Judul : My imagination is my Love

Chapter : 21

Author : Kakashy Kyuuga

Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^

Genre : hurt, romance and fantasy

Pairing : Naruhina

Naruto berjalan tertatih menuju salah satu sudut retuntuhan, tubuhnya dipenuhi luka. Dia terus berjalan hingga dia melihat tubuh Hinata terbaring setengah sadar.

"Hi-Hinata~," suaranya seakan tercekat di tenggorakannya, pandangannya berubah sayu kemudian tersenyum simpul begitu dia mendegar Hinata menggumam sebuah nama.

"Ini aku, Hinata. Aku kembali, aku kembali padamu, Hinata-chan," Naruto terduduk didepan Hinata, kemudian dia memangku tubuh Hinata dalam pelukannya.

"Aku kembali, Hinata~," bisik Naruto berulang kali di telingan Hinata.

"Naruto." Naruto makin mengeratkan pelukannya.

"Hinata, aku kembali. Bertahanlah—."

"Maafkan, aku Naruto," bisik Hinata pelan dan kemudian dia tak bergerak lagi.

"Hi-Hinata~," panggil Naruto pelan di telinga Hinata.

Hinata POV

Naruto, apa kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan saat ini? Apakah kau sedang mencariku? Apakah kau akan menyelamatkan aku seperti saat itu. Naruto, kenapa ini tejadi padaku? Kenapa semua ini sama seperti saat itu, saat kejadian di taman. Semua seperti terulang kembali, sepertinya ada yang menekan tombol review dan mengulang kembali kejadian sebelumnya.

Naruto mungkin aku terlalu berharap, atau mungkin aku terlalu berlebihan. Jika aku berpikir kau bisa merasakan keberadaanku, seperti halnya Kyuubi. Tapi kau bukan Kyuubi, kau adalah Naruto, iya kan?

"Hinata, kau dengar aku?" aku tersentak mendengar suara yang sangat ku kenal dari dalam diriku.

'Kyuubi?' apakah itu dirimu? Apa kau kembali?

"Hinata, jika kau bisa mendengar suaraku. Berikan aku tanda—," aku tidak salah dengar kan, ini suara Kyuubi?

"Hinata, aku mohon. Jika kau mendengarku, berilah aku tanda," aku tersenyum mendegar nada khawatirnya. Apa Naruto juga mencariku?

'Naruto, aku takut,' entah kenapa aku malah memikirkan Naruto saat ini?

"Teruslah bicara, Hinata. Dengan begitu aku bisa menemukanmu," apakah itu kau, Naruto? Benarkah itu kau, Naruto? Kau mencariku?

'Kenapa kau terdengar seperti Kyuubi, Naruto?' aku merasa seperti tengah reuni. Dia membuatkan ku semakin merindukan sosok Kyuubi.

"Hinata, tak usah khwatir, aku akan menolongmu. Akukan sudah berjanji aku akan menjaga dan melindungimu," Naruto, kau sama seperti Kyuubi. Kalian berdua bisa membuat hatiku tenang dengan cepat, aku mulai membayangkan senyum mereka.

'Aku percaya padamu, Naruto. Sama seperti aku percaya pada Kyuubi.'

Semua kembali sunyi, sepertinya Naruto mulai bergerak. Apakah dia bisa merasakan keberadaanku? Apakah dia akan menemukan ku dan menyelamatkan aku?

Naruto, aku masih menunggu mu disini.

Entah berapa lama aku menunggu dalam keadaan seperti ini, menunggu dalam keadaan Mata tertutup, mulut di bekam, dan kedua tangan dan kaki di ikat. Aku menunggu pahlawanku datang menyelamatkan ku. Aku tidak tahu berapa lama aku terikat dalam keadaan seperti ini, aku tidak tahu saat ini siang atau malam. Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada ku sedetik kemudian.

Semua masih misteri bagi ku, begitu pun keberadaan Naruto. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan sekarang dan apa yang terjadi padanya. Aku tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati. Hanya suara-suara baritone dari beberapa orang yang berbeda dan suara seorang wanita yang memberikan aku sedikit keterangan dengan apa yang saat ini terjadi.

Suara pintu di buka dan gerakan kasar dari seseorang yang aku tidak tahu siapa itu. Orang itu membawaku dengan paksa entah kemana, dia tak mengtakan apa-apa, jadi aku sendiri yang menyimpulkan kemana aku di bawah.

