.
CONFESSION (고백)
.
.
CHAPTER 21 : EXTRA−CHAPTER
.
Canada Airport
Baekhyun tampak gelisah dan matanya kehilangan fokus. Ia duduk dengan gusar sembari terus mengigit kukunya. Tangan kirinya mengenggam ponsel putih miliknya yang dalam keadaan mati. Ia sengaja mematikan ponselnya karena Chanyeol dan yang lainnya pasti mencarinya sekarang. Ia tak tahu, ia juga tak mengerti kenapa perasaannya menjadi gundah. Di satu sisi ia ingin pulang, namun disisi lain, ada perasaan takut dan trauma akan masa lalunya. Dan ia benci ketika kenangan masa lalunya mulai memenuhi ingatannya kembali.
"Eomma, apa yang harus kulakukan?" monolognya. Tiba−tiba seorang wanita paruh baya duduk di sampingnya dengan kasar. Baekhyun menoleh dan memberikan tatapan bingung saat wanita itu fokus menatap tiketnya. Tiket ke Korea. "Permisi nyonya, apa anda orang Korea?" Wanita itu menoleh dan tampaknya sedikit terkejut mendapati wajah Baekhyun yang mirip orang Asia.
"Kau dari Korea juga?" Baekhyun tersenyum kemudian mengangguk pelan. Tiba−tiba wanita itu mengedarkan pandangannya ke langit−langit airport ini. Entah apa yang dipikirkannya, tapi sepertinya suasana hati wanita itu juga sama buruknya dengan Baekhyun. "Sebenarnya aku ingin pulang ke Korea, aku merindukan anakku disana." ucapnya kemudian. Baekhyun terdiam, menunggu kelanjutan cerita wanita itu. "Tapi aku bingung."
"Kalau saya boleh tahu, apa yang anda bingungkan? Maaf, tapi anda tampak gelisah dari tadi." Wanita itu tersenyum lembut.
"Aku datang ke Kanada untuk menghindari mantan suamiku yang sering memukuliku. Aku kabur tanpa membawa anakku." Helaan nafas keluar dari bibir tipis wanita paruh baya itu. "Kemarin aku mendapat telfon dari rumah kalau suamiku sakit keras dan berharap aku pulang agar dia bisa meminta maaf padaku." Wanita itu menatap Baekhyun sebentar. Mendapat pandangan positif Baekhyun, ia pun meneruskan. "Tapi rasanya sangat berat. Melihat wajah suamiku hanya membuat kenangan burukku muncul kembali dan menyiksaku secara batin."
Baekhyun tertegun. Cerita wanita ini mirip sekali dengannya. Ia kemudian menunduk, menatap lantai berwarna gading itu dengan pikiran yang berkecamuk.
Chanyeol...
Chanyeol sudah berjanji untuk menjaganya, tapi kenapa ia terus menghindarinya? Kenapa ia begitu egois dan menyakiti pemuda jangkung itu? Baekhyun hanya mampu menyesalinya. Ia benci akan dirinya yang tak bisa menhadapi kenyataan padahal banyak orang−orang yang mendukungnya, mendorongnya untuk melanjutkan hidup menjadi lebih baik.
"Ah maafkan aku anak muda. Seharusnya aku tidak membicarakan masalah keluargaku begitu saja. Kau pasti merasa terganggu." Baekhyun tersenyum maklum.
"Tidak apa, nyonya. Senang mendengar nyonya bisa berbagi dengan saya." Baekhyun kemudian mengangkat tangannya untuk berkenalan dengan wanita itu. "Saya Baekhyun. Byu—ah maksud saya Park Baekhyun." Wanita itu pun menyambut hangat uluran tangan Baekhyun.
"Aku Sooyoung. Kim Sooyoung. Semoga kita bertemu lagi saat di Korea nanti, Baekhyun−sshi." Baekhyun kembali melempar senyuman hangat lalu mengucapkan hal yang sama dengan wanita itu. Hingga tiba−tiba suara pengumuman keberangkatan pesawat menyapa indera Baekhyun. Wanita itu pun langsung berdiri. "Bukankah kau mau pulang ke Korea? Ayo Baekhyun−sshi, tinggal lima menit lagi." Cengkeraman Baekhyun pada handphonenya semakin mengerat. Wanita itu sepertinya memahaminya dan menepuk pundak Baekhyun perlahan. "Aku tidak mengerti masalahmu, tapi sebaiknya kau segera menyelesaikannya. Tidak baik menghidari masalah. Akan jadi kesialan suatu saat nanti. Jangan sampai kau menyesal, Baekhyun−sshi."
