Hi, everyone!
Anne datang lagi, nih, setelah sekiannnn lama nggak kasih kejelasan chapter akhir Pulang. hem.. setelah sekian lama mencari-cari ending yang pas, akhirnya Anne pilih ending seperti ini. Semoga bisa mengobati yang lagi kangen sama fic ini, ya. Anne harap kalian suka.
Maaf nggak bisa balas satu-satu karena ANne takut baca review kalian. Hahaha.. Aduhh ampun ending chapter 20 agak ekstream. Mau bgaimana lagi, Anne udah niatnya gitu. Ehh bikin baper, ya? Sorry.. *puppy eyes* :)
Langsung aja, deh, ya! Semoga nerima.
Happy reading!
"Baiklah, Albus Severus Potter. Aku tak tahu bagaimana lagi untuk menghiburmu tentang masalah ini. Aku berharap kau merelakan kepergian mereka. Bagaimana pun juga, mereka orang tuamu. Mereka tak akan melupakanmu."
Scorpius Malfoy, anak laki-laki yang lebih tinggi beberapa sentimeter daripada Albus mulai paham. Putra tungga dari Draco Malfoy itu hari ini mendapati sahabat karibnya terus terdiam di atas ranjang kamar asrama mereka. Tak lebih dari dua minggu, mereka masuk sebagai siswa Slytherin di sekolah sihir Hogwarts. Ya, Slytherin. Putra kedua Harry dan Ginny Potter ditetapkan oleh topi seleksi dalam asrama yang tak pernah diharapkannya. Meski demikian, adanya Scorpius yang sudi menjadi sahabatnya mengubah semua pemikiran negatif itu. Mereka telah menjadi sahabat, jauh sebelum mereka dipertemukan dalam asrama yang sama.
Albus, menggenggam kembali selimut kecil di atas ranjang sahabatnya sembari terus berpikir.
"Ini selimut kecil Daddymu dan sekarang menjadi milikmu? Daddymu mewariskan ini untukmu?"
"Aku tak tahu apakah ini sekarang jadi milikku atau bukan. Tidak ada yang pernah mengungkit masalah warisan, Scorpius. Aku hanya menemukannya di rumah. Dan—barang seperti ini apa bagusnya dijadikan warisan?"
Sepeninggalnya Harry dan Ginny, baik James, Albus, dan Lily tinggal di rumah orang tua mereka ditemani oleh Andromeda, nenek Teddy. Mereka diasuh bergantian oleh keluarga Weasley, bergantian mengingat Andromeda tengah berumur senja. Ketiga anak berdarah Potter begitu terpukul mendapati Harry dan Ginny telah pergi. Lily, menjadi anak yang paling merasa sangat kehilangan dan ketakutan sepanjang hari hingga jenasah keduanya dimakamkan. Kondisi penglihatannya yang tak kunjung membaik makin memperparah perasaan Lily. Ia tak bisa melihat dua orang yang paling disayangnya pergi untuk selamanya.
Untungnya, James dan Albu begitu juga keluarga Weasley menerima kehadiran Lily di tengah-tengah mereka. Bahkan, identitas Lily akhirnya diperjelas dan didaftarkan secara resmi sebagai keluarga Potter dan tentu saja seorang penyihir.
Bertahun-tahun setelah kematian Harry dan Ginny, tak ada satupun pihak maupun keluarga Weasley yang membahas tentang harta peninggalan keluarga Harry. Kalaupun pernah, itu hanya sekadar untuk mengambil beberapa uang untuk memenuhi kebutuhan hidup ketiga anak itu. Georgelah yang akhirnya bertanggung jawab memegang semua transaksi keuangan mengantikan Ron, yang harus menebus kesalahan akibat keputusan beraninya membunuh Harry dengan mantera kematian.
Tidak hanya keluarga, James, Albus, dan Lily sama tak pedulinya dengan masalah hak waris. Meski mereka tahu, harta keluarganya tidak sedikit. "Aku tak peduli harta mereka, Scorpius." Kata Albus penuh kesedihan. Ia terus memeluk selimut kecil yang kusam itu sebagai pelepas sendu. "Aku hanya—demi Dumbledore, mengapa mereka harus pergi. Aku masih membutuhkan mereka, Scorpius! Aku bahkan baru mengenal Daddy beberapa bulan sebelum ia meninggal. Itupun aku masih sangat kecil. Memoriku belum sempurnah mengingat mereka."