Aroma rumput basah dan angin yang sepoi-sepoi memberikan ku gambaran, saat ini aku tengah berada di sebuah tempat yang terbuka. Tak lama kemudian orang itu membawaku ke suatu tempat, aku tidak tahu dimana itu. Tapi, dari aroma yang bisa ku cium sepertinya di tempat ini pernah terjadi pertempuran karena aku mencium bau darah dan sisa ledakan.

Apa di tempat ini Naruto pertempur? Naruto, di mana kamu berada? Kenapa aku tak bisa merasakan keberadaanmu?

Telingaku menangkap gerakan di sebelahku, "Sudah cukup kau hancurkan wajah setengah jadi itu," dan kini aku tahu ternyata orang itu adalah seorang laki-laki. Tapi apa yang dia lakukan? Siapa yang dia maksud dengan "kau" disini?

"Kau ingin menyelamatkan gadis ini?" tangan orang itu tiba-tiba mengencang dan kemudian dia mendorongku hingga terduduk di bawahnya.

"Apa yang kau lakukan pada Hinata?!" apakah itu suara Naruto? Tapi kenapa suaranya terdegar berbeda? Apa Naruto marah? Dia marah aku di perlakukan seperti ini?

Dor!

Aku terkejut mendengar suara tembakan dekat sekali denganku, suara tembakan itu terjadi berulang kali. Aku ingin berteriak, tapi aku tak bisa, aku ingin kabur dari sini tapi aku terikat. Aku belum mau mati, aku masih ingin memastikan apakah naruto dan Kyuubi adalah orang yang sama atau bukan.

Jadi, Tuhan. Jangan biarkan peluru itu mengenaiku. Aku mohon!

Aku tidak tahu apa yang terjadi karena tiba-tiba saja suara tembakan berhenti dan digantikan dengan suara benda tajam beradu. Apa yang sebenarnya terjadi, ikatan yang menutupi mata ku ini sangat menyiksaku.

Semua terdiam cukup lama, aku menerka apa yang terjadi saat ini, tapi semua yang aku bayangkan meleset. Karena suara benda tajam di ikuti sesuatu yang halus terputus sulit ku gambar kan kejdiannya.

"Shikamaru!"

Itu suara Sasuke, mereka juga ada disini? Apa Neji nii-san juga ada di sini?

Duuaaarrr!

Suara ledakan dan getaran yang hebat mengoncang tubuhku. Aku terhempas dari tempat ku semula, ku rasakan kulitku serasa robek, tubuhku terasa nyeri dan perih. Kepala ku membentur sebuah bongkahan, membuat kepala ku terasa berat dan pening. Kurasakan basah di wajahku, ini bukan air mataku, ini berbau anyir, ini darah.

Kain yang menutupi mata ku kini terlepas, samar-samar aku bisa melihat beberapa orang terkapar di tak jauh di depanku. Kepalaku terasa makin berat, pandanganku pun makin mengabur, udara dingin kini menusuk tulang-tulang ku, napasku tercekat di tenggorakan ku.

Apa aku akan segera mati?

Mataku tertahan pada sosok berambut pirang berjalan mendekatiku. Sosok berambut pirang itu, wajah dengan tiga goresan di kedua pipinya, itu adalah wajah Kyuubi. Kyuubi teman khayalanku, apa dia telah kembali, apa dia datang untuk mengucapkan selamat tinggal.

"Kyuubi~, Kyuu~bi~," aku ingin memanggil dia mendekat padaku, aku ingin memeluknya sebagai salam perpisahan.

"Kyuubi~," aku melihatnya tersenyum padaku, senyum yang selalu membuat aku tenang.

"Ini aku, Hinata. Aku kembali, aku kembali padamu, Hinata-chan," suara itu, Kyuubi benarkah itu kau? Ku lihat dia makin mendekat, dan duduk di depanku, wajahnya makin mengabur dalam pandanganku.

Aku bisa merasakan hangat di kedua tangannya, tangan kekar nya mengangkat kepalaku dan membenamkan kepalaku di dada bidangnya. Aku merasakan detak jantungnya berdetak kencang, napasnya terasa hangat di wajahku.

"Aku kembali, Hinata~," Kyuubi, setahu ku tak sehangat ini. Dan kau adalah hasil iamjinasiku, tapi kenapa jantungmu berdetak?

Kau bukan Kyuubi, tapi kau—.

"Naruto."

Hatiku serasa ingin meledak karena rasa haru, aku ingin membalas pelukannya. Aku ingin membagi kehangatan dengannya, aku ingin dia tahu kalau aku membalas pelukannya.

Naruto, kau sampai seperti ini hanya untuk menyelamatkanku? Naruto, kenapa kau melakukan semua ini? Bukannya kau tak mengenaliku?

