.

.

.


"Kataomoi"

Disclaimer: Semua chara Kurobas ada berkat tangan dewa Fujimaki Tadatoshi-sensei, saia minjem doang buat mewujudkan imajinasi liar saia, .w.)/

Warning: OC, Typo(s), OOC, AU, bahasa campuran, word tak tentu, Ejaan Yang Diragukan, ruwet, muter-muter, lebih kaya curcolan, de-es-be-de-es-be~

Summary: Mempunyai cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan, apalagi jika orang yang kau sukai malah tidak tahu soal perasaanmu. Akankah kau mampu mempertahankan perasaanmu? Atau memilih untuk mencari cinta yang baru?/RnR?


.

.

.

"Sudah kau serahkan?" Tanya Miho ketika aku keluar dari ruang guru. Aku mengangguk dan tersenyum kecil.

"Katanya beliau bisa merekomendasikanku, hanya saja itu juga tergantung nilai akhirku dan penilaian universitasnya." Ucapku.

"Ah, begitu ya... tapi kalau kau benar-benar diterima, aku pasti akan kesepian..." ucap Miho. Aku pun tertawa dan mulai berjalan untuk kembali ke kelas.

"Kau tidak perlu merasa kesepian, apa gunanya handphone? Lagi pula, tujuanmu untuk bisa satu universitas dengan Akashi-kun 'kan? Kau harus lebih berjuang daripada aku," gurauku.

"Mou!" Miho cemberut, aku tertawa melihatnya. "Tapi apa kau benar-benar tidak akan mengatakan pilihanmu pada orang lain? Kenapa?"

Aku terdiam sejenak, "Tidak kenapa-kenapa sih, cuma ya mungkin karena memang itu bukan hal penting untuk diberitahukan? Lagipula katanya harapan kita malah tidak akan terwujud jika kita menggembar-gemborkannya 'kan?"

"Oi! Bukannya yang benar itu kalau kau tidak sering mengatakannya kau akan cepat menyerah!?" balas Miho. Aku tertawa saja. "Uh, tapi teman sekelas kita mengiranya kau akan ke Todai juga," ucap Miho kemudian, aku mengangkat bahu.

"Yah, siapa juga yang bilang aku akan ke sana?" balasku, Miho balik mengangkat bahu.

"Hmm, mungkin soalnya nilaimu juga tinggi dan juga kau murid beasiswa?" ucap Miho.

Aku tertawa setengah hati, "Nilaiku itu standar, Miho. Dan beasiswa yang kudapat itu karena ibuku single-parent," jawabku.

Miho terdiam sejenak, "Kalau kau ke sana, ibumu akan kesepian, 'kan?"

Aku menatap siswa-siswi yang berlalu-lalang di koridor. Wajar saja, hari ini masih hari pertama masuk setelah liburan musim dingin, bagi murid kelas tiga ini adalah hari konsultasi, jadi banyak murid yang melewati koridor untuk ke tujuan masing-masing.

"Aku sudah membicarakannya kok. Ibuku sebenarnya bilang sih, aku hanya perlu memilih universitas yang bagus dan giat belajar. Masalah administrasinya, entah bagaimana ibuku bersikeras akan memenuhinya sendiri. Tapi tentu saja aku tidak tega, ibuku sudah merawatku sendirian selama dua belas tahun ini. Aku tahu bebannya sangat berat, makanya aku ingin membantunya. Saat SMA ini, aku sebenarnya ingin kerja part-time. Tapi ibuku melarang, karena itulah kupikir kuliah adalah kesempatanku untuk bisa meringankan beban ibuku." Jelasku panjang lebar.

Miho terdiam dan menunduk, "Aku bisa membantumu kok kalau masalah finansial! Kenapa kau harus memilih universitas sejauh itu?"

Aku tertawa garing, "Sudahlah Miho, keputusanku ini sudah bulat. Lagi pula, aku pasti akan merepotkanmu kalau begitu. Tenang saja, tiap liburan akan kuusahakan pulang,"

Miho masih menundukkan wajahnya, aku pun tersenyum maklum dan menyeretnya ke kantin untuk meringankan mood-nya. Mungkin segelas minuman kesukaannya bisa membuatnya kembali senang?

.

.

.

.

.

.

Saat kami kembali ke kelas, teman-temanku sedang sibuk membicarakan hasil konsultasi mereka. Ada yang dibilangi untuk mengganti pilihannya, ada yang didukung, ada yang disarankan untuk mengikuti kursus tambah keahlian, dan macam-macam. Aku pun ditanyai hasilku sendiri, tapi aku hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.

Miho pun menyeretku untuk berkunjung ke kelas sebelah, karena dia dibombardir dengan pertanyaan kenapa dia ingin masuk universitas dengan tingkat kesulitan tinggi seperti Kyodai, dan sebangsanya.

