Disclaimer : Konomi Takeshi
Author : EpitsuOnna
Pairing : Shishido/Ohtori (adik) dan sedikit Shishido/Ohtori (kakak) kalau mau dipaksain. Kekekeke XP
Chapter 21
Hari Minggu.
Aku selalu suka hari Minggu, karena aku bisa berada di rumah seharian. Aku bangun karena mencium bau sarapan pagi yang nikmat dari arah dapur, menguap, namun enggan bangun. Aku akan menunggu Choutarou masuk dan membangunkanku saja, jadi kami bisa bermain sedikit di ranjang. Hehehehe. Baru selesai aku berpikir begitu, aku mendengar alas kaki sandal kamarnya beradu dengan lantai, disusul dengan suara pintu kamar yang dibuka dan suara tapak kakinya semakin mendekat. Ia naik ke ranjang, kemudian berbisik di telingaku, "Shishido-san,"
Aku tersenyum lebar, lalu berbalik untuk menatapnya. Ia tersenyum, menggunakan jarinya untuk mengelus poni rambutku dan berbisik, "Bangun,"
"Aku sudah bangun,"
Ia tertawa. Kemudian mencium pipiku. Aku memeluknya dan ia balas memelukku. Kami berpelukan, nyaman dengan satu sama lain. Aku dengan kehangatan ranjang dan bantal yang masih menempel di tubuhku, dan Choutarou dengan aroma sarapan, dapur, sabun dan aroma pagi.
"Mm," Aku beranjak sedikit, "Ayo, bangun yuk. Aku lapar,"
"Oke," Choutarou ikut beranjak. Kemudian ia mendongak, memejamkan matanya, "Tapi ini dulu,"
Aku terkekeh. Tanganku merengkuh dagunya dan kupertemukan bibir kami. Ketika kulepaskan bibirku, Choutarou tersenyum lebar dengan tatapan lembut yang sangat manis. Jadi kucium lagi dahinya, dan ia tertawa.
"Shishido-san, makan sendiri ya?" Ia bertanya manis.
"He?" Aku merengut, "Kenapa?"
"Aku harus mengantar laundri," Choutarou menjawab, wajahnya minta maaf, "Nanti kan kita mau ke department store, jadinya harus bergegas. Ya, ya?"
"Iya deh," Aku memeluk Choutarou, mengecup pelipisnya. Choutarou melompat turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Aku melihat sepiring telur gulung sayuran yang sudah dipotong-potong dengan 5 potong sosis telah tersedia di meja, bersama semangkuk nasi. Choutarou mengangkat sekantong besar berisi pakaian kotor dan tersenyum padaku, "Shishido-san, aku pergi dulu ya. Aku akan cepat, kok!"
"Oke," Aku duduk dan membalas lambaian tangannya. Dash melompat ke pangkuanku ketika aku sedang menyuap nasi pertama, mengeong. Aku mengulurkan sepotong sosis padanya dan Dash menyambutnya dengan gembira.
Setelah selesai, aku mencuci alat-alat makanku. Dash melingkarkan tubuhnya di kakiku, dan aku tertawa. Kemudian menunduk untuk menggendong Dash, "Kau berat banget sih? Pas pertama kau mungil sekali, sekarang nyaris memutuskan peredaran darah kalau duduk di atas kaki orang. Harusnya sosis tadi kumakan sendiri saja," Dash cuma mengeong lebar. Aku tertawa, keluar ke balkon sambil memeluk Dash di lenganku. Aku menghirup dalam-dalam aroma laut.
"Selamat pagi, Shishido-kun!"
Aku menoleh ke arah sumber suara, lalu tersenyum. Di balkon sebelah berdiri Nek Fujiko, seorang nenek ramah yang sering membagi kami lauk makan malamnya yang kelebihan. Ia sedang menyiram petak-petak bunganya dan berkata, "Tidak pergi kencan?"
"Hah?" Aku tertawa, "Nanti akan, Nek,"
"Oh ya," Ia terkekeh, "Ohtori-kun bagaimana?"
"Dia?" Aku menggaruk kepalaku, menjawab agak bingung, "Dia… juga. Iya. Hahaha,"
"Masih muda, ya,"ujarnya sambil terkekeh.
"Ah, Nek. Sepertinya kami akan menitip Dash lagi," Aku nyengir.
"Oh, kucing manis itu?" Nek Fujiko menatap Dash dengan mata lembutnya dan tersenyum lebar, "Dengan senang hati. Miyake, Kuro dan Tuffis menyukai kucing mungilmu itu,"
"Oke," Aku tersenyum, "Terima kasih, Nek,"
Nek Fujiko menunduk, lalu ia masuk ke dalam rumah dan aku terdiam sebentar, bertatapan dengan Dash.
