"If a man expects a woman to be angel in his life, he must create heaven for her.

Angels don't live in hell."

unknown

.

.

.

.

.

.

DISCLAIMER: I DO NOT OWN NARUTO. All publicly recognizable Naruto characters, settings, etc. are the property of SJ and the mangaka. No money is being made from this work. No copyright infringement is intended. Little bit inspired from Untouchable © masstar (Webtoon) I write this only for fun!

.

.

.

.

Warning (s): AU, Drama, Fantasy, Romance/Comedy and OOC (I made Naruto 23 y.o and Sakura 21 y.o – Kiba 23 y.o and Ino 22 y.o)

.

.

Hari sudah hampir siang, meski matahari yang cahayanya masuk lewat jendela kamar tidak terlalu panas. Naruto hanya menyibak satu tirainya, menyisakan tirai tipis lain untuk membendung silau dari luar. Mata pemuda itu terjaga, tak sedikit pun ada keinginan untuk terlelap. Di hadapannya, Sakura tertidur setengah telungkup. Beberapa helai rambutnya jatuh terberai di bahu putihnya yang telanjang. Bulu mata gadis itu bergerak-gerak selama sejam terakhir. Namun Naruto tak melihat tanda-tanda kelopak lentik itu akan terbuka. Napas tipis Sakura mendebur teratur, sesekali, bibirnya yang memerah dan sedikit bengkak akibat ciuman bertubi-tubi, bergerak sangat pelan.

Naruto masih tak tenang.

Tak hanya menanti Sakura bangun, namun sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu ingatannya. Semalam memang malam yang luar biasa. Pertama kalinya, Naruto merasa lengkap dan hidup. Teriakan Sakura sanggup memabukkan Naruto. Ada kalanya Sakura melengking, menarik sprei ranjang hingga kain putih itu robek. Jika Naruto menyentuh bagian punggung di belakang bahunya, ia bisa merasakan ada bekas cakaran memanjang dari kuku jemari Sakura. Jika Naruto menyentuh lekuk lehernya, ia akan merasakan permukaan kulitnya mencekung di beberapa titik—bekas gigitan Sakura ketika gadis itu meredam orgasmenya.

Rambut Sakura acak-acakan. Beberapa bagian kulit putihnya yang diserang mulut Naruto masih meninggalkan semu merah.

Tapi, entah Naruto berkhayal, ia sempat melihat iris mata hijau Sakura menghilang, digantikan warna oranye, iris yang sama dengannya ketika insting rubahnya mengambil alih. Naruto mendadak diserang ketakutan yang luar biasa. Apakah ia sudah menginfeksi Sakura? Atau itu hanya imajinasinya ketika tengah mencapai puncak?

"Aku sudah pastikan membuangnya di luar," gumam Naruto lirih, sendirian—berbicara soal spermanya sendiri selama melakukan seks dengan Sakura. "Tapi kenapa?" Naruto mengingat dengan keras salah satu buku di perpustakaan Fukasaku. Tidak mungkin mengubah manusia untuk terseret ke rasnya dengan mudah. Mengubah manusia biasa menjadi manusia rubah hampirlah mustahil. Dibutuhkan banyak sekali percobaan lewat hubungan fisik. Cara paling cepat adalah membuat si wanita mengandung benih si manusia rubah. Si calon anak yang separuh memiliki darah monster akan mempengaruhi sebagian darah ibunya. Tapi tetap, itu tak pernah terjadi di sejarah yang tertulis.

Kecuali pada anaknya. Teorinya begitu.

Apa Naruto mengigau?

Naruto ingin menanyakannya pada Karin. Tapi kalau Karin tahu Naruto melakukan pelanggaran seperti Kimimaro, bunuh diri namanya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membawa-bawa nama Haruno Sakura.

"Hei…"

Suara parau itu membuat jantung Naruto seolah berhenti berdetak. Ketika Naruto menoleh, sepasang iris kehijauan itu menatapnya dengan lembut. "Kau … bangun?"

Sakura tersenyum. "Semenit … kurasa." Sakura mengulurkan satu tangannya, membelai pipi Naruto. "Kau melamun. Ada apa?"

"Kau bangun."

Sakura mengernyitkan alisnya.

"Kau … bangun. Sungguhan bangun." Pemuda itu menyambut jemari Sakura yang menari di pipinya. Tangan Naruto memijat-mijat jemari itu pelan, memastikan suhu hangat yang mengalir di sana. "Astaga…" Naruto menarik tangan Sakura ke depan belah bibirnya, mengecupnya bertubi-tubi. Pemilik mata safir itu lalu tertawa sementara tangannya masih memijat-mijat jemari Sakura.