"Se−Sebenarnya saya sudah membuang tiket saya, Nyonya Kim." Wanita itu tampak terkejut.
"Ah, jadi itu masalahmu. Untung saja aku mendapat dua tiket pulang. Sebenarnya ini tiketku dan suami keduaku. Tapi dia masih enggan datang karena belum siap bertemu dengan keluargaku." Sooyoung menarik tangan Baekhyun kemudian menyerahkan satu tiket pesawat itu padanya. Wanita itu lalu tersenyum. "Hadapilah semuanya, Baekhyun−sshi. Tampaknya kau orang yang kuat." Ucapan wanita itu berhasil mengembalikan kepercayaan diri Baekhyun. Ia pun berangkat bersama wanita paruh baya yang baru dikenalnya itu di detik−detik terakhir pesawat yang akan lepas landas. Beruntung nomor kursinya jauh dari milik Chanyeol dan KrisTao. Tiba−tiba saja ia memiliki ide gila untuk membuat pertemuan mereka agar semakin berkesan.
"Aku akan membuat kejutan untuk semua orang."
.
KaiSoo's Wedding
Baekhyun yang tengah bersembunyi diantara kerumunan para tamu undangan itu tersenyum menatap kedua mempelai di atas altar sana. Semalam ia menginap di hotel dan datang ke pernikahan Kai dan Kyungsoo tepat waktu. Untung saja tidak ada yang menyadari ataupun mengenalinya. Mungkin karena ia tampak berbeda, jadi semua teman SMAnya tidak ada yang mengenalinya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar −setelah penyematan cincin pernikahan sahabatnya itu− untuk mencari keberadaan KrisTao dan Chanyeol. Namun pemuda jangkung itu sepertinya datang terlambat. Ia jadi merasa bersalah karena kemarin telah membuat masalah.
Setelah acara utama selesai, pesta di taman pun dimulai. Ia duduk disalah satu kursi taman gereja dan menatap ibunya dari kejauhan. Jantungnya berdebar dengan sangat keras melihat bagaimana bahagianya keluarga kecil Luhan. Sehun tampak dewasa dengan balitan jas itu, serta Luhan yang selalu menawan dimatanya. Seorang anak kecil diantara orang dewasa itupun berhasil menyita perhatian Baekhyun.
"Oh Hyunoo." Gumamnya kemudian. Ia masih ingat cerita Chanyeol dan Kris tentang sosok kecil, anak angkat HunHan yang katanya sifatnya begitu mirip dengannya. "Wajahnya sangat mirip Luhan hyung." Bibirnya mengulum senyuman manis. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona olehnya.
Beberapa menit kemudian, sosok Chanyeol dan lainnya muncul. Mereka semua berkumpul jadi satu dan saling berpelukan. Baekhyun ikut tersenyum melihatnya. Bagaimana mungkin ia akan mengabaikan moment ini? Ini sangat berharga dan untung saja dia mengikuti kata hatinya untuk segera pulang. Melihat keakraban ibunya dan Chanyeol, membuat ia iri. Bagaimana bisa Chanyeol membuat ibunya sampai seperti itu. Menganggapnya seperti anak sendiri. Tak dipungkiri kalau hatinya menghangat. Tak lama setelahnya, ia memutuskan pergi ke toilet sebentar untuk mempersiapkan dirinya. Dirinya harus tampil sempurna supaya ibunya bangga padanya. Supaya ibunya tahu kalau Baekhyun yang sekarang adalah seorang anak yang pantas untuknya.
Lima belas menit berlalu, Baekhyun memegang kenop pintu toilet dengan jantung yang berdebar keras. Ini sudah saatnya. Ia harus memberanikan dirinya menghadapi masa lalunya. Namun Tuhan punya rencana lain. Tanpa sengaja –setelah ia membuka pintu− ia melihat sosok Chanyeol persis di depannya. Tengah membasuh wajahnya dengan air yang mengalir. Jantungnya tiba−tiba saja berontak ingin keluar. Baru beberapa jam tidak bertemu, ia sudah sangat merindukannya.
