A Little Secret

Disclaimer : I own the story. Others? Not mine. Secret Garden © SBS

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst

.

.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

.

Entah sudah berapa kali dalam seharian ini Ino dan Kiba saling bertukar pandang dengan dahi berkerut. Beberapa saat yang lalu keduanya masih mendengar suara tawa sang Uzumaki yang kini malah terdiam. Ketiga mahasiswa itu baru saja keluar dari kelas terakhir mereka hari ini. Ketiganya memutuskan untuk pergi menonton film thriller yang baru mulai diputar dua hari yang lalu.

Sejak pagi tadi sebenarnya Ino dan Kiba sudah menyadari kalau ada hal yang tengah mengganggu kawan pirang mereka, tapi keduanya memutuskan untuk tidak mengungkitnya. Mereka tahu kalau Naruto pasti akan memberitahu mereka jika apa yang mengganggunya benar-benar parah dan tidak bisa diselesaikannya sendiri.

"Sebaiknya kalian berdua pergi duluan," tutur Naruto tanpa memandang dua sosok yang berdiri mengapitnya.

"Eh? Kenapa?" Ino menatap sahabatnya bingung.

"Ada sesuatu yang tertinggal," Naruto menjawab dengan cepat. "Kalian pergilah dan cepat mengantri supaya kita mendapatkan tiket."

Naruto menepuk bahu Kiba dan berbalik, kembali melangkah menuju gedung fakultasnya.

Ino menatap Kiba dan menaikkan alis dan Kiba membalasnya dengan mengangkat bahu. Keduanya memutuskan untuk menuruti permintaan Naruto untuk pergi lebih dulu.

"Ah, Sasuke-senpai!" Ino berlari kecil mendekati seniornya yang sedang bersandar di gerbang kampus.

"Kalian tidak bersama Naruto?" tanya Sasuke sembari sedikit menjauhkan diri dari gerbang.

"Dia sedang mengambil barangnya yang tertinggal," jawab Ino disertai senyum.

"Apa dia mengajakmu juga?"

"Hn? Mengajakku?"

"Kami berniat pergi nonton hari ini. Apa dia tidak memberitahumu?" Kiba menaikkan alis.

Sasuke mengerutkan dahi. Naruto tidak memberitahukan apapun padanya, termasuk rencana yang baru saja dipaparkan Kiba. Sejak kemarin Naruto tidak membalas satu pun pesan yang ia kirimkan. Naruto juga tidak mengangkat teleponnya tadi pagi.

"Sebaiknya kau susul dia dan berangkat bersamanya. Kami akan pergi lebih dulu dan memastikan kalau kita berempat mendapatkan tiket," ucap Kiba yang kemudian mengajak Ino untuk segera pergi meninggalkan area kampus.

.

-0-

.

Shikamaru cukup terkejut ketika mendapati Naruto duduk di lobi gedung apartemen yang ditempatinya. Si pemuda berkulit tan langsung bangun dan mendekati bosnya.

"Boleh aku menginap di apartemenmu malam ini?"

Sang lelaki bermarga Nara hanya bisa mengangguk dengan dahi berkerut, sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia memberi isyarat dengan matanya agar Naruto mengikuti langkahnya menuju lift.

Naruto langsung melompat ke arah sofa dan memeluk bantal sofa dengan posisi duduk meringkuk ketika keduanya sudah ada di dalam apartemen. Ia menarik napas lega setelah mengingat kesuksesannya melarikan diri dari Sasuke hari ini.

Setelah apa yang terjadi tadi malam diantara dirinya dan sang Uchiha, Naruto merasa bingung. Bingung karena apa? Naruto juga tidak tahu. Yang jelas ia mendapati dirinya tidak mempunyai keberanian untuk membalas pesan dan mengangkat telepon seniornya itu.

"Minumlah," ucap Shikamaru setelah menaruh secangkir teh di hadapan sang adik.

Shikamaru tidak ingat kapan terakhir kali Naruto menginap di apartemennya. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia berdua dengan pemuda yang duduk di sampingnya sekarang. Setelah ia mengakui perasaannya kepada Naruto, sejak saat itu hubungan keduanya merenggang. Keadaan mereka makin memburuk setelah ia mengetahui kalau 'Sasuke' tertarik kepada 'Naruto' dan juga sebaliknya.

