ONLY MINE
.
.
Park Chanyeol adalah seorang CEO di Park Enterprise, ia juga seorang pimpinan mafia sangat kejam dan berhati dingin yang hanya menginginkan kekuasaan dan uang lebih. Ia sangat cerdik dan teliti dalam mengamati orang-orangnya, satu kali kesalahan dan kau pasti akan dipecat. Tapi semua berubah saat seorang laki-laki mungil berambut brunet tidak sengaja menubruk seorang Park Chanyeol. Setelahnya Chanyeol sadar kalau ia membutuhkan satu hal lagi dalam hidupnya— yakni ByunBaekhyun.
.
.
Original Story
By applepie12
wwwasianfanfics com/story/view/1126743/only-mine-angst-fluff-baekyeol-kaisoo-chanbaek-baekyeol00mafia
(ganti spasi dengan titik)
…
..
.
Part 19
JEALOUSY (Kecemburuan)
.
.
Baekhyun's POV
Aaah... hangat, sangat hangat...
Perlahan aku membuka mataku dan menyadari kalau aku masih tertidur di balkoni kamar. Aku lalu menggelengkan kepalaku pelan dan bangun dari posisiku. Cahaya lembut dan hangat matahari menerpa wajahku.
Oh ya, aku harus membangunkan Chanyeol. Aku melemaskan otot-otot tubuhku sebelum mengambil masker baru dan memakainya sambil berjalan keluar kamar. Aku menggosok mataku dan kurasakan kantung mata di bawah kelopak mataku.
Aku mengetuk pelan pintu kamarnya, dan ketika tak seorangpun menjawabnya aku langsung membuka pintunya perlahan. Chanyeol tengah tertidur dengan satu lengan menutupi wajahnya.
Suara dengkuran pelan terdengar darinya. Rambutnya berantakan ke semua arah, sedangkan kaki panjangnya memeluk erat selimut. Ia terlihat sangat damai saat tidur seperti itu—tidak seperti Chanyeol yang bersikap dingin dan sangat asing yang biasanya kukenal.
Aku sangat ingin mengambil fotonya, tapi mungkin itu akan terlihat aneh. Akhirnya aku memilih untuk menatapnya lebih lama lagi. Ia benar-benar berubah, terlihat makin kekar dari sebelumnya dan telinganya mungkin lebih lebar dari sebelumnya—kkke apakah itu mungkin?
…
Perlahan aku menepuk lengannya, tapi ia belum terbangun. Aku akan menepuknya lebih keras sebelum aku tiba-tiba melihat Channie berada di bawah kepala Chanyeol.
Sambil menyeringai, aku berencana untuk mengambil Channie dan menyimpannya. Tapi saat aku menarik telinga boneka itu—
"Mau mencuri lagi?" Chanyeol bertanya dengan suara bariton rendahnya.
Aku menelan ludah kasar sambil menarik kembali tanganku dan berkata pelan,
"Selamat pagi tuan Park."
Chanyeol menatap tajam wajahku sebelum ia tersenyum dan berkata,
"Wajahmu."
Aku balik menatapnya bingung sampai ia melanjutkan perkataannya,
"Kau punya cap merah muda di wajahmu."
Wajahku langsung menghangat saat aku menyadari kalau besi pembatas balkon pasti memberikan tanda di sisi wajahku.
"Baekhyun, kenapa kau selalu memakai masker?" Chanyeol menanyaiku dan aku tersadar dari lamunan singkatku.
"Aku, ummm...ummm... merasa malu dengan wajahku." Aku bersyukur karena berhasil menjawab pertanyaannya dengan cukup cepat.
"Lepaskan." Chanyeol memerintah, dan aku langsung membatin dalam hati 'dasar kau manusia bodoh'
"Tidak apa-apa tuan, aku cukup nyaman dengan..." aku berkata, tapi sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Chanyeol terlebih dahulu menarik maskerku. Mataku membola terkejut saat ia melakukan itu.
…
"Ah... jadi kaulah yang telah merusak setelanku saat itu!" Chanyeol menyeringai sebelum membuang maskerku.
Aku akan mengambil masker itu saat tiba-tiba tangan chanyeol menggenggam pergelangan tanganku.
"Berhentilah menutup wajahmu, aku ingin melihatnya." Chanyeol menggerutu sedangkan aku ternganga mendengarnya. Apa maksud perkataannya itu?
Aku lalu mengangguk pelan dan mengedarkan pandanganku ke sekitar untuk menghindari tatapan matanya.
"Baju." Chanyeol berkata.
"Hmm?" aku menanyainya.
"Pilihkan baju untukku." Chanyeol memerintah.