"Chanyeol..." gumamnya perlahan. Mata bulat Chanyeol terbuka perlahan hingga akhirnya terbelalak kaget melihatnya. Saat pemuda jangkung itu membalikkan badannya, saat itu pula Baekhyun meraih lehernya dan menekan bibir Chanyeol dengan miliknya. Menyesap rasa lembut dari bibir kekasihnya dengan penuh kerinduan. Chanyeol yang kaget hanya bisa mematung sampai beberapa detik kemudian ia membalas ciuman Baekhyun.
"Baek, bagaimana kau bisa—" Baekhyun membungkam Chanyeol dengan kecupan lembut di bibirnya.
"Aku akan menjelaskannya nanti." Pemuda pendek itu tersenyum lembut dan sudut bibir Chanyeol seolah ikut tertarik untuk menyunggingkan senyuman pula. "Aku ada ide yang sangat hebat. Aku berencana melakukannya sendiri, tapi karena kita sudah bertemu disini—" Chanyeol mengecup bibir Baekhyun.
"Kau ingin minta bantuanku, kan?"
"Yeah, kau selalu bisa membaca pikiranku." Satu kecupan dari Baekhyun lagi, sebagai hadiah darinya untuk Chanyeol.
"Karena aku mencintaimu."
Confession © ChanBaek
Byun's mansion.
Hari ini keluarga Park, Keluarga Oh, Keluarga Do dan Keluarga Kim berkumpul di rumah Nyonya Byun. Semua ini terjadi karena usulan mendadak dari Luhan dan Kyungsoo. Mereka akan mengadakan pesta barbeque keluarga di taman belakang mansion Byun. Semua persiapan sudah selesai tinggal menunggu LuBaekSoo yang tengah membeli daging. Mereka tadi menyeret Baekhyun yang baru datang dengan Chanyeol untuk ikut mereka berbelanja dengan dalih merindukannya. Chanyeol tak dapat berbuat banyak, jadi dia mengikuti kakaknya Yoora dan ibu Kyungsoo memasak di taman belakang.
"Noona, aku sudah melamar Baekhyun kemarin."
"OH GOD, SERIOUSLY?!" teriakan Yoora berhasil membuat orang−orang disana menatapnya aneh. Ibunya bahkan memelototinya karena tindakan tidak sopannya tadi. Ia hanya tersenyum bodoh dan menatap Chanyeol yang kini memandang datar kearahnya. "Kau—kau benar−benar sudah melamarnya, Yeol? Astaga, kenapa tidak katakan pada kami. Jadi hari ini keluarga kita bisa mempersiapkan semuanya." hebohnya kemudian. Untung saja gadis itu berbisik, jadi Chanyeol tak perlu menutupi wajahnya dengan wajan karena malu.
"Justru aku akan mengatakannya di depan semuanya nanti." Chanyeol tersenyum lembut. Melihatnya adiknya yang tampak bahagia, Yoora pun ikut mengulum senyuman. "Coba lihat, bagus kan cincinnya?" Chanyeol memamerkan cincin couplenya pada Yoora dan disambut dengusan oleh kakaknya. Tentu saja ia sengaja ingin membuat kakaknya iri. Karena hubungan percintaan kakaknya itu masih abu−abu. Ia menjulurkan lidah mengejek ekspresi kesal Yoora.
"Jagalah dia seperti kau menjaga Yejin." tutur kakaknya kemudian. Chanyeol menghentikan acara mengiris daun bawangnya setelah mendengar ucapan kakaknya. Yejin, ya, dia belum ke makam Yejin sama sekali. Mungkin setelah ia melamar Baekhyun secara resmi kepada keluarganya, ia akan mengunjungi makam kekasihnya itu untuk meminta ijin.
"Tentu saja aku akan melakukannya. Demi janjiku pada Yejin, demi Baekhyunku."
"Oww, ow. Jadi sekarang Baekhyun−ku ya?" Kyungsoo yang tiba−tiba muncul di depannya langsung menaik turunkan alisnya, menggoda Chanyeol. Bibirnya menyeringai lebar dan hanya disambut sentilan kecil di keningnya oleh Chanyeol. Pemuda jangkung itu lalu menoleh dan melihat sosok Baekhyun yang sudah merona di kejauhan. Astaga, calon suaminya itu manis sekali sih.
