Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : T

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 25 Desember 2015

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . . .

Sedangkan Sona tersenyum simpul mendengar keputusan Hinata.

"Sudahlah, kali ini biarkan aku saja yang bicara Naruto-kun." kata Hinata pada Naruto, meminta ijin untuk mengambil alih pembicaraan. Hinata sudah memikirkan hal ini matang-matang walaupun keputusan yang ia ambil, dia buat dalam waktu singkat.

"Emm, kami setuju" kata Hinata tegas pada Sona.

Hinata mengulurkan tangan kanannya, mengajak berjabat tangan sebagai tanda perjanjian kerjasama ini telah disepakati. Sona, tentu saja dengan cepat menyambut uluran tangan Hinata.

"Sudah ku duga, kalian bukan pengembara biasa" tutur Sona setelah selesai berjabat tangan dengan Hinata.

.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 21. Rencana Besar.

-Kota Kuoh-

Malam sudah sangat larut, dua manusia berbeda gender, sepasang suami istri muda telah siap dengan posisi berbaring di kasur untuk segera tidur. Mereka pulang dari Kuoh Gakuen saat hari sudah malam, beruntung Sona mau mengantar mereka pulang sehingga bisa sampai di apartemen lebih cepat. Lalu karena sudah malam, mereka hanya memesan makanan layanan antar. Sementara menunggu makanan datang, mereka berdua bergantian mandi membersihkan diri terutama Naruto yang sudah berhari-hari belum mandi karena terbaring pingsan. Makan malam dahulu, kemudian disinilah mereka sekarang, diatas tempat tidur. Naruto tampaknya belum berhasrat untuk segera ke alam mimpi, buktinya tidak ada tanda-tanda sedang mengantuk yang terlihat dari wajahnya.

"Neee,, Hinata. Aku tidak habis pikir, apa sih yang ada dipikiranmu sampai kau menyetujui tawaran Sona-san? Jika kita berurusan dengannya, aku khawatir akan mengganggu misi yang sedang kita jalankan" tutur Naruto, mengeluarkan unek-unek yang memenuhi otaknya.

Naruto sebenarnya sama sekali tidak mengerti sedikitpun, kenapa istrinya menerima tawaran itu?. Sejak Hinata mengatakan kalau ia menyetujui usulan Sona hingga sampai sekarang ketika hendak tidur, benaknya selalu dipenuhi pertanyaan tentang keputusan yang diambil istrinya. Hinata pun sama sekali belum mengatakan apa-apa tentang itu. Jadi mumpung ini waktu yang tepat dan Hinata juga tampaknya belum mengantuk, jadi sekarang tepat sekali jika menanyakan hal itu.

"Tunggu sebentar" jawab Hinata, lalu dia bangun dan mengambil posisi duduk

Byakugan

Hinata mengaktifkan doujutsu khas klannya, berkonsentrasi sebentar seperti mengamati keadaan sekitar. Lalu menatap kearah Naruto yang kelihatan bingung dengan posisi berbaring, Hinata tersenyum simpul, kemudian menonaktifkan byakugannya, dan berbaring lagi menghadap Naruto.

"Apaan sih tadi, pakai byakugan segala?" tanya Naruto yang tidak habis pikir dengan tingkah istrinya. Sudah tadi menerima tawaran Sona, sekarang sebelum tidur malah mengaktifkan byakugan.

"Sebelum kita membicarakan ini, aku ingin memastikan Sona-san berada dikamar apartemennya, tidak mengintip kita seperti yang biasa ia lakukan dan tidak ada alat penyadap suara di dalam apartemen kita. Ini pembicaraan penting dan sangat rahasia. Kamar kita ini juga sudah dilengkapi dengan dinding kedap suara, jadi walaupun telinga iblis macam Sona-san sangat peka, aku yakin dia tidak bisa mendengar kita."

"Oooohhh~~,,." Naruto mengerti alasan istrinya, ninja memang harus selalu siap sedia dan penuh perhitungan, tapi ada satu hal lagi yang belum ia mengerti, "Lalu kenapa kau juga mengarahkan byakuganmu padaku tadi, memangnya aku sakit? Habis itu, kamu tiba-tiba tersenyum lagi?"

"Oh, i-itu. . . hihihiiii..." Hinata enggan menjawab, malah terkikik pelan malu-malu.

"Hinata...?" Naruto malah dibuat makin penasaran dengan tingkah aneh istrinya.

"Aaaaa, , , , A-akuuuu, hanya ingin melihat kedalam isi hatimu dengan byakuganku. Dan aku tersenyum senang karena ternyata, hanya ada aku seorang didalam sana" jawab Hinata dengan mata melirik kearah lain, tidak berani menatap wajah suaminya.

Blusshhhh.

Kalau kalian berpikir Hinata yang blushing berat dengan wajah merona merah pekat, maka kalian salah. Naruto lah yang sedang merona hebat.

"Aa-a,,, aa. . . ." mulut Naruto terbuka, bisa bersuara tapi tidak bisa berkata-kata. Sakit apa istrinya yang imut ini sampai kena demam gombal segala? pikir Naruto. Untuk kali ini dia tidak bisa membalas Hinata dengan berkata apapun, jadinya hanya mengalihkan topik, "ah eheheee. . . . Jadi sekarang,,,,, bisakah kau jelaskan padaku apa alasamu menerima tawaran Sona-san tadi?"