Albus menangis, merutuki nasibnya yang harus kehilangan kedua orang tua di usia muda. Scorpius turut memberi pelukan hangatnya. Ia sendiri tahu bagaimana perasaan Albus. Ia tak punya ibu. Hanya saja takdirnya masih cukup baik karena masih memiliki ayah yang sangat menyayanginya hingga kini.
"Kau jangan seperti ini. Mereka pasti akan sedih."
"Ya, mereka bahkan sudah sangat sedih karena aku masuk Slytherin. Tidak ada keluarga Potter atau Weasley masuk ke asrama ini, Scorpius!"
Kalimat Albus terhenti ketika melihat perubahan ekspresi sahabatnya. Ia kembali menyinggung tentang asrama. Tapi kali ini caranya berbicara sangat menyinggung perasaan Scorpius dimana seluruh keluarganya masuk asrama Slytherin. "Maaf—"
"Tak apa, kau hanya emosi. Albus, aku tahu perasaanmu kehilangan orang tua. Meski aku masih memiliki Dad, aku tak pernah mengenal Mum. Ia meninggal setelah melahirkanku. Sama sekali aku tak punya kenangan dengannya. Jadi, simpanlah semua kenangan yang kau miliki itu sebagai sumber rasa cintamu kepada mereka. Mereka pasti sangat mencintaimu. Kau adalah bagian hidup mereka, Albus."
Suara pintu kamar mereka diketuk perlahan, disitulah sosok profesor Slughorn muncul di sela pintu yang terbuka perlahan. Ia tersenyum menatap persahabatan dua anak laki-laki dari ayah yang pernah saling bermusuhan semasa sekolahnya. Sebagai kepala asrama Slytehrin, kedatangan profesor Slughorn langsung disambut sikap sopan dan hormat dari Albus dan Scorpius.
"Selamat sore, profesor." Sapa Albus dan Scorpius bersamaan.
"Selamat sore, Mr. Potter dan Mr. Malfoy. Kenapa kalian masih ada di sini? Kalian tak ada kelas?"
Scorpius menggeleng lebih dulu. Ia tahu Albus pasti kesulitan menahan suara seraknya untuk berbicara. "Kami hanya ingin membiasakan diri dengan kamar ini, Profesor."
Profesor Slughorn tersenyum melihat Scorpius yang jauh lebih sopan dibandingkan ayahnya, Draco, dulu. Ia tahu, Scopius menjawab demikian untuk membantu Albus. "Mr. Potter, betapa beruntungnya kau memiliki sahabat seperti Scopius." Ia mengusap pundak Scorpius pelan memberi penghargaan.
"Kalian anak-anak yang baik. Aku percaya itu. Semoga persahabatan kalian sangat kuat sampai kapanpun. Belajarlah dari para ayah kalian dulu. Jangan sampai hubungan kalian seperti mereka dulu."
Albus akhirnya tertawa bersama Scorpius dan profesor Slughorn. Ya, Albus dan Scorpius tahu tentang masa lalu para ayah mereka yang tak pernah bersahabat. Dracolah yang menceritakan semua masa mudanya, hubungannya dengan Harry, permusuhan mereka sampai hal-hal diluar dugaan ketika mereka saling menolong. Bagi Albus dan Scorpius, persahabatan mereka mutlak tanpa membawa dendam orang tua mereka di masa lalu.
"Dan.. sekarang, aku minta hapus air matamu itu, nak. Karena di ruang kepala sekolah ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," kata profesor Slughorn pada Albus.
"Ikutlah, Mr. Malfoy." Profesor Slughorn lebih dulu berbicara sebelum Scropius bertanya, "karena tamu yang datang sangat kamu kenal."