"Bagaimana mungkin dia belum sadar juga ya?" Aku tertawa pada Dash, "Padahal satpam saja sudah bertanya padaku apa benar kami pacaran. Begitu kujawab iya, satpam itu tak pernah lagi menyapaku," Aku menggelengkan kepala, "Mereka tidak tahu saja kalau Choutarou itu lebih baik dari gadis manapun,"
Pintu depan terbuka dan aku menoleh, masuk kembali ke dalam ruangan. Aku mengerjapkan mata ketika melihat Choutarou menggandeng Senri dan Wataru, anak laki-laki dari pasangan pemilik toko ikan di pasar yang sering sekali memberikan kami diskon karena kami selalu membeli ikan di sana nyaris setiap hari (Daging mahal sekali dan hanya dibeli untuk hal-hal istimewa. Seperti jika aku dapat bonus gaji). Mereka kembar, berusia lima tahun dan kadang ibu mereka menitipkan mereka pada kami jika pasangan suami istri itu harus ke pasar ikan besar di hari Minggu. Seperti hari ini. Tapi sepertinya nyaris setiap minggu mereka melakukannya, sampai Senri dan Wataru sudah punya sikat gigi dan selop kamar mereka sendiri di kamar mandi kami, dan Dash sudah berani tidur di atas pangkuan mereka.
"SHISHIDO-NIICHAAAN!!" Mereka berlari ke arahku dan memelukku. Aku tertawa. Choutarou mendatangiku dan menatapku, matanya bersinar-sinar, "Kita ajak saja mereka pergi ya? Boleh kan, Shishido-san…?"
"Ya, tak apa-apa kok," Aku tersenyum. Kugendong salah satunya, si kakak yang sifatnya agak galak, namanya Wataru, "Wataru, kau sudah sarapan?"
"Sudaaah!" Wataru menjawab senang, "Shishido-nii, ayo kita maen game lagi!"
"Baik," Aku tertawa, "Tapi tidak hari ini. Kita akan pergi ke department store,"
"Apa itu?" Si adik, yang lebih pendiam, namanya Senri, bertanya pada Choutarou. Choutarou tersenyum, "Supermarket yang besaaar sekali. Ada toko buku dengan banyak sekali buku cerita,"
"Senli mau," Senri berkata dengan mata berbinar-binar. Choutarou tersenyum dan Senri memeluknya, tapi kemudian Wataru berteriak, "Senliiii!!! Ga boleh!!! Chouta-nii kalau besar akan jadi pengantin Watalu, jadi Senli ga boleh peluk-peluuuk!!!"
"Senli juga mau menikah sama Chouta-nii…" Senri mulai mengisak.
"Hei, hei," Aku menepuk dua kepala anak itu, lalu berkata, "Jangan bermimpi. Chouta-nii itu punyaku, ya!"
Choutarou hanya tertawa, lalu ia berdiri, "Aku akan membungkus cookies untuk bekal di kereta…"
Wataru berkata padaku saat Choutarou berlalu ke dapur, "Shishido-nii, tahu tidak…! Masakan Chouta-nii lebih enak daripada masakan ibu, padahal bahannya sama-sama ikan,"
Aku tertawa, "Benarkah? Kalau kau mengatakannya di depan Chouta-nii, kau bisa dapat kecupan,"
"SUNGGUH??" Wataru mengerjap senang, "Watalu akan mengatakannya!!"
"S-Senli juga mauuu!!" Senri nyaris menangis lagi, "Senli juga mau dicium,"
Aku tertawa, "Sana katakan pada Chouta-nii,"
Mereka mengejar Choutarou ke dapur dan aku hanya terbahak, lalu masuk ke kamar untuk mengganti bajuku.
XxXxXxXx
-Shishido (aniki)-
Ponsel sudah sampai ke tangan ibu dengan selamat, dan sekarang menghubungi Ryou bukan hal yang sulit lagi.
Suaranya memberat. Itu yang kusadari. Ia berbicara lebih tenang. Ia terdengar baik-baik saja. Terdengar sehat dan sekarang ia punya pekerjaan yang ia sukai, kurasa itu sudah sangat baik.
Namun Ibu terus saja khawatir. Aku sudah berusaha membuat Ibu tenang dengan mengatakan bahwa toh Ryou kedengaran bahagia dengan pacarnya itu, namun Ibu tetap saja selalu cemas. Aku sampai deg-degan sendiri sebab sepertinya Ayah mulai curiga. Ia sering menatap Ibu berlama-lama, namun tidak mengatakan apa-apa sama sekali.
Tapi bukan itu kejutan terbesarnya, sesungguhnya. Kau mau tahu kejutan paling besar? Ada cewek menelponku kemarin, cewek yang sama sekali tidak kukenal. Aku sudah mengecek nomornya –itu bukan Yamada Emi, sekretaris Honda-san dari lantai 3, mau pun Kawamoto Risa, si model amatir yang sedang dituntut mantan suaminya yang kemarin mengedipkan mata padaku di lift, atau si Sasada Fumiko si resepsionis kok. Itu benar-benar nomor yang tidak kukenal.
"Dengan Shishido?"tanyanya.
"Mm, ya?"jawabku.
"Aku kakaknya Ohtori,"katanya.
Aku berpikir sebentar, "Ohtori siapa ya?"