"Karena kita memerlukan informasi yang ditawarkan Sona-san untuk misi kita, Naruto-kun" jawab Hinata singkat dengan wajah tanpa rona merah malu-malu lagi setelah selesai acara gombal-gombalannya.

"Memang ada hubungannya, antara misi kita dengan gadis iblis itu?" tanya Naruto serius dengan ekspresi wajah bingung, walau rona merah karena gombalan Hinata tadi masih belum hilang-hilang. Mungkin karena efek gombalan Hinata tadi terlalu kuat untuk Naruto.

"Begini. Kita sudah mendapatkan dua artefak yang kita perlukan. Aku sudah mengetahui dimana letak artefak-artefak lainnya setelah berbicara dengan gadis hologram didalam cube. Satu artefak ada di universe lain yang aku sendiri belum tahu bagaimana kondisi universenya, dan satu artefak lagi yang terakhir entah kebetulan atau apa, ternyata ada didunia ini"

"Memang kenapa harus berurusan dengan mereka? Sudah dua kali kita mencarinya berdua, rencana kita lancar dan hasilnya memuaskan"

"Tidak seperti tiga buah artefak lainnya yang terpencar di universe-universe lain, artefak yang ada di universe yang kita tinggali sekarang ini berbeda. Aku menyadarinya saat menggunakan cube untuk mencari koordinat keberadaannya, Naruto-kun"

"Apa bedanya?" tanya Naruto penasaran.

"Kalau tiga artefak lain, cube mampu merespon keberadaan artefak-artefak itu sehingga aku bisa dengan mudah menemukan dimana koordinat lokasinya secara pasti. Tapi artefak yang ada didunia ini berbeda. Cube tidak memberikan respon sedikitpun tentang keberadaannya. Seolah artefak itu seperti berada ditempat yang tersegel dan tidak bisa dijangkau dengan mudah. Jadi pasti akan sangat sulit menemukan keberadaan artefak yang kita cari jika cube tidak memberikan koordinat pastinya"

"Terus?"

"Aku sangat yakin kalau artefak itu berhubungan dengan eksistensi makhluk supranatural yang ada didunia ini. Jadi kita perlu banyak informasi tentang dunia supranatural untuk mendapatkan artefak itu"

"Kalau begitu, kenapa tidak meminta bantuan pada teman-teman kita di Konoha saja?. Sasuke sangat ahli mengumpulkan informasi. Buktinya dia sudah tahu banyak tentang dunia ini ketika kita berpamitan pada mereka sebulan lalu. Jadi kenapa harus dengan Sona-san?"

"Informasi yang diperoleh Sasuke memang sangat kita butuhkan, tapi aku merasa itu saja masih belum cukup. Sisa waktu misi kita tidak banyak, kita harus cepat. Kalau hanya mengandalkan informasi itu, mungkin perlu waktu lama agar bisa mencapai tujuan kita. Menurutku, tidak cukup hanya informasi saja, kita juga harus terlibat langsung dalam urusan makhluk supranatural"

"Aku masih kurang mengerti."

"Jika hanya usaha kita berdua saja, walaupun nanti kita sudah tahu tempat artefak itu, tapi ku rasa kemungkinan besar kita tidak akan bisa kesana. Kita membutuhkan makhluk-makhluk supranatural itu untuk menuntun dan membawa kita"

"Hmm...?" Naruto mendengus bingung.

"Sona-san berkata bahwa dia adalah putri pewaris tahta Keluarga Sitri. Dia sepertinya memiliki pengetahuan yang luas dan posisinya sendiri dikalangan iblis dapat dikatakan cukup kuat karena kakaknya itu salah satu Mauo atau pemimpin kaum iblis. Jika kita bersama dia, kita bisa masuk jauh lebih dalam kedalam urusan dunia supranatural. Lagipula aku yakin, Sona-san yang pertama kali mengajukan tawaran perjanjian kerjasama itu pasti memiliki tujuannya sendiri atau bisa jadi dia ingin memanfaatkan kita. Jadi tidak ada salahnya kalau kita juga balas memanfaatkan posisi Sona-san sebagai pewaris tahta Keluarga Sitri untuk memuluskan misi kita mencari artefak didunia ini, dan kita pasti mendapatkan banyak keuntungan darinya"

"Aku benar-benar tidak mengerti sama sekali jalan pikiranmu, Hinata"

"Aduuuuhh,,, suamiku sayaaang . . . Begini, kujelaskan lebih rinci sekali lagi. Jadi dengarkan baik-baik yaa..!"

"Hehee, maaf ya kalau merepotkanmu" kata Naruto cengegesan.

"Tidak apa-apa" sahut Hinata maklum. "Tidak seperti misi kita sebelumnya, didunia bajak laut kita bisa mudah mencari informasi karena mereka makhluk nyata, bukan makhluk supranatural. Lalu di dunia para dewa kematian, kita beruntung karena bertemu dengan orang yang baik hati dan mengerti situasi kita lalu dengan tulus menawarkan bantuannya. Sedangkan di dunia ini, dunia yang sebenarnya dipenuhi makhluk supranatural yang tidak diketahui oleh manusia, kegiata mereka selalu dilakukan sembunyi-sembunyi, mereka selalu membuat kekkai jika ada sesuatu yang mereka kerjakan agar tidak diketahui manusia"

"Iya, terus?"

