20. Tentang Maaf dan Pengertian

Sejak kejadian itu, Jule mati-matian menghindari Gwin, bahkan beradu pandang pun ia tak berani. Namun Gwin juga tak berusaha mendekatinya. Sikap Gwin pada Vlyn juga jauh berbeda, tidak sehangat sebelumnya. Gwin kembali menjadi dingin dan pendiam seperti saat ia baru masuk di sekolah itu.

Suatu hari ketika Jule akan pulang ke rumah seusai ekskul piano, dilihatnya Gwin sudah mencegatnya di halaman yang sudah sepi. Jule buru-buru membalik badan, berniat keluar dari pintu lain, tapi Gwin bergerak lebih cepat. Ia segera mencekal lengan Jule.

"Jule, tunggu."

Jule berhenti tanpa menoleh. Jantungnya berdegup kencang, tangannya dingin.

"Bagaimana pun juga aku ingin tahu, apa yang dikatakan Lane tempo hari itu benar?"

Jule tidak bereaksi untuk beberapa saat, debaran jantungnya makin keras, kemudian ia mengangguk tanpa suara.

Gwin memandangnya dengan suatu perasaan baru. Ia tidak habis pikir, bagaimana Jule bisa memendam rapat-rapat perasaan sukanya pada Gwin dan merahasiakan dari semua orang, sementara tiap hari ia harus melihat orang yang disukainya menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri. Bagaimana perasaan Jule waktu itu?

"Sejak kapan kau mulai menyukaiku? Apakah sejak aku menolongmu berdamai dengan keluargamu?" Desak Gwin ingin tahu.

Jule menggeleng. "Tidak. Aku menyukaimu jauh sebelum itu," akhirnya ia bersuara juga.

Sejenak mereka berdua berdiam diri, tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi kemudian Jule buru-buru menjelaskan, "Gwin, kau tak perlu mempedulikan perasaanku ini. Aku sadar jika kau sampai mengetahuinya, maka kau akan merasa terganggu, makanya aku diam saja dan menyimpannya untukku sendiri. Kalau saja Lane tidak lancang me..."

"Tidak," potong Gwin. "Aku justru berterima kasih pada Lane yang telah membocorkannya." Lalu Gwin menyambung dengan lembut, "Betapa bodohnya aku, tidak menyadari kalau selama ini ada yang diam-diam memperhatikanku dengan segenap perasaannya..."

Jule merasakan pipinya panas. "Tapi kau dan Vlyn..." Ia tak mampu melanjutkan kalimatnya.

"Jule, sejujurnya dalam hatiku yang paling dalam, aku menyadari bahwa Vlyn menganggapku tidak lebih dari sekedar sahabat, dan aku tahu benar, siapa yang sesungguhnya disukai Vlyn. Tapi, yah, aku tak dapat menahan diri untuk menyukainya karena dia mirip dengan adikku, dan ia lah yang telah membangkitkanku dari kenangan pahit masa lalu. Di samping itu, tentu saja, keegoisanku sebagai lelaki membuatku berat untuk mengakui bahwa perasaanku bertepuk sebelah tangan. Tapi kata-kata Lane hari itu membuatku sadar dan memikirkan kembali semua yang telah dan akan kulakukan. Anak itu memang suka seenaknya sendiri, tapi aku tahu, dan kalian semua juga pasti tahu, bahwa semua yang dikatakannya tak ada satu pun yang salah. Makanya aku mulai berpikir untuk menyerah. Tapi sebelum aku benar-benar menyerah, ada sesuatu yang ingin kupastikan. Aku berharap Jule mau sabar menunggu. Begitu pun, aku tak mau memberimu harapan-harapan kosong. Karena itu jika dalam waktu itu Jule sudah tidak menyukaiku lagi, atau bahkan menyukai orang lain..."

"Tidak," kali ini Jule lah yang memotong. "Aku...aku akan menunggu Gwin, setahun atau sepuluh tahun pun, aku akan selalu menunggumu, seperti bunga yang

menanti untuk mekar biarpun diterpa hujan yang turun dan angin yang bertiup..."

"Uum...teman-teman, tidakkah kalian bersikap terlalu keras pada Lane?" Kata Clancy kepada Vlyn, Clay, dan Jule sewaktu mereka makan siang di kantin. "Aku tahu dia terlalu lancang mencampuri urusan pribadi kalian, tapi Lane tak pernah sedikit pun bermaksud buruk. Sebaliknya, ia melakukan semua itu karena ia sangat menyayangi kalian," Clancy berusaha membela Lane di hadapan teman-temannya.

