Uhm, sebenarnya devil mau pamit beberapa hari buat gak up, karena devil lagi emosi-an. Ada masalah keluarga
Tapi begitu baca review dari hanny, 3430N sama DekhaPutri, devil coba buat up hari ini. Dan untuk besok, devil gak tau bisa up atau gak. Devil bener-benar lagi emosi, bisa dibaca status FB devil
Dan kalau chap ini bener-bener ngecewain, mohon untuk dimaklumi. Segera tekan page home, atau langsung close saja. Jadi, hati-hati saat baca chap ini
Oke, silakan dibaca
Bersama dengan Naruto yang kini sudah ada di kamarnya lagi, kembali merebahkan diri di atas ranjang king size-nya, menggunakan kedua tangan sebagai bantalan
Naruto mengguman lirih "Aku rindu padamu, sangat rindu. Aku rindu saat kita tidur bersama, mandi bersama, menjahili aniki. Aku masih meresa bersalah padamu, aku tak mau hal seperti itu terjadi."
Mata sapphire itu tampak berkaca-kaca
"Kenapa kau melakukan hal seperti itu? Kenapa tidak kau biarkan saja mereka membunuhku? Kenapa?"
Kali ini air matanya mengalir, menetes membasahi kedua sisi mata sapphire redup itu
"Andai waktu bisa terulang lagi, aku pasti akan melatih diriku agar bisa melindungi diri sendiri dan melindungi kalian."
Satu tangannya beralih menutup mata yang memancarkan kesedihan yang mendalam
"Menma. Aku rindu padamu. Sangat rindu. Aku ingin jantung ini berdetak bersamaku, bukan berdetak untukku. Aku ingin paru-paru ini bernapas denganku, bukan bernapas untukku. Menma."
Flashback
Namikaze Evil Twins
Julukan itu adalah julukan Naruto dan kakak kembarnya, Menma
Dengan wajah, warna rambu, manik mata, kulit, tanda lahir, potongan rambut, tinggi badan yang sama, mereka benar-benar seperti pinang di belah 2
Tapi tentu saja ada yang membedakan keduanya
Naruto itu hiperaktif, suka bicara, ceria dan ceroboh. Sedangkan Menma, kakak kembar Naruto, dia tenang, cerdas, selalu membantu adik kembarnya. Keduanya tak pernah bisa dipisahkan
Jika mereka dipisahkan, maka salah satu dari mereka pasti akan sakit
Seperti saat ini, saat usia mereka beranjak 13 tahun
Minato, sang kepala keluarga berkata saat mereka menyelesaikan acara makan siang mereka "Menma, Naruto. Mulai hari ini kalian harus pisah ranjang, dan artinya kalian juga harus pisah kamar."
Naruto protes "Kenapa? Aku tak bisa tidur kalau tidak ada Menma di sampingku." Menma menambahkan "Aku juga."
Kurama menghardik "Oi! Kalian ini sudah besar, belajar untuk bisa tidur sendiri. Kalian ini seperti suami-istri saja."
Kushina menjitak Kurama "Kurama! Jangan mengotori pikiran adik-adikmu dengan ucapan ambigumu itu! Atau semua pohon apelmu di sini dan di London akan kutebas!"
Kurama mengusap kepalanya yang terasa sedikit sakit "Iya, iya. Tadi aku kelepasan karena jengkel."
Minato berkata dengan nada final "Pokoknya touchan tidak mau tau. Kalian harus pisah kamar."
Sebenarnya Minato juga khawatir kalau anak kembarnya itu memiliki perasaan yang terlarang, karena itu, sebagai pencegahan, Minato meminta mereka untuk pisah kamar. Lagipula, mereka sudah 13 tahun, jadi sudah seharusnya mereka mandiri
Naruto tampak menunduk dalam, sendangkan Menma masih tampak tenang, tapi bisa dilihat bahwa ada protesan dalam manik mata sapphire itu
Setelah makan siang hingga hampir saatnya makan malam, suasana rumah terasa sangat sepi
Tentu saja sepi, tak ada tawa si kembar, tak ada protesan manja si kembar muda, tak ada bantahan tegas si kembar tua. Benar-benar tenang, si kembar itu tampak saling diam, tak mau menatap satu sama lain, yang biasanya akan langsung saling memeluk begitu bertemu
Suasana itu membuat Minato, Kushina dan Kurama merasa canggung
Kushina mencoba mencairkan suasana "Malam ini kaachan yang memasak. Kaachan buatkan ramen eksra naruto dan menma untuk anak kembat kaachan yang manis dan tampan ini."
Biasanya Naruto, bahkan Menma akan berteriak senang, tapi kali ini mereka hanya mengangguk pelan
Kurama yang tidak tahan langsung berkata dengan cukup keras "Kalian ini kenapa, hah? Masalah kecil seperti ini saja sampai diam-diaman begini! Kalian ini sudah 13 tahun! Oyaji hanya ingin kalian mandiri, bukan memisahkan kalian! Dasar adik kembar bodoh!