"Nah, karena kita ini manusia, jadi kalau kita tahu tentang mereka, terlibat dalam urusan mereka, dan punya kelebihan dibanding manusia biasa pada umumnya didunia ini, maka pasti akan menimbulkan ketertarikan mereka pada kita dalam artian sebagai 'sesuatu yang harus diwaspadai'. Aku yakin artefak didunia ini berhubungan dengan makhluk supranatural, mau tidak mau kita pasti akan terlibat dengan mereka nanti, entah bagaimanapun caranya. Jika kita terlibat lalu mereka mengetahui tentang kita, maka kita tidak bisa lagi bergerak ataupun melakukan sesuatu secara bebas. Satu-satunya pilihan terbaik adalah kita berada dalam naungan keluarga iblis Sitri agar tidak ada seorangpun dari makhluk supranatural yang mencurigai pergerakan kita di dunia ini. Para iblis akan menganggap kalau kita adalah bagian dari mereka, dan ras makhluk supranatural lain menjadi enggan berurusan dengan kita."

"Hm, sampai disini aku mengerti. Intinya kita berdua menerima tawaran Sona-san agar keberadaan kita didunia ini aman dan mereka tidak mengganggu misi kita seperti jaminan yang sejak awal Sona-san tawarkan pada kita. Begitu kan?" tanya Naruto yang dibalas anggukan kepala dari Hinata. "Lalu apa yang membuatmu tertarik dengan informasi yang ditawarkan Sona-san?"

"Sebelum itu, aku beritahukan dahulu satu hal penting yang sudah kusimpulkan dari Kaum Iblis. Aku sadar kalau mereka semua, selalu memiliki sifat buruk dan ambisi besar. Jika sifat-sifat mereka ditarik kedalam konsep yang lebih sederhana menjadi bentuk ego dasar, mereka memiliki 7 macam sifat asli yakni nafsu, rakus, tamak, malas, amarah, iri dengki, dan kesombongan. Bagaimanapun mereka bertindak dalam keseharian mereka, tidak akan pernah lepas dari sifat-sifat buruk tadi. Setiap individu iblis memang berbeda-beda sikap dan pembawaan kelakuannya, tapi pasti terdapat salah satu dari 7 sifat tadi yang dominan dalam diri mereka masing-masing. Walaupun mereka berbuat baik, tapi tetap saja mereka tidak bisa lepas dari sifat asli mereka" kata Hinata menjelaskan.

Naruto mendengarkan dengan seksama, Hinata mengambil nafas lalu melanjutkan penjelasannya.

"Dengan dasar itu, tidak pernah ada kata baik dan sangat tidak bijak kalau kita membuat hubungan yang didasari rasa persahabatan dengan mereka, kaum iblis. Jadi, hubungan kerjasama saling menguntungkan antara kita dengan Sona-san saat ini, adalah bentuk hubungan yang paling tepat. Mungkin tidak hanya ras iblis saja, setelah mendengar cerita panjang lebar dari Sona-san, ras-ras makhluk supranatural lainpun seperti malaikat jatuh, malaikat, youkai, dan lainnya kemungkinan besar juga memiliki sifat buruknya masing-masing. Jadi aku minta padamu Naruto-kun, tidak usah membuat hubungan terlalu dekat dengan mereka. Kerjasama kita dengan mereka hanya sampai misi kita ini selesai, setelah itu pergi dari Kota Kuoh ini"

"Untuk yang satu ini, aku sangat setuju denganmu. Aku juga merasakannya dalam sennin mode, niat jahat memang tidak terasa dari dalam diri mereka atau bisa juga tersamar. Tapi jelas sekali kalau makhluk yang disebut iblis itu selalu membawa hawa tidak mengenakkan. Bahkan kepalaku menjadi pusing dan perutku terasa sedikit mual jika aku menggunakan sennin mode terlalu lama didekat iblis-iblis itu. Nah, lalu apa rencanamu, Hinata?" tutur Naruto.

"Begini, ku jelaskan secara bertahap. Satu artefak ada di dunia ini dan aku yakin artefak itu berhubungan dengan dunia supranatural namun kita tidak tahu apa-apa tentang artefak itu. Sasuke bisa memberi banyak informasi, tapi informasi itu menjadi tidak beguna kalau kita sendiri masih belum tahu benda apa yang sebenarnya kita cari, tidak tahu bagaimana bentuk dan wujudnya. lagipula kau tidak ingin melibatkan teman-teman kita dalam misi ini kan?"

"Ya."

"Informasi dari Sona-san sebenarnya juga tidak terlalu berguna karena informasi yang tadi dia beritahukan sifatnya umum, tidak spesifik dan tidak berkaitan dengan misi kita. Berbeda hal nya jika Sona-san yang mencari informasi untuk kita"

"Maksudmu?"