Ia kedengaran kesal, "Ohtori Choutarou. Aku kakak perempuannya Ohtori Choutarou,"
Otakku memutar dengan cepat, mencari file siapa Ohtori Choutarou –tidak kedengaran seperti nama perempuan... oh...! Aku tahu...! "Ooh... kau kakaknya pacar adikku,"
"Ya," Ia berkata perlahan, "Sebenarnya... begini. Aku... aku punya alamat rumah adikmu dan adikku. Dan aku berencana menemuinya akhir minggu ini... Apa kau mau menemaniku?"
"Aku? Memangnya aku siapa?" Aku bertanya.
"Kau kakak pacarnya adikku," Ia menjawab kesal, "Karena itu aku mengajakmu!"
"Ho..." Aku mengangguk mengerti, "Memang di mana rumah mereka?"
"Chiba,"ujarnya.
"CHIBA???" Aku melotot kaget, "Ryou sialan, ia memilih tempat tinggal dekat pantai pula... Boleh kalau begitu~ Aku akan ikut!!"
Ia terdiam sebentar, kemudian berkata perlahan, "Mereka tidak tinggal di Chiba kota, tapi kota kecilnya,"
Aku merengut, "Yah, sayang sekali. Ya sudahlah, boleh juga..."
Dan ia berdehem, "Aku mau mengajak ibuku, kau boleh mengajak ibumu juga,"
"Ibu?" Aku menggaruk kepala, "Ibu ya... tapi... ibu sedang wisata onsen bersama ayahku, dengan rekan persatuan guru SD se-Tokyo,"
Ia terdiam, kemudian berkata, "Keluargamu... santai sekali menghadapi ini…"
"Santai...? Tidak juga ah. Justru aku menyuruh ibu ikut wisata onsen, karena dia kelihatan stress sih," Aku menjelaskan, "Lagipula… masalah ini sudah menggantung selama nyaris dua bulan. Rasanya sudah terlalu lama untuk tetap stress, kan?"
Ia menghela napas, "Ya sudah lah. Kalau begitu aku menjemputmu di depan rumahmu besok jam 12 siang. Besok libur kan?"
"Tahu dari mana?" Aku bertanya, lalu berkata perlahan, "K-Kau memata-mataiku ya??"
"YA AMPUN!" Ia kedengaran benar-benar kesal sekarang, "Begini ya, besok hari Minggu, oke?"
"Oh iya..." Aku ingat, lalu tertawa.
Ia menghela napas kesal, "Ya sudah! Begitu saja. Terima kasih,"
Dan ia menutup telepon. Ya ampun, dari suaranya sepertinya cantik... Tapi pemarah.
Aku menghela napas, bersandar pada kursiku. Sebenarnya ibu mau pun ayah tidak lagi pergi wisata sih. Cuma... kalau aku menyampaikannya pada ibu... ibu pasti akan senang sepanjang hari, dan... bukannya apa, ayah bisa tambah sangat sangat curiga, sebab sejak Ryou pergi, ibu jadi pendiam. Jadi menurutku itu tak begitu bijaksana memberitahu ibu –aku tahu sekali ibuku, ia sama sekali tidak pandai menjaga rahasia. Jadi sebaiknya aku dulu yang pergi, lalu, baru kalau ada kesempatan, kubawa ibu menemui Ryou juga...
XxXxXx
Ya ampun...
Aku tak menyangka.
Suaranya memang cantik, tapi orangnya jauuuh lebih cantik, demi Tuhan. Rambutnya panjang, lurus hingga sepinggang, warnanya hitam kelam. Matanya juga hitam, dan kacamata yang membingkainya membuat wajahnya jadi kelihatan sangat cerdas. Ia mengenakan sweter dan rok panjang, dan aku bisa melihat betapa rampingnya dia.
Cantik, sumpah.
"Shishido-san?" Ia menyapaku.
"Ya..." Aku berkata, masih terpukau, lalu berdehem, "Mm... Kau... Ohtori ya?"
"Iya, aku," Ia menjawab, anggun. Ia membuka pintu mobil hitam mengkilat itu, lalu menyilangkan tubuhnya untuk membiarkanku masuk, "Silakan masuk. Aku akan menyetir,"
Aku masuk di bangku belakang. Di bangku penumpang depan ada orang lain pula –wajahnya juga cantik, meski ia kelihatan letih dan pucat. Rambutnya ikal, hitam, dibiarkan terurai, poninya dijepit dengan jepitan mutiara kecil, ia mengenakan syal abu-abu bersama dress hitam dan ia menatapku dengan agak takut.
"Ibu, ini kakaknya... Shishido Ryou," Ohtori berkata pada ibunya. Ibunya mengangguk sebelum menatapku lagi, kemudian menundukkan kepalanya padaku. Aku ikut menundukkan kepala padanya.
Di mobil diam sekali. Aku bosan setengah mati. Si Ohtori itu mendengarkan musik opera di mobil!!!
"Tak ada musik lain?" Aku bertanya jemu.
"Tak ada,"jawabnya cepat.
"Rock? Pop?"
"Tidak ada," Ia menjawab tegas.
"Jazz barangkali?" Aku menawar.