Shikamaru menghela napas panjang.

"Kau keberatan aku menginap di sini malam ini?"

"Tidak. Kenapa kau berkata seperti itu?"

"Kau baru saja menghela napas. Kalau kau merasa terbebani dengan keberanianku, aku akan pergi sekarang juga."

Naruto meletakkan cangkir di tangannya dan berdiri, namun Shikamaru segera menarik tangan lawan bicaranya dan memaksanya kembali duduk.

"Aku tidak keberatan. Aku hanya terkejut dengan kemunculanmu yang tiba-tiba," Shikamaru menjelaskan.

Naruto mengangguk kecil dan kembali menikmati tehnya. Siang tadi Gaara menghubunginya dan memberitahu kalau dia akan pulang sangat terlambat karena masih banyak take yang harus diselesaikannya, dan itu berarti apartemennya kosong saat ini. Naruto sengaja tidak pulang ke apartemennya karena ia yakin kalau Sasuke pasti akan menemukannya di sana.

"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu kalau kau mau menginap?" tanya

Shikamaru yang kini sedang melemparkan pandangan ke arah televisi. Lelaki berambut coklat itu beberapa kali menekan tombol remot untuk memindahkan channel.

"Karena aku tahu kalau kau pasti akan mengizinkanku menginap."

Shikamaru menganggukkan kepala. Jawaban Naruto memang benar.

Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya ketika suasana berubah hening dan canggung. Kenapa ia merasa canggung dengan Shikamaru? Seingatnya dulu mereka tidak pernah merasa canggung satu sama lain, tapi apa yang terjadi sekarang?

"Err, Shika, apa aku melakukan kesalahan padamu?"

Shikamaru menolehkan kepala untuk menatap Naruto selama beberapa detik sebelum kembali memfokuskan pandangan ke layar televisi.

"Tidak."

Naruto tahu kalau Shikamaru tidak berbohong, tapi ia juga tahu kalau lelaki ini juga tidak sepenuhnya jujur.

Sang Uzumaki menarik napas panjang dan menyamankan punggungnya di sandaran sofa yang empuk. Ia menyandarkan kepalanya ke punggung sofa dan menatap langit-langit ruangan. Apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan Sasuke nanti?

Pemuda tujuh belas tahun itu sadar kalau ia tidak bisa terus melarikan diri dan bersembunyi dari sang Uchiha bungsu, tapi ia juga sadar kalau ia masih belum memiliki keberanian untuk bertemu dengan lelaki itu.

"Jangan berpikir terlalu keras. Aku tidak mau melihat kepalamu meledak karena terlalu banyak dipakai berpikir."

Untuk yang satu ini Naruto tidak perlu berpikir untuk memukul lelaki di sampingnya dengan bantal sofa yang sejak tadi ia peluk.

"Kalau kau tidak mau melihatku berpikir, berhentilah memperhatikanku!" cetusnya.

"Mana bisa aku mengabaikan orang yang butuh perhatian sepertimu?" Shikamaru mengacak rambut pirang Naruto. "Ada apa? Apa ada hal yang mengganggumu?"

Naruto menghela napas lega karena kecanggungan yang melingkupinya beberapa menit yang lalu kini sudah hilang.

"Mungkin lebih tepat kalau kau bertanya 'Apa ada seseorang yang mengganggumu?', Shika," Naruto mengoreksi.

"Ada seseorang yang mengganggumu? Siapa?" Shikamaru mengerutkan dahi.

"Kau pasti tahu siapa orang yang selalu menggangguku," Naruto mengerlingkan mata bosan.

"Ah, Uchiha Sasuke rupanya. Apa lagi yang dia lakukan? Kukira kau sudah terbiasa diganggu olehnya." Shikamaru berusaha menjaga nada bicaranya senormal mungkin.

Naruto menggembungkan pipi. Terbiasa? Yang benar saja! Oke, mungkin Naruto memang sudah terbiasa dengan keberadaan Sasuke, tapi apa yang terjadi semalam membuatnya merasa bingung. Dan tidak nyaman.