Acara itu pun berlanjut sesuai dengan rencana. Chanyeol benar−benar melamar Baekhyun di depan ibu dan kakaknya. Tentu saja lamaran itu diterima dengan baik dan dua keluarga berbeda marga itu pun mulai berdiskusi untuk pernikahannya bersama Baekhyun yang rencananya akan diadakan secepatnya, mengingat mereka masih cuti kuliah dan harus kembali ke Kanada. Baekhyun kini tengah duduk bersama Luhan dan Daniel −di pangkuannya. Mereka tengah melihat−lihat album lama mereka, diselingi canda tawa bersama si kecil Oh.
"Lihat uncle. Yang ini uncle benar−benar mirip dengan baba." Daniel menunjuk sebuah album foto LuBaek saat masih anak−anak, bermain di pasir pantai sembari membuat istana pasir. Dari foto itu dapat dilihat sorotan bahagia di mata keduanya. "Lalu yang ini, aku suka sekali foto uncle yang ini. Aku pernah memintanya pada baba untuk kusimpan di kotak pensilku, tetapi baba tidak mengijinkannya. Baba bilang kalau foto itu hilang, uncle akan marah." tunjuknya kali ini pada foto Baekhyun yang sendiri. Foto Baekhyun ketika berulang tahun ke 12. Saat itu Baekhyun sudah menadapat penolakan dari orang tuanya, namun di dalam foto itu senyumnya tak luntur sedikit pun. Tampak bahagia meskipun ia hanya merayakannya dengan Luhan dan Kyungsoo kala itu.
Mata Baekhyun memerah, ia mengusap foto itu perlahan. Ia memang meminta Luhan untuk menyimpan fotonya yang ini baik−baik. Foto ini adalah foto kenangan terindah yang ia miliki. Ia masih ingat kalau waktu itu orang tuanya masih sempat mengucapkan selamat ulang tahun melalui telepon. Karena itulah ia tampak bahagia.
Dan karena di tahun berikutnya, orang tuanya tak pernah mengucapkannya kembali.
"Gomawoyo, hyung." Luhan tersenyum. Tangannya terulur untuk memeluk adiknya.
Confession © ChanBaek
Suasana pagi di kediaman Nyonya Byun tampak sangat ramai. KaiSoo, HunHan, Daniel serta Yoora memilih untuk menginap di rumah besar itu untuk menemani ibu LuBaek. Sedangkan orang tua mereka dan KrisTao telah pulang ke rumah masing−masing semalam. Tampak Kai tengah menganggu Kyungsoo dan Yoora yang sedang menyiapkan sarapan mereka. Daniel, Sehun, serta Chanyeol kini sibuk bermain game di ruang keluarga. Nyonya Byun sendiri tengah berbicara dengan Luhan di meja makan. Baekhyun yang baru keluar dari kamarnya langsung tersenyum melihat kehangatan keluarga itu. Rasa bahagia itu meletup−letup di hatinya, membuat senyuman itu enggan luntur walau hanya sedetik saja.
"AH, SELAMAT PAGI BAEKHYUNEE!" teriakan Kai berhasil membuat semua mata menatap kearah tangga. Baekhyun meringis kecil. Kai itu sejak dulu memang selalu berlebihan.
"Selamat pagi semuanya." Ia pun menuruni tangga dan berjalan menuju ibunya. Memberinya pelukan dan kecupan hangat di dahi ibunya. "Selamat pagi, eomma." Nyonya Byun tersenyum sangat manis, mirip sekali dengan Baekhyun. Chanyeol langsung saja melompat dari sofa dan memeluk Baekhyun dari belakang.
"Selamat pagi, suamiku yang cantik." Lalu mengecup pipi kanan Baekhyun.
Blush.
"Chanyeol!" Dan pemuda jangkung itu mendapat cubitan mesra di pinggangnya. Nyonya Byun terkekeh melihat kemesraan putra−putranya. Yeah, walaupun semua keluarganya dominan dengan lelaki, namun ia bersyukur karena kebersamaan ini terasa lebih hangat. Kalau saja dulu ia dan Tuan Byun menentang orientasi anak−anaknya, mungkin takkan ada senyuman secerah mentari seperti sekarang ini. Apalah nilai kenormalan jika tak mendatangkan kebahagiaan?
"Kau belum sarapan kan, sayang? Kemarilah, eomma akan menyuapimu." Baekhyun tersenyum lebar lalu menjulurkan lidahnya pada Luhan saat kakaknya itu memutar bola matanya. Sepertinya sifat manja Baekhyun memang sudah mendarah daging dan menjadi ciri khasnya. Ia pun duduk disamping ibunya. Luhan memberikan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk, dan acara 'menyuapi Baekhyun' menjadi kesenangan tersendiri di pagi hari itu.