Gadis itu melihat pemuda di hadapannya tertawa, menarik tangannya lebih kuat.

"Eh?"

Sakura memindahkan jemarinya di mata Naruto, menyeka air mata yang bermuara di mata pemuda itu bahkan tanpa Naruto sadari. "Dasar. Bodoh. Idiot." Sakura memajukan tubuhnya, mengecup mata Naruto singkat. "Aku masih hidup. Berhenti bersikap cengeng."

Naruto terkekeh pelan.

"Kau kan membuangnya di luar. Kenapa khawatir? Tidak ada spermamu yang masuk ke tubuhku."

"Siapa yang menjamin aku tidak terlambat keluar?" canda Naruto.

"Maka aku akan mengandung bocah pirang menyebalkan sepertimu."

Naruto terdiam. Sejenak, senyumnya terukir tipis. "Kalau itu bukan mimpi, aku ingin mewujudkannya."

Sakura terkesima mendengarnya. Rona hangat menjalari wajahnya. Sakura menelan ludah. Ia mengedarkan pandangannya, sadar hari telah siang dan sebuah selimut membungkus tubuhnya hingga batas dada. Gadis itu menggigit bibirnya, antara malu dan terpesona pada Naruto.

"Mau kubuatkan sarapan?"

"Kau lapar?"

Naruto tertawa. "Apa mungkin aku lapar kalau kau ada di depanku?" candanya mudah. "Aku ke dapur begini saja. Tidak perlu berpakaian, toh, Kiba tidak pulang. Kau juga. Begini saja sudah cantik."

"Kiba tidak pulang?"

Naruto menggeleng.

"Aku tidak lapar." Sakura menggerakkan jemarinya, menggigit ujung kuku telunjuknya dan menatap Naruto dengan kulit wajah hampir menyerupai warna rambutnya. "Mau … melakukannya lagi?"

"…"

Sakura menarik turun selimutnya.

Naruto menjawabnya dengan melompat turun ranjang, menyibak tutup tirai kamarnya dengan terburu-buru.

Gadis itu tertawa ketika Naruto kembali menyerangnya.

.

.

.

.

DARE YOU TO KISS ME

Chapter 21

.

.

.

Pagi-pagi sekali, Ino sudah mendatangi kebun di belakang salah satu kuil yang tak jauh dari motel tempatnya menginap. Ia datang ke Kyoto kemarin petang dan memilih langsung beristirahat.

Meski gadis itu merasa tak bisa benar-benar tidur nyenyak, tepatnya sejak kedatangan Inuzuka Kiba ke apartemen Deidara. Meski Ino sendiri yang mengusirnya, namun ada sedikit perasaan penasaran dalam diri Ino tentang motif Kiba mendatanginya. Bukannya Kiba sudah memintanya pergi? Lalu kenapa?

Ino bergerak kembali ke bangunan belakang kuil, menghampiri sumur untuk mencuci mukanya dengan air segar. Suara lonceng dan gemerincing hiasan bambu besi yang digantung di pintu bagian belakang kuil kayu membuat Ino sesekali tersenyum tanpa sadar. Gadis itu meletakkan tas jinjingnya. Ada kotak make-up sederhana di sana, juga beberapa boks kembang api yang dibawakan Deidara untuknya. Ah, bicara soal Deidara, Ino masih ingat betul bagaimana Deidara menatap Ino dengan tatapan horor di pagi hari ketika ia menginap di apartemen Deidara kemarin. Pemuda pirang yang sudah seperti kakaknya sedari kecil itu, kantung matanya tampak tebal. Akunya, kisaran pukul dua dini hari, Deidara masuk ke dalam kamar, berniat tidur seranjang dengan Ino—mengendap dan menyelinap ke kasur. Karena sadar jendela masih terbuka, Deidara berniat menutupnya.

'Lalu kulihat di atap bangunan sebelah, ada orang duduk menghadap ke jendela kamar kita! Apa itu tidak horor, hah! Haaah!'

Apa yang diceritakan Deidara awalnya membuat Ino tertawa—terlebih Deidara terus meyakinkan diri bahwa ia sepertinya terlalu sering begadang sehingga pikirannya membentuk halusinasi. Namun mencernanya kembali, Ino percaya itu bukan sesuatu yang mustahil jika sosok yang dilihat Deidara adalah Kiba.

"Aku bisa gila kalau begini!" Ino berteriak sebal sembari membasuk mukanya. Gadis itu menepuk-nepuk pipinya sendiri.

"Pamali berteriak-teriak di kuil."