"Sona-san itu iblis yang pintar dan berpengetahuan luas, serta memiliki keingintahuan yang tinggi. Entah kenapa, aku merasa kalau dia terobsesi dengan kita. Jika begitu, aku yakin Sona-san bisa kita manfaatkan. Sona-san akan terus menyelidiki tentang kita selama kita bersamanya. Aku yakin dia sudah menyadari kalau kita bukan hanya pengembara yang ingin menetap didunia ini, tapi juga mencari sesuatu. Kita hanya perlu bertindak seolah kita mencari suatu benda berharga yang sangat hebat.

Karena Sona-san itu iblis, pada dasarnya dia memiliki sifat tamak dan iri seperti yang ku katakan sebelumnya. Sehingga dengan sendirinya, dia akan mengumpulkan informasi tentang benda yang kita cari bahkan ikut mencari benda itu. Dia juga pasti tidak akan segan menghalalkan segala cara jika dia merasa apa yang kita cari bermanfaat untuk mencapai ambisinya. Posisinya sebagai pewaris keluarga iblis yang kuat, dan memiliki kedudukann yang tinggi, serta berpengaruh besar dikalangan kaum iblis, pasti memudahkannya untuk mendapat informasi dan bertindak dengan cepat.

Jika kita berhasil memanipulasi Sona-san, maka apa yang dilakukannya akan membuat kita semakin dekat dengan tujuan kita. Dan kita yang akan melakukan eksekusi di akhir, merebut apa yang seharusnya milik kita. Ibarat menanam padi, dia berusaha dari mencari bibit, menanam dan merawatnya hingga berbuah dan matang, namun kita lah yang akan memanennya.

Seperti yang pernah kau ceritakan padaku tentang asal muasal Kaguya Ootsutsuki dan kebangkitannya saat perang dunia ninja keempat ketika aku terperangkap dalam Infinite Tsukyomi, apa yang kita lakukan ini mungkin sama dengan cara Zetsu Hitam menunggangi Madara Uchiha untuk kebangkitan Kaguya. Lagipula sifat Madara itu tidak ada bedanya dengan iblis kan?" kata Hinata menjelaskan panjang lebar.

"Hmm, , , ." Naruto magut-magut.

"Rencana itu pun tidak 100 persen benar, karena bisa saja Sona-san maupun makhluk supranatural lain tidak tahu menahu dengan apa yang kita cari, dan rencana kita berakhir sia-sia. Tapi tidak ada salahnya kita mencoba kan?"

"Ohh~~. . . ."

"Sudah mengerti, Naruto-kun?" tanya Hinata memastikan karena sejak tadi Naruto tidak merespon balik penjelasannya.

"Tidak,, heheee. . . Aku sama sekali tidak mengerti" jawab Naruto sambil nyengir polos bak orang bodoh.

Pukkk.

"Haaahhh,,, Ampun deh" kata Hinata setelah menepuk dahinya sendiri.

Untuk kali ini, sepertinya Hinata agak sulit memaklumi kekurangan suaminya. Apa sebegitu parahnya kah otak lemot Naruto? Setelah diberikan penjelasan panjang dan detail seperti materi ninja akademi masih saja tidak mengerti, gerutu Hinata dalam hati tak habis pikir. Tapi mau bagaimana lagi, inilah suaminya. Bagaimana pun otak Naruto, dia tetap lelaki yang sangat dicintainya sejak kecil sampai sekarang dalam segala kekurangan dan kelebihan.

"Intinya, kita perlu bantuan dari Sona-san agar bisa mendapatkan artefak yang kita cari didunia ini" kata Hinata menyimpulkan.

"Aaahh, , , bilang kek dari tadi. Kalau kau berkata 'kita hanya perlu orang lain untuk membantu kita', aku tidak akan kebingungan seperti tadi" celetuk Naruto dengan wajah kesal.

"Maafkan aku, Naruto-kun. Aku lupa kalau kau tidak suka pemikiran panjang yang berbelit-belit" kata Hinata sembari tersenyum melihat wajah kesal suaminya.

"Huh, kau mengejekku?" kata Naruto mendengus tidak terima.

"Hihihiiii, , , , ," Hinata terkikik pelan sembari menutup mulutnya karena melihat wajah lucu suaminya tercinta yang makin cemberut.

"Terus saja, tertawakan lah kebodohan suamimu ini sampai kau puas!" Naruto makin sewot.

"Aaah~~, jangan marah gitu dong, Naruto-kun. Aku kan hanya bercanda." bujuk Hinata.

"Iya iyaa. Tidak apa-apa. Aku malah senang, kau yang menjadi istriku dan kau yang menemaniku menjalani misi ini. Kau menutupi kekuranganku" kata Naruto sembari menatap penuh syukur tepat pada wajah istrinya

"Umm" Hinata mengangguk senang.

"Sekarang kau sudah mengerti kan? Kau tidak perlu lebih kuat untuk bisa berjalan beriringan bersamaku. Kau hanya perlu menutupi semua kekuranganku dengan segenap kelebihan yang kau miliki" kata Naruto dengan tatapan sayang pada Hinata.

"Iya. Aku mengerti"

Hinata mengingat lagi apa yang sempat dipikirkannya ketika Naruto sekarat karena melindungi dirinya dari Ophis. Ternyata pemikirannya yang menginginkan kekuatan baru itu tidak sepenuhnya benar. Tapi karena sudah terlanjur, dia pasti akan benar-benar melengkapi kekurangan Naruto dengan kekuatan baru yang dia miliki. Hinata bersumpah dalam hatinya untuk itu.