Ku rasakan pelukan naruto makin mengerat, hatiku terasa nyaman dalam dekapannya. Naruto, teruslah peluk aku seperti ini. Mungkin ini yang terakhir kalinya aku merasakan pelukanmu, mungkin kita tak akan bertemu lagi setelah ini, jadi ku mohon jangan lepaskan pelukan mu.

"Hinata, aku kembali. Bertahanlah—."

Naruto, jika aku bisa. Aku ingin mengenal mu lebih jauh lagi. Jika aku bisa aku ingin menjadi orang yang special untuk mu. Jika aku bisa, aku ingin kau menggantikan posisi Kyuubi di hatiku. Naruto, aku pun ingin bertahan untukmu, tapi— sepertinya itu akan sia-sia, karena aku akan tetap kehilangan dirimu. Karena kau mencintai Sakura, iya kan Naruto?

Naruto, maafkan aku. Aku tidak kuat lagi.

"Maafkan, aku Naruto," semua mulai menggelap dan mendingin.

Hinata POV end.

….

Suasana rumah sakit sangat ramai, bukan karena ada pameran atau ada perayaan apapun, melainkan 7 pasien di bawa sekaligus memasuki ruang emergenci. Salah satu diantaranya seorang gadis berambut panjang indigo.

Para orang tua terlihat panic di depan ruang emergenci. Pria berambut pirang mirip Naruto datang dengan terburu-buru mendekati wanita berambut merah panjang. Beberapa orang yang berada di tempat itu memberikan hormat pada pria itu.

"Kapten Minato, kami telah memeriksa lokasi kejadian. Tapi kami tak menemukan seorang pun dari anggota Akatsuki," terang seorang pria bermabut seperti mangkok dan beralis tebal.

"Baiklah, kalau begitu. Terimakasih, Guy," setelah selesai berbicara dengan orang aneh tadi, kapten Minato melanjutkan langkahnya menuju istrinya.

"Bagaimana dengan mereka?" Tanya Minato pada istrinya. Istrinya membalas menggeleng, semetara itu para orang tua yang lain juga mengalami hal yang sama dengan istrinya.

"Tou-san, apakah Hinata nee-chan akan selamat?" suara gadis berumur 14 tahun menghentakan suasana hening diantara mereka.

"Hanabi-chan, Hinata nee-chan pasti bisa melewati semua ini," jawab pria berambut coklat matanya mirip dengan hinata dan neji.

"Kita hanya bisa berdo'a semoga mereka semua bisa selamat dari operasi ini," tambah pria bermata onyx.

Mereka semua larut dalam diam dan duka. Masing-masing orang tua resah memikirkan keadaan anak-anak mereka, Ino dan Sakura yang baru datang pun ikut larut dalam keheningan.

Enam jam kemudian lampu ruang emergenci dimatikan, pertanda operasi di ruang itu telah selesai. Seorang wanita berambut pirang berkuncir dua keluar di ikuti asistennya berambut hitam pendek. Kedua wanita itu terlihat kelelahan, keringat membasahi masker mereka, rambut mereka pun basah. Wajah mereka terlihat cemas dan sedih, seolah terjadi sesuatu yang salah di dalam sana.

"Bagaimana keadaan mereka?" Minato mewakili para orang tua. Semua orang tua kini mengerumini dokter dan asistennya.

"Mereka semua selamat. Mereka hanya mengalami luka ringan, dan tidak membahayakan nyawa mereka. Kecuali—," dokter menahan kata-katanya, terasa berat untuk mengatakannya. Para orang tua terbelak, di antara mereka saling was-was.

"Kecuali apa, dok?"

"Kecuali Naruto. Di antara mereka semua dia yang paling parah, aku menemukan racun di tubuhnya. Dan racun itu cukup berbahaya, serum yang mereka gunakan untuk menangkal penyebaran racun tak mampu menahan penyebaran racun dalam tubuh Naruto," terang dokter.

Khusina terlihat syok, seketika dia melemas dalam pelukan suaminya.

"Naru-chan! Naru-chan!" Khusina tiba-tiba ambruk karena tak sanggup mendengar vonis anaknya.

Ke esokannya, Hinata masih belum sadarkan diri. Di ruangannya tampak sunyi, Neji yang baerada di dekatnya tampak tertidur pulas, itu terlihat dari suara napasnya. Hanabi tertidur pulas di pangkuan ayahnya di sofa. Mereka semua begitu damai dalam istirahat.