Tamu yang disebutkan profesor Slughorn adalah ayah Scorpius, Draco Malfoy. Di ruang kepala sekolah, tidak hanya Minerfa ataupun Draco saja, James Sirius, kakak Albus juga tengah berada di sana.
"James?" ujar Albus tak mengerti.
"Silakan Mr. Malfoy, langsung dijelaskan saja pada yang bersangkutan." Ujar Minerva mempersilakan Draco menjelaskan kedatangannya pada Albus. Scorpius ikut duduk di sisi Albus untuk ikut mendengar pembicaraan ayahnya dengan sahabatnya.
Draco memberi senyuman pada Albus dan memeluknya pelan. Setelah itu, Draco perlahan menjelaskan niat kedatangannya dihadapan beberapa orang yang ada di dalam ruangan. "Kenapa Uncle kemari? Kenapa James juga—"
"Ini menyangkut masalah pesan terakhir ayah kalian. Harry Potter. Sangat penting."
Dada Albus berdetak semakin cepat. Sekujur tubuhnya sempat kaku menahan rasa terkejut. Baru saja ia membicarakan tentang ayah dan ibunya bersama Scorpius, lalu kini Draco datang untuk menjelaskan masalah penting tentang mereka.
"Albus, James, Uncle dan keluarga Weasley sudah mengumpulkan semua hal yang berkaitan dengan ayah dan ibu kalian. Dan hasil yang kami dapatkan sangat berhubungan erat dengan bagaimana kelangsung hidup kalian di masa yang mendatang." Draco menyempatkan menatap wajah tampan James dan Albus bergantian, seketika itu Draco mengingat raut wajah yang sama dengan sosok Harry di masa mudanya.
Draco seolah sedang berhadapan dengan Harry ketika ia memusatkan kembali pada wajah Albus. "Masih ada tanggung jawab ayah kalian yang belum sempat diberikannya." Lanjut Draco.
Scorpius menepuk punggung Albus memberi semangat. Mereka harus segera pergi, karena ada satu orang lagi yang harus ditemui Draco bersama James dan juga Albus. Dengan lapang dada Scorpius mempersilakan sahabatnya itu pergi. Ia berbisik, "aku sudah bilang, kan, ayah dan ibumu sangat mencintaimu, Albus."
James dan Albus, segera berganti pakaian dan pergi bersama Draco menuju satu tempat. Bukan the Burrow, bukan juga rumah keluarga Potter. Draco mengajak keduanya ke St. Mungo dan berdiri di depan salah satu pintu kamar rawat. Draco akhirnya mengawali membuka pintu dan masuk lebih dulu. Di belakangnya, James dan Albus bergantian masuk. Dan di sanalah, beberapa keluarganya berkumpul, menemani seorang gadis cantik yang tersenyum ke arah mereka.
"Li—Lily?" James terbata melihat adik tirinya berbaring di ranjang rumah sakit namun tersenyum dan memandangnya dengan tatapan normal.
"James. James. Akhirnya.. aku tahu wajahmu. Dan.. Albus."
Albus mendekati ujung ranjang, ia memilih berdiri di sisi Bill sambil tak percaya memandang Lily dengan senyuman khasnya. "Kau—bisa melihat?" tanya Albus sama terbatanya dengan James.
"Sejak kemarin. Mereka semua sengaja menyembunyikan foto kalian karena aku harus melihatnya secara langsung. Ternyata.. kalian mirip Daddy."
Rasa haru menyambut pelukan James di tubuh Lily. Albus ikut tergerak membawa tubuh kedua saudaranya dalam pelukannya juga. Molly turut menangis haru di pelukan Angelina. Begitu juga dengan semua keluarga dan sahabat yang datang di sana.
Di sudut ruangan, Draco dan George sedang membuka beberapa map dan kotak di sebuah meja. sesekali mereka berbisik dan membahas sesuatu bersama Arthur dan Hermione.
"Kalau pun boleh, pelukannya bisa dilanjutkan nanti, ya. Karena, kami membutuhkan kalian bertiga untuk duduk di hadapan kami."