Naruto terpikir sesuatu, "Tapi apakah tidak apa-apa? Bagaimana kalau mereka, apalagi Sona-san tahu banyak tentang kita. Aku tidak ingin kalau misi kita diketahui mereka, apalagi sampai keberadaan Konoha terlacak oleh makhluk-makhluk itu?"

"Tenang saja, selama kita bisa menjaga mulut kita, bertindak biasa saja didepan mereka, tidak mencolok dan bertarung seperlunya saja tanpa menggunakan kekuatan berlebihan. Maka dengan sendirinya, kecurigaan para iblis pada kita berdua akan berangsur hilang. Lagipula aku punya byakugan, dan kau pun punya sennin mode, jadi mereka tidak mungkin bisa mengintai ataupun menyelidiki kita tanpa kita sadari. Buktinya saja, Sona-san akhir-akhir ini sudah tidak pernah lagi mengintai kita. Padahal awal-awal kita mendiami apartemen ini, dia selalu melakukannya. Mungkin Sona-san sudah mengetahui tentang kemampuan byakuganku. Kan aku pernah menggunakannya saat membantu mereka melawan iblis liar berwujud tengkorak ditengah hutan? Dan terakhir, khusus untukmu, jangan bertindak gegabah, apalagi terlalu mencampuri urusan orang seperti yang seringkali kau lakukan"

"Iya iyaaa. Aku paham maksudmu, aku akan menahan diri. Pokoknya kau harus selalu didekatku, mengawasiku agar tidak bertindak gegabah"

"ummm,,,,. Baiklah, aku akan selalu berada didekatmu"

"Selalu didekatku, didalam hatiku" kata Naruto seraya mengelus pipi Hinata.

"Iiiihh,,, Naruto-kun ngelantur deh" katanya sambil memukul pelan dada Naruto.

"Ukkhh~~~~, , , , " Naruto mengaduh walaupun sebenarnya pukulan Hinata tidak sakit. Dia tidak berbicara apa-apa lagi. Sepertinya bahasan mereka berdua untuk malam ini sudah habis. Hening melanda sementara mereka tetap berbaring miring saling berhadapan dalam satu selimut.

Naruto terus menatap wajah cantik Hinata yang berbaring disampingnya. Dia tidak mengantuk, begitu pula dengan Hinata. Tanpa sengaja, tiba-tiba ada sesuatu hal yang tidak sengaja melintas dipikirannya. "Oh iya, Hinata. Kalau aku tidak salah ingat, sekarang kan sudah akhir masa siklus bulananmu?"

"Eh?" Hinata hanya memberikan tatapan bingung.

"Jadi pasti aman kalau sekarang. Heheheee.." kata Naruto yang sudah menyeringai mesum.

"Aa- , , , "

Cup.

Perkataan Hinata harus terputus karena bibir Naruto tidak memberikan kesempatan pada bibir istrinya untuk menjawab.

"Aawww. . . " selanjutnya terdengar kikikan geli dari Hinata.

Nah, sekarang biarkan Naruto serius memberikan nafkah batin pada Hinata kali ini, tidak bercanda seperti saat Hinata pulang dari planet asal Klan Oostutsuki. Lagipula Hinata sama sekali tidak memberikan reaksi penolakan, malah respon balik yang ditunjukkan Hinata menambah panasnya aktifitas mereka. Jadi tidak ada masalah dan tidak ada yang akan menganggu kegiatan mereka berdua malam ini.

.

.

.

"Kau jangan bercanda Issei!" kata Rias yang terkejut setelah mendengar apa yang disampaikan budaknya.

Pagi ini, walau jam pelajaran baru saja dimulai, tapi semua siswa yang menjadi anggota klub penelitian ilmu ghaib Kuoh Gakuen sudah berkumpul diruang klub mereka. Ada hal penting yang sedang mereka bahas, jadi tidak apa-apa bolos. Ini tentang Issei, satu-satunya pion yang paling berharga bagi Rias sang ketua klub itu.

Issei, secara tidak sengaja menjalin kontrak iblis yang menjadi pekerjaannya sehari-hari dengan seorang pria paruh baya bernama Azazel yang ternyata adalah sang gubernur malaikat jatuh. Ditambah lagi, Azazel memberitahukan kalau akan ada pertemuan besar antar 3 fraksi.

"Pemimpin malaikat jatuh masuk kedalam wilayah kita dan mensabotase insiden penyerangan yang dilakukan Kokabiel" lanjut rias lagi.

Yaa, Azazel lah yang menyuruh hakuryuuko menggagalkan rencana Kokabiel waktu itu.

"Terlebih lagi, dia mencoba menyentuh issei ku yang berharga" Rias masih lanjut meluapkan emosinya.

Azazel juga menyatakan ketertarikannya pada Boosted Gear yang dimiliki Issei secara langsung pada Issei sendiri.

Semuanya hanya mendengarkan luapan emosi dari King mereka. kemudian Koneko tiba-tiba bertanya

"Buchou, apa benar pertemuan itu nanti akan diadakan di Kota Kuoh ini?"