"Tidak ada, Shishido-san, kumohon duduk yang baik," Ia berkata tak sabar.
"Aah, membosankan..."gunggamku, menguap lebar.
"Tutup mulutmu saat menguap,"ucapnya, melirikku tak suka dari kaca spion.
"Ha?" Aku masih menguap, kemudian menutup mulutku, "Hiya, hiyaaah..."
Ia berdecak tak sabar, dan aku mendengar ibunya tertawa kecil.
Akhirnya aku menemukan cara paling efektif untuk menghabiskan waktu perjalanan : TIDUR! Aku sudah bosan, ditambah lagi dengan buain nyanyian opera itu, maka aku tertidur dengan cepat.
Aku bangun ketika mendengar suara Ohtori berkata, "Di mana bu...?"
"Belok ke sini..."ucap ibu Ohtori pelan.
Aku bangun, mengelap iler dari sudut mulutku dan memfokuskan mata –kami berada di jalan sempit, samping kami adalah rumah-rumah kecil dan toko sederhana. Beberapa orang memandangi mobil yang kami naiki –kota ini memang kecil, jelas sepeda adalah alat transportasi terfavorit di sini –sepeda berkarat yang disenderkan ke pagar-pagar rumah banyak sekali, dan mobil mengkilap begini jelas menjadi pusat perhatian. Dan kami berhenti di depan sebuah bangunan menjulang dengan lahan parkir tanah kecil. Gedung itu hanya terdiri dari balkon-balkon dan pintu-pintu menuju kamar, dan kau bisa langsung naik ke balkon lantai dua tanpa perlu masuk ke dalam, karena ada tangga besi menuju ke sana dari luar.
Ohtori dengan lihainya memarkirkan mobil gedenya di lahan parkir mungil itu, dan kami turun. Ohtori dan ibunya berpegangan tangan erat-erat sambil menaiki tangga menuju lantai dua, sementara aku memandang berkeliling. Ini kota kecil, namun tetap dekat laut –keren juga. Sudah lama sekali aku tidak ke pantai...
"Tidak ada orang..." Aku mendengar Ohtori berkata. Ia mengetuk, memencet bel, namun tidak ada jawaban.
Aku menggaruk kepalaku. Aku mendekati Ohtori dan bertanya, "Darimana kau tahu alamat ini, ngomong-ngomong?"
"Ibuku dan ayahku sempat datang ke sini sekali," Ohtori menjawab cepat. Ia menatap Ibunya dengan cemas, dan ibunya juga kelihatan sangat gelisah. Aku melihat sekeliling, lalu mengerjap. Rasanya… Aku tahu sesuatu yang lain.
"Oh ya"! Aku baru ingat –kupukulkan kepalan tanganku ke atas telapak tanganku, "Mereka pindah,"
Ohtori mengerjap, "Apa?"
"Shishido mendapatkan pekerjaan lebih baik dan mereka pindah," Aku berkata manis, "Begitu katanya di e-mail,"
Ohtori menatapku, matanya melebar, "APA? Aku tak bisa percaya ini! Kenapa kau tak mengatakan apa-apa?? Ke mana mereka pindah??"
Aku mengerjap, "Aku tak tahu,"
Ohtori melebarkan matanya lebih besar lagi sebelum agak terhuyung mundur. Ibunya mencicit panik dan menopang tubuh anaknya, berusaha menenangkan gadis itu dengan mengipas-ngipasnya sementara wajahnya memucat.
"Kenapa kau tidak telepon saja?" Aku mengangkat bahu.
Ohtori menatapku, lalu matanya menyipit tajam, "Telepon adikmu sana,"
"Ponselku baterainya sekarat," Aku memperlihatkan satu garis merah kritis di dalam ilustrasi tabung baterai di monitor ponselku, "Kau saja sana. Kau tidak mungkin tidak tahu nomor ponsel adikmu, kan?"
Ohtori menatapku. Ia meraih tasnya dan mengeluarkan ponsel besar yang lagi ngetrend itu –Blackbean atau Blueberry? Aku lupa sekali namanya –lalu menekan-nekan tombolnya. Wajahnya memucat dan ia menggigiti bibirnya dengan gugup. Begitu juga ibunya yang berdiri di sebelahnya.
Tunggu. Benar juga. Aku baru ingat bahwa Ohtori dibuang dari keluarganya. Mungkin karena itu mereka begitu gugup sepanjang hari ini? Aku menggaruk kepalaku, "Mm. Baiklah. Aku akan menghubungi Ryou. Boleh pinjam ponsel, kan?"
Ia kelihatan ragu-ragu namun akhirnya menyerahkan ponselnya padaku. Aku menerimanya dan menekan-nekan susunan nomor yang kuhapal karena kebanyakan menekankannya untuk Ibu di rumah, lalu pada tombol dengan gambar telepon hijau. Detik-detik penantian sampai Ryou mengangkat teleponnya terasa sangat lama (Sebenarnya, memang sangat lama. Nyaris 20 detik sudah berlalu, lho!).
TREK "Ya, Shishido Ryou di sini,"
"Oh, Ryou!" Aku menjawab, "Kau di mana?"