Ino buru-buru berbalik dan menemukan dua pemuda yang sebenarnya terlihat seperti kembar tak identik: Sai dan Sasuke. Keduanya memakai kemeja denim biru tua yang mirip. Yang membedakan tentu saja Sasuke yang memakai celana panjang warna hazelnut yang rapi sementara Sai memakai celana kargo selutut warna putih yang agak menggantung di pinggangnya. Kalau sampai Sai mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, Ino pasti bisa melihat perut rata Sai.

"Ehn."

Dehaman Sasuke membuat Ino kembali dari lamunan kotornya. Gadis itu buru-buru tertawa kikuk. "Kalian ke sini?"

"Aku dapat SMS dari Mei kalau tim fotografer, make-up dan wardrobe serta staf rekanannya akan ke sini menjelang siang untuk menyiapkan lokasi," jelas Sai. "Aku dan Sasuke memutuskan untuk survey lokasi sekali lagi. Toh Sasuke biasanya cukup cerewet kalau menentukan di sebelah mana lokasi grandpiano-nya akan ditaruh nanti."

"Ahh, begitu … rupanya," Ino masih termangu menatap Sasuke.

Pemuda Uchiha itu memiliki warna kulit yang putih meski tak sepucat Sai. Beberapa kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka, mungkin karena gerah. Warna kulitnya yang lebih putih dari kulit Ino sendiri membuat pemilik rambut panjang itu mengernyitkan dahinya. Uchiha Sasuke benar-benar terlihat seperti vampir hidup di zaman modern.

Oh, dia manusia rubah.

"Sasuke?"

"Apa?"

Sai tersenyum. "Kautadi bilang padaku mau memetik semangka."

Sasuke melirik Ino sekilas. "Aku tidak bilang begitu."

Manajer yang sebenarnya bekerja untuk Uzumaki Naruto itu mengerjap. "Padahal aku sudah minta izin yang punya kebun untuk memetik beberapa. Kenapa berubah keputusan?"

"Aku tidak mengubah keputusan."

"Sasuke, aku belum setua Mei Terumi. Nenek sihir satu itu saja belum pikun, apalagi aku?"

"Aku hanya bilang aku ingin makan semangka di kebun, tidak bilang ingin memetik."

Untuk pertama kalinya, Ino mendengar Sasuke berbicara cukup panjang—untuk hal tak penting: buah semangka. "Apa … aku mengganggu kalian?"

Sai tertawa kecil. "Tentu saja tidak. Baiklah, aku yang memetik. Puas, Sasuke—err, sama?"

Sasuke mendecak.

"Lagi pula, coba kalian bicarakan konsep untuk pemotretan nanti. Konsep besarnya memang sudah jelas, tapi tentu saja kalian harus membangun chemistry dan menciptakan adegan yang bagus di depan kamera," jelas Sai. "Ino, untuk urusan modeling, kau lebih senior ketimbang drakula satu ini."

Mata Sasuke menyipit.

"E-eh, aku?"

"Adegan apa maksudnya?"

"Sesuatu yang manis, yang romantis, semacam itu."

Ino melongo. "Emm, perlukah?"

"Seperti apa? Berpelukan di samping piano?" tanya Sasuke datar.

"Berciuman kalau perlu," canda Sai.

"Sai!" hardik Ino. Gadis itu mendesis tak percaya.

"Kapan lagi berciuman dengan Uchiha Sasuke?" Baru kali ini Ino sadar bahwa Sai termasuk tipe orang yang benar-benar tak menyaring apa yang keluar dari mulutnya. "Profesional saja. Kiba pasti tak keberatan."

"Ap—"

"Iya kan, Kiba?" imbuh Sai cepat.

Ino melongo. Gadis itu menoleh bingung lalu menatap Sasuke yang menyipitkan matanya dan mendongak ke salah satu titik, pohon beringin tak jauh di belakang Ino. Gadis itu menoleh. Matanya melebar ketika melihat sosok yang dikenalnya melompat turun dari pohon dengan mudahnya. Pemuda berambut kecoklatan itu melangkah santai mendatangi Ino dan lainnya. Beberapa dedaunan kering menempel di rambut jabriknya yang berantakan.

"Lama tak ketemu, aku tak tahu kalau kau punya hobi naik pohon seperti monyet, Kiba."

Kiba mendesis singkat. "Ah, diamlah, Sasuke."

Ino mundur selangkah. Sejak kapan? Sejak kapan Kiba ada di sana—mengikutinya?

.

.

O.o.O.o.O

.

.