Elena pun memaklumi untuk jadi tempat pembuangan curhatan Miho setelah aku, aku sih sudah biasa menjadi tempat mengeluh Miho. Yah, karena kami give-and-take sih sejak SMP, dia mendengarkan curhatku, aku juga mendengar keluhnya. Dan di awal-awal kelas pas SMA, kami bertemu dengan Elena dan akhirnya membentuk trio. Kami pun pergi ke taman belakang untuk bersantai dan mengobrol.

"Ne, Elena. Bagaimana hasil konsulmu hari ini?" tanya Miho. Dia baru saja menyelesaikan curhatannya. Ternyata Miho sebenarnya bukan hanya ingin satu universitas dengan Akashi-kun tapi kebetulan jurusan yang diinginkannya, yang terbaik ada di sana.

Elena tertawa saja, "Aku tidak akan kuliah di sini, aku akan sekolah fashion di Amerika. Aku tadi hanya meminta rekomendasi dari sekolah saja,"

Aku dan Miho membelalak kaget. "Eh? Kok kami tidak tahu!?"

Elena terkikik geli, "Karena aku memang tidak memberitahukannya,"

"Ehh? Kenapa? Kupikir kau akan satu universitas dengan Kise-kun!" ucapku. Elena tertawa.

"Ryouta memilih untuk sekolah pilot, aku tidak mungkin satu universitas dengannya." Ucap Elena.

"Eh? Bukannya Akashi-kun menyarankan mereka untuk satu universitas agar mereka bisa bermain basket bersama?" tanyaku. Elena mengangguk.

"Memang sih, tapi akhirnya Ryouta memilih meneruskan impiannya sejak kecil." Ungkap Elena.

Miho pun akhirnya angkat bicara, "Jadi apa aku akan sendirian di sini?"

Aku menatap Miho sedih. Yah, dengan kenyataan kalau Elena akan ke Amerika dan aku tidak akan satu universitas dengannya mungkin membuat Miho agak down.

Aku pun tersenyum, "Kau tidak akan sendirian kok, Akashi-kun akan selalu ada untukmu. Lagian itu berarti masih ada yang lain 'kan? Kuroko-kun, Momo-chan, Midorima-kun, masih banyak teman-teman kita yang di sana."

"Tapi kau dan Elena tidak ada..." ucapnya. Aku pun terdiam.

"Memangnya kau memilih ke mana?" tanya Elena kepadaku.

Aku terdiam sejenak, "Aku ke Gifu, karena jurusan pendidikan di sana yang terbaik. Aku juga bisa mendapatkan beasiswa, selain itu aku boleh kerja part-time asalkan tidak mengganggu nilaiku,"

Elena terkejut, "Bukannya itu terlalu berat untukmu!?"

"Hmm, mungkin... tapi aku pasti bisa kok," ucapku menenangkan.

/Kretek!/

Aku, Miho, dan Elena kaget ketika mendengar suara ranting yang patah.

Kami menoleh ke sumber suara, tapi mataku tidak menemukan apa-apa di sana. Aku pun memiringkan kepalaku bingung. Aku dan Miho pun kembali ke posisi duduk kami semula, sedangkan Elena masih menatap ke arah yang sama.

"Ada apa, Elena?" tanyaku, Elena seperti baru tersadar dari sesuatu dan kembali ke posisi duduknya semula.

Elena menggeleng, "Tidak, tidak ada apa-apa. Daripada itu, apa kau sudah bulat dengan keputusanmu itu?"

Aku menggangguk, "Aku masih berusaha mendapatkan persetujuan penuh dari ibuku sih,"

"Lalu apa kau sudah mengatakannya pada Nijimura-san?" tanya Elena. Aku menggeleng.

Elena menghela napas, "Kau tahu, kau harus cepat-cepat mengatakannya,"

"Aku tahu, hanya saja... rasanya berat," ucapku.

"Apa kau sudah mulai jatuh cinta pada Nijimura-san?" tanya Miho yang kembali angkat bicara. Kini gantian aku yang terdiam.

"Aku tahu, aku sudah memilih Nijimura-san kok dan aku juga tidak berniat untuk menyakitinya," ucapku.

Miho dan Elena melihatku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Tapi aku sudah menyukai, tidak.. mencintai Kagami-kun sejak lama, aku sudah memendam perasaanku padanya sejak aku pertama kali mengenal cinta. Tidak mungkin aku bisa melupakannya begitu saja," lanjutku sendu.

Elena dan Miho terdiam, namun mereka menepuk kedua pundakku.

"Sudahlah kami mengerti, jangan menangis begitu dong." Ucap Miho, Elena pun mengangguk. Sekilas, kulihat raut wajah Elena serius, tapi kemudian dia tersenyum lebar.

"Yep, sudah saatnya kau move on! Semoga berhasil dengan Nijimura-san," tambah Elena. Aku tersenyum kecil dan mengangguk. Mungkin yang tadi hanya halusinasiku saja...


"Would you come after me if I walk away?"