.
Sudah tiga bulan semenjak kepulangan Baekhyun ke Korea dan selama itu pula ia serta keluarganya sering menghabiskan waktu bersama. Kembalinya Baekhyun di Korea juga membuat kesehatan Nyonya Byun semakin membaik. Beliau mulai belajar berjalan untuk menguatkan otot−ototnya. Semua itu tentu tak luput dari dukungan anak−anaknya terutama Baekhyun.
Sebulan yang lalu adalah hari pernikahan Baekhyun serta Chanyeol. Pernikahan sederhana yang diadakan di gereja yang sama dengan tempat pernikahan KaiSoo sebelumnya. Dalam acara itu mereka hanya mengundang keluarga terdekat dan sahabat mereka saja. Walau hanya sederhana, namun binar kebahagiaan itu terlihat jelas di wajah−wajah manusia disana. Apalagi Baekhyun yang tampak begitu sempurna dengan balutan tuksedo putih. Chanyeol bahkan sampai tersedak saat pembacaan janji suci karena terlalu gugup bersanding dengan kekasihnya.
Kabar bahagia pertama datang dari KaiSoo yang dua bulan lalu resmi mengangkat bayi mungil bernama Asher Kim atau Kim Tae Oh yang sangat mirip dengan Kai. Yang kedua tentu saja pernikahan Baekhyun dan Chanyeol. Mereka berencana akan melakukan program 'peminjaman rahim' di Amerika dengan menanam benih mereka pada rahim seorang wanita disana. Luhan dan Sehun –serta KaiSoo− berencana akan membuat surat nikah resmi di Kanada. KrisTao akan mengelola restaurant dan perusaha Park seperti biasanya. Semua tentu sudah terencana dengan matang.
Hari ini adalah hari dimana Baekhyun serta yang lainnya harus kembali ke Kanada untuk meneruskan kuliahnya. HunHan serta KaiSoo hanya akan berada disana selama seminggu untuk membuat surat nikah. Sedangkan ChanBaek dan KrisTao akan menetap di Kanada sampai Chanyeol dan Baekhyun selesai kuliah.
Confession © ChanBaek
Cklek.
"TARAAA~" Mata Baekhyun membulat lucu saat menyadari perubahan pada wallpaper apartemennya. Sepertinya inilah kejutan yang diberikan Chanyeol untuknya. Wallpaper ruangan yang semula berwarna krem kini berubah menjadi rangkaian foto−foto kebersamaan mereka. Bahkan lebih dominan dengan foto wajah Baekhyun dengan berbagai ekspresi. Ini sangat gila dan menakjubkan. Chanyeol benar−benar membuatnya speechless. Matanya bahkan sudah berkaca−kaca saat melihat figura foto pernikahannya sudah bertengger manis di ruang tamu apartemen mereka. Sejak kapan Chanyeol melakukan ini semua?
"..."
"Bagaimana?" Tiba−tiba sebuah lengan melingkari pinggangnya dan membawa tubuh mungilnya mendekat. Menempelkan punggungnya pada Chanyeol dan pemuda itu merengkuhnya hangat. "Kau suka?" Baekhyun mengangguk dan pemuda jangkung itu memberikan kecupan singkat di tengkuk suaminya. Baekhyun memang paling suka ketika Chanyeol mencium daerah lehernya. Membuatnya merinding geli. "Aku memang sengaja menghubungi salah satu pemasang wallpaper terbaik serta mengirimkan semua foto ini lewat e−mail tanpa sepengetahuanmu."
"Apa ini kejutan pernikahan yang kau janjikan itu?" Chanyeol mengangguk lalu mengecup singkat bahu Baekhyun.
"Aku ingin melihat wajah dan ekspresimu di setiap sudut apartemen kita. Kau tahu kan kalau aku selalu merindukanmu~" Baekhyun tertawa kecil melihat Chanyeol yang tengah merajuk padanya. Jemarinya menari diatas lengan suaminya dan mengusapnya lembut.
"Yuta kemarin memarahiku karena lupa mengundangnya." Tawa kecil Chanyeol disambut kekehan geli dari Baekhyun. "Dia meminta kita untuk mentraktirnya besok. Aku rasa dia akan menguras dompet kita."