Melihat Ino melangkah mundur, Sai memutar bola matanya. Gadis itu tanpa sadar bergerak ke belakang Uchiha Sasuke, menjauh dari Kiba. "Aku baru tahu kalau kau punya bakat stalker," canda Sai enteng. "Aku tidak pernah melihat itu di Naruto atau Sasuke."

Kiba mendecak.

"Atau sebenarnya kau memang juga berbakat seperti itu tanpa kutahu?" Sai menoleh pada Sasuke, membuat bungsu Uchiha itu mendesis rendah—tanpa sadar membuat Ino ngeri karena tiba-tiba teringat dengan hewan ular dan gadis itu segera mundur lagi. Kadang Ino dibuat heran dengan ucapan Sai, belum lagi ekspresi santai pemuda pucat itu.

"Itu sama sekali bukan urusan kalian."

"Bocah."

Kiba menggemeretukkan giginya, menampakkan sepasang taringnya pada Sasuke.

Sasuke melirik ke belakangnya, pada Ino yang meremas ujung kaosnya. "Kau tidak liat kalau Nona ini takut kau ikuti seperti itu?" Sasuke mendengus pelan. "Dan apanya yang bukan urusanku. Aku dan dia sedang ada job bersama sekarang."

"Ta—takut?" Kiba menyipitkan matanya tak percaya.

Sai tersenyum diam-diam. Pemuda itu bergerak mendekat pada Ino dan langsung merangkul pundak Ino. "Mungkin bisa dibilang Ino kesal pada Kiba. Iya, kan?"

"Heh?" Ino menoleh pada Sai yang mencoba mencairkan suasana.

"Kalian mau saling bicara?"

"Tidak!" jawab Ino cepat. "Tidak … tidak ada yang perlu dibicarakan." Jiwa keras kepala Ino mengambil alih.

Kiba mengembuskan napas berat. "Ino, ak—"

"Tidak ada!" sergah Ino cepat.

"Tapi aku—"

"Pergi, Kiba! Kubilang pergi sana!"

Sasuke mendesis lagi, kali ini lebih keras. "Kalian berdua berisik sekali!"

Ino dan Kiba langsung bungkam seribu bahasa.

Suara tawa Sai memecah ketegangan. "Aku ingat. Semangka!" Sai mengerling pada Sasuke, memberinya tanda. "Ino, jangan lupa pemotretan dimulai jam dua. Tolong pastikan Kiba tidak akan membuat keributan. Lebih baik kau mengatasinya ketimbang Sasuke yang turun tangan."

"Kenapa aku?"

Sai tersenyum simpul dan tiba-tiba mengecup pipi Ino tanpa aba-aba. "Percaya padaku, sifat Sasuke saat kesal oleh Kiba bisa jadi buruk, sangat buruk sekali. Mereka tidak seakur saat dengan Naruto," bisiknya mudah.

Ino melongo.

"S-Sai, kau—" Kiba mengerang, tepat ketika Sasuke langsung menyeret Sai pergi tanpa bicara apa-apa lagi. "Bisa-bisanya, manusia sialan itu—eh, Ino?"

Ino melengos pergi begitu kesadaran menguasai pikirannya. Berdua saja dengan Kiba bisa membuat Ino emosi berat. Gadis itu melengang meninggalkan bagian belakang kuil, berniat kabur ke depan saja, dengan lebih banyak orang atau pengunjung kuil. Gadis itu tahu Kiba mengikutinya di belakangnya. Setelah bermenit-menit berjalan, Ino mulai kesal. Di ujung tangga bebatuan di samping kuil, Ino menoleh pada Kiba, bersiap menghardik pemuda itu.

Tapi omelan Ino menghilang ketika ekspresi pemuda itu menatapnya dengan teduh.

"Ap—" Ino menelan ludah, mencoba mengendalikan dirinya sendiri. "Mau apa lagi?!"

"Satu pertanyaan saja dan aku akan pergi setelah kau menjawabnya."

Kalimat itu meluncur dari mulut Kiba dengan lugas dan cepat, tak memberi Ino waktu untuk menyelanya. Gadis itu tak bereaksi selama beberapa detik. Haruskah Ino lari? Gadis itu sudah lelah, terlalu takut jika Kiba memintanya pergi, mengusirnya lagi seperti waktu itu.

"Apa aku membuatmu takut?"

Mata Ino membulat.

"Yang dikatakan Sasuke, tsk, apa itu benar?" Kiba mengulum senyum tipis yang menyakitkan. "Apa aku membuatmu ketakutan … Ino?"

.

.

O.o.O.o.O

.

.