Jika perhatikan secara seksama, di sisi tempat tidur hinata ada sosok lain. Sosok itu begitu transparan dan tembus pandang. tangannya yang berkulit tan berulang kali menusap rambut Hinata, namun tangannya selalu saja menembus kepala Hinata.

Sosok itu jika perhatikan lebih dekat, dia memiliki rambut pirang acakan dan tiga goresan kembar di kedua pipinya. Kalian bisa simpulkan siapa sosok itu. Yah, dia adalah naruto.

"Syukurlah, kau selamat Hinata. Aku sangat senang, tapi kenapa kau belum sadar juga?" iris biru safir Naruto berkaca-kaca melihat Hinata yang lelap dalam tidurnya.

….

Di ruangan tempat Naruto di rawat.

"Mendokusai!" keluh Shikamaru seraya membanting dirinya di atas tempat tidurnya.

"Padahal, ruangan ini belum lama Naruto meninggalkannya, sekarang dia malah kembali lagi," sela Kiba dengan perban memenuhi sebagian kepala dan tangan kirinya sambil rebahan.

"Hn, jika ini bukan karena perintah kapten Minato. Aku lebih memilih untuk tidur," tambah Shikamaru sedikit kesal.

Lagi asik-asiknya Kiba dan Shikamaru berdebat mengenai Naruto, Sasuke masuk menghentikan kegiatan mereka.

"Apa kau dari ruangan hinata dan Neji, Sasuke?" Tanya Kiba melihat Sasuke menuju tempat tidur Naruto.

"Tidak," jawab Sasuke seadanya. Dia membuang pandangannya ke sisi kiri tempat naruto, tampak Sai dan Shino di masing-masing ranjang mereka terlelap dalam tidur.

Alat bantu pernapasan masih terpasang di wajah naruto, perban masih basah oleh darah yang tercampur dengan obat merah. Selang infus masih tergantung pasrah mengisi cairan ke dalam tubuh Naruto.

"Apa kau masih mengkhawatirkan dia?" pertanyaan Shikamaru mengalihkan pikiran Sasuke dari Naruto ke Shikamaru.

"Kecelakaan yang parah kemarin saja dia bisa bertahan, apa lagi dengan luka-luka kecil seperti ini. Dia sangat kuat, dia tidak akan menyerah pada keputus asaan," kata Shikamaru.

"Atau kau takut saat Naruto siuman nanti dia akan merebut Sakura darimu?" pancing Kiba. Sasuke membuang matanya ke luar jendela. Dia tidak peduli pada ejekan Kiba.

Yang dia tahu Sakura tidak akan pernah menerima cinta Naruto. Dan Saat naruto sadar nanti dia berharap Naruto akan membawa keajaiban pada hubungan mereka. Yah, semoga saja.

…..

Di ruangan Hinata.

"Hinata bangunlah," hinata tersentak dia mendegar ada orang memanggilnya. Matanya liar kesana kemari mencari pemilik suara, tapi dia tak menemukannya. Dia hanya melihat neji tang tertidur pulas, Hanabi dan ayahnya terlelap di sofa. Jadi siapa yang memanggilny?

"Naruto," entah apa yang ada dalam pikirannya hingga dia menyebut nama Naruto.

"Bagaimana keadaan Naruto?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri.

"Saat ini dia dalam keadaan koma," Hinata menoreh pada asal suara di sampingnya.

"Neji nii-san, apa kau baik-baik saja?" tanya Hinata begitu melihat Neji dengan perban di kepala dan beberapa bagain tubuhnya.

"Aku baik-baik saja, kami semua selamat. Hanya saja saat ini nyawa Naruto terancam," suara Neji berubah sedih, dia memilih menatap ubin dari pada menatap wajah Hinata.

"Aku ingin melihatnya."

"Kau baru saja siuman, istirahatlah dulu," kini seorang pria muncul diantara mereka.

"Tapi, tou-chan."

"Dokter sudah melakukan yang terbaik untuknya, semua akan baik-baik saja," Hinata tertunduk sedih mendengar keputusan ayahnya.

…..

Sasuke menatap dalam-dalam gadis dengan busana sustr yang saat ini tengah duduk didepannya, dia membiarkan tangan kirinya di perban oleh gadis barambut pink itu. Kemudian dia membuang pandangannya ke tempat Naruto, seorang suster sedang memeriksa infus dan detak jantungnya.

"Apa kau marah padaku?" tanya Sasuke tanpa melihat wajah gadis depannya.

"Bagaimana keadaan, Hinata?" Sasuke mengerutkan keningnya.

"Aku tidak tahu," jawab Sasuke.