"Apa yang akan kau katakan jika aku berkata padamu kalau Sasuke menyukaiku?"

"Dia berkata seperti itu padamu?" tanya Shikamaru dengan tatapan serius.

"Tidak," Naruto menggelengkan kepala. "Dia berkata kalau dia ingin aku menjadi miliknya."

"Lalu? Apa yang kau katakan?"

"Aku tidak membalas ucapannya. Dia sama sekali tidak memberiku waktu untuk membalasnya."

"Dan kurasa kau tidak keberatan diklaim olehnya," cetus Shikamaru sembari kembali menyandarkan diri ke punggung sofa.

"Kenapa kau bisa berkata seperti itu?" Naruto memandang atasannya tidak percaya.

"Karena aku tidak menemukan nada tidak suka di ucapanmu tadi. Itu sudah cukup menjadi bukti kalau kau tidak keberatan dengan ucapan Sasuke."

.

-0-

.

Shikamaru menatap lelaki di hadapannya dengan tajam. Ia sama sekali tidak mengenal lelaki ini dan ia tidak tertarik untuk mengenalnya.

"Maaf tapi Anda tidak bisa memaksa dia pergi begitu saja, Tuan," ucapnya datar.

"Aku tidak peduli. Dia harus ikut denganku sekarang," balas Itachi sembari menatap tajam pemuda yang berdiri di belakang Shikamaru.

Naruto menarik napas panjang dan memijat pelipisnya. Ia sangat terkejut ketika Itachi datang ke pub dan menariknya yang hendak melangkah ke balik counter bar.

"Sebaiknya aku pergi, Shika. Maaf sudah membuat keributan."

Naruto membungkukkan tubuh kepada bosnya dan orang-orang yang menatap mereka bertiga. 'Percakapan' Itachi dan Shikamaru memang berhasil menarik perhatian pengunjung pub.

"Darimana kau tahu tempat kerjaku?" tanya Naruto setelah keduanya berada di dalam mobil.

"Kau bekerja di sana?" Itachi balas bertanya.

Naruto mengerlingkan mata dan menunjuk seragam bartender yang masih melekat di tubuhnya.

"Oh, shit!"

Naruto menahan teriakan yang sudah hampir meluncur dari mulutnya ketika Itachi tiba-tiba membanting stir dan berpindah jalur. Ia melemparkan pandangan tajam kepada kakak Sasuke itu dan mengutuk si lelaki di dalam hati.

"Tunggu di sini!" perintah Itachi sebelum keluar dari mobil dan masuk ke dalam sebuah distro.

Naruto menghela napas dan melepaskan lensa kontak yang ia kenakan dan memasukkannya ke dalam kotak lensa yang ia taruh di kantung kemejanya. Ia juga berusaha menghapus make up penyamarannya.

"Ganti bajumu," titah Itachi sembari memberikan sebuah kantung belanja.

"Kau menyuruhku ganti pakaian di sini?" tanya Naruto tidak percaya.

"Kenapa? Kau keberatan? Pindah ke kursi belakang dan ganti bajumu."

Naruto menggerutu dan keluar dari mobil untuk melakukan apa yang diperintahkan Itachi.

Putra sulung Uchiha itu kembali melajukan kendaraannya. Ia sama sekali tidak tahu kalau Naruto bekerja di pub. Ia sadar kalau Naruto merubah penampilannya, tapi ia tidak sadar kalau Naruto bekerja di sana. Kenapa mata-matanya tidak memberitahukan hal sepenting ini? Itachi membuat catatan di pikirannya untuk memecat mata-mata yang ia tugaskan secepatnya.

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa kau menyeretku tiba-tiba?" tanya Naruto setelah selesai berganti pakaian.

"Ayahku ingin bertemu denganmu."

Jawaban singkat Itachi berhasil membuat Naruto mematung. Uchiha senior ingin bertemu dengannya? Kenapa? Naruto bisa merasakan jantungnya berdetak tidak sesuai dengan ritme yang seharusnya.

"Kita sampai."

Naruto mengerjapkan mata. Berapa lama ia 'tidak sadarkan diri'? Kenapa tiba-tiba mereka sudah ada di kediaman Uchiha?