George menyiapkan sofa panjang di hadapan meja penuh barang-barang dan dokumen yang masih sesekali diperiksa dan pelajari oleh Draco. James dan Albus membantu sang adik, Lily, untuk turun dari ranjang dan duduk bersama di sofa yang sudah disiapkan. Molly menyambut ketiganya dengan pelukan sambil mengantar mereka duduk.
Oleh kedua orang tua di hadapan mereka, James, Albus, dan Lily disodorkan sebuah map berwarna coklat berlogokan Kementerian Sihir beratasnamakan Harry James Potter. Sebagai yang lebih tua, James mendapat kesempatan sebagai pembuka map itu.
"Itu adalah laporan perhitungan seluruh aset yang dimiliki oleh ayah kalian yang terdaftar di Kementerian. Lebih banyak dari Gringortts. Hasil penyimpanan pribadinya, harta bersama dengan ibu kalian, atau pun keluarga Potter. Begitu juga gaji dan tunjangan Kementerian tempatnya bekerja dulu." Jelas Draco. "Ditambah dengan usaha, saham yang tersimpan di beberapa perusahaan juga telah dihitung. Serta dengan seluruh hartanya di dunia Muggle. Tanpa terkecuali."
Draco kali ini melihat ke arah Lily yang duduk di pinggir sisi kanan Albus. Ia kembali mengingat jika ayahnya memang punya tabungan di beberapa bank. "Kami juga telah mengumpulkannya dibantu oleh salah satu sahabat ayah kalian semasa hidup ketika bekerja di dunia Muggle."
Lily mengangguk paham ketika Draco menyebut satu nama teman ayahnya yang sangat dekat dengannya. George selanjutnya ikut menjelaskan semua berkas atas nama Ginny melanjutkan penjelsan Draco.
James merasa tak percaya harta peninggalan ayah dan ibunya begitu banyak. Bahkan melebihi apa yang telah dibayangkan dirinya tentang harta orang paling kaya sekalipun. "Lalu apa kaitannya dengan Uncle menunjukkan ini semua pada kami?" tanya James.
"Karena ini memang hak milik kalian." George berseru mempertegas.
"Dan kalian harus mengetahuinya."
James, Albus, dan Lily saling berhadapan. Mereka terlalu muda untuk mengurus harta sebanyak itu. Agar lebih jelas, sebuah surat dari atas kotak ditunjukkan George ke hadapan ketiganya, begitu juga seluruh keluarga dan sahabat yang lain.
"Ini adalah surat yang terselip di dalam kotak ini. Dibuat sendiri oleh Harry. Dan.. isinya adalah.. biar aku bacakan," George membuka selembar surat dengan tulisan tangan Harry. George sempat bercanda, "oh, tulisan Harry rapi juga." Sambil tersenyum.
"Jubah tembus pandang ini adalah milik ayahku, James Potter, di mana sebelum ia meninggal sempat dititipkan kepada ayah baptisku untuk diserahkan padaku. Sepanjang aku memiliki jubah ini, tak pernah aku merasa kecewa. Jubah ini menyimpan banyak kenangan, sejarah pun turut menulis tentang jubah ini. Dan untuk kepemilikan jubah ini, suatu saat akan aku berikan jubah ini pada orang yang memiliki nama sama seperti ayahku. Saat waktunya tepat, aku akan berikan jubah ini pada putraku, James Sirius Potter, untuk disimpan dan digunakan sebaik mungkin."
George menutup surat yang ia baca lantas menatap James tajam. "Dan kali ini adalah waktu yang tepat." Ia mendorong kotak besar menuju ke hadapan James. Jubah tembus pandang yang melegenda itu diserahkan sepenuhnya pada James.
"Ini—"
"Simpanlah, James. Ini permintaan Daddy." Pinta Hermione diikuti anggukan Arthur.
Draco sempat berdehem memecah suasana haru yang menyelimuti mereka dengan suara tegasnya. Di tangan Draco telah ada map baru berwarna maroon dan membukanya. Ia mengeluarkan sebuah surat berlogokan Kementerian dan salah satu lambang baru di sisi yang lain.
"Surat ini adalah surat terakhir yang ditulis oleh Daddy kalian yang pernah ditemukan oleh Brian." Draco menjelaskan.