"Baik tuan Park." Aku meng'iyakan dan langsung berjalan ke arah lemari pakaian.
…
Semuanya terlihat sangat membingungkan—baik warna, corak, dan modelnya. Sambil mendengus pelan, aku memilih setelan berwarna merah muda di paling pojok barisan. Tapi saat aku akan mengambilnya, ternyata hanger pakaian itu letaknya terlalu tinggi dari jangkauanku.
Aku memutuskan untuk mengambil celananya dulu sebelum meraih atasannya. Mungkin aku seharusnya mengambil bajunya saja, tanpa hangernya. Tapi ternyata baju itu terkancing di hanger dan aku terpaksa harus mengambil hangernya juga.
Melompat sama sekali tidak berpengaruh banyak untuk masalahku disini. Aku hampir saja mendapatkan baju itu—tapi gagal. Aku mencoba melompat lagi dan secara tidak sengaja terjengkang ke belakang dan tanganku mengenai beberapa barang yang terletak di meja—membuatnya jatuh berantakan di lantai.
Rahangku hampir saja jatuh saat aku melihat beberapa dasi mahal, jam tangan, dan botol parfum jatuh berserakan di lantai. Aku langsung bergegas mengambil barang-barang itu dan menatanya kembali di rak meja. Setelah selesai, aku lalu memfokuskan diriku pada tugas awalku.
Sambil berdiri berjinjit setinggi mungkin, aku mencoba meraih kemeja merah muda yang tadi. Tiba-tiba sebuah lengan bersentuhan dengan tanganku dan berhasil mengambil pakaian itu. Aku bisa merasakan dada bidang di punggungku dan juga aroma mint yang menguar darinya. Aku berbalik dan menemukan Chanyeol yang tengah menunduk menatapku.
…
"Lama sekali kau mengambilnya." Chanyeol memprotes.
"Ini ambillah." Aku menjawab dan memberikan celananya.
Aku mengira ia akan mundur dan mengambil tawaranku, tapi Chanyeol sebaliknya malah melangkah ke depan dan mempersempit jarak kami.
"Tu...tuan Park?" aku menanyainya saat ia makin memojokkanku diantara tubuhnya dan deret pakaian di lemari. Walaupun aku menyukai kehadirannya, tapi menurutku saat ini ia terlalu dekat.
Chanyeol memberiku seringai menggoda sebelum meletakkan kaosnya di puncak kepalaku. Sejak kapan ia berubah sedrastis ini?
Sambil menutup mata, aku memutuskan untuk diam-diam berjalan menjauh saat akhirnya kurasakan Chanyeol yang malah menghalangi jalanku. Lemari pakaian itu terasa makin mengecil saat aku mencoba menenangkan diriku.
"Umm...permi..." aku menghentikan perkataanku saat aku mendorong Chanyeol dan merasakan kulit hangatnya. Masih dengan mata terpejam, aku mulai merabanya dan baju yang akan dipakainya tiba-tiba jatuh dari lengannya.
Saat itu terjadi, aku hanya bisa berdiri membeku dan canggung di hadapan Chanyeol sambil menyentuh kulit segarnya. Aku tidak tau bagaimana alur kejadiannya sampai saat aku tanpa sengaja menyentuh nipple Chanyeol. Saat itu juga aku membuka mataku dan menangkap seringaian menyebalkan di wajah Chanyeol.
Wajahku langsung merona parah karenanya, dengan cepat aku mendorong Chanyeol dan melarikan diri dari posisi itu.
Aku bisa mendengar kekehan pelan sebelum aku bergegas ke lantai bawah dan mencari sesuatu yang mungkin bisa kulakukan. Sa...sarapan, ya benar sarapan pagi. Ummm, okay, aku menghela nafas pelan karena tidak tau apa yang harus kubuat.
Tiba-tiba aku melihat satu box sereal, aku meloncat semangat sambil langsung menuju ke lemari es untuk mengambil susu. Aku lalu menuangkan susu secukupnya ke dalam mangkuk, menyiapkan dua sendok makan, dan mengambil sereal di lemari konter dapur.
…
Chanyeol tampak berjalan turun dari lantai atas memakai kemeja dan jasnya yang masih tersampir di salah satu lengannya. Tapi nampaknya dasinya terlihat kurang rapi, jadi aku menunjuknya dengan jariku. Setelah ia menyadari maksudku, ia langsung melepas dasinya dan mengulurkannya tepat di depan wajahku.
"Pasangkan untukku." Chanyeol memerintah dan aku hanya mengangguk pelan sambil dengan ragu mengambil dasi itu dan mendekat padanya.