Itachi keluar dari dalam mobil dan memperhatikan mobil lain yang baru saja tiba di pekarangan kediaman Uchiha. Naruto keluar dari dalam mobil dan langsung mematung ketika melihat Sasuke keluar dari mobil yang terparkir di sebelah mobil yang tadi dikendarainya.

"Aku tidak percaya kau memberitahu tousan tentang hal ini," ucap Sasuke tajam sembari melangkah mendekati sang kakak.

"Aku tidak mengatakan sepatah kata pun padanya, Sasuke. Apa kau pikir aku segila itu?" balas Itachi.

Sasuke menelan kembali ucapan yang ingin ia lontarkan ketika menyadari keberadaan Naruto beberapa langkah di belakang Itachi. Pandangan mata sang Uchiha bungsu kembali terarah kepada sang kakak.

"Kau membawanya? Kenapa kau melibatkannya?"

"Tousan memintaku membawanya. Apa kau pikir aku punya pilihan?" Itachi membalikkan pertanyaan. "Sebaiknya kalian segera masuk." Itachi melangkah memasuki bangunan di hadapannya, meninggalkan dua sosok di belakangnya.

Sasuke menarik napas panjang. Ia melemparkan pandangan ke arah Naruto yang sedang menatap kediaman orang tuanya. Si pemuda berambut raven melangkah mendekati sang Uzumaki dan berdiri tepat di hadapannya.

"Mulai sekarang semuanya akan menjadi lebih rumit. Jangan katakan apapun, biar aku yang mengatasi kedua orang tuaku."

Kedua pemuda itu sontak melemparkan pandangan ke arah langit ketika telinga mereka menangkap suara gemuruh. Naruto mengerutkan dahi ketika merasakan tetesan-tetesan air turun dari langit. Bukankah ramalan cuaca pagi tadi mengatakan kalau hujan tidak akan turun hari ini? Kenapa sekarang malah gerimis?

Sang Uchiha meraih pergelangan sang Uzumaki dan menariknya, mereka melangkah menuju beranda rumah untuk berteduh.

Naruto menabrak punggung sang Uchiha ketika Sasuke menghentikan langkahnya tiba-tiba, dan hal itu membuat keduanya terjatuh. Baik Naruto dan Sasuke menutup mata mereka dan merasakan sakit akibat tertarik grafitasi ke permukaan bumi.

"Kenapa kau menghentikan langkahmu tiba-tiba seperti tadi, huh?"

Baik Naruto maupun Sasuke sama-sama membuka mata mereka dan saling melemparkan pandangan satu sama lain.

"AAARRGGHH! KENAPA KITA BERTUKAR LAGI?" tanya 'Sasuke' sembari menatap horor sosok 'Naruto' di hadapannya.

Sasuke menatap sosoknya sendiri dengan pandangan tidak percaya. Setelah sekian lama, kenapa sekarang mereka bertukar lagi? Dan diantara sekian banyak kesempatan, kenapa mereka harus bertukar sekarang?

"Apa yang kalian lakukan? Cepat masuk!" seru Itachi yang baru saja keluar dari dalam rumah dan berdiri di beranda.

Sasuke menghela napas. Tidak ada waktu untuk terkejut sekarang. Ia segera bangkit dan menarik tangan 'Sasuke' dan membantunya berdiri.

"Rencana terpaksa diubah. 'Uchiha Sasuke', kau tugaskan untuk menutup mulutmu selama pertemuan berlangsung," bisik Sasuke sembari melangkah mendekati sang kakak.

"Apa yang mau kau lakukan dengan tubuhku?" bisik Naruto.

"Apapun yang kumau, tentu saja."

Naruto melemparkan tatapan tajam pada 'dirinya' namun tidak mengatakan apapun. Ia sendiri tidak tahu harus berkata apa dengan posisinya yang berada di dalam tubuh Sasuke saat ini.

Sasuke menarik napas panjang dan membungkukkan tubuh ketika melihat kedua orang tuanya yang sudah duduk di ruang tamu. Ia menarik pelan tangan yang masih digenggamnya dan menuntun 'Sasuke' untuk duduk disampingnya sebelum akhirnya melepaskan genggaman tangan mereka.