"Aku sedang berbelanja dengan Choutarou. Department Store Miyake di kota," Ryou menjawab, "Mau apa?" Ia berhenti sebentar sebelum bertanya panik, "Terjadi sesuatu? Ibu? Ayah??"
"Oh, tidak. Mereka baik-baik saja kok," Aku terkekeh, "Di mana sih rumahmu?"
"Hah?"
"Rumahmu. Tempat kau tinggal sekarang," Aku menjawab.
"Kakak mau ke rumah? Di rumah sekarang tidak ada siapa-siapa," Ryou menjelaskan.
"Aih, berisik sekali anak ini. Sebutkan saja lah alamatnya,"
Ryou terdiam sebentar, dan aku membayangkan dia pasti sedang berpikir apakah memberitahukan aku alamatnya benar-benar tindakan baik atau tidak. Padahal aku kakaknya sendiri. Benar-benar sialan adik satu ini. Akhirnya Ryou menyebut, "Mansion Morita…"
"Oh, sebentar," Aku menatap tajam Ohtori, yang menatapku balik. Aku mengisyaratkan gerakan menulis dengan tanganku dan dia membongkar tasnya, mengeluarkan sebuah notes hitam dan pen Parker (Yang pasti harganya jutaan). Aku mengulang perlahan alamat yang dituturkan Shishido padaku dan Ohtori mencatatnya dengan sigap. Tulisannya begitu rapi, kecil dan bagus.
"Baiklah. Jam berapa kau pulang?" Aku bertanya.
"Mungkin sekitar satu jam lagi," Ryou menjawab, "Kakak mau apa sih? Benar-benar mau datang ke rumah?"
"Lihat saja nanti," Aku nyengir, "Sudah ya. Daah,"
"Kak, tung-!" PIP. Aku memutuskan sambungan telepon dan mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. Lalu merogoh kantung, mengeluarkan rokok dan menyelipkan sebatang di mulut. Ohtori cuma diam, memandangi notesnya sementara aku menyalakan rokokku dan mulai mengisapnya dalam-dalam. Kami semua terdiam, cuma terdengar suara tembakau di dalam rokokku yang menghangus dan deburan ombak dari kejauhan.
"Mansion ini terletak di sebelah utara," Ohtori berkata, "Agak di kota. Aku tadi melihat jalan ini,"
Kami terdiam lagi. Ibu Ohtori juga cuma terdiam, cuma bergerak-gerak gelisah, matanya melirik-lirik anak gadisnya cemas.
"Ryou baru pulang sekitar satu jam lagi," Aku berkata, "Kau mau…"
"Menunggu," Ohtori menjawab mantap, "Belum tentu aku bisa bebas seperti hari ini. Ibuku juga,"
Aku menatapnya, "Maksudku, mau menunggu atau menyusulnya?"
Ia menatapku. Kemudian menunduk. Gadis di hadapanku ini, pasti sebenarnya belum siap menemui adiknya sendiri. Aneh juga –kenapa sekarang ia ingin menemui adiknya kalau Choutarou sudah dibuang? Apa dia merasa bersalah… atau sesungguhnya dari awal ia tidak pernah setuju Choutarou dibuang? Lalu kenapa ia baru datang sekarang, setelah nyaris setengah tahun Choutarou dan adikku kabur bersama?
Ia belum menjawab namun aku memotongnya dengan sebuah senyum, "Kalau begitu, sebaiknya kita mencari tempat menunggu yang layak. Dan tidakkah kau lapar? Aku melihat konter ramen yang cukup bersih di dekat sana tadi,"
XxXxXxXxXx
Dua mangkok ramen mengepul diletakkan di meja kami. Ibu Ohtori menolak untuk menelan apapun meski Ohtori sudah membujuknya untuk memesan paling tidak secangkir teh. Ohtori mengamati mangkuk, lalu mengambil sumpit dan mengelapnya dengan tisu dari tasnya sebelum mulai makan.
Aku makan sambil mengamatinya. Ia menyuap ramennya dengan begitu anggun, dan aku tak mengerti bagaimana ia bisa membuat kuah itu tak sedikitpun terpercik ke bajunya. Bahkan ia cantik dengan kuah ramen memenuhi wajahnya dan mengaburkan lensa kacamatanya dengan embun.
"Kau tak pernah berpikir untuk memakai lensa kontak?" Aku bertanya. Ia mendongak dari kegiatannya mengelap kacamata dan mengerutkan kening, "Demi makan ramen?"
"Salah satunya,"Aku nyengir, "Sayang sekali jika mata secantik itu harus tersembunyi di balik embun kuah ramen,"
Ia terdiam, lalu kembali menyeruput ramennya tanpa bersuara. Aku menunggu jawaban darinya, namun ternyata ia tak menjawab apa-apa.
"Halo?" Aku merengut, "Bisa kau jawab aku…?"
Ohtori menatapku, "Aku tak merasa perlu menjawab apapun,"
"Aku baru saja memujimu,"
"Terima kasih," Ia menjawab, cuek.