"Ya. Aku baru saja mendengar hal itu dari kakakku" jawabnya, "Pemimpin dari setiap fraksi akan berkumpul dan mendiskusikan hubungan mereka untuk kedepannya."

"Jadi memang benar, penyerangan yang dilakukan Kokabiel, membawa pengaruh besar pada hubungan tiga fraksi terkuat yang ada sekarang" kata Xenovia menyimpulkan.

"Ya, begitulah. Tapi jika tiba-tiba pemimpin iblis dan pemimpin malaikat jatuh bertemu secara tidak sengaja di kota ini di luar pertemuan itu, tentu akan jadi masalah yang rumit" kata Rias.

Yang lain diam saja tak bersuara, tapi mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Rias.

"Tapi, bagaimana sekarang?" gumam Rias.

"Hah?" Issei agak bingung.

"Aku berbicara tentang Azazel" sahut Rias.

"Kurasa, dia memang benar-benar mengincar Boosted Gear ku" jawab Issei yakin.

"Jangan khawatir Issei, kami semua disini akan melindungimu"

Shiinnggg...

Munculnya lingkaran sihir berwarna merah, membuat suasana yang sedikit tegang diantara semua anggota klub penelitian ilmu ghaib jadi semakin panas. Bukan karena itu lingkaran sihir teleportasi buatan musuh, tapi karena orang yang muncul dari lingkaran sihir itu merupakan orang yang sangat penting kedudukannya dalam ras iblis.

Seorang pria berambut merah dengan setelan jas resmi muncul dari lingkaran sihir itu, didampingi oleh seorang wanita cantik berambut putih yang memakai seragai maid. Sirzech Gremory, salah satu dari empat maou, dengan gelar Lucifer, datang besama Sang Ratu terkuat di Underworld, Grayfia Lucifuge.

"Tampaknya disini cukup ramai. Apa kalian sedang melakukan suatu acara?" kata Sirzech, mencoba meredakan ketegangan yang ia lihat dari kerajaan evil piece adiknya.

"Aa-,,, Onii-sama?" Rias dibuat terkejut dengan kedatangan kakanya yang tiba-tiba.

Segera saja, semua anggota peerang Rias mengambil posisi berlutut dihadapan Sang Iblis terkuat di Underworld, kecuali Xenovia dan Asia.

Semua anggota peerage Rias memang sudah kenal dan bertemu langsung dengan Sirzech, Issei pun begitu ketika dia datang untuk mengacaukan pertunangan Riser dan Rias lalu mengalahkan Riser kala itu. Hanya Asia dan Xenovia saja yang belum pernah bertemu langsung. Asia tidak ikut hadir pada pesta pertunangan Riser dan Rias yang gagal, sedangkan Xenovia adalah anggota baru didalam kerajaan Rias.

Sirzech menyapa Asia singkat, mengucapkan terima kasih pada Asia yang telah berperan menjaga adiknya. Begitupun dengan Xenovia, Sirzech juga menyatakan apresiasinya dan mengucapkan terima kasih untuk Xenovia karena kesediaan si pemegang Pedang Durendal ikut dalam kerajaan Rias.

"Onii-sama. Kenapa kau ada disini?" tanya Rias setelah kakaknya selesai menyapa dua anggota barunya yang belum bertemu langsung dengan kakaknya.

"Apa yang kau bicarakan? Bukankah ada kunjungan keluarga siswa saat pelajaran nanti?" tanya balik Sirzech menjawab pertanyaan adiknya.

"Jangan kataka..."

"Aku akan senang sekali jika bisa melihat adikku melakukan yang terbaik dikelasnya secara langsung dari dekat" kata Sirzech sambil tersenyum.

Rias menatap wanita yang berdiri disamping kakanya, "Kau yang memberitahukan tentang hal ini kan, Grayfia-san?" tuduh Rias.

Grayfia hanya menundukkan kepalanya, tidak berkata apapun. Hal ini dapat dianggap sebagai jawaban iya atas sangkaan Rias.

"Jangan khawatir soal itu, Ayah juga akan datang" kata Sirzech.

"Kau itu pemimpin Underworld. Bagaimana bisa kau seenaknya datang ke sini dan meninggalkan tugasmu disana" tukas Rias.

"Tidak, ini juga termasuk bagian dari tugasku" kilah Sirzech.

"Hah?" Rias dibuat tidak mengerti maksud ucapan kakaknya.

"Kami memutuskan untuk mengadakan pertemuan tingak tinggi antar pemimpin tiap fraksi di sekolah ini, di Kuoh Gakuen"

Sontak, semua anggota klub terkejut.

"Di-di disini? Di akademi Kuoh?" hanya Rias yang bersuara ditengah keterkejutan, itupun dengan terbata-bata.

.

Beberapa waktu kemudian, di taman belakang Kuoh Gakuen yang lumayan sepi, ada empat orang gadis yang sedang berbicara. Ada Rias, Akeno, Sona dan Tsubaki.

"Jadi seperti itu?" kata Sona.

"Ya, kakak ku sendiri yang datang langsung kemari memberitahukannya padaku" sahut Rias

"Huuh, kalau begini tugasku akan bertambah" keluh Sona.