Naruto memandang sosok kepala keluarga Uchiha yang baru ditemuinya kali ini sambil berusaha mengendalikan kepanikannya. Ia terus merapalkan perintah pada dirinya sendiri untuk bertindak sebagai seorang Uchiha Sasuke di kepalanya.

"Aku ingin kau menjelaskan dirimu," ucap Fugaku datar setelah melemparkan sebuah amplop berukuran cukup besar ke atas meja.

'Naruto' menaikkan sebelah alis dan menolehkan kepala ke arah 'Sasuke', memberi isyarat kepada sang 'Uchiha'. Naruto mengerti kode yang diberikan Sasuke dan meraih amplop di depannya. Ia mengeluarkan isinya dan menahan napas ketika melihat fotonya dengan Sasuke di balkon kemarin malam.

Sasuke menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Ternyata selain kakaknya, ayahnya juga memiliki mata-mata yang terus memantaunya. Ia baru menyadari kalau ternyata keluarganya cukup mengerikan.

"Apa foto-foto itu benar, Sasuke?" tanya Mikoto tenang.

"Ini—"

"Benar."

Empat pasang mata langsung mengarahkan pandangan ke arah 'Naruto' yang baru saja memotong ucapan 'Sasuke'. Itachi, yang berdiri di dekat sang ibu, menatap si pemuda pirang tidak percaya.

"Kalian benar-benar melakukan apa yang ada di foto itu?"

"Apa foto itu terlihat seperti sebuah photoshop?"

Naruto berusaha untuk tetap menetralkan ekspresinya. Ia tidak boleh menunjukkan ekspresi apapun, terlebih ekspresi takut yang sungguh sangat ingin ditunjukkannya.

"Ya. Sasuke menciumku dan aku membalas ciumannya," jawab 'Naruto' tenang.

Fugaku menatap pemuda yang baru saja ditemuinya beberapa menit yang lalu dengan tatapan tajam. Ia tidak pernah menyangka kalau anak bungsunya memberikan kejutan seperti ini untuk kepulangannya dari Amerika

"Sasuke menciummu? Kau ingin berkata kalau dia gay, begitu?" tanya Fugaku.

"Mengenai itu aku tidak tahu," 'Naruto' mengangkat bahu. "Yang kutahu dia tertarik padaku."

'Sasuke' menatap sosok disampingnya dengan pandangan tidak percaya. Kenapa Sasuke berkata seperti itu kepada kedua orang tuanya? Ia yakin setelah ini namanya pasti masuk daftar blacklist keluarga Uchiha.

"Aku tahu kalau kau sangat mencintai anakmu, tapi apa kau tidak berpikir kalau apa yang Anda lakukan terlalu berlebihan? Aku tidak percaya kalau lelaki sedewasa Sasuke masih diikuti mata-mata. Apa Anda tidak percaya padanya, paman?"

Fugaku makin menajamkan pandangannya sementara Mikoto tampak mengerjapkan mata beberapa kali. Wanita itu memang hanya bertemu dengan Naruto satu kali, tapi ia yakin betul kalau Naruto yang ditemuinya beberapa bulan yang lalu tidak memiliki sifat yang seperti ini.

Berbeda dengan sang ayah yang melemparkan tatapan tidak suka, Itachi malah melemparkan tatapan takjub kepada sang 'Uzumaki'. Ternyata selain berani memotong ucapannya, 'Naruto' juga berani membalas ucapan ayahnya. Benar-benar tidak bisa dipercaya.

"Kenapa kau diam dan membiarkannya bicara? Aku mengharapkan penjelasan darimu, bukan darinya," tutur Fugaku sembari menatap lurus 'Sasuke'.

Naruto menelan ludah paksa dan membuka mulutnya selama satu detik sebelum memutuskan untuk menutupnya lagi. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia katakan sebagai 'putra' dari sosok dihadapannya.

"Aku ingin tahu kenapa kalian sangat mempermasalahkan hal ini."

Ucapan 'Naruto' membuat semua pandangan kembali tertuju padanya. Itachi mundur perlahan dan menyandarkan punggungnya ke tembok ruangan sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Entah kenapa ia merasa tertarik pada kelanjutan percakapan yang tengah terjadi.