"Bagaimana bisa kamu tidak tahu, bukannya dia gadis impianmu," Sasuke tiba-tiba menarik tangannya dari Sakura. Iris onyxnya menatap marah iris emerald Sakura.

"Kenapa kau marah, sekarang kita tak ada hubungan apa-apa lagi, kan?!" Sakura balas menatap mata onyx Sasuke.

"Terserah!" kata Sasuke pada ahkhirnya seraya membuang wajah marahnya dari Sakura dan beranjak keluar.

Suasana ruangan Hinata di rawat terlihat sunyi, Neji sedang ke ruangan dokter di temani ayahnya, sementara Hanabi terlelap di sampingnya. Hinata berjalan pelan sambil mendorong tiang penyangga infusnya melewati lorong yang akan membawanya ke ruangan Naruto.

Lorong rumah sakit terlihat sunyi, dan sepi. Hanya suara langkah kakinya saling brsahutan, memberikan kesan tegang. Saat ini perasaan Hinata tak karuan, rasa malu membuat dia tak tenang. Rasa takut msmbuat ia tak berani melihat keadaan Naruto.

Tapi, langkah kakinya terus membawanya ke tempat Naruto berada. Langkah kaki Hinata tertahan saat dia melihat pintu ruangan Naruto, kini perasaannya makin galau. sanggupkah ia melihat Naruto, pertanyaan yang sama dia tanyakan pada dirinya sendiri. sanggupkah dia melihat Naruto koma yang untuk kua kalinya?

"Kau ingin menemui dia?"

"Sepertinya aku pernah mendegar pertanyaan ini sebelumnya di lorong ini. Yah, saat itu pertama kali aku melihat Naruto" inner Hinata mengenang saat pertama ia melihat Naruto.

"Sasuke-san."

"Hinata," kata Sasuke seraya membantu Hinata membawa tiang penyanggal infusnya.

"Sasuke—."

"Ku bantu kau menemuinya," potong Sasuke sebelum Hinata melanjutkan kata-katanya. merasa tak nyaman diperlakukan seperti itu oleh Sasuke, Hinata juga tak bisa menolak bantuan Sasuke.

Selama peerjalanan menuju pintu ruangan naruto mereka saling diam, mereka diam dengan pikiran mereka masing-masing.

"Bagaimana hubungan mu dengan sakura-chan?" Hinata mencoba membuka pembicaraan diantara mereka.

"Dia marah padaku."

"Mungkin sikap Sasuke-san selama ini pada sakura-chan sudah berlebihan."

"Apa yang aku lakukan padanya selama ini demi dia. Demi hubungan kami."

"Tapi, menurutku cara mu salah."

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu dan itu makin jelas sekarang."

"Dengan mengorbankan perasaan sakura-chan?"

Sasuke tersenyum simpul dan menatap iris amethyst Hinata. "Jika ia mencintaiku, itu bukan suatu yang bisa menghentikannya untuk tetap mencintaiku."

Hinata menatap tak mengerti pada Sasuke, "Masuklah, Di dalam hanya ada Naruto. Yang lain sedang chek up," kata Sasuke begitu mereka berhenti di depan pintu ruang Naruto.

"Sasuke-san, aku—," Hinata tampak ragu.

"Kau ingin menemuinya, bukan. Masuklah, siapa tahu dia sedang menunggumu," balas Sasuke seraya memberikan Hinata senyuman langka miliknya. Hinata jadi tersipu melihat senyum Sasuke, secara tak langung Sasuke telah memberinya sedikit semangat.

Hinata membalas senyum Sasuke,dan melangkah mendekati pintu. Perlahan terdengar suara deritan pintu, sedikit demi sedikit pintu terbuka memperlihatkan sosok pemuda berambut pirang di balik selimut. Mata amethyst Hinata bergetar, matanya mulai memerah.

Ia melangkah pelan mendekati tempat tidur Naruto, tangannya di gunakan untuk menutup mulutnya yang siap meledakan kesedihannya. Ia menatap dalam-dalam wajah Naruto, ia beranikan diri untuk menyentuh wajah naruto. Kolam jernih Hinata yang telah berubah merah kini telah bobol, ia menangis. Entah mengapa dan kenapa dia menangis, tangisnya makin deras.

Hinata POV.

Naruto. Naruto. Naruto.

Trima kasih, Naruto. Kau telah menyelamatk aku untuk kedua kalinya. Naruto, —. aku, aku, —. Maafkan aku, karena aku selalu membuat diri berada dalam kesulitan.