"Emh...ya...aku sangat menyesali apa yang telah kukatakan padanya hari itu..." ujar Vlyn.

"Aku juga," sesal Clay, "Saat itu aku tidak berpikir panjang dan telah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatinya."

Jule berkata dengan murung, "Tapi akulah yang paling keterlaluan. Aku sudah memukulnya. Aku selalu ingin minta maaf, hanya saja sepertinya Lane menghindari kita. Makanya aku bingung bagaimana harus menyampaikannya."

"Lane melakukan itu karena mengira kalian marah padanya. Dia pun terus kebingungan, bagaimana caranya meminta maaf," kata Clancy.

"Tadinya aku memang sangat marah. Tapi setelah kurenungkan baik-baik, aku sadar semua ini hanya salah paham, dan aku bisa mengerti alasan di balik perbuatannya itu," sahut Vlyn.

"Jadi, apa kalian masih berniat menerimanya kembali sebagai sahabat?"

"Tentu saja," jawab Vlyn cepat, diangguki Clay dan Jule.

Mendengar itu, Clancy bangkit dengan ceria. "Kalau begitu biar kupanggil dia kemari, biar kalian bisa bicara untuk meluruskan kesalahpahaman ini."

Beberapa menit kemudian, Clancy kembali bersama Lane yang terlihat sungkan. Ia tidak berani menatap langsung ke arah teman-temannya. Tapi Jule berinisiatif maju dan mengulurkan tangannya. "Lane, aku minta maaf sudah memukulmu. Pasti terasa sakit ya. Aku benar-benar minta maaf," kata Jule sungguh-sungguh.

Lane terlihat sangat lega, ia menyambut uluran tangan Jule dan tersenyum. "Tak apa-apa, Jule. Aku sudah sering menerima pukulan yang lebih keras dari kakek, jadi pukulan Jule itu tidak ada apa-apanya."

Hati Vlyn merasa pedih mendengarnya. Ia baru menyadari bahwa di balik wajahnya yang cantik dan perawakannya yang gemulai, Lane telah banyak merasakan luka secara fisik. Vlyn sendiri tidak tahu darimana Lane memperoleh kekuatan untuk menerima segala luka itu dengan tubuh kecilnya. Biasanya orang yang mengalami kepahitan macam itu akan melampiaskannya dengan berlaku buruk terhadap orang lain. Tapi Lane tidak. Ia menerimanya dengan sabar dan sangat perhatian kepada orang-orang di sekitarnya. Itu membuat Vlyn salut padanya. Sekarang Vlyn mengerti alasan mengapa Axl tergila-gila pada Lane.

"Lane, aku juga menyesali kata-kataku waktu itu," kata Vlyn tulus.

"Maafkan kami, Lane," imbuh Clay.

"Oh, sudahlah, kalian tak perlu minta maaf. Justru akulah yang harus minta maaf karena telah lancang mencampuri yang bukan hakku."

"Tidak, kami justru berterima kasih untuk itu," senyum Jule.

"Ya, kami paham betul mengapa Lane sampai melakukannya. Kau pasti kesal melihat kami malu dan takut-takut untuk mengakui perasaan kami sendiri. Padahal menutup-nutupinya tidak akan membuat kami bahagia," ujar Vlyn.

"Tapi, Lane, ada satu hal yang ingin kutanyakan," sela Jule. "Aku tak pernah mengatakan kepada siapa pun bahwa aku menyukai Gwin. Satu-satunya yang tahu hanyalah Vlyn, itu pun secara tidak sengaja. Jadi bagaimana kau bisa mengetahuinya?"

Lane tersenyum, "Aku sudah pernah bilang pada Vlyn, aku ini punya pengamatan yang sangat baik terhadap keadaan di sekelilingku. Jule mungkin merasa telah berhasil merahasiakan perasaanmu dari semua orang, tapi tidak dariku. Bahkan dengan melihat sekilas saja, aku sudah tahu kalau kau menyukai Gwin."

"Ooh..." Jule terperangah mendengar jawaban Lane.

"Hanya orang yang mempunyai hati yang murni, lembut, dan sensitif yang bisa melakukannya," puji Clancy.

Lane kelihatan malu mendengar pujian Clancy. Ia cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. "Lantas bagaimana akhir dari huru-hara yang kutimbulkan ini?" Tanyanya cemas.

"Aku tidak tahu, tapi kurasa semua akan baik-baik saja," jawab Jule.

"Seperti apa pun akhirnya, itu tidak akan menggoyahkan persahabatan kita," kata Vlyn.

"Terima kasih, teman-teman," kata Lane terharu, senyum mengembang di wajah cantiknya.