"Hiks..hiks."
Ugh, oh. Sepertinya ada yang ingin menangis
Semua mata beralih ke asal suara, ke arah si kembar muda yang kini sudah menangis keras
Menma mencoba menenangkan Naruto dengan memeluk lembut tubuh adik kembarnya yang gemetar ketakutan "Ssshht, Naru. Sudah, sudah. Niisan tak bermaksud memarahimu, niisan hanya ingin menasehati kita. Jangan menangis lagi. Kau kan laki-laki."
Dengan sesenggukan Naruto menjawab "Ta-hiks-tapi, a-aniki hiks, suara-hiks-nya."
Menma men-death glare kakaknya itu yang langsung menggaruk belakan kepalanya yang tak gatal, tanda merasa bersalah
Kurama meminta maaf "Err, Naru. Maafkan aniki. Aniki tak bermaksud memarahimu."
Minato menepuk pelan bahu anak sulungnya yang langsung menoleh padanya "Nah, dengar, anikimu tak marah padamu."
Naruto berhenti menangis, tapi masih sesenggukan
Minato melanjutkan "Tapi, kalian tetap harus pisah kamar."
Ingin rasanya Naruto menangis lagi, tapi berkat bisikan kakak kembarnya yang begitu menenangkannya, Naruto berusaha untuk tenang
Acara makan bersama mereka berlangsung dengan tenang, tak ada yang bersuara, hanya terdengar suara alat makan
Begitu selesai makan, si kembar langsung ke kamar mereka, kamar Menma tepat di samping kamar Naruto
Pagi harinya, Menma sudah siap ke sekolahnya, tapi begitu tak mendengar suara Naruto yang biasanya ribut mencari dasi dan segala macamnya, membuat Menma heran
Menma mengetuk pintu kamar Naruto, tapi tak ada jawaban. Hingga Kurama keluar dari kamarnya dan sudah rapi dengan seragamnya, Kurama menghampiri Menma yang ada di depan kamar adik bungsunya(Ya, kamar Naru di apit sama kamar Kurama N Menma)
Kurama bertanya "Kenapa?"
Menma masih mengetuk pintu "Oh, aku tak mendengar suara Naru, jadi kupikir dia belum bangun."
Kurama memutar knop pintu yang ternyata tak dikunci. Keduanya langsung masuk begitu melihat lampu tidur di meja di samping ranjang masih menyala
Bisa mereka lihat Naruto masih tidur, memungguni mereka dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher
Menma duduk di tepi ranjang, sendangkan Kurama mematikan lampu tidur dan menyiapkan seragam dan perlengkapan sekolah adik bungsunya
Menma mengguncang pelan bahu Naruto "Naru. Cepatlah bangun. Kau bisa terlambat."
Tak ada jawaban, tapi bahu Naruto sedikit bergetar
Dengan was-was, Menma membalikan tubuh adik kembarnya
Menma bisa melihat rona merah di kedua pipi adik kembarnya, napasnya juga tak teratur. Menma langsung meletakan telapak tangannya di dahi Naruto
Dengan paniknya Menma berkata "Naruto? Kau demam tinggi!"
Mendengar adik sulungnya panik, Kurama langsung mengecek suhu tubuh Naruto yang ternyata suhunya C
Kurama langsung turun dan mengambil kotak P3K membuat Minato dan Kushina terheran
Kushina bertanya "Kurama? Untuk apa itu? Apa kau terluka?"
Dengan cepat Kurama menjawab "Naruto demam tinggi. Ofukuro, bisa buatkan Naruto bubur?"
Dan tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Kurama langsung naik ke kamar adik bungsunya
Tentu saja diikuti oleh Minato dan Kushina, sedangkan koki yang mendengar ucapan Kurama yang cukup keras tadi langsung membuatkan bubur
Kurama menemperlkan kompres plaster di dahi Naruto, sendangkan Menma menyeka keringat dingin yang tak berhenti keluar dari wajah Naruto
Kurama langsung membuka lemari pakaian Naruto, mencari baju hangat. Menma dengan sigap membuka seluruh piyama Naruto, dan Kurama menggantinya dengan pakaian yang hangat
Tak berapa lama kemudian, seorang maid masuk membawa semangkuk bubur dan segelas air putih
Menma menyuapi Naruto bubur itu sedikti demi sedikit, dan Kurama membantu Naruto meminum obatnya setelah makan bubur tentu saja
Minato dan Kushina hanya tersenyum lembut melihat kesigapan keduanya. Kurama dan Menma benar-benar telaten merawat anak bungsu mereka
Tanpa sengaja Kushina melihat jam dinding di kamar Naruto "Hei, Kurama, Menma. Ini sudah jam 7.20, kalian bisa terlambat."
Bagai regu koor, Kurama dan Menma menjawab "Aku bolos. Naruto sedang sakit."
Lagi-lagi Minato dan Kushina tersenyum
Minato menghela napas sejenak "Baiklah, touchan menyerah. Kalian boleh sekamar lagi, Menma, Naruto."