Sakura berjalan penuh semangat ketika matanya melihat bangunan minimarket. Mood-nya sore ini membaik. Ia tak sabar bekerja lagi dan bertemu dengan Tenten dan Lee lagi. Mata gadis itu memicing beberapa detik ketika ia mendengar suara gemersik dari belakang. Menoleh, gadis itu tak menemukan sosok siapa-siapa.

Siapa sebenarnya yang mengikutinya?

Bukannya gadis itu takut, tapi ia mulai tak nyaman. Haruskah Sakura menceritakannya pada Naruto?

.

.

O.o.O.o.O

.

.

"Apa aku membuatmu takut?"

Ino menelan ludah. Bukan begitu. Tentu saja bukan begitu.

"Dasar bodoh." Kiba bergerak maju dalam sekejap mata dan menepuk kepala Ino. "Jaga dirimu."

Ketika pemuda itu melangkah pergi, Ino merasa dadanya mendadak seolah dihantam sesuatu yang berat. Gadis itu langsung berbalik, melupakan bahwa ia sedang berada di ujung tangga. "Tunggu—"

"INO!"

Pemilik rambut pirang itu terpeleset kakinya sendiri dan memekik, menunggu tubuhnya jatuh di anak-anak tangga—namun sebuah lengan menahan pinggangnya, melingkar erat menjaga tubuh Ino dari jatuh.

"Ino?" panggil Kiba lirih, suaranya goyah karena khawatir. "Kau tidak apa-apa? Kakimu tak apa-apa?"

Gadis Yamanaka itu jatuh dalam pelukan Kiba. Sadar posisinya, Ino menolak untuk mendongak. Ia tetap menyembunyikan wajahnya di dada pemuda Inuzuka. Selama beberapa jenak, Ino menggigit bibirnya.

Kiba yang mematung, menelan ludah ketika gadis dalam dekapannya mendadak terisak.

Lalu isakannya berubah kencang. Sangat kencang.

Gadis itu emosi berat.

"Aku mau menunjukkan sesuatu." Kiba membelai kepalanya—seketika isakan Ino mereda. Dan keduanya berpindah tempat.

.

.

O.o.O.o.O

.

.

Sakura tetap tak bergerak. Mata gadis itu telah memastikan bahwa tak ada sosok di depan matanya. Ia bergeming, kemudian bibirnya melengkungkan senyum tipis. Sesaat, Sakura berbalik dan menghela napas panjang, menatap sosok yang ternyata berada di belakangnya dari awal.

"Beberapa waktu lalu, temanku mengatakan ada seseorang yang menungguiku."

Lelaki yang jadi lawan bicara Sakura membungkukkan memberi Sakura salam. "Kau tidak terlihat kaget melihatku. Apa kau menebak kedatanganku?"

"Menebak kalau ada seseorang yang mengamatiku akhir-akhir ini, iya. Tapi menebak kalau itu kau, sedikit di luar dugaan. Ini pertemuan kita yang kedua, eh?" Sakura membalas salam, membungkukkan badannya sejenak. "Apa kabar, Hatake Kakashi?"

.

.

O.o.O.o.O

.

.

Tempat itu mirip sekali dengan condominium yang kemarin-kemarin Ino tinggali. Tapi tak ada furnitur seperti yang milik Naruto. Jumlah ruangannya sama, dan letak jendela kaca besarnya untuk melihat panorama kota Tokyo benar-benar sama persis. Karena masih sepi barang, warna putih mendominasi di mana-mana.

Dilihatnya Kiba meletakkan jaketnya di atas satu-satunya sofa di condominium itu.

"Ah, maaf membuatmu bingung. Aku membelinya."

Ino menoleh pada Kiba.

Pemuda itu terkekeh pelan dan menggaruk lehernya. "Awalnya kupikir aku ingin mengajakmu tinggal bersama. Terpikir sebelum kautahu soal manusia rubah itu. Aku terlalu kalut."

"Aku juga kalut, Kiba."

Kiba tersenyum kecut.

"Kenapa kau membawaku kemari?"

"Aku ingin bicara. Aku tak akan bersikap seenaknya lagi," jawab Kiba. "Aku mengembalikan hakmu memilih, Ino. Meski kau memilih pergi pun, aku akan menerima apa pun jawabanmu."

"…"

"Menyakitimu adalah hal paling gila yang telah kulakukan."

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A/N (17022016)

Scene-nya pendek-pendek ya, hahahaa! SasuSai selalu menyenangkaaaaan, semacam pleasure tersendiri buat daku hahaa! Sepertinya garis finish sudah cukup dekat mulai sekarang, nih! Belum bosan kan, ya?

Review jangan lupaaa!

REVIEW?

.

.

.

.

.

.

V