Ku dekati tempat Naruto berbaring, ku sentuh wajahnya. Ada rasa nyeri di dalam hatiku, rasa nyeri itu menyesakakn dadaku dan membobolkan pertahan air mataku.

Hiks, hiks, hiks—. Naruto—. Aku tidak ingin kau pergi juga, aku tidak ingin kau meninggalkan aku sperti Gaara meninggalkan aku.

Hiks, hiks, hiks—.

Air mata ini tak bisa berhenti, aku tidak tahu kenapa aku menangis melihatmu seperti ini. Naruto, rasa sedih ini menyesekan dadaku. Naruto, aku mohon bertahanlah.

Naruto, —. Hiks, hiks, hiks—.

Terimakasih, karena kau secara tak langsung mengantikan posisi Kyuubi.

Apa kau dengar suaraku, Naruto? Aku ingin kau tahu, bahwa aku sangat bahagia bila mengenalmu. Aku sangat bahagia dengan kehadiranmu dalam hari-hariku, meski kau hanya menggapku sebagai teman. Tapi bagi ku hubunganku dengan mu tak hanya sekedar teman, tapi lebih dari itu.

Naruto, apa kau bisa merasakan keberadaanku?

Keberadaanmu di sisiku, sangatlah berarti. Meski kau tak menganggap ku ada. Kau tahu, kau sangat mirip dengan teman khayalanku. Pertemuan kami pun lucu, awalnya aku mencoba merangkai wajah Gaara, tapi kenapa malah aku membayangkan wajahnya?

Aku tertawa pelan di sela tangisku, mengenang sosok Kyuubi yang bak pinang di belah dua dengan Naruto. Naruto, wajahmu, matamu, senyummu, tawamu, semua yang ada padamu sama persis dengannya.

Ku sapu air mata yang mengenang di pelupuk mataku, mencoba mengukir senyum di antara tangisku. Naruto—.

Apa ini sebuah kebetulan?

Naruto, kenapa kau sangat mirip dengan Kyuubi teman khyalanku? aku bahkan tak bisa membedakan antara kau dan Kyuubi. kau datang sesaat setelah dia pergi, begitu pun ketika ia datang, saat itu kau dalam keadaan koma. Apa aku yang terlalu berharap atau kau memang adalah Kyuubi, Naruto?

Sekarang semua tak penting lagi, kau Kyuubi atau bukan, kau Naruto atau bukan. Aku sudah tidak peduli, aku hanya ingin kau kembali. Aku hanya ingin memulai semuanya dari awal lagi denganmu, aku ingin mengenalmu sebagai Uzumaki Naruto.

Naruto, aku mohon. Berikan aku kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh, berikan aku kesempatan untuk membalas semua yang kau lakukan padaku.

Ku pejam mata ku, tanganku ku dekapkan didada. Berharap Tuhan menunjukan kebesarannya padaku. Dalam khusyu aku memanjatkan harapanku, semoga dia mendengar ku.

Naruto! kau dengar, aku tak ingin pertemuan kita hanya sampai disini. Aku ingin bersama mu, aku ingin berjalan bersama mu. Kau telah mengubahku, senyummu telah menylamatkan ku karena itulah aku tetap bertahan. Aku ingin terus melihat senyummu. Cukup Kyuubi yang pergi, aku tidak ingin kau juga. Aku tak ingin kehilanganmu, Naruto!

"Kenapa kau menangis, Hinata-chan?"

Degh!

Darah ku berdesir kencang, keringat dingin membanjiri wajahku. Perasaanku tak enak, karena tanganku tiba-tiba terasa dingin, ku beranikan diri untuk membuka mataku dan aku terbelak saat ku dapati sepasang iris biru safir menatap intens iris amethysku.

"Apa itu artinya kau menyukaiku, Hinata-chan?"

Kyaaaa!

Naruto-kun! Kau sudah sadar?!

Aku terbelak kaget melihat dia sudah duduk di depanku sambil membekam kedua tanganku yang bergetar hebat.

Terima kasih Tuhan, kau telah menunjukan kebesaran-Mu.

"Na-Naruto-kun!" mungkin wajahku sudah seperti kepiting rebus, karena kurasakan seluruh darah berkumpul wajahku.

"Ini, aku. Aku sudah kembali, Hinata-chan," katanya dengan memperlihatkan senyum mentarinya.

Oh, Tuhan. Sepertinya aku akan pingsan.

Hinata POV end.

"Kau kenapa Hinata-chan? Apa kau sakit?" Naruto terlihat cemas saat melihat wajah Hinata memerah, serentak dia melepaskan tangannya dari tangan Hinata dan tiba-tiba dia sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.