Memang, sebagai OSIS, maka akan menjadi tanggung jawab Sona jika ada sesuatu yang dilenggarakan di Kuoh Gakuen.

Lamunan singkat Sona terhenti sebab ada derap langkah kaki yang mendekat pada mereka berempat.

"Araaa,,, Issei" pekik Akeno menyapa orang yang tiba-tiba datang. Issei bukannya sengaja kesini, paling-paling hanya menghindari dari masalah akibat tingkah agresif Xenovia.

"Buchou? Kaichou?" Issei membalas pekikan Akeno dengan teriakan terkejut, dia tidak menyangka langkah kakinya akan membawanya ketempat ini.

"Tanganmu sudah baikan sekarang?" tanya Rias dengan nada khawatir. Tadi pagi, saat baru tiba di gerbang sekolah, Issei sempat dihadang oleh Vali sehingga Boosted Gear di tangan kirinya bereaksi karena pengaruh keberadaan Albion sang Kaisar Naga Putih dalam diri Vali.

"Ha'i. Tanganku sudah baikan setelah aku istirahat sebentar tadi" jawab Issei.

"Aku dengar kau bertemu dengan Hakuryuuko tadi pagi?" Sona ikut bersuara. Bertanya dengan tatapan tajam. Dia pernah berurusan dengan hakuryuuko sebelumnya, jadi tidak salah baginya jika menanyakan tentang ini. Apalagi dia hampir saja terbunuh waktu itu walau tidak seorangpun yang mengetahuinya sampai saat ini, kecuali Tsubaki, serta Naruto dan Hinata.

"Ha'i. Tapi dia hanya menyapaku saja" jawab Issei.

"Menyapa?" tanya Sona bingung. Setahunya Naga Merah dan Naga Putih adalah rival abadi, dan jika bertemu yang timbul hanyalah pertarungan.

"Kami tidak tahu kenapa, tapi tampaknya dia punya hubungan dengan fraksi malaikat jatuh." sela Rias

"Ku harap dia tidak menimbulkan masalah disekolah ini" kata Sona.

"Ya, kuharap juga begitu" kata Rias menimpali.

"Baiklah, kalau begitu aku duluan" kata Sona lalu bersama Tsubaki, dia meninggalkan Rias dan Akeno.

Issei mendekat pada Akeno, lalu berbisik "Kenapa Kaichou tampak suram?"

"Mungkin karena kunjungan keluarga Siswa" jawab Akeno pelan. Akeno sudah bisa memperkirakan bagaimana keadaan Sona jika ada anggota keluarganya yang datang, apalagi yang datang itu sang kakak. Baik kakaknya Rias maupun Sona, keduanya sama-sama aneh dan selalu bersikap berlebihan dengan adiknya sendiri.

Sementara Sona, sudah berjalan cukup jauh dari Rias dan peeragenya. Tiba-tiba Tsubaki yang berjalan disamping Sona bertanya.

"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan, Kaichou?"

"Umm. Ku rasa, aku punya kesempatan bagus untuk memperkenalkan Naruto-san dan Hinata-san pada banyak orang" jawab Sona

"Hah? Ada apa dengan mereka berdua?"

"Aku ingin mereka ikut serta mendampingiku saat menghadiri pertemuan besar itu nanti"

"Kau serius?" tanya Tsubaki tidak percaya

"Memangnya aku pernah becanda?"

Tsubaki tidak menanggapi pernyataan Sona.

"Instingku mengatakan, akan ada hal menarik yang terjadi pada pertemuan besar itu nanti, dan aku ingin melihat bagaimana mereka bertindak jika ada hal tidak terduga" lanjut Sona lagi.

"Haaaaahh,,, sekarang aku semakin tidak mengerti jalan pikiranmu, Sona" Tsubaki tidak bisa berkata apa-apa lagi, kali ini dia hanya bisa memaklumi keinginan sahabatnya.

"Oh iya, kau tidak melupakan sesuatu kan?" tanya Tsubaki tiba-tiba.

"Apa?" tanya Sona balik.

"Kunjungan keluarga siwa"

"Ohh, tidak... Pasti ada hal memalukan yang akan menimpaku nanti"

.

.

.

TBC...

.

Note : Nah, tuh. Hinata juga punya rencana sendiri terhadap kaum iblis, dalam hal ini Sona. Sejauh yang tampak, apalagi diruang OSIS kemarin sebelum membuat kesepakatan, NaruHina dengan Sona + All Peerage terbilang dekat sebagai teman. Ini bisa terjadi karena kelebihan Naruto sendiri, ia selalu membuat orang lain mendekat padanya. Tapi bagaimana perpekstif atau pandangan mereka satu sama lain? lebih khusus untuk HinataXSona, seperti sudah dijabarkan di chapter lalu dan chapter ini, baik Hinata maupun Sona berusaha untuk saling memanfaatkan demi keuntungan pribadi dan jelas membuat yang lawan sebagai batu pijakan. Jadi bukan teman sungguhan, walaupun tampak luar mereka mampu akrab. Terdengar buruk memang, tapi seperti itulah yang seharusnya. Jika di real time dunia kita, hal seperti itu sering terjadi pada kebanyakan perjanjian bisnis antar perusahaan atau perjanjian militer-ekonomi antar negara.