Aku mengerutkan kening. Cewek yang tidak asyik!
Mangkuk kami tandas dalam 5 menit kemudian. Ibu Ohtori masih gemetaran, tak menyentuh apa pun. Aku mulai menduga ada apa dengan ibu mereka. Aku tahu sih ia pasti gugup, tapi sampai gemetaran begitu terus…
"Tante,"panggilku, nyengir, "Tenang saja. Pasti Chouta-kun baik-baik saja,"
Ia terkejut ketika menyadari ia memanggilku dan setelah aku selesai berkata-kata ia menunduk, mengangguk takut-takut. Aku menatapnya dengan bingung. Ia kelihatan takut terhadap apa pun!
"Aku mau pesan satu mangkuk lagi,"ucap Ohtori. Aku menatapnya. Dengan pinggang sekecil itu kukira gadis ini akan makan sedikit.
"Aku juga deh, boleh,"ujarku. Bukannya ramen yang kami makan porsinya sedikit, namun entah kenapa aku merasa lapar sekali. Dalam waktu cepat, dua mangkuk ramen lain diletakkan di meja. Kami menyambarnya dan melahapnya.
Aku menegak kuahnya sampai habis dan menepuk perutku, menghela napas puas. Rasa kuahnya enak sekali, pasti memakai campuran air rebusan udang. Aku menegak air putih dan kaget sekali ketika Ohtori berkata lagi, "Aku mau pesan satu mangkuk lagi,"
"Hah??"Aku melongo, "Kau belum kenyang juga? Kau sudah makan dua mangkuk!"
Ohtori mengabaikanku untuk berkata pada si ibu pelayan yang mendatangi meja kami, "Aku mau pesan satu mangkuk ramen topping campur yang kuah ekstra pedas. Minta gyoza dan salad kerangnya juga ya," Ibu itu mengangguk dan kembali ke dapur.
Aku menatap tak percaya. Jangan-jangan dia berusaha membunuh rasa stressnya dengan makan?? Apa pun itu, kalau begitu sebaiknya dia jangan stress sering-sering deh.
XxXxXxXx
Mansion Morita itu tidak terlalu besar namun sama sekali tidak kecil juga. Gedung itu terdiri dari sekitar 4 lantai, dengan fasilitas tempat parkir mungil. Mobil hitam besar Ohtori saja nyaris tak muat di dalamnya –benar-benar mepet. Kami turun. Ibunya Ohtori gemetaran hebat, sementara Ohtori pucat luar biasa. Aku tak mengerti mereka –ada apa sih dengan mereka? Apa hubungan Choutarou dengan keluarga mereka sangat buruk atau bagaimana?
"Kamar nomor berapa tadi?" Ohtori merogoh notes dari dalam tasnya dan melihatnya gugup. Ia melangkah cepat menaiki tangga yang terletak di luar.
Aku menatapnya, bergantian dengan menatap jalanan yang tidak terlalu ramai. Selanjutnya yang kudengar adalah langkah hak boot Ohtori mengentuk-ngetuk tangga besi ketika ia turun, setengah berlari ke bawah. Langkah stilleto ibunya menyusulnya.
"Tak ada siapa-siapa di kamar itu," Ohtori berkata, bibirnya gemetar.
"Te-tenang," Aku jadi tercenung sendiri dengan betapa gugupnya mereka soal pertemuan ini, "Semuanya akan baik-baik saja. Mungkin mereka belum pulang…"
"I-itu… bukan…?" Suara mungil ibu Ohtori menyela. Ia memiringkan kepalanya untuk menatap ke arah dua sosok yang mendekat. Kami berdua menoleh ke arah tunjukan jari mungil yang gemetaran itu.
Muncul dua sosok yang dinanti –Ryou mengenakan jaket bulu cokelat dengan topi wol hitam, memegang tas belanja berisi sayur mayur dan ikan di tangan kiri sementara tangan kanannya... oke... menggendong seorang anak kecil?? Sementara Choutarou, dengan jaket putih dan topi wol kuning pucat, memeluk kantong kertas berisi roti dan apel di tangan kanannya, tangan kirinya menggandeng... anak kecil lain.
Potret keluarga bahagia... Wow.
Mereka mengerjap menatap kami.
"N-Neesan??" Choutarou terkejut.
"C-Choutarou..."Ohtori berkata, suaranya bergetar, "Choutarou..." Ibu mereka diam, termangu dan terlihat pucat pasi, entah kenapa.
Ryou menatapku, kemudian menatap keluarga Ohtori. Ia menunduk sedikit, "A-Ah. Selamat siang. Neesan… dan… bibi…" Kemudian ia melirikku, bingung, "Kukira aniki mau datang sendiri…"
Aku belum sempat menjawab karena aku kaget setengah mati ketika melihat Ohtori berlari ke arah Choutarou dan menubruk anak itu sampai nyaris terhempas jatuh. Ternyata ia ingin memeluknya.
"N-Neesan..." Choutarou berkata perlahan, sebelum tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca, dan ia mengelus kepala kakaknya dengan lembut, "Neesan apa kabar...?"