"Yeah, anak itu memang ajaib." Chanyeol lalu melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Baekhyun untuk menghadapnya. "Ada kejutan yang lebih spesial lagi, Baekhyunku." Wajah Baekhyun mulai memerah mendengar panggilan Chanyeol untuknya. Pemuda jangkung itu memang senang sekali mengklaim dirinya. Namun hal itulah yang membuat Baekhyun semakin mencintainya. Ia pun mengikuti langkah Chanyeol kearah kamar mereka. Setelah membuka kamar itu dan lampu telah dihidupkan, wajah Baekhyun langsung memucat.
"A−Apa ini?!" Baekhyun berujar malu. Wajahnya yang tadinya pucat mulai memerah. Ia merona parah melihat wallpaper yang berada di kamar mereka. Bagaimana tidak malu kalau yang terpajang di temboknya kini adalah foto−foto saat mereka sedang bercinta. Ekspresi kenikmatan Baekhyun, foto ketika matanya terpejam erat menerima semua rangsangan suaminya, bahkan semua pose dan ekpresinya tergambar jelas disana. Baekhyun mengerang malu lalu memelototi Chanyeol yang kini hanya tersenyum lima jari kearahnya.
"Yang ini misi rahasia. Aku bersumpah dia tak memiliki file ini lagi. Aku sudah memastikan kalau foto−foto yang ini telah terhapus." Pemuda jangkung itu menunjukkan peace sign pada Baekhyun meskipun tak mempan sama sekali. Yang ada pemuda mungil itu cemberut lucu. Baekhyun sudah terlalu malu −bercampur kesal− dengan otak mesum Chanyeol yang berpikiran sedemikian rupa. Orang gila mana yang memajang fotonya saat bercinta menjadi sebuah wallpaper kamar? Apalagi wallpaper itu dominan dengan wajahnya yang penuh kenikmatan itu. Baekhyun menatap geram punggung Chanyeol yang kini tengah mengelus salah satu foto wajahnya. "Dengan melihat ini saja sudah membuatku horny." Chanyeol mengedipkan sebelah matanya. "Baekhyunee, ayo bercinta!"
Astaga, Baekhyun ingin meloncat dari lantai kamarnya sekarang juga.
Confession © ChanBaek
6 years later...
"Baekhyunku, apa semuanya sudah siap? Pesawatnya akan berangkat 20 menit lagi. Jangan sampai terlambat atau eommoni akan memenggalku."
"Berhenti memanggilku seperti itu dan bantu aku membawa koper−koper ini!"
"Wae? Panggilan itu kan sangat manis."
"Shut up, Chanyeol! Aku malu. Bagaimana kalau anak−anak mendengarnya?"
"Ya, biarkan saja mereka mendengarnya. Supaya mereka tahu kalau mereka harus berbagi denganku juga."
"Astaga. Bayi besar ini!"
"Daddy! Appa!"
"Jesper, jagoan daddy! Hey, kenapa wajahmu belepotan coklat begini, hum? Kau harus dihukum!"
"Kyyaaa! Jangan menggelitiku daddy, itu geli! Hhahahaa."
"Ugh—"
"Hey sayang, jangan manyun begitu. C'mon, Jackson! Beri appa pelukan juga!"
"Hhhaha. Appa!"
Jesper Park dan Jackson Park, mereka anak angkat? Tentu bukan. Masih ingat dengan program itu? Yeah, Baekhyun dan Chanyeol berhasil melakukan program itu dan mendapat dua orang anak kembar. Kedua anak lelaki berbeda lima menit itu adalah anak kandung mereka. Dan hari ini adalah pertama kalinya mereka akan pulang ke Korea setelah bertahun−tahun menetap di Kanada. Tentu setelah kuliah ChanBaek selesai dan Chanyeol sudah harus mengambil bagiannya sebagai pimpinan perusahaan Park di Korea sana. Keluarga kecil itu tampak bahagia dan penuh kehangatan. Chanyeol benar−benar memenuhi janjinya untuk menjaga Baekhyun demi Yejin dan demi kebahagiaan Baekhyun.
"Yejin−ah, aku sangat berterima kasih untuk semua kebahagiaan ini. Dan aku berjanji, tak akan menyakiti saudaramu. Aku akan mencintainya sebanyak yang aku punya dan sedalam yang aku bisa. Aku mencintaimu, masa laluku... dan aku pun akan terus mencintai masa depanku. Thanks for everything, thanks for this happiness, thank you.. my first love..."
.
"—THE END—" FOR REAL!
.