Dengan lembut, aku melingkarkan dasi itu di lehernya dan merapikannya di balik kerah kemejanya. Aku merasa sangat gugup karena aku mencoba untuk menyelesaikan ini dengan cepat, tapi Chanyeol malah menatapku dengan intens.
Saat ikatan dasiku sedikit salah, aku menggigit bibir bawahku dan mencoba lebih berkonsentrasi.
Setelah selesai, aku tersenyum senang dan menepuknya pelan, merasa sangat puas dengan hasil kerjaku.
"Selesai!" aku berkata dengan semangat, aku tidak melewatkan senyuman tipis dari bibir Chanyeol yang secepat kilat berubah menjadi seringai yang menyebalkan itu lagi. Mungkin senyuman yang tadi kulihat hanyalah ilusi.
Chanyeol lalu duduk di kursi meja makan dan langsung memakan sereal yang tadi kusiapkan. Aku langsung menyusulnya untuk bersarapan.
"Baekhyun, kenapa kau juga makan?" Chanyeol tiba-tiba bertanya.
"Karena aku lapar." Aku menjawabnya dengan mulut penuh dengan sereal.
Ia menatapku tajam sebelum berkata,
"Makanlah setelah aku selesai."
Aku sangat ingin membalas tatapan tajamnya dan memanggilnya bocah tidak tau sopan santun, tapi aku menahannya dan tetap duduk disana sambil memandang serealku.
Sejak kapan Chanyeol menjadi semenyebalkan ini lagi? Oh benar, semenjak dua tahun aku meninggalkannya. Wow, semua adalah salahku. Aku sangat frustrasi. Kenapa?! Aku sangat ingin melampiaskan kekesalanku pada sesuatu. Dasar Park Chanyeol bodoh!
"Apa yang kau katakan Baekhyun?" Chanyeol tiba-tiba bertanya.
"Huh? Yang mana?" Aku bertanya sambil berkedip beberapa kali.
"Aku sangat yakin baru saja mendengar, 'Park Chanyeol Bodoh'." Ia menyeringai.
Aku menelan ludah kasar, sial kenapa aku mengatakannya dengan keras.
"Ti...tidak... aku ti..dak mengatakannya, aku bilang 'cepat' ya cepat." Aku bergumam cepat.
"Oh, benarkah?" Chanyeol bertanya tidak percaya sambil menghabiskan serealnya.
…
Setelah ia selesai, aku memulai memakan sarapanku dan Chanyeol memerintahku untuk membersihkan mansion saat ia ke kantor. Aku hanya mengangguk pelan meng'iyakan.
Akhirnya, Chanyeol keluar mansion dan aku mulai mencuci mangkuk kami sebelum menyapu dan bersih-bersih. Tangga, lantai, dan perabotan. Ya, membersihkan semuanya.
Merasa agak bosan, aku memutuskan untuk menjelajah mansion. Semua tampak tertata rapi, aku lalu memutuskan untuk mencari udara segar di halaman belakang.
Aku ingat kalau aku jarang sekali ke tempat ini, kecuali saat Chanyeol menghalangi peluru tembakan itu untukku. Pemandangan disini tampak sangat cantik, dengan pohon besar yang menjadi pagar halaman, sebuah kolam renang besar, dan rumah kaca di ujung halaman.
Ternyata halaman ini memang sangat luas, aku membutuhkan beberapa menit untuk berkeliling di sekitar. Aku lalu berhenti di satu tempat, aku ingat tempat ini, aku berada di sini saat memperbaiki semua gambar dan sticky notes yang kubuat setelah Chanyeol dengan marah melepasnya dari dinding mansion. Dia sangat menyebalkan saat itu. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh padanya?
Saat aku bersih-bersih, aku memikirkan banyak sekali hal—mungkin aku harus melakukan sesuatu yang produktif saat aku tinggal disini. Tapi apa?
Tiba-tiba sebuah bohlam lampu imajiner muncul di otakku. Aku memutuskan untuk kuliah. Aku ingin belajar sesuatu dan merasakan kehidupan perkuliahan. Aku perlu membujuk Chanyeol untuk ini. Tapi bagaimana?
.
.
Aku memutuskan untuk menyusun rencana supaya Chanyeol tidak menolakku. Aku telah membersihkan mansion sampai berkilap—sangat bersih. Aku lalu duduk di sofa untuk beristirahat. Kulitku terasa lengket dan panas saat aku berbaring kelelahan di sofa yang dingin.
Suara ceklekan pintu terdengar saat aku bangun dari posisiku dan menegakkan badanku. Tak lama setelahnya Chanyeol masuk ke dalam. Aku menyapanya dengan senyman lebar, mencoba membuat positif suasana.