"Sasuke melakukan hal itu berarti dia mencintaiku, bukan? Kenapa Anda sepanik itu?" tanya 'Naruto' tenang.

"Karena hal seperti itu tidak lazim, Naruto. Aku yakin kau mengerti hal itu," Mikoto menjawab.

"Anda benar, tapi bukankah Sasuke memiliki hak untuk melakukan apapun yang dia anggap benar?"

"Benar? Siapa yang membenarkan hal semacam itu? Siapa yang mengatakan kalau hal yang kalian lakukan benar?" Fugaku terlihat sangat berusaha menahan emosinya.

"Kalau Anda bertanya seperti itu, maka aku akan membalikkannya. Siapa yang menyalahkan hal yang kami lakukan?"

Itachi menahan diri untuk tidak memberikan applause kepada 'Naruto' karena berani membalikkan kata-kata sang ayah.

"Apa yang Anda pandang salah belum berarti salah di pandangan orang lain, termasuk Sasuke. Bagaimana kalau Sasuke berkata bahwa menciumku adalah hal yang benar?"

"Hentikan, 'Naruto'," 'Sasuke' merendahkan suaranya. Ia sudah tidak mau berada di tengah pertengkaran ayah dan anak ini lagi.

Sasuke menolehkan kepala dan menatap lurus iris onyx miliknya. Beberapa menit kemudian ia menarik napas panjang dan memutuskan untuk segera menghentikan semuanya. Untuk saat ini.

"Aku akan mengajukan pertanyaan yang pernah diajukan Sasuke kepada Itachi. Apa yang ingin Anda inginkan? Melihat putra bungsu Anda lengkap atau melihat putra bungsu Anda bahagia?"

Suasana berubah hening setelah Sasuke mengajukan pertanyaan tadi. Sang ayah masih menatapnya tajam, sementara sang ibu tetap memberikan pandangan tidak percaya. Di sudut ruangan Itachi masih menatapnya dengan takjub sekaligus tidak percaya.

"Kurasa percakapan kita sudah terlalu jauh. Dan kurasa untuk sementara waktu Anda tidak perlu khawatir, paman. Sampai detik ini Sasuke belum pernah berkata kalau dia mencintaiku. Masih ada kemungkinan dia hanya bermain-main denganku dan akan segera meninggalkanku begitu dia bosan," ucap 'Naruto'.

"Dan apa yang akan kau lakukan kalau Sasuke benar mempermainkanmu?"

"Entahlah, aku belum berpikiran sejauh itu."

"Apa kau mencintainya?"

Pertanyaan Mikoto membuat 'Sasuke' berhenti menatap 'Naruto'. Kini pandangannya mengarah kepada wanita yang menatapnya tenang. Dari sudut matanya Sasuke bisa melihat ayahnya melemparkan tatapan tidak percaya kepada sang istri.

"Aku tidak tahu. Sama seperti Sasuke, aku pun belum mengatakan apakah aku mencintainya atau tidak."

.

.

TBC

.

.

A/N: Mereka bertukar lagi! Maaf kalau hal itu membuat reader bingung, tapi plot-nya memang begitu. Cuma perasaan saya atau atmosfir chap ini cukup berat ya? Saya berusaha membuat masalahnya sesimpel mungkin, tapi hasilnya tetap serumit yang di atas -,-

.

.

Review Reply:

.

.

Kirara: Jujur, sampai sekarang saya masih ga tau mau bikin ending NejiGaa atau NejiSaku, tapi saya sudah punya bayangan kedua ending itu di kepala saya *sigh* Mau update lama atau sebentar, jumlah words-nya tetap sama lho, hehe~

Meg chan: Tanggapan keluarga Uchia sudah saya berikan di chap sekarang~ Ini termasuk cepat 'kan? ^^

suki teme: Terima kasih sudah menunggu~ Yep, semangaaaatt~ :D

kyou: Telat? Ga apa-apa, yang penting baca (dan review, hehe). Jawaban pertanyaan itu cari aja nanti di chap-chap depan ^^

lovely orihime: Ga log in? =3= Konfliknya ada di chap ini~ Ga janji ah, neechan XD

Lista-SasuNaru4ever: Apa yang ini bisa disebut kilat juga? ^^