"Dasar Naruto bodoh! Apa yang kamu lakukan!" inner Hinata kalang kabut dengan perasaan gugupnya.

"Na-Naruto-Kun, apa yang mau kau lakukan?"

"Aku ingin mengecek suhu tubuh, Hinata-chan."

"Me, memangnya Naruto-kun bisa merasakan suhu tubuhku?"

"Tentu saja, aku bisa merasakan suhu tubuhmu. Aku kan bukan ima—," Naruto menahan kata-katanya, dia terlihat kebingungan sendiri dan kemudian dia menjauhkan wajahnya dari Hinata. Sementara itu Hinata menatap curiga padanya.

"Euuummm, maksudku. Tentu saja aku bisa menyentuhmu, aku kan manusia juga," lanjut Naruto dengan memasang tampang watados.

Hinata memiringkan kepalanya tak mengerti maksud perkataan Naruto, dia terlihat aneh.

"Sepertinya ini pernah terjadi," kata Hinata pelan sambil menggaruk pipinya, dia merasa malu. Dia membuang wajah dari Naruto, dia tidak ingin Naruto melihatnya seperti itu.

"Ayo, Hinata. Duduk disini—," kata Naruto seraya memegang tangan Hinata menariknya mendekat, namun seperti dejavu, naruto melihat dirinya mencoba memegang tangan Hinata namun tak bisa, karena tangannya menembus tangan Hinata.

"Seandainya aku nyata, aku ingin sekali memegang tanganmu, merasakan hangatnya sentuhanmu," kata-kata saat dia masih menjadi teman khayalan Hinata terngiang di benaknya.

Rasa sesak tiba-tiba menikam hatinya, wajah cerianya berubah sendu. Dia melihat tangan Hinata begitu lama. Dia memegang erat tangan Hinata untuk memastika tangannya tidak menembus tangan Hinata.

"Sekarang aku sudah bisa menyentuh tanganmu dan merasakan hangatnya sentuhanmu," kata Naruto tanpa melepas tangan dan tatapannya dari tangan Hinata.

Degh! Jantung Hinata ingin melompat keluar, saat tangan hangat Naruto menariknya duduk di sampingnya.

"Tangan Naruto besar dan kuat," inner Hinata merasakan kuatnya genggaman tangan Naruto.

"Na-Naruto-kun, kau kenapa?" tanya Hinata heran melihat Naruto memandang tangannya dengan tampang sedih.

"Sekarang, aku sudah bisa memegang tanganmu, Hinata-chan," jawab Naruto kembali ceria seraya melepaskan genggaman tangannya dan memamerkan senyum lima jarinya.

Hinata memiringkan kepalanya lagi, tanda tak mengerti.

"Bagaimana keadaanmu, Naruto? apa kau masih merasa sakit?" Hinata mencoba mengalihkan suasana penuh canggung di antara mereka.

"Kau sendiri bagaimana, apa kau baik-baik saja?" Naruto balik bertanya membuat Hinata tertawa lucu. Saat ini dialah yang paling parah di antara mereka semua, kenapa malah mencemaskan orang lain?!

"Aku mengkhawatirkanmu, Hinata-chan," kata Naruto menatap sayu Hinata.

Hinata hanya menunduk karena malu, dan mencoba menghindar dari tatapan aneh Naruto.

"Kau kenapa menundukan wajahmu dariku? Apa kau tak senang aku kembali?" kata Naruto seraya menyentuh dagu Hinata

Wuish!

Begitu tangan Naruto terasa di kulit wajah Hinata ada sengatan listrik bertegangan kecil menusuk hatinya membuat jantunganya berdetak makin kencang dan memompa darah menuju wajahnya. Hinata langsung menatap iris biru safir Naruto, mencoba menjelaskan pada Naruto dia tak bermaksud begitu.

"Bu-bukan, aku-aku senang Naruto-kun kembali. Aku sangat senang," kata Hinata terbata-bata mencoba menenangkan detakan jantungnya.

"Kalau begitu, aku ingin melihat senyum Hinata yang manis itu," balas Naruto memasang wajah cute.

Hinata terpaku melihat wajah cute yang dibuat-buat Naruto, dia merasa lucu dengan tampang Naruto yang terlihat aneh. Dia tak bisa menolak nalurinya untuk tertawa pelan karena wajah Naruto.

Sementara itu, wajah Naruto memerah tersipu melihat senyum Hinata.

"Aku suka senyum Hinata seperti itu, Hinata terlihat sangat manis."

Kyaaaaa!