"Selamat datang tuan Park. Apakah pekerjaan kantor terasa melelahkan? Bagaimana kalau kupijit?" aku menanyainya dan menariknya duduk di sofa.
"Apa kau akan meminta sesuatu? Kenapa kau tiba-tiba bersikap sangat baik seperti ini?" Chanyeol menanyaiku, saat aku memelototinya dari belakang.
Aku tertawa canggung sebelum menjawabnya,
"Tuan Park, anda sangat jenius. Aku hanya ingin bertanya apakah aku boleh berkuliah saat menjadi pembantu di sini?"
"Tidak." Ia menjawab dengan cepat.
"Kenapa?" aku bertanya sambil memijat lengannya lebih keras.
"Pekerjaanmu di sini akan terganggu dengan kuliahmu. Dan aku membayarmu untuk bekerja seharian, sedangkan kau nantinya hanya akan bekerja setengah hari." Chanyeol menjawab santai.
"Kau bisa mengurangi gajiku. D...dan aku janji akan tetap bekerja keras. Tuan Park, please..." aku membujuknya sambil sedikit menggoyangkkan lengannya.
"Tidak Baekhyun, keputusanku sudah final." Chanyeol berkata tegas.
"Kejam." Aku bergumam sebelum melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air dan menuju lantai atas.
"Baekhyun." Chanyeol memanggilku saat aku baru melangkah di tangga ke dua.
"Apa?" aku menanyainya tanpa menggunakan bahasa formal.
"Dengan satu syarat." Telingaku tiba-tiba bersemangat mendengar perkataannya. Aku langsug berlari ke depannya dan menatapnya penuh harap.
Ia berdehem canggung sebelum mengalihkan pandangannya dan berkata,
"Home schooling."
"Hmm?" aku menanyainya bingung.
"Ambillah perkuliahan online." Chanyeol bergumam sebelum beranjak dari tempatnya.
"Ok, tidak masalah!"aku menjawabnya semangat dan merentangkan tanganku untuk memeluknya, tapi aku menghentikan aksiku saat teringat kembali perkataan Chanyeol waktu itu. Aku hanyalah pembantunya, bukan siapa-siapa—tapi aku sempat menemukan kekecewaan di tatapan matanya saat aku tidak jadi memeluknya.
Chanyeol lalu berjalan melewatiku menuju ke lantai atas sementara aku bersorak senang sambil mengepalkan tinjuanku di udara. Aku lalu bergegas mandi dan mulai membuka internet untuk mendaftarkan kuliah.
Di kamar, aku mulai mengetik formulir pendaftaran untuk mendaftar dan memilih beberapa jurusan yang akan kuambil. Banyak sekali pilihan yang disediakan, aku sangat tertarik untuk bekerja yang berhubungan dengan anak-anak. Akhirnya aku memilih jurusan bisnis dan pendidikan anak. Aku lalu membayar biayanya secara online dan membeli buku-buku yang dibutuhkan melewati website itu.
"Baekhyun!" Kudengar Chanyeol memanggilku.
Aku bergegas ke kamarnya dan bertanya padanya.
"Baekhyun, aku ingin dipijit." Chanyeol berkata sabil berbaring di kasurnya—setengah telanjang.
"Ba...baiklah." aku bergumam pelan dan mendekat padanya.
…
Sangat sulit untuk memijitnya dari pinggiran ranjang, jadi aku naik ke ranjang dan memposisikan diriku dibelakang punggungnya tanpa duduk disana sambil memijit punggung dan bahunya.
Walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya secara menyeluruh, Chanyeol nampak sangat tenang dan santai. Bahkan terlalu rileks. Chanyeol bukan tipe orang yang nyaman dengan seseorang yang baru ia kenal—walaupun aku sudah mengenalnya sejak dua tahun yang lalu. Tapi ia lupa ingatan kan? Tidak seharusnya ia melonggarkan pengawasannya pada orang sepertiku.
A...atau mungkin ia percaya padaku. Aku merasa senang memikirkan itu, aku melanjutkan tugasku sambil tersenyum senang. Tak lama setelahnya, aku mulai merasakan pegal dan lelah di lenganku. Leherku juga terasa pegal karena terus menunduk. Aku lalu memberanikan diri mengecek apakah Chanyeol sudah tertidur.
Aku perlahan menghentikan pijiatanku saat ia bergumam dengan nada ngantuk.
"Baekhyun, pijat sampai aku tertidur."
Sambil menghela nafas pelan, aku perlahan melanjutkan acaraku memijat punggung si giant. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, ya pemijat berbentuk mentimun. Saat aku dan Chanyeol melakukan itu pertama kalinya.