"Aku mengenalnya, Uncle." Kata Lily sambil tersenyum. "Kau ingat, kan, James, yang waktu itu kita membeli es krim di perustakaan."
James mengangguk sambil tersenyum, sementara Albus hanya diam merasa tak tahu apa-apa. "Jadi begini, dalam surat ini Harry menyerahkan seluruh hartanya untuk dipergunakan oleh anaknya. Pintarnya ayah kalian, ia tak menyebut nama siapa. Ia hanya menyebut anaknya. Mungkin ia tahu akan memiliki anak lebih dari satu." George tertawa lepas. "Namun, menurut tanggal yang tertulis diketahui jika Harry saat itu hanya mengingat James sebagai putranya."
"Tapi kalian tenang saja." Sambung Draco, "menurut hukum Kementerian, surat ini sudah disahkan kebenarannya dan memutuskan harta dan seluruh aset yang telah dikumpulkan diberikan untuk anak-anak Harry Potter sesuai dengan isi surat. Semua akan resmi dipindah tangankan ketika kalian berusia 17 tahun. Pembagiannya akan dibagi rata sesuai jumlah dan kepemilikan yang sah di mata hukum—"
"Itu artinya aku tak ada hak di sini. Jadi, maaf kalau aku ikut duduk di—" Lily tiba-tiba memotong penjelasan Draco. raut wajahnya berubah. Lily menunduk demi menyembunyikan airmatanya yang mulai mengalir.
"Apa maksudmu, Lily?" tanya Arthur.
"Aku hanya anak Daddy. Ibuku berbeda dengan James juga Albus. Jadi—aku bukan—"
"Bukan anak Harry Potter dan Ginevra Potter? Ya, kau memang bukan anak mereka."
Ucapan Draco langsung mendapat tatapan tajam dari seluruh saksi yang hadir. Lily makin takut dan merasa bukan siapa-siapa di antara mereka. "Tapi kau anak Harry Potter. Di tubuhmu mengalir darah Potter. Kau keturunan ayahmu, Lily. Sama. Sama seperti James dan Albus, dan itu artinya kau memiliki hak yang sama seperti mereka."
"Namamu juga sudah terdaftar sebagai penduduk di Kementerian Sihir, Lily. Bahkan nanti, kau saat usiamu sebelas tahun kau juga akan pergi ke Hogwarts. Kau adalah Potter, dan kami semua di sini adalah keluargamu." Ujar George.
"Kami adalah kakak-kakakmu," lanjut Albus sambil meraih tangan Lily.
"Dan selamanya kau adalah adik kami." Pertegas James sambil membimbing kedua adiknya untuk saling berpelukan. Meluapkan rasa haru penuh ungkapan kasih dan sayang sebagai saudara. Seluruh pembacaan hak waris telah selesai dibacakan dan diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk proses pengurusannya
Namun tiba-tiba, Luna, yang juga turut hadir, menayakan sesuatu. "Harry dan Ginny juga memiliki beberapa benda sihir, seperti jubah tembus pandang itu. Apa itu sudah termasuk harta—"
"Untuk masalah itu sudah masuk dengan harta kepemilikan Harry dan Ginny. Jadi dibagi rata. Tinggal mereka nanti bagaimana cara membaginya barang ini siapa itu siapa. Oke, tinggal kalian saling terbuka dan bersikap adil satu sama lain. dibicarakan bersama." Tutur Draco bersiap mengakhiri semuanya. "Kalian bisa minta bantuan paman-paman dan keluarga kalian yang lain. kalau butuh bantuan tambahan aku bisa bantu."
Albus menyalami Draco dan langsung memeluknya hangat. Draco sudah seperti ayahnya sendiri bagi Albus. "Terima kasih, Uncle Draco." ujar Albus terharu.
"Sama-sama, Albus. Kau sangat mirip dengan ayahmu. Sikapmu juga keras yang jauh lebih mirip seperti ibumu. Mereka orang baik. Ayah dan ibumu pernah menyelamatkan nyawaku berkali-kali. Dan sekarang aku berkewajiban untuk membantu mereka. Membantumu dan saudara-saudaramu."