A/N::

Minna-san, omedetou udah nyelesein sampe sejauh ini~

Walaupun masih ada chapter-chapter lain menunggu, setidaknya ini udah mencapai klimaks!

Ada apa di chap selanjutnya? Hmm... apa ya?

Adegan NijimuraxReader? Ato Kagamin? Ato spesial chapter AkaMiho dan KisElena? Ato adegan NijixReaxKaga yang udah ditunggu-tunggu? Ato semuanya aja? #dor *ntarchapternya10k+oi*

Terus untuk universitasnya, saia itu ngawur doang, jadi tolong maklumi...

Anggep aja jarak Gifu ke Tokyo itu sejauh sabang sampe merauke #hoi

Karena itu, tolong jangan jadiin ff saia referensi, karena isinya kadang ngaco, pilih sumber akurat dan terpercaya(?) #desh

Halah, pokoknya stay tune terus ya~

Dan juga nggak lupa buat yang udah review, readers, silent-readers semua, arigatou gozaimasu! Tetap setia sama cerita ini ya! Maap deh telat, apdetnya...

Saia lupa kalo masih punya cerita ini... TwT

Yosh, sekarang kita mulai aja sedikit bonus chapter!


BONUS CHAPTER

Sepulang sekolah, tepat pada saat sudah tidak orang di kelasnya. Yuiki Elena memberanikan dirinya untuk menghampiri meja paling belakang, meja milik pemuda berambut merah membara yang tengah tekun menyalin catatan di depannya. Elena bersyukur pacar pemuda itu sedang tidak ada di sana karena sedang ada urusan. Kalau dia ada, mungkin sekarang Elena sudah ditatap tajam.

"Taiga, punya waktu sebentar?" tanya Elena langsung. Kagami Taiga mendongakkan kepalanya dan menatap Elena heran.

"Ada apa?" tanyanya. Sejenak, Yuiki Elena terdiam, mencoba menimbang kembali dampak baik dan buruk dari apa yang akan dilakukannya. Namun pada akhirnya, gadis itu membulatkan tekadnya untuk berbicara langsung.

"Apa kau menyukainya atau tidak?" tanya Elena, Kagami tentu saja mengerutkan kening.

"Siapa maksudmu?" Elena kembali menghela napas melihat raut wajah bingung Kagami.

"Aku tadi melihatmu bersembunyi saat kami mengobrol di taman. Tepat saat dia bilang dia akan kuliah di Gifu, kau tidak sengaja menginjak ranting dan akhirnya cepat-cepat bersembunyi 'kan?" tuduh Elena dengan suara datar. "Kenapa kau melakukannya?"

Kagami membelalakkan matanya, dia tidak tahu kalau teman sekelasnya ini bisa menguak hal seperti itu, layaknya detektif saja.

"Memangnya kenapa kalau aku mendengarnya? Itu tidak ada hubungannya denganku 'kan, Elena? Lalu kenapa kau mengintrogasiku?" kilah Kagami.

"Aku tidak tahu maksudmu bersembunyi, itu saja. Padahal kalau kau mendengar pun selama kau tidak mengatakannya pada siapapun juga tidak masalah. Tidak ada alasan kuat kenapa kau harus bersembunyi." Ungkap Elena.

Kagami mengalihkan pandangannya dari kedua bola mata Elena yang seperti mencari kebohongan dalam kedua bola mata membaranya. "Aku hanya tidak mau dia merasa terganggu,"

Elena terdiam, mengamati sejenak sebelum akhirnya menghela napas pasrah. "Kau tahu, Taiga? Aku dan kau memang cocok saat hang-out, hanya saja untuk kali ini, aku ingin mengingatkanmu... Kau sudah punya Yuna. Walaupun aku tidak mengerti apa yang kau sukai darinya dan kenapa kau masih bertahan dengannya. Kau. Sudah. Memiliki. Yuna. untuk kau perhatikan."

Kagami kembali mengarahkan kepalanya kepada Elena, shock dengan apa yang dikatakannya.

"Kenapa kau terkejut? Aku hanya mengatakan fakta. Walaupun dari penglihatanku kau sepertinya mencintai orang lain. Tapi jika orang lain itu sudah memiliki kebahagiannya sendiri, tolong jangan kau ganggu. Itu salahmu sendiri karena sudah melewatkan kesempatan," tukas Elena sekali lagi.

Kagami masih mematung tidak bisa membalas perkataan Elena sama sekali. Elena kemudian melangkah menjauh dari meja Kagami. Namun sebelum dia keluar kelas, dia menyempatkan berhenti dan berbalik.

"Dan juga, aku mau mengingatkan." ucap Elena dari ambang pintu. "Kesempatan kedua itu jarang terjadi, dan tidak ada all happy ending di kehidupan ini. Yang ada adalah bahagia walau ada yang menderita atau memilih menderita agar orang lain bahagia."

Dan dengan satu ucapan itu, Elena menutup pintu kelasnya. Meninggalkan Kagami berpikir keras dan tenggelam dalam perasaan berkecamuknya.