Aku lalu mencolek bahunya pelan dan Chanyeol mengerang kesal,
"Apa?"
"Tuan Park, apa kau punya pemijat berbentuk mentimun di sini?" aku menanyainya.
"Pemijat mentimun apa?" ia balik bertanya dengan nada cukup kesal.
Aku tidak tau bagaimana harus menjelaskan, karena Chanyeol hilang ingatan tentang malam itu. Aku lalu mencoba menjelaskan sebaik mungkin,
"Bentuknya agak panjang, mirip seperti mentimun dan kau perlu remot untuk meng'operasikannya."
"A...aku tidak tau. Lanjutkan saja memijitku." Chanyeol menggerutu dan pipinya memerah, tapi ia dengan cepat menyembunyikan wajahnya ke dalam bantal. Kurasa wajahnya memerah karena sangat kesal dengan pertanyaanku.
Aku juga tidak tau cara lain untuk menjelaskan padanya, jadi aku hanya melanjutkan tugasku untuk memijitnya. Perlahan aku mulai mengantuk dan mataku mulai terpejam sedikit demi sedikit. Hal terakhir yang aku ingat adalah terbaring diatas kulit yang lembut dan hangat.
.
.
.
Keesokan harinya aku bangun dan menguap, aku langsung sadar kalau ini bukanlah kamarku—tapi milik Chanyeol.
Ya Tuhan. Aku tadi malam tertidur, apa yang terjadi setelahnya? Seolah mendengar pemikiraku, Chanyeol tiba-tiba muncul dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Air nampak menetes dari rambutnya—dan ini terlihat sangat seksi.
Sambil mengeringkan rambutnya, Chanyeol berjalan mendekat dengan handuk yang kapanpun bisa merosot dari pinggangnya.
"Wow Baekhyun aku tidak percaya kau jatuh tertidur di punggungku tadi malam. Aku tidak menyadarinya sampai saat kau berliur di punggungku, saat itu aku langsung mendorongmu dari punggungku. Aku hampir saja tidak bisa tidur semalaman... kau mengigau seperti seekor anak anjing dan mengenggam erat jariku seperti seorang anak kecil yang tersesat." Chanyeol menjelaskan, sedangkan pipiku terasa semakin memanas karena malu.
"A...aku akan mengambilkanmu baju." Aku berkata mencoba mengalihkan pembicaraan, aku bergegas turun dari ranjang dan tersandung selimut.
Dengan bantuan sebuah kursi, aku berhasil mengambil sebuah kemeja berwarna biru tua dan langsung memberikannya pada Chanyeol. Setelahnya aku langsung berjalan cepat menuju lantai bawah untuk menyiapkan sarapan sereal. Ia memintaku untuk memasangkan dasinya lagi. Aku mengigit bibirku dan memasangkan dasinya dengan sungguh-sungguh.
Hari ini Chanyeol membolehkanku sarapan dengannya, aku memaafkan perbuatannya yang kemarin—dalam hatiku. Setelah ia pergi ke kantor, aku mulai mengerjakan tugasku di taman dan merawat rumput-rumput yang menguning. Saat aku bekerja, tiba-tiba kudengar bel pintu berbunyi. Dengan semangat aku menerima pesanan buku-buku untuk kuliahku kemarin.
Setelah meletakkan mereka di konter dapur, aku mulai melihat-lihat chapter pertama untuk mata kuliah yang kuambil. Setelah beberapa saat, aku mulai mengalami kesulitan di soal bisnis. Sambil menggaruk kepalaku, aku terus mencobanya lagi sampai satu setengah jam berlalu. Aku baru menyadarinya saat kudengar bel mansion berbunyi.
Ada tamu? Setelah aku membuka pintu, aku melihat Kris yang tengah menatapku dengan tatapan terkejut.
.
.
.
"Selamat pagi tuan Wu." Aku menyapanya.
"Ba—Baekhyun?" Kris terdengar kaget.
"Um ya. Masuklah."Aku menjawabnya, sementara wajahnya masih terlihat sangat terkejut. Ia terlihat berbeda dari saat terakhir aku bertemu dengannya.
"Apa kau baik-baik saja tuan Wu?" aku menanyainya lagi.
"Tuan Park sedang ke kantor dan baru akan pulang saat makan malam. Apa kau mau teh hangat?"
Tiba-tiba ia menarik pergelangan tanganku dan membawaku ke dekapannya, memelukku dengan erat.
"Tuan... Wu?" aku menanyainya lagi dan ia masih tetap memelukku tanpa mendengar pertanyaanku.