Naruto bodoh! Apa yang kau katakan! Jadi kau mempermainkan Hinata untuk bisa melihat senyum Hinata yang manis itu?! Kurang ajar kau! Kalau sampai dia pingsan, kau harus MENIKAHINYA! Titik, tidak pake kuah! #ceritanya si aouthor lagi kesal, nih#

"Hi-Hinata!" teriak Naruto penik melihat Hinata jatuh pingsan di pangkuannya.

Tuh, kan belum selesai bicara Hinata sudah pingsan! Kau harus bertanggung jawab, baka Naruto!

Sementara itu di luar ruangan Naruto di rawat tampak segerombolan pemuda dan pemudi saling dorong bisik-bisik dari balik pintu.

"Yah, kenapa Hinata pake acara pingsan sih?!" bisik Ino hamper tak terdengar seraya mendorong kepala Sai ke atas.

"Kau benar, Ino. Jadi tidak seru," balas Sai di atas kepala Ino.

"Padahal, aku berharap ada adegan kissnya," tambah Kiba bersingut di depan Ino.

"Ekhem! Apa yang kau katakan!" deheman Neji menciutkan nyali Kiba.

"Aku hanya berharap, tapi kalau tidak jadi juga kan sayang!" sela Kiba.

Jhuken! Kiba terlempar sejauh langit ke 17(?)#gak ini bohong!#

"Neji, kenapa kau tak bisa romantic seperti Naruto?" Tenten terdengar memelas memasang wajah manja, tapi Neji tak menggubrisnya.

"Hinata-chan! Kamu kenapa?!" teriak Naruto dari dalam kamar.

"Merepotkan! Kenapa kita malah mengintip mereka?!" tambah Shikamaru.

"Aku tidak dapat kebagian tempat mengintip!" keluh Shino tak tedengar ngambek, padahal dia lagi ngambek!(?)

"Ekhem! Ekhem! Ekhem!" ke tujuh pemuda pemudi tukang intip terkejut mendengar suara deheman dari belakang mereka, dengan gaya patah-patah mereka bertujuh menorah ke belakang.

Sakura berdiri dengan mengepalkan tangannya, meninju-ninju telapak tangan kirinya. Mulutnya menggumam kata Sanaroo berulang kali. Para pemuda menelan paksa ludah mereka melihat wajah sangar Sakura.

"Siapa pun yang di luar tolong aku, Hinata-chan Pingsan!" lagi Naruto keasyikan berteriak meminta tolong(?) seolah tak terdengar oleh teman-temannya, mereka malah ketakutan melihat Sakura.

"Sa-Saukra-chan," Ino terlihat pucat, mengingat kekuatan pukulan Sakura yang mematikan.

"Kenapa kalian melakukan ini!" suara Sakura terdengar menggeram.

"Maaf, Sakura-chan," tambah Tenten berharap Sakura mengurungkan niatnya membantai mereka.

Wajah sangar Sakura tiba-tiba berganti dengan seringai jahil.

"Kenapa kalian tak memanggilku, aku juga kan ingin!" kata Sakura dengan tampang watados, seketika yang lain baddrop bareng mendengar pernyataan Sakura.

Huuuiiiisss—, syukurlah mereka selamat.

Pletak! Pletak! Pletak! Pletak! Pletak! Pletak! Pletak!

"Adowh!" rengek kesakitan berjamaah dari ke tujuh pemuda pemudi si tukang intip.

"Sudah tahu, Hinata sedang pingsan dan Naruto baru siuman dari komanya. Kalian malah asyik mengintip!" aura membunh keluar dari seseorang di belakang mereka.

"Kakashi nii-san!" serempak ke tujuh pemuda pemudi itu menyerukan nama si empu suara dengan kesal.

"WOI! Kalian yang diluar! Tolong, Hinata pingsan!" teriak Naruto dari dalam ruangan, sepertinya dia mendengar suara mereka.

Ke tujuh pemuda itu serentak jadi kalang kabut takut ketahuan ngintip, akhirnya mereka bubar dan bersikap seolah mereka baru tiba.

Sakura segera masuk dan dia tertahan di pintu karena melihat posisi Hinata pingsan.

"Kenapa lama, Sakura-chan?" tanya Naruto panic begitu Sakura masuk, sementara dia kebingungan mau apakan Hinata yang saat ini berada dalam pangkuannya.

"Eh, i-iya," kata Sakura kemudian. "Neji! Bantu aku angkat HInata," tanpa menunggu lagi Neji begerak cepat mengagkat Hinata dari pangkuannya.

TBC