aku tahu akan satu hal yang pasti ia akan ambil; jika semua ini sudah melampaui batas baginya, ia akan memberontak dan melawan kami karena tujuannya bergabung dengan kami adalah selain membalas budi yifu adalah untuk… melindungi Han dari segala jahanam, termasuk yifu. Dan menurutnya jasa yang ia lakukan di tahun-tahun sebelumnya sudah cukup untuk membalas semua hutang budinya.
"Apakah kau akan tetap mengakuinya sebagai yifu-mu atau kau akan meninggalkannya dan mencari zhugong yang benar-benar berjuang untuk Han seperti Liu daren?"
Aku sendiri tidak tahu jalan mana yang harus kuambil, Lie-Lie. Aku sudah berhutang budi pada yifu dan aku harus membalasnya dengan nyawaku. Sebagian dari diriku berkata bahwa lebih baik aku menghianatinya tetapi diriku berkata bahwa aku tidak boleh melakukannya.
Aku menengadah ke langit. "Ba… ma… Yun-Yun…"
Kenapa semakin lama, tianxia ini malah semakin kacau? Apakah tianxia yang kuinginkan selama ini tidak akan pernah tercapai? Mungkin tidak hanya aku seorang yang menginginkannya tetapi... seluruh orang.
A/N: Okay... sayangnya ini harus menjadi short update sebelum ke pokok permasalahan Xuzhou T^T Gomen na sai...
[Finishing Notes]
1. Zhong chen bu shi er zhu berarti perwira setia tidak memiliki dua tuan atau singkatnya, setia pada satu tuan saja. 'Zhong' berarti setia, 'chen' artinya perwira/bawahan, 'zhu' artinya tuan, 'er' artinya dua.
2. Tian xia artinya dunia. Kalau bahasa umumnya zaman sekarang itu 'shi jie'.
That's it for today's update! Hope you like it! XD
Oh iya, saya ada mempublish cerita [Musou Gakuen!] di forum tempat saya bergabung yaitu KLI yang sekarang sudah berganti nama jadi KOEIndo (silahkan buka profile saya untuk linknya). Dari namanya saja, kalian pasti sudah tahu kalau ini adalah fict AU bertema school-life. Nah, cerita ini melibatkan para karakter DW dan SenBasara, hahaha. Selama tidak ada update di cerita ini, saya biasanya akan mengupdate yang itu. ^^ Tetapi, anata bisa menemukannya di web ini dan lokasinya ada di crossover-an. Mind to read?