Wajahnya menampilkan ekspresi bertanya-tanya, tapi dia hanya terus mengusap kepalaku dan mendekap pinggangku dengan erat.
Setelah beberapa saat—yang menurutku sangat lama, ia akhirnya melepaskanku dengan senyuman sangat cerah di wajahnya. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya, jadi aku langsung saja melangkah ke dapur dan membuatkannya teh.
Aku menuangkan air panas dalam cangkir dan meletakkan teh celup kedalamnya. Aku lalu menyajikannya pada Kris, meletakkan secangkir teh di meja di depannya. Setelah menunggu beberapa saat dan Kris tidak mengatakan apa-apa, aku lalu permisi darinya untuk melanjutkan pekerjaanku merawat taman.
Setelah aku menyelesaikan pekerjaanku, aku langsung membersihkan tanganku dan meletakkan peralatan-peralatan perkebunan di tempatnya. Aku lalu duduk di sofa dan melanjutkan belajarku kemarin. Dan aku masih mengalami kesulitan di bagian yang sama, aku menggaruk kepalaku dengan penghapus pensil.
"Apakah sulit?" aku mendengar suara berat seseorang, saat mendongak aku menemukan Kris yang tengah membungkuk melihat apa yang tengah kukerjakan.
"Ya, ini sangat sulit." Aku menjawabnya, sedikit rona muncul di wajahku saat aku teringat Kris yang baru saja memelukku.
"Apa kau butuh bantuan?" Kris mendekat padaku.
"B...baiklah, kalau itu tidak merepotkanmu." Aku menjawabnya pelan.
"Tidak merepotkan sama sekali. Faktanya aku telah bergelung dengan dunia bisnis sejak lama bersama Chanyeol dan Sehun." Kris menjelaskan.
"Woah, kalian sungguh pekerja keras." Aku memujinya dengan kekaguman di raut wajahku, saat itu juga Kris menempatkan dirinya dibelakangku dan menggengam tanganku yang tengah memegang pensil. Sekilas Kris seperti sedang memelukku dari belakang.
Wajahku tiba-tiba menghangat, tapi dengan cepat aku menggelengkan kepalaku dan memfokuskan diriku pada soal di buku. Paling tidak sandaran kursi ini memisahkan jarak kita berdua. Setelah Kris menjelaskan padaku, aku merasa lebih paham dengan materi ini dan aku selesai menulis beberapa catatan.
Kami sangat fokus dengan pelajaran yang kupelajari sampai-sampai kami tidak mendengar bunyi ceklekan pintu. Aku baru menyadarinya saat kudangar suara deheman yang cukup keras berasal dari belakang kami.
…
Aku mendongak dan menemukan Chanyeol tengah mendecih pelan sambil melonggarkan ikatan dasinya. Ia juga memutar bolanya malas sambil menatap kami. Kris masih berdiri di tempatnya, dengan lengan yang masih melingkar di bahuku. Aku hanya mengedip beberapa kali sambil menatap Chanyeol.
"Selamat sore tuan Park." Aku menyapanya dengan ekspresi wajah blank.
"Baekhyun, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?" Chanyeol bertanya padaku sambil menyisir rambut dengan jarinya.
"Ah, su...sudah." aku menjawabnya terbata.
"Siapkan air mandiku. Aku sangat lelah." Chanyeol memerintah.
"Baik tuan Park." Aku menjawabnya dan beranjak dari tempat dudukku dan meninggalkan Kris disana.
.
.
.
Author's Pov
"Apa yang kau lakukan disini?" Chanyeol bertanya ketus sambil menatap agak tajam pada laki-laki di depannya.
"Aku disini untuk melaporkan ada pimpinan mafia baru yang tertarik untuk bergabung dengan kita." Kris menjawab santai.
"Abaikan saja mereka. Aku tidak memerlukan mereka." Chanyeol berkata sambil melangkah ke dapur untuk mengambil minum untuk dirinya.
"Baik tuan Park." Kris meresponnya.
"Sejak kapan kau akrab dengan Baekhyun?" Chanyeol bertanya dengan menaikkan sedikit alisnya setelah beberapa saat hening.
"Dia sedang mengalami kesulitan, jadi aku membantunya." Kris menjawab tanpa menyadari telinga bosnya yang memerah dan dahinya yang mengernyit.
"Hanya itu saja?" Chanyeol bertanya retoris, tanpa sadar ia melukai bibirnya karena terlalu sering menggigitnya.
"Mmhm." Kris meng'iyakan sambil mengeluarkan rokok dari sakunya.
"Merokok lagi?" Chanyeol bertanya sambil menaikkan alisnya.
"Ya, aku tertekan akhir-akhir ini." Kris bergumam sambil menyalakan pematik apinya.