Draco berubah. Ia semakin diterima di tengah-tengah keluarga Weasley dan para sahabat Harry-Ginny. Hubungan buruk di masa lalu pun seperti hilang secara perlahan. Hidup mereka terus berjalan, dengan hadirnya para generasi penerus itu, tidak ada salahnya untuk memulai kembali dengan hal yang lebih baik.
Ginny menapaki lantai lorong-lorong panjang dengan jendela besar di kanan kirinya. Suasananya putih, bersih, dan sangat sepi. Ginny mengenal tempat itu seperti salah satu lorong Hogwarts. Hanya saja tampak lebih putih dan bersih dari biasanya. Tak ada orang, Ginny terus berjalan, sampai ia menemukan sebuah bangku besar. Ia menyempatkan duduk di sana.
Menikmati suasana sepi yang menenangkan. Meskipun ia berharap akan ada yang menemaninya di sana. Ginny menoleh ke kiri, melihat ujung lorong masih jauh. Saat ia ingin bergerak kembali, tangannya tak sengaja menyentuh tiga tangkai bunga lily putih terikat di sisi bangku tempatnya duduk.
"Bunga siapa ini?" tanya Ginny.
"Bunga itu milik orang yang sedang berbahagia. Masing-masing akan mendapat satu," ujar suara dari arah belakang tubuhnya. Ginny masih tak memperhatikan siapa yang berbicara padanya, bunga lily di tangannya kini menyita semua perhatiannya.
"Kenapa banyak sekali?"
"Karena kau harus memberikannya sendiri pada yang lain."
Maureen, tersenyum menyambut tatapan Ginny. Ia berdiri dengan anggun. Tubuhnya kecil dengan balutan gaun putih panjang menjuntai hingga menutupi kaki. Ginny sendiri tak tahu wanita itu siapa. Ia belum pernah bertemu dengan Maureen.
"Harry adalah milikmu. Ia pria yang baik. Bahkan yang terbaik sepanjang aku mengenal seorang pria. Bahkan terlalu baik."
"Ba—bagaimana kau bisa mengenal Harry?"
Maureen semakin mendekat. Tangannya menangkup pelan ke depan dada. Merunduk singkat sambil mengulas senyum pada Ginny. Wajahnya semakin cantik dengan rambut tergerai menyentuh pundak kecilnya. "Aku Maureen." Ujarnya mengenalkan diri.
"Maureen." Ginny mengulang nama itu dan menyebutnya perlahan. Tidak sedikit senyuman muncul di wajah Maureen ketika Ginny memanggilnya. Dua wanita berambut merah itu saling berhadapan. Ginny membalas tatapan Maureen meski tak tersenyum.
Tangan Maureen merapikan bagian atas gaun putih yang dikenakan Ginny. Bahkan ia tak segan menata anak rambut di bagian telinga kanan Ginny yang mencuat tak teratur. "Meski ia bukan manusia biasa, Harry seorang pria yang memiliki napsu. Ia pria normal yang bisa hanyut karena napsu, tanpa cinta. Karena Harry hanya mencintaimu. Sampai kapanpun, ia akan tetap mencintaimu."
"Harry. Tapi, aku sudah mati. Aku melihatnya menangis saat aku meninggalkannya, Maureen. Apa cintaku akan tetap bersatu meski kami—"
Ginny heran ketika selama ia berbicara, Maureen tak memandangnya. Melainkan tersenyum pada sesuatu di belakangnya. Dengan perlahan Ginny berbalik, mengikuti arah pandang Maureen untuk mencari tahu ada apa. Sampai akhirnya tampaklah dua sosok sedang berdiri saling bergandeng tangan.
"Kalian selalu bersama." Maureen kembali bersuara di belakang Ginny. "Meski jarak sekalipun membentang di antara kalian, cinta kalian tetap satu. Takdirmu adalah bersama Harry. Kau tak pernah sendiri, Ginny. Ada Harry yang akan selalu mencintaimu."