Untuk kedepan, HinataXSona, siapa yang menang ku rasa tidak ditentukan mana yang benar tapi siapa yang lebih licik. Sona juga ga bakal melaporkan ini pada petinggi iblis. Apa yang mau dia laporkan coba? Sona belum tahu seberapa kuat Naruto, apalagi tujuan Naruto dan Hinata di Kuoh. Hinata yang berkata kalau berasal dari dimensi lain atau tentang sistem multiuniverse pun, Sona masih belum percaya sepenuhnya di chapter kemarin. Kalau ini dilaporkan pada Serafall atau petinggi iblis lainnya, yang ada Sona yang akan ditertawakan. Lagipula di fic ini, Sona itu perfeksionis. Dia selalu menyelesaikan urusannya sendiri tanpa melibatkan orang lain.

Kalau ada yang menganggap 2 chapter terakhir ini terkesan rumit, tak masalah. Pokoknya inti dari hubungan Naruhina dengan Sona+All Peerage, atau lebih spesifik Hinata dengan Sona, hanya sebatas hubungan saling mencari keuntungan. Aku sudah pernah mengatakan kan, kalau tidak ada chara yang benar-benar baik dalam fic ini. Itu saja. Lalu selanjutnya persiapan pertemuan besar tiga fraksi, dan akan menyinggung tentang keterlibatan Konoha juga. Kakashi akan segera beraksi, Heheee. . .

Tentang LN DxD, heheee. Begini, fic ini berfokus pada tiga fraksi besar saja dan mungkin beberapa kelompok antagonis. Untuk chara yang berasal dari mitologi-mitologi daerah tertentu seperti mitologi Yunani, Nordik, India, dan Cina, hanya sedikit muncul nantinya. Jadi ku harap tidak usah mengait-ngaitkan dulu dengan chara dari dewa-dewa mitologi.

Masalah atau konflik yang muncul di fic ini pun berbeda jauh dengan yang ada di LN DxD. Aku bikin konflik dan alur sendiri di fic ini, walaupun pertemuan tiga fraksi ada, tapi tujuan pertemuan itu sendiri ku buat beda dengan di LN. Coba tengok lagi di akhir chap 19 tentang ambisi dan rencana besar Falbium bersama ketiga rekan Mauo lainnya pada pertemuan itu. Lalu nanti mungkin ada lagi kejadian yang sama, namun tetap ku buat dengan tujuan berbeda dari LNnya.

Intinya, LN DxD itu terlalu luas kalau semua materinya dimasukkan kedalam cerita ini. Aku sebagai author baru ga bakal sanggup. Maka dari itulah, hanya sebagian saja dari DxD yang ada dalam cerita ini, sesuai keperluan. Lagipula kalau aku memaksakan semua materi LNnya dimasukkan, masalah jadi terlalu kompleks, takutnya susah mengeksekusi akhir cerita dan paling buruknya fic ini berakhir discontinou, aku ga mau itu terjadi.

Tentang Trihexa, Great Red, dan Ophis. Aku sudah menetapkan sejak awal kalau mereka chara independen (tidak terikat atau ditunggangi chara lain) dan mereka yang terkuat. Mereka belum pernah berhubungan dengan chara lain, terkecuali Ophis yang menjadi pemimpin Khaos Brigade. Itupun dia menjadi pemimpin absolute tanpa ada chara lain yang menungganginya. Akibat dari ini, maka Samael dan Lilith serta chara lain yang memanfaatkan Ophis tidak ada sama sekali dalam di fic ini.

Lalu untuk Issei, serta chara-chara DxD lainnya. Mereka juga tumbuh menjadi kuat sesuai porsi latihan dan bakat mereka. Vali akan full power, begitu juga yang lain seperti Issei, Kiba dan banyak lagi. Khusus untuk Issei, sacred gearnya punya kemampuan menyerap kemampuan lawan lalu menjadikannya miliknya kan? Nah, beberapa kemampuan Issei akan ditiadakan, seperti mode Diabolos Dragon di kolom review yang katanya berhubungan dengan kekuatan Great Red dan Ophis, sebab dia tidak memiliki kontrak dengan dua naga itu. Ophis dan Great Red yang independen tidak akan bertemu dengan Issei. Tapi Issei pasti tetap kuat nantinya karena dia memiliki balance breaker, juggernaut drive, illegal move triaina serta cardinal crimson yang katanya merupakan kemapuan Issei asli miliknya sendiri.

Pokoknya, jangan terlalu berharap kalau alur, konflik, serta pemetaan power setiap chara dalam fic ini akan sinergis dengan LN DxD itu sendiri. Yang ku pinjam dari DxD untuk fic ini hanya chara, beberapa kejadian, dan teknik (mode bertarung dan jurus) setiap chara (tidak dengan powernya sebab powernya ku ubah sesuai keperluan). Itu saja kesimpulannya.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya. Update selanjutnya mungkin sedikit ngaret, tahun depan aja. Karena aku mau pergi liburan, Dadaaaah, , , See U Next Year...

Bagi yang Muslim,,,,

. ..: SELAMAT MEMPERINGATI MAULID :.. .

. ..: NABI BESAR MUHAMMAD SAW :.. .

. .. ...:: : ::... .. .

.