"Apa kau masih belum mengingat kejadian dua tahun yang lalu?" Kris bertanya sambil sekilas menatap kearah Chanyeol.
"Apakah ada sesuatu yang sangat penting yang harus kuingat?" Chanyeol terkekeh sambil mengusap jari telunjuknya.
"Well, kurasa..." Kris akan mengatakan sesuatu saat Baekhyun datang ke dapur.
…
Baekhyun menatap tajam pada batang rokok yang ada di tangan Kris dan memutuskan untuk menjauh darinya. Kris menyadari tatapan benci yang dilayangkan oleh si mungil. Dan ia sangat ingin mencubit pipi gembil si mungil setelah melihat tatapan itu.
"Tuan Wu, bi...bisakah kau tidak merokok? Itu akan membuat ruangan berbau rokok." Baekhyun akhirnya menegurnya, setelahnya Kris mematikan rokoknya dan membuangnya di tempat sampah.
"Apapun untukmu." Kris mengedipkan sebelah matanya, menggoda si mungil. Sementara Chanyeol menggeram menahan marah.
"Aku harus mencuci piring." Baekhyun bergumam pelan sambil berjalan ke wastafel pencucian piring, ia lalu memulai tugasnya dengan menuangkan sabun yang menimbulkan banyak sekali busa.
.
.
.
Setelah Chanyeol dan Kris selesai membicarakan bisnis mereka, Kris berjalan mendekat ke Baekhyun yang tengah berusaha menyelesaikan soal-soalnya lagi. Chanyeol memandangnya geram dan langsung mendekat ke arah mereka saat Kris mendekatkan tubuhnya ke si brunet. Terlalu dekat menurutnya.
Saat Kris akan meletakkan tangannya di bahu Baekhyun, Chanyeol terlebih dulu memegang tangan itu dan mencegahnya untuk tidak melakukannya.
"Kurasa kau seharusnya pulang sekarang, ini sudah malam dan aku tidak mau melihatmu tertidur di kantor besok." Chanyeol berkata dengan nada dingin, nada itu hanya biasa didengar oleh Kris saat Chanyeol tengah sangat-sangat marah akan sesuatu.
Kris berpamitan dan berniat memeluk Baekhyun tapi ditepis cepat oleh Chanyeol yang malah mendorongnya menuju ke pintu.
Baekhyun hanya melihatnya dengan bingung tapi ia tidak begitu memikirkannya, ia menganggap Chanyeol ingin agar Kris pulang dengan selamat.
…
Chanyeol balik ke ruang tamu dan melihat Baekhyun yang tengah menuju lantai dua. Ia mengikuti Baekhyun yang tengah berjalan ke kamarnya. Ia hanya ingin mengecek apa yang dilakukan si brunet.
Mengintip dari pintu, Chanyeol melihat Baekhyun yang tengah mengerjakan tugasnya dengan kaca mata bundar yang melorot sampai ke ujung hidungnya.
Chanyeol melihat Baekhyun yang tengah menulis dan mempoutkan bibirnya saat mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal. Si brunet juga nampak mengernyit saat berkonsentrasi pada tugasnya.
"Ahemmm." Chanyeol berdehem, sedangkan Baekhyun terlonjak sedikit kaget mendengarnya.
"Apa kau perlu sesuatu tuan Park?" Baekhyun bertanya sambil menatap Chanyeol yang berdiri di pintu kamarnya.
"Umm, tidak. Aku berencana membawa pulang anak anjingku ke mansion ini besok. Jadi persiapkan dirimu untuk merawatnya." Chanyeol menjelaskan.
"Bae...Baekkie? kau akan membawanya pulang kemari?" Baekhyun bertanya dengan semangat.
"Namanya bukan Baekkie. Namanya Mentimun." Chanyeol menjawabnya santai.
"Apa?!" Baekhyun terkejut. Ia sangat membenci mentimun—tapi tidak dengan anak anjing yang akan datang besok.
Saat Chanyeol berbalik dan akan meninggalkan kamar, Baekhyun berpikir mungkin itu adalah ide yang bagus untuk bertanya pada Chanyeol tentang tugasnya.
"C...Tuan Park, bisakah kau membantuku menyelesaikan soal ini?" Baekhyun bertanya sambil menunjuk buku paket di depannya.
"Tidak. Aku lelah, lagipula kau bisa bertanya pada tuan-sok-sangat-tau Kris Wu untuk membantumu." Chanyeol menjawabnya dengan nada mengejek sebelum berbalik lagi.
"Satu soal saja." Baekhyun memohon.
"Selesaikan saja sendiri, bodoh." Chanyeol menggerutu dan melangkah pergi. Tapi entah bagaimana, Baekhyun merasakan sesuatu di hatinya saat Chanyeol mengatainya bodoh. Seperti menandakan kalau Chanyeol telah mengingat sesuatu tentangnya. Ya, itulah yang ada di pikiran Baekhyun.
"Dasar jahat." Baekhyun menggerutu sambil memeletkan lidahnya. Ia lalu melanjutkan tugasnya.
…
Sepuluh menit setelahnya Bakehyun tertidur dengan posisi wajah menghadap samping, kaca matanya hampir saja jatuh dari wajahnya.
Chanyeol baru saja menyelesaikan mandinya dan masih memakai jubah mandi bulunya sebelum ia memutuskan untuk mengecek Baekhyun. Sambil berdiri di pintu, ia melihat Baekhyun yang tengah tertidur di mejanya dengan kacamata yang hampir jatuh. Ia lalu berjalan mendekat dan melihat buku paket yang dipelajari oleh Baekhyun. Ia terkekeh pelan sebelum mengambil pensil dan menjawab beberapa pertanyaan disana.
"Dasar bodoh." Chanyeol berkata pelan sebelum melepaskan kacamata di hidung Baekhyun. Ia lalu menatap posisi tidur Baekhyun yang tidak nyaman sama sekali. Ia hampir saja mengangkat tubuh si mungil sebelum sebuah pertanyaan menghentikannya.
Kenapa aku harus peduli padanya?
Dialah orang yang telah meninggalkanmu dan mengkhianatimu dua kali. Ini sama saja dengan melanggar peraturan yang kau buat sendiri. Satu langkah saja salah, kau akan berakhir bersikap lemah padanya? Dia hanya akan mengkhianatimu lagi seperti kemarin-kemarin.
Ia menarik kembali tangannya, dengan itu ia berniat makin memperkokoh dinding pertahanannya terhadap Baekhyun. Cinta hanyalah sebuah kebohongan. Seseorang mencintaimu hanya untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Tak ada satu halpun—bahkan cinta, yang akan bisa merubahnya sekarang. Ia tidak akan lemah la...
"Chanyeol." Satu kata terucap dari bibir Baekhyun saat ia sedikit terusik dalam tidurnya.
Dan karena satu kata itu, Chanyeol langung berlari keluar dari kamar itu dan membanting pintu kamarnya dan menguncinya. Inilah hal paling menakutkan yang pernah Chanyeol alami dalam hidupnya—semenjak ia menjadi pimpinan mafia.
Perasaan yang sangat membuatnya bingung, dan ia sama sekali tidak menyukainya—tidak sedikitpun. Perasaan ini sama dengan dua tahun lalu—Baekhyun mencuri hatinya dan meninggalkannya dengan membawa perasaan itu dengannya—dan sekarang, Chanyeol bersumpah bahwa ia tidak akan menjadi pihak yang menangis dalam pertemuan kali ini.
Tidak...tidak...tidak! Chanyeol sedang berperang dengan batinnya. Ia tidak boleh menjadi lemah lagi. Ia tidak akan membiarkan Baekhyun mengkhianatinya lagi. Cinta adalah hal yang menakutkan, dan Chanyeol telah mengalami sakit yang amat mendalam karenanya—dan pengkhianatan sungguh menakutkan baginya. Ia tidak tau betapa mengerikannya hal itu, sampai saat itu membuatnya menjadi seperti sekarang.
"Byun Baekhyun, aku sudah tidak mencintaimu. Aku akan memastikan kaulah yang akan menangis kali ini." Chanyeol berkata sambil mengeraskan rahangnya—meyakinkan dirinya.
To Be Continued…
.
.
.
T/N
Hello Dearris…..
Gimana chapter ini? ada manis, asam, asin (kkke dikira permen?). Iya Chanyeol pura-pura hilang ingatan dan tengah berperang batin melawan keimutan Baekhyun ehem…ehem…
Wkwkw si pemijat mentimun muncul lagi tuh. Daan WTH, Baekkie ganti nama jadi Mentimun. Park Chanyeol dan obsesinya pada mentimun XD
By the way Happy New year Dearris…. Let's thank all moments happened last year and start this new year with bright smiles. Semoga parents kita Chanyeol dan Baekhyun makin mesra, dan menjadi tahun kesuksesan untuk EXO :))))
Aku nggak nyangka chapter kemarin respon review kalian antusias sekali. Thanks dear… mari menghargai karya-karya di dunia per'fanfic'an khususnya Chanbaek baik di WP, FFN, AFF, LJ, AO3 dll.
See you in the next parts….
.
.
.
#lovesign