"Choutarou..." Ohtori melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya, lalu bertanya cemas, "K-Kau baik-baik saja?? Kau sehat? Makan cukup??"
Choutarou mengangguk, tersenyum, "Iya, aku baik kok," Lalu matanya menatap ke arah sosok pucat pasi yang cuma menatapi kedua kakak beradik itu berpelukan sejak tadi, "I-Ibu..."
"C-Choutarou..." Suara ibunya kecil, bergetar dan takut. Tapi kemudian Choutarou tersenyum, "Ibu... sehat kan?"
Ibunya berjalan tertatih-tatih dan memeluk Choutarou juga. Jadilah mereka bertiga berpelukan sambil menangis. Sementara itu aku menatap adikku, nyengir, "Yo," Lalu menatap anak-anak itu, "Itu anakmu?"
"A-APAA???" Ohtori melotot kaget, menatap dua pasang anak laki-laki mungil itu.
Ryou buru-buru berkata, "B-Bukan! Bukan... Mana mungkin! Ini... ini dua anak tetangga, dititipkan karena ibunya harus menjenguk temannya yang sakit! Aniki, jangan ngomong yang aneh-aneh!"
Ohtori kembali menangis ke pelukan Choutarou. Hahaha.
"Mereka siapa, niichan?" Anak yang digendong Ryou bertanya polos.
"Mama dan neesannya Chouta-nii,"Ryou menjelaskan. Lalu ia menatap sekitar, "Euh... Choutarou? Sepertinya kita harus bikin makan malam lebih banyak,"
Choutarou hanya tersenyum –ah, dia tetap imut seperti dulu –lalu ia beralih ke anak yang digandengnya, "Sen-chan, hampiri Ryou-nii dulu ya?"
Anak mungil itu terdiam sebentar sebelum mengangguk dan menurut. Aku tersenyum padanya, "Ayo sini ke niichan~"
"Dia cowok," Ryou berkata tajam.
Aku merengut, "Aku tahu! Kau pikir aku ini pria macam apa?"
Choutarou berkata lembut pada neesan dan ibunya, "Neesan, kaasan... Bagaimana kalau kita masuk..?"
Mereka berdua mengangguk sambil terus menangis, kemudian mengikuti bimbingan Choutarou masuk ke apartemen.
Aku dan Ryou mengikuti mereka, namun Ryou memutuskan untuk tetap tinggal di balkon, dan aku mengikutinya. Aku mengerti bahwa ia tahu Choutarou butuh privasi dengan keluarganya, karena permasalahan keluarganya sepertinya lebih heboh.
"Ini uang," Ryou menyodorkan beberapa koin yen pada kedua anak itu, "Beli taiyaki di toko sana ya? Untuk Ryou-nii, Chouta-nii, kakak ini... sama mama dan neesan Chouta-nii, dan kalian berdua. Jadi berapa?"
Kedua anak itu menghitung dengan jarinya dengan polos, lalu menjawab ceria, "Tujuh!"
"Nah, beli tujuh kalau begitu ya," Ryou tersenyum. Mereka mengangguk, lalu berlari bersama ke kedai taiyaki. Kami terdiam sebentar, sebelum aku berkata, "Sepertinya hidupmu cukup bahagia,"
"Sangat bahagia," Ryou tersenyum padaku, dan aku menatap wajahnya –Wajahnya sekarang jauh lebih dewasa, kelihatan lebih... entahlah. Berbeda sekali. Seolah-olah dia memang sudah belajar sangat banyak bahwa ego nya tinggi tidak akan membantu kehidupannya sekarang. Ryou bertanya, "Bagaimana kaasan? Toosan?"
"Baik," Aku berkata, "Kaasan jadi lebih ceria meskipun masih sering melamun,"
"Syukurlah," Ryou berkata pelan.
Kami terdiam lagi.
"Aku senang kau sehat,"kataku, "Kangen juga dengan kau,"
Ia tertawa.
"Aku juga,"
Pintu terbuka dan kami berdua menoleh serentak ke arahnya.
"Shishido-san, kenapa tidak masuk?" Ohtori –yang cowok… kurasa mulai sekarang kusebut dia sebagai Choutarou saja supaya tidak terlalu memusingkan –mendekati kami berdua.
Ryou tersenyum padanya, "Tak apa-apa, kami tunggu di sini sebentar,"
Choutarou menatap Ryou sebentar dengan tatapan penuh terima kasih dan tersenyum, "Oke. Nanti akan kupanggil jika… sudah beres," Ia menatapku dan tersenyum manis, "Siang, Shishido-san. Ah. Shishido…"
"Tak apa, aku mengerti," Aku tergelak, "Santai saja,"
Choutarou tersenyum malu, kemudian pintu tertutup perlahan. Bersamaan dengan itu, dua anak tetangga Ryou itu kembali dengan sekantong kertas taiyaki yang masih mengebul di tangan mungil mereka. Ryou menepuk kepala salah satu dari mereka dan nyengir, "Kalian mau makan?"
Mereka mengangguk semangat. Kedua anak itu mengambil taiyaki dan mengunyahnya dengan semangat, masing-masing di samping Ryou. Aku mengeluarkan rokokku lagi dan menyodorkannya padanya, "Kau merokok tidak?"
Ryou menggeleng. Ia mengambil sebuah taiyaki dari dalam kantong kertas dan mulai mengunyahnya bersama anak-anak itu. Anak di samping kirinya menarik-narik ujung jaketnya dan membuat wajah murung. Ryou berjongkok dan bertanya lembut, "Kenapa, Senri?"
"Panas,"
"Panas ya? Ditiup dulu ya," Ryou tersenyum, lalu membelah taiyaki itu dan meniupkannya. Anak itu tersenyum dan Ryou tersenyum juga, lalu ia mengambil sepotong kecil dan menyodorkannya, "Ini sudah tidak panas. Ayo buka mulut… Yak, anak pintar,"
Aku menatap mereka dan berkata, "Kau seperti ayah,"
"Hm?" Ryou menatapku lalu terbahak, "Makasih deh. Pujian bukan itu?"
"Pujian kok," Aku nyengir.
"Apa kabar pekerjaan?" Ryou bertanya sambil mengelap bekas kacang merah di sudut bibir Senri. Aku menghembuskan rokok dan berkata, "Hm. Oke. Semuanya berjalan lancar,"
Ryou terdiam sebelum bertanya pelan, "Ayah…?"
Aku menatapnya. Lalu mengisap rokokku dalam-dalam.
"Oke-oke saja. Rumah jadi sepi," Aku berkata perlahan, "Lebih sepi daripada ketika Bass mati,"
Ryou terkekeh, "Ah ya, rumah kita sampai berkabung selama dua bulan lebih. Bass sudah kita pelihara sejak aku TK," Ia terdiam, "Ayah tidak sakit apa-apa, kan?"
"Tidak," Aku menatap langit musim dingin yang gelap dengan awan tipis kelabu, menggantung di atas air laut yang tenang, "Kau tahu ia sangat menjaga kesehatannya. Menurun padamu, kan?"
Ryou hanya tertawa. Aku terdiam sebentar sebelum menatapnya, "Keluarga Ohtori… kenapa mereka baru datang sekarang?"
Ryou menatapku, "Apa?"
"Maksudku," Aku berdehem, "Aku juga baru datang sekarang, namun selama ini kami mencoba menghubungimu. Dari lagak kakaknya, aku tahu mereka belum pernah mencoba menghubungi Choutarou-kun sekali pun…"
Ryou terdiam. Lalu menghela napas, "Keluarga mereka tak seperti kita," Aku menatap Ryou, dan Ryou melanjutkan perlahan, "Choutarou dan orang tuanya nyaris tak pernah bertemu… Jadi memang sangat berbeda dengan keluarga kita… Choutarou dirawat dan dibesarkan oleh kakaknya, jadi aku paham sekali bahwa kakaknya sebenarnya tak mungkin mau dia dibuang… tapi kenapa mereka baru datang sekarang, aku juga tidak mengerti kenapa,"
Aku terdiam. Aku mengisap rokokku lagi, kemudian merasakan tanganku ditarik-tarik oleh salah satu anak kecil tetangga Ryou. Aku tersenyum padanya, "Ya?"
Ia berkata manis, "Senli," sambil mengulurkan tangan.
"Apa?" Aku mengerjap, "Itu namamu?" Aku terkekeh dan membalas uluran tangannya yang mungil, "Namaku Shishido… eh… panggil niichan saja, niichan," Senri tertawa lebar, manis sekali!!! Pipinya begitu bulat dengan rona merah muda, matanya bulat. Aku memeluknya dan mencium pipinya.
"Kak," Ryou berkata, "Jangan… sentuh anak-anak itu deh. Aku takut melihatnya,"
"Apa?" Aku merengut. Lalu menatap anak satunya lagi, yang menatap kami sambil memegangi taiyaki nya yang setengah dimakan. Aku nyengir, "Nama yang itu siapa? Kalian kembar?"
Anak yang satunya lagi merengut, merapat pada Ryou. Aku terdiam sementara Ryou terbahak. Ia menggendong anak yang merengut itu dan tertawa, "Wataru, ini kakakku. Ayo kenalan,"
Bukannya mengulurkan tangan, Wataru malah membuang muka. Aku merasa kesal dan memilih untuk terus memeluki Senri saja. Aku suka anak-anak, tapi hanya anak-anak yang manis!
"Kita minum kopi saja yuk," Ryou berkata, merenggangkan tubuhnya, "Sepertinya mereka bakal masih banyak yang akan dibicarakan…"
"Oh…" Aku mengangguk, "Ide bagus. Lalu anak-anak ini?"
"Diajak saja. Ayah ibu mereka akan pulang sangat malam," Ryou menggendong Senri di bahu dan menggadeng Wataru, "Kalian mau es krim?"
Mereka mengangguk semangat sambil berteriak, "MAAAUUU!!!"
Kami berjalan beriringan, menyebrangi jalan. Laut masih tenang, meski langit menghitam.