Tepat di hadapan Ginny, Harry berdiri sambil tersenyum manis menanti di ujung lorong. Bersama seorang gadis kecil berambut merah sebahu, melambaikan tangannya meminta mendekat. Mata coklatnya berkilau cantik memandangnya hangat, bersama Harry yang tak melepas genggamannya dari tangan kecil gadis itu.
"Harry."
Mata hijau Harry berkilat tanpa lensa kacamata yang menutupi. Wajah Harry polos sarat akan kedamaian. Ia terus memangguk ketika namanya dipanggil oleh Ginny meski tanpa membalasnya dengan kata-kata. Begitu juga gadis kecil di sampingnya turut memanggilnya dengan mengulurkan tangan kirinya ke depan.
Baru beberapa langkah berjalan mendekat, Ginny mengingat Maureen. Ia berbalik kembali namun Maureen menghilang. Ia berharap berbalik kembali untuk segera mendekati Harry dan gadis kecil itu. Hanya saja, dengan sekejap jarak Ginny dan Harry kini tiba-tiba semakin dekat. Tepat saat Ginny kembali berbalik, jarak dirinya dan Harry hanya beberapa langkah saja.
Ginny menyerahkan satu tangkai bunga lily pada Harry lantas kembali berjalan beriringan. Mereka mendekati gadis kecil diujung lorong yang masih menunggu selepas Harry menjemputnya. Dengan perlahan, Harry mengangkat tubuh gadis itu dan mengendongnya sesaat mereka sampai diujung lorong. Ditangan Ginny ada dua tangkai, satu telah ia berikan untuk Harry dan satu lagi adalah miliknya. Tahu dengan kehadiran anak perempuan di gendongan Harry, Ginny memberikan satu bunga lily yang belum begitu mekar sempurna.
Tangan Harry meraih tangan Ginny erat. Menuntunya kembali berjalan. Keluar dari lorong menuju titik cahaya paling terang bersama.
James, Albus, dan Lily menunduk bersamaan pada satu batu nisan besar berukir nama kedua orang tua mereka. Tiga tangkai bunga lily putih disandarkan di depan batu nisan Harry dan Ginny. Mereka membawa bunga itu sebagai bentuk penghormatan, James dan Albus meminta berkunjung ke pemakaman sebelum mereka kembali ke Hogwarts.
"Aku hanya mengenal Mummy Ginny sebentar. Aku bersamanya beberapa kali. Caranya berbicara, menyentuhku, aku bisa merasakan ia wanita yang baik. Ia ibu yang baik. Aku sangat bersyukur bisa mengenalnya meski.. aku hanya melihatnya sekilas. Tapi aku ingat wajah cantiknya."
Tak terasa Lily meneteskan air matanya deras. Ia berdiri diapit oleh James dan Albus di kanan dan kirinya. "Daddy tak salah mencintai Mummy Ginny. Begitu juga aku." Tutup Lily tak kuasa menahan rasa kehilangannya.
"Mereka adalah pasangan yang serasi." James ikut berpendapat sebagai satu-satunya dari mereka yang mengenal keduanya lebih lama. "Mum dan Dad, mereka memang orang yang baik."
"Aku tak banyak mengenal Dad." Tiba-tiba Albus menyela, ia menatap ukiran nama Harry lama, mengucapnya perlahan dalam hati seperti mengharapkanya kembali. "aku tak banyak mengenal Dad seperti kalian mengenalnya. Pengalaman terlamaku bersamanya hanya ketika kami dihadapkan pada situasi ketika.. kami sama-sama menjadi orang lain." Albus terisak, menahan sesak di dadanya, "aku berhapadan dengannya, berbicara padanya, ketika aku membicarakan tentang dirinya yang telah tiada. Aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaannya saat itu. Ketika ia memelukku sambil menangis tanpa aku tahu bahwa ia sangat senang bertemu denganku. Putranya. Aku menyesal tak mengenalinya."
James memeluk adik laki-lakinya memberikannya semangat. "Aku ingin mengenalnya lebih jauh, James, Lily. Bantu aku." Albus begitu memohon.