Mendengar hal itu, Menma hanya bisa tersenyum, dan tampaknya Naruto juga sudah mulai baikan, terbukti dari tubuhnya yang sudah tidak gemetaran lagi
Kurama berkata "Aku tak menyangka, berpisah kamar saja langsung membuatmu sakit, Naruto. Kau ini benar-benar adik paling manja yang pernah kutau."
Naruto tentu saja tidak menjawab, tampaknya efek obat sudah menarik Naruto ke alam mimpi
Flashback end
Tangis Naruto pecah, mengingat masa-masa dirinya masih bersama dengan kakak kembarnya. Hari-hari yang mereka lalui bersama, mereka tak pernah terpisahkan. Dan sekangan, disinilah Naruto, hidup karena jantung dan paru-paru kakak kembarnya yang diberikan padanya
Semuanya berubah sejak 8 bulan lalu, 3 minggu setelah dirinya tinggal di London
Sekelompok orang menantangnya bermain basket dan berakhir dengan luka berat
Tulang rusuknya retak dan mengenai jantung dan paru-parunya, Menma yang saat itu juga bermain bersama Naruto, kepalanya terbentu sangat keras membuat otaknya mengalami pendarahan
Saat beberapa orang lewat, sekelompo orang tadi langsung pergi dan orang-orang yang lewat tadi segera menolong si kembar
Flashback again
Di rumah sakit terkenal di London
Tsunade tampak memeriksa beberapa laporan kondisi pasien-pasiennya hingga pintu ruang kerjanya terbuka lebar dan dengan keras
Asistennya, Shizune masuk dengan terengah "Tsu-Tsunade-sensei, Me-menma-kun dan Na-Naru-kun.."
"Normalkan dulu bernapasmu itu, dan bicara dengan pelan."
Shizune segera menormalkan napasnya dan berkata "Menma-kun dan Naru-kun dalam keadaan kritis. Menma-kun mengalami pendarahan otak. Tulang rusuk Naru-kun retak dan mengenai jantung dan paru-parunya."
Dengan segera Tsunade bertindak
Memasukan Menma dan Naruto langsung ke ruang operasi
Dalam perjalanan menuju ruang operasi, Menma berhasil mengumpulkan kesadarannya "Baasan. To-long selamatkan Naru. Apapun yang terjadi, selamatkan Na-Naru, bila perlu, a-ambil saja organ tubuhku."
"Diam kau, cucu sok pintar. Kenapa kau berkata seolah Naru-chan akan kehilangan organ tubuhnya?"
"A-aku tau, a-aku de-ngar suaranya. Tu-lang rusuk Naru."
Tsunade menahan dirinya untuk tak menangis saat itu juga, yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan kedua cucu tercintanya
"Ada ada pendonor jantung dan paru-paru yang masih tersisa?"
"Tidak ada, Tsunade-sensei. Semua pendonor organ tubuh sedang tidak tersedia."
"Sial, di saat seperti ini."
"Ba-baasan. Gunakan sa-ja or-ganku. Selamat-kan Na-ru. Kumohon."
"Diam kau bocah. Jangan banyak bicara."
"Baa-san, kau satu-satunya harap-anku. Ku-mohon baa-san. Aku ing-in Naru hi-dup."
Tsunade sudah tak bisa menahan air matanya, mereka mengalir dengan derasnya, membuat aliran sungai kecil di kedua pipinya. Begitu juga Shizune, Shizune benar-benar menyayangi keluarga Namikaze, apalagi mendiang kakaknya adalah suami dari Tsunade
Flashback end
Naruto sudah tak tahan, sakit di dadanya, di jantungnya, paru-parunya
Sakit begitu mengingat apa yang dikatakan neneknya padanya, awalnya yang sebuah kebohongan, mengatakan bahwa Menma masih dalam masa kritis, tiba-tiba menjadi kabar duka baginya
TBC
Dark? Mengecewakan?
Sudah devil peringatkan di awal chap ini bukan?
Baiklah, review
Hanny (Guest) : "Kepo itu menyakitkan." Ya, menyakitkan, tapi tak semenyakitkan saat kamu selalu menjadi orang yang buruk di mata mereka, yang bahkan tak tau seburuk apa tabiat mereka dibandingkan orang yang mereka judge. Apa chap ini sudah menjawabnya?
3430N (Guest) : Kembaran Naru itu cowok kok. Bagai pinang dibelah 2, intinya kembarannya Naru itu kayak Naru pas ngaca. Mirip, sama, gak ada bedanya. Eh, tapi kembaran Naru lebih kalem kok
DekhaPutri : Devil lupa jam berapa kemarin devil up. Kamu sibuk, mungkin? Bukan adik kembar, tapi kakak kembar Naru. Untuk up besok devil gak yakin. Tapi buat Akashi ketemu sama Naru, mungkin chap depan, uhm maksudnya setelah chap ini
Makasih
C Y