"Aku juga ingin mengenal Mummy Ginny lebih jauh. Kita bisa saling membantu." Lily memandang penuh harap pada James dan Albus sambil tersenyum. Meski berbeda ibu, Lily terlihat serasi bersama kedua kakak tirinya.
James mengangguk semangat, ia bangga memiliki adik-adik yang begitu luar biasa. Seperti Albus dan Lily. "Tentu," tegasnya, "itulah gunanya saudara. Kita harus mengenal orang tua kita sendiri. Ayo kita kembali. Kita harus segera kembali ke Hogwarts bukan, Al?"
"Ah, ya. Tapi.. James," Albus menahan ajakan James untuk menunjukkan sesuatu pada sang kakak. Sebuah selimut kecil yang telah kusam dan hancur di bagian tepinya. "Kata Mummy, itu selimut Daddy ketika masih bayi, kan?" tanya James mengenali selimut yang dibawa Albus. "Menurut Mummy juga, Dad sangat menyayangi selimut itu dan selalu membawanya setiap Halloween, karena itu satu-satunya benda yang mengingatkannya dengan Grandma Lily."
Mendengar ucapan James, Lily menoleh tak mengerti. "Grandma Lily itu ibu dari Daddy, Lily. Ayah Dad namanya James, seperti namaku. Nanti aku jelaskan." Bisik James memberi pengertian Lily.
"Em.. aku tak sengaja menemukannya beberapa hari lalu sebelum berangkat ke Hogwarts dan membawanya ke sana. Apa aku—aku boleh memi—"
"Tentu saja, Al. Kau bisa memilikinya. Mungkin dengan selimut itu kau simpan, kau bisa lebih mengenal dan merasa dekat dengan Daddy."
James seperti bisa membaca pikiran Albus. Sang adik akhirnya lega dengan kepemilikan selimut tua itu. Meski benda itu sederhana, Albus merasakan kedekatan yang berbeda dengan benda itu. Ia seperti selalu merasakan kehadiran ayahnya. Nyaman dan mendamaikan.
"Thank you, James."
Mereka bersama-sama keluar dari area pemakaman. James mengandeng tangan Lily berjalan lebih dulu, sementara Albus berjalan sendiri beberapa langkah di belakang mereka. Menggenggam selimut kecil itu sendiri dan merasakan sisa-sisa kasih sayang ayahnya di seluruh permukaan telapak tangannya.
"Aku menyayangimu, Dad. Mum."
Tanpa diduga sebelumnya, suara percikan pelan terdengar dari sela-sela lipatan selimut itu. Masih berjalan pelan, Albus memandang selimutnya heran. Ada gerakan pelan di genggamannya. Pelan-pelan, Albus membuka dan membentangkan selimut itu. Sebuah ukiran hitam di permukaan kain tercetak membentuk lekukan alfabet. Sebuah kalimat terbaca oleh mata Albus.
Sebuah pesan yang membuatnya tersenyum.
"Kami juga menyayangimu, Albus."
Tulis pesan itu jelas. Albus tahu.. mereka akan selalu dekat dengannya.[]
FIN
#
Thanks semuanya, para readers yang keceh-keceh! Anne seneng banget bisa menghibur kalian semua dengan fic ini. Semoga terkesab, bisa jadi hiburan, dan bahan baper kalian di kasur, hehehe.. chapter ini (lagi-lagi) Anne terinspirasi di Cursed Child. Tapi beda, kok, kan cuma terinspirasi. Mungkin akhir kisah mereka seperti ini. Jadi jangan tuntut apapun untuk fic ini lagi. Selesai. So, terima kasih telah bersedia menemani Anne dengan fic ini.
Jangan lupa tulis review, fav, atau apapun. Anne menghargai sekali usaha kalian beri respon untuk fic ini. Kalau ada waktu, Anne bisa balas nanti. Entah bagaimana caranya. Maaf kalau masih banyak typo, Anne pasti ngeleng nulisnya. Haha.. Sampai jumpa di fic baru nanti, ya. Tulis request kalau ada. Jangan sungkan. Anne bisa pertimbangkan untuk dibuat. Oke, sampai jumpa. Anne sayang kalian!
Thanks,
Anne